[FREELANCE] EXOtic’s Fiction “Love Love Novel!”

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Love Love Novel!”

|| LOVE LOVE NOVEL! ||

Park Chanyeol, Min Hyurin (OC) || Romance || Oneshot || Teenager

A story by Gabechan (@treshaaruu)

 

Ini apaaa? Kenapa dipost?? Sudahlah, aku juga nggak tahu. Karena biasku yang unyu dan ganteng itu Chanyeol, jadilah castnya dia. Inspirasinya darimana? Mungkin penyakitku yang suka ngayal kambuh dan menelurkan FF ini *eh?* Yaa semoga pada suka yaaa J mian kalo masih banyak typo dan alur yg nggak jelas~ oyaa kalo nemu ff ini dengan nama author dan judul yang sama, itu juga ff yang sama. Silahkan komen atau beri like kalau readers suka ^0^

Already posted at exofanfiction.wordpress.com.

A.N: kata “aku” disini adalah Hyurin.

Happy reading~~

 

NO PLAGIARISM, THIS IS PURE MINE!

 

****

 

Hujan turun dengan deras hari ini.

Aku terpaksa berteduh di depan sebuah toko buku. Sebenarnya, tujuanku repot-repot datang ke kota besar ini hanya untuk menepati janjiku. Soojin, sahabatku sewaktu SMA, yang membuatku terpaksa membuat janji untuk pergi dengannya hari ini.

Tadinya, kami ingin mampir ke sebuah toko tas yang cukup terkenal, lalu makan di restoran daging yang menurutnya sangat enak. Sialnya, Soojin benci hujan. Kalau saja aku tidak lupa dengan fakta menyebalkan yang satu itu, mungkin aku tidak akan terjebak di sini.

Jelas saja, aku kecewa dan lelah. Bagaimana tidak? Aku sudah dua kali naik-turun bus untuk sampai ke kota ini. Belum lagi aku sudah menunggunya di sini selama hampir satu jam. Soojin tiba-tiba menelepon dan membatalkan acara jalan-jalannya. Padahal, dia yang menyuruhku berjanji untuk ikut! Haah, sial!

Karena kesal, aku memilih untuk mendengar lagu lewat earphoneku. Yah, daripada berdiri seperti patung selamat datang di depan toko buku, lebih baik seperti ini, kan? Tapi, kalau dipikir-pikir, aku sudah jarang pergi ke toko buku. Selain tidak ada yang mengajakku pergi, novel series Percy Jackson itu juga mungkin belum terbit. Atau mungkin seri terakhirnya sudah terbit? Ah, mungkin saja!

Akhirnya, dengan terburu-buru, aku mendorong pintu masuk toko buku ini dan langsung mengambil langkah lebar-lebar menuju rak berisi deretan novel.

“Percy Jackson… Percy Jackson…”

Aku menggumamkan judul novel itu berulang-ulang seperti orang bodoh. Mataku menyisir semua judul novel yang tersusun rapi di hadapanku, berharap menemukan sebuah judul yang diawali dengan huruf P dan diakhiri dengan huruf N.

Dan benar saja. Mataku menangkap novel dengan ciri-ciri yang sama! Aku segera melangkah ke tempat novel itu berada sambil tersenyum bahagia.

Ini dia! Ini dia! Aahh~ Akhirnya aku bisa—

“Ini, kan, seri terakhir.”

Hah?

Kapan laki-laki ini berdiri di sini? Aku tidak melihatnya! Apa karena aku terlalu senang melihat cover buku itu sehingga hal lain  termasuk laki-laki ini  tidak terlihat olehku? Kalau seperti ini, bisa gawat.

“Maaf, tapi aku yang pertama kali melihat novel itu,” ucapku ketus. Tanpa memikirkan kesopanan, aku langsung merebut novel bercover merah yang dipegangnya.

Laki-laki itu tidak menanggapi. Dia justru menatapku dari balik kacamata hitamnya. Tanpa rasa takut sedikitpun, aku balik menatapnya dengan pandangan kesal. Hmm..memang benar. Ada yang aneh dengan laki-laki ini. Mana mungkin ada orang yang dengan percaya dirinya masuk ke toko buku dengan pakaian super mewah seperti ini? Hiih, menggelikan.

Di tengah diriku yang sedang tenggelam dalam pikiranku sendiri, laki-laki itu langsung mengambil kembali novel yang tadi berhasil kurebut. “Tapi aku yang mengambilnya lebih cepat satu detik darimu.”

Apa? Tidak akan kubiarkan dia menghancurkan satu keberuntunganku hari ini!

“Jangan-jangan kau hantu? Saat ingin mengambil novel itu, aku tidak melihatmu berdiri di situ!”

“Hah, jangan konyol! Wajar saja kau tidak melihatku. Kau sendiri berjalan seperti orang yang tersihir. Aku sengaja diam di sini dan baru mengambil novel ini ketika kau sampai, hanya untuk memastikan kau sedang dalam kondisi normal.”

Sebenarnya, kata-katanya itu bisa dikategorikan sebagai sindiran. Tapi tentang ia yang mengambil novel ini lebih dulu, sepertinya tidak bisa kusangkal.

Aku mengembalikan novel itu sambil menunduk, “Maaf.”

“Hmm? Tinggal satu?” ucapnya sambil mencari novel yang sama pada deretan novel lain.

“Seri terakhir dan hanya tersisa satu, bagus.” gumamku, pasrah.

Otakku langsung memerintah kakiku untuk pergi dari sini. Aku berbalik arah, menyusuri deretan novel lainnya walaupun sudah kehilangan minat.

“Masih menginginkan ini?”

Aku menoleh dan mendapati laki-laki menyebalkan itu sudah berdiri di sebelahku, lengkap dengan novel berjudul Percy Jackson di tangannya. Laki-laki itu sudah melepas kacamatanya, membuatku sedikit terpaku untuk beberapa detik. Dia tampan, kalau tidak sedang memegang novel favoritku itu. Nah, itu. Pikiranku langsung menyimpulkan tanggapan yang tidak bisa kuucapkan.

“Tidak,”

Laki-laki itu tersenyum simpul. Walaupun harus menyamakan langkah denganku, dia terus menanyaiku apakah aku masih menginginkan novel itu. Tentu saja aku mau, bodoh! Hanya novel itu yang bisa membuat perasaanku membaik, kau tahu itu, huh?!

“Sepertinya kau sering muncul di TV.” Ucapan itu langsung keluar dari bibirku. Aku yang baru menyadari apa yang kukatakan langsung merutuki betapa bodohnya diriku.

“Kalau begitu, kau tahu namaku?”

“Park Chanyeol,” jawabku. “Aku sampai bosan melihatmu setiap hari.”

“Harusnya kau merasa beruntung.” Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan wajah kecewa. “Boleh kupinjam ponselmu?”

Tadinya aku ingin bertanya dengan ketus untuk apa dia meminjam ponselku. Tapi melihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya hal itu penting. Aku pun mengeluarkan ponselku dan memberikannya dengan ragu-ragu.

Jemarinya sibuk menekan-nekan tombol di ponselku, seakan laki-laki itu sedang memegang ponselnya sendiri. Tak lama kemudian, dia mengembalikan ponselku sambil tersenyum. Jangan-jangan dia melihat hal yang aneh-aneh di ponselku? Gawat!

“Untuk apa ini?” tanyaku saat kulihat nomor ponselnya sudah ada di deretan paling atas kontakku.

“Agar aku bisa menghubungimu. Aku tidak punya teman. Kau tahu, sedikit sepi saat kau menyadari hanya ada dirimu dan kamarmu.”

Aku diam saja. Entah kenapa senyum kekanakannya itu kini sedikit lebih cocok untuk wajahnya daripada senyum yang ia pasang tadi. Walaupun ia secara tidak langsung sedang curhat padaku, ia tidak menyadari kalau sekarang wajahnya terlihat lucu.

“Tapi, kita baru bertemu beberapa menit lalu. Kau bahkan tidak tahu namaku.”

“Min Hyurin. Tadi aku sempat melihatnya di ponselmu.” Dia berkata dengan santai. “Seperti tokoh utama di novel itu, aku tahu apa yang kau pikirkan dari sorot matamu.”

Kata-kata yang menjijikkan! Percy Jackson yang ada di dalam novel itu adalah tipe laki-laki cuek yang sebenarnya perhatian. Bukan laki-laki pintar menggombal sepertinya!

“Dasar gila.”

Laki-laki itu tampak terkejut dengan apa yang barusan kukatakan. Aku tidak peduli. Aku langsung melangkah meninggalkannya sambil berharap aku hanya akan bertemu dengan laki-laki sepertinya hanya sekali ini saja. Tuhan, kau mendengar doaku, kan?

Tapi, sepertinya Tuhan berkata lain. Laki-laki itu tidak terima dengan perkataanku dan sekarang dia sedang menarik tas selempangku dengan kuat. Tentu saja aku sedikit berteriak karena tindakannya itu. Aku ingin memukulnya. Tapi, aku berpikir. Kami akan terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar kalau aku mulai memukulinya. Haaahh~ Menyebalkan sekali, sih.

Aku terbelalak ketika melihatnya mulai mencopot sepatunya yang mewah itu. Setelah itu, dia menenteng sepatunya tanpa rasa malu. “Lihat, aku tidak seperti yang kau kira.”

“Pernak-pernik ini menyiksaku, makanya setelah jadwal pemotretanku selesai, aku langsung kabur. Tadinya aku ingin membeli baju santai di toko itu,” dia menunjuk toko baju yang ada di seberang toko buku ini, “tapi kalau aku menyeberang jalan dengan baju yang mencolok, aku akan ketahuan.”

Kasihan. Nasibnya hampir mirip dengan nasibku hari ini. Hanya saja, dia ini seorang artis yang sedang naik daun, sedangkan aku hanya orang yang sial karena hujan. Tapi aku tidak boleh langsung mempercayai kata-katanya. Mungkin saja saat ini dia hanya berakting. Sekarang ini banyak novel kalangan remaja yang menceritakan betapa pintarnya artis-artis sepertinya berakting.

Karena itu, aku tertawa.

“Jangan bercanda. Kalau sedang mengutip kalimat dari novel, sebaiknya terapkan pada orang lain.” tukasku, sambil memandang apa yang ada di belakangnya. Banyak sekali gadis-gadis lain yang sejak tadi sedang memotret atau merekam kami berdua dengan ponsel, lengkap dengan tampang ingin membunuh.

Laki-laki yang bernama Chanyeol ini ternyata sudah menyadari kerumunan itu lebih dulu dariku. Dia kembali mengenakan kacamatanya. Lalu, dengan wajah panik, dia memejamkan matanya sejenak. Aku yang merasa itu adalah suatu kesempatan untuk lepas dari laki-laki ini pun langsung berjalan meninggalkannya.

Tepat saat aku ingin menyentuh pintu keluar, laki-laki itu menarik tas selempangku dan berjalan mendahuluiku untuk mendorong pintu keluar. Hal itu terjadi sangat cepat, sehingga aku tidak sempat berkata apapun. Yang kutahu, aku juga ikut tertarik keluar tanpa sempat meronta.

Ini sudah ketiga kalinya laki-laki menyebalkan itu mendahului tiap hal yang ingin kulakukan.

 

****

 

Laki-laki ini memang gila. Dia sudah menarik tas selempangku dalam waktu yang cukup lama tanpa menyadari kalau aku tampak seperti hewan peliharaan.            Belum lagi, hoodie hitamnya yang berkibar terkena angin, berulangkali menampar wajahku. Ya Tuhan, bolehkah aku menendang pantat laki-laki ini?

Aku menarik tas selempangku dari tangannya dengan kasar, “Cukup! Sekarang katakan apa maumu, lalu pergi!”

Chanyeol tertegun, tapi aku sudah tidak peduli pada tatakrama. Lagipula, dia sudah menarikku tanpa persetujuanku. Aku sudah ingin meneriakinya lagi, tapi niatku itu langsung menguap begitu saja saat laki-laki ini mengusap pelan rambutku.

“Maaf,” ia menghela napas, lalu tersenyum tipis, “akhirnya aku bisa bertemu denganmu.”

Menyadari apa yang barusan dilakukannya, Chanyeol langsung memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Ia kembali tersenyum cerah saat melihat rona merah muncul di pipiku.

Oke, oke. Ini salah. Aku harus membentaknya sekali lagi. Betapa lancangnya ia tiba-tiba saja mengusap kepalaku! (walaupun hal itu membuatku sempat terpukau). Lalu, perkataannya yang mulai tidak masuk akal. Memangnya aku ini siapa sampai seorang artis sepertinya ingin bertemu denganku?

“Kau tidak ingat, ya? Aku baru saja akan membeli novel satu-satunya itu di toko buku yang baru pertama kali ini kudatangi, lalu semuanya berantakan karena kau tiba-tiba muncul di sampingku sambil berkata: ‘Ah, tinggal satu!’. Dan sekarang kau sedang kesurupan, lalu kau berkata: ‘Aku bertemu denganmu!’. Kau pikir aku bisa ditipu semudah itu?! Dasar bodoh!!”

Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, “Tu, tunggu dulu! Kau salah! Aku, kan, belum menjelaskan apapun!”

Lagi-lagi, laki-laki itu menghalangi jalanku. Ia memintaku menenangkan diri, lalu memohon padaku untuk mendengarnya berbicara. Ia bilang, kali ini ia akan berbicara hal yang masuk akal.

“Dengar, aku tahu kau adalah penulis fanfiction berjudul Blue Letter yang terkenal itu,” Ia mulai menjelaskan. “Setelah selesai membacanya, waktu itu aku langsung memberi komentar. Ternyata, akulah pemberi komentar pertama untuk ceritamu. Aku baru menyadarinya saat aku membaca lagi ceritamu dua hari lalu. Kau pasti ingat nama samaran 

“Derphyun? Iya aku ingat. Nama yang konyol.”

“Haha, iya konyol.” Jujur, tawa paksaannya sangat aneh. “Lagipula, aku memakai ponsel kakakku. Jadi, nama samaran itu bukan aku pembuatnya.”

Aku mengerjapkan mataku, “Oh, maaf..”

“Tidak apa-apa.” ucapnya. “Setelah komentar-komentar yang kuberikan, kau yang mengajakku berkenalan. Tentu saja tetap dengan nama samaran masing-masing. Dari situlah kita berteman. Hanya sebatas teman di blogmu.”

“Bukankah ponsel kakakmu bisa diretas?” tanyaku. Pertanyaan yang tidak nyambung, tapi menurutku sangat penting.

“Untuk apa meretas ponselnya? Tidak ada yang tahu kalau yang sedang memakai ponselnya itu aku, kan? Yah, selain kau tentunya.”

Aku diam saja. Aku memandangi matanya  yang masih terlihat ketakutan  dalam-dalam, berusaha memutuskan apakah ia berkata jujur atau tidak. Dan ternyata, ia berkata jujur. Tentang nama samarannya itu? Iya, memang aku berteman dengan orang bernama samaran Derphyun di blogku. Aku pun baru tahu kalau pengguna nama samaran itu adalah seorang Park Chanyeol, artis papan atas.

Dengan berat hati aku berkata, “Terimakasih sudah membaca ceritaku. Tapi sepertinya kau salah mencari teman. Carilah orang lain yang berotak cemerlang dibanding seorang penulis fanfiction sepertiku.”

Sejuknya udara setelah hujan membuat perasaanku sedikit membaik. Yah, walaupun aku masih kecewa karena tidak bisa membeli novel Percy Jackson seri terakhir itu. Aku memandang langit yang masih sedikit mendung, lalu kembali menghela napas panjang.

Ada suatu perasaan aneh yang sejak tadi mengusik pikiranku. Perasaan bersalah? Kenapa aku harus merasa bersalah? Bukan itu. Ada lagi.

Saat aku sedang asyiknya tenggelam dalam pikiranku, bisa kurasakan sebuah tangan yang terasa hangat, dengan lembut memegang pergelangan tanganku. Aku berhenti dan menoleh ke belakang. Dan apa yang kulihat sekarang membuatku terkesiap.

“Aku lelah mengejarmu, karena itu…” Ia mengaitkan jari kelingking kirinya dengan jari kelingking kananku yang mungil, lalu tersenyum puas, “…jangan pergi sampai jari kelingkingku terlepas! Mengerti?”

Aku tidak menjawab dan masih sibuk memandangi tautan jari kelingking kami yang terlihat pas. Entah karena apa, aku tidak memberontak. Otakku malah menyuruhku untuk mengangguk dan tersenyum. Itulah yang kulakukan sekarang.

“Aku tidak akan keberatan kalau kau memberiku novel itu. Bagaimana?”

Ia mengerutkan keningnya, “Memberimu? Hm, tunggu sebentar.”

Ia melepaskan kelingkingnya dari kelingkingku, lalu mengeluarkan sesuatu berbentuk segiempat dari dalam kausnya. Mataku langsung membulat sempurna melihat sekilas perutnya yang cukup berbentuk.

“Maksudmu novel ini?” tanyanya sambil menunjukkan novel bercover merah padaku.

Aku mengurungkan niatku sekuat tenaga untuk merampas novel itu darinya. Untungnya, ia kembali memandangi novel itu dengan wajah bingung.

“Hei, memangnya tadi aku sudah membawanya ke kasir?”

Mwo? Kau belum membayarnya?!” teriakku.

“KALIAANNN!! CEPAT KEMBALIKAN NOVEL ITU!!”

Tiba-tiba saja suara cempreng itu terdengar begitu menggelegar dari belakang kami. Aku terbelalak ketika melihat seorang ibu-ibu gendut sedang berlari ke arah kami. Chanyeol yang juga sedang melihat pemandangan mengerikan itu langsung menarik tanganku dan mulai berlari.

Yah, sepertinya kami harus terus berlari. Tidak masalah, sih, asalkan laki-laki ini mau memberikan novel itu untukku.

Oh, tentu saja, setelah ia membayarnya. Hahaha~

 

 

END

 

 

 

A.N: Blue Letter itu hanya karangan author aja, setauku nggak ada judul FF kayak gitu. Kalaupun ada, pasti hanya kebetulan kok J Okaayy silahkan beri komen dan like yaah~~

 

***

THANKS FOR READING :D WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT :D

FOLLOW @ADOREXONLY for the lastest update about EXO

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL :D JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY Gabechan (@treshaaruu), NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: