EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 14

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Just Like You”

 

*Title : Just Like You

*Part : 14

*Main Cast :

ë  Kris Wu

ë  Kim Hyeon

ë  Kim Sun Hye

*Length :  Series

*Genre : Romance

*Rating : PG 13

*P.S :  Ini adalah karya original by YuanFan. Dilarang keras untuk mem-plagiat dan mencopas tanpa seijin author

leave comment please

*Sinopsis : Kris dan Hyeon sama-sama mengetahui tentang latarbelakang keduanya menikah, dan mulai menyadari perasaan satu sama lain. Namu, dilain sisi Hyeon memutuskan untuk bercerai dari Kris. Dia merasa telah berhutang pada Kris.

*Disclaim :

SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

Sun Hye POV

“Kau pulang, sayangku?”

Pagiku disambut orang yang sama sekali tak kuduga. Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Dia bersandar ditepi pintu kamarku kemudian menghampiriku.

“Kau rindu rumah?” tanyanya lagi, membuatku lebih muak dari biasanya, sekalipun dia ibuku sendiri.

“Rumah Kris Wu bukannya lebih nyaman, Honey…”

Aku menatap Mama terkejut. Kenapa Mama bisa tahu tentang Kris? Apakah Jessica yang menceritakannya? Andwe…

“Kenapa kau terkejut? Tak ada temanmu yang menceritakannya. Mama juga sedikit kecewa pada Jessica yang berbohong, tak mau menceritakannya padaku.”

“Bagaimana Mama bisa mengetahui aku selama ini ada dirumahnya?” tanyaku tanpa menyebut nama ‘Kris’.

“Kau terlalu hijau untuk bersembunyi dari Mama. Lagipula, Kris adalah kenalan lama, sayang…” jawab Mama dengan tetap dengan nada angkuhnya.

Aku masih memutar otakku, bingung dengan semua ini. Kenalan lama? Berarti Kris dan Mama sudah saling kenal sebelumnya?

“Sayang, ada beberapa hal yang ingin kubicarakan padamu,”

“Aku tak mau,” tolakku.

“Kau sekarang lebih berani pada Mama, hem…” Mama tampak menyibirku.

“Dengarkan Mama, Sayang.”

Setelah satu jam Mama bicara denganku, dia pergi meninggalkan kamarku diiringi senyuman yang tak pernah kulihat sebelumnya. Senyuman yang lebih tulus dari biasanya. Tapi, otakku sudah tak sinkron lagi, semua pikiranku amburadul. Semua yang kudengar tampak seperti drama, hal ini membuktikan benarnya keberadaan takdir.

Aku merasa kehilangan nyawa selama seharian ini. Ada rasa bahagia, namun ada rasa bersalah yang besar juga. Hyeon. Aku salah telah menyalahkannya. Benar kata Luhan,  dia tak akan melakukan hal itu bila dia tak punya alasan. Aku tahu sekarang alasannya. Dia sungguh sangat tegar menghadapi semua ini. Kris, satu nama itu yang membuatku melayang sepanjang hari. Aku dan dia ternyata mempunyai ikatan perjodohan, aku sangat bahagia dengan hal ini. Tapi, hati Kris tampaknya hanya untuk Hyeon.

“….Keluarga Wu menerima kembali perjanjian yang sempat batal itu. Jadi setelah kau lulus, kami akan menikahkan kalian.”

Kata-kata Mama sejam yang lalu masih terngiang ditelingaku. Aku memutuskan menemui Luhan dan menceritakan hal ini. Ceritaku berhasil membuatnya tersedak milk shake  yang dipesannya. Aku harus memukul punggungnya agar berhenti.

“Apa ini menghebohkanmu?”

“Uhuk… emh?” dia menata kembali suaranya.

“Tidak, kurasa ini yang namanya takdir,” katanya.

“Tapi, aku merasa bersalah pada Hyeon. Aku menyalahkannya, dan… sempat menamparnya.

“Orang salah paham adalah hal yang biasa,” kata Luhan dengan senyum manis. Entah kenapa aku melihat Luhan berbeda akhir-akhir ini. Dia jauh dari kesan jahil seperti biasanya.

“Kau ada acara hari ini?” tanyaku.

Luhan menggeleng, “Tapi, aku mau kerumah Kris sebentar. Aku janji kesana siang ini. Kau mau ikut?”

“Aniya, aku sudah berjanji tidak akan menginjakan kakiku lagi,”

“Yah… bukankah, kau sudah akan menikah dengannya. Kelulusan kita tinggal beberapa bulan lagi,”

“Sebelum ada pernyataan nyata, aku tak akan mau menginjak rumah itu,”

“Ternyata kau keras kepala, Sun Hye-ya…” cibirnya sambil menyedot sisa milk shake-nya hingga tak bersisa.

“Boleh aku ceritakan hal ini pada Kris?” tanya Luhan.

“Andwe. Biar dia mengetahuinya sendiri,” kataku.

Luhan mengangguk mengerti.

Kris POV

Sebelum Hyeon pergi, dia memasakan beberapa masakan untukku. Aku menungguinya memasak dan melihat betapa bodohnya dia. Aku tersenyum geli, tapi bagaimana dia bisa memasak bubur apel yang enak tempo hari? Aku menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Ada kelegaan tersendiri ketika kami sudah saling mengungkapkan perasaan kami.

“Kris, kau mau kutendang?” ancamnya, dia tetap saja kasar. Aku mendengus geli dan tetap pada posisiku.

“Kriiiss…” dia risih ternyata, aku melepaskan pelukanku dan bersandar dimeja menghadapnya.

“Kau bodoh sekali, seorang yeoja akan terlihat auranya saat dia memasak. Kenapa kau tidak?” godaku, dia mencibirku dan melemparkan daun bawang kearahku.

“Kau cerewet, masak saja sendiri,” marahnya.

“Kau lucu sekalii…” aku gemas mencubit pipinya.

“Yahhh!!!” teriaknya sebal, membuatku puas.

Aku diam memandanginya sibuk dengan pancinya, dia berjanji akan memasakanku sup jamur. Dan kukira itu tidak sulit, tapi dia bisa membuat seluruh dapur berantakan. Dia memang bodoh. Aku merasakan ponselku dalam saku bergetar dan segera kurogoh.

“Yeoboseo?” kataku.

“Sayang, ini Mama…”

Mama? Tumben sekali dia meneleponku.

“Ah, iya. Ada apa? kau jarang meneleponku,” kataku. Aku melirik Hyeon yang melihatku dengan wajah penasaran. Aku membalasnya dengan senyuman, kemudian menghampirinya dan melingkarkan lenganku ke lehernya. Mama bicara panjang lebar, aku tak berkonsentrasi dengan apa yang dibicarakannya. Aku sibuk melihat wajah Hyeon.

“Kris?” Mama setengah berteriak.

“Ya, Ma. Aku masih mendengarmu, aku baik-baik saja. Jangan khawatir,” kataku sambil memainkan rambut Hyeon. Dia berulang kali menepiskan tanganku.

“Apakah Hyeon ada disitu?” tanya Mama. Daebak.

“Ya, Ma. Kami sedang memasak bersama. Kau rindu menantumu?” godaku sambil melirik Hyeon yang memandangku datar.

“Baiklah, bicaralah dengannya,”

Aku memberikan telepon pada Hyeon, dia ragu namun tetap diambil. Seperti kebanyakan menantu wanita pada Ibu mertua. Mereka hanya menjawab singkat setiap pertanyaan. Hyeon terdiam lama, mungkin dia canggung.

“Ya, Mama…” suara Hyeon memanggil ‘mama’ pada Mama membuatku sejuk.

“Aku mengerti, sebelumnya aku sudah mengetahuinya. Jadi, tidak usah khawatir. Aku paham. Ya, Ma. Sama-sama.”

Hyeon memberikan ponselnya padaku lagi.

“Ya, Ma?”

“Minggu ini Papa dan Mama akan ke Korea,”

“Ah, benarkah? Baiklah, Ma.”

“Jaga diri kalian baik-baik, kami menyayangi kalian,” ucap Mama dipenghujung telepon.

“Ya,” jawabku penuh ketulusan.

Aku mengantongi ponselku lagi. Kemudian kembali memeluk Hyeon dari belakang. Dia sudah tak berontak lagi, kini dia mengelus lenganku.

“Aku harus pulang,” katanya.

“Hem?”

“Masakannya sudah matang,” dia menggedikan dagunya kearah panci.

“Temani aku sampai selesai makan,”

“Hem, baiklah…”

Wah, ada angin apa yang membuatnya menjadi penurut. Aku mengacak puncak kepalanya lembut dan tersenyum manis padanya.

“Kris, jaga dirimu baik-baik jangan sakit lagi. Kau harus makan dengan teratur. Jangan makan makanan yang aneh-aneh. Dan sekolahlah yang rajin,” pesannya sebelum dia menaiki bus.

“Kenapa kau menjadi cerewet sekali?” tanyaku bosan.

“Aku hanya berpesan,” gerutunya.

“Ne~, akan kulakukan semua yang kau suruh. Kau juga jaga dirimu. Cepat kembalilah padaku, ketika semua sudah selesai,”

“Aku akan meneleponmu nanti,”

“Beri tahu alamatmu dimana kau tinggal, aku tak butuh teleponmu,”

“Tak akan pernah,” jawabnya sambil tersenyum. Aku tak mau memaksanya, dia pasti mempunyai alasan mengapa dia menghindariku. Dia pasti mempunyainya.

“Kris, adakah yang kau minta dariku?” tanyanya.

“Ada. Hanya dirimu seutuhnya,”

Dia memandangku lama. Kemudian menghampiriku selangkah, dan mencium bibirku lembut.

“Suamiku, i love you…” ucapnya.

Aku tertegun beberapa saat, dan begitu aku sadar. Aku memeluknya erat.

I love you too… segera kembalilah padaku,”

“Kris, busnya segera berangkat. Aku pergi dulu, sampai jumpa…” ucapnya sambil berlalu. Aku hanya bisa diam ditempatku memandangnya semakin menjauh. Rasanya rindu ini berlebihan, aku tetap merindukannya sekalipun dia ada didepan mataku.

Hyeon POV

Ya Tuhan… rasanya menyakitkan. Aku melihat wajah itu untuk terakhir kalinya. Aku tak akan pernah menemuinya lagi, tak akan. Bus mulai berjalan, aku melambaikan tanganku lewat jendela bus, dia membalasnya dengan tersenyum manis. Aku tak sanggup melihatnya lagi, aku membalikan badanku dan duduk kearah depan.

“Nak… ini tissu untukmu,”  seorang Ajjumha memberikan selembar tissu padaku. Aku tersenyum diantara tangisku.

“Kamsahamnida,” ucapku padanya.

“Kau patah hati?” tanyanya. Aku hanya tersenyum kepadanya.

“Terkadang patah hati adalah sebuah batu loncatan untuk hidup lebih baik,”

“Aniya, saya tidak patah hati. Saya sedang jatuh cinta…” kataku seraya tersenyum manis pada Ajjumha. Ajjumha itu melihatku dengan pandangan heran, lalu membals senyumku dan mengelus pundakku.

“Kau orang yang istimewa…” gumamnya.

“Kamsahamnida,” ucapku sambil mengusap airmataku.

Sampai depan halaman rumah Lay oppa, dia sudah tampak berdiri didepan pintu. Dia menghampiriku dan mengusap airmataku, aku tak menyadari sedari tadi airmataku menetes tanpa kumau.

“Yah, jangan menangis lagi. Aku sudah membelikan ponsel baru untukmu,” godanya.

“Jinjja? Kapan kau ke kota?” tanyaku menyemangati diriku.

“Semalam, saat kau tidak meneleponku.”

“Kau ke Seoul?!” aku sudah membuatnya sangat khawatir. Lay oppa hanya mengangguk.

“Mianhe.. jeongmal mianhe.”

“Aniya, sudahlah. Ayo masuk kedalam. Diluar sangat dingin.”

“Oppa, bisakah kita pergi ke Jepang sekarang juga?” tanyaku.

Lay oppa memberhentikan langkahnya sejenak. Dia mendongakan wajahnya, kelihatannya sedang berpikir.

“Kau sudah membulatkan tekad kesana?”

Aku mengangguk, dia tersenyum. Mungkin dia bisa melihat keraguanku.

“Sampai kapan kau lari? Tak ada gunanya, kau harus menghadapinya,”

“Oppa, kita akan bisa menghadapi sesuatu bila kita tahu bagaimana cara menghadapinya. Menyiapkan diri dan membuat pertahanan,” gumamku.

Lay oppa mengangguk-angguk setuju, kemudian menepuk pundakku pelan.

“Terserah kau,” katanya.

“Ah.. Iya. Aku menemukan ini,” dia menunjukan amplop coklat padaku. itu amplop coklat dari Ny. Kim, aku sedikit terkejut.

“Kau pasti sudah membacanya,”

“Ne~, ini cobaanmu,”

“Ne~, aku mengerti.” Aku berusaha menahan airmataku dan segera melepas sepatuku menggantinya dengan slipper.

Aku tidak perlu mengepack barangku lagi, semua masih tertata rapi seperti saat aku meninggalkan rumah Kris. Aku menghela nafas berat, Lay oppa menghampiri dan ikut duduk ditepi ranjang. Dia menyerahkan dua tiket ke Jepang padaku.

“Tepat penerbangan jam 12 malam nanti,” katanya.

“Tengah malam sekali, kau tak bisa mencarikan yang lebih awal,” gerutuku.

“Yah, kau cerewet sekali!” marahnya, aku mengikik geli.

“Gomawo, Oppa,” ucapku merayunya.

“Setelah kau bertemu orangtuamu apa yang akan kau lakukan?” tanyanya. Aku baru saja memikirkan hal itu, aku menggedikan bahuku.

“Kau memang bodoh,” dia menjitak kepalaku.

“Oppa… segera menikahlah,” kataku membuatnya mendengus.

“Kau masih normal kan?! Aku ingin melihatmu menikah,”

“Aku akan menikah denganmu,”

“Kau selalu menggodaku,”

“Itukan cita-citamu dulu.” Sindirnya sambil menyenggol bahuku.

“Cita-citaku saat aku masih SD, baiklah.. lupakan,” tukasku.

“Hahaha…” dia tertawa menyebalkan.

Kris POV

Aku berjalan seperti orang kehilangan akal, perasaanku mengatakan aku tak akan beretmu dengan Hyeon lagi. Aku terlalu rindu padanya.

“Kris, darimana kau?” Luhan berseru, dia sudah berdiri didepan halaman.

Aku membuka pintu pagar dan menghampirinya.

“Aku mengantar Hyeon ke Halte,” kataku.

“Mwo? Hyeon kesini? Yang benar saja?!!” katanya tak percaya.

Aku hanya mencibirnya kemudian melewatinya dan masuk rumah lebih dulu.

“kenapa kau tak meneleponku?!”

“Apa hubungannya denganmu?” kataku mengernyitkan dahiku.

“Dia datang kapan?”

“Semalam. Dan kau tahu semalam aku tidur dengannya,” kataku sambil mengangkat satu alisku, berhasil membuat Luhan melongo.

“Jinjja??! Lalu..”

“Kami semalaman bersama, Man and woman in the night, apa yang ada dalam pikiranmu??”

“Andwe!!” teriaknya.

“Kenapa kau yang tak terima?” aku heran. Aku masuk kedalam rumah, diikuti Luhan dibelakangku. Dia terus mengomel tak jelas, aku semakin bising dengannya. Aku berbalik dan mengambil roti dimeja untuk menyumpal mulutnya.

“Ahng..paidhak…” katanya tak jelas.

“Kau sangat curang! Andwe… Hyeon-ku. Kau apakan dia?” cerocosnya lagi saat berhasil memakan kue yang sumpalkan.

“Hyeonmu?!” ulangku berang.

“Wae?” tanyanya polos. Aku hanya meliriknya lalu memalingkan wajahku.

“Kau benar-benar menyukainya.”

“Kami sudah saling mengakui,” kataku menghenyakan diri disofa.

“Jinjja? Lalu?”

“Hyeon tetap menolak melanjutkan pernikahan kami, aku tak mengerti alasannya,”

Luhan menunduk, dari wajahnya dia tampak memikirkan sesuatu. Aku mengamati ekspresi wajahnya, seperti orang yang menerawang sesuatu.

“Kau memikirkan apa?” tanyaku.

“Aniya… Kris, seandainya itu yang terjadi. Apa yang akan kau lakukan? Tetap menunggu Hyeon?”

“Mungkin, aku merasa dia tak akan tergantikan,” jawabku, pikiranku menuju pada Hyeon.

“Dan kau membiarkan dia pergi begitu saja?” tanyanya lagi. Aku mengerutkan dahiku mencerna kata-katanya.

“Kau sendiri tahu, Hyeon memilih kalian untuk berpisah, sedangkan dia juga sangat menyukaimu. Pikirkanlah, orang yang mencintai akan tetap ditempat melihat orang yang dicintainya bila dia memilih tak mencintainya?”

Aku mengerti. Hyeon tak mungkin hanya melihatku dari jauh sebagai orang yang dicintainya. Dia juga tak akan mungkin tetap ditempat bila dia memilih berpisah dariku dan mengatakan tak bisa bersamaku. Itu artinya dia akan pergi.

“Kris…” panggil Luhan. Aku hanya diam dan memandangnya.

“Jadi, menurutmu dia akan pergi?” tanyaku.

Aku melemparkan kunci mobil pada Luhan kemudian segera duduk disamping kemudi. Aku tak tahu kemana Luhan akan membawaku, tapi yang pasti aku yakin ini semua ada hubungannya dengan Hyeon. Saat mobil nyaris keluar pagar, sebuah mobil mewah lain berhenti didepan mobil kami. Aku mengenal orang yang keluar dari mobil itu.

“Mama…Papa…” gumamku.

Aku keluar dari mobil, dan Luhan menyusulku. Mama menghampiriku dan memelukku dengan penuh rindu. Aku tak berani melepaskannya. Aku hanya diam saja, dan mencoba memasang wajah tersenyumku.

“Apa kabar ,Sayang?” kata Mama sambil berjinjit mencium pipiku.

“Sangat baik,” jawabku. Pikiranku terbagi, antara Hyeon dan kedua orangtuaku yang sangat kurindukan.

“Annyeong, Paman dan Bibi,” sapa Luhan sopan. Mama menggeser badanku dan menghampiri Luhan, menjabat tangannya dan memeluknya.

“Aku sering mendengarmu dari Kris, kau Luhan?”

“Ne~,” jawab Luhan sopan.

“Kau sangat tampan,”

Papa menghampiriku dan memukul bahuku dengan lembut. Lalu kami berpelukan.

“Kau mau kemana?” tanya Papa sambil menunjuk mobil kami yang setengah keluar pagar.

“Eng…” aku bingung akan menjawabnya.

Just hang out,” jawabku berbohong.

“Ah… kau tetap saja tukang main,” Mama menjewerku gemas, kemudian tiba-tiba matanya meneduh menatap mataku.

“Kau tambah dewasa, sayang,” Mama membelai pipiku lembut. Aku mencoba menyunggingkan senyumku.

“Apakah kalian ingin tetap bicara disini?” tanyaku

Papa kemudian menepuk bahuku dan menggiringku masuk kedalam.

“Ada yang ingin kami bicarakan padamu, Nak,” ucap Papa tak lebih hanya kepadaku. Suaranya sangat serius.

“Paman, Bibi, kurasa aku harus pergi.” kata Luhan saat kami hampir sampai diambang pintu.

“Yah, tak usah sungkan begitu.” Aku meninju bahunya.

“Aku akan menemui Chanyeol sebentar, boleh aku meminjam mobilmu?” tanya Luhan, dia menggunakan eyes contac padaku. Aku mengangguk mengerti.

“Hati-hati, Nak..” pesan Mama, Luhan menimpalinya dengan senyum. Aku mengikuti kedua orangtuaku masuk kedalam rumah. Andai sekarang Hyeon ada disini, lengkap sudah kebahagiaanku. Ah, ottoke kalau Mama dan Papa menanyakan Hyeon? Aku harus memutar otak dari sekarang.

Hyeon POV

4 jam lagi aku akan meninggalkan Korea, namun yang membuat sebal adalah Lay oppa. Dia sama sekali tak menyiapkan apapun. Dia masih sibuk dengan pekerjaannya sendiri.

“Yah, oppa! Kau serius mengantarku tidak?!” kataku marah, berulang kali aku memarahinya. Dia hanya tersenyum dan berkata…

“Tak ada yang perlu disiapkan.” Selalu itu yang dikatakan.

Aku mendesah sebal dan melirik Lay Oppa yang diam-diam memandang arah  luar. Aku terlalu banyak menyusahkannya.

“Kau tak ingin mengantarku?” aku merasa bersalah telah memaksanya. Dia menoleh kearahku dan menggeleng lembut.

“Aku tak akan memaksamu lagi. aku bisa pergi sendiri,”

“Aniya. Aku akan mengantarmu.” Ucap Lay Oppa.

“Hyeon-ah… kurasa kau tak bisa selamanya berlari. Hadapi semua ini dengan sisa tenagamu,”

Aku tak suka membahas hal ini lagi, terlalu panjang. Membuatku pusing. Aku menghela nafas kemudian menarik koperku lebih merapat denganku. Aku memasang label nama di gagangnya, kusiapkan beberapa surat-surat pentingku. Paspor. Kubuka buku kecil itu, aku bergetar melihat nama yang terpampang disana. Hyeon Wu.

“Kau yakin akan pergi?” tanya Lay Oppa lagi. Aku mengusap airmataku yang hampir saja menetes. Aku mengangguk.

“Bagaimana bila aku menahanmu?”

Suara itu tak asing lagi ditelingaku, tidak mungkin. Aku menengok kesumber suara dan hampir aku terjungkal saking kagetnya. Chanyeol dan Luhan berdiri didepanku. Aku mengalihkan pandanganku pada Lay Oppa, dia tahu, pasti ini ulahnya. Dia hanya menggedikan bahu dan berwajah polos. Menyebalkan.

“Tunggu, beberapa menit lagi Kris akan sampai,” gumam Luhan.

“MWO?!!”

“Bersama mertuamu,” tambah Chanyeol dengan wajahnya yang sangat polos.

Oh, apalagi ini?!! Lay Oppa pasti mengetahui hal ini. Aku tak akan memaafkannya bila ini adalah ulahnya. Sial.

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT  😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @yuanitasugianto @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged:

6 thoughts on “EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 14

  1. yeojachingukris December 5, 2012 at 7:33 AM Reply

    seruuuuuu!!! lanjut thor!! jgn lama2!!

    • 1authorexo1st December 6, 2012 at 9:25 AM Reply

      yeah!! saya jadi semangat. gomawo udah baca . semoga menghibur 😀
      /bow/

      -yuanfan-

  2. Cynthia December 10, 2012 at 8:42 AM Reply

    ayo dilanjut 😀
    Kasian Chanyeol patah hati, Luhan ma Sunhye 😀
    Yaudh chanyeol ma jessica aja 😀

    • yuanfan December 19, 2012 at 5:30 AM Reply

      haha maunya semua member Exo sama saya. /dirudal/
      saya akan lanjutin setelah selesai UAS ya…makasih uda baca /bow/
      keep reading yaa 😀

  3. choi hye rin January 17, 2013 at 4:28 AM Reply

    lanjutin secepatnya dongg thor.. penasarannn >.<

  4. Dinidink June 28, 2013 at 12:56 PM Reply

    ehem..
    Ahh, ternyata aku ketinggalan banyak part yeh *nyengir* lumayan lama ninggalin hobby baca ff *gadaygnanya -.-*

    keburu ke part slanjutnya~ tapi ga afdol kalo ga ninggalin jejak dulu disini. nt digeplak sm authornya kalo jd SR xD

    Ohh.. jadi jadi itu mulanya sunhye yang dijodohin sama kris *ngangguk2* ehh, kalo perjodohannya diterusin hyeonnya gimana donk *?*
    itu orang tua demen banget ngejodoh-jodohin kris, jodohin ama ak napa skalian 😀 *lanjutbaca #nextpart

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: