[FREELANCE] EXOtic’s Fiction “The Guardian Side” – Part 2

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“The Guardian Side”

 

Title                 :  The Guardian Side (Werewolf)  #2

Author             : truwita

Genre              : fantasy, romance

Rating             : PG-15

Length             : Chaptered

Main Cast        : Exo member, Lee Jae Hee (OC), Park Soo Hye (OC)

Support Cast   : Find by yourself ^^

Disclaimer         : Cerita ini “terinspirasi” dari novel Rachel Hawthorne – A Dark Guardian series dan beberapa novel maupun cerita fantasy lainnya. Tetapi keseluruhan cerita ini murni hasil pemikiran dan ide liar saya. Bila masih banyak kekurangan, mohon dimaklum karena saya masih penulis amatir. xD

Oiya, judulnya saya ubah untuk menghindari kebingungan para reader, karena judul Werewolf juga ada yang menggunakan.

.

.

Warning !!! typo !!!

And

Happy reading

.

.

.

Previous chapter

 

 

“Arrgght….”

“Oh, kau sudah bangun?” aku tersenyum dan mendekat ke arahnya dengan sebuah nampan berisi makanan dan obat-obatan. Aku sedikit lega akhirnya gadis itu sadar setelah tiga hari tak sadarkan diri.

“Dimana aku?” ia bertanya seperti orang linglung.

“Di rumahku.”

“Siapa kau? Kenapa—”

“Berbaringlah dulu.” potongku “Tubuhmu masih butuh istirahat. Akan aku ceritakan nanti setelah kau memakan makananmu dan meminum obatmu.” aku menyerahkan segelas air putih dan semangkuk sup berisi sayuran. Gadis itu bergedik ngeri melihatnya.

“Maaf, tapi aku tidak memakan sayuran.”

“Ah—begitu.. baiklah, akan aku buatkan sarapan yang lain.” Aku hendak beranjak namun tertahan, karena gadis itu menggenggam pergelangan tanganku. “Tidak. Tidak. Terimakasih.”

“Tapi—”

“Aku tidak terbiasa sarapan.”

 

Aku tidak tahu harus berbicara apa untuk mencairkan suasana. Sungguh, itu bukan keahlianku. Bahkan ini kali pertama—oh, ya mungkin kedua—aku berdekatan dengan orang asing yang sama sekali tak aku kenal.

 

“Berapa lama aku tak sadarkan diri?”

“Ya? Oh, tiga hari.”

“Apa? Tiga hari?” ia memekik, lalu mengurut keningnya. “Aku pasti sangat merepotkanmu, maaf.” Katanya dengan suara pelan.

“Tidak, tidak sama sekali.” Jawabku cepat. “Namaku Lee Jae Hee.” Aku tersenyum sambil mengulurkan tanganku yang kemudian dijabat ragu-ragu olehnya.

Entahlah, aku juga bingung. Kenapa aku begitu ramah pada gadis ini. Biasanya aku selalu cenderung awas dan menaruh curiga terhadap orang asing. Tapi, gadis ini berbeda. Auranya … Aku hanya memiliki firasat bahwa gadis ini adalah gadis baik-baik.

“Park Soo Hye. Namaku,” katanya.

Mendadak tubuhku menegang.

 

Samar-samar aku melihat sepasang suami istri yang tengah berlari menerobos hutan. Kedua raut wajah mereka dirundung kecemasan dan ketakuan. Sedangkan seorang bayi yang masih merah terlelap damai dalam gendongan sang istri. Seolah sedang ditimang-timang.

“Cukup.” wanita itu berhenti berlari. Nafasnya terengah-engah. Si lelaki ikut menghentikan langkahnya.

“Kita harus bergegas.”

“Kita tak bisa hidup seperti ini terus.” Mata si wanita mulai berkaca-kaca. “Kita—”

“Tidak!” potong lelaki itu tegas “ini bukan lagi tentang kita—aku dan kau. Ini tentang anak kita, malaikat kita.”

“Tapi—”

Si lelaki berubah wujud dalam bentuk serigala berbulu keperakan yang indah. “Naiklah, cepat! Kita harus bergegas.”

 

Pengelihatan itu buyar seiring terlepasnya jabatan tanganku dan gadis bernama Park Soo Hye itu. “Apa yang kau lakukan?”

Perlahan kubuka mataku yang entah sejak kapan mulai terpejam. Keringat dingin mulai membasahi baju yang ku kenakan. Gadis itu menatapku tajam sambil memeluk tangan kanannya yang tadi berjabat denganku.

“Ma—maaf.” Ucapku akhirnya dengan susah payah. Tenggorokkanku terasa kering. Berkali kali ku telan air liurku. Kepalaku terasa pening. Dan kakiku terasa seperti jelly. Cepat-cepat kuraih pinggiran nakas untuk menyanggah tubuhku yang tiba-tiba lemas.

“Kau….. baik-baik saja nona Lee?”

“Tidak. Mmh… ya tidak apa-apa kurasa.”

“Benarkah? Wajahmu terlihat pucat.”

Ku tarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Mencoba mengumpulkan tenagaku yang mendadak terkuras—entah karena apa.

“Aku baik-baik saja, sungguh.” Aku menoleh sambil tersenyum. Saat itulah aku melihat sebuah tanda kelahiran yang terlihat abstrak pada bagian bahu kirinya yang sedikit terbuka. Dan saat aku menatap matanya, baru kusadari bahwa gadis itu memiliki bola mata dwi warna yang indah. Kelabu dan sedikit warna perak.

“Hey, nona Park. Apa kau seorang….” Kugigit bibir bawahku. Ragu untuk melanjutkan kata-kataku, namun tanda itu…

“Apa?”

“ah—bukan apa-apa. hehe” aku tertawa tanpa sebab seperti idiot. Mengusap tengkukku mengabaikan tatapan heran gadis bermarga Park itu.

“Baiklah nona Park, tapi kali ini berbeda. Tubuhmu sangat lemah dan butuh asupan makanan segera. Tunggu sebentar akan kubuatkan roti panggang.”

Aku berlalu tanpa menunggu respon apapun. Menutup pintu sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara sekecil apapun. Tepat saat pintu kamar tertutup udara hangat kembali menyelimuti sekelilingku. Entah hanya perasaanku saja atau bukan. Aku merasa udara di dalam kamar berbeda.

Cepat-cepat aku menepis segala kemungkinan yang bermunculan di kepalaku. Aku harus segera menyiapkan makanan untuknya.

Baru saja aku hendak menuruni tangga menuju dapur, suara bantingan pintu dibelakangku mengintrupsi. Aku menoleh, melihat Soo hye berdiri tegak dengan mata kelabunya yang berkilat tajam. Seolah-olah aku adalah musuh yang harus segera dimusnahkan.

Aku bergedig ngeri. Dan belum sempat aku mengerti apa yang sedang terjadi, dia sudah berada dihadapanku secepat kedipan mata. Dia menarik bajuku dan menghempaskanku ke lantai.

“Arrrrggghh…” ringgisku saat bokongku mendarat cantik di lantai.

“Sialan. Kembalikan kalungku!” Geramnya.

Kalung?

“Apa yang kau bicarakan? Aku—arrghh!!” dia mencekik leherku, membuat kata-kataku terputus. Aku tak tahu persis, tapi aku yakin sesuatu pasti sedang terjadi dengan diri gadis itu. Mata dwi warnanya berkilat tajam dengan warna perak yang lebih mendominasi. Ia tidak terlihat seperti orang yang baru bangun dari sekaratnya.

Aku bisa merasakan tenaga gadis itu yang semakin besar mencengkram leherku, membuatku kesulitan untuk bernafas. Dan saat kutatap manik mata gadis itu, mendadak aku merasa seperti ditusuk tepat di ulu hatiku. Cepat-cepat aku mengalihakan pandangan.

“Kembalikan. Kalungku. Sekarang.” Katanya penuh dengan penekanan.

“Ka—lungh ap—pahg? A-kuh … tagh menger—ti apa yangh kau katakan hnn..” aku berusaha bicara ditengah desakkan kedua tangannya dileherku.

“Jae Hee !!!” kudengar seseorang berteriak. Soo Hye menoleh tanpa melepaskan cengkramannya. “Apa yang kau lakukan?!!! Kau bisa membunuhnya!!!”

“Op-pahh,” aku menatap Kyuhyun—lelaki yang baru datang—memohon pertolongannya. Besyukurlah, karena tak butuh waktu lama bagi Kyuhyun untuk menyingkirkan tangan gadis itu dari leherku.

Aku tebatuk-batuk. Menarik nafas sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-paruku. Dari ekor mataku, aku melihat gadis itu terkulai lemas bertumpu pada kedua lutut dan tangannya. Kedua bola mata kelabunya meredup dan terlihat lebih gelap, kini bola matanya kembali seperti semula dengan warna kelabu yang lebih mendominasi.

“Apa yang kau lakukan?!!” bentak Kyuhyun sambil manatap tajam ke arah Soo Hye. “Kau baik-baik saja?” tanyanya sambil menatap penuh khawatir padaku.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Tenggorokkanku masih terasa sakit untuk mengeluarkan suara.

Soo hye bangkit perlahan. Kedua tanggannya ditumpukan ke atas lutut. Matanya memincing ke arah kami berdua. Dia berbalik, pergi melangkahkan kakinya dengan cepat.

“Siapa dia?” Tanya Kyuhyun setelah Soo Hye menghilang dari jarak pandang kami.

“Park Soo Hye.” Jawabku.

“Temanmu? Kenapa dia mencekikmu? Kau bisa mati jika saja aku datang terlambat.”

“Ya, terimakasih karena sudah datang sebelum aku mati.”

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya penuh selidik.

Aku mengangkat bahu. “Tapi dia menanyakan tentang kalung.”

“kalung? Kalung apa?”

“Entahlah,” aku berjalan menuju pantry berniat membuat minuman untuk Kyuhyun. “Ada perlu apa Oppa datang kemari?”

Kyuhyun berjalan menuju meja makan mengambil buah apel yang tersaji di atas meja dan memakannya tanpa perlu repot-repot mengupasnya lebih dulu. “Aku ada perlu dengan ayahmu.”

Aku mengangguk. “Ayah sedang bekerja sekarang. Kau bisa kembali lagi saat makan malam.” Aku tahu itu lebih menunjukkan kaliamat usiran dibanding pemberitahuan, namun aku sama sekali tidak peduli.

“Kau mau pergi?”

“Aku harus mencari gadis tadi, dia sedang tidak baik-baik saja. Sepertinya dia korban perampokan.”

“Aku ikut kalau begitu.”

Aku menoleh. Sebelum aku bisa menolak, ia sudah lebih dulu berkata, “Hanya berjaga-jaga. Bagaimana jika dia tiba-tiba mencekikmu seperti tadi?”

Aku menghela nafas, malas untuk berdebat. Pertama, karena aku tak pandai mendebat orang. Kedua, karena Kyuhyun adalah orang terakhir yang ingin aku jadikan lawan dalam berdebat.

“Naik mobilku saja.” Tawarnya yang tanpa pikir panjang aku langsung menyetujuinya. Toh akan lebih menghemat waktu.

Selama beberapa menit berlalu dalam keheningan. Baik aku maupun Kyuhyun sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku yang focus memerhatikan tiap pejalan kaki—berharap salah satu dari mereka adalah Park Soo Hye. Sedangkan Kyuhyun sibuk di balik kemudinya.

“Stop !!” reflek aku berkata, mungkin nada suaraku terlalu tinggi atau terlalu tiba-tiba hingga memuat Kyuhyun terkejut dan mengerem secara mendadak. Membuat tubuh kami berdua terhuyung ke depan hampir menyentuh dashboard jika tidak tertahan oleh sabuk pengaman.

Aku segera keluar dari mobil dan meninggalkan Kyuhyun di sana. Aku berjalan setengah berlari menuju sebuah bangku taman yang di duduki oleh seorang gadis yang aku yakini sebagai Park Soo Hye. Gadis itu menunduk membuat wajahnya terhalang oleh helaian rambutnya yang tergerai.

“Nona Park,” kataku sambil menyentuh bahunya dari belakang. “Kau baik-baik sa—” ucapanku terputus begitu saja saat gadis itu berbalik dan menengadah menatap ke arahku. Dia bukan Park Soo Hye.

“Ma-maaf, saya salah orang.” Aku tersenyum canggung, antara malu dan kecewa.

“Ada apa?” Kyuhyun bertanya saat dia berhasil menyusulku. Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala.

Kyuhyun menghela nafasnya.

“Kau terlihat kecewa. Memangnya ada apa dengan gadis itu?”

“Entahlah. Aku hanya penasaran.” Jawabku sekenanya.

Kemudian beberapa meter tak jauh dari tempatku berdiri, seorang laki-laki berteriak meminta tolong untuk segera memanggilkan ambulance. Seseorang sedang berada dalam pelukannya. Sepertinya tak sadarkan diri. Dan pakaian laki-laki itu kotor dengan noda darah.

Entah sejak kapan Kyuhun berada disana dan membantu laki-laki itu membawa … Park Soo Hye?

aku segera berlari menyusul Kyuhyun, membantu mereka membukakan pintu belakang mobil.

“Jae Hee, bukan kah dia gadis yang tadi?” Tanya Kyuhyun setelah beberpa kali melirik kaca spion.

“Ya, Park Soo Hye namanya.”

“Kalian mengenal gadis ini?” Tanya lelaki yang duduk besama Soo Hye di belakang.

Tanpa berniat menjawab, aku mengajukan pertanyaan lain “Bagaimana dia bisa bersamamu? Apa yang terjadi?”

“Kami tak sengaja berpapasan saat berjalan. Kemudian tiba-tiba dia terbatuk-batuk dan memuntahkan darah mengenai bajuku, sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri seperti sekarang.”

Aku mengangguk sebagai respon. Dan sisa perjalanan kami menuju rumah sakit hanya diliputi oleh keheningan.

 

***

 

Aku, Kyuhyun dan laki-laki yang baru aku ketahui bernama Do Kyungsoo itu berdiri secara bersamaan saat melihat seorang dokter paruh baya keluar dari ruang UGD.

Baru saja aku membuka mulutku untuk bertanya, Kyungsoo sudah mendahuluiku, “Bagaimana keadaannya?” ia bertanya seolah gadis—yang bahkan baru dia tahu namanya dariku—adalah kekasihnya. Aku heran, bagaimana bisa seseorang yang bahkan tidak saling mengenal tapi bisa begitu terlihat mencemaskan.

“Pasien kehilangan banyak darah. Dan kami sedang berupaya untuk mencari darah yang cocok untuknya.” Jawab sang dokter.

“Memangnya apa golongan darahnya?” kali ini Kyuhyun yang bertanya.

“Golongan darahnya A.”

“Apa kalian ke kurangan stok darah?” tanyaku. Aku tak percaya jika itu memang benar. Karena rumah sakit ini adalah salah satu rumah sakit terbesar, dan mana mungkin mereka akan kekurang stok darah, ya meski tak menutup kemungkinan bisa juga terjadi.

Tapi dokter itu menggelengkan kepalaya. “Bukan. Bukan itu. Kami selalu memiliki persediaan.”

“Lalu?”

“Tubuh pasien selalu menolak.” Aku menahan nafas.

“Apa kau yakin degan golongan darahnya? Mungkin kau salah menganalisanya.” Kata Kyuhyun.

“Tidak, saya yakin betul.” Dokter itu berkata dengan yakinnya. “Oleh karena itu saya tidak tahu harus bagaimana. Pasien bisa saja meninggal jika tidak segera mendapat bantuan darah.” Lanjut dokter itu muram.

“Kalau begitu … kau bisa mencobanya dengan darahku. Aku memiliki golongan darah yang sama dengannya.” Kyungsoo berkata ragu-ragu. Sorot matanya tak terbaca. Tapi bola matanya yang berwarna hitam kelam itu bergerak-gerak gelisah.

“Sepertinya gadis itu bukan manusia.” Gumam Kyuhyun sesaat setelah Kyungsoo pergi mengikuti dokter dan dua orang suster untuk diperiksa.

“Aku juga berfikir demikian.” Aku ikut bergumam. Kyuhyun menoleh, “Apa yang kau tahu? Apa yang kau sembunyikan?”  Tanyanya penuh selidik.

Aku sempat terkejut mendengar pertanyaan seperti itu. Sebelum aku meyadari bahwa lelaki dihadapanku ini adalah lelaki cerdas kesayangan para sesepuh. Yang pasti akan sangat mudah baginya untuk menyadari bahwa aku menyembunyikan sesuatu.

“Aku tidak yakin,”

“Hanya katakan,” desaknya.

Aku mendengus. Memutar bola mataku jengah. Percuma jika aku terus bungkam. Kyuhyun tak akan pernah menyerah untuk memaksaku agar mengatakannya. Jadi aku putuskan untuk mengatakan semuanya.

Bagaimana aku menemukan gadis itu di sebuah lorong gelap pada larut malam—dengan melewatkan adegan memalukan saat ciuman pertamaku terenggut begitu saja. Tentang pengelihatanku saat menyentuh tangannya. Sampai pada saat gadis itu menyerangku secara tiba-tiba.

Kyuhyun termenung beberapa saat. Sebelum ia memalingkah wajahnya menatapku dengan tatapan curiga.

“Kau bilang … kau melihat sesuatu saat menyentuh tangannya?” dia bertanya seolah aku baru saja menceritakan bahwa aku melihat samudra pasifik kering.

Aku mengangguk tak acuh.

“Apa kau …” Kyuhyun menggelengkan kepalanya tanpa berniat melanjutkan kata-katanya yang membuatku jadi penasaran.

Aku hanya bisa diam menunggu. Tak berani bertanya atau berusaha mendesaknya seperti yang dia lakukan padaku sebelumnya. Andai saja aku bisa membaca pikirannya …

Mungkinkah?

Aku tersentak. Mengerjapkan mataku beberapa kali. Kyuhyun bicara?

Mungkinkah Jae Hee adalah salah satu Guardian yang belum ditemukan?

Hah? Tidak. Aku yakin Kyuhyun tidak bicara. Mulutnya mengatup rapat. Lalu apa yang barusan aku dengar?

Kemudian suara-suara bising terdengar memenuhi telingaku. Membuat kepalaku hampir pecah. Kuangkat kedua tanganku untuk menutupi kedua telingaku. Semakin lama, semakin banyak suara-suara yang masuk. Yang sama sekali tak jelas siapa yang berbicara. Aku seperti berada di tengah lautan manusia yang sedang bersorak sorai secara bergantian tepat di depan telingaku.

“Arrrrrgggghh!! Diam!!” Aku berteriak. Tapi tak sedikitpun suara-suara itu berhenti. “Diamlah, kumohon.” Kali ini aku memohon setengah terisak.

Terakhir kali, kulihat Kyuhyun mengguncang tubuhku dengan tatapan khawatir. Aku tahu dia menanyakan sesuatu. Tapi entah apa, suaranya terendam oleh suara-suara lain yang entah dari mana asalnya. Hingga akhirnya pandanganku menggelap dan suara-suara itupun menghilang dengan sendirinya.

 

***

Jadilah reader yang baik dengan memberikan tanggapan,

 dan tidak meng-copy-paste apalagi mem-plagiat tanpa seizin saya. 

Terimakasih J

***

THANKS FOR READING :D WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT :D

FOLLOW @ADOREXONLY for the lastest update about EXO

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL :D JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY truwita, NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

7 thoughts on “[FREELANCE] EXOtic’s Fiction “The Guardian Side” – Part 2

  1. Pink July 12, 2014 at 12:35 AM Reply

    Bagus. Imajinasinya main. Pengenalan karakternya blm kelihatan jelas. Konfliknya juga belum kelihatan, tapi misteri konfliknya bikin penasaran. Keep writing!

    • truwita July 13, 2014 at 7:39 AM Reply

      makasih atas masukkannya, 🙂
      buat karakternya, karena aku msh baru dalam dunia tulis menulis, mungkin dengan berjalannya waktu bakalan keliatan gimana karakter masing-masing. hihi

  2. alfalee23 July 12, 2014 at 1:42 AM Reply

    Bagus banget ceritanya ..
    Tapu aku masih bingung ini POV siapa itu POV siapa , jadi kurang dapet feel bacanya 🙂
    Keep writing dan ditunggu next nya 🙂

    • truwita July 13, 2014 at 7:41 AM Reply

      makasih atas masukannya, 🙂
      buat POV nya aku ambil sudut pandang orang pertama, yaitu Jae Hee,
      semoga membantu ^^

  3. aini July 18, 2014 at 4:42 AM Reply

    Pas bacanya aku tegang sendiri
    Tpi ceritanya keren,, jjang deh pokoknya!!!!
    Aku tunggu chaptere selanjutnya

  4. truwita July 18, 2014 at 4:58 AM Reply

    iya? padahal aku ga mikirin kesan horornya loh, xD
    makasih, iya ditunggu next partnya aja yah 🙂

  5. park soowon June 26, 2015 at 4:20 AM Reply

    Jadi si soo hye itu malikat ya
    Menarik thor ceritanya 😀
    Keep writing and hwaiting ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: