THE PAST TIME

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“The Past Time”

 

*Title : The Past Time

*Main Cast :

  • Oh Sehun

*Length :  One Shot

*Genre : Romance

*Rating : PG 15

*P.S :  Ini adalah karya original by YuanFan. Dilarang keras untuk mem-plagiat dan mencopas tanpa seijin author

leave comment please

*Sinopsis : About Sehun, about his ex.girlfriend and new comer..

*Disclaim :

SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

Kulepas tali sepatuku dan menggantinya dengan sole dalam kelas. Beberapa anak saling tegur sapa memberi ucapan selamat pagi padaku, aku hanya menyunggingkan senyuman dan duduk ditempatku. Tak lama kemudian seosangnim datang dan langsung memberi tugas pada kami. Beberapa anak mengeluh, namun tetap mengerjakannya.

“Kau tampak seperti zombie,” Kim Hana teman sebelahku menyenggol sikuku yang tergantung diatas meja. Aku kembali menjawab dengan senyuman.

“Ada masalah? Kau seperti bukan Oh Sehun  yang kukenal,” dia memicingkan matanya melihatku.

“Gwenchana,” jawabku lalu mengalihkan pandanganku pada buku latihan di depanku. Kim Hana tidak bertanya apa-apa lagi.

Bel istirahat berbunyi, 4 jam rasanya cepat sekali berlalu. Kumemasukan buku-buku pelajaranku kedalam tasku sebelum ada seseorang membentangkan lengannya dibahuku. Aku menoleh ke kiri, ternyata Kai. Dia menyeringai sambil mengangkat satu alisnya.

“Kau tidak imut,” kataku lalu melepaskan lengannya dari bahuku.

“Yah, Sehun-ah.. ayo makan~…” dia tidak menghiraukan kata-kataku dan tetap bergelayut manja padaku. Aku mendengus kesal kemudian pergi meninggalkannya menuju ke kantin lebih dulu. Aku mendengar teriakan keluhan Kai, dan aku tersenyum tanpa memperdulikannya.

Kai sangat berisik, dia duduk dengan makan siangnya didepanku tapi tiap detik selalu mengeluhkan makanannya. Kupandang kesal dia, kuharap dia bisa menutup mulutnya. Namun sebaliknya dia malah semakin menjadi.

“Kalau tidak suka, kenapa kau pesan?” tanyaku mulai sengit. Kumakan dagingku dalam-dalam dan mengunyahnya keras-keras.

“Mana kutahu rasanya seperti ini, ini sama sekali tidak enak dilidahku.” Elaknya

“Bukannya itu kau pesan puluhan kali setiap kita makan siang,” gerutuku sambil melanjutkan makanku tanpa mempedulikannya.

Tak lama kemudian dia terdiam, sedetik kemudian memandangku dengan penuh arti.

“Wae?” aku risih dengan pandangannya.

“Apa kabar Jieun denganmu?”

Daging yang kukunyah rasanya tidak bisa kutelan dan berhenti dikerongkonganku. Aku meneguk air sebanyak yang kubisa, menghabiskan hampir seluruh isi gelas.

“Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya? Bukankah, kau sudah tahu kenyataannya,” kataku. Aku menunduk mencoba menghindari pandangan Kai.

“Aku tanya sekarang, bukan 2 bulan lalu,”

“Aku… aku tidak pernah berkomunikasi dengannya,”

“Kau tahu dia ada dimana?”

Aku menggeleng, tetap menunduk dan sebisa mungkin menikmati makananku walaupun rasanya sudah hambar dilidahku.

“Kemarin aku bertemu dengannya, saat pulang sekolah,” Kai menjeda ceritanya, mungkin dia berharap aku memunculkan reaksi. Tapi sia-sia, aku hanya diam saja.

“Kami bicara sebentar, tapi bukan tentangmu, topik lain yang bisa membuatnya tertawa. Dia tertawa, kau tahu?”

Aku bisa membayangkan Jieun tertawa, tapi itu jauh… jauh sekali.  Hampir setahun terakhir ini aku jarang melihatnya tertawa. Dia selalu sembab dan murung. Karenaku.

“Aku lupa bagaimana dia tertawa. Seingatku, dia tidak bahagia disampingku dan ingin mencari kebahagiaan ditempat lain,” rasa sakit dan tertekanku kembali menyeruak memenuhi dadaku.

“Jieun selalu tertawa sejak pertama kali kita berdua bertemu dengannya,” Kai seolah ingin mengatakan bahwa akulah tersangka menjadikan Jieun sosok yang lain, yang lebih buram. Kenyataannya memang itulah yang kurasakan.

“Sehun-ah, aku menyadari sesuatu.”

Aku mengangkat wajahku menatap Kai dengan pandangan menunggu lanjutan apa yang ingin dia katakan.

“Mwo?”

“Aku menyukai Jieun. Aku ingin melindunginya dan membiarkannya tetap tersenyum. Apakah boleh?”

Aku serasa bermimpi. Kai adalah orang yang kukenal luar dan dalam, sejak sekolah dasar kami bersama. Aku selalu tahu jalan pikirannya dan bisa menebak apa yang dilakukannya. Selama 10 tahun ini, baru pertama kali ini dia mengatakan hal yang tak pernah terpikirkan olehku.

“Ne,” jawabku singkat, tapi Kai tetap menunggu aku mengatakan lebih dari itu.

“Aku bukan siapa-siapanya lagi. Dia orang yang bebas, tidak sepatutnya kau harus meminta ijin padaku. Siapa saja boleh menyukaikan?” aku berusaha menyunggingkan senyuman yang dibalas dengan senyuman sangat bahagia di wajah Kai.

“Jeongmal gomawo,” suaranya terdengar girang.

“Ne. Aku boleh pergi dulu? Aku harus keperpustakaan,”

Kai menjawabku dengan anggukan penuh semangat. Aku berdiri dan meninggalkan Kai sendirian di kantin. Ada yang bertalu seperti palu yang dibentur-benturkan ditembok dalam dadaku. Sakit rasanya aku  dan ingin berteriak karena sesak.

2 bulan lalu, aku dan Jieun memutuskan untuk saling menjauh dan saling bersinggungan. Aku lelah dengan keluhan Jieun dan dia lelah dengan sikapku. Semua terasa impas dan membuat satu keputusan, bahwa kami harus berpisah. Kami berpacaran sejak duduk dibangku kelas 1 SMP, dan semua nya berubah seiring berjalannya waktu. Tidak terasa kami hampir 4 tahun berpacaran.

Sejak saat itu, setiap pulang sekolah aku selalu melewatkan makan malam dan mengurung diri didalam kamar, membuka satu persatu benda yang mengingatkanku dengannya. Kadang aku menelurusi jalan yang pernah kami lewati bersama yang mengukir kenangan indah kami. Aku rela harus memutar lebih jauh untuk menikmati sepenggal kenangan kami berdua. Aku selalu berdiri di pinggir marka jalan yang membentangkan pemandangan indah bangunan-bangunan dibawah sana.

“Semua tetap sama, tapi tetap berbeda dimataku,” gumamku, kuhirup nafas dalam-dalam. Melepaskan rasa sesak yang kualami beberapa jam tadi.

Tak lama dari itu aku terdengar suara lain, suara gerakan kaki yang terhenti dibelakangku. Jantungku berdebar sebelum aku sempat menengokan kepalaku. Apa yang harus kulakukan.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya orang dibelakangku.

Aku seketika menoleh kebelakang, merasakan perasaan kecewa saat melihat dibelakangku adalah Kim Hana.

“Aku hanya menghirup udara segar,” kataku. Dia berjalan kearahku mengulurkan tangannya.

“Untukmu,”

Aku menerima minuman kaleng dingin yang dibawanya kemudian meneguk bersamanya sambil memandang bangunan-bangunan dibawah sana.

“Kau sedang mengingat sesuatu?” Kim Hana mulai dengan pertanyaan ini.

“Ne, aku sedang mengingat sesuatu,”

“Apa?”

“Yang tidak seharusnya kuingat.”

Dia mengacak rambut hitamku yang mulai panjang kemudian menepuk kedua pipiku. Wajahku dihadapkannya sejajar dengan wajahnya..

“Ayolah, mana Oh Sehun yang kukenal? Kau bukan pemurung, semuanya bertanya dimana senyuman Oh Sehun yang tampan itu?” dia memberiku semangat.

“Gomawo,” aku tersipu malu.

“Apapun yang terjadi padamu, janganlah berubah. Kau harus tetap Oh Sehun yang selalu tersenyum.”

“sekali lagi terimakasih, kau telah memperhatikanku,”

“Aku memperhatikanmu sejak dari kita awal bertemu.”

Aku mendengus geli mendengarnya.

“Aku menyukaimu Sehun-ah,”

Dan aku tertegun kaku mendengarnya. Hana menolehku sekilas dengan senyuman penuh arti. Aku berharap dia kemudian akan berteriak dengan lantang bahwa apa yang ingin diucapkannya hanya bercanda. Aku memandangnya lama, berharap hal itu terjadi… tapi dia malah berjalan mendekat dan menciumku. Aku tak bisa mengatakan apapun, mematung seperti orang bodoh.

“Aku tidak ingin mendengar jawabanmu, aku hanya ingin mengatakannya agar kau tahu dan perasaanku tidak sia-sia. Aku tahu masalahmu, tentang masa lalumu. Aku sangat lama memerhatikanmu, termasuk saat kau murung dan tertawa ketika melihat ponselmu setiap jam istirahat,”

Sedetik kemudian aku tersadar dan benar-benar kembali pada waktu sekarang. Rasanya aku telah masuk dalam dimensi lain barusan. Aku mengalihkan pandanganku dari Hana ke dataran rendah yang terhampar dibawah kami.

“Aku boleh selalu disampingmu?” tanyanya. Aku tidak bisa mengiyakannya atau menolaknya, aku tidak menjawab apapun.

“Setiap orang berhak untuk melakukan apapun,” jawabku.

“Boleh aku bertanya?” dia tetap menghadapku.

“Tentang kenanganku?” aku menolehnya, dia mengangguk.

“Kalau kau benar-benar menyukaiku, jangan katakan apapun tentang itu. Karena hal itu akan melukaiku juga dirimu yang mendengarnya. Aku juga ingin berkata padamu, hak mu untuk selalu disamping siapa saja. Hakku pula untuk menerima atau tidak, jadi kuharap kau jangan…”

“Aku tahu,” selanya lalu menggenggam tanganku dan ditempelkannya dipipinya. Aku tidak tahu harus berekspresi bagaimana lagi.

Tiba-tiba tak terasa, selama 4 bulan ini rasa kesepianku hilang. Hana selalu mengisi hari-hariku dan Kai setelah pernyataannya saat itu, dia dengan sopannya tidak pernah menyebutkan nama Jieun di telingaku. Dia selalu menyumbang tawa bersama kami berdua.

“Hidupmu kembali,” gumam Kai.

Aku  diam mematung di tempatku, tanganku yang akan menggapai buku menggantung diudara. Kai tersenyum padaku, entah kenapa saat aku menatap mata Kai wajah Jieun terbayang jelas dimataku.

“Kau menyukai Kim Hana?” tanya Kai, dia bersandar dirak buku sampingku. Aku mengayunkan tanganku lagi menyambar salah satu buku dan menepuknya ditelapak tanganku yang bebas.

“Aku menyukainya, hanya sebagai sahabat. Sama sepertimu,” kataku.

“Kau yakin? Dia sangat berharap padamu, dia sangat menyukaimu,”

“Dari awal aku sudah mengatakan padanya, aku berhak untuk menolak siapa saja yang masuk dalam hatiku. Aku sudah memperingatkannya dan dia  mengerti itu,”

Sebelum Kai berbicara aku menyelanya, “Bagaimana perkembanganmu dengan Jieun?”

Aku ingin mengubah topik pembicaraan tapi entah kenapa yang keluar malah topik ini.

“Dia sibuk sekarang,” jawabnya. Aku melirik Kai kemudian kembali pada lembaran-lembaran buku yang kubuka.

“Dia ikut Organisasi di sekolahnya?”

“Tidak, dia sibuk kerja paruh waktu,”

Tanganku secara reflek menutup buku dan memfokuskan pembicaraan dengan Kai. Dia tahu aku antusias, maka diseretnya aku kebangku terdekat dan duduk berhadapan.

“Apa lagi yang ingin kau tanyakan?” katanya mirip guru les sekolah dasarku.

“Dia bekerja paruh waktu? Dimana?”

“Disebuah toko buku tidak jauh dari sekolahnya,”

“Wae?” aku bertanya tak lebih pada diriku sendiri. Apa yang terjadi padanya? Dia kekurangan uang jajan? Atau terjadi sesuatu pada keluarganya. Dia adalah orang yang paling menjujung pendidikan.

“Tenang saja, tidak terjadi apa-apa dengannya. Dia bilang padaku hanya ingin meluangkan waktu kosongnya. Disana dia bilang bisa membaca buku gratis secara Cuma-Cuma. Aku hanya bisa mengantar dan menjemputnya ke tempat kerja. Tidak ada waktu lebih,”

Aku bisa bernafas lega, ada bongkahan oksigen yang sangat segar menembus paru-paruku mendengar keadaannya saat ini.

“Apalagi?” tanya Kai padaku.

“Aniya. Gomawo,”

Kai tersenyum lalu menepuk bahu kananku.

Sekarang aku mempunyai teman seperjalanan ketika pulang sekolah. Rumah Hana ternyata satu jalur denganku, jadi kami berangkat dan pulang sekolah bersama. Herannya, kenapa dia bisa menemukanku di pinggir jalan waktu itu?

“Kau mau mencari buku?”

Aku tersentak dari lamunanku dan memandang Hana yang berjalan disampingku. Entah kenapa aku ketika pulang sekolah langkahku masuk kedalam beberapa toko buku. Hana hanya mengikutiku.

“Ah, ne~. Aku perlu buku bacaan.” Aku memegang beberapa buku tapi mataku fokus pada orang yang lalu lalang.

Aku berharap bertemu wajahnya, aku sangat berharap. Ya, Tuhan, pertemukan aku sekali saja. Aku sangat merindukannya. Ketika kata-kata itu selesai dalam hati, aku melihat seseorang yang sangat kukenal berjalan di jalan depan toko buku yang kukunjungi. Mataku terpanah saat dia masuk dan menyapa beberapa temannya. Senyumnya mengembang seperti yang kulihat setengah tahun lalu.

“Kau darimana?” tanya kasir yang menjaga saat itu. Jieun tersenyum sambil memasang name tagnya.

“Aku mencari Kue untuk adikku, dia memesannya,”

Kasir itu tersenyum dan mengucapkan beberapa kata lagi yang tidak begitu kuperhatikan. Jieun keluar dari balik meja kasir dan merapikan beberapa buku, sambil bertanya pada pelanggan apa perlu bantuannya. Aku sangat memerlukannya disini. Matanya tampak kesana kemari sibuk mengamati pengunjung , sampai kedua mata kami bertemu. Dia memandangku lama, kemudian tersenyum simpul dan menganggukan kepala. Aku tertegun memandangnya, bahkan mataku tak pernah lepas dari sosoknya. Dan aku baru menyadari, aku berjalan kearahnya dan semakin mendekatinya.

“Apa kabar?” tanyanya, senyumnya mengembang ramah. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa setengah tahun lalu.

“Kabar baik. Kau sendiri?” tanyaku, aku berusaha tidak canggung.

“Aku juga baik. Kau tidak ingin mengenalkannya padaku?” dia menunjuk melewatiku.

Kim Hana berdiri setengah jangka dari depanku. Dia memandangku dan Jieun secara bergantian.

“Kenalkan dia Kim Hana, teman sekelasku,”

“Annyeonghaseo,” sapa Hana sopan.

“Annyeonghaseo. Aku Lee Jieun, teman SMP Sehunnie. Yah, Sehun-ah, kau mencari buku apa?” tanya Jieun.

“Jeun-ah, bisa kau bantu aku?” teriak kasir tadi dari belakang mejanya.

“Ne~,” jawab Jieun setengah berteriak sambil menoleh kebelakangnya.

“Aku ada pekerjaan, kalau ada perlu yang aku bantu panggil saja. Annyeong,”

Tanganku reflek menahan lengannya. Mata Jieun terkejut melihatku, dia berusaha pelan-pelan menarik tangannya. Tapi genggamanku semakin erat.

“Sehun-ah, lepaskan aku. Aku ada pekerjaan,” katanya lembut saat kasir itu berteriak memanggilnya. Aku menelan ludahku dan melepaskan genggamanku.

Setelah kejadian ditoko buku itu, seluruh pikiranku kembali dipenuhi oleh Jieun. Kubuka satu persatu halaman buku yang bertuliskan tangannya. Setiap kalimat yang bertuliskan aku harus rajin bangun pagi dan belajar.

‘Sehun-ah, jangan senang memaksaku. Aku tak suka. Jangan membuatku seperti seorang pemarah,’

Itu tulisan yang ada disalah satu lembarnya. Aku tersenyum setiap membaca keluhannya tentang diriku. Dia sering mengeluh dengan semua sikapku, dia kesal dan cemberut dengan apa yang tidak sama dengan pemikirannya. Meski begitu dalam lubuk hati yang paling dalam aku sangat mencintainya.

“Kau tahu Jieunnie.. aku tidak pernah terlambat masuk sekolah dan selalu bisa bangun pagi.. Nilai-nilaiku cukup baik disekolah, aku sekarang bisa berpikir tentang perasaan orang lain dan juga banyak orang yang mencintaiku, selain Kai.” Kudekap buku itu dalam-dalam didadaku.

“Aku berubah, lebih… lebih baik sekarang. Maukah kau kembali?” aku merasakan lelehan dingin dipipiku bersama rasa sesakku yang kembali menyeruak.

Jieun POV

Hari ini aku harus lembur hingga larut malam. Stok buku-buku baru datang dari penerbit. Semua teman kerjaku sudah pulang lebih dulu, kecuali Hyeorin, dia kasirku. Ku buka pintu belakang toko dan mendapati Sehun berdiri disana, bukan Kai.

“Kau terkejut karena bukan Kai yang berdiri disini?” tanyanya.

Aku hanya tersenyum kemudian melambaikan tangan saat Hyeorin berpamitan padaku. Aku kembali memandang Sehun dan berjalan kearahnya.

“Kau ada perlu denganku?”

Dia diam memandangku lalu menarik tanganku dari saku jaketku dan menuntunku kesuatu tempat.

“Kemarin aku tidak sengaja melihat kau dan pacarmu berdiri dimarka jalan yang pernah kita lewati dulu. Aku ingin menyapamu, tapi aku tidak enak hati nantinya,” kataku agak malu.

Aku memecahkan keheningan diantara kami berdua. Sejak 30 menit sampai ditaman ini tidak ada yang bersuara diantara kami.  Hanya berayun diayunan yang hampir reot karena menahan berat beban kami.

“Jinjja?” Sehun seperti orang terkejut saat aku menceritakannya.

“Wae?”

Dia menggeleng dan memalingkan wajahnya dariku.

“Hana bukan pacarku, dia teman sekelasku.”Sehun tersenyum memandangku.

“Ooh… ku kira dia pacarmu,”

Sehun dan aku kembali terdiam. Aku masih canggung walaupun kurasa setelah setengah tahun ini hubungan kami mulai membaik.

“Kai sering menceritakanmu disekolah,” gumam Sehun, aku menoleh memandang wajahnya yang dipantulkan cahaya bulan.

“Kau sering bertemu dengannya,”

“Ne~, aku bertemu dengannya beberapa kali. Kadang dia mampir kemari saat toko akan tutup dan membantuku menutup toko. Dia juga sering menceritakan tentang dirimu disekolah. Aku dengar kau cukup populer dan kau menjadi juara umum semester ini?”

Aku bohong, bukan Kai yang menceritakannya tapi aku yang memintanya bercerita. Aku selalu bertanya pada Kai sampai detailnya. Aku senang mendengar cerita tentang Sehun.

“Aku hanya berusaha lebih baik,” katanya malu. Aku mengembangkan senyumku.

“Syukurlah kau berhasil. Sehun-ah, sudah larut malam. Aku harus pulang,” Aku bangkit dari ayunanku dan bergerak kedepan Sehun dan menganggukkan kepalaku.

“Aku akan mengantarmu,” Sehun menahan lenganku sama yang dilakukannya tempo hari.

Aku mengangguk dan dia berdiri kemudian kami berjalan beriringan.. Rumahku hanya 10 menit dari taman, saat sampai didepan rumahku Sehun mengelus kepalaku sebelum aku masuk kedalam rumah.

“Aniya…” aku menahan Sehun yang ingin mencium puncak kepalaku.

“Aku masuk dulu, kau hati-hati dijalan,” kataku pada akhirnya dan meninggalkan dia sendiri didepan pagar depan.

Kau tahu, kejadian itu tidak bisa membuatku tidur semalaman suntuk. Hasilnya aku bangun hampir kesiangan untuk sarapan. Untungnya aku sempat menyambar roti lapis yang dibuat oleh Mama. Saat aku keluar rumah, aku melihat seseorang berdiri didepan rumahku dan menoleh saat menyadari kehadiranku.

“Selamat pagi,” sapanya.

“Pa..pagi,” balasku.

Aku berjalan kearahnya dan sambil terus berpikir, apa yang dilakukan yeoja teman Sehun ini didepan rumahku pagi-pagi? Menjemputku? Waw, so sweet.

“Maaf pagi-pagi menganggumu. Sekolah kita searahkan?”

Aku mengangguk dengan masih penuh tanda tanya dalam otakku. Kami berjalan berdua, canggung.

“Kau ada perlu denganku? Eh, bagaimana… kau bisa tahu rumahku?”

Dia tidak menjawabku dan terus berjalan sambil menundukan kepalanya. Beberapa langkah kemudian dia berhenti dan berdiri menghadapku. Aku ikut berhenti, memandangnya.

“Aku menyukai Sehun,”

Aku sudah bisa menebak apa yang akan dikatanya dan juga bisa membayangkan topik pembicaraan kami. Aku diam, menunggunya melanjutkan kata-katanya.

“Aku menyukainya sejak kami masuk SMA. Aku selalu memperhatikannya disekolah, tapi dia selalu memandang ponselnya sambil tersenyum. Saat itu aku tahu, dia sudah mempunyai kekasih. Setiap jam dia akan membawa ponselnya dan melihatnya berulang kali kemudian tersenyum. Lalu, 6 bulan lalu… dia tetap suka menatap layar ponselnya berulang kali namun tidak tersenyum Seperti biasanya. Wajahnya berubah seperti orang khawatir dan kecewa. Dia menjadi orang pemurung dan sering melamun dikelas, dunianya seperti berpindah. Kemudian dia tidak pernah menyentuh ponselnya lagi.”

Aku menggesek-gesekan kakiku keaspal saat mendengar cerita Hana. Entah kenapa kakiku bergetar saat aku harus berdiri tegak.

“Aku tahu kau orang yang membuatnya tersenyum itu dan membuatnya murung. Dia memang tidak pernah menyebutkan siapa nama kekasihnya dan menceritakan tentang kisah kalian, yang aku tahu kisah kalian adalah nafas panjang bagi seorang Oh Sehun. Beberapa bulan yang lalu aku menyatakan cinta, dia hanya diam. Aku tahu dia tidak ingin menyakitiku, aku sendiri sudah tahu seluruh hatinya hanya untukmu. Sampai aku benar-benar bertemu denganmu tempo hari. Aku menyadari ada kehidupan saat Sehun memandangmu. Dia benar-benar menyukaimu,”

Aku tidak sanggup mengatakan apapun, sampai kami berdua berjalan lagi aku masih belum bisa bicara sepatah katapun.

“Aku memberimu pilihan, walaupun ini bukan hakku. Tinggalkan Sehun agar dia melupakanmu atau kembalilah padanya,”

“Itu bukan pilihan. Itu ancaman bagiku, mungkin memang bukan salahmu, tapi kau tidak tahu seluruh cerita ini. Kau hanya melihat Sehun, kau tahu aku mencintainya sangat mencintainya. Kami memutuskan berpisah, karena semuanya tidak bisa sejalan. Aku takut saat itu berjalan sendirian tanpanya, aku kesepian tanpa ada suaranya yang mengucapkan selamat malam padaku. Aku rindu dengannya, aku bahkan tersiksa selama 6 bulan ini. Lalu tanpa kusangka dia datanglagi, aku takut apa yang kuperjuangkan sia-sia. Walaupun itu Oh Sehun yang sama, aku yakin dia bukanlah untukku lagi,”

“Aku juga,” aku merasakan pelukan hangat dari balik punggungku. Oh Sehun memelukku tiba-tiba dengan sangat erat.

“Yah, kau pengecut. Kenapa kau bersembunyi?” omelku.

“Aniya, aku tidak tahu apa-apa, sampai Hana menyuruhku berdiri disini untuk menunggumu,”

“Kau merencanakannya?” aku bertanya pada Hana.

“Kai yang memintakku, setelah dia ditolak olehmu dia ingin kau kembali pada Sehun. Dia tidak rela melihatmu dengan namja lain selain Sehun,” Hana tersenyum.

“Saranghe~,” Sehun semakin erat memelukku, disaat yang sama aku sadar ini terlalu terlambat untuk masuk sekolah. Hana berlahan berbalik dan meninggalkan kami berdua. Dia sempat menganggukan kepala saat mata kami bertemu.

“Jangan pergi lagi,” aku mendengar suara Sehun setengah terisak.

“Aniya…” aku mengelus lengan Sehun yang melingkar dileherku.

Ada rasa lain, rasa ganjal yang ingin kulepaskan. Saat melihat jalanan dimana ada jejak Hana yang tak terlihat, aku baru menyadari.

“Hana yang merencanakan ini?” tanyaku.

Sehun melepaskan pelukannya dan beralih berdiri didepanku. Dia mengangguk. Anak itu menyukai Sehun sejak mereka menjadi teman SMA, dan tetap menjadi orang perhatian walaupun dia tahu Sehun tak akan pernah melihatnya. Dia tetap disamping Sehun dengan kenangan-kenangannya tentangku tapi dia terus bertahan. Bahkan dia rela Sehun bahagia dengan merencanakan seperti ini. Bukankah itu artinya dia mempunyai cinta yang tulus dan sangat besar. Saat itu aku sadar, bagaimana persaannya sekarang.

“Jieunnie!!!” teriak Sehun saat aku tiba-tiba berlari menelusuri dimana Hana berjalan tadi

Aku berlari lebih cepat lagi saat Sehun mengejarku, seakan aku tidak mau dia menahanku untuk mengejar Hana. Tikungan gang depan mengarah kearah trotoar jalan raya. Aku berhenti mengatur nafas dan menoleh kanan dan kiri mencari Hana.

“Hana-yah!!” aku berteriak pada Hana yang hampir berada ditengah jalan raya yang ramai.

Beberapa orang mengklason Kim Hana yang yang mencoba menyebrang. Aku tidak tahu… yang kulihat hanyalah pandangan kosong kemudian tersenyum saat aku bertatap mata dengannya.. Tiiiiiin!!!!! Suara terakhir yang memekik ditelingaku.

Sehun POV

Aku lega mendengar apa yang dikatakan Jieun dan spontan memeluknya erat. Aku merasa dia kembali disisiku lagi. Kim Hana, dia adalah orang yang paling berjasa dalam hal ini. Dia menceritakan bahwa Kai telah ditolak Jieun beberapa minggu yang lalu dan memaksaku kembali pada Jieun. Dialah yang selama ini berada disampingku dan membuatku lebih tegar sekalipun disaat kenangan bersama Jieun bangkit.

“Hana yang merencanakan ini?” Tanya Jieun padaku. Aku melepas pelukanku dan berjalan kedepannya kemudian menghadapnya. Aku mengangguk. Raut wajahnya seketika berubah, seperti ada sesuatu yang salah.

“Jieunnie!!!” teriakku saat Jieun tiba-tiba berlari dariku.

Aku mencoba mengejarnya sampai di tepi jalan raya dia berhenti. Aku berlahan menghampirinya.

“Hana-yah!!” teriakknya tiba-tiba.

Mataku terbelalak saat melihat Hana, entah sadar atau tidak, dia melintasi jalan raya yang sangat ramai. Beberapa mobil mengklaksonnya agar minggir. Kuambil langkah langkah lagi, segera melompat menariknya minggir. Namun, Jieun sudah melintas didepanku terlebih dahulu. Tiiiinnnn!!!! Suara klakson yang mencicit membuatku membeku, tubuh Hana terlempar ke pinggir jalan karena tarikan Jieun. Dan…  Jieun…. terpental melewati badan mobil yang menabraknya.

“YYYAAAHHH!!!” tak ada kata-kata yang bisa kukatakan lagi.

Semua orang berlarian kearah Jieun yang tersungkur, semua mobil berhenti dan para kemudinya keluar. Kuterobos orang-orang itu dan bersimpuh disebelah tubuh Jieun yang sudah berlumuran darah.

“Yah! Jieuun-ah!! Yah!!!Ireona! Ireona!!!” perasaanku kalut dan takut memeluk tubuh Jieun yang lemas tak berdaya. Aku hanya bisa terus berteriak memanggil namanya, aku berharap dia menggerang. Itu saja bisa melegakanku. Tapi dia tetap diam.

“Jeongmal changsahamnida, Jieun-ssi dalam keadaan kritis. Dia tidak bisa diselamatkan lagi,”

Kata-kata dokter terus bergema dikepalaku. Aku sudah tahu, hal ini mungkin akan disampaikannya padaku. Aku berjalan melewati Jieun yang terbujur dengan kardiograf bersignal lemah. Kakiku rasanya lemas dan mati rasa, tanganku rasanya kebas, seluruh tubuhku seperti kehilangan aliran darah.

“Jieun-ah…” panggilku menggenggam tangannya yang mulai pucat.

Jieun POV

Aku melihat mata sayu Sehun dan  langkah gontainya menghampiri tubuhku. Aku ingin menggapai dan memeluk tubuhnya, dan mengatakan ‘aku sangat mencintainya’

“Jieun-ah..” aku mendengar dia memanggilku sambil menggenggam tanganku dan menciuminya.

“Jangan tinggalkan aku, jaebal…” ucapnya serak.

“Aku tidak ingin meninggalkanmu,” gumamku dan aku tahu dia tak akan bisa mendengarku.

“Bangunlah… kau belum melihat aku yang sekarang. Aku lebih baik… aku akan meluangkan seluruh waktuku untukmu. Aku tidak akan berbicara kasar lagi padamu. Aku akan menghujanimu dengan kata cinta sepanjang waktu. Maka dari itu, bangunlah… bangunlah, Sayang…” ucapnya, aku melihat airmatanya menetes disudut matanya.

“Aku tahu dirimu yang sekarang. aku tahu Sehun-ah…. Jeongmal mianhe…”

Kardiograf disampingku menandakan detak jantungku berangsur lemah. Aku tahu, aku akan merindukannya. Aku akan merindukan Mama dan Papa, aku akan merindukan Kai, dan aku tidak bisa mengenal lagi Kim Hana lebih dekat lagi. Anak berhati mulia itu memang pantas untuk Sehun, aku berharap mereka bisa hidup bersama nanti. Kim Hana sedari tadi berdiri bersama Kai sepertinya tidak disadari oleh Sehun.

“Jeongmal gomawo…” aku membisikan kata kepada mereka berdua. Hana dan Kai seperti tersentak dan melihat sekitar.

“Sehun-ah,” aku membungkuk didepan Sehun. Dia tidak menyadariku.

“Jeongmal saranghe… aku sangat mencintaimu..”  ku kecup pipinya.

Tiiiiittttt… suara menandakan jantungku terputus dengan dunia. Saat itu Sehun mulai kabur didepanku. Yang terakhir kulihat dan kudengar adalah airmata deras dan teriakan histerisnya memanggilku.

Sehun POV

‘Yah, Jieun-ah… aku setahun setelah kau pergi. Aku baik-baik saja disini, dan kau tahu aku lulus dengan nilai tertinggi nasional. Aku tidak percaya, tapi semua hal yang sarankan padaku, ku jalankan dengan baik. Inilah hasilnya, jeongmal gomawo. Setelah ini aku akan melanjutkan kuliahku di London, aku akan menjadi arsitek terkenal nanti. Aku akan membawakanmu angin London. Kau tahu, aku merasa menjadi namja yang paling beruntung karena mengenalmu dan memilikimu. Kau adalah satu sisi hidupku yang sangat berarti… kau tidak akan pernah mati dalam hatiku. Tidak akan. Jieun-ah, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.

~Oh Sehun~’

Kulipat surat yang kutulis menjadi sebuah pesawat terbang, dan menerbangkannya bersama angin.

“Sehun-ah!!!”

Hana berlari menghampiriku sambil melambaikan tangan. Dibelakangnya Kai berjalan tersenyum padaku. Dua bulan yang lalu mereka berdua resmi menjadi sepasang kekasih. Aku turut bahagia.

“Yah! Ayo kita foto bersama,” Hana menghadapkan kamera depannya.

“Yah, Chagi-yah…aku cemburu,” gerutu Kai.

Aku mendengus geli mendengarnya.

“Kau selalu menjadi nomor dua,” gumamku.

Kai mencekik leherku sambil berteriak, “Hana-yah, cepat foto kami!!”

Hana sangat antusias. -_-“

Ah, Jieun-ah… ada satu lagi yang belum ku katakan padamu. Maukah kau menikah denganku? Aku tersenyum membayangkannya. Tapi aku tahu dia akan mengangguk. Jieun-ah saranghe..

The End

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT  😀

Tinggalin komen, kritik dan sarannya  ya 😀

Gomawo udah mau baca karya saya 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @yuanwufan @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

Page by author https://www.facebook.com/HereFfKpopComunity

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged:

One thought on “THE PAST TIME

  1. Ellana Nabilah February 4, 2014 at 8:35 AM Reply

    Keren thor!!! Keep writing~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: