EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 9

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Just Like You”

 

*Title : Just Like You

*Part : 9

*Main Cast :

  • Kris Wu
  • Kim Hyeon
  • Kim Sun Hye

*Length :  Series

*Genre : Romance

*Rating : PG 13

*P.S :  Ini adalah karya original by YuanFan. Dilarang keras untuk mem-plagiat dan mencopas tanpa seijin author

leave comment please

*Sinopsis : Kris Wu dan Kim Hyeon menikah muda, mereka menyembunyikan status mereka karena mereka sama-sama seorang pelajar. Ini semua dikarenakan kemauan kedua orang tua mereka. Mereka hidup bersama selama setahun, meski begitu perasaan mereka tak bergeser, Kim Hyeon masih menyukai mantan pacarnya Park Chanyeol. Kris? Dia belum menemukan seorang yang tepat untuk dirinya. Sampai kemudian memutuskan untuk bercerai. Apakah perasaan akan berubah menjadi cinta??

 

*Disclaim :

SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

Hyeon POV

 

Kepalaku pusing sekali, rasanya aku tak sanggup bangun dari tidurku. Aku melihat layar ponselku, pukul 06.30, sial! Aku kesiangan. Aku merangkak dari sofa tengah. Tak ada yang membangunkanku. Semua kompak sekali hari ini, kurasa Sun Hye dan Kris adalah kolaborasi yang tepat. Aku mengikat rambutku kebelakang, dan segera menuju kamar mandi.

“Kau dibangunkan sangat sulit,” celetuk Sun Hye dari belakangku. Dia membawa piring saji, pasti hidangan sarapan.

Dia putri yang sempurna, kurasa. Cantik, kaya, dan anggun… pintar memasak. Idaman Kris. Huh, mengapa aku jadi terpikirkan tentang dia. Semalam aku bertengkar lagi dengannya. Makanya aku memilih tidur diluar, karena dikamarku ada makhluk tiang listrik itu.

“Mianhe, aku sangat lelah,” jawabku.

“Hyeon-ah, bisa kah kau bangunkan Kris? Aku mengetuk kamarmu berulang kali, tapi dia tak menjawab.”

“Kamarku?” ulangku sambil menunjuk diriku sendiri.

Sun Hye mengangguk. Ternyata dia memang tidur semalaman disana, untung aku keluar.

“Eonnie saja, masuk saja kedalam. Kau sudah bagian keluarga ini,” kataku alih-alih menolak permintaannya.

“Aniya, kau saja. Sepertinya dia akan bangun bila kau yang membangunkannya,” Sun Hye tersenyum penuh arti. Apa itu maksudnya.

Aku membuka pintu kamarku pelan, sosok panjang tidur memenuhi ranjangku. Aku mendekatinya berlahan, sebelumnya aku tak pernah tau bagaimana rupa Kris saat tidur. Sangat tampan. Oh, Hyeon-ah… pukul kepalamu!! Dia semalam mengataimu murahan!!! Aku memukul kepalaku menghilangkan pikiran itu. aku ragu untuk membangunkannya, tanganku berhenti diudara ketika akan menyentuh bahunya.

“Yah, tidur saja,” gumamku kemudian keluar dari kamarku.

Aku tak mau bicara dengannya, aku tak mau lagi.

“Sudah kau bangunkan?” tanya Sun Hye saat aku sudah turun ke ruang makan.

“Tidak bisa, kau saja, eonnie,” kataku sambil mencomot sebuah toast bread.

“Aku lapar,” tambahku memberinya alasan.

Sun Hye berdecak padaku sambil berkacak pinggang. Kemudian dia sendiri yang naik ke atas, membangunkan Kris. Aku diam sejenak ditempat dudukku, kemudian mengambil jatah sarapanku dan segera berlari kekamar mandi.

“Yeoboseo?” kataku mengangkat telepon tepat setelah aku selesai mandi.

Aku menutup pintu kamar mandi belakang dan segera bergegas ke kamarku. Aku sempat melirik Sun Hye yang melihatku berlari dan Kris yang duduk didepannya, sarapan, tanpa melihatku. Chanyeol menyuruhku segera turun, dia sudah menungguku diluar. Aku memakai seragamku dan berdandan ala kadarnya tak menghabiskan waktu 10 menit. Aku segera berlari menuruni tangga, dua-dua sekaligus.

“Aku berangkat,” pamitku setengah berteriak tanpa memandang mereka yang masih duduk di meja makan.

“Engg—“ aku sempat mendengar Sun Hye akan berbicara padaku, tapi aku segera bergegas mengenakan sepatuku dan berlari keluar.

“Mianhe…” ucapku.

“Bukan salahmu, kau sudah mengatakan berulang kali.” Kata Chanyeol.

Gara-gara aku, kami terlambat masuk kelas. Sekarang kami dihukum oleh guru mengepel koridor kelas kosong. Aku merasa bersalah pada Chanyeol, harusnya dia tak terlambat, tapi… gara-gara aku.

“Yah, kenapa wajahmu seperti itu? sudah kubilang, tak apa,” kata Chanyeol mendongak melihatku. Dia berjalan menghampiriku.

“Kau lelah?” tanyanya.

“Jangan berlebihan, apakah wajahku terlihat seperti itu??” kataku jengkel menepiskan tanganya yang menyetuh dahiku.

“Ayo, cepat selesaikan.” Kataku seraya menyodok bokongnya dengan gagang pel.

“Yah!!” teriaknya. Aku tertawa keras melihat ekspresi kagetnya. Dia sangat imut sekali.

Kris POV

Hyeon benar-benar tak ingin bicara denganku, bahkan melihatku saja dia enggan. Salahku berkata kasar padanya, tapi aku juga tak akan meminta maaf padanya. Dia tak sepenuhnya benar. Kabur dari rumah dan pergi dengan namja lain itu sangat tak termaafkan.

“Kris, dari tadi kau diam saja, wae?” Sun Hye menelengkan kepalanya melihat wajahku.

“Aniya, aku hanya lapar saja,” kataku sambil menggigit roti yang kubawa.

Aku dan Sun Hye menghabiskan waktu makan siang diatap sekolah,. Sebenarnya, ini ajakan Sun Hye. Dia menjemputku dikelas, yang membuat seluruh anak dikelas gempar. Xiumin, Luhan dan Suho sebenarnya masuk ajakan Sun Hye, namun tahu sendiri mereka sangat mendukungku dengan yeoja manapun. Alasan utamanya, agar aku tak menjadi penyuka sesama jenis. Mereka khawatir mereka sasaran pertamanya. Mereka sangat menyebalkan.

“Kris-ah… kau tak apa terus-terusan bertengkar dengan Hyeon?”

Hatiku berontak membahas hal ini, sangat menyakitkan bila mendengar nama Hyeon disebut. Rasanya ada yang mengganjal dalam  hatiku.

“Kami biasa seperti ini bila salah paham,” aku menyunggingkan senyum pada Sun Hye, meyakinkan semua akan baik-baik saja.

“Tapi, Hyeon sepertinya sangat marah padamu. Ada apa sebenarnya?”

“Aniya, dia hanya keras kepala. Dia akan luluh sendiri nanti.”

Padahal aku tak tahu dia akan kembali seperti semula, aku sedikit mual bila memikirkan dia akan pergi dariku. Apakah benar aku mulai menyukainya?

“Kris-ah, kau menyukai Hyeonnie?”

Ah, tidak… pertanyaan seperti itu lagi. Aku paling sebal menjawabnya, aku hanya menyunggingkan senyumku.

“Apakah kelihatan seperti itu? Kami tak lebih seperti adik dan kakak saja,”

“Aku tak melihatnya begitu, kalian seperti mempunyai hal yang sama dalam diri kalian, satu sama lain. Sorot mata kalian berbeda,”

“Kau hanya melihat kedekatan kami, sebenarnya tak seperti itu,” kataku.

Aku tak pernah menyadari, orang lain selalu berkata seperti itu. Sorot mata kami memancarkan apa? aku hanya memandang Hyeon sebagai Hyeon, tak lebih. Mengapa orang yang melihatnya berkata lain.

“Kris-ah… bagaimana bila aku menyukaimu?”

Aku menoleh kilat pada Sun Hye. Aku salah dengar??! Dia tertunduk memainkan jus kotaknya, wajahnya terlihat merah. Aku bingung harus bagaimana.

“Haha… kau bercanda,” aku mencoba mencairkan suasana. Dia mendongak menatapku, tapi matanya langsung melihat arah lain. Dia menggeleng.

“Aku… aku tak mengerti maksudmu,” ucapku salah tingkah.

“Kris-ah, aku menyukaimu,” Sun Hye mengatakan lebih tegas sambil mencoba menatap mataku beberapa detik, lalu wajahnya langsung semburat merah. Aku tak bisa mengatakan apapun. Benarkah yeoja secantik Sun Hye menyukaiku??

Hyeon POV

Sebagai permintaan maafku aku menraktir Chanyeol makan sepulang sekolah, dikedai ramen kami biasa makan. Aku hanya memesankan makanan untuk Chanyeol, aku sendiri tak terlalu lapar. Kusobek bungkus rotiku dan mulai memakannya.

“Yah, kau hanya makan roti?” tanya Chanyeol menahan tanganku saat akan menyuapkan roti kemulutku. Aku mengangguk.

“Aku tak begitu lapar,” kataku, dengan lembut ku tepis tangannya.

“Kau mempunyai masalah, Hyeon-ah?”

Aku mengalihkan pandanganku pada Chanyeol yang melihatku dengan tatapan matanya yang teduh. Aku menggeleng.

“Jangan bohongi aku, apa masalahmu? Kau tak mau bercerita padaku?”

“Chanyeol-ah, aku baik-baik saja..” gumamku menyakinkannya.

“Aku sangat mengenalmu, kau tak biasanya melewatkan makan ramen dikedai ini. Kau akan kehilangan selera makan bila memikirkan sesuatu yang berat. Hyeon-ah…”

“Aku tak apa, aku hanya tak lapar.” Aku melanjutkan makanku seraya tersenyum pada Chanyeol.

“Kau mau berjalan-jalan hari ini?” tiba-tiba Chanyeol menawariku, aku tak mungkin bisa menolak bila aku sedang dalam keadaan normal.

“Aniya, aku ingin langsung pulang,”

Sebenarnya aku tak ingin pulang, tapi aku juga terlalu lelah untuk  berjalan. Pikirankan sedang tidak fokus, lebih baik aku tidur dirumah.

“Emh, baiklah…” ucapnya. Dia mengambil sumpit saat, semangkuk ramennya datang.

Pikiranku masih melayang tertuju pada masalahku dan Kris. Kami harus segera mengakhiri semua ini, aku tersiksa, entah rasa apa yang membuatku tersiksa. Ku hela nafas dalam-dalam dan menelan gigitan terakhir rotiku. Aku akan menemui Kris nanti.

“Buka mulutmu,” Chanyeol tiba-tiba menyuapiku. Aku sedikit tertegun, kemudian membuka mulutku dan menerima suapannya.

“Gomawo,” ucapku sambil mengecap makanan yang ada dimulutku.

“Lagi,” dia menyodorkan satu suapan lagi.

“Ani… masih ada..” aku menunjuk pipiku yang menggelembung.

Chanyeol tersenyum memundurkan tangannya dari depanku, dan meletakan sumpitnya kembali ke atas mangkuk. Dia tampak mencari sesuatu dalam tasnya.

“Minum,” dia menyodorkan sekotak susu dan menusukan sedotannya.

Sikapnya sungguh manis sekali, hal ini yang membuatku dulu sangat berat meninggalkannya. Aku mengambil kotak susu itu dan segera menyesapnya.

“Ayo, kita pulang,” ajak Chanyeol membelai kepalaku kilat kemudian berdiri mendahuluiku.

“Chanyeol-ah,” panggilku, dia memutar tubuhnya.

“Hari ini aku yang menraktirmu,” aku ikut berdiri.

“Aniya. Lain kali saja,”

“Tap— Ara,” ucapku dengan nada melemah saat dia melemparkan pandangan marah padaku.

“aku langsung pulang,” kata Chanyeol saat sudah berada didepan rumahku. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik tasnya. Sarung tangan. Dia mengenakannya dikedua tanganku. Warna sangat unik, coklat, warna kesukaanku.

“Kau membuatnya sendiri?” tanyaku sambil memandangi setiap rajutannya.

“Menurutmu? Aku punya satu lagi,” dia mengeluarkan bantal leher dan mengenakannya dileherku.

“Aku tau, kau suka tidur disembarang tempat. Pakailah itu,” dia menepuk bantal yang sudah terpasang di leherku. Lucu sekali.

“Ne~, jeongmal gomawo. Kau sangat perhatian padaku, aku terharu.” Ucapku  tertunduk malu. Cup. Aku merasakan bibir Chanyeol menyetuh pipi kananku. Aku mendongakan kepalaku, wajah Chanyeol beberapa centi dariku, nafasku tiba-tiba tersendat.

“Aku pulang dulu,” ucapnya kemudian menjauhkan wajahnya, meninggalkan seulas senyuman manis.

“Ne~,” aku merasa beku ditempatku.

“Pai..pai..” dia membelai pundakku pelan dan kemudian membalikan badannya. Aku membalas lambaian tangannya.

Chanyeol-ah, aku menyukaimu, tapi hatiku berontak entah kenapa. Batinku sesak, lalu melangkahkan kakiku kedalam rumah.

 

Sun Hye POV

Tadi aku mengatakan semua perasaanku pada Kris, aku tak tau darimana aku memperoleh kekuatan itu. Aku baru menyadari apa yang kulakukan tadi, sekarang. Aku malu sekali, Kris hanya bisa memandangku dan tak berkata apa-apa. Membuat hatiku sedikit meronta sakit, aku khawatir dia akan menolakku. Atau memang dia akan  menolakku?

“Yah, Sun Hye-yah? Ada apa dengan wajahmu?” gertak Jessica dari belakangku, buku yang kupegang hampir jatuh saking kagetnya.

“A—aniya..” aku tiba-tiba tergagap sendiri.

“Aku aneh, waeyo?”

“Aku tak apa-apa,” aku mencoba tersenyum, dia duduk dikursi depanku, memiringkan tubuhnya menghadapku.

“Pabo!” dia menjitak kepalaku

“Bagaimana mungkin itu wajah yang biasa, ceritakan padaku. Kau kenapa?”

Aku memutar-mutar jariku mencari kata-kata yang tepat, aku cepat atau lambat Jessica akan menyadari dan tahu semuanya.

“Aku mengatakan perasaanku pada Kris..” akuku ragu, aku tak berani menatap wajah Jessica yang mungkin sedang melebarkannya mata.

“Jinjja? Sun Hye-yah… akhirnya, aku melihatmu menyukai namja dengan serius.”

Aku mendongak melihat ekspresi Jessica yang tampak bahagia dan bangga. Dia tidak mengataiku? Aku menyunggingkan senyum tipisku.

“Lalu apa jawabannya?” tanyanya lagi.

Aku diam, menggeleng pelan. “Dia belum menjawabnya. Dia tak percaya aku mengatakan hal ini,”

“Kau harus sabar menunggunya. Oia, sampai kapan kau akan tetap di rumah Kris-ssi?”

“Entahlah, aku nyaman ditempat itu,” ucapku malu-malu. Jessica tertawa menggodaku, dia tahu apa yang kuinginkan dalam rumah itu.

“Jessica-yah… kau masih menyukai Luhan?”

“Jangan bicarakan lagi, aku tak suka mengungkitnya. Dia menyukai orang lain sekarang,” aku mendengar nada kecewa dari mulutnya.

“Kau masih menyukainya, lalu mengapa dulu kau tinggalkan dia?” tanyaku, dia tersenyum lucu melihatku.

“Dia tak seperti apa yang ku inginkan—“

“Tapi, kau mencintainya. Katakan itu padanya,”

Jessica membalikan badan dariku, aku menatap punggungnya yang sedikit mengangkat lalu menurun, dia menghela nafas gundah sepertinya.

“Entahlah, aku tak seberani dirimu. Ini semua salahku,” ucapnya, aku tau dibalik punggungnya itu dia sedang menangis sekarang.

Hyeon POV

Kris dan Sun Hye belum pulang kerumah rupanya. Mereka kan memang sudah kelas 12, wajar. Mungkin ada penambahan jam. Aku  menaiki tangga dengan gontai, aku mengantuk. Masih sampai di perempat tangga, aku mendengar bel pintu berbunyi. Aku balik badan dan segera membukakan pintu. Sosok tinggi, langsing bak model ada didepanku, memunggungiku.

“Permisi, mencari siapa?” kataku pelan-pelan.

Yeoja itu membalikkan tubuhnya dengan anggun menghadapku. Ya, ampun… dia cantik sekali, walaupun wajah berumurnya tak dapat ditutupi dengan make up-nya.

“Kau Kim Hyeon?” tanyanya, nada bicaranya sangat anggun dan… sombong.

“Ne~,” kataku ragu seraya mengangguk.

“Boleh aku masuk?” tanyanya lagi.

“Oh, Changsahamnida. Silahkan…” aku membuka lebar daun pintu dan memberinya jalan untuk masuk kedalam. Suara sepatunya berirama, enak didengar. Kelihatannya mahal.

“Silahkan duduk, Bibi,”

“Ne~, kamsahamnida. Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri padamu. Aku Kim Hyura. Ibu dari Kim Sun Hye.”

Jinjja?? Aku tertegun sebentar kemudian merilekskan badanku dan tersenyum.

“Senang bertemu dengan, Anda, Nyonya Kim. Changsamhamnida, Sun Hye eonnie belum pulang dari sekolah—,”

“Ani.. aku tak mencarinya.” Potongnya, aku sedikit tertegun.

“Aku datang kemari mencarimu dan Kris Wu,”

Tunggu, darimana dia tahu aku dan Kris yang memiliki rumah ini. Aku mengangguk kikuk.

“Oh, ne~.” Hanya itu yang bisa kukatakan.

“Sudah berapa lama kalian menikah?”

Aku tercengang, sangat tercengang. Apa yang ditanyakannya?

“Ne?” aku memasang wajah bingung. Bibi didepanku tersenyum setengah mendengus.

“Aku tak mengerti maksud Anda…”

“Kau dan Kris, suami istri bukan? Bukan saudara?”

Dunia rasanya jungkir balik, perutku tiba-tiba mual. Aku merasakan seluruh tubuhku melayang. Bagaimana dia tahu rahasia kami?? Sun Hye eonnie kah yang menceritakan semua??

“Waeyo? Apakah aku salah?” tanyanya. Aku ragu untuk menjawab.

“Ah, aku tau. Hal ini kalian sembunyikan? Kalian masih pelajar bukan?”

Aku masih diam , membeku ditempatku. Siapa orang ini? Dia sangat tidak sopan dan angkuh.

“Oh, mungkin kau bingung aku mengetahui dari mana. Kau pasti berpikir Sun Hye yang memberitahuku. Tapi, bukan, Hyeon-ah…” katanya dengan senyum yang menyebalkan. Aku masih diam ditempatku.

“Aku mengenal orang tua kalian, Tuan Kim dan Tuan Wu, dari China. Benar?”

Aku masih diam, melihatnya. Pikiranku sudah tak lagi disini, jantungku berdetak kencang hebat. Aku merasakan tubuhku mulai gemetaran, aku tak tak pernah merasa setakut ini.

“Aku juga sangat prihatin dengan pernikahan muda kalian, mungkin hanya beberapa orang yang tahu tentang ini. Di China, kalian menikah di China? Sayang, aku tak bisa hadir saat itu. aku tak mengerti jalan pemikiran orangtua kalian, terutama orangtuamu Hyeon-ah,”

Kata-katanya sungguh tajam, menghujam hatiku. Sangat lembut nadanya

tapi sangat menyakitkan setiap katanya. Aku tak bisa bicara, hanya bisa memandanginya tanpa kedip. Aku merasakan hal buruk, nafasku mulai memburu, tapi aku berusaha merilekskan tubuhku, mengatur nafasku. Tenang Hyeon.. kau harus menghadapi ini.

“Saya tak mengerti maksud Anda, memang benar kami sudah menikah.” Akhirnya aku berani mengakuinya.

“Apa alasan kedua orangtua kalian menikahkan kalian?” dia balik bertanya padaku. Aku bingung harus menjelaskan darimana.

“Hutang orangtua memang telah menumpuk Hyeon-ah, tapi menikahkan kau dengan Kris Wu itu tindakan konyol,”

Tunggu? Apa yang dia katakan? Hutang? Bukannya Omma dan Appa tidak kenal keluarga Kris? Kepalaku pusing memikirkannya.

“Tunggu, jangan-jangan kalian dinikahkan dengan alasan yang berbeda?” dia menyadari wajah kikukku.

“Ah, Mianhe… aku tak bermaksud,”

“Gwenchana, teruskanlah. Aku akan mendengarkan, selama ini juga ingin mengetahui hal yang sebenarnya,”

“Mianhe, Nak, aku bukanlah tukang gosip,” dia berhasil membuatku penasaran setengah mati.

“Anda sebenarnya siapa? Mengenal orangtuaku dan orang Kris,”

“Kau sepertinya sedang memancingku,” dia menyeringai, menyilangkan kakinya dan mendekap lengan didadanya. Angkuh sekali.

“Aku rekan kerja, orangtuamu dan kelurga Wu. Keluarga Wu adalah salah satu keluraga miliader di China, mereka sangat terkenal. Sayang sekali, sepertinya kau tak tahu itu. Perusahaan ayahmu mempunyai hutang pada perusahaan-ku, dan akhirnya dia menikahkanmu dengan anak dari keluarga Wu. Kudengar, mereka barter… apa terlalu sadis aku menyebutnya ‘barter’ ?”

Aku tak bergeming memandangnya, kepalaku semakin berputar. Hatiku serasa ada yang menusuknya dalam. Aku ketakutan tiba-tiba, merasa hilang akal seketika.

“ Tapi, jangan salah paham dengan orangtua-mu, dia tak sepenuhnya salah. Kudengar anak dari keluarga Wu, seorang berandalan. Kudengar juga, orangtuamu dengan orangtua Kris sepakat menikahkan kalian dengan alasan masing-masing. Ayahmu mendapat pinjaman hutang, atau malah sumbangan… asal kau bisa merubah kelakuan Kris Wu,”

Aku tetap memandangnya, lalu tersenyum kecil. Senyum yang aku sendiri tak bisa mengartikannya.

“Aku terlalu banya bicara disini, sangat membuang waktu,” dia beranjak dari kursinya.

“katakan pada Sun Hye, suruh segera pulang. Atau kau yang menerima akibatnya,” dia menyeringai.

Aku mengeryitkan dahiku, dia berbalik tanpa kata. Sebagai tuan rumah yang baik, aku tetap mengantarkan dia sampai depan pintu.

“Senang bertemu denganmu,” ucapnya sebelum berjalan ke mobil mewahnya.

Nafasku tersengal, tiba-tiba aku kehilangan keseimbanganku. Aku jatuh terduduk didepan pintu, pikiranku melayang. Apa semua ini mimpi buruk?!! Aku dari awal sudah menduga, pernikahanku dan Kris tak mungkin hanya sebuah kebetulan. Semua ini pasti telah direncanakan. Aku memejamkan mataku merasakan peningnya kepalaku. Aku berlari ke kamarku, meringkuk, dan menangis terguguk.

“Aaaaah!!! Semua menyebalkan! Kalian jahat!!” aku melempar semua barangku tak beraturan. Membanting pigura foto kedua orangtuaku hingga ringsek.

“AKU BENCI KALIAN!!!!”

Dadaku sangat sesak, menyakitkan, kuraba ponsel yang ada disakuku, aku tak peduli betapa mahalnya tarif telepon ke Jepang. Aku butuh penjelasan. Aku sangat butuh.

“Ne~, aku Omma,” kataku mulai tak sabaran. Aku mencoba mengatur nada bicaraku dan nafasku, agar Omma dan Appa tetap tidak khawatir disana.

“Jadi, gosip yang kudengar itu benar? jawab aku Omma, orang yang bicara ini kenal orangtua Kris juga, apakah dia hanya bohong?”

“tidak aku tak akan mengatakan siapa itu,” tolakku saat Omma meminta nama Kim Hyura.

“Ne~, ara… gwenchana aku baik-baik saja, demi kalian. Jaga kesehatan kalian disana. Aku dan Kris baik-baik saja disini, kami mengerti.”

ne~ gomawoyo, chagi..” ucap Omma haru.

“Ne~, aku tutup teleponnya,”

Aku memutuskan teleponnya. Aku mendengar dari mulut Ommaku sendiri, semua benar. Ini sangat menyakitkan, kenapa baru sekarang aku tahu? Kenapa sangat terlambat? Aku tak bisa berdiam diri disini, aku harus melakukan sesuatu. Aku… aku tak terima dengan semua ini. Rasanya seluruh tubuhku melayang, sangat menyesakanku.

Kris POV

Pulang sekolah, Sun Hye mengajakku berjalan-jalan sebentar bersama, Xiumin, Suho, Luhan dan Jessica. Luhan tampak aneh, sepanjang perjalanan dia hanya diam, biasanya dia paling ribut. Aku juga masih ada beberapa urusan dengannya, masalah Hyeon.

“Ayo kita pergi,” Sun Hye menarik tanganku dan tangan sebelahnya menarik tangan Xiumin.

“Wae?” tanya Xiumin.

“Ayolah,” sekarang dia menarik tangan Suho.

Aku tak mengerti apa maksudnya, sepertinya dia ingin kami meninggalkan Luhan dan Jessica berdua.

“Yah, kalian mau kemana?” teriak Jessica dan Luhan bersamaan.

“Kalian tunggu disitu saja,” teriak Sun Hye menjawab mereka, dia tertawa kecil sambil terus mendorong kami bertiga.

“Memangnya ada apa?” aku bertanya pada Sun Hye saat sudah berada jauh dari mereka berdua.

“Ani…” jawab Sun Hye dengan mata berbinar-binar.

Aku mengernyitkan dahiku bingung.

“Jessica adalah mantan Luhan,” celetuk Xiumin. Aku memandang Xiumin dengan tatapan tak percaya.

“Luhan sangat menyukainya, tapi…” Suho tampak ragu saat akan meneruskan kata-katanya, dia melirik Sun Hye yang ada disebelahku.

“Tapi, Jessica meninggalkannya. Itu kan yang mau katakan Suho-yah?” Sun Hye melongokan kepalanya memandang Suho yang tehalang oleh ku. Suho tampak kikuk dan mengangguk.

“Jadi mereka masih saling menyukai?” tanyaku penasaran.

“Entahlah, sepertinya Luhan tak lagi. Dia lebih bisa move’on. Dia bilang padaku dia telah menyukai seseorang,” kata Xiumin.

“Benar, Jessica juga mengatakan hal demikian. Dia bilang Luhan sudah menyukai gadis lain, tapi kuharap mereka bisa kembali seperti dulu,” Sun Hye sangat hal itu terjadi. Aku dan dia bertatapan mata beberapa detik, refleks kami saling memalingkan wajah malu, mengingat kejadian tadi siang.

“Kris-ah, akhir-akhir ini aku mengamati, Luhan dan Hyeon sangat dekat. Apakah kau merestui mereka?” tanya Xiumin tiba-tiba, wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.

“Ne?” ulangku.

Suho mendengus geli, aku segera merilekskan badanku yang tiba-tiba menegang.

“Terserah mereka,” jawabku seraya melirik Suho yang terkikik.

“Kau dan Hyeon bukankah akan bercerai? Itu artinya Hyeon bukan milik siapa-siapa lagi kan? Aku juga sedikit tertarik padanya…” gumam Xiumin membuatku menggemertakan gigiku.

“Ku hajar hingga habis kau, Xiumin-ah…” desisku berhasil membuat Xiumin terkakak. Kurang ajar.

“Kris mengaku saja kau juga menyukainya, kenapa sulit sekali..” timpal Suho. Aku melirik Sun Hye yang ada disebelahku, tatapannya kosong kedepan. Aku harus melindungi perasaannya, setelah apa yang terjadi tadi siang.

“Yah, pembicaraan kalian melantur. Sun Hye-ya, ayo kita kembali. Percuma saja, Luhan akan diam sepanjang waktu bila kita hanya meninggalkannya berdua disana,” aku” menyenggol bahu Sun Hye yang akhir menoleh ke arahku dan mengangguk.

Saat kami kembali, Luhan sedang duduk bersama dengan kepala yang saling menunduk. Mereka mengheningkan cipta? Nasionalisme sekali.

“Yah, kalian darimana saja,” seru Luhan saat melihat kami.

“Bukan urusanmu,” kataku.

“Ayo, pulang Sun Hye-yah…” kata Jessica, wajahnya tampak memerah. Luhan diam tak berani memerhatikan wajahnya. Jessica langsung menari Sun Hye yang berdiri disebelahku dan pergi.

“Ada apa?” tanya Suho pada Luhan.

“tak ada apa-apa,” jawabnya malas.

“aku lapar ingin makan, ayo, kita pulang kerumahmu Kris-ssi.” Dia menarikku tanpa melihatku.

“Ah, ne~,” kataku.

Aku melihat pintu rumah terbuka lebar, lalu melihat jam ditanganku. Jam segini Hyeon pasti sudah pulang, tapi dia sangat ceroboh meninggalkan pintu terbuka seperti itu. Ataukah ada Chanyeol? Aku mempercepat langkahku, masuk kedalam rumah. Tak ada siapa-siapa. Jangan-jangan mereka ada didalam kamar… pikiranku tak karuan.

“Yah, Kris.. kenapa kau seperti orang bingung seperti itu??” seru Xiumin yang mengikutiku dibelakang. Aku tak menjawab dan langsung menuju kamar Hyeon. Aku menguping bila ada suara-suara mencurigakan. Pikiranku kemana-mana, hingga hal sekotor itu. Sunyi.

“Hyeon-ah…” aku mengetuk pintu kamarnya. Tak ada jawaban. Aku melihat tasnya yang masih tergeletak ditangga. Dia sangat ceroboh.

“Hyeon-ah, buka pintunya. Kau masih marah padaku? Hyeon-ah…” aku memanggilnya berulang kali.

Tampaknya dia masih marah padaku. Aku turun kembali mencari kunci duplikat kamarnya. Bau makanan, ternyata Xiumin sedang memasak. Sepertinya Luhan merengek lapar padanya berulangkali.

“Mana Hyeon?” tanya Luhan menegakan kepalanya yang di baringkannya dimeja makan.

“Dia sepertinya masih marah padaku,” gumamku.

“Kalian bertengkar?” tanya Suho.

Xiumin menoleh sekilas padaku. Aku hanya menggedikan bahuku dan kembali keatas saat menemukan kuncinya.

“Hyeon-ah, mianhe aku membuka paksa kamarmu,” aku memutar anak kunci dan membuka pintu dengan tenang.

Mataku terbelalak dengan apa yang kulihat. Kamar Hyeon sangat berantakan, kapal pecah. Semua barang-barangnya berserakan hingga ada yang hancur berkeping. Pigura orangtuanya ringsek terlempar disudut kamar.

“Hyeon-ah!!!!” teriakku mencarinya keseluruh sudut ruangan, dan kamar mandi. kosong.

Aku membuka lemari pakaiannya, mustahil! Pergi kemana dia, seluruh pakaiannya hampir tak ada.

“HYEOOOON-Ah!!!” teriakku frustasi, berlutut dilantai.

“Semarah inikah kau padaku? Hyeon-ah…!!!!!!!!”

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT  😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @yuanitasugianto @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged:

11 thoughts on “EXOtic’s Fiction “ Just Like You” – Part 9

  1. Cynthia October 10, 2012 at 1:21 PM Reply

    oooo.. mereka nikah gara2 itu???
    kira2 jessica ma luhan td blg apa ya??
    trs mrk jd cerai g ya??
    dtgu part selanjux 😀

    • 1authorexo1st October 13, 2012 at 2:39 AM Reply

      ne~, moga walaupun agak ribet gini kisahnya ga membosankan dan bisa menghibur 😀
      jeongmal gomawo udah ikutin terus. tunggu part selanjutnya 😀

      -yuanfan-

  2. hanjesi October 11, 2012 at 3:54 AM Reply

    Wae wae wae..
    Aku masih ga ngerti tentang Luhan T,T
    Kenapa harus Luhan?
    Kenapa ga Xiumin kek T,T
    Terserah deh T,T
    Yang penting Luhan punyaku..

    Dan.. Aku masih lebih kasihan sama Sunhye. Wae dia harus suka sama Kris yang suka sama orang lain..

    Aishhh..

    • 1authorexo1st October 11, 2012 at 2:28 PM Reply

      makasi udah baca 😀
      kenapa harus Luhan ?? karena Luhan ganteng, haha 😀 /gak nymabung/

      oke Luhan buat Chingu, Kris buat saya.:D

      -yuanfan-

      • hanjesi October 12, 2012 at 2:14 PM

        Siap ^^ hahahahha

  3. dink October 11, 2012 at 3:43 PM Reply

    Owh, jadi… mreka dinikahkan gara – gara itu toh *ngangguk2*
    wehh, #nusuk amat ye kata – kata ummanya sunhye O_o
    huakaka.. ngakak baca alasan Xiumin,
    Luhan n Suho ngdukung kris deket ma yeoja2.. takut gay, n sasaran utamanya mreka xp ckckck..
    Dann, setau sy dikorea kagak ada mengheningkan cipta d *?* ato jgn2 si kris tau krn biasa ikut upacara tiap hr senin *?* #ok #abaikan xD
    Eo, sumfeh tamba ribett.. banyak mamat yg suka ama hyeon.. kasian kagak ada yg suka ama sunhye #poorSunhye
    Tamba mupeng *?* critanya..ya unni lanjuttkaann… xD
    #Hwaiting

    • 1authorexo1st October 13, 2012 at 2:36 AM Reply

      Kris kan belajar nasionalisme indonesia dengan benar, soal nya mau nikah sama saya 😀 /digantung/
      Yah, gada yang kasian sama Hyeon nih?? haha
      iyah kah? moga ga membosankan ya 😀
      jeongmal gomawo udah ikutin terus. keep reading yaa 😀

  4. Andini October 13, 2012 at 1:37 PM Reply

    Part 10 atulaahh T,T

  5. dian October 15, 2012 at 1:58 AM Reply

    lanjutannya donk…
    jangan lama2… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: