[FREELANCE] EXOtic’s Fiction “Werewolf” – Prolog

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Werewolf”

Title : Werewolf [Prolog]

Author : gabechan

Genre : Fantasy, Tragedy, Action *just a little*, and maybe Romance?

Length : Chapter (still don’t know)

Rate : G (General)

Main Cast : Park Chanyeol and a Girl, Wu Yi Fan (another cast will come out soon)

Please, everyone, don’t be a Plagiator. This is my own story, and the idea is mine. The casts belong to their parents and God, except the OC. Di prolog ini, tokoh cewenya belum dikeluarin, jadi ikutin dulu ceritanya yah^^ Semoga banyak yang suka dan penasaran, kekeke~ Mianhae, aku gak bisa bikin posternya (/ 0 \). Maaf juga kalau banyak typo dan kata-kata yang susah dimengerti. Ini FF pertamaku, so just give your comments after reading and don’t be a silent reader!

Oya, kalo kalian nemu FF ini di blog lain, itu sama kok. Mungkin ada kesamaan judul dengan FF lainnya, tapi isi ceritanya jelas BERBEDA. Kalian tinggal ngeliat nama authornya aja ^^

Gomawo buat admin yang udah ngepost FF abal ini J

Dan FF ini terinspirasi dari lagu VIXX “Hyde” dan EXO “Wolf”.

NO PLAGIARISM, THIS IS MINE!

PROLOG

___

How if in your body there’s another side of you? And just love will make you slowly change..

___

Malam hari. Segala kegiatan terhenti dan tubuh beristirahat sejenak. Tak ada seorangpun yang rela menyia-nyiakan waktu ini.

Seoul, layaknya kota metropolitan, tak pernah tertidur. Keramaian masih saja terdengar sampai tengah malam. Lampu-lampu kota dengan berbagai warna menghiasi tiap sisi gelap kota. Banyak langkah kaki berlalu lalang di pinggiran jalan, dengan tawa dan wajah kemerahan. Mabuk. Kota ini tak pernah sepi, surga bagi pecinta gemerlap malam.

Di sudut kota, dengan penerangan cukup dan kursi kayu tua, restoran itulah yang tetap mempertahankan cara lama. Bangunan bobrok dan papan nama usang selalu menarik perhatian tiap orang yang melewati jalan ini. Cita rasa yang pas tidak pernah membuat para peminat jera untuk sekadar memesan ramen dan sake.

Lelaki itupun tidak pernah jera.

Suhu udara yang dingin memaksanya untuk mengenakan mantelnya dengan benar. Kedua tangan yang dimasukkan pada masing-masing saku, tak bisa mengurangi rasa dingin. Pukul 11.30 malam. Setidaknya, ia tidak terlambat untuk menunggu datangnya hari esok sambil menikmati semangkuk ramen. Sayangnya, rasa pusing yang melandanya sejak tadi tak kunjung hilang. Sebuah firasat aneh pun tak ketinggalan membayanginya.

 

Ada sesuatu yang tidak benar.

 

Ia mengambil langkah lebar-lebar sebelum dirinya tak sadarkan diri di jalan sepi ini. Mendadak pandangannya tak bersahabat, meninggalkan dirinya yang panik. Ia menghentikan langkahnya beberapa meter dari restoran ramen itu, kemudian menarik napas perlahan. Ia tak habis pikir kali ini apa yang membuatnya kehilangan seluruh tenaganya selama beberapa hari terakhir. Belum lagi, perasaan-perasaan aneh yang kadang memenuhi kepalanya, lengkap dengan sekelebat visi tak masuk akal yang selalu berputar di kepalanya bagai film lama yang rusak. Terakhir, insomnia yang dialaminya beberapa hari terakhir juga tak masuk akal. Ia malah menghabiskan malam dengan makan semangkuk ramen.

Tepat saat itu, sekitar lima orang lelaki bertampang garang mengepungnya.

Celaan, cemooh dan makian dilempar padanya tanpa alasan yang jelas. Lelaki yang bertubuh paling besar mulai meninjunya, disusul empat lelaki yang sama kekarnya. Ia ingin melawan, tetapi, kondisi tubuhnya yang sedang lemah tidak memungkinkan untuk melakukan perlawanan apapun. Kini, lima lelaki kekar yang menggebuknya, terus meninju dan memukul perutnya berulangkali dengan tawa kejam menghiasi tiap pukulan. Bibir berdarah, mata lebam, dan rasa sakit serta nyeri yang melanda perutnya tak lagi bisa ia tahan. Ia sempat memandang dengan putus asa orang-orang yang berdiri tak jauh darinya. Tak ada seorangpun yang menyaksikannya berinisiatif untuk membantunya. Ia sendirian, tanpa bantuan. Atau mungkin, akhir hidupnya memang sudah di depan mata.

Saat itulah bulan purnama menampakkan wujudnya dengan utuh. Langit malam terlihat sedikit cerah. Tak ada yang peduli apakah bulan memang benar-benar menyinari bumi saat ini. Semua tatapan ngeri dan iba diberikan pada lelaki muda yang sebentar lagi akan mati dengan tragis.

Lelaki itu merasakan sekujur tubuhnya panas. Keringat perlahan berjatuhan dari leher dan pelipisnya. Ia merasakan sensasi aneh dalam dirinya. Deru napasnya pun tak beraturan. Gigi-giginya terasa semakin berat dalam mulutnya. Sakit, ada sesuatu yang aneh dengan giginya. Ia berusaha mengangkat tangannya dengan susah payah, lalu menyentuh bagian mulutnya. Jari yang menyentuh giginya langsung mengeluarkan darah. Apa…mungkin?

Ia tak bisa lagi menahan rasa sakit yang menyerang tiap bagian tubuhnya. Ia bisa merasakan tubuhnya bergetar dan menjadi lebih kuat. Sensasi aneh itu datang lagi. Penglihatannya tiba-tiba menajam. Ia bisa melihat kelima lelaki kekar yang menggebuknya tadi menatapnya dengan ngeri. Mendadak, rasa amarah yang dipendamnya sejak tadi meledak. Ia berteriak, tetapi yang keluar adalah suara geraman hewan yang membuat semua orang bergidik.

Rasa marah itu semakin menjadi. Ia langsung menyerang lelaki besar yang pertama kali meninjunya, mengangkatnya dengan mudah, lalu melemparnya sembarang. Ia menatap empat lelaki lainnya dan menggeram dengan keras. Kekuatan yang sekarang dimilikinya bisa dengan mudah membuat keempat lelaki itu kewalahan dan berakhir hilang kesadaran.

Ia bisa merasakan ada perubahan lain yang terjadi padanya. Matanya. Rasa nyeri yang menyerang pada mata kirinya membuatnya jatuh berlutut sambil menggeram.

“..Ibu..matanya.. Aku takut..” Suara kecil milik seorang anak yang sedang memeluk kaki ibunya dan berada pada jarak tak jauh darinya, langsung membuatnya menatap anak itu.

 

Apa yang barusan dikatakan anak itu? Mata..mataku berubah?

 

Lelaki muda itu memandangi tangannya yang berlumur darah. Ia telah menyakiti orang lain, tepatnya melukai orang lain. Lelaki itu meraba wajahnya. Kulit pada wajah kirinya menjadi kasar dan sedikit berbulu dengan bekas mirip seperti luka gores. Ia memandang wajah anak kecil tadi, kemudian memandang beberapa orang lainnya yang berdiri tak jauh darinya dengan wajah penuh rasa takut dan ngeri. Ketenangan malam yang damai berubah menjadi ketegangan.

 

Tidak, tidak. Apa aku yang membuat mereka menatapku seperti itu? Bukan aku yang melakukannya!

 

Dengan rasa takut dan panik, lelaki itu bangkit dan berlari menjauh. Rasa marah yang tadi meledak-ledak berangsur hilang. Hanya deru napas yang tersendat-sendat yang dapat ia rasakan. Panas yang tadi melanda tubuhnya perlahan berkurang, begitu pula dengan rasa nyeri pada tubuh dan mata kirinya. Lelaki itu tidak mengerti apa yang baru saja terjadi padanya.

___

Air hangat yang mengalir di tubuhnya membuatnya dapat menenangkan diri. Ia sengaja menyalakan shower dan membersihkan tubuhnya sebelum beristirahat. Bagian dirinya yang masih logis berharap seseorang dapat memberitahu apa yang terjadi padanya malam ini. Ia berharap semua itu hanya ilusi. Dan satu hal yang sekarang ia sadari, ada sesuatu yang lain tinggal dalam tubuhnya.

Mungkin inilah alasannya ia ditinggalkan di rumah besar yang letaknya terpencil ini. Ia sengaja diasingkan. Diasingkan dari dunia luar yang dapat membahayakan dirinya, atau malah membahayakan orang di sekitarnya.

Ini bukan pertama kalinya ia mengalami hal semacam ini. Gejala aneh itu muncul ketika ia menginjak umur 17 tahun. Sejak saat itu, tak ada lagi anggota keluarganya yang mau menampungnya, bahkan mereka sengaja mengirimnya ke tempat ini. Tempat di mana tidak ada satupun orang yang bisa menjangkaunya.

Ia menumpukan tangannya pada dinding kamar mandi. Dibiarkannya darah mengalir dari luka gores yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Napas yang terengah-engah masih saja ia rasakan. Apakah kejadian tadi berakibat fatal pada tubuhnya? Selain itu, ada satu hal yang mengusiknya selama empat hari terakhir. Ia tidak bisa membendung amarahnya pada orang lain. Hal itu terus terjadi dan hari ini menjadi puncaknya.

“Visi itu benar-benar terjadi rupanya.” ucap lelaki itu dengan suara serak, sembari mengusap pelan belikatnya yang berdarah. “Kenapa aku tidak bisa mengontrolnya? Ini berbahaya.”

Ia membiarkan wajahnya merasakan pancaran air. Saat dirinya hanyut dengan pikirannya, tubuhnya perlahan kembali seperti semula.

Dan peristiwa itu terjadi dua puluh tahun yang lalu…

 

___

[To be Continued]

***

THANKS FOR READING :D WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT :D

FOLLOW @ADOREXONLY for the lastest update about EXO

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL :D JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY gabechan, NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: