[FF COMPETITION] EXOtic’s Fiction “First and Last”

**Title : First and Last

**Author : @_babymaknae

**Genre : Romance, Teen

**Length : Oneshoot – 9 pages

**Language : Indonesian

**Main Character :

–          Byun Baekhyun

–          Jung Hyura

–          Oh Sehun

–          Other Cast

**DISCLAIMER : THIS IS ONE OF THE BEST FANFICTION IN ADOREABLEXO’S BIG GIVEAWAY – FANFICTION COMPETITION. ALL PLOT OWNED BY AUTHOR. ADOREABLEXO ALSO EXO1STWONDERPLANET HAVE FULL RIGHTS TO POST IT HERE. DO NOT POST THIS IN OTHER SITE WITHOUT PERMISSION. IF YOU LIKE THIS FANFICTION, PLEASE GIVE LIKE, STARS OR EVENT COMMENTS IN THIS POST ^^ THANK YOU. (-HJS)

**

Aku berjalan di lorong rumah sakit itu. Keadaannya masih sama seperti aku pertama kali menginjakan kaki di lorong rumah sakit ini.  Tempat ini adalah tempat pertama kali aku bertemu dia. Aku masih teringat wajahnya. Ketika aku sedang mengingat semua kenangan tentang aku, dia dan lorong rumah sakit ini, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namaku dengan nada sedikit berteriak.

“Hyura… Hyura… Hyura…” kata suara itu

Aku menoleh. Ternyata, yang memanggil namaku itu sahabatku, Sehun. “Haii…” kataku seraya melambaikan tangan kearahnya

“Kamu sedang apa disini?”

“Aku ingin mengingat kembali semua kenangan manis kita bertiga disini.” kataku. “Dua tahun sudah berlalu. Aku masih berharap bisa melihat wajahnya. Meskipun hanya dalam mimpi yang tak akan mungkin terwujud.”

…Dua Tahun yang Lalu

 

Ternyata semua harta orangtuaku tak selamanya bisa aku nikmati. Semua kemanjaan dan kemudahan yang orangtuaku kasih terasa tak berguna. Sejak SMP aku sudah menderita sebuah penyakit yang aku tidak tau namanya. Dan menyebabkan jantungku tidak lagi berfungsi dengan baik. Mungkin ini alasan kenapa aku cepat lelah.

Rumah sakit inilah tempat tinggalku selama setengah tahun terakhir. Temanku selama dirawat di rumah sakit hanyalah laptop dan beberapa alat elektronik. Tak ada yang menungguiku. Tapi terkadang assisten orangtuaku datang untuk sekedar menjenguk. Selama setengah tahun di rumah sakit, aku belum pernah melihat orangtuaku menjenguk. Bahkan menanyakan kabarku pun tak pernah.

Aku tak habis pikir. Kenapa orangtuaku sejahat ini sama aku. Anaknya sendiri. Aku anak ke dua dari empat bersaudara. Kakak dan adikku pernah menjenguk. Tapi orangtuaku tak pernah sekalipun muncul dihadapanku. Aku merasa kesepian. Sempat terlintas dipikiranku kalau orang tuaku tak sayang lagi denganku. Atau mungkin orang tuaku malu punya anak seperti aku.

Setiap hari aku merasa hidupku ini suram. Rumah sakit adalah satu-satunya tempat yang bisa membuatku nyaman selama orang tuaku tak ada siampingku. Meskipun sebenarnya. Yah. Aku merasa kesepian juga

Aku bosan di kamar terus. Aku berjalan keluar kamar dengan membawa tiang infus. Sungguh merepotkan. Diluar aku bertemu dengan seorang laki-laki. Kira-kira umurnya dua tahun lebih tua dari aku. Badannya tinggi. Kulitnya putih. Matanya coklat dan mempesona.

“Hai. Kamu lagi ngapain disini?” kata laki-laki yang aku tak tahu namanya itu

“Hai juga. Aku lagi pengen diluar aja. Di kamar bosen.” kataku. “Kalau boleh tahu kamu siapa yah?”

“Eh, sampai lupa ngenalin diri. Namaku Baekhyun. Aku baru aja masuk rumah sakit ini seminggu yang lalu. Kalo kamu? Nama kamu siapa sih? Kok kamu cantik banget?” katanya seranya menatapku dengan tatapan penasaran

“Namaku Hyura. Cantik? Thanks.”

“Kamu sudah berapa lama disini?” tanya Baekhyun

“Sekitar lima bulan.” jawabku lirih

“Lama juga yah. Apa engga bosen disini?”

“Yah. Mau gimana lagi? Lagian aku merasa nyaman tinggal disini. Bagiku ini adalah rumah keduaku. Di rumah aku malah kesepian. Orang tuaku terlalu sibuk.”

Kami berbicara banyak. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Matahari sudah condong kebarat. Aku pamit dan kembali ke kamar. Tak lupa dia memberitahukan nomer kamarnya kepadaku. Ternyata kamarnya tak jauh dari kamarku.

“Eh! Tunggu!” kataku

“Ya? Kenapa? Ada yang salah?” sahut Baekhyun

“Nggak. Aku cuma mau nanya.” jawabku malu-malu

“Kenapa?” Baekhyun makin penasaran.

“Kalau boleh tau, kamu kena penyakit apa?”

Baekhyun hanya tersenyum lalu pergi meninggalkanku sendirian.

Dia tidak menjawab pertanyaanku soal penyakit yang dideritanya. Aku penasaran. Akhirnya aku nekat bertanya kepada suster perawatku. Semoga saja suster ini tau Baekhyun terkena penyakit apa.

“Suster, orang sebelah yang namanya Baekhyun udah lama yah dirawatnya?” tanyaku pura-pura nggak tau menau

“Belum lama sih. Sekitar semingguan. Dia kalo nggak salah kena penyakit kanker deh.” kata suster seraya mengganti infus-ku

“Oh. Gitu yah. Kanker apa siih?” kataku dengan nada penasaran

“Wah. Saya kurang tahu kalau soal itu. Tapi yang jelas dia kena kanker. Saya lupa kanker apa. Tapi seinget saya dia sakit kankernya nggak terlalu parah kok.” jelasnya dengan lengkap.

Tiga hari kemudia setelah pertemuanku dengan Baekhyun di rumah sakit ini aku diperbolehkan pulang. Ternyata Baekhyun juga sudah diperbolehkan pulang. Aku ikut bahagia saat tau dia boleh pulang. Dia memberikan alamatnya lengkap beserta nomer telepon rumah dan nomer handphonenya.

“Itu alamat, nomer telepon rumah dan nomer hp aku. Catet yah. Miss call aja. Atau nggak kirim sms biar aku tau nomer telepon kamu.”

“Makasih ya, Baekhyun. Atau aku harus manggil kamu kakak yah? Kan kamu lebih tua dua tahun dari aku.” kataku sambil menatap ia yang sedang bahagia karena bisa keluar dari rumah sakit.

“Nggak usah lah. Aku malah ga enak kalau kamu manggil aku kakak. Cukup panggil aku Baekhyun.” katanya

“Sip deh. Gapapa nih? Ya udah deh.”

Saat aku sedang berbincang-bincang dengan Baekhyun, datang seorang laki-laki yang sebaya dengan Baekhyun.

“Hyura, kenalin ini Sehun, adik aku.” katanya seraya mengenalkan aku pada Sehun.

“Halo. Namaku Hyura. Aku temen Baekhyun selama di Rumah Sakit.” kataku seraya berjabat tangan dengan Sehun

“Padahal kan kita baru kenalan kemaren.” sahut Baekhyun.

“Anggap saja kita udah temenan lama. Oke?” Aku menjawab ucapan Baekhyun sambil mengedipkan sebelah mata.

“Baekhyun udah sering cerita ke aku soal kamu. Dia bilang kamu temen yang baik, yang nyenengin. Kamu orangnya ceria banget.” Sehun lalu melirik sebentar ke arah Baekhyun yang sedang ngobrol dengan dokternya.

Thanks.” kataku sambil tersenyum

“Ngomong-ngomong kamu menderita penyakit apa sih? Baekhyun ngga pernah cerita ke aku. Dia bilang kamu nggak mau kasih tau.” tanya Sehun

“Aku kena penyakit jantung. Aku ngga tau namanya. Terlalu sulit untuk diucapkan. Intinya penyakit itu membuat jantungku tidak dapat berfungsi dengan baik lagi. Anyway, Baekhyun kena penyakit apa sih? Dia juga nggak mau cerita ke aku.”

“Dia kena kanker. Kalo ga salah kanker darah. Lebih dikenal dengan leukemia. Udah masuk stadium awal.” jelas Sehun

“Hah? Kanker darah?” Aku yakin pasti mataku sudah membulat sempurna dengan mulut sedikit menganga.

Sehun tidak menjawab. Ia hanya melihat Baekhyun dengan tatapan aneh. Lebih tepatnya tatapan sedih. “Iya.” jawabnya pelan hampir tidak terdengar.

“Stadium awal?” Aku bertanya lagi tapi lebih kepada diriku sendiri. Seingatku suster yang kemarin merawatku berkata kalau kanker-nya nggak parah. Tapi…

“Iya” jawab Sehun

Setelah itu hanya keheningan yang tercipta. Tak ada yang berani berbicara. Mungkin topik tadi tidak terlalu bagus untuk dibicarakan. Aku hanya bisa melihat punggung Baekhyun yang berjarak tak jauh dariku dengan tatapan sendu.

“Haii…” sapa Baekhyun dengan riang

“Oh!” Aku tersadar dari lamuanku, “Haii…”

“Bagimana?” tanya Sehun

“Baik. Aku sudah diperbolehkan pulang” jawab Baekhyun enteng

“Besok ada acara?” tanyaku pada mereka berdua

“Seingatku belom ada janji.” jawab Sehun

“Kalau Baekhyun?” tanyaku pada Baekhyun

“Aku sama seperti Sehun.”

“Kalau besok tidak ada acara. Mau main bareng?” tawarku. “Aku sudah jenuh dengan rumah sakit. Aku ingin jalan-jalan keluar.”

“Kemana?” tanya mereka berdua serempak

“Ke taman kupu-kupu.” jawabku sambil tersenyum. “Tak jauh dari sini. Aku tau tempatnya kok.”

“Baiklah. Besok yah.”

“Okay!” jawab mereka serempak

Aku tersenyum. Belum pernah aku merasa sebahagia ini. Kapan terakhir aku tersenyum bahagia? Aku tak ingat

 

Keesokan ahrinya, aku bersiap-siap untuk pergi ke taman. Aku memutuskan untuk memakai t-shirt putih dengan celana jeans andalanku. Aku bertemu mereka di tempat yang sudah dijanjikan kemarin hari.

Sehun yang menemukan aku duluan. Aku melambaikan tangan kearahnya. Ia tersenyum. Aku menyuruhnya mendekat dengan gerakan tangan. Sehun tersenyum lagi lalu mulai berlari kearahku.

Aku melemparkan pandangan kesekeliling taman. Memang taman itu tidak terlalu besar. Taman itu hanya taman biasa yang dipenuhi bungan dan kupu-kupu. Terdapat beberapa kursi panjang berwarna putih dan lampu taman.

Hosh.. Hosh.. Hosh..”

Aku menoleh dan mendapati Sehun sedang mengatur nafasnya.

“Hai. Cowo ganteng.” sapaku sambil sedikit menunduk

“Hai juga. Cewe cantik.” sapa Sehun dengan tatapan genit

“Baekhyun mana? Kok nggak bareng kamu? Perasaan tadi aku liat dia dari jauh” tanyaku

“Dia baru aja ke toilet. Bentar lagi juga selesai. Tunggu aja yah.”

“Oh oke deh.” Aku melirik kebawah “Sepatunya bagus tuh. Cocok sama baju dan muka kamu” kataku

“Kamu jahat ih! Masa muka aku disamain sama sepatu sih? Muka ganteng kayak gini kok disamain sama sepatu?” Baekhyun mempoutkan bibirnya

“Ihhh.” Aku mencoba bersikpa sedikit manja. “Kamu kok gitu banget. Maksud aku tuuh, baju sama sepatunya keren. Kayak yang punya.”

“Ya udah deh, cewe cantik.”

Perkataan tadi sukses membuatku tersipu. Pipiku terasa hangat. Sepertinya ada semburat merah diwajahku ini. Oh tidak, bukan semburat lagi. Aku yakin mukaku sudah merah sempurna.

“Kamu kalau lagi malu lucu deh.” kata Sehun seraya mencubit pipiku

“Hei!” Aku memukul pelan lengan Sehun

Sehun lalu memandangku dengan tatapan terluka sambil berpura-pura memegangi lengannya yang tadi aku pukul. Hei! Pukulan seperti itu apa sakit?

“Mana nih si Baekhyun? Kok lama banget di toilet. Dia di toilet tidur apa yah? Kalau beneran tidur aku siram pake air. Masa tidur di toilet umum?” katanya seraya memperhatikan jam Levi’snya yang berwarna coklat.

“Emang dia hobby tidur di toilet yah? Aku baru tau ada orang yang tidur di toilet itu dijadikan hobby.”

“Engga juga sih.” Sehun menggaruk tengkuknya “Eh, aku nyusul dia dulu yah. Siapa tau dia beneran tidur di toilet.” katanya sambil tersenyum

Aku hanya membalasnya dengan tersenyum.sambil mengangguk. Ia berlari secepat kilat hingga punggungnya tak terlihat lagi.

Setelah beberapa menit dia datang dengan ngosngosan. Kenapa yah? Abis maraton gitu? Kok keringetan trus ngosngosan lagi. Ia menunduk dan tangannya bertumpu pada lututnya yang sedikit ditekuk.

“Hyura, Baekhyun udah pulang duluan. Dia sakit. Dia bilang ke aku jangan pulang dulu. Jalan-jalan aja. Nanti dia nyusul.” kata Sehun masih ngos-ngosan

“Oh. Oke. Sekarang kita main di kolam itu yuk. Disitu banyak angsanya loh. Lucu-lucu lagi.” kataku seraya menunjuk kolam angsa yang ada di tengah taman.

“Tunggu! Hyura! Sehun! Tunggu bentar!” Suara itu terdengar seperti suara Baekhyun. Dan BINGO, itu bener suara Baekhyun.

“Eh, Baekhyun. Habis dari mana aja? Aku kira kamu tidur di toilet. Habisnya lama banget di toilet.” kataku khawatir

Sorry. Tadi aku pulang dulu.” jawab Baekhyun

“Kata Sehun kamu lagi sakit.” kataku

“Iya sih. Tapi tadi aku balik kesini lagi.” jawab Baekhyun lagi

“Kamu beneran nggak apa-apa?”

Dia hanya membalas dengan senyuman. Aku nggak tau senyuman itu berarti baik atau berarti buruk. Yang jelas dia sudah datang dan kita bisa melanjutkan perjalanan. Aku membalasnya dengans senyuman lalu menarik tangan mereka berdua.

“Hei! Hei! Mau kemana?” tanya Sehun

Aku melepaskan peganganku lalu menunjuk danau dekat situ, “Kesitu.”

Aku berlari kecil ke arah adanau itu diikuti oleh Sehun dan Baekhyun. Aku memberi makan beberapa angsa disitu, begitu juga Sehun dan Baekhyun. Lalu kita berfoto bersama dengan kamera DSLR yang aku bawa.

Setelah dari situ, kita berbain di playground. Meskipun terkesan childish, aku tetap bermain disitu. Selama aku masih bisa bermain, kenapa nggak aku manfaatkan? Aku melirik sejank ke arah Sehun dan Baekhyun yang dari tadi hanya memandangiku dari jauh.

“Hei! Nggak mau ikut main?” teriakku

Mereka berdua hanya menggelengkan kepala pasrah. Aku yang melihat itu hanya tersenyum lalu melanjutkan bermain. Selang beberapa menit aku melihat mereka berdua sedang asik bermain. Aku hanya geleng-geleng kepala sendiri melihatnya.

Setelah cukup puas bermain di playground, kami bertiga berjalan keliling taman sambil memakan ice cream. Aku membeli ice cream vanilla chocochip, Sehun membeli ice cream strawberry cheese cake, sedangkan Baekhyun membeli ice cream vanilla.

Setelah puas berkeliling di taman, kita bertiga duduk di salah satu kursi taman. Kami membicarakan banyak hal.

“Baekhyun, Sehun, aku boleh nanya sesuatu ke kalian?”

“Boleh kok.” jawab mereka berdua dengan mantap.

“Tempat kita bertemu pertama kali di lorong rumah sakit itu yah? Buat janji yuk.”

Mereka hanya memperhatikanku dengan seksama

“Nanti, kalau kita udah lulus SMA. Kita bertemu di tempat pertama kali kita bertemu. Mau ga?” kataku memohon

Mereka berdua hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku tersenyum puas. Mungkin beberapa tahun lagi aku sudah punya pacar atau aku sudah nggak ada di dunia. Tapi yah. Siapa yang tau. Aku Cuma manusia, pasrah aja sama Tuhan.

Seminggu telah berlalu, aku masih menghubungi mereka berdua. Kalau sempat, aku suka datang kerumahnya. Makin hari Sehun makin kurus. Kulitnya pucat. Namun, ia masih belum kehilangan sinar matanya.

“Hyura.” panggil Baekhyun saat aku masuk ke kamarnya

“Apa?” jawabku sambil menoleh kerahanya

Ia menyuruhku mendekat. Aku mengikutinya. Ia menyuruhku duduk di sebelahnya. Ia lalu menggenggam tanganku erat. Setelh itu, ia menatapku.

“Sebelum aku nggak ada, aku pengen ngerasain namanya pacaran.” katannya terus terang. Ia lalu menatapku dengan tatapan yang tak dapat aku artikan. Aku hanya terdiam sambil menunggu kelanjutan kalimatnya.

Would you be mine?” kata Baekhyun lirih. “For the first and last for me.”

Aku hanya menatapnya tak percaya. Setelah berpikir sejenak, “Yes.” Satu kata keluar dari bibirku itu berhasil membuatnya tersenyum.

Besoknya, aku berencana makan-makan di Sushi Tei. Salah satu restaurant jepang kesukaanku. Hanya aku yang memesan makanan. Setelah makanan tersedia di meja, kami mulai makan satu-persatu. Tak terasa, makanan diatas meja sudah ludes.

“Hyura..” panggil Baekhyun

“Uhm?”

I Love You.” Sepersekian detik kemudian, bibirnya sudah menempel di keningku. Aku kaget tapi tak ingin melepaskan itu. Bibirnya terasa nyaman di keningku. Ia melepas ciumannya lalu tersenyum malu kepadaku.

I Love You, too.”

Dua hari setelah kejadian itu Baekhyun dikabarkan masuk rumah sakit. Setiap hari aku menjenguknya di rumah sakit. Meskipun tubuhnya kurus dan kulitnya pucat, ia masih belum kehilangan semangatnya. Ia masih sama seperti pertama kali aku mengenalnya.

“Hyura..”

“Ya?” jawabku

“Kalau aku pergi, jangan sedih yah.”

Aku tersentak. Baru kali ini ia menyerah. Ia sepertinya sudah pasrah dengan keadaannya. Aku menggenggam tangannya. Mencoba memberinya kekuatan. Ia balas menggenggam tanganku.

Aku memeluknya. Ia menempelkan pipinya di kepalaku. Ia mengelus-elus rambutku. Aku menangis kencang didadanya. Sepertinya ia juga menangis, karena aku merasa rambut dan keningku basah.

Itu adalah pelukan terakhirnya. Itu pelukan dan tangisan terakhir Baekhyun. Dua hari setelah kejadian itu Baekhyun pergi untuk selamanya.

…Sekarang…

 

“Kamu masih inget sama janji kita waktu itu yah?” kata Sehun

“Masih dong.” Aku merenung sejenak. Membiarkan potongan-potongan kejadian itu meresapi otakku. “Oh, aku masih bingung soal surat dia buat aku. Disitu di tulis, ‘Biarlah aku hanya akan menjadi kenangan kamu.’ maksudnya apa sih?”

Sehun menatapku dengan tatapan sendu.

“Baekhyun sudah tau hari kematiannya?”

Sehun tak menjawab pertanyaanku. Aku mengerti. Jawabannya sudah pasti.

“Oh. Aku ingin memberitau satu hal.”

Aku menatap Sehun. Menunggunya untuk melanjutkan.

“Sepulang dari taman waktu itu dia langsung ke rumah sakit. Soalnya dia pingsan di jalan. Setelah itu di periksa dan ternyata kankernya sudah memasuki stadium tiga dan kemungkinan sembuhnya kecil.”

Aku melongo parah, “Secepat itukah?”

Sehun mengangguk, “Jadi, pas kamu kesana itu sebenarnya kankernya sudah sangat parah. Bisa dibilang masuk stadium akhir.”

“Tapi, waktu itu aku sempat bertanya pada suster disini. Suster bilang kankernya belum parah.”

“Tapi suster bukanlah orang yang berhak mengatur kehidupan seseorang kan?”

Aku menelan ludah lalu memperhatikan Sehun. Sehun benar.

“Ia sempat bertanya pada dokter apakah masih ada organ yang masih berfungsi dengan baik.”

“Untuk apa?” sergahku

“Dia ingin hidupnya berguna untuk orang lain.”

“Tapi—“ Sehun menempelkan telunjuknya dibibirku.

“Dan ternyata jantungnya lah satu-satunya organ yang masih berfungsi dengan baik dan masih bisa didonorkan. Kanker itu belum menyebar ke jantungnya.”

“Dan itu alasannya? Karena donor jantung itu ia tau hari kematiannya?”

Sehun tudak menjawab. Ia terus melanjutkan. “Dia merencanakan melakukan operasi transplantasi jantung sebelum jantungnya ikut terkena sel kanker.”

Aku menahan napas. “Siapa yang mendapatkan jantung itu?”

Sehun terdiam dan menunjuk dadaku. “Disini. Disini jantungnya bersarang. Disini cintanya takkan mati. Disini. Jantungnya akan selalu berdetak seiring doanya.” katanya seraya menghapus air mata yang mengalir.

“Jadi, selama ini yang mendonorkan jantungnya buat aku tuh Baekhyun? Kenapa dia ga bilang ke aku dulu sih?”

“Hyura, kamu ga tau semuanya tentang kita. Termasuk kisah cinta kita.” kata Sehun

Lho? Maksud kamu apa?” tanyaku bingung

“Kita berdua mencintai orang yang sama, yaitu kamu. Setelah mengetahui kalau hidupnya takkan lama lagi, Baekhyun memutuskan untuk mendonorkan jantungnya yang masih bisa berfungsi dengan baik pada orang yang membutuhkan kayak kamu. Dia cuma sempet ngucapin selamat tinggal ke kamu pas di kamar waktu itu kan?”

Aku mengangguk. Tak sanggup menjawab apa-apa

“Besoknya, ia operasi. Dia hanya titip pesan ke aku untuk jagain kamu. Dia bilang kayak gitu setelah itu ia pergi. Mungkin ia akan lebih tenang disana.” kata Sehun

So? Jadi selama ini kamu selama ini suka sama aku? Kenapa kamu nggak bilang dari awal sih?” kataku

“Dia tau semuanya, Hyura. Lebih dari aku dan kamu tau. Dia tau, Tuhan tak mengizinkannya hidup lebih lama lagi. Sejak itu, ia pasrah dengan keadaan. Kapanpun Tuhan panggil dia, dia akan siap.”

Aku menatap Sehun tak percaya. Lama-lama aku mulai mengerti jalan cerita ini. “Jadi itu alasannya kenapa ia memnitaku menjadi pacarnya?”

Sehun tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya menatapku lalu melanjutkan seritanya. “Kanker yang menggerogoti tubuhnya semakin ganas. Dia tahu, kesempatannya hidup tidak lama lagi. Kanker itu semakin lama semakin menyebar.”

“Tunggu!” sergahku

“Apa?” jawab Sehun yang agak kesal karena cerinyanya dipotong olehku

“Kalau dia tahu, kenapa dia tidak berobat saja?”

“Tidak berobat? Lalu untuk apa dia ada di rumah sakit waktu itu?”

Aku hanya diam lalu menyuruh Sehun melanjutkan ceritanya

“Ia tau, ia tak bisa selamanya lari dan kali ini dia tak bisa lari. Dia hanya pasrah pada Tuhan. Ia berdoa agar pada saat-saat terakhirnya ia bisa menemukan arti hidup yang sebenarnya dan saat itu muncullah kamu di hidupnya. Sisa-sisa waktu di dunia ini ingin dia habiskan bersama seorang yang telah Tuhan perkenalkan padanya. Itulah sebabnya kenapa ia memilih menikmati sisa-sisa harinya bersama kamu.” Sehun sepertinya tak mampu menahan air matanya dan akhirnya ia menangis di depanku.

“Sudahlah. Tak ada yang perlu ditangisi. Mungkin aku baru kali ini mengenal orang yang mencintai aku apa adanya. Bisa dibilang kalian berdua adalah first love aku. Makasih yah. Ini hadiah dariku.” setelah berkata demikian aku sempat mencium pipinya yang sempat basah oleh air mata

Seakan tak percaya, ia menatapku dengan tatapan aneh. Atau mungkin itu perasaan kaget. Mukanya seakan menatapku dengan perasaan bingung, kaget, senang sekaligus penasaran. Aku membalas tatapannya dengan muka yang aneh juga. Seakan tatapan matanya mengatakan padaku kalau ia tak percaya hal yang tadi terjadi.

“Kamu kenapa sih? Natap aku kok gitu banget? Emang habis diapain sama aku? Natapnya gitu banget.” tanyaku bingung

“Serius niih? Kamu nggak salah yah?” katanya dengan nada dan tatapan bingung, heran, sekligus kaget.

“Iyap. Dibikin serius aja dehh.” kataku seraya tersenyum

Thank You So Much, dear.” katanya sambil mencium keningku. “Hadiah dariku plus kenang kenangan. Bibirku ini limited edition.”

“Hah? Sehun!!!! Maksudnya apaan nih?!” kataku seraya berlari mengejarnya.

Dua miggu kemudain aku resmi jadian dengan Sehun. Entah siapa First Love aku. Yang jelas mereka berdua adalah First Love aku. Mereka udah ngajarin ke aku hidup itu berharga. Baekhyun, makasih buat semua yang kamu kasih ke aku. Maaf aku belum bisa mengucapkan maaf ataupun terima kasih sama kamu.

Semoga di kehidupan yang lain, kita masih bisa bertemu. Makasih buat semua kenangan manis kita. Makasih udah ngasih ke aku cinta, Sehun dan organ tubuhmu. Mereka berharga buat aku. Dan makasih udah buat aku mengerti arti kehidupan.

Aku masih ingin melihatmu. Melihatmu tersenyum. Melihatmu berjalan dengan sepatu kets-mu yang cool abis. Melihatmu mengenakan topi favorit yang udah aku kasih ke kamu. Melihatmu tertawa bahagia sambil menatap ke langit. Melihatmu berjalan bergandengan dengan Sehun. Melihat wajah bahagiamu saat ini. Kamu yang udah berubah. Kamu yang udah jadi malaikat. Kamu yang udah nggak lagi dibelenggu sama kanker. Kamu yang udah bisa tersenyum puas liat kakakmu bisa menjadi frist and last buat aku.

Mungkin kamu hanya akan menjadi kenangan dan sejarah buat aku dan Sehun. Tunggu kita berdua, Baekhyun. Kita akan datang dan bersatu denganmu nanti. Semoga kamu bahagia disana.

 

“Tak ada yang namanya abadi di dunia ini. Hanya biarkan kehidupan membawamu pergi. Mengalir seperti air. Dan kau akan menemukan kebahagiaan abadimu disana.”

–Jung Hyura

 

**

THE END

**

THANKS FOR READING 😀 IF YOU LIKE THIS FICTION, PLEASE LEAVE SOME COMMENTS AND LIKE THIS POST ^^

 

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO:

@ADOREABLEXO

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged:

3 thoughts on “[FF COMPETITION] EXOtic’s Fiction “First and Last”

  1. Fanny January 25, 2013 at 2:23 PM Reply

    Duh. Akhirnya kok Baekhyun-nya meninggal? Kirain happy ending sama Hyura.
    Itu masih banyak typo, sama ketuker nama ya! Ada yg harusnya Sehun malah jadi Baekhyun ato sebaliknya.
    Tapi, keseluruhan bagus sih. Menyentuh

  2. Fany January 26, 2013 at 2:02 AM Reply

    Itu banyak typo disana-sini.
    cuma ada beberapa yang Baekhyun sama Sehunnya kebalik ya?
    secara keseluruhan sih bagus. fighting!

  3. CupuGirl May 26, 2014 at 4:35 AM Reply

    walau endingnya baekhyun pergi untuk selamanya ,, tapi aku suka dia masih sama sehun ….
    keren thor !! fighting ya
    ditunggu karya2 selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: