EXOtic’s Fiction “Summer Story” – Part 7

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Summer Story”

 

TITLE               : Summer Story

SUB-TITLE        : The Seventh – Between Me and the Brothers

AUTHOR          : Cha Miho (@fab_cinta)

MAIN CASTS   :

  • Cha Sheileen
  • Kim Jong In
  • Zhang Yi Xing

 

LENGTH           : Series

GENRE             : Romance, School Life, Friendship, Family

RATING           : PG – 13

LANGUAGES   : Korean (Indonesian) and English (Minor)

-notes- cerita ini akan mengambil tempat di London, England, sehingga beberapa percakapan akan menggunakan bahasa Inggris. Namun bahasa utama yang digunakan tetap Korea (Indonesia). Percakapan di dalam bahasa Inggris dan pikiran seorang tokoh dilambangkan dengan huruf miring.

 

Cha Sheileen – seorang gadis yang kehilangan ingatan masa kecilnya, tetapi hanya pemuda pemain gitar yang menjadi kenangan manisnya. Sekarang, ia dihadapkan penyakit jantung ringan yang dibawanya dari amma-nya dan dua jalan yang membawanya menuju akhir yang berbeda.

Kim Jong In – seorang anak laki-laki yang mempunyai cinta sepihak dengan teman masa kecilnya, Cha Sheileen. Teka-teki hidup membawanya menuju kenyataan bahwa cintanya tetap akan berakhir sepihak karena gadisnya ternyata menyukai kakaknya sendiri.

Zhang Yi Xing – seorang guru di sekolah St. Ursula International High School. Kakak dari Kim Jong In. Ia berwajah tampan dan merupakan cinta pertama Cha Sheileen. Memiliki perasaan yang sama dengan gadis itu.

Brenda West – teman baik Cha Sheileen di London. Senang menari dan matanya terpikat oleh kehebatan Kim Jong In pada pandangan pertama. Sama seperti pemuda itu, cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja.

Cha Chen – kakak dari Cha Sheileen. Seorang brother complex.

 

-disclaimer- SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSIONS and after you read the story, please give a comment ^^ Every word from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

Kim Jongin’s POV—

Tindakannya barusan sungguh mencurigakan. Aku menyipitkan mataku dan menatapnya dengan serius, aku tahu ia sedang menghindariku.

Wae? Apa yang kamu tulis di lenganku barusan?” ujarku yang kemudian berjalan mendekatinya di dapur.

Mukanya memerah, “T-tidak ada a-apa-apa kok! Sesuatu yang membuatmu c-cepat sembuh! Itu saja kok!” ujarnya seraya mengaduk-ngaduk bumbu yang sedang diraciknya.

“Aku tidak bisa mempercayai kamu,” ujarku seraya fokus menatapnya, “aku tahu kamu sedang berbohong, karena kamu tidak berani menatap mataku. Ayo cepat katakan apa yang kamu tulis di lenganku!” ujarku gemas melihatnya tetap keukeuh untuk tetap dalam fase silensium.

Andwae!

Yah!

Andwae Jongin-ya, andwae andwae!!”

“Mwo?” ujarku kesal melihat sikap manjanya yang sebenarnya menggemaskan bagiku.

Baiklah, akan kutunjukan jurus rahasiaku.

Aku pun menedekati wajahnya, dengan kedua tangan dikepalkan di dekat wajahku, mataku dibuat seperti puppy eyes, dan dengan wajah memelas aku berkata, “Hey.. Jaebal-yo~  neomu neomu yeopo Leen-ah~” (Hei.. Ayolah~ kamu sangat sangat cantik Leen-ah~)

Baekhyun dan Chanyeol tidak akan pernah boleh tahu aku berbuat seperti ini.

Aku terkekeh melihat reaksinya. Jurusku ternyata berhasil. Ia luluh.

End of Kim Jongin’s POV—

 

Deg. Apa-apaan itu dengan wajahnya yang super memelas?! Aaah, tapi jika kuberitahu aku yakin dia pasti akan marah…

Fine fine! I’ll tell you AFTER I finish cooking this, okay? Be a good boy and sit down on that chair,” ujarku berusaha sebisa mungkin untuk tidak melirik wajah manisnya.

Jongin tersenyum, ia pun dengan cepat menuju ke bangku yang ia duduki tadi, “Bagus, harusnya kamu seperti itu sejak tadi. Hei ingat ya, aku mau yang pedas!” kata Jongin puas melihat ekspresi sebalnya.

While cooking……

“Sheileen! Kamu lupa memotong sayuran disana!”

“Ya…”

“Sheileen! Lihat lihat itu apinya kebesaran!”

Okay…”

“Sheileeen! Sudah berapa kali kubilang kalau kamu tidak boleh memotong secepat itu!”

Alright alright…”

“Itu dagingnya masih merah!”

“Baiklah, aku akan masak lebih lama lagi…”

Sheileen tahu Jongin menikmati ini, tiba-tiba ia berkata lagi, “Hey, dengarlah, sepertinya ada sesuatu diluar jendela disana…”

“A-a-apa? M-mana?” kataku kaget, berusaha menghiraukan bayangan-bayangan aneh yang membuyarkan konsentrasiku sekarang. Aku pun dengan sedikit mengintip-intip, berusaha mencari apa yang dilihat Jongin di luar jendela, tiba-tiba…

“BOOM”

“GYAAAA!! J-JONGIN!!!! -___________-“

Tiba-tiba ia sudah berada di dekatku dan menganggetkanku dengan suaranya yang berat dan dibuat seseram mungkin. “Hahahahahaha! Wajahmu barusan sungguh amat sangat priceless, princess,” katanya sambil berusaha menahan tawa yang sudah terlalu lepas itu.

Aku menatapnya marah, dia sudah keterlaluan, dan aku tahu ia sengaja melakukannya karena dia bosan. Ya, BOSAN.

YAH! Cari makan di luar saja kamu!” ujarku naik darah dan bukannya merasa bersalah, smirks di wajah Jongin kian mengembang, aku tahu dirinya amat sangat menikmati suasana ini.

Dan akhirnya, entah bagaimana caranya, aku pun sukses memasak kimchi soup malam itu. “Nih bagianmu,” kataku sambil menuangkan sup ke mangkoknya.

Gomawo.”

“Mhm.”

“Mmm….Leen-ah.”

“Hm?”

“Jadi, apa yang kamu tulis di lenganku?”

“Sesuatu.”

“-____- sangat menjawab pertanyaan.”

“Tentu saja.”

Yah!”

“Wae?”

“Ah sudahlah -_- Selamat makan.”

Mmhm.”

Mungkin Jongin akan berpikir aku sudah bisa mengontrol perasaan deg-deganku, tapi ia salah. Sangat salah. Aku sangat kesulitan sebenarnya mengatur nada suaraku tadi, dan membayangkan apa yang kutulis di lengannya saja sudah membuatku ingin segera jungkir balik dan melupakan tulisan itu.

“Leen-ah,” katanya pelan dan kembali menganggetkanku.

“Ya?”

Kimchi soup ini sungguh enak, buatkan lagi dong lain kali,” ujarnya sambil tetap menyantap kimchi soup buatanku.

N-ne..” ujarku gelagapan.

Kami berdua pun dengan cepat menghabiskan sup kimchi itu dan kembali ke kamar tidur masing-masing. Sebelum tertidur, aku berpikir… Kamu tahu, sepertinya aku tidak menyesal menuliskan hal itu di lenganmu tadi…karena….Aku pun  ingin menjaga senyumanmu itu. Hanya untukku.

 

In the morning—

Hari ini, rumah Cha tidak sedamai biasanya. Kami berdua terlambat berangkat ke sekolah. Bagaimana tidak, ternyata jam weker di kamarku mati dan Jongin pun tidak mungkin akan bangun jika gempa bumi tidak melanda London.

“Jongiiiin! Palliiiii!!” kataku panik melihat jarum jam yang sudah menunjukkan angka 07:45 AM.

“Sebentar lah! Kamu juga, sudah tahu telat tapi masih mandi seperti kerbau!” omelnya tak kalah sengit denganku.

Yah! Aku harus keramas pagi ini! Jangan salahkan aku dong! Lagipula kamu sendiri juga tidak pernah bisa bangun cepat kan!?” balasku tidak mau kalah.

Hey! Aku masih merasa jet lag tahu!” kata Jongin seraya menghabiskan roti di mulutnya.

“-___- Halah, alasan!” gerutuku yang dengan sigap lalu sudah berada di depan rumah.

Kami berduapun berlari menuju sekolah. Tidak peduli dengan rambut yang sudah seperti tornado, kami berhasil sampai di gerbang sekolah jam 07:59 AM.

On time. Now, both of you, go to the class. Fast,” ujar Mr. Fred selaku penjaga tata tertib di pintu gerbang.

Yes sir, thank you,” balas kami bersamaan.

In the classroom—

“OMG, I thought I was gonna die,” kataku sambil masih mengatur nafasku dan kulihat Jongin juga sedang berusaha membetulkan poni rambutnya.

“Ya, benar. Oh lihat, ponimu juga berantakan, sini kurapikan,” ujarnya yang lalu mencoba menata ulang poniku yang aku yakin memang berantakan.

Aku menatapnya dan tidak bereaksi untuk beberapa saat, “E-eh, t-tidak u-usah! Aku b-bisa sendiri,” kataku gugup ketika ia mendekatkan wajahnya ke arahku supaya bisa menata rambutku dengan lebih jelas.

Sekali lagi, laki-laki itu tahu bahwa ia telah membuat gadis di depannya ini gugup. Ia pun semakin mendekatkan wajahnya ke Sheileen dan berpura-pura mengatur rambut gadis itu.

Y-yah! Sudahlah, a-aku bisa sendiri!” tolakku yang berusaha menjauh dari Jongin.

Ehem, yes Jongin, she could tidy it up by herself. Can we start our lesson now?” kata Mrs. Makoto yang disambut oleh siulan dari teman-teman satu kelas. Kami berdua pun tersentak malu dan berdiam serta berdeham di tempat duduk masing-masing. Pelajaran pun dimulai setelah itu, namun aku sama sekali tidak bisa fokus!

Jongin……..ini semua salahmu. Salahmu sudah membuat hatiku dengan relanya berdebar untukmu.

 

—Kim Jongin’s POV—

Sungguh, aku tidak menyangka aku melakukan hal itu tadi. Status guardian angel yang diberikan amma Sheileen kepadaku. Karma yang harus kuterima. Penyesalan selama bertahun-tahun itu… Aku benar-benar sudah terlalu memanjakan diriku..

Aku meliriknya sekilas ketika Mrs. Makoto menjelaskan mengenai peta Amerika Selatan, ia terlihat seperti sedang berusaha keras berkonsentrasi pada pelajaran sepertinya. Aku terkekeh pelan melihatnya. Sheileen lalu ternyata mencoba mencuri-curi pandang meliriku yang tentu, aku sudah memandanginya lebih lama daripada dirinya. Ia tersentak kaget dan buru-buru berpura-pura menulis.

Aigoo, Leen-ah~ Bolehkah aku menjadi satu-satunya orang yang membuatmu tersipu malu seperti itu? Bolehkah…?

End of Kim Jongin’s POV—

 

Hari-hari berlalu begitu cepat setelah itu, tanpa disadari, Jongin dan teman-temannya, Baekhyun dan Chanyeol, sudah berada di sekolahku hampir selama dua minggu. Berarti, waktu kunjungan mereka sudah hampir habis dan akan tiba giliranku untuk kembali ke Seoul. Ya, Seoul.

Aku memandangi lapangan sepak bola yang sepi di sore hari itu, ditemani setumpuk buku referensi yang kubaca untuk mengembalikan beberapa memoriku mengenai cara penggunaan hangul. “Ah… Hari ini ternyata cerah seperti biasanya ya,” gumamku singkat sambil tersenyum. Tiba-tiba aku merasakan seseorang menepuk pundakku ringan. Aku menoleh.

“Mr. Yixing!”

Pssh, be quiet.”

Aku menutup mulutku tetapi mataku masih tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku melihat laki-laki di hadapanku ini. Hari ini ia mengenakan setelan kemeja putih yang dilengkapi dengan dasi abu-abu muda. Rambutnya ditata ke samping dan seperti biasa, dengan kacamata bacanya, ia menyapaku ramah. Terlihat berkharisma. Seperti biasa.

“Sibuk dengan persiapanmu untuk berangkat ke Seoul, hm?” ujarnya yang lalu duduk di depan mejaku.

“Ya. Setidaknya aku tidak boleh lupa bukan dengan hangul yang sudah seharusnya kuhafalkan, bukan?” balasku tersenyum ramah. Ia lalu menangguk-angguk.

“Benar sekali. Lalu, bagaimana proses belajarmu sejauh ini?” tanyanya yang sekarang melepaskan kacamata bacanya di atas meja.

Dammit. Still looks so handsome. “O-oh, baik kok. Mr. Yixing sendiri, kenapa ada disini?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Aku? Ah ya, benar, aku juga sebenarnya sedang mencari referensi buku…”

“Oh ya? Tentang?”

Hangul?” ujarnya sambil menyeringai dan lalu berpura-pura sibuk melihat sekeliling. Aku meantapnya bingung.

Yeah, bukan kamu saja yang akan kembali ke Seoul, Sheileen,” ujarnya ringan lalu meninggalkanku yang masih terbengong-bengong. Entah karena terlalu kaget atau memang karena terlalu senang.

Astaga, bisakah kedua bersaudara ini berhenti membuat jantungku berdetak tidak normal seperti ini??!

 

—Zhang Yixing’s POV—

Sesaat setelah itu, aku meninggalkan Sheileen sebentar, mencari tempat yang tidak terlalu jauh darinya tetapi sebisa mungkin suaraku tidak akan terdengar olehnya. Bukan karena ingin membuat gadis itu bingung, tetapi nyatanya, teleponnya berdering dan ia dengan senang hati mengangkat telepon dari seseorang yang tertera di layar Samsung S III-nya.

“Annyeong Chen, apa kabarmu?”

—the end of chapter seven—

TBC

**

-notes- halo semuanya. Maaf ya author telat update, susah sih jadi orang sibuk… *tampar* hahaha. Anyway, semoga semuanya tetep terus baca FF-ku ini dan terima kasih untuk yang udah setia membacanya! *sobs*

 

THANKS FOR READING  WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL  JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY CHA MIHO (@FAB_CINTA) NO PLAGIRISM.

If you’re interested of becoming our official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

2 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Summer Story” – Part 7

  1. Cynthia October 22, 2012 at 12:42 AM Reply

    Ooo Lay ikut pergi ke seoul??
    Trs kai gmn??
    Penasaran nihh dtgu part selanjurx 😀

    • Cha Miho October 22, 2012 at 9:11 AM Reply

      Kai ikut juga dong~ kan dia domisilinya di Seoul sebenernya~ gantian gitu skrng sama Sheileen yg ke Seoul maksudnya XD

      Thanks a lot ya udah setia baca 🙂 {}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: