EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 8

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Nimic”

 

*Title : Nimic.

*Sub Title : The Eighth – Confused

*Main Cast :

  • Kim Jong In
  • Kim Je Si
  • Luhan
  • Han Soon Na

 

*Length : Series

*Genre : Romance, Artist Life, Real-Imagine Fiction

*Rating : PG-13

*P.S : Its time to show ^^  Sekarang FF ini berceritakan Jong-In & Luhan ditahun 2012. Kira-kira bagaimana hubungan mereka sebenarnya? Jangan pada bingung dan please support this fanfiction ^^ Cause this Fanfiction will be really really complicated ^^ And sorry for Soon-na shipper, sekarang lebih ke focus Kai-Jessy-Luhan story. Happy reading! Tulisan bergaris miring adalah masa lalu.

*Disclaim : SEMUA FANFICTION YANGDIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

Summary :

Gone. You’ve gone from my sight.

Regret always come at the end, right?

After leaving you, I’m searching you.

Am I selfish? Yes I am.

Im still here.

Waiting for you comeback or time will make me found you.

**

Time goes by.

And time still cannot kill my feeling.

Will that day come?

The reason why I’m gone

Is only to make you stay

And found me here

**

There’s something empty

I couldn’t find it out

And what can I do is only screaming without reasons

**

Are you okay there?

Did you miss me like I do?

Cause I really miss you so badly.

**

Jessy baru saja akan melemparkan dirinya keatas kasur sesaat sebelum bel kamar-nya berbunyi. Gadis itu mendengus pelan lalu memilih untuk merebahkan dirinya sesaat.

Saat ini ia sedang sangat-sangat lelah. Dalam psikis maupun fisik. Selain jet lag, perasaan sesak gadis itu masih terasa dengan jelas. Sekalipun perutnya minta diisi daritadi, Jessy lebih memilih untuk tidur.

Hanya saja bunyi bel itu mengusiknya. Membuat emosi-nya naik secara tiba-tiba sehingga akhirnya gadis itu bangun dari tidurnya. Kakinya mulai berjalan menyusuri kamar hotel yang lebih mirip apartement itu dan lampu-lampu disepanjang jalan kamarnya nyala secara otomatis. Gadis itu berhenti sesaat didepan kaca untuk melihat dirinya sendiri, ternyata tidak terlalu buruk. Gadis itu pun memutuskan untuk membuka pintu kamarnya.

“Selamat malam, maaf saya mengganggu anda.”

Jessy mendapati seorang pegawai hotel wanita muda yang cantik sedang membungkuk hormat padanya, walaupun malas Jessy tetap membalas senyum pegawai itu. Tapi sesaat perhatiannya tersita pada meja dorong yang ditutupi kain putih dibelakang gadis itu. Pegawai itu mengikuti arah pandangnya dan akhirnya mengerti tatapan penuh tanya Jessy.

“Nona muda memang tidak memesan apapun. Tapi tadi ada teman nona yang mengantarkan makanan ini.”

Dahi Jessy berkerut. Teman? Seingatnya ia tidak menghubungi salah satu teman atau kerabatnya. Apakah mungkin Suho atau Kris?

“Siapa dia?”

Gantian pegawai itu yang terdiam. Ia berusaha berpikir, tapi akhirnya menyerah dan menggeleng tidak tau. “Ya sudah, bawa masuk saja dulu makanan itu. Lalu kalian bisa langsung pergi.”

Wanita itu kemudian mendorong meja dorong itu masuk ketika Jessy memberikan ruang cukup untuknya supaya bisa masuk. Ketika wanita itu sudah selesai menata makanan itu diatas piring di atas counter, pegawai itu menunduk sopan sebelum akhirnya mendorong meja dorong itu keluar. “Kalau anda memerlukan apapun, anda bisa mencari saya atau staff kami yang bertugas. Sekali lagi kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya.”

“Tidak apa-apa. Gamsahamnida.”

Jessy menutup pintu kamarnya cepat. Ia kemudian menatap makanan diatas counter itu dengan bingung disepanjang jalan menuju counter itu. Siapa yang membawakan makanan ini? Bukankah harusnya para pelayan tau siapa kalau seandainya Kris atau Suho yang mengantar? Atau apakah mungkin salah satu dari temannya tau dia kembali? Paparazi? Keluarganya? Astaga, malam seperti ini makin membuat otaknya melantur. Sepertinya memang asupan gula diotaknya menurun drastis.

**

Tangan Jessy masih asyik merasakan kelembutan dan ke-elestisan kain yang sedang ia pegang sementara otaknya masih asyik memilih. Saat ini ia sedang berada ditoko kain untuk memilih bahan-bahan yang kira-kira bisa ia gunakan untuk membuat design awal dari baju yang akan ia bikin.

Untuk sesaat, Jessy melihat kearah pintu keluar dan mendapati van putih didepan sana dan mengeluh dalam hati. Ia sebal sekali menyusahkan orang lain, apalagi kalau orang itu penting. Jessy tau dengan benar kalau Suho pasti sedang sibuk sekali juga lelah ingin beristirahat, tapi Soo Man memaksa pria itu untuk menemaninya. Gadis itu pun berbalik dan berjalan keluar tanpa menghiraukan pelayan toko yang mengejarnya.

Tangan Jessy bergerak dengan sangat cepat membuka pintu van putih itu dan beranjak masuk kedalam-nya. Suho yang sedang berusaha tidur itu terbangun dan kaget ketika melihat Jessy yang menatapnya sebal. Pria itu tersenyum, “Apakah sudah selesai? Ada barang yang kamu inginkan?”

“Tidak. Lebih baik kita pulang saja. Aku tidak tahan melihat kamu yang kelelahan.”

Suho tertawa pelan, “Tidak apa-apa. Aku bisa tidur di mobil kok. Tidak usah khawatir.”

“Perasaan-ku kok yang mengatakan aku sebal. Dan ketika sudah seperti itu, aku tidak bisa menghindar. Jadi daripada aku tidak konsentrasi, lebih baik kita pulang.”

Suho memasang selt belt, “Ahjussi. Tolong antar ke dorm.”

Jessy disebelahnya meletakkan tas-nya dikursi belakang lalu kemudian memasang selt belt, “Kenapa sih kamu begitu sabar?”

“Karena aku seorang Suho yang sabar dan baik hati.”

“Kamu umur berapa?”

“Umur universal-ku 21 tahun, sedangkan Korea-ku 22 tahun . Anda?” Jawab Suho cepat ketika Jessy bertanya. Suho sengaja menjawab seperti itu mengingat Jessy sekolah diluar negeri.

“Panggil aku noona. Aku berumur 22 tahun. Dan 23 tahun di Korea.”

“Jongmal? Wah kalau begitu, maaf atas ketidaksopanan-ku noona.”

Jessy tersenyum dan melihat Suho, “Ani. Tidak apa-apa. Aku juga tidak terlalu suka jika kamu terlalu sopan. Mohon bantuannya, Suho-sshi. Tapi kamu perlu tau kalau aku orang yang keras kepala dan menyebalkan.”

“Tidak apa-apa, noona. Aku sudah menghadapi yang lebih parah dari noona, bahkan harus menemuinya setiap hari.”

Suho menatap Jessy dan mengerti tatapan keingintahuan gadis itu, “Namanya Kai. Dia salah satu member dari kami. Noona belum tau? Dia itu kalau ngomong selalu terlalu point. Dan dia itu sangat keras kepala dan menyebalkan. Noona pasti akan tau bagaimana dia jika nanti bertemu dengannya.”

“Aku jadi malas bertemu dengannya. Aku memang tidak berniat bertemu dari salah satu member kalian.”

“Jangan begitu noona. Mereka baik-baik kok.”

Jessy terdiam beberapa saat dan kemudian memalingkan pandangannya, “Aku tidak ingin kenal baik siapapun di negara ini, Suho-a.”

Suho berusaha untuk menatap mata Jessy, tapi ia tidak bisa. Namun sekilas wajah gadis itu terpantul dikaca jendela. Suho terenyuh melihat tapapan gadis itu. Kesendirian dan kepasrahan abadi.

**

Kyungsoo membuka pintu dorm dan menyambut Suho dengan senang, pria itu mendorong Suho untuk masuk lebih cepat menuju ruang tamu mereka. “Hyeong, mereka ribut sekali. Aku sampai mau pusing mengurus mereka.” Ucap Kyungsoo sebal.

Ketika sampai di dorm, terlihat Sehun yang sedang beradu mulut dengan Baekhyun sementara Chanyeol berdiri ditengah-tengah mereka. “Aku mau ke dorm EXO-M! Kenapa sih kalian menyebalkan sekali?”

Baekhyun mendengus ketika mendengar Sehun, “Sehabis ini kita masih harus latihan, Sehun-a. Dan EXO-M juga baru pulang latihan, mengertilah!”

Sehun melempar dirinya keatas kasur dan menghindar dari tatapan Baekhyun yang membunuh. Baekhyun ditempatnya menatap Sehun marah, “Kamu tidak boleh tidak sopan begini. Kita juga tau kalau semua kangen pada anggota EXO-M yang lain. Tapi kita juga harus menjaga kesehatan kita dan mereka. Semua butuh istirahat.”

Sehun baru saja akan protes sebelum Suho menampakkan dirinya. Pria itu duduk disebelah Sehun dan melemparkan senyum hangatnya, “Baekhyun sedang perhatian pada-mu, Sehun-a. Hyeong tau kamu tidak capek, tapi lebih baik kamu istirahat dan nanti latihan bisa maksimal, kan? Dibanding harus dimarahi oleh pelatih? Mungkin saja nanti setelah latihan kita bisa makan-makan bersama dengan member lain. Otte?”

Sehun pasrah lalu menganguk, Baekhyun kemudian berdiri didepan Sehun lalu menunduk untuk memeluk Sehun. “Mianhae. Aku tidak bermaksud memarahi-mu, Sehunie.”

Sehun menggeleng, “Tidak, hyeong. Aku yang egois.”

Suho tersenyum, “Berbaikan! EXO! Saranghaja!”

**

Kris dan Luhan berhenti dibasement sebuah Mall dan kemudian melepas selt belt mereka dengan cepat. Sesaat sebelum Kris keluar dari mobil, handphone-nya berdering.

“Ya?”

Luhan menatap Kris yang menganguk-anguk atau terdiam ketika menerima telepon. Ia masih menunggu Kris selesai telepon sebelum bertanya.

“Tidak bisa, Suho-a. Aku sedang akan menemani Jessy makan malam bersama Luhan. Mungkin besok saja EXO-M akan ke dorm kalian. Oke. Selamat latihan.”

Tangan Luhan membuka pintu mobil lalu keluar. Ia tidak jadi bertanya karena sepertinya ia sendiri sudah tau apa isi pembicaraan telepon itu. Akhir-akhir ini Sehun menjadi manja sekali dan Baekhyun tadi bercerita kalau Sehun rewel ingin bertemu dengannya. Tapi Luhan tau kalau ia tidak bisa begini terus padanya, atau Sehun akan semakin lengket padanya. Bagaimana kalau nanti ia harus kembali ke China? Tentu saja nanti semua member EXO-K yang harus sibuk menghiburnya.

“Kita akan makan dengan wanita itu?”

Kris menganguk, “Dan nama gadis itu Jessy, Luhan-a. Jangan terlalu dingin padanya.”

Luhan tidak menghiraukan Kris dan lebih memilih meninggalkan pria itu ketika Kris sedang sibuk mengunci pintu mobil. Luhan menurunkan topi-nya lebih jatuh dan berjalan lebih cepat dari biasanya, sesekali ia berhenti seolah menunggu Kris yang sedang menyusulnya dibelakang. Ketika mereka berada didalam lift, beberapa orang menatap mereka curiga yang hanya dibalas dengan senyuman hangat Luhan dan aura dingin Kris.

Sesaat kemudian, lift itu terbuka dan mereka bisa keluar dari lift.

“Apakah kita harus menemaninya seperti ini terus?”

“Ya sampai kira-kira pekerjaannya selesai. Jangan salah paham dengannya, Luhan. Dia menolak untuk diajak makan, tapi aku kasihan padanya. Jadinya aku memaksanya untuk makan bersama.”

Luhan menganguk-anguk seolah peduli, walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak peduli. Ia masih dongkol karena sepertinya gadis itu terlalu diistimewakan.

Ketika mereka sudah sampai di sebuah restaurant, dengan cepat mereka mencari dimana tempat Jessy dimana. Kris tidak menghiraukan pelayan yang menyapa mereka dan terus mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Dan akhirnya tersenyum ketika mendapati seorang wanita yang duduk disebuah pojok ruangan sedang menatap keluar jendela dengan tangan yang menyaggah kepalanya.

Ketika melihat arah pandang Kris, Luhan seperti sudah melihat sosok wanita itu. Ia terhenti, seolah ada perasaan tidak enak menghampirinya. “Kris, kamu duluan ya. Aku mau ke toilet sebentar.”

Kris menganguk lalu mulai berjalan ketika mendapti Luhan sudah beranjak ke toilet. Ia menarik kursi dan duduk diatas sana. Jessy menatapnya kaget seolah baru bangun dari lamunannya.

“Kenapa kalian suka sekali sih memaksa orang?”

“Kenapa kamu suka sekali menolak maksud baik orang?”

Kris tersenyum ketika mendapati gadis itu terdiam dengan balasannya. Untuk menutupi kecanggungan diantara mereka, Kris meraih menu makanan disampingnya dan sibuk mencari makanan yang cocok dengan perutnya.

“Apakah anda sudah ingin mulai memesan?”

“Apakah kamu sudah memesan?”

Jessy menggeleng diikuti dengan angukkan pelayan itu. Kris kemudian menatap pelayan itu melalui kacamata hitamnya, “Apakah kamu ingin makan samgyupsal?”

Awalnya Jessy terdiam, lalu kemudian ia kembali menggeleng. “Aku tidak suka makan pork.”

“Baiklah, tolong Samgyupsal dan Baberque Meat. Dan tea serta nasi. Apakah kamu makan yang lain?”

“Tidak. Aku makan sedikit saja. Aku masih kenyang.”

Kris mengembalikan menu itu pada pelayan itu dan beberapa saat kemudian pelayan itu sudah pergi. Meninggalkan Jessy yang sebal akan tatapan tajam Kris, “Memang kamu makan apa daritadi?”

“Hanya makan pagi di hotel. Wae? Aku memang tidak bisa makan banyak.” Jawab Jessy cepat diikuti gelengan tidak percaya Kris.

“Kenapa kamu tidak ingin pulang ke Korea? Kamu kan besar di Korea.”

“Memangnya kamu kenal aku?”

“Aku pernah melihat-mu beberapa kali waktu jadi trainee. Kamu sering terlihat dibagian trainee. Awalnya kukira kamu adalah trainee waktu itu.”

Jessy terkesiap. Ia tidak pernah kenal dengan Kris sebelumnya, tapi mungkin saja pernah bertemu. Dan Jessy tidak mengira kalau Kris mengingatnya dengan begitu kuat.

“Sampai aku melihatmu di majalah. Seorang model muda terkenal, Han Je Si. Dan kemudian menghilang.”

Kerutan Jessy bertambah dengan drastis, ia tidak tau kalau Kris mengetahui dirinya begitu baik. Bahkan sampai masa lalunya. Bukankah ini gawat?

“Aku hanya tidak ingin lagi berkaitan dengan negara ini. Dan aku tidak mengharapkanmu untuk ikut campur dalam urusanku.”

Kris menaikkan alisnya ketika mendengar suara Jessy yang menaik lalu kemudian bibirnya menarik senyum kemenangan, “Arasseo. Kamu tidak perlu marah begitu, Jessy-shi.”

“Berapa umurmu?” Tanya Jessy tiba-tiba.

“23. Umur Korea.”

Jessy lebih sebal lagi ketika mendapati Kris ternyata berumur sama dengannya. Ia jadi tidak berani seenaknya lagi pada Kris. Mengingat ternyata Kris bisa saja membocorkan rahasianya.

“Kita berumur sama bukan? Kamu bisa mulai bicara banmal padaku. Karena aku tidak bisa berbicara formal dengan baik.” Ucap Kris cepat.

“Kamu datang sendiri kesini? Apa tidak apa-apa? Bukankah hal ini hanya akan menimbulkan rumor untuk boyband rookie seperti kalian?”

Kris menoleh kebelakang seperti mencari seseorang, “Salah satu member EXO-M menemaniku. Seharusnya sekarang ia sudah selesai ke toilet.”

Jessy menganguk-anguk peduli lalu melemparkan pandangannya keluar jendela lagi, “Kumohon. Tolong jaga rahasiaku baik-baik. Aku hanya sebentar disini. Aku tidak ingin terkait dinegara ini lebih lagi.”

Kris menoleh kearah Jessy, dan pandangan mata gadis itu menyedihkan. Seluruh suaranya seolah tertahan dikerongkongannya. Tidak bisa keluar sama sekali.

“Kris, maaf aku lama.”

Kris terlonjak dari tempatnya ketika merasakan tepukan di bahu-nya, ia memutar tubuh dan mendapati Luhan disana yang tersenyum. Sesaat kemudian pandangan Luhan teralih kearah wanita yang menatap keluar jendela. Ia tidak bisa melihat wajah gadis itu.

“Luhan, kenalkan. Dia Jessy Han. Dia adalah designer EXO. Dan Jessy, ini adalah Luhan. Salah satu member EXO-M.”

Kris mengerutkan keningnya ketika Jessy tidak kunjung menoleh kearahnya. Sial. Gadis itu terperangkap. Semenjak telinga gadis itu mendengar suaranya, seluruh memori-nya kembali. Kembali ke 4 tahun lalu. Apalagi ketika ia mendengar nama pria itu lagi. Perasaannya menjadi sesak luar biasa. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana bisa pria itu kembali lagi dikehidupannya?

“Jessy?”

Wajah gadis itu mulai menoleh, ada senyum disana. Senyum paksa. Tapi Luhan heran ketika Ia mendapati tatapan aneh dimata Jessy. Kerinduan luar biasa. Membuatnya ingin menerka-nerka apa yang sebenarnya dirasakan gadis itu. “Senang berkenalan denganmu.” Ucap Gadis itu sambil membalas tangan Luhan yang terulur dihadapannya. Ketika tangan mereka bersentuhan, perasaan aneh muncul dihati Luhan. Jauh didalam lubuk hatinya, Luhan tiba-tiba saja yakin kalau ia mengenal Jessy. Walaupun didalam otaknya sama sekali tidak mengenal gadis itu.

Kris menatap mereka berdua yang terdiam. Beberapa detik kemudian, Luhan dahulu yang tersadar dan melepas genggamannya ditangan Jessy dan duduk dihadapan Jessy dan sebelah Kris.

“Luhan-a..”

Kening Kris berkerut, begitu juga Luhan yang disebelahnya terkaget. Suara itu membuatnya bingung, membuat sesuatu dari hatinya menggebu-gebu. Tapi tidak ada satu berkas pun diotaknya yang mengingat file gadis itu. Semuanya terhapus dengan sempurna.

“Kamu tidak mengenalku?” Tanya Jessy tergagap ketika mengerti tatapan Luhan yang seperti mengenalnya. Dan gadis itu tambah kaget ketika Luhan menganguk lemah. Air mata berkumpul di matanya, siap untuk menangis. Perasaan rindu, sakit hati dan kecewa berkumpul didadanya. Siap meledak setiap saat. Tapi yang dilakukan gadis itu hanya diam dan menatap Luhan tajam. Yang bisa Luhan lakukan hanya diam dan meminta maaf dari matanya. Tapi ini bukan salahnya, kan? Ia sama sekali tidak tau kalau mereka saling mengenal, walaupun sebenarnya ia ingin tau bagaimana hubungannya dengan gadis itu dimasa lalu.

“Kalian saling mengenal?” Tanya Kris akhirnya untuk memecah keheningan diantara mereka. Tapi sekejap itu juga Jessy menggeleng dan tersenyum, gadis itu menguasai perasaannya dengan sangat baik. “Dulu kami teman satu sekolah. Mungkin saja dia melupakanku karena itu sudah lama sekali.”

Luhan berpaling melihat Kris, tatapan tidak setuju terlihat disana. Luhan sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan ini. Kris juga sama ditempatnya, yang diketahui pria itu adalah Luhan sekolah di China. Jadi bagaimana bisa mereka satu sekolah? Mereka juga tidak mungkin satu tempat kuliah, karena yang diingat pria itu, Jessy kuliah di London 4 tahun yang lalu.

“Sudah lupakan. Lebih baik kita makan saja!” Ucap Jessy tiba-tiba riang ketika melihat meja dorong yang datang ke meja mereka. Para pelayan menyiapkan pembakar itu dan ketika panas langsung memanggang daging yang sudah mereka siapkan. Luhan sebenarnya masih penasaran pada Jessy. Tapi melihat gerak-gerik wanita itu, terlihat sangat jelas kalau Jessy menghindarinya. Menghindari perkataan gadis itu sendiri.

**

Kris meletakkan sumpitnya diatas meja ketika melihat Jessy diam dan tak menyentuh makanannya sama sekali. “Kamu kenapa?”

“Aku hanya sedang diet.”

Luhan disampingnya tiba-tiba saja merasa pusing luar biasa. Ia seolah sangat akrab dengan kata-kata itu, tapi yang dilakukannya hanyalah diam dan menahan sakit. Jessy menatap Luhan yang meringis dengan khawatir. Ia tidak berani bertanya apapun, karena ia sendiri masih bingung. Apakah benar pria itu melupakannya? Bagaimana bisa? Tapi hal itu mungkin saja. Mereka hanya dekat dalam beberapa bulan, bukan mustahil pria itu melupakannya. Hal itu berarti bahwa Jessy bukanlah apapun untuk Luhan sementara Luhan adalah segalanya bagi Jessy dulu. Hal itu membuat hatinya semakin sakit dan sakit ketika memikirkannya.

Kris ditempatnya hanya menatap mereka berdua dengan tidak percaya. Ia tau ada sesuatu ditenga-tengah mereka. Ia ingin tau walaupun seharusnya tidak tau. Kris bisa merasakan rasa sakit yang dirasakan Luhan, tapi ia membiarkannya. Kali ini ia harus melambat waktu Luhan untuk meminum obatnya. Obat penghilang rasa sakit dan juga mencegah saraf otak Luhan bekerja begitu keras. Luhan hanya tau kalau obat itu hanya penghilang rasa sakit, tapi ketika Kris bertanya pada dokter dirumah sakit, ia baru tau kalau seandainya.. Obat itu dikonsumsi hanya untuk orang penderita hilang ingatan. Mencegah diri penderita itu sendiri untuk terlalu stress mengingat masa lalu.

“Aku sedang diet. Aku tidak bisa makan Pork. Apa lagi malam-malam, Luhan-a.”

“Arghh…”

Jessy terbangun dari tempat duduknya dan menghampiri Luhan karena sudah tidak tahan lain. Gadis itu mengambil tissiu dan membersihkan peluh dingin yang menetes didahi pria itu. Kemudian tangannya meraih gelas tapi ditolak Luhan, Luhan lebih memilih berdiri dan mendorong Jessy menjauh. Detik kemudian ia sudah menghilang kearah toilet, meninggalkan Jessy yang terdiam ditempatnya.

**

“Aku.. Maaf..”

Luhan duduk diatas wastafel lalu mengacak-acak rambutnya sendiri. Astaga, ia tidak pernah seperti ini. Perasaan ini sudah 4 tahun keluar dari tubuhnya. Perasaan ingin mengingat masa lalu. Ia merasa semuanya baik-baik saja. Tapi itu dulu. Ia merasa ada sesuatu kebohongan dimasa lalu-nya. Tapi ia tidak mengerti apa itu.

 “Aku elergi pork, that’s why. Apakah kamu puas, Luhan-a?”

Apakah itu Jessy? Bayangan gadis itu terlihat samar-samar dalam ingatannya. Apakah Jessy bagian dari masa lalunya? Tapi bagaimana bisa? Gadis itu berbicara dengan Bahasa Korea, dan bagaimana bisa ia mengenal Jessy? Semua ini membuatnya gila.

“Lain kali kalau kamu tidak suka, kamu bisa langsung bilang padaku, eo?”

Tangan Luhan memukul dinding yang menyanggah-nya. Astaga ini benar-benar gila. Dan sesak. Ketika dunia membohongimu, bahkan hanya masa lalumu saja kamu tidak tau. Itu benar-benar gila. Pantas saja Luhan merasa ini semua tidak nyata. Pantas saja ia merasa tidak punya tujuan hidup selama ini. Pantas saja. Karena masa lalu, impiannya direngut. Pria itu memang terseyum, terlihat hidup. Tapi sebenarnya mati dan tidak tau arah.

“Ku kira kamu mual melihat wajahku.”

Lalu.. Apakah Jessy adalah bagian dari masa lalunya? Apakah Jessy adalah gadis yang ia cintai namun ia tinggalkan? Bagaimana sebenarnya masa lalunya? Hal ini benar-benar membuatnya muak.Muak karena tidak mengetahui masa lalunya sendiri.

**

Jessy turun dari mobil Kris dengan cepat. Ia tidak berbasa-basi sedikitpun dan bahkan menutup pintu mobil itu cukup keras. Luhan melakukan hal yang sama pada mobil Kris, sementara sang empunya hanya bisa diam. Kris tidak mengerti situasi apa yang terjadi sekarang, yang jelas mereka berdua butuh waktu bicara. Sebenarnya Kris tadi ingin bertanya, siapa trainee yang selalu dikunjungi Jessy 4 tahun yang lalu. Tidak mungkin Luhan, karena Luhan baru saja datang beberapa tahun yang lalu.

“Annyeong, Suho-a. Sepertinya aku akan mampir ke dorm EXO-K sebentar.”

Kris menggeleng sesaat mendengar suara dari seberang, “Aku sendiri. Luhan sepertinya masih ada urusan.”

Kris menyalakan mesin mobil sekali lagi dan baru saja akan menginjak rem, tapi ia terhenti sesaat. “Aku harus berbicara padamu sebentar. Ini mengenai Luhan dan Jessy. Ara? Jangan pergi kemana-mana dulu. Aku akan sampai sebentar lagi.”

**

Luhan mengetuk pintu hotel itu lembut, dan penghuni didalamnya kaget ketika membuka pintu hotel itu. Secepat Jessy ingin menutup pintu kamarnya, secepat itu juga Luhan menahan pintu itu. Pria itu kemudian beranjak masuk kedalam kamar itu cepat tanpa memberikan banyak waktu untuk Jessy mempersilahkannya masuk.

Pintu tertutup beberapa detik kemudian dan Jessy menyusul Luhan yang sudah menemukan sofa nyaman untuk didudukinya. Pria itu tersenyum padanya. Seperti 4 tahun lalu. Lalu apa yang dirasakan oleh gadis itu? Tentu saja berdebar untuknya, yang sialnya lebih cepat.

“Maaf mengganggu-mu.”

Jessy tidak bersuara, Luhan kembali melihat bayangnya lagi ketika Jessy datang ke ruang tamu lagi sambil membawa mineral water untuknya. “Apa yang kamu inginkan?”

“Kamu mengenalku?”

“Kita hanya teman sekelas waktu SMA. Tidak lebih.”

Luhan terdiam, lalu ia menutup matanya sesaat. Ia tidak menemukan memori apapun. Memori tentang Korea sebelum 4 tahun yang lalu. Ia tidak pernah tau apa yang terjadi padanya. Sesaat kemudian ia melihat Jessy yang tidak mengeluarkan suara apapun, “Akankah kamu percaya kalau aku tidak punya memori apapun sebelum 4 tahun lalu?”

Detik itu juga mata Jessy membulat. Ia tidak percaya apa yang dikatakan Luhan. Pria itu tidak punya memori apapun sebelum 4 tahun yang lalu? Lalu semua memori yang mereka lewati bersama, masa-masa SMA semuanya menghilang begitu saja? Astaga, ini semua sungguh tidak masuk akal. Benar-benar seperti dunia dongeng atau drama yang pernah ia tonton.

“Tapi maukah kamu menemaniku sampai aku mengingat semuanya?”

“Lalu apa yang terjadi padamu, Luhan-a?” tanya Jessy dengan suara serak dan takut. Ia bisa melihat tatapan putus asa Luhan. Tapi ketika Luhan tersenyum, Jessy merasa lega. Walaupun hanya sedikit.

“Aku masih tidak bisa menceritakan apapun. Aku masih belum siap. Maukah kamu menungguku?”

Tanpa sadar yang dilakukan Jessy hanya menganguk. Semua terjadi seperti sudah seharusnya terjadi. Sialnya, Jessy melupakan tujuannya. Segera menyelesaikan semua urusannya dan kembali ke London. Hilang tanpa bekas.

**

Kai masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu itu pelan-pelan, tidak ingin para member lain tau kalau ia diam-diam masuk kedalam kamarnya. Seolah ingin menghindar. Ia sedang tidak ingin berbicara pada siapapun saat ini.

Ada yang salah dengan dirinya. Akhir-akhir ini ia merasakan tidak enak. Ia merasa bahwa rindunya pada gadis itu bertambah. Rasa rindunya pada Je-si menambah setiap hati, tapi ia tidak pernah merasa selelah ini ketika ia tidak menemukan gadis itu dalam jarak pandangnya.

Ia merasa gadis itu ada disekitarnya. Tapi ia tidak tau ada dimana gadis itu. Akhir-akhir ini ia seperti merasa seperti buta. Merasa gadis itu ada didekatnya tapi tidak bisa melihatnya, tidak bisa menyentuhnya, tidak bisa merasakan kehadiran gadis itu. Hal ini membuatnya sinting. Membuatnya semakin kehilangan tenaga setiap harinya.

Tubuhnya yang cukup berat itu mendarat diatas kasur empuk itu. Langit-langit kamarnya bercahaya dengan satu lampu dengan kekuatan minimum yang menyinari kamar itu. Tangan Kai terangkat seolah menggapai langit-langit yang tidak akan bisa ia gapai kecuali ia berdiri dan loncat keatas sana. Hanya saja ia terlalu malas atau merasa hal itu percuma sehingga hanya berpura-pura untuk menggapainya.

Tanpa sadar perhatiannya tersita pada gelang yang ada ditangan kanannya. Siapapun akan penasaran pada gelang itu. Dan ketika ditanya orang, Kai hanya menjawabnya dari orang yang penting untuknya. Dan untungnya semua orang menganggap itu dari orangtuanya, dan bukannya dari gadis itu. Gelang itu selalu ia gunakan. Gelang itu lah yang selalu memberikannya kekuatan. Dikala ia sedih, senang ataupun terpuruk. Karena itu adalah bukti janjinya dengan gadis itu. Dan bukti bahwa gadis itu masih ada disisinya, mereka masih belum terpisah secara sah.

Memikirkan hal itu semakin membuat Kai terpuruk. Ia terlalu sibuk sekarang, lalu bagaimana caranya untuk menemukan gadis itu? Sementara tujuan sebenarnya untuk tetap berada ditempat ini hanya untuk Je-si? Hidup ini ternyata terpusat hanya untuk gadis itu, tujuan hidupnya.

Salahkah ia tetap seperti ini? Salahkan dan egoiskah ia ketika suatu saat ia bertemu dengan Je-si dan memintanya kembali?

Sekalipun hatinya ingin Je-si kembali kesisinya. Kai juga tidak bisa menyembunyikan perasaannya, perasaan takut ketika suatu saat Je-si menolak kembali kesisinya karena pria itu mendorong gadis itu menjauh. Apalagi tanpa mendengar penjelasan gadis itu. Ditambah dengan kenyataan ia menjauhi gadis itu sampai akhirnya gadis itu pergi dari kehidupannya. Apakah hal itu dikatakan kejam? Mungkin tidak. Lebih parah dari itu.

**

Mata itu terbuka perlahan. Terkejap takut-takut ketika merasakan sesuatu yang asing dimatanya. Cahaya. Sudah berapa lama ia tidak terbangun? Yang jelas ia sama sekali tidak terbiasa dengan benda itu. Tenggorokan pria itu terasa kering luar biasa diikuti bunyi asing ditelinganya. Bunyi yang seolah menghitung detik yang dilewatkannya.

 

Ia tidak tau dimana ia berada, yang ia tau semuanya terasa asing baginya. Ia tidak mengenal tempat ini sama sekali dan tidak berani bertanya pada siapapun. Apalagi ketika tempat ini kosong.

 

Tiba-tiba saja pintu putih itu bergeser dan tampaklah seorang dokter tua dengan jubbah putihnya. Ia menatap pria itu dengan perasaan bahagia tak terkira dan masuk dengan cepat kedalam ruangan itu, “Luhan, apakah anda sudah sadar?”ucap dokter itu dengan bahasa mandarin yang cepat.

 

Luhan. Pria itu tidak mengerti kenapa dokter itu terlihat begitu bahagia melihatnya. Ia bahkan tidak mengenal dokter itu sama sekali. Tidak ada memori dalam otaknya. Semuanya hilang. Tak berbekas.

 

Dokter itu beranjak mendekat, tapi Luhan menarik selimut itu mendekat dan menyembunyikan dirinya didalam selimut. Ia takut pada setiap gerakkan. Sudah ku bilang, ini semua terasa asing padanya. Ia bahkan tidak tau harus berkata apa.

 

“Astaga, apa yang terjadi padamu?”

 

Luhan masuk kedalam selimut dan mengerang didalam sana, semuanya terasa sakit. Semuanya asing untuknya. Semua ini membuatnya takut. Apalagi ketika menyadari bahwa dirinya tidak tau apa-apa sementara semua orang menatapnya khwatir. Luhan, kehilangan ingatannya saat itu. Bahkan untuk berbicara saja, ia tidak tau bagaimana caranya.

 

**

 

Namanya Luhan.

Yang selama ini ia tau hanya itu.

Orangtuanya tidak ingin bercerita apapun tentangnya.

Seolah menutup masa lalu itu rapat-rapat.

Dan otaknya pun memaksa begitu.

Memaksanya melupakan masa lalunya begitu saja.

 

**

 

Jong-in keluar dari ruangan itu dengan muka malas. Ia berjalan melalui koridor menuju keluar ruangan itu secepat mungkin. Ia bahkan tidak peduli tatapan ingin tau para artis-artis yang melewatinya. Pria itu tidak tertarik pada apapun. Toh ia ada ditempat ini juga karena seseorang, bukan karena kemauannya sendiri.

 

Ketika berada didepan kaca jendela besar onesight itu, Jong-in tersenyum. Je-si sedang bersandar didepan mobilnya. Memakai pakaian sekolahnya, ditengah terik panas seperti itu. Sekali-kali mungkin Je-si perlu dikerjai seperti itu.

 

Tapi saat melihat Je-si sudah mulai jalan bolak-balik tidak jelas, Jong-in segera saja kembali berlari keluar dari gedung itu. Dan mendapati rentetan keluhan Je-si ketika melihatnya. “Lama sekali!”

 

“Jelas. Kamu kira buat contract hanya satu menit?”

 

“Lalu bagaimana?” tanya Je-si mengalihkan pembicaraannya. Ia tau kalau membuat contract itu lama sekali. Hanya saja tidak bisakah Jong-in menganggap itu hanyalah keluhan yang seharusnya tidak usah dibalas? Tidak bisakah anak kecil itu hanya meminta maaf dan menghiburnya? Menyebalkan sekali.

 

“Memangnya apa yang kamu harapkan?”

Je-si memutar bola matanya malas lalu lebih memilih masuk kedalam mobil diikuti Jong-in setelahnya, “Tidak bisakah kamu menjawab pertanyaanku dan bukannya membalas dengan pertanyaan lain?”

 

Jong-in tersenyum, lalu kemudian melemparkan berkas yang ia dapatkan pada Je-si membuat gadis itu sewot ditempatnya. Tapi tetap saja Je-si mengambil berkas itu lalu membukanya. Ia membaca perlahan isi contract itu dan takjub, “Astaga, bagaimana kalau nanti kamu jadi eternal trainee disana?”

 

Jong-in menggeleng, “Itu tidak mungkin. Walaupun ditulis waktu debut tidak ditentukan, aku pasti akan debut. Aku berani taruhan kalau itu sekitar umurku 17-18 tahun-an. Dan saat itu, kamu harus mau menikah denganku.”

 

Je-si ditempatnya menahan tawa lalu kemudian melemparkan contract itu kembali pada Jong-in, “Baiklah. Lihat saja nanti. Kalau saja kamu belu juga debut pada umur segitu, aku akan memutuskan pertunangan kita.”

 

Didalam mobil itu, hanya ada Jong-in dan Je-si. Supir Je-si ntah pergi kemana. Tapi Jong-in bahagia akan kenyataan itu. Kepalanya tersandar dipundak gadis itu dan menyisipkan tangannya ke pinggang gadis itu. Melakukan hal yang selalu ia lakukan akhir-akhir ini. Mengisi kembali tenaganya.

 

“Tidak kah kamu ingin memberikanku hadiah?”

 

Je-si terkesiap ditempatnya. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi selalu lupa untuk membelinya. Atau sekedar untuk mencarinya saja ia selalu lupa. “Kamu memang selalu melupakanku, Je-si-a.”

 

“Mian..” ucap Je-si serak seolah mengakui kesalahannya. Tapi ditempatnya Jong-in hanya tersenyum dan menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku yang belum terlalu berusaha. Semuanya bukan salahmu.”

 

Ditempatnya Je-si terdiam dalam haru, anak kecil ini terlalu berusaha. Dia yang tidak berusaha. Tidak mau berusaha.

 

Tiba-tiba saja Je-si teringat akan sesuatu, ia melihat gelang hitam ditangan kanannya. Gelang yang selalu menjadi gelang keberuntungannya. Tidak ada yang special, Je-si hanya merasa lebih percaya diri ketika ia menggunakan gelang itu.

 

Tangannya yang bebas melepas gelang itu dan kemudian mendorong Jong-in menjauh darinya. Jong-in terlihat malas sekali bergerak dan lelah dengan matanya yang berat itu. Tapi matanya kemudian membulat ketika merasakan tangannya ditarik dan sesuatu melingkar ditangannya. Gelang keberuntungan gadis itu.

 

Jong-in menatap Je-si dengan tatapan tidak percaya, tapi gadis itu hanya tersenyum. Sesaat kemudian, Je-si sedikit naik dan mendekat kearah Jong-in. Tak lama, kecupan hangat mendarat didahi Jong-in. Awalnya tentu terasa canggung. Tapi ada sesuatu yang lain mengalir dalam dirinya, perasaan disayangi. Hal itu menjadi tenaga baru tersendiri baginya. Untuk kali ini Jong-in ingin sekali punya kekuatan untuk menghentikan waktu.

 

**

Kai baru saja selesai belajar bahasa mandarin diruang bahasa. Ia melakukan susulan hari ini sendiri, karena ia sendiri yang memilih hari itu. Ia merasa bahwa ia akan kurang konsentrasi kalau ia belajar bersama dengan member lain, dan tidak ada yang berani protes dengan alasannya itu.

Kakinya membawa pemuda itu menyusuri koridor lantai 3 yang khusus untuk ruang training. Ruang dimana para artis SM belajar apapun. Mulai dari les music, bahasa, public speaking, modeling. Apapun untuk mendongkrak karir mereka.

EXO-K sendiri diwajibkan untuk melancarkan bahasa mandarin mereka, terlebih lagi karena mereka harus banyak promosi di korea nantinya. Pelajaran itu bisa dikatakan susah ataupun mudah, tergantung bagaimana mereka dihadapannya. Tapi nyatanya memang sulit, apalagi jika EXO-K sedang saat-saat sibuknya sekarang.

Kai bersandar didinding perlahan dan mulai mengisi paru-parunya dengan banyak oksigen lagi. Dadanya menjadi sulit bernapas akhir-akhir ini sehingga memaksa Kai harus lebih santai. Ia terlalu stress, membuatnya menjadi seperti ini.

Ketika kakinya sudah mulai berjalan lagi, Kai terhenti didepan kaca besar itu. Tempat ini sama seperti diantai-lantai lainnya. Bisa melihat kebawah dengan leluasa. Kai bisa melihat banyak sekai fans dibawah, bukan hanya EXO tentu saja. Tapi juga fandom lain. Hanya saja perhatiannya tersita ketika sebuah mobil terhenti didepan SM. Membuat sekerumunan itu melihat kearah mobil itu, begitu juga Kai. Ia seperti dibawah kemasa lalu.

Sesaat kemudian, pintu mobil itu terbuka. Dan tampaklah wanita dengan rambut pendek dan kacamata hitam disana. Pakaiannya begitu santai dan nyaman. Sepertinya mereka yang dibawah sana terpesona. Ditempatnya Kai tidak bisa berkata apa-apa. Ia memang tidak bisa melihat dengan jelas siapa dibawah sana. Tapi ia seperti bisa merasakan bahwa dibawah sana adalah orang yang selama ini ia tunggu. Han Je-Si. Apakah itu benar dia?

Kalau bukan, Kai benar-benar harus berkonsultasi pada psikiater karena sepertinya ia sudah sampai ditahap yang sangat mengkhawatirkan. Kaki Kai tanpa sadar berlari, mengerjar bayang-bayang itu. Seperti orang bodoh.

**

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

14 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 8

  1. dian October 15, 2012 at 2:05 AM Reply

    wah Kai taahu saja kalo jesi yang datang…
    haha..
    lanjutannya jangan lama lama…
    seru nih..;D

    • hanjesi October 15, 2012 at 7:41 AM Reply

      sebenarnya sih uda ada part 9 >_< baru aja uda selesai di ketik kemarin ^^ hahaha.. tapi harus nunggu dengan sabar sampai minggu depan ya :3

      thanks for reading ^^

      • dian October 15, 2012 at 3:38 PM

        waduh masih lama…???
        makin penasaran saja ne..
        huhuhu..:(

      • hanjesi October 15, 2012 at 11:14 PM

        Iya dong :3 hihihi
        Nanti masa minggu depan aku ga ada bahan buat dipost T__T
        Ngetiknya sehari sih, tapi nguras 5-6 jam -_-V

        Hehehe

  2. Cynthia October 15, 2012 at 4:28 AM Reply

    wahhh yg mau ketemu duluan ma jesi si kai..
    yaiyalah pasangannya 😀
    tgu part selanjutx lo ya.. jgn lama2 😀 semakin seru nihh…

    • hanjesi October 15, 2012 at 7:43 AM Reply

      hihihi.. iya dong Kai.. masa si Je-si-nya xD
      bakal kayak apa ya kira-kira kalau mereka ketemuan :3

      makasih loh uda bilang Kai-Jessy itu pasangan >_< hahaha
      as soon as possible(read : minggu depan)
      xD

  3. naritareky October 15, 2012 at 4:29 AM Reply

    Akhirnya luhan ketemu juga sama jesi

    Tapi aku lebih berharap Kai yang cepet2 ketemu jesi mereka lebih cocok haha

    Walaupun penampilan jesi berubah kai langsung cepet ngenalin nya ya haha

    Di tunggu part selanjutnya secepatnya 😀

    • hanjesi October 15, 2012 at 7:45 AM Reply

      Spoilernya nih ya.. Luhan sama Jessy >__< hahah

  4. Cynthia October 15, 2012 at 9:17 AM Reply

    Tp yg ketemu dluan ma je-si i2 Luhan.. gpp deh kn Luhan hilang ingatan..
    Ok Q tgu minggu dpn n semoga soo-na cpt2 balik, kasian Luhan g pny couple 😀

    • hanjesi October 15, 2012 at 1:53 PM Reply

      Aaaaa.. Luhan kan punya Jessy selama Soon-na ga ada xD hehehhe

  5. Anggita Ratri Pusporini October 18, 2012 at 11:06 AM Reply

    aaaaaaaaaaaaaaahhhh kenapa Luhan ketemu Jessi duluaaaaaaaann? ><
    nanti Luhan kira Jessi orang yg ia cintai selama ini, andwae!
    *maksa-lagi XD
    aaaaah aku udah suka banget Luhan- Soon Na, Jessi ama Kai aja thor, kkkk~
    Soon Na kapan muncul??
    next chapter bener2 ditunggu!
    aku skrg bnr2 penggemarmu thor! ceritamu keren, seru, tidak terduga, tapi matang(?), wkwkwk
    part 9nya perasaan kmrn udah ada, jgn lama2 yaaaah XD

    • hanjesi October 18, 2012 at 3:37 PM Reply

      Kan biar Luhan sama Je-si hahahah xD
      Soon-na.. Kayaknya muncul di part 10 ya xD musti sabar-sabar.. Hahaha..

      Masa jadi penggemarku? TERHARUUUU T___T CUNGGUH T___T

      MATANG? Memangnya telur? *?*

      Uda ada.. Di wp-ku xD haha.. Dishare disininya minggu ya :3 huahaa.. Selamat menunggu *cium byebye*

  6. Anggita Ratri Pusporini October 19, 2012 at 4:39 AM Reply

    ah maunya author si iya Luhan ama Je Si :p
    yaudah bayangin aja mukanya Soon Na tuh mukanya author, kkkk~
    SUMPEH PART 10 SOON NA BARU MUNCUUUL?! LAMA AMAAAAAAAAAAAAATTTT >,<

    ciusan~ aku penggemarmu sekarang ^^
    hahahah XDD

    yaelah thor, minggu lama amaaaat, sekarang aja sih, hehehe
    #reader bawel banyak maunya XD

    • hanjesi October 20, 2012 at 9:19 PM Reply

      Ya memang mau-nya aku sama Luhan =3=
      Susah bayangin Soon-na, kan enakkan bayangin Je-si :3333 hahah

      Tapi.. Tapi.. Soon-na-nya..
      Pokoknya itulah xD hahaha

      Gapapa kok. Walaupun readernya bawel dan alay *plak*. Yang penting comment-nya panjang xD hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: