EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 12

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Just Like You”

 

*Title : Just Like You

*Part : 12

*Main Cast :

ë  Kris Wu

ë  Kim Hyeon

ë  Kim Sun Hye

*Length :  Series

*Genre : Romance

*Rating : PG 13

*P.S :  Ini adalah karya original by YuanFan. Dilarang keras untuk mem-plagiat dan mencopas tanpa seijin author

leave comment please

*Sinopsis : Kris dan Hyeon sama-sama mengetahui tentang latarbelakang keduanya menikah, dan mulai menyadari perasaan satu sama lain. Namu, dilain sisi Hyeon memutuskan untuk bercerai dari Kris. Dia merasa telah berhutang pada Kris.

*Disclaim :

SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

Hyeon POV

Saat aku baru terbangun tidurku, aku terbayang wajah Kris. Perasaanku tak enak. Rasanya aku ingin berlari menemuinya. Tapi, mungkin saja ini hanya perasaanku yang belum terbiasa. Aku takut terjadi sesuatu padanya.

“Kau sudah bangun?” Lay oppa muncul dari balik pintu kamar yang kutempati. Aku tersenyum menyambutnya.

“Turunlah, sarapan sudah siap, Ratu,” goda Oppa lalu meninggalkanku sendirian.

Kukira setelah aku mandi, perasaan ini akan hilang. Tapi ternyata tetap. Aku kurang nyaman dengan perasaan aneh ini, sangat menganggu. Aku berulang kali menghela nafas panjang berusaha menetralkan degup jantungku yang semakin keras.

“Kau kenapa?” tanya Lay oppa saat kami sarapan bersama.

“Aniya…” kataku, lalu mengambil daging didepanku dan memakannya.

“Oppa, aku akan pergi sebentar,”

“Selamanya juga tak masalah…”

“Oppa!!” seruku sebal, Lay oppa malah menyeringai jahil padaku.

“Aku akan mati bila kau mau,”

“Ya, kenapa kau sensitif seperti itu? apa perlu aku menemanimu?”

“Aniya.. aku akan pergi sendiri,”

“awas hilang…” godanya lagi. Aku mendengus dan menendang kakinya yang ada dibawah meja.

“Aoow…”

Aku tersenyum kemenangan.

Aku merasa seperti orang gila. Aku melangkahkan kaki tanpa sadar kerumah yang seharusnya tak akan pernah kudatangi lagi. Kesinipun, aku juga tak akan menemui siapapun. Kris dan Sun hye pasti pergi kesekolah. Aku merogoh kunci yang ada didalam tasku, ternyata aku masih menyimpan kunci rumah ini. Perlahan aku memasuki halamannya, aku berasa seperti maling kacangan.

“Yah, kenapa mereka ceroboh sekali,” kataku saat memutar gagang knop pintu yang tak terkunci. Aku masuk dengan ragu.

Aku mendengar suara dari dalam dapur, aku melihat Kris duduk menikmati sarapannya. Aku diam bersandar mengamatinya, ternyata aku sangat rindu sosok didepanku. Kris berdiri dari duduknya tiba-tiba dia oleng hampir ambruk. Secara tak sadar aku berlari memapahnya.

“Jangan paksakan dirimu,” gumamku.

“Hyeon-ah…” dia memandangku, wajahnya sangat pucat. Lalu tiba-tiba tak sadarkan diri.

“Yah, Kris!!” Sumpah, badannya sangat berat! Aku setengah menyeretnya ke sofa. Mengambilkan bantal dan selimut untuknya.

“Kau tidak menjaga dirimu dengan baik,” gumamku sambil mengusap dahinya lembut. Badannya sangat panas.

Perasaan tak enakku apakah ada hubungannya dengan Kris yang sedang sakit? Ah, kalau iya kenapa kami masih tetap ada ikatan batin? Aku mengambilkan air es untuk mengkompres dahinya.

“Mama…mama…” terdengar dia mengigau. Dia orang yang jarang sakit selama aku hidup dengannya, sekali dia sakit, dia menjadi sosok yang berbeda.

Aku memasakan bubur apel kesukaannya dan susu untuknya. Juga menyediakan obat dan sebuah catatan kecil untuknya sebelum aku pergi.

“Jaga dirimu baik-baik, cepatlah sembuh,” gumamku lalu mencium dahinya lembut. Hatiku berat meninggalkan dia dengan keadaan seperti ini, tapi aku tak mau semakin membebaninya. Aku mengusap airmataku dan segera mengambil beberapa barangku dikamar kemudian meninggalkan rumah ini.

“Selamat tinggal ,Kris-ah…” gumamku melihat Kris dari kejauhan.

Kris POV

Aku bermimpi aneh, ah… kepalaku masih terasa sangat berat. Sakit sekali. Aku memandang sekitarku, kenapa aku tiba-tiba berbaring di sofa? Seingatku tadi aku hampir terguling dimeja makan. Mungkin tanpa sadar aku berjalan kemari. Aku bermimpi bertemu Hyeon, sentuhannya sangat terasa, seperti nyata. Aku merasakan sensasi dingin didahiku, dahiku basah. Aku melihat ada baskom dan handuk basah dimeja sampingku. Beberapa bungkus obat dan bubur tersedia disana. Sebuah kertas memo terselip diantaranya.

‘Yah… kenapa kau tak menjaga dirimu dengan baik! kau sudah dewasa… ah, aku sangat kecewa padamu. Minum obatmu dan lekaslah sembuh,’

Aku segera berlari kilat keluar, melompati sofa. Berharap Hyeon masih ada, aku ingin sekali memeluknya, menciumnya dan menahannya agar tetap disini. Namun… aku tak melihat apapun saat aku berdiri dihalaman rumah. Hyeon kemari, dia datang. Aku mengenal tulisan cakar ayamnya yang selalu merusak mataku. Kugenggam erat kertas memo kecil yang kupegang.

“Kau tak menungguku.. kau curang. Saat kau sakit, aku selalu disampingmu,” gumamku lemah, menyandarkan badanku dipintu luar.

Perutku semakin melilit rasanya, aku berjalan kembali dengan tertatih. Aku kembali membaca tulisan cakar ayam itu berulang kali. Aku sangat merindukannya. Aku sangat merindukannya.

Entah karena sakit sehingga aku tak sadar dengan apa yang kulakukan atau aku sudah mulai gila. Aku berjalan menyusuri trotoar jalan, tanpa tujuan. Dalam hatiku aku berharap menemukan Hyeon. Aku berharap walaupun kecil kemungkinan.

“Permisi,” seseorang memegang pundakku lembut. Aku berbalik, melihat seorang namja yang berjalan mengikuti. Dia memakai setelan jas yang sangat rapi.

“Nugu?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Oh… perkenalkan saya Han Sung. Benarkah Anda Kris Wu?”

Dia tahu namaku? Aku masih diam memandangnya bingung. Kemudian dia menyerahkan sebuah kartu nama. Nama perusahan terkenal.

“Direktur utama perusahaan kami ingin bicara dengan Anda,” dia menunjuk dengan telapaknya kearah sebuah mobil mewah.

Jendela kaca mobil itu terbuka, seorang wanita cantik terlihat melepas kacamatanya. Dia menoleh kearahku, lalu keluar dari mobilnya dengan anggun. Aku seperti pernah melihatnya, dia sangat cantik.

“Kris Wu?” tanyanya saat sudah berhadapan denganku.

“Ne~,” aku mengangguk tanpa melepaskan pandangan dari wanita setengah baya itu. Dia tersenyum

“Maaf, siapa Anda…?”

“Ah.. iya. Kau masih sangat kecil saat bertemu denganku. Tentu saja kau lupa. Aku rekan bisnis kedua orangtuamu di China,” dia tersenyum.

“Aa..ah… senang bertemu dengan Anda,” aku membungkuk memberi hormat padanya.

“Kalau kau tak keberatan, aku ingin bicara denganmu,”

“Ah.. Ne~… “ aku mengangguk agak ragu.

“Baguslah,”

Aku berada ruangan mewah, sangat mewah. Mansion ini sangat cocok dengan sosok wanita itu. Dia menyilahkanku duduk dan para pelayanya memberiku hidangan dan jamuan yang sangat mewah.

“Apa kabar orangtuamu?” tanyanya memecahkan keheningan.

“Sangat baik,” jawabku.

“Bagaimana kabar Kim Hyeon?”

Aku tercengang dengan pertanyaannya. Aku memandangnya penuh tanya, seakan dia bisa membaca pikiranku, dia tersenyum.

“Ah… aku juga salah satu orang yang menghadiri upacara pernikahan kalia di China,”

Benarkah? Aku tak pernah bertemu dia sebelumnya. Tapi, tak mungkin dia bohong bila dia tahu tentang hubunganku dan Hyeon.

“Apakah Hyeon baik-baik saja?” ulangnya.

“Ah.. ne~, dia sangat baik-baik saja,” jawabku mengalihkan pandanganku agar tak bertatap muka olehnya.

“Syukurlah. Kau pasti lupa denganku. Aku dulu sering sekali datang kerumahmu dengan mendiang suamiku. Tapi, setelah aku pindah Korea, lama sekali tak menghubungi keluargamu. Aku Kim Jun Ah… atau kau kenal anakku. Kim Sun Hye,”

Aku terkejut, ternyata dia adalah orangtuan Sun Hye. Pantas saat itu Sun Hye dikejar-kejar bodyguard ketika dia melarikan diri. Aku menarik nafasku dalam-dalam, bersiap diri untuk dimarahi oleh Omma-nya karena telah menampung Sun Hye berminggu-minggu.

“Changsahamnida, saya tidak bermaksud menyembunyikan Sun—“

“Bukan itu yang sekarang ingin kubicarakan,” Selanya, aku terdiam dan melihatnya.

“Aku berterimakasih, kau telah menjaga puteriku dengan baik,”

“Ne~, cheomaneyo…” ucapku pelan.

“Kau bolos sekolah, Krissie?” tanyanya sambil tersenyum menyindir, aku menyeringai malu.

“Wajahmu sangat pucat, kau sakit?” tanyanya lagi, aku hanya tersenyum lagi.

“Sebenarnya apa yang ingin Anda bicarakan padaku?” wanita itu seperti menyimpan pertanyaan lain. Dia mengangkat alisnya kemudian mengembangkan bibirnya.

“Kau anak yang pintar, bisa menebak pikiranku. Kemarin lusa aku kerumahmu, dan bertemu dengan Hyeon. Dia anak yang sangat manis,” katanya, tapi nadanya masih menggantung. Aku diam menunggu kelanjutannya.

“Kalian baik-baik saja selama ini?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Mengapa Anda menanyakan hal itu?”

“Aniya… kemarin lusa kurasa, aku bicara sedikit keterlaluan pada Hyeon. Dia nampaknya tak tahu dengan pasti kenapa kalian dinikahkan. Walaupun dia menyembunyikan wajah terkejutnya, tapi aku bisa melihatnya. Dia sangat terguncang,”

Aku menegang ditempatku, aku tak tahu apa yang dia bicarakan. Tapi, aku yakin hal ini ada hubungannya dengan Hyeon pergi dari rumah.

“Apa yang Anda katakan?” tanyaku sedikit mengaku.

“Alasan kalian berdua dinikahkan” jawabnya santai.

“Apa itu?”

“Kau juga tak tahu?” dia membulatkan matanya, tapi ada ekspresi mengejek disana. Aku berfirasat sangat tidak enak.

Hyeon POV

Aku duduk dihalte bus, menghabiskan beberapa batang coklat dan 4 kotak susu. Beberapa bus berhenti, tapi aku masih malas untuk naik. Lay oppa berulangkali meneleponku memastikan aku tak kesasar, atau memastikan aku tak mati bunuh diri. Aku menghela nafasku, menengok sebuah bus yang baru datang lagi. Aku beranjak berdiri dan segera menanjakan kaki naik keatas bus.

“Hyeon-ah…” seseorang menahan tanganku. Aku terbelalak ketika melihat siapa yang menahanku. Dia menarikku dan memelukku erat, beberapa pasang mata melihat kami berdua.

“Yah, Chanyeol-ah… aku malu…” kataku. Kemudian dia melepaskanku pelan. Akhirnya aku ketinggalan bus lagi,.

Chanyeol terus meletakkan lengannya dipundakku dan menggengam tanganku dengan tangan kanannya. Dia diam selama kami duduk dibangku taman yang tak jauh dari halte bus tadi.

“Chanyeol-a—“

“Kemana saja kau?” tanya, baru kali ini aku mendengar nada marahnya. Dia memandangku tajam.

“Ak—aku…”

“Kau membuat semua orang khawatir, kau tahu?!” dia membentakku. Aku sedikit meriyipkan mataku menahan suara kerasnya.

“Jeongmal mianhe..” ucapku pelan dan tentu saja takut.

“Pabo!” dia menjitak kepalaku dengan sangat keras.

Aku merintih dan memegangi dahiku yang sakit. Dia memandangku tajam, kemudian berubah menjadi ekspresi seperti orang mau menangis. Chanyeol lalu menubrukan dadanya, mendekapku dalam-dalam sampai aku hampir sesak kehilangan nafas.

“Kau membuatku tersiksa. Kenapa kau berbuat seperti ini, Hyeon-ah. Aku hampir putus asa mencarimu,”

“Mianhe…” hanya itu yang dapat kuucapkan.

“Aku merindukanmu,” katanya.

“Aku juga,” aku mengelus punggungnya lembut. Berlahan dia melonggarkan eratan tangannya.

“Kris hyung juga sangat mengkhawatirkanmu,” gumamnya. Perutku rasanya jatuh ke kakiku. Aku sedikit mulas bila mengingat kondisi Kris tadi.

“Aku tahu hal yang kau sembunyikan dariku. Kalian berdua suami-istri?”

Perutku semakin melilit, bagaimana Chanyeol bisa mengetahuinya. Aku diam tak menjawab dan memalingkan wajahku darinya. Dia menghadapkan wajahku untuk memandangnya. Aku tak berani menatapnya.

“Kenapa kau tak menatapku?”

“Jeongmal, mianhe, Chanyeol-ah… aku terpaksa…” suaraku bergetar. Chanyeol membelai wajahku lembut.

“Gwenchana,” ucapnya.

“Aniya… aku seharusnya jujur padamu. Tapi, aku takut. Aku sangat takut…”

“Apa yang kau takutkan?”

“Aku takut kau menjauhiku,” jawabku takut.

“Aku tidak sebodoh itu, pabo!” dia menjitak kepalaku lagi.

“Dari awal aku memang merasakan sesuatu yang lain pada kalian berdua. Hyeon-ah…” panggilnya. Aku mengarahkan mataku yang hanya beberapa centi dari matanya.

“Apakah kau masih mencintaiku?” dia menanyakan hal yang membuat otakku semakin terurai kemana-mana. Aku ingin mengatakan padanya, aku juga menyukainya. Tapi, lidahku kelu.

“Aku—,” suaraku tercekat. Chanyeol tersenyum melihatku.

“Kau menyukai Kris hyung?” duganya semakin membuatku melilit.

Aku menggeleng. Dia semakin tersenyum penuh arti.

“Aku tak akan melarangmu untuk memilihnya, Hyeon-ah.”

“Tapi…” aku terdiam sejenak. Aku berfikir sambil memandang mata Chanyeol dalam.

“Aku memang menyukainya,” kataku pada akhirnya.

“Tapi.. Chanyeol-ah, aku tak bisa hidup bersamanya. Aku dan Kris resmi bercerai,”

Chanyeol melebarkan matanya, membuatnya semakin lebar.

“Aku tak bisa hidup bersamanya,” ulangku. Tak ada kata-kata lain untuk menjelaskannya.

“Wae?” chanyeol memandangku dengan tatapan kaku.

“Banyak hal.” Aku menjawabnya dengan nada seriang mungkin.

“Aku tak bisa bersamanya.” Aku menggeleng pada Chanyeol yang masih diam memandangku.

“Jeongmal mianhe, Chanyeol-ah… aku menghianatimu. Aku tak akan pernah bisa memilih diantara kalian. Aku merasa seperti yeoja yang tak mempunyai pendirian. Kau dan Kris sama berartinya bagiku, kedua namja yang selalu menjagaku. Aku berhutang banyak hal pada kalian, mungkin selamanya aku tak bisa membayarnya.” Aku mendengus mengingat betapa egoisnya aku saat ingin memiliki kedua namja itu. Sampai-sampai aku tak bisa mengakui perasaanku sendiri.

“Aku tak pernah berharap kau akan kembali padaku, sama seperti dulu. Cukup dengan mengakui adanya aku disampingmu, aku sudah merasa lega,” gumam Chanyeol.

“Yah, Chanyeol-ah! Kau menjadi orang terlalu baik, jahatlah sedikit. Kau terlalu lembut hati,”

“Hanya padamu, yeoja yang kucintai.”

Aku membeku menengok ke arah Chanyeol yang menatapku dalam. Aku tersenyum mengalihkan pandanganku ke lain tempat.

“Kau tahu, hal yang paling berat saat kau meninggalkanku adalah kebaikanmu yang terlalu berlebihan.” Gumamku menyenggol bahunya lembut dengan bahuku sendiri.

“Jangan katakan pada Kris bila kau bertemu denganku. Diamlah,”

“Kau sangat menyukainya,” Chanyeol mengatakannya dengan menatapku tanpa kedip.

“Chanyeol-ah… kau mengenalku, kurasa. Kau pasti tahu setiap hal yang kulakukan pasti ada alasan mengapa aku melakukannya,”

“Aku tahu,”

“Aku senang, kau paham denganku,”

Chanyeol tersenyum kemudian memelukku lembut.

Kris POV

Kata-kata wanita paruh baya itu masih terngiang ditelingaku. Aku meredam amarahku selama aku bicara dengannya. Nada bicaranya yang angkuh dan menyebalkan, juga saat dia menceritakan tentang Hyeon. Membuat kepalaku mendidih.

“Aku kagum pada kepatuhan Kim Hyeon pada kedua orangtuanya. Dia bersedia menikah denganmu untuk membantu kedua orangtuanya,” katanya dengan senyum tipis yang menyebalkan, dua jam yang lalu.

“Membantu?” ulangku.

“Ne~, apakah kau juga tak tahu? Orangtuamu menikahkan kalian, karena perjanjian bisnis? Keluargamu bersedia melunasi hutang perusahaan orangtua Hyeon, asal Hyeon bisa merubahmu. Dan hasilnya… sangat mengesankan. Kau jauh dari imej berandalanmu,”

Aku menggenggam tanganku erat-erat, menahan emosiku yang membludak. Mataku rasanya panas, saking marahnya.

“Apakah itu semua menjadi urusanmu?” tanyaku mulai mengurangi sifat sopanku.

“Tentu, karena sebelumnya keluargamu dan keluargaku mengikat perjodohan antara kau dan puteriku, Sun Hye.”

Semua ini drama konyol? aku mendengus merasakan semua ini. Kepalaku semakin pusing dan perutku semakin perih. Aku tak ingin mendengar apapun lagi. Aku bertahan selama 2 jam dirumah sialan itu, mendengar ceramahnya yang sama sekali tak penting.

“Kau tak perlu diantar, Krissie?”tanya sok akrab saat aku berpamitan pulang.

“Aniya, kamsahmnida,” tolakku halus.

Aku menyusuri jalan menuju rumah dengan menahan sakitnya kepalaku dan perutku yang semakin diremas-remas. Aku melihat dua sosok yang kukenal, berjalan berlawanan arah denganku. Dua orang itu berhenti saat kami saling betatap muka beberapa meter.

“Kris hyung…” gumam Chanyeol. Mataku tertuju pada Hyeon yang berada disampingnya. Dengan langkah cepat aku menghampirinya.

Dia memandangku kosong.

“Yah, kenapa kau meninggalkanku? Apa alasanmu?” tanyaku dengan nada menekan. Dia diam tak menjawabku, pandangannya membalas tatapan tajamku.

“Hyung-ah… mari kita bicar—“

“Aniya, aku hanya butuh jawabannya,” selaku tanpa melihat wajah Chanyeol.

“Kau butuh jawabanku? Aku tak mau menjawabnya,” kata Hyeon tegas.

“Chanyeol-ah, aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik,” dia melirik Chanyeol dan berjalan melewatiku.

Aku berhasil menahan tangannya dan menariknya kembali kedepanku.

“Kau belum menjawab pertanyaanku?” aku mendesis.

“Aku tak perlu menjawabnya, dan itu juga bukan urusanmu. Kita sudah bercerai. Ka—“

“Kita resmi bercerai bila kita berdua setuju dengan surat perceraian itu. Tapi, sampai sekarang aku tak pernah menandatanganinya,”

Dia sedikit melebarkan matanya, kemudian kembali bersikap tenang.

“Terserah kau,”

“Tunggu, Hyeon-ah!” aku semakin mengencangkan genggamanku. Chanyeol yang berada diantara kami hanya diam tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Pulanglah, kita perlu bicara banyak hal.”

Hyeon berhasil menepiskan tanganku dengan kasar.

“Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi, dan kau bilang ‘pulang’!? itu bukanlah rumahku,” kata Hyeon tajam.

“Kita hidup masing-masing, dan jangan ganggu aku lagi,”

“Hy—“ aku merasakan perutku seperti tersobek sakit sekali. Aku membungkuk menahan betapa sakitnya.

“Hyung-ah?” Chanyeol memapahku, suaranya tampak cemas. Aku tak bisa memfokuskan pandanganku. Sakit sekali.

Sun Hye POV

Aku mendapat kabar Kris masuk rumah sakit. Aku, Luhan, Xiumin dan Suho langsung pergi meninggalkan sekolah tanpa peduli waktu pulang atau belum. Jantungku bertalu, aku sangat mencemaskan Kris. Semoga dia tak kenapa-napa. Aku berlari dikoridor rumah sakit menuju UGD. Dari jarak beberapa meter aku memelankan lariku saat papan nama UGD terlihat jelas. Yang paling membuatku agak terkejut, kehadiran Hyeon. Dia sudah disana bersama Chanyeol.

“Hyeon-ah!!” seru Xiumin, Luhan dan Suho. Hyeon hanya mengangkat kedua sudut bibirnya.

“Yah… kau disini? bagai… Hyeon-ah, kami mencarimu kemana-mana,” tukas Xiumin.

“Jeongmal mianhe, Oppa,” ucap Hyeon denga wajah sedikit lesu.

“Bagaimana kau bisa ada disini bersama Chanyeol?” tanya Suho.

“Ak—“

Plak!! Aku menampar pipi kanannya keras. Aku sangat sebal padanya, dia hanya memandangku tanpa ekspresi. Nafasku tersengal menahan marahku.

“Sun Hye-ya, apa yang kau lakukan?” Luhan mencoba meredam amarahku.

“Dia tak pantas disini, kalian tahu… dia yang membuat Kris sakit seperti itu!” Marahku membuncah.

Hyeon masih memegangi pipinya yang mulai memerah. Chanyeol, namja bodoh itu, merengkuh bahu Hyeon. Chanyeol sungguh buta, yeoja seperti dia harusnya tak pantas dicintai siapapun.

“tenangkan dirimu, Sun Hye-ya…” Suho sedikit menarikku kebelakang.

“Dia sangat tidak pantas disini!!” teriakku. Aku sudah sangat sebal dengan Hyeon.

“Aku tak akan menyalahkanmu atau membalas tamparanmu, eonnie. Aku juga tak keberatan kau menyalahkan aku. Memang kenyataannya. Memang itu kenyataannya, aku permisi,” Hyeon melangkahkan kakinya, namun Chanyeol menahannya

“Aku harus kembali dimana harusnya aku berada dan pantas.Bukan disini,” ucapnya sambil menatapku dengan senyuman yang menurutku tak sopan.

“Hyeon-ah… Andwe,” Suho menghalangi Hyeon.

“Kau harus disini, Kris membutuhkanmu, ku mohon,”

Aku mendengus mendengar Suho memohon pada gadis itu. menyebalkan.

“Aniya, Oppa. Aku akan lebih membebaninya bila aku tetap disini.” Hyeon memandangku dengan tatapan yang aku sendiri tak bisa menebak artinya.

“Ada urusan lain yang harus kuselesaikan,”

Hyeon  POV

Pipiku rasanya panas, tapi ini masih belum seberapa dengan panasnya hatiku sekarang. Aku ingin membalasnya, tapi… aku benci pada ibunya, bukan Sun Hye. Jadi, tak ada alasan untuk berbuat buruk padanya. Lagipula, apa yang dia katakan ada benarnya. Aku yang membuat Kris seperti itu. Suho menghalangiku untuk pergi. Ada yang bergetar dikantongku. Lay oppa meneleponku lagi.

Yah! Kau dimana? Kau baik-baik saja?” teriaknya panik.

“Oppa… kenapa kau berteriak, aku baik-baik saja. Aku akan segera pulang,” kataku sebal. Aku memandang orang-orang yang melihatku dengan tatapan penasaran.

Kau dimana sekarang?”

“Ak—aku dalam perjalanan pulang, jangan khawatir aku tak akan kesasar.” Kataku meyakinkannya.

Kau ke Seoul?”

“Mwo?” aku kaget, walaupun itu hanya dugaan tapi rasanya aku seperti maling yang ketahuan.

Kau menemui Kris?”

“An—“

Kalaupun iya, aku tak melarangmu,” selanya.

“Aniya… kau jangan menduga yang tidak-tidak. Aku segera pulang, see ya…” kataku kemudian menutup ponselku dan memasukkannya dalam tas.

“Aku harus segera pergi, annyeong,”  aku setengah berlari meninggalkan mereka sebelum ada yang menahan lenganku tadi.

Sampai dihalte bus, aku melihat ada bus yang segera berangkat. Aku segera berlari mengejarnya, untungnya berhasil. Seseorang mendorongku dari belakang, membuatku hampir terjungkal.

“Yah!” teriakku.

“Untuk apa kalian ikut?!!” aku membentak Luhan dan Chanyeol yang sudah dibelakangku. Mereka menyeringai menyebalkan.

“Aku hanya penasaran, siapa yang kau panggil ‘Oppa’.” Kata Luhan sambil menyenggol bahuku. Aku mendengus dan mencari duduk yang kosong.

Chanyeol duduk disebelahku dan Luhan dibelakang kami berdua dengan kepala disandarkan punggung tempat dudukku.

“Yah… siapa Oppa yang kau maksud?”

“Dia calon suami baruku,” kataku asal.

“MWO?!” Chanyeol dan Luhan berseru heboh.

“Pelankan suara kalian, banyak orang melihat,” bisikku malu.

Chanyeol memandangku dengan tatapan tak suka. Aku berusaha menghindarinya. Aku takut.

Sampai dirumah Lay oppa mereka diam didepan rumah lama sekali. Seperti orang yang baru tahu pedesaan. Aku mendengus, lalu menarik mereka masuk kedalam.

“Kau su—ah, ada tamu…” kata Lay oppa saat melihat Luhan dan Chanyeol. Mereka membungkuk saling memberi hormat.

“Kau menelponku berulang kali,” keluhku.

“Kau bilang tadi hanya pergi sebentar,” Lay oppa balas memarahiku.

“Mianhe…” ucapku.

“gezz… emh, mereka temanmu?” tanya Lay oppa.

“Ne~, chunoun Chanyeol imnida,” Chanyeol memperkenalkan diri dengan deep voicenya.

“Aku Luhan…”

“Ne~, saya Lay Yixing. Sepupu Hyeon,”

“Yah! Sepupu?!!” mereka berdua berteriak tepat ditelinga samping kiri dan kananku. Aku memejamkan mataku saat suara mereka menembus  telingaku.

“Memangnya ada apa?” tanya Lay oppa bingung.

“Hyeonnie mengatakan kau calon suaminya,”

Mati aku! Aku melirik Lay oppa yang tersenyum aneh padaku, senyum yang setengah mengejek.

“Aku mengerjai kalian.” Kataku sesantai mungkin kemudian mengambil duduk disofa.

“Oppa, aku lapar.”

“Kebiasaan buruk,” desis Lay oppa.

“Oiaya, ada surat untukmu,”

Tubuhku mulai menegang, apakah pikiranku sama? Lay oppa menyerahkan amplop coklat besar. Aku mengeluarkan isinya. Nafasku seakan berhenti ditenggorokanku dan dadaku sesak. Aku tak boleh menangis didepan mereka. Ini pukulan berat. Wanita itu pasti sedang tertawa melihatku.

“Apa itu, Hyeonnie?” tanya Luhan Oppa.

“Panggilan dari sekolah,” kataku langsung menutup kertas itu.

“Aku mengantuk, aku tidur sebentar,” aku segera berlari kedalam kamar, membenamkan wajahku dibantal dan berteriak sekencangnya.

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT  😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @yuanitasugianto @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged:

6 thoughts on “EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 12

  1. Cynthia November 7, 2012 at 5:03 AM Reply

    apa isi surat i2??
    Penasaran nih..
    Cpt dilanjut ya..

  2. yuan November 16, 2012 at 2:33 AM Reply

    for cynthia:
    thanks ya udah terus baca karya saya.
    seneng banget ada yang support.
    semoga ga membosankan dan keep reading yaa 😀

    yuanfan 🙂

  3. yeojachingukkamjong November 16, 2012 at 7:46 AM Reply

    ff ini seru bgt thor.. serius deh-_- jgn” lama” ya thor chapter slanjutnya.. aku tunggu lho! semangat ya thor!!!!

    • 1authorexo1st November 26, 2012 at 11:28 AM Reply

      gomawo chingu 😀
      semoga bisa menghibur.
      yap, saya semangat buat lanjutin part selanjutnya. bdw part 13 udah ada.
      keep reading ya :d
      jeongmal gomawo 😀 /bow/

      -yuanfan-

  4. Dinidink November 22, 2012 at 5:00 AM Reply

    Syukaa!!! Konfliknya ngena xp maen tampar aja si sunhye -,- yak!knp hyeon ga balas tampar or jambak kek gitu.. *plakk
    Ck. Itu si hyeon beneran mau ninggalin kris,eo?andwaee…

    Btw,itu lay yixing.. yg mana orang *?* minta pict unn >o<
    *bow ke part 13* → ^_^ →

    • 1authorexo1st November 26, 2012 at 11:26 AM Reply

      lay yixing itu ya Lay. Oppa-nya si Sun Hye. entar di twittmu ya nak 😀
      gomawo udah baca semoga ga membosankan :p
      keep reading yaa..

      -yuanfan-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: