EXOtic’s Fiction “Dancing Souls”

EXOtics’ FICTION

Exofirstwonderplanet.wordpress.com

“Dancing Souls”

[Pic] ~Dancing Souls~

Title:

Dancing Souls

Author:

Dreamcreampiggy

Length:

Oneshot

Genre:

Romance, Drama, Hurt

Rating:

Teen

Cast:

Kim Jong In/Kai (EXO-K)|Shin Hana (OC)|And another Cast.

Disclaimer:

Cast are belongs to God, their self, and their parents except Original Character. They are fake cast made by myself as an Author. Stories are mine. NO ONE allowed to PLAGIARIZE, copy-paste, translate, edit, and change half or this entire story without my permission.

*P.S :  Ini adalah karya original by Dreamcreampiggy. Dilarang keras untuk mem-plagiat dan mencopas tanpa seijin author

Leave comment please

*Disclaim :

SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exofirstwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

“~***~”

Daun Maple  berguguran dari pohonnya, menghiasi jalanan Kota Seoul pada musim gugur yang dingin. Awan mendung menggantung di atas langit senja. Di temani angin yang berhembus mengantarkan pesan-pesan penuh arti kepada setiap manusia yang berjalan di kota itu. Membawa kebahagiaan juga berbagai macam kesedihan.

Seorang laki-laki berkulit sedikit lebih gelap di antara orang-orang yang berlalu lalang itu terlihat berdiri menjulang di antara kerumunan. Melawan arus manusia yang berjalan menuju tengah kota. Telinganya tertututup oleh Headphone yang melantunkan berbagai lagu favoritnya. Mengiringi langkahnya yang terlihat lelah. Jaket berwarna coklat yang ia pakai terus ia rapatkan agar hawa dingin yang menyapa tidak menerpa tubuhnya.

“Aigoo… Aku pulang telat lagi.”, katanya. Laki-laki bernama Kim Jong In itu berhenti sejenak dan menatap jam tangannya. Kini ia sudah berdiri di tengah jalan setapak di pinggiran kota Seoul. Jalanan itu sangat sepi. Hanya pohon-pohon tinggi yang menjulang di samping kiri dan kanan jalan.

Seperti suara raksasa yang menakutkan, Guntur bergemuruh. Memperingatkan semua orang termasuk Kim Jong In untuk segera mencari tempat berteduh karena awan mendung yang sedari tadi menggantung itu sudah tak kuat lagi menahan air dan akan menumpahkannya. Menghempaskan air dingin itu ke dunia yang sedingin es.

Jong In, atau biasa di panggil dengan Kai, segera berlari menyusuri jalan setapak itu menuju rumahnya ketika ia tanpa sadar memperlambat langkahnya begitu suara musik klasik yang merdu mengalun pelan. Kai menolehkan kepalanya ke sebuah gedung bertingkat tiga di sampingnya yang hanya berdiri dengan bantuan bata-bata merah dan seluruh dindingnya dihiasi oleh tanaman menjalar yang sudah kering.

Pandangannya beralih pada sebuah jendela di pojok lantai tiga. Dengan jelas ia bisa melihat seorang perempuan cantik berpakaian Ballet yang sedang berpangku tangan di lengan jendela. Menatap langit mendung dengan wajah yang mengguratkan banyak emosi. Rambut hitamnya terikat ke atas khas seorang Ballerina.

Cantik.

Kai tak bisa menahan kata itu lagi di benaknya. Berapa kalipun ia melihat perempuan itu, ia tak pernah bosan dan tak bisa berhenti memuji kecantikannya. Namun lamunan Kai harus segera terhenti ketika awan mulai menumpahkan air bahnya ke bumi. Membasahi seluruh benda yang ada di sana.

“Hujan!”, teriak perempuan itu kepada Kai dari jendela. Kai hanya mengerjapkan matanya bingung dan merasakan bajunya telah basah.

“Astaga!”, kata Kai terkejut. Dengan cepat ia segera berlari kencang kembali menyusuri jalanan itu setelah menatap perempuan misterius itu untuk yang terakhir kali hari ini.

Ia sangat senang. Perempuan itu akhirnya berbicara padanya. Walaupun sekedar meneriakinya untuk cepat berlari karena hujan.

Sudah bertahun-tahun Kai melihat perempuan itu selalu memandang keluar jendela gedung tua yang di pakai sebagai tempat kursus tari Ballet  itu. Entah siapa perempuan itu sebenarnya. Namun Kai menyukai senyum dan segala hal pada perempuan itu.

“~***~”

 Shin Hana menutup cepat jendela ruangan itu ketika tubuh laki-laki yang selalu menghiasi hari-harinya dengan berdiri di jalan sana pergi berlari. Lagipula angin hujan yang dingin tak baik untuk dirinya.

Hana berjalan menuju sisi lain ruangan besar itu dan menyalakan saklar lampu. Memperlihatkan ruangan luas yang hampir seluruh dindingnya tersemat oleh kaca.

Semenjak ia pindah ke Seoul 5 tahun lalu bersama orang tuanya, ia selalu pergi ke tempat ini setiap hari untuk menari. Ia mencintai Ballet lebih dari apapun dan bercita-cita menjadi penari yang hebat suatu saat nanti. Membuktikan pada dunia bahwa ada seorang penari Ballet bernama Shin Hana yang dapat menari dengan begitu indah di bawah lampu sorot panggung megah dan serpihan konfeti yang di jatuhkan dari atas bagaikan permata.

Dan laki-laki yang tadi berlari pergi itu adalah salah satu alasan mengapa Hana masih berada di sini. Ia mencintai laki-laki tadi karena terbiasa. Terbiasa melihatnya berdiri di jalan setapak di luar, biasa melihat laki-laki itu tersenyum dan juga memperhatikannya. Sehingga perasaan itu muncul dengan sendirinya.

Hana berjalan lagi menuju jendela dan berbalik. Terduduk sambil menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangnya. Hana menarik tas di sampingnya dan mengeluarkan sebotol air mineral beserta plastik putih berisi sesuatu yang terbungkus dengan bungkusan perak. Hana merobek bungkusan berwarna perak itu dan mengeluarkan isinya yang terlihat asing dan dengan cepat memasukan benda itu ke dalam mulutnya lalu mengambil air mineral dan meneguknya dengan cepat. Mendorong benda itu agar segera masuk ke dalam lambungnya.

“~***~”

Hari berikutnya seperti biasa Kai kembali berjalan menyusuri jalan setapak itu untuk pergi bersekolah dan berlatih di sebuah Gedung Entertainment ternama di Korea sebagai salah seorang Trainee. Kai menatap sedih gedung di sampingnya yang terlihat sepi. Semua jendela tertutup dan tak ada tanda kehidupan sama sekali di tempat itu. Kai hanya bisa menundukan kepalanya dan memperhatikan langkah kakinya sendiri.

Ia hanya bisa melihat perempuan itu pada hari libur. Seperti kemarin. Namun tidak saat hari kerja karena perempuan itu menghilang bagai asap. Bahkan Kai tidak menemukan perempuan itu di manapun. Hanya di gedung ini saja.

Kai yang tadinya berjalan lurus tiba-tiba saja membelokan arah jalannya ke kanan menuju gedung berlantai tiga itu. Pintu kacanya terkunci dan Kai tak bisa melihat apapun di dalam sana karena kondisi yang gelap.

“Terkunci.”, kata Kai kesal. Entah dorongan dari mana hingga ia bisa membolos sekolah dan bukannya mengejar bus menuju sekolahnya tapi sibuk mencari sesuatu di tanah. Kai tersenyum ketika menemukan sebuah kawat bekas yang sudah berkarat. Kai melipat-lipat kawat itu sesuai dengan keinginannya dan memasukan kawat itu ke lubang kunci. Ia memutar kawat itu beberapa kali dan suara ‘KLIK’ terdengar begitu saja.

“Terbuka!”, katanya senang. Kai segera berjalan mencari saklar lampu dan menyalakannya. Ia menatap asing ruangan gedung yang baru ia masuki seumur hidupnya itu. Ia memang pernah belajar Ballet namun itu sudah lama sekali saat masih kecil. Dan kini ia sudah sedikit melupakan tarian itu dan lebih tertarik dengan Modern Dance. Setelah memastikan tak ada apapun di lantai pertama, Kai segera berlari menaiki tangga menuju lantai tiga.

Dorongan menemui perempuan itu membuatnya lupa dengan kewajibannya dan membawanya sampai kesini. Kai berjalan menyusuri sebuah lorong menuju ruangan paling pojok dan berdiri di depan pintu coklat yang cukup besar itu dan mencoba membukanya. Kini ia tak perlu lagi membuka dan memungut kawat apapun karena pintu itu tak terkunci dan dapat terbuka dengan mudah.

Lampu menyala ketika Kai menekan saklar lampunya dan dengan kagum Kai terdiam memperhatikan ruangan itu yang sangat luas. Ruangan yang sangat sempuarna untuk menari. Kai melepas sepatunya dan menggosokan kakinya ke lantai kayu dan menggeleng sambil tersenyum.

“Bahkan lantainya sangat bersih. Rasanya ingin menari disini.”, ucap Kai. Ia berjalan menuju satu-satunya jendela di tempat itu dan membukanya. Menghirup kuat-kuat udara pagi dan menghembuskannya.

“Maaf karena anakmu ini membolos Eomma.”, kata Kai pada dirinya sendiri. Ia memperhatikan pemandangan di bawahnya dengan tenang sebelum ia mendengar suara pintu ruangan itu terbuka. Kai menolehkan kepalanya dan melihat sosok perempuan di sana.

“Kau.”, sosok perempuan itu terlihat sangat terkejut sambil menunjuk Kai tak percaya. Kai mengusap kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum manis.

“Maaf aku lancang. Hehehe…”

“~***~”

“Jadi namamu Shin Hana? Kalau begitu, aku Kim Jong In. Panggil saja Kai.”, ucap Kai sambil menjabat tangan Hana. Kini mereka sudah terduduk sambil menyandar di bawah jendela. Tidak sia-sia bagi Kai untuk membolos dan tidak sia-sia bagi Hana untuk kabur dari rumahnya hari ini demi menari. Ternyata mereka bertemu. Dan akhirnya berbicara secara resmi setelah bertahun-tahun hanya bisa saling bertatap wajah.

“Hana. Kau menari disini?”, tanya Kai.

“Ya. Aku suka sekali Ballet.

“Benarkah? Aku juga suka sekali menari dan pernah mempelajari Ballet. Tapi sayang aku lebih berfokus pada Modern Dance sekarang.”, kata Kai. Hana mengangguk dan tertawa kecil mendengar Kai yang sedang bercerita.

“Kenapa?”, tanya Kai bingung.

“Kau lucu sekali saat berbicara. Aku kira kau pendiam. Ternyata kau juga banyak berbicara.”, kata Hana sambil tertawa. Kai menggaruk lagi kepalanya dan tak lama kemudian ikut menertawakan dirinya sendiri.

“Kau tidak sekolah?” tanya Hana ketika ia memperhatikan seragam Kai.

“Tidak. Aku membolos hari ini. Malas sekali. Kau sendiri?”, tanya Kai balik.

“Aku belajar di rumah sendiri. Jadi tidak perlu ke sekolah.”

“Enaknya! Aku ingin sepertimu.”, kata Kai sambil melepaskan jas seragamnya dan meletakan jas itu di lantai kayu di sampingnya.

“Tidak juga. Aku tidak punya teman ketika berlajar sendirian. Paling-paling hanya teman-teman Ballet di sini saja. Itu pun kebanyakan perempuan.”

“Kalau begitu anggap saja sekarang aku temanmu? Lagipula kita mempunyai minat yang sama kan?”, tanya Kai sambil tersenyum.

Hana hanya mengangguk.

“Hana. Jika tadi aku masuk karena mencongkel pintu, lalu kau kenapa bisa? Seharusnya kan murid biasa sepertimu tak datang sepagi ini.”, kata Kai yang diakhiri dengan pertanyaan.

“Tempat ini punya Pamanku. Jadi aku bebas datang kapan saja dan sudah mempunyai kunci sendiri.”, kata Hana. Kai mengangguk dan Hana segera berdiri. Melepas jaketnya dan berjalan keluar ruangan itu sambil membawa tasnya. Kai mengikuti kemana Hana bergerak dengan kedua mata bulatnya dan terheran ketika gadis itu berjalan keluar. Namun tak lama Hana kembali dengan pakaian Ballerina-nya dan berjalan menghampiri Kai.

“Mau melihatku menari?”, tanya Hana.

“Tentu!”, kata Kai sambil tersenyum. Ia segera membetulkan posisi duduknya dan memperhatikan Hana yang kini berjalan menuju sisi lain ruangan. Menekan satu tombol pada pemutar musik di pojok ruangan. Hana bersiap dan beberapa detik kemudian melantunlah nada-nada khas musik klasik.

Tubuh Hana bergerak dengan lembut mengikuti alunan musik piano. Tangannya dengan gemulai menyapu udara di sekelilingnya dan kakinya melompat-lompat sesuai dengan irama. Kai tersenyum memandangi Hana yang menari bukan hanya dengan tubuh tapi juga dengan hatinya. Memberikan Kai sebuah perasaan hangat walaupun udara di luar sana sangat dingin. Menyihir Kai dengan gerakan-gerakan professional.

Lagu itu masih berputar. Namun Hana segera menghentikan gerakannya dan berlari kecil menuju Kai.

“Kenapa berhenti? Tarianmu sangat indah padahal.”, kata Kai. Hana hanya tersenyum dan merogoh-rogoh sesuatu di dalam tasnya dan mengeluarkan sesuatu yang terbungkus dengan bungkusan berwarna perak. Hana segera membuka bungkusan tersebut dan kembali memakan isinya lalu mengambil air mineral dan meneguk air itu dengan cepat.

“Kau sakit?”, tanya Kai khawatir. Hana menaruh botol mineral di sampingnya lalu segera duduk. Mengatur napanya dan menggeleng.

“Tidak. Itu hanya vitamin. Aku lupa meminumnya tadi.”, kata Hana. Kai menyipitkan matanya ketika melihat Hana masih terus mengatur napasnya walau sudah lama terduduk.

“Bagaimana kalau sekarang kau yang menari? Aku ingin melihatmu!”, kata Hana sambil tersenyum dan menepukan dua tangannya senang. Kai tersenyum dan mengangguk. Ia segera berdiri dan mematikan lagu klasik tersebut, mengeluarkan ponselnya lalu memilih salah satu lagu disana. Ia kemudian meletakan ponsel itu di lantai dan sebuah lagu bernada cepat pun mengalun.

Hana melihat Kai menari dengan lepas diiringi lagu. Bukan sebuah lagu klasik. Melainkan lagu modern yang bertempo cepat. Jika Hana begitu lembut dan gemulai juga indah seperti angsa, maka gerakan Kai begitu cepat, tegas namun di setiap gerakannya, Kai memberikan sebuah perasaan tersendiri. Tarian hidup yang menghipnotisnya.

I got you~ Under my skin…

Iringan biola yang menggesek penuh arti mengakhiri lagu itu. Kai berhenti bergerak dan peluh terlihat mengucur di wajahnya.

“Kau tahu lagu itu kan?”, tanya Kai sambil tersenyum.

“Tidak. Tapi kau hebat!”, kata Hana sambil menepukan tangannya dengan sangat kencang dan cepat. Terpana dengan Kai.

“Kau tak tahu? Dong Bang Shin Ki?”, tanya Kai lagi memastikan.

Dan untuk kedua kalinya Hana menggelengkan kepalanya polos.

“~***~”

Hari itu, Kai hanya menghabiskan waktunya untuk duduk terdiam dan memperhatikan bagaimana Hana menari dengan indah. Kai tak menyangka kini ia dapat berbicara dengan perempuan yang hanya berani ia perhatikan dari jauh sejak dulu. Dan ternyata Hana lebih cantik jika dilihat dari dekat, membuat jantung Kai berdetak dengan cepat dan wajahnya terkadang memerah. Mereka memang baru bertemu hari itu, namun sudah banyak hal yang mereka ceritakan.

Pintu kayu ruangan itu tiba-tiba terbuka dan masuklah segerombolan anak-anak perempuan dengan meriahnya sambil tertawa dan bercanda. Namun mereka sontak terdiam saat melihat Kai yang sedang duduk bersandar di bawah jendela sedangkan Hana sedang menari. Kai yang menyadari tatapan sangsi teman-teman Hana, segera bangun dari duduknya dan mengambil tas sekolah beserta jas seragamnya.

“Hana-ya. Aku pamit. Sampai bertemu besok.”, kata Kai pada Hana yang sudah berhenti menari dan kini berdiri tak jauh darinya. Hana mengangguk lalu tersenyum dan membalas lambaian tangan Kai yang kini sudah berlari keluar ruangan.

“Aigoo Hana… Siapa pria itu?”, tanya salah satu temannya sambil tertawa diikuti teman-teman lainnya.

“Dia? Temanku.”, kata Hana sambil tersipu malu.

“Benarkah?”, tanya teman-temannya serempak sambil tertawa. Namun candaan mereka berhenti seketika ketika seorang perempuan setengah baya yang terlihat tegas namun cantik berjalan dengan cepat memasuki ruangan itu.

“Ganti baju kalian. Kita akan mengadakan pertunjukan akhir musim ini!”, teriak wanita yang berprofesi sebagai guru di tempat itu.

Semua anak kecuali Hana segera mengganti pakaian mereka. Tapi Hana justru berjalan menuju jendela dan melihat Kai yang sedang berdiri dan melambaikan tangannya penuh arti. Hana membalas lambaian tangan Kai dan setelah itu Kai segera berlari entah kemana dengan terburu ketika melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul setengah tiga sore.

“~***~”

Dua minggu sudah Kai habiskan untuk melihat Hana menari. Pada hari sekolah, Kai selalu pulang cepat dan segera berlatih menyelesaikan tugasnya sebagai Trainee dan bergegas menyusul Hana di tempat Ballet-nya. Sedangkan pada hari libur, Kai selalu menemani Hana setiap hari sampai perempuan itu selesai berlatih.

“Danau Angsa?”, tanya Kai bingung. Ia mengalihkan pikirannya yang terfokus pada tugas sekolah di pangkuannya setelah mendengar kata-kata Hana barusan.

“Iya. Tempat ini akan mengadakan Pertunjukan Ballet  Danau Angsa di penghujung musim gugur nanti. Dan aku ingin sekali mendapatkan peran sebagai Angsa Putih itu.”, kata Hana. Ia berjalan lalu terduduk di samping Kai.

“Dulu waktu kecil saat aku masih menari Ballet, aku pernah memerankan sang pangeran. Tapi akhirannya sangat tidak nyata. Harusnya sang pangeran bahagia bersama Angsa Hitam kan? Tapi saat itu ceritanya diganti agar bahagia… Hahaha konyol.”, kata Kai sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya mengingat masa kecilnya.

“Aku justru ingin pangeran itu berbahagia dengan Angsa Putih. Bukan yang hitam.”, kata Hana.

“Tapi kalau begitu kau pasti memerankan keduanya-kan?”, tanya Kai.

“Tidak. Karena murid kami banyak, Angsa Putih dan Hitam akan di perankan oleh dua orang yang berbeda.”

“Aku mendukungmu. Fighting!”, kata Kai sambil menyemangati Hana. Hana tersenyum dan merapihkan tasnya.

“Ayo kita pulang. Sudah hampir malam. Aku takut Eomma mengkhawatirkanku.”, kata Hana.

“~***~”

Kai berdiri di depan rumah Hana yang terlihat sangat mewah. Ini adalah kali pertamanya mengantarkan Hana ke rumahnya. Ternyata rumah Hana tak jauh dari tempat itu, hanya sedikit lebih terpencil dari jalan besar. Kai melambaikan tangannya pada Hana yang kini sudah berdiri di depan pintu rumahnya.

Tak lama kemudian Hana memasuki rumah itu dan menutup pintunya. Kai masih berdiri dan memperhatikan rumah Hana sebelum ia melihat dengan jelas siluet wanita yang ia yakini Ibu dari Hana sedang berlari lewat siluet yang tergambar dari tirai jendela. Nyonya Shin terlihat berlari menghampiri Hana dan memeluknya.

“Sepertinya Hana sangat di perhatikan.”, kata Kai. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya lalu dengan wajah tertunduk berjalan pulang.

“~***~”

Hari berikutnya, Kai tak datang lagi ke gedung itu. Ia terlalu sibuk dengan masalah sekolahnya yang terlihat menumpuk dan tak bisa ia tinggalkan. Dunia terasa menjadi suram ketika Kai tidak ada. Hana sering menunggu pria itu di jendela tapi Kai selalu pulang larut dan berangkat pagi sekali.

Terkadang Hana membayangkan sosok Kai berdiri di depan gedung dan tersenyum padanya. Tapi tetap saja bayangan itu tak pernah terjadi. Justru bayangan itu menghilang tertiup angin.

Suara tawa dan perbincangan teman-teman Hana tak membuat keadaannya membaik. Ia segera membuka tasnya dan melakukan hal yang biasa ia lakukan dan harus ia lakukan seumur hidupnya.

“Shin Hana.”, suara seorang wanita paruh baya terdengar mendekat. Hana segera mengangkat wajahnya dan menatap guru Ballet-nya itu, Kim Yo Rin.

“Ya Ma’am?”, tanya Hana.

“Selamat. Kau terpilih untuk mendapatkan peran Angsa Putih. Tarianmu bagus sekali saat tes tadi. Tapi kau harus banyak berlatih untuk gerakan 32 fouettés en tournant-mu. Karena tidak hanya Angsa Hitam yang akan menarikannya kau juga harus.”

Hana mengangguk antusias dan dengan senyum yang mengembang ia memperhatikan segala hal yang dikatakan oleh Kim Yo Rin.

Sayang Kai tak ada di dekatnya sekarang. Padahal Hana ingin sekali memberi tahu pria itu bahwa ia bisa menggapai keinginannya yang sejak dulu tak dapat ia raih.

“Tapi perhatikan kondisimu Hana-ya. Jika tidak bisa, teman-temanmu pasti bisa menggantikanmu.”

~***~

Setelah mendengar kata-kata guru Ballet-nya itu, Hana tak punya pilihan selain berlatih keras. Ia tak ingin melepaskan peran ini. Ia sudah menunggu bertahun-tahun untuk bisa terpilih karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Namun kini saat tawaran itu datang ia tak mau membuang kesempatan itu sia-sia.

Hana memperhatikan Lee Min Young temannya yang mendapatkan peran sebagai Angsa hitam. Ia dapat dengan cepat dan mudah melakukan gerakan 32 fouettés en tournant. Berbeda dengan Hana yang sangat sulit menguasai gerakan itu.

Dan ketika Hana mendapatkan gilirannya untuk menampilkan gerakan tersebut rasanya ia ingin sekali menangis. Ia butuh Kai untuk menyemangatinya.

BRUK

Tubuh Hana terhempas ke lantai saat ia salah melakukan gerakan itu. Teman-temannya segera berlari menghampiri Hana dan membantunya berdiri. Begitu juga dengan Kim Yo Rin yang dengan sigap mengambilkan sebuah air untuk Hana agar ia bisa lebih tenang.

Ma’am tolong beri satu kesempatan lagi. Saya pasti bisa melakukan gerakan itu. Sungguh.”, kata Hana sambil menangis.

Kim Yo Rin yang melihat anak didiknya seperti itu hanya bisa mengangguk dan menenangkan Hana. Ia segera merangkul Hana dan membawanya menaiki mobilnya dan mengantarkan Hana pulang. Ia butuh istirahat penuh. Kondisinya tak memungkinkan untuk memerankan peran itu yang mengharuskan Hana bergerak dengan sangat cepat.

~***~

Hari terus berlalu, sudah seminggu Hana tak melihat Kai. Ia masih berlatih setiap hari. Semakin hari gerakan Ballet-nya semakin bagus. Tapi Hana masih belum bisa melakukan gerakan fouettés en tournant dengan baik. Dan saat ia harus berlatih banyak, kondisinya justru semakin menurun. Hana segera mengambil bungkusan perak yang sebenarnya adalah obatnya dengan wajah lesu dan segera meminum obat itu. Ia melirik jam dinding dan melihat jam telah menunjukan pukul setengah sembilan malam.

Hana bangkit dari duduknya dan berjalan ke jendela. Memperhatikan jalan setapak di samping gedung tempat ia berlatih. Sunyi dan gelap. Namun tak berapa lama Hana melihat sosok seorang laki-laki berjalan melewati jalan itu. Dengan wajah lesu dan baju yang sudah kusut. Terlihat sekali laki-laki itu tampak lelah. Dan laki-laki itu adalah Kai.

Dengan cepat Hana membuka jendela ruangan tarinya dan meneriaki Kai dari atas.

“Kai!”, teriak Hana keras.

“Hana-ya!”, kata Kai yang segera membalas teriakan Hana sambil melambaikan tangannya. Wajahnya yang tadi terlihat lesu kini berubah menjadi lebih baik.

“Ayo kesini! Aku ingin bercerita banyak padamu!”, kata Hana.

Kai mengangguk. Ia juga sangat merindukan Hana. Sangat.

“~***~”

“Kau terpilih sebagai Angsa Putih? Selamat Hana!”, kata Kai sambil menepukan kedua tangannya dengan sangat kencang dan memeluk Hana.

Jantung Hana serasa ingin berhenti saat itu juga ketika Kai memeluknya. Hana hanya tersenyum dan mengangguk dengan wajah memerah.

“Tapi kau jangan terlalu memaksakan diri. Berlatihlah secukupnya. Jangan sampai saat pementasan kau justru sakit.”, kata Kai menyemangati Hana. Ia sangat senang hingga tak menyadari wajah Hana memerah.

“Kai. Kau kemana saja akhir-akhir ini?”, tanya Hana setelah ia dapat mengatur debaran jantungnya.

“Huh… Panjang ceritanya. Semester ini banyak sekali tugas yang harus di kerjakan berkelompok. Bahkan banyak ulangan. Aku pun harus banyak berlatih sebagai Trainee agar dapat dipilih untuk menjadi salah satu Member pada Group baru yang akan SM buat.”, kata Kai sambil mengusap wajahnya dan mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Kalau begitu, kau juga jangan memaksakan diri. Kau harus jaga kesehatanmu. Kau harus Debut sebagai artis nanti. Kai, Fighting!”, kata Hana memberi semangat.

Kai tertawa dan mengusap kepala Hana pelan. Hana hanya tersenyum dan memandangi mata Kai. Firasatnya buruk kali ini. Ia merasa waktunya dengan Kai akan semakin sedikit dan ia benar-benar tak akan melihat Kai lagi.

“Aku ingin melihatmu menari Hana.”, kata Kai. Hana mengangguk dan segera berjalan.

“Kau harus lihat! Aku akan menarikan tarianku dalam pertunjukan Danau Angsa nanti!”, kata Hana. Ia segera menyalakan lagu dan bergerak dengan indah.

Sungguh, tarian yang Kai lihat kini adalah tarian yang berbeda dengan yang lain. Ia tak pernah melihat tarian seindah ini. Hana dapat menyalurkan perasaan seekor Angsa Putih dalam tariannya. Namun Kai heran saat Hana berdiri dan bersiap-siap melakukan salah satu gerakan yang Kai ketahui karena ia cukup menguasai Ballet dulu dan mengingatnya sampai sekarang.

“Bukankah 32 fouettés en tournant hanya di lakukan oleh angsa hitam?”, tanya Kai sebelum Hana sempat melakukan gerakan tersebut.

“Benar. Tapi Ma’am Yo Rin mengatakan padaku bahwa di pertunjukan kali ini, Angsa Putih juga akan melakukan gerakan itu. Ia mengubah sedikit agar tidak terlalu sama dengan pertunjukan Danau Angsa yang lain.”, kata Hana. Kai mengangguk dan tersenyum saat melihat Hana begitu antusias melakukan hal ini.

Hana menarik napasnya dan bersiap-siap melakukan gerakan itu.

Namun, belum tiga puluh dua putaran, ia terjatuh ketika ia merasakan seluruh badannya sakit dan napasnya tidak teratur.

“HANA!”, Kai segera bangkit dari duduknya dan berlari menyusul Hana. Mengangkat tubuhnya menuju tas mereka berdua terletak dan membaringkan Hana dengan menaruh kepalanya di atas tas Kai.

“Hana! Kau tidak apa-apa?”, kata Kai panik ketika melihat Hana terlihat susah bernapas dan air mata menyeruak keluar membasahi pipinya yang pucat.

“Kai tolong ambilkan palstik berisi bungkusan perak di tasku. Tolong.”, kata Hana dengan susah payah. Kai segera mengambilkan benda itu dan melihat Hana memasukan isi bungkusan berupa kapsul kedalam mulutnya. Kai memberikan sebotol air mineral dan membantu Hana meminum benda itu.

“Kau bohong! Ini bukan Vitamin kan? Hana kau sakit!”, kata Kai dengan nada tinggi.

“Tidak.”

“Kau bohong!”

“Aku ingin pulang.”, kata Hana sambil mengusap wajahnya menyingkirkan air mata yang masih mengalir deras.

“Hana. Kau sakit apa!”, kata Kai.

“Tidak. Sungguh.”

Ponsel Kai berdering nyaring saat itu. Hana bernapas lega karena perhatian Kai teralih. Kai segera merogoh ponselnya yang berada di kantong celananya dan mengangkat telepon itu.

“Yoboseyo.”, kata Kai. Hana mengernyitkan dahinya saat mendengar suara perempuan dari balik telepon. Perempuan yang ia rasa seumuran dengannya. Hana segera bengkit dan terduduk, memakai jaketnya dan merapihkan isi tasnya.

“Iya. Aku akan menjemputmu besok. Tunggu ne?”, kata Kai. Hana menghembuskan napasnya. Suara Kai terdengar begitu lembut pada perempuan di balik telepon itu. Dengan cepat Hana segera berdiri dan berjalan keluar ruangan itu.

“Hana!”, teriak Kai yang segera mengambil tas dan mematikan sambungan teleponnya. Kai mengejar Hana dan memegang tangan gadis itu saat ia akan menuruni tangga.

“Kau mau kemana? Biar ku antar!”, kata Kai. Hana berjalan menuruni tangga namun Kai mengikutinya dari belakang. Bersiap melakukan sesuatu karena takut jika Hana terjatuh.

“Tadi temanmu? Atau kekasihmu?”, tanya Hana.

“Itu temanku. Kebetulan kami menjadi satu kelompok dalam tugas mata pelajaran sejarah. Hana-ya! Biar kau kuantar!”, kata Kai sekali lagi saat mereka sudah berjalan keluar dari gedung itu. Kai mengikuti Hana yang berjalan menuju rumahnya. Sedangkan Hana merasa hatinya sakit saat itu. Padahal itu hanya teman Kai. Tapi kenapa ia bisa tidak suka? Apa mungkin ia cemburu?

~***~

Kai berjalan di belakang Hana, mengikuti langkah perempuan itu yang terlihat lemah dan pelan. Hana sedari tadi masih belum bisa menghentikan deraian air matanya. Ia takut Kai mengetahui kebenaran tentang kondisinya. Ia juga takut jika tak bisa tampil dalam pertunjukan musim gugur nanti. Ia berlatih keras hingga penyakitnya sering sekali kambuh. Tapi apapun yang terjadi, ia ingin sekali menarikan tarian itu. Walaupun akhirnya tarian itu akan menjadi tarian yang terakhir untuknya.

“Hana.”, kata Kai dengan suara lembut.

“Maafkan aku tadi karena berbicara agak kasar padamu. Aku khawatir.”, kata Kai ketika ia mendengar Hana tak menjawab.

“Hana-ya.”, kata Kai yang segera memegang lengan Hana dan dengan cepat langkah Hana terhenti. Ia membalikan tubuhnya menghadap Kai dan tanpa di duga Hana segera menghambur dalam pelukan Kai dan menangis sekencang-kencangnya.

“Hana. Gwenchana?”, tanya Kai. Ia merasakan tangisan Hana dan napasnya yang sering terputus.

“Kai. Maaf karena aku berbohong padamu.”, kata Hana.

“Berbohong apa?”, tanya Kai. Ia mengelus lembut puncak kepala Hana.

“Benda itu buka Vitamin. Aku memang sakit. Harusnya aku tak boleh menari Ballet lagi. Tapi aku selalu melanggarnya. Aku sangat ingin menari. Aku tahu harapan hidupku kecil, tapi jika aku bisa aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan menari. Dan aku ingin kau juga terus menari sampai kapanpun.”, kata Hana dengan suara yang terisak.

Kai terdiam saat itu. Kenangan masa-masa lalunya saat belum mengenal Hana berkelebat di benaknya. Sejak awal ia melihat Hana, perempuan itu jarang sekali tersenyum. Ia hanya tersenyum pada Kai ketika ia lewat. Tapi selebihnya, ia selalu melihat Hana murung dan ia yakin Hana kesepian saat ini. Berbeda dengannya yang di kelilingi banyak teman dan keluarga.

“Kalau begitu aku akan menemanimu menghabiskan sisa hidupmu.”, kata Kai. Ia merasakan air matanya tak bisa ia tahan lagi. Ia memeluk Hana erat dan tak ingin melepaskannya.

“Maaf. Aku mencintaimu Kai.”

Ketika kata itu terlontar dari mulut Hana, Kai hanya bisa terdiam ia mengeratkan pelukannya lagi dan merasakan jantungnya berdebar lebih keras dari apapun. Ia tersenyum lebar dan merasakan hatinya hangat seketika walaupun kini hawa dingin musim gugur menembus kulit bahkan sampai ke tulangnya.

“Aku juga mencintaimu Hana. Menarilah sesuai dengan impianmu, dan aku dengan setia akan melihatmu walaupun dari jauh.”

~***~

Minggu berikutnya kondisi Hana semakin memburuk. Ibu-nya tidak berhenti menangisi Hana dari minggu lalu saat ia melihat Hana jatuh pingsan saat Kai mengantarkannya ke rumah. Nyonya Shin terlihat sangat berterima kasih pada Kai saat itu karena mengantarkan Hana pulang. Dan Hana tahu bahwa ia tak bisa mencintai Kai lebih lagi. Ia takut Kai akan bersedih karenanya nanti. Walaupun Kai belum tahu kebenaran tentang Hana.

Hana melangkah menuju bagian tengah ruangan tari itu dan bersiap-siap melakukan gerakan 32 fouettés en tournant-yang harus ia kuasai kurang dari seminggu. Karena sebentar lagi adalah akhir dari musim gugur sehingga ia harus tampil dengan baik walaupun Kim Yo Rin telah menganjurkan Hana untuk berehenti berlatih dan membiarkan anak murid lain menggantikannya. Tapi Hana menolak. Apapun yang terjadi, ia akan menarikan tarian ini. Tarian yang paling ia sukai sejak kecil.

Hanna mengangkat satu kakinya dan bersiap melakukan gerakan 32 fouettés en tournant  sebelum ia merasakan napasnya sesak dan dadanya sakit. Ia menggelengkan kepalanya mengacuhkan rasa sakit itu dan segera menari.

Tanpa ia ketahui, dari pintu yang terbuka sedikit itu, Kai berdiri memperhatikan Hana dengan lesu. Melihatnya yang melakukan gerakan sederhana namun sangat sulit itu. Kai tersenyum ketika Hana sudah melakukan putarannya yang ke tiga puluh dua. Namun saat Hana sudah berdiri tegak tak lama kemudian tubuhnya menghantam lantai. Kai dengan cepat berlari menuju Hana dengan wajah panik.

“Hana! Hana!”, kata Kai sambil menggendongnya menuju tas Hana terletak dan mengeluarkan obat dari tas itu lalu meminumkannya pada Hana. Napas Hana mulai teratur dan rasa sakitnya sedikit berkurang.

“Kai, aku berhasil melakukan tarian itu.”, kata Hana walaupun air matanya sudah mengalir deras.

“Bodoh! Kau menyakiti dirimu sendiri! Kondisimu tak memungkinkan Hana!”, kata Kai. Ia tak bisa menahan air matanya lagi ketika melihat Hana seperti ini. Kai memeluk Hana dengan cepat dan mengelus rambut perempuan yang tampak lemah itu.

“Jangan memaksakan diri. Aku tak ingin kau seperti ini Hana. Berhentilah. Kau tak perlu membuktikan pada orang banyak. Kau sudah menjadi penari terhebat bagiku.”

“Waktuku tak banyak. Dokter juga berkata begitu padaku, namun kalaupun aku memaksakan diri dan berakibat fatal, aku akan menerimanya. Karena aku ingin menari walaupun ini akan menjadi tarian terakhirku.”

“Aku berjanji akan berada di sisimu Hana.”

“Kai, aku ingin kau selalu mengingatku. Menceritakanku pada anak-anakmu kelak bahwa ada seorang penari Ballet sepertiku yang pernah hidup dan bernapas jika aku tidak ada.”

Dan ketika Pohon Maple di samping gedung itu bergemerisik di tiup angin dan cahaya matahari yang redup memasuki ruangan tari yang gelap itu, Kai dengan lembut menatap mata Hana yang terlihat bagaikan mayat dan mendekatkan wajahnya pada wajah Hana, mengecup dahi perempuan itu pelan dan lembut. Membiarkan air matanya semakin mengalir.

Karena apapun yang Kai lakukan, tak akan bisa mengubah takdir seseorang. Dan saat itu Kai memilih mendekap perempuan ini dengan erat sampai waktu perempuan ini berakhir.

~***~

Hari yang di tunggu telah datang. Hana terlihat semakin kurus dan pucat. Namun kecantikannya tak pernah hilang. Ia terduduk diam di ruangan tarinya pagi itu dengan wajah pucat pasi.

“Aku tak tahu harus bagaimana, tapi Chang Seon tak dapat hadir kali ini karena sakit, padahal ia harus memerankan Pangeran!”, kata Yo Rin dengan panik. Ia terus berjalan ke sana kemari sambil memegang kepalanya yang terasa pening. Seluruh anak didiknya termasuk Hana hanya bisa terdiam.

“Tok, tok, tok…”, suara pintu di ketuk terdengar. Tak lama kemudian sosok Kai terlihat. Ia tersenyum pada semua orang yang hadir di tempat itu. Yo Rin yang sudah terbiasa melihat Kai, balas tersenyum. Semua orang sudah tahu bahwa Hana sangat dekat dengan Kai, bahkan Kai kini sudah di perbolehkan datang kapan saja ke tempat itu untuk melihat Hana.

“Selamat pagi.”, kata Kai dengan ramah pada semuanya. Suasana yang tadinya terlihat canggung kini mencair karena sikap ramah Kai. Hana pun ikut tersenyum dan menyuruh Kai duduk di sebelahnya.

“Ada apa?”, tanya Kai pada Hana pelan selagi Yo Rin masih sibuk berpikir.

“Chang Seon tak dapat datang kali ini. Padahal ia yang akan memerankan Pangeran-nya.”, jawab Hana dengan suara pelan. Karena untuk bersuara saja ia sangat lemas. Kai yang mendengar suara Hana begitu pelan dan agak parau hanya bisa mengangguk dan menatap lantai di bawahnya. Ia menggenggam tangan Hana erat sedari tadi seakan takut kehilangan perempuan itu. Sejak tadi malam, perasaannya berubah aneh.

“Kai.”, Hana melepas genggaman Kai yang sontak membuatnya menoleh.

“Wae?”, tanya Kai.

“Bukankah kau dulu pernah menari Ballet  dan memerankan pangeran saat pertunjukan Danau Angsa? Kau mau menggantikan Chang Seon?”, tanya Hana.

“Mwo? Hana-ya, aku sudah lama sekali tidak menari Ballet.”, kata Kai tak percaya. Ia sudah lama sekali tidak menarikan tarian itu walaupun ia masih mengingat dengan jelas gerakan-gerakannya.

“Kumohon. Pertunjukan akan dimulai pukul tujuh malam nanti. Dan sekarang masih sangat pagi Kai-ah. Kau bisa berlatih.”, kata Hana. Kai menatap mata Hana lekat-lekat. Perempuan itu benar-benar terlihat ingin menari dalam pertunjukan. Kai hanya bisa mengangguk dan tersenyum.

“Ya. Aku akan menggantikan Chang Seon.”

Hana tersenyum senang sekali saat itu. Kai yang melihat Hana tersenyum tak bisa menahan kebahagiaannya sendiri karena akhirnya ia bisa melihat senyum itu terukir lagi di bibir Hana yang mungil.

Ma’am. Kai bisa menggantikan Chang Seon di pertunjukan ini.”, kata Hana pada Yo Rin yang masih berpikir keras. Yo Rin yang mendengar kata-kata Hana menatap Kai dengan senang sekaligus tak percaya.

“Aku masih mengingat gerakan-gerakan dalam Ballet dan akan berlatih dengan cepat dan benar.”, kata Kai dengan yakin.

“Benarkah? Terima kasih Kai! Kau benar-benar menolong kami.”, kata Yo Rin sambil mendekati Kai dan menggenggam tangan pria itu.

Tak hanya Yo Rin yang terlihat begitu gembira, namun juga semua anak yang berkumpul. Mereka menatap Kai dengan senang dan penuh rasa berterima kasih. Sama dengan Hana. Namun perasaannya mengatakan ada sesuatu yang salah pada dirinya. Dan ia hanya berharap agar ia bisa tampil dengan baik malam ini.

~***~

Pantulan diri Hana terukir jelas di sebuah kaca yang terletak di belakang panggung gedung pementasan mereka. Wajahnya telah dirias dengan sangat cantik. Rambutnya tersanggul indah dihiasi dua hiasan bulu-bulu putih dan sebuah gaun Ballet yang sangat cantik. Kulitnya yang pucat menambah kesan anggun dalam dandanannya.

Kai yang juga sudah terlihat tampan dengan kostumnya mendekati Hanna dan duduk dengan pelan di sampingnya.

“Kau siap?”, tanya Kai.

“Ya.”, jawab Hana singkat.

“Hana. Entah kenapa aku takut sesuatu terjadi padamu.”, kata Kai.

“Apapun yang terjadi nanti. Aku tak akan menyesal. Aku akan  membawakan tarian ini dengan baik hingga dapat di kenang oleh semua orang.”, kata Hana sambil tersenyum.

Kai memeluk Hana erat. Jika ada sesuatu yang terjadi pada Hana, Kai belum mengetahui hal apa yang harus ia lakukan. Namun jika memang benar Hana harus pergi. Kai akan berada di sisinya pada saat-saat terakhir. Kai melepaskan pelukannya dan berdeham pelan ketika Yo Rin mendekati mereka.

“Ayo. Sebentar lagi pertunjukan akan di mulai. Kai terima kasih karena mau membantu kami. Aku berharap banyak padamu dan Hana.”, kata Yo Rin sambil tersenyum. Ia memeluk Hana erat dan menepuk pundak Kai pelan lalu pergi.

“Kau siap?”, tanya Kai untuk yang terakhir kalinya.

“Sangat dan selalu.”, jawab Hana.

Kai tersenyum lalu menggerakan tangannya untuk menggenggam tangan Hana erat. Berjalan bergandengan tangan bersama menuju tempat di balik tirai dan menunggu takdir membawa mereka.

~***~

“Hana. Giliranmu.”, teriak Yo Rin dari pinggir panggung. Hana dengan cepat berlari kecil khas seorang Ballerina menuju ke tengah panggung yang di penuhi cahaya lampu sorot. Dan kemudian piano mengalun…

Selembut angin musim gugur yang berhembus pada saat itu, Hana menggerakan seluruh tubuhnya. Menari mengungkapkan perasaan seekor Angsa Putih yang rapuh dan membawakan sebuah perasaan damai namun kesedihan bagi orang-orang yang melihat. Hana membuka matanya yang sempat tertutup saat ia menari dan melihat orang tuanya yang sedang melihatnya dengan haru.

Jika ini adalah tarian terakhirnya, maka Hana akan melakukan dengan sangat baik. Bahkan melebihi apapun. Karena hidupnya adalah untuk menari. Di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri. Kemudian tak lama setelah itu Kai datang dan meraih tangan Hana. Menari bersama.

Perasaan Kai tercurahkan dari setiap gerakannya. Perasaannya kepada Hana dan perasaan tak ingin kehilangannya. Ia menggerakan tubuhnya yang terbiasa dengan tarian modern itu menjadi lembut namun tegas. Seperti seorang Pangeran rupawan. Ia menggerakan tubuhnya dan menari dengan indah bersama Hana. Sangat romantis dan mengubah suasana penuh cinta.

Hana merasa sangat bahagia saat itu. Ia merasakan bahwa ini adalah hal yang paling penting dalam hidupnya. Menari bersama Kai. Dan ia tak akan melupakan hal ini sampai kapanpun.

Gilirannya selesai dan dengan cepat ia berlari sambil menari menuju pinggir panggung. Ia menarik napas dengan susah payah setelah berhasil berdiri di belakang panggung. Hana memegang tirai panggung dengan susah payah dan melihat Min Young yang berpakaian khas Angsa Hitam memasuki panggung dan berdansa dengan Kai.

Berbeda dengan Hana yang sangat lembut dan rapuh, Min Young memberikan kesan yang tegas dan licik dalam tariannya. Hati Hana terasa sakit ketika melihat Min Young menari dengan begitu mesranya bersama Kai. Inilah perasaan yang ia takutkan. Melihat orang yang ia cintai bahagia bersama orang lain.

Begitulah cerita Danau Angsa. Ketika sang Pangeran salah memilih sang Angsa Hitam dan akhirnya Angsa Putih mati dalam kesedihan. Jatuh ke dalam jurang yang dalam. Hana melihat dengan jelas gerakan Min Young saat ia melakukan 32 fouettés en tournant begitu lihai dan mudah. Perasaan sedih dan takut merayapi Hana. Ia merasakah dadanya sakit dan ia susah bernapas lagi.

Satu tetes air mata menyeruak keluar dari matanya. Ia takut jika ini adalah hari terakhirnya. Ia ingin bersama Kai. Ia tak ingin Kai bersama orang yang salah. Namun seperti akhirnya sebuah cerita. Angsa Putih harus melepaskan orang yang ia cintai.

Min Young berjalan keluar panggung. Kini bagian terakhir bagi Hana dalam tariannya setelah menunggu. Akhir tragis yang harus ia dapatkan dan terima.

Hana berjalan memasuki panggung dan menari. Mengungkapkan rasa sedihnya dan sakit yang kini ia rasakan di tengah-tengah lampu sorot. Kai melihat Hana dari belakang panggung dengan khawatir. Hana terlihat kesakitan saat itu dan Kai hanya terdiam tanpa bisa membantu Hana.

Jantung Kai berdetak takut ketika melihat Hana bersiap melakukan gerakan 32 fouettés en tournant. Kini Hana berdiri dan mengembuskan napas.

Lalu dalam iringan dentingan piano, cahaya lampu sorot dan konfeti yang jatuh dari langit-langit bagaikan salju, Hana menari dengan indah. Melakukan gerakan 32 fouettés en tournant yang paling indah. Memberikan perasaan sedih dan tak ingin menghilang dari dunia ini. Membawa haru dan tangis pada orang-orang yang melihat pertunjukan itu.

32 Putaran yang Hana lakukan membawa sebuah memori, rasa sakit yang harus ia terima saat melawan penyakit jantung dan pernapasan yang ia harus lalui semenjak lahir. Merasakan jantungnya berdetak dengan pelan dan terasa sakit juga paru-parunya yang sulit memompa udara. Hana memejamkan matanya dan air mata mengalir dari pipinya.

Ini akhir dari hidupnya? Hana hanya tersenyum. Ia akhirnya dapat menari dengan indah di depan banyak orang. Memperlihatkan sebuah tarian yang sangat ia sukai dan berakhir sama dengan hidupnya sendiri.

Putarannya berhenti dengan indah. Ia memundurkan tubuhnya dan berlutut bertepatan dengan berakhirnya suara piano. Tirai merah tertutup, Standing Applause dari orang-orang yang menyaksikan pertunjukan indah itu terdengar memenuhi ruangan dan satu detik kemudian tubuh Hana terjatuh menimpa lantai panggung yang dingin. Matanya masih sedikit terbuka dan yang dapat ia lihat dan dengar terakhir kali adalah Kai yang berteriak panik dan datang ke arahnya. Memeluknya dengan air mata yang berlinang.

“Kai, Sarangahe…”, Hana mengumpulkan kekuatannya yang masih tersisa untuk mengucapkan kata-kata itu dalam hembusan napas yang terputus dan detakan jantung yang lemah.

“HANA!”, teriak Kai ketika mata Hana tertutup untuk selamanya. Menitihkan air mata.

Seperti Angsa Putih yang kehilangan arah, Hana mengakhiri perjalanan panjangnya. Ia tak pernah menyesal ketika melihat Kai sejak pertama kali memperhatikannya di luar gedung. Menari di hadapannya dan menari bersamanya untuk yang pertama dan terakhir. Karena Hana yakin bahwa perjalanan hidupnya tak pernah sia-sia ketika Kai disisinya.

Hana berdoa di nafas terakhirnya agar Kai dapat terus menari sampai kapanpun dan mengenangnya sebagai perempuan yang pernah Kai cintai.

“Semoga impianmu tercapai Kai. Aku sangat mencintaimu.”

~***~

Kai duduk terdiam di sebuah kursi berwarna merah. Menatap kosong ke depan dimana terletak panggung megah yang penuh dengan cerita kesedihannya di tempat yang sangat sepi itu.

Kini tak ada lagi perempuan yang menyambutnya di sebuah jendela yang terletak di pojok sebuah gedung berbata merah. Angin musim gugur pun harus ia lewati tanpa ada seseorang di sisinya. Terkadang Kai masih sering pergi ke gedung itu dan mengunjungi Yo Rin juga teman-teman Hana dulu.

Penyakit jantung dan pernapasan yang di miliki Hana akhirnya membawa perempuan itu pergi untuk selamanya. Kai menundukan kepalanya kebawah dan sebuah perasaan sedih kembali singgah. Ia menangis terisak menyesali kebodohannya. Jika ia tak menerima tawaran Hana menjadi Pangeran dalam pementasan itu, Hana pasti masih hidup sampai sekarang. Namun, ia tak tega menghancurkan harapan Hana. Bahkan ia baru mengetahui penyakit apa yang sebenarnya terjadi pada Hana ketika pemakaman.

Kai menghapus air matanya dan menatap ke depan, ia terkejut ketika melihat seorang perempuan berdiri dengan kostum Angsa Putih di panggung. Sedang menari dengan indah. Namun ketika ia berkedip, bayangan itu hilang seketika.

“Hana tak mungkin kembali.”, kata Kai sambil berjalan gontai keluar dari ruangan itu.

Daun Maple berguguran saat itu. Memang sudah satu tahun kejadian itu berlalu, dan hari ini bertepatan dengan satu tahun meninggalnya seorang Shin Hana, namun tak sedikitpun kenangan itu hilang dari benaknya. Kai masih berjalan menyusuri Kota Seoul diiringi teriakan anak-anak perempuan yang melihatnya. Kai kini sudah berhasil mewujudkan mimpinya. Ia terpilih menjadi salah satu Member pada Group baru yang SM luncurkan beberapa bulan lalu.

“Itu Kai EXO-K!”

“Benarkah?”

“Dimana?”

“Astaga itu Kai.”

Kata-kata bahkan teriakan para Fans tak ia hiraukan saat itu. Ia masih saja berjalan menuju sebuah taman di sekitar gedung pertunjukan itu dan terduduk pada sebuah kursi taman. Merapatkan jaketnya dan menatap kosong ke langit. Menatap Hana yang sudah berada jauh di atas sana.

“Hyung, Hyung…”, sebuah suara anak laki-laki berumur 5 tahun di sertai tepukan di tubuh Kai membuatnya duduk tegak dan melihat seorang anak laki-laki berdiri di depannya. Rambut anak laki-laki itu sangat pendek dan tubuhnya sedikit gemuk.

“Ada apa?”, tanya Kai sambil tersenyum kepada anak itu. Kai mengelus lembut kepala anak itu dan melihat anak itu mengeluarkan sesuatu dari balik kantong celananya.

“Ini untukmu. Tadi ada seorang perempuan cantik yang memberikannya padaku. Katanya ini untukmu.”, ucap anak laki-laki tadi.

Kai menatap benda di tangan anak itu.

Bulu Angsa Putih.

“Kau mendapatkan ini dari siapa?”, kata Kai dengan wajah terkejut. Ia menatap anak di depannya dengan penuh tanda tanya.

“Dari perempuan yang berdiri di sana.”, Kai mengikuti arah tunjuk anak itu dan tidak mendapati siapapun. Hanya taman yang sepi dan anak-anak yang berlarian kesana kemari.

“Tidak ada siapapun.”

“Sungguh. Hyung tak melihat Noona yang cantik itu? Ia berdiri di sana.”

“Tidak ada.”, kata Kai menggeleng.

“Yah… Ia sudah pergi.”

Anak laki-laki itu kemudian menarik tangan Kai dan meletakan Bulu Angsa itu.

“Minho!”, teriak sebuah suara perempuan dari jauh. Rupanya anak laki-laki yang sedari tadi bersama Kai itu bernama Minho. Perempuan yang memanggil Minho berlari mendekat dan membungkuk terburu-buru di hadapan Kai.

“Maaf. Maafkan Adikku.”

“Min Ah Noona! Ayo pulang!”, teriak Minho pada perempuan bernama Min Ah di sampingnya.

“Ye. Awas kalau kau pergi lagi.”, kata Min Ah sambil menggandeng tangan Adiknya erat.

“Kau Kakaknya?”, tanya Kai.

“Iya Maaf.”, kata Min Ah. Ia mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk dan terkejut saat melihat Kai di hadapannya.

“Kau Kai EXO-K?”, tanya Min Ah terkejut.

“Ya.”, jawab Kai sambil tersenyum.

“Senang bertemu denganmu.”, kata Min Ah dengan gugup.

“Min Ah Noona sangat menyukai EXO-K.”, kata Minho dengan polos.

“Diam kau.”, kata Min Ah sambil memukul pelan kepala Minho yang di sambut dengan ringisan dan tertawaan dari Kai. Min Ah dengan cepat ingin berpamitan sebelum Minho dengan cepat menarik jaket yang Kai kenakan.

“Hyung! Noona yang cantik itu melambai ke sini!”, kata Minho menunjuk sebuah arah. Kai kembali melihat namun tak ada apapun yang ia lihat.

“Minho, kau melihat lagi?”, tanya Min Ah khawatir.

“Melihat?”

“Adikku mempunyai kelebihan tersendiri sejak kecil.”

“Ah! Itu! Noona itu terbang! Ia bilang ia mencintaimu Hyung.”, Minho sibuk menunjuk ke atas langit diikuti oleh Kai. Dan ketika itu sebuah bulu Angsa Putih yang lain terjatuh entah dari mana tepat di atas Kai. Kai mengambil bulu itu dan tersenyum.

“Aku juga mencintaimu Hana.”

“Hyung mau membeli Ice Cream bersama?”, ajak Minho pada Kai yang sedang menggenggam bulu Angsa itu.

“Tentu.”, jawab Kai ramah.

“Ayo!”, kata Minho yang kemudian berdiri di antara Min Ah dan Kai lalu memegang kedua tangan orang itu dan berjalan.

“Aku suka sekali saat melihat mu menari.”, kata-kata dari Min Ah membuka pembicaraan tersendiri antara dirinya dan Kai.

“Benarkah? Gomawo.”, kata Kai sambil menggaruk tengkuknya.

“Iya. Aku sangat menyukaimu ketika menari.”, kata Min Ah.

“Kau orang kedua yang secara langsung mengatakan itu padaku.”

“Kedua? Aku kira sudah banyak yang mengutarakan itu.”

“Tidak. Kau kedua setelah orang yang kucintai dulu.”

Mereka berjalan di sebuah taman yang sepi. Kai tak tahu kemana takdir akan membawanya kini. Namun apapun yang terjadi sesuai dengan permintaan Hana, ia tak akan melupakan perempuan bernama Shin Hana. Ia akan menceritakan Hana kepada anak-anaknya, lalu cucu-cucunya bahkan jika ia masih hidup juga cicitnya dan seluruh orang yang ia kenal. Bahwa ada seorang penari Ballet  yang sangat cantik dan berbakat bernama Shin Hana yang mampu menarikan Ballet dengan hati. Dan yang paling penting adalah perempuan yang suka termenung di sebuah jendela di gedung tua yang membuatnya jatuh hati.

-Kkeut-

Author’s Note: I just wanna say lot of thanks for all of you that already read this fanfic. Hope that you will give me a comment or like? See you next time^^

**

THANKS FOR READING  WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL  JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @DebDebyanca NO PLAGIRISM.

If you’re interested of becoming our official author or freelance author, please seehttps://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

2 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Dancing Souls”

  1. Cynthia March 30, 2013 at 6:02 PM Reply

    Nice 😀

    • Dreamcreampiggy April 1, 2013 at 3:46 AM Reply

      Thanks for reding^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: