EXOtic’s Fiction “Forever Home”

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Forever Home”

IngAW-tile

 

*Title : Forever Home

*Author : Han Je Si

*Main Cast :

  • Park Chanyeol
  • Elaine Park

*Length : One-shoot

*Genre : Romance

*Rating : PG-11

**

Dimana aku?

Siapa aku?

Kenapa aku?

Bagaimana aku bisa disini?

Sejak kapan aku disini?

Tidak ada kah seseorang yang bisa menjawab pertanyaanku?

**

Aku bersyukur bahwa kamu tetap ada disini.

Aku bersyukur bahwa paru-parumu tetap bernapas.

Aku bersyukur bahwa jantungmu tetap berdetak.

Aku bersyukur bahwa aku masih bisa melihatmu.

Disini.

**

Chanyeol’s POV

Aku membuka mataku, dan sekejap aku bisa merasakan perasaan yang mencekam, bau yang menyengat dan juga aku bisa melihat bahwa tempat ini putih bersih. Nyaliku sempat ciut dan membuatku ingin tetap menutup mataku.

Tapi tetap saja aku sudah tidak lelah, tidak ada gunanya aku tetap menutup mataku. Sudah berapa lama aku tidak membuka mataku? Rasanya sudah begitu lama. Karena aku bisa merasakan sekujur tubuhku kaku. Rasanya sulit sekali untuk digerakkan.

“Tik..tik..tik..”

Aku menoleh kesebelah, dan aku bisa melihat sebuah mesin kardiograf. Sepertinya mesin itu mendeteksi detak jantungku, syukurlah. Jantung ini masih tetap berdetak. Tapi, kenapa aku bisa ada disini?

Aku menarik napasku dalam-dalam, dan kemudian aku bisa melihat embun-embun pada alat bernapas yang menutup mulut dan hidungku. Ya ampun, sampai bernapas pun aku memerlukan alat. Apakah aku sebegitu parahnya?

“Ehmm..”

Aku menoleh cepat kesebelah kanan pinggir tempat tidurku, dan tiba-tiba aku melihat seorang gadis tidur didalam lipatan tangannya diatas kasur. Siapa gadis itu?? Kenapa dia ada disini? Apa hubungannya dengan diriku sehingga ia ada disini? Apakah ia tau sesuatu tentang aku? Karena jujur, aku tidak tau apapun tentang diriku.

Tiba-tiba saja aku mengulurkan tanganku hendak menyentuh wajahnya, tapi-tiba saja ia terbangun dan melihatku bingung. Dan tak lama aku melihatnya tersenyum, sangat manis. Manis sekali. Mungkin itu adalah senyum paling indah yang aku pernah lihat. Atau ini semua akibat karena aku melupakan segalanya?

“Kamu sudah bangun?” tanyanya ceria, matanya lucu sekali. Matanya seolah tak henti-hentinya memancarkan cahaya binar-binar yang gembira.

“Kamu capek? Kamu perlu sesuatu? Kamu mau makan?”

“Aku siapa?”

Aku bisa melihat dengan jelas bahwa senyumnya tiba-tiba saja pudar, dan kemudian berbalik melihatku. Ia membawa sebuah gelas dan memberikannya padaku.

“Minum dulu..”

“Jawab dulu aku…” ucapku cepat, ia tersenyum membuatku mau tidak mau meminum dulu dan kemudian memberikannya padanya lagi. Ia segera meletakkannya lagi diatas meja dan kemudian duduk diatas kursi pinggir kasurku.

“Kamu ga ada sakit? Kamu mau kau panggilkan dokter?”

“Aku baik-baik saja. Jadi beritahukan aku. Siapa aku. Kamu daritadi tau kan kalau aku amnesia?”

Ia masih tersenyum, “Ya.. Kamu memang amnesia. Tapi aku akan membantumu..”

“Namaku?”

“Park Chanyeol..”

“Aku ada dimana?”

“Kamu ada disebuah Rumah Sakit. Rumah sakit diatas Pulau Jeju..”

“Pulau Jeju?”

“Suatu tempat yang dingin dengan udara yang bagus. Ini bagus untuk kesehatanmu..” ucapmu ringan sambil membuka tirai, dan cahaya matahari yang menyengat itu mulai mengenaiku.

“Kenapa aku ada disini?”

“Aku tidak bisa memberitahukanmu secara lengkapnya. Yang aku bsia beritahukan hanya kamu kecelakaan, dan menyebabkanmu amnesia. Seluruh luka tubuhmu sudah sembuh, hanya otakmu saja yang masih gangguan. Sudah sekitar hampir 1 tahun kamu koma disini..”

“Dimana keluargaku?”

Gadis itu kembali terdiam sebentar, “Mereka masih belum menemukanmu..”

“Apa?”

“Aku tidak bisa meninggalkanmu disini. Sehingga aku tidak bisa mencari mereka. Jadi sampai sekarang mereka belum menemukanmu.. Jadi cepatlah sembuh sehingga kita bisa mencari mereka..”

Gadis ini menungguku hampir 1 tahun sendirian? Apakah dia gila? Dia itu sebenarnya siapa?

“Kamu siapa?”

“Aku? Kamu juga lupa akan aku?” ucapnya pelan, tapi tidak ada nada kekecewaan disana. Ia melihatku dengan tatapan penuh arti, “Aku pasti akan membuatmu mengingatmu. Hal yang pertama yang perlu kamu tau adalah namaku Elaine.. Elaine Park..”

“Apa?”

Gadis itu menunjukkan cincin dijari manisnya, cincin putih dengan sebuah berlian terukir yang sangat cantik disana. Apa? Jangan bilang kalau aku melupakan..

“Aku.. Istrimu..”

“Toktoktok..”

Aku masih belum sepenuhnya tersadar, karena aku masih sangat terkejut. Tapi tiba-tiba saja perhatianku tersita melihat pintu yang diketuk itu sehingga seluruh mataku sekarang terfokus dipintu itu, “Ya masuk..”

Namun tiba-tiba aku melihat Elaine berdiri, dan kemudian dengan cepat mengecup keningku.

“Sekarang waktu check up. Suster dan dokter pasti sangat senang karena kamu bangun. Jadi lebih baik aku pergi, aku akan menemui nanti.. Aku akan kembali, kamu istirahat ya…”

“Tidak bisakah kamu tetap disini?” kataku pelan, sebenarnya aku tau dia asing bagiku sekarang. Tapi ntah mengapa hatiku memberontak, seolah memang merasakan bahwa dia benar-benar istriku. Rasanya ada yang rasa sangat kuat, membuatku tidak ingin jauh darinya. Ia kembali tersenyum dan hanya menggeleng, dan kemudian berjalan keluar setelah ia menunduk ketika ia melihat suster yang membuka pintu itu. Apa segitu dinginnya suster itu sampai ia tidak membalas senyum istriku?

Ah iya, dia pasti sangat terkejut melihatku terbangun. Suster itu segera saja kembali keluar, apakah suster itu gila?

Aku berusaha menggerakan kakiku turun, tapi benar. Rasanya sangat-sangatlah berat. Dan aku hampir tidak dapat menggerakkannya. Sepertinya aku harus belajar segala hal dari awal..

**

Dimana dia? Ini sudah hampir malam. Sebenarnya aku sudah sangat lelah, dokter itu sudah hampir kegirangan gila karena aku bangun. Ia segera saja menanyakan banyak hal padaku. Mengajariku cara berjalan. Dia bilang bahwa untung jadi aku, soalnya banyak sekali yang amnesia dan bahkan mereka tidak mampu berbicara lagi dan harus diajari dari awal. Dokter itu bilang bahwa ototku tidak begitu kaku, dan katanya aku bisa cepat keluar dari rumah sakit kalau aku sudah mampu berjalan dengan baik. Aku senang akan hal itu, sehingga aku ingin sekali memberitahukannya pada Elaine

Itu berarti aku tidak usah menunggunya lagi, itu berarti aku bisa bersamanya setiap hari. Dan aku suka dengan kenyataan itu. Aku sempat berpikir darimana Elaine membayar semua pengeluaran rumah sakit itu. Saat aku bertanya pada suster itu, ia bilang bahwa aku sangat kaya. Dan setiap bulan selalu ada yang membayar rumah sakit ini. Tapi ia bilang tidak pernah bertemu dengan istriku.. Bagaimana bisa? Sudah sangat jelas bukan kalau dia selalu berpapasan dengan gadisku, hanya saja ia tidak begitu memperhatikan sekitarnya.

“Toktoktok…”

Aku tersenyum melihat pintu itu dibuka, dan sosok gadis itu terlihat begitu menawan. Ia menggunakan dress berwarna peach dan kemudian menggunakan sebuah sweeter seperti jaket itu. Ia masuk sambil tersenyum dan menutup pintu, tak lama ia sudah berada dihadapanku. Duduk diatas kasur. Tangannya terulur menyentuh wajahku, dan kemudian meraihku kedalam pelukannya. Bisakah aku mendeskripsikan betapa nyamannya berada didalam pelukannya? Hangat dan begitu menghanyutkan. Bahkan mungkin lebih hangat daripada selimut mantel yang berlapis-lapis dan lebih nyaman dari kasur air yang begitu nyaman. Rasanya aku tidak ingin lepas darinya.

Tanganku terangkat untuk menyentuh kepalanya,.aku mengelusnya pelan lalu menarik napas dibalik punggungnya, merasakan bau khasnya yang begitu khas. Membiarkan tubuhku berefek. Rasanya seperti candu bersamanya.

“Kamu darimana saja?” tanyaku masih tetap memeluknya..

“Aku tadi bersih-bersih rumah kita dan tiba-tiba saja ketiduran..”

“Jangan memaksakan dirimu sendiri, Elaine..”

“Puppy.. Kamu juga…”

“Puppy?”

“Ya itu panggilan kesayanganku untukmu..”

Dahiku berkerut, “Apa panggilan sayangku untukmu?”

“Tidak tau.. Aku lupa..”

“hah? Aku tau.. Pasti panggilan kesayangan itu menjelek-jelekkanmu. Biarku tebak..”

“Kamu memanggilku, Eien..”

“Apa artinya?”

“Tidak tau.. Salahkan dirimu tidak pernah memberitahukanku..”

Aku menjauhkan wajahku, dan menatap matanya. Aku menangkupkan wajahnya kedalam telapak tanganku, berusaha agar ia tidak mengalihkan wajahnya sedikitpun dariku.

“Eien.. Aku akan cepat sembuh sehingga aku akan selalu bisa bersamamu.. Aku akan cepat sembuh sehingga aku tidak perlu menunggumu lagi untuk datang.. Lalu aku akan menemanimu kemanapun kamu pergi.. Mau kah kamu menunggu?”

“Bukankah sudah pasti? Aku akan selalu berada disisimu.. Tempatmu berada adalah tempat dimana aku akan pulang. Tempat aku tinggal. Tempat aku akan selalu berada.Karena aku adalah istrimu..”

Aku mengecup keningnya lama, aku rindu saat-saat ketika aku bersamanya. Selamanya.. Dia adalah selamaku…

**

Dihari-hari berikutnya, aku semakin berusaha untuk sembuh. Seperti sebuah kekuatan ia datang, membuatku semangat untuk menjalani semuanya. Aku bahagia karena dia berada disisiku. Ia mendukungku ketika aku lelah, ketika aku putus harapan. Jadinya apa arti diriku tanpanya?

“Baiklah Tuan Chanyeol.. Ayo berusaha.. Kalau anda sudah bsia berjalan dengan baik menggunakan penyanggah ini, anda sudah bisa pulang besok..”

Aku menguatkan keyakinanku, dan memperkuat peganganku pada penyanggah itu. Tak lama aku menggerakkan kakiku maju, dokter itu tidak begitu jauh dari jarak pandangku. Ya sekitar 3 meter. Tapi masalahnya kalau aku bisa berjalan dengan baik, aku tidak akan begitu kesusahan seperti ini.

1 langkah, 2 langkah, 3 langkah.. Awalnya masih terasa sangat ringan. Dan entah ini sudah langkah keberapa, langkah itu semakin memberat dan terus berat. Tapi aku bisa menyerah. Lebih tepatnya aku tidak mau menyerah. Aku ingin melihat istriku pulang, melihatnya memasak didapur, aku ingin memeluknya dalam tidurku. Tidur sendirian itu membuat menderita. Aku ingin melihat senyumnya setiap saat. Jadinya aku tidak akan menyerah.

“Yak sedikit lagi.. Sedikit lagi.. Ayo sedikit lagi…”

Aku memajukan langkahku, dan terus memajukan langkahku. Dan ketika aku sampai didepan dokter itu, aku melihatnya tersenyum bangga. Sebelum mataku buram, sebelum tungkaiku terasa lemas, sebelum tubuhku ambruk. Aku melihat istriku tersenyum disudut ruangan.. Sejak kapan ia ada disini. Yang jelas aku senang sekali ia berada disini.

Eien.. Tunggu aku pulang.

**

Aku masuk kedalam rumah itu, rumah yang terlihat begitu nyaman. Sudahkah aku bilang bahwa rumah ini sangat besar, dengan desain kayu yang membuatnya begitu nyaman. Tadi sebelum aku masuk, aku bisa melihat bunga-bunga dan pohon-pohon berbuah tertanam dengan baik.

Dan aku bisa melihat sebuah danau kecil disuatu sudut. Dan disana ada sebuah pondok kecil, aku rasa itu adalah tempat dimana aku menghabiskan waktu bersamanya. Dia bilang ia suka sekali bau hujan, bau buku dan ia suka sekali meminum cappucino. Aku rasa ia pasti memaksaku untuk membawanya kesana waktu hujan..

Rumah ini memang terlihat biasa dari luar, tapi terlihat begitu indah dari dalam. Ia membawaku kesebuah kamar dilantai atas. Ruangan yang sangat tertutup kalau bisa dibilang.. Kemudian ia mengajakku untuk duduk diatas tempat tidur, ia meletakkan tasnya disampingku dan beranjak menuju kedinding dan memencet sebuah tombol. Ntah apa yang terjadi, aku merasakan rumah itu berguncang. Aku dengan bingung melihat atap itu terbuka, dan ada sebuah kaca bening yang menggantikannya disana. Tak lama dinding-dinding kayu itu seolah terjatuh membuka ruangan itu. Dan aku baru menyadari bahwa ruangan itu ditutupi kaca besar yang menjadi penganti dinding disana.

“Bag..Bagaimana bisa?” tanyaku bingung

“Kamu lupa ya? Dulu aku berharap kalau seandainya kalau aku bisa tidur sambil melihat hujan, bisa tidur melihat langit. Sangat-sangat berharap. Dan kamu mengabulkan permintaanku itu. Kamu mendesain khusus rumah ini seperti yang aku mau. Aku hanya pernah menceritakannya satu kali.. Tapi.. Kamu mengingat semua. Sampai hari pernikahan kita..

DEG!

Tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa pada kepalaku, membuatku kembali terduduk sambil memegang keras kepalaku yang terus berdenyut. Tak lama aku sudah tidur diatas tempat tidur sambil meronta-ronta.. Ada apa denganku?

**

Elaine tidur diatas pangkuan pahaku, ia menggapai-gapai langit sementara tangan yang satunya menghalangi matanya dari cahaya matahari. Langit hari ini begitu cerah, sehingga siapapun ingin menikmati hari ini. Apalagi dengan orang yang kita cintai.

Tiba-tiba saja gadis menyebalkan ini mengajakku untuk berpiknik bersama, padahal jelas-jelas ia tau bahwa aku ada rapat. Tapi ia muncul didepan pintu sambil membawa keranjang piknik dan mengajakku pergi. Mau tidak mau segera saja aku membatalkan rapat dan ikut seretannya.

Bagaimana aku bisa menyukai gadis sepertinya? Aku pun tidak tau, ia adalah gadis yang dijodohkan keluargaku. Tapi bukan berarti aku tidak menyukainya. Ia adalah gadis pertama yang berani mendekatiku tanpa malu dan tanpa takut. Sedangkan orangtuaku saja takut dengan tatapan mataku. Tapi dia beda. Hanya saja ada sesuatu yang darinya yang membuatku terpana.

“Puppy..”

“Kenapa kamu selalu memanggilku seperti itu?”

“Memang tidak boleh? Puppy kan lucu seperti wajahmu..”

“Tapi itukan binatang. Dan bagiku itu sama sekali tidak lucu.”

“Aku tidak mau…”

Aku menggeleng kepala tidak percaya, dan hanya bisa diam sambil mengigit sandwich itu. Aku malas melihat kebelakang, para karyawan itu pasti melihatku heran. Bagaimana bisa bos mereka yang dingin ini menjadi seperti ini? Disuruh-suruh gadis sepertinya?

“Eien.. Kamu jangan menggunakan celana pendek dan tanktop itu…”

“Kenapa, Puppy? Ini kan nge-trend? Lagian aku masih kuiah, tidak seperti dirimu udah kerja sehingga harus menggunakan pakaian formal menyebalkan itu…”

“Kamu harus menggunakann dress…”

“Tidak mau…”

“POKOKNYA KAMU HARUS MENGGUNAKAN DRESS!”

“TIDAK MAU!” balasnya lebih kuat, aku menarik wajahnya untuk melihatku dan aku bisa melihat pipinya yang menggelembung itu.

“Aku tidak suka kalau pria lain melihatmu seperti itu. Aku hanya ingin kamu berdandan tidak menor. Aku tidak ingin siapapun melihatmu. Kamu adalah milikkku. Jadi jangan menggunakan baju seperti itu. Kamu mengerti? Atau aku akan mencari istri lain?”

“Apa? Tidak akan ada yang sebaik aku, Puppy…”

“Karena itu jangan pernah kamu menggunakan baju seperti itu…”

Ia menggapai wajahku dan memajukan wajahnya, “Aku mengerti, Puppy. Kalau begitu jangan pernah berbaik hati pada siapapun. Kamu hanya boleh seperti ini didepanku. Kamu hanya boleh bersikap seperti ini didepanku. Karena kamu adalah milikku. Mengerti?”

“Deal!” ucapku cepat membuatnya tersenyum cerah, tak lama ia bangun dan meraih keranjang itu, ia mengeluarkan sandwich itu kemudian mengigitnya kecil.

“Ehm.. Enak sekali..”

“Ini buatanmu?” tanyaku membuatnya berpaling melihatku, “Menurutmu siapa yang akan mau memasakkan untukmu? Jangan kira nona muda sepertiku tidak akan bisa masak. Jangan remehkan aku, Tuan Park…”

“Baiklah yang sebentar lagi akan menjadi nyonya Park Park.. Aku tidak meremehkanmu..” kataku sambil ikut mengigit sandwich yang ia genggam, habisnya aku lapar sekali dan sandwich terakhir sudah ia ambil.

“Puppy.. Kamu tidak akan menyesal jika menikah bersamaku kan? Kamu ingin menikah denganku bukan karena hanya kita dijodohkan, kan?”

Aku menariknya kedalam pelukanmu, “Memangnya aku belum memberitahumu?”

“Memberitahu apa?”

“Lupakan…” ucapku pelan membuatnya memukul dadaku pelan..

“Jadi ceritakan padaku.. Kamu ingin rumah yang bagaimana Nona Muda?”

Ia tersenyum sambil mengigit apelnya, ia mengunyah sebentar sebelum menjawabku. Sepertinya ia berpikir dengan keras.

“Ehm.. Aku tidak ingin rumah kita berada dipusat kota. Aku ingin rumah kita dipinggir kota. Atau jauh dari keramaian. Aku ingin rumah kita terbuat dari kayu, sehingga rumah itu akan tetap dingin walaupun panas. Aku ingin mencoba menanam, bunga-bunga dan pohon-pohon kesukaanku. Dimana aku tidak pernah diperbolehkan untuk menyentuh tanah. Aku ingin sekali rumah kita memiliki sebuah danau kecil, dan disana akan ada sebuah pondok tempat kita menghabiskan waktu saat gerimis. Disana aku akan menata buku-buku kesukaan kita dan menyediakan tempat untuk membuat cappucino.. Kau tau kan aku suka sekali gerimis?”

“Tentu saja.. Kamu pernah hampir dirawat selama 1 minggu dirumah sakit karena daya tahan tubuhmu yang rendah itu..”

“Tapi aku tau kalau seandainya aku sakitpun, aku akan selalu sembuh jika ada kamu..”

“Baiklah berhenti menggombalnya nona muda.. Lanjutkan ceritamu itu…”

Dia duduk melihatku, “kamu tau kan kalau aku suka sekali alam, suka sekali langit?”

Aku menganguk..

“Tapi kamu tau kan kalau kesehatanku tidak baik sehingga aku tidak diperbolehkan melihat alam? Karena itu aku ingin sekali sebuah rumah, dimana aku bisa melihat langit dan alam. Tapi aku tetap aman. Dengan kata lain, kamarku nanti harus terbuat dari kaca..”

“Baiklah aku akan mengabulkannya nanti..”

Tiba-tiba saja ia memelukku kuat, “Dan didalam rumah itu harus ada kamu.. Karena tanpamu itu bukan rumah. Tempatmu berada adalah tempat dimana aku akan pulang. Tempat aku tinggal. Tempat aku akan selalu berada.”

**

“AHHH……”

Aku bangun, aku bisa merasakan sekujur tubuhku berkeringat walaupun aku bisa merasakan udara yang sangat dingin disekelilingku. Mataku melotot hingga hampir keluar, nafasku naik turun. Tidak bisa tenang sama sekali..

Aku hampir melonjak kaget ketika merasakan sesuatu pada lengan kananku ketika aku menyadari Elaine duduk disampingku sambil memegang segelas air putih dan ia segera memberikannya padaku. Aku meminumnya pelan sementara ia mengelus-ngelus punggungku, seolah membuatku tenang..

“Bagaimana?”

“Aku mengingat sesuatu.. Tentangmu…”

“Tentang apa? Tentang piknik itu?”

“Ya…” ucapku pelan..

Dia berjalan mengambil tissiu dan kemudian kembali ketempatku. Ia mengusap keringat yang mengalir, “Jadinya kamu sudah tau kalau seandainya aku lemah? Tenang saja, aku sudah sangat kuat sekarang.. Dan kamu juga tau kalau kita berdua kaya kan?”

Aku menganguk, “Kamu hanya ingat sampai disana?”

“Ya…”

“Kamu tau kan kalau kamu dijodohkan denganku? Tapi menjodohkanmu denganku adalah kesalahan terbesar orangtuamu..”

“Kenapa?”

“Karena mereka tidak setuju kalau kamu meninggalkan kota besar, itu berarti kamu meninggalkan perusahaan. Tapi kamu membawaku pergi. Karena itu kita lost contact dengan mereka… Aku ingin kamu menari mereka..”

Aku menyentuh wajahnya, “Dengan kata lain membiarkan mereka menemukan kita dan membawaku keperusahaan bodoh itu? Lebih baik aku tidak usah mencari mereka…”

“Tidak bisa, Tuan Muda…”

“Tes..tes..tes…”

Aku bangkit dari tempat tidur sambil menggunakan penyanggah, “Kamu mau kemana?”

“Bukankah aku sudah berjanji, bahwa aku akan membawamu kepondok itu ketika gerimis?”

Aku mengulurkan tangan kananku, dan ia bangkit dari tempat tidur kemudian memeluk lengan kananku yang bebas dari penyanggah..

“Ayo…”

**

Aku melihat hujan itu turun dengan derasnya, tapi tak lama aku bisa mencium bau cappuccino yang begitu wangi itu. Dan segera saja gadis itu muncul dari belakangku sambil membawa 2 buah gelas kertas, ia memberikannya padaku lalu bangkit lagi untuk mengambil sebuah selimut tipis.

Ia duduk dan menyenderkan kepalanya kedalam pelukanku dan mengibarkan selimut itu sehingga munutupi kami berdua.. Tak lama aku memberikan cappuccino itu padanya dan ia menyesap cappuccino itu pelan. Seolah menikmati setiap tetes cappuccino yang lewat dalam kerongkongannya..

“Kamu tidak kedinginan?”

“Tidak sama sekali.. Apalagi kalau aku ada didalam pelukanmu..”

“Kamu begitu menyukai pelukanku?”

“Setiap sentuhanmu lebih tepatnya..” ucapnya pelan membuatku tersenyum, aku tau wajahku pasti memanas. Apapun yang dilakukan gadis itu seolah membuat efek yang sangat berarti pada tubuhku..

“Kamu akan selalu berada disisiku kan?” tanyaku tiba-tiba membuatnya tersentak dalam pelukanku, tapi ia masih diam.

“Kenapa kamu tidak menjawab?”

“Aku akan selalu ada didalam hatimu.. Bukankah sudah kukatakan? Tempatmu berada adalah tempat dimana aku akan pulang. Tempat aku tinggal. Tempat aku akan selalu berada.”

“Yayaya.. Sepertinya kamu sudah menghapalkan kata-kata itu untuk meyakinkanku..” ucapku membuatnya terkikik sebentar, “Kenapa aku harus menemui orangtua kita?”

“Karena mereka orangtuamu, Puppy.. Kamu tidak kangen pada mereka? Sudah terlalu lama kita lost contact dengan mereka…”

“Baiklah.. Nanti aku akan mencarinya..”

“Aku punya alamat dan nomor telepon mereka.. Mungkin mereka masih tinggal disana..”

“Kenapa tidak kamu yang menelpon mereka?”

“Karena harus kamu yang menelpon mereka…”

Aku menarik nafas, “Baiklah.. Nanti aku akan menemui mereka.. Jadi ceritakan tentangmu.. Aku ingin tau lebih banyak dirimu…”

“Bagaimana kalau aku menceritakan tentang dirimu saja? Kamu itu pria menyebalkan. Sok berkuasa. Dan dingin..”

“Apa? Masa aku begitu?” ucapku tidak yakin, tapi sebenarnya aku memang sudah bisa mengira. Dari potongan-potongan memori yang kuingat tadi..

“Tapi walaupun begitu, aku ingat sekali. Waktu aku kuliah, waktu pertama kali menemuiku. Kamu datang bukan seperti pria seperti itu. Kamu rela mengajariku mati-matinan, dan mengantar pulang. Padahal kamu tidak tau siapa aku, kamu bahkan melupakan tujuan utamamu untuk mencari calon istrimu hanya karena menemaniku..”

“Aku ingat waktu itu sudah larut malam, dan hujan deras. Kamu mengantarku pulang naik mobil, kamu rela hujan-hujanan dan membiarkan jasmu basah untuk melindungiku agar aku tidak terlalu basah ketika masuk kedalam mobil. Kamu begitu panik, ketika aku berlari keluar dari jasmu untuk berhujan ria. Dan keesokan harinya aku masuk kerumah sakit, kamu terus mengunjungiku walaupun kamu tidak tau siapa aku. Aku mencintaimu yang seperti itu. Kamu baik, berhati lembut. Hanya saja topengmu itu yang menghalangi kebaikanmu itu…”

“Kamu benci sekali kalau aku menggunakan baju pendek, kamu suka ketika aku menggunakan dress.. Sehingga aku sekarang menggunakan dress.. Kamu senang sekali makan masakan buatanku, terutama fuyunghai. Kamu suka sekali makan buah, dan kamu suka sekali bunga mawar putih. Yang menjadi simbol cinta kita. Kamu benci sekali ketika aku memanggilmu Puppy, kamu juga tidak suka kaca yang retak, kamu benci sekali kalau aku mengabaikanmu. Kamu benci sendirian, dan satu hal yang aku sangat tau. Kamu adalah orang yang mudah depresi..”

“Kamu kadang suka marah-marah kalau aku manja, tapi kamu tidak pernah menolak semua permintaanku. Kamu suka sekali diam dan mendengarkanku bicara.. Dan kamu sangat mencintaiku..”

“Yak, bisakah kamu tidak usah terlalu pede?” ucapku sambil menjitaknya pelan. Bagaimana ia bisa mengetahui diriku baik, lebih baik daripada aku mengetahui diriku sendiri. Dan point terakhir memang sangat benar.

“Kamu memang mencintaiku, Puppy..”

“Ya.. Aku mencintaimu.. Sangat mencintai.. Sampai sepertinya aku tidak mampu hidup tanpamu.. Tidak mampu bernapas tanpamu..”

Dia memelukku erat, “Tapi kadang kamu harus belajar melepasku, Puppy..”

“Kenapa?”

“Masa ketika aku pergi berbelanja pun kamu harus ikut?”

Aku tertawa, “Kalau hanya sebentar mungkin aku bisa… Tapi.. Jangan terlalu lama kamu pergi nanti, tau saja kan kalau kamu adalah oksigenku?”

Ia hanya tertawa pelan, lalu dari balik selimutnya ia mengeluarkan sebuah buku, dan memberikannya padaku..

“Aku ingin kamu membacanya..”

“Memang apa ceritanya?”

“Itu buku kesukaanku.. Itu menceritakan sebuah cerita yang sangat mengharukan. Jaman dulu ada sebuah mitos, ada seorang pria bisa muncul didepan wanita yang ia sukai. Tapi itu hanya beberapa saat sebelum perayaannya, dan itupun wanita itu harus melupakannya baru pria itu bisa muncul. Ia senang sekali, ia melakukan segala hal. Ia hanya ingin bersamanya, walaupun itu sebentar. Setidaknya sebelum ia benar-benar menghilang dari dunia ini. Karena setelah 1 tahun, misinya didunia ini sudah selesai..”

“Memang pria itu kenapa?”

“Ia sudah mati.. Dan satu-satunya misi yang belum ia lakukan adalah membahagiakan wanita itu sebelum ia benar-benar tidak bisa berada didekat wanita itu lagi”

Aku menggumam sebentar sambil mengambil buku itu, “Nanti akan kubaca..”

**

Sesuatu tidak ada yang sempurna.

Ketika bersamamu

Aku merasakan bahwa semuanya akan sempurna..

Tapi aku tidak pernah tau, bahwa ketika bersamamu..

Aku justru merasakan tidak sempurna

Apalagi kalau kamu meinggalkanku pergi

Maka aku yakin bahwa aku hancur..

Dan takkan pernah sempurna lagi..

**

“Kamu ingin cincin pernikahanmu, Eien?”

Gadis itu cemberut, “Puppy! Bagaimana aku bisa mencarinyaaaaaa!!!!!” teriak gadis itu kuat.

Aku terkikik pelan, kami sedang berada disebuah taman luas. Dan sekeliling kami banyak sekali balon-balon berserakan. Ya, aku meletakkan salah satu cincin itu diantara balon itu..

“Kamu tega sekali…”

“Bukannya kamu suka hal yang kekanak-kanankan?”

“Ini bukan kekanak-kanakan, Puppy.. Ini menyiksaku..” ucapnya sebal sambil satu-satu mengecheck balon itu..

“Bagaimana kalau cincin itu hilang?” ujarnya lagi

“Aku tinggal membuatkanmu cincin yang sama…”

“Puppy..!!! Cincin itu tidak bisa digantikan, cincin pernikahan itu tali perjodohan kita. Kalau seandainya cincin itu hilang, mungkin saja tali perjodohan itu putus!!!”

“Kamu ada-ada saja…”

“Cincin pernikahan itu tidak berarti berapa mahalnya, tapi maknanya. Dan itu juga pemberian darimu, simbol dimana kamu memberikan dirimu padaku. Jadi itu penting! Kamu kesini! Jangan bersantai-santai dan bantu aku..”

Aku terpana sebentar mendengarnya, gadis itu  benar-benar jatuh cinta padaku bukan? Dia begitu berusaha mencari cincin itu.. Aku yakin bahwa aku tidak salah memilih wanita..

Aku berjalan kearahnya, dan membawa sebuah balon yang kusembunyikan dimobil.

“Hey!”

Dia berbalik dengan muka sebalnya, segera saja aku melempar balon itu. Ia melihat sebuah kertas yang tertempel disana..

Will  You  Marry me, Eien? You  are my forever.. So i call you Eien.. It means forever in japanesse.. You are my forever..

Gadis itu meneteskan air matanya, dan tak lama ia melihat tali yang menjuntai kebawah. Sebuah cincin putih dengan berlian ditengahnya tergantung dibawah tali itu. Aku berjalan dan segera saja membuka ikatan tali yang mengikat cincin itu. Tak lama aku berlutut ditengah tanah itu.

“Will you marry me, Eien?”

Aku segera saja memasukkan cincin itu ke jari manisnya ketika ia menganguk sambil menangis keras. Aku berdiri dan melihatnya dengan intens, tanganku yang terulur menyentuh wajahnya kebanjiran air mata. Aku tidak akan menghentikannya, karena itu tangis bahagianya..

“Aku bersedia.. Dan aku akan selalu bersedia..” ucapnya sambil sesengukan, dan tak lama aku mengangkat wajahnya melihatku dan memajukan wajahku. Ia tidak kaget, ia hanya berhenti menangis. Menikmati sensasi yang ada. Ciuman pertama kami..

**

“Aku ingat sekali betapa jeleknya dirimu ketika menangis…”

Elaine tak beraksi, “Kamu mengingatnya?”

“Kamu cuma pernah sekali menangis didepanku?”

“Ya pertama dan terakhir kalinya. Kamu ingin sekali melihatku menangis. Jadi aku yakin kamu pasti bahagia sekali melihatku menangis…”

Aku memajukan langkahku dan kemudian memeluk pinggangnya dan meletakkan daguku diatas bahunya. Menarik napas, ia tidak bergerak. Ia hanya sekali bergerak untuk mematikan kompor. Tapi ia sama sekali tidak menepis sentuhanku..

“Kamu sedang apa?”

“Membuat sarapan untukmu..”

“Sarapan kesukaanku kan?”

Ia hanya menganguk, “Kamu akan ke Seoul untuk mencari mereka kan?”

“Kenapa kamu begitu memaksaku?”

“Karena kita tidak punya banyak waktu lagi..”

“Kenapa kita tidak punya banyak waktu lagi?”

“Sudahlah.. Cari saja.. Setelah kamu makan, berjanjilah untuk pergi ke Seoul.. Nanti akan ada yang mengantarmu…”

Aku hanya menganguk, dan kemudian beranjak untuk meminum teh manisku sambil melihat pemandangan diluar..

**

“Baiklah.. Sana pergi..”

Aku tersenyum dan mengacak-ngacak rambutnya, “Senang sekali kamu mengusirku..”

“Aku tidak mengusirmu..”

“Baiklah aku pergi.. Kamu, jangan pernah melirik siapapun..”

Ia tersenyum, aku mengangkat tasku hendak menuruni tangga. Tapi tiba-tiba aku medengarkan suara jejak kaki, aku berbalik dan melihat Elaine berlari kearahku. Ia memelukku kuat, membuatku sedikit bingung..

“Kenapa?”

Ia menggeleng, tapi ia tidak menjawab. Ia hanya diam, aku bisa merasakan ia menangis sesungukan..

“Kamu kenapa?”

“Puppy, kamu kalau disana.. Kamu harus kuat ya.. Aku tau nanti berat.. Tapi kamu harus kuat..”

“Kamu kenapa? Beritahu aku!”

“Nanti kamu akan tau..” ucapnya pelan sambil melepas pelukannya, “Good Bye.. “ katanya lagi sesaat ia berjinjit dan mengecupkan bibirnya ke bibirku pelan dan tak lama menarik dirinya kemudian tersenyum..

“Take care…”

**

“Istriku cantik sekali bukan?”

Pria itu tidak menjawabku sama sekali, “Kenapa tidak menjawab?”

“Tidak tuan.. Bukannya lancang.. Tapi saya tidak melihat siapapun ketika anda berbicara tadi saat didepan rumah..”

“Maksud anda?”

“Maaf tuan.. Saya tidak bisa berkata apapun..”

**

There is no chance for me

To be with you

And now finally I knew

How to stay in your

Go, take my love

Bring it where ever you go

Make it as your friend

The most loved friend

I will be like that too

I will always love you

In my heart

Until time will meeting us again

Oneday

**

Aku sampai didepan rumah besar itu, ruma itu sangat besar. Kira-kira 3 kali lebih besar dari rumah yang kubangun, aku sedikit bingung. Kenapa banyak sekali mobil disekitar sini? Apakah sedang mengadakan acara?

“Tuan bisa turun..”

Aku menganguk, dan kemudian membuka pintu mobil. Memapakkan kakiku diatas tanah, kakiku sudah cukup kuat untuk berjalan tanpa penyanggah lagi.

Aku kemudian berjalan masuk, semua orang menggunakan baju hitam. Ada apa sebenarnya?

Tak lama aku sudah dapat merasakan hawa yang mencekam, semua orang menatapku seperti melihat hantu, apa ini karena aku sudah menghilang selama satu tahun?

“CHANYEOL!!! KAMU BENAR CHANYEOL? MAMA!! CHANYEOL DISINI!!!” teriak seorang pria tua, perasaanku saja dia yang terlalu berlebihan atau memang dia gila?

Seorang wanita muncul dengan pakaian serba hitam, dibelakangnya diikuti sepasang suami istri yang juga menggunakan baju berwarna hitam itu. Mereka semua juga memasang wajah yang takjub, dibelakang wanita itu. Suami istri itu sepertinya aku mengenal mereka, wajah mereka mirip sekali sepertiku. Dan aku yakin mereka lebih shock dibanding semua orang yang ada diruangan ini.

Mereka dengan langkah lemah menghampiriku, wanita itu duluan yang meneteskan air mata. Ntah mengapa aku terenyuh, ia berlari sambil memelukku.. Membuatku mau tidak mau membalas pelukannya..

“Anakku.. Anakku.. Akhirnya kamu pulang juga…” ucapnya membuatku terkaget, jadinya aku benar? Aku adalah anaknya.. Dan mereka berdua adalah mama dan papaku?

“Kamu kemana saja?”

“Maaf? Saya benar anak kalian? Dan sebenarnya.. Apa yang terjadi disini?” ucapku polos membuatnya melepas pelukan dan melihatku dengan mata yang tak percaya, ia mengangkat tangannya untuk mengelus wajahku..

“Kamu amnesia?”

Aku menganguk, ia kembali meneteskan air mata..

“Kalau begitu kamu tidak perlu tau.. Dengan siapa selama ini kamu hidup?”

“Dengan istriku.. Elaine..”

Mama segera saja menoleh melihat wanita yang pertama keluar tadi, wanita itu juga berjalan kearahku..

“Bagaimana Elaine bisa bersamamu?”

“Dia memang selalu bersamaku.. Ia tidak pernah meninggalkanku..”

Wanita itu tidak menjawab, ia tidak berkata apapun lagi. Sebagai reaksinya, ia memundurkan langkahnya sambil menutup mulutnya dan terjatuh dilantai..

“Ada apa sebenarnya?”

Aku memalingkan pandanganku kesana dan kemari, tak lama aku melihat sebuah photo. Disana ada foto Elaine dengan wanita yang terjatuh ini dan pria yang pertama kali berteriak.. Apakah mereka ayah-ibu Elaine? Kenapa sih mereka? Apa mereka sebegitu tidak sukanya kalau aku hidup bersama Elaine?

“Chanyeol, bilang sama mama kalau kamu bohong.. Bilang kalau kamu tidak hidup bersama Elaine.. Jangan membuat mama takut..”

Aku melepaskan tangannya dan menatap mama dengan marah, “Kenapa mama begitu marah aku bersama, Elaine? Bukannya kalian yang menjodohkanku dengannya.. Lalu kenapa kalian ingin memisahkan kami?”

Mama mengeluarkan air matanya lagi, ia sama-sama terjauh membuat suasana semakin buruk. Banyak orang mulai berbisik-bisik, aku membiarkan mereka lalu kemudian berjalan masuk.. Dan tiba-tiba saja perasaanku semakin tidak enak..

1 Year After Rest In Peace Elaine Park

December 15th 2011

 

Aku melihat papan besar itu dengan bingung, apa kah mereka bercanda denganku? Jelas-jelas wanita itu ada bersamaku tadi pagi, mana mungkin ia sudah meninggal satu tahun yang lalu?

 

“Bruakkk..”

Mataku tertuju pada sebuah buku yang terjatuh, aku memungutnya..

 

“Ia sudah mati.. Dan satu-satunya misi yang belum ia lakukan adalah membahagiakan wanita itu sebelum ia benar-benar tidak bisa berada didekat wanita itu lagi”

Kepalaku mengeluarkan suara-suara itu.. Suara Elaine, tapi suara gadis itu sangat ketakutan. Ia sangat sedih, dan sangat kesepian..

 

“Mau kah kamu tetap berada disisi Elaine, Chanyeol? Walapun kamu tau keadaan Elaine bagaimana.. Tubuhnya tidak pernah kuat, jantungnya lemah. Kamu tau ia mempunyai penyakit yang tidak akan pernah bisa  disembuhkan.. Dan cepat atau lambat ia akan meninggalkanmu..”

“Iya.. Selamanya”

 

Itu suara siapa? Itu suara ayah Elaine? Apa yang dia katakan? Elaine akan meninggalkanku? Apakah maksudnya Elaine akan mati?

 

Suara itu terus bermunculan didalam otakku..  Tiba-tiba saja semua terasa sangat berat, aku meronta-ronta merasakan sakit yang kurasa.. Semua orang mulai berdatangan melihatku, aku bisa merasakan beberapa pasang tangan menahanku agar aku tetap berdiri..

“ELAINE!!!!!!!”

 

“Good Bye..”

“Take care…”

 

**

“Aku ingin sekali hujan-hujanan, Puppy!”

“Kamu tidak akan kebiarkan hujan-hujanan nona Park…”

“Menyebalkan menikah bersamamu..”

Aku mempererat pelukanku pada pinggangnya membuat Elaine sedikit kesulitan untuk bernapas, “Rumah ini indah sekali bukan?”

Ia menganguk antusias, “Terima kasih.. Kamu mendesainnya sesuai seperti yang aku mau..”

“Apapun yang kamu inginkan didunia ini, pasti akan aku kabulkan jika aku mampu..”

“Benarkah?” tanyanya antusias, membuatku menganguk dengan cepat..

Ia melepaskan tanganku yang terkunci didepan perutnya dan berjalan menjauh dariku, ia meletakkan cappuccino itu diatas meja pondok kami..

“Kalau begitu, biarkan aku hujan-hujanan sekali saja.. Dengan begitu aku tidak akan meminta apa-apa lgi…”

Aku berpikir sebentar, sebenarnya ragu.. Tapi ia dengan cepat berlari menuju hujan itu. Dan menginjak tanah yang basah. Seluruh dressnya mulai basah, dan rambut panjangnya berkibas-kibas dengan air yang terciprat kemana-mana..

Aku segera saja berlari menyusulnya, “ELAINE! TUNGGU!!!”

Ia masih berlari, tapi tiba-tiba saja ia berhenti dan kemudian berbalik menyusulku..

“Kamu tau kenapa aku suka hujan?”

Aku menggeleng pelan, “Karena hujan adalah sesuatu yang mempertemukan kita berdua.. Dan hal yang paling kulakukan bersama hujan adalah..”

“Apa?”

Dia menyentuh wajahku lembut, masih mengunci mataku dengan matanya..

“Mengatakan bahwa aku.. Aku mencintaimu, Park Chanyeol.. Dan aku tidak pernah menyesal untuk menikahimu.. Terima kasih telah menganggapku, Your Eien.. Your forever… Tapi sayangnya aku tidak bisa bersamamu selamanya.. Tapi satuhal yang perlu kamu tau.. Aku sangat.. Sangat mencintaimu..” ucapnya sambil berjinjit dan mengecup bibirku lama, ditengah hujan deras yang mengalir.. Membasahi kami berdua..

**

Ia terlihat baik-baik saja ketika bersamaku, sampai 3 hari kemudian aku mendadak harus keluar negeri karena ada rapat penting.. Ia mendukung sepenuhnya, sehingga aku tidak pernah berpikir sesuatu yang buruk akan terjadi. Lebih tepatnya tidak pernah berharap dan membayangkan bahwa itu terjadi. Tapi itu terjadi bukan?

“Tuan muda.. Nona muda Elaine ada di ICU.. Umurnya sudah tak lama lagi..”

Handphoneku yang baru aktif ketika sesampainya di Indonesia langsung mengabarkanku tentang hal itu. Dengan cepat aku menaiki mobil BMW-ku yang sudah disediakan kantor, melaju cepat kearah rumah sakit.

Tapi tiba-tiba saja muncul video call dari TV Mobilku.. Dan segera saja aku mengangkatnya..

Dan.. Aku melihatnya terbaring lemah.. Sangat lemah.. Aku bisa melihat tulang pipinya dengan jelas, mukanya yang terlihat pucat dan wajahnya yang terlihat begitu lelah. Aku bisa melihatnya dengan jelas..

“Aku m..min..ta ma..af, Pu..ppy.. Ka..re…na.. Ak..ku ti..dak… bi..sa me..ne..ma…ni mu lagi… Aku..”

“Elaine… Tunggu aku.. Aku pasti kesana.. Aku pasti kesana.. Kamu harus tunggu aku…”

“Ka..mu.. Ti..dak.. Per..lu ke..si..ni… Ka..mu jan..ngan.. meli..hat sosokku ya..ng seper..ti ini.. Da..tang sa..ja saat pe..mak..kaman..ku.. ke..ti..ka ak..ku su..dah.. di..dan.da..ni cantik.. Pu…ppy.. Aku.. tidak ingin.. ka..mu me..lihat..ku lem…ah…”

“A..ku.. akan.. se..la..lu.. ber..sa..ma..mu.. hemm.. hem.. Tem..pat..mu be..ra..da ada..lah tem..pat di..mana aku a..kan pu..lang Tem..pat aku ting..gal. Tem..pat aku a..kan sela..lu bera..da.”

Aku melihatnya memegang dadanya sakit dan mengerang dengan keras. Beberapa saat tepat sebelum layar itu kembali menjadi hitam.. Aku tidak pernah menyangka melihatnya pergi begitu saja seperti ini.. Kenapa ia tega sekali meninggalkan aku seperti ini? Kenapa ia tidak menungguku? Setidaknya biarkan aku memeluknya, menangis ketika ia menghembuskan nafas terakhirnya.. Kenapa? Kenapa?

Air mata itu terus saja mengalir dipipiku, aku senang sekali melihat orang menangis. Apalagi wanita itu.. Itu artinya ia menganggapku ada.. Dan merespon dengan baik setiap perbuatanku.. Tapi aku benci menangis.. Sangat benci.. Tapi aku benar-benar dapat mendeskripsikan rasa sakit yang tiba-tiba kurasa ini? Bahkan kalau aku bisa bilang.. Matipun akan lebih baik daripada rasa ini..

Aku menjalankan mobilku cepat ditengah hujan deras yang sangat tiba-tiba ini, menuju kesuatu tempat. Apalagi kalau bukan rumah kami bersama?

**

Aku berjalan masuk kedalam rumah.. Aku melakukan apa yang ia minta. Untuk tidak melihatnya saat ia belum didandani.. Aku akan menuruti apapun yang ia minta.. Walaupun itu sangat meyakinkan.. Bukannya aku harus berada disisinya? Tapi apa yang bisa kulakukan disisinya? Toh bukannya ia sudah tidak ada?

“Chanyeol.. Kunci pintunya..”

Aku melihat kesana-kemari.. Tidak ada siapapun disana.. Jangan bilang kalau aku sekarang sudah mulai berhalusinasi..

“Chanyeol.. Kalau kamu kehujanan.. Lekas ambil handuk dan mengeringkan rambutmu..”

Aku menoleh kesana-kemari lagi setelah mengunci pintu, cepat aku mengambil handuk dan mengeringkan rambutku..

“Kalau kamu lapar, segera buat makanan… Kalau kamu tidak lapar, paksa dirimu untuk makan.. Apapun yang terjadi.. Bukankah kamu sudah tau? Kalau kamu sakit, maka aku yang akan menderita…”

Aku berjalan kearah dapur dan mengigit sebuah apel dan berjalan keluar, aku menyusuri jalan setapak itu yang membawaku mengitari danau itu menuju pondok rumah itu..

“Chanyeol.. Bisakah kamu mengambilkanku cappuccino?”

Aku menganguk dan membuat sebuah cappuccino, dan ketika berbalik senyumku luntur seketika.. Bagaimana aku bisa lupa? Kalau dia itu sudah meninggal…

“Aku mencintaimu, Park Chanyeol.. Dan aku tidak pernah menyesal untuk menikahimu.. Terima kasih telah menganggapku, Your Eien.. Your forever… Tapi sayangnya aku tidak bisa bersamamu selamanya.. Tapi satuhal yang perlu kamu tau.. Aku sangat.. Sangat mencintaimu..”

Elaine.. Bagaimana aku bisa melupakan foreverku? Bagaimana aku bisa bertahan hidup jika suaramu hidup dan mengatur hidupku? Bukankah sudah kukatakan aku tidak bisa hidup tanpamu? Aku tidak pernah merasakan bahwa ternyata hidup tanpamu ternyata semenderita ini.. Tidak ada kah hal yang bisa kamu lakukan untuk kembali? Untuk membuatku bahagia?

Perasaan ini begitu sakit, seolah paru-paruku tidak bisa bernapas tanpamu. Seolah jantungku kehilangan darah untuk dipompa.. Bahkan aku seperti kehilangan kaki, sampai aku rasa tidak sanggup berjalan.. Bahkan aku merasakan aku buta karena aku tidak mampu melihat apapun selain kamu didalam memoriku. Bahkan aku merasakan bahwa aku tidak punya hati. Karena semuanya telah kamu ambil sehingga aku tidak mampu bertahan lagi..

Aku terjatuh dilantai, butir-butir air mataku mulai membasahi lantai. Aku bsia merasakan hujan kembali deras. Tak lama sebuah angin kuat membuat rak buku itu bergoyang, dan dengan sukses buku itu terjatuh tepat dihadapanku.. Halaman-halaman itu mulai terbalik sendirinya karena tiupan angin..

I’m just human
Who already passed away
You know I will die oneday
And this is the time
I never want to leave you
But I cant change my own fate. Destiny
I cant refuse when Death Angel come to me.
Ask me to leave this
I just.. Can’t
Will you forgive me?
Bring it where ever you go
Make it as your friend
The most loved friend
I will be like that too
I will always love you
In my heart
Until time will meeting us again
Oneday

 

Aku berdiri sambil membawa buku itu, aku meletakkannya diatas meja dengan kaki yang lemas. Elaine, bisakah kamu memberitahukanku apa maksud dari kata-kata itu? Apakah itu kamu yang menerbangkan buku itu dan kata-kata itu menunjukkan kata-kata yang ingin kamu ucapkan?

Aku berjalan menyusuri jalan setapak itu lagi tanpa sedikitpun menghiraukan air hujan yang menusuk tubuhku, sama sekali tidak mempedulikan betapa dinginnya sekarang. Dan betapa kacaunya diriku.. Aku masuk kedalam mobilku.. Aku harus menemuimu.. Aku tidak bisa memenuhi janji itu.. Aku tidak mau.. Tidak bisakah aku egois kali ini saja? Kenapa harus selalu kamu yang mendapatkan apa yang kamu mau? Tidak bisakah kamu membahagiakanku?

Aku menyalakan mesin mobil dan menginjak gas kuat-kuat, bagaimana kalau aku egois sekarang? Bagaimana kalau menabrakkan saja mobil ini dan menyusulmu pergi? Bukankah itu ide yang bagus? Kamu tau dengan jelas aku tidak suka sendirian, karena itu aku pikir lebih baik.. Kalau kita pergi bersama…

Aku melihat truck itu, dan semakin mempercepat kecepatan mobilku. Dan kira-kira 10 meter dar truck itu. Aku berbelok dan kemudian melemparkan mobilku ditengah jalan yang akan dilewati truck itu. Seolah merelakan diriku untuk mati..

**

Aku membawa sebuket bunga mawar putih dan meletakkannya diatas makam itu.

Aku sama sekali tidak tersenyum. Mengetahui kenyataan yang mudah sekali aku lupakan?

Bagaimana bisa aku tidur hampir 1 tahun dengan begitu nyaman?

Apakah itu benar-benar kamu?

Pantas saja tidak ada orang yang bisa mendeskripsikan betapa cantiknya dirimu?

Karena hanya aku saja yang bisa melihatmu..

Bagaimana kamu bisa meninggalkan diriku..

Tapi kamu kembali, dan kemudian meninggalkanku lagi?

Apa maumu itu?

“Kakak…”

Aku berbalik dan melihat seorang anak kecil dengan baju sedikit compang camping itu menarik-narik jas hitamku, aku meletakkan bunga itu diatas makamnya dan kemudian berlutut untuk mensejajarkan tinggiku dengannya..

“Ada apa?”

“Tadi ada kakak yang begitu cantik memberikan ini padaku.. Ia meminta tolong padaku agar memberikan surat ini pada kakak…”

Aku menerimanya, ia tersenyum lalu begitu saja meninggalkanku.. Aku membuka surat itu pelan..

Kamu tidak bermimpi..
Itu memang benar-benar aku..
Maaf membuatmu terlihat seperti orang bodoh..
Aku datang, mengira kamu akan bahagia…
Tapi maaf jika aku membuatmu semakin menderita..
Akhirnya kamu datang kemakamku setelah 1 tahun..
Aku sangat baik disini, aku akan benar-benar lega kembali kesurga..
Terima kasih untuk mengingatku kembali..
Tapi bisakah kamu menjaga dirimu dan berjanji untuk tidak menyakitinya lagi?
Bukannya kamu tau, kalau kamu menyakiti dirimu..
Itu sama saja menyakiti diriku..
Aku tidak pernah berbohong..
Aku selalu mencintaimu..
Dan akau selamanya mencintaimu..
Karena aku adalah your forever.. your Eien..
Terima kasih..
Good Bye and Take care..
P.S : Aku menemukan satu lagu untukmu.. Aku harap kamu mau mendengarnya.. Bukalah amplop itu lagi, dan kamu akan menemukan sebuah i-pod.. Yang akan hanya dapat diputar sekali.. Dengarlah baik-baik.. Ai Otsuka – Okaeri.. Aku pulang.. Pulang ketempat kamu berada.. Jadi jangan pernah cari aku.. Karena aku selalu ada.. Dihatimu.. Karena kamu adalah tempat dimana aku pulang..

 

Aku membuka amplop itu dan menemukan sebuah i-pod. Hanya ada satu lagu disana.. Dan segera saja aku memutarnya..

 

Welcome home, sweetheart..

A place to go home.. Thanks for you love..

Pretending to be alright again..

To paint out the colour of sadness

I just laugh it off

The importance of believing

Even if i understand it

Well, there are time when i still doubt

Times when my empty body just flows by

It makes me want to just lie down

But i just want to hold you

By carrying this feelings, so i can move on..

Welcome home, im home..

With one word of my heart is satisfied

Welcome home, where love has a place to go

Thanks for your love, sweet home..

 

Apakah kamu sama menderitanya denganku? Kalau begitu.. Aku minta maaf..

Aku akan mencoba.. Hidup tanpa melihatmu.. Tapi aku yakin, aku hidup bersamamu.. Walaupun aku tak dapat melihatmu..

You are my forever, then i’ll be your home.. You can come everytime you want, cause i’ll always wait for you

**

THE END

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

 

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , , ,

6 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Forever Home”

  1. naritareky January 4, 2013 at 4:22 PM Reply

    Aku bacaaa 2 kali yang versi dulu sama sekaaarang tetep aja nangiis
    Emang udah bocor kali ini air mata (˘_˘”)

    FF mu selalu DAEBAK haha
    Btw lanjutan nimic kapaan? Aku nunggu itu loh haha

    • hanjesi January 6, 2013 at 6:29 AM Reply

      Hihi.. Freepukpuk jangan nangis ;–;
      Nimic-nya.. As soon as possible ya ;—; hahhaa

  2. Cynthia January 5, 2013 at 4:27 PM Reply

    Kerenn poOl ceritax 😀
    Take care ya chanyeol..

    • hanjesi January 6, 2013 at 6:31 AM Reply

      Aaaaa thank you ;—;
      Take care Channie /lambai sapu tangan putih/

  3. mama dimas January 11, 2013 at 2:48 AM Reply

    nangis T_T
    so sad ending, Chanyeol my puppy 😦
    daebak author, daebak ceritanya, keren !!!

    • exo1stwonderplanet January 11, 2013 at 6:44 AM Reply

      Aaaa thank you so much ^^ hope you want to read other ff as well ^^ -Han Je Si

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: