EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 15

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Just Like You”

 

*Title : Just Like You

*Part : 15

*Main Cast :

ë  Kris Wu

ë  Kim Hyeon

ë  Kim Sun Hye

*Length :  Series

*Genre : Romance

*Rating : PG 13

*P.S :  Ini adalah karya original by YuanFan. Dilarang keras untuk mem-plagiat dan mencopas tanpa seijin author

leave comment please

*Sinopsis : Kris dan Hyeon sama-sama mengetahui tentang latarbelakang keduanya menikah, dan mulai menyadari perasaan satu sama lain. Namu, dilain sisi Hyeon memutuskan untuk bercerai dari Kris. Dia merasa telah berhutang pada Kris.

*Disclaim :

SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

Hyeon POV

Aku duduk diam diantara Lay Oppa dan Chanyeol. Luhan duduk tepat dihadapanku. Aku melirik jam dinding masih pukul 9 malam. Masih kurang 3 jam lagi pesawat yang dipesan Lay oppa akan berangkat. Aku mengetuk-ngetukan jariku pada lututku, sesekali mendesah lelah.

“Oppa… aku membencimu,”bisikku pada Lay oppa untuk kesekian kalinya. Dia hanya tersenyum simpul dan berdecak geli.

“Aku tak pernah merencanakan hal ini,” gumamnya pelan, aku mendesis tak percaya.

“Tapi kau membocorkannya pada Chanyeol dan Luhan, sama saja kau merencanakannya.” Kataku sinis. Lay oppa malah terkekeh melihatku.

“Kau lucu sekali. Kau harus mengucapkan ‘selamat tinggal’ pada orang-orang yang selama ini membantumu bukan?” katanya dengan wajah tanpa dosa.

“Sial. Tapi mereka tak akan tinggal diam,”

“Kau akan tetap pergi, tenang saja. Aku tak akan membiarkan tiket pesawat yang ku beli itu sia-sia,” dia bergumam padaku, aku menautkan alisku tanda tak percaya. Dia hanya menggedikan bahunya, seakan berkata ‘terserah kau,’.

“Hyeon-ah…” panggil Luhan.

Aku menoleh tanpa menjawabnya dengan sepatah katapun.

“Bersikaplah sedikit dewasa, jangan kau lari dari Kris lagi. dia sangat menyayangimu, dia akan gila tanpamu,” tambahnya. Aku melirik Chanyeol yang ada disebelahku, dia mengangguk menyetujui perkataan Luhan. Aku memalingkan wajahku darinya. Kemudian aku merasakan belaian lembut punggung tanganku.

“Kau tak bisa selamanya lari, aku ingin kau bahagia,” kata Chanyeol.

“Kalian tahu? Kalian sudah merusak hal yang membahagiakan dalam hidupku,” tukasku. Chanyeol dan Luhan menatapku bingung.

“Aku tak pernah lari, aku menyelesaikan masalah ini. Dan hal ini membuatku bahagia, tapi kalian menghambatnya,” tambahku.

“Kau lari dan membohongi perasaanmu sendiri?!” Lay Oppa memandangku tajam.

“ Aniya… kau tak bisa seperti ini. Kau sudah dewasa, meninggalkan Kris secara diam-diam akan membuat luka padanya. Jadi, kupikir kalian harus bertemu dulu sebelum kau memurtuskan untuk pergi. Selesaikanlah masalah kalian berdua,”

Aku memandang Lay Oppa, aku tak akan mungkin melakukan hal itu. Aku akan terjebak pada perasaanku lagi. Aku tak mau. Lebih baik dia membenciku karena meninggalkannya daripada harus bertemu dengannya.

Kris POV

Baru kali ini aku membantah dan membentak Mama dan Papa. Mereka melihatku seakan tak percaya. Nafasku tersengal menahan amarahku yang memuncak.

“Kris sayang bisa kau duduk dan tenang?” tanya Mama membujukku. Aku tetap berdiri, mengepalkan tanganku. Aku tak ingin lebih marah dari ini.

“Ma, Pa, kalian sudah cukup keterlaluan?!! Apa yang kalian rencanakan sebenarnya?! Uang?! Aku sama sekali tidak menyangka bila kalian—“ aku tak sanggup meneruskan kata-kataku.

“Hyeon menyetujuinya,” kata Papa, aku memandangnya garang.

“Tentu saja dia menyetujuinya! Tentu saja! Dia tak akan pernah melawan, tak akan pernah! Kalian sekejam itu pada menantu yang telah menjaga dan merubah anakmu ini?!”

“Kris… kau tak tahu latar belakang dari semua ini—“

“Aku mengetahuinya,” potongku

“Sangat jelas. Aku mengetahuinya dengan sangat jelas. Perjanjian kalian yang membuat kami menikah dan karena perjanjian kalian pula kami dipisahkan?!” teriakku marah.

Aku tak sanggup menahan rasa marah ini, sangat sakit rasanya. Aku tak akan bisa sanggup. Aku menghenyakan tubuhku disofa, meremas kepalaku dan mengacak rambutku berharap rasa pusing dan sangat tak nyaman ini bisa hilang. Mama mendekatiku dan merengkuh pundakku.

“Kalian tahu… betapa aku tak ingin kehilangannya, aku tak ingin dia meninggalkanku, aku tak ingin dia jauh dariku. Kalian harus tahu, betapa aku sangat mencintai Hyeon… istriku…” aku hampir terisak, dadaku rasanya sangat sakit. Aku tak sanggup menahan ini, sakit sekali rasanya.

“Kami tak bisa berbuat apa-apa lagi,” ucap Mama seraya membelai punggungku halus.

“Andai kami mempunyai pilihan lain, Kris. Papa pribadi sangat menyukai Hyeon… tapi, kau tahu utang Keluarga Kim dipulihkan kembali. Uang yang Papa bayarkan untuk membayar utangnya dianggap tidak berlaku karena dianggap hibah,”

“Yah! Harusnya ada pembelaan, sekalipun Hibah tetap saja itu uang keluarga Kim! Sudah hak mereka,”

“Kau tahu Keluarga Kim Hana adalah keluarga pemegang saham terbesar dimanapun, semuanya tak berkutik dibawahnya. Kau harus paham itu, Nak. Orangtua Hyeon adalah teman dekat keluarga kita, bila kita tak mengikuti aturan keluarga Kim Hana, bisa jadi mereka dalam bahaya,”

Aku bisa mencerna kata-kata Mama, tapi ini bukan drama ataupun cerita film. Ini kenyataan. Pasti ada jalan dari semua ini.

“Aku tetap menolak. Aku sangat mencintai Hyeon—“

“Kami tahu, tapi Hyeon sendiri mengerti keadaan kami dan keluarganya. Dia setuju dengan apa yang kami lakukan,”

Aku memandang lurus mata Papa. Jadi selama ini yang membuatnya berubah adalah masalah ini??? Dan sedikitpun dia tak pernah menceritakannya padaku, apa yang dipikiran anak itu sebenarnya, aku sama sekali buta tentang masalah ini.

“Aku harus menemui Hyeon…” gumamku.

“Setahuku, dia akan berangkat ke Jepang menemui orangtuanya,”

Jepang?! Aku menatap Mama dan Papa tajam. Ada yang berdetak sakit dalam hatiku, sangat sakit.

“Mengapa kalian tak memberitahuku dan malah menahanku disini?” aku mulai habis kesabaran. Aku beranjak dari hadapan kedua orangtuaku, seraya menyambar kunci mobil Papa yang tergeletak di meja.

“Kris! Kau mau kemana?!” teriak Papa, aku hanya diam pura-pura tak mendengarnya. Aku hampir gila memikirkan ini semua, semua pikiranku tertuju pada Hyeon.

Aku mencoba menelepon Luhan berulang kali. Tapi tak ada jawaban sama sekali. Kubanting ponselku pada jok sebelah kemudi dan segera menghidupkan mesin mobil.

“Hei, Kris! Kau mau kemana?” Papa menggedor kaca mobil, aku diam tak menjawab.

Aku mendengar seseorang membuka pintu belakang kemudian menutupnya kasar.

“Kami ikut,”

Aku melirik Mama yang sudah duduk manis dijok belakang seraya menyilangkan lengannya didada. Aku menghela nafas berat, kemudian Papa ikut duduk disebelah Mama membuatku menyerah.

“Terserah kalian,” gumamku sebal seraya mulai melajukan mobil.

Hyeon POV

Aku sudah tak tahan dengan sikap mereka. Jam sudah berjalan hampir menunjukan pukul 12 tepat. Aku akan benar-benar batal berangkat ke Jepang. Berulang kali aku memandang Lay oppa berharap dia akan memberi pencerahan padaku, tapi dia hanya tersenyum manis. Senyumnya sangat tak ku butuhkan. Jantungku berdebar hebat, aku merasa akan terjadi sesuatu yang besar nanti.

“Bisakah kalian hentikan semua ini?” aku memecah keheningan.

Chanyeol memandangku tajam dan menggeleng.

“Kau tak bisa pergi kemanapun lagi,” katanya. Aku menelan ludahku, wajah Chanyeol membuatku kaku, untuk pertama kalinya aku melihat raut garang di wajahnya. Aku mencoba membalas tatapan lebih garang lagi. Aku harus segera pergi.

“Kalian tak bisa menahanku.” Kataku tajam. Ada ekspresi wajah kaget diwajah Chanyeol.

“Apa kalian akan menjamin hidupku? Apa yang akan kalian lakukan untukku? Kalian tak mengerti apa yang selama ini kualami. Akulah yang mengerti mana yang terbaik untukku bukan kalian,”

“Hyeon-ah… kau sedikitpun tak menceritakan apapun pada kami. Kau memendamnya sendiri,” timpal Luhan, dia tampak sedang memainkan sesuatu diponselnya.

“Ini masalahku, bukan kalian,” kataku lebih tajam.

“Tapi, ini juga masalahku juga,”

Jantungku berdegup kencang, darahku rasanya mengalir deras kesekujur tubuhku. Aku memalingkan wajahku kesumber suara. Nafasku tersengal. Kris berdiri didepan tepat didepan pintu. Dia melangkah cepat dan menarikku dari tempat dudukku.

“Kau gila!” marahnya memelukku erat. Aku tak bisa menolaknya, tubuhku kaku.

“Jangan lakukan ini padaku,” gumamku.

Aku merasakan Kris melonggarkan pelukannya, dia sedikit mendorongku lembut kebelakang dan menatap mataku. Aku tak bisa membalas matanya yang seperti itu.

“Kris, aku harus pergi—“

“Andwe,” potongnya menekan.

“setelah aku bersusah payah mencarimu dan hampir gila karena kehilanganmu, kau mau memintaku menyerah? Yah, Luhan-ah, apakah sangat sulit bagimu mengangkat telepon dariku?” Kris berteriak pada Luhan, aku melirik Luhan yang sedikit terkejut kemudian dia tersenyum malu.

“Mianhe, aku tak tahu. Tapi aku segera mengirimkan pesan padamu,” Luhan membela diri. Kris mendengus geli dengan pandangan tetap kearahku.

“Jangan pergi lagi,” ucapnya seraya membelai pipiku lembut.

Aku mengeraskan rahangku dan menepis tangannya dari wajahku. Aku melihat kedua mertuaku mematung dibelakang kami.

“Kalau kalian menyayangiku, harusnya kalian membiarkan aku pergi. Hanya aku yang bisa menjamin hidupku sendiri,” kataku memandang mereka yang ada diruangan secara bergantian.

“Kau takut, Hyeon-ah?! pada Keluarga yang menganggap dirinya paling berkuasa itu?!!” Kris sedikit membentakku.

“Kita mempunyai hak untuk memperoleh kehidupan kita, mereka bukan dewa yang mengatur kita!”

“Seandainya aku mempunyai kekuatan, aku tak akan pernah pergi. Bila memintaku tinggal, lalu apa jaminan kehidupan orangtuaku yang berada di Jepang? Mereka akan tersiksa dengan tekanan dari keluarga Kim.” Mataku panas, nafasku tersengal, rasanya ada yang menyumbat tenggorokanku.

“Biarkan aku pergi Kris,” aku memohon pada Kris.

“Hyeon-ah… maafkan Mama tak bisa  membantu apapun,” Ibu mertuaku meraih tanganku yan bebas dan menarikku dalam pelukannya. Airmataku mengalir begitu saja, rasanya sangat menyakitkan.

“Aniya… kalian sudah banyak membantuku sejak pertama aku menjadi bagian dari keluarga kalian. Aku tak pernah menyalahkan siapapun, ini yang harus dijalani,” aku menlonggarkan pelukanku, kemudian mengalihkan pandanganku pada Kris.

“Apakah aku suami yang tak bertanggungjawab?” tanyanya miris.

“Aniya… Sayang. Kau sangat baik, terlalu baik malah. Tak ada namja sepertimu yang kukenal selama ini,” aku memaksakan senyummu, Kris mendengus kesal padaku.

“dasar keras kepala kau, Hyeon-ah…”

Perjanjian itu berlaku bila aku menyetujui untuk melepaskan marga Wu-ku. Aku diam memandang kertas itu lama, kemudian mencoretkan tandatanganku disana. Hal terberat yang kualami. Tapi, bukan berarti aku akan berhenti sampai disini.

“Lay oppa, aku menitipkan ini bila kau pulang ke Korea nanti,” aku menyerahkan amplop coklat yang kupegang.

“Pulang?” tanyanya seraya mengambil amplop dari tanganku. Apa yang dia tanyakan? Aku tak mengerti.

“Aku tak akan pernah meninggalkan Korea,”

“Kau mau membiarkanku tersesat di Jepang nanti??!” tanyaku berang.

“Ada yang menemanimu, tapi bukan aku…” aku membelalakan mataku.

“Aku terlalu sibuk.”

“Sial, kau Oppa!” umpatku. Lay oppa hanya terkekeh lalu memelukku lembut.

Sun Hye POV

Aku menghela nafasku lelah, duduk di sebuah kursi tunggu dan memainkan i-pad-ku. Kumaka ice cream yang kupesan tadi menghilangkan rasa suntukku. Tapi dilain sisi aku merasa sangat bahagia. Kris dan aku akan bertunangan, aku akan menjadi istrinya.

“ Kau bahagia, Nona?” tanya seorang paruh baya, ditangannya memegang sebua gaun merah menyala, indah, tapi mencolok.

“Aniya…”

“Wajar saja, kau akan bertunangan makanya kau bahagia,” timpalnya dengan senyum menggodaku. Kurasakan wajahku panas.

“Ani… tapi, yang paling menyebalkan karena aku harus mencoba seluruh gaun dibutik ini, hampir tiga jam aku disini.” aku memanyunkan bibirku padanya.

“Nona, kenapa kau tak mengajak calon tunanganmu. Bukannya itu lebih baik, ada yang menemanimu.”

Aku tak tahu harus menjawab apa. aku hanya tersenyum simpul saja, kemudian mengambil gaun yang dipegangnya dan mencobanya di kamar pas. Alih-alih menyembunyikan rasa bimbangku.

Setelah menghabiskan waktu hampir 3 jam lebih, akhirnya aku mendapatkan beberapa gaun yang akan kupakai dalam pesta pertunanganku besok lusa. Aku sangat bahagia, tapi ada yang mengganjal dalam hatiku. Benarkah Hyeon dan Kris akan bercerai begitu saja? Apakah Kris akan menerimaku sebagai istrinya kelak? Aku sedikit tersentak saat ponsel didalam kantong tasku bergetar.

“Yeoboseo?”

“Ini Luhan…” aku mendengar suara namja yang lembut.

“Ne~, ada apa Luhan-ah?”

“Aniya… aku hanya ingin berpamitan denganmu. Aku harus pergi dalam waktu yang cukup lama.”

Aku diam sejenak, mencerna kata-kata Luhan.

“Kau mau kemana?” tanyaku, entah kenapa ada sebelah hatiku yang sedikit kecewa.

“Aku akan ke Jepang untuk beberapa bulan kedepan , mungkin bahkan bisa setahun.” Suaranya tampak sedikit cerah dan menceriakan.

“Bukannya kita belum lulus sekolah?”

“Ne~, aku tahu. Aku akan kembali mengikuti ujian akhir, lalu aku akan kembali lagi.” katanya. Aku masih terdiam.

“Luhan-ah. tidak bisakah kita bertemu langsung?” tanyaku.

“Aniya, kurang beberapa menit lagi aku akan pergi.”

Aku ingin menangis, tapi aku tak tahu apa sebabnya.

“Ah, iya. Ada salam dari Hyeon dan Chanyeol. Mereka tak sempat berpamitan denganmu. Mereka berdua berangkat ke Jepang tadi dini hari. Sekarang aku akan menyusulnya…”

“Tunggu apa yang terjadi?! Aku tak tahu apa-apa… bisakah kau jelaskan pelan-pelan.” aku tak tahu apa yang dibicarakan Luhan.

Pasti hal yang terjadi, dan aku tak diberitahu oleh mereka.

“Itu—ah.. mianhe, Sun Hye-yah. Pesawatku hampir berangkat. Aku akan menelponmu nanti ketika aku sampai. Jaga dirimu baik-baik,” setelah Luhan mengatakannya, hubungan telepon langsung terputus.

Hyeon, Chanyeol dan Luhan pergi ke Jepang?? Untuk apa? Kris. Apakah dia ikut juga dengan mereka, tapi Luhan tak mengatakan bila Kris ikut. Tapi…

“Nona, sudah sampai,” kata seorang namja paruh baya yang mengantarku. Aku melongok keluar jendela mobil. Tanpa terasa aku sudah sampai depan halaman rumah.

Aku melangkahkan kakiku kedalam. Sayup-sayup terdengar suara sedikit ramai dari ruang tamu. Aku mengenal satu sosok yang pasti kulihat pertama dimanapun dia muncul. Kris. Dia tersenyum simpul padaku. Selain itu, ada sepasang—mungkin orangtua Kris—suami istri yang duduk berdekatan di sebelah Kris.

“Dia Sun Hye, anakku,” kata Mami seraya menunjukku. Aku melemparkan senyum ramah pada mereka seraya berjalan pelan kearah mereka. Aku disambut hangat oleh dua orang yang mugkinn orangtua Kris.

Aku melirik Kris. Semakin tampan. Dia memasang wajah dinginnya yang membuatku semakin jatuh cinta padanya. Mami menunjuk dan mengisyaratkan padaku untuk duduk disebelah Kris. Aku sedikit malu-malu duduk disampingnya.

“Cantik,” ucap bibi cantik didepanku, aku hanya tersenyum kikuk dan memandang Kris lagi, kemudian menunduk. Aku tak sanggup memandangnya terlalu lama.

Kabar yang sangat menyenangkan. Aku dan Kris akan bertunangan minggu depan. Kris mengangguk setuju. Aku tak menyangka mimpiku menjadi kenyataan. Tapi entah mengapa, aku memandang ekspresi lain dalam wajah Kris. Masihkah dia teringat Hyeon?

“Kris…” gumamku saat kami diberi quality time berdua, dikebun belakang rumah.

Aku menyusulnya duduk dibangku taman dibawah pohon bench. Dia menoleh dan tersenyum kemudian dia kembali menaburkan makanan pada kelinci yang berlarian dikebun belakang.

“Adakah alasan mengapa kau setuju dengan perjodohan kita?”

“Setiap tindakan yang diambil selalu ada alasan dibelakangnya,” kata Kris tanpa memandangku, lalu menoleh sekilas dan tersenyum.

“Kau terpaksa?” tanyaku takut-takut.

Kris menghela nafas dan menegakan badannya.

“Apa kau mau mengintrogasiku?” dia balik menanyaiku.

“ekh… aniya…” aku bingung harus menjawab apa, aku mendengar dia mendengus geli.

“Jalani apa adanya…” dia beranjak dari duduknya dan menaburkan sisa makanan terakhir yang digenggamnya.

“Kris, benarkah Luhan, Chanyeol dan.. Hyeon pergi ke Jepang? Dan lama?”

Kris diam ditempatnya, dia juga tak menjawab pertanyaanku. Aku mendongak memandang bahunya yang naik dan turun. Nafasnya tersengal.

“Ne~,” jawabnya.

“Untuk apa?”

“Molla,” jawabnya kemudian dia melangkah kakinya pergi.

Kalau dugaanku benar, Kris pasti menaruh perasaan pada Hyeon. Waktu satu tahun bersama mustahil bila tak ada perasaan muncul. Sakit bila mengingat hal itu. Tapi, sekarang Kris adalah milikku, milikku seorang. Hyeon adalah masa lalunya. Akan kubuat dia mencintaiku seutuhnya dengan caraku. Aku benar-benar mencintainya, aku tak akan pernah melepaskannya. Kris, adalah cinta pertamaku dan terakhirku. Dan aku juga akan menjadi cinta terkahirnya.

Hyeon POV

Aku tak pernah tahu, bila aku harus melihat keadaan yang sangat bertolak belakang dengan yang kubayangkan. Aku mematung didepan kompartemen Omma dan Appa, hampir aku oleng dan jatuh. Chanyeol menyanggahku sebelum aku benar-benar jatuh ke tanah.

“Hyeon-ah…” Gumam Luhan yang ada disampingku.

“Aku tak bisa mengatakan apapun,” kataku.

Aku berjalan selangkah mendekati bangunan kompartemen sederhana. Ponsel disakuku bergetar. Aku merogohnya dan segera mengangkatnya.

“Kau sudah menemukannya?” aku mendengar suara Lay Oppa.

Aku terdiam sejenak, kemudian bicara dengan tenggorokan tercekat.

“Kenapa kau tak bilang bila keadaannya seperti ini?”

“Aku sendiri juga belum pernah kesana. Memangnya kenapa?”

“Kau tahu?!! Kompartemen ini terkenal dengan kompleks wanita nakal!! Lihat keadaannya?!! Kenapa orangtuaku ada ditempat seperti ini? kau menyesatkan kami?!!” marahku. Chanyeol dan Luhan yang berada disampingku mengelus bahuku mencoba menenangkanku.

“Yah, mana aku tahu. Itu yang diberi kedua orangtuamu.”

“Kau masih mengelak! Dasar Oppa kurang ajar kau!!” teriakku marah, lalu mematikan teleponku dan menghela nafas menahan emosiku.

“Hyeon-ah… sabar,” gumam Chanyeol tak henti-hentinya.

“Siapa tahu mereka ada disini,” tambah Luhan. Aku memandangnya dengan pandangan tak suka.

“Apa maksutmu?” aku menekankan nadaku.

“Sia—“

“Hyeon-ah…” aku mendengar seseorang memanggilku. Kami bertiga berbalik kebelakang. Aku melihat sosok kurus dan lusuh berdiri dibelakang kami, namja itu membawa kantong belanjaan.

“Appa…”  kataku lirih. “Appa!!!” aku memekik dan segera memeluknya.

Appa memelukku dengan sangat erat. Aku memandangnya dengan haru kemudian kembali memeluknya dengan penuh rasa rindu.

Appa mengajak kami masuk kedalam kompartemen, melewati banyak wanita yang bertebaran dengan para pria disekitar kompartemen. Aku kadang memasang cengiran kuda saat kami lewat dan mereka memandang kami seakan mengatakan ‘kalian menganggu’

“Appa, kenapa bisa kau disini? mana Omma?” aku bertanya saat kami memasuki sebuah ruangan kompartemen, dalamnya tertata cukup rapi hanya saja sedikit memilukan.

“Omma-mu—“

“Kau meninggalkannya??! Lalu tinggal disini?!!” aku tak sabaran. Luhan memegang bahuku dan menyuruhku duduk dengan lembut.

“Kau dengarkan aku dulu, Hyeon-ah…” rengek Appa, aku diam dan mencoba mendengarkannya.

“Ommamu ada dirumah, bukan blok ini. Kompartemen ini akan kami beli dengan sisa uang kita, kurasa kau sudah mengetahui semuanya.” cerita Appa seraya membuatkan kami kopi hangat di pantry yang terlihat dari ruangtamu yang sempit. Aku mendesah berat.

“Paman akan membeli kompartemen ini?” tanya Chanyeol.

“Ne~, aku akan membeli kompartemen ini dan membangun usaha keluarga kami kembali. Perusahaan di Korea sangat mengalami kebangkrutan, kami harus memutar otak agar tetap bertahan,”

“Appa, bukannya bila aku melepaskan Kris.Hutang kalian dianggap lunas oleh keluarga Kim Hana?” tanyaku. Apakah usahaku sia-sia.

“Emh… aku terutama Omma-mu tak ingin kau melepaskan Kris. Membiarkan anak kami satu-satunya berkorban demi keluarga. Kau mencintainya kan?” tanya Appa, dia meletakkan cangkir kopi bagianku dengan senyuman penuh arti.

“Aniya~…” gumamku, menyeduh kopi yang sangat panas. Lidahku rasanya kebas.

“Dia bukan milikku,”

“Keluarga Wu juga tetap ingin kau tetap dengan Kris. Appa berjuang agar bisa menggulingkan saham keluarga Kim Hana,” kata Appa bersemangat.

“Saya dukung ,Paman!” Chanyeol ikut semangat.

Aku dan Luhan saling berpandangan, kurasa pikir pikiran kami berdua sama. Tidak mungkin bisa menggulingkan saham Keluarga Kim Hana yang terkenal terkaya itu.

“Butuh beratus-ratus tahun, Appa,” sindirku kemudian menyeduh kembali kopiku. Aku mendengar kikikan Luhan kemudian menyenggol bahuku halus.

Kris POV

Perasaanku tak akan pernah bisa dibohongi, perasaan sayang pada Hyeon yang terlalu dalam. Aku mengingat setiap detail apa yang kami alami berdua selama setahun. Semua menjadi lubang didadaku yang hampa tanpa kehadirannya. Masih seminggu aku tak mendengar suara dan melihat wajahnya, seperti bertahun-tahun aku berpisah dengannya.

“Kris…”

Aku menoleh saat seseorang memanggilku. Suho. Entah sejak kapan dia sudah duduk ditepi ranjangku. Aku menegakan badanku dan duduk sejajar dengannya.

“Kau tak mau bersiap-siap?” tanya Suho seraya menepuk kakiku. Aku hanya tersenyum kecil.

“Ne~, aku akan bersiap,” jawabku lalu beranjak dari ranjangku.

“Kris,”

“Mwo? Kau suka sekali memanggilku.” Aku mendengus.

“Apa kau benar-benar yakin dengan keputusanmu ini?” Suho memandangku teduh. Aku terdiam sejenak kemudian aku mengangguk.

“Aku tak melihat hal itu dalam matamu,”

“Kau terlalu sok tahu,” kataku.

“Sudahlah, ini pilihan kami. Kami tak ingin merusaknya,”

“Hyeon—“

Saat nama itu disebut rasanya seluruh aliran darahku berhenti mengalir dan jantungku jatuh keperutku. Aku menegang ditempatku.

“Apa?”

“Apakah dia akan datang?”

“Pertanyaanmu tak bisa kujawab,” kataku kemudian berjalan ke arah kamar mandi.

Aku paling anti memakai pakaian resmi, jas berserta perangkatnya. Saat menikah dengan Hyeon pun aku menolak, tapi bila sekarang pasanganku adalah dia, kurasa itu pengecualian. Suho dan Xiumin terkakak saat melihatku berdiri didepan cermin.

“Ini bukan kau,” kata Xiumin menyenggol bahuku pelan.

“Lalu?”

“Seharusnya kau memakai, jeans belelmu dan T-shirt mu itu,” Tambah Suho.

Aku hanya mendengus geli mendengar mereka.

“Sial,”  umpatku.

Mereka semakin terkakak, namun segera berhenti saat melihat sosok cantik Sun Hye menghampiriku. Dia sangat dan teramat cantik, dengan gaun merah itu dia semakin cantik. Aku bahkan menahan nafasku melihatnya.

“Kau tampak tampan, Kris,” katanya kemudian dia tersipu malu sendiri.

“Gomawo. Kau juga sangat cantik,” balasku.

Dua orang dibelakangku berdeham penuh arti, aku meliriknya sekilas kemudian kembali tersenyum pada calon tunanganku.

“Kau tegang?” tanyaku pada Sun Hye yang berulang kali menarik nafas panjang.

Dia tersenyum, semakin terlihat cantik.

“Sedikit,” jawabnya.

“Pegang tanganku,” aku mengulurkan tangan padanya. Dia ragu untuk menerimanya, namun akhirnya dia mengenggam tanganku kuat. Aku menuntunnya keluar ruangan menuju aula utama, dimana semua para undangan berkumpul.

Saat kaki kami keluar selangkah, semua blizt kamera mengarah pada kami. Acara ini memang dibuat secara besar-besaran. Aku merasa seperti sedang dalam sebuah cerita drama.

“Sun Hye…” panggilku, saat kami menuju ketengah aula

“Ne?” dia memandangku dengan penuh makna.

“Kau mau bersepakat denganku, menikah 2 tahun lagi?”

“Eh?”

Aku memandang Sun Hye dengan tatapan serius, dia tampak bingung dengan apa yang kuminta padanya. Kesepakatanya adalah menikah setelah lulus sekolah, artinya 4 bulan lagi. Aku ingin mengundurkannya. Bila Hyeon bisa mengubah semuanya dalam kurun waktu 2 tahun, dan bisa membuat surat perjanjian itu tak berlaku, artinya aku bisa menikahnya denagnnya.

“Kau masih menyukai Hyeon?” tanya Sun hye. Aku hanya tersenyum memandangnya.

“Lakukan apa yang menjadi kehendak hatimu, Sun Hye-yah, termasuk pertunangan ini,” jawabku dengan wajah datar. Dia tampak tak suka dengan nada bicaraku.

“Ne, aku sangat menyukainya.” Aku menambahkan, dia memandangku dan tersenyum. Diluar dugaan.

“Aku akan membuatmu mencintaiku,” katanya dengan kepercayaan besar.

Aku mendengus mendengarnya.

“Aku tak mau menyepakati kita menikah 2 tahun lagi, aku ingin menikah secepatnya denganmu,”

Aku melihat Sun Hye, rautnya tak ada keraguan. Dia memang benar-benar seperti ibunya, menyebalkan. Aku harus memutar otakku untuk melakukan sesuatu. Hyeon-ah, hanya kau yang menjadi tujuanku, tunggu aku. Aku yakin kau disana juga sedang melakukan sesuatu untuk kebersamaan kita nanti. Aku yakin.

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT  😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @yuanitasugianto @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged:

6 thoughts on “EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 15

  1. Cynthia February 1, 2013 at 3:06 PM Reply

    Wahhh semakain psnjang nih ceritanya.. Tp g bwt aq bosen kok :p
    Critax kyk film korea you’re my destiny yg dimainin yonna ya 😀
    Cpt di post ya selanjutx 😀

    • yuanfanwu February 7, 2013 at 5:10 AM Reply

      gomawoo… makasi udh terus ikuti sampe sini 😀
      keep following this one yaa

  2. choi hye rin February 2, 2013 at 9:45 AM Reply

    ditunngu part 16 nya ya thorr..

    • yuanfanwu February 7, 2013 at 5:13 AM Reply

      udah poooost.. yeeei.. /girang/
      gomawo udah baca

  3. Jung Hyun Mi February 3, 2013 at 9:36 AM Reply

    aku ga suka sama sun hye :p
    dikirain baik tu orng eh ternyata kelakuannya sama aja kaya nenek sihir
    kasian kan hyeonnya
    ayo hyeon,luhan chanyeol semangat !!

  4. Dinidink June 28, 2013 at 1:12 PM Reply

    Lha kok sunhye jd gitu ihh.. kok jahatt..
    wkwk.. itu banyak yg ngebet pen ikut hyeon jd rombongan ke Jepang xD ok, nyusul jg ah, tp k part 16~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: