[FREELANCE] EXOtic’s Fiction “JEYLO!!!”

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“JEYLO!!!”

JEYLO!

 

 

Scriptwriter : Han Soo Kyo

Title     : JEYLO!!!

Genre : Romance, Comedy

Rating : General

Lenght : One Shot

Main Cast : Wu Yi Fan (KRIS ‘EXO’)

Kim Hyoyeon (Girls’ Generation)

Support Cast : Byun Baekhyun (EXO)

Im Yoona (Girls’ Generation)

Kim Taeyeon  (Girls’ Generation)

Kim Jong Woon (YESUNG ‘Super Junior’)

Disclaimer : This story is mine!

Note : Don’t be Plagiator! Thank you for admin yang sudah post FF ku. Ini FF kedua aku yang ku kirim kdi sini ^^ RCL PLEASEJ

Summary         :           “Aku mencintai fisik mu. Tapi aku lebih mencintai kepribadian mu. My Jeylo…”

 

©HanSooKyo

 @mutimsc

~J.E.Y.L.O.!!!~

*Ost: Davichi_from Me To You

 

Author POV

 

“Sial! Semoga aku tidak telat lagi hari ini!” Hyoyeon terus mengucap doa dalam hatinya. Pagi ini seperti yang sudah-sudah, gadis usia 16 tahun itu kembali terlambat dalam perjalanan menuju sekolahnya, Kyunghee Senior High School. Alasannya sepele, karena tertidur larut malam setelah menonton pertandingan bola dengan kakaknya, Kim Jong Woon.

Perkenalkan, namanya Kim Hyoyeon. Usianya 15 tahun 11 bulan 25 hari. Pelajar tingkat 2 sekolah putri Kyunghee, Seoul. Keluarganya terdiri dari 1 ibu yang cantik namun pengomel tingkat Namsan Tower, 1 ayah yang sedikit tambun tapi menyimpan sejuta kharisma, 1 kakak laki-laki yang pendiam dan narsis, dan 1 kakak perempuan yang hanya berjarak satu tahun di atasnya yang begitu memukau dengan kemampuan pianisnya yang tak perlu diragukan.

Dengan terus menyumpahi arloji hitam yang terpasang di pergelangan tangan kirinya, Hyoyeon terus menunggu bus yang tak kunjung tiba setelah 10 menit lamanya ia menunggu di halte yang menjadi tempat langganannya.

“Pasti si tua itu akan berkicau lagi, heuuuuh.” Hyoyeon, si tomboy pirang itu hanya bisa menghela nafasnya membayangkan bagaimana Mr.Byun, kesiswaan sekolahnya yang selalu patroli setiap pagi, akan memarahi dan menceramahinya habis-habisan karena keterlambatannya yang entah sudah keberapa kali dalam bulan ini.

Berkali-kali Hyoyeon berteriak frustasi melampiaskan kekesalannya pada jalan raya di depannya yang nampak lengang karena sangat sedikit orang yang berlalu lalang. Mungkin kebanyakan dari masayarakat Seoul sudah berada di sekolah, atau kantor tempat mereka beraktivitas.

2 menit, 3 menit, 8 menit. Ya, total sudah 18 menit Hyoyeon habiskan untuk menunggu bus yang tak kunjung tiba. Seolah habis kesabaran, ketika melihat sebuah kaleng minuman bekas yang entah dibuang oleh tangan-tangan berdosa mana tergeletak begitu saja di dekat tempatnya berdiri, dengan kekuatan penuh gadis bermarga Kim itu menendangnya kuat-kuat. Dan sesuai prediksi, kaleng minuman itu terpental jauh, membuat Hyoyeon tersenyum angkuh dengan prestasi yang sebenarnya tak bisa dibanggakan itu. Tapi sedetik kemudian raut wajahnya berubah. Dengan segera Hyoyeon bersiul ria, memasang wajah polosnya, dan mengedarkan tatapannya ke arah lain, seolah berpura-pura tidak ikut campur dengan masalah yang baru saja dibuatnya. Seseorang yang sedang duduk membaca korannya dengan tentram di sebrang jalanlah yang harus menanggung pedih akibat kaleng minuman yang tak berdosa yang mengenai kepalanya dengan kecepatan maksimum.

“Duh maafkan aku pak tua, aku tidak sengaja.” Ujar Hyoyeon pelan. Sesekali dia menengok memastikan bahwa si kakek usia 60 tahunan yang menjadi korban perbuatan buruknya tidak mengalami gegar otak atau cidera tengkorak ringan. Seketika sesaat matanya mencoba melihat ke arah kakek tua itu, Hyoyeon terkesima, terkagum-kagum dengan siluet mengagumkan yang tengah berjalan mendahului si kakek tua yang masih merutuki kesialannya.

“Pangeran!” Ucap Hyoyeon girang. Dengan mata berbinarnya diikutinya terus seseorang dengan kemeja putih berdasi dan balutan jas sekolah yang tak terkancing, juga celana panjang hitam yang membungkus kaki jenjangnya dengan sempurna. Lihat juga wajahnya yang terlihat begitu tampan dengan mata elang, hidung mancung dan bibir tipisnya, dan jangan lupakan juga rahang tegas yang begitu menambah kesan kharismatik. Rambut hitam lebatnya yang terpotong cepak menambah kesan dingin yang tercipta pada ciptaan Tuhan yang mungkin bisa dibilang mendekati kata perfect itu.

“Ya Tuhan terimakasih! Aku melihatnya lagi!!” Hyoyeon terus mengikuti laki-laki itu dengan antusias. Apa yang sebenarnya dipikirkan gadis itu? Sekarang sudah pas 1 jam dia terlambat datang ke sekolah. Ckckck. Bukan Hyoyeon namanya jika dia akan meninggalkan kesempatan emas seperti ini. Sudah lebih dari satu minggu dia tak melihat si tinggi menjulang dengan wajah dingin yang sekarang tengah diekorinya itu.

Perkenalkan, namanya “Pangeran” entah pangeran kuda putih, pangeran kuda coklat, atau pangeran lainnya. Nama itu bukan nama asli, bukankah cukup aneh jika ada seseorang yang bernama pangeran di jaman maju seperti ini? Mungkin jika kedua orangtuanya adalah penggemar berat Disney, itu bukan hal yang mustahil. Nama akward itu diberikan langsung oleh Hyoyeon. Sudah lebih dari 2 bulan terakhir ini dirinya selalu mengagumi satu sosok laki-laki yang tampannya menyerupai Leonardo de Caprio itu –setidaknya itu yang selalu dipamerkannya pada teman-teman dekatnya di sekolah- Usaha Hyoyeon perlu diapresiasi, karena dia selalu mencari tau siapa laki-laki mempesona itu. Tapi, usaha itu tak pernah berhasil, mungkin Hyoyeon belum menemukan dewi fortunanya. Yang diketahui gadis itu hanyalah, wajah tampan namja misterius yang selalu menghantui mimpi-mimpinya beberapa hari ini.

Hyoyeon terus berjalan dengan senyum mengembangnya. Matanya tak henti-hentinya menatap ke arah sebrang, tempat di mana si pangeran berjalan dengan sangat angkuh dan santai, seolah-olah tengah tampil di peragaan busana musim panas. Wajar sih, wajahnya tampan dan tubuhnya sangat proporsional, sombong sedikit tak apalah.

 

BRUUKK

 

 

“YA! Kalau jalan lihat-lihat dong! Bodoh sekali ka-“

“Siapa yang bodoh Hyo?”

“Aku, aku yang bodoh Mrs, aku yang bodoh.”

“Ikut aku, kau harus mendapatkan hukuman mu karena berkeliaran menggunakan seragam!”

Hyoyeon hanya mengembungkan pipinya dan menatap tajam wanita tua yang baru saja mencuri paksa kebahagiaannya. Sekarang si pangeran sudah tak terlihat lagi, dan well, lagi-lagi Hyoyeon tak tau di mana namja itu bersekolah karena gagal menguntit.

Dengan langkah yang berat dan sangat dipaksakan Hyoyeon masuk ke dalam audi hitam milik Mrs.Jung. Hatinya mencelos. Mrs.Jung pasti akan memberikannya hukuman dengan cuma-cuma pagi ini.

***

Hyoyeon POV

“Nggak lagi-lagi deh aku tertangkap si tua itu! Dia sama menyebalkannya dengan Mr.Byun!”

“Lagi pula kenapa bisa bertemu dengannya Hyo? Kau sial sekali.” Yoona terkikir geli. Ah sudah bisa kupastikan, keadaan menyedihkan ku pasti membuat semua orang tertawa, bahkan sebelum aku sempat berbagi kesedihan memilukan ini.

Perkenalkan, Mrs.Jung adalah salah satu monster cukup berbahaya di sekolah ku. Dia sama ganasnya dengan Mr.Byun yang tak kalah tua, dan tak kalah cerewet, bahkan omelan ibu ku di rumah saja kalah jauh dengan dua makhluk Tuhan paling seram itu. Mrs.Jung biasa kami –semua siswi Kyunghee- sebut dengan si perawan tua yang tak laku-laku. Terkadang aku berpikir, kenapa Mrs.Jung tidak menikah saja dengan sejolinya Mr.Byun? Yaampun mereka itu sangat serasi! Jika Kim Tae Hee dan Rain benar-benar dinobatkan menjadi pasangan tercocok, mungkin gelar itu akan mudah direbut kakek dan nenek yang setiap hari menyiksa ku itu. Tapi mungkin keduanya memang tak akan pernah bersatu. Mr.Byun sangat sayang kepada mendiang istrinya yang lembut seperti kapas. Ya, hampir di setiap jam pelajarannya dia selalu menceritakan masa-masa indahnya dulu dengan sang istri yang telah tiada, romantis bukan? Walaupun romantis dia tetap saja killer dan tukang bentak sana-sini! Mrs.Jung juga tak kalah anehnya dengan Mr.Byun. Mrs.Jung tidak mau disebut dengan “Ms” dia akan marah jika orang lain tak memanggilnya dengan “Mrs”. Entahlah mungkin dia mau berpura-pura mengaku kalau dia sudah menikah.

Dan pahitnya, setelah pertemuan tidak terduga ku dengan Mrs.Jung pagi tadi, aku jadi terlihat kucel dan dekil seperti ini. Aku dihukum membersihkan taman belakang sekoah yang luasnya mungkin 2x lipat lebar rumah ku! Bisa kalian bayangkan bagaimana malangnya nasib ku kini.

“Pasti kau menonton pertandingan bola dengan oppa mu lagi ya?” Gadis cantik yang duduk di depan ku ini hanya mendengus dan kembali memakan burgernya yang baru dimakan sedikit.

“Aku ini ikut taruhan dengan Jong Woon, apa jadinya kalau dia menipu ku karena aku tak tau akhir petandingan huh?”

“Arra arra, kalian ini selau saja bertaruh. Kalian ini kakak adik atau rival judi sih? Ck.”

“Dua-duanya benar kok.”

Aku bisa mendengar decakan kesal yang keluar dari bibir Yoona karena mendengar ucapan ku.

Perkenalkan, namanya Im Yoona. Gadis innocent yang kurang lebih menjadi teman ku selama 4 tahun semenjak SMP. Dia cantik, baik hati, polos, dan lugu. Mungkin karena kepolosannya yang melebihi kadar normal itulah dia sering disebut naif oleh beberapa orang. Berbeda dengan ku yang menganggap Jong Woon adalah serangga pengganggu ku, Yoona selalu memperlakukan kakaknya dengan baik. Kalau aku tidak salah namanya Donghae, pria tampan usia 23 tahun yang banyak dikejar-kejar murid sekolah ku setiap mengantar atau menjemput Yoona di sekolah.

“Kau chating dengannya lagi ya?”

Aku hanya mengangguk. Terlalu sulit untuk mengalihkan tatapan ku pada layar laptop ku. Maaf Yoong, namja ini menarik semua waktu ku saat ini.

“Kim Hyoyeon, kau yakin kalau Jeylo itu aslinya tampan? Aku tidak yakin.”

“Hei kau, apa penafsiran ku pernah salah?” Aku berkata sedikit keras, mungkin bisa dibilang sedikit berteriak.

“Kecilkan suaramu!” Yoona mengedarkan matanya dan menganggukan kepalanya berulang kali mengucap kata maaf atas ucapan dengan nada volume cukup keras yang ku lontarkan yang mungkin mengganggu beberapa orang yang juga tengah makan siang di kafe ini. Duh, aku jadi merasa tidak enak.

“Hehehe, mian.” Ucapku nyengir dengan v-sign ku.

Aku tak habis pikir dengan Yoona, atau Yoong –panggilan akrab ku-. Bagaimana bisa dia meragukan Jeylo? Ya, walaupun aku juga belum tau wajah aslinya tapi entah mengapa aku sangat yakin kalau Jeylo itu tampan. Ahhh, aku selalu saja membayangkan wajah western yang mungkin terlihat di wajah Jeylo. Dilihat dari namanya, bukankah itu nama orang barat kebanyakan? Mungkin saja kan Jeylo itu peranakan Korea-Inggris? Mungkin saja.

Perkenalkan, namanya Jeylo. Usianya 17 tahun. Kesukaannya membaca komik, mendengarkan musik, bermain basketball freestyle. Tingginya 184, jauh sekali dari tinggi badan ku. Dan dia jago bermain gitar. Kurang lebih itu yang ku tau tentangnya. Jangan berpikir bahwa aku tau hal itu karena aku stalking, oh c’mon, aku bukan tipe gadis seperti itu.

Jadi Jeylo adalah teman chating ku yang sudah beberapa bulan ini menemani ku saat aku tengah bosan atau sekedar meghabiskan waktu luangku. 6 bulan yang lalu –jika perkiraan ku benar- ada seseorang yang tiba-tiba men’chat ku dan mengajak ku berkenalan. Tadinya kupikir hanya untuk bermain-main kenapa tidak? Tapi nyatanya, aku merasa nyaman saat chating dengan Jeylo, dan hubungan pertemanan kami di dunia maya berlangsung hingga hari ini. Aku memang tak tau bagaimana Jeylo di dunia nyata, tapi dari semua perbincangan kami, ku rasa dia namja yang baik. Bahkan mungkin sangat baik.

“Jadi kapan kau ketemuan dengan Jeylo?” Tanya Yoong padaku. Ku lihat dia yang sedang asik menyeruput lemon teanya dengan tatapan nanar ku.

Aku mendesah, ya, aku juga tidak tau kapan aku bisa bertemu dengan Jeylo. Dia sangat sulit untuk diajak bertemu.

“Cepat ajak dia bertemu dan berbicara di dunia nyata, jangan hanya di dunia maya. Kau bisa saja ditipu olehnya!”

“Yoong, ayolah…”

“Aku hanya memberitaumu Hyo.”

Aku menatap wajah serius Yoong yang sekarang menatap ku penuh. Aku tau gadis itu hanya kuatir pada ku, aku sangat berterimakasih padanya. Tapi bukan hal mudah membuat Jeylo menemui ku.

Aku hanya meghela nafas ku dan mengalihkan tatapan ku ke luar jendela kafe, menatap rintik hujan yang tengah turun dengan pelan-pelan.

***

Author POV

Setelah menonton DVD horor bersama kedua kakaknya, Hyoyeon memutuskan untuk masuk ke kamar. Baginya menonton film genre horor dengan Taeyeon dan Jong Woon hanya akan membuatnya mual saja. Pasalnya kedua kakaknya itu benar-benar penakut akut, tak jarang mereka berteiak histeris dan saling berpelukan satu sama lain ketika si pembunuh dengan topeng tengkorak muncul dengan tiba-tiba. Berbeda sekali dengan Hyoyeon si bungsu yang sama sekali tak tertarik dengan film barat yang banyak dibilang orang seram itu.

Tiba-tiba Hyoyeon teringat akan seseorang. Jeylo. Segera diambilnya laptop putih kesayangannya dan mulai mengaktifkan akunnya. Baru saja Hyo berniat men’chat Jeylo, laki-laki itu sudah mendahuluinya satu langkah.

-Jeylo:

“Kau sedang apa?”

Hyoyeon tersenyum dan mulai mengetik balasan untuk Jeylo.

-Me:

“Menunggu untuk tidur, rasanya sulit sekali. Mataku tidak terpejam-pejam juga.”

-Jeylo:

“Apa kau mengantuk? Kau tidak menonton pertandingan bola lagi dengan Jong Woon?”

-Me:

“Tidak, aku kalah taruhan dengannya. Uang ku sudah habis kekeke~”

-Jeylo:

“Kau ini ada-ada saja, kalau sudah mengantuk tidurlah.”

-Me:

“Coba kau ada di kamar ku, mungkin aku bisa mendengarkan mu bernyanyi.”

-Jeylo:

“Aku memang ada di kamar mu.”

DEG!

Tiba-tiba saja jantung Hyoyeon berdetak lebih kencang dari biasanya. Jeylo ada di kamarnya? Bagaimana itu bisa terjadi?

-Me:

“Benarkah? Kau di mana? Kau pasti bercanda.”

Hyoyeon mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah, suasana kamarnya remang saat ini, hanya lampu tidurnya saja yang ia biarkan menyala. Suasana horor mulai mencekamnya. Tiba-tiba saja dia ingat salah satu adegan mengerikan yang baru saja ia tonton tadi. Adegan di mana si korban tiba-tiba ditikam oleh pembunuh yang sudah ada di kamarnya tanpa ia sadari. Keringat mulai membasahi pelipis Hyoyeon. Keberaniannya serasa runtuh begitu saja akibat kata-kata Jeylo barusan.

-Jeylo:

“Tidak, aku serius, aku ada di kamar mu sekarang.”

“Hei, apa kau mencari ku?”

“Hei?”

-Me:

“Aku tidak melihat mu.”

-Jeylo:

“Aku benar-benar ada di kamar mu. Di laptop mu! Hahahaha~”

Damn it! Hyoyeon merutuki Jeylo habis-habisan. Bisa-bisanya ia tertipu dengan guyonan macam itu.

-Jeylo:

“Maaf aku hanya bercanda. Kau tidak marah kan?”

Hyoyeon mengetik dengan malas. Hampir saja jantungnya berhenti berdetak.

-Me:

“Sedikit. Kau membuat ku merinding!”

-Jeylo:

“Maaf, aku benar-benar tak berniat membuat mu takut. Di L.A joke seperti ini sudah menjamur, kupikir kau tidak akan tertipu.”

Hyoyeon memutar matanya. “Hey, ini Korea sir, bukan L.A!” Ucapnya kesal pada layar laptop di depannya.

-Me:

“Tapi aku belum tau itu tuan.”

-Jeylo:

“Tapi sekarang sudah tau kan? Tidurlah Hyo, hari sudah larut.”

-Me:

“Kau juga Jey! Selamat malam!”

-Jeylo:

“Jangan lupa mimpikan aku!”

Wajah Hyoyeon tiba-tiba memerah. Jemarinya baru saja berniat membalas pesan Jeylo, tapi kemudian namja itu menonaktifkan akunnya. Hyoyeon yang kecewa hanya bisa menghela nafasnya.

“Bagaimana aku memimpikan mu jika aku tak tau wajah mu Jey? Tapi ku harap kau hadir di mimpi ku, agar aku tau wajah mu.” Ucapnya. Hyoyeon menutup laptopnya dan mulai membaringkan dirinya di tempat tidur. Tak lama kemudian gadis itu sudah terlelap.

Beberapa jam kemudian…

“Pangeran! Tunggu aku….” Hyoyeon mengigau. Ya, dia memang memimpikan seseorang, tapi itu bukan Jeylo. Itu si pangeran tinggi nan tampannya. Sepertinya Hyoyeon bahagia malam ini.

***

Siang ini seperti biasanya Hyoyeon pulang dengan sahabat karibnya, Im Yoona. Kedua gadis itu tak henti-hentinya membicarakan seorang sunbae tampan murid sekolah tetangga yang sangat memikat dengan senyum dinginnya. Byun Baekhyun. Yoona yang tak pernah sekalipun jatuh cinta begitu tertarik dengan Baekhyun yang tak sengaja lewat di depan sekolah mereka beberapa hari yang lalu. Gadis itu tak habis-habisnya menceritakan Baek pada Hyo. Hyoyeon sebagai teman baik hanya mendengarkan cerita Yoona dengan tak kalah antusiasnya. Hyoyeon senang jika temannya itu sudah bisa mengenal dan menyukai seorang lelaki.

“Hyo, menurut mu Baekhyun sunbae itu orang seperti apa?” Tanya Yoong dengan semangat 45nya yang menggelora. Gadis itu terus tersenyum dan membayangkan Baekhyun yang terus berputar-putar di kepalanya.

Hyoyeon hanya tersenyum, raut wajahnya nampak sedikit berpikir. “Heummm, seperti apa ya?”

Yoona terus menunggu dengan wajah polos penuh senyumnya yang tak kunjung luntur, menambah kesan cantik alaminya. Gadis itu menanti-nantikan pendapat Hyoyeon tentang Baekhyun.

“Pangeran!!!”

“Pangeran? Hwaaa kau benar, dia memang pangeran! Pangeran yang telah mencuri hati ku!” Ujar Yoong berbunga-bunga. Matanya nampak berbinar, di kepalanya tak ada lagi Baekhyun yang berputar, tapi Baekhyun yang memakai lencana dan baju kerajaan tengah menaiki kuda hitamnya.

“Bukan Baekhyun! Tapi dia!”

“Heh?”

Seketika bayangan itu buyar seiring teriakan Hyoyeon yang memekikan telinga. Dengan sigap Hyoyeon berlari menyebrang jalan. Yoong yang melihatnya hanya tertegun sejenak, dan saat ia sudah menyadarinya…

“Ya! Kim Hyoyeon!!”

.

.

“Aku kehilangan jejak lagi! Aiissssh!”

“Aku kehilangan nafas lagi!” Yoong yang tersengal-sengal menundukan tubuhnya, lelah karena mengejar seorang Kim Hyoyeon yang berlari secepat atlet marathon kelas dunia.

“Tenang-tenang, tarik nafas dan buang perlahan. Haaaa… huuuuuh. Haaaa… huuuuuh.” Hyoyeon menepuk-nepuk pundak Yoong pelan kemudian mempraktekan gerakan tarik-buang nafas seperti seorang suster yang tengah menenangkan seorang ibu yang tengah bersalin. Dan bodohnya, Im Yoona mengikuti jejak sahabatnya itu.

“Ya! Ini semua karena dirimu bodoh!” Ucapnya kesal kemudian menoyor kepala Hyoyeon kencang.

“Lagian kau mengikuti ku. Siapa yang suruh?”

“Tidak ada!” Bentak Yoong berkacak pinggang. “Habisnya aku takut pulang sendiri. Hehe” Kikiknya sambil menggelayut manja di tangan Hyo, membuat gadis itu mendengus lelah dan menggeleng mengahadapi sikap temannya yang satu itu.

.

.

Kini Yoong dan Hyoyeon tengah sampai di depan rumah keluarga Im. Letak rumah Yoona memang tak jauh dari rumah Hyoeyeon, mungkin hanya berbeda beberapa blok.

“Cha, sana masuk!”

“Hiiss, kau ini galak sekali sih!”

“Aku kehilangan dia lagi, kau tau itu Yoong.” Lirih Hyo pelan, wajahnya terlihat kusut dan muram.

“Sabarlah kawan, jika dia memang jodoh mu kau akan bertemu dengannya lagi.” Yoong menepuk-nepuk pundak Hyo sebelum dia berlalu dan membuka pintu gerbang rumahnya.

“Jalljayo! Hati-hati Hyo!”

“Ne.”

Hyoyeon terus berjalan, matanya seolah enggan menatap langit yang mulai berwarna jingga karena waktu telah menunjukan pukul 3 sore. Aspal hitam seolah lebih menarik baginya. Kepalanya terus tertunduk lesu. Dan tanpa sengaja ia menabrak seseorang hingga tubuhnya terjatuh.

“Im sorry, are you ok? Let me to help you.”

Hyoyeon yang terjatuh memicingkan matanya kesal. Pria yang sok bule dan telah menabraknya hingga ia terjatuh itu mengadahkan tangannya hendak membantu Hyoyeon. Ketika gadis itu mendongakan kepalanya, betapa terkejutnya dia, karena penabrak itu adalah si pangeran tinggi yang kini tengah menjulurkan tangannya, dan jangan lupakan wajahnya yang terlihat begitu tampan dari jarak beberapa senti di depan Hyoyeon.

“Are you right? Are you ok? Im really sorry, i not saw at you, i just-“

“You handsome.”

“Yeah?”

Hyoyeon tersadar, sejenak dia merutuki kebodohannya yang dengan terang-terangan memuji si pangerannya dengan kata tampan. Sepertinya lidahnya terlalu jujur untuk menahan pujian itu pada si pangeran. Dengan gelagapan Hyoyeon berdiri dan mengabaikan bantuan pangerannya. Laki-laki tinggi itu hanya tersenyum dan sedikit kecewa, karena Hyo tidak menerima bantuannya.

“Maaf, aku tak bermaksud. Maaf.” Hyoyeon membungkukan badannya dalam-dalam.

“Duh, pasti dia menilai ku gadis aneh. Kim Hyoyeon bodoh!” Hyoyeon merutuki kebodohannya dalam hati.

“No, that’s my fault. Im really sorry.”

Hyoyeon melihat ke arah wajah tampan itu –lagi-. Ini benar-benar hari bersejarah baginya. Si pangeran tak hentinya tersenyum, membuat jantung Hyoyeon siap untuk meluncur menembus awan-awan biru di angkasa.

“Girl, are you ok?”

“Aku baik-baik saja. Bisakah kau berbicara dengan bahasa Korea? Aku sedikit tidak mengeri bahasa Inggris hehe.”

Plak! Berbicara apa gadis itu? Bisa-bisanya dia dengan jujur mengaku kelemahannya yang satu itu. Memang sih Hyoyeon tak pernah mendapat nilai di atas 8 dalam rata-rata studynya dalam bidang bahasa internasional itu. Tapi tidak seharusnya juga kan dia berkata sepolos itu? Bisa-bisa dia terlihat bodoh di depan si pangeran tinggi. Tapi nampaknya laki-laki dengan wajah campuran itu tak terlalu memikirkan perkataan Hyoyeon, dia malah tertawa pelan dan mengangguk.

“Ya, mianhamnida.”

“Nah, jika seperti itu aku mengerti dengan jelas.” Kekeh Hyoyeon sambil menggaruk tengkuknya kikuk.

“Rumah mu di mana? Mau ku antar? Hitung-hitung permintaan maaf  ku karena menabrak mu.” Pangeran menggerakan kepalanya seolah mengisyaratkan, “kau mau tidak” pada Hyoyeon yang terlihat setengah membeku karena kata-kata si pangeran barusan.

“Baiklah.”

Hyoyeon berjalan berdampingan dengan pangeran menuju rumahnya. Dia bahkan bersumpah dalam hati kalau malam nanti dia akan mentraktir Jong Woon dan Taeyeon es krim kesukaan mereka sebanyak-banyaknya. Dewi fortuna benar-benar menghampirinya saat ini.

***

-Me:

“Jey?”

-Jeylo:

“Hei Hyo! Bagaimana hari ini? Mengapa baru menyapa ku semalam ini?”

Hyoyeon tertawa pelan membaca balasan Jeylo padanya. Dengan senyum mengembangnya Hyoyeon kembali menggerakan tangannya dengan lincah di atas tombol-tombol timbul di keyboard laptop putih susunya.

-Me:

“Aku baru saja berkumpul dengan Jong Woon dan Taeyeon, yah, mentraktir 2 anak itu es krim.”

-Jeylo:

“Memangnya ada apa? Tumben sekali. Biasanya kau mengadu kesal karena Jong Woon yang mengganggu mu dan Taeyeon yang menjelek-jelekan mu.”

Hyoyeon kembali terkekeh. Ternyata sudah cukup sering dia menceritakan keluarganya itu pada Jeylo, sampai-sampai namja itu hapal dengan kebiasaan dirinya dan kakak-kakaknya.

-Me:

“Aku bertemu dengan pangeran ku Jey! Kau ingat tidak? Laki-laki yang selalu memakai seragam yang sampai sekarang tidak kuketahui bersekolah di mana.”

-Jeylo:

“Oh aku ingat. Memangnya kau bertemu dengannya? Lalu sekarang kau tau dia sekolah di mana?”

Hyoyeon memukul keras keningnya dengan telapak tangan kirinya. “Ya Tuhan aku lupa bertanya!”

-Jeylo:

“Hey Hyo, kau masih di sana?”

-Me:

“Yeah, aku masih di sini Jey. Aku tidak tau, aku tidak bertanya.”

-Jeylo:

“Kalau begitu namanya?”

Lagi-lagi Hyoyeon memukul keras keningnya, kali ini dengan telapak tangan kananya. Saking terpesonanya dia dengan pangeran, dia sampai lupa untuk bertanya siapa nama pangeran itu, di mana rumahnya, dan di mana sekolahnya. Dia hanya sempat mengucapkan terimakasih kemudian memasuki rumahnya dan berteriak kencang ke sana ke mari.

-Me:

“Aku juga lupa bertanya Jey… Bodohnya aku!”

-Jeylo:

“Sudahlah, pasti akan ada kesempatan berikutnya. Aku yakin dia akan menemui mu lagi.”

-Me:

“Kau hanya memprediksi, belum tentu hal ini terulang lagi. Huaaaaa aku memang idiot!!!”

Hyoyeon mengerang kesal dan menatap hampa laptopnya.

-Jeylo:

“Percaya pada ku.”

Hyoyeon tersenyum, dia mengamini ucapan Jeylo dalam hati.

-Me:

“Ku harap seperti itu Jey. Terimakasih.”

-Jeylo:

“Not at all. Tidurlah ini sudah malam. Nite!”

Chating itu pun berkhir dengan ucapan selamat malam dari Jeylo. Ya, Hyoyeon tak sempat mengucapkan selamat malam pada namja itu, Jeylo selalu mengakhiri chatnya dengan Hyoyeon tanpa membiarkan Hyoyeon yang mengakhirinya, entah mengapa.

Hyoyeon, gadis pirang itu hanya tersenyum. Dia mulai naik ke tempat tidurnya dan membenamkan kepalanya ke bantal. Beberapa jam kemudian dia sudah terlelap dalam alam mimpi.

***

Hyoyeon POV

“Kau mau kemana pagi-pagi seperti ini?”

“Menemui teman ku!”

“Ah teman? Teman atau namjachingu mu? Adik ku sudah besar rupanya.” Taeyeon menyikut pelan lengan ku yang tengah membenahi kemeja ku. Ahh gadis ini mengganggu saja!

“Kau berlebihan Tae!” Ucapku kesal dan memberikanya deathglare ku. Walaupun dia kakak ku, aku tak pernah menganggapnya seorang kakak. Oh ayolah dia selalu sok bersikap dewasa, padahal dia jauh lebih manja dari ku. Jadi tidak salah kan jika aku yang menganggapnya adik?

“Hey Hyo, wanna go? Where?” Ya, kali ini si Jong Woon bule Busan itu mulai bersikap menggelikan seperti biasanya.

“Oppa, dia mau berkencan dan dia tak mengajak kita.” Taeyeon mendekati Jong Woon, makhluk yang satu species dengannya. Ada-ada saja tingkah kakak beradik ini.

“Oh Tuhan, mengapa kau berikan aku dua kakak yang gila seperti mereka?” Aku mengadu dalam hatiku.

“Berhentilah bersikap seperti itu. Itu menjijikan tau!” Dengus ku kesal. Ku ikat dua tali sneakers ku, dan sekarang aku benar-benar siap untuk pergi! Jeylo im coming!!

“Dia memang bukan adik yang baik Tae.”

“Biarkan oppa, dia akan putus dengan pacarnya jika dia memarahi kita terus-terusan”

Ku dengar kedua kakak ku itu berbisik-bisik a’la ahjumma-ahjumma di pasar yang tengah menawar harga dengan teman-temannya. Dasar memalukan!

“Ya! Kim Jong Woon, Kim Taeyeon! Aku ini tidak pergi berkencan!” Ucapku teraengah-engah. Aku membentak mereka dengan teriakan yang cukup keras. Aku sebenarnya tidak ingin melakukan itu, habisnya aku sudah terlanjur kesal dengan mereka yang tak henti-hentinya menggoda ku.

Ku lihat Tae dan Jong Woon diam dan meneguk ludah mereka. Selalu saja seperti ini, aku harus marah dulu baru mereka berhenti menggoda ku.

“Maaf aku sedikit emosi. Aku akan pulang membawa bulgogi. Bagaimana?”

“Setuju!!” Ujar mereka berbarengan. Kalau soal makanan saja baru mereka waras. Dasar.

“Baiklah aku pergi.” Ucap ku berlalu meninggalkan rumah.

“Hati-hati Hyo!”

“Bulgoginya jangan lupa ya adik ku!!”

Aku masih bisa mendengar suara memekikan Tae dan Jong Woon dari dalam rumah. Aisssh mereka itu.

“Selalu saja….”

***

Author POV

Sudah satu jam lebih Hyoyeon menunggu sendiri di depan Namsan Tower, tempat dirinya akan bertemu dengan Jeylo –temannya di dunia maya- Hari ini Hyoyeon dan Jeylo berniat untuk bertemu. Setelah dangan susah payah meyakinkan Jeylo, akhirnya Hyoyeon berhasil juga. Namja itu mau untuk bertemu dengannya. Alasan Jeylo selalu beragam saat Hyoyeon mengajakanya untuk saling bertemu dan bertatap wajah langsung. Selama ini Jeylo juga enggan untuk menunjukan wajah aslinya pada Hyo. Beberapa kali Hyoyeon meminta Jeylo untuk mengirimkan fotonya, tapi Jeylo tak pernah menuruti keinginan gadis itu. Hingga  pada hari ini Hyoeyeon sangat senang karena akhirnya dia akan segera tau bagaimana sosok Jeylo yang sesungguhnya.

.

.

.

“Apa kau benar-benar tidak datang Jey?” Gumam Hyo pada dirinya sendiri. Diedarkannya tatapan matanya pada beberapa orang yang tengah berjalan memasuki Namsan Tower. Bahkan ini sudah pukul 8 malam. Total, sudah 9 jam lamanya Hyoyeon menunggu.

Berpuluh-puluh kali ia mencoba menghubungi Jeylo lewat ponsel, kemarin malam setelah menyetujui kalau mereka akan bertemu, Jeylo memberikan Hyoyeon nomor ponselnya. Gagal dengan usahanya itu, Hyoyeon tidak menyerah, dirinya juga mengirim email pada Jeylo, tapi usaha itu sama sekali tak membuahkan hasil.

“Jam 10? Ku rasa aku tak sanggup lagi untuk menunggu.” Hyoyeon menatap arlojinya dengan sendu.

Kaki Hyoyeon melangkah dengan gontai menuju rumahnya. Tatapannya kosong, dia cukup sedih karena Jeylo yang tidak menepati janjinya.

.

.

“Hyo, kau lama sekali?”

“Bulgogi kami mana?”

“Hyo?”

Tidak ada jawaban atas pertanyaan Jong Woon dan Taeyeon, kedua kakak beradik itu hanya tertegun saat menyadari bahwa sang adik tidak seperti biasanya. Ada raut sedih yang mendalam di wajah Hyoyoen. Keduanya pun hanya diam memandang pundak Hyoyeon yang berjalan lesu menuju kamarnya.

Dengan segera Hyoyeon membuka laptopnya dan mengaktifkan akunnya. Dirinya berkali-kali men’chat Jeylo, tapi tak kunjung ada balasan. Sampai-sampai gadis itu tertidur di meja belajarnya karena lelah menunggu. Bahkan laptopnya pun masih menyala.

***

Hyoyeon POV

“Hyo, mau pergi bersama kami? Ada film menarik yang tayang hari ini?” Yoong mengembangkan senyumnya padaku. Tangannya menggenggam mesra tangan Baekhyun yang sengaja datang untuk menjemputnya di sekolah.

Aku menggeleng, aku tak enak jika harus mengganggu kencannya dengan Baekhyun. Hari ini adalah genap 7 bulan Yoona dan Baekhyun menjalin hubungan. Ya, pada akhirnya teman ku ini bersatu juga dengan Byun Baekhyun, senior kami yang tengah menjalani masa kuliahnya itu.

“Ikutlah, kau pasti akan terhibur. Ini genre horor!” Baekhyun mengubah raut wajahnya seketika, membuatnya sehoror mungkin. Aku hanya tertawa melihatnya, ada-ada saja namja ini.

“Oppa, film horor tidak ada yang menghibur! Lebih tepatnya menakut-nakuti!”

“Maksud ku itu Yoong.” Kekeh Baekhyun.

Pasangan ini memang sangat serasi. Baekhyun yang terlihat dingin dari luar ternyata sangat konyol, ya walaupun guyonannya kadang tak bisa membuat ku tertawa sedikitpun.

“Kalian pergilah berdua, nikmati hari ini. Aku tidak mau mengganggu.”

Aku mulai melangkahkan kaki ku menjauh dari mereka. Mungkin jika aku tak pergi kedua sejoli itu tak akan berhenti membujuk ku.

***

Hari ini sudah lebih dari satu tahun semenjak kepergian Jeylo yang tiba-tiba. Orang itu tak pernah lagi men’chat ku. Sudah berbagai cara ku lakukan untuk mencarinya, namun aku selalu gagal. Begitu juga dengan pangeran ku. Dia juga sudah tak terlihat lagi, berkali-kali ku coba untuk menunggunya di halte dekat rumah ku, tapi dia tak kunjung lewat juga. Bahkan aku pernah membolos 4 hari hanya untuk menunggunya seharian di depan halte. Ya, kalian bisa menyebut ku ‘si gila’.

Aku terus berjalan tampa arah. Entah kemana, yang penting aku berniat untuk tak kembali ke rumah. Aku ingin menyegarkan pikiran ku yang beberapa hari ini sungguh tak bisa ku kendalikan. Aku sering sekali melamun tidak jelas, di manapun aku berada, entah itu di kelas, di tempat kursus, atau bahkan di rumah ku yang ramai oleh penghuninya yang sangat berisik. Berkali-kali ku ingatkan diriku untuk fokus karena tahun ini adalah tahun kelulusan ku, tapi aku tidak pernah bisa. Bayangan si pangeran tinggi dan semua perbincangan ku dengan Jeylo selalu memutar di dalam otak ku.

“Hei Jey! Lempar bolanya”

“Jeylo oper ke sini!!”

 

“Tunggu, bukankah?” Apakah aku tidak salah dengar? Jey? Jeylo? Apa itu Jeylo?

Kutolehkan kepalaku dengan pelan-pelan, berharap bahwa apa yang akan ku lihat tak akan mengecewakan ku.

“Pangeran?” Nafas ku seolah tercekat. Bukankah dia pangeran tinggi itu? Pengeran ku?

“Jey, oper bolanya!”

“Hyung, tangkap!”

 

Ada tiga orang yang tengah bermain basket di lapangan di depan ku saat ini. Dan dua dari mereka memanggil pangeran dengan ‘Jey’ dan ‘Jeylo’. Jadi orang itu? Pangeran ku adalah Jeylo? Benarkah?

“Jey, tangkap!”

 

BUKKK

Ku lihat bola oranye ini terlempar ke kaki kiri ku. Sedikit sakit tapi rasanya tidak terlalu mendominasi. Tatapan ku tak pergi sedikitpun dari namja itu. Masa bodoh aku mau dibilang gila atau apa karena menatap seseorang seperti ini.

“Jey, bolanya..”

“Biar aku yang mengambilnya hyung.”

Pangeran tinggi itu berjalan menghampiri ku. Oh Tuhan aku benar-benar tak salah liat, dia benar-benar pangeran ku.

“Maaf.”

“Kau Jeylo?”

.

.

.

Author POV

Suasana sore itu sangat sunyi, hanya ada bunyi helaan nafas dua anak manusia yang tengah sama-sama terdiam dalam lamunannya. Hyoyeon, salah satu dari mereka mencoba memulai percakapan dengan seseorang yang duduk di sampingnya. Saat ini mereka berdua tengah duduk di salah satu bangku taman yang ada di dekat lapangan basket yang baru saja mempertemukan mereka.

“Apakah kau tidak mau memberitau aku sesuatu?” Tanya Hyoyeon pada namja di sampingnya.

“Ku pikir kau sudah tau siapa aku.” Ujar namja itu pelan, sebuah senyuman yang sulit diartikan timbul di wajah tampannya yang mempesona

“Jadi kau benar-benar Jeylo?”

Si pangeran hanya mengangguk.

“Jadi selama ini kau tau soal pangeran itu?”

Si pangeran lagi-lagi hanya mengangguk, sedetik kemudian sebuah tawa yang tak bisa ia tahan meluncur begitu saja dari bibirnya.

“Pangeran itu aku kan?”

“Kau jahat!”

“Jahat?”

“Bagaimana bisa kau diam dan tidak memberitau ku? Dan lebih bodohnya bagaimana bisa aku menceritakan seseorang pada dirinya sendiri?” Hyoyeon menundukan kepalanya dalam. Saat ini gadis itu benar-benar larut dalam kesedihannya, dan juga malunya tentu saja.

“Sudahlah tidak apa-apa. Maaf karena aku tidak memberi taumu, aku juga baru tau pangeran mu itu adalah aku sejak pertemuan kedua kita.”

Hyoyeon menolehkan kepalanya ke arah pangeran itu. Pertemuan kedua? Seingatnya ia hanya pernah bertemu dengan namja itu satu kali.

“Kita baru bertemu satu kali. Saat kau menabrak ku.”

“Bukan. Pertemuan pertama kita itu di airport.”

“Mwo?”

 

-FLASHBACK-

“Ayah bagaimana ini? Koper ku tertinggal di ruang tunggu!” Jong Woon terlihat panik. Anak tertua keluarga Kim itu meninggalkan kopernya secara tak sengaja di ruang tunggu Incheon International Airport, tempat pesawat yang ditumpanginya landing setelah melakukan penerbangan jauh dari Amerika. Ya, Jong Woon baru saja selesai menamatkan kuliah S1nya di negeri paman Sam tersebut.

Si ayah, hanya geleng-geleng mendengar perkataan putra tunggalnya itu. “Masih muda sudah pikun!” Marahnya pada Jong Woon yang merenggut manja pada ibunya. Tatapan Mr.Kim beralih pada anak bungsunya yang tengah asik mendengarkan music, Kim Hyoyeon. “Hyo, ambilkan koper kakak mu yang tertinggal.”

“Aku? Andwe, Suruh saja dia yang mengambil sendiri.”

“Dia lelah Hyo, perjalanan Jong Woon memerlukan waktu 7 jam.” Sekarang Mrs.Kim, si ibu 3 orang anak itu yang menyuruh Hyoyeon secara tak langsung.

“Kalau begitu suruh saja Taeyeon, toh dia hanya bermain i-phone saja.”

“Aku kan anak ke-2. Bukannya si bungsu haru menghormati kakaknya ya?” Taeyeon seolah acuh dengan i-phonenya. Gadis itu hanya menatap Hyo sekilas, membuat Hyoyeon tersulut emosi dan mulai malas berdebat dengan kakaknya itu.

“Baik. Aku yang akan mengambilnya!” Ujarnya ketus. Hyoyeon berjalan cepat tanpa menghiraukan keempat sanak keluarganya yang geleng-geleng menatapnya.

“Tidak di Amerika tidak di Korea Jong Woon selalu menyusahkan!” Hyoyeon terus mengumpat kesal pada kakak laki-lakinya. Hingga dia tak menyadari saat seseorang menabraknya dengan cukup keras.

 

BRUUKKK

 

 

“Im sorry maam im sorry.”

Hyoyeon terduduk setelah baru saja dia menabrak seseorang dengan tubuh tingginya yang terbalut jaket kulit hitam. Dilihat dari perangainya nampaknya orang itu adalah blasteran atau orang luar Korea. Sayang sekali matanya tertutup dengan kacamata hitam dan masker, Hyoyeon tak bisa melihat seluruh wajah namja itu.

“Hei bodoh kalau berjalan itu lihat ke bawah jangan lihat ke atas! Dasar menyusahkan!” Hyoyeon bangkit dari duduknya, sebelumnya ia mengacuhkan uluran tangan si pria tinggi yang menabraknya. Niatan baik laki-laki itu tak berpengaruh apapun di matanya, bagi Hyoyeon laki-laki itu sudah salah vatal karena telah menabraknya dengan cukup keras.

“I really sorry, but i-“

“Hyo! Kau lama sekali sih?”

Seseorang datang dan merangkul Hyoyeon yang tengah menajamkan pendengarannya ketika si pria tinggi itu mencoba menjelaskan alasannya menabrak Hyoyeon. Kim Jong Woon.

“Bukannya kau tidak mau mengambil koper mu? Apa kau berubah pikiran?” Tanya gadis itu sakartis, membuat Jong Woon mendelikan matanya lelah.

“Aku hanya takut sesuatu yang buruk terjadi padamu Kim Hyoyeon. Sudahlah, ayo pergi, semua orang telah menunggu. Eh, siapa dia? Teman mu?” Jong Woon memperhatikan si namja penabrak itu dari atas hingga bawah, takjub dengan tubuh proporsional yang mirip dengan aktor-aktor luar negeri yang sering ia lihat di bioskop.

“Sudah ayo pergi, aku tidak mengenalnya.” Ucap Hyo acuh dan menarik paksa tangan Jong Woon.

Laki-laki itu masih terdiam di tempatnya, memandang punggung Hyoyeon yang terlihat semakin menjauh.

“Hei jey! Aku sudah lama mencari mu! Welcome back to Korea man!”

“Oh hyung!”

-FLASHBACK END-

 

“Yeah, im Jeylo.”

“Seharusnya aku tau kalau itu kau, maaf aku terlalu bodoh.” Hyoyeon merutuki dirinya sendiri yang menurutnya begitu bodoh.

“Hei itu bukan salah mu, itu salah ku Hyo. Maaf karena membuat mu tidak pernah tau wajah ku sebagai Jeylo, ataupun tidak tau nama ku sebagai si pangeran.”

Kata-kata Jeylo membuat wajah Hyo memerah seketika. Sekelebat ingatannya muncul saat dia menceritakan dengan berbunga-bunga semua pertemuan sepihaknya dengan si pangeran di halte bus dekat rumahnya. Dia tak pernah menyangka jika Jeylo adalah si pangeran tingginya. Ini semua benar-benar terasa seperti sebuah mimpi.

“Lalu kenapa kau meninggalkan ku tanpa kabar Jey?” Hyoyeon menatap Jeylo dengan tatapan menuntutnya. Dia sudah menantikan hal ini lama, semenjak kepergian Jeylo satu tahun yang lalu. Hyoyeon benar-benar ingin tau apa alasan namja itu sebenarnya.

“Mianhe. Aku tak berniat meninggalkan mu dengan cara itu Hyo. Ketika aku sampai di rumah ku setelah pertemuan kita di bandara, aku langsung mencari nama mu di internet, walaupun bahasa Korea ku masih sangat jelek saat itu, tapi aku tau kalau Jong Woon memanggil nama mu. Aku begitu senang saat aku menemukan akun milik Kim Hyoeyeon, dan mulai saat itu aku bertekad untuk belajar bahasa Korea agar aku bisa berbicara banyak hal dengan mu. Hari demi hari berlalu dan kemampuan bahasa Korea ku semakin baik. Akhirnya ku beranikan diri untuk meng’aad mu dan mulai berbicara dengan mu, walaupun hanya dalam dunia maya. Kau sungguh menyenangkan. Dan aku sempat kesal dengan si pangeran yang terus menerus kau ceritakan pada ku. Sampai pada akhirnya aku sangat bahagia karena pangeran itu adalah aku.”

Hyoyeon terus mendengarkan penuturan panjang lebar Jeylo dengan serius.

“Sampai tiba di mana akhirnya aku berani untuk bertemu dengan mu. Hari itu saat kita akan bertemu di Namsan Tower, aku berniat untuk mengakui semuanya pada mu. Jika aku adalah Jeylo sekaligus Wu Yi Fan, orang yang kau anggap pangeran mu. Tapi hari itu saat hendak berangkat, aku mendapatkan telepon dari L.A, ayah ku masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh. Dengan sangat terpaksa aku harus meninggalkan mu. Dan aku baru kembali beberapa hari yang lalu setelah aku menyelesaikan sekolah ku di L.A.” Jeylo atau Wu Yi Fan si pangeran Hyoyeon itu tersenyum memandang gumpalan awan putih yang mulai beradu dengan warna oranye di langit.

Hyoyeon hanya dapat menghela nafasnya. Semua terasa tak nyata baginya. Jeylo dan Wu Yi Fan adalah orang yang sama. Pangeran yang selalu dikejarnya selama ini adalah orang yang begitu dekat dengannya.

“Aku mengerti semuanya sekarang. Terimakasih Jey.” Hyoeyeon bangkit dari duduknya.

“Kau tidak marah pada ku kan?” Ucap Jeylo perlahan.

“Tentu saja tidak.”

Laki-laki itu kembali tersenyum, digenggamnya erat kedua tangan Hyoyeon, hal itu membuat si gadis tomboy itu mendelik tak menyangka.

“Hyo, aku mencintaimu. Apakah kau mencintai ku?”

Hyoyeon serasa terbang mendengarkan penuturan cinta Jeylo padanya. Raganya seraga berpisah dengan jiwanya yang sudah melanglang buana di angkasa.

“Aku mencintai fisik mu Wu Yi Fan-“ Hyoyeon menggantungkan kalimatnya, membuat Jeylo menatapnya bingung dan sekaligus sedih, dia merasa bahwa Hyoyeon hanya mencintainya karena tubuh dan wajahnya. Bagaimana bila dia bukan lagi dirinya yang sekarang? Apa Hyoyeon akan tetap mencintainya?

“-tapi aku-“

“Tapi apa?”

“Tapi aku mencintai hatimu Jey. Aku mencintai Jeylo.” Ucap Hyoyeon mantap.

Jeylo, Wu Yi Fan, si pangeran tinggi itu memeluk Hyoyeon dengan erat. Dia sangat bahagia dengan apa yang baru saja didengarnya. Cintanya tak berakhir tragis. Cintanya berakhir dengan bahagia.

“Terimakasih. Aku mencintai mu Hyo, sangat mencintaimu.”

“Nado…. My Jeylo.”

THE END

~J.E.Y.L.O.!!!~

***

THANKS FOR READING :D WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT :D

FOLLOW @ADOREXONLY for the lastest update about EXO

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL :D JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY Han Soo Kyo, NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: