[FREELANCE] EXOtic’s Fiction “Over Possesive”

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Over Possesive”

over-possesive

 

Author : Han Soo Kyo
Title     : Over Possesive
Genre  : Romance, Comedy (?)
Lenght             : Oneshot
Cast     : Xi Luhan (EXO)
Park Chanyeol (EXO)
Choi Sooyeon (OC)

Another Member EXO M

 
Disclaimer : This story is mine! Don’t copy without permission!

 

Gomawo untuk admin yang sudah bersedia mempost FF ini hehehe. Selain dikirim di sini, FF ini juga dipost di blog author^^

RCL Please^^

 

Happy Reading All!!! Enjoy!

*Over Possesive*

From : Luhan
“Jangan pulang sebelum aku jemput, dan ingat, kau tidak boleh berbicara dengan namja manapun di kelas.”

Sooyeon menghela nafasnya berat, matanya terpejam, dan jari lentiknya mengurut pelan dahinya. Selalu saja begitu, baru saja kekasihnya, Xi Luhan, mengantarnya ke sekolah beberapa menit yang lalu, tapi saat ini dirinya sudah mendapatkan satu pesan masuk dari namja itu.

Choi Sooyeon adalah siswi tingkat ke-2 sekolah menengah atas di salah satu sekolah elit di kawasan Gangnam. Kekasihnya Xi Luhan adalah siswa tingkat 3. Mereka berdua menjalin cinta sejak 1 tahun yang lalu. Sudah cukup lama memang, tapi hal itu bukan berarti bahwa hubungan mereka selalu berjalan lancar. Luhan terlalu mengekang Sooyeon dalam genggamannya. Selama berpacaran dengan namja yang sering dipanggil rusa itu, Sooyeon tak punya satupun teman lelaki. Alasannya hanya karena Luhan tidak ingin melihat Sooyeon berbicara dengan lelaki lain selain dirinya. Gila memang. Tapi semua diterima pasrah gadis itu dengan alasan, dia mencintai Luhan. Sangat mencintai Luhan.

“Hei, Choi Sooyeon! Wae gurrae?”

“ Hanya sedikit pusing Chaerin-aah.”
Sooyeon mengikat asal rambutnya yang sedari tadi ia gerai. Tatapannya kini tertuju pada Chaerin, salah satu teman dekatnya, yang kini duduk di depannya.

“Pasti si rusa itu memberikan aturan baru lagi ya? Marhae.”

“Ani, kau ini kenapa berpikiran buruk terus sih?”

“Kau yang selalu cerita padaku kan soal Xi Luhan, namjachingu mu yang berlebihan itu? Tidak boleh ini, tidak boleh itu, semua tidak boleh. Mau sampai kapan kau diatur olehnya Yeon-aah?”
Chaerin mendelik pasrah, menatap nanar Sooyeon. Bibirnnya sedikit mengerucut, menandakan bahwa dia sedikit kesal. Bagaimana tidak? Sooyeon selalu bercerita tentang Luhan padanya. Termasuk sifat Luhan yang selalu mengaturnya ini itu. Dan setiap Chaerin memberikan nasihat, Sooyeon akan dengan mentah menolaknya dan mengatakan bahwa Luhan adalah namja baik yang sangat menghawatirkannya. Membuat yeoja berambut sebahu itu kesal dan kadang-kadang bosan mendengarkan curahan hati Sooyeon.

“Chaerin, dengarkan aku…”
Sooyeon hendak mengeluarkan suaranya, namun Chaerin segera memotong ucapannya.

“Luhan itu namja baik, dia kekasih yang perhatian, dia ingin selalu menjaga ku dan melindungi ku, dan bla bla bla. Benarkan? Itu yang mau kau katakan? Aku bahkan sudah menghapalnya di luar kepala!”

“Chaerin-aah…”

“Sudahlah, lebih baik kau pikirkan oppa yang seperti anak kecil itu. Aku sudah bosan memberi tau mu Yeon-aah”

“Chaerin, Lee Chaerin!”
Dan Chaerin tetap berlalu meninggalkan Sooyeon yang kini duduk sendiri di bangkunya.

Sooyeon menatap layar handphonenya, ada dua manusia di sana. Dirinya, dan Luhan sedang tersenyum dan membentuk V sign bersama. Bibirnya membentuk sebuah senyuman, tapi matanya tak menyiratkan kebahagiaan.

“Sebenarnya aku lelah seperti ini oppa, tapi aku terlalu mencintaimu.” Batinnya dalam hati.

***

 

“Oppa, Luhan oppa, chakam.”

Luhan menghentikan langkahnya yang sedikit lagi mencapai kelasnya. Mendengar suara seorang yeoja yang memanggil namanya, membuat dia memutar balik badannya. Dan tepat dibelakangnya, berdiri seorang gadis dengan rambut belah tengahnya yang hitam panjang. Cantik. Cukup membuat Luhan sedikit.. errr bergetar mungkin?

“Ada apa?”

“Igo.”

Luhan menatap gadis itu datar. Dan matanya tertuju pada sesuatu yang dibawa gadis itu padanya. Coklat. Sebuah coklat dengan pita berwarna biru muda.

“Untuk ku?”

“Ne, semoga kau suka oppa.”
Dan gadis itu berlari dengan senyum yang merekah setelah Luhan menerima coklat itu dari tangannya.

.

.

.

.

 

“Hey Luhan! Whatsup?

Kris, salah satu teman Luhan menyapanya ketika Luhan baru saja sampai di kelasnya. Ada 5 namja yang sedang duduk di pojok kiri kelas itu. Kris, si namja sok asik yang tampan, Chen, namja pendiam yang membaca komiknya dengan serius, Lay dan Xiumin, dua namja berwajah manis yang sedang asik menatap layar i-pad dengan wajah tegang dan keringat yang menderas, entah sedang melihat apa, dan Tao yang sibuk menata rambut pirangnya yang baru.

“Hei, itu coklat?”
Xiumin membulatkan matanya melihat Luhan yang memegang coklat pemberian ‘gadis misterius’ yang mungkin salah satu dari puluhan atau ratusan fansnya yang beredar di sekolahnya. Oh ayolah, siapa yang tidak menyukai namja yang tampan dan imutnya melebihi semua Ulzhang di Korea itu?

“Xiumin, kau sedang melihat apa?”

“Coklat yang kau pegang.” Tatapan Xiumin tidak berpaling dari coklat yang masih digenggam Luhan.

Luhan menggelengkan kepalanya. Temannya yang satu itu memang selalu peka dengan makanan apapun, indra perasanya sangat baik.

“Maksud ku bukan itu, tapi sesuatu yang ada di i-pad Lay.”

“Ah, itu..”

“Yadong.” Ucap Tao acuh, namja itu masih merapihkan poninya.

“Hei Tao, jangan keras-keras!”
Lay mengumpat, tangannya mengelap peluh yang meluncur dari dahinya. Matanya mengedar memperhatikan seisi kelas. Dan i-padnya? Tetap menyala.

“Kalian ini, ritual seperti itu harusnya jangan dilakukan di kelas, mengganggu saja.”

“Kau bahkan baru datang, mengganggu bagaimana?” Kris memutar matanya, kesal.

“Luhan, aku mau itu.”

“Mau apa?”

“Aku mau coklat mu.”

“Igo.”

“Jinjja? Ah gomawo, pagi ini begitu indah. Vidio gratis? Coklat gratis? Xiumin, kau beruntung!!!”
Xiumin menyorakan dirinya sendiri, dengan cepat tangannya membuka bungkus coklat itu dan segera melahapnya. Kris, Tao, Chen, dan Luhan hanya geleng-geleng kepala menatap anak itu. Lay? Dia masih sibuk menatap layar i-padnya.

“Coklat itu darimana?” Chen yang sedari tadi membaca komiknya, mulai ikut bergabung dengan keriuhan yang dihasilkan teman-temannya yang kini berebut coklat dengan Xiumin.

Fans Luhan Deer. Siapa lagi?”

“Hei tiang listirk! Berhenti memanggil ku rusa!”

“Aku bukan tiang listrik bodoh!”

“YA, kenapa kalian jadi bertengkar?” Chen, geleng-geleng kepala.

“Pertandingan jerapah dan rusa hahaha, lanjutkan!” Tao bertepuk tangan riuh.

“Diam kau PANDA!!!” Teriak Luhan dan Kris bersamaan.

Dan mereka kembali terhanyut dalam keributan itu. Itulah Luhan. Hidupnya selalu perfeksionis. Wajah yang tak perlu diragukan, kepopuleran, dan teman-teman yang seru dan sedikit… gila. Semua itu membuatnya hidup tenang dan bahagia sepanjang hari. Ditambah dengan yeojanya yang cantik, Choi Sooyeon.

Tapi Luhan terlalu egois. Luhan menginginkan semuanya, menginginkan yeojanya sepenuhnya. Selama ini dia selalu menjaga Sooyeon dengan baik, bahkan mungkin terlalu baik sehingga membuat yeoja itu hanya memandang satu namja di hidupnya, hanya Xi Luhan. Tapi hal itu tidak menyenangkan bagi Sooyeon. Sooyeon tidak pernah merasa sebebas Luhan. Setiap hari yeoja itu hanya dijemput dan diantar pulang Luhan. Sooyeon juga tak punya banyak waktu luang untuk pergi dengan teman-temannya. Luhan tak pernah membiarkan Sooyeon pergi ke suatu tempat yang tidak diketahui Luhan. Luhan terlalu… berlebihan.

***

From : Luhan

“Hari ini aku tidak bisa menjemput mu.”

Sooyeon tersenyum lebar menatap layar handphonenya. Luhan tidak menjemputnya? Itu surga dunia! Dia bisa pergi untuk sekedar jalan-jalan ke mall dengan beberapa temannya sepulang sekolah nanti. Sooyeon terus bersorak kecil. Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama…

From : Luhan

“Tapi Tao akan menjemput mu.”

“Selalu saja!!” Sooyeon mengacak rambutnya kesal. Hilang sudah semua rencana indahnya.

“Anyeong. Boleh aku duduk di sini?”

“Eh?”

“Aku anak baru, dan hanya ada satu bangku yang kosong, di sebelah mu. Aku boleh duduk di situ tidak?”

Seorang namja berambut agak gondrong tersenyum sembari mengunyah permen karetnya. Name tagnya menunjukan nama ‘Park Chanyeol’.

Sooyeon mengernyit heran, tapi sedetik kemudian ia mengangguk dan mempersilahkan Chanyeol duduk di sampingnya. Setidaknya Jung Inra, teman sebangkunya –yang sudah pindah ke sekolah lain- tidak akan lagi menempati tempat duduk itu. Jadi apa salahnya memberi namja itu tempat duduk?

“Nama mu siapa?”

Hening tak ada jawaban.

“Hei, nama mu siapa?”

Hening. Sooyeon tetap tidak menjawab pertanyaan Park Chanyol.

“Hei, kau tidak bisu kan?”

Sooyeon tersadar dari lamunannya. Luhan benar-benar membuatnya lelah. Lelah untuk terus-terusan dikekang dan dipenjara seperti itu. Bahkan konsentrasinya pun hilang semua, untuk mendengar kata-kata Chanyeol saja dia terganggu.

“Kau memanggil ku ya?”

“Dasar gadis aneh.” Bisik Chaenyeol dalam hatinya.
Namja itu hanya menggeleng dan membuka satu bungkus permen karet, memakannya,dan mengucahnya acuh. Membuat Sooyeon mendengus kesal.

“Dasar namja aneh.” Umpatnya pelan.

***

Dengan perkenalan yang tidak diduga, Chanyeol dan Sooyeon saling mengenal dan menjadi teman sebangku tentunya. Walau awalnya tidak berjalan lancar, tapi sekarang mereka sangat dekat. Chanyeol anak yang asik dan humoris, membuat Sooyeon nyaman di dekatnya. Yah, setidaknya kini Sooyeon punya satu teman laki-laki, walaupun hubungan itu harus dirahasiakan dari Luhan.

“Yeon-aah, ayo temani aku.”

“Eh? Kemana?”

“Membeli kaset PS baru, siang ini sepulang sekolah.”

Gadis berambut panjang itu termenung, mana mungkin dia bisa pergi? Luhan akan menjemputnya siang ini. Selalu seperti itu.

“Kau tidak bisa ya?”

“Ah, mian Yeol-aah, kau tau kan kalau Luhan akan menjemput ku?”
Chanyeol berpikir sejenak.

“Aku lupa kalau kau punya namjachingu yang otoriter.”

“Dia itu baik Yeol-aah.”

“Ya ya ya, Xi Luhan adalah namja terbaik mu sepanjang masa. Tapi mana ada kekasih yang tidak membiarkan pacarnya punya teman lelaki? Berlebihan sekali.”

Sooyeon menghela nafasnya berat. Benar sih apa yang dibicarakan Chanyeol, Luhan memang berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah cukup kebal atas perlakuan rusa satu itu.

“Aku punya ide.”

“Eh? Ide?”

“Kemari, aku bisikan sesuatu.”

Sooyeon mendekatkan kepalanya pada Chanyol. Matanya membulat. Binggo! Ide Chanyeol sangat fantastis!

“Keren kan?”

“Sangat keren!”

“Dengan begitu, aku bisa jalan-jalan siang ini. Mian oppa, aku butuh hiburan.” Sorak Sooyeon dalam hatinya.

Dan itulah Sooyeon, Sooyeon yang mulai berubah dengan adanya Chanyeol di sisinya. Gadis itu tdak sepenurut dulu pada Luhan. Mengganti nama kontak Chanyeol di handphonenya dengan nama yeoja. Sering mengerjakan tugas atau sekedar bermain bersama di rumahnya dengan Chanyeol. Dan kebohongan lainnya yang ia tutupi dari Luhan. Hanya dengan cara-cara itu Sooyeon bisa berhubungan dengan Chanyeol. Kalau dipikir-pikir gadis itu memang salah, tapi mau bagaimana lagi? Sooyeon tak punya banyak pilihan.

***

“Kenapa ramai sekali sih di sini?”
Xiumin mengunyah kripik kentangnya lahap, membuat Lay menoyor kepala namja buntet itu keras. Sedikit kesal mungkin?

“Kerja mu itu makan terus! Xiumin, lihat tubuhmu, seperti beruang kutub!”

“Ya! Zhang Yixing! Appo!”

“Sudahlah, kalian ini bertengkar terus. Berisik tau!” Kris menggerutu melihat kelakuan dua temannya yang selalu bertengkar itu.

Kini 6 namja itu sedang berjalan mengitari salah satu mall di Seoul. Luhan, Kris, Xiumin, Lay, dan Tao menemani Chen yang hendak menambah koleksi komiknya.

“Pokoknya kau harus mentraktir kami ramyun Chen.”

“Arra.”
Chen menanggapi seadanya omongan Xiumin. Namja itu selalu saja memikirkan makanan.

“Lu, kau tidak menjemput Sooyeon?”
Kris mengerling pada Luhan yang sedari tadi sibuk memperhatikan layar handphonenya, menanti satu pesan yang tak kunjung datang dari Sooyeon.

“Dia bilang ingin menjengukt temannya di rumah sakit.”

“Tumben, biasanya kau kan akan tetap ikut, mengekorinya kemanapun dia pergi.”

“Temannya itu sakit menular Kris, aku tidak mau tertular penyakit wanita.”

Dan Kris hanya mengangguk sambil ber’oh ria.

.

.

.

.

 

Kini ke-6 namja itu duduk di salah satu kedai ramyun yang tak jauh dari tempat Chen membeli komiknya. Dan seperti biasanya, Xiumin sudah memesan ramyun extra cup pada pelayan yang baru saja mendatangi meja mereka.

“Ckck.”
Luhan dan keempat temannya hanya menatap heran Xiumin. Sudah biasa sih melihat dia makan banyak, tapi tetap saja mereka salalu terheran-heran saat melihat Xiumin makan sesuatu, porsinya terlalu banyak.

“Lu, itu Sooyeon kan?”

Tao menunjuk ke arah jendela kedai mie ramyun. Terlihat dua orang berseragam sama sedang tertawa sambil sesekali menyantap ramyun mereka.

“Sooyeon?”
Luhan mengerling heran. Bukankah tadi Sooyeon meneleponnya, dan mengatakan bahwa ia ingin menjenguk temannya di rumah sakit? Kenapa sekarang dia sedang duduk dengan seorang namja?

“Lu, bukannya kau bilang tadi Sooyeon menjenguk temannya?”
Kris bertanya, matanya menatap Sooyeon dan Chanyeol yang sekarang bermain gunting, batu, kertas, permainan kesukaannya dengan Luhan.

Luhan mengeram, matanya memanas menahan emosi. Lay dan Tao yang melihatnya bergidik ngeri. Walaupun dia itu paling pretty boy di antara mereka, tapi kalau dia sudah marah, maka bukan tidak mungkin akan terjadi suatu bencana.

“Hei Lu, mungkin saja yeoja itu hanya mirip dengan Sooyeon. Sudahlah jangan dipikirkan.” Lay mencoba mencairkan suasana.

“Tapi itu Sooyeon Lay, lihat saja seragam sekolahnya.”
Xiumin menambahkan. Lagi-lagi Xiumin membuat suasana menjadi lebih kacau. Dasar Xiumin.

“Xiumin.”
Kris berdeham kesal. “Benar-benar tidak tau kondisi sekali si Xiumin ini.” Ujarnya dalam hati.

Dan Xiumin hanya menundukan kepalanya pasrah setelah mendapat deathglare dari ke-4 temannya.

Luhan sudah habis kesabaran. Tangannya mendial nomor telepon Sooyeon. Matanya menatap kedua orang itu, seperti tidak mau melepaskan mereka barang semenit saja.

“Yeobseyo, oppa waeyo?” Terdengar suara dari handphone Luhan.

Tao, Lay, Chen, Xiumin dan Kris hanya melongo tidak percaya saat melihat gadis itu mengangkat handphonenya. Gadis itu benar-benar Sooyeon. Bukan rahasia lagi kalau semua teman dekat Luhan itu tau bagaimana sifat Luhan pada kekasihnya. Memaksa, mengatur, dan menyuruh gadisnya ini itu sesuai keinginannya. Semua temannya tau hal itu. Dan selama ini sepengetahuan mereka Sooyeon selalu menurut dengan semua kata-kata Luhan. Tidak pernah membantah, tidak pernah berkomentar, selalu saja berkata ‘iya’ pada setiap yang dikatakan Luhan. Tapi sekarang? Sooyeon pergi dengan namja lain dan membohongi Luhan? Bagaimana itu bisa terjadi?

“Kau di mana?”

“Aku di rumah sakit oppa, tadi aku sudah mengatakannya kan?”

“Rumah sakit?”
Luhan berjalan menghampiri Sooyeon dan Chaenyeol. Semua usaha teman-temannya untuk mencegahnya hanya ditepisnya kasar-kasar. Luhan sudah terlalu tersulut emosi. Ini yang pertama kalinya Sooyeon membohonginya.

“Iya, aku di rumah sakit oppa, waeyo?” Sooyeon mulai merasa gugup.

“Apa kau pikir ini rumah sakit Choi Sooyeon?”

Binggo! Luhan berdiri tepat di hadapan Sooyeon. Mata yeoja itu membulat melihat kekasihnya yang tiba-tiba ada di hadapannya. Chanyeol? Dia hanya berdiri dan menatap Luhan datar. “Jadi ini kekasih yang selalu mengekang Sooyeon?” Chaenyeol membatin dalam hatinya.

“Oppa…”

“Ini yang kau bilang rumah sakit?”

“Oppa, dengarkan aku, bukan seperti itu, aku…”
Belum sempat Sooyeon melanjutkan kata-katanya, Luhan momotongnya dengan nada bicara yang sedikit berteriak.

“Kau mencoba membohongi ku Choi Sooyeon?!”

“Opa bukan begitu..”
Sooyeon terbata-bata, gadis itu menahan tangisnya yang sebentar lagi akan meluncur dari bola mata indahnya.

“Kau ini kekasihnya Sooyeon ya? Kenalkan aku Park Chanyeol, aku teman Sooyeon. Teman sebangku.”
Dengan senyum penuh Chanyeol menunggu jabat tangan Luhan. Terpaksa dirinya berpura-pura bersikap ramah pada namja di depannya itu. Menghormati Luhan tentunya, bagaimanapun Luhan kekasih Sooyeon.

“Kau yang mengajaknya kemari?”
Luhan mengacuhkan jabat tangan Chanyeol. Membuat namja jangkung itu tersenyum sinis dan kembali menarik tangannya.

“Tentu. Dan aku juga yang menyuruhnya berbohong pada mu, Xi Luhan.”
Mata Chanyeol menatap tajam Luhan. Dengan entengnya dia mengucapkan kata-kata itu, membuat Sooyeon membulatkan matanya. Benar-benar kacau.

 

 

BUG!

 

 

Satu pukulan berhasil mendarat dengan mulus di wajah Chanyeol. Sooyeon menghampiri Chanyeol dan mengusap pipinya, hanya sebatas khawatir. Tapi tidak dengan Luhan, pikirannya berbeda dengan Sooyeon. Dengan kasar dia menarik tangan yeoja itu.

Tao, Lay, Chen, Xiumin dan Kris menghampiri meja di mana ketiga orang itu berada. Suasana mulai memanas, beberapa pengunjung yang tadinya sedang menyantap ramyun mereka, kini beralih menatap kerumunan remaja itu.

“Lu, sudah, ini tempat umum!”
Chen mengingatkan, tapi sepertinya Luhan tak mendengarnya.

“Oppa, apa yang kau lakukan? Dia itu teman ku!!

“Jadi kau sudah mulai melawan ku?”

Sooyeon tak sanggup lagi menahan tangisnya kini, sebisa mungkin dia meronta dari genggaman Luhan, tapi semua sia-sia. Seberapa kuat sih tenaganya dibanding Luhan?

“Lu, bersikap baiklah padanya, itu Sooyeon, yeojachingumu.”
Kris mencoba melepaskan tangan Luhan, tapi emosi terlalu menyulut namja rusa itu.

“Diamlah Kris!!”
Luhan menarik paksa tangan Sooyeon, meninggalkan ke-5 temannya dan Chaenyeol.

“Hei kau!”

“Sudahlah, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka.”
Lay mencegah Chaenyeol yang baru saja bergegas untuk mengejar Luhan dan Sooyeon.

“Ku harap kau baik-baik saja Yeon.” Khawatirnya dalam hati.

***

‘Tuttt Tuttt Tuuut’
“Ku mohon angkatlah Yeon.”
Suara namja itu bergetar. Tangannya tak henti-hentinya mendial nomor telepon seorang yeoja. Namun nihil, tetap tidak ada jawaban. Luhan. Xi Luhan, namja rusa itu baru menyadari kebodohannya beberapa hari yang lalu, di saat dia memperlakukan Sooyeon dengan sangat buruk.

 

 

FLASHBACK
“Oppa lepaskan! Ini sakit!”
Sooyeon terus mencoba melepaskan genggaman tangan Luhan yang sedari tadi mencengkram erat pergelangan tangannya. Sakit, sungguh sangat sakit. Lihat saja, kini pergelangan tangannya bahkan memerah karena perbuatan kekasihnya sendiri.

“Oppa!”

Luhan membanting kasar tangan Sooyeon. Yeoja itu memegangi pergelangan tangan kirinya, matanya tak percaya saat ia melihat tangannya benar-benar merah. Luhan benar-benar marah sekarang.

“Sudah berapa kali ku katakan Choi Sooyeon?! Jangan pernah pergi dengan namja manapun kecuali aku!”

“Oppa, dia hanya teman ku, ku mohon jangan seperti ini.”

“Kau tidak mencintai ku lagi hah?”
Luhan memegang kedua pundak Sooyeon, matanya menyiratkan dua hal sekaligus, sedih dan kecewa. Satu lagi, kemarahan yang teramat sangat.

“Aku mencintai mu.”

“Lalu kenapa kau lakukan semua itu?!!”
Luhan mencengkram pundak gadis itu, dan hal itu membuat Sooyeon menggigit bibirnya, menahan sakit.

“Oppa, aku lelah…”

“Lelah?”

“Lelah dengan semua yang kau lakukan pada ku. Kau bahkan tidak memperbolehkan ku mempunyai teman namja satu pun.”

“Itu karena aku punya alasan!”

“Tapi aku hanya ingin punya teman! Aku hanya ingin bebas! Aku lelah untuk terus-menerus mematuhi kata-kata mu!!”
Sooyeon mengeluarkan semuanya, semua kata-kata yang sedari dulu ingin dia katakan pada Luhan. Sekarang dia benar-benar menyadari kebodohannya. Sudah seharusnya ia melakukan hal ini dari dulu. Benar apa yang dikatakan Chaerin dan teman-temannya yang lain. Luhan terlalu possesive padanya. Memang iya Sooyeon mencintai Luhan, tapi kalau Luhan terus bersikap seperti itu? Mana mungkin ada yeoja yang tahan padanya?

“Jadi kau tak mencintai ku?” Tanya Luhan lirih.

“Aku mencintai mu oppa. Tapi aku tidak mencintai sikap mu!”

 
PLAKK!

 
Dan sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Sooyeon. Yeoja itu tertegun dan memegang pipinya. Seakan tidak percaya Luhan melakukan semua itu padanya.

“Baiklah! Kita sudahi hubungan ini!!!”
Dan Luhan meninggalkan Sooyeon yang masih berdiri dengan tangisnya yang semakin menjadi-jadi.

 

FLASHBACK END

 

 

“Masih tidak diangkat?”
Kris menghampiri Luhan dan memberinya satu kaleng soft drink.

“Tidak.”

“Temui dia dan minta maaf.”

“Apa kau berpikir dia mau memaafkan ku Kris?”

Kris menghela nafasnya dan meneguk soft drinknya. Cukup sulit menjawab pertanyaan Luhan. Mana ada yeoja yang akan memaafkan kekasih yang sudah menamparnya dan meninggalkannya di pinggir jalan? Tapi kalau Kris berkata “tidak” itu hanya akan menyakiti Luhan.

“Tidak ada salahnya mencoba Lu.”
Kris menepuk pelan pundak namja rusa itu, mencoba memberinya sedikit semangat.

“Maafkan aku Yeon, maafkan kau karena telah menyakiti mu.”
Ujar Luhan pelan, matanya menatap hampa kaleng soft drink pemberian Kris.

***

“Yeon? Sooyeon? Gwenchana?”
“Yeol-aah? Nan gwenchana.”
Sooyeon tersenyum manis di depan Chanyeol yang kini menghampirinya yang sedari tadi duduk tertegun.

“Bohong.”

“Bohong? Aku jujur.”

“Masih belum melupakannya ya?”
Chanyeol menatap manik mata Sooyeon lurus, mencoba menelisik rasa sakit yang yeoja itu rasakan.
Sudah beberapa hari ini Sooyeon selalu termenung, mungkin dirinya masih mengingat kejadian yang sedikit ‘tragis’ itu. Tapi kini hubungannya dengan Luhan sudah berakhir kan? Disesali pun tidak ada gunanya.

“Iya. Tapi aku harap bisa segera melupakannya.”

Chanyeol tertegun, ternyata Sooyeon masih mempedulikan Luhan. Ada sedikit rasa sesak yang menjalar di dadanya. Sooyeon masih mencintai Luhan? Mungkin saja.

“Kau masih mencintainya?”
Chanyeol memantapkan hatinya. Sudah saatnya dia melakukan sesuatu, sesuatu yang akan dilakukannya setelah Sooyeon berhenti menjalin hubungan dengan kekasihnya. Dan ini adalah kesempatan yang selama ini ditunggu-tunggun olehnya.

“Entahlah.”

“Mau kah kau jadi pacar ku Yeon?”
Tanpa basa-basi dan tepat pada sasaran! Chanyeol sedikit lega mengatakan hal itu pada Sooyeon. Namja tinggi itu sudah lama menyukai Sooyeon, sejak pertama kali ia melihat yeoja itu duduk termenung di kursinya. Tapi selama ini dirinya mencoba menahan semua perasaannya, mencoba mengerti bahwa hati yeoja itu masih dipenuhi oleh satu namja, yaitu Xi Luhan. Tapi sekarang? Mereka sudah putus, sudah tak ada yang menghalanginya.

“Apa yang kau katakan Yeol-aah?”
Sooyeon membulatkan matanya, dan menyisir rambutnya ke belakang telinga dengan jarinya, mencoba menajamkan pendengarannya. Karena, mungkin saja dia salah dengar.

“Aku bilang… A.. Apakah kau mau jadi pacar ku?”

“Yeol.. Kau?”

“Ne! Aku menyukai mu Yeon! Sejak pandangan pertama, entah mengapa aku ingin selalu bersama mu. Kau sudah putus dengan Luhan, jadi kupikir kau bisa membuka hatimu untuk ku sekarang.”
Chanyeol berujar cepat. Mungkin karena efek gugup yang melandanya.

“Yeol.. aku..”
Sooyeon terlihat berpikir sejenak. Wajahnya menampilkan sebuah ekspresi yang tidak bisa dibaca Chanyeol. Membuat namja itu semakin deg-degan saja.

“Mian. Tapi aku belum benar-benar melupakannya Yeol, jadi saat ini aku belum bisa menerima mu.”
Sooyeon menatap Chanyeol. Seyum yang sedari tadi mengembang di wajah laki-laki itu menjadi sebuah kekecewaan.

“Baiklah, gwenchana.” Chaeyeol kembali terseyum. Sok kuat sekali namja itu.

“Tapi aku akan menerima hati mu Yeol. Di saat aku benar-benar melupakannya.”
Senyum Sooyeon mengembang. Tidak untuk saat ini, tapi iya untuk saat mendatang. Kenapa tidak? Dari pada tidak sama sekali.

“Jinjja?”

“Iya.”

“Gomawo Yeon-aah!! Aku akan menunggu.”
Ujar Chanyeol berapi-api. Namja itu tersenyum lebar. Mungkin kini dia harus menunggu, tapi tak apalah, Sooyeon sudah berjanji padanya.

Dan Sooyeon ikut tertawa dengan Chanyeol. Mungkin seperti itu lebih baik, dari pada dirinya terus-terusan berpacaran dengan Luhan dan hanya merasa terpenjara? Lagi pula tak bisa dipungkiri hatinya menyimpan sebuah rasa pada Chanyeol. Rasa yang masih sulit untuk dideteksi. Dan selama ini Sooyeon nyaman berada di dekat Chaenyeol. Namja itu selalu menghiburnya, selalu membuatnya tertawa, dan tak pernah membuatnya tertekan seperti Luhan. Jadi apa salahnya?

***

“Yeon, chakaman!”

Sooyeon menoleh ke sumber suara, dan menemukan Luhan berada di belakangnya. Sooyeon kaget, dan sedikit takut, yeoja itu takut Luhan akan melakukan hal yang ia lakukan beberapa hari yang lalu. Sooyeon tak ingin ditampar lagi.

“Yeon, mian, jaongmal mianhe. Aku mengaku salah padamu. Maafkan aku.”
Luhan memohon, matanya berbicara bahwa ia benar-benar meminta maaf pada Sooyeon. Namja rusa itu menyadari kesalahannya selama ini. Kesalahan yang seharusnya tak pernah ia lakukan.

“Untuk apa oppa?”
Tanya Sooyeon langsung. Yeoja itu mencoba tersenyum dan menghilangkan rasa gugup dan takutnya saat ini. Setidaknya dia harus berbicara baik-baik dengan Luhan, walaupun kini mereka bukan sepasang kekasih lagi.

“Untuk semuanya. Maafkan aku karena aku terlalu egois, maafkan aku karena aku terlalu jahat pada mu.”

“Kau tidak perlu minta maaf, aku tidak marah oppa.”

“Tapi aku salah, aku harus minta maaf. Mian Yeon-aah. Ku harap kita bisa kembali seperti dulu lagi. Aku sungguh menyesal.”

Sooyeon membuang tatapanya ke arah lain. Ini terlalu sulit untuknya. Kembali seperti awal? Bukankah terlalu menyakitkan? Dia baru saja benar-benar berniat melupakan Luhan, tapi namja itu tiba-tiba memohon padanya. Itu menggoyahkan keteguhannya. Dia tak pernah bisa melihat Luhan seperti itu.

Sooyeon menarik nafasnya panjang, bagaimanapun dia harus mengambil keputusan sekarang.

“Mian. Ku harap kita bisa menjadi teman oppa. Tapi untuk kembali seperti dulu… Aku tidak bisa.”

Bagaikan disambar petir di siang bolong, hati Luhan begitu sesak. Dia menerima penolakan dari yeoja yang dicintanya. Itu benar-benar menyakitkan.

“Wae?”

“Aku hanya ingin bebas dan tidak terkekang lagi. Aku mencintai mu oppa, tapi dulu. Ku harap kau bisa berhenti mencintai ku dan carilah gadis lain.”
Sooyeon tersenyum pada Luhan, senyum yang dipaksakan. Bagaimanapun hatinya juga ikut hancur. Tapi dia lelah untuk semua itu, lelah untuk mempunyai kekasih yang selalu mengekangnya, yang tidak pernah mempercayainya.

“Sooyeon…”
Luhan tak mampu mengeluarkan kata-katanya. Mungkin saat ini adalah keterpurukan terbesar seorang Xi Luhan.

“Mian oppa, aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik.”
Dan Sooyeon pergi meninggalkan Luhan yang maasih terdiam.

Satu menit, dua menit, waktu terus berjalan, tapi Luhan tak kunjung bergerak dari tempatnya, dia hanya menunduk lesu. Tatapannya datar. Punggung Sooyeon sudah tak terlihat lagi. Dia benar-benar sendiri. Luhan menyesali semuanya, menyesali keegoisannya yang terlampau batas selama ini. Niatnya untuk menjaga Sooyeon, hanya berakhir hampa. Gadis itu malah pergi dan meninggalkannya.

Satu pelajaran yang diambil Luhan.

“Mencintai seseorang adalah bagaimana kita mempercayainya. Bukan hanya menjaganya, bukan hanya melindunginya, tapi juga memberi kabahagiaan.”

*Over Possesive*

The End

**

THANKS FOR READING :D WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT :D

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL :D JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY Han Soo Kyo , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please seehttps://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: ,

4 thoughts on “[FREELANCE] EXOtic’s Fiction “Over Possesive”

  1. ade June 14, 2013 at 3:02 PM Reply

    egois bgt luhan nya…
    tp mau digituin sma luhan…Hheee
    sequel donk.. 🙂

  2. Jung Chan Ra June 29, 2013 at 1:46 AM Reply

    Wah daebakk… 😀
    gmn dgn chanyeol? Aghh.. Ku kira yeon bakal kembali ama luhan, ampe nangis aku bacanya…
    Keep writing

  3. G Park July 4, 2013 at 2:43 PM Reply

    omo..daebakkkkkk abisssssss…..
    kashan luhan… 😦
    makanya bang jngn trlalu ngkang sooyeon….. ujng2’y jadi pnyesalan kan…..
    author…. dtnggu ff slnjtnya yg lbh seru……

  4. celly November 30, 2013 at 6:34 PM Reply

    Wawwwwwww nyesek bgttttttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: