EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – FINISH

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Just Like You”

 

*Title : Just Like You

*Part : FINISH

*Main Cast :

  • Kris Wu
  • Kim Hyeon
  • Kim Sun Hye

*Length :  Series

*Genre : Romance

*Rating : PG 13

*P.S :  Ini adalah karya original by YuanFan. Dilarang keras untuk mem-plagiat dan mencopas tanpa seijin author

leave comment please

*Sinopsis : Here… part ending of the story. Sadness or Happiness?

*Disclaim :

SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

Kris POV

Kebenaran yang kurang ajar. -__-“. Aku mengingat Luhan sambil celingukan mencari taksi. Aku harus menemukan sebuah Hotel, aku lelah ingin tidur. Aku sengaja tidak berpamitan pada Hyeon karena aku tak akan sanggup menatap matanya. Kris… relakan dia. Sekarang melangkahlah ke depan.

“Sudah kuduga kau ada disini, Kris-ah,” aku mendengar sebuah celetukan yang suaranya sudah kuhapal diluar kepalaku. Aku berbalik memandang sosok yang berdiri dibelakangku.

“Kau tidak mendengar kata-kataku?” aku bertanya sambil menatap Sun Hye menyalang. Dia mengangguk.

“Aku kemari menemui Chanyeol,” ucapnya

“Kau terlalu banyak alasan,” dengusku.

Sun Hye tersenyum dia berdiri disampingku dan memandang jalan raya didepannya. Dia mau mencari taksi juga?

“Kau sudah menemui Chanyeol?” tanyaku. Anehnya Sun Hye menggeleng.

“Didalam masih ramai orang,” katanya.

“Aku sekarang ingin mencari hotel,”katanya lagi tanpa memandangku.

Aku melambaikan tangan pada sebuah taksi kosong. Taksi itu berhenti tepat disebelah kami. Sebelum aku masuk kedalamnya, kutarik lengan Sun Hye.

“Cari hotel bersamaku,” kataku lalu menyuruhnya masuk kedalam taksi duluan. Sun Hye menatapku tanpa ekspresi.

“Aku tidak akan membiarkan calon pengantinku berkeliaran sendirian,” rasanya ada yang tertusuk saat aku mengatakan kalimat itu. Wajah Hyeon tergambar jelas dimataku.

“Kita sekamar?” tanya Sun Hye saat aku hanya memesan hanya satu kamar untuk kami berdua. Aku melihatnya sekilas lalu mengangguk dan berjalan mendahuluinya.

Sesampainya dikamar, aku melepas tasku dan menghempaskan diri diranjang. Aku memejamkan mata, hanya mendengar suara gemerisik Sun Hye menata barang-barangnya.

“Kita akan pulang besok,” gumamku sambil berbaring menutup mataku dengan lenganku. Sun Hye diam.

“Kita persiapkan semuanya. Semuanya. Pernikahan… kita.” Aku tak sanggup membayangkan semua. Meninggalkan semua.

Semua hal kenanganku masa lalu, sebelum semuanya berubah membanjiri pikiranku. Xiumin, Suho, Luhan, Chanyeol, Sun Hye dan… Hyeon. Semuanya. Janji Hyeon terngiang ditelingaku. Kami akan bertemu nanti, sampai dia berubah pikiran dan melepaskan diri dariku. Aku tahu, dialah orang yang paling terluka. Menanggung beban berat dan rasa pedih yang terdalam.

Aku masih menyukai Kim Sun Hye…

Kebenaran yang dibisikan Luhan itu semakin membuat lubang mengangah didadaku. Rasa bersalahku memenuhi seluruh ruang dihatiku. Aku membuka mataku, tampak kabur. Aku merasakan lelehan airmata.

“Aku ingin pergi sebentar,” aku menghapus airmataku dan segera keluar dari kamar.

Sun Hye POV

Aku melihat Kris menangis. Ya, dia menangis lagi. Pasti karena Hyeon. Tak ada lagi selain itu. Sedalam itukah cinta Kris pada Hyeon? Dia menyebalkan, Hyeon memang sangat menyebalkan. Kris dari awal memang untukku, hanya takdir yang yang memperumit kami untuk bertemu. Aku tak akan mengatakan apapun, aku hanya diam memandanginya.

“Aku ingin pergi sebentar,” dia bangkit dari tidurnya, tanpa melihatku dia beranjak pergi meninggalkan kamar. Aku melihat sekilas dia mengusap air matanya yang sempat meleleh.

Aku segera mengambil kunci kamarku, dan segera mengikuti Kris diam-diam. Dari belakang, dia tampak sedang menelepon seseorang. Aku terus mengikutinya dari jauh. Sampai dia tiba disebuah taman penuh dengan pepohonan rindang, aku mengambil duduk yang agak jauh. Tak lama dari itu, aku melihat seseorang datang. Jantungku bertalu kencang, mataku sedikitpun tak berkedip dari mereka. Aku hanya duduk diam mematung memandang Kris dan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya Hyeon. Andai aku bisa lebih dekat dengan mereka, aku akan bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku mati penasaran rasanya.

“Apa yang kau lihat?” celetuk seseorang dibelakangku. Aku terkesiap kaget dan menoleh orang itu.

“Memata-matai itu pekerjaan yang sangat buruk,” Luhan berkata sambil tersenyum, kemudian dia duduk disebelahku.

Sial, dia menganggu konsentrasiku. Aku hanya sesekali memandang Kris dan Hyeon yang entah mengapa mereka beradegan seperti film india. Saling menahan tangan saat salah satu dari mereka akan beranjak.

“Sudah kubilang kan, tidak baik, Sun Hye-ya…” gumam Luhan lagi.

“Kau sangat mengangguku.” Dengusku.

“Biarkan Kris dan Hyeon menuntaskan permasalahan mereka. Nanti akhirnya dipermainan ini, kau yang akan memenangkannya,”

“Aku tak pernah takut kalah,” kataku sebal.

“Perhitungan dan rencanaku tak akan pernah meleset. Apapun yang kumau akan segera kudapatkan. Aku yakin, akulah pemenangnya,”

“Kau sangat optimis. Bagus sekali,”

Luhan kembali tersenyum memandangku. Seakan-akan dia tersenyum pada adik kecilnya yang sudah berhasil membuat tindakan baik.

“Aku tak butuh pujianmu,” tukasku.

“Dan kurasa cukup sampai disini kau ikut campur urusan mereka. Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri. Aku yakin mereka sudah tumbuh dengan sangat dewasa. Dan kau… ikut aku,”

“Yah! Luhan-ah!!”

Aku berontak saat Luhan mencoba menyeretku pergi. Aku tak bisa berontak, tenaganya cukup kuat. Luhan sama sekali tidak peduli dengan aku yang berontak. Dia sangat menyebalkan. Dia malah mengajakku makan ice cream, yang sama sekali tak memuaskan haus penasaranku. Aku memandang sebal Luhan yang sedang menikmati ice cream vanillanya, dia hanya melirikku tak berdosa.

“Yah, aku menraktirmu. Kenapa kau membiarkan ice cream indah itu meleleh?” katanya dengan sok suci.

“Kau sangat menyebalkan,” umpatku.

Luhan melihatku sekilas kemudian tersenyum simpul. Dia meletakkan sendok yang dikulumnya dan menatap mataku dengan eyes smile-nya. Jujur ku akui sekarang, dia sangat tampan.

“Kau sangat optimis kalau kau akan menang. Seharusnya kau bersantai, jangan terlalu tegang. Semuanya akan tetap pada alurmu,” dia menyindirku.

Aku diam, kalau aku menimpalinya tenagaku akan terbuang percuma karena berdebat dengan Luhan. Tak terasa sudah lebih dari setengah jam aku disini, bahkan ice cream yang kupesan sudah hampir menjadi cair semua. Rasa penasaranku semakin besar.

“Yah, aku ke toilet sebentar,” kataku pada Luhan.

Saat aku hilang dari pandangannya, aku mengendap-endap keluar dari kafe dan pergi kembali ke taman. Tapi mereka berdua sudah tak ada disana. Aku akan mati penasaran, aku berbalik.

“Ah!” pekikku saat ada seseorang berdiri tepat dibelakangku.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Bisakah kita bicara, Hyeon-ah?” tanyaku pada Hyeon yang menatapku datar.

“Hanya kita berdua,”

Kris POV

Aku mencintaimu” ucap Hyeon beberapa saat lalu.

Kata-kata itu membuatku sedikit lupa ingatan dan daratan. Aku seperti bermimpi saat Hyeon mengatakan satu kalimat itu. Aku diam terpaku menatapnya masih tak percaya

“Aku tak bisa melupakanmu, aku sangat mencintaimu,” tandasnya lagi.

Aku mencoba mengumpulkan segenap kesadaranku lalu memeluknya erat. Satu katapun tak bisa keluar dari mulutku. Lidahku keluh, hanya ini yang bisa kulakukan untuk menunjukan betapa cintanya aku padanya.

“Maka dari itu jangan pergi lagi,” pintaku.

Hyeon sedikit mendorongku mundur. Dia menggeleng pelan.

“Jalan kita sudah berbeda.”

“Tap—“

“Kau mau melukai seorang lagi?” tanyanya.

“Belajarlah dewasa Kris. Bila kau tak bisa dengan orang yang kau cintai, maka cintailah orang yang sekarang bersamamu,” katanya.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, ternyata Hyeon semakin bertambah dewasa. Kubelai lembut pipinya. Kutatap matanya teduh, kupandang senyumannya.

“Aku berat,” gumamku.

“Aku juga. Berat rasanya memutuskan hal ini. Tapi Tuhan pasti mempunyai rencana lain untuk kita. Mungkin tidak sekarang, mungkin besok atau lusa kita bisa bahagia bersama,”

Sakit. Dadaku rasanya sakit dan sesak, tapi diantara itu ada sebuah aliran udara yang menyegarkan. Kata-kata Hyeon merasuk dalam pulung hatiku dan menyejukannya. Perlahan kupeluk dia.

“Kau tahu, pertama kali kita menikah. Hal yang ada dalam pikiranku adalah kau anjing penjagaku,”

“MWO?” Hyeon mau berontak melepaskan pelukanku tapi semakin kueratkan.

“Karenamu aku berubah, karena aku menjadi seperti sekarang. Aku mengalami banyak perubahan dari hidupku yang berantakan. Aku sangat menyayangimu,” ucapku.

Rasanya aku tak ingin melepaskan pelukan ini. Aku tak ingin dia pergi lagi, tapi… biarlah waktu yang menjawabnya. Ku renggangkan lenganku dan menunduk memandang wajahnya.

“Aku juga menyayangimu, Kris-ah…”

Aku tersenyum antara pahit dan manis. Kuangkat dagunya keatas dan mendekatkan wajahku padanya. Sampai kedua wajah kami tak ada lagi jarak. Biarkan ini untuk sejenak. Biarkan hari ini kami berdua bersama. Dan biarkan untuk terakhir kalinya aku menciumnya.

Selamat menempuh hidupmu yang baru Kris,” gumamnya yang masih mendengung dikepalaku sampai saat ini.

**

Hari ini aku dan Sun Hye kembali ke Korea. Seperti janjiku padanya, aku akan menikahinya besok. Ya, besok pagi aku akan menikah dengan Sun Hye. Seperti mimpi buruk, tapi aku berusaha menerimanya. Selamat tinggal untuk semuanya, untuk Hyeon-ku.

“Kris, bangun. Kau akan telat diupacara pernikahanmu sendiri,”

Aku langsung membelalakkan mataku. Wajah Mama memenuhi pandanganku. Aku mendengung dan bergelung lagi.

“Aku ingin men-skip­-nya bisa?”

“Kau jangan konyol. Ayolah,” Mama menarik tanganku sehingga aku terpaksa turun dari ranjang dan menuntunku ke kamar mandi.

“Cepatlah sedikit, ini pernikahanmu,”

Tiba-tiba perutku mulas dan jantungku bertalu. Hari ini ternyata aku akan mengakhiri masa lajangku. Hyeon. Selamat tinggal. Aku tersenyum didepan wastafel kamar mandi.

Mama mengomeliku sepanjang jalan karena aku sangat lelet. Sampai ditempat upacara pernikahan, aku sempat melihat beberapa orang yang kukenal tersenyum padaku. Sekilas aku melihat Sun Hye mengenakan gaun pernikahan, dia sangat cantik.

“Pengantinmu sangat cantik,” Suho berbisik tiba-tiba.

Aku meliriknya sebal. Disebelahnya Xiumin lengkap dengan jas hitamnya terkikik, ingin kulempar sepatuku.

“Kenapa kau ada disini, ini ruang ganti,” omelku.

“Pelit,” gerutu Xiumin.

“Aku juga ingin melihat Sun Hye yang cantik. Nanti kau juga memiliki sepenuhnya, siang dan malam,” lanturnya, semakin membuat perutku mulas.

“Diam.” Seruku sebal.

“Kris, kau dipanggil,” seseorang memanggilku untuk bersiap ke altar. Aku berdiri dari dudukku dan menghela nafas panjang.

“Kau nervous ?” celetuk Suho

“Kau akan merasakannya nanti,” kataku sambil lalu, seraya menepuk dada Suho.

Aku berdiri dialtar, rasanya badanku panas dingin. Apakah ini rasanya menikah?  Padahal ini bukan pertama kalinya aku menikah. Aku dan Hyeon tak pernah segugup ini, mungkin karena ini untuk kehidupanku selamanya.

“Sebentar, kita menunggu mempelai laki-laki satunya,” bisik pendeta padaku.

Aku hanya mengerutkan dahiku.

“Hari ini ada dua pernikahan yang bersamaan. Nah, itu dia.”

Seseorang namja dengan setelan jas pengantin berdiri disisi yang lain. Aku tak habis pikir memandang calon mempelai pria didepanku. Apa tidak ada hari lain selain hari ini?

“Kenapa kau memandangku seperti itu Kris?” tanya mempelai didepanku.

“Apa yang kau lakukan disini Luhan-ah?” pikiranku melayang kemana-mana.

Kalau dia disini, apakah dia… menikah?! Berarti mempelai wanitanya.

Aku berlahan memandang jalan menuju altar yang dialasi karpet merah. Dua mempelai wanita. Sun Hye sangat cantik. Tapi aku tahu apa yang membuatku jantungku mau loncat dari tadi. Hyeon. Dia mengenakan gaun pengantin. Terlihat sangat bersinar. Tapi, ini tidak mungkin… sangat tidak mungkin. Luhan tersenyum padaku.

“Kau gila?!” bisikku menekan.

“Ini yang namanya takdir,” gumam Luhan tanpa memandangku, pandangannya pada mempelai wanita didepannya.

Hyeon dan Sun Hye kini hanya beberapa meter dariku dan Luhan.

“Kau tampan Kris,” gumam Hyeon melirikku. Sun Hye melirik Hyeon seraya tersenyum tipis.

“Ups…” gumam Hyeon lagi.

Sebelum mereka menaiki altar, Hyeon dan Sun Hye saling berpandangan. Mereka bertukar tempat lalu menaiki altar. Tangan Hyeon mengapit lenganku. Ini hanya mimpi, aku tertidur di kamar mandi. Aku yakin.

“Aku nyata,” gumam Hyeon seraya melirikku dan mengeratkan apitan tangannya.

Antara ingin menangis dan tertawa puas. Aku  juga mengeratkan lenganku dan mulai mengucap janji suci. Aku menoleh pada Sun Hye sekilas, tangannya bertautan dengan Luhan.

“Aku tulus melakukannya. Aku menemukan siapa yang menyayangiku, walaupun diakhir, tapi belum terlambat ‘kan?” ucapnya. Aku mengangguk dan baru sekali ini aku tersenyum tulus padanya.

“Silahkan cium pasangan kalian,” kata orangtua didepan kami.

“Ahhh~~…” keluh Luhan.

“Bisakah kalian yang lebih didalam nanti,” aku mendengar suara Sun Hye tampak sebal ketika aku langsung memeluk Hyeon dan menciumnya dalam-dalam. Kudengar riuh tepuk tangan undangan. Aku tak peduli didepanku kini hanya Hyeon. Benar, Hyeon.

“Aku kembali padamu, bukan kemarin kita bahagia bersama. Tapi sekarang,” gumam Hyeon. Aku meneteskan airmata bahagiaku dan diusap dengan jari lembutnya.

“Aku mencintaimu,”

“Aku juga mencintaimu,”

“Forever…” gumam.

Sun Hye POV

Aku lega. Akulah yang menang. Semua berjalan sesuai dengan apa yang kuinginkan. Aku melihat Kris begitu bahagia, dia mencium Hyeon seakan didunia ini hanya mereka berdua. Kalau saja pikiranku tidak berubah, mungkin, sekarang posisi Hyeon itu diisi olehku. Tapi, Kris tak akan menciumku seperti itu dan… tak akan senafsu itu.. haha. Wajar bila aku merasakan sesak melihat mereka, karena sisa-sisa perasaanku masih berlebih. Disaat yang sama aku merasakan genggaman lembut yang menguatkanku. Luhan. Aku menoleh dan tersenyum padanya.

“Tidak adil bila aku tidak melakukannya juga,” gumamku, kemudian membimbing wajah Luhan lebih dekat dan sangat dekat denganku.

“Aku akan menunggumu, sampai kau benar-benar berlari lurus kearahku,” gumamnya dan memandangku teduh. Aku mengangguk dan tersenyum kemudian menciumnya sekali lagi.

“Ah~, bisakah mereka berhenti?” aku mendengar celetukan Suho. Bukan kepadaku dan Luhan, tentu saja, pada sebelahku.

“Mereka sudah gila,” gumamku agak bosan juga.

“Ah~” rintih Kris saat aku menendang tekuknya dengan pelan dan hati-hati.

“Apa yang kau lakukan?”

“Berhenti.” Aku memelototinya dan memberi isyarat dengan menggedikan kepalaku pada tamu undangan. Kris hanya berwajah datar, kemudian mencium pipi Hyeon dan mereka berhenti.

Aku melihat wajah kesal Suho dan Xiumin pada Kris.Mereka  terlihat sangat risih. Luhan tersenyum ketika memandangku dan meeratkan pengangan tangannya. Saat itu aku menemukan wajah Lay-ssi dibarisan undangan. Dia tersenyum. Ya, dialah yang berperan penting disini dan idenya sangat luarbiasa. Mama, berada dibarisan paling depan, untuk pertama kalinya tersenyum tulus padaku. Pikiranku melayang ke beberapa hari yang lalu.

Amarahku meledak, rasanya ingin membunuh Hyeon dan mencuci otak kepala Kris. Aku bisa saja melakukannya. Ya, aku akan melakukan apa yang kumau.

Bisakah kau tahan dengan orang yang kau cintai, tapi hatinya masih tertinggal disuatu tempat? Bisakah kau selamanya memandang orang yang kau cintai yang selalu kau pandang tapi sekalipun dia tak pernah memandangmu? Sakit. Hal yang yang wajar dialami ketika hal itu terjadi. Aku sudah berulang kali menahannya, dan membuat hatiku kebas dan mati rasa. Sampai saat aku melihat lelehan airmata Kris.

Hatiku tak akan terbuka selamanya, aku akan membutakan diri demi Kris berada disampingku selamanya. Kupikir itulah pilihanku. Ternyata aku salah. Sebuah amplop kuning kecil dari Luhan mengubah segalanya.

dear, Sun Hye…

Aku tak tahu apa yang harus kukatakan sekarang. Aku menulis surat ini dalam waktu sangat singkat. Aku hanya bertanya, maukah kau berpaling kepadaku dan meninggalkan Kris? Aku tahu, kau sangat mencintainya, dialah sosok impianmu dan aku tak ada tempat lagi dihatimu. Kau tahu, ini pernyataan gila kepada calon pengantin sahabatku. Tapi aku tak bisa lagi menahannya. Aku sangat mencintaimu dan aku tah, kau tidak. Aku tak akan mengatakan hal lain disini, aku hanya menuliskan apa yang tak sanggup kukatakan. Saranghe… jeongmal saranghe. Lihatlah dengan hatimu, dan tutup matamu. Temukan apa yang sebenarnya diinginkan hatimu. Jangan kau besarkan ego-mu Sun Hye-ya.. cinta yang sebenarnya adalah membuat bahagia bukan sebuah siksaan. Sun Hye-ya, maukah kau menikah denganku?ini hal bodoh yang kulakukan sekarang,”

Setelah aku melipat kembali kertas itu. lama aku berdiri dan kemudian aku berlari mencari sosok Luhan yang baru saja menghilang. Aku mengikuti jejaknya, namun terlambat. Mungkin dia sudah naik bus.

“Kau mencariku?” aku mendengar suara Luhan dari arah belakangku. Aku membalikan badanku.

“Aku tahu kau akan mencariku. Aku tahu, kau masih mempunyai perasaan dan hati yang tulus,” gumamnya.

Dia benar-benar menyebalkan. Aku hanya memandangnya. Baiklah, kuakui sekarang hatiku benar-benar seperti terterjang ombak yang entah harus berpegangan kemana. Aku tahu, selama ini aku menutup mata atas penderitaan Kris dan Hyeon.

“Sekarang kau menyadari apa yang kau lakukan?” tanya Luhan melangkah maju sedikit mendekatiku, aku menatap matanya yang teduh.

“Sayangilah dirimu juga. Kau manusia, yang tak selamanya bisa menahan semuanya.”

“Kris akan mencintaiku seiring berjalannya waktu,” ya, dia akan mencintaiku suatu saat nanti.

“Seandainya kau diposisi Hyeon sekarang. Apa pikiranmu?”

Ada yang berdetak menjengkelkan dalam dadaku. Luhan mengangkat satu alis matanya.

Aku tak pernah sekalipun memikirkan hal itu.

“Itu…” aku tak tahu harus mengatakan apa.

“Aku tak pernah memikirkan hal itu dan aku tak peduli dengan hal itu,”

“Jangan egois lagi, sayangi hatimu.. jangan buat hati tulusmu ini kotor,” Luhan melangkah mendekatiku dan membelai pundakku halus.

Pikiranku masih berkutat diantara dua hal yang bertentangan dalam hatiku. Aku memandang Luhan tajam. Mata teduh itu menatapku teduh dan bibir mungil itu mengembangkan seulas senyum tipis.

“Aku akan tetap pada pendirianku,” ucapku kemudian.

Pandangan Luhan seketika berubah buram dan mengangguk lemah.

“Aku tahu, kau akan melakukan hal ini,” gumamnya kemudian berbalik berjalan memunggungiku.

Pikiranku masih bertarung sengit, antara ‘ingin’ dan ‘tak ingin’. Hal ini lebih menyiksaku. Lebih menyiksaku ketika menerima penolakan dari Kris.

“5 hari lalu…” kataku membuat Luhan menghentikan langkahnya.

“aku melihat dengan nyata Kris menangis, aku tak tahu mengapa dia menangis. Tapi disela-sela tangisannya dia mengatakan akan menikah denganku akhir pekan ini. Dialah yang merencanakan. Bukan aku. Asal kau tahu itu,”

Luhan berlahan berbalik kembali kearahku. Wajahnya kembali memandangiku dengan ekspresi yang membuat siapa saja nyaman memandangnya. Aku menghilangkan pikiran busuk ini, dia adalah namja biasa saja, Sun Hye-yah…

“Lalu bagaimana perasaanmu setelah itu?” tanyanya.

Aku diam, memutar mata mencari jawabannya.

“Jujurlah,” katanya lagi.

“Hina. Aku merasa hina saat itu,”

Ya, itulah perasaan yang kurasakan dan kutampik mati-matian.

“Normal,” gumamnya seraya tersenyum kecil.

Apakah dia masih waras? Aku jadi takut melihatnya tersenyum seperti orang gila seperti itu.

“Sejak saat itu, entah terasa atau tidak… aku mulai menerima sikap Kris dan memandangnya bukan Kris yang kuinginkan. Tapi, seperti layaknya Kris sekarang. Mau tak mau ku akui… aku mulai merasakan perasaan menderitanya,”

“Lalu?” tanya Luhan mengangkat sebelah alisnya.

“Entahlah,” gumamku, aku ingin menangis.

Tapi… ternyata bukan hanya ‘ingin’ tapi aku sudah menangis. Aku merasakan rengkuhan tangan yang lembut dan mengusap air mataku.

“Maukah kau berpegang ditanganku?” tanya Luhan.

Aku sedikit mendongak memandang wajahnya, diantara isak tangisku, ku sambut tangan Luhan yang terbuka didepanku dan menggenggamnya. Aku merasakan bibir luhan didahiku, hangat.

Aku dan Luhan mulai menyusun rencana. Selama dia di Jepang, kami sama sekali tak kehilangan komunikasi  walau hanya sedetikpun. Saat waktu senggang, Luhan kembali ke Korea dan mulai melakukan misi kami. Orang pertama yang menjadi tujuan terpenting adalah Lay, sepupu Hyeon. Kami menemuinya.

“Pemikiran yang indah. Mana bisa aku menolak,” katanya dengan senyuman mengembang saat kami datang menceritakan semua rencana kami.

Aku tak akan bisa membatalkan semua persiapan yang telah dipersiapkan Mama. Dia akan marah dan akan tetap memaksa walaupun untuk sandiwara, karena Mama akan menjaga imej-nya didepan semua pengusaha yang menjadi mitra kerjanya. Maka dari itu, kususun rencana untuk hal ini.

“Kau akan membuat kau seakan kehilangan akal?” tanya Luhan saat kami berdua bertemu disebuah kedai ramen kecil. Aku meletakkan sumpitku dan memandangnya garang.

“Kehilangan kontrol, bukan kehilangan akal. Tolong bedakan,” gerutuku.

“Selama ini, Mama tidak pernah tahu aku emosi. Pernah sekali ketika aku duduk dibangku SMP, Mama sangat ketakutan dan dia jatuh pingsan. Dia melihat sosok Papa dalam diriku ketika aku marah. Saat sadar dia meminta seluruh pelayan rumah memenuhi keinginanku agar aku tidak marah. Aku takut Mama pingsan lagi, maka dari itu aku selalu menahan marahku. Tapi, kali ini pengecualian…”

“Jadi kau akan mempertaruhkan Mamamu akan pingsan lagi?”

“Ani… kurasa dia hanya ketakutan. 3 tahun terakhir ini sense pingsannya menghilang, dia sudah tidak punya hati,” kataku. Luhan terkikik, entah bagian mana yang terdengar lucu.

“Semoga hal ini berhasil,”

Aku bertengkar hebat dengan Kris, yang memang kupicu untuk melakukan rencanaku. Kutarik kelambu ranjang dan mulai membanting semua barang. Kris pergi meninggalkanku dengan kamar yang berantakan. Saat itu, seorang pelayan masuk. Aku tahu semakin aku melarang untuk tidak mengatakan pada Mama, dia akan tetap mengatakan atas paksaan Mama. Dan perhitunganku sama sekali tidak meleset. Mama memanggilku menemuinya, dengan perasaan yang masih terbakar amarah aku menemuinya. Dia sama sekali tidak memandangku.

“Ada apa antara kau dan Kris?” tanyanya.

Inilah hal yang paling kusuka dari Mama, to the point.

“Aku sama sekali tidak merasakan kecocokan dengannya. Aku tidak ingin menikah dengannya,” gumamku.

Mama mendongak menatap wajahku, kemudian menunduk lagi.

“Kau mau mempermalukan Mama?” tanyanya dengan nada yang menekan.

“Aniya… aku sudah berbicara dengan  keluarga Wu. Mereka menerim—“

“Kau GILA!” teriak Mama sambil menggebrak meja. Matanya menyalang menatapku. Aku tak pernah tahu, kalau gengsinya bisa menyelamatkan dia dari trauma memandangku saat aku marah.

“Kau akan membuat harga diri Mama jatuh. Terlebih lagi kau lancang bicara dengan keluarga Wu..”

“Ini masalah perasaan bukan pangkat dan kedudukan. Aku mencintai seseorang yang memang harusnya kucintai. Aku tahu selama ini aku salah, memisahkan dua orang yang saling mencintai. Ijinkan aku berkorban untuk Kris dan Hyeon, akan kutebus kesalahanku,” ucapku, aku merasakan airmataku meleleh.

Mama terdiam, mematung dan kemudian terduduk kembali.

“Lakukan sesukamu. Sepanjang jalan kita bersama baru kali ini aku melihatmu menangis dan melihat matamu berbeda. Lakukan sesukamu dan jangan jatuhkan harga diri Mama,” katanya tanpa memandangku.

“Gomawo…” ucapku dalam.

Rencana diubah, ketika aku tahu perasaan Hyeon sebenarnya pada Kris. Lay menemukanku dengan Hyeon dirumah sakit. Aku ketakutan Hyeon akan mengatakan hal yang sebenarnya kepada Kris, malam dimana aku akan kembali ke Korea dan menikah. Tapi ternyata dia tetap dialurku. Dan akhirnya… semua berjalan sampai sekarang….

“Sayang…” Panggilku pada namja yang sibuk memasang dasinya.

Satu  tahun tanpa terasa terlewati bersamanya. Kuhampiri Luhan dan membantu memasang dasinya. Dia tersenyum padaku

“Kau selalu terlambat karena tidak becus memasang dasi,” gumamku. Dia tersenyum.

“Itulah gunanya kau ada disisiku,” katanya kemudian menciumku dalam-dalam.

Aku mulai mencintainya sekarang.

~EPILOG~

Kubuka mataku saat matahari pagi menerebos pelupuk mataku. Kupandang cahaya matahari lain didepan mataku. Kris. Masih memejamkan matanya. Kubelai setiap sisi wajahnya, semuanya masih tampak mimpi. Ya, mimpi selama satu tahun hal yang tidak wajar. Haha. Wajar, aku baru diperbolehkan tinggal bersama Kris baru 2 bulan lalu tepat akuu lulus sekolah.

“Aku mencintaimu,” aku mendengar Kris bergumam, tak lama kemudian matanya terbuka dan mencium tanganku yang masih berada diwajahnya.

“Aku juga mencintaimu,” jawabku.

“Aku seperti masih bermimpi…” gumamku.

Dia merengutkan wajahnya kemudian mendekatkan kepalaku dengannya. Jantungku berdebar keras. Tak lama dari itu… dug! Dia membenturkan dahiku dan dahinya halus.

“Sakit?”

“Ne…ne.. ini bukan mimpi. Aku yakin…” kataku seraya merintih kesakitan.

Kris terseyum lebar kemudian mengusap dahiku dan menyeretku tubuhku dalam dekapannya.

“Ini lebih terasa nyata?” tanyanya.

“Ne, nyata,”

Dia mencium dahiku, “kalau ini?”

“Lebih nyata…” gumamku.

“Dan…” dia mengarahkan wajahku ke arah wajahnya dan kurasakan lumatan lembut bibirnya.

“Inilah yang paling nyata,” gumamku tersenyum. kris tersenyum sekilas dan melanjutkanya.

Tok..tok…tok… aku mendengar Kris meraung saat mendengar pintu kamar kami di ketuk.

“Sayang, semua sudah menunggu untuk sarapan,” suara ibu mertuaku.

“Ne… 10 menit lagi.,” teriak Kris agak sebal.

“Aku janji satu bulan lagi kita harus mempunyai rumah sendiri. Sangat banyak gangguan disini,” bisik Kris padaku dan mencium dahiku lembut.

“Aku tunggu,” kataku geli.

“Baiklah, ayo kita mandi. Kau lupa, hari ini kita ada janji dengan teman-teman. Xiumin Oppa dan Suho Oppa sangat sulit mencari waktu senggang. Chanyeol akan menunjukan perkembangan kakinya nanti, kau tidak akan mengecewakan dengan datang terlambat ‘kan?” ucapku kemudian menyingkap selimutku dan turun dari ranjang.

“NE.. araseo.” Gumam Kris sebal.

“Yah… kita mandi bersama?” tawarnya, wajahnya sangat mesum.

Aku memandangnya lama. Kris adalah suamiku dan aku sadar melakukan hal itu wajar.

“Andwe.” Kataku tegas dan beranjak ke kamar mandi.

Kris loncat dari ranjang dan mengikutiku kedepan pintu kamar mandi.

“Yah… ayolah kita mandi bersama,” pintanya dengan wajah yang sangat imut. Aku yang sudah hampir menutup pintu kamar mandi, berlahan membukanya agak lebar. Kris tersenyum puas, dan melangkah mendekatiku.

“ANDWE!”
BRAK!! Kututup pintu kamar mandi tepat didepan wajahnya.

“YAH! Aku suamimu, Hyeon-ah!!!!” teriaknya dari luar dengan berang. Aku suka sekali mengganggunya dan membuatnya sewot.

**

            Kris berada dikamar mandi cukup lama, dan berdandan lebih lama dariku. Dia membuatku berdecak sebal, kurasa dia balas dendam padaku, karena tak menutupi dia pintu. Hampir satu jam aku menunggunya.

“Ayo, berangkat,” ajaknya dengan senyum sangat manis tak berdosa.

Aku sebal dan berjalan mengikutinya dibelakang. Sampai didepan pintu dia berbalik kearahku, tangannya menggapai pundakku dan menyeretku lebih dekat dengannya. Saat itu, aku menoleh kearahnya.

“Wae?” tanyanya balas memandangku.

“Aniya…” aku menggeleng, kemudian mengapitkan tanganku ke lengannya dan bergelayut disana.

“Kau jadi sangat manja,” gumamnya, terdengar dia mendengus geli. Kris mencium puncak kepalaku lembut.

“Aku akan menemanimu sampai akhir perjalanan hidup ini,” ucapku pelan.

“Aku tak akan lari lagi…”

“Kau tak akan bisa lari, karena aku akan terus mengikatmu disini. Disampingku,”

Aku memandang wajah Kris, wajahnya sangat bersinar dimataku. Wajah suamiku. Ya, suamiku. Aku sekarang berdiri disini, disamping suami yang akan menemaniku hingga aku tua. Kris. Dialah tujuanku. Dan aku juga yakin, perjalanan ini masih berlanjut. Asal kugenggam tangan namja disampingku ini, aku yakin tak akan pernah kehilangan arah.

“Saranghe..” Kris kembali mencium puncak kepalaku lembut

“Nado saranghe …”

THE END

Nb :

Ahhhh~… rasanya lega bisa selesaikan FF ini. Jeongmal kamsahamnida, udah baca FF ini sampai selesai dan mau memberikan kritik dan saran. Semoga enggak mengecewakan :DD

Gimana FF ini menurut pendapat readers??

Saya udah nyiapin FF berikutnya nih… main castnya SEHUN.  Ya, semoga lebih baik lagi di FF yang ini :DD

Finally, Jeongmal kamsahamnida.

/deep bow/

-Yuanfan-

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT  😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @yuanitasugianto @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged:

4 thoughts on “EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – FINISH

  1. prenges August 16, 2013 at 10:29 PM Reply

    Endings yang mengesankan.
    Di akhir cerita, Kris berubah jadi pervert.

  2. Jung Hyun Mi August 17, 2013 at 2:23 PM Reply

    alhamdulillah :”’)))
    sempet deg2an bacanya ._.
    takut jantungan jadi pelan2 h3h3
    ampe bolak2 bacanya -.-

    sunhye masih punya perasaan ternyata
    bagus lah dia masih manusia
    harus berterima kasih sama luhan kayanya ._.
    yaallah kasian tapi hyeonnya yang tersakit /?

    tapi rasa sakit itu terbalas dengan kebahagiaan ternyata/?
    huaaa selamatt eon
    ff nya jeongmalll jeongmalll daebakk ^^b
    ditunggu loh ya ff selanjutnya ^^
    saranghaeeeyoooo
    MERDEKA (?)

  3. Cynthia August 24, 2013 at 9:15 AM Reply

    akhirx stlh dr petualangan yg berat mrk bersatu..
    Chukaee ffx udh sls..
    dtgu ff selanjutx..

  4. nurul October 3, 2013 at 2:43 PM Reply

    Kris jd pervert masa ‘-‘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: