EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 9

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Nimic”

 

 

 

 

*Title : Nimic.

*Sub Title : The Nineth – Fates bring you here.

*Main Cast :

  • Kim Jong In
  • Kim Je Si
  • Luhan
  • Han Soon Na

 

*Length : Series

*Genre : Romance, Artist Life, Real-Imagine Fiction

*Rating : PG-13

*P.S : Its time to show ^^  Sekarang FF ini berceritakan Jong-In & Luhan ditahun 2012. Kira-kira bagaimana hubungan mereka sebenarnya? Jangan pada bingung dan please support this fanfiction ^^ Cause this Fanfiction will be really really complicated ^^ And sorry for Soon-na shipper, sekarang lebih ke focus Kai-Jessy-Luhan story. Happy reading! Tulisan bergaris miring adalah masa lalu.

*Disclaim : SEMUA FANFICTION YANGDIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

Summary :

 

Gone. You’ve gone from my sight.

Regret always come at the end, right?

After leaving you, I’m searching you.

Am I selfish? Yes I am.

Im still here.

Waiting for you comeback or time will make me found you.

**

Time goes by.

And time still cannot kill my feeling.

Will that day come?

The reason why I’m gone

Is only to make you stay

And found me here

**

There’s something empty

I couldn’t find it out

And what can I do is only screaming without reasons

**

Are you okay there?

Did you miss me like I do?

Cause I really miss you so badly.

**

Kai memberhentikan langkahnya. Untuk beberapa detik ia membiarkan paru-parunya menyerap lebih banyak oksigen.Daritadi ia memaksa paru-parunya untuk bekerja ekstra dan kedua kakinya untuk berjalan lebih cepat. Ia tidak mengerti kenapa ia bisa seperti ini, tapi yang dilakukan pria itu hanyalah mengikuti instingnya.

 

Sesaat kemudian, Kai menyandarkan tubuhnya sendiri ke dinding. Berusaha untuk memulihkan dirinya sendiri. Bagaimana tidak? Ia berlari menuruni 7 lantai dengan tangga dan bukannya iift. Kenapa? Karena ia sendiri tidak bisa membiarkan tubuhnya untuk berhenti bahkan hanya sekedar untuk menunggu. Alhasil pria itu sekarang kehabisan tenaga sambil menunggu sosok yangmembuat penasaran itu.

 

Tiba-tiba saja, pintu kaca itu terbuka dengan otomatisnya. Puluhan fans berusaha masuk tapi langsung dicegah oleh security sementara seorang gadis dilindungi agar bisa masuk. Gadis itu  menggunakan dress berwarna putih diikuti jaket berwarna biru. Sebuah high heels putih yang kelihatan mewah melingkar dnegan indahnya dikedua kaki gadis itu. Yang diketahui Kai hanyalah gadis itu terlihat sangat cantik dengan rambut coklat pendeknya. Tapi ia tidak bisa melihat wajah gadis itu. Membuatnya tanpa sadar melangkahkan kakinya lebih mendekat kearah gadis itu.

 

Jantung Kai berdetak semakin tidak wajar sehingga mau tidak mau darah mengalir dengan cepat keseluruh bagian tubuhnya. Membuatnya merasa panas, dan tidak sekaligus. Ia merasakan sesuatu ketika melihat gadis itu. Seperti menemukan gadisnya yang hilang.

 

Suho yang sedari berdiri disebelah gadis itu, menatap Kai bingung yang berjalan mendekat kearahnya. Dan dengan cepat melambai kearah Kai, “Yo, Kai!”

 

Gadis disebelahnya melihat Suho sesaat sebelum akhirnya mengikuti arah pandang Suho. Dan bisa dibilang gadis itu terbelalak dibalik kacamata hitamnya. Sama sekali tidak percaya. Tapi yang dilihat Kai, gadis itu menoleh kearahnya dan tidak merespon apapun.

 

Ketika sadar, Kai hanya tersenyum pada Suho dan mempercepat langkahnya kearah Suho. Akhirnya ia berada didekat gadis itu. Tapi sialnya ia tidak bisa melihat gadis itu dengan baik. “Kenapa?” tanya Suho dengan cepat. Kai melihat kearah gadis itu dan diikuti oleh Suho. Kemudian pria itu mengerti.

 

“Ah, ini adalah designer kita. Dia cantik sekali, kan? Dia diimpor dari London. Padahal ternyata ia adalah orang Korea.” Ucap Suho antusias.

 

Tapi Suho sama sekali tidak tau kalau gadis itu mengambil langkah teratur untuk berdiri dibelakang Suho. Kai yang sedari melihat gadis itu menyadari perbuatan gadis itu dan memandanginya aneh. Kenapa gadis itu begitu ingin menghindarinya?

 

“Lalu namanya siapa?” tanya Kai dengan suara sedikit tertahan. Suho akhirnya menoleh kearah gadis itu dan baru sadar kalau gadis itu ternyata berdiri dibelakangnya. Ia tersenyum lalu mendorong gadis itu berdiri disebelahnya. “Perkenalkan, dia adalah dancing machine di EXO-K, Kai. Yang waktu itu kuceritakan!”

 

“Hyeong cerita apa?” potong Kai cepat membuat Suho tersenyum semakin lebar.

 

“Benarkan apa yang kubilang? Kai ini adalah maknae ke-2 di EXO-K. Dia itu lebih menyebalkan dan keras kepala dibandingmu.” Ucap Suho tanpa bersalah membuat Kai memperlihatkan muka sebalnya. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau Kai terus menantikan nama gadis itu. Ia hanya mencoba untuk mengatur emosinya lebih baik.

 

“Dan nama gadis disebelahku adalah..”

 

Sesaat Kai merasa bahwa waktu berjalan lebih lambat. Ia mungkin sudah melangkah untuk bertanya langsung pada gadis itu jjika ia tidak sabaran. Tapi ketika saja sebuah nama baru akan keluar dari mulut Suho, seseorang menarik tangannya dan membuat badan pria itu berbalik sepebuhnya.

 

“Aigoo, Kai! Kenapa sih susah sekali mencarimu?”

 

Kai memperlihatkan wajahnya yang bingung  ketika melihat Taemin membungkuk seolah mengatur napasnya. Beberapa saat kemudian pria itu sudah kembali tersenyum dan menatap Kai dengan berbinar-binar, “Ada project baru untuk kita berdua!”

 

Kerutan dikening Kai baru saja terbentuk. Project baru? Apakah kira-kira project baru itu?

 

Suho kemudian menepuk pundak Kai sehingga Kai terbangun dan kembali melihat Suho, “Kamu bicaralah bersama Taemin. Aku akan pergi dulu. See you.”

 

Suho mendorong gadis itu meninggalkan tempat itu. Kai baru saja sadar kalau seandainya ia bahkan belum mengetahui nama gadis itu. Menyebalkan. Bagaimana bisa ia belum tau namanya? Ia sebenarnya cukup yakin itu Jessy. Apalagi ketika mengetahui reaksi jantungnya seperti ini. Reaksi yang tidak pernah terjadi kalau bukan bersama gadis itu. Tapi jujur, ia bahkan agak melupakan wajah gadis itu. Sialan, ingatannya memang buruk.

 

“Sudahlah, apa sih yang kamu pikirkan? Kita harus bertemu dengan managermu dan aku sekarang!” teriak Taemin antusias sambil menarik tangan Kai buru-buru.

 

“Memang mau ada apa sih?”

 

“Kita akan jadi model yang membintangi iklan mobil. Dan astaga! Mobil itu keren sekali! Rencananya akan release bulan Oktober nanti!” jelas Taemin yang mempercepat langkahnya diikuti Kai yang sama sekali tidak tertarik. Ia merutuki Taemin jauh didalam lubuk hatinya hari ini.

 

Aku membencimu, Taemin Hyung!!!!

 

**

Suho menatap kebelakang dan mendapati Jessy terhenti beberapa langkah darinya. Masih dengan senyum, Suho melangkah untuk mendekati gadis itu dan berhenti dihadapannya. Namun gadis itu sepertinya masih tidak menyadarinya. Otak gadis itu masih memikirkan berjuta kemungkinan yang ada. Kemungkinan yang sama sekali tidak ia mengerti.

 

Kai?

Kenapa namanya Kai?

Ia masih di SM?

Dan dia adalah member EXO?

Kenapa pria itu masih ada disini?

Astaga.

Apakah ia benar masih menungguku?

Apakah benar Kim Jong In masih menungguku?

 

“Ada apa denganmu?” tanya Suho dengan nada yang lembut dan beribawa.

 

“Noona, kamu sakit atau butuh sesuatu?”

 

Jessy menggeleng ditempatnya. Ia masih menatap Suho dan tidak tau harus berkata apa-apa lagi. Ia seperti merasa dipermainkan. Kemarin Luhan, dan sekarang Jong-in. Bagaimana mereka berdua bisa bersama? Bagaimana mungkin ia bisa bekerja sama dengan EXO? Astaga, apakah ini sudah takdir untuk bertemu dengan mereka berdua lagi . Dunia benar-benar mempermainkan perasaannya.

 

“Pria itu selalu memakai gelang itu?”

 

Suho mengerjap-ngerjapkan matanya bingungmenatap Jessy sementara otaknya berpikir keras untuk mencari tau pria mana yang dikatakan Jessy. “Maksud noona?”

 

“Kai. Apakah ia selalu menggunakan gelang itu?”

 

Suho akhirnya mengerti arah pembicaraan Jessy. Ia kemudian langsung mengingat Kai. Ia memang selalu melihat Kai menggunakan gelang hitam ditangan kanannya. Gelang yang tidak ingin dilepas Kai dan selalu menjadi gelang keberuntungan yang membuat pria itu lebih tenang. Tapi apa hubungan gelang itu dengan Jessy?

 

“Iya, noona. Ia selalu menggunakan gelang itu. Gelang keberuntungannya. Ia akan selalu menggunakan gelang itu saat ia sangat gugup atau lelah. Katanya itu dari seseorang yang sangat penting baginya.” Ucap Suho cepat. Ia masih tidak mengerti apa yang terjadi pada Jessy. Jessy mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Suho. Ia bahkan tidak sadar bahwa Suho melepaskan kacamata hitam yang dipakai gadis itu, dan sepertinya Suho terkejut mendapati mata gadis itu merah dan air mata muncul dipelupuknya.

 

“Apakah nama asli Kai adalah Kai?” tanya Jessy dengan suara serak. Awalnya Suho sama sekali tidak mengerti. Jessy tidak pernah bertanya nama asli Suho, dan sepertinya itu juga bukan hal yang penting. Tapi kenapa sekarang gadis itu tiba-tiba saja bertanya tentang Kai?

 

“Bukan, kenapa Noona bertanya seperti itu?”

 

Jessy terdiam beberapa saat, tapi ia tidak menjawab. “Siapa nama aslinya?”

 

“Kim Jong In. Noona mengenalnya?”

 

Detik itu juga, satu butir air mata gadis itu turun dengan cepatnya. Ia bertemu dengan Kim Jong In. Alasan kenapa ia meninggalkan Negara ini, alasana kenapa ia tersiksa seperti ini. Tapi kenapa ia harus bertemu dengan pria itu sekaligus dengan Luhan. Hatinya menjadi campur aduk dan perasaan ini benar-benar tidak enak.

 

Suho tidak mengerti apapun. Tapi ia memutuskan untuk mengusap air mata Jessy dengan cepat sementara Jessy hanya tersenyum dan kembali melangkah. Meninggalkan Suho yang menatapnya bingung luar biasa.

 

**

 

“Dimana Jessy?”

 

“Aku juga tidak tau.” Jawab Suho cepat ketika Kris sudah duduk disebelahnya. Kris menatap Suho bingung. Jelas. Pasalnya Suho tidak pernah terlihat berpikir begitu keras seperti ini, tapi ia malah mendapati Suho seperti itu sekarang.

 

“Aku rasa,” perkataan Suho terhenti. Kris masih menunggu Suho untuk melanjutkan perkataannya. Member lain seperti tidak tertarik akan pembicaraan mereka,bahkan beberapa member EXO belum terlihat dari tadi.

 

“Jessy bukan hanya saja punya masa lalu bersama Luhan seperti yang kamu bilang. Tapi juga bersama Kai.”

 

“Kai?” ulang Kris tidak percaya. Kris tanpa sadar mendekat kearah Suho dan melihat kearah member lain, berjaga-jaga bahwa tidak ada satupun dari mereka yang mendengar perkataan ini.

 

“Bagaimana bisa?” lanjut Kris ketika ia merasa bahwa Suho terlalu lama memberikan respon padanya. Suho menghembuskan napas lelah lalu kemudian menatap Kris, “Gadis itu menangis.”

 

Kris masih terdiam. Dan Suho kemudian melanjutkan, “Didepan mataku. Walaupun hanya satu tetes. Itu jauh lebih menyedihkan dibanding jutaan wajah sedih yang sering ia perlihatkan. Astaga, ini akan jadi lebih rumit.”

 

“Apa yang terjadi?”

 

“Tadi Jessy bertemu dengan Kai. Kai menghampiri kami duluan. Awalnya aku sama sekali tidak menyangka, karena biasanya Kai tidak akan pernah mendekatiku kalau seandainya aku sedang berjalan bersama wanita. Tapi ia malah lebih terkesan mengejarku, seperti penasaran yang berdiri disebelahku.”

 

Suho tersenyum ketika pintu terbuka dan mendapati D.O masuk bersama Chen. Mereka berdua hanya melambai kearah Kris serta Suho lalu lanjut masuk keruang vocal. Suho kembali melihat Kris, “Awalnya aku tidak sadar. Tapi lalu kemudian aku mendapati Kai yang tidak sabaran ingin tau siapa Jessy dan Jessy yang sama sekali tidak bersuara. Malah gadis itu sudah mundur kebelakang punggungku, seolah tidak ingin berbicara pada Kai.”

 

“Lalu apakah mereka berkenalan?”

 

“Hanya Kai saja yang sempat kuperkenalkan. Karena tiba-tiba saja Taemin datang dan juga kukira masih bisa mereka berkenalan dilain hari. Jessy pun juga sudah melangkah cepat dariku, meninggalkan Kai dan Taemin berdua.”

 

“Lalu kapan Jessy menangis?” tanya Kris dengan suara yang semakin serius. Suho ditempatnya terdiam sesaat lalu keudian memikirkan keadaan beberapa menit yang lalu bersama Jessy. “Dia bertanya padaku, apakah Kai selalu memakai gelang yang ada ditangan kanannya. Tentu saja aku menjawab iya, gelang itu keberuntungannya. Kemudian gadis itu terdiam dan mendongak kearahku. Dan tanpa sadar aku melepaskan kacamatanya. Mendapati matanya sudah merah saat itu juga.”

 

“Lalu ia bertanya siapa nama asli Kai. Kim Jong in, aku menjawabnya seperti itu. Air matanya turun satu titik saja, kemudian ia meninggalkanku tanpa kata-kata. Astaga, aku tidak mengerti sama sekali!” ucap Suho frustasi diakhir penjelasannya. Kris kemudian melihat kedepan dan punggungnya kemudian tersandar di sandaran sofa yang cukup empuk. Ia menatap langit-langit sesaat, seolah berpikir kemana arah pembicaraanini berjalan. Jessy, benar-benar gadis yang penuh misteri. Seperti pertama kali ia mengetahui nama gadis itu. Ia langsung tau kalau ada begitu banyak kepedihan dan rahasia dibalik senyum gadis itu.

 

**

Luhan membuka pintu menuju atap SM itu dengan cepat. Air bersih dari wastafel tadi masih membasahi wajahnya yang tanpa make up hari ini. Luhan menggunakan celana training yang sudah menemaninya kurang lebih 2 tahun ini, sementara kaos EXO juga digunakan pria itu. Luhan sama sekali tidak merinding ketika angin menubruk tubuhnya terus menerus, beberapa justru asyik mengacak-acak rambut pria itu. Luhan masih melangkahkan kakinya menuju sudut favorit kesukaannya beberapa bulan ini. Dan tak lama duduk disana. Pagar mengelilingi atap itu, tapi sama sekali tidak menghalangi pandangan pria itu untuk melihat banyak gedung pencakar langit disekitar gedung SM itu.

 

Tapi bukannya menikmati pemandangan itu, Luhan justru menutup matanya dan kemudian menyembunyikan kepalanya ditumpukkan kakinya yang ia lipat. Kedua tangannya memeluk kakinya seolah ingin tidur. Ia ingin sekali tidur walaupun ia sama sekali tidak lelah ataupun merasa mengantuk. Ia ingin kembali bermimpi dan menerka-nerka siapa gadis yang muncul didalam mimpinya itu.

 

“Kamu tidak akan mencegahku, kan?”

 

Suara itu terus berputar. Tapi ia tidak yakin suara siapa itu. Suara itu, terasa sangat familiar baginya. Dan entah mengapa, suara itu hampir sama seperti Jessy. Ia tidak mengingat sama sekali. Dalam mimpi itu, Luhan hanya melihat sosok gadis berambut pendek yang sedang menatapnya.

 

Selanjutnya semua berputar lebih cepat, ia melihat bayang-bayang gadis itu menerima apel dan kemudian beranjak menghilang.

 

“Pertama kali aku bertemu denganmu, aku mengikatmu dengan apel. Lalu sekarang, aku akan melepasmu dengan apel.”

 

Ketika Luhan bangun, semuanya itu mimpi buruk. Ia bahkan tanpa sadar menteskan air matanya dalam mimpi. Air mata yang jarang sekali menetes dari matanya. Dan sampai sekarang Luhan masih bisa merasakan perasaan sesak yang ia rasakan tadi pagi. Rasa rindu luar biasa. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan setelah bangun dari koma-nya. Ia tidak mengingat siapapun, apapun. Karena itu ia tidak pernah merindukan sesuatu.

 

“Sebenarnya apa yang terjadi 4 tahun yang  lalu!” umpat Luhan keras-keras sambil memukul lantai beton yang sekarang ia duduki. Tangannya terasa sakit, tapi tidak sesakit perasaannya yang terluka sekarang. Ia begitu ingin mengingat masa lalu. Tapi kenapa tidak ada satupun yang bisa membantunya saat ini?

 

**

 

Jessy menatap kosong rumput yang sedari tadi diam ditempatnya. Ia sedang berada di taman terabaikan di SM. Tidak ada seorang pun disana, untuk melihatnya sekalipun. Mungkin bahkan jarang ada orang yang tau ada tempat ini, karena biasanya tempat ini digunakan Soo-man untuk bertukar cerita bersama Jessy dimasa lalu. Air mata masih meleleh menuruni pipinya. Ia tidak bisa menghentikannya sama sekali. Ia penasaran, rindu dan bahkan merasa bersalah.

 

Ia begitu senang menemui Luhan kemarin. Perasaannya 4 tahun yang lalu terbangun begitu saja. Dan ketika bertemu dengan Kai hari ini, perasaannya yang selama 4 tahun ini goyah begitu saja. Ia begitu senang bertemu dengan Kai. Dan bahkan mendapati Kai masih menggunakan gelang darinya, bukankah itu berarti Kai menunggunya? Tapi.. Bagaimana dengan Luhan? Astaga, gadis itu pusing luar biasa.

 

Aku.. Harus bagaimana?

 

Perlahan Jessy mulai sesengukkan. Paru-parunya mminta pasokan oksigen lebih banyak sehingga rasa sesak semakin membuatnya sakit. Tanpa sadar gadis itu memukul dadanya kuat-kuat karena kesal. Ia butuh pelampiasan. Kenapa ini semua harus begini? Kenapa semuanya tidak berjalan seperti rencana semula? Datang lalu pergi begitu saja tanpa meninggalkan bekas memori apapun. Kenapa semuanya menjadi runyam seperti ini?

 

“Berhentilah. Itu tidak akan membuatmu lebih baik.”

 

Jessy menarik tangannya dan menoleh kebelakang kesal. Gadis itu semakin kesal lagi ketika mendapati Kris berdiri dibelakangnya, memegang pergelangan tangannya begitu kuat dan menatapnya dengan matanya yang dingin dan tak berperasaan.
“Mau apa kamu kesini?” teriak Jessy sebal membuat seulas senyum terukir dibibir pria itu. Senyum yang sama sekali tidak bisa dikatakan tulus. Tapi siapapun pasti akan menganggap senyum itu begitu menawan. Memikat dan begitu mempesona. Dengan kasar, Kris melepas tangan Jessy dan duduk disebelah gadis itu. Jessy langsung terdiam seribu bahasa ketika pria itu duduk disebelahnya.

 

“Air matamu langsung kering ketika kamu bersamaku. Bukankah itu bagus?” ucap Kris ringan samba berusaha melihat mata Jessy, namun gadis itu hanya memonyongkan mulutnya beberapa centi kedepan. “Aku tidak mengharapkan sedikitpun kehadiranmu ditempat ini.”

 

“Aku juga tidak mau. Kalau bukan sajangnim melihatmu menangis dan memaksaku untuk melihatmu. Ia merasa bahwa ia tidak akan berguna kalau datang kesini. Kamu pasti akan menyembunyikan masalahmu darinya.”

 

“Lalu kamu berpikir bahwa aku akan bercerita padamu?” sahut Jessy ketus sambil memutar bola matanya malas. Kris ditempatnya meluruskan kakinya dan kemudian melihat langit biru diatas mereka, “Tidak. Aku sudah tau masalahmu.”

 

Jessy tidak merespon apapun. Ia merasa Kris memang seperti itu. Entah kenapa ia merasa bahwa Kris selalu bisa melihat jauh kedalam hatinya dan berpikir dengan matanya yang tajam itu. Mungkin karena itu ia sama sekali tidak ingin berdekatan dengan Kris, walaupun pada akhirnya mereka harus sering bertemu karena Jessy tidak ingin mempersulit Kris. Menjauhi pria itu berarti sama dengan membuat Pria tua bernama Soo-man marah pada Kris.

 

“Kamu bisa menceritakan apapun padaku.”

 

“Bukankah kamu sudah tau semuanya?”

 

“Tapi aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri. Bukankah itu lebih baik?”

 

Telinga Kris menangkap hembusan napas Jessy yang terdengar begitu pasrah. Jessy berdiri dan kemudian maju beberapa langkah, “Aku dan Luhan teman SMA.”

 

“Dan aku jatuh cinta padanya. Tapi ia tidak bisa kugapai. Benar-benar tidak bisa kucapai. Ia mempunyai seseorang yang ia lindungi dan ia cintai. Aku tidak bisa masuk keantara mereka berdua.”

 

Jessy berbalik lalu melihat Kris dengan senyum, “Disisiku, aku juga punya pria seperti Luhan. Dia dibawah 4 tahun dariku. Dia dingin, egois, keras kepala, menyebalkan. Tapi dia begitu mencintaiku. Dan aku merasa bersalah.”

 

Jessy berbalik lagi. Gadis itu terdiam, Kris bisa melihat punggungnya bergetar seolah menahan tangis. Dan benar saja, beberapa detik kemudian tangan gadis itu terangkat dan terlihat seperti menutup mulutnya. Kris tanpa sadar berdiri, dan memutar tubuh gadis itu. Jessy tanpa sadar masih bisa terpana melihat senyum yang diberikan Kris, baiklah. Senyum itu terlihat lebih tulus untuknya.

 

“Lalu?”

 

Seolah tersihir oleh perkataan lembut Kris, Jessy justru menangis. Kris ditempatnya tidak panik, justru akan aneh kalau gadis itu tidak menangis. Bukankah lebih baik dari pada gadis itu menahan perasaannya sendirian?

 

“Ketika aku sadar, pria itu malah menjauhiku. Dan akhirnya aku lebih memilih untuk pergi. Aku kembali kesini, berharap bahwa aku tidak akan meninggalkan kenangan apapun disini. Tapi malah..”

 

Jessy terhenti. Ia menunduk, membiarkan air matanya jatuh keatas tanah. Kris dengan cepat menarik gadis itu kedalam pelukannya. “Mwo? Untuk apa kamu menarikku dalam pelukmu? Biar tau dengan jelas seberapa pendeknya aku?” ujar Jessy kesal. Namun Kris hanya tertawa lalu mengelus rambut itu pelan, “Ani. Karena aku tau kamu butuh seseorang untuk bersandar. Sampai kamu bisa memilih diantara mereka berdua, kamu punya aku, ara?”

 

“Bagaimana kamu bisa mengeluarkan kata yang begitu manis?” ucap Jessy semakin sebal ditempatnya. Tapi tidak diurung juga, gadis itu memeluk Kris semakin erat. Bau pria itu menbius dan begitu menenangkan. Membuat otaknya bermasalah. Tapi ini bukan cinta, ia tau dengan jelas kalau ini perasaan nyaman. Seperti memiliki seorang sahabat-kakak-musuh sekaligus.

 

“Menangislah. Selama yang kamu mau.” Bisik Kris pelan tepat di telinga Jessy. Jessy merapatkan tubuhnya dengan Kris dan menarik kemeja Kris semakin kuat sehingga membuat kemeja itu kusut. Gadis itu tidak bersuara, tapi Kris tau dengan jelas kalau kemejanya perlahan basah. Dan yang ia tau hanyalah, mengelus punggung gadis itu. Berusaha menghiburnya. Seperti yang dilakukan gadis itu 5 tahun yang lalu kepadanya.

 

**

 

Seorang gadis menaiki tangga dengan begitu semangat. Bukan lantai biasa. Tapi gadis itu lebih memilih untuk menaiki tangga emergency. Ruangan yang sempit, pengap dan jarang akan dilewati siapapun. Gadis itu mengikat rambutnya kebelakang dan membiarkannya terkibas seiring kakinya menaiki tangga itu satu-satu. Gadis itu menggunakan kaos tipis berwarna hijau lumut dan celana pendek selutut. Sebuah kalung menghiasi kaos tipisnya itu. Sementara sepatu nike berwarna senada melindungi kakinya. Walaupun hari ini ia terlihat tomboy, tapi gadis itu tetap cantik. Dan tentu saja lebih bersemangat.

 

Ini sudah lantai ke 8. Tapi sepertinya ia sama sekali tidak terlihat capek dan malahan bersemangat. Baru saja akan berbelok untuk naik kelantai 9, gadis itu terhenti. Ia mendapati seorang pria jangkung, rambutnya coklat sedang duduk disalah satu anak tangga. Gadis itu tidak bisa dengan jelas melihat wajah pria itu karena pria itu sendiri yang menutupinya.

 

Namun kemudian pria itu menurunkan tangannya dan terkejut ketika mendapati gadis itu berdiri disana saat membuka matanya, “Kamu.. Siapa?”

 

Gadis membulatkan matanya. Sekarang masih ada yang belum mengenalnya? Dan siapa pula pria dihadapannya itu? Mukanya tidak seperti orang korea. Seperti orang China jika mendengar aksen korea-nya yang berantakan namun tampan seperti blasteran.

 

Namun gadis itu lebih memilih duduk disebelah pria itu dan kemudian tersenyum, “Kamu kenapa?”

 

Pria itu tidak berkata apapun. Ia hanya terdiam.

 

“Kamu orang asing?”

 

Suara gadis itu begitu merdu ditelinganya. Tapi ia benci kata itu. Orang asing. Kenapa orang begitu menganggapnya asing? Dan kenapa mereka tidak bisa menerimanya menjadi bagian mereka? Pria itu, muak berada disini. Bukan saja ia lelah menghadapi semua ini, tapi juga karena ia rindu rumah. Merindukan kebebasannya yang terengut karena tempat itu.

 

Baru saja pria itu berdiri, gadis itu mengikutinya berdiri. Pria itu menatap datar gadis itu, sementara si gadis itu hanya diam dan menatapnya penuh senyum. Pria itu, Kris. Membelalakkan matanya tidak percaya ketika gadis itu tiba-tiba saja meraih pinggangnya dan memeluknya erat. Menguncikan kedua tangannya dipunggung Kris, memaksa Kris untuk menikmati kehangatan yang tidak pernah ia rasakan bertahun-tahun. Perasaan hangat ketika ia membutuhkan seseorang untuk dijadikan sandaran.

 

“Aku tau kamu baik. Aku pasti lelah dengan masa-masa trainne-mu. Aku begini karena aku tau kamu butuh seseorang untuk bersandar. Bagaimana kalau kamu menganggapku orang yang begitu kamu rindukan?”

 

Kris merasakan matanya panas saat itu juga. Ia begitu merindukan ibu-nya sekarang. Wanita itu yang selalu memberikannya kekuatan, tapi ia justru tidak bisa menemuinya disaat ia begitu membutuhkan ibu-nya itu. Tanpa sadar, Kris lebih memilih untuk menutup matanya dan memeluk gadis itu lebih erat. Tidak mempedulikan siapa gadis itu. Air mata perlahan menuruni pipinya, membuatnya semakin merasa tidak tenang.

 

“Kamu sudah melakukan yang terbaik. Perjalananmu bukan cuma disini. Masih panjang. Kamu pasti bisa. Menangislah. Selama yang kamu mau.”

 

**

 

Jessy baru saja akan menaikki van, namun tiba-tiba saja ia merasakan tangannya ditarik seseorang. Dengan cepat ia melihiat Luhan tersenyum kearahnya. Pria yang tidak ia ingin temuinya sekarang ini. Kris didalam van menatap Luhan bingung dan kemudian berpaling pada Jessy.

 

“Aku yang akan mengantarnya pulang. Aku membawa mobil. See you at dorm, Kris.”

 

Jessy langsung saja tertarik turun dari van dan mengikuti Luhan yang menariknya cepat. Tidak menanggapi Kris yang berterika memanggil mereka berdua. Luhan tersenyum kearahnya, dan kemudian meregangkan pegangannya dipergelangan gadis itu. Disaat Kris sudah tidak bisa meihat mereka berdua, Luhan berhenti dan melihat ke arah Jessy.

 

“Apakah sakit?” ucpanya pelan diiringi gelengan gadis itu. Senyum Luhan selalu tidak bisa membuat Jessy marah ataupun kesal. Pria itu selalu bisa membuatnya nyaman. Sama seperti 4 tahun yang lalu. Perlahan Luhan meraih tangan Jessy dan kemudian menautkan tangan mereka berdua dengan erat.

 

“Bagaimana kalau kita makan sesuatu? Aku yang traktir.”

 

Jessy kemudian hanya bisa menganguk dan mengikuti Luhan yang menuntun arahnya malam ini.

 

**

 

Kai baru saja keluar dari pintu belakang SM. Ia membawa sebuah ransel dipunggungnya dan sebuah botol ditangan kanannya. Luhan tiba-tiba saja muncul dibelakangnya. Namun sepertinya Luhan sama sekali tidak sadar dan malah berjalan tanpa memperhatikan Kai sedikitpun.

 

Kai menggeleng tidak mengerti lalu melanjutkan jalannya. Ia berjalan menuju pakiran dan disaat itu ia masih belum melihat mobil manager hyung. Ia tadi memang ditinggal makan oleh member lain karena harus rapat terlebih dahulu bersama Taemin setelah latihan bersama. Perutnya sendiri bisa dikatakan lapar luar biasa. Tapi ia tidak mengeluarkan keluhan sedikitpun.

 

Tiba-tiba saja langkah Kai terhenti ketika melihat Luhan, pria itu berdiri didepan mobil van putih. Seperti menahan seseorang pergi. Kai tidak mendekat. Ia hanya melihat dari jauh, tapi detik kemudian ia terkejut ketika melihat Luhan menarik seorang gadis keluar dan berlari bersamanya.

 

Detik kemudian Kris keluar dari van itu sambil berusaha mengejar mereka berdua. Dan Kai baru menyadari kalau tas-nya sudah jatuh, begitupun dengan nasib botol mineral yang dipegangnya. Tangannya lemas ketika ia melihat pakaian gadis itu, pakaian yang ingat karena baru melihatnya siang tadi. Dan apalagi ketika mendengar Kris dengan suara khas-nya memanggil nama Luhan serta gadis itu.

 

Semuanya, ia tidak bisa mempercayai semua hal ini.

 

**

 

“Lama sekali pizza-nya..” keluh Luhan sambil menggelembungkan pipinya sebal.. Jessy tertawa lalu menyentuhkan jari telunjuk-nya dipipi Luhan dan membuat Luhan semakin menggelembungkan pipinya. “Kamu imut sekali, Luhan-a.”

 

“Aku tidak suka dipanggil seperti itu.” Ucap Luhan cepat sambil menatap Jessy serius.

 

“Lalu?” jawab Jessy lebih seperti bertanya membuat Luhan kesal ditempatnya. Namun Luhan lebih memutuskan untuk mengecilkan suaranya dan menurunkan hoodie-nya lebih lagi. “Aku tau kamu begitu manly kok. Kamu kan kapten sepak bola di SMA dulu.”

 

Luhan mengerutkan keningnya bingung, ia tidak bisa mengingat apapun. Tapi akhirnya ia tersenyum, “Ceritakan apapun yang kamu tau tentangku.”

 

Jessy ditempatnya gantian untuk bingung. Jadi maksudnya Luhan seperti ingin menge-test seberapa kah gadis itu mengetahui dirinya? Tapi detik ketika gadis itu ingin bertanya kenapa, ia baru sadar kalau Luhan melupakan masa lalunya. Dengan kata lain, amnesia.

 

“Kamu.. Kapten tim bola di sekolah. Pria terpintar dan menjadi idola disekolah.”

 

Jessy geli ketika melihat Luhan tidur diatas meja sambil melihatnya dengan tatapan penuh arti tidak lupa senyumnya yang menawan, “Tapi waktu itu aku juga wanita tercantik dan banyak idola!”

 

“Arasseo! Kamu tidak usah segitu panik-nya.” Sahut Luhan dengan tawa ketika Jessy berusaha membela dirinya sendiri. “Walaupun begitu, kamu tidak playboy. Gentle dan selalu membantu orang lain. Terutama jika aku kesulitan mencari tameng waktu fansku menyerang.”

 

“Jadi kamu menggunakanku sebagai pelindungmu?” tanya Luhan dengan ekspresi tidak puas. Jessy tersenyum licik, “Kamu tidak pernah protes, kan?”

 

Luhan memilih untuk diam dan menyandarkan tubuhnya kekursi dan masih terus menatap Jessy. Mereka berdua sama sekali tidak sadar bahwa mereka tiba-tiba saja menjadi pusat perhatian disana. Mungkin semua yang disana tidak menyadari kalau mereka berdua adalah artis, tapi lebih kepada pasangan yang terlihat mesra dan begitu bersemangat tengah malam seperti ini.

 

“Baru.. Kamu hebat sekali dalam memasak!”

 

Luhan mendekat kearah Jessy, kemudian dengan bingung telunjuknya menunjuk tubuhnya sendiri. “Aku? Hebat? Dalam memasak? Kamu bercanda?”

 

“Iya! Setiap makananmu pasti enak.” Ucap Jessy antusias sambil membayangkan bekal yang dibawa Luhan untuknya. Namun Luhan terlalu shock, bagaimana bisa 4 tahun ini ia tidak tau apapun dalam memasak? Bahkan untuk membuat mie instan saja kadang masih terasa hambar.

 

“Mungkin amnesia membuatku kehilangan kemampuanku untuk itu.” Ucap Luhan polos membuat Jessy tertawa terbahak-bahak. Sampai-sampai gadis itu tersedak dan bergantian membuat Luhan tertawa. “Tapi kamu masih bisa menyanyi dan dance! Bahkan lebih hebat. Berarti amnesia tidak begitu parah membuatmu sampai melupakan hal yang kamu suka.”

 

“Permisi, ini pesenannya.”

 

Sebuah salah buah terhidang dihadapan Jessy terlebih dahulu lalu pizza dan beberapa minuman menyusul setelahnya. Pelayan itu tersenyum beberapa saat sebelum akhirnya mundur dan menghilang dari hadapan mereka berdua. Jessy dengan cepat mengambil garpu dan mengaduk-aduk salad itu. Luhan mengambil sepotong pizza lalu kemudian mengigit potongan kecil dan mengunyahnya pelan-pelan sambil memerhatikan Jessy. Gadis itu menyingkirkan apel ke piring lain.

 

Dia tidak suka apel?

Lalu, apakah Jessy dan gadis itu adalah.. Orang yang berbeda?

Sial.

Hal ini semakin membuatku bingung.

 

**

 

Jessy membawa berkas-berkas gambar yang ia bawa dari London dengan susah payah. Beberapa kali ia harus berhenti untuk merapikannya agar tidak ada satupun yang terjatuh. Tidak ada satupun orang yang berniat untuk membantunya. Kemungkinan besar karena mereka tidak mengenal Jessy, tidak ingin bergaul pada orang yang tidak dikenal. Kira-kira begitu dalam dunia keartisan. Jessy sendiri tidak peduli, ia justru bersyukur dengan keadaan itu. Ia sangat berharap bahwa tidak ada satupun orang yang membantunya apalagi bertemu dengan orang yang dikenalnya.

 

“Maaf, ini berkas anda ada yang terjatuh.”

 

Jessy terdiam. Ia mengenal dengan jelas suara siapa itu. Tidak merdu. Terkesan agak sexy dan manly. Suara yang ia hapal betul sekalipun ia sudah tidak mendengarnya kurang lebih 4 tahun.

 

Gadis itu tidak berbalik, tapi akhirnya pria itu yang memutarinya lalu berhenti dihadapannya. Jong-in. Atau Kai berdiri dihadapannya sambil menyunggingkan senyumnya, ia juga mengulurkan tangannya untuk memberikan berkas itu pada Jessy. Jessy mengulurkan tangannya ragu sambil memerhatikan Kai dari kacamata tanpa lensa itu. Ketika Jessy sudah mengambil berkas itu, Kai hanya membungkuk dan meninggalkan gadis itu tanpa memberi respond apapun.

 

Jessy seperti merasa kehilangan sesuatu. Pria itu tidak mengenalnya?

 

“AH!”

 

Jessy terkesiap ketika mendengar desahan pria itu, “Nona designer, tolong buatkan baju yang nyaman untukku ya! Dan aku rasa kamu harus melihat beberapa video perform-ku untuk melihat salah satu kebiasaanku. See you.”

 

Kebiasaan?

Apa kebiasaan pria itu?

Dan apa-apa-an sikap pria itu?

Dia tidak mengenalku?

Dia bercanda?

Kenapa semua ini menjadi sangat runyam?

 

**

 

Kai memasukki ruang dance dengan langkah lunglai. Ia tiba-tiba saja mendapati Luhan menatapnya, tapi pria itu hanya memalingkan wajahnya. Seolah dengan jelas menunjukkan ketidak sukaannya. Dan Luhan sama sekali tidak mengerti. Karena ini pertama kalinya Kai seperti ini padanya.

 

Biasanya Kai akan lebih memilih duduk disebelahnya ataupun D.O. Tapi hari ini beda, pria itu lebih memilih untuk duduk disebelah Sehun yang sedang bermain dengan handphonenya.

 

“AAA! HYUNG PULANG!” teriaknya gembira ketika Kai baru saja duduk disebelahnya. Ini yang paling tidak disukai Kai. Fans hanya tau kalau dia manja dan pendiam. Tapi sebenarnya pria itu suka sekali over reacting dan berteriak jika bersama mereka.

 

“Ada apa, Sehun-a?” tanya Luhan mendekat kearah Sehun. Cengiran lebar terlihat dibibir Sehun, “Hyung akan pulang. Hanhan-a, bukankah sudah kubilang kalau aku punya satu orang kakak laki-laki? Yang begitu aku sayangi! Tapi dia suka sekali menghilang. Pernah kan?”

 

Luhan menganguk sambil menerka-nerka data file yang tersimpan didalam otaknya. Setelah menganguk, ia baru mengingat semuanya. “Lalu kenapa?”

 

“DIA AKAN PULANG DAN MEMBAWAKANKU HADIAH! HORE!”

 

Kai memutar bola matanya malas sambil mengambil kasar handphone Sehun. Sehun ditempatnya menatap Kai sebal, “Mwo?”

 

Kai tidak memperhatikan Sehun. Masih asyik membaca e-mail yang dikirimkan kakak laki-laki Sehun. Saingan-nya dulu. Bagaimana Kai bisa melupakan pria itu?

 

From, XXXXXX@naver.com
To you

Dear Sehunie.
I’m going home ^^
 
How are you?
Pasti berat nih jadi artis popular ^^
Aku menemukan banyak penggemarmu di Amerika, dan aku harus mengatakan bagaimana mereka bisa menyukaimu? Jelas-jelas buing-buing itu gagal! Hahaaha ^^
 
Tidak usah ngambek begitu, aku hanya bercanda. Ketika kamu membaca e-mail ini, berarti aku sudah berada dipesawat dan akan segera kembali ke Korea. Aku sudah membawakanmu banyak sekali oleh-oleh. Karena itu aku akan menghubungimu lagi sesampainya aku di Korea. Okay?
 
See you at Seoul, Sehunie.
Love, Oh Su Ji.
 

 

**

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: ,

One thought on “EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 9

  1. Orihimeindi June 12, 2013 at 12:20 PM Reply

    Ige mwoyaaa???
    Jadi ceritanya hampir semua member exo punya kenangan ttg jesi nii???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: