EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 20 (END-1)

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Just Like You”

 

*Title : Just Like You

*Part : 20 (End-1)

*Main Cast :

  • Kris Wu
  • Kim Hyeon
  • Kim Sun Hye

*Length :  Series

*Genre : Romance

*Rating : PG 13

*P.S :  Ini adalah karya original by YuanFan. Dilarang keras untuk mem-plagiat dan mencopas tanpa seijin author

leave comment please

*Sinopsis : Kris dan Hyeon resmi mengakhiri pernikahan ‘sembunyi’ mereka, sekalipun Kris tidak mau menandatangi surat cerai yang diberikan oleh Hyeon. Namun, lambat laun mereka makin sadar alur kisah mereka dan mulai menerima kenyataan, bahwa mereka harus menjalani apa yang ada sekarang?

*Disclaim :

SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

Chanyeol POV

Tak terasa hampir seminggu aku terbaring dirumah sakit. Aku mulai bisa menerima keadaanku dan beradaptasi dengan kursi roda. Dalam hatiku aku ingin berteriak dan menjerit, menangis sejadi-jadinya. Tapi… semua itu tidak akan mengubah kenyataan. Aku mencoba tersenyum, berusaha menampakan aku baik-baik saja. Luhan Hyung sejak datang menjengukku, wajahnya terus murung.

“Hyung-ah…” panggilku saat dia duduk disampingku, matanya menerawang kosong memandangiku. Luhan hyung sedikit tersentak, matanya kini fokus.

“Ada apa? Ada yang kau inginkan?” tanyanya dengan antusias. Aku menggeleng.

“Aniya. Aku melihatmu beberapa hari ini sangat murung. Apakah ujianmu susah?” tanyaku, mencoba membelokan jalan pikirannya.

“Hah? Aniya… aku siswa teladan disekolah,” dia menyeringai sombong. Aku tersenyum.

“Kalau begitu tersenyumlah. Ohya, kau sudah dengar… beberapa hari lagi aku bisa keluar dari rumah sakit. Tapi, aku harus terapi.”

“Ne, aku sudah mendengarnya dari dokter.” Nadanya merendah dan wajahnya kembali redup. Matanya memandangi kakiku yang dililit gips.

“Aku bisa kembali berjalan, kalau aku giat ikut terapi,” mungkin Luhan hyung akan menertawakan kebohonganku. Tulang rawanku pecah dan sumsum tulang belakangku retak. Mustahil aku akan kembali berjalan.

“Pasti,” jawab Luhan hyung dengan senyum cerah. Dia memberi dukungan untuk hal mustahil.

“Ah… Chanyeol-ah. Kudengar Kris datang kemari, sebelum aku?”

Aku terdiam sejenak. Darimana dia tahu Kris hyung berada disini saat aku pertama kali dirawat. Aku mengangguk.

“Beberapa hari ini, aku melihat Hyeon ada yang berbeda. Umh.. dijarinya ada cincin yang melingkar. Aku tak tahu dia mempunyai cincin. Apakah dari Kris?”

Aku sedikit terkesiap saat Luhan hyung bertanya. Rupanya dia memang mulai menaruh perhatian pada Hyeon, bahkan hal sekecil itupun tak luput dari perhatiannya.

“Aniya,” jawabku.

“Ah, Cuma pikiranku.” Nada Luhan hyung tampak lega.

“Itu dariku,”

Luhan hyung langsung menoleh padaku. Matanya tampak tak percaya.

“Ne~, aku melamarnya beberapa hari lalu. Ah, bukan… aku berniat melamarnya sebelum aku mengalami kecelakaan ini. Tapi, setelah hal ini terjadi… aku tahu dia tidak akan hidup bahagia denganku,”

Luhan hyung masih diam. Memandangku. Sepertinya dia tak percaya dengan apa yang kukatakan. Kemudian dia menggelengkan kepalanya sekali, mencari fokus pikirannya.

“Jadi.. itu darimu. Berarti kau sudah melamarnya?”

“Harusnya, Hyung,”

“Harusnya?”

Aku mengangguk, “ Semua terlalu rumit, bahkan aku sendiri tak tahu harus bagaimana sekarang. Kau menyukai Hyeon, hyung-ah?”

“Ne?” Luhan hyung tampak terkejut, lalu dia merilekskan badannya.

“Kurasa, aku masih menganggapnya sebagai adikku. Belum lebih dari itu. Chanyeol-ah, aku tahu. Dalam hati Hyeon hanya terselip dua nama, Kris dan kau. Kau adalah mantan kekasihnya yang tak pernah terlupakan. Dia pernah mengatakan hal itu,”

“Sepertinya cerita ini rumit dan terlalu berbelit.” Gumamku

“Karena Hyeon masih bimbang—“

“Bukan. Karena dia takut mengakui, bahkan pada dirinya sendiri, bahwa dia sangat mencintai Kris hyung. Dia takut dia melangkah,”

Ya, itu benar. Hyeon hanya mencintai Kris sekarang, tapi dia tak mau memandang lurus kenyataan hatinya. Dia mengingkarinya dan memilih lari.

“Chanyeol-ah, apakah kau tahu Kris akan menikah dengan Sun Hye akhir pekan ini?”

Aku menatap Luhan hyung, berharap itu hanya gurauannya padaku. tapi aku sama sekali tak menemukan wajah jahil Luhan hyung. Benarkah? Tapi.. apakah ini gara-gara aku berkata akan melamar Hyeon dan Kris hyung memutuskan hal… arrgh… kalau benar berarti ini salahku. Otthoke?

“Chanyeol-ah, gwenchana-yo?”

Aku menarik nafasku panjang.

“Dari reaksimu sepertinya kau belum tahu tentang hal ini,”

“Hyung-ah, kurasa jangan beritahu hal ini pada Hyeon. Karena—“

“Aku sudah tahu lebih dulu,” suara Hyeon menyahut. Aku memutar pandanganku, Hyeon baru saja masuk membawa beberapa tas plastik penuh belanjaan.

“Aku membawa banyak makanan,” katanya sambil mengangkat tangannya yang penuh belanjaan. Dia tersenyum, seakan berita itu hanya sebuah gosip selebritis yang tak penting. Apakah kau baik-baik saja Hyeon-ah?

Luhan POV

Setelah mendengar keadaan Chanyeol, aku langsung terbang ke Jepang. Apa yang kulihat lebih parah dari kenyataan. Ditelepon Hyeon tidak mengatakan semuanya, hal yang sangat perlu kuketahui, Chanyeol lumpuh permanen. Aku tak beranjak sedetikpun dari ranjangnya dan berusaha memenuhi apa yang diinginkannya. Tapi terkadang aku harus kembali ke Korea menyelesaikan urusan studiku. Tapi, semua pikiranku masih memikirkan keadaan Chanyeol.

“Aoh!” aku menabrak orang tak sengaja. Ya ampun, aku melamun.

“Changsahamnida, apakah Anda—“ suaraku terhenti dengan mulut masih terbuka saat melihat yeoja yang merengut padaku.

“Apakah kau tak punya mata?” marahnya.

“Aniya, aku han—“

“Kau melamun?! Dasar!”

“Yah! Sun Hye-ya… aku tak melihatmu, maaf. Tapi… kenapa kau berjalan kaki?” aku memandang setiap garis sosoknya. Anak mirip tuan putri ini tak mungkin dibiarkan berjalan oleh pengawalnya. Kecuali…

“Kau kabur lagi?” tanyaku.

“Yah!” dia memukulku dengan tas tangannya.

“Kau pikir aku tukang kabur, dengan mengatakan ‘lagi’???”

“Lalu, kenapa kau jalan kaki?”

“Aku ingin, memang tidak boleh? Lagipula dulu waktu sekolah aku sering berjalan kaki atau naik sepeda..”

“Lalu kau terkena omelan Mamamu, huh,” aku mendengus, Sun hye tampak tak senang dengan sindiranku.

“Menyebalkan,” umpatnya kemudian meninggalkanku sendirian.

“Hei..” aku menahan lengannya.

“Kau mau kemana? Aku akan menemanimu,”

Kami berjalan cukup jauh, kemudian aku mengikuti Sun Hye berbelok kesebuah toko? Bukan, salon? Entahlah… aku hanya mengikutinya.

“Kau mau menunggu disini saja?” tanyanya sambil menunjuk sofa mewah, terlalu mewah untuk ruang tunggu. Aku berpikir sejenak seraya mengedarkan pandanganku keseluruh sudut ruangan. Penuh dengan gaun dan jas gemerlap.

“Annyeong, Sun Hye-ssi,” sambut seorang yeoja dengan ramah dan sopan.

“Ah… annyeong.”

“Silahkan masuk kedalam.. oh… akhirnya kau kemari dengan calonmu.” celetuk yeoja itu saat melihatku, aku hanya diam memandangnya.

“Tapi, sepertinya Kris-ssi yang pernah kulihat sedikit lebih tinggi dan tampan. Dia sedikit mirip dengan Kris-ssi, tapi terlihat lebih imut daripada di televisi,”

“Ah…aniya.. dia bukan Kris. Dia, Luhan, temanku,” Sun Hye memotong pembicaraan yeoja itu.

“Oh.. changsahamnida,” ucapnya dengan nada rendah.

“Gwenchana. Kris tidak mungkin ikut dengan hal-hal seperti ini, dia manusia praktis,” gumam Sun Hye sambil lalu.

Aku sedikit melongok keluar, melihat papan nama yang berdiri didepan gedung ini tepat. ‘Exc-Bridge’. Aku mengikuti Sun Hye masuk kedalam, dia melempar tasnya disofa yang ada didepan kaca besar.

“Kau…”

“Aku fitting gaun pengantin, aku akan menikah akhir pekan ini,” kata Sun Hye memandangku.

Dia akan menikah dengan Kris pekan ini? Aku tak bisa bertanya atau mengatakan apapun. Jadi, semuanya akan berakhir seperti ini? Menggelikan. Ternyata Kris tak sepintar yang kupikirkan. Aku kembali melihat wajah Sun Hye yang terpantul dicermin didepannya. Dia akan menikah, tapi wajahnya tampak muram.

“Sun Hye-ssi, silahkan.” Yeoja tadi kembali dengan beberapa orang lainnya yang membawa beberapa gaun pengantin mewah. Sun Hye tampaknya mengambil gaun-gaun itu secara acak, kemudian menutup kelambu sehingga menutupi cermin besar itu.

“Luhan-ssi, Anda yang mengantar Sun Hye-ssi kemari?” tanyanya. Orang ini tipe penggosip? Aku hanya tersenyum seraya mengangguk.

“Mianhe, kupikir kau Kris-ssi, calon pengantin Sun Hye-ssi, aku tak pernah melihatnya secara langsung,”

“Kris tak pernah datang kemari?” aku mulai penasaran.

“Tidak pernah, sekalipun. Bahkan ketika fitting gaun pertunangan hanya Sun Hye-ssi sendiri,”

“Benarkah mereka akhir pekan ini akan menikah?”

“Kudengar begitu,”

“Cukup membicarakanku,” Sun Hye membuka kelambu yang menyelimutinya.

Aku terperangah. Gaun itu tampak biasa awalnya, tapi ketika membalut tubuh Sun Hye, dia tampak bersinar. Wajah Sun Hye terlihat lebih cantik dari biasanya.

“Tutup mulutmu, liurmu keluar,” sindir Sun Hye sinis padaku. Sial.

“Neomu Yeoppo,” gumamku. Sun Hye menautkan dahinya, dia menampakan wajah sebalnya.

“Ne,” jawabnya singkat namun pedas.

“Silahkan coba yang lainnya,” yeoja itu memberikan gaun yang lain.

“Ani, semua sama saja bagiku. Tak ada yang istimewa,” ucapnya.

Yeoja itu menarik kembali gaun yang diulurkannya. Dia tampak merasa bersalah.

“Yah, Sun Hye-ya… kau ingin menyia-sia kan waktumu disini. Buat apa kau berjalan kaki kemari, kalau kau tidak memanfaatkannya. Cobalah semua, aku yang akan melihatnya,” wajah Sun Hye sedikit terangkat saat aku mengatakannya.

“Walaupun aku bukan Kris,” tambahku.

“Mana kupeduli. Berikan semuanya, akan kucoba,” katanya dengan nada yang masih sebal.

“Bagaimana kalau kau mengenakan pasangannya, Luhan-ssi?” celetuk yeoja itu.

Aku dan Sun Hye saling pandang bingung kemudian menatap yeoja didepan kami berdua lebih bingung lagi.

Sun Hye POV

Aku mendengar degupan jantung bertalu keras. Bahkan aku bisa merasakan nafas yang sedikit tersengal. Aku tersenyum. Luhan mengenakan setelan jas pengantin, yang menurutku, membuat dirinya semakin tampan.

“Yah, pose kalian kurang natural. Sekali saja menjadi model fotoku,” gumam Hyeori, dia adalah pemilik sekaligus penjaga bridal ini.

“Aku sudah bersikap biasa saja, hanya saja… orang didepanku entah kenapa keringatnya sebiji jagung. Kau mendesain jas yang panas,” kataku sambil melirik Luhan. Wajahnya terlihat bersemu merah. Anak ini benar-benar lucu.

“Yah, Luhan-ah… kau kenapa gugup seperti itu? pegang pinggangku biasa saja. Pose pre-wedding mana ada yang sekaku ini,”

“Diam. Jelas aku bukan calon pengantinmu, mana bisa senatural itu?!” dia sekarang menjadi sebal, wajahnya semakin lucu.

“Seandainya, calon pengantinku sendiri yang melakukannya, kurasa dia juga tak akan bisa natural,” aku membayangkan Kris yang diposisi Luhan sekarang, dia tak akan melakukan layaknya calon pengantin.

Aku merasakan pegangan lembut dipinggangg dan telapak tangan kananku. Kupandang Luhan, dia menatapku sekarang. Pegangan tangannya melembut dan lebih luwes.

“Jangan memasang wajah seperti itu lagi,” gumamnya.

Aku bengong beberapa saat, kemudian tersenyum.

“Ahem… tolong hentikan kemesraan kalian. Saya ingin mengambil foto kalian,” deham Hyeori. Aku dan Luhan terkikik, kemudian kami berdua menghadap kamera.

“Pose yang sangat sempurna, sayang sekali kalian bukan calon pengantin sungguhan. Hana… deul… klik.”

Hampir dua jam kami menghabiskan waktu bersama di tempat Hyeori. Aku sangat berterimakasih pada Luhan hari ini, dia sedikit mengubah suasana hatiku.

“Luhan-ah, gomawo…” ucapku saat kami keluar.

Luhan mengangguk dan tersenyum.

“Kau benar-benar akan menikah akhir pekan ini?”

Aku mengangguk, “Kau datang?”

“Entahlah,” jawab luhan.

“Wae?”

“Kau tidak tahu diri bila menanyakan ‘Wae?’ padaku. Kau sudah mengerti jawabannya.” Dia meneduhkan wajahnya. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

“Sudahlah, semoga kau bahagia,” ucapnya seraya mengacak puncak rambutku.

“Kau mau kemana sekarang?” tanyaku.

“Aku harus kembali ke Jepang. Chanyeol kecelakaan dan masuk ke rumahsakit. Aku harus menjaganya,”

“Chanyeol-ah?!” aku sedikit terkejut.

Aku teringat sesuatu yang kutemukan didalam tas Kris beberapa hari lalu, dua tiket ke Jepang bersama Suho.

“Kapan dia kejadian itu?”

“Tepat 5 hari yang lalu,”

Timingnya tepat, tiket itu juga 5 hari yang lalu bila dihitung dari hari ini. Jadi, Kris dan Suho ke Jepang bukan karena Hyeon? Tapi karena Chanyeol?? Ah~, pabo-ya!

“Luhan-ah, aku menitipkan salamku pada Chanyeol, agar dia cepat pulih. Dan tanyakan padanya, apakah Suho dan Kris sudah datang menjenguknya?”

“Kris dan Suho?”

“Tanyakan saja padanya,”

Luhan mengangguk, setelah itu kami berpisah jalan. Luhan berlari menuju halte bus, sampai dia hilang dari pandanganku. Aku membalikan badanku dan berjalan kearah berlawanan.

“Sun Hye-ssi!!”

Aku kembali membalik badanku, Hyeori berlari kearahku.

“Ini, sepertinya untukmu,” Hyeori menyerahkan sebuah amplop kuning untukku. Dia membungkuk kemudian pergi meninggalkanku.

“Gomawo,” ucapku, aku membalik amplop kuning itu.

“Luhan…”

Hyeon POV

Lama-lama aku risih dengan tatapan Chanyeol dan Luhan. Rasa getirku sudah sedikit berkurang, aku sudah mendengar kabar pernikahan Kris dari mulutnya sendiri. Aku menyuapan sesendok bubur pada Chanyeol, berharap perhatiannya akan teralih. Tapi, tetap saja, pandangan Chanyeol tak berubah padaku. Aku menghela nafas panjang, aku tahu mereka ingin mendengar apa reaksiku.

“Kalian ingin aku menangisi hal ini selama 7 hari 7 malam?” tanyaku agak sebal, terutama pada Luhan.

“Ani…” ucap Chanyeol segera.

“Hyeon-ah, cobalah sedikit jujur pada dirimu sendiri.”

Sejak kapan Chanyeol menjadi sangat menyebalkan seperti ini. Setelah dia membatalkan sendiri ‘lamaran’nya. Aku memandang Chanyeol tajam.

“Jujur? Kalau boleh jujur aku sangat kecewa padamu,” tandasku, wajah Chanyeol berubah seketika. Matanya turun kearah jemariku yang mengenakan cincin pemberiannya.

“Mianhe…” ucapnya sendu.

“Sudahlah, itu juga inginmu Chanyeol-ah,” aku jadi ikut terbawa emosi karena topik pembicaraan ini.

“Luhan Oppa, darimana kau tahu Sun Hye dan Kris akan menikah akhir pekan ini?” aku juga tak bisa menutup rasa penasaranku.

“Sebelum aku berangkat ke Jepang, aku sempat pergi berdua dengannya,” jawab Luhan.

“Kemana?” aku mengangkat satu alisku, aku tahu ada hal yang membuatnya bahagia beberapa hari ini.

“Kau cemburu?” wajah Luhan ingin sekali ku tendang. Aku mendengar Chanyeol menahan tawanya.

“Ah~… aku hanya bertemu dengannya, dan menitipkan salam pada Chanyeol. Kami hanya sedikit berbicara, dia hanya mengundangku dan tidak membicarakannya lebih.”

Aku mengangguk mengerti, kurasa hal ini tak perlu dibahas lebih dalam lagi. Jelasnya, aku akan datang di pernikahan Kris nanti. Aku kembali menatap Chanyeol.  Anak ini… kalau kupikir-pikir dia kurang ajar sekali memberiku harapan palsu. Dia berani sekali mempermainkanku.

“Kau masih marah padaku?” sepertinya Chanyeol peka sekali.

“Sudahlah, percuma kita bicarakan hal ini lagi,” tukasku.

“Hyeon-ah… bagaimana kalau kita berdua juga menikah?”

Aku dan Chanyeol langsung memandang Luhan, mata namja itu tampak serius. Aku mendengus sebal.

“Yah, kau sama sekali tak tahu diri,” sindirku. Luhan malah tertawa terpingkal. Kemudian dia menghampiriku dan menepuk pundakku.

“Aku tahu…” dia memandangku dan Chanyeol secara bergantian, kemudian merangkul kami berdua. Chanyeol harus sedikit mencondongkan badannya yang terbaring diranjang.

“Sepertinya kau yang tampak sakit hati, Oppa, ambil saja Sun Hye…” ucapku asal. Luhan menjitak puncak kepalaku lembut.

“Yah! Kau juga itu berterus teranglah pada Kris, kau mencintainya.” Mulut Chanyeol ingin kusobek kecil-kecil.

“Akan kupatahkan lenganmu juga,” ancamku.

“Saranghe… Hyeon-ah…” ucap Chanyeol dengan senyum mengembang.

“Ani-yo..”

Lengan Chanyeol menggapai tanganku dan menyeretku lebih dekat lagi. Kami bertiga saling berpelukan. Kueratkan lenganku pada mereka berdua, sekarang aku merasa… aku tidak pernah sendirian lagi.

“Hyeon-ah…” panggil Chanyeol setelah dia selesai membersihkan diri, dibantu oleh Luhan. Aku yang merapikan tempat tidurnya, menoleh kearah jendela dimana Chanyeol duduk didepannya dengan kursi roda.

“Mwo?”

“Jangan katakan kejadian ini pada Nenek, dia akan sangat sedih nanti. Aku akan mengatakannya sendiri secara berlahan,” katanya dengan senyuman tipis.

Aku duduk ditepi ranjang sambil terus memandangi dirinya. Kedua orangtua Chanyeol entah kemana, dia tak pernah menceritakannya dan aku juga tak pernah bertanya. Yang kutahu, selama ini dia hidup dengan Neneknya.

“Jeongmal mianhe…” hanya itu yang bisa kuucapkan.

“Aniya, ini kecelakaan bukan salahmu juga. Aku lupa, aku ingin mengabarkan sesuatu padamu,”

Aku berjalan mendekatinya dan merangkul pundaknya dari belakang. Dia menyambut kedua lenganku dengan sentuhan lembut.

“Sekarang… dan seterusnya nanti kita akan terus bersama. Tak akan pernah terpisahkan. Kau adalah belahan jiwaku dan nafasku…” ucapnya. Darahku sedikit berdesir.

“Ap-apa maksudmu? Kau akan—…”

Dia menggeleng sebelum aku melanjutkan kalimatku.

“Kita akan bersama dalam hubungan lain,”

Aku mengerutkan dahiku dan menunduk menatapnya, dia sedikit mendongak menatapku.

“Paman dan Bibi belum mengatakannya?”

“Apa?”

“Aku sekarang menjadi saudara angkatmu…”

“Jinjja?”

Chanyeol mengangguk. Cerita macam apa ini?? Aku menghembuskan nafasku berat.

“Kau tak senang?”

“Aku hanya tak percaya…”

“Peluk aku, kau akan percaya nanti…”

Aku melepaskan rangkulanku dan memandang Chanyeol sedikit aneh. Dia tetap saja mengembangkan senyumannya. Dia mendorong kursi rodanya kemudian melebarkan kedua tangannya. Aku mendengus, lalu beberapa langkah maju kearahnya dan berlutut memeluknya.

“Ahem…”

Kami berdua menoleh kesumber suara. Chanyeol dan aku berlahan melepaskan kedua lengan kami.

“Aku menganggu?”

“Aniya, kapan kau datang… Kris hyung?” sambut Chanyeol

Aku hanya bisa menelan ludahku.

Sun Hye POV

“Nona… Anda tidak makan malam?” tanya pelayan yang ada didepanku.

Aku hanya terdiam, duduk ditepi ranjang seraya memandang kamar yang seperti terkena angin topan.

“Non—“

“Nanti, aku akan menyusul. Katakan itu pada Mama, dan satu lagi jangan ijinkan siapapun masuk dalam kamarku sebelum aku keluar,”

Tatapanku tetap kosong memandang satu sudut yang paling berantakan. Pandanganku ke pintu hampir terhalang oleh kelambu ranjang yang sobek, nyaris roboh.

“ Dan siapkan penerbangan ke Jepang, hari ini,” kataku sebelum pelayan itu keluar dari kamarku.

“Kris, apa maumu?” tanyaku beberapa menit yang lalu ketika aku mulai muak dengan sikap dinginnya.

“Seperti yang kau mau, kita akan menikah,” dia berkata tanpa memandangku.

“Apakah sikapmu juga tidak bisa sedikit melunak dengan calon pengantinmu?”

Kris menoleh kearahku, hanya sekilas. Tatapannya seakan melihat sampah diwajahku. Aku mulai tersiksa dengan hal ini.

“Kau mencintaiku?” tanyaku lagi.

“Harusnya kau sudah mengerti jawabannya sejak semua ini terjadi. Kau sudah tahu jawabannya, tapi kau tak mau bila jawaban itu tetap sama,”

Aku menelan ludahku. Memang, memang aku tak mau mendengar dengan jawaban yang sama. Hyeon. Tak ada alasan lain.

“Kau mengatakan akan menikah denganku, lalu tanpa memandang sedikitpun calon pengantinmu,”

Kris menatapku nyalang. Dia berjalan menghampiriku dan menunduk dengan mata yang tajam.

“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu… apakah kau tahu?” ucapanku membuat pandangan Kris meneduh.

“Aku akan berusaha, semua tak segampang yang kau pikirkan. Aku hanya butuh waktu, jangan paksa aku. Jangan kau paksakan juga kehendakmu. Itu juga akan menyakitimu,” katanya, nadanya mulai melemah.

“Sekarang beri aku waktu, mengatakannya pada orang-orang yang akan kusakiti lebih dalam. Biarkan aku sendiri dalam beberapa waktu,”

Mata Kris tampak nanar. Aku tahu apa yang dia pikirkan saat ini, aku tahu kata-katanya tak lebih menuju pada seseorang yang akan selamanya menjadi saingan terberatku. Hyeon. Aku hanya melihat Kris yang sedari tadi mondar-mandir didepanku. Memasukan barang-barangnya kedalam koper kecil. Aku tak berkomentar apa-apa. tanganku mencengkeram kelambu ranjang, sampai terdengar retak bagian penompangnya. Mataku panas, aku tak bisa melihat semua dengan fokus.

“Aku… apakah aku egois?” tanyaku, pandanganku tetap melayang tak tentu kemana. Aku melihat bayangan Kris mendongakan kepalanya menatapku.

“Setiap orang mempunyai sifat egois, Sun Hye-ya.” Gumamnya.

“Sedalam itukah cintamu pada Hyeon? Sampai kau melakukan hal ini padaku?”

“Sudah kubilang, kau sudah tahu jawabannya. Aku tak akan menjawabnya lagi,”

Aku menarik kelambu yang kucengkeram dengan keras sampai terdengar sobekan. Kutatap Kris dengan pandangan marah. Apakah dia tidak pernah mengerti perasaanku. Kuambil bantal dan menyobeknya dengan rasa marah.

“Apa yang kau lakukan Sun Hye-ya…” Kris mencoba menghentikanku membanting barang-barang disekitarku.

“Sun Hye-yah!” teriaknya.

Aku berhenti dengan nafas tersengal, berbalik menghadap Kris yang yang menahan tanganku yang kini mengangkat vas bunga. Kuturunkan tanganku dan memandang mata Kris.

“Pergilah… pergilah sekarang,” kataku, aku berusaha menahan tangisku.

“Pergilah. Aku akan menunggumu disini. Pergilah, dan lepaskan semua.”

“Lalu apa maksudmu membanting semua barang ini?”

“Urusanku Kris, pergilah. Sekarang. Hari ini aku tak ingin melihat wajahmu,”

Aku berbohong. Mana mungkin aku tak ingin melihat wajahnya, aku tak bisa hidup tanpanya walaupun hanya sedetik.

“Ya. Aku akan pergi. Dan.. akan segera kembali. Nanti,”

Aku mendengar Kris berat mengatakannya. Wajahnya dipalingkannya dariku, aku tahu setiap menyebut atau mengingat pernikahan kami, matanya menjadi nanar.

“Ne. Hari ini aku sangat cemburu padamu,” kataku sambil memandang barang-barang yang tak beraturan lagi.

Kris POV

Sun Hye benar-benar menjadi gila. Apa maksudnya dia membanting semua barang-barangnya? Matanya mengartikan sorot mata lain. Bukan cemburu. Ah~, entahlah. Kubuka tas selempangku, mengeluarkan beberapa lembar undangan dengan tiga nama. Luhan, Chanyeol dan… Hyeon. Aku menulis ketiga nama terakhir itu dengan berat. Saat aku sampai di depan kamar rawat Chanyeol, aku berdiri disana beberapa menit sampai aku menghela nafas panjang dan memutar knop pintunya. Sial. Pemandangan buruk.

“Ahem… Aku menganggu?”

Hyeon dan Chanyeol langsung melepaskan pelukan mereka.

“Aniya, Kris Hyung.” Chanyeol menyambutku dengan senyuman cerah.

Aku memandang Hyeon sekilas, diwajahnya juga ada seulas senyum. Aku tahu kini dia sudah berbahagia dengan pilihannya.

“Bagaimana keadaanmu sekarang, Chanyeol-ah?” aku menghampiri mereka dan memberikan bungkusan buahku pada Hyeon.

“Banyak kemajuan, aku mulai lebih baik,” Chanyeol selalu tersenyum secerah itu. Aku menepuk pundaknya pelan.

“Bagus kalau begitu. Lalu, mana Luhan? Kudengar dia berada disini,”

“Luhan Oppa entah keluar kemana sejak tadi,” sahut Hyeon.

Aku menoleh kearah Hyeon, dan mataku menangkap cincin yang melingkar di jemari manisnya. Cincin yang sama seperti yang ditunjukan Chanyeol padaku.

“Ada sesuatu yang membuatmu kemari?” tanya Hyeon lagi.

Ya, ada. Kau yang membuatku kemari.

“Apakah aku tidak boleh menjenguknya lagi?” aku mengacak puncak kepala Chanyeol.

“Yah, kalau kau tak menjengukku. Kau akan kangen padaku,” kata Chanyeol sambil mengangkat sebelah alisnya. Aku mendengusinya.

Aku tak tahu aku harus memulainya dari mana, akupun juga tak mengerti harus berwajah seperti apa ketika mengatakan tujuanku kemari. Sudah hampir dua jam aku disini, tapi tak bisa mengatakan apa-apa. Malah rasanya api cemburuku membakar rumah sakit ini saat melihat Chanyeol dan Hyeon terus memperlihatkan sikap mesra mereka.

“Kris,”

Kami bertiga menoleh kearah orang yang baru saja masuk. Luhan dengan tangan penuh belanjaan. Aku tersenyum menyambutnya.

“Sudah lama?” tanyanya.

“Tidak. Baru saja.” jawabku.

“Kemana saja kau?” seperti Hyeon yang kukenal, kata-katanya selalu kasar karena dia sangat cemas. Dia memang seperti itu.

“Aku hanya belanja sebentar,” Luhan mencoba membela dirinya.

“Sebentar??” Hyeon menekankan nada bicaranya.

“Yah.. beberapa jam..”

Aku terkikik sendiri melihat mereka. Seandainya posisi Luhan itu aku sekarang, pasti sebentar lagi akan adu mulut. Tapi Luhan lebih lembek dari biasanya, dia memilih mengalah dan mengaku salah.

“Kris-ah, kau mau kopi?” tawar Hyeon padaku. entah hanya perasaanku saja atau memang begitu nyatanya, cara bicaranya padaku sudah berbeda.

“Ne, gomawo,” jawabku.

“Baiklah, aku akan meminta air panas pada suster,” katanya lalu beranjak dari kamar.

“Aku ikut,” rengek Chanyeol.

“Kau selalu merepotkanku,” gerutu Hyeon.

“Ayolaaah~,”

“Ah…ah… Ne.”

Aku hanya memandang mereka berdua. Hyeon mendorong pelan kursi roda Chanyeol keluar bersamanya kemudian menutup pintu kamar. Sepertinya Hyeon sepenuhnya bisa melupakanku.

“Dia berwajah bohong,” celetuk Luhan. Aku menoleh padanya.

“Dan wajahmu juga tidak bisa dibohongi,”

Aku benci melihat seringaian Luhan yang tampak mengejekku.

“Kau sudah melupakan mantan pacarmu?” tanyaku ikut menyeringai.

“Aku sudah menutup luka lama, kuganti dengan yang baru. Tapi tetap saja itu membuat luka baru,” gumamnya.

Rasa bersalahku langsung seketika menyergapku. Aku tak bisa mengatakan apa-apa.

“Ini bukan salahmu,” kata Luhan lagi. Aku meluruskan pandanganku padanya, lalu tersenyum kecil.

“Kau kemari pasti mempunyai tujuan,” tebaknya. Aku mengangguk.

“Aku hanya bingung bagaimana aku akan menyampaikannya,” aku membuka tasku dan mengeluarkan tiga undangan. Dengan berat kuulurkan ketiganya pada Luhan.

“Aku saja tak sanggup mengatakan. Padahal sepertinya aku mengatakan terang-terangan juga tak menjadi masalah. Hyeon sudah menemukan kebahagiaannya,”

“Hem?” Luhan mendongak seakan tak mengerti apa yang kukatakan.

“Maksudmu Hyeon dengan Chanyeol?” tanya Luhan.

“Siapa lagi. Tak mungkin kau. Luhan-ah, jeongmal mianhe.. aku merebut kebahagiaanmu juga,”gumamku. Aku tahu, Luhan masih menyukai Sun Hye sampai sekarang.

“Gwenchana. Lagipula, aku tahu kau juga tidak bahagia karena ini,” gumam Luhan, sambil mengambil undangan yang ada ditanganku.

“Tanpa foto?” sindirnya, aku hanya mendengus.

“Aku bukan orang yang senang berpose,”

Luhan mengangkat satu alisnya, dia tak pernah mempercayaiku.

“Kris-ah,” gumamnya sambil memandangku lurus, senyumannya penuh arti sekali.

“Kau mau kuceritakan sebuah kebenaran?” Luhan berwajah seperti setan cilik.

“Aku tak suka bergosip. Tapi kalau kau memaksa, aku akan mendengarkannya,”

Luhan menyeringai kemenangan.

Hyeon POV

“Kau kemari, karena menghindari Kris hyung?” celetuk Chanyeol.

Aku menunduk melihatnya.

“Aniya, aku benar-benar ingin meminta airpanas pada suster,” gumamku.

“Tapi, tremosnya sudah penuh kenapa kita tidak kembali?”

Aku melirik tremos yang kudekap, Chanyeol benar-benar memojokanku.

“Hyeon-ah… cobalah jujur pada dirimu sendiri. Kau tak perlu sok tegar seperti ini,”

Aku mulai bimbang. Apa yang harus kulakukan sekarang. Kugigit bibir bawahku, aku tak tahu harus bagaimana. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana pada Kris.

“Kau percayalah pada perasaanmu. Yang sekarang perlu kau pikirkan adalah perasaanmu,” Chanyeol menggapai tanganku dan menggenggamnya.

“Aniya. Apapun, aku harus tetap merelakannya. Aku tahu, hal ini yang terbaik untuknya.” Kataku.

Benar. Aku tak boleh menghambatnya dan mencoba terus merelakannya. Dia akan bahagia dengan jalannya sendiri.

“Ayo, kita kembali.” ajakku kemudian mendorong kursi roda Chanyeol pelan.

Saat kembali ke kamar, aku tak menemukan sosok Kris. Hanya Luhan  yang duduk ditepi ranjang Chanyeol yang kosong sambil bermain game di ponselnya.

“Mana Kris hyung?” ku bersyukur Chanyeol menanyakannya lebih dulu.

“Dia sudah pergi, kalian lama sekali.” gerutu Luhan.

Chanyeol mendongak menatapku, aku tak menjawab apapun. Aku meletakkan tremos dimeja sebelah ranjang, dan merasa semua baik-baik saja. Mataku melihat beberapa lembar kertas berhias indah. Undangan.

“Ah, iya. Kris sebenarnya ingin menyampaikan itu,” kata Luhan saat aku mengambil undangan itu dan mengamatinya. Benar. Kris Wu dan Sun Hye.

“Jadi mereka benar-benar menikah?” Chanyeol menjalankan kursi rodanya sendiri mendekatiku. Lalu aku menyerahkan bagiannya, yang bertuliskan Chanyeol. Tulisan jelek Kris.

“Ne, sepertinya ini tidak akan diundur lagi.” gumam Luhan.

Aku tak berkomentar apa-apa. Hanya diam dan memandangnya. Ada rasa sesak yang menyumpal dadaku. Mataku mulai terasa panas, dan pandanganku kabur. Aku merasakan pelukan lembut Luhan.

“Menangislah. Itu sangat manusiawi,” katanya.

Aku sudah tak sanggup. Pertahananku runtuh. Airmataku sudah tak bisa kutahan lagi. Aku memeluk Luhan erat, dan merasakan pegangan tangan Chanyeol yang membelai punggung tanganku lembut.

“Kau tak pernah bisa berbohong, kau bodoh sekali dalam berbohong.” Celetuk seseorang yang baru saja masuk kedalam kamar rawat.

Kami bertiga menolehnya.

“Apa kabar Chanyeol-ah, mianhe baru sempat menjengukmu sekarang,”

Lay Oppa menghampiriku dan menarikku dari pelukan Luhan, kemudian memelukku lembut.

“Lay Oppa…” hanya itu yang sanggup kukatakan.

“Sudah kubilang, jangan berlari terus menerus. Kau akan lelah dan jatuhnya lebih sakit.”

Aku hanya mengangguk, jemari Lay oppa mengusap mataku.

“Ah~, akan kukenalkan seseorang pada kalian,” kata Lay oppa.

“Masuklah, Sayang,” panggil Lay Oppa.

Ah, jinjja??! Yeoja tak asing lagi dimataku.

to be continued….

mianhe, kalo saya bagi dua part endingnya. sebenernya udah selesai. tapi terlalu panjang. seminggu lagi saya share part finishing nya :D.

moga ga bosen ya, gomawo udah selalu ikutin FF ini sampe sebanyak ini 😀

/bow/

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT  😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @yuanitasugianto @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see

Advertisements

Tagged:

10 thoughts on “EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 20 (END-1)

  1. prenges July 30, 2013 at 9:56 PM Reply

    Ahhhhhh Maaf ag ninggalin jejak dulu. Yang lain belum ag baca.

    • yuanfan August 17, 2013 at 11:27 AM Reply

      part berikutnya udah post lho 😀 😀

  2. nabilariefah August 2, 2013 at 1:44 AM Reply

    AKHIRNYAAAAAA AAAA udah lama nungguinnya ;-; lanjut ya thor mangaaat

    • yuanfan August 17, 2013 at 11:27 AM Reply

      oke… udah posting kok part berikutnya 😀 😀

  3. Sowon August 4, 2013 at 3:16 AM Reply

    Ahh itu siapa cewek yg dibawa lay? Kepoo jadinya

    • yuanfan August 17, 2013 at 11:22 AM Reply

      hayooo siapa nya lay… maybe pacarnya.loh???
      part end nya udah post kok 😀

      -yuanfan-

  4. Jung Hyun Mi August 10, 2013 at 8:25 AM Reply

    ahhh eonn
    jangan lama2 dong publishh
    udah kebelett bangettt sama ceritanya huee
    itung2 thr buat reader eonn
    jinjja jeball publish part akhirnya huhu
    gereget banget sama hyeon ya ampun
    sun hye itu iblis banget ya
    gue tampol juga pake bakiak dah
    ihhh lay bawa siapa lagi ya

    itu kagi luhan nyerita apa ke kris huaa
    aku baru baca part ini masa huee
    lanjutt lanjuttt lanjutt
    jeball dilanjutt eonn

    • yuanfan August 17, 2013 at 11:26 AM Reply

      gomawo udah mau baca sampe sini. /usap ingus/

      udah post kok part ending nya 😀 😀

  5. nurul August 16, 2013 at 3:24 AM Reply

    Thorr cepetan yahh buat yg keduanyaaaaaa

    • yuanfan August 17, 2013 at 11:24 AM Reply

      udaaaaa chingu-yaaa 😀 😀 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: