EXOtic’s Fiction “Come To My Heart” – Part 1

EXOTIC’S FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Come To My Heart – Part 1”

FF Ctmh

Title                : Come To My Heart

Part                 : 1

Author            : Shin Hye Jin (@RifkaShinHyeJin)

Main Cast      :

  • Luhan,
  • Hye Won (OC)
  • Kris

Support Cast:

  • Baekhyun
  • Chanyeol
  • Kai
  • Sehun
  • Tao
  • others than you can find next

Length            : Series

Genre             : Romance, Sad, Friendship.

Rating            : G

P.S                  : Ini adalah FF kedua author yang di post. Dan sekali lagi mian buat poster yang acakadul.

*Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

***

Luhan’s POV

Pagi ini aku bangun lebih awal. Kelewat awal malahan. Rasanya aku bersemangat sekali. Aku sudah tidak sabar ingin tau seperti apa kampus baru ku di Seoul ini. Dan sekalipun mungkin berlebihan, tapi aku sangat gembira dan gugup. Seperti anak SD. Kulihat pantulan diriku di cermin, sekali lagi. Untuk memastikan saja. Tapi rasanya semua sudah pas. Tidak berlebihan dan tidak mencolok.

“Hmmh. Kau pasti bisa Luhan. Fighting!” kataku menyemangati diri sendiri. Aku biasa melakukan itu di pagi hari untuk mengumpulkan pikiran positif dan semangat. Hal sepele namun dampaknya besar bagiku. Kulangkahkan kaki keluar kamar, menuju dapur dan kemudian sarapan dengan roti yang sebelumnya telah kupanggang. Rasanya enak. Kupandangi dapur dan sekelilingku. Semuanya sudah rapi dan bersih. Kinclong lah.

‘Drrttdrrrt’ Hp ku bergetar. Ada sms. Oh, ternyata dari Umma.

Apa kau sudah makan sayang?

Sudah Umma. Baru saja selesai.

Umma yakin kau sekarang pasti gugup dan gembira sekali.

Umma memang yang terbaik. Doakan aku Umma.

Pasti. Cepat berangkat dan hati-hatilah dijalan. Jangan sampai tersesat.

Hehehe. Umma bisa saja. Baiklah. Aku segera berangkat. Love you Umma.

Umma adalah ibu nomer satu. Ia begitu lembut, bertanggung jawab, dan sangat menyayangi keluarga. Ia tak pernah membeda-bedakan aku dengan hyungku. Ia juga mengasuh aku dan hyungku dengan baik. Dan hubungannya dengan Appa masih sama romantisnya dengan orang pacaran. Jadi bisa dibilang, aku dan hyung ku tumbuh dan berkembang dengan baik. Hal yang sangat amat ku syukuri.

Aku bergegas menyandang ransel dan memakai sepatu lalu keluar apartemen dan berjalan ke halte bis. Selang 10 menit kemudian, bis datang dan aku langsung masuk. Penuh. Jadi aku terpaksa berdiri. Jarak apartemen dan kampusku tidak terlalu jauh. Hanya 15 menit. Jadi kurasa tidak akan masalah kalaupun aku harus berdiri setiap pagi jika bis selalu penuh seperti ini. Dan bis pun akhirnya berhenti di halte dekat kampusku. Bisa kulihat bangunan kampusku yang besar dan megah. Seoul National University.

Aku berjalan dengan mantap dan hati berbunga-bunga. Aku suka suasana disini. Sudah hampir 15 tahun aku tidak kembali ke Korea. Jadi rasanya, ah, sangat sulit digambarkan. Yang jelas ada luapan kebahagian yang membuncah dan merekah indah di dadaku. Setelah melewati halaman depan kampus yang luas dengan rumput-rumput hijau terawatnya, aku segera menuju bagian administrasi dan informasi. Menurut peta yang kubawa, ruangannya ada di lantai dua bangunan utama. Persisnya disamping kantor dekan fakultas sastra. Untunglah aku datang ke kampus lebih awal, jadi mungkin nanti aku tidak perlu terlalu mengantri. Setelah memasuki gedung utama, hawa menjadi lebih hangat. Kulitku perlu beradaptasi secepatnya dengan udara dingin Korea.

Setelah sampai di bagian administrasi dan informasi, aku diterangkan beberapa hal penting dan beberapa keterangan tambahan yang kuperlukan. Aku hanya manggut-manggut. Selama hampir 15 menit aku mendengarkan arahan dari petugas yang name tag nya bertuliskan Shim Changmin itu. Aku membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan dan segera menuju ke gedung A. Tempat Fakultas ku berada. Dan dari keterangan Shim Changmin hyung tadi, katanya aku harus menemui seorang Dosen dulu sebelum masuk ke kelas. Untungnya kantor dosen itu tepat di depan ruang kelasku nanti.

Kuketuk pintu kantor dosen dengan nama Prof. Jung Young Min itu perlahan. Lalu kudengar seseorang mempersilahkan aku masuk. Suaranya khas. Berat tapi lembut. Oh, itu dia Prof. Jung. Duduk di kursinya sambil entah membaca atau meneliti sebuah buku. Professor mempersilahkanku untuk menunggu di sofa samping tempatku berdiri sekarang. Aku harus menunggu giliranku karena kulihat di depannya ada seorang mahasiswi yang menurut tebakanku, pemilik buku yang dibawa Professor sekarang ini.

“Ya, baiklah ahgassi, seperti biasanya kau selalu menemukan hal-hal penting yang seringkali dilupakan orang. Hmm, aku akan membahasnya lebih lanjut dengan Professor Hyun setelah ini,”. Professor Jung tersenyum. Beliau kelihatan senang dan bangga. Nona ini pastilah salah satu mahasiswi favoritnya disini. Didengar dari pujian dan sikap Professor Jung. Aku jadi penasaran, seperti apa wajah nona ini. karena dari tadi dia terus menghadap Professor, aku jadi tidak bisa melihat wajahnya. Kulihat nona itu membungkukkan badan ke Professor, tanpa berkata apa-apa. Nona itu membalikkan badan, dan kemudian, oh astaga. Dia, dia,……… sangat cantik. Nona itu sangat cantik. Tubuhku langsung lemas dan tidak mampu memandangnya. Aku kemudian hanya menunduk dan mencoba mengumpulkan akal sehatku yang tadi hilang sesaat. Tapi tunggu, aku ingin melihat nona itu lagi. Kudongakkan kepalaku lagi, sialnya nona itu sepertinya sudah keluar ruangan.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Xi Luhan?”. Eh, aku sampai lupa tujuanku kesini. Aku segera bangkit sambil tetap berusaha menormalkan pikiranku lagi. Tentu tidak akan lucu jika Professor memergokiku. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Berusaha menghapus bayang-bayang nona tadi dari pikiranku.

Professor Jung menyapaku dengan ramah dan mempersilahkan aku duduk. Aku pun membungkuk terlebih dahulu untuk memberi hormat. Ummaku senantiasa mengingatkan aku soal budaya ini. Ini sangat penting katanya.

“Xi Luhan ssi, anda mendaftar di fakultas yang tepat. Saya sangat senang mendapat murid seperti anda. Saya harap anda bisa membuat anak-anak lain disini menjadi lebih baik. Ini beberapa materi dan daftar buku-buku anda. Saya juga menyertakan daftar dosen dan ruangan. Selamat bergabung di fakultas sastra universitas Seoul” katanya sambil mengulurkan tangan. Aku langsung menjabatnya dengan antusias. Well, sepertinya Prof. Jung orang yang ramah dan sangat cerdas. Aku mengucapkan terima kasih dan pamit pergi. Segera menuju kelas pertama ku. Kulihat nama dosennya adalah Prof. Yoo Young Jae. Namun pastilah beliau belum hadir karena kelas masih akan dimulai sejam lagi. Lebih baik aku membeli minum dulu. Dari tadi aku ingin sekali minum minuman hangat. Kuambil petaku lagi dari dalam saku jaketku. Kantin, kantin. Ah. Ini dia. Tinggal menuju halaman tengah. Setelah itu lurus hingga bertemu air mancur. Kantinnya berada di sisi barat air mancur. Aku berjalan dengan santai. Menikmati suasana kampus baruku dan menghafal beberapa detil ruang atau tempat yang mungkin nanti penting bagiku. Sepertinya kampus sudah mulai ramai. Banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi yang sudah datang. Tapi entah mengapa, seiring langkah kakiku menapak, aku makin mendengar bisik-bisik aneh. Semakin lama semakin jelas. Kutengok kebelakang. Eh, kenapa para mahasiswi itu memandangku dengan cara yang aneh? Mereka juga berbisik-bisik dan tersenyum-senyum. Kupandangi diriku sendiri. Rasanya tidak ada yang salah. Apa pakaianku terlalu mencolok? Ah, tidak. Aku kan hanya mengenakan kaos dan jaket. Aku juga memakai celana jeans biasa. Mungkinkah ada sesuatu dimukaku? Molla. Kupercepat saja langkahku. Aku tidak ingin berfikir negatif lebih jauh lagi.

Akhirnya aku sampai juga di kantin. Kantinnya bagus, menurutku. Dekorasinya punya mutu tinggi, sekali lagi, menurutku. Dengan corak warna biru dan putih. Juga warna abu-abu yang mendominasi. Nyaman. Segera saja aku ke stand minuman. Aku ingin teh panas. Ahjumma yang menjualnya baik sekali. Ia memberiku sepotong kue. Katanya sebagai hadiah selamat datang di sini. Apa ahjumma menghafal semua anak-anak disini? Kalau iya berarti luar biasa. Tapi kalau tidak, kenapa ia tau aku mahasiswa baru? Hmm. Rasanya kampus ini dipenuhi orang jenius saja. Hingga ke penjual di kantinnya. Aku pun segera memilih tempat duduk. Ya, disana tempatnya bagus. Di dekat pintu masuk. Sebenarnya sih tidak ada pintunya. Hanya semacam lengkungan saja. Jendela nya juga bukan jendela yang sebenarnya. Semuanya terbuka. Mengingatkanku pada kastil. Aku duduk dan kemudian menyeruput teh sedikit. Mashilta. Teh Korea memang berbeda. Kurasa teh ini ditambahi rempah-rempah. Ummaku juga membuatnya dirumah. Tapi tentu saja rasanya berbeda. Ini teh Korea. Sekali lagi kutekankan, Korea. Kunikmati teh dan kue ku sepenuh hati. Rindunya dengan semua ini.

Aku selalu tersenyum bila mengingat-ingat memoriku di sini, di Korea. Sejuta kenangan indah dan manis yang telah tercipta, yang membuatku memutuskan harus kembali kesini. Aku benar-benar ingin tinggal disini. Tapi tidak lama aku bernostalgia, kejadian tadi sepertinya kembali terulang. Aku mendengar bisik-bisik lagi disekelilingku. Ada apa sih sebenarnya? Aku jadi benar-benar bingung. Apalagi beberapa mahasiswi menunjuk-nunjuk ke diriku. Duh, apa di hari pertama ku masuk aku membuat kesalahan? Tapi kalau iya, apa kesalahanku? Aku bahkan belum bicara pada seorang pun kecuali Shim Changmin Hyung di ruang admin, dan Prof. Jung. Lalu apa kesalahanku? Jangan-jangan aku melupakan suatu aturan sebagai mahasiswa baru disini. Aku kan sudah tidak begitu ingat dengan semua budaya disini. Duh, aku jadi was was. Aku kembali ke kelas saja lah. Daripada nanti terjadi sesuatu.

Perjalanan ke kelas juga jadi tidak nyaman. Lagi-lagi kejadiannya seperti tadi. Aku hanya bisa menunduk dan mengayunkan langkah kakiku seperti atlet jalan cepat professional. Tidak, tepatnya setengah berlari.

Hufft. Akhirnya aku sampai di depan kelas. Kuatur dulu nafasku yang ngos-ngosan. Degup jantungku belum kembali normal. Kutarik nafas dalam-dalam berulang kali. Berharap semua cepat normal kembali. Selang beberapa saat, sepertinya aku sudah siap masuk kedalam kelas. Kubuka pintu, cklek. Semua yang ada diruangan itu menoleh padaku. Mereka semua diam. Ah, segera saja aku masuk dan membungkukkan badan berkali-kali “annyeong” sapaku pada hampir setiap orang diruangan itu. Setelah beramah tamah, aku segera mencari tempat duduk. Hmm, kelas baru separuh terisi, jadi mungkin aku lebih baik menunggu agar tau bangku mana yang tidak dipakai. Aku melirik ke kanan dan kekiri.

“Hey anak baru! Sini!” seorang mahasiswa melambai dan memanggilku. Dia bersama mahasiswa lain disampingnya. Duduk di pinggiran jendela. Entah mengapa aku langsung saja menuruti panggilannya. Mungkin karena wajahnya yang kelihatannya sangat bersahabat dan periang. Temannya juga kelihatan sama. Baik dan ceria.

“Kenalkan, namaku Chanyeol. Park Chanyeol” namja yang memanggilku itu langsung berdiri memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. Ternyata dia sangat tinggi. Aku tidak menyadarinya karena tadi dia duduk. Aku tersenyum dan menjabat tangannya.

“Dan aku, Baekhyun. Byun Baekhyun. Anak-anak biasa memanggilku Baekki atau Bacon” namja yang satunya lagi gantian menyalamiku. Aku tersenyum semakin  lebar padanya.

“Hei, kau belum memperkenalkan dirimu” namja bernama Chanyeol tadi mengingatkanku.

“Eh, iya. Aku lupa. Namaku…”

“Xi Luhan” Baekhyun dan Chanyeol menjawab serempak. Darimana mereka tahu namaku? Kugaruk kepalaku. Apa benar dugaanku kalau isi kampus ini adalah orang-orang jenius? Atau jangan-jangan mereka bisa membaca pikiran orang? Kugaruk-garuk kepalaku lagi. Tapi mereka berdua malah tertawa.

“Tidak usah bingung begitu. Nanti kau juga akan tau kenapa kami bisa tau siapa kau” ucap Baekhyun. Mereka berdua tertawa lagi.

“Nah, Luhan ssi. Tidak ah, aku tidak mau memanggilmu begitu. Luhan ah, begitu lebih baik, kau bisa duduk di sini” kata Chanyeol sambil menunjuk bangku di depannya. Ini bangku paling pojok kiri dikelas.

“Apa bangku ini tidak ada yang punya?” tanyaku. Mereka menggeleng sambil tertawa. Well, mereka sepertinya benar-benar orang yang selalu bahagia. Kuletakkan tas ku di bangku itu dan mulai mengobrol dengan mereka. Hingga tidak terasa Prof. Yoo telah datang. Kami semua mengakhiri aktifitas kami dan kembali ke bangku masing-masing. Prof. Yoo menyuruhku memperkenalkan diri di depan sebelum mata kuliah dimulai.

“Annyeong, Xi Luhan imnida. Saya mahasiswa baru disini. Jadi mohon bimbingannya” kataku sambil membungkuk lagi. Kali ini lebih dalam. Teman-teman baruku bersorak sorai setelah aku mengakhiri kalimatku. Mereka jadi gaduh sekali. Dan lagi-lagi, para mahasiswi berbisik-bisik. Ya Tuhan, kuatkan hatiku. Kelas semakin ramai saja, hingga kudengar pintu terbuka. Kelas seketika menjadi hening. Aku menoleh ke arah pintu. Dia kan? Dia kan nona tadi? Malaikat? Ketika dia berjalan sepetinya dia melayang dan yang aku tau, aku seperti tidak bisa bernafas. Jantungku berdegup lebih keras. Memompa darahku yang sepertinya sekarang mengalir dan terpusat diwajahku saja. Dan  nona malaikat ini ternyata sekelas denganku.

“Maaf Prof. Yoo. Saya terlambat”. Nona itu berbicara. Dan suaranya, suaranya selembut beludru. Astaga. Jantungku seperti ingin melompat keluar. Nona ini benar-benar malaikat. Atau penyihir? Entahlah. Dan sepertinya yang merasa begitu bukan hanya aku. Kulihat sekeliling kelas. Ekspresi teman-teman kelasku juga rasanya tidak berbeda denganku. Bahkan aku berani bersumpah, namja di bangku tengah nomer dua dari belakang, mengelap air liurnya. Sedahsyat inikah efek yang ditimbulkan oleh si nona malaikat?

“Sudah-sudah. Kalian berdua boleh duduk” Prof. Yoo akhirnya menyudahi bengong berjamaah ini. Kubiarkan nona itu berjalan duluan. Ia sampai di depan meja pojok kiri. Ia mengernyit. Memandangi meja itu. Lho, bukankah itu mejaku? Apa itu juga mejanya? Tapi tadi Chanyeol bilang itu meja kosong. Kulirik Chanyeol dan Baekhyun. Mereka berdua sedang terkikik sambil menutupi mulut mereka. Dasar!

Segera kuhampiri nona malaikat tadi dan meminta maaf. Tapi dia tidak menanggapi ku dan segera berjalan ke arah lain. Ia duduk di bangku kosong diantara bangku Chanyeol dan Baekhyun. Pasti ini semua rencana mereka. Aku hanya bisa mendengus kesal. Kulihat mereka berdua tersenyum penuh kemenangan dan mengangguk-anggukkan kepala padaku. Dari gerakan bibir mereka, kurasa mereka sedang mengatakan ‘gomawoyo’. Aku hanya menggeleng-geleng. Ya sudahlah. Nanti aku harus meminta maaf lagi pada nona malaikat. Biar bagaimanapun ini semua salahku. Sekarang aku ingin berkonsentrasi pada mata kuliah Prof. Yoo ini. Walaupun kuakui sangat sulit dengan adanya nona malaikat di ruangan yang sama.

“Fokuslah Xi Luhan”.

****************************************************************************************************

Author’s POV

Di kantin kampus,

Penuh sesak. Kantin dipadati gerombolan-gerombolan mahasiswa yang sedang kelaparan akut. Maklum. Program kuliah disini berat dan padat. Sehingga sekalipun mereka sarapan 2 mangkuk penuh ramen di pagi hari, mereka akan segera kelaparan sebelum mata kuliah kedua usai diajarkan. Pantas saja jarang sekali ada yang gemuk. Energi mereka habis untuk berpikir. Namun beruntung bagi Luhan, Baekhyun, dan Chanyeol yang sekarang sedang duduk dengan nyamannya sambil memakan jajangmyun mereka. Sesekali mereka tertawa. Cepat sekali akrab. Mungkin karena Chanyeol dan Baekhyun orang yang sangat supel dan menyenangkan, sehingga Luhan bisa langsung merasa nyaman diantara mereka. Bukan hari pertama yang buruk bukan? Pikir Luhan.

“Chanyeol ssi, bolehkah aku bertanya sesuatu” ujar Luhan, membuka percakapan berbarengan dengan tandasnya jajangmyun mereka bertiga.

“Panggil aku biasa saja. Jangan pakai ssi, risih telingaku” tanggap Chanyeol.

“Kupastikan kau ingin bertanya tentang dewi kami? Benar kan Luhan ah?” Baekhyun nerocos sambil mengelap mulutnya yang tadi agak belepotan. Luhan menaikkan dua alisnya?

“Dewi kalian? Maksudnya?” tanyanya tak mengerti. Baekhyun dan Chanyeol saling pandang. Lalu Chanyeol memberi isyarat dengan dagunya.

“Baiklah. Aku yang akan bercerita kali ini. Anggap saja ini salah satu bagian dari tour service kami berdua pada mahasiswa baru, ya kan Yeolli?” seru Baekhyun. Chanyeol mengangguk mantap.

“Apa perasaanmu saat pertama kali memandang Hye Won? Biar kutebak saja, kau terpana, tidak bisa mengendalikan degup jantungmu sendiri, kau pasti merasa waktu seolah berhenti dan kemudian kau hanya bisa menunduk. Apa benar tebakanku Luhan ah?” Baekhyun mengucapkan semuanya seolah-olah dia telah menghapalkan kata-kata itu diluar kepala. Luhan masih diam. Kemudian bertanya,

“Apa nona yang terlambat tadi yang kau maksud?”. Baekhyun menjawab dengan emm, emm. Jadi nama si nona malaikat tadi Hye Won? Batin Luhan.

“Kami menganggapnya putri dari negeri dongeng yang muncul di kehidupan nyata. Kau tidak akan percaya pada cerita ku selanjutnya kurasa. Tapi ini adalah kenyataan” Baekhyun meneruskan. Luhan semakin penasaran. Ia menyemak cerita Baekhyun  dengan seksama.

“Nama lengkapnya Han Hye Won. Putri duta besar Korea Han Si Won. Dia masuk dalam jajaran 2 besar IQ tertinggi di kampus saat ini dan  ia ada di urutan nomer tiga nilai tertinggi dalam sejarah seleksi masuk universitas ini” lanjut Baekhyun.

“Ia juga yah..seperti kau tau sendiri. Sangat cantik. Seperti bidadari. Sempurna hingga membuat mahasiswa-mahasiswa disini tergila-gila dan hampir selalu ditampar pacarnya saat Hye Won lewat. Salah satu bukti nyatanya ya Chanyeol ini. Ia diputuskan Ye Jin gara-gara saat kencan selalu membahas soal Hye Won. Hahaha”. Chanyeol mendelik ke arah Baekhyun kemudian melayangkan jitakannya.

“Appo” kata Baekhyun sambil meringis. Chanyeol memanyunkan bibirnya sehingga membuatnya tampak semakin lucu. Luhan tertawa melihat tingkah dua teman barunya itu.

“Lalu, apakah nona Hye Won punya pacar, Bakhyun ssi?” tanya Luhan tiba-tiba. Chanyeol dan Baekhyun lalu saling pandang lagi, kemudian menatap Luhan.

“Gossip yang beredar, dia seorang lesbi. Aku kesal dengan gossip itu. Tentu saja itu tidak benar! Itu cuma gossip yang dibuat mahasiswi-mahasiswi tak punya hati! Mereka iri pada Hye Won!” suara Baekhyun meninggi, bahkan ia sampai berdiri sehingga seisi kantin menoleh. Luhan berusaha menenangkan Baekhyun. Menyuruhnya duduk kembali. Sepertinya Baekhyun mulai emosi. Chanyeol hanya menutup muka dengan kedua tangannya.

Luhan hanya bisa termenung, memikirkan kata-kata Baekhyun tadi. Rasanya itu tidak mungkin. Si nona malaikat seorang lesbi? Sulit diterima akal.

“Tapi kenapa sampai ada gossip seperti itu Baekhyun ssi?” Luhan kembali bertanya. Memperjelas semuanya. Namun lagi-lagi Baekhyun dan Chanyeol saling pandang. Luhan jadi heran.

            “Kau akan tau alasannya sebentar lagi” Chanyeol lah yang akhirnya menjawab. Luhan hanya diam dan berusaha mencerna keterangan-keterangan yang tadi diberikan Baekhyun. Ia jadi penasaran kenapa si nona malaikat sampai mendapat gossip parah seperti itu. Apa yang telah terjadi sebenarnya? Luhan benar-benar penasaran. Sangat tertarik. Baekhyun menyikutnya untuk membuyarkan lamunan Luhan. Luhan kaget. Tetapi ditengah kekagetannya ia menyadari sesuatu. Kantin itu senyap. Hawa nya persis saat Hye Won tadi memasuki kelas. Kegaduhan dan keramaian berubah seketika menjadi suasana yang sulit digambarkan, sunyi. Luhan menoleh ke arah pandangan semua mahasiswa dan mahasiswi di kantin itu. Ke arah pintu masuk. Oh tidak!

TBC

Hehe… Part 1 selesai… fiuuuuh…

Jeongmal gomawo for reading, I like to see your comment. Pai pai ^_____^

THANKS FOR READING :D WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT :D

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL :D JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY Istri Sah Suho enjel @RifkaShinHyeJin , NO PLAGIARISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged:

2 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Come To My Heart” – Part 1

  1. deshinta April 5, 2013 at 4:45 AM Reply

    keren banget ff nya
    jadi penasaran siapa yang masuk ke kantin, hye won kah??
    chapter selanjutnya jangan lama2 dong~ pleaseeeee

  2. Shin Hye Jin April 5, 2013 at 9:04 AM Reply

    wah..makasih banget deshinta….chapter berikutnya segera tayang (emangnya film?)…hehe….
    tunggu aja ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: