EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 16

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Just Like You”

 

*Title : Just Like You

*Part : 16

*Main Cast :

ë  Kris Wu

ë  Kim Hyeon

ë  Kim Sun Hye

*Length :  Series

*Genre : Romance

*Rating : PG 13

*P.S :  Ini adalah karya original by YuanFan. Dilarang keras untuk mem-plagiat dan mencopas tanpa seijin author

leave comment please

*Sinopsis : Kris dan Hyeon sama-sama mengetahui tentang latarbelakang keduanya menikah, dan mulai menyadari perasaan satu sama lain. Namu, dilain sisi Hyeon memutuskan untuk bercerai dari Kris. Dia merasa telah berhutang pada Kris.

*Disclaim :

SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

Hyeon POV

“Hyeon-ah…”

Chanyeol tiba-tiba memelukku dari belakang saat aku mencuci piring setelah sarapan usai. Aku memukul tangannya dan dia melepaskan lengannya dari pinggangku.

“Kau sangat menyebalkan,” umpatku kemudian memaksanya membawa piring bersih yang selesai kucuci. Chanyeol memanyunkan bibirnya.

Aku dan Chanyeol sepakat untuk melanjutkan sekolah di Jepang. Berhubung bahasa Jepang-ku dan dia sangat jelek, akhirnya Appa memutuskan kami bersekolah ke sekolah yang mayoritas siswa Korea. Luhan? Dia sibuk pulang pergi Korea untuk menyelesaikan pendidikannya yang hampir lulus, untuk menghindari Kris dan Sun Hye, Luhan tak tanggung-tanggung pindah sekolah.

“Luhan Oppa!” panggilku, saat melihatnya membuka pintu luar.

“Kau mau kemana?? Ayo, bantu aku membersihkan rumah. Kau liburkan??” suruhku memaksanya. Dia tampak sedikit jengkel, aku tahu dia sangat malas tapi aku selalu memaksanya dan berhasil.

Dia menutup pintunya lagi dan mengurungkan niatnya untuk pergi. Aku tersenyum kemenangan. Chanyeol yang berdiri disampingku memasang tampang cengonya. Selesai membersihkan seluruh rumah, aku membuatkan mereka segelas coklat hangat untuk udara sedingin ini dan sebagai tanda terimakasihku.

“Gomawo,” ucap mereka sambil merebahkan diri disofa.

Appa dan Omma sibuk dengan pekerjaan baru mereka. Rumah yang ditinggali Appa dan Omma di Jepang semula berantakan sekarang menjadi lumyan rapi berkat bantuan mereka berdua.

“Yah, kalian berdua.” Mereka melihatku dengan wajah penasaran.

“Sampai kapan kalian akan begini? Aku terlalu banyak merepotkan kalian,”

“Ani~, aku tak pernah merasa begitu. Aku senang berada didekatmu,” Kata Chanyeol.

Aku tersenyum mendengar pernyataannya. Luhan mendekatiku kemudian dia merengkuh pundakku halus.

“Kami akan menemani sampai kau benar-benar kembali tersenyum,” katanya.

“Aku sudah bisa tersenyum,”

“Palsu,” tukas mereka berdua, aku mendengus sebal.

“Jeongmal gomawo,” ucapku penuh haru.

Untuk kesekian kalinya aku bertatapan mata dengan Chanyeol. Matanya masih sama dengan matanya yang dulu. Aku memalingkan wajahku, menghindari sesuatu yang mengusik hatiku.

“Aku akan membuatkan kalian cemilan,” kataku kemudian beranjak menuju dapur.

Sebelum aku benar-benar berjalan, Chanyeol menyalakan televisi. Jantungku berhenti seketika, aliran darahku rasanya menyumbat seluruh badanku dan menekannya keluar kulit, membuat sakit sekujur tubuhku. Pertunangan Kris dan Sun Hye, dua anak pengusaha kaya. Pantas menjadi berita heboh dikalangan orang pembisnis.

“Akan segera ku ganti,”

“Ani,” potongku sebelum Luhan benar-benar menekan remote control.

“Aku tak apa, tak usah seperti itu. Aku senang mereka berdua bersama. Ini artinya bebanku berangsur menghilang,”

Chanyeol tiba-tiba beranjak dari kursinya dan menyeretku menjauh, dia membawaku keatap rumah yang terbuka. Dia menatap mataku. Aku tak mengerti, ada apa dengannya.

“Katakan padaku, kau sakit hati,” paksanya dengan nada menekan.

“Aku tak merasakannya,”

“Kau bohong, Hyeon-ah. Aku mengenalmu bukan 1-2 tahun, kita sudah bersama sejak lama. Kau mau membohongiku. Kau mencintai mantan suamimu, Kris! Mengakulah,”

“Aku memang mencintainya, tapi aku juga bahagia dia menemukan orang yang tepat. Aku tak akan menghambat jalannya, lagipula dengan begitu orangtuaku tak ada urusan lagi dengann mereka,” aku menunduk lalu menatap mata Chanyeol dengan wajah tanpa ragu.

Dia masih mematung menatapku. Aku tahu, dia tak ingin aku terluka, tapi… aku sudah mencoba ikhlas. Aku berjalan selangkah mendekati Chanyeol kemudian membelai pipinya lembut dan berjalan menuju pintu masuk.

“Tunggu,” Chanyeol menahan tanganku lalu menariknya, tepat kedepannya dan menciumku lembutku. Aku setengah terkejut.

“Kau tahu, aku sudah mengikhlaskanmu untuk Kris hyung. Namun, bila begini akhirnya… kembalilah padaku,” katanya.

Aku mundur selangkah darinya.

“Kau tahu, kau dan Kris adalah dua namja yang tak akan pernah tergantikan dalam hatiku, dan untuk memilih kalian berdua sungguhlah sulit. Tapi aku juga tau, hal itu sangat serakah. Chanyeol-ah, bila kau menawarkan hal itu membuatku ingin kembali ke masa lalu,” ucapku, semuanya dari dasar hatiku.

“Lalu? apakah kau mau kembali padaku?”

“Aniya… aku bukan yeoja yang baik untukmu. Pilihlah orang lain, bukan aku,”

“Aku tak bisa,”

“Bisa, hanya kau belum mencoba. Jangan melakukan hal yang sia-sia lagi,” aku mendorong Chanyeol menjauh memberiku ruang untuk berjalan meninggalkannya.

Aku tak mungkin kembali padanya, dia bukan tempat servis alat yang bisa kita datangi saat kita butuh dan setelah kita sudah kembali berfungsi, kita akan meninggalkannya. Bila rusak atau patah maka kita akan kembali lagi. Aku tak pernah menganggapnya seperti itu.

“Chanyeol-ah… temukan seseorang yang benar-benar mencintaimu.” Aku meninggalkannya senyuman, lalu berbalik dan kembali kedalam.

Kris POV

Setelah pertunangan ini, aku merasa beban dipundakku semakin berat. Aku kembali ke ruangan pribadiku yang disiapkan untukku. Aku pergi sebelum pesta selesai, aku sama sekali tak merasakan bahagia disana. Kulonggarkan dasi dan kemejaku, melempar sembarang jasku ke sudut ruangan dan duduk selonjor disofa yang menghadap taman hijau yang luas.

“Kau meninggalkan pesta…” gumam seseorang yang tanpa permisi masuk.

Aku mendesah berat dan meneggelamkan badanku kesluruh badan sofa. Yeoja itu duduk disampingku dan membelai wajahku lembut.

“Nikmatilah hari ini,” katanya lembut.

“Mama…” aku menegakan badanku dan memandang Mama dengan pandangan memintanya mengerti keadaanku.

“Aku tau, Kris. Tapi hal ini yang harus kau lakukan. Kalau kau menggagalkannya, kau akan menyiksa Hyeon dan semakin membebaninya,”

“Mama, kau tak tau apa—“

“Aku tau, Kris,” Mama membelai pipiku lembut dan memandangku teduh. Aku hanya ingin dia tau aku sangat sakit dengan semua ini.

“Kris… Bukan hanya kau yang merasakan sakitnya ini semua. Hyeon juga, dia juga membayar hal yang sama untuk kebebasannya,”

Mama tersenyum lembut padaku. Benar. Dia juga merasakan hal yang sama terhadapku, tapi apakah benar dia mencintaiku sedalam aku mencintainya? Ada Chanyeol didekatnya sekarang, yang mungkin lebih mengerti daripada aku, dan lebih bisa diharapkan. Tidak dipungkiri juga, Luhan akan menjadi seseorang yang nyaman bagi Hyeon. Ahh… aku pusing. Tak berapa lama ponselku bergetar. Luhan.

“Mama keluar sebentar,” Mama mengelus bahuku halus, lalu meninggalkanku sendiri. Aku mengangguk mengiyakannya.

“Hello?” sapaku datar.

“Chukkae atas pertunangan kalian,” suara Luhan tampak ceria, atau pura-pura ceria.

“Tak usah memberi selamat padaku, kau menyindiriku?” aku tersinggung dengan ucapannya yang jelas-jelas tak tepat.

“Sinis sekali,” aku mendengar suara lain, suara yang kurindukan. Aku membeku ditempatku. Hyeon. Ya, itu suaranya. Aku lega walaupun hanya mendengarnya.

“Yah, Kris. Kau akan cepat tua bila menjadi pemarah seperti itu,” katanya. Rasanya aku ingin menangis.

“Apa kabar kau disana?” tanyaku.

“Selamat atas pertunanganmu,”

“Bagaimana kehidupanmu disana?” aku tak peduli dengan ucapan selamatnya. Terdengar suara tawa kecilnya, aku bisa membayangkan wajahnya.

“Aku sangat baik disini. Kau tak perlu khawatir, aku juga bahagia,”

“Bahagia ya?”

“Kris… kita menempuh hidup kita masing-masing. Kau tak boleh seegois itu.”

Aku tak peduli dengan nasehatnya. Apa dia tak tau, aku hampir gila karena merindukannya??! Aku sekarat saat dia meninggalkanku. Aku hampa tanpa omelannya dan caciannya. Apa dia tak merasa hal yang sama?!

“Hyung-ah…” aku mendengar suara berat mengganti suara Hyeon. Sial, Chanyeol mengangguku.

“Ne? Jangan ucapkan selamat untukku juga, atau aku akan mencarimu dan mencekikmu,” ancamku, aku mendengar gelak tawa keras disana.

“Aniya. Aku hanya ingin mengatakan, jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Jaga dirimu baik-baik disana.”

“Gomawo, Channie-ya. Aku sangat merindukan kalian, dan dirimu, Hyeon-ah.” gumamku pelan. Hening tak ada suara yang terdengar. Lama, sampai beberapa menit. Aku tak mencoba menutup teleponku, aku tau mereka juga menungguku bicara.

“Kris…” aku tersenyum mendengar suara Hyeon.

“Dimana Sun Hye?” sial. Kenapa pertanyaannya menurunkan mood-ku.

“Diluar,”

“Kau tak bersamanya?”

“Kau pikir??”

“Ah~ kau sewot lagi…” desahnya kelihatannya sangat sebal.

“Baiklah aku tak akan bertanya lagi,” katanya.

“Hyeon-ah… kapan kau kembali?” tanyaku seperti mengambang di antara nyata dan mimpi.

“Aku akan sesekali berkunjung ke Korea. Tenang saja. Oia, apakah Lay oppa datang di pertunanganmu?”

“Entahlah. Aku tak tau, aku tak melihat wajah satu persatu orang. Semua terlihat sama bagiku. Hanya wajahmu,”

“Kau gila, Kris,” desisnya.

“Luhan Oppa ingin bicara padamu,”

“Aniya~, aku hanya ingin bicara denganmu.” Tolakku.

“Yah! Kenapa kau jahat sekali padaku??” terdengar suara Luhan memelas.

“Kau tak merindukanku juga? aku kan  pacar pertamamu,”

“Kau menjijikan Luhannie,” dengusku sebal.

“Kris…” aku menoleh pada sumber suara. Sun Hye membuka pintuku pelan dan berjalan berlahan kearahku.

Aku terganggu sekali dengan kehadirannya. Aku melihat ponselku sekilas lalu menekan tombol “uncall” kemudian tersenyum singkat padanya.

“Aku mengganggu?” tanyanya. Aku hanya menggeleng pelan.

Dia duduk disampingku, kemudian menyandarkan kepalanya dibahuku. Aku diam saja tak berontak.

“Aku sangat bahagia hari ini,” gumamnya. Aku hanya mendengarkannya saja.

“Kau?” tanyanya.

“sama saja,” jawabku.

Dia menegakan badannya dan melihat kearahku. Aku tetap pada posisiku, menghadap lurus ke depan.

“Kau masih memikirkan Hyeon?” tanyanya.

“Kau menanyakan hal yang sudah kau ketahui jawabannya,” aku menyeringai meliriknya sebentar.

“Kris, bagaimanapun perasaanmu. Aku akan membuatmu jatuh cinta dengan caraku sendiri.”

Aku memandang lurus wajahnya. Dia tampak serius dengan ucapannya. Aku tersenyum menanggapinya. Dia tetap menengang memandangku. Hyeon. Satu nama itu tak akan tergantikan bila dia tau hal itu.

Hyeon POV

Luhan memandangku seraya menggedikan bahunya padaku dan Chanyeol. Aku tau maksudnya, Kris menutup teleponnya. Aku hanya tersenyum lalu mengambil kembali ponselku.

“Aku mendengar suara Sun Hye…” gumam Luhan. Aku memandangnya.

“Syukur kalau begitu, kita tak usah menganggu mereka.”

Aku mendengar Luhan menghela nafasnya.

“Kau sakit?” tanyaku menggodanya.

“Kau kurang ajar,”

Aku mendengar Chanyeol tiba-tiba tertawa, kami berdua melihat Chanyeol dengan pandangan ganjil. Chanyeol kemudian terdiam, lalu kami berdua giliran tertawa tekekeh melihat wajah cengo Chanyeol.

“Wae??” tanyanya polos, kami semakin terkakak.

Sebulan sudah aku meninggalkan Korea. Berangsur kehidupanku membaik, Appa dan Omma mulai dengan bisnis barunya, aku sesekali membantunya mengurusi kompartemen yang kini sudah direnovasi ulang. Keadaannya jauh lebih baik. Dua minggu yang lalu, Chanyeol dan Luhan sering pergi kesana diam-diam, mereka melihat yeoja seksi yang bertebaran disana. Dengan wajah polos mereka tak mengaku padaku. Tapi aku berhasil menangkap basah mereka.

“Kau sekarang tak bisa lagi melihat sexy girls…” sinidirku pada mereka berdua.

Mereka memanyunkan mulutnya.

“Tapi…” gumam Chanyeol.

“menurut kami, kaulah sexy girl yang sesungguhnya,” dia menyeringai melihatku.

“Sial,” umpatku.

“Sebulan lagi aku ujian, aku akan menghabiskan waktu di Korea untuk fokus. Lalu kembali ke Jepang untuk melanjutkan kuliahku.” Kata Luhan.

“Emh, baiklah…” aku mengangguk.

“Aku minta satu hal, selama itu. Kau harus menemaniku disana,”

Hah??! Apa dia bilang?? Menemaninya di Korea. Aku melirik Chanyeol yang semakin membulatkan matanya.

“Aniya~, aku nanti bolos sekolah.” Tolaku.

“Kumohon, hanya satu minggu pertama dan terakhir. Kau tau, aku tak akan sanggup disana sendirian,”

Aku mengerti maksudnya. Dia tak akan tahan melihat Sun Hye yang sudah menjadi milik seseorang. Dia tak dapat memilikinya. Aku kembali memandang Chanyeol, dia mengangguk padaku.

“Aku akan mencatat untukmu, agar kau tak akan ketinggalan pelajaran.” Kata Chanyeol menepuk pundakku halus sambil mengangkat satu alis matanya. Aku merengutkan dahiku meminta penjelasannya.

“Tenanglah… kau akan naik kelas bersamaku,” katanya lagi. Dia menyetujui aku ikut dengan Luhan.

“Aku pasrah.” Gumamku rendah.

“Gomawo,” seru Luhan lalu memelukku gemas. Menyebalkan, padahal aku ingin menghilang dari Korea.

Setelah makan malam, aku kembali kedalam kamarku. Aku duduk ditepi tempat tidur dalam waktu yang lama. Chanyeol dan Luhan tampak masih ramai dengan Appa dan Omma. Kami sudah seperti keluarga.

“Kris…” gumamku.

Aku merindukannya, aku menginginkannya. Tapi tak mungkin. Aku melihat kalender yang terpasang di dindingku. Sebulan lagi dia akan menikah, rasanya ada yang menusuk dalam hatiku. sakit sekali. Aku mendengar suara pintu kamarku terbuka. Appa, aku tersenyum menyambutnya. Dia duduk disebelahku lalu merengkuh bahuku lembut.

“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya.

Aku menggeleng.

“Kris?”

Aku melihatnya sekilas lalu menggeleng. Aku tak mungkin berterus terang padanya. Aku malu mengakuinya.

“Bukannya, Appa dan Omma sudah mengatakan… kami akan bangkit lagi dan melunasi seluruh hutang dengan keluarga Kim Hana. Agar kau bisa mengejar cintamu…”

“Aniya, Appa. Aku tak mau menengok kebelakang. Bila semua sudah terlampaui, aku ingin melampauinya dan meninggalkannya.”

“Sayang…” gumam Appa, dia mengelus punggung tanganku lembut.

“Bila kau telah melampaui semua ini, apakah kau bisa melihat masa depanmu?” tanyanya. Aku memandang Appa dengan tatapan tak mengerti.

“Kau hanya bisa merencanakan masa depanmu. Kau tak akan pernah tau siapa yang berdiri di sana. Bahkan bila Kris ternyata yang menjadi masa depanmu, kau juga tak akan tau. Maka dari itu, semua kemungkinan itu bisa saja terjadi.”

“Ne~, ara. Tapi, bila aku yang berbalik mengejarnya aku tak mau.”

“Kau terlalu gengsi seperti Omma-mu…” Appa mencubit hidungku gemas.

“Ya, Appa. Bagaimana pendapatmu tentang Luhan dan Chanyeol?”

Appa mengerutkan dahinya, lalu tersenyum padaku.

“Sebagai menantu?”

Appa mulai menggodaku. Aku menyenggol bahunya gemas.

“Mereka sangat baik, aku harap mereka bisa menjadi bagian keluarga kita. Mereka namja-namja muda yang jarang ditemui sekarang ini. Kau menyukai salah satu dari mereka?”

Aku hanya tersenyum, andai Appa tau bahwa perjodohannya dengan Kris membuat aku dan Chanyeol harus berpisah.

“Aku senang kau mempunyai orang-orang yang sangat menyayangimu. Appa menerima mereka dengan senang hati. Asal kau bahagia,”

“Aku akan selalu bahagia disamping Appa dan Omma,”

Bagaimanapun keadaannya…

Kris POV

Aku merasa ada yang kurang dalam sebulan ini. Hyeon… juga Luhan. Aku tak tau bagaimana bisa semua hari-hariku yang biasa menjadi rumit seperti ini. Aku mendengar beberapa bisikan sepanjang aku berjalan dikoridor kelas. Aku bisa menebak apa yang mereka kasak-kusukkan. Aku tetap berjalan santai seraya menyedot susu kotakku.

“Chagi-ya…”

Sial. Kenapa disaat seperti ini dia datang? Aku membalikan badanku, Sun Hye sudah berdiri dibelakangku. Aku tersenyum seadanya padanya.

“Ayo kita makan siang,” ajaknya.

“Aku sudah makan, kau sendiri saja,” tolakku halus.

“Aniya~ temani aku,” dia mulai merengek.

Aku menghela nafasku dan mengangguk terpaksa. Sun Hye tersenyum cantik sekali, mungkin orang yang melihatnya bisa meleleh karenanya. Dia menggelayut dilenganku sepanjang perjalanan ke kantin. Andai aku bukan Kris Wu mungkin saja, seluruh laki-laki disini tak akan membiarkanku pulang dengan selamat karena telah menggandeng pujaan mereka.

“Kau makan apa?” tanya Sun Hye saat kami sudah berada di Kantin. Beberapa pasang mata melihat kearah kami.

Aku sempat mendengar seseorang berceletuk, “mereka pasangan yang serasi.ya…” dan aku sama sekali tak menyukai komentar itu.

“Aniya~, aku sudah bilang… aku sudah makan,” aku tersenyum padanya lembut. Dia mengangguk mengerti kemudian pergi memesan makanan.

Hampir setengah jam lebih aku menungguinya menghabiskan makanannya. Berulang kali dia mencoba menyuapkan makanannya padaku, dan berulang kali pula aku menggeleng. Dia memasang wajah sebal yang ber-aegyo, aku tersenyum kecil melihatnya.

“Luhan-oppa!” seru seseorang yang membuatku menoleh kearah anak itu. Dia menunjuk kesuatu arah.

Aku mengikuti tangannya yang menunjuk, dan aku menemukan sosok Luhan yang berjalan dikoridor kelas. Aku segera beranjak.

“Kau mau kemana?”

Aku tak mempedulikan protes Sun Hye dan teriakannya memanggilku. Aku mencoba mengejar Luhan. Dia berjalan terlalu lincah dan aku kehilangan dia saat di belokan koridor. Sial, kemana dia?? Aku berhenti memandang kesana-kemari, tak kutemukan lagi sosok Luhan.

“Sedang apa kau? Mencariku?”

Aku membalik badanku. Luhan berdiri tersenyum padaku. Kami saling berjalan mendekat, seperti kekasih yang lama tak bertemu.

“Kau semakin tampan,” katanya.

Aku mendengus, aku tau dia menghinaku secara halus.

“Bagaimana kabarmu?” tanyaku.

“Baik, aku tak perlu menanyakan kabarmu kan?” tanyanya seraya menyeringai padaku. Aku kembali menyeringai. Mau tak mau aku merangkulnya gemas saat berjarak beberapa centi dariku.

“Kau sangat merindukanku? Kau mencurigakan,” dia meliriku dan mendengus geli.

“Kau tak menanyakan kabar Hyeon?” tanyanya. Aku melihat senyuman jail dimatanya.

“Kau menanyakan hal yang sangat kelihatan jelas,” aku mulai bosan.

“Luhan-ah… kau menghindariku?” tanyaku.

Dia menelengkan kepalanya dan memasang wajah seakan tak mengerti apa ku tanyakan  padanya.

“Kau pindah sekolah ‘kan? Bukannya kau masih tetap sekolah di Korea?”

Dia tertawa kecil dan mengangguk padaku.

“Kau benar,” hanya itu yang dia katakan, kemudian berjalan meninggalkanku.

Aku mengikuti langkahnya.

“Aku selesei mengurus kepindahanku dan mutasiku dari Korea. Aku akan kuliah di Jepang.” Katanya dengan tetap lurus memandang depan.

“Kau yakin? Apa alasanmu kuliah disana? Sun Hye?” aku menekankan kata terakhir yang kuucapkan. Dia tersenyum dan menggeleng.

“Lalu?”

“Kau tahu sendiri jawabannya Kris,”

Apa? Aku tahu. Aku segera memegang pundaknya dan membalikannya padaku. Luhan membeku didepanku dengan wajah polos tak berdosa.

“Hyeon?” tanyaku lambat.

Dia diam lama, aku tahu jawabannya pasti tidak. Setahuku bila dia sudah menyukai seseorang selamanya akan tetap satu itu. Sun Hye-lah yang membuat Luhan pergi, aku sedikit merasa bersalah.

“Ne~”

Aku mendongak dan menatap mata Luhan dalam-dalam. Aku tak percaya dengan jawaban yang keluar dari bibirnya.

“Benar, karena Hyeon aku ingin tinggal di Jepang juga.”

“Kau mulai menyukainya?” aku menekankan nadaku.

“Aku sudah mengatakan sejak awal, kalau aku juga menyukai Hyeon. Andai bukan status istrimu, aku akan merebutnya darimu,”

Luhan sungguh-sungguh mengatakan hal itu? atau hanya…

“Kau balas dendam padaku? Karena Sun Hye?”

“Aniya~. Bukannya dulu aku pernah mengatakan bahwa aku menyukai Hyeon. Dan perasaan ini semakin membesar,”

Aku mengepal tanganku menahan amarahku. Ingin sekali dia kuhabisi dan meninju wajahnya. Apa-apaan dia?!

“Jangan dekati Hyeon,” ancamku.

“Itu hakku,”

“Aku akan mengambilnya lagi,” desisku.

“Luhan-ah?”

Kami berdua membalikan badan kebelakang. Tampak Sun Hye tersenyum manis dan berlahan berjalan kearah kami.

“Apa kabar?” tanyanya saat dia mendekati Luhan dan mengulurkan tangannya. Luhan menyambutnya dengan senyuman manis.

“Baik, sangat baik.” jawab Luhan seraya melempar satu tatapan penuh arti padaku.

Aku mendengus melihatnya.

“Aku tak bisa lama-lama, aku harus bertemu dengan kepala sekolah. Annyeong,” pamitnya tanpa menunggu jawaban kami dia pergi begitu saja.

Aku berdiri mematung menatap punggungnya, aku masih tak percaya dengan apa yang dia katakan. Luhan menyukai Hyeon?

“Kris, ayo kembali ke kelas…” Sun Hye menggelayuti lenganku, aku menunduk melihatnya kemudian mengangguk.

Hyeon POV

Baru kali ini aku mengunjungi tempat tinggal Luhan. Disebuah apartemen kecil, hanya untuk dirinya sendiri. Kedua orangtuanya di Cina, dia sudah belajar hidup mandiri sejak SMP. Begitu ceritanya padaku. Rumahnya cukup rapi untuk ukuran laki-laki yang tinggal sendiri.

“Kau menunggu lama?” aku mendengar suara Luhan yang baru saja memasuki ruang tengah.

“Aniya…maunya  aku beres-beres kamar yang akan kutempati. Tapi kamar disini hanya—“ aku menunjuk satu ruangan yang bernotabene kamar Luhan.

“Ne~ kamar di sini hanya satu. Tapi cukup besar.”

“Tetap saja satu kamar. Aku bisa tinggal di—“ aku tercekat. Tinggal dirumahku yang lama, itulah yang ingin kuucapkan tadi. Tapi, aku sadar itu bukan rumahku lagi.

“Aku bisa tidur dirumah temanku,” aku meralatnya.

“Aniya~, tidurlah disini. Aku tak akan berbuat macam-macam. Sungguh…” Luhan membentuk seyuman imut dan tanda V dengan jarinya.

“bagaimana kita tidur?”

“Seranjang?”

“Yah! Yang benar saja!”

“Hahaha… aku bisa tidur di sofa depan.”

“Tidak akan efektif, kau akan kelelahan karena posisi tidurmu. Kau harus banyak istirahat untuk ujian.” Aku memberikan alasan yang tepat, lalu menyeringai.

“Kalau begitu kita seranjang…”

“Aniya~…”  kami berdua terlonjak kaget karena adanya suara lain.

Aku terbelalak melihat sosok baru yang berdiri dibelakangku. Luhan menyeringai hampir seperti mengejek.

“Tidurlah dirumah. Kau kira aku akan membiarkanmu tidur berdua dengan Luhan? Andwe,” Kris tampak sinis. Darimana datangnya?? Dia mirip setan.

Aku ingin  menolaknya.

“Disana ada Mama dan Papa, lebih aman,” katanya.

“Kamarmu cukup banyak kan? Bekas kamar Sun Hye? Di pakai oleh Paman dan bibi?” tanya Luhan.

Kris mengerutkan dahinya bingung.

“Aku juga akan tinggal disana. aku akan tidur berdua denganmu… Kris…” Luhan menyeringai tampak merasa menang.

“Sial,” aku mendengar Kris mendengus tak senang.

“Aku sudah tinggal di rumah Sun Hye. Jadi, kau bisa memakai kamarku sendiri, Luhan-ah…”

Aku terdiam. Tinggal dengan Sun Hye? Kenapa jantungku berdetak tak senang. Rasanya sakit sekali, lebih sakit dari pada kau dibanting dari lantai 100 sepertinya. Aku memandang Kris yang tak menatapku. Aku tersenyum kecil alih-alih rasa kecewa dan sakitku.

“Tak perlu repot, Kris-ah…” kataku. Dia mendongak kaget, sebelumnya aku selalu memanggilnya Krissie.

“Aku akan menginap disini saja. Lagipula Luhan oppa macam-macam padakupun  kurasa tak ada masalah. Kami berdua juga akan menikah.”

Kris memelototkan matanya. Kata-kata bodoh itu meluncur begitu saja dari mulutku, aku memandang Luhan meminta pengertiannya. Dia tersenyum padaku, dia tau aku sangat cemburu.

“Terserahlah…” ucap Kris akhirnya, kemudian membalikan badan dan pergi tanpa pamit.

“Jangan menangis…” Luhan mendekatiku dan kemudian memelukku.

Aku tak menyadari airmataku deras mengalir. Semuanya rasanya kebas, aku tak bisa merasakan apapun. Sakit sekali. Aku hanya diam mematung membayangkan bayangan terakhir punggung Kris yang masih terpaku dimataku. Aku sadar, aku benar-benar mencintainya. Sangat.

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT  😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @yuanitasugianto @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged:

10 thoughts on “EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 16

  1. Jung Hyun Mi February 5, 2013 at 12:20 PM Reply

    wow o.o

  2. Cynthia February 6, 2013 at 12:34 PM Reply

    aq kok pinginx hyeon sm chanyeol trs kris ma sun hye??
    tp terserah author dehh…
    ditgu part selanjutx 😀

    • yuanfanwu February 7, 2013 at 5:15 AM Reply

      alurnya kek sinetron jadinya. haha.
      wah, chanyeol ma hyeon??
      saya pertimbangkan, hhe
      tapi moga ga bosenin.

      gomawo udah baca.. tunggu part selanjutnya yaa 🙂

  3. Jung Hyun Mi February 7, 2013 at 12:36 PM Reply

    oke thor,, sorry buat comenan pertamaku yang aga bego+culun -_-
    soalnya cuman comen wow aja ._.v
    comenan asli nih
    pas kemarin2 liat blog ini kaget udah ada ni ff kombek u.u
    ya secara mian ne saya kurang ajar ga komen2 di ff sebelumnya
    ya saya ngaku saya SR neh..
    mian ye thor
    tapi nanti saya usahain bakalan comen..
    dan 1 klimat aja ya thor:
    SAYA MAU KRIS SAMA HYEON AJA !! OKE THOR (y)
    udah segitu aja
    wassalam

    • 1authorexo1st February 9, 2013 at 4:38 AM Reply

      haha.. gomawo udah baca terus.
      emang agak lama updatenya. agak sibuk. /ciele/
      wah, gimana kalo Chanyeol ma Kris ma saya aja. /tendang/
      SR paan? hahaha.
      oke tunggu part selanjutnya 😀

  4. yeojachingukris February 9, 2013 at 11:39 PM Reply

    lanjuuutt

  5. rosesyeah February 22, 2013 at 4:58 PM Reply

    krishyeon plissssssshhhh ;——;

  6. fazriyah March 10, 2013 at 12:26 AM Reply

    kelanjutan ceritanya mana ? Part selanjutnya chingu..^^~ udah nunggu dari bulan feb.. Huhu..*lebay bange* hahaha

  7. choi hye rin March 18, 2013 at 5:50 PM Reply

    part selanjutnyaa donggggg….

  8. Dinidink June 28, 2013 at 1:16 PM Reply

    Eo,kasian hyeon.. dann eh, itu beneran luhan suka hyeon juga *?* kalo iy enak banget makk, disukain sm tiga cowo.. *bagi atu napa -.- * tp jgn de, luhan sm sunhye aja..
    Itu apaan lagi luhan ke kris, pacar pertama o.O ckckck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: