EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 13

EXOtic’s FICTION
Exo1stwonderplanet.wordpress.com
“Just Like You”

*Title : Just Like You
*Part : 13
*Main Cast :
 Kris Wu
 Kim Hyeon
 Kim Sun Hye
*Length : Series
*Genre : Romance
*Rating : PG 13
*P.S : Ini adalah karya original by YuanFan. Dilarang keras untuk mem-plagiat dan mencopas tanpa seijin author
leave comment please
*Sinopsis : Kris dan Hyeon sama-sama mengetahui tentang latarbelakang keduanya menikah, dan mulai menyadari perasaan satu sama lain. Namu, dilain sisi Hyeon memutuskan untuk bercerai dari Kris. Dia merasa telah berhutang pada Kris.
*Disclaim :
SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*
**

Kris POV

 

Hari ini aku keluar dari rumah sakit, aku sudah tak tahan lagi disini. Aku ingin kembali kerumah. Papa dan Mama sengaja tak kukabari, agar dia tak datang ke Korea. Bila mereka datang, mereka akan mengetahui keadaan hubunganku dan Hyeon sekarang, mereka akan kecewa pada kami. Sekalipun, mereka menikahkan kami karena suatu perjanjian, aku tahu Papa dan Mama sangat menyukai menantunya.

“Kris, istirahatlah…” ucap Sun Hye saat kami tiba dirumah. Luhan membantuku keluar dari mobil.

“Gomawo,” ucapku pada Luhan dan melepaskankan tangannya dari pundakku.

“Aku bisa berjalan sendiri, Luhan-ah,”

“Ne~,” dia melepaskan pegangannya.

“Sun Hye-ya, apakah hari ini kau ingin pulang ke rumahmu?” tanyaku.

Sun Hye tampak kaget melihatku.

“Kau mengusirku?” nadanya tampak sarkatis. Aku hanya mendengus geli dan tersenyum.

“Aniya. Kau tahu sendiri kan, Hyeon sudah tak ada disini. Bagaimana bila ada yang menanyakan hubungan kita? Kita tak ada ikatan,” kataku.

“Tapi sepertinya tak masalah, Kris,” celetuk Luhan.

“Masalah, Hannie.” Jawabku tanpa melepaskan pandangan dari Sun Hye yang masih tampak berpikir.

“Bagaimana bila kita menikah?”

Aku tersentak dengan apa yang dikatakan Sun Hye, tampaknya dia serius. Aku tersenyum melihatnya, aku sedikit melirik Luhan yang hampir seperti tertohok tombak.

“Aniya…” gumamku geli.

“Jangan berpikiran bodoh,” aku berjalan melewatinya, aku ingin segera membaringkan tubuhku.

“Kalau pemikiranku ini bodoh, berarti pemikiran orangtua kalian bodoh? Bukannya orangtua kalian menikahkan kalian untuk tinggal bersama?”

Sun Hye tampak menuntut. Aku menghentikan langkahku sejenak, kemudian memutar tubuhku menghadap Sun Hye.

“Itu berbeda situasi, kau tau?” jawabku datar.

“Apanya yang beda? Orangtua kalian sama-sama keluar negeri?”

“Sudahlah… jangan bertengkar. Sun Hye-ya, biarkan Kris istirahat dulu,” Luhan berusaha melerai kami berdua.

“Kau tak mengerti apapun, Sun Hye-ya. Kau tak mengerti. Karena itu, jangan sembarangan bicara. Aku tak suka.” Aku menekankan nadaku. Aku mulai jengkel dengannya.

“Apakah ini bentuk penolakanku atas pernyataan sukaku padamu?” dia mulai menuntut lagi.

“Kim Sun Hye…” gumamku.

“Aku ingin jangan buat aku marah padamu,”

“Kris-ah, sudahlah. Kalian jangan bertengkar.” Luhan mulai mendesah lelah.

“Baiklah, aku pulang. Aku tak akan pernah kembali ke tempat ini!” Teriaknya sebal kemudian keluar rumah tanpa membawa apapun. Aku diam menatapnya sampai dia hilang dibalik pintu.

“Ya! Sun Hye-ya… Yaa!!!” Luhan terlihat panik.

“Kris!!” teriaknya padaku.

“Susul saja,” gumamku tak antusias kemudian membalikan badanku dan berjalan menaiki tangga.

Sun Hye POV

Ini pertama kalinya Kris marah padaku, dia menyebalkan. Sangat menyebalkan. Aku tak bisa menahan airmataku, ini sangat menyakitkan. Wajahnya begitu berbeda padaku. Dan itu semua karena Hyeon, dia sangat menyebalkan.

“Sun Hye-ya..” seseorang memegang bahuku kasar. Aku berhenti dan  menoleh. Luhan. Dia menatapku tampak simpati, entah apa yang kupikirkan aku menubruk dadanya dan menangis sekeras yang kubisa.

“Menangislah.. jangan ditahan. Aku tahu rasanya, sakit sekali.” gumam Luhan seraya membelai rambutku.

“Aku hanya kesal dengan sikap Kris. Dia arogan sekali,” aku menegakan tubuhku dan mengusap airmataku. Luhan mengangguk.

“Kau tahu, Kris terpukul atas hilangnya Hyeon,”

Aku benar-benar tak suka dengan alasan itu. Kenapa harus Hyeon lagi? Aku tahu sejak awal mereka tak mungkin tidak mempunyai perasaan satu sama lain. Tapi, sikap Hyeon yang seperti ini membuatku muak, dan yang paling membuatku tak terima, Kris tetap mempertahankan Hyeon.

“Aku tahu, kau juga sangat menyukai Kris.”

Aku hanya diam, aku tak perlu menjawab apalagi mengelak. Luhan memandangku lama.

“Tak masalah bila dia menyukai Hyeon. Aku terima saja. Tapi, melihat Kris yang seperti ini… aku menjadi muak dengan Hyeon. Dia terlalu menyia-siakan Kris.”

“Sun Hye-ya, kupikir.. Hyeon melakukan hal ini karena ada sesuatu hal. Jangan menghakiminya secara sepihak. Kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam permasalahan mereka.”

Aku menatap wajah Luhan, kesannya jauh dari playful seperti biasanya. Dia sangat serius dengan ucapanya, dia terlihat seperti namja yang bijaksana. Tapi, pendapatnya tetap belum bisa kuterima.

“Entahlah, yang terpenting sekarang aku ingin segera pulang,” tukasku.

“Kau memasukan hati kata-kata Kris?” tanyanya.

“Dia serius dengan ucapannya, lagipula aku juga ingin segera pulang,”

Aku mengambil langkahku, tapi Luhan menahan lenganku. Aku melotot menatap Luhan.

“Ini bukan dirimu yang kukenal.”

Aku mengeryitkan dahiku

“Baiklah, bisa dibilang aku mengenalmu baru beberapa bulan. Tapi, menurutku kau bukan tipe orang yang seperti ini,” gumamnya. Aku mendengus geli.

“Apa yang kau tahu tentang aku?” tanyaku agak sinis.

“Eobseo,” jawabnya lembut.

“Tapi paling tidak aku sedikit mengenalmu selama ini. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu,”

“Mwo?” aku tak ingin menjawab apa-apa sekarang.

“Seandainya ada namja yang menyukaimu, apakah kau bisa membuka hati untuknya?”

Aku memandang Luhan dengan tatapan tak percaya. Dia tetap memandangku teduh. Apa maksudnya ini semua??! Aku salahtingkah dipandangnya seperti itu, lalu tiba-tiba dia melepaskan pegangannya. Dia hanya tersenyum kemudian menaikan alisnya.

“Kau tak bisa,” gumamnya kemudian dia berbalik.

“Tunggu, apa maksudmu?” tanyaku

Luhan memutar tubuhnya, dia melihatku dengan senyuman manis.

“Kris mungkin yang kau inginkan, tapi ada yang lebih menginginkanmu. Kurasa,” gumam Luhan. Aku masih terdiam tidak menanggapinya, cukup sulit mengartikan kata-katanya. Aku tak mau terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Dia tersenyum dan membalikan badannya dariku. Aku memandangnya berjalan menjauhiku.

“Yah! Jaga Kris dengan baik!!” teriakku padanya. Dia hanya mengacungkan jarinya yang membentuk lambang ‘OK’ tanpa menoleh sama sekali. Luhan berhasil membuatku bingung.

Hyeon POV

Hari ketiga aku bolos, aku mencoba menghidupkan ponselku. Mati aku! Banyak voicemail dari guru dan teman-temanku. Ah, payah! Yang memecahkan rekor pengirim sms terbanyak adalah Chanyeol dan Kris. Aku mendesah pelan, karena ponselku tiba-tiba blank, terlalu banyak pesan masuk.

“Aku harus ganti ponsel baru,” gerutuku sebal.

“Ponsel baru?” tanya Lay Oppa yang tiba-tiba dibelakangku.

Aku tersentak karena kaget. Aku memandangnya memelas.

“Mwoya? Kau mau memintaku membelikanmu ponsel baru?” tebaknya.

“Ayolah… opppa…” rengekku. Dia berdecak lalu pergi meninggalkanku. Aku menghentakan kakiku sebal, dasar pelit !!

Ah, menyebalkan. Aku ingin mencari udara segar, menjernihkan pikiranku. Isi surat kemarin terus mengahantuiku, hidupku tak tenang.

“Pagi!!!” seru seseorang tiba-tiba muncul didepan pintu saat kubuka. Hampir aku mati jantungan.

“Chanyeol-ah!! apa yang kau lakukan disini? kau tidak sekolah, heh?!” marahku. Dia hanya menyeringai lebar. Aku celingukan melihat kebelakangnya.

“Aku sendiri, tenang saja. Aku dan Luhan hyung sudah sepakat tidak memberitahukan pada Kris hyung. Kau masih ingin sembunyi ‘kan?” tanyanya dengan alis yang bergoyang-goyang.

Aku memukul bahunya gemas, lalu menyeretnya masuk. Lay oppa tampaknya sangat terbuka dengan kedatangan Chanyeol, dia sendiri juga gampang sekali akrab dengan orang asing.

“Changsahamnida, aku merepotkanmu, Lay-ssi…” katanya saat beberapa hidangan disiapkan untuknya.

“Hyeon lebih merepotkanku, dan dia tak pernah meminta maaf.” Gumam Oppa sambil melirikku keki. Aku mendesis tidak setuju padanya.

“Kau memuakkan Oppa,” gumamku sebal.

“Bilang sekali lagi, aku mengurungkan niatku membelikanmu  ponsel baru,” ancamnya.

Aku membulatkan mataku, aku setengah berdiri dari tempat dudukku.

“Jinjjayo?? Oppa, jangan membohongiku!!” seruku tak percaya.

Dia menyeringai dan tersenyum, jelek sekali.

“Kau bohong,” gumamku kembali duduk.

“Aniya… nanti bila aku ada pratek dikota, aku akan membelikanmu. Tipe lama ya?”

“Terserah kau-lah, aku terima saja.”

“Anak pintar,” kata Oppa mengacak rambutku.

Chanyeol menghabiskan waktu dirumah dengan bermain UNO denganku. Tapi, lama kelamaan bosan juga. Aku melempar kartu UNO ku dan berbaring dilantai.

“Yah! Kenapa kau berhenti,” tuntut Chanyeol.

“Aku lelah,” gumamku.

“Bagaimana keadaan Kris?” tanyaku. Aku sedikit mengkhawatirkan.

“Dia sudah keluar dari rumah sakit. Luhan hyung, Xiumin hyung dan Suho hyung menjaganya. Tenang saja,”

“Dan Sun Hye?” tanyaku lagi.

“Sun Hye noona? Dia sudah kembali kerumahnya. Entahlah, sepertinya bertengkar dengan Kris Hyung. Mereka tak pernah berkomunikasi lagi.”

Aku menghela nafas dalam-dalam dan menegakkan badanku. Lalu memandang Chanyeol, dia balas memandangku.

“Kau rindu padaku?” tanya dengan nada sangat percaya diri. Aku hanya tersenyum. Nanti, aku akan lama tidak melihat senyumnya yang terang itu. Aku pasti akan merindukannya. Ah, membayangkannya saja sesak.

“Chanyeol-ah… aku ingin ke Seoul. Kau mau menemaniku?” tanyaku.

“Kau mau kemana?”

“Kemana saja, aku bosan disini,”

“Kalau begitu, jangan lama-lama bersembunyi,”

“Sialan,” dengusku.

Aku menahan diri untuk berbelok ke rumah, bukan… rumah Kris. Aku menahan diri selama aku berjalan dipinggiran kota Seoul. Tapi aku ingin tahu keadaannya. Aku ingin tahu…

“Kau ingin menjenguk Kris hyung?” tanya Chanyeol tiba-tiba.

Aku menggeleng, lalu memakan kembali popcorn yang kupegang.

“Tak apa, aku akan mengantarmu.”

“Aniya, aku yakin dia akan baik-baik saja,” kataku.

Chanyeol mengangguk seraya tersenyum manis.

Aku menghabiskan waktu di game center bersama Chanyeol. Makan berdua di kedai yang selalu kami kunjungi setelah pulang sekolah. Dan membeli kentang manis favorit kami berdua. Semuanya… semuanya akan terasa begitu merindukan saat aku sudah di Jepang nanti.

“Kau sampai kapan akan bolos sekolah?” tanya Chanyeol.

“Kau siswa yang bodoh, harusnya lebih rajin sedikit,”

Aku memukul bahunya gemas. Dia semakin tinggi beberapa bulan terakhir ini. Aku melahap kentang manisku sampai habis, tanpa bicara pada Chanyeol. Saat dia bertanya, aku hanya mengangguk dan menggeleng membuatnya dia sebal. Akhirnya membuang sisa kentang manis kami.

“Yahh!!!” teriakku.

Dia memandangku dengan tatapan penuh kemenangan. Sialan.

“Ini,” Chanyeol melingkarkan syalnya pada leherku.

“Kau mirip namja dalam drama, sangat romantis,” ucapku dengan nada kubuat haru. Dia menjitak kepalaku.

“Hyeon-ah…” ucapnya, kurasakan tangannya menggenggamku.

“Kau sungguh berarti bagiku. Tapi, aku tak bisa memilikimu. Aku sedih…” gumamnya. Membuat aku merasa bersalah sangat besar padanya.

“Chanyeol-ah, aku…”

“Jangan merasa bersalah, aku hanya mengerjaimu…” katanya dengan nada yang sangat menyebalkan. Aku memandangnya tajam.

“Kau membuatku sebal,” kataku .

Dia terkekeh yang membuatku semakin sebal.

“Ayo kuantar pulang . Sudah hampir malam, aku tak mau Lay hyung membakarku hidup-hidup,”  ajaknya.

“Ne~,” jawabku dengan senyum lebar.

“Antar aku sampai halte bus, aku akan pulang sendiri,”

“Andwe! Aku akan mengantarmu sampai benar-benar sampai rumah,”

“Aku tidak mau kau kemalaman dan menginap dirumahku. Aku sangat tidak mau,” ucapku tajam membuat Chanyeol tak berani berargumen apapun.

“Kau yakin?”

Aku mengangguk. Dia memandangku ragu, aku membalas memandangnya dengan penuh keyakinan.

“Oh… ne~,” katanya pasrah.

Chanyeol menungguiku dihalte bus, sampai bus tiba. Aku segera naik dan mengucapkan sampai jumpa padanya. Dia melambai padaku sampai aku tak melihatnya lagi. Aku duduk dipinggir jendela dan memandangi pinggiran jalan Seoul yang penuh dengan kerlip lampu. Disebuah halte bus, tiba-tiba aku beranjak dan melompat turun dari bus. Aku sendiri tak mengerti kenapa aku melakukannya.

Kurogoh kunci yang ada dalam tasku, dan berlahan memutarnya. Ini sudah sangat larut. Kemungkinan dia sudah terlelap. Tadi aku sengaja mengulur waktu untuk, menunggu sampai hampir tengah malam. Lay Oppa pasti sekarang tengah meneleponi Chanyeol. Aku ingat ponselku rusak. Saat aku bisa masuk rumah gelap itu, aku mengendap-endap. Serasa maling tengah malam. Sepi. Kris pasti tengah terlelap. Akhirnya aku berjalan seperti biasanya, dan segera menghubungi Lay oppa dengan telepon rumah.

“Aku menginap, jangan cemaskan aku. Dan jangan hubungi Chanyeol terus,” kataku saat dia baru saja mengatakan ‘yeoboseo’ dan segera menutupnya sebelum dia bicara. Aku segera menuju kamar lamaku.

Kriiing!!! Mati aku!! Pasti Lay Oppa meneleponku kembali. segera ku cabut kabel telepon agar berhenti, dan… klik! Lampu ruangan tiba-tiba menyala. Kris dengan muka pucat berdiri disamping anak tangga. Aku hanya memasang cengiran kuda.

“Aku hanya berkunjung,” kataku.

Dia diam tak menimpalinya. Dia berjalan kearahku. Aku mundur seiring dengan langkahnya. Dia semakin cepat, aku segera berlari kepintu . Serasa maling dikejar oleh pemilik rumah. Aku berhasil mencapai daun pintu, belum sempat kubuka sebuah tangan menahannya.

“Tetap disini, tetap disini… temani aku…” suara Kris tampak lemah dan tersengal. Aku sedikit menengok kebelakang, Brukk!! Dia ambruk. Sial! Dia berat.

Kris POV

Aku merasakan tangan yang bergerak kasar, menempelkan handuk dingin di dahiku. Aku kenal pemilik tangan itu. Sebelum kubuka mata, aku memegang tangan itu erat-erat.

“Wae?” suara itu sangat tak asing bagiku.

“Kumohon, jangan pergi lagi…” gumamku.

“Aku sangat menyesal kemari,” gerutunya.

Aku membuka mataku, Hyeon tampak bermuka sebal. Aku meraih wajahnya dan membelainya. Aku seperti orang yang terpisah dengannya bertahun-tahun.

“Kau tidak merindukanku?”

“Apa aku terlihat sangat merindukanmu?” dia berbalik menanyaiku. Aku tersenyum melihatnya. Aku ternyata sangat merindukannya.

“Jangan pergi lagi… kumohon,” rengekku.

“Apa yang akan kau berikan padaku sebagai bay—“ Hyeon tiba-tiba terdiam, dia memalingkan wajah dariku.

“Aku akan menungguimu malam ini,”

“Aniya.” Kataku.

“Selamanya…”

Hyeon memandangku lama, kemudian dia mendekati ku dan menundukan wajahnya.

“Kau demam,” katanya seraya menempelkan dahinya pada dahiku.

Saat dia akan mengangkat dahinya, aku menahannya dan mencium bibirnya.

“Kau berhutang satu penularan demam dulu,” kataku seraya menyeringai padanya.

“Sial,” umpatnya.

Hyeon membantu memapahku ke dalam kamarku dan membaringkanku diranjang. Tangannya lembut menyapu dahiku dan menyelimutiku. Aku menahan lengannya saat dia akan beranjak pergi.

“Tidurlah bersamaku,”

“Mwo??” serunya kaget.

“Mwoya? Aku tidur denganmu. Andwe, aku akan tetap disini. Jangan khawatir aku akan pergi tanpa sepengetahuanmu.”

“Aku ingin kau menemaniku tidur,”

“Kau pikir aku yeoja yang bagaimana , huh?! Dasar!” marahnya.

“Kau istriku,”

“Kau masih istriku yang sah. Aku belum menandatangani surat perceraian itu.” selaku sebelum dia menyelaku. Dia memanyunkan bibirnya dan berdecak sebal.

Aku masih menahan lengannya saat dia bersikeras pergi.

“Temani suamimu tidur sekali ini, aku butuh kau,” kataku setengah memelas.

“Baiklah…” ucapnya dia agak ragu. Aku tersenyum manis padanya.

Hyeon POV

Untuk pertama kali aku tidur dengan Kris, selama kami menikah. Aku agak canggung. Aku meringis membayang hal yang tidak-tidak. Kris menggeser badannya memberiku ruang.

“Aku ingin ganti baju dulu,” aku mencari alasan.

“Mau ganti baju apa? semua pakaianmu kau bawa kabur,” cibir Kris.

Ya ampun, iya. Bagaimana ini?? Aku memutar otakku, untuk mencari alasan lain.

“Aku tak akan bisa tidur, aku memakai celana jeans. Jadi, aku menungguimu disini,” aku duduk disebelah ranjangnya. Dia memandangku tajam.

“Ambilkan sesuatu dilemariku,” katanya.

Aku berdiri mengikuti perintahnya, aku membuka lemarinya. Kemudian aku melihatnya, menunggu instruksi darinya lagi.

“Dibawah sendiri, ada sweater coklat. Ambilkan itu,” kataku.

Aku memilah tumpukan lipatan pakaian, ternyata pakaiannya lebih banyak dari milikku. Dasar maniak fashion. Aku menemukan satu-satunya sweater coklat dan menariknya keluar.

“Ini?” tanyaku. Dia menngangguk.

“Pakai itu untuk ganti baju tidurmu,” katanya lagi.

Aku memerengutkan dahiku. Lalu berkacak pinggang.

“Kau sangat tidak think smart. Aku memakai ini sama saja, bawahanku tetap jeans.”

“Lepas celana jeansmu, sweater itu cukup panjang untuk menutupi lututmu,” katanya sambil lalu.

Aku melebarkan mataku, melihat ukuran sweater itu dan melihat lututku. Memang mungkin akan menutupi, tapi aku akan tidur disebelah Kris. Bagaimana bila tiba-tiba tersingkap?

“Andwe,” kataku membuang sweater itu.

“Kalau begitu, tidur diluar.” Suruh Kris.

Kenapa dia menjadi kejam dadakan? Aku memandangnya tajam, lalu mengangguk mantap. Aku balik kanan dan memutar knop pintu kamarnya.

“Tidur diluar, luar rumah…” dia mengulanginya dengan lambat.

“Tak masalah,” kataku lebih tegas lagi.

Aku keluar kamar Kris tanpa ragu. Bagus juga dia menyuruhku keluar, aku terselamatkan. Walaupun aku tahu diluar…

“Sangat dingin,” gumamku saat melihat angin yang berhembus kasar.

“Tak apa,” kataku, lalu duduk dibangku taman belakang. Lumayan untuk tidur. Aku meringkuk menahan dingin.

Blug! Sesuatu jatuh tepat diatas tubuhku. Aku membuka mataku yang hampir saja terpejam.

“Pabo!” Kris berkacak pinggang didepanku.

“Yah! Apa lagi maumu? Kau sungguh tak jelas,” kataku sebal. Lalu kembali menata posisi tidurku.

“Sekarang kau bisa tidur tanpa minum susu lebih dulu?” dia setengah berteriak membuatku ingin menghajarnya. Aku membuka mataku lagi dan menatapnya tajam.

“Apa maumu??” aku mulai kesal.

Dia menghampiriku dan duduk ditepi bangku. Dia menyodorkan kain tebal panjang berwarna kuning.

“Aku mempunyai celana olahraga pakailah, tidurlah didalam,”

Aku mendengus geli dan mengambil celana yang diberikannya.

“Pakai juga sweater itu,” dia menggedikan dagunya pada sweater yang teronggok diatasku.

Aku menegakan badanku dan meraup pakaian pemberiannya. Dia memandangku dengan pandangan sebal, aku membalasnya dengan senyuman geli. Lama kami saling berpandangan.

“Yah! Kenapa kau tak segera memakainya?! Disini sangat dingin!! Aku bisa semakin sakit,”

Ck! Dia memang menyebalkan. Aku beranjak dari dudukku dan berjalan masuk tanpa menunggunya. Kemudian aku ke kamar mandi mengganti pakaianku. Training dan Sweaternya benar-benar sangat besar. Aku tenggelam memakainya, Kris ternyata memang raksasa.

“Kenapa kau berdiri disitu?” tanyaku saat aku keluar dari kamar mandi. Dia bersandar dengan wajah pucat di dinding depan kamar mandi.

“Kembalilah ke kamarmu, aku akan menyusul.” Kataku lalu melewatinya.

Aku akan ke dapur, namun kemudian Kris menyodori mug yang mengeluarkan asap. Aku memandang mug itu lama, lalu tersenyum pada Kris dan menerimanya dengan senang hati.

“Gomawo,” ucapku. Dia tersenyum dan mengacak rambutku lalu menggandengku menaiki tangga.

Ah, yang benar saja. Aku deg-deg’an tak jelas. Langkah kami semakin mendekati ranjang. Andwe!! Pikiranku kemana-mana. Plaak!! Kris berbaring lebih dulu dan memberiku ruang disampingnya. Aku ragu. Aku berpikir.

“Bisakah kita memakai dua selimut?” tanyaku.

“Tak ada, aku sudah membuang selimutmu,” katanya.

“Selimut Sun Hye?” tanyaku lagi.

“Andwe. Sudah, pakai selimut ini saja. Aku tak akan berselimut jika kau tak mau satu selimut denganku.”  dia menyibak selimutnya sendiri.

“Aniya… kau sakit. Lebih baik aku yang tak berselimut, pakaian ini lumayan tebal” tukasku seraya berbaring disebelahnya, aku memiringkan badanku memunggungi dan memeluk guling.

“Hyeon-ah…” panggilnya.

“Hem?” jawabku, aku mulai mengantuk karena efek susu.

“Hadap sini,” katanya.

“tidak mau, aku sudah nyaman,”

“Hadap sini kataku, atau kau akan kuhadapkan paksa,” ancamnya.

Kenapa dia menjadi sangat menyebalkan akhir-akhir ini? sangat menyebalkan. Akhirnya aku menghadapnya, wajahnya hanya beberapa centi dariku. Dia membagi selimutnya denganku, lalu aku merasakan dia memelukku erat dan menutup matanya. Aku ingin berontak, tapi…

“Jangan bergerak.” Katanya tanpa membuka matanya.

“Aku sangat merindukanmu, Hyeon-ah…”

Aku melihat wajahnya yang tertidur, dia Kris. Ya, dia Kris. Aku tak sanggup menahan airmataku. Aku menangis dalam diam, lalu meringkuk lebih dekat dengannya.

Kris POV

Aku memeluk Hyeon sepanjang malam, aku sangat rindu padanya. Sangat. Aku merasakan sinar matahari menerobos kelopak mataku. Aku meriyipkan mataku menahannya. Hyeon masih tertidur pulas disebelahku. Pertama kalinya aku melihatnya sedekat ini. Ternyata dia sangat jelek bila tidur.

“Kau tahu, sikapmu yang menyebalkan itu membuatku tak bisa lepas darimu,” gumamku lirih. Hyeon menggeliat, matanya mulai terbuka. Pandangannya sangat penuh kobodohan, aku memandanginya lama. Dia masih setengah sadar, lalu terlelap lagi.

“Yah!” baru seperdetik dia memejamkan mata, tiba-tiba terlonjak bangun.

“Jam berapa ini?!” dia panik.

“Jam 7, hari ini hari minggu,” gumamku.

“Ahhh… aku akan dimarahi oleh Oppa. Aku harus pergi Kris,” dia menyibak selimut dan beranjak.

“Oppa?!!” ulangku sambil menahan leher Sweater  yang dikenakannya.

Dia menoleh memandangku.

“Wae?” tanyanya.

“Jangan pergi, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan.”

“Aniya, aku tak mau,” katanya.

“Kubilang tetap disini,” aku menekankan nada bicaraku, dan berhasil membuatnya dia kembali ke posisi semula.

Belum aku bicara pada Hyeon, ponselku berbunyi. Aku ingin me-reject-nya, tapi menngurungkannya. Chanyeol meneleponku, pasti ada hal penting.

“Yeoboseo?” tanyaku.

“Yah, Hyung-ah… apakah Hyeonnie bersamamu?” dia tampak tergesa.

“Ne~, wae?”

“Ahh… syukurlah. Lay hyung kesulitan mencarinya,”

“Lay?” ulangku.

Tut…tut…tut… tiba-tiba sambungannya terputus. Ah, sial. Lay? Aku memandang Hyeon dengan wajah penuh pertanyaan. Dia hanya menggedikan bahunya.

“Siapa Lay?” tanyaku agak keras. Jujur, aku sangat tak suka bila yang dipanggilnya ‘Oppa’ adalah orang itu.

“Lay Oppa?” dia malah mengulang kalimat itu tanpa beban.

“Nugu?!”

“Oppa-ku,” jawabnya. Dia polos atau terlalu bodoh?! Aku ingin menciumnya hingga habis!

“Siapa dia?”

“Kakak sepupuku, sekarang aku ting—“ dia tiba-tiba berhenti.

“Kenapa kau menanyakannya?! Aku harus pulang. Yah!”

aku menarik tangannya agar tetap duduk diranjang.

“Banyak hal yang ingin kubicarakan, banyak.” Kataku menekankan setiap kalimatnya.

“Jawab jujur Hyeon-ah, kau pergi karena Ibu Sun Hye?”

Dia diam, menunduk memalingkan wajahnya dariku. Terlihat jelas, jawabannya ‘benar’. Aku tak perlu mengulanginya lagi.

“Kenapa kau tidak membicarakan padaku? kenapa kau langsung pergi meninggalkanku tanpa pamit? Kenapa kau tak mengabariku?! Jawab aku kenapa?”

Hyeon tetap bungkam. Aku tak bisa memaksanya lagi. Aku juga tak ingin membentaknya yang membuatnya lebih tersakiti.

“Kau tahu…” gumamku.

“Aku menderita setelah kau meninggalkanku, aku sangat sengasara. Ada bagian diriku yang hilang, sangat hampa. Aku terus mencarimu, entah dimana itu. Aku sangat merindukanmu, sangat. Kau tahu?” Ucapku tulus dalam hati.

Akhirnya Hyeon mendongak melihat mataku. Matanya juga tampak merah.

“Hyeon-ah… setelah kau pergi aku menyadari suatu hal. Hal yang tak mungkin kupingkiri lagi. Kau sangat berarti bagiku, tak ada yang bisa menggantikanmu.. tak ada. Sejak itu aku menyadari, betapa besarnya aku mencintai dan menyayangimu. Aku tak mau kehilanganmu lagi.” Airmataku hampir menetes saat mengatakannya.

“Jawab aku , apa kau mencintaiku dan menyayangiku?” tanyaku. Dia memandang mataku lama.

Hyeon POV

Kris memojokanku, dia membuatku tak berkutik. Aku hanya bisa diam dan memandangnya. Betapa aku sebenarnya juga sangat mencintainya, melebihi apapun. Aku hanya bisa terdiam tanpa mengatakan apa-apa. Aku tak ingin bohong padanya dan berkata jujur padanya. Aku ingat apa yang ditulis dalam surat yang tempo hari.

Dear Hyeonnie…

Aku tak mau berbasa-basi disini, aku langsung kepokok permasalahan. Mungkin kau sudah mengetahuinya atau menduganya. Benar, tentang pernikahanmu dengan Kris Wu. Aku ucapkan selamat atas bertahannya hubungan kalian sampai selama ini. Aku tak ingin menghancurkan atau membuat rusuh hubungan kalian. Kau memang sudah seharusnya tahu, sebelum menikah denganmu, Keluarga Wu sudah ada ikatan perjodohan dengan Keluarga kami. Kau pasti tahu apa yang ku maksud. Tentu saja, Sun Hye dan Kris Wu. Tanpa sepengetahuan mereka, mereka adalah calon tunangan. Sebagai orang ketiga, harusnya kau lebih mengerti bagaimana semestinya. Pernikahan kalian hanya sekedar syarat, bukan pernikahan sebenarnya. Aku hanya ingin hak anakku kembali, hanya itu. bila kau penuhi, hutang kedua orangtuamu lunas tanpa syarat. Kalau tidak, aku akan mengembalikan uang yang diberikan Keluarga Wu untuk menutupi hutang Keluargamu diperusahaanku. Pikirkan baik-baik Hyeonnie sayang…

Kurasa semua ini cukup. Terimakasih telah membacanya.

 

“Aku juga sangat menyukaimu, Kris…” gumamku sudah kuputuskan untuk mengatakan hal yang jujur. Kris memegang pundakku erat. Aku menundukan tak berani menatapnya.

“Lalu apa lagi, kita pertahankan pernikahan kita. Aku tak mau kau pergi lagi,” ucapnya. Aku menggeleng dan mendongak menatapnya.

“Jeongmal mianhe, Krissie… aku tak bisa. Aku benar-benar tak bisa.”

“Kenapa kau berkata seperti itu?” dia mulai menampakan wajah kecewa.

“Aku yakin bukan karena Chanyeol, bukan kan?”

Aku kembali menggeleng.

“Aku tak bisa…”

“Ceritakan padaku alasannya, ceritakan…” pintanya.

“Aku tak bisa…” aku mengulangi kata-kata itu setiap menjawab pertanyaan Kris.

“Aku benar-benar tak bisa, jangan memaksaku. Aku tak bisa…” aku menutup wajahku dengan telapak tanganku dan menangis sejadi-jadinya.

“Hyeon-ah…” gumam Kris, aku merasakan dia memegangi punggungku.

“Apakah ada yang sakit?”

Pertanyaannya sungguh tak bermutu, sangat tak bermutu. Aku sendiri tak tahu harus bagaimana.

“Hyeon-ah… mianhe… jeongmal minahe…” dia memelukku lembut. Aku semakin terisak tak tertahankan.

“Kris, tinggalkan aku. Jangan kau buat dirimu lebih menderita lagi, aku tak pantas kau tunggu. Kau bukan untukku. Kris, jangan buat kau lebih menderita, jangan menungguku…” ucapku memberanikan memandang Kris.

“Kau membuatku khawatir. Selamanya, aku tak akan pernah berpaling darimu.” Katanya seraya mengusap airmataku. Dia mengusap dahiku lalu menciumnya lembut.

Aku merasakan kenyamanan… tapi ini bukan milikku. Bukan. Kris milik Sun Hye dari awal hingga akhir nanti. Aku menarik nafasku dan tersenyum pada Kris.

“Cepatlah, sembuh.” ucapku membelai keningnya lembut.

“Jangan menangis lagi, ku mohon,” katanya. Aku mengangguk.

“Aku akan menunggumu sampai kau benar-benar berlari kearahku. Dan jangan pernah memintaku untuk berhenti, jangan pernah.”

“Aku… aku tak akan pernah berlari kearahmu,” kataku agak berat.

“Saat itu, aku yang akan berlari kearahmu,”

Aku membulatkan mataku, dan membekap mulutku dengan punggung tanganku. Aku mulai menangis lagi, aku tak tahu harus bagaimana. Aku tak tahu. Kris mengeratkan pelukannya, sangat erat.

TBC
**
THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st
FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA
ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com
Exofirstwonderplanet@yahoo.com
VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com
ORIGINAL MADE BY @yuanitasugianto @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.
If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged:

6 thoughts on “EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 13

  1. Cynthia November 19, 2012 at 2:57 AM Reply

    Udh kris ma hyoen aja.. Jgn pikirin sun hye.. Dy ma luhan aja :p
    Dtgu part selanjutx 😀

    • 1authorexo1st November 26, 2012 at 11:32 AM Reply

      kalo Hyeon ma chanyeol aja gimana??
      hehe /tendang/
      gomawo udah baca terus. saya selalu nunggu komen chingu. hehe

      keep reading ya:D

      -yuanfan-

  2. Dinidink November 22, 2012 at 5:02 AM Reply

    ‘Tidur diluar,diluar rumah’ xD gyahaha.. *ngakak*
    hha..itu luhan ama sunhye aja xp hyeon ma chanyeol dan kris?kris sm aku *plakk..
    etdah.. itu si kris knp jd lemah lembek *?* bgtu.. ambruk mulu dr part12 *?* yesungdeh.. GWS ya bebeb kris, chu~ :*

    #Hwaiting bwt author Yuanfan yg kece badai chetar membahana *?* chu~ xD

    • 1authorexo1st November 26, 2012 at 11:37 AM Reply

      kris kurang vaksinasi, kurang makan, ma kurang jelek. /plakk/
      ah, seenaknya masangin orang. semua member akhirnya sama saya. /tendang/
      gomawo udah baca saengi 😀
      keep reading ya :d moga ga membosankan 🙂 /bow/

      -yuanfan-

  3. yeojachingukris November 23, 2012 at 11:42 AM Reply

    lanjuuuuuuttttt!!!!

    • 1authorexo1st November 26, 2012 at 11:39 AM Reply

      okee…:)
      saya jadi semangat.
      gomawo uda baca
      keep reading ma komen ya 😀
      /bow/

      yuanfan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: