EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 11

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Just Like You”

 

*Title : Just Like You

*Part :11

*Main Cast :

ë  Kris Wu

ë  Kim Hyeon

ë  Kim Sun Hye

*Length :  Series

*Genre : Romance

*Rating : PG 13

*P.S :  Ini adalah karya original by YuanFan. Dilarang keras untuk mem-plagiat dan mencopas tanpa seijin author

leave comment please

*Sinopsis : Kris Wu dan Kim Hyeon menikah muda, mereka menyembunyikan status mereka karena mereka sama-sama seorang pelajar. Ini semua dikarenakan kemauan kedua orang tua mereka. Mereka hidup bersama selama setahun, meski begitu perasaan mereka tak bergeser, Kim Hyeon masih menyukai mantan pacarnya Park Chanyeol. Kris? Dia belum menemukan seorang yang tepat untuk dirinya. Sampai kemudian memutuskan untuk bercerai. Apakah perasaan akan berubah menjadi cinta??

 

*Disclaim :

SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

Kris POV

Aku merasakan ada yang hilang dalam kehidupanku. Rasanya hampa. Entah betapa semua ini menyakitkan, sampai-sampai hatiku mati rasa untuk merasakannya. Sudah tiga hari ini, Hyeon tak ada disampaingku. Aku lebih memilih dia mengomeli sepanjang hari daripada harus hening tanpa mendengar suaranya.

“Kris-ah… ayo bangun dari tempat tidurmu. Kita sudah cukup telat berangkat kesekolah,” Luhan memegang pundakku lembut.

“Hari ini aku absen,” gumamku sekedar memandangnya sekilas.

“Aniya… kau sudah absen tiga hari ini, kita sudah kelas 3. Sebentar lagi  kita ujian. Kau akan ketinggalan banyak materi pelajaran,” bujuk Luhan.

“Sehari ini saja,” pintaku. Dia memandangku penuh arti lalu mengangguk.

Tak berapa lama, Sun Hye masuk membawa jatah sarapanku. Aku sudah cukup merepotkannya beberapa hari ini.

“Makanlah, jangan sampai kau sakit,” kata Sun Hye padaku.

“Aku tak pernah sekalipun meninggalkan sebutir nasipun…” aku menyeringai padanya. Dia mendengus geli.

“Yah, yang perlu dipertanyakan benarkah makanan itu masuk kedalam perutmu??!” seru Luhan sambil menepuk-nepuk perutku keras. Aku menjitaknya sebal.

“Jangan berkata asal, kubunuh kau. Percayalah padaku Sun Hye-ya…” aku berusaha menyakinkan Sun Hye. Luhan tambah menyebalkan akhir-akhir ini.

“Baiklah, aku berangkat sekolah dulu. Sun Hye-ya… ayo,”

Sun Hye mengangguk lalu mengikuti berjalan keluar kamarku. Sebelum menutup pintu, Sun Hye memandangku lama.

“Pikirkan apa yang akan kau lakukan bukan menyesali apa yang sudah terjadi,”

Aku mengangguk seraya tersenyum padanya, lalu sosoknya hilang dibalik pintu.

Aku menghabiskan sepanjang hari dalam kamarku, setelah memakan sarapanku, aku beranjak berjalan ke kamar Hyeon. Sesak. Membuka lemarinya kosong dan beberapa barangnya yang menghilang dari tempatnya. Aku duduk diranjangnya, bila dia tahu aku masuk kamarnya seenaknya. Dia akan mengomel panjang lebar. Itulah yang sekarang kucari, hidupku hampa tanpa omelannya.

“Yah… Hyeon pabo! Kau dimana? Kau membuatku seperti orang gila. Sekejam inikah kau padaku? Awas bila nanti aku berhasil menemukanmu, akan kucincang dirimu,”

Aku merebahkan tubuhku diranjang Hyeon yang kosong. Aku masih mencium wangi bau aroma Hyeon yang tertinggal diselimutnya. Aku menikmatinya lama.

“Gezz… kau meninggalkan hal yang tak dapat hilang,” gumamku saat melihat selimutnya dengan tanda yang tak asing lagi, air liurnya.

Sun Hye POV

Kris hampir seperti orang gila, setiap hari dia menghabiskan harinya dengan diam dan menjadi orang yang jarang bicara. Aku sendiri tak bisa membuat hatinya semakin membaik. Melihatnya seperti itu, aku jadi tahu betapa dia sangat menyukai dan menyayangi Hyeon. Aku merasa tertolak. Ku hela nafasku panjang.

“Ayo kita ke kantin…”

Aku mendengar riuh beberapa orang dibelakangku. Aku menoleh, Jessica dan beberapa temanku baru saja keluar dari kelas. Jessica sempat melihatku yang berdiri didepan koridor depan jendela gedung sekolah. Dia hanya tersenyum kilat kemudian pergi bersama teman-teman yang lain.

Beberapa hari ini memang sikapnya agak aneh denganku. Tiba-tiba dia jarang bicara denganku, jarang menanyaiku perihal Kris atau hanya sekedar basa-basi. Dia seperti menjauhiku.

“Apa yang kau lihat?”gumam seseorang dari belakangku.

Ceesss!! Kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipiku, aku terlonjak kaget. Luhan tersenyum jahil, dia yang menempelkan kaleng minuman dingin kepipiku.

“Kau mau aku mati jantungan?” seruku sebal. Dia malah tertawa.

“Aniya… hem…” dia memberikan kaleng minuman tadi padaku.

“Dinginkan pikiranmu,” dia menunjuk dahiku. Aku mendengus dan menerima pemberiannya.

“Gomawo,” ucapku. Dia mengangguk seraya meneguk minuman miliknya sendiri. Aku membuka kaleng minuman yang kupegang dengan berlahan lalu meminumnya pelan, rasanya segar.

“Luhan-ah… sebentar lagi aku akan kembali ke rumahku. Tapi, Kris masih dalam kondisi seperti itu. Bisakah kau menjaganya?” tanyaku. Luhan diam sejenak memandangku lalu menurunkan minuman yang diteguknya.

“Aku selalu menjaga Kris, dia adalah sahabatku,” jawab Luhan melegakan hatiku.

“Sebegitu cintakah kau pada Kris?” tanya Luhan tiba-tiba. Aku sedikit tertegun, Luhan malah tersenyum geli melihatku.

“Kenapa kau tanyakan itu padaku?” tanyaku agak mengalihkan pembicaraan.

“Dari semua yang kau lakukan itu tergambar jelas,” jelas Luhan, wajahku tiba-tiba serasa terbakar.

“Kau menyukai Kris.” Ulang Luhan pelan.

“Tapi, dia tak menyukaiku. Dia menyukai Hyeon,” gumamku lalu melirik Luhan.

“Kris tak pernah bisa melepaskan Hyeon. Baginya Hyeon adalah belahan jiwanya,” Luhan mulai bercerita. Sedikit menohokku, tapi aku sangat penasaran dengan cerita mereka berdua.

“Baginya, Hyeon adalah malaikatnya. Tapi, dia pernah berkata… itu bukan jaminan bahwa Hyeon adalah pendamping hidupnya.”

“Kris berkata seperti itu?” tanyaku. Luhan mengangguk.

“Tapi, dilihat dari manapun, Hyeon tak akan bisa tergantikan. Dia sangat menyukai Hyeon tanpa dia sadar,” aku masih mempertahankan keyakinanku.

Luhan hanya mengangguk, mengikutiku memandang keluar halaman sekolah yang penuh anak menghabiskan istirahat makan siang.

“Bagaimana kau dengan Jessica, Luhan-ah?” tanyaku memandang Luhan. Dia menggedikan bahunya.

“Itu sudah kisah lama,” jawabnya.

“Yah… Jessica menyesal telah menyakitimu. Aku tahu selama ini dia sangat menderita oleh rasa bersalahnya. Dia masih menyukaimu,” kataku.

“Ne~, tapi meskipun begitu… Saat dia menyakitiku aku berusaha bangkit sedikit demi sedikit. Akhirnya aku bisa mengalihkan seluruh pandanganku,” Luhan berkata sambil menerawang dinding kaca didepan kami.

“Kau tak munyukainya lagi?” tanyaku lagi.

“Mungkin. Tapi aku sudah berusaha lepas, aku tak mau kembali,” Luhan memandangku sambil menyandarkan badannya ke palang tepi koridor.

“Jadi…”

“Aku menyukai orang lain, Sun Hye-ya…”selanya sebelum aku sempat menyelasaikan bicaraku.

“Aku boleh tahu siapa?” tanyaku penasaran.

“Kau tahu betul orang yang kusukai.” Jawabnya dengan senyum yang penuh misteri. Aku mengernyitkan dahiku, sebelum aku buka mulut. Luhan bicara duluan.

“Aku akan kembali ke kelasku dulu. Aku harus belajar, guru bahasa Inggris sangat mengerikan, Kris sebagai penolongku tidak hadir. Annyeong..” pamit Luhan dari hadapanku.

Aku masih terdiam memikirkan kata-kata Luhan. Yeoja yang disukainya adalah orang yang kukenal. Kenal baik. Selain Jessica yang kukenal baik lainnya… oh… Andwe… tak mungkin yang dimaksudnya adalah Hyeon.

Kris POV

Kuputuskan untuk pergi keluar rumah. Aku segera menyambar jaket dan tas selempangku. Aku mengikatkan syal lebih erat ketika menginjak halaman rumah, angin berhembus sangat dingin. Aku berhenti sejenak didepan, kotak surat. Ada sebuah amplop coklat tanggung yang terselip disana. Aku memandangnya lama. Aku ragu untuk mengambilnya.

Apakah….??? berbagai pertanyaan muncul dalam hatiku. Lalu dengan pelan kuambil amplop itu dan berlahan membukanya.

“Sudah kuduga…” gumamku saat berhasil mengeluarkan beberapa lembar kertas didalamnya. Surat perceraian. Aku merasakan lelehan airmata dimata sebelah kiriku.

“Hyung-ah…” seseorang memanggilku. Aku memutar tubuhkudan segera mengusap airmataku. Chanyeol berdiri tak jauh dariku, dia tersenyum menyapaku.

Aku mengurungkan niatku untuk keluar. Aku membuatkan coklat panas untuk Chanyeol dan menyediakan beberapa cemilan kecil. Dia duduk di sofa ruang tamu dengan pandangan yang diedarkan keseluruh ruangan.

“Gomawo,” ucapnya ketika aku meletakkan cangkir dan satu toples cemilan, asinan kesukaan Hyeon.

“Kau bolos sekolah, huh?” kataku padanya, dia menyeringai.

“Hah, dasar,”

“Hyung juga bolos kan?” tanya dengan mengangkat sebelah alisnya.

“An..aniya… aku sakit,” elakku. Chanyeol mendengus pelan.

Sejak Hyeon menghilang, aku dan Chanyeol semakin dekat. Aku menyarankan memanggilku lebih akrab. Dia menolakku saat aku memintanya memanggilku ‘Oppa’, haha.

“Hyung-ah, kenapa wajahmu kaget melihat surat yang kau pegang?” dia menunjuk amplop yang masih kupegang. Aku melirik amplop ditanganku sebentar kemudian menggeleng.

“Aniya… hanya tagihan listrik yang membengkak.” Aku berbohong.

“Yah, Chanyeol-ah… mianhe…” ucapku. Dia sedikit menurunkan mug yang diangkatnya.

“Kenapa Hyung meminta maaf?”

“Aku tidak pernah bermaksud membohongimu, masalah hubunganku dengan Hyeon,”

Chanyeol mengembangkan bibirnya kemudian mengangguk mengerti.

“Aniya… Hyung-ah. Kau sudah mengulang permintaan maafanmu berulang kali. Aku sudah bisa menerimanya,” jawab Chanyeol. Tapi aku tahu, dia sangat sakit hati karena ini.

“Hyeon… selama dia bersamaku. Dia tak pernah menghilangkan pikiran tentangmu. Kalau bukan orangtua kami, dia akan tetap memilihmu. Baginya kau adalah segalanya,” kataku.

Hyeon memang sangat menyayangi Chanyeol. Dibulan pertama kami menikah, aku ingat, dia terus mengigaukan nama Chanyeol berulangkali. Dia juga memajang foto Chanyeol di dinding depan meja belajarnya. Saat itu kami masih sering bertengkar dan tak pernah akur.

“Aku tahu… tapi, akhir-akhir ini aku melihatnya agak berbeda,” gumam Chanyeol. Dia mendongak menatapku.

“Pandangannya agak berbeda padaku. Dia seperti orang kebingungan, dia mulai menyukaimu, Hyung-ah…” lanjut Chanyeol dengan senyum miris.

“Mianhe…” bisikku pelan.

“Aniya… perasaan manusia memang gampang sekali berubah. Kau tak perlu meminta maaf padaku berulangkali seperti itu.  Aku yakin dia nyaman denganmu karena kau menjaganya dengan benar,”

“Chanyeol-ah, kurasa Hyeon memang untukmu. Bila itu benar terjadi, kurasa kau akan bisa membahagiakannya. Lebih dari siapapun. Kau yang ditunggunya,” gumamku pelan.

“Hyung-ah, aku mengenal Hyeon. Aku tahu apa yang dia pikirkan dengan baik. Dia selalu memikirkanmu, tapi… aku mohon satu hal. Bolehkah aku tetap menyukainya hingga nafasku berhenti?”

Aku terbelalak medengar perkataan Chanyeol. Dia tersenyum padaku dengan senyuman penuh arti. Dia sangat menyukai Hyeon, aku memisahkannya. Aku merasa hatiku menghakimiku.

“Aku harusnya yang mengatakan hal itu,” ucapku.

“aku yang bersalah atas semua ini. Aku tak berhak atas Hyeon, kaulah yang berhak. Jangan mengatakan hal itu lagi padaku, karena kau yang sejak awal menjadi pemilik hati Hyeon,” kataku pelan

Hyeon POV

Sudah lama aku tak bertemu dengan Lay oppa, dia semakin tampan dan tinggi. Dia adalah anak bibiku. Tapi, sejak 2 tahun yang lalu kedua orangtuanya kembali pada yang Kuasa. Dia hidup seorang diri didesa yang jauh dari kota. Sebenarnya, dia baru saja menyelesaikan kuliah Kedokterannya di California. Dia namja yang sangat cerdas.

“Kau kabur dari rumah, kau akan menyulitkan Kris,” marah Oppa. Setiap hari dia menceramahiku masalah aku kabur dari rumah. Dia termasuk anggota keluargaku yang menghadiri pernikahanku di China walau hanya beberapa menit.

“Yah… kenapa Oppa menyalahkanku terus-terusan. Kau tak pernah membela dongsaeng-mu. Lagipula kau tahu itu pernikahan terkonyol sepanjang masa,” bantahku sebal sambil memasukan daging kemulutku.

Dia mendesis sebal padaku. Sampai sekarang aku tak menceritakan alasan mengapa aku kabur, dia bisa menelpon Omma dan Appa. Lay oppa sangat lembut, tapi akan menjadi mengganas bila tahu apa yang terjadi.

“Oppa, aku mau pindah sekolah disini,” kataku memandang Lay oppa serius.

“Mwo?”

“Aku ingin tinggal bersamamu saja,” kataku sambil tersenyum manis.

“Andwe.” Ya, ampun dia menolakku.

“Kau harus kembali ke Seoul. Kembalilah pada Kris, kau tak akan menyelesaikan masalahmu dengan kabur”

Aku diam sejenak. Aku tak nafsu makan tiba-tiba. Aku memang tak akan bisa terus berlari, harusnya menghadapi semua ini dengan tegas. Tapi, aku belum punya cukup keberanian untuk itu. Aku harus menata hati dan mentalku. Lagipula aku sudah mengurus surat perceraianku dengan Kris. Semua akan lebih gampang kuurus setelah kami bercerai.

“Yah… kenapa kau diam?” seru Lay oppa.

“Aniya, aku sudah kenyang,” kataku.

“Jinjja? Kau biasanya makan dua kali lipat dibanding ini. Kau sakit?”

Aku menggeleng, “ aku sudah kenyang. Boleh aku keluar mencari udara segar?”

“Akan kutemani,” Lay oppa ikut beranjak dari duduknya. Aku membantunya membereskan meja makan sebelum kami pergi keluar.

Udara pedesaan memang sangat dingin dan bersih, dimusim dingin seperti ini angin berhembus kencang dan meniupkan hawa dingin. Aku merapatkan syal yang kupakai. Lay oppa membelikanku ubi manis yang dijual oleh pedagang yang tak jauh dari rumah kami.

“Enak,” gumamku saat menggigitnya.

“Kau bisa membuatkannya untukku?” tanyaku penuh harap.

“Bisa, kau bayar berapa?”

Aku berdecak. Dia tetap menggilai uang seperti dulu, tak pernah berubah.

“Oppa, kau sudah mempunyai calon istri?” tanyaku.

“Eobseo…”

Aku membelalakan mataku saat dia menjawabnya dengan sangat santai.

“Yah.. lihat umurmu! Kau sudah waktunya menikah, supaya ada yang mengurusimu. Kau ini… apakah kau akan menikah dengan semua alat kedokteranmu??!” aku memukul bahunya gemas.

“Aku boleh menikah denganmu?” tanyanya sambil tersenyum iblis.

“Langkahi dulu mayat Kri—“ aku mendadak menghentikan kata-kataku. Kenapa aku menyebut namanya lagi? sekarang itu harusnya tak berlaku.

“Kau masih menyukainya?” Lay oppa tampak senang aku terpojok. Sial.

“Aku hanya terbiasa,” bantahku seraya menggigit ubi yang kupegang dalam-dalam.

“Kau pasti punya alasan mengapa kau kabur? Tak mungkin hanya karena bertengkar dengannya. Cukup konyol untuk ukuranmu,”

Aku memandang Lay Oppa dengan tatapan sedikit curiga. Dia malah membalasnya dengan lebih curiga lagi, aku sampai memalingkan tatapanku.

“Kau tak mau bercerita padaku?” tanyanya lagi.

“Aku tak akan memaksamu, Hyeon-ah..” katanya leembut.

“Aku akan menceritakannya nanti,” gumamku pelan.

“Ara, aku mengerti.” Lay oppa merengkuh pundakku lembut dan menepuknya. Dia tersenyum padaku, lalu menggigit potongan terakhir ubi manis yang kupegang.

“Ya, kau sangat kurang ajar,” desisku sebal. Dia hanya tersenyum tanpa dosa.

Kris POV

Aku merasa badanku seperti mau remuk, sakit seluruhnya. Aku meringkuk diatas ranjangku. Hari ini aku ak mungkin absen sekolah lagi. Sudah cukup banyak bolosku. Tapi, ketika aku bangun, semua yang kulihat serasa jungkir balik. Kepalaku pusing. Aku mendengar langkah kaki seseorang dan mengetuk pintu kamarku pelan. Aku diam, tak bisa menjawab. Aku merasakan pusing dan sakit tubuhku yang tak tertahankan.

“Kris-ah…” suara Luhan. Aku melirik jam meja disebelahku. Pukul setengah tujuh kurang. Dia kembali mengetuk pintu, aku berusaha bangun dari tidurku dan berjalan tertatih menuju pintu.

“Ne~,” gumamku sambil membukakan pintu.

“Ya, wajahmu pucat. Kau sakit?” Luhan memandang wajahku dengan seksama.

“Aniya… aku hanya kurang tidur,” elakku.

“Gurae?” dia masih tak percaya memandangku, lalu meletakan telapaknya kedahiku. Aku  menepisnya sebelum dia menyadari.

“Yah! Kau demam!” serunya. Sial. Dia akan menjadi sangat berlebihan.

“Kau tidurlah, aku akan memanggil Sun Hye. Akan kubelikan obat untukmu,” dia menyeretku ketempat tidur. Aku hanya bisa pasrah.

“Hannie, jangan berlebihan. Aku kucincang kau sampai kau membuat semua heboh karenamu,”

“Aku akan menelepon Suho, dan Xiumin,” katanya tanpa peduli kata-kataku.

“apakah Chanyeol juga dihubungi?”

“Yah..! kau dengar aku tidak?? kau heboh sekali. Kau berlebihan, pabo!” aku menjitak kepalanya sebal.

“Aku hanya khawatir…” dia melihatku dengan wajah yang menjijikan, sangat cantik.

“Aniya… berhenti memasang wajah seperti itu,” teriakku semakin sebal.

“ Ada apa ini? kalian sangat ribut,” Sun Hye masuk kedalam kamarku.

“Ya, Sun hye-ya… Krissie sakit demam parah. Buatkan bubur untuknya dan aku akan memanggilkannya dokter,”

Luhan sangat heboh, aku melemparkan bantal tepat kearahnya membuat dia meronta.

“Sun Hye-ya… aniya. Aku hanya flu, dia memang sangat berlebihan. Dasar!” aku menunjuk Luhan sambil memelototinya.

“Benarkah?” Sun Hye menghampiriku dan menekankan tangannya ke dahiku. Dia mengerutkan dahinya.

“Kau demam, benar kata Luhan, kau perlu dipanggilkan dokter,”

Sun Hye terinfeksi virus heboh Luhan.

“Sudahlah, kalian berangkat sekolah saja. Aku akan menanggulanginya dengan minum obat. Jangan khawatir aku cukup sehat,” aku menenangkan mereka.

Walaupun dengan wajah sangat berat Sun Hye meninggalkanku sendirian dikamar. Luhan menceramahiku dengan berbagai pesan.

“Jangan lupa makan, minum obat, jangan sampai kau keluar rumah, dan istirahat dengan benar,” dia mengomel seperti ibu-ibu. Aku hanya mengangguk membuatnya lega.

Aku bolos lagi, aku cukup kuat untuk pergi kedapur untuk sarapan dan meminum obat. Aku tak mau sakit. Aku segera beranjak dari meja makan dan kembali ke kamarku. Tiba-tiba kurasakan kepalaku sangat berat membuatku mencengkeram tepi meja dengan erat untuk menyeimbangkan badanku.

“Ah, sial!” umpatku seraya menekankan telapakku kedahiku. Aku tak pernah merasa sepusing ini. Perutku tiba-tiba melilit, sakit sekali. Kakiku rasanya bergetar tak sanggup menahan berat tubuhku. Sial, kalau aku pingsan sekarang, otte??

“Yah, kenapa kau paksakan dirimu?” seseorang memegangiku, menahan berat tubuhku. Aku tak asing dengan suaranya. aku menoleh pada orang disampingku. Kurasa aku mulai gila.

“Hyeon-ah…” gumamku pelan dan semuanya menjadi gelap.

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT  😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @yuanitasugianto @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged:

4 thoughts on “EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 11

  1. Cynthia October 29, 2012 at 12:41 AM Reply

    Ohh hyeon datang..
    Apa yg terjdi??
    Trs Luhan ma SunHye gmn??
    Chanyeol??
    Udh jessica ma lay aja 😀
    Dtgu part selanjutx..

    • yuanfan November 1, 2012 at 8:09 AM Reply

      Lay ma saya .. hehe/digeplak sendal/
      gomawo chingu udah ikutin terus. seneng banget. hehe.
      moga ga membosankan.
      keep reading ya. 😀
      saya jadi semangat buat bikin lanjutannya.

  2. miss KyuHae October 29, 2012 at 1:13 PM Reply

    Kyaa..sunhye ama luhan ajjaaa *treak*
    Dan,yak sunhye..si luhan suka ame lu,bukan hyeon *jitak sunhye* jgn sampe lu nt ngejodoh-jodohin mreka ye.. *slapped*
    itu luhan udh cucok ma sunhye *maksa*
    dan,oh ada layyy
    ettdahh..tamba rame *?* !!!
    next unn…

    • yuanfan November 1, 2012 at 8:51 AM Reply

      niat nya malah saya masukin semua member exonya biar sekampung. hehe.
      terus ikutin part berikutnya. saya jadi semangat ini. 😀
      gomawo udah ikutin terus 😀
      keep reading yaa 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: