EXOtic’s Fiction “Plan For Future” – Part 1

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Plan For Future”

 Untitled-1

 

*Title : Plan For Future

*Sub Title : The First Step

*Main Cast :

  • Park Chanyeol
  • Venaria Queendarten

*Length : Series

*Genre : Romance

*Rating : PG-13

*Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

**

 

Ada sebuah kata yang tidak bisa ditarik.

Dan aku baru sadar kalau seandainya aku sangat menyesal karena sudah mengatakan hal itu.

                Aku buta, aku tuli disaat yang bersamaan.

 Aku tidak mungkin menarik kata-kata itu lagi, kan?

Aku ingin sekali bisa bersamamu.

Tapi nyatanya tidak akan mungkin bisa kan, kenapa?

Karena ini semua salahku.

    Maafkan aku.

Bisa kah kamu melakukan itu? Untukku?

Sekali saja..

Sekalipun aku tau kalau seandainya bulan masih sama, tapi cerita kita tidak lagi sama.

Aku tidak tau harus mulai darimana untuk menyesalinya.

**

Vena’s POV

Aku beranjak berlari mengelilingi rumahku. Sialan! Dimana mac apple sialan itu? Bagaimana aku bisa menjelaskan project-ku tanpa laptopku?

Aku membuka laci, menggali tempat sampah kertasku, membuka semua tas. Dan betapa bodohnya aku sampai mencari kedalam kulkas. Kenapa? Ya aku punya kebiasaan akan jadi bodoh jika sedang panik. Kenapa laptop itu bisa hilang?

Bagaimana aku bisa menjelaskan desain rumahku itu tanpa benda bodoh itu? Padahal project itu adalah project yang mati-matian kukerjakan selama ini. Dalam waktu seminggu, itu adalah waktu minimal untukku mengerjakan sebuah desain rumah. Dan project penting ini adalah sebuah rumah, hadiah untuk seorang wanita. Rencananya pria itu akan menikahi gadis itu dan melamarnya menggunakan rumah itu. Itu project yang sangat penting, bagaimana bisa aku menghancurkan kisah cinta mereka hanya karena kehilangan laptop bodoh itu? SIAL!

“Venaria Queendarten!!!!!”

Aku menengok kesamping dengan aliran air mata yang terus turun kepipiku, aku sangat hapal dengan suara itu. Suara yang sangat-sangat aku benci dari dulu. Kenapa aku harus bertemunya setiap hari? Seumur hidupku bahkan bisa dihitung berapa kali aku berpisah dengannya.

“Vena.. What are you doing? Kenapa nangis?”

Aku membiarkan pria itu berlutut didepanku, lalu dengan tangan lembutnya menghapus air mata yang mengalir. Lama-kelamaan ia akan membuat air mataku mengering beberapa detik kemudian. Tak lama aku sudah terbiasa dengan pelukannya. Dalam hitungan detik tangan kanannya akan mengelus punggungku untuk menenangkanku lalu tangan kirinya akan mengelus rambutku pelan. Semua gerakkannya itu sudah kuhapal. Jelas, ia melakukan hal ini seumur hidupku.

Aroma tubuh pria ini sangat keras, bisa membuatku tenang disaat yang bersamaan.. Inilah yang membuatku tidak suka akannya, ia selalu saja membuatku seperti ini. Aku benci keadaan dimana aku harus begitu bergantung padanya. Padahal aku tau kenyataan bahwa ia melakukan hal tersebut tidak hanya padaku, tapi pada setiap wanita. Aku benci mengetahui ketika aku bukanlah satu-satunya spesial. Bahwa bukan aku wanita yang hanya ia lihat.

Karena itu daridulu aku sudah memutuskan bahwa aku tidak akan menyukainya. Aku tidak mau sekalipun jatuh cinta padanya. Aku ingin kami tetap seperti ini, seperti apa adanya..

“Sudah tenang?” tanyanya pelan sambil menarik tubuh menjauhiku. Aku mengambil napas pelan sebelum beberapa saat menatap tepat di manik matanya. Melihatnya adalah sesuatu hal yang wajib untuk dilakukan ketika ia berada dihadapanku. Ia tidak suka bahwa orang yang berbicara dengannya tidak mau melihatnya. Aku tidak pernah protes, lagipula aku suka mata coklatnya yang menenangkan.

Aku membencinya. Tapi ntah mengapa ketika aku mendeskripsikan hal tentangnya… Aku tidak bisa berhenti memujinya. Ntahlah, menurut semua pandangan orang, pria ini memiliki wajah yang tidak biasa. Ketampanannya bisa membuat siapapun buta, itu kata banyak wanita. Ia jiga memiliki IQ diatas rata-rata, karena itulah selain menjadi artis ia juga mengurusi perusahaannya yang sedang besar diseluruh dunia. Ohya, aku belum bilang tentang pekerjaannya? Ia adalah seorang soloist dan juga pengaransemen lagu. Tapi ia juga suka sekali membeli saham, karena itu kekayaannya melimpah.

Tipe orang yang sangat sempurna bukan? Tapi ternyata dia itu tetap saja memiliki keburukan, salah satunya ia tergila-gila sekali dengan sebuah anime. Ya, kucing tanpa telinga dan juga kantong ajaib itu. Apalagi kalau bukan doraemon. Ada saat-saat dimana ia menjadi sangat-sangat manja. Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana manjanya dia kalau sudah sedang mood. Sudahlah, aku malas membicarakannya..

Aku menganguk pelan lalu ia mengajakku untuk berdiri, aku masih sesengukkan dan dengan cepat ia memberikan sapu tangannya ketanganku. Aku menghapus sisa air mata disekitar mataku, lalu dengan cepat mengeluarkan ingusku. Ya jangan salah kan aku, aku memang punya kebiasaan seperti itu.

“YAK!!!!!!! APA YANG KAU LAKUKAN? ITU BARU SAJA DIKIRIM DARI JERMAN, VENA BODOH!”

Aku mendongak sebal lalu melempar sapu tangan itu ketangannya, rasakan! Siapa suruh tidak niat sekali memberikan sapu tangan! Jelas-jelas dia sudah tinggal seumur hidup disampingku, masa ia tidak ingat juga kebiasaanku? Atau mungkin dia punya hobi aneh? Semacam mengumpul ingusku disapu tangannya yang mahal lalu memuseumkan? Aku kan cukup cantik, siapa tau saja? Itu kan bisa jadi aib agar aku bisa mengerjainya.. Aku harus mengecheck apartementnya sekali-kali.

Ohya, Chanyeol ini tinggal di apartement sebelah. Kami hanya terpisah oleh dinding yang sebenarnya cukup kuat dan kokoh. Chanyeol dipaksa untuk tinggal disebelah apartementku, ibunya tidak ingin ia membeli rumah dan tinggal sendiri. Katanya supaya lebih aman, beliau menyarankan kami tinggal berdua di satu apartement tapi beda ruangan. Aku sama sekali tidak bisa mengubris, toh aku juga malas protes. Tinggal bersama pria ini sebenarnya ada untungnya, aku jadi dipermudah dalam melakukan segala hal. Contoh saja ia yang selalu akan membayar atau membelikanku sesuatu, ya walaupun aku harus ngambek dulu. Sepertinya kedua orangtua kami tau dengan jelas kalau aku punya sifat manja yang tiada tara…

“Sudah selesai marahnya? Aku tau kamu pasti senang mendapat ingusku, kan? Kamu kan fansku, jadi mengoleksi saputangan dengan ingusku? Aku tau aku cantik, tapi kamu tidak usah sefanatik itu, Chanyeol..” ujarku ringan sambil meneguk air mineral dari botol yang baru kukeluarkan dari kulkas.

Ia berjalan menghampiriku dengan langkah besarnya, sudah kukatakan dia tinggi sekali? Aku benci menerima kenyataan bahwa tinggiku hanya sebatas bahunya. Aku benci kenyataan itu. Kenapa harus selalu pria yang lebih tinggi?

Ia menarik botol itu lalu meneguknya juga. Aku tidak pernah keberatan sebenarnya, toh kami sudah terlalu sering berciuman tak langsung. Kami sudah sering sekali bertukar makanan sejak kecil. Seolah dari kecil kami menerapkan sistem ‘Milikmu adalah Milikku’. Aku dan dia sering sekali saling marah karena salah satu dari kami sering melupakan mengembalikan barang. Tapi pada akhirnya tidak akan begitu besar, 1 jam kemudian biasanya kami akan melakukan sesuatu yang membuat satu sama lain senang sehingga permasalahan itu pasti akan menguap begitu saja.

“Kamu sedang mencari apa tadi?”

Aku memutar kepala melihatnya. Ya Tuhan! Gila sekali! Pria ini dengan begitu mudah membuatku melupakan presentasi penting lengkap dengan laptop bodoh yang menghilang itu. Tiba-tiba saja jantungku memompa darah lebih cepat sehingga membuat otakku terasa pusing dan beku. Aku sebal sekali mengatahui kenyataan kalau seandainya aku sangat blank ketika aku panik. Ini adalah sesuatu yang perlu dihilangkan. Aku segera saja berlari tidak jelas dan mulai mencari laptop bodoh itu sambil sesekali melihat jam yang ada di dinding. Masih ada 1 jam, semoga saja sempat mencarinya. Aduh bagaimana kalau hilang?
“Kamu mencari laptopmu, Vena?”

Aku kembali melihat pria itu dengan dahi berkerut, jangan bilang kalau pria itu mengambil tanpa ijin lagi? Untuk apa sih? Sudah jelas sekali kalau ia mempunyai barang yang lebih daripada punyaku. Aku menghampirinya cepat, dan dengan sedikit mendongak aku menatap ditepat matanya. Matanya tenang, seolah tidak mengisyaratkan rasa bersalah.

“Kamu tanpa izin mengambil laptopku lagi?”

Ia menggeleng pelan lalu merapikan poniku yang berantakan dan menghapus peluh yang menetes dengan punggung tangannya pelan, “Kamu yang seenaknya lembur di apartementku sehingga ketiduran. Aku mengangkatmu kekamar ini. Kamu sungguh bodoh dan pelupa, ya?”

Apa? Dia bilang aku bodoh dan juga pelupa? Aish! Benar-benar pria ini mencari mati! Tapi tiba-tiba saja memori itu kembali berputar dalam otakku. Aku tidak suka sekali ketika mendapati bahwa aku mengingat kejadian kemarin, dengan seenaknya aku memaksa pria ini untuk menjemputku dan menjadikan apartementnya sebagai markas untuk mengerjakan tugasku. Aku juga baru ingat dan sadar kalau seandainya aku tidur juga dikamarku.  Menggunakan baju tidur. Itu berarti…

“Aku yang menggantikan bajumu. Tenang saja, aku sudah terlalu sering lihat tubuhmu saat kecil. Aku sama sekali tidak tertarik, kamu bukan tipeku. Aku bahkan bisa memakaikan bajumu sekalipun aku menutup mataku.. Aku benar-benar hebat, kan?”

Aku melongo sukses!  Apalagi pria ini mengatakannya dengan begitu ringan! Tanpa beban sedikitpun! Pria ini memang cari mati, ya?

Tangannya terulur untuk membelai rambutku, ia mengkriwil sebentar rambut bergelombangku dan kemudian mengangkat beberapa helai rambutku dan menciumnya dengan hidungnya. Seolah menarik napas disana, aku tidak pernah aneh dengan perbuatannya. Pria ini memang suka sekali dengan rambut wanita, itu juga alasan kenapa rambutku sangat terawat. Sudah tentu peraturan utama untuk bisa ada didekatnya adalah memiliki rambut terawat.

“Sudahlah.. Tidak usah ribet begitu.. Bukankah kamu akan rapat satu jam lagi? Laptopmu sudah ada dimobilku, aku juga sudah menyiapkan sarapan untukmu. Jadi ayo cepat, aku akan mengantarmu..”

Aku menggelembungkan pipiku. Bagaimana ia bisa tau semua hal tentangku? Ia akan tau kalau aku akan bangun telat lalu aku juga  akan menghabiskan waktu untuk mencari laptop bodoh itu? Aku sebal mengakui kalau ia tau diriku lebih baik daripada diriku sendiri.

Tangannya masih merapikan rambutku, menyisirnya dengan jemarinya yang panjang dan kurus itu sehingga aku masih tidak bisa bergerak. Sekilas aku melihatnya tersenyum ketika aku mendongak melihatnya, ia menepuk kepalaku ringan.

“Tunggu sebentar.. Aku akan mengambil tasmu sebentar lalu kita akan pergi..”

Aku melihat bayang Chanyeol yang tak terlihat beberapa detik kemudian karena masuk kedalam kamarku, aku hanya bisa menggerutu sambil berjalan kerak sepatu. Mencari sepatu yang kira-kira cocok dengan bajuku.

Ya satu lagi, ketika aku hidup bersamanya selama seumur hidupku ini. Aku jadi cukup fashionista, ntah sejak kapan aku jadi suka membeli baju dan sebagainya. Tapi aku tidak suka berdandan, aku tidak suka bedak-bedak aneh itu menabur disekujur tubuhku. Toh, aku memiliki kecantikan yang alami. Dan aku bangga akan itu.

Aku menarik sebuah gladiator berwarna putih dan dengan cepat menggunakannya. Aku tidak terlalu suka menggunakan heels, kenapa? Karena aku sudah cukup tinggi, toh Chanyeol sering mewanti-wantiku  untuk tidak memakai heels. Ia tidak suka kalau ia menjadi lebih pendek dariku.

Hari ini aku menggunakan kaos putih perpaduan dengan mantel sepanjang setengah paha berwarna coklat dengan lengan pendek. Celana pendek berwarna coklatku pun terpajang dengan baik dikakiku. Sebenarnya ini adalah style favoriteku dan juga Chanyeol.

Aku juga baru menyadari kalau Chanyeol pun menggunakan style yang sama denganku, sangat mirip bahkan. Bedanya mungkin hanya sebatas ia menggunakan celana coklat panjang lengkap dengan sepatu berwarna coklat. Rambutnya hari ini tidak ditata, mungkin hanya disisir rapi. Biasanya ia suka sekali berkreasi, ntah itu ia harus bermain dengan hair spraynya atau membuatnya keriting. Ntahlah, pria itu terlalu protektif dengan rambutnya.

“Uda siap?”

Aku mendongak dan mendapati Chanyeol sudah berdiri didepanku, ntah sejak kapan pria itu berjalan dan berdiri didepanku. Hawa Chanyeol memang seperti itu, tidak mencolok bagiku. Atau mungkin hawanya itu terlalu membuatku terlalu nyaman dan terbiasa?

Aku hanya menganguk pelan sambil berdiri. Chanyeol melihatku pelan dan tak lama aku sudah menggeleng ingin menolak. Tapi ia melotot membuat dengan cepat menggandeng tangannya.  Sebenarnya aku tidak merasa begitu aneh sih, lagipula aku sudah terlalu sering menggandeng tangannya. Hanyas aja akhir-akhir ini aku berpikir, mungkin seharusnya aku tidak melakukan hal ini. Kenapa? Aku takut banyak orang salah paham akan kami. Atau mungkin nanti tidak ada satupun pria yang mau mendekatiku karena melihat Chanyeol yang selalu menempel padaku.

“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?” ucapnya sebal sambil melihat mataku dengan tajam. Aku menelan ludahku dengan susah payah sambil mengumpulkan kembali suaraku.

“Aku hanya tidak ingin orang salah paham. Toh kita hanya teman. Masa teman harus gandengan tangan?” ucapku cuek sambil menggelembungkan pipiku.

Chanyeol membalik tubuhku agar sepenuhnya dapat melihat matanya. Kelebihannya yang lain adalah meyakinkan dan juga memaksa sekaligus dengan tatapan matanya. Dan karena kelebihannya itu, hal tersebut menjadi kekuranganku yang lain, “Aku hanya sebal kalau seandainya nanti kamu menghilang. Bukankah kamu sering kali jatuh atau tertarik akan sesuatu? Lagipula kenapa kita harus memikirkan orang? Toh kita hidup untuk kita, kamu tak usah aneh-aneh. Sudahlah ayo kita pergi..”

“Terus nanti kalau kamu yang mengantarmu, siapa yang akan mengantarku pulang? Kan aku ga bawa mobil?”

Chanyeol mengerutkan keningnya lalu tak lama menggosok pelipisku pelan, tanda kalau ia sudah mulai emosi.

“Tentu saja aku yang akan menjemputmu, Vena bodoh!”

Aku membelalakkan mata, “Apa? Kamu bilang aku bodoh? Tidak.. Aku tidak mau.. Kamu kan sibuk sekali tuan Chanyeol..”

“Aku akan menjadi supirmu hari ini. Aku akan menemanimu satu hari penuh ini. Tidak usah merasa aneh, aku hanya mengambil cuti libur bulan ini… Sudah ayo kita pergi. Dan oh ya nona Bodoh, tolong jangan bicara dulu sampai kita duduk di mobil. Kamu tidak ingin aku menyemburkan emosimu di tempat ini dan tidak pergi-pergi ke kantormu? Aku ingin meeting pentingmu itu batal?”

Aku menghembuskan nafas kesal sementara Chanyeol sama sekali tidak memperhatikanku. Ia mulai melangkahkan kakinya sehingga otomatis menarikku mengikuti jejaknya.. Aku sama sekali tidak bisa menolaknya, entah sejak kapan.. Tubuhku selalu saja mengikuti semua perintahnya. Seolah aku sudah tau, apapun yang ia katakan adalah yang terbaik untukku. Aku hanya percaya.. Dengan begitu mudahnya..

 

End of Vena’s POV

**

Author’s POV

“Kok ga berhenti di lobby?” ucap Vena sambil melirik Chanyeol yang terus menjalankan mobilnya ke tempat parkir khusus. Vena memang memiliki pangkat tinggi di kantor ini, tentu saja karena ia adalah anak dari pemilik kantor arsitektur. Alasan itulah mengapa ia memiliki parkir khusus ditempat yang terjangkau mengingat kemampuan menyetirnya yang tidak termasuk hebat.

Gadis itu hanya diam sampai Chanyeol berhasil memarkirkan mobilnya dengan mulus kemudian mematikan mesin mobil Chanyeol melihat sandwich ditangan Vena masih belum habis, Vena yang menyadari Chanyeol sedang melihatnya segera saja menggigit sandwich itu cepat dan mengunyahnya. Chanyeol hanya menggeleng pelan sambil mengambil berkas dan juga mac apple Vena dikursi belakang. Vena memasukkan potongan terakhir sandwich itu kedalam mulutnya dan mengunyah cepat, karena terburu-buru ia mulai tersedak.

“Kenapa kamu ga makan pelan-pelan aja, sih?” omel Chanyeol sambil membuka botol mineral water dan memberikannya pada Vena dengan cepat. Gadis itu hanya diam sambil meneguk air itu perlahan tapi pasti. Tak lama tangan Chanyeol sudah mengambil tissiu dan mengusap ujung bibir Vena dengan cepat.

“Sudah? Ayo kita turun..”

Vena menarik tangan Chanyeol sehingga pria itu tertahan dan berbalik melihat Vena, “Kamu kenapa ikut turun juga?”

“Bukankah sudah kubilang kalau aku akan menemanimu seharian? Lagipula bukankah semua pekerjaanmu akan menjadi lebih beres denganku?”

Gadis itu hanya bisa mendengus sebal ketika mengetahui kata yang dikatakan Chanyeol benar adanya. Apapun yang dilakukannya bersama pria itu pasti akan lebih baik dan sempurna. Vena bersyukur sekaligus sebal, mengetahui kalau nasibnya akan cukup berantakan tanpa pria itu.

**

“Vena.. Kamu kemana aja? Kok baru datang? Klien-nya uda dateng tuh..”

Vena menundukkan kepala sebentar seolah ia meminta maaf, Angel hanya menggeleng pelan. Angel adalah sahabat sekaligus atasannya, Angel lah yang selama ini melatih Vena. Dan Angel adalah orang kepercayaan kantor ini, satu-satunya orang luar yang diberikan kepercayaan oleh Vena maupun Papa Vena. Spare usia Vena dan Angel tidaklah jauh, Angel hanya lebih tua 2 tahun. Angel seusia dengan Chanyeol, dan pernah sekelas juga denga pria itu.

Angel sekilas mendelik bingung ketika melihat Chanyeol sesaat sebelum ia mengalihkan pandangannya, setiap melihat pria itu ia pasti menjadi ingat masa lalu dan ia tidak ingat akan itu. Vena bukan tipe yang peka, ia dengan cepat meninggalkan Chanyeol dan Angel dibelakangnya dan masuk kedalam ruang meeting.

“Untuk apa kamu datang?”

Chanyeol menoleh melihat Angel, “Memang tidak boleh?”

Gadis itu tidak bersuara lagi dan lebih memilih untuk masuk kedalam ruangan meeting, pilihan yang sangat bagus sebenarnya karena Chanyeol juga akan melakukan hal yang sama. Lebih memilih untuk menjauhi wanita itu.

“Maafkan aku.. Mari kita mulai meetingnya sekarang juga..”

End of Author’s POV

**

Chanyeol’s POV

Vena duduk diatas salah satu kursi yang berderet memutari meja meeting yang lingkaran itu, tak lama salah satu karyawan mengambil mac apple Vena dan segera saja memasang kabel-kabel agar tersambung dengan proyektor. Aku yang duduk disampingnya segera saja memberikan mineral water, gadis itu menganguk dan meminumnya perlahan. Aku mengeluarkan papermint dari dalam saku mantelku, dan memberikannya satu. Ia tersenyum sesaat sebelum memasukkan papermint itu kedalam mulutnya. Aku adalah penyuka papermint. Papermint itu membuatku lebih nyaman, rileks dan juga tidak tegang. Lagipula papermint itu bagus untuk menyegarkan tenggorokkanku.

Tak lama seorang karyawan menghampiri Vena, ia memberikan sebuah remote dan juga bolpen. Gadis itu berdiri dan berjalan kearah proyektor. Aku membuka iPad-ku dan membuka email.

 

From Me

To xxxxxxxx

 

Wait for my instruction. Just agree everything. Order to make it as soon as possible. Are you understand?

Aku kembali melihat kedepan, tapi sesaat kemudian iPad-ku kembali bergetar. Aku tersenyum melihat isi email itu. Baiklah, rencanaku beres. Sesaat sebelum aku kembali melihat Vena, pandanganku tertuju pada Angel yang duduk berhadapan denganku. Ada apa dengannya? Apa aku sebegitu mencurigakannya?

End of Chanyeol’s POV

**

Vena’s POV

Lampu tiba-tiba saja mati, ya tidak tiba-tiba juga sih. Memang sudah seharusnya lampu mati dan jendela ditutup dengan tirai itu karena aku akan memulai presentasi.

Aku tersenyum, “Selamat siang, maaf akan keterlambatan saya. Nama saya Venaria Queendarten, dan saya juga yang mendesain rumah yang anda inginkan. Awalnya saya juga sangat bingung akan permintaan, tapi kira-kira inilah yang sudah berhasil saya desain..”

Aku memencet sebuah tombol dan tak lama slide terganti, “Rumah ini adalah rumah yang minimalis dengan banyak kaca yang memenuhi rumah itu. Rumah itu tingkat 4, dengan 3 kamar tidur di lantai 2 dan 3. Lantai 1 akan dipenuhi dengan ruang skill dan juga ruang makan. Lantai 4 adalah lantai kreasi dan juga bersantai. Akan ada sebuah movie theater disana, dan juga sebuah balkon untuk menikmati angin malam seperti yang sudah digambarkan oleh slide ini..”

“Di lantai 1 ada ruang skill untuk olahraga, melukis dan juga belajar. Ada juga sebuah perpustakaan mini yang dilengkapi dengan internet dan komputer hi-tech. Hal ini saya rancangkan ketika mengetahui bahwa calon istri anda suka sekali menggambar dan membaca bukan? Dan ohya, saya memang memisahkan lantai 1 dan 4 sebagai ruang kreasi dan belajar. Karena jika digabung, maka lantai diatas tidak akan terasa menarik lagi.”

“Dan alasan saya kenapa ada 3 kamar dilantai 2 dan 3 adalah agar ketika siapapun datang menginap tidak akan ada kekurangan ruangan untuk bersama. Saya membuat keputusan ini ketika mendengar bahwa keluarga anda dan juga calon istri sangat dekat, bukan?”

“Saya membuat ini menjadi rumah besar tapi juga terkesan hangat dan tidak membosankan. Ada tempat untuk berbagi keusahan bersama dan juga bersenang bersama. Karena itulah yang dinamakan keluarga. Saling melengkapi satu sama lain.”

Aku memencet tombol yang lain, lalu dengan bolpen laser menunjuk setiap gambar kaca didesain itu, “Kaca ini akan dibuat one side. Artinya kita bisa melihat apapun diluar ruangan tapi orang tidak bisa melihat kedalam. Tapi cahaya matahari tetap akan bisa masuk. Desain luarnya memang saya buat minimalis, dengan perpaduan putih dan juga batu-batu sebagai wallpaper outdoor. Rumah ini Cuma akan dikelilingi pagar tipis dan pendek yang berwarna putih, mengingat rumah ini akan berada dipinggir kota. Sebuah kolam renang akan diletakkan dibelakang rumah, lengkap dengan tempat BBQ.”

Aku kembali menoleh dan melihat klienku yang tersenyum cerah, “Bagaimana kalau anda menambahkan sebuah jalan setapak dimana akan ada taman penuh bunga dan buah. Ditengah taman itu akan ada pondok untuk bersantai bersama. Calon istriku pasti akan sangat menyukainya..”

“Tentu saja, seperti kemauan anda..”

Aku melihat Chanyeol, tapi ia menunjukkan ekspresi datar membuatku sebal ditempat.

“Lalu dimana kamu akan meletakkan kamar pembantu? Tidak mungkin kan anda membiarkan istri anda membersihkan rumah itu sendirian?” ucap Chanyeol memecah keheningan, dan terlihat semua orang memperhatikannya

Aku terkesiap ditempatku. Bagaimana aku bisa melupakan hal sepenting itu?

“Lalu, mungkin ada baiknya jika diberikan groundfloor untuk meletakkan mobil-mobil. Anda suka untuk mengoleksi mobil, tidak? Kalau aku suka sekali, hanya saja karena tinggal di Apartement aku tidak bisa mengoleksi mobil itu..”

Aish! Kenapa sih dia itu selalu saja menambah pekerjaanku? Dan anehnya kenapa klienku itu begitu mendengarnya? Kenapa setiap orang akan selalu berpikir bahwa apa yang Chanyeol pikirkan itu selalu yang paling benar?

“Baiklah.. Itu ide yang bagus.. Bagaimana kalau seandainya anda memberikan desain yang baru 3 hari lagi? Lengkap dengan tambahan-tambahan yang Tuan Chanyeol bilang? Tapi anda sudah bisa mulai untuk mengumpulkan bahan-bahan membangun rumah itu. Aku ingin rumah itu jadi hanya dalam beberapa bulan..”

Aku menganguk pasrah sambil memerintahkan karyawan itu untuk menyalakan lampu, “Baiklah Tuan.. Saya akan membuat desain yang lebih lengkap seperti yang sudah disarankan oleh tuan Chanyeol… Karena itu marilah kita akhiri saja pertemuan kita hari ini. Saya akan secepatnya mengabari anda, terima kasih..”

Aku berjalan menjabat  klienku itu, seorang pria yang cukup muda menurutku. Wajahnya cukup tampan, tapi tidak setampan Chanyeol menurutku. Ia tersenyum manis sesaat sebelum melepas genggaman tanganku itu lalu beralih menatap Chanyeol, “terima kasih atas sarannya, Tuan Chanyeol.. Sampai jumpa dilain waktu..”

“Tentu saja, saya hanya membantu..” balas Chanyeol sambil tersenyum. Ngomong-ngomong bagaimana klien-ku itu tau kalau Chanyeol bernama Chanyeol? Sedangkan daritadi aku sama sekali tidak melihat Chanyeol memperkenalkan dirinya? Atau hanya aku saja yang tak memerhatikannya?

**

“Sebenarnya rumah itu akan lebih bagus kalau seandainya ditambah ruangan kenangan, Na..”

Aku berbalik melihat Chanyeol, pria itu masih sibuk mengatur bawaanku yang bertengger dikedua tangannya. Dia tidak pernah protes, bahkan mungkin ia malah suka sekali membawa barangku? Sudahku bilangkan dia itu agak aneh, tapi aku tidak mau protes. Toh itu adalah suatu keuntungan untukku.

Tak lama aku mencerna kata-kata Chanyeol. Ruang kenangan, ya? Itu suatu ide yang bagus sih. Nanti bisa diletakkan semua barang kenangan, foto-foto. Hal itu akan membuat semuanya terasa lebih kekeluargaan. Kenapa aku tidak memikirkannya sejak dari dulu ya? Tapi itu berarti aku harus membongkar desain dalam lagi dong? Menambah satu ruangan berarti menghancurkan desain ruangan lain karena harus diubah ukurannya, mengubah gambar itu bukan hal yang mudah. Aku butuh konsentrasi lagi dalam mengukur ini dan itu. Menentukan ini, itu. Sebenarnya ini adalah hal yang paling ku benci, mengedit hal yang sudah kuciptakan dengan susah payah.

“Aku akan membantumu.. Toh ini menyangkut kehidupan seorang suami istri, dan bukan perkara yang mudah. Kita harus membuat sebuah rumah yang nyaman bukan dalam jangka waktu yang pendek, kan? Kita memerlukan sebuah ruangan yang bisa ditinggali dalam jangka waktu lama. Bukankah bagi seorang desainer arsitek semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin menunjukkan kualitas rumah itu?”

Aku mendorong tubuh Chanyeol agar menjauh dariku sedikit, kenapa sih dia terus memaksaku terus daritadi? Kenapa bukan dia saja yang membuat rumah itu?

“Ayolah.. Kita kerjasama..”

“Kenapa sih kamu menyebalkan sekali?” teriakku sebal sambil mempercepat langkahku, tapi ia lebih cepat dariku. Ia berhenti didepan ku dan menangkupkan kedua tanganku, menahan wajahku gar tidak bergerak kemanapun. Aku sudah tau bagaimana hasil pembicaraan ini, aku yakin ia akan menggunakan kemampuan matanya itu, “Aku hanya ingin membantumu..  Bukannya kalau kamu berhasil aku juga berhasil?”

Aku bisa merasakan bahwa semua pasang menatap kami berdua, tapi aku tidak begitu mempedulikannya. Toh mereka sudah sering sekali melihat kami berdua seperti ini. Mereka juga sudah tau kalau kami berdua ini hanya sepasang sahabat yang sudah kenal seumur hidup. Jadi tak ada yang aneh jika kami terlihat begitu akrab atau bahkan begitu mesra.

“Terserah padamu lah.. Sekarang cepat lepaskan tanganmu. Aku mau jalan..” ujarku sebal sementara ia hanya tertawa, seolah memaksaku untuk mengakui kemenangannya. Aku mendelik sebal tapi ia bahkan tidak sedikitpun bergerak, bahkan justru ia malah semakin mendekatkan tubuhnya. Beberapa detik kemudian aku kembali menahan nafasku, aku merasakan hangat disekujur tubuhku. Teriakkan tertahan dari seluruh sudut terdengar, aku tau bahwa bukan cuma aku yang shock. Aku sangat sadar ketika banyak sekali handphone tanpa blitz memfoto atau bahkan memfoto kejadian ini. Aku hanya terlalu shock. Bagaimana ini! Kenapa sih pria ini begitu seenaknya, sudah jelas kalau aku itu tidak suka dibeginikan. Bagaimana kalau mereka semakin berpikir yang tidak-tidak? Aku cuma tidak ingin keselamatanku terganggu akibat fans-fans fanatik Chanyeol!!!!!

“Kamu kenapa sih cepat sekali marah? PMS?” bisiknya lembut ditelingaku, membuatku merinding kegelian.

“Karena kamu begitu menyebalkan. Sekarang lepaskan pelukanmu atau aku akan berbuat sesuatu?” ancamku sambil balas membisik tepat didepan telinganya.

“Memang kamu berani?”

Aku mendengus sebal. Kenapa dia begitu menyebalkan sih hari ini? Berani-beraninya menggangu serigala tidur? Apakah ia lupa kalau seandainya aku punya kemampuan bela diri yang cukup berarti? Aku menarik wajahku lalu melemparkan tatapanku yang cukup tajam. Dan sialnya, pria itu hanya tersenyum sinis dan tidak menyingkirkan tangannya sedikitpun dari pinggangku.

“Jangan salahkan aku, tuan sangat sibuk!”

“DUAK!!”

“AWWWW!!!!”

Aku merasa tubuhku bebas sementara pria itu terjatuh kebawah sambil memegang perutnya. Aku rasa sikutanku tadi cukup membanggakan. Lihat saja dia sudah meringis dan jatuh kebawah. Hhaaha!! Rasakan! Siapa suruh mengerajaiku daritadi..

“YAK! Berani sekali kamu menyikut seorang pria yang tampan sepertiku?” teriak Chanyeol sambil berusaha berdiri.

“Bukankah kamu juga adalah Pria yang kuat, pria selalu sibuk dan tampan? Sudahlah! Cepat ikuti aku ke ruanganku..” ujarku cepat sambil melihat kedepan. Aku hanya tersenyum sebentar melihat semua karyawan itu, membuat mereka sadar akan keterkejutan mereka. Apakah mereka begitu ngefans pada Chanyeol sampai segitunya?

Aku baru akan kembali melangkahkan kakiku, tapi sesaat kemudian aku bsia merasakan seseorang meraih tanganku dan menggenggamnya kuat. Menyelipkan jari-jarinya disela-sela jari-jariku. Aku menoleh dan melihat Chanyeol yang sudah berdiri didepanku. Bagaimana mungkin bisa pria ini terlihat baik-baik saja?

“Sebenarnya tadi itu sama sekali tidak sakit, nona. Aku hanya tidak ingin kamu terlihat begitu memalukan.”

Aku terkesiap merasakan nafasnya dileherku, dan rambutnya yang menggelitik disana. Ia tersenyum sambil mengambil tasku yang kupungut saat Chanyeol menjatuhkannya, “Untuk apa bengong? Bukankah kita akan keruanganmu?” lanjutnya sambil menarik tanganku.

End of Vena’s POV

**

Chanyeol’s POV

Aku mengotak-atik iPad-ku sementara gadis itu dengan sigap duduk didepan meja kerjanya. Ia memainkan mac apple  dan laptop canggihnya dengan begitu sigap. Jaman sekarang bagi seorang arsitek, barang seperti berteknologi seperti itu memang sangat diperlukan.

Aku menengok kearah jendela sebentar, dan tak lama mulai memperhatikan ruangan Vena ini dengan baik untuk kesekian kalinya. Ruangan ini perpaduan modern dan juga tradional disaat yang bersamaan. Gadis ini suka sekali dengan modern, sementara ayahnya suka tradisional. Sehingga ia memutuskan untuk mendesain ruangan ini berwarna coklat, banyak sekali ukiran-ukiran indah disudut ruangan. Tapi peralatannya didesain sangat modern, yang menambah citra ruangan ini adalah jendela-jendela besar itu. Ruangan Riena berada dilantai 6, sehingga dari jendela itu pemandangan bisa terihat sangat bagus. Apalagi jika saat malam hari. Gadis itu sangat suka jendela, menurutnya jika ada jendela kita tidak perlu menggunakan lampu siang hari. Vena memang salah satu orang yang peduli lingkungan, ia berusaha sedimikian mungkin untuk mengurangi penggunaan listrik. Hanya sayang saja gadis itu sangat tidak bisa menjaga kebersihan, beda sekali denganku. Ohya, ia suka jendela juga karena menurutnya ia bisa melihat pemandangan malam yang sangat bagus saat malam hari. Jadi meurutnya untuk apa memilih tembok tidak berguna?

Aku tersenyum pelan ketika mengetahui diriku mengetahui dengan baik dirinya. Ya, aku ntah sejak kapan memang selalu menyimpan semua kata-katanya. Seolah-olah aku ingin menjadi satu-satunya orang yang paling tau dirinya, melebihi siapapun.

Tak lama ia berdiri, membuatku terkesiap dan bangun dari lamunanku. Gadis itu berjalan kesuatu sudut ruangan, dan aku bisa menebak ia akan pergi kemana. Ia membawa sebuah gulunga lalu tak lama berhenti didepan sebuah meja tinggi yang miring beberapa derajat, semua orang biasanya menyebut meja ini sebagai meja design. Tempat dimana para designer atau arsitek menggambar design-nya secara kasar.

“Jadi harus darimana aku mulai me re-make design ini?”

Aku terkikik pelan ditempatku. Bagaimana ya aku menjelaskannya? Aku suka sekali mendengarnya menggerutu. Mungkin lebih baik daripada diam. Vena itu adalah satu-satunya gadis yang hidup bersamaku selamanya. Sudah lama sekali. Aku laki-laki pertama yang menyentuhnya selain papa dan ayahnya. Dan aku cukup bangga akan itu. Sebagai satu-satunya, aku ingin selamanya begitu. Tapi kenapa ia begitu bodoh dan tidak menyadarinya? Harus ya aku memberitahunya secara detail setiap perasaanku padanya?

Badanku terpaksa untuk berdiri. Jujur saja aku sangat lelah. Kemarin aku harus perform dan latihan, belum lagi selama perjalanan aku masih harus berkutat dengan iPad  bodoh ini untuk mengurus pekerjaanku. Sebenarnya aku lebih suka untuk hidup didunia keartisan, tapi tidak akan lama kan aku bisa bertahan seperti ini? Lagipula aku sudah merencanakan sesuatu dimasa depan, sesuatu yang tidak akan pernah kusesali seumur hidup. Karena itu aku bekerja sedemikian rupa, aku tidak ingin mendapat bantuan dari siapapun demi meraih impian yang sudah ku rencanakan matang-matang itu.

“Kamu mau kubantu?”

Gadis itu mengalihkan pandangannya dan menatapku sekilas, ia tidak beraksi apapun. Tanda bahwa ia mau meminta bantuan tapi ia malas untuk meminta.

Kalian pasti bertanya kenapa aku tau tentangnya tanpa ia memberitahuku sekalipun? Bukankah sudah jelas kalau seandainya aku memperhatikannya. Aku memperhatikan setiap gerak-gerik, ekspresinya. Mungkin itu adalah satu-satunya hal yang sangat menyenangkan untuk kulakukan selama seumur hidupku ini. Dari dulu aku sangat suka memperhatikannya, dengan memperhatikannya aku jadi bisa tau tentangnya.

“Baiklah.. Ini kamar yang dilantai 2 dikecilkan ¼ saja.. Bagaimana? Jadi nanti sisanya itu akan dijadikan ruang kenangan? Dan ohya mana lembar lantai 1? Bagaimana kalau aku saja yang menggambarkan tamannya?” tanyaku sambil memperhatikan sekeliling. Gadis itu menunjuk sebuah tabung dengan jari  lentiknya. Aku mengambilnya cepat dan mengeluarkan 3 lembar gulungan dari sana. Semua designer atau arsitek biasanya memang punya tabung seperti ini. Menjaga desain diambil orang atau bahaya rusak lainnya. Dan gadis itu suka sekali dengan warna coklat, jadi ntah sejak kapan setiap kali ia membawanya aku sering sekali berpikir bahwa ia sedang membawa termos. Ya walaupun tabung ini terlihat sangat besar untuk ukuran termos.

Aku memperhatikan sebentar gambar itu, gambar yang cukup bagus dan rapi. Terlihat cukup membosankan karena kertas ini adalah kertas kotak-kotak yang biasanya disebut milimeter blok. Milimiter blok ini digunakan untuk memudahkan  gambar dengan penggunaan skala agar sesuai dengan gambar aslinya. Ketika melihat design-nya, kolam renang itu terletak dibelakang, dan ditutupi pagar kayu. Mungkin sebaiknya taman itu dibuat jalan setapak dari dua jalan, dari pintu depan juga dari belakang.  Kalau begitu, aku lebih baik membuat design tamannya secara garis besar dulu saja. Malas sekali kalau harus berurusan dengan  milimeter block ini..

Aku bisa merasakan bahwa Vena berhenti menggambar dan melihatku sebentar, aku hanya tersenyum padanya sesaat sebelum duduk diatas meja kerjanya dan mengambil sebuah kertas gambar dari balik laci. Dan ohya, jangan ragukan aku dalam menggambar. Bukankah sudah seperti keahlian tertular untuk bisa menggambar? Melihat gadis itu suka menggambar, mau tidak mau memaksaku untuk bisa menggambar juga. Gadis itu memang bercita-cita menjadi seorang arsitek dimasa depan mengikuti jejak ayahnya. Sehingga dari kecil ia suka sekali menggambar. Dan aku bisa ingat dengan jelas bagaimana rumah yang ia inginkan jika nanti ia menikah dengan seseorang. Sangat jelas.. Tapi aku juga tidak tau jika sekarang seleranya sudah berubah, toh gadis itu cuma pernah menyebutkannya sekali ketika kami masih kecil..

“Kamu ingin bunga apa saja disana?” tanyaku membuatnya melihatku bingung.

“Kenapa harus kesukaanku?” balasnya bingung, aku hanya tersenyum sehingga membuat kerutan dikeningnya bertambah.

“Ya, kan aku hanya bertanya.. Memang ada yang salah? Ohya, bagaimana kalau seandainya nanti disana ditanam sebuah pohon besar? Tempat rekreasi? Kita bisa memasang sebuah ayunan disana.. Bukankah kamu suka sekali ayunan?”

Aku terdiam merasakan kebodohanku sendiri, tapi ia tidak bereaksi apapun sehingga membuatku memilih untuk diam.

“Kamu kenapa…”

“Aku hanya memikirkan design yang bagus, lagipula seleramu cukup bagus. Biasanya setiap wanita memiliki kesukaan dan impian yang hampir sama, kan? Lagipula aku ga mungkin menggambar taman itu dengan kemauanku. Aku kan pria,  keinginanku tidak sama seperti wanita yang akan dinikahkan klien itu. Aku hanya bertanya pendapatmu..” potongku cepat membuatnya mangut-mangut ditempat duduknya.

Aku menggoreskan pensil itu dikertas dan dengan cepat menggambar design taman yang daritadi berputar dalam otakku. Mungkin lebih bagus pondoknya disini, lalu pohon itu disebelah sana. Dan pagar putih ini mengelilingi taman, tumbuhan merambat pasti membuat taman ini segar dan nyaman.

 

**

 

Aku menggoreskan garis terakhir di milimeter blok itu dan tak lama design ruang bawah tanah rumah itu sudah jadi. Ini adalah pekerjaan yang cukup menyenangkan, karena aku seperti mendesign sendiri ruang bawah tanah kesukaanku. Aku melihat jam digital yang kugunakan, ternyata sudah jam 9 malam? Apakah aku begitu fokus sampai aku tidak memperhatikan sekelilingku?

ASTAGA! Aku melupakan Vena! Aku melepas headsheet yang kugunakan dan melihat Vena yang tertidur diatas meja designnya. Bagaimana gadis ini bisa tertidur disini? Dan kenapa ia tidak memberitahuku? Aduh kenapa aku lupa kalau seandainya Vena itu tipe orang yang tidak ingin dikalahkan? Melihat aku bekerja dengan sangat cepat, ia pasti tidak mau mengalah dan beristirahat. Bahkan ia lebih memilih bekerja daripada makam dan beristirahat. Kenapa aku bodoh sekali?

Aku berjalan mendekat dan menyentuhkan jemariku untuk merapikan rambutnya yang menutup wajahnya. Aku suka sekali rambutnya yang panjang dan polos. Gadis itu terlihat begitu cantik dan terlihat begitu apa adanya. Aku menundukkan wajahku sesaat, dan mencium rambutnya. Bau favoriteku..

Tiba-tiba Vena bergerak, aku terkesiap dan segera saja berdiri tegak ditempatku. Ia mengucek matanya perlahan dan melihatku bingung, “Kamu sudah selesai?” ucapnya dengan suara serak. Aku tersenyum sambil menyentuh pipinya..

“Kamu menungguku sampai tidak makan? Sekarang kamu pasti lapar, kan?”

Gadis itu menanguk pelan.

“Jadi kamu mau makan apa?” tanyaku lagi membuat bola matanya berputar keatas. Menunjukkan bahwa ia sedang berpikir. Matanya berwarna coklat muda, dan ia terlihat cantik sekali dengan bola mata itu. Matanya mengerjap-ngerjap seolah ia juga mengumpulkan kesadarannya disaat bersamaan.

“Aku mau fetuccini buatanmu saja..” ucapnya riang sambil tersenyum cerah. Sepertinya ia suka sekali dengan makanan itu. Apa ia tidak bosan makan makanan itu akhir-akhir ini?

“Kamu tidak mau makan-makanan lain?” usulku. Habisnya aku sudah sangat lelah dan malas untuk masuk dapur. Lagian kenapa akhir-akhir ini dia suka sekali makan dirumah sih?

Vena hanya memanyunkan mulutnya beberapa senti, “Bilang saja kamu tidak mau memasakkannya untukku. Kamu bilang kamu mau jadi supirku, kan? Berarti sekalian saja menajdi kokiku! Apa susahnya sih?”

“Tapi aku malas, Vena…”

Vena hanya berdiri, berjalan mengambil tas dan juga laptop serta tabung datanya. Ia sekilas berbalik melihatku, “Aku ga mau.. Menurutku masakkanmu yang paling enak..” ujarnya sesaat sebelum berbalik membelakangiku.

DEG… Aku merasakan jantungku memompa darah dengan begitu cepat akrena desiran itu terasa dengan sangat nyata disekujur tubuhku. Jantung itu memang selalu tidak bekerja dengan baik beberapa tahun ini. Ntah mengapa aku merasa sangat senang, sangat senang hanya karena beberapa kata itu. Aku berjalan menyusulnya dan menarik tas yang ia pegang dengan tangan kananku. Sementara itu tangan kiriku menggenggam tangannya. Ia melihatku sebentar dan hanya tersenyum.

Aku suka sekali menggenggam tangannya, lagipula dengan posisi ini aku seolah mengetahui aku cukup layak berada disisinya. Aku berdiri disebelah kanan. Itu berarti aku siap melindunginya.

**

**

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW @ADOREABLEXO for the lastest update about EXO

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY HJSOfficial, NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

 

 

Advertisements

Tagged:

3 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Plan For Future” – Part 1

  1. Cynthia January 20, 2013 at 6:17 PM Reply

    ayo cpt dilanjut ya 😀

    • hanjesi January 22, 2013 at 9:37 AM Reply

      Makasih uda bacaaaaa ^^

  2. isshikisaika May 18, 2013 at 8:00 AM Reply

    such an interesting story,, fighting for next chapter,,, ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: