[FREELANCE] EXOtic’s Fiction “The Guardian Side” – Part 1

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“The Guardian Side”

 

Title                 : The Guardian Side  #1

Author             : truwita

Genre              : fantasy, romance

Rating             : PG-15

Length             : Chaptered

Main Cast        : Exo member, Lee Jae Hee (OC), Park Soo Hye (OC)

Support Cast   : Find by yourself ^^

A.N                     : Cerita ini “terinspirasi” dari novel Rachel Hawthorne – A Dark Guardian series dan beberapa novel maupun cerita fantasy lainnya. Dan ada beberapa istilah yang saya gunakan dari sana. Tetapi keseluruhan cerita ini murni hasil pemikiran dan ide liar saya. Bila masih banyak kekurangan, mohon dimaklum karena saya masih penulis amatir. 😀

.

.

.

Warning !!! typo !!!

And

Happy reading

.

.

.

 

Pagi itu seperti pagi-pagi biasanya. Aku sudah mengenakan seragam akademi lengkap dan rapi. Bersiap menikmati sarapan pagi yang terhidang di meja makan. Ayahku tenggelam dengan Koran di tangannya. Matanya begitu lawas membaca tiap kaliamat yang tercetak disana sambil sesekali jari telunjuknya membenarkan posisi kacamata yang turun.

“Pagi Mom, Dad.” Seru Jae Ra sambil menuruni anak tangga. “Dan aku  tak mungkin melupakanmu, pagi twin.” Dia melambaikan tangannya padaku, mengedip genit begitu menjijikan dimataku—meski sebenarnya ia selalu tampak manis seperti apapun—sebelum mengecup pipi kedua orang tuaku, oke ralat. Orang tua kami.

Aku benci mengakuinya, mengingat perbedaan yang sangat mencolok di antara kami. Bukan. bukan karena wajahnya yang terlihat rupawan karena kami memiliki wajah yang sama persis. Seperti yang tadi ia katakan, twin. Ya, kami kembar. Memiliki orang tua yang sama dan wajah yang hampir sama tak menjamin bahwa kami juga memiliki kegemaran atau sikap yang juga sama.

Jae Ra gadis yang cerdas dan ramah. Murah senyum dan mudah bergaul. Hampir seisi akademi menyukainya, atau mungkin seluruh isi akademi menyukainya. Tidak seperti aku.

Aku tidak pernah mengatakan aku bodoh, meski aku selalu berada satu tingkat dibawah Jae Ra. Ya aku akui itu. Terlepas dari itu, seperti air dan minyak.

Aku bukanlah gadis ramah yang murah senyum dan mudah bergaul. Hampir seisi akademi tidak menyukaiku. Memandangku seolah-olah aku adalah ancaman bagi mereka atau seolah-olah aku adalah kuman yang bisa membuat wajah mereka penuh jerawat seketika. Mungkin jika mereka tidak mengingat bahwa aku adalah saudara kembar Jae Ra, aku sudah lama di depak dari akademi.

Aku tidak pernah menyapa mereka—orang-orang di akademi seperti apa yang selalu Jae Ra lakukan—apa lagi berbicara (kecuali jika benar-benar terdesak). Aku terlampau pendiam dan tertutup. Menyendiri dan suasana hening selalu membuatku nyaman dan aman dari pada berada diantara orang-orang ramai.

Mungkin  karena sifatku yang membuat hampir semua orang di akademi tidak menyukaiku. ‘Kau selalu menatap sinis kearah mereka’ suatu saat Jae Ra pernah memberitahuku—tanpa diminta—tentang orang-orang di akademi yang selalu menatapku tak biasa.

Oh. Mereka hanya salah paham. Jika benar karena hal itu, tidak bisakah mereka membedakan mana tatapan awas dan tatapan sinis?

Entahlah, tapi aku juga membeci diriku sendiri menyangkut hal ini. Aku selalu merasa terancam jika berada diantara orang-orang. Membuat seluruh anggota tubuhku bersiaga akan bahaya yang mengintai. Yang mungkin itu hanya perasaanku saja.

“Loh, gak sarapan dulu sayang?” Tanya ibuku saat melihat Jae Ra melewati meja makan begitu saja. “Tidak Mom, pacarku sudah menjemput.” Ia tersenyum konyol memamerkan deretan gigi putihnya. “Aku akan sarapan setelah sampai di akademi nanti.” Tambahnya, Ibuku hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu melanjutkan aktivitasnya—mengelap piring dan gelas yang baru saja di cuci.

Aku heran. Karena biasanya ibuku adalah orang yang cerewet sekali megenai ‘betapa pentingnya sarapan’. Aku masih ingat saat aku duduk di kelas delapan sekolah menegah pertama, ibuku menceramahiku panjang lebar saat aku memutuskan untuk melewatkan sarapan di rumah karena sudah hampir terlambat. Yang membuatku berakhir di meja makan dan mendapat hukuman membersihkan toilet sepulang sekolah karena terlambat datang. Sedangkan pagi ini, bahkan di pagi-pagi sebelumnya selama seminggu terakhir ibuku membiarkan Jae Ra pergi tanpa melakukan ‘ritual’ sarapan lebih dulu.

Aku menoleh pada ayahku yang masih sibuk dengan bacaan paginya. Aku penasaran bagaimana pendaapatnya. “ayah, apa tidak berbahaya membiarkanya berhubungan dengan manusia?”

“selama ia tidak melanggar etika kaum kita.” Jawabnya singkat lalu menatap ibu. “Sebaiknya kau harus lebih memantau anak itu sayang.”

Ibu mengangguk. Aku menghela nafas. Dalam hati aku membenarkan perkataan ayahku. Selama tidak melanggar etika kaum kita. Kemudian suasana kembali hening. Dan aku melanjutkan sarapan yang sempat tertunda.

Ya, kami bukanlah mahluk pada umumnya. Kami adalah keluarga werewolf. Tak ada yang berbeda dari kehidupan kami dengan para manusia pada umumnya. Kami makan apa yang mereka makan, kami tidur, kami beraktivitas, dan kami betambah tua hingga berujung dengan kematian.

Yang berbeda hanyalah … yah, seperti kataku, kami adalah werewolf, dan tentu saja kami bisa berubah ke dalam wujud serigala. Mungkin itu yang menyebabkanku selalu merasa terancam dan menatap awas terhadap orang-orang di sekitarku. Seperti … sifat alami seekor binatang.

“Bagaimana?” suara berat ayahku mengintrupsi. Aku meliriknya lewat ekor mataku. Mendadak perasaan was-was melingkupiku. Ah tidak, jangan katakan—

“Kau sudah menemukannya Jae Hee?”

Tanpa sadar aku menahan nafas. “Apa?” pura-pura tidak tahu dan tetap tenang.

“Tentu saja maties. Apa lagi?”

Ku tiup poniku yang jatuh menutupi kening. Memutar bola mataku jengah. Sungguh, ini adalah topik paling terakhir yang ingin aku bahas. Tapi sepertinya tidak dengan ayahku.

Menarik nafas dan menghembuskannya. Itulah yang aku lakukan berkali-kali sebelum akhirnya menjawab pertanyaan. “Belum ayah, demi Tuhan. Sulit sekali menemukan seseorang dengan tanda lahir yang sama denganku. Tidak mungkin kan aku bertanya pada setiap orang yang aku temui?” kataku, berusaha untuk tak terdengar jengkel.

Tubuhku menegang saat melihat ayahku melipat korannya dan mengalihkan tatapannya padaku. “Bodoh.” Sedikit tersentak namun aku berusaha untuk tetap rileks.

“Seperti yang telah ku katakan sebelumnya. Kau akan mengenalinya begitu saja.”

Aku mendesah frustasi.

“Carilah lebih giat lagi Jae. Ini bukan masalah sepele.”

Kepalaku berdenyut mendengar setiap kata yang keluar dari mulut ayahku. Jika bisa, aku ingin tuli sejenak. Aku benar-benar tak ingin mendengar apapun tentang maties sialan itu sekarang.

Ayolah, gadis mana yang ingin terikat oleh suatu hubungan abadi saat umurmu baru saja menginjak tujuh belas tahun? Aku bahkan masih ingin menikmati masa-masa remaja yang…. Oke. Sepi. Sendiri.

Kenapa harus aku yang di paksa mencari? Demi apapun, kenapa tidak saudari tercintaku Jae Ra saja? Ia malah bermain-main dengan manusia yang ia sebut ‘pacar’. Oh, ini membuatku begitu tersiksa dan merasa ingin mati.

“Eishh, bocah !” tepat dengan itu sesuatu—yang tidak cukup keras namun cukup membuatku mengaduh dan menambah denyutan di kepalaku—mendarat cantik di pelipisku.

“AWW ! Ayah !”

“Berhenti menggerutu. Kau berisik sekali.”

Bagus sekali, aku melupakan poin penting. Ayahku bisa membaca pikiran orang. Yah, tidak setiap werewolf bisa membaca pikiran orang lain seperti yang ayahku selalu lakukan padaku. Katanya, hanya beberapa yang ‘terpilih’ yang bisa melakukannya. Semacam kelebihan, mungkin.

“Ingat kata-kataku. Temukan sesegera mungkin, sebelum gerhana bulan nanti.”

Kepalaku ingin pecah rasanya. Ini pasti gila, katakan bahwa ayah hanya bercanda. Kau tahu, gerhana bulan akan datang dalam waktu kurang dari sebulan. Dan biasanya, kami, para kaum werewolf dari berbagai klan akan berkumpul di tempat persembunyian kami jauh di dalam hutan belantara, Floodlight.

 

***

 

 

Demi kebaikkanmu.

Sekujur tubuhku merinding kala mengingat akhir dari percakpanku tadi pagi. Masih  terekam jelas di kepalaku bagaimana sorot kekhawatiran itu tergambar di wajah penuh wibawa ayahku.

Aku tahu, sesuatu yang tidak menyenangkan mungkin saja terjadi saat gerhana bulan nanti jika aku tidak segera menemukan maties-ku, tentu saja. Aku bisa merasakannya.

Oleh karena itulah aku disini. Di tengah kota yang sudah begitu sepi. Begitu hening. Para manusia sedang berlindung dibawah atap rumah mereka dan bergelung dibawah selumut tebalnya. Tak ada satupun tanda aktivitas seseorang disekitar sini.

Aku berjalan lurus. Menyusuri trotoar sambil sesekali menendang kerikil kecil yang menghadang jalanku.

“Kemana lagi aku  harus mencari maties sialan itu?”

Aku mendesis saat pertanyaan itu kembali melintas di kepalaku. Membuatnya kembali berdenyut. “Kurasa aku akan gila sebentar lagi.”

Ku hentikan langkah secara mendadak—yang hampir membuatku terjungkal mencium trotoar—ketika mataku secara kebetulan menangkap sesuatu seperti sebuah tangan yang berlumuran darah. Aroma khas cairan berwarna merah pekat itu menusuk indra penciumanku.

Aku terpekik kaget saat menyadari ‘sesuatu’ itu memang benar sebuah tangan yang terjulur dari lorong gelap.

ku edarkan pandangannya kesekitar, berharap ada seseorang yang bisa tertangkap oleh indra pengelihatanku. Oh, orang bodoh mana yang akan berkeliaran di tempat seperti ini, di tengah malam saat cuaca benar-benar menggigit?

Aku benar-benar mengutuk keputusanku keluar rumah seorang diri untuk menenangkan pikiran. Tanpa membawa apapun dan memberi tahu siapapun.

aku berjalan mundur beberapa langkah sampai akhirnya berbalik dan berlari cepat menuju rumah. Namun gerakkan kakiku lagi-lagi terhenti saat dengan kurang ajarnya rasa penasaran lebih mendominasi dari rasa takutku.  Ku gigiti bibir bawahku. Berpikir keras, antara melanjutkan langkah untuk pulang, atau kembali ke tempat tadi untuk memuaskan rasa penasaranku.

Aku bukan tipe mahluk yang mudah melupakan sesuatu yang membuatku penasaran. Aku tak akan berhenti merasa penasaran sampai aku mengetahuinya. Dan sialnya, begitupun malam ini.

Berdecak. Lalu berbalik untuk kembali ke tempat tadi. “Mungkin saja seseorang disana tengah sekarat dan butuh bantuan.” Aku meyakinkan, dan berjalan mantap untuk kembali.

Saat aku berdiri tepat 3 meter dari tempat sebuah tangan yang penuh dengan  darah tadi, aku mendekat perlahan. Demi apapun, malam ini aku benar-benar tersiksa dengan rasa penasaran dan rasa takutku.

Jarak hanya menyisakan tiga langkah dari ‘tangan’ itu, mataku menangkap sebuah gerakkan yang sukses membuatku terpekik tanpa suara. Reflex kedua tanganku terangkat menutup mulut. Aku kembali melangkah mundur dengan sangat perlahan, dan kembali terhenti saat mendengar suara seseorang terbatuk-batuk kemudian menyusul suara derap langkah.

Ku tajamkan pendengaranku. ku pastikan hanya ada sepasang kaki yang tengah mendekat. Meski begitu, sama sekali tak membuatku merasa lebih tenang. Dalam hati, aku meyakinkan diriku sendiri, jika hal buruk terjadi, aku bisa mengatasinya.

Debaran jantungku semakin cepat. Nafasku memburu. Rasa takut dan sesal kini mulai menyelimuti. Kenapa kau begitu bodoh untuk memutuskan kembali Jae?

Tapi semuanya sudah terlanjur sekarang.

Aku kembali bergerak perlahan sambil menahan nafas. Meminimalisir setiap suara yang mungkin akan ditimbulkan saat bergerak. Aku berpikir untuk bersembunnyi dekat bak sampah, namun dengan bodohnya, aku malah menginjak sebuah kaleng soda yang tentu saja menimbulkan suara yang cukup nyaring. Mengingat keadaan sekitar sangat sunyi.

“siapa disana?” Tanya sebuah suara berat dan menyentak. Itu suara lelaki !

Entah pendengaranku yang bermasalah atau apa, Suara baritone tadi benar-benar suara terindah yang pernah ku dengar. Bagai lantunan sebuah lagu, merdu.

Aku pasti sudah gila.

“aku tahu kau bersembunyi. Keluarlah !”

Aku tersentak. Mendadak rasa panik menghampiriku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Keluar lalu memperlihatkan diri, atau segera pergi dan berlari secepat mungkin menyelamatkan diri. Aku sama sekali tak tahu pilihan mana yang terbaik. Aku belum bisa memastikan bahaya seperti apa yang kini tengah menghadang.

Aku bisa saja berubah wujud, setidaknya dalam wujud serigalaku, aku akan lebih tangguh dan jauh lebih siap untuk bertarung. Tapi aku tak bisa melakukannya. Tidak jika ditengah-tengah kota seperti ini, itu terlalu berbahaya bagi werewolf muda sepertiku.

Tiba-tiba saja rasa penasaranku kembali muncul. Lebih dahsyat dari sebelum-sebelumnya yang pernah ku rasakan. Bukan karena niat awal untuk kembali, namun lebih karena keingintahuanku seperti apa rupa seseorang bersuara baritone tadi. Aku pasti sudah benar-benar gila. Aku baru tahu, bahwa aku akan menjadi begitu idiot seperti sekarang.

Siapapun yang berada diposisiku saat ini pasti akan memilih opsi kedua untuk segera pergi dan berlari menyelamatkan diri. Bagaimanapun kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, bukankah tadi aku sudah bilang bahwa aku sudah benar-benar gila?

Ya. Aku memilih opsi pertama untuk keluar dan memperlihatkan diri.

Kuremas ujung kemejaku. Kutundukkan kepalaku dengan mulut mengatup rapat. Aku tak bisa menampik bahwa aku benar-benar takut, tapi juga penasaran. Aku tak berani mangangkat wajahku saat sebuah cahaya yang ku yakini berasal dari sebuah ponsel menyorotiku.

“Jae Ra?”

Reflex aku mengangkat wajah. Dan aku bersumpah, itu adalah reflex terburuk yang pernah ku lakukan. Mata kami bertemu. Cokelat terang.

Gelombang kerinduan tiba-tiba menyambangi hatiku. Entah bagaimana perasaan itu bisa muncul. Seolah kami adalah sepasang kekasih yang lama sekali tidak bertemu. Dan hanya memiliki waktu bersama dalam pertemuan yang singkat ini. mata kami saling mengunci. Saling melempar tatapan penuh cinta dan kerinduan.

Kepalaku tiba-tiba terasa pening. Entah siapa yang memulai. Kami sudah saling memangut bibir satu sama lain. Kedua lengan lelaki itu melingkar di pinggangku, sedangkan lenganku otomatis melingkar dilehernya. kami larut dalan euphoria yang tercipta begitu saja. Melupakan seseorang di dekat kami yang mungkin tengah sekarat.

Kulepaskan kontak dengan berat hati. Jika saja aku bukan mahluk hidup yang butuh bernafas, entah berapa lama kami akan bertahan dengan posisi itu.

Pagutan memang terlepas, namun tubuh kami masih tak berjarak. Lelaki itu sedikit menunduk lebih rendah dari sebelumnya. Menempelkan kening yang membuat hidung kami saling bersentuhan. Ia tersenyum lembut dengan tatapan sepenuhnya mengarah pada manik mataku.

“Aku senang kau tak menolak seperti biasanya. Dan rasanya…. Benar-benar menakjubkan !” dia tersenyum lebih lebar kali ini. Dan itu menular kepadaku.

Aku merasa lima kali lipat lebih gila dari sebelumnya. Aku tahu, Aku memang payah dalam mengingat. Tetapi kali ini berbeda. Aku yakin demi apapun di dunia ini, aku sama sekali tidak mengenal pria di hadapanku. Ini adalah kali pertama kami bertemu. Namun sebuah perasaan familiar yang tiba-tiba muncul saat menatap mata cokelat terang itu menghancurkan segela keyakinanku.

Aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri. Segalanya menjadi tak terkendali dan terjadi begitu saja tanpa kehendakku. bahkan barusan—oh tidak ! itu ciuman pertamaku !

Ini buruk. Aku merasa buruk ! sebagai seorang werewolf—yang menjunjung tinggi sebuah kesetiaan, aku … arrrgggh !! tapi sialannya, aku sama sekali tidak menyesali apa yang baru saja ku perbuat. Ini aneh ! bagaimana bisa aku membiarakan seseorang yang tidak dikenal merebut sebuah ciuman dipertemuan pertama?

Aku tak mengerti atau lebih tepatnya tak mau mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya ingin melupakan sejenak statusku sebagai seorang werewolf, yang tak seharusnya memberikan sebuah ciuman kepada seorang laki-laki yang bukan maties-ku. Melupakan tentang desakkan ayah. Aku hanya ingin menikmati setiap detik berlalu. merasakan sensasi luar biasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

“Ka terlihat berbeda dengan tampilan seperti ini. Kau … cantik !”

“Dan kau tampan.” Lelaki itu tertawa. Semakin terlihat menawan di mataku.

Sebenarnya aku tidak mengerti dengan kata-kata lelaki itu yang seolah kami adalah dua orang yang saling mengenal sebelumnya. namun bukankah aku sudah bilang bahwa aku tak mau mengerti apapun saat ini? hanya ingin menikmati. Itu saja.

“Ya aku tahu.” lelaki itu menghentikan tawanya lalu menatapku serius. “Aku heran, bagaimana bisa aku merasa begitu merindukanmu setelah seharian tadi kita bersama. Kau memang mengagumkan Jae Ra.”

 

Aku mengerti sekarang.

Segera kulepaskan pelukan kami secara kasar. Membuat jarak sejauh mungkin diantara kami. Lelaki itu mengerutkan keningnya dan menatap kecewa. Seolah ia baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Terlepasnya pelukan kami membuat perasaan kosong tiba-tiba menyambangi hatiku.

Ku tepis tangannya yang hendak menyentuhku. Kesadaranku mulai kembali. Dan aku tahu, ini tidak benar. Ini bahkan jauh lebih buruk dari sekedar ciuman pertama yang dicuri begitu saja. Ia salah menduga.

Jae Ra? Oh, aku lupa. Bukankah sebelumnya aku juga mendengar nama Jae Ra disebutkan? Itulah sebab awal mata kami bertemu sebelum terlalarut dengan perasaan yang membingungkan sekaligus menakjubkan tadi.

Pantas saja lelaki itu bersikap begitu manis dan berbicara seolah kami saling mengenal satu sama lain. Tiba-tiba saja hatiku berdenyut nyeri.

“Aku baru sadar kalau kau mengubah warna rambutmu.”

“Aku bukan gadis yang kau maksud Tuan.” Tukasku tajam.

Tanpa melihat wajahnya lagi, aku langsung melangkah mendekati seseorang yang tengah sekarat. Dia seorang gadis. Rambutnya panjang dan berwarna coklat gelap. Wajahnya lusuh dengan beberapa noda darah yang mulai mengering.

Segera ku sentuh pergelangan tangannya. Puji Tuhan karena gadis ini masih hidup.

“Kita harus segera membawanya kerumah sakit.” Entah sejak kapan lelaki itu ikut berjongkok di sampingku dan mengamati si gadis yang tengah sekarat.

“Bawa saja ke rumahku. Lebih dekat dari sini.”

“Hah?”

“Ayahku seorang dokter.”

Ia mengangguk lalu menyuruhku menyingkir. Digendongnya gadis itu menuju mobilnya yang terparkir di ujung lorong. Samar-samar kudengar ia berkata sebelum mendahuluiku masuk ke mobil. “Kau hutang penjelasan padaku Nona.”

.

.

.

.

To Be Continued

 

Bagi yang ingin memberikan kritik dan saran, mention saja ke @senjaa27 atau via email senjatruwita@gmail.com. Terimaksih J

***

THANKS FOR READING :D WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT :D

FOLLOW @ADOREXONLY for the lastest update about EXO

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL :D JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY truwita, NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: