EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 11

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Nimic”


 

*Title : Nimic.

*Sub Title : The Eleventh – Us

*Main Cast :

  • Kim Jong In
  • Kim Je Si
  • Luhan
  • Han Soon Na

 

*Length : Series

*Genre : Romance, Artist Life, Real-Imagine Fiction

*Rating : PG-13

*P.S : miring = masa lalu. Miring warna = perasaan. Miring warna dalam masa lalu = perasaan di masa lalu. This ff will be really complicated. So be patient.

*Disclaim : SEMUA FANFICTION YANGDIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

Summary :

Gone. You’ve gone from my sight.

Regret always come at the end, right?

After leaving you, I’m searching you.

Am I selfish? Yes I am.

Im still here.

Waiting for you comeback or time will make me found you.

**

Time goes by.

And time still cannot kill my feeling.

Will that day come?

The reason why I’m gone

Is only to make you stay

And found me here

**

There’s something empty

I couldn’t find it out

And what can I do is only screaming without reasons

**

Are you okay there?

Did you miss me like I do?

Cause I really miss you so badly.

**

 

Jessy menarik Luhan sehingga mereka sepenuhnya tersembunyi di balik sebuah bilik. Member EXO-M lainnya seperti tidak menyadari, sehingga mereka terus berjalan menuju van mereka. Luhan baru saja akan mengira Jessy salah satu sasaeng-nya kalau ia tidak menoleh dan melihat senyum khas gadis itu. Luhan masih tidak memberi respond apapun, ia hanya mengikuti Jessy yang terus berlari sambil sembunyi diam-diam.

Beberapa saat kemudian, Jessy mendorong sebuah pintu dan mereka masuk kedalam sebuah ruang kedap suara yang penuh kaca dan alat make up. Tidak ada siapapun disana. Mungkin ini adalah salah satu ruang istirahat guest star yang dipersiapkan, tapi masih belum dipakai.

Luhan meiihat sebuah sofa yang terlihat nyaman disuatu sudut ruangan itu, sehingga secara refleks Luhan memerintah tubuhnya untuk segera duduk disana. Tubuhnya bersandar di sandaran sofa nyaman itu sambil paru-parunya berusaha untuk mengatur napasnya sendiri. Mata pria itu berkedip-kedip seiring hidungnya menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Secara keseluruhan, Luhan butuh sedikit waktu untuk mengistirahatkan dirinya sendiri. Ia sudah seperti ini semenjak 4 tahun yang lalu. Tubuhnya menjadi lemah dan tidak bisa diforsir terlalu banyak. Tapi ia masih bisa mengkoordinasikan tubuhnya dengan baik sekarang.

“Luhan-a,”

“Ada apa?”

Jessy berjalan mendekat lalu kemudian ia berlutut didepan Luhan, mensejajarkan tinggi-nya dengan Luhan. “Na.. Jeongmal mianhae,”

“Kamu tidak salah apapun, Jessy-a. Aku yang memintamu untuk tidak mengatakan apapun.”

Jessy menatap mata Luhan yang terlihat letih dan lelah dihadapannya. Sekalipun Luhan berkata seperti itu, tetap saja hati-nya sakit mengetahui Luhan menderita. “Tapi aku,”

“Apakah kamu mencintaiku?”

Hening menyergap mereka berdua. Dalam hati, Jessy terus melawan keinginannya. Ia tau kalau dulu ia mencintai Luhan dengan pasti, tapi bagaimana sekarang? Apakah dia masih mencintai pria itu? Lalu bagaimana kalau ia masih mencintai pria itu? Apakah ia akan mengejarnya? Itu tidak mungkin. Karena ia mempunyai Jong-in saat ini.

“Jessy-a. Marhaebwa.” perintah Luhan dengan nada yang sangat tegas. Jessy tanpa sadar mendongak dan kembali menatap Luhan. Tangan Luhan terangkat untuk memegang pipi gadis itu, mengelus pelan dan penuh kasih. Tanpa sadar Jessy bergerak untuk memeluk Luhan. Ia masih tidak bisa menjawab pria itu dengan tegas.

“Aku tidak peduli, Jessy-a. Sekalipun kamu adalah tunangan Kai, aku akan merebutmu. Kamu masih belum terikat padanya secara utuh,”

Mata Jessy terbelalak mendengar perkataan itu. Apakah Luhan mencintainya? Kenapa pria itu begitu putus asanya? Bagaimana ini? Mau bagaimanapun, Jessy selalu menyisahkan satu tempat didalam hatinya untuk Luhan. Tapi kalau seperti ini terus, semuanya akan kembali seperti 4 tahun lalu.

“Jessy-a, marhaebwa. Sekalipun kamu bukan gadis yang kucintai dimasa lalu. Setidaknya biarkan aku mencintaimu. Ne? Kumohon.”

Jessy menggeleng kuat lalu menarik tubuhnya dari pelukan Luhan, “Andwae. Kumohon, Luhan. Jangan seperti ini. Aku mencintaimu,”

Luhan masih terus diam. “Tapi itu dulu. Sekalipun sekarang aku masih mencintaimu, aku sudah mempunyai orang lain, Luhan-a. Dan kamu juga punya, Luhan-a.”

“Siapa? Aku tidak bisa mengingat-nya, Jessy-a. Hal ini membuatku frustasi!” Teriak Luhan sambil berdiri dan berjalan menjauh dari Jessy. Tapi tak lama ia berbalik dan menatap tajam Jessy, “Jessy-a.”

Pandangan Luhan melembut, seolah memohon padanya. Luhan tidak pernah begini sebelumnya. Belum pernah seperti ini, ia ingin  menggapai Jessy dan memiliki gadis itu. Belum pernah seperti ini, seputus asa ini sampai memohon. Belum pernah. Ia juga tidak mengerti. Luhan belum yakin apakah ia mencintai Jessy atau tidak. Tapi ia tidak ingin Jessy pergi. Ia menyukai kehadiran Jessy saat gadis itu berada disisinya. Tapi tidak bisa dipungkiri juga kalau ia merasa ada sesuatu bagian yang kosong dalam hatinya ketika bersama gadis itu. Luhan merasakan sesuatu yang kosong sekalipun ia tidak bisa mengingat apa yang menghilang tersebut.

“Luhan, kamu mencintai Soon-na. Han Soon-na. Gadis yang kamu cintai habis-habis-an sampai kamu rela melepaskan semua impian-mu hanya untuk-nya, Luhan-a. Kamu mencintai-nya. Sekalipun hatimu mengarah padaku sekarang, cepat atau lambat ingatanmu tentang Soon-na akan pulih. Dan aku tidak pernah siap akan setiap kenyataan itu.”

“Lalu dimana gadis itu sekarang?” Tanya Luhan terdengar sangsi. Kalau seandainya  gadis yang dikatakan Jessy itu ada, kenapa dia tidak ada sekarang? Kenapa dia tidak bisa mengingatnya? Dan kenapa ia merasa bahwa ia jatuh cinta pada Jessy seolah percaya kalau Jessy adalah gadis masa lalu dan masa depannya?

“Tidak tau. Gadis itu meninggalkanmu.”

Mata Luhan membulat mendengar Jessy. Gadis yang dicintai-nya dulu itu meninggalkannya? Bagaimana bisa?

“Aku tidak mengerti bagaimana dan kemana ia pergi. Dia sahabatku, kalian berdua sahabatku. Hanya saja kalian sudah berteman hampir seumur hidup kalian. Kalian saling menjaga satu sama lain. Hanya saja, dulu kamu berlatih dance sendirian dan tidak memberitahunya. Mungkin ia ingin melepasmu.” jelas Jessy dengan wajah prihatin. Ia melihat Luhan yang menatapnya dengan tatapan kosongnya. Pria itu kemudian hampir saja jatuh, tapi segera saja dipeluk oleh Jessy. Bahu Luhan bergetar dipelukan gadis itu, Jessy tau kalau Luhan menangis.

Mungkin Luhan frustasi karena tidak ada satupun yang dapat ia ingat. Karena seberapa keras Luhan berusaha mengingat, semakin memori itu menghilang. Semakin Jessy lah yang terasa nyata dimatanya. Luhan frustasi karena ia merasa bahwa ia tidak mengerti dirinya. Bahkan orang lain lebih mengetahui semua hal tentangnya dibanding dia. Dan itu sangat melukai harga dirinya. Sangat.

“Jessy-a…”

“Ehm?”

“Maukah kamu tetap berada disisiku? Dalam keadaan apapun?”

“Tapi,”

“Aku tidak memintamu untuk menjadi pacarku, milikku. Aku hanya memohon padamu untuk menemaniku. Sebagai sahabat. Eo?”

Suara Luhan seperti anak kecil yang meminta belas kasihan. Jessy tidak bisa berbuat apapun selain menganguk dan menghibur pria itu.

 

**

 

“Jadi…”

Jessy tidak menghiraukan Kris sedikitpun, tangannya masih sibuk mengambil pengukur badan diatas meja lalu kemudian menghampiri pria itu. Mereka berada diruangan Jessy sekarang, gadis itu menggunakan celana putih selutut dengan atasan berwarna ungu yang terlihat sangat cocok dibadannya. Sesaat, Jessy memabalas tatapan Kris yang penuh tanya itu. Jessy harus mendongak untuk itu, tapi ia kemudian hanya tersenyum.

“Ada apa memangnya?” Tanya Jessy sambil melingkarkan tangannya dipinggang kris dan mengukur ukuran pinggang pria itu. Kris bergerak tidak nyaman, sedangkan Jessy hanya terkikik ditempatnya. “Ternyata orang yang sangat percaya diri sepertimu bisa kikuk ya.”

“Aku sedang takut jika ada banyak pria yang akan membunuhku jika kamu begini dekat, bodoh!”

“Bukan karena suka padaku? Sayang sekali.” Ujar Jessy santai sambil beranjak mengukur lengan pria itu. Kris dengan cepat mencegah tangan Jessy ketika gadis itu beranjak membuka lengan pendek pria itu, “Ukur saja begitu. Tidak usah buka.”

“Memang kenapa?”

“Aku punya tatoo.”

“Tatoo? Tatoo apa?”

Kris berdeham sebentar lalu akhirnya tidak menahan tangan Jessy lagi, Jessy dengan segera bisa melihat tatoo kalajengking pada lengan pria itu. Tatoo yang membuat Kris terlihat bengis dan menakutkan.

“Bagus sekali!” Ujar Jessy senang sambil mengukur lengan pria itu semangat. Kerutan bingung terlihat di dahi pria itu, “Kamu tidak takut?”

“Tidak. Kamu pasti punya alasan kenapa membuat tatoo kalajengking seperti itu. Tapi bagus kok.”

“Kamu orang kedua yang berkata seperti itu.” Ucap Kris tanpa sadar. Tapi sepertinya Jessy tidak terlalu menghiraukan dan beranjak mengukur bahu Kris.

“Penampilanmu di MBC Show Champion kemarin keren sekali. Selamat untuk first show di Korea.” Seru gadis itu tiba-tiba. Beberapa saat, hening menyelinap diantara mereka. Tapi kemudian Kris dengan cepat berbalik membuat Jessy kaget. Tangan Kris memegang tangan Jessy dan tanpa sadar menyentuh cincin pertunangan gadis itu, “Sekarang jelaskan dengan cepat. Siapa kamu untuk Luhan, Sehun dan Kai?”

Kris bisa merasakan tubuh Jessy menegang. Tapi Jessy berusaha tenang. Senyum terpaksanya terlihat, dan dengan cepat Jessy menarik tangannya sampai terlepas dari jangkauan Kris lalu mundur beberapa langkah. “Aku sudah pernah menceritakan tentang Luhan, kan? Jadi aku tidak perlu menceritakannya lagi padamu.”

Tangan Jessy mengambil sebuah pensil dan mencatat semua ukuran Kris diatas sebuah kertas diatas meja. Kemudian Jessy duduk diatas kursi-nya diikuti Kris yang duduk dihadapannya, menatap dengan pandangan yang sangat serius. “Sehun adalah adik dari Su-ji, sahabatku yang dulu sempat menghilang. Hobinya itu berjalan-jalan. Dan Sehun adalah teman trainee Jong-in, jadi kami sering bersama. Pada umurku 16 tahun, aku ditunangkan bersama Jong-in.”

Jessy berhenti sesaat untuk menghirup napas panjang, kemudian menidurkan kepalanya diatas meja. “Hubungan kami rumit. Jong-in selalu mengatakan bahwa ia mencintaiku, tapi dengan caranya sendiri. Karena perbedaan umur kami yang besar, aku tidak pernah melihatnya sebagai pria. Dan disitulah aku jatuh cinta pada Luhan.”

“Sebelum hari kelulusanku, aku dan Jong-in bertengkar besar. Ia mengetahui aku mencintai orang lain dan bukan dia. Dia memintaku untuk memilih. Tentu saja aku tidak tau. Karena aku membutuhkannya, walaupun aku mencintai Luhan.”

Kris masih diam, mengerti arah pembicaraan ini berjalan. Hanya saja ia tidak pernah tau kalau percintaan gadis ini begitu rumit. “Aku memutuskan untuk melepaskan Luhan. Tapi aku memeluknya. Jong-in marah besar  kemudian menghilang dan tak mau menemuiku.”

“Karena itu aku memutuskan untuk pergi ke London dan meninggalkan segalanya.” ucap Jessy seolah menyelesaikan semua hal yang ingin dikatakan gadis itu. Kris kemudian tersenyum dan mengusap kepala Jessy ringan, “Aku mendengar pembicaraanmu dengan Luhan kemarin.”

Segera saja Jessy bangun dan menatap Kris tidak percaya. Pria itu dengan santainya melipat tangannya didepan dada dan memberikan smirk-nya, “Kamu sudah berbuat hal yang benar, Jessy-a. Pilihlah Kai dan tetap kuatkan Luhan. Kamu sama sekali tidak salah.”

Kris bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Jessy yang juga perlahan bangkit dari tempat duduknya, berniat untuk mengantar Kris kedepan pintu ruangannya. Tapi kemudian ia tercekat ketika Kris menariknya kedalam pelukan, “Ngomong-ngomong, aku tidak kikuk-kan? Aku ini besar di Canada, young lady. Jadi jangan meremehkanku, ara? Good day, goddess.”

Dengan santai Kris berjalan kearah pintu keluar dan memberikan kedipan terakhirnya untuk Jessy sebelum pintu itu tertutup sepenuhnya. Meninggalkan Jessy yang mengutuk pria itu habis-habis-an. Tapi kemudian Jessy tertawa, ia seperti memiliki kakak yang selalu menguatkannya. Mungkin ada baiknya jika ia mengganggu Kris dengan sebutan oppa sejak sekarang.

**

“Aku tidak mau.” Tolak Sehun keras ketika Jessy memintanya untuk berdiri. Suho yang duduk disebelah Sehun melirik Sehun tidak percaya. Jessy menghela napas panjang lalu kemudian memutari meja itu, dan kemudian menghadapkan Sehun kedepannya. Sehun membuang mukanya, seolah tidak ingin melihat Jessy. Tapi gadis itu bersikeras, ia kemudian berlutut didepan Sehun membuat pria itu terkesiap. Jessy tersenyum kemudian meraih pipi Sehun dengan kedua tangannya.

“Hun-a, na.. Jeongmal mianhae.” Ucap Jessy pelan sambil menatap mata Sehun yang akhirnya melihatnya. Mata Sehun berkaca-kaca seketika itu juga, ia menarik Jessy dalam pelukan dan menangis, “Noona tidak boleh pergi lagi. Ara?”

Jessy menganguk kemudian melepas pelukan diantara mereka. Jessy bangkit diiringi Sehun, tak lama kemudian Jessy sudah memegang alat pengukur dan mengukur pinggang Sehun. Suho yang melihat ini semuaya hanya bisa menggeleng tidak percaya. Sehun memang gampang sekali dibujuk, tapi tidak dengan satu hal ini. Ia kemarin sudah membujuk Sehun mati-mati-an tapi Sehun terus bersikeras. Sedangkan Jessy hanya meminta maaf dihadapan Sehun semua berakhir dengan baik-baik saja, lalu Sehun yang menangis. Ia benar-benar tidak mengerti umur Sehun yang sebenarnya.

Jessy tersenyum ketika ia berhasil mencatat seluruh ukuran tubuh Sehun. Seperti sudah terbiasa, Jessy selalu mengelus kepala Sehun yang sekarang sudah sangat tinggi. “Kamu bertumbuh jadi pria yang sangat tampan, Hun-a.”

Suho maupun Jessy hanya bisa tertawa ketika melihat pipi Sehun bersemu merah dan berakhir dengan pout-an pria itu.

“Toktoktok..”

Mereka bertiga langsung terdiam ketika mendengar suara itu dan bersama-sama mellihat kearah pintu. Detik ketika pintu itu terbuka, Jessy bisa melihat senyum Kai yang begitu cerah. Pria itu dengan santainya masuk dan berhenti untuk mengecup puncak kepala Jessy singkat. Membuat Sehun dan Suho menatap Kai tidak percaya. “Jong-in-a!” Protes Jessy sebal ketika merasakan pipinya panas. Tapi Kai hanya diam dan tidak memperhatikan protes gadisnya sama sekali, “Sudah selesai? Sekarang giliranku, kan?”

“Apa hubungan kalian sekarang?” Tanya Suho penasaran. Tapi kemudian Suho hampir mendapat serangan jantung ketika melihat Kai meraih tangan kanan gadis itu dan memperlihatkan sesuatu dijari manis Jessy. “Ya Tuhan, kalian tunangan secara official?” Tanya Sehun antusias. Ia kemudian menepuk punggung Kai keras seolah tidak percaya, “Pantas saja kamu hanya ingin dipanggil dengan Jong-in. Kamu ingin tetap diingat sebagai Jong-in.”

Kai dengan cepat menutup mulut Sehun dan membuat Jessy mengedip-ngedipkan matanya tidak mengerti. Detik ketika ia ingin bertanya, Kai sudah mendorong Suho dan Sehun keluar. “Kalian keluar!” Teriak Kai sebal, Sehun dan Suho hanya menatapnya sebal dan mengeluarkan gerutu panjang.

**

Kai terus memeluk pinggang Jessy dengan kuat dan mengikuti Jessy, kemanapun gadis itu. Mau tidak mau, Jessy sebal dengan perlakuan Kai itu. Ia merasa bahwa Kai terlalu manja hari ini. Tapi ia juga merasa menemukan Jong-in-nya yang dulu, Jong-in-nya yang sangat manja. Entah bagaimana caranya, ia menemukan perlakuan Kai itu terasa sangat manis dimatanya.

“Jong-in-a, bagaimana kalau kamu melepaskanku?”

Kai menggeleng dibahu-nya kemudian dengan cepat mengecup pipi gadis itu hingga bersemu merah, “Mwo? Kamu tidak suka aku memeluk-mu seperti ini?”

“Yak! Bagaimana kalau semua orang tau? Bagaimana kalau fans-mu tau? Bagaimana kalau uncle tau?” Cerocos Jessy mengelak dirinya sendiri. Kai tertawa lalu melepas pelukannya dan memutar Jessy sehingga mereka berdua saling berhadapan.

“Pertama, kalau orang lain tau, apalagi itu member EXO. Aku pasti akan memamerkanmu. Kamu harus tau kalau kamu adalah wanita pertama yang aku perhatikan secara terang-terangan”

“Pertama? Berarti akan ada kedua dan ketiga?” Goda Jessy sambil berpura-pura untuk cemburu. Kai mencubit gadis itu ringan, “Kamu satu-satu-nya, babo!”

Jessy dengan kuat memukul tangan Kai yang mencubit pipinya, lalu dengan secepat kilat kabur dari pria itu. “YAK!” Protes Kai ketika merasakan perih di tangannya. Tapi ia hanya bisa tertawa lucu ketika melihat Jessy bersembunyi dan memeletkan lidahnya.

“Kalau fans tau, terus kenapa? Aku punya gadis yang sempurna. Tidak akan ada yang menghalangi kita, Je-si-a. Termasuk pria tua itu. Ia sendiri yang mengatakan bahwa ia akan menyerahkanmu kalau aku sudah sukses. Dan itu artinya, kamu milikku.” Tutur Kai tegas diakhiri dengan smirk-nya yang khas. Jessy hanya bisa menggeleng tidak percaya sambil berjalan mendekat kearah Kai, pria itu dengan refleks meregangkan tangannya sehingga Jessy dengan mudah bisa mengukur pinggangnya.

“Kamu harus bisa membuatnya nyaman dan juga… Sexy. Ara?” Bisik Kai tepat ditelinga Jessy. Membuat Jessy mundur selangkah karena kaget serta kegeliaannya. “Sudah tau kebiasaanku, kan?”

Jessy menganguk, “Apa hebatnya membuka bajumu? Jelas sekali kalau kamu itu sama sekali tidak mempunyai abs. Tidak sexy sama sekali.”

Tawa tidak percaya terdengar dari bibir Kai, “Kamu mengatai aku atau menunjukkan kalau kamu cemburu?”

Jessy terdiam untuk sesaat. Tapi kemudian ia memilih untuk diam. Masih dengan telaten mengukur lingkar dada pria itu, bahu-nya sampai juga lengan. Kai membiarkan Jessy memiliki waktu mengukur tubuhnya, walaupun ia penasaran akan jawaban gadis itu. Toh ia juga ingin mendapatkan baju yang bagus.

“Jadi, kapan kita akan bertemu dengan pria tua itu, orangtuaku dan juga orangtuamu?” Tanya Kai tiba-tiba membuat Jessy terbatuk-batuk. Jessy meletakkan bolpen yang sedari tadi ia gunakan untuk menulis ukuran tubuh Kai dengan tidak pasti lalu melihat Kai yang sudah duduk dihadapannya. Kai terlihat sangat serius, tidak terlihat seperti sedang menggodanya. Karena hal itulah Jessy tidak tau bagaimana cara bereaksi.

Kai berdiri lalu memajukan tubuhnya kedekat Jessy. Meja pun tidak akan menjadi halangan untuknya. Jessy menahan napasnya ketika tangan Jessy berusaha menggapai wajahnya. Detik demi detik mereka semakin mendekat dan Jessy tidak berbuat apapun. Pikiran gadis itu sudah blank sehingga ia hanya menutup matanya pasrah, tapi kemudian ia merasakan kecupan di puncak kepalanya. Terasa sangat manis, lembut serta hangat. Tanpa sadar senyum terukir dibibir Jessy.

“Aku akan menunggu-mu.” Bisik Kai sesaat sebelum ia menarik tubuhnya menjauh. Kai dengan langkah santai berjalan menuju pintu keluar, “Sudah selesai, kan?” Tanya Kai dijawab dengan angukan oleh Jessy yang sudah berdiri disebelahnya.

Tubuh Jessy kembali menegang ketika Kai dengan tiba-tiba memeluk Jessy, “Kamu jaga dirimu dengan baik, ara? Dan jangan terlalu dekat dengan hyung-hyung lain. Terutama Kris hyung, aku melihatmu dipeluk oleh-nya tadi.”

Jessy tertawa lalu mengeratkan pelukan mereka, “Terus kenapa kamu tidak marah?”

“Karena Kris Hyung menjelaskan kalau ia hanya sedang menghiburmu. Aku tidak tau masalah apa, aku akan menunggumu untuk cerita ketika kamu siap.” Jelas Kai dengan nada lembut. Ia menghirup napas panjang dileher gadis itu, merasakan bau parfum serta rambut gadis itu tercampur dengan baik dihidungnya. Terasa sangat benar baginya.

“Ingat kalau tunangan-mu ini sangat pencemburu. Ara?”

Jessy mendorong tubuh Kai lalu menganguk dihadapan pria itu. Seketika itu saja ia bisa melihat senyum Kai yang cerah. Itu Jong-in-nya.

**

Soon-na duduk diatas meja kerjanya. Meja itu menghadap kesebuah jendela besar yang memperlihatkan taman rumah sakit yang begitu indah. Jas putih yang ia kenakan terlihat sangat cocok di tubuh gadis itu. Rambutnya yang terikat sebagian, memperlihatkan rambutnya yang terukir dengan baik. Gadis itu mengenakan kacamata berminus satu masing-masing di kiri dan kanan, bertengger manis di hidungnya. Ia daritadi membalik berkas-berkas pasien yang membuatnya pusing.

Tak lama, ia sudah melempar berkas itu keatas meja dan mengalihkan pandangannya kearah jendela besar itu. Menarik napas panjang-panjang lalu menyandarkan tubuhnya di kursi empuknya. Merileks-kan dirinya sendiri.

Sebenarnya ini semua adalah kesalahannya. Ia baru saja terbang dari Amerika, sesampainya di Korea bukan istirahat tapi malahan langsung kerumah sakit dan membantu disana. Ia memang tidak bisa memberikan dirinya sendiri untuk istirahat atau semua masalah pribadinya akan terus dikepalanya, membuatnya pusing dan berakhir dengan sangat stress.

Ketika berniat untuk mengambil sebotol mineral water di pojok meja-nya, tidak sengaja tangan gadis itu menyenggol tas-nya. Dan semua buku kecil tipis, berbungkuskan plastik semua jatuh dilantai. Membuat Soon-na menarik napas panjang-panjang untuk menahan diri. Gadis itu berdiri lalu menarik napas panjang sebelum mengumpulkan buku-buku kecil itu. Tapi kemudian matanya menangkap bayangan buku tebal lainnya. Ia kembali duduk dan berakhir dengan menatap salah satu buku tipis berbungkus itu dan buku tebal lainnya.

Soon-na perlahan meletakkan buku tipis itu dan mulai membuka tebal itu. Buku yang terlihat tua itu dibuka Soon-na dengan hati-hati. Perlahan pelupuknya mulai panas, air mata mengumpul disana. Gadis itu tersiksa. Tersiksa jika harus mengingat semua memori yang ia habiskan dengan pria itu. Bagaimanapun Soon-na berusaha untuk melupakan pria itu, semakin ia mengingat. Hati-nya bahkan sangat sakit hanya dengan melihat foto pria itu.

Ketika menutup matanya, dengan segera air mata itu jatuh. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Dari dulu ia selalu menyibukkan dirinya sendiri untuk melupakan semua rasa sakitnya. Ia merindukkan pria itu. Masalahnya, apakah ia masih punya hak untuk menemui pria itu? Pemikiran itu membuatnya gila sampai lebih memilih untuk tidak memikirkannya sama sekali. Satu hal yang paling diketahui gadis itu, ia sangat merindukan pria itu. Ingin sekali menemui Luhan.

**

“Kai-a, kamu tidak marah padaku, kan?” Tanya Luhan tiba-tiba sambil menahan tangan Kai. Kai berbalik dan tidak menyangka kalau Luhan mencegahnya. Tapi kemudian ia hanya tersenyum, “Marah kenapa, hyung?”

Pegangan Luhan perlahan meregang sampai sepenuhnya terlepas. Ia tidak tau ingin berkata apa. Tapi yang jelas ia tidak ingin Kai melihatnya begitu dingin. Mereka teman latihan dance bersama, sering berbicara bersama. Ia tidak ingin Kai salah paham padanya, hal apapun juga.

“Aku tidak apa-apa, Hyung. Aku hanya cemburu.” Ucap Kai terang-terangan, ia tersenyum dan sangat santai. Beda dengan Luhan yang tegang ditempatnya. Rasa bersalah tiba-tiba saja merasuk tubuhnya, mengingat kalau 2 hari yang lalu ia meminta Jessy meninggalkan Kai. Tapi ia juga bersyukur kalau Jessy tidak memilihnya, setidaknya ia bisa membuat Kai tidak marah lagi padanya.

“Maafkan aku, Kai.”

Kai tersenyum lalu menepuk bahu Luhan, “Arasseo. Aku tau ada masalah antaramu dan Jessy. Aku akan menunggu kalian selesai. Aku juga minta maaf kalau aku menghindarimu, Hyung.”

“Ayo kita ke ruang latihan bersama, Kai.” Ajak Luhan antusias. Kai dengan segera merangkul bahu Luhan lalu berjalan bersama-sama.

**

“Uncle bagaimana bisa menyerahkan aku begitu saja pada Jong-in?”

Pria tua itu tertawa dengan keras, tidak peduli orang lain terganggu. Mereka berdua berada di kantor Lee Soo Man. Kantor yang selalu kedap suara.

Gadis itu melipat kedua tangannya didepan dada kemudian menggelembungkan pipi sebal, “Bahkan ketika aku datang Uncle tidak memberikan clue apakah Jong-in masih ada di SM atau tidak. Menyebalkan.”

“Pertama, kalau bukan dengan cara itu, Kai pasti sudah ada di panti rehabilitasi sekarang. Ia sangat terpuruk, kau tau? Dan aku tidak ingin permata seperti Jong-in yang sangat berharga itu sia-sia karenamu. Lagipula kamu juga akan senang kan jika Kai menjadi posesif seperti itu? Masalah kenapa aku tidak memberitahumu, aku kira kamu memang tidak mau menemuinya lagi. Don’t blame me, young lady!”

“Kenapa uncle meniru cara bicara Kris?” keluh Jessy tanpa suara. Ia memangku tangannya sendiri diatas pegangan sofa sambil mengalihkan pandangannya. Soo-man masih melihat Jessy dan tanpa sadar melihat cincin permata yang sudah lama tidak dilihatnya. Perlahan matanya membulat lalu mulutnya menganga tidak percaya, “Kai sudah melamarmu?”

Jessy langsung terkesiap dan melihat Soo-man dengan wajahnya yang sudah memerah. Tapi kemudian semakin merah lagi ketika Soo-man sudah mulai memperlihatkan senyum usilnya, “Ah, jadi kamu sekarang kesini karena ingin memamerkan pertunanganmu? Kenapa tidak mengajak Kai kesini?”

“TIDAK! Aku Cuma mau menemui uncle-ku yang sudah semakin tua saja kok! Aku.. Aku akan kembali keruanganku sekarang juga. Annyeong, uncle.” Ucap Jessy buru-buru lalu menghilang dibalik pintu. Soo-man masih melihat kearah pintu, setidaknya ia mendapat satu kabar gembira hari ini. Ia tidak akan pernah marah akan hubungan Jessy serta Kai seperti ia menolak anak didiknya yang lain untuk memiliki hubungan dengan lawan jenis. Karena ini yang selama ini ia tunggu, melihat malaikatnya memiliki pelindung. Dan ia sudah sangat mempercayai pelindung itu.

**

Luhan memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Rambutnya yang sudah lama tidak digunting sekarang sudah sepanjang leher. Syal berwarna merah itu mengalungi lehernya dengan baik. Ia duduk diatas kursi sambil memegang secangkir coklat panas. Sesekali ia akan menyesap coklat panas itu tapi wajahnya tidak mengeluarkan ekspresi apapun.

 

“Luhan-a..”

 

Kepala Luhan menoleh kebelakang, seorang wanita setengah baya itu menatap dirinya dengan iba. Wanita itu tersenyum dan raut wajahnya sangat hangat. Wanita itu ia panggil sebagai “Eomma” selama 2 tahun terakhir. Luhan kembali mengabaikan wanita itu lalu kembali melihat keluar jendela. Salju-salju turun dan terus menumpuk dibawah sana.

 

“Kamu tidak mau makan?”

 

Luhan menggeleng. Wanita itu mendekat dan sekarang memeluk tubuhnya. Luhan merasakan hangat disekitar lehernya. Ia ingin berekspresi, tapi tidak bisa.

 

“Jangan seperti ini, Luhan-a..”

 

“Eomma.. Aku seperti orang bodoh.” Isak Luhan perlahan kemudian mulai memegang tangan eomma-nya. Tangannya yang gemetar membuat eomma-nya ikut merasakan sakit yang dirasakan pria itu. “Aku tidak bisa mengingat apapun. Apapun, eomma.”

 

“Kamu masih punya dance, Luhan-a. Kamu masih punya.”

 

Seketika itu juga Luhan melempar cangkir coklat panas itu kelantai dan bunyi pecahan terdengar. Eomma Luhan terkesiap dan terdiam untuk beberapa saat. Tapi kemudian dengan cepat berputar dan melihat kearah Luhan, ia memeluk anaknya sambil berlutut diatas lantai. Luhan menangis. Menangis sangat keras dihadapan ibu-nya. Untuk pertama kalinya semenjak ia menemukan Luhan sadar dari komanya dan menangis frustasi karena ia melupakan segalanya.

Eomma Luhan mengelus kepala Luhan yang sekarang ada dilehernya dengan sangat lembut. Luhan tidak bersuara tapi ia masih sesengukkan dipelukan Eomma-nya. “Luhan-a, xiang xin mama (Percaya mama). Kamu pasti bahagia Luhan-a.”

 

**

 

“Kamu akan pindah ke Seoul, Luhan-a!” teriak Eomma Luhan dengan semangat. Ia baru saja pulang dari kuliah-an-nya dan mendapati eomma-nya langsung memeluk pria itu sambil memegang seuah file. Ketika Luhan melepas pelukan eomma-nya itu, Eomma Luhan langsung memberikan file itu pada Luhan.

 

“Kamu akan di training di SM Entertainment. Agency dimana kamu diterima dulu! Kamu pasti akan menjadi dancer yang sangat terkenal, Luhan-a.” tambah Eomma Luhan begitu bahagia. Luhan hanya tersenyum lalu masuk kedalam kamarnya dalam diam.

 

Dancer?

Apakah cita-citaku adalah dancer?

Dengan keadaan seperti ini, bagaimana aku bisa menjadi idola?

Aku hanya akan menjadi orang bodoh.

Tapi bagaimanapun aku menolaknya

Aku pasti akan tetap pergi ke Seoul

Pergi dengan identitas yang sama sekali aku tidak tau kebenarannya

 

Luhan membuka file itu lalu kemudian tawa frustasi terdengar dibibirnya. Tak lama file itu sudah mendarat disalah satu meja pojok kamarnya yang juga tertimbun banyak file.

 

Name : Lu Han
Birth : April 26th 1990, Haidan Distrik, Beijing, China
Height : 178 cm
Blood Type : O
Elementry Beijing Shinda
High School : Beijing Haidan Foreign Language School
Luhan, apakah itu hanya ciptaan belaka? Kalau seandainya pun ini semua nyata. Kenapa sama sekali tidak ada bukti kalau ini semua nyata. Menyakitkan.

 

**

 

“Aku. Han Soon-na. Dengan resmi membebaskanmu-Xi Luhan- dari tugas menjadi pangeranku. Aku membebaskanmu untuk mengejar impianmu. Dan memohon padamu untuk melepaskanku.”

“HAH.. HAH..HAH…”

Suara hembusan napas yang begitu keras itu terdengar dari mulut Luhan. Nafas Luhan sama sekali tidak teratur dan kepalanya luar biasa pusing. Matanya tidak tenang dan seluruh badannya berkeringat sekalipun suhu udara diruangan ini cukup dingin, kurang lebih 20 derajat celcius.

Ia menengok kearah Lay yang sedang tidur di tempat tidur sebelah. Luhan beruntung karena Lay biasanya tertidur dengan headset tersumpal ditelinganya sehingga tidak akan ada yang tau kalau ia seperti ini.

Perlahan Luhan mulai menenangkan dirinya dengan menarik napas yang teratur. Tidak bisa dipungkiri kalau seandanya sakit kepala yang ia rasakan sekarang sangat sakit sehingga Luhan rasanya ingin memukul kepalanya kedinding.

Kaki Luhan mulai turun dan menelusuri lantai menuju meja. Ia mengambil sebuah tempat obat berwarna biru tidak mencolok dari dalam laci dan mengeluarkan sebutir dari sana. Dalam waktu singkat, tablet itu sudah masuk kedalam mulutnya dan segera ditelannya dengan air yang sudah mengalir di tenggorokannya. Sakit itu perlahan mereda sekarang.

“Aku tidak akan melepaskanmu, Na~ya! Sekali pun tidak!”

Rasa sakit kepala itu memang  perlahan menghilang. Ya, tapi digantikan dengan jutaan rasa sakit hati dalam dirinya. Ia tidak mengingat gadis itu. Han Soon-na, ia sama sekali tidak mengingatnya. Tapi hati ini masih mengingat dengan jelas perasaan sakit yang dulu ia rasakan.

“Aku pergi, hanhan-a. Kamu harus jaga dirimu baik-baik.”

“Besok. Dan aku tidak ingin kamu mengantarku.”

Bodoh. Kenapa ia membiarkan gadis itu pergi? Kenapa ia bodoh seperti ini? Apakah ia sebegitu pengecutnya dan membiarkan gadis itu meninggalkannya? Bodoh.  Dan dia cengeng. Hanya hal seperti ini dan ia membiarkan dirinya menangis lagi.

 

Dasar bodoh. Kamu tidak lebih dari orang bodoh, Luhan.

Tapi rasa sakit ini nyata. Entah mengapa, Luhan sedikit merasa senang. Karena melalui rasa sakit ini ia merasa dirinya nyata, merasa dirinya ini bukanlah bohong, merasa ia punya masa lalu dan kenangan yang harus dikejarnya. Tapi ia tidak tau akan seberapa lama semua rasa sakit itu akan disukainya. Karena akan masih ada jutaan rasa sakit yang menunggunya. Rasa sakit yang akan menghancurkannya, tidak peduli apakah ia siap atau tidak.

**

“Sonya sunbae-nim.. Sonya Han sunbae-nim..”

Soon-na menggeliat dari tidurnya. Kesadaran membuatnya kembali merasa lelah dan juga sakit punggung karena ternyata ia tertidur diatas meja kerjanya. Ia kemudian mengangkat kepala dan melihat siapa yang membangunkannya. Ah, Ye-jin, doctor trainee rupanya.

“Ada apa? Ada keadaan emergency?” tanya Soon-na sambil mengusap kedua matanya seolah meminta kesadarannya untuk terkumpul dengan cepat. Gadis muda dihadapannya itu tersenyum lalu menggeleng, “Anio, saya rasa tidak baik kalau sunbae tidur disini. Siang nanti anda akan memeriksa pasien special Doctor Cho karena Doctor Cho sedang cuti sementara, jadi lebih baik sunbae tidur di ruang tidur dokter supaya bisa lebih fit nanti siang.”

“Jongmal-yo?”

“Nde, sunbae.” Jawab Ye-jin polos sambil mengangukkan kepalanya semangat. Soon-na melirik jam dinding yang tidak cukup jauh darinya, jam 3 pagi. Ia kemudian berdiri lalu mendekati Ye-jin, “Kamu tidak istirahat?”

“Tidak, sunbae. Sekarang giliran saya menjaga. Saya akan beristirahat jam 5 pagi nanti.”

Soon-na menganguk tanda mengerti. Ia membuka tutup botol lalu membiarkan air dari dalam botol itu membasahi tenggorokannya, “Pasien-nya seperti apa?”

“Yang saya tau, dia tampan sekali, sunbae! Saya baru melihatnya beberapa waktu lalu. Tapi saya tidak tau namanya. Setau saya, dia selalu check up yang rutin setiap bulan dan meminta obat penahan rasa sakit. Saya sendiri tidak tau dia sakit apa. Hanya Doctor Cho yang tau kejelasannya dan tercatat di medical record.” Jelas Ye-jin panjang lebar membuat Soon-na hanya tersenyum lebar melihat gadis itu.

Tangan Soon-na meraih jas putih yang ia baru saja ia gunakan beberapa waktu ini dan memakainya dengan cepat. Gadis itu mengibas-ngibas sedikit untuk menghilangkan kusut di jas itu. ‘Sonya Han’, itulah yang bisa dibaca dari name tag di jas gadis itu. Nama barat seorang Han Soon-na.

“Lebih baik aku menemani sebentar untuk berjaga sebelum aku beristirahat. Tiba-tiba saja kantukku menghilang.” Kata Soon-na sambil membuka pintu ruangannya dan berjalan keluar, Ye-jin mengikuti Soon-na dari belakang, “Jongmal-yo? Kamsahamnida, Sunbae-nim.”

**

Luhan memerhatikan ruang serba putih yang sangat rapi disekelilingnya. Tidak asing, ia sudah sering ketempat ini. Kakinya terhentak-hentak ringan diatas lantai seolah menggantikan mulutnya untuk mengatakan bahwa ia bosan sekarang. Memang salahnya kalau ia datang lebih cepat 15 menit dari waktu yang dijanjikan, tapi toh ia juga tidak punya kegiatan hari ini.

Luhan sama sekali tidak mengatur rambutnya aneh-aneh hari ini, bahkan ia tidak menggunakan make up sama sekali hari ini. Ia datang kesini untuk check up dan bukannya jumpa fans, toh sudah seharusnya ia berdandan biasa-biasa saja.

Jam ditangannya sudah menunjukkan waktu pukul 12 lewat 1 menit, seharusnya dokter yang selama ini menemaninya itu sudah datang 1 menit yang lalu. Tapi ia bahkan tidak melihat adanya tanda-tanda orang akan datang ke tempat ini.

Perlahan Luhan berdiri dan mulai mengelilingi ruangan itu dengan langkah yang malas. Berdiri lebih baik dibanding ia harus duduk bengong dan menghitung waktu seperti orang bodoh.

“Maaf membuat anda menunggu lama.”

Luhan belum berbalik untuk melihat asal suara itu. Tunggu dulu, bukannya dokternya ituu pria? Kenapa sekarang suara wanita? Apakah dokter ini salah ruangan? Karena kalau iya, Luhan berharap kalau seandainya dokter ini bukanlah salah satu fans karena ia tidak ingin ada keributan ditempat ini. Dan tunggu dulu lagi, kenapa ia seperti mengenal suara ini? Kenapa.. Kedengarannya begitu akrab ditelinganya?

“Jogiyo, anda pasien Doctor Cho? Saya Sonya Han, akan menanganimu untuuk sementata selama Doctor Cho cuti.” Lanjut dokter itu memperkenalkan diri. Luhan merasakan bahwa dada-nya terasa sesak dan pusing mulai menghantamnya. Rasa rindu luar biasa mulai terasa dari dalam dirinya. Dan ia tidak mengerti.

Dalam gerakkan lambat Luhan mulai membalik tubuhnya dan melihat wajah wanita itu, wanita itu tersenyum tapi entah mengapa perlahan senyum itu memudar. Hening menyergap mereka berdua dan tidak ada satupun suara yang terdengar diantara mereka.

Kaki Luhan perlahan mulai melangkah kearah wanita itu, membuatnya semakin jelas melihat wajah wanita itu. Wanita itu menundukkan wajahnya dan tidak bisa melihat kearah Luhan. Langkah Luhan tidak pasti dan goyah. Ia tidak mengingat apapun tapi kenapa rasanya benar untuk melangkah kearah wanita itu.

“Neo.. nugu? (Kamu.. siapa?)” ucap Luhan dengan tersenggal-senggal ketika sampai dihadapan wanita itu. Dengan cepat wanita itu mendongak untuk melihat Luhan. Mata gadis itu membulat seolah tidak percaya. Dan detik ketika wanita itu baru saja akan membuka mulutnya, Luhan langsung ambruk dipelukan wanita itu. Tubuhnya lemas dan tidak bertenaga. Entahlah, Luhan juga tidak mengerti. Bagaimana semua tenaganya bisa menghilang hanya dengan melihat wanita itu? Semuanya semakin runyam ketika pusingnya juga membunuh Luhan perlahan. Mengambil seluruh kesadarannya.

**

Kai tersenyum, “Mwo? Rindu padaku?”

Teriakkan terdengar dari iPhone Kai dan sepertinya tidak keberatan sama sekali. Ia masih terus berjalan kearah kamar di apartementnya dan kemudian membukanya, “Aku ada di Apartementku sekarang. Nanti aku akan menghubungimu lagi, ara? Annyeong!”

Kai dengan segera memasukkan iPhone-nya kedalam saku celananya. Ia menghembuskan napas sebal sambil menggeleng tidak percaya melihat ratusan foto tersebar dilantai. Kakinya berjongkok untuk memungut satu-satu foto itu dalam gerakkan cepat. Setelah selesai ia meletakkan tumpukkan foto itu diatas meja-nya.

Ia duduk perlahan dikursi dan melihat foto-foto itu. Tanpa sadar senyum terukir dibibirnya. Kai baru saja akan berdiri untuk membersihkan kamarnya, tapi hal itu tertunda ketika ia melihat handphone lamanya. Tangannya mengambil handphone itu dan memencet beberapa tombol disana, mati.

Tentu saja, sudah bertahun-tahun handphone itu tidak dinyalakan. Mana mungkin bisa menyala?

Kai menertawai dirinya sendiri sebelum mencari charger yang ternyata ada tepat dibawah kakinya dan mulai mengisi  batrei handphone itu. Beberapa meni kemudian handphone itu kembali menyala dan Kai harus menunggu menit lainnya supaya bisa menggunakan handphone itu.

You have 1 voice message.

Kai memiringkan kepalanya tidak mengerti ketika membaca perintah handphone itu. Siapa yang kira-kira memberikan voice message itu padanya? Kai tidak memikirkannya dengan lama, ia langsung membuka voice message itu dan menunggu sampai ada suara terdengar disana.

“Jong-in-a. Nan.. Mianhae. 4 tahun yang lalu saat bertemu denganmu.. Aku bahagia sekali. Ketika melihat senyum licikmu, aku seperti sangat tertarik. Biasanya orang selalu menuruti permintaanku, tapi kamu berbeda.

Ah, ini voice message yang dikirim Jessy? Apa yang dijatakannya? Ia bahagia karena bertemu dengan Kai? Hal ini membuat Kai sama sekali tidak bisa menahan senyumnya.

 

“Lalu setahun kemudian kita dijodohkan. Aku awalnya tidak setuju sama sekali. Tapi, entah bagaimana.. Kata-katamu membuatku menyetujuinya.”

Geurom. Aku pasti selalu bisa meyakinkan-mu, pabo.

 

“Jong-in-a..”

 

Rasa bersalah menyergap Kai ketika ia mndengar suara gadis itu bergetar lalu gadis itu sesengukkan parah. Ia meninggalkan Jessy-nya seperti itu. Menderita.

“Kamu tetap disisiku, sekalipun aku selalu mempermainkanmu, sekalipun aku selalu tidak mendengarkanmu, sekalipun aku selalu meremehkanmu.”

 

“Semua perbuatanmu. Membuatku merasa terlalu jahat. Sampai sekarang aku tidak mengerti. Aku senang kamu berada disisiku. Tapi entah mengapa, aku tidak tau apakah ini cinta. Apakah aku hanya terbiasa denganmu?”

Kamu belum mengerti perasaanmu sendiri waktu itu, Je-si-a?

Karena itu kamu semakin menderita karena bersalah?

Nan jeongmal mianhae.

“Pria itu Luhan. Teman SMA-ku. Dia memiliki orang yang sangat ia cintai. Aku tidak bisa masuk ketengah-tengah mereka. Dan disaat yang sama juga, kamu meminta kepastiaan akan kehadiranmu. Kepastiaan akan perasaanku padamu.”

 

Kai merasakan detak jantungnya berhenti. Astaga. Ia tidak salah kan mendengar bahwa pria yang dicintai Jessy adalah Luhan? Pria yang membuat Kai memutuskan untuk meninggalkan Jessy karena kehilangan kepercayaan?

Kenapa?

Kenapa dari jutaan orang..

Kenapa harus Luhan-hyung?

 

Handphone itu terjatuuh dan mnimbulkan suara tubrukkan yang cukup keras. Kai mengusap kedua matanya lelah lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Kenapa harus dengan Luhan? Kenapa bukan dengan orang lain? Kenapa harus dengan orang yang dekat dengannya?

Kai mengerti kalau sekarang ini Jessy sudah milikinya. Ia juga mungkin hanya sedikit cemburu kalau Jessy dekat dengan hyung-hyung-nya yang lain. Ia cemburu ketika Jessy dekat dengan Luhan ataupun Kris. Tapi itu hanya karena merasa Jessy lebih cocok bersama mereka. Rasa cemburu itu hanya sedikit.

Tapi kalau urusan dengan cinta pertama Jessy. Membuat Kai kehilangan kepercayaan dirinya lagi. Astaga demi Tuhan ini membuatnya gila. Semakin gila lagi ketika melihatnya tatapan sayang dari mata Hyung-nya itu.

Aku.

Tidak bisa menyerahkannya begitu saja, kan?

 

Kai berdiri dengan gerakkan kasar sehingga kursi itu trjatuh kebelakang. Kai dengan segera pergi dari tempat itu, perasaannya campur aduk sekarang. Antara merasa kalah dan juga sakit. Kenapa? Kenapa jika berurusan dengan gadis itu selalu membuatnya seperti ini? Gila. Itu yang dipelajari Kai tentang cinta.

TBC

**

THANKS FOR READING :D WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT :D

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL :D JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please seehttps://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , , ,

16 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 11

  1. Anggita Ratri Pusporini November 16, 2012 at 11:55 AM Reply

    waw apakah aku yg comment pertama? hyyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaaaa~ sempet sebel juga waktu Luhan bilang dia pgn memiliki Jessy =,=
    tapi ngga lagi ding, hahah. yay semakin seru! Luhan udah ketemu Soon-Na, semoga Luhan cepet inget, jadi dia ngga akan tersiksa terus-terusan T3T
    loh kenapa tiba2 Jessy ngirim voice mail itu lagi?
    HDmu sudah benarkah? keep writing Jes! XD
    bahkan saat aku akan ujian pun aku setia membaca FFmu, huhu :’)

    • hanjesi November 17, 2012 at 4:45 AM Reply

      Selamat ^^ HAHAHA
      You even know before I’m telling you xD
      Ya sesekali Author pengen dicintai sama Luhan juga :3 hahahahahaha
      Perjalanan Je-Kai dan Lu-Na couple masih panjang hey -_-V hahaha
      Masih akan banyak adegan angst T_T
      Jessy bukan ngirim lagi, tapi Kai memang ga pernah dengar voice note itu dari awal.
      HDku tidak pernah sembuh :c
      Wah jongmal yo??
      Kamsahamnida, unnie-a ❤

  2. naritareky November 16, 2012 at 3:07 PM Reply

    Akhirnya yang aku tunggu2 nimic di post haha

    Aku suka pas Kai peluuk Jesi
    Aaaa jadi mau di peluk kai begitu haha

    Akhirnya Son na ketemu luhaaan
    Ceritanya makin seru

    Aku juga mau punya oppa kaya Kris haha

    Aku tunggu kelanjutan nya Jesi haha

    • hanjesi November 17, 2012 at 7:23 AM Reply

      YEAY AKHIRNYA SETELAH NULIS MARATHON!! HAHAHA

      Mau dipeluk Kai?
      Ga boleh =3= cuma aku yang boleh xD hahaha

      Seneng ya Luhan ketemu Soon-na? Senang juga kalau Luhan menderita berarti xD HAHHAHAHA

      Mau kakak kayak Kris? Boleh xD Toh dia kan suami ke 2-ku :3 haha

      Okay ^^ happy waiting :3

  3. naritareky November 18, 2012 at 5:12 AM Reply

    Kai, kris semuanya punya kamu jesi (¬_¬”)
    Aku kebagian ampasanya nanti wkwk

    Ah biarin menderita, dari pada luhan nya nanti ambil jesi dari Kai itu bahaya haha
    Biarin dia sama Sona
    Atau sama aku juga aku mau banget kok wkwk

    Lebih cepat dong kelanjutan nya :p

    • hanjesi November 19, 2012 at 4:21 AM Reply

      Kai-Luhan-Kris are mine. Titik. Boleh ambil yang lain asal jangan mereka :p

      Cepet ga yaaaaaa

  4. Cynthia November 18, 2012 at 6:47 PM Reply

    ​​(►˛◄!’) Ђª!zZ.. Kai2 skr kn jessy udh milikmu knp hrs cemburu lgi ma Luhan??
    Trs gmn ini pertemuan pertama Luhan sm Sonna?? Penasaran nih.. Dtgu part selanjutx 😀

    • hanjesi November 19, 2012 at 4:23 AM Reply

      Karena cerita cinta mereka berempat belum selesai~ hahahaha
      Makanya Kai cermburu karena Jessy akan kabur (?) Loh? Yang nonton teaser bakal tau lah kalau kisah je-kai belum selesai xD

      Pertemuan mereka ga tau juga ya xD

  5. Luhan-Soona shipper November 20, 2012 at 9:16 AM Reply

    Sh*t! Lagi asik2 baca udah habis aja u,u keren banget! Penasaran bgt sama soon na-luhan. Part 12 jgn lama2 dong, perjuangan nunggunya u,u ini ceritanya bagus banget, gak terlalu sinetron, gak berlebihan, gak ada yang jahat, semua pas 😀

    • exo1stwonderplanet November 24, 2012 at 8:56 AM Reply

      Hahaha masa? Well im trying my best.. walaupun banyak banget typo.. hahahah.. selamat nunggu ya, bakal ga ada waktu ampe bulan desember nanti :c

  6. Orihimeindi June 12, 2013 at 12:33 PM Reply

    THIS FF DAEBAKKK…
    Gak berniat buat nglanjutin kah??
    Komplek permasalahan yg smkin berlarut dan bertambah2 dg gaya bahasa yg gak berat bkin ff ini bener2 gak bosan buat dibaca
    Penggambaran karakter yg bener2 bisa dibayangkan
    Daebakkk ^^

    Nyesel bru nemu ini blog skrg 😦

  7. Baekhyunnie~Bacon June 26, 2013 at 11:52 AM Reply

    ahhhhh….. thorrr palli juseyo,
    pengen tahu kelanjutannyaa…

  8. @vhixox_ October 1, 2013 at 3:06 AM Reply

    bodohnya aku thor knpa bru nemu ff terkeren ini stlah uda lama bgt di publish pdahal ak pembaca wp ini 😦
    thor ff nya buagus buagus pkoknya ak seneng sma crita ini thor demi apapun *crying T.T
    thor knpa gak di lnjutin lgi sih uda masu setaun ini ff gak di publish2 pliss thor publish dong ak bkalan jdi pembaca setiamu 😦

  9. hannie June 16, 2014 at 5:53 PM Reply

    Annyeonghaseo
    Sya reader baru slam kenal…
    Thor nggk dlnjutkan lgi k? Seru bgt!!!

  10. Cynthia June 20, 2014 at 6:52 PM Reply

    G dilanjutkan kah? Bahkan ini udh 2014 lo.. Semoga commentku dibaca trs akhirx dibuat deh terusanx 😀

  11. tata July 24, 2014 at 3:57 PM Reply

    Thor ini ga dilanjutin? Sayang loh pdhl ceritanya seru. Kalo bisa lanjutin ya soalnya penasaran sama kelanjutannya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: