EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 10

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Nimic”

 

 

 

*Title : Nimic.

*Sub Title : The Tenth – The Point is “You are mine”

*Main Cast :

  • Kim Jong In
  • Kim Je Si
  • Luhan
  • Han Soon Na

 

*Length : Series

*Genre : Romance, Artist Life, Real-Imagine Fiction

*Rating : PG-13

*P.S : Its time to show ^^  Sekarang FF ini berceritakan Jong-In & Luhan ditahun 2012. Kira-kira bagaimana hubungan mereka sebenarnya? Jangan pada bingung dan please support this fanfiction ^^ Cause this Fanfiction will be really really complicated ^^ And sorry for Soon-na shipper, sekarang lebih ke focus Kai-Jessy-Luhan story. Happy reading! Tulisan bergaris miring adalah masa lalu.

*Disclaim : SEMUA FANFICTION YANGDIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

Summary :

 

Gone. You’ve gone from my sight.

Regret always come at the end, right?

After leaving you, I’m searching you.

Am I selfish? Yes I am.

Im still here.

Waiting for you comeback or time will make me found you.

**

Time goes by.

And time still cannot kill my feeling.

Will that day come?

The reason why I’m gone

Is only to make you stay

And found me here

**

There’s something empty

I couldn’t find it out

And what can I do is only screaming without reasons

**

Are you okay there?

Did you miss me like I do?

Cause I really miss you so badly.

**

 

Jessy terdiam diatas meja kerjanya. Bukan meja kerjanya yang sebenarnya. Meja kerja karyawan yang digeser tempatnya karena keegoisan Soo-man yang ingin supaya Jessy mendapat tempat yang terbaik.

 

Kuku  gadis itu di cat sehingga berwarna gading, sebuah permata tertempel disetiap kuku gadis itu. Membuatnya terlihat cantik. Kuku itu mengetuk-ngetuk meja yang dilengkapi dengan PC yang berteknologi sangat canggih, mata-nya melihat lurus kearah layar yang terus di scroll down dan up.

 

Mulut gadis itu sesekali menganga atau bahkan teriak tertahan. Astaga. Ini benar-benar diluar dugaannya.

 

Telinga gadis itu disumbat dengan headphone yang menutupi seluruh telinga gadis itu. Terlebih lagi karena volume music itu mencapai maksimal. Sengaja, supaya dia bisa berkonsentrasi. Berkonsentrasi untuk membuat mata-nya terbuka lebih lebar, menatap 12 pria yang ada dilayar.

 

Ia cukup dikejutkan ketika melihat Kai, atau yang lebih suka Ia panggil Jong-in muncul pertama di showcase itu. Astaga. Tidak tau mengapa Jessy merasa bahwa tiba-tiba saja jantungnya ingin copot karena senyum pria itu. Baiklah, itu memang senyum yang selalu diberikan pria itu padanya. Senyum licik yang membuatnya merasa dipermainkan. Tapi gadis itu lebih tidak suka ketika mengetahui bahwa pria itu bukan hanya memberikan senyum itu padanya, melainkan ke jutaan wanita lainnya.

 

Tidak bisa dipungkiri, Jong-in bertumbuh menjadi pria dewasa yang memiliki tubuh elastis walaupun terlihat kurus. Sekujur tubuh pria itu memancarkan aura dan magnet yang membuat semua orang melihat kearahnya. Ditambah dengan wajah tampannya serta talentanya yang luar biasa, tidak sedikit wanita yang ingin mati setelah setidaknya dipeluk pria itu. Gila? Jelas. Karena Jessy pun merasa tidak bisa mengatur detak jantungnya sendiri karena pesona pria itu.

 

Bagaimana dia bisa menjadi semakin mempesona itu?

Sialan.

Dia tidak main-main mengatakan akan debut diumurnya yang sekarang.

 

Jessy terus saja mengamati pria itu. Ia tidak terkejut ketika mendapati banyak Jong-in-nya disetiap teaser EXO. Pria itu begitu bersemangat dan menikmati tarinya. Semua gerakkannya terlihat begitu nyata dan bukan koreografi, seperti memang dari awal dibuat pria itu untuk mengekspresikan dirinya.

 

Mata Jessy berbinar-binar ketika melihat Leeteuk. Leeteuk, oppa-nya yang sudah lama tidak dijumpai gadis itu. Leeteuk adalah leader Super Junior yang dulu ditugaskan Soo-man untuk menjaga gadis itu. Tiba-tiba saja gadis itu rindu akan pria itu, apalagi ketika mengetahui bahwa oppa-nya itu ikut We Got married. Ia ingin mengejek pria itu habis-habisan. Ia ingat dengan jelas usaha keras oppa-nya itu, dan seberapa besar pengorbanan Leeteuk saat harus menjaganya dan juga bekerja.

 

Jessy melihat Kris memberikan kursi-nya pada Leeteuk dari arah yang sangat jauh. Tanpa sadar senyum terukir dibibir Jessy.

 

Kamu sedang cari muka, huh?

Tapi kalau dipikir-pikir.

Kamu memang baik, Kris-a.

 

Satu persatu member mulai diperkenalkan. Akhirnya Jessy mulai tau dan hapal setiap member EXO. Sekali melihat saja, ia seperti sudah tau selera masing-masing mereka dan juga bagaimana karakternya. Jessy memang begitu, peka dan berpikir cepat. Ia juga selalu berusaha membuat baju yang terlihat nyaman untuk seluruh orang yang menggunakannya.

 

“Anyyeong haseyo, nama saya Kai. Dancing Machine EXO-K”

 

Kai.

Gadis itu masih belum bisa memanggil pria itu begitu. Ia lebih suka Jong-in. Melihatnya seperti ini semakin membuatnya tersiksa. Bagaimana tidak? Pria itu semakin membuatnya begitu mencintainya. Tapi bagaimana ia menjelaskan ini semua pada Jong-in? Apakah pria itu sudah tau kalau Jessy adalah Je-si. Kim Je-si-nya?

 

Tanpa sadar, Jessy menutup video showcase itu. Ia kesal melihat pria itu. Kesal sekali sampai ingin membanting PC mahal itu. Hatinya masih berdebar dengan sangat kencang, sekalipun ia sudah tidak melihat pria itu. Astaga ia benci sekali seperti ini. Tapi ia belum menemukan kebiasaan pria itu. Lalu bagaimana ia harus membuat baju pria itu?

 

Hembusan napas keluar dari mulut gadis itu. Sesekali, ia menepuk dada-nya sendiri seolah berharap akan mengurangi sedikit beban di hatinya. Ia mulai meletakkan tangannya diatas mouse dan membuka folder lain. Fancam Kai. Apakah SM juga mengumpulkan hal-hal seperti ini?

 

Didalam sana. Ada ratusan video fancam berkualitas HD. Beberapa darinya membuat Jessy sesak napas. Karena disetiap video itu, Kai akan menebarkan banyak senyum atau bahkan smirk. Jessy terkikik ketika mengetahui kebiasaan Kai yang tidak pernah hilang dari dulu. Memainkan bibirnya sendiri atau bahkan jari telunjuknya. Maka terkadang lipgloss tidak berguna untuknya, karena pada akhirnya akan cepat sekali hilang ketika pria itu memainkan bibirnya sendiri.

 

Diwaktu fansign, Kai biasanya menampilkan wajah cool-nya. Atau bahkan disaat dia sedang mood, ia akan banyak tersenyum, menebarkan banyak aegyo-nya sendiri dan membuat banyak sekali tanda love. Adegan favorit Jessy adalah ketika pria itu tersenyum lebar, berbeda sekali dengan distage. Dia seperti anak kecil yang polos, sementara di stage akan seperti pria yang sangat menggoda. Entah mengapa Jessy merasa bahwa ia menjadi suka akan setiap karakter Kai. Hanya saja ia merasa bahwa offstage adalah tempat dimana ia menjadi dirinya sendiri, karena itu Jessy lebih menyukai Kai yang manja. Seperti waktu dulu.

 

Di fancam selanjutnya, Jessy tidak tau kapan persisnya fancam itu. Tapi. Tiba-tiba saja ia melihat Kai dipapah, dan terlihat sangat pucat. Pria itu cedera. Begitu kira-kira yang Ia tau ketika pertama kali melihat Kai muncul disana. Lalu fan berteriak agak tidak terluka lagi. Perlahan Kai dengan cepat menganguk. Jessy merasa sangat bersalah ketika ia ternyata tidak ada disisi pria itu. Padahal ia sudah berjanji akan berada disisi pria itu jika sakit, menemaninya sampai sembuh.

 

Baiklah cukup untuk hari ini. Jessy memutuskan untuk mengumpulkan semua fancam itu dalam hardisk dan akan menontonnya di hotel. Untuk sekarang, ia mengalami banyak sekali tekanan. Terutama untuk fancam terakhir yang ia tonton. Ia menjadi sangat khawatir akan pria itu.

 

**

Kris mendorong pintu kaca itu lalu menghampiri 11 orang yang sudah duduk melingkar dilantai sambil bercakap-cakap. Mereka semua sangat ribut sampai suara mereka bahkan bisa didengar dari luar ruangan yang tertutup ini. Jessy tiba-tiba saja terdiam ketika berdiri didepan pintu itu. Jantungnya berdebar sangat keras sampai ia rasanya ingin cepat-cepat lari dari tempat itu. Ketika Jessy memberanikan diri untuk melihat kedalam ruangan itu, ia langsung melihat mata pria itu. Astaga. Benar-benar licik dan membunuh. Jessy bisa langsung menangkap ejekkan dari pria itu sebelum akhirnya pria itu sendiri yang memalingkan wajahnya dari gadis itu.

 

Kris berhenti dan menoleh kearah pintu, ia menggeleng kepalanya tidak percaya ketika melihat Jessy tidak juga masuk. Akhirnya ia kembali keluar dan menarik tangan gadis itu untuk masuk. Jessy tidak berbuat apa-apa, ia tidak bisa lari dari tempat itu.

 

Kemudian Jessy serta Kris berhenti, 11 orang itu berbalik dan dengan cepat berdiri. Chanyeol serta Baekhyun langsung saja tersenyum cerah ketika melihat Jessy, namun sepertinya gadis itu sama sekali tidak memperhatikan.

 

“Ini siapa?” Tanya Chanyeol polos sembari maju beberapa langkah dan mengulurkan tangannya.

 

“Dia designer kita. Biarkan dia duduk dulu.” Jawab Kris cepat sambil melirik kearah Jessy.  Tiba-tiba saja Jessy terkesiap ketika melihat tangan Chanyeol didorong kebawah dan pegangan tangan Kris ditangan Jessy pun terlepas. Jessy melihat kebelakang dan mendapati pria itu disana, Kai berdiri dibelakangnya. Pria itu menyentuh bahu gadis itu, “Duduklah. Aku akan membantumu.” Bisiknya pelan. Detik itu juga perlahan Jessy turun dan duduk dilantai kayu yang dingin itu. Kai dengan sigap menutupi paha gadis itu dengan jaket yang baru saja dilepaskannya. Kemudian duduk disebelah gadis itu. Kai sama sekali tidak memperhatikan tatapan 11 orang yang heran melihatnya.

 

Jessy duduk ditengah ruangan. Menjadi pusat perhatian 12 mata yang menatapnya penasaran. Tidak ada satupun kalimat yang keluar dari mulut gadis itu sehingga membuat beberapa dari mereka memutuskan untuk diam atau berbisik-bisik untuk bertanya.

 

Kris menatap Suho. Suho menatap Luhan yang tidak melepas pandangannya sedikitpun dari Jessy yang duduk ditengah-tengah mereka. Luhan tidak mengerti kenapa Jessy sama sekali tidak mau menatapnya. Luhan juga tidak mengerti mengapa Kai tiba-tiba saja memperlakukan Jessy begitu baik seolah ia sudah terbiasa untuk melakukannya. Padahal Luhan tidak pernah melihat Kai berbuat hal itu pada manapun, ia tidak pernah melihatnya sehingga terlalu aneh melihat Kai begitu hebat.

 

“Jadi, siapa namanya?” Tanya Chanyeol lagi dengan polos. Kali ini Jessy mengangkat kepalanya dan memberikan senyum tulusnya, gadis itu menarik napas panjang, “Annyeong haseyo, namaku Jessy Han. Kalian bisa memanggilku Jessy. Dan bagi siapapun yang diatas 90line harus memanggilku noona.”

 

Gadis itu terhenti sesaat lalu menatap Kai yang berada disebelahnya. Kai sama sekali tidak menghiraukannya. Ia tidak pernah berniat sedikitpun untuk memanggil gadis itu noona lagi. Gadis itu miliknya. Bukan kakaknya.

 

Jessy sedikit ngeri ketika mendapat tatapan pria itu, terkesan dingin. Seperti ia menolak gagasan itu mentah-mentah melalui tatapannya. Namun Jessy tidak menghiraukannya, “Aku adalah designer kalian. Aku akan membantu kalian membuat baju yang akan kalian sukai dan nyaman untuk digunakan.”

 

Detik itu juga, suasana ruangan itu menjadi ramai. Apalagi ketika Chanyeol dan Baekhyun menatap Jessy dengan mata yang berbinar-binar. Jessy kemudian berdiri, dan membungkukkan tubuhnya, “Senang berkenalan dengan kalian semua.”

 

“Park Chanyeol imnida!”

“Byun Baekhyun imnida! Aku adalah lead vocal EXO-K” teriak Baekhyun mengikuti Chanyeol, lalu mereka berdua berdiri untuk menyalami Jessy.

 

“Do kyung so imnida.” Ucap D.O kalem, Chen disebelahnya berdiri, “Kim Jong Dae imnida. Member EXO-M.”

 

“Kalau aku Bakpao! Hahahaha.. Kamu bisa memanggilku Xiumin. Aku harus terbiasa dengan nama itu.” Ucap Xiumin gembira sambil menggelembungkan pipinya membuat Jessy tertawa.

 

Kemudian, maknae dengan lingkar mata dalam itu berdiri. Jessy sedikit merinding ketika pria itu menatapnya tajam dan juga ketika mengetahui kenyataan pria itu cukup tinggi, “Eng.. Tao imnida..” Katanya pelan dengan nada yang malu. Jessy hampir tertawa mendengarnya. Ternyata pria itu begitu lembut dan pemalu.

 

“Aku Lay. Zhang Yi Xing. Kamu bisa memanggilku Yixing. Aku anggota EXO-M”

 

Jessy menjabat tangan Lay yang tersenyum padanya. Pria itu kurus, tapi ketika menyentuh tangan Lay yang kuat dan halus, ia tau kalau Lay adalah pekerja keras yang baik. Senyum dibibir Lay itu seperti memberi ketenangan. Perasaan itu tiba-tiba saja mengalir dalam dirinya.

 

7 orang yang berdiri itu kemudian melihat kearah Kris, Suho, Kai, Luhan serta Sehun yang tidak berdiri. Mereka mengerti kalau Suho serta Kris tidak berdiri, tapi tidak mengerti kenapa Luhan, Kai serta Sehun tidak berdiri. Tapi kemudian Luhan berdiri dan mengulurkan tangannya, “Kita sebenarnya tidak perlu berkenalan. Tapi sepertinya semua akan bingung. Namaku Luhan, senang berkenalan denganmu.”

 

Jessy membalas uluran tangan Luhan dengan kikuk. Tapi setidaknya Jessy bisa bernapas lega untuk tidak bertanya apapun padanya saat ini.

 

Kemudian Luhan menatap Sehun yang diam ditempatnya. Pria itu sama sekali tidak mau menatap Jessy sama sekali. “Noona kemana saja selama ini? Semua mencari noona.”

 

Detik itu, Jessy merasa jantungnya berhenti tiba-tiba. Nada suara itu biasa, memang seperti bertanya. Tapi ia tau maksud darinya. Sehun-nya ternyata juga bagian dari EXO. Ia tidak menyadari sama sekali karena sedari tadi ia menunduk. Semua member EXO menatap Sehun tidak mengerti, terkecuali Kai yang hanya diam dari tadi. Ia tau kalau Sehun akan bertanya ini pada Jessy, itu menguntungkannya. Ia jadi tidak perlu bertanya pada Jessy.

 

“Aku.. Ke London. Kuliah Designer disana.”

 

Sehun kemudian menatap Jessy dan berdiri mendekat, “Lalu bagaimana noona bisa meninggalkan keluarga noona begitu saja? Fans noona? Semuanya? Tanpa mengabarkan apapun selama 4 tahun. Apakah begitu menyenangkan?”

 

Sehun tidak bisa mengontrol emosi-nya. Ia menganggap Jessy seperti kakak perempuannya, sehingga ketika ia kehilangan Jessy, tentu saja ia akan merasa sakit dan kesepian. Jessy merasa suaranya tertahan ditenggorokannya. Kris dan Suho menatap Sehun lebih penasaran. Sedangkan Chanyeol dan Baekhyun hanya bisa berdiskusi dibelakang.

 

“Dan bagaimana noona bisa meninggalkan tunangan noona sendiri?”

 

Detik itu juga, Luhan serta Kai terkejut.

 

Tunangan?

Jessy punya tunangan?

Bagaimana bisa?

Tidak mungkin aku, kan?

Lalu bagaimana Sehun bisa mengetahui segalanya tentang masa lalu Jessy 4 tahun lalu?

Kai segera beranjak dari tempatnya, lalu menghampiri Sehun. Sehun menatap Kai dengan pandangan tidak percaya. Sehun bahkan tidak mau mundur sama sekali sekalipun Kai sudah mendorongnya kebelakang. Kai tau kalau Sehun tidak bisa ditahan kalau sudah emosi, tapi ia sudah cukup keterlaluan. Kai tau Sehun sedang membelanya, menggantikannya untuk bertanya, tapi Kai rasa ia tidak perlu tau. Asalkan gadis itu kembali, baginya itu sudah cukup.

 

“Kenapa?” Tanya Sehun tetap dingin. Jessy perlahan mundur, tapi Sehun menahan tangan gadis itu kuat. Kai dengan segera berdiri didepan Sehun, dengan kasar melepaskan genggaman Sehun dipergelangan tangan Jessy. Sehun kemudian berpaling menatap Kai tidak mengerti. Walaupun selama ini ia bertindak polos, ia tau seberapa tersiksanya Kai. Ia mengenal Kai dengan baik sekalipun Kai tidak pernah menceritakan apapun padanya. Ia tau seberapa hancurnya Kai ketika Jessy menghilang. Pria itu gantian mengurung dirinya sendiri di kamar, tidak mau bertemu siapapun. Kai, pria itu menghukum dirinya sendiri.

 

Mungkin Kai akan tetap seperti itu jika tidak Lee Soo Man sendiri yang mengunjungi pria itu. Mengatakan kata-kata ajaib untuknya.

 

“Jadilah terkenal. Jika Je-si kembali nanti saat kamu sudah terkenal, kamu bisa menahan gadis itu seumur hidupmu. Sesuai janjinya padamu. Kembalilah, aku akan membuatmu terkenal dengan pasti.”

 

“Sudahlah, Sehun-a!” Teriak Kai akhirnya. Tapi Sehun menatap Kai dengan tidak tenang, “Lalu kenapa kamu meninggalkan Jong-in? Tunanganmu yang mencintaimu habis-habis-an, noona?”

 

Semuanya menoleh kearah maknae itu, kemudian kearah Kai serta Jessy yang membeku. Jessy menggenggam tangan Kai kuat tanpa sadar. Seolah menyalurkan perasaan bersalahnya yang tak terkira. Kai tau Jessy tersiksa. Awalnya ia juga hanya ingin mengerjai gadis itu sedikit, ia tidak marah gadis itu pergi. Karena setidaknya gadis itu kembali. Itu jauh lebih baik dibanding harus kehilangan gadis itu seumur hidup.

 

Luhan berdiri dibelakang Sehun, ia menatap Sehun tidak percaya. Kenapa semua ini semakin membingungkan? Kenapa sekarang, Jessy adalah tunangan Kai? Bagaimana ini semua bisa terjadi? Lalu siapakah dirinya? Lalu siapakah gadis yang ada didalam mimpinya?

 

“Sehun-a, itu urusanku. Bukan urusanmu. Hyeong-a, aku pergi sebentar.”

 

Suho menganguk ketika Kai melihat dan berbicara kepadanya. Tak lama kemudian Kai berbalik dan menatap Jessy yang tertunduk. Lalu Kai tanpa ragu menarik gadis itu menjauh dari 11 orang itu, menjauh dari ruangan itu. Mencari tempat untuk mereka berdua.

 

**

Tangan pria itu masih basah sehabis pergi ke toilet. Su-ji bersiul-siul sambil duduk diatas kursi pesawatnya. Excecutive Class. Ia tidak pernah suka duduk dibagian economy. Alasan paling simple-nya adalah karena kakinya panjang.

 

Ia mengeluarkan iPod dari dalam backpack-nya dan meletakkan backpack itu dilantai. Ia membuka tutup tempat permen favoritnya dan memasukkin satu butir kedalam mulutnya. Rasa lemon yang segar itu segera saja menyebar didalam mulutnya. Mengurangi sedikit mualnya.

 

Seorang pramugari berhenti sebentar didepannya, membuat Su-ji harus melepaskan iPod-nya sebentar. “Excuse me, sir. Is there something that you need?”

 

Su-ji melempar senyum manisnya pada pramugari itu, ia maju mendekat. “Yes. Your phone number, maybe?”

 

Pramugari itu menatapnya tidak percaya awalnya, lalu kemudian semburat merah muncul dipipi gadis itu. Padahal awalnya sudah merah. Gadis itu menyisipkan rambut pendeknya kebelakang telinga dan membalas tatapan Su-ji malu-malu.

 

Su-ji tersenyum, “You don’t need to be so shy. You are so pretty. So its normal right if I asking your phone number?”

 

Pria itu terlalu jelas. Kalau bukan karena wajah tampan Su-ji, mungkin pramugari itu akan segera tersenyum sopan dan menghilang. Su-ji terlalu sayang untuk disayangkan, apalagi kalau mengingat pria itu kaya. Jelas, Su-ji duduk di kursi excecutive saat itu.

 

“Ehem, what are you guys doing? Is there something that you need, sir?” Ucap seorang pramugara yang berdiri dibelakang pramugari itu. Su-ji tertawa sesaat ketika melihat wajah cemburu wajah pria tampan dengan mata biru itu, “Nope, I’m asking for her phone number because she is pretty. But if she already taken, I just want a glass of water.”

 

Pramugari itu menatap garang pramugara itu, lalu melenggang pergi untuk mengambil air putih. Pria tadi hanya menatap gadis itu tidak percaya lalu meninggalkan Su-ji. Su-ji kemudian hanya berterima kasih ketika mendapat sebotol mineral dingin dan bukannya segelas, ia membuka tutup botol itu cepat dan menegak air itu beberapa kali.

 

Tangan Su-ji beranjak membuka penutup jendela, matanya kemudian berpaling kearah jendela yang terbuka disampingnya. Su-ji menatap langit hitam itu. Masih ada beberapa jam sebelum akhirnya ia sampai ke Korea. Sudah sekitar 12 jam ia duduk disana. Sudah melakukan apapun. Mulai dari tidur, makan sampai menggoda pramugari sedikitpun. Ia sangat rindu Korea, Seoul. Merindukan keluarganya dan juga masa lalunya.

 

Namun semenjak tadi, Su-ji sendiri terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri dan bahkan tidak sedikitpun memperhatikan lingkungannya. Ia bahkan tidak tau kalau ia duduk didalam pesawat yang sama dengan salah satu masa lalunya.

 

**

 

Jessy turun dari dalam Van. Disusul dengan Kai yang sudah menggunakan jaket-nya. Kai awalnya berdiri disebelah Jessy, tapi sekarang pria itu kembali meraih tangan Jessy. Menautkannya dengan tangan gadis itu. Jessy melihat mata Kai yang menatapnya lembut. Berbeda jauh dengan apa yang dibayangkan gadis itu.

 

Perlahan, Jessy kembali melangkah. Masuk kedalam apartement itu. Ya, mereka berdua kembali masuk kedalam gedung itu. Dimana 4 tahun yang lalu, mereka tinggal diruangan apartement yang berbeda namun bersebelahan. Tempat jutaan memori pernah mereka rangkai bersama.

 

**

 

Setelah sampai di Apartement Kai, Kai langsung menyuruh gadis itu duduk diatas sofa diruang tengah. Apartement itu masih terawat, sangat terawat. Tidak seperti apartement disebelah. Mata Jessy menjelajah isi apartement itu. Masih sama seperti terakhir kali ia datang. Tempat itu tidak berubah, masih bersih dan seperti sedia kala.

 

Mata Jessy tidak mendapat bayang Kai. Sehingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk berdiri dan menyusuri isi apartement itu. Tidak ada yang menarik untuknya. Tapi Jessy penasaran dengan kamar Kai, tempat yang sudah lama sekali ingin ia datangi. Tempat itu pasti dipenuhi bau Kai, bau Jong-in yang begitu ia rindukan.

 

4 tahun yang lalu, Jessy selalu tertawa ketika mendapati kamar pria itu berantakan. Terkadang malah sangat kotor. Tapi ketika gadis itu ingin, ia akan memaksa untuk tidur dikamar itu dengan berbagai alasan. Ia aman bersama dengan Jong-in. Ia mempercayai Jessy habis-habis-an, sehingga ia seperti tidak punya alasan lagi untuk tidak mempercayai pria itu.

 

Kaki Jessy berhenti didepan pintu itu, ia memandang pintu itu sesaat. Seperti ragu akan masuk atau tidak. Tapi akhirnya, tangan Jessy berhenti diatas kenop pintu itu. Dan kemudian membuka pintu itu sambil menguatkan hatinya.

 

Bau Jong-in menyeruak keluar. Membuat Jessy merasa nyaman seketika. Tapi matanya membulat tidak percaya ketika mendapati kamar itu berantakan. Hanya berantakan dilantai. Karena kasur pria itu bersih, hanya lantai saja. Lantai itu dipenuhi banyak foto. Foto Jessy. Dalam berbagai ekspresi. Foto mereka berdua, dari awal bertemu sampai terakhir kali bertemu. Jessy bisa mengingat memori itu dengan baik. Semua foto itu terulang begitu saja didalam otaknya.

 

Jessy menggigit bibirnya kuat. Selama 4 tahun ini ia berusaha untuk melupakan Kai, Kim Jong In mati-matian. Sedangkan pria itu mati-matian mencarinya. Apakah ia tidak begitu jahat?

 

Air mata meleleh begitu saja pipinya, matanya panas dan air mata itu nyaris membuat matanya tidak bisa terbuka dengan baik. Mulut gadis itu bergetar hebat sehingga ia tidak bisa berkata apapun. Ia merasa begitu jahat padanya.

 

“Jangan menangis.”

Suara itu membuatnya semakin Jessy menangis lebih kuat. Hangat menyergap tubuhnya ketika Jessy memeluknya dari belakang. Suara itu terdengar jelas di telinganya sehingga ada rasa geli tersendiri bagi gadis itu. Tangan pria itu memeluk pinggangnya kuat seolah tidak ingin gadis itu berpindah, se-cm sekalipun.

 

“Je-si-a, jangan menangis.”

“Aku.. Maaf.”

 

Kai menggelengkan kepalanya dibahu gadis itu, Kai menghirup napas banyak-banyak dileher gadis itu. Bau gadis yang sangat dirindukannya. Ia ingin memeluk gadis itu semenjak kemarin, semenjak ia tau kalau Jessy adalah Je-si-nya. Ia berusaha menahan habis-habis-an perasaan yang begitu menggebu-gebu itu. Memeluk gadis itu, mendengarkan suaranya.

 

“Aku sangat merindukanmu. Sepertinya itu kata-kata yang lebih ingin kudengar.”

 

Jessy melepaskan tangan Kai cepat lalu berbalik untuk memeluk Kai lagi. Jessy menangis kuat dipelukkan Kai, ia mencengkeram kemeja Kai kuat sambil sesekali memukul pundak pria itu. Kai tertawa, “Lalu kenapa aku harus dipukul?”

 

“Kamu menyebalkan! Kamu tau kalau kemarin itu aku. Lalu kenapa kamu harus menyiksaku?”

 

“Bukannya kamu tidak ingin bertemu denganku?” Ucap Kai tidak yakin. Ia sebenarnya tidak ingin mengucapkan hal ini, hanya saja Kai penasaran. Ia ingin tau kenapa gadis itu menghindarinya. “Aku takut. Aku takut kalau kamu menghindariku. Seperti 4 tahun yang lalu.”

 

Hati Kai terenyuh, gadis itu takut padanya. “Aku tidak mungkin menolakmu, Je-si-a. Aku merindukanmu. Sangat mencintaimu. Aku maaf.”

 

Seulas senyum terlihat dibibir Jessy, “Aku juga.”

 

“Kamu masih tunanganku Je-si-a. Aku sudah terkenal sekarang. Kamu tidak bisa lari dariku. Sedikitpun. Kamu harus menepati janjimu.”

 

Jessy mendorong tubuh Kai, ia mencari mata Kai. Pria itu mengeluarkan senyumnya lagi. Senyum liciknya. Membuat Jessy sebal, “Siapa bilang? Aku tidak akan!”

 

“Tidak akan apa?”

 

“Menikah dengan..”

 

Kai menarik gadis itu mendekat, menangkupkan tangannya diwajah gadis itu dan mengecup bibir itu cepat. Ia kemudian melepaskannya sedetik kemudian, membuat Jessy masih tidak mengerti dan tidak terbiasa sengatan listrik dibibirnya tadi. “Kamu menolak? Jangan harap. Aku akan benar-benar menahanmu sehingga tidak bisa kemanapun.”

 

Kalimat itu penuh percaya diri, membuat Jessy tidak bisa mengeluarkan kalimat apapun. Apalagi ketika sesuatu tersemat di jari manis tangan kanan gadis itu, emas putih tipis bermatakan permata yang berkilat begitu indah.

 

“Ini sudah kusiapkan 4 tahun yang lalu. Sebelum aku salah paham. Aku mengerti setelah mendengar rekamanmu. Maafkan aku. Karena salah paham dan juga terlalu lama menahan dirimu disisiku.”

 

Jessy kembali memeluk Kai, Ia lebih kuat memeluk pria itu. Menghirup sebanyak-banyaknya bau pria itu, bau mint yang dirindukan Jessy mati-mati-an.

 

**

Jessy menutup pintu itu kasar. Lalu kemudian tubuhnya merosot ke lantai. Kakinya sedari tadi sudah sakit, apalagi ketika high heels itu mulai menggoyahkan tubuhnya. Make up gadis itu sudah tidak beraturan, sangat tidak beraturan. Eyeliner-nya meleleh sehingga terlihat mengerikan. Tatanan rambutnya yang sangat indah, sekarang sangat berantakan. Secara keseluruhan, gadis itu lemah dan lelah. Ia sedari tadi menangis.

 

Ia tidak bisa mengejar Jong-in. Gadis itu kemudian masuk ke apartementnya. Memilih untuk menggunakan tangga darurat supaya bisa menangis sepuasnya. Ia tidak ingin satupun orang melihatnya menangis. Perasaan sakit itu menggerogoti tubuhnya.

 

“Otokhe?”

 

Hanya kata-kata itu yang mampu gadis itu ucapkan selain mengumpat dirinya dan berteriak menyesal. Dengan kasar, Je-si menarik high heels kesayangannya itu sampai lepas dari kakinya yang sekarang sudah penuh luka itu. Kakinya yang lemas perlahan menuntun tubuhnya untuk berdiri, sambil menyentuh segala barang yang bisa menopang tubuhnya, Je-si akhirnya sampai didepan pintu kamarnya sendiri.

 

Matanya berair ketika ia mendapati sebuah sketsa dirinya dan Jong-in di dinding kamar itu. Hadiah dari pria itu sekitar 3 bulan lalu, saat mereka mengunjungi Thailand bersama untuk berlibur. Pria itu sama sekali tidak mau di foto, tapi tidak menolak untuk digambar jika bersamanya.

 

Gambar itu menunjukkan ekspresi Jong-in yang sebenarnya. Ekspresi pria itu menatap malu Je-si selama proses menggambar. Pipi pria itu merona, bahkan sampai ketelinganya. Namun entah mengapa, Je-si bahkan sama sekali tidak sadar sampai gambar itu jadi. Gambar ini menjadi ejekkan Je-si untuk Jong-in selama seminggu.

 

Disaat Jong-in meninggalkannya, ekspresi pria itu sakit dan terluka. Sekalipun yang ditunjukkan pria itu kebanyakan adalah topengnya. Melihat sketsa itu membuat Je-si menangis lebih keras sampai terjatuh keatas kasur tanpa sadar

 

Tangan Je-si meraih tas-nya dan merogoh untuk mencari ponsel-nya. Dan lagi-lagi ia mendapati banyak sekali pesan serta telepon dari pria itu.

 

“Je-si-a, neo eoddiya?”

 

Itu pesan suara yang sedari tadi dikirim Jong-in untuk Je-si. Suara pria itu semakin menumbuhkan rasa rindu dihati Je-si. Membunuh Je-si perlahan. Dengan kesadaran penuh, Je-si memencet tombol balas pesan suara tadi.

 

“Jong-in-a. Nan.. Mianhae. 4 tahun yang lalu saat bertemu denganmu..”

 

Je-si duduk diatas kasur lalu kemudian mulai meneteskan air mata lagi, “Aku bahagia sekali. Ketika melihat senyum licikmu, aku seperti sangat tertarik. Biasanya orang selalu menuruti permintaanku, tapi kamu berbeda.”

 

Seulas senyum terukir dibibir gadis itu, “Lalu setahun kemudian kita dijodohkan. Aku awalnya tidak setuju sama sekali. Tapi, entah bagaimana.. Kata-katamu membuatku menyetujuinya.”

 

“Jong-in-a..”

 

Suara gadis itu tertahan. Ia mulai sesengukkan parah sampai tak bisa berkata-kata, “Kamu tetap disisiku, sekalipun aku selalu mempermainkanmu, sekalipun aku selalu tidak mendengarkanmu, sekalipun aku selalu meremehkanmu.”

 

“Semua perbuatanmu. Membuatku merasa terlalu jahat. Sampai sekarang aku tidak mengerti. Aku senang kamu berada disisiku. Tapi entah mengapa, aku tidak tau apakah ini cinta. Apakah aku hanya terbiasa denganmu?”

 

“Pria itu Luhan. Teman SMA-ku. Dia memiliki orang yang sangat ia cintai. Aku tidak bisa masuk ketengah-tengah mereka. Dan disaat yang sama juga, kamu meminta kepastiaan akan kehadiranmu. Kepastiaan akan perasaanku padamu.”

 

Je-si mengusap air matanya dan mulai menidurkan kepalanya diatas bantal yang entah mengapa menjadi sangat nyaman baginya, “Aku merasa sesak setiap aku tidak melihatmu. Aku seperti merasa tidak rela ketika kamu meninggalkanku. Aku ingin kamu tetap disisiku. Apakah ini cinta? Aku tidak bisa mengerti, Jong-in-a. Bisakah kamu jangan menyerah? Bukankah kamu..”

 

“Akan berusaha sampai aku mencintaimu?”

 

**

 

Tangan Jong-in terkepal begitu saja ketika ia baru berhenti melangkah. Matanya menangkap sesuatu yang membuat hatinya terasa sakit luar biasa. Nafasnya masih tidak beraturan, bahkan tubuhnya masih gemetar antara kelelahan juga kedinginan. Gadis itu, yang sedari tadi dicarinya beranjak dari tempatnya untuk memeluk seorang pria. Dan hal yang lebih menyakitkan lagi adalah, pria itu bukan dirinya.

 

Deru nafas Jong-in semakin lebih tidak beraturan ketika amarah naik keubun-ubunnya. Seluruh tubuhnya memerintah untuk menghampiri gadis itu dan melepaskan gadis itu dari pria yang dipeluknya. Tapi hati kecilnya berkata lain.

 

Tunggu.

Tunggu sebentar lagi, Jong-in.

 

Tapi kesabarannya malah membuat pria itu semakin terluka. Jong-in menatap nanar gadis itu dari kejauhan. Jong-in berdiri jauh dari gadis itu, tapi gadis itu berdiri menghadap padanya. Ia selalu bisa membaca gerak bibir gadis itu sekalipun tanpa mendengar suaranya.

 

Jong-in perlahan memutar tubuhnya. Matanya menatap langit hitam yang gelap hari itu dengan mata berkaca-kaca. Tangannya bergerak sekali-kali untuk memukul dada-nya sendiri yang terasa sesak. Sakit karena mengetahui kenyataan yang pahit.

 

Ia sedang membelakangi gadis itu. Tapi malahan ketika ia menutup matanya, kejadian beberapa menit yang lalu kembali berputar didalam otaknya. Memori dimana gadis itu mengucapkan Saranghae kepada yang lain dan bukan dia. Lebih parah sakitnya dibanding gadis itu terus-terusan memanggilnya anak kecil.

 

Kamu memaksaku untuk mendorongmu menjauh, Je-si-a.

Kalau begini bagaimana aku bisa bertahan.

Kalau seandainya kamu bahkan susah untuk membuka hatimu bagiku dan mudah bagi yang lain.

Lalu apakah aku bukan apa-apa bagimu?

Apakah aku selama ini yang menjadi parasit bagimu?

Apakah aku menyusahkanmu?

Apakah selama ini aku tidak ada artinya bagimu?

Apakah..

Sedikitpun kamu tidak pernah mencintaiku?

 

**

 

Seharian Je-si duduk dibelakang pintu apartementnya. Tidak makan, tidak minum. Apakah ia bernapas? Tentu saja. Tapi jiwanya tidak disini tentu saja. Yang disini hanya tubuhnya.

 

Sesekali gadis itu menggerakkan tangannya untuk melihat sebuah foto yang sedari tadi dipegangnya. Foto kenangannya dengan Jong-in. Kenapa harus dia lagi? Kenapa Je-si tidak bisa berhenti untuk merindukannya? Kenapa ini semua lebih sakit daripada mengetahui kenyataan tidak bisa masuk diantara Luhan dan Soon-na. Lebih sakit dibanding mengetahui cinta pertamanya bertepuk tangan.

 

“Ting… Cklek..”

 

Je-si kaget ketika mendengar suara aneh itu. Suara orang memasukkan password lalu pintu dibuka. Tepat disebelah apartementnya. Je-si tau kalau itu suara pintu apartement Jong-in. Ia tau dengan jelas. Gadis itu dengan segera berdiri, lalu membuka pintu apartementnya sendiri. Ia berputar dan mendapati pintu Apartement Jong-in terbuka. Ia bahkan sempat melihat tatapan Jong-in. Ketika pintu itu sepenuhnya tertutup, Je-si sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Ia masih terlalu takut melihat tatapan Jong-in.

 

Beberapa menit kemudian Je-si mulai maju dan menggedor pintu apartement itu. Tidak kuat, sehingga mungkin tidak cukup kuat untuk terdengar.  Tapi ia terus menggedor pintu itu, seolah menunjukkan kepasrahannya.

 

**

 

Je-si menggeliat sesaat ketika ia merasakan sesuatu yang empuk disekujur tubuhnya. Ketika tubuhnya sudah sampai diatas kasur yang begitu empuk, gadis itu langsung memeluk guling yang disebelahnya.

 

Tangan Jong-in yang awalnya ada di pinggang gadis itu, perlahan mulai ditariknya. Tapi sekejap saja Je-si langsung menarik tubuh Jong-in mendekat, memeluk erat Jong-in kuat. Gadis itu tersenyum ketika bau mint menyeruak dihidungnya. “Jong-in-a..” Erang gadis itu dalam mimpinya. Seketika itu juga Jong-in langsung membeku ditempatnya. Ia terlalu dekat dengan gadis itu, sampai nafas serta detak jantung gadis itu terdengar jelas ditelinganya.

 

“Je-si-a, mianhae.”

 

Jong-in menarik napas panjang, kepala-nya masuk kesela-sela pundak dan telinga Je-si. “Apakah aku begitu mengganggumu? Aku pasti tidak bisa menyayangimu sebaik pria itu kan sehingga kamu tidak bisa mencintaiku?”

 

“Aku sakit, Je-si-a.” Bisik Jong-in dengan suara yang lebih pelan. Perlahan air mata turun kepipi Jong-in lalu jatuh diatas kasur.

 

“Aku tidak akan mendengarmu, Je-si-a. Kamu tidak perlu menjelaskannya. Membuatku berharap lebih banyak.”

 

Perlahan Jong-in bangun karena merasa pelukan Je-si mengendur. Ia mengusap air matanya sendiri, namun nyatanya air mata itu tetap jatuh. Jong-in menundukkan kepalanya mencium tangan gadis itu lama. Lalu ketika bangun, tangannya tidak bisa dihentikan untuk tidak membelai rambut dan pipi gadis itu.

 

“Aku melepaskanmu, Je-si-a. Gumowo.”

 

Detik itu juga, Jong-in berjalan menjauh kearah pintu kamar Je-si. Setelah keluar dari sana, ia mematikan lampu kamar Je-si dan beranjak untuk menutup pintu itu pelan-pelan. Sesaat kemudian, kaki Jong-in sudah keluar dari Apartement Je-si dan matanya mendapati koper hitam besar yang berdiri tegak didepannya. Ia mengambil napas sebanyak-banyak dan mengeluarkannya sedikit-sedikit.

 

Ketika tangan Jong-in menyentuh tarikan koper itu, hatinya berteriak. Tidak ingin pergi sedikitpun dari gadis itu. Tapi pada akhirnya yang dilakukan Jong-in adalah menarik koper itu dan berjalan menjauh dari apartement Je-si. Keluar dari Apartement itu. Dari tempat kenangan mereka berdua.

 

**

 

Jessy menatap TV itu dengan serius sampai Kai akhirnya duduk disebelah gadis itu, sambil memberikan susu strawberry. Kai menaikkan kakinya ke sofa dan berusaha mencari tempat yang nyaman di sofa itu. Tapi pada akhirnya pria itu menundukkan kepalanya ke pundak Jessy dan meminum susunya perlahan disana.

 

“EXO-M tampil di MBC Show Champion, apakah kamu tidak kesana?”

 

“Aku akan kesana nanti.”

“Untuk mendukung mereka?”

 

Kai terdiam sesaat tapi akhirnya ia mengangkat kepalanya dan menyandarkannya disofa, membuat gadis itu menoleh kearahnya. Pandangan Kai lurus kedepan, “Salah satunya. Tapi yang terpenting karena aku punya jadwal disana.”

 

Jessy mendengar nada bicara Kai menjadi tidak enak. Ia seperti merasakan perasaan tidak suka Kai pada Luhan. Padahal setau gadis itu, Kai dan Luhan sangat dekat. Ia tidak berharap bahwa karena dial ah Kai jadi membenci Luhan.

 

“Jangan bicara seperti itu, Kai-a.”

 

“Aku tidak suka dipanggil seperti itu.” Balas Kai cepat sambil melihat Jessy. Perlahan tangan Kai terangkat dan menyentuh pipi Jessy lembut, “Aku tidak suka kamu memanggilku seperti itu. Aku ingin menjadi Jong-in-mu. Aku masih Jong-in-mu.”

 

Jessy menyemburkan tawa yang cukup keras, membuat Kai langsung menarik tangannya dari pipi gadis itu dan melipat kedua tangannya didepan dada. Seolah memperlihatkan ketidak sukaannya. Ketika Jessy berhenti tertawa, Kai sama sekali tidak melihatnya. Tiba-tiba saja suasana ditengah-tengah mereka menjadi sangat serius, “Dan kamu adalah Je-si-ku. Aku tidak akan menyerahkanmu pada siapapun. Pada Kris atau Luhan hyung sekalipun.”

 

**

 

Su-ji meregangkan tangannya yang terasa sangat pegal sambil sesekali memutar badannya. Sedari tadi ia menguap atau mengejap-ngejapkan matanya untuk menarik jiwanya untuk bangun. Ia memang tidur cukup lama dalam pesawat itu, tapi jetlag lah yang membuatnya sangat lelah.

 

Sesekali Su-ji melirik kearah koper yang ia tarik disampingnya. Namun kali ini ia tidak menemukan koper itu disampingnya. Seketika itu juga ia merasa panic. Ia tidak apa-apa kalau koper itu hilang, karena pada dasarnya semua barang berharga Su-ji ada di backpack pria itu. Masalahnya, koper itu berisi oleh-oleh untuk Sehun. Ia bisa dibunuh adiknya itu dengan tangisan dan ambekkan kalau koper itu hilang.

 

Su-ji mengedarkan pandangannya kesekeliling dan mendapati sebuah koper dengan tali berwarna hijau menyala diatasnya. Hanya kopernya lah yang memiliki ciri khas seperti itu. Tanpa ragu, Su-ji berlari mengejar koper itu dan mencegah seorang gadis yang menarik kopernya itu.

 

“Excuse me.. That is my baggage.” Ucap Su-ji susah payah sambil mengatur napasnya. Gadis itu berbalik dan melihat Su-ji yang menunduk untuk memastikan koper itu. Namun kemudian gadis itu terkejut ketika melihat Su-ji. Awalnya mereka terdiam, saling berpandangan. Tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

 

“Soon-na? Han Soon-na? Majjayo?” pecah Su-ji membuat mata gadis itu membesar. Perlahan seulas senyum terukir dibibir Soon-na sambil menganguk semangat. Su-ji mengamati Soon-na dengan intens. Ia merasa gadis itu semakin cantik. Rambutnya yang lebih dari sebahu tergerai bebas dan gadis itu memakai pakaian yang terlihat mahal. Secara keseluruhan, gadis itu terlihat semakin mempesona.

 

“Kamu dari Amerika?”

“Ya, for some reasons.”

 

“Bukannya kamu ke Canada?”

 

“Karena itu aku bilang aku ada urusan disana.” Ulang Soon-na sambil menegaskan perkataannya. Su-ji menganguk-anguk seolah mengerti. “Lalu kamu ada urusan apa kesini? Kuliahmu sudah selesai?”

 

“Ya. Kuliahku sudah selesai. Dan aku ke Seoul karena ada some events.” Jawab Soon-na cepat. Namun gadis itu sekarang terlihat sibuk dengan tas yang dibawanya, membuat Su-ji bungkam dan menunggu Soon-na. Sesaat kemudian, Soon-na mengeluarkan sebuah buku yang dibungkus dan memberikannya pada Su-ji. Su-ji tidak langsung melihat benda itu, ia hanya menatap Soon-na yang terus tersenyum.

 

“Apa ini?”

 

“Lihat saja sendiri.” Jawab Soon-na usil. Tapi tak lama, Su-ji kaget ketika seorang pria berdiri dibelakang Soon-na dan menatap Soon-na penuh tanya.

 

“Soon-na~ya, aku rasa rekan lain sedang menunggu kita.” Ucap Pria itu singkat dan padat. Tapi jelas kalau suara pria itu lembut dan halus. Soon-na menyambut pria itu sambil tersenyum dan menganguk.

 

“Aku rasa aku harus pergi sekarang, Su-ji-a. Aku masih ada urusan penting di Rumah Sakit. See you, soon.”

 

Su-ji menganguk. Mengawasi Soon-na yang sudah pergi dengan pria itu. Dan ia mendapati ternyata pria itu membawa koper yang sama dengannya. Pasti Soon-na salah paham mengira itu adalah koper miliknya. Ketika bayangan Soon-na tak terlihat, Su-ji melihat benda yang sedari ditangannya itu tidak mengerti. Ketika ia melepaskan pembungkusnya dan melihat isi buku tipis yang terlihat mewahnya. Rasa pening tiba-tiba saja menyerangnya. Entah mengapa ia merasa tidak enak kembali ke Negara ini. Seolah tau kalau sesuatu yang buruk menunggunya.

 

 

**

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

 

 

Advertisements

Tagged: ,

17 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 10

  1. Lee Hyerin October 27, 2012 at 8:12 AM Reply

    Yaaah! ini bukti aku baca ceritamu Han jesi!
    Your story leaves me crazy and frustrated lol, totally blown away
    skrg udah ketemu lagi…kkyak~
    Oh and seems like Kai really moves Luhan from your heart huh? (outside from the story kkk)

    • hanjesi October 28, 2012 at 2:26 AM Reply

      Yakkk.. I comment almost in every part of ur ff and u only comment in the last chapter. Yaaaaakkk evil! =3=

      Really? This ff also made me gone crazy and frustrated. Kkk~ so complicated,rite? Even I don’t know the ending will be like. Lol

      Kai really moves my heart from Luhan? Nope.. Luhan is number one and Kai is second. But lately, Kris took Luhan’s place. That’s why he keep appearing in my ff. . . T___T

      Otokheeeee :((

  2. Andini October 27, 2012 at 4:22 PM Reply

    Akhirnya han soon na dateng… Aduh thor makin complicated dan bikin kepo. Harus segera dilanjutkan!! Yang semangat ya thor ngetik2nya untuk part 11 biar readersnya ga kena syndorm kepoㅋㅋㅋㅋㅋ

    • hanjesi October 28, 2012 at 2:29 AM Reply

      Do ya really like Soon-na come? I hate herrrrr.. Gyaaa T__T I want Je-si with Luhan.. Hhaaha

      I really want to type next part.. But I have no time and need to do some script for movie :((( poor me. I’ll try my best and thank you for reading ^^ *chu*

  3. anggitaratri October 28, 2012 at 2:05 PM Reply

    maap ya Jes baru sempet baca, ini aja aku sempet-sempetin loh, kkk~ XD
    haha tuh kan yg sepesawat ama Suji si Soon Na, dan aku senaaaaaaaaaaaaaaang yeyeyeye~ Soon Na kembali! XDD
    kayaknya yg suka Luhan-Soon Na emg lebih banyak deh Jes, udahlah kamu ama Kai ajaaaah, wkwk.
    ah itu yg bagian fancam2 ma video EXO pasti cerita pribadi, kkk. aku dikit loh fancam Kai-nya, minta sinih Jes! haha 😀
    trus ini lagi-lagi Je-si nya kok Han Je-si? emg ganti marga, apa krna author saking pengennya jadi Je-si sampe typo melulu ya ==’
    okeee part 11nya aku tunggu, kabar2 yaaaa! soalnya aku skrg bakal jarang OL, mau fokus sekolah, mau ujian, kkkk~
    HWAITING yo! saya dukung JongJes(?) selalu!! XD

    • hanjesi October 31, 2012 at 6:12 AM Reply

      That’s okay.. Kkk~
      I’ve approved ur comment, so here I am! Commenting ur comment? -__-
      Ya selamat bersenang-senang lah karena soon-na kembali.. Hahha
      Bagi yang nonton teaser pasti tau kalau bakal ada sesuatu yang terjadi pada Kai-si couple karena sesuatu Lu-Na couple.. Hahaha..
      Aku ga akan bikin ff semudah itu untuk ditebak.. Haahhaha /smirk ala kai/
      Urusan yang fangirling itu… Ya aku memang banyak fancam kai+luhan.. And also kris lately.. And what the hardisk itu rusak? T__T padahal semua HQ T__T

      Ada HAN JE IS LAGI?
      BAIKLAH. ITU OBSESI AUTHOR! ITU KIM JE IS SEHARUSNYA!

      Oke-oke ^^
      Makasih untuk dukungan ke Jong-Jes couple! /lovehugkiss/

  4. Cynthia October 28, 2012 at 11:34 PM Reply

    Apa isi dari pemberian soona itu???
    Aq pingin luhan segera ktmu dgn soona br kai g benci sm Luhan…
    dtgu part selnjutx 😀

    • hanjesi October 31, 2012 at 6:15 AM Reply

      Apa ya? Sesuatu yang bikin Luhan menderita? Atau bahagia? Kkk~ yang jelas buku tipis yang kelihatannya megah.. Apa sih bahasa-nya -__-V

      Author mau-nya lama-lama.. Hahha
      Tapi tenang aja, pasti muncul di part 11 kok..
      Kai ga benci Luhan kok.. Cuman ga suka sama Je-si yang deket sama Luhan.. Dia akan benci waktu nemuin sesuatu nantinya.. /spoiler/ kkk

      Thank u Chintya buat comment-nya ❤

  5. mialuo October 30, 2012 at 1:23 PM Reply

    kim jong in berhasil mengacaukan pikiran saya,, ditunggu part selanjutnya,, jesi harus sama kai yah.. :))

    • hanjesi October 31, 2012 at 6:21 AM Reply

      Kim Jong In menghancurkan pikiran? TENTU SAJA -_-V

      Okeoke.. I’ll write asap when I have enough time -_-V
      And.. Thank u for shipping Kai-Si couple ❤

  6. Anggita Ratri Pusporini October 31, 2012 at 6:50 AM Reply

    thor kalimatmu yg “Bagi yang nonton teaser pasti tau kalau bakal ada sesuatu yang terjadi pada Kai-si couple karena sesuatu Lu-Na couple”, sumpah ini maksudnya apaaaah gue ngga ngerti, kkkk~ XD
    *dasar-reader-lola

    iya iyaaa~ author Jessy kan bukan sembarang author, pasti ceritanya ngga gampang ditebak dong, hahah
    ayolaaaah Luhan cepet2 kembali ingatannya, biar cepet2 inget Soon Na. aku juga jadi penasaran bgt itu buku apaan yg Soon Na kasih, album foto? ah tau ah~ cepetan yaaa chapter 11nya, aku ngga peduli kamu lagi sibuk atau kaga kudu cepet publish! hohoh XD

    • hanjesi November 7, 2012 at 1:58 AM Reply

      You’ve watched the teaser, so I’m not going to explain again xD

      And… Thank u for praising me :3 hehehe
      My fanfiction always complicated T__T

      Soon-na will back soon.. And Luhan will . . Uhmmm.. Hehe its secret :3
      It is not photo album. Untuk apa Soon-na ngasih album foto ke Su-ji -__-

      And I’ll try my best. Will try to write it this week and will post it next week :3 hehehe

      You know la I’m busy xD hahah
      *kabur*

  7. soohan(?) shipper October 31, 2012 at 9:29 AM Reply

    Soona yeah! Luhan soona selaluuu~

    • hanjesi November 7, 2012 at 2:32 AM Reply

      Hoaaahh.. Can someone ship Jong-jes couple than Soon-Han couple?? T__T
      Okay.. You even commenting with unaname. SooHan.. :ccc

      But thank you for reading!
      I love you :3

  8. naritareky November 10, 2012 at 4:02 PM Reply

    Han Je Si
    Aku belum comment di nimic part 10
    Mian 😦
    Wordpress ga bisa di buka kemarin2 x_x
    Tapi aku baca udah 2 kali
    Seru banget !!
    Aku suka moment kai narik je si
    Aish keliatan banget cool nya haha
    So~na ada lagi sekarang
    Sepertinya konfliknya makin banyak ya?
    Btw kapan ini lanjutan nya?
    Secepatnya lah :p

    • hanjesi November 13, 2012 at 6:30 PM Reply

      Sampai sekarang baru nulis 3 scene T__T hehe

      Emang selalu complicated.. Ini bahkan belum ada puncak masalahnya Kai-Jesi sama Luhan-Soona xD doakan saja tamat di 14/15 😀

      Thanks for comment btw ❤

  9. click through the up coming website page March 28, 2013 at 11:10 AM Reply

    There is absolutely no hassle; there are no other issues
    to do aside from placing it about your waist.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: