EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 19

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Just Like You”

 

*Title : Just Like You

*Part : 19

*Main Cast :

  • Kris Wu
  • Kim Hyeon
  • Kim Sun Hye

*Length :  Series

*Genre : Romance

*Rating : PG 13

*P.S :  Ini adalah karya original by YuanFan. Dilarang keras untuk mem-plagiat dan mencopas tanpa seijin author

leave comment please

*Sinopsis : Kris dan Hyeon sama-sama mengetahui tentang latarbelakang keduanya menikah, dan mulai menyadari perasaan satu sama lain. Namu, dilain sisi Hyeon memutuskan untuk bercerai dari Kris. Dia merasa telah berhutang pada Kris.

*Disclaim :

SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

Kris POV

Kurasa kesehatan mental Sun Hye perlu diperiksakan. Semakin hari, dia semakin gila. Tak jauh beda dengan ibunya. Aku membiarkannya berbuat semaunya termasuk membuat lebih cepat tanggal pernikahan kami. Terserah apa yang akan dia perbuat.

“Suho-ya, jemput aku dihalte biasanya aku menunggumu,” aku menelepon Suho. Aku sudah lelah dengan semua ini.

Sejak aku tinggal dirumah Sun Hye, aku selalu berjalan kaki agar Suho atau Xiumin menjemput tanpa ketahuan olehnya. Dia sangat cerewet bila aku keluar tanpa dia ikut.

15 menit aku menunggu Suho, sebuah mobil Benz hitam berhenti didepanku. Kacanya terbuka secara berlahan. Suho menampakan senyumnya. Aku mendengus, kemudian memasang hoodie-ku dan segera masuk kedalamnya.

“Siswa dilarang membawa mobil,” gumamku sambil tersenyum sangar pada Suho, dia hanya mengangkat sebelah alisnya.

“Kita pergi kemana?” tanyanya.

“Entahlah, memutar saja. Kau mau?” aku menawarinya dia hanya mengangguk seraya menginjak gas secara berlahan.

“Kau stres?” dia melirikku saat mobil melaju sedang. Aku hanya menyeringai membalas tatapannya.

“Setelah ujian selesai, aku akan melepas masa lajangku,” gumamku.

Dengan kurang ajarnya Suho langsung mengerem mobilnya yang kecepatannya sudah melaju hampir maksimal. Hal itu membuat pengandara dibelakang kami terdengar mengerem mendadak dan mengumpat kami habis-habisan. Aku melirik Suho, dia gila.

“Yah! Yang benar saja?! Kau benar-benar mau menikah dengan Sun Hye, lalu melupakan Hyeon? Kau gila, Kris!” Suara Suho meninggi melebihi 5 oktaf.

“Aku tak—“

“Jangan katakan kau tak punya pilihan lain. Hyeon akan sangat menderita,”

“Ini maunya, dia yang melepasku,”

“Yah! Jangan egois kau tahu sendiri apa yang membuatnya melepasmu?!” baru kali ini dia membantahku habis-habisan.

“Sudahlah, jangan bahas ini sekarang. Lanjutkan jalannya,” kataku.

Suho menghela nafas kemudian melajukan mobilnya lagi.

Lenganku menopang wajahku dikaca mobil, sambil memandangi berbagi pertokoan yang kami lewati. Tak ada yang menarik.

Kris-ah… kau bodoh. Melepaskan yeoja yang paling kau cintai dan kau pertahankan mati-matian. Hyeon-ah, mianhe… aku sangat menyayangimu tapi bagaimana aku melangkah kalau kau saja tak membiarkanku melangkah.

Luhan POV

Ponsel yang digenggam Hyeon jatuh, dengan suara yang masih terdengar. Airmatanya tiba-tiba deras mengalir, dia menolehku dengan tatapan yang sengsara. Wajahnya seperti orang yang dibakar hidup-hidup.

“Hyeon-ah.. wae-yo??” aku berlari dan mengguncang-guncangkan bahunya. Dia hanya diam menatapku tanpa berkata apapun dan tatapannya sangat kosong.

“Hyeon…” aku terus memanggilnya, dia tetap seperti orang yang terhipnotis. Aku segera mengambil ponsel yang masih terdengar orang yang berbicara. Chanyeol. Nama itu tertera dilayar ponsel.

“Hello?” ucapku.

Beberapa saat kemudian, aku mencerna apa yang dikatakan suara dari dalam telepon. Sesekali memandang Hyeon yang masih seperti orang tak sadarkan diri. Aku mematikan telepon itu, dan menarik lengan Hyeon.

“Bukan saatnya untuk menangis dan bukan saatnya kau diam seperti ini! Yah, ayo kita pergi,” Aku berteriak agar Hyeon sadar dan melihatku.

“Ne~… aku tahu. Chanyeol-ah…” pekiknya pelan.

“Dia baru saja meneleponku… baru saja…”

“Jangan menangis, kita akan pergi sekarang.” Aku menariknya.

Hyeon diam untuk beberapa saat. Kemudian dia seperti mendapatkan kesadarannya dan memandangku.

“Ani, aku yang akan kembali ke Jepang. Kau sedang ujian,”

“Kau gila, pada saat temanmu, saudaramu, bagian dari hidupmu sekarat… apakah aku bisa ikut ujian dengan tenang?!!”

“Dia akan baik-baik saja, aku percaya… Chanyeol baik-baik saja. Ku mohon. Tinggalah disini, Chanyeol akan sangat merasa bersalah bila kau ikut dan gagal ujian. Jaebal, Oppa…” Hyeon merengek meminta padaku tinggal.

Chanyeol kecelakaan, dia koma dan katanya gegar otak parah. Aku tak bisa tinggal diam. Aku ingin melihatnya. Hyeon terus memohon agar aku tetap tinggal. Mendengar kata-kata Hyeon tadi aku sedikit mengendurkan niatku untuk nekat.

“Luhan Oppa, kurang 2 hari lagi… aku akan menunggumu di Jepang.” Hyeon memegang tanganku denga wajah penuh permohonan.

“Ne~, kabarkan apa yang terjadi disana…” aku tak sanggup lagi kemudian mengangguk dengan setengah hati.

Hyeon POV

Aku langsung berangkat ke Jepang. Kabar ini sungguh hampir membuat jantungku berhenti mendadak. Pikiranku melayang kemana-mana. Aku segera berlari ke bandara setelah memesan tiket pesawat. Aku ingin segera sampai di Jepang. Saat ini aku berharap doraemon itu benar-benar ada. Ciiit!!!! Suara rem mobil yang ditekan mendadak saat aku menyebrang disebuah jalan dekat bandara. Aku diam memandang mobil Benz hitam itu, membungkuk lalu bergegas mengejar jam keberangkatan.

“Yah!” teriak seseorang yang keluar dari Benz itu, aku tak menolehnya lagi. urusannya bisa panjang bila aku kena marah. Chanyeol, ya pikiranku sekarang hanya tertuju pada Chanyeol. Aku merasakan tarikan lenganku dengan kasar.

“Mau kabur kemana kau?!”

Aku tertegun dengan orang yang baru saja menarikku dengan sangat tidak sopan.

“Yah! Kenapa kau disini?!!” teriakku pada Kris, dibelakangnya tampak Suho berjalan kearah kami.

“Mau kemana kau?!” dia memelototiku.

“Yah! Lepaskan. Ini sangat penting, aku akan ketinggalan pesawat!” teriakku, aku ingin meraung berkata ‘ada orang MESUM’ agar dia dipukuli orang sebandara.

“Aku ikut,” katanya.

“Kau gila! Pemberangkatannya sekarang! jangan gila!” pemikiran dia kemana sih?! Dia pikir ada tiket pesawat sangat mendadak seperti ini.

“Mau pergi kemana kau?” dia memaksaku dan terus memegang lenganku dengan kasar.

“Aku akan kembali ke Jepang,”

“Yah! Suho-ya…” Kris berteriak memanggil Suho seakan Suho pesuruhnya. Dan gelinya Suho menurut saja.

“Cepat lihat pemberangkatan selanjutnya ke Jepang. Kita ambil 2 tiket apapun kelasnya,”

“Kris-ah, kita besok—“

“Aku tahu, nanti setelah urusan ini selesai. Kita pulang,” Kris menyela Suho yang mengagguk-angguk kemudian pergi dari hadapan kami.

“Jangan kira, kali ini kau akan kulepaskan,” ancam Kris.

Dia sangat menyebalkan! Aku menepiskan tangannya yang mulai mengendur.

“Terserah kau, sekarang yang terpenting aku akan berangkat!” teriakku kemudian berlari kabur.

“YAH!!!” teriaknya sebal. Aku menjulurkan lidahku padanya kemudian masuk ke pintu pemberangkatan.

Rasanya pesawat ini bergerak lambat, rasanya aku ingin terjun dan berenang menuju Jepang sendiri. Pikiranku kemana-mana, Chanyeol. Bagaimana keadaannya? Kenapa hal ini bisa terjadi? Bagaimana??

“Permisi, bisa kita bertukar tempat duduk?” seseorang bertanya pada sebelah. Aku tak ingin menoleh, aku sudah tau siapa dia.

“Aku tak mau,” jawab orang disebelahku. Bagus teruskanlah, jangan biar makhluk itu menggesermu.

“Aku duduk dikelas bisnis, aku tak tahan disana. Terlalu empuk,” suara orang itu tampak sombong.

“Jinjja? Baiklah.” Dasar terayu juga.

“Bersama satu temanmu lagi, bisa? Temanku ingin duduk disini,” katanya.

Tak lama kemudian dua orang disampingku beranjak pergi dengan siulan riang gembira. Memuakkan. Aku tetap tak mau menolehnya.

“Yah! Lihat aku!” dia memaksaku melihat kearahnya.

“Hentikan Kris!” aku menepis tangannya marah, aku tak tahu bagaimana dia bisa mendapatkan tiket pesawat dengan waktu singkat. Suho yang duduk disampingnya menghindari memandang kami berdua. Kris mendesis gemas padaku sambil melototkan matanya.

“Yah, ada apa kau kembali ke Jepang?” tanya Kris. Dia selalu ingin ikut campur urusan orang lain.

“Disana rumahku, kenapa aku tak boleh kembali?” jawabku sekenanya. Aku mendengar Kris mendengus sebal. Aku mendengus puas melihatnya sebal. Suho tampak tak bersuara. Dia seolah-olah orang asing yang tak mengenal kami berdua.

“Yah…” aku memandang Kris,

“Bukankah kalian besok ujian, huh?! Kenapa kalian ikut denganku?!” Aku membentak Kris juga Suho, Suho akhirnya memandangku dengan tatapan kikuk. Dia mengangkat kedua bahunya, aku langsung menatap Kris. Dia memalingkan wajahnya menghindari tatapanku.

“Kau tak lihat temanmu, huh?!” marahku pada Kris.

“Suho Oppa! Kenapa kau mau ikut dengannya?!”

“It—itu…” belum berkata-kata Kris menoleh memandang Suho, kurasa tak sekedar memandang tapi juga memelototinya sampai Suho tak bicara lagi.

“Kau tak perlu memikirkan kami. Yang kutanya, kenapa kau kembali ke Jepang dengan terburu-buru?”

“Kau juga tak perlu memikirkanku, Kris.” Kataku. Dia mendesah kesal padaku.

“Hyeon-ah.. apakah ada sesuatu hal?” Suho bertanya-tanya hati-hati padaku. Aku memandangnya seraya tersenyum singkat.

“Yah! Kau ini kenapa Hyeon-ah! Kalau Suho yang bertanya kau sangat ramah, tapi kenapa ketika aku bertanya kau membentakku?!” tuntut Kris. Aku memerengutkan dahiku.

“Kau itu selalu ingin ikut campur masalah orang, Suho Oppa hanya korbanmu. Kau yang sangat menyebalkan,” kataku kemudian memalingkan pandanganku lagi.

Akhirnya kami bertiga saling berdiam diri selama perjalanan. Sesekali Kris mengatakan hal yang tidak perlu sehingga membuatku dan Suho memandangnya aneh.

“Aku lapar….” kata-kata tidak penting ini keluar dari mulut Kris. Aku pura-pura memejamkan mataku. Dia sangat menyebalkan.

Tak lama setelah itu, pesawat mulai landing. Kris terus mengikutiku saat aku keluar bandara. Aku tak akan melarangnya lagi, percuma saja dia akan membantahku.

“Hyeon-ah, kita akan kemana?” tanya Suho dia berjalan mengimbangiku.

Aku berhenti sejenak. Tidak baik juga tak memberi tahu hal yang sebenarnya. Lagipula Chanyeol juga teman dan saudara mereka.

Aku memandang Suho dan Kris secara bergantian. Tatapan Kris berubah menjadi teduh. Aku tak tahu aku harus memulai dari mana.

“Ini masalah Chanyeol,” ucapku. Aku tak mendengar mereka menanggapinya, mereka masih menunggu lanjutannya.

“Aku akan menikah dengannya,” lanjutku.

“MWO???!” pekik mereka berdua. Aku memandang mereka dengan wajah datar.

“Tentu saja tidak.” aku mendengus, Suho tampak bernafas lega. Dan Kris memandangku tampak sangat kesal.

“Dia kecelakaan. Aku tak tahu kondisinya, tapi aku yakin dia baik-baik saja,” aku menahan airmataku keluar.

“Yah! Chanyeol kecelakaan?!” pekik Kris panik. Aku mengangguk.

“Harusnya kau mengatakannya lebih awal,” sekarang dia mulai meninggi nadanya.

“Ak—“

“Tak ada pembicaraan lagi, kita pergi sekarang,” Kris langsung menyeretku pergi dan Suho mengikuti dibelakang kami. Dia langsung memanggil Taksi.

“Kemana?” tanya sopir taksi dengan bahasa Jepang.

“Katanya ‘kemana’,” aku menerjemahkannya untuk mereka berdua.

Mereka berdua memandangku bingung.

“Memangnya kemana?” tanya mereka berdua.

“Mo..Molla…” ucapku malu.

“-_______-“”

Kris POV

Hyeon langsung berlari tanpa peduli denganku yang sedari tadi mengikutinya. Dia menjadi panik saat perawat mengatakan bahwa pasien bernama Park Chanyeol, koma dan tak sadarkan diri. Dia mengalami luka parah dan nyaris sekarat. Sampai didepan ruang ICU, Hyeon menjadi lemas dan hampir ambruk. Dokter jaga disana tidak memperbolehkan dia masuk. Dia hanya pasrah dan dengan airmata bercucuran dia melihat Chanyeol dari dinding kaca.

“Hyeon-ah…” aku mendengar Suho menggumam rendah, tampak dia sangat kasihan pada Hyeon. Aku mendekati Hyeon dan membelai kepalanya lembut. dia berbalik dan kemudian menangis didadaku. Kupeluk dia.

Kami bertiga tak bersuara sampai hampir dua jam. Sampai Hyeon tertidur dipangkuanku karena kelelahan menangis. Dia tampak menjadi Hyeon yang kukenal dulu.

“Kau masih menyukainya,” celetuk Suho melirikku yang membelai rambutnya yang menutupi wajahnya. Aku hanya mendengus.

“Kris… pilihlah apa yang seharusnya kau pertahankan,”

“Aku sudah mencoba, tapi yang kupertahankan tak mau kupertahankan dia terus berlari. Dia akan lelah ketika aku terus mengejarnya, aku takut dia terjatuh dan terluka bila dia terus berlari,”kupandangi wajah Hyeon yang terlelap, sangat jelek. Tapi aku menyukainya.

“Saat dia lelah itu, harusnya kau menangkapnya dan jangan biarkan dia pergi lagi,” Suho tersenyum padaku kemudian memandang Hyeon yang terlelap.

Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.

“Dia sangat keras kepala,” aku menjitak kepala Hyeon pelan.

“Aku sama sekali tak tahu kemana jalan pikirannya,”

Hyeon bergerak dipangkuanku, dia mengganti posisi berbaringnya sehingga dia benar-benar menghadapku. Aku memandangnya lama, aku mendengar Suho mendengus geli. Tak lama setelah itu, Suho ikut terlelap dengan bersandar didinding. Aku banyak merepotkannya, dia temanku yang sangat setia. Pandanganku kembali pada Hyeon. Kudekatkan wajahku pada wajahnya, sampai aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang pelan.

“Chanyeol-ah…” aku mendengarnya mengiggau.

“jangan pergi… saranghe..”

Aku menegakan kepalaku lagi. Ada yang berdetak tak senang mendengar hal itu, dalam hatiku, berontak tak keruan.

Beberapa jam kemudian Hyeon terjaga dari tidurnya. Dia memandangku lama, tapi matanya tampak kosong. Aku membalas tatapannya, walaupun aku tau dia tak menatap mataku sepenuhnya.

“Apakah kita boleh menemui Chanyeol..?” ucapnya tetap dengan tatapan kosong. Aku mengangguk. Tepat sejam yang lalu, dokter memanggil kami untuk menemui Chanyeol dan Suho yang mendahuluinya.

“Jinjja?!” Hyeon langsung bangkit dan kini benar-benar menatapku. Aku mengangguk lagi.

“Suho yang masih berada didalam. Dokter mengatakan kondisinya mulai menjauhi kritis,”

Tanpa mengatakan apapun lagi, ketika melihat Suho keluar ruang ICU, Hyeon melompat dan menerobosnya. Suho sedikit oleng karena tubuhnya sedikit tertabrak  Hyeon.

“ dia agak sedikit sangat bersemangat,” gumam Suho memandangku dengan tangan menunjuk kedalam. Aku menimpalinya dengan senyum tipis.

“Yah, Kris.,” Suho duduk disebelahku. Wajahnya berubah sangat serius.

“Kau mau menanyakan apa lagi?” tanyaku bosan.

“Masalah Chanyeol,”

Aku menoleh ke arah Suho yang tampak memikirkan sesuatu.

“Ada apa dengannya?”

“pendarahan di otak kecilnya sangat kritis, dia memang sadar sekarang. Tapi, keretakan sumsum tulang belakangnya juga sangat serius. Dia lumpuh permanen,”

Aku membelalakan mataku, tak percaya dengan apa yang kudengar. Anak periang itu, anak sesabar itu dan anak penyayang itu lumpuh permanen??! Aku segera berlari menyusul Hyeon masuk ruang ICU, dan yang kulihat disana adalah pemandangan yang sangat menyedihkan. Hyeon yang berurai airmata itu memeluk Chanyeol erat.

“Aku akan baik-baik saja Hyeon-ah…”  Chanyeol tampak menenangkan Hyeon.

“Jangan katakan kau baik-baik saja.. berhentilah menghiburku,” Suara Hyeon tampak serak, kedua lengannya menggapai Chanyeol. Berlahan aku mendekati mereka.

Awalnya kusentuh lembut kepala Hyeon.

“Kris-hyung…” Chanyeol memandangku. Hyeon mendongak kepadaku dan mengusap airmatanya.

“Kau juga ada disini. Aku sangat senang…”

“Lama kita tak bertemu,” ucapku, aku tak mau menanyakan keadaan yang jelas-jelas kini nyata kulihat.

“Yah, Hyeon-ah. Aku ingin bicara berdua dengan Kris Hyung. Bisakah kau keluar?”

Hyeon POV

Aku keluar dari kamar rawat Chanyeol saat dia memintaku untuk meninggalkan berdua dengan Kris. Aku melihat Suho yang duduk di kursi tunggu kemudian  menegakan badan saat melihatku. Aku melirik jam dinding yang tak jauh dari kami. Hampir menjelang pagi.

“Kalian tidak  kembali ke Korea? Kalian harus ujian ‘kan?” tanyaku seraya duduk disebelah Suho. Suho hanya tersenyum kecil, dan menggedikan badannya.

“Kris itu memang sangat merepotkan,” kataku sebal.

“Aniya~, kurasa hanya satu matapelajaran kami bisa ikut ujian susulan. Kau tahu, aku sudah lama sekali tak melihat Kris secerah ini?”

Aku memandang Suho agak bingung.

“Kau benar-benar tak ada perasaan dengannya?” tanyanya.

Aku tak tahu harus menjawab apa, tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Semakin Kris kulupakan semakin dia lekat dalam hatiku. Aku memilih diam dan hanya tersenyum untuk mengganti jawabanku.

“Dia masih menyayangimu, sangat,” Suho menatap mataku dengan pandangan kelabu.

“Tapi semuanya berubah dan harus dirubah. Kau tahu, aku tak bisa selamanya disampingnya.”

“Kau mulai menyukai namja lain?” tanya Suho. Aku memandangnya, pertanyaannya atas inisiatifnya sendiri bukan karena perintah Kris.

“Kalau menurutmu?”

“Luhan tidak buruk,” dia mendengus geli, aku tersenyum tipis.

“Luhan sepertinya berubah menjadi namja yang sangat dewasa dari yang kukira. Aku tak menyangka dia akan ikut denganmu, kurasa dia suka padamu. Sejak dulu, tapi perasaannya dibatasi karena kau adalah istri Kris,”

“Andwe. Dia kakak bagiku, Suho Oppa. Sama sepertimu,”

“Kalau Chanyeol? Bukankah dia dulu kekasihmu?”

Aku kembali memandang Suho, secara tidak langsung dia memojokanku. Setiap orang selalu bertanya dengan pertanyaan yang sama.

“Perasaan padaku tetap,” aku mengakuinya dan men-skip bagian ‘aku juga masih menyayangi Kris’.

“Jadi itu perasaanmu?” suara Kris menimpali. Aku menoleh kesampingku, dia sudah berdiri disampingku. Aku sedikit terkejut, kemudian aku mengangguk.

“Kurasa aku sudah tahu. Perasaanmu pada Chanyeol tak bisa hilang, dia yang pertama, lebih dulu daripada aku. Aku merebut dirimu darinya, mungkin saatnya aku mengembalikanmu padanya,”

Aku mengernyitkan dahiku, apa yang dia katakan? Aku tak mengerti maksudnya. Dia kemudian berjalan melewatiku menyerahkan ponselnya pada Suho.

“Cari tiket pesawat hari ini, kita kembali ke Korea hari ini,”

Suho tampak kikuk menerima ponsel itu, tapi dia tetap melakukan apa yang diminta oleh Kris.

“Apa maksudmu?” tanyaku tak lebih pada Kris seorang. Dia melirikku, lirikan sinis.

“Aku akan menikah seminggu lagi, kau orang pertama yang kuundang. Datanglah,” Kris tak menjawab pertanyaanku.

“Chukkae-yo~,” aku sedikit menelan ludahku. Aku harus benar-benar melepaskan Kris sekarang. Dadaku berdenyut sakit, tapi aku harus mulai merasakannya dan membiarkannya menjalar. Nanti akan terbiasa dengan rasa sakit ini.

“Kris…” gumam Suho.

“Wae? Kau dapat tiketnya?”

Suho mengangguk.

“Kajja..” katanya kemudian dia meninggalkanku tanpa menoleh lagi. Suho masih berdiri melihatku.

“Pergilah, kalian nanti terlambat ujian,” kataku.

“Aku pikir semuanya akan berjalan baik. Saat kau tak sanggup menghadapinya, aku akan membantuku. Kau sudah seperti adikku sendiri,” dia menghampiriku sambil memelukku, aku ingin meneteskan airmata namun kutahan.

“Gomawo, Oppa. Hwaitting!” aku memberinya semangat. Dia mengangguk lalu mengikuti jejak Kris, pergi meninggalkanku.

“Sial aku tak bisa menahan airmataku,” umpatku saat tetesan-tetesan itu luruh dari mataku.

Kris POV

“Chanyeol memohon padaku untuk meninggalkan Hyeon,” gumamku saat aku dan Suho sudah duduk di seat pesawat. Aku melihat Suho menoleh kearahku.

“Dia ingin melamar Hyeon,” aku mendengus geli. Anak sekecil itu berpikiran untuk melamar.

“Kau kasihan padanya karena keadaannya?” tanya Suho, aku benar-benar melihatnya sekarang, aku menggeleng.

“Bukan. Sudah seharusnya aku mengembalikan Hyeon yang dulu milik Chanyeol.” Kataku.

“Dia tertabrak mobil saat dia menyebrang jalan menuju toko perhiasaan. Demi cincin untuk melamar Hyeon.”

“Jinjja?”

“Awalnya aku tak percaya, tapi cerita itu bukan kudapat dari Chanyeol sendiri. Tapi suster yang merawatnya. Kurasa aku harus melepaskan Hyeon, dia sudah berada pada orang yang tepat. Aku akan menerima kenyataan mulai dari sekarang,”

Aku merasakan usapan halus disudut mataku. Suho tersenyum sambil menyerahkan selembar saputangan padaku.

“Kau sangat menyukai Hyeon, Kris.”

“Dia nyawa bagiku. Dia nyawaku, kalau kau tahu itu…”

**

            Aku terlambat 30 menit, tapi berhasil menyelesaikan ujian lebih dulu dibanding teman-temanku. Aku tak peduli dengan jawabanku, bagi yang terpenting segera keluar dari ruang ujian dan berbaring dibangku halaman belakang sekolah.

Kris hyung, apakah kau masih mencintai Hyeon?” tanya Chanyeol beberapa jam yang lalu, masih teringat dalam kepalaku ekspresi wajah anak itu.

“Kalau menurutmu?”

            “Kalau kau masih menyukainya, apakah kau mau lari dari pernikahanmu dan membawa Hyeon pergi?”

Aku terdiam sesaat. Hal itu bisa kulakukan, sangat bisa, asal Hyeon tidak merajamku hidup-hidup.

“Aku ingin melamarnya,”

            Deg! Aku memandang Chanyeol dengan tatapan serius. Dia menujukan sebuah cincin yang kotaknya sedikit cuil. Dia tersenyum padaku.

            “Bolehkah?” tanyanya lagi.

            “Hakmu. Itu hakmu Chanyeol-ah, kau dari awal yang memilikinya,” kataku berat.

Tiba-tiba kepalaku mulai pusing, semuanya berputar saat pikiranku kembali. Aku mencoba mendudukan tubuhku, rasanya semuanya bergoyang seperti ada gempa. Aku melihat Xiumin dan Suho berjalan kearahku, mereka tampak miring.

“Kris…” suara mereka menggema ditelingaku. Kepalaku sangat sakit. Aku tak bisa fokus dan semuanya berubah menjadi gelap.

Chanyeol POV

“Hyeon-ah…”

Hyeon yang mengupaskan apel untukku menoleh. Dia mengangkat kedua alisnya, aku tak tahu harus mulai mengatakannya darimana.

“Wae?” tanyanya. Aku tersenyum, kemudian kubelai pipinya lembut.

“Aku akan banyak merepotkanmu nanti, aku…” kupandang kedua kakiku yang kini tak bisa digerakan lagi. Aku ingin menangis, tapi itu akan semakin membuat Hyeon khawatir.

“Kau tak pernah merepotkanku,” Hyeon meletakan pisau dan apelnya kemudian menggenggam tangan erat.

“Aku akan menjadi orang yang lebih manja dari ini,” kataku lagi.

“Kau boleh bermanja-manja kapanpun kau mau, Chanyeol-ah,”

Aku tersenyum, aku senang dia mengatakannya. Kutarik kepalanya lembut dan memeluknya didadaku.

“Hyeon-ah… apa kau menerimaku yang cacat ini?” aku harus memulainya.

“huh? Apa maksudmu?” dia menegakan badannya dan menatapku tajam.

“Kau normal atau dalam keadaan seperti ini, aku selalu menerimamu. Kau sudah bagian dari hidupku.” Matanya merah dan dipelupuknya ada air menggenang.

“Jangan menangis,” aku menahan airmatanya dengan mengusapkan jariku sebelum jatuh.

“Aku tak menangis. Aku benci kau menanyakan hal yang sama sekali tak perlu!”

“Hyeon-ah… sekarang, bagimu siapa Kris Hyung?”

Wajah Hyeon berubah, aku tahu dia paling tidak suka dengan topik pembahasan ini. Aku tahu dalam hatinya masih ada luka. Dia diam tak menjawabku. Aku kembali menariknya dalam pelukanku.

“Aku tak peduli seberapa besar cintamu padanya, tapi masih ada kan cinta untukku?”

“Kau menanyakan hal yang tidak perlu,” gumamnya kesal, aku tersenyum geli mendengar nadanya.

“Maukah kau menjadi pendampingku seumur hidupku nanti?”

Aku merasakan tubuh Hyeon membeku, berlahan dia lepaskan pelukanku dan memandangku dengan mata setengah bertanya-tanya.

“Aku memang ca—“

“Aku tak mempermasalahkan itu,” potongnya.

“Aku sama sekali tak keberatan dengan keadaan apapun. Itu hanya masalah fisik. Walaupun aku tak mengatakan, kau tahu apa yang ada dalam hatiku dan kurasakan. Aku yakin, kau orang yang lebih mengerti aku dari siapapun Chanyeol-ah,”

“Aku tahu, kau belum bisa melupakan Kris hyung. Tapi dengan segenap hati aku menerima separuh hatimu, aku tak peduli. Aku hanya ingin kau tersenyum lagi,”

Aku melihat airmata Hyeon kembali luruh. Akhir-akhir ini dia banyak mengeluarkan airmata, aku tak akan membuatnya menangis lagi. Aku mengusapnya lagi.

“Aku berniat melamarmu,”

Mata Hyeon terbelalak menatapku. Aku mengeluarkan kotak yang kupertahankan saat onggok besi itu menghempaskanku. Sedikit tergores dan terkena noda darah, tapi apa yang berada didalamnya masih utuh bersih. Cincin.

Will you marry me?” tanyaku.

Hyeon menutup mulutnya dengan kedua tangannya kemudian aku meraih tangannya dan memasukan cincin itu di jari manisnya. Ukurannya pas. Aku membelinya dengan mengukur ukuran jari kelingkingku. Mitos mengatakan bila ukuran kelingking pria sama dengan jari manis kekasihnya maka mereka berjodoh. Hyeon memelukku sambil menangis.

“Harusnya ini memang yang kulakukan,” gumamku.

“Apa maksudmu, Chanyeol-ah?”

“Harusnya ini memang yang kulakukan, melamar dan memakaikan cincin dikelingkingmu, kemudian menciummu. Tapi…”

Hyeon menegakan badannya. Aku tak sanggup menatap matanya.

“Semua itu ingin kulakukan… aku benar-benar ingin menikah denganmu,” aku tak ingin menangis didepan Hyeon. Aku membaringkan kepalaku dan memunggunginya.

“Bukankah kau sudah melakukannya?” Hyeon menyentuh bahuku lembut.

“Ya, tapi tak seperti keinginanku,”

“Aku belum menjawabnya. Kau tahu aku akan menjawab “I will””

“Aku juga ingin mendengar itu, tapi tidak seperti yang kuinginkan,”

“Lalu apa yang kau inginkan?! Pandang aku Chanyeol-ah!!” dia membalikan badanku kasar, matanya merah dan tetesan airmatanya luruh. Aku tak sanggup melihatnya.

“Aku juga ingin mendengarmu menjawab ‘iya’, kemudian aku mengangkatmu dan menciumu. Kita menikah lalu membina keluarga dengan anak-anak kita. Tapi dalam keadaan aku normal, tidak cacat seperti ini!!” Mataku rasanya juga panas dan berlahan panas itu berubah menjadi seperti embun dingin.

“Aku tak peduli dengan keadaanmu! Aku tak peduli!! Apa rasa cintamu diukur dari fisik?! Aku sudah bilang aku akan menerimamu!! Aku tak peduli!” teriaknya padaku.

“Kau akan sangat kerepotan, aku akan sering membuatmu menangis nanti,”

“Kau sok tahu!! Chanyeol-ah sebenarnya apa maumu?!!” Hyeon mengguncangkan bahuku dan kemudian aku mendudukan tubuhku dan menariknya dalam pelukanku, Hyeon terus berontak.

“Aku menyayangimu, aku mencintaimu, kau adalah hidupku. Kau tahu, betapa aku sangat ingin disampingmu selamanya,” aku mencium puncak kepalanya dan Hyeon berhenti berontak dan memelukku. Aku mendengar dia terguguk.

“Aku mau disisimu, seperti yang kau mau..” gumamnya terisak, namun aku menggeleng.

“Aku ingin kau bahagia dengan Kris Hyung. Aku ingin kau mendapatkan orang yang bisa membahagiakanmu. Bukan aku. Aku akan merepotkanmu dengan keadaanku.”

“Aku tak peduli… Chanyeol-ah… aku tak peduli.”

“Aku tahu.. ini sangat tak adil bagimu, juga bagiku. Aku tidak akan menyalahkan takdir. Aku tak akan menyesal. Kembalilah pada Kris Hyung. kejar dia.”

“Andwe…” jawabnya.

“Dia sudah mendapatkan yang terbaik juga.”

“Kalau begitu dengan Luhan Hyung,”

“Jangan konyol,” dia memukul dadaku, dan terkikik disela tangisnya.

“Aku mencintaimu, Chanyeol-ah…” katanya.

“Aku juga,” aku memeluknya semakin erat.

Aku menundukkan wajahku, melihat wajahnya yang penuh dengan berkas airmata. Kuusap dan aku tersenyum padanya.

“Aku mencintaimu, Hyeon-ah…”

Kudekatkan wajahku ke wajahnya, sampai tidak ada jarak diantara keduannya. Untuk sekali ini, biarkan aku memilikimu. Hanya sebentar, Hyeon-ah. Dan mitos itu hanyalah sebuah mitos semata.

Sun Hye POV

Aku terkejut saat Kris diantar oleh Xiumin dan Suho dalam keadaan tak sadarkan diri. Aku memarahi mereka karena tak langsung membawanya kerumah sakit. Tapi, Suho berkata Kris yang masih setengah sadar memintanya untuk membawanya pulang. Aku langsung menunjukan kamarku dan membaringkan dia disana.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kemarin dia menghilang tiba-tiba. Pergi denganmu, Suho-yah?” cercaku pada Suho, dia hanya memandangku tanpa mejawab pertanyaanku.

“Aku juga tak kau beritahu, dia pingsan disekolah—“

“Kami lama mencarinya,” potong Xiumin tanpa memandangku, dia terus memegang dahi Kris.

“ Dia keluar ruang ujian lebih dulu. Kupikir dia langsung pulang, setelah melihatmu pulang sendirian, kurasa dia disuatu tempat untuk menyendiri. Lalu kami berdua mencarinya saat dia tidak muncul setelah kami SMS berulang kali,”

Aku diam. Aku tak bisa menyalahkan mereka berdua. Aku duduk disebelah Kris yang terbaring saat dokter memeriksanya. Katanya, dia terlalu kelelahan dan terlalu banyak pikiran.

“Memangnya kalian kemana?” tanyaku menatap Suho, setelah kami benar-benar hanya berempat dalam kamar.

“Apa aku harus memberitahumu?” nada Suho sangat tidak bersahabat.

“Kau pikir karena siapa Kris seperti ini?!” makiku. Suho memandangku menyalang, dia tidak pernah terlihat seperti ini.

“Kau tanya, ini salah siapa?” Suho menekankan kata-katanya.

“Kemana kau kemarin?” aku tetap mempertahankan pertanyaanku.

“Bukan urusanmu,”

Kami bertiga menoleh Kris yang tampak sedikit membuka matanya, dan mencoba menegakan badannya.

“Arggh,” Kris mengerang dan kembali terbaring.

“Yaa… kau masih sakit. Jangan banyak bergerak,” aku khawatir padanya. Aku segera membenarkan posisi tidurnya menjadi senyaman mungkin.

“Suho-ya, Xiumin-ah, gomawo…” ucap Kris lemah.

“Kami khawatir padamu,” ucap Xiumim

“Kau sangat pucat dan mengenaskan seperti mayat hidup,”

Kris tampak tersenyum mendengar kata-kata Xiumin, yang menurutku sangat tidak sopan pada orang yang sakit.

“Istrihatlah,” gumam Suho. Kris mengangguk, dan tersenyum pada Suho.

Aku masih memandang Suho dengan tatapan mnarah. Gara-gara dia Kris seperti ini. Apa yang sudah dilakukannya?!

“Kau kemana saja Kris?” tanyaku agak sebal.

“Itu bukan urusanmu,” jawabnya dingin.

“Aku cemas memikirkanmu, sekarang lihat kau. Sebagai tunanganmu—“

“Aku akan sehat saat upacara pernikahan nanti,” katanya lagi tanpa memandangku.

“Mwo?” aku masih mencoba mencerna kata-katanya.

“Kau bilang, kau ingin menikah seminggu lagi… aku akan melakukannya. Aku kunikahi kau seminggu lagi,” gumam Kris. Dia menutupi wajahnya dengan lengan kanannya. Aku melihat ada lelehan airmata disela-selanya. Kris menangis?

To be continued….

Annyeong!! Mian lama update. Tapi ini /lirik atas/… terlalu panjang. Semoga tidak membosankan. Aku ingin segera membuat finishing FF ini. jadi tunggu part selanjutnya yaa… gomawo udah baca 🙂

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT  😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @yuanitasugianto @yuanwufan @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged:

20 thoughts on “EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 19

  1. Jung Hyun Mi June 10, 2013 at 9:57 AM Reply

    aaaaaa udahhh dilanjutt ><
    semoga next part jugaa hehe
    part ini mengenaskan -_-
    ini sedih banget hueeee
    ga kuattt #gigitace
    aduh aku bingung -_-
    aku sebenernya sangattt sangatt sangatt mengharapkan kris sama hyeon T,T
    yah semoga saja ya karena hanya author dan tuhan yang tahu haha
    FIGHTINGG

    • yuanfan June 10, 2013 at 10:32 AM Reply

      kekeke~, first reader yang baca. tengs ya… udah mau nunggu sama setia baca. /usap ingus/
      part berikutnya gimana kalo ada yang mati aja. /hehe~ nggak ding. kejam/
      beri alasan kenapa Kris harus sama Hyeon??

      gomawo~yo Hyun Mi chingu 🙂

      • Jung Hyun Mi June 11, 2013 at 5:28 AM

        yah aku tau emang cinta ga harus selalu memiliki ._.
        tapi yah gimana dong
        kris sama hyeon udah saling mencintai walaupun mereka pun menikah hanya karena dijodohkan
        tapi see ?
        they’re falling in love each other (bahasanya -_-)
        hyeon juga udah rela ngelepasin kris buat sun hye
        karena hyeon cinta sama kris
        aku juga liat kris udah pasrah bangett
        tapi aku yakin ko takdir nya hyeon emang sama kris (walopun cuman di ff)

      • yuanfan June 12, 2013 at 4:05 PM

        hehe… baiklah… Hyeon dan Luhan juga lumayan /lho??/

  2. dian June 11, 2013 at 8:28 AM Reply

    akhirnya part ini keluar juga..
    lama aku menunggu…
    huhuhu
    part ini sedih sekali…
    kenapa hyeon sama kris harus benar benar pisah..?
    tidaaak….
    next partnya aku tunggu..:D

    • yuanfan June 12, 2013 at 4:01 PM Reply

      ne~, jeongmal gomawo chingu udah sempetin baca dan masih setia nungguin /lap ingus/
      nee~, part ini saya setuju kalau ini menyedihkan. ah~, semoga tidak membosankan readers. tunggu next part yaa 🙂

      -yuanfan-

  3. daiut June 15, 2013 at 5:50 PM Reply

    Aaaah part ini sedih sekali
    Tau tau udah berlinangan air mata
    Maunya hyeon ga usah sama kris deh
    Mereka udh super complicated
    Hyeon sama chanyeol aja
    Kasian bgt chanyeol hiks
    Dramatis bgt ceritanya kalo dipikir2 hahah
    Next chap ditunggu

    • yuanfan July 30, 2013 at 2:09 PM Reply

      hehe,,, gomawo udah baca chingu.
      part berikutnya udah post. moga ga ngebosenin 😀

  4. bLuuueee^^ June 20, 2013 at 11:00 AM Reply

    Huuaaaa baca part ini bikin pengen teriak2 marahin sun hye…semoga sun hye cepat dibukakan pintu hati’y melihat air mata kris.
    Next part’y di tunggu ya thor ga sabar nih.. ^^

    • yuanfan July 30, 2013 at 2:08 PM Reply

      udah deh, banting aja itu pancinya D.O /haha/
      gomawo udah baca, part berkutnya udah post kok 😀

  5. Cynthia June 21, 2013 at 3:13 PM Reply

    Next 😥
    Aq gtw mau komentar apa.. Aq menginginkan yg terbaik aja bwt mereka semua 😥

    • yuanfan July 30, 2013 at 2:06 PM Reply

      hai apa kabar chingu ? hehe. sori lama updatenya. 😀
      part berikutnya udah post chingu 😀
      gomawo udah terus ngikutin ma komen 😀

  6. Mrs. Oh June 24, 2013 at 4:45 PM Reply

    hakhakhak:” eonni-ah, Kris sama Hyoen aja:” jangan sama Sun Hye! dasar egois ¬_¬
    omo! Chanyeol kecelakaan? dan dia lumpuh permanen? andwae!! ㅠㅠ kenapa bisa? hiks
    Disini partnya Luhan sama Xiumin dikit banget._. tapi gapapa, yang penting lewat._.
    Xiumin secara ga langsung nyindir Sun Hye ya eon, udah bikin Kris kaya mayat hidup?._. ckck
    Suho disini agak dingin sama Sun Hye ya eon?._. ga peduli sama pertanyaan Sun Hye xD kkkk
    ayo Hyeon! kejar Krisnya:”) jangan stuck disitu aja -_-
    makin rumitttttt….. aja ceritanya, tapi ending mesti happy ending ya eon 😉
    jangan lama lama ya eon next chapternya! fighting^^9

    • yuanfan July 30, 2013 at 2:05 PM Reply

      suho nya kan ngebelain Kris. hehe, /shipper saya ma dua orang itu. lho??/
      iya ini FF emang kek sinetron /ngakuin/
      gomawo udah baca, part berikutnya udah post 😀

  7. ocie June 28, 2013 at 3:40 PM Reply

    Maafkan aku thor udah jdi silent reader diff ini /tobat/sujud brg baekhyun/ :$ /plakk
    oke kembali ke comment
    duh nggak kuat rasa.a jdi Hyeon T.T nggak tau knapa bingung harus pilih yg mana tpi aku dukung hyeon-kris mian(chanyeol-luhan).
    Suwer mlg bgt nasib hyeon kuat kan lh hyeon ya thor//eh
    next thor moga ending.a hyeon ma kris
    fighting

    • yuanfan July 30, 2013 at 2:03 PM Reply

      jeongmal gomawo, udah sempetin komen. Moga ga bosen. 😀
      part berikutnya udah post kok 😀

  8. Dinidink July 5, 2013 at 11:37 AM Reply

    Omo~ chanyeol.. miris bgt hidupmu.. kasiaan.. *peyukchanyeol*
    Eh, itu kris beneran jadi ama sunhye?? Andwaee..
    Ntar hidupnya kris jd miris juga -.-
    Aish, ak harap part akhir jgn sad ending eoh.. kalo iyah bilang2 y unn biar ak sedia tissue u,u

    • yuanfan July 30, 2013 at 2:01 PM Reply

      ya, kalo kris sama saya ga ngejalur dong. haha.
      haha, diliat aja dipart berikutnya. Udah post kok 😀

  9. Sowon July 14, 2013 at 2:46 PM Reply

    Author~ lanjut ne!! Sayang kalo di stop in tengah jalan~ aku suka bgt sama ff ini. Beda sama yg lain, baru nemu konflik ff yg kaya gini. Daebak dehh^^

    • yuanfan July 30, 2013 at 1:59 PM Reply

      ne~, gomawo udah baca. Udah post kok part berikutnya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: