EXOtic’s Fiction “Summer Story” – Part 8

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Summer Story”

 

TITLE               : Summer Story

SUB-TITLE        : The Eighth – The Confessions

AUTHOR          : Cha Miho (@fab_cinta)

MAIN CASTS   :

  • Cha Sheileen
  • Kim Jong In
  • Zhang Yi Xing

 

LENGTH           : Series

GENRE             : Romance, School Life, Friendship, Family

RATING           : PG – 13

LANGUAGES   : Korean (Indonesian) and English (Minor)

-notes- cerita ini akan mengambil tempat di London, England, sehingga beberapa percakapan akan menggunakan bahasa Inggris. Namun bahasa utama yang digunakan tetap Korea (Indonesia). Percakapan di dalam bahasa Inggris dan pikiran seorang tokoh dilambangkan dengan huruf miring.

Cha Sheileen – seorang gadis yang kehilangan ingatan masa kecilnya, tetapi hanya pemuda pemain gitar yang menjadi kenangan manisnya. Sekarang, ia dihadapkan penyakit jantung ringan yang dibawanya dari amma-nya dan dua jalan yang membawanya menuju akhir yang berbeda.

Kim Jong In – seorang anak laki-laki yang mempunyai cinta sepihak dengan teman masa kecilnya, Cha Sheileen. Teka-teki hidup membawanya menuju kenyataan bahwa cintanya tetap akan berakhir sepihak karena gadisnya ternyata menyukai kakaknya sendiri.

Zhang Yi Xing – seorang guru di sekolah St. Ursula International High School. Kakak dari Kim Jong In. Ia berwajah tampan dan merupakan cinta pertama Cha Sheileen. Memiliki perasaan yang sama dengan gadis itu.

Brenda West – teman baik Cha Sheileen di London. Senang menari dan matanya terpikat oleh kehebatan Kim Jong In pada pandangan pertama. Sama seperti pemuda itu, cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja.

Cha Chen – kakak dari Cha Sheileen. Seorang brother complex.

-disclaimer- SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSIONS and after you read the story, please give a comment ^^ Every word from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

“Annyeong Chen, apa kabarmu?”

“Ne, kondisiku baik, seperti biasa sajalah. Bagaimana keadanmu disana? Dan juga adikku?”

“Hahaha, brother complex.”

“Yah!”

“Kkk, seseorang sedang marah di ujung sana ya… Ya, aku baik-baik saja dan adikmu juga baik-baik saja. Hmm…atau mungkin…tidak terlalu baik sih…”

“Apa?! Kenapa?! Apa yang terjadi dengannya?!”

“Aku baru saja membuat jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya..?” ucapku jahil sambil membayangkan wajah temanku ini di ujung sana.

“YAH! Apa yang kamu lakukan hey ZHANG YIXING!”

“Astaga, suara tinggimu masih berfrekuensi tinggi ya. Gunakanlah itu untuk bernyanyi sajalah. Btw, tenanglah, aku tetap menjaga janjiku padamu, tetapi bukan salahku kalau ternyata memang kita berdua memiliki perasaan yang sama, Cha Jong Dae,” ucapku seraya melirik ‘dia’ yang sepertinya masih berusaha menenangkan gejolak kebahagiaannya.

“Memangnya kau pikir suaraku bisa berubah menjadi buffalo, begitu? -__- dan baguslah, aku memang yang merekomendasikanmu di sekolah itu dan hal itu tentu saja untuk menjaga adikku tersayang di London untuk sementara tentunya, karena aku tidak bisa menjaganya sekarang. Tetapi ingat syarat-syarat yang telah kuberikan,” ucap Chen serius dan aku tahu hal itu hanya dengan mendengar nada suaranya.

“Iya, aku mengerti. Aku tidak akan melewati batas yang telah kamu buat itu sampai saatnya kamu merelakan adikmu untuk bersamaku. Sampai saat itu tiba, aku rela menyerahkan nyawaku untuk melindunginya,” ujarku tulus dan memandangi dengan seksama betapa cantiknya gadis yang telah menjadi pujaan hatinya selama beberapa tahun.

Bagus. Aku menantikan kedatanganmu di Seoul, Lay. Jangan lupa, kamu masih berhutang satu samgyeopsal (daging perut babi yang dipanggang tanpa/dengan bumbu seperti cara memanggang galbi) untukku.”

Aku tertawa renyah dengan jokes yang selalu Chen bisa ucapkan ketika pembicaraan serius berputar diantara kami. Aku menutup teleponku dengan senang dan kembali menemui bidadari cantikku.

—End of Zhang Yixing’s POV—

 

Oh oh! Mr. Yixing sudah selesai menelepon!!

Dengan terburu-buru, Sheileen lalu berusaha untuk mengatur raut wajahnya agar tidak terlihat sesemu sebelumnya, “H-hai.. Sudah selesai menelepon?”

Mr. Yixing tersenyum, ia lalu kembali duduk ke tempatnya sebelumnya, “Yup, all done,” ucapnya yang sekarang mengamati kedua mata gadis yang berada di depannya. Sheileen pun merasa deg-degan dibuatnya, “A-ada apa? Ada y-yang aneh ya dengan mukaku?” ujarnya berbasa-basi.

Guru muda tersebut lalu menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku hanya….merasa bahwa aku bersyukur bisa bertemu denganmu tujuh tahun yang lalu. Sekarang, kita pun bisa kembali ke Seoul untuk mengenang masa kecil kita,” ujarnya tidak melepaskan pandangannya dari wajah Sheileen.

“B-benar. A-anda benar.”

“Sudahlah, panggil aku Lay jika kita hanya berbicara berdua seperti ini.”

 Aku menggiggit bibirku pelan dan dengan segala keberanian yang ada, aku menyebut namanya, “L-l-lay..?”

“Bagus!” ucap Mr. Yixing yang lalu bertepuk tangan sambil tersenyum. Hal ini hanya membuat sebuah orkestra di dada Sheileen yang bergemuruh dengan riuhnya.

“Baiklah Sheileen, karena kepergian kita itu lusa, jangan lupa mempersiapkan dokumen-dokumen yang harus diurus sebelum pergi ke Incheon Airport ya. Jika ada pertanyaan, kamu bisa selalu menghubungiku. Oh ya, jangan lupa kalau bisa kamu mengurus adikku juga, Kai… karena aku yakin pasti ada saja yang akan ketinggalan nantinya,” ujar Mr. Yixing sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“O-O JONGIN JUGA IKUT?!”

“Lho? Iya dong, kan dia memang dari Seoul dan sudah layak dan sepantasnya, dia kembali ke Seoul.”

Aish, sial.

Tiba-tiba ada seorang teman sekelas Sheileen yang dengan heboh menyampaikan sebuah informasi kepada Sheileen dan Mr. Yixing, “Hey guys! Brenda and Jongin are having a dance battle at the rooftop! Come and see!! The last battle for the best dancers in school!”

Dengan cepat aku berlari menuju atap yang dimaksud oleh Louie tadi, Mr. Yixing mengikuti di belakangku dengan rasa penasaran yang ia tunjukkan sejak teman sekelasku itu memberitahukan mengenai hal ini.

Aku merasakan dadaku seperti ditusuk-tusuk, sambil berlari aku hanya bisa tersenyum miris dan berdoa kepada Tuhan supaya setidaknya, jika aku pingsan lagi nanti, aku boleh melihat kebahagiaan kedua orang itu.

 

—Kim Jongin’s POV—

Nuts. Perempuan di depanku ini sudah gila.

What the heck with this crowd, Brenda?!”

“Oh? Getting all nervous with the crowd, Mr. Kim?”

See? She did it again. On purpose.

“Tsk. Now, what do you want?”

“Like I said. Dance battle. For the very last time.”

Aku memutar kedua bola mataku tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda penolakkan mengenai ajakan yang menyenangkan tersebut. Memang dirinya dan Brenda menjadi lebih dekat sejak pertemuan orang-orang-yang-patah-hati di atap ini satu minggu yang lalu, dan sudah beberapa kali juga kami menari-menari bersama disini. Tetapi, karena ini hari terakhir, maka aku mengiyakan saja ketika ia berkata bahwa akan ada ‘sedikit’ keramaian disini hari ini. Dan tentu saja, aku tidak pernah menyangka maksudnya dengan ‘sedikit keramaian’ itu seperti ini -___-

Para penonton di atap sore hari itu terbagi atas dua kubu, perempuan dan laki-laki, yang sama-sama menyemangati dengan riuh idolanya masing-masing. Di kubu sebelah Timur, yang didominasi oleh para kaum Adam, mengelu-elukan nama Brenda West dengan suara bass mereka. Sedangkan untuk kubu sebelah Barat, nama Kim Jong In bertautan satu sama lain dengan nada-nada suara mereka yang melebih suara sopran.

Alright then, let’s start it now Brenda.”

“Aren’t you waiting for Sheileen to come?”

Deg. How did she…

“You must be thinking, ‘How did I know’ right? It’s all written in your eyes, Kim Jong In.”

“I…”

“You and I are alike. I have one sided love too which I think, you’ve known it also but I bet you don’t know who he is.”

Kai memberikan gadis itu sebuah anggukan pelan dan matanya yang masih berusaha berpikir, siapakah lelaki yang temannya itu sukai.

After this battle, I’ll let you know.”

Brenda pun memberikan sinyal kepada Shaggy untuk memulai musik yang sengaja ia pilih untuk hari ini, Pretend by Scott Porter and the Glory Dogs.

Say, won’t you stay, we can talk about nothing at all

We’ll sit here and make up the words, as we go along

The games, we could play

Maybe silently write us a song

Quietly shout from the roof, that we don’t belong~

Brenda memberikan Jongin sebuah tatapan sendu, dimana saat ini, sebenarnya dance battle hanyalah sebuah alasan belaka untuknya demi bisa bersama Jongin lagi dengan waktu yang lebih lama. Hari ini juga ia berharap, laki-laki ini akan luluh terhadap dirinya dan bersama dirinya.

They told me maybe she’s crazy a little like you

Everyone said you were nothing but trouble, and

All that I know is that I’ve never been here before

And no I’ll never leave, if it’s alright with you

Dreaming of oceans while jumping in puddles and

All of my life I pretend you were there by the door

I don’t need to pretend anymore~

“Say, Kai,” kata Brenda di sela-sela tarian mereka yang berakhir lebih menuju kepada duet sekarang. “It’s time for you to stop pretending you’ve buried down your feelings towards Sheileen. ‘Cause I will too,” ucap Brenda yang berusaha untuk tetap tenang menghadapi perasaan sakit yang ada di dadanya.

Kai terkejut dibuatnya, tetapi masih tidak berhenti melangkahkan kakinya kesana-kemari, “Why do you….say that?”

Brenda tersenyum dan menurut Kai, senyum itu merupakan senyum terindah Brenda yang pernah Kai lihat selama hampir dua minggu ini, “Because we have hold it long enough until we can’t bear it anymore.”

Strange, oh so strange

When it feels better being alone

You accept there is nobody else and set it in stone

And then you, came along

Your reflection was so sad and small

You made me believe once again that I could be wrong~

“Kai?”

“Yeah?”

“I……..”

“I?”

“I…like you. A lot. So much that I’m afraid I might buried down in my own feelings toward you.”

And it hurts, to know,

There was somebody out there

As strange and as beautiful as you

If I’d known….sooner…

Wajah Sheileen pun lalu terbayang di kepala gadis itu. Dirinya tersenyum miris. Aku tidak pantas menjadi temanmu Sheileen ha ha ha.

Dan tanpa mereka sadari, Sheileen sudah berada di sana, melihat semuanya.

They told me maybe she’s crazy a little like you

Everyone said you were nothing but trouble, and

All that I know is that I’ve never been here before

And no I’ll never leave you, if it’s alright with you

Dreaming of oceans while jumping in puddles and

All of my life I pretend you were there by the door

I don’t need to pretend anymore

Reff bagian terakhir dari lagu itu masih berputar, tetapi kedua orang yang menjadi diva di rooftop itu hanya bisa memandangi satu sama lain. Brenda masih menatap lurus kearah Kai dan tak kuasa untuk tidak menahan rasa malunya, sedangkan Kai yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.

—End of Kim Jongin’s POV—

 

—Brenda West’s POV—

Ya. Aku memang sudah gila. Aku, Brenda West, baru saja memproklamasikan pernyataan cintaku di hadapan teman-teman satu sekolah.

“Brenda..?”

Deg. It’s Sheileen.

Aku melihat Kai juga terpana melihat kehadiran Sheileen di tempat itu. Aku yakin dia melihat semuanya dan mendengar semuanya.

“Kai, let’s go to my office. I’ve got the newest COD games in my PSP,” kata Mr. Yixing sambil mendekat kearah adiknya itu

“But I—“

Mr. Yixing glared at Kai dan seperti anak anjing, yang harus menuruti perintah yang lebih tua dan meninggalkan kedua gadis itu bersama kerumunan orang-orang yang semakin ramai.

Sheileen hanya menatapku, kami berdua tidak berbicara satu sama lain, keramaian di sekitar kami pun hanya kuanggap seperti angin lalu saja. Mr. Yixing yang menyadari hal itu, sebelum pergi bersama dengan Kai lalu menyuruh anak-anak semuanya untuk turun ke kelas masing-masing dan memberikan kami privasi untuk berbicara berdua. Ketika akhirnya rooftop itu sudah sepi, aku pun memberanikan diri berbicara dengannya.

“Hey..I—“

Ssshh!”

Aku terkejut melihat betapa marahnya raut muka Sheileen dan telunjuknya itu hanya berada beberapa cm di depan mulutku.

Why don’t you ever tell me about your feeling towards Jongin?!” ucap Sheileen merasa kesal dirinya tidak menyadari perasaan teman baiknya itu.

It’s because…”

“So I’m not trust worship enough for you to believe me and support you, Brenda?”

Aku terkesima dengan apa yang barusan ia katakan. Oh Tuhan, tolong katakan kepadaku bahwa teman baikku ini benar-benar tidak menyadari perasaannya yang sebenarnya.

“No, it’s not like that. And ssh! Lemme talk to you now,” kataku sambil memotong pembicaraan ketika Sheileen sudah hampir ingin memotong kata-kataku lagi.

“Now, I can tell you’re lying Sheileen. It must be so wrong for you not to feel like a scythe scratched your heart when you heard my confession, right?”

Sheileen bergeming. Ia menyadari bahwa temannya itu benar, tetapi ia tidak mau mengiyakan hal itu. “N-no! I’m fine with it! I really like to support my best friend!!” katanya berusaha membela diri walau ia tidak menatap mataku dan hanya bisa terkekeh sedih yang ia berusaha buat menjadi seceria mungkin.

Aku menghela nafas. “Fine. For now, I’ll accept your words. So, yeah, I’m sorry I haven’t told you about my feeling towards  Kim Jong In a.k.a. Kai. I’m really afraid our friendship could break,” kataku jujur kepadanya.

Sheileen lalu tiba-tiba memelukku, “Brenda. Our friendship won’t end just because of one boy. You’re my best of the best friend I’ve ever had and I won’t ever be mad at your just because of something like this.”

Aku tersentuh oleh kata-katanya. Gadis ini terlalu baik untuk menjadi temanku dan sejujurnya, aku, yang tahu akan perasaannya, walaupun perempuan di depanku ini tidak menyadarinya, tetap mengutarakan perasaanku kepada Kai tanpa memberitahunya.. Dengan sigap aku membalas memeluknya, “Thank you Sheileen. Thank you for being my best friend.. I’m so sorry for everything…”

“No, you didn’t do any mistakes..”

“But actually like I said before—“

“Yeah?”

I know you lied about your feelings just now Sheileen. Why did you do that?

“Nah, it’s nothing. I’ll tell you later. And yeah, now I need to buy you something to eat for free, right?” ucapku yang lalu tersenyum kepada Sheileen.

—End of Brenda West’s POV—

 

Kurasa hal itu merupakan cara terbaik untuk benar-benar mneyudahi perasaan ini. Perasaan ganda yang seharusnya tidak pernah kumiliki. Perasaan yang seharusnya hanya kuberikan seluruhnya kepada Mr. Yixing.

Aku mengehela nafas lega ketika aku bisa membuat permasalahan ini berakhir sesingkat mungkin. Tentu saja, Brenda tidak tahu bahwa aku sudah tahu kalau dirinya menyukai Jongin, tetapi diriku entah mengapa tidak pernah membiarkan mulut ini berbicara mengenai hal itu kepada Brenda.

Kurasa aku takut akan apa yang Brenda ucapkan ketika aku menanyakan soal perasaannya kepada Jongin…

Aku menggigit bibirku, berusaha sekuat tenaga berkonsentrasi dengan jalan yang ada di hadapanku. Tiba-tiba, kembali, aku merasakan segalanya berputar dan dada ini seperti disayat dengan pisau. Hal terakhir yang bisa kudengar hanyalah suara guardian angel-ku yang meneriakkan namaku berkali-kali….

 

—Kim Jongin’s POV—

“Kak…kenapa kamu membawaku ke ruanganmu, hah?” gerutuku yang masih tidak terima digeret dengan mudahnya keluar dari rooftop itu.

Yah! Peka sedikit dong dengan keadaan di sekitarmu! Menurutmu saja, kamu, sebagai ‘biang onar’ ada diantara dua perempuan yang akan berusaha untuk ‘bersatu kembali’?!” balas Lay kesal.

Pfft. Setidaknya biarkan aku melihat Sheileen lebih lama,” ucap Jongin yang lalu membuat langkah kaki kakaknya berhenti.

“Apa…kau bilang?”

“Biarkan aku melihat Sheileen lebih lama. Karena aku menyukai dia. Aku yakin kakak juga tahu perasaanku ini dan aku tidak mau berpura-pura buta dengan perasaan kakak kepadanya,” kataku berani kepada kak Lay.

Lay sedikit terkejut dengan keberanian adiknya ini yang ia sudah kenal memang ceplas-ceplos ketika bersamanya. “Kurasa memang tepat membawamu ke ruanganku, ayo masuk,” katanya seketika kami berdua sampai di ruangannya yang tidak jauh dari rooftop.

Ketika kami berdua sudah duduk berhadap-hadapan, kak Lay pun angkat bicara, “Jadi, aku dan kamu menyukai gadis yang sama…..dan ternyata kita berdua sama-sama menyukainya sejak dulu? Begitu maksudmu?”

“Begitulah faktanya.”

“Tapi bukankah kamu guardian angel Sheileen yang dipilih langsung oleh Cha Ree a.k.a. Sheileen’s amma?” ujarnya tajam sambil tetap menatapku lurus.

Aku merasa diriku diserang, tidak Jongin, jangan lengah, kamu sudah memutuskan hal ini sebelumnya bukan? “Ya, aku memang guardian angel-nya dan akan selalu begitu. Itulah yang dikatakan teacher kepadaku tujuh tahun yang lalu.”

“Kamu tentu tahu bukan batasan sebagai seorang penjaga?”

Aku kembali bergeming sedikit, “Aku tahu dan aku tidak peduli akan hal itu. Aku mencintainya sampai aku mau mati rasanya ketika tujuh tahun tidak bisa menemui dirinya. Aku tidak peduli jika karma itu menyengsarakanku lagi, tetapi aku tidak mau memenjarakan perasaan ini lagi,” kataku serius kepada kak Lay yang di hadapanku tetap mendengarkan dengan seksama.

“Tangguh. Aku kadang berharap bisa menjadi seperti dirimu yang bisa melanggar peraturan seperti itu, Kai. Tetapi maaf, aku juga mencintainya dari lubuk hati yang paling dalam dan tidak pernah ada niat untuk melepaskan pandanganku darinya,” kata Lay yang tidak kalah seriusnya dengan adiknya itu.

Kai tersenyum. “Itu yang kuharapkan. Pada akhirnya, hanya Sheileen yang bisa memilih diantara kita berdua. Lagipula, mungkin kamu one step ahead from me, brother,” ujarku miris mengingat-ingat kejadian itu.

Hm? Why?”

“She rejected me.”

Mata Lay membesar, “Kamu sudah pernah mengutarakan perasaanmu padanya?!”

“Pernah. Dengan lihainya kuucapkan dan gadis itu hanya bisa terpaku di hadapanku. Tatapannya merasa bersalah dan aku merasa seperti orang bodoh yang terlalu dimabuk cinta,” ucapku sedih mengingat kembali wajah bersalahnya dan betapa sulitnya kami berdua berusaha untuk tidak merasa awkward satu sama lain.

“Baiklah. Aku tidak mau mengungkit ini lebih jauh, melihat raut wajahmu yang semakin tidak enak dipandang itu. Lalu, bagaimana dengan Brenda’s sudden confession?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.

Deg. Darn, I forget.

Lay rolled his eyes, “Don’t tell me you forget.”

“I did and now let me search for her. Kakak bisa kan mengizinkan aku, Sheileen, dan Brenda? Ne ne ne?” ujarku seraya menggunakan aegyo andalanku yang hanya dibalas dengan gestur mengusir dari Lay. Aku pun bergegas menuju rooftop dan berharap tidak bertemu Sheileen disana…

Aku membiarkan diriku berlari lebih cepat daripada biasanya, walaupun aku baru saja berkata bahwa aku tidak ingin melihat Sheileen dulu, tetapi perasaan ingin rindu ini tidak bisa kuhilangkan. Dan benar saja, permohonanku dikabulkan. Aku melihatnya di ujung lorong, bersama Brenda dan sepertinya kedua perempuan itu tidak mengalami ‘perang’.

Deg. Oh crap. Perasaan apa ini? Sheileen. Please, don’t fall.

Saat itu kedua gadis itu masih tertawa bersama dan tiba-tiba saja aku meneriaki namanya, “LEEN-AH! LEEN-AH! Bertahanlah!”

Aku berlari sekuat tenaga ke arahnya dan yang kutahu selanjutnya, ialah Sheileen yang berada di pelukanku, tidak sadarkan diri.

—the end of chapter eight—

TBC

**

-notes- hadiah buat semuanya sebagai permintaan maaf telat update, lol.

 

THANKS FOR READING  WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL  JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY CHA MIHO (@FAB_CINTA) NO PLAGIRISM.

If you’re interested of becoming our official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

2 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Summer Story” – Part 8

  1. Cynthia October 23, 2012 at 10:43 PM Reply

    Sheileen jgn pingsan lgi.. Bertahan demi Lay..
    Wahh udh ditentukan pasanganx asikk.. Semoga sheileen sembuh ya di cerita ini 😀

    • Cha Miho October 24, 2012 at 2:37 PM Reply

      Eeeyy, belom kok belom ditentuin 😉
      Amin amin sembuuuh!
      Thanks ya udh setia baca {}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: