EXOtic’s Fiction “Summer Story” – Part 6

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Summer Story”

 

TITLE               : Summer Story

SUB-TITLE        : The Sixth – True Feeling

AUTHOR          : Cha Miho (@fab_cinta)

MAIN CASTS   :

  • Cha Sheileen
  • Kim Jong In
  • Zhang Yi Xing

 

LENGTH           : Series

GENRE             : Romance, School Life, Friendship, Family

RATING           : PG – 13

LANGUAGES   : Korean (Indonesian) and English (Minor)

-notes- cerita ini akan mengambil tempat di London, England, sehingga beberapa percakapan akan menggunakan bahasa Inggris. Namun bahasa utama yang digunakan tetap Korea (Indonesia). Percakapan di dalam bahasa Inggris dan pikiran seorang tokoh dilambangkan dengan huruf miring.

-disclaimer- SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSIONS and after you read the story, please give a comment ^^ Every word from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

—Kim Jongin’s POV—

“Jongin, kamu suka padaku?” ucapnya penuh percaya diri tanpa ada keraguan.

Hebat. Dia mengucapkannya dengan lantang. Aku lalu menatapnya yang ternyata sedang mengatur emosinya juga dengan tidak menatapku. Haha tidak, dia sama sekali tidak percaya diri, lihat gelagatnya itu.

“Aku…” ucapku ragu sebentar, namun akhirnya aku memutuskan untuk melewati batas itu, “Ya, aku sayang padamu Sheileen… Begitu sayang hingga akhirnya aku tidak ingin kamu terluka sedikit pun. Begitu sayang padamu hingga aku….tidak berani merusak persahabatan diantara kita dengan keegoisan perasaanku yang tidak bisa kubendung ini…”

Aku menatap reaksi yang gadis itu timbulkan. Sheileen begitu kebingungan, hal itu jelas sekali terlihat melalui kerutan di wajahnya yang semakin mendalam. Ah tidak Sheileen tidak… Bukan maksudku untuk membuatmu bingung seperti ini…

—End of Kim Jongin’s POV—

Apa? Apa yang barusan Jongin katakan? Jongin sayang padaku? Jongin? Jongin??! OMG how how?!

Aku merasa diriku berada di ambang surga dan neraka. Bagaimana tidak, kupu-kupu bertebaran kesana kemari tetapi debaran jantung yang kian cepat ini seakan-akan membunuhku perlahan.

“Jongin aku…..”

Hening. Aku tidak bisa menyelesaikan kata-kataku. Tidak tidak, tidak dengan pikiranku yang masih melayang nun jauh disana. Tidak dengan Jongin di depanku sekarang. Aku tidak berani menatap ekspresi wajahnya, takut-takut ia menangkapku basah terpesona dengan pengakuannya sekarang.

Aku pun mendengarnya terkekeh pelan, tak lama kemudian ia berkata, “Hei, tenanglah. Aku mengatakan hal itu padamu supaya kamu tahu bahwa kamu adalah perempuan yang penting bagiku. Aku tidak ingin kamu terluka lebih dari ini, karena kamu tahu aku akan mengkhawatirkanmu lebih dari kamu mengkhawatirkan dirimu sendiri,” ucapnya sambil mengacak-acak rambutku, ia pun melanjutkan, “kasih sayangku padamu ini biarlah bernaung diantara kita dan biarkan segala sesuatunya berjalan seperti biasanya.” Jongin pun lalu tersenyum lemah dan menatapku dengan keceriaan yang aku tahu, ia buat-buat.

Kami hanya bisa kembali terdiam disana, bergelut dengan perasaan masing-masing. Jongin pun memutuskan untuk pamit keluar dari klinik itu dan pergi entah kemana. Namun samar-samar aku melihat bayangan wajahnya yang menahan tangis di balik senyuman palsunya…

—Kim Jongin’s POV—

Sungguh, aku benci diriku siang ini. Lagi-lagi aku hampir menangis di depan Sheileen. Aku tahu gadis itu pasti akan mengkhawatirkanku sepanjang hari.

“GAAAH!” teriakku lantang ketika sampai di lantai atas gedung utama. Kuhapus air mata yang telah bercucuran, meninggalkan setiap kesedihan di dalamnya dan berusaha untuk mengatur nafasku.

“Aaah… Kim Jongin. Kamu tidak ditolak. Kamu hanya kembali ke fase awalmu. Ya, fase berpura-pura tidak mencintai Cha Sheileen. Fase yang telah kamu berhasil lakukan selama tujuh tahun ini. Ya……..topeng itu…. Kamu bisa kok,” kataku menyemangati diri sendiri.

Setelah mengatakan itu, aku hanya semakin kesal dengan diriku yang dengan bodohnya melompati batas yang sudah kubuat dari Cha Sheileen. Namun aku sudah tidak tahan lagi! Memenjarakan perasaan itu seperti bernafas tanpa kamu boleh merasakan oksigen yang masuk ke paru-paru.

Aku pun kembali merasa frustasi dengan keadaan yang menjadi sulit sekarang. Kuputuskan untuk menutup kedua mataku dan berusaha memenangkan diri. Tiba-tiba, ada seseorang yang memanggilku.

“K-kai..?”

Deg.W-who’s there?”

—End of Kim Jongin’s POV—

Aku masih duduk termangu di klinik itu setelah Jongin pergi. Bayangan wajahnya yang sedih itu masih terlukis jelas di ingatanku. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa dan seseorang sungguh harus menjelaskan debaran tiada henti ini.

“Apa aku…sebenarnya…menyukai…Jongin…..?” gumamku sambil masih menatap kosong ruangan kesehatan itu.

Gumaman itu ternyata berhasil membangunkanku ke dunia nyata. Pada akhirnya mataku hanya bisa melotot menyadari kesalahan yang telah kuperbuat. Aku pun bergegas pergi mencari Jongin untuk memberikan jawaban yang ia tunggu.

Maaf Jongin, maaf aku terlambat menyadarinya. 

—Kim Jongin’s POV—

H-hey! Who’s t-there?” ucapku sekali lagi sambil menghapus ulang bekas air mata yang mengalir di wajahku.

“I-it’s me…Brenda. Brenda West. Sheileen’s bestfriend.. The one you met at the clinic,” ucap si empunya suara itu. Gadis itu lalu keluar dari balik dinding dan kulihat matanya yang juga sama-sama merah.

“Brenda.. Oh hey, what’s up?” kataku berbasa-basi untuk menghindari percakapan yang lebih jauh.

Ia hanya tersenyum dan memberikan gestur kepadaku untuk duduk berdua di dekat pagar pembatas, aku pun menurutinya. Kami berdua pun duduk disana, terdiam untuk waktu yang aku rasakan sangat lama. Gadis yang bernama Brenda itu pun masih menatap ke depan.

“Uhm..” ucapnya ragu-ragu yang membuahkan tolehan dariku.

Yeah?”

“No, it’s just..you know, music is something you can’t hold but it stays with you forever.”

Aku memandanginya bingung. Mengapa gadis ini begitu random?

 “Yeah….?”

“It sometimes leads you towards the key of life, happiness. But often, it leads you to the abyss of the world,” ucapnya yang lalu menyunggingkan senyuman kecil.

Ketika ia melanjutkan kalimatnya, itu hanya membuatku semakin bingung, “And…..?”

Tiba-tiba gadis itu berbalik menghadapku dan berkata, “I heard you’re good at dancing, Kai. Let’s have a battle.”

Mataku membelalak. Gadis ini memang ratu dari segala randomness yang pernah kutemui. Namun aku juga tidak menolak ajakan menariknya, setidaknya hal ini bisa mengaburkanku dari awan gelap yang menghantuiku tadi.

“Alright. Do you bring your iPod or music player with you?”

“Nope.”

Aku pun mengernyit bingung, “So…”

“Let’s just dance. Let the nature be our music. Ready? GO!”

Gadis itu lalu memulai tariannya dengan mengikuti suara gemersik dedaunan yang menari riang di siang hari itu. Tariannya sungguh berbeda dari gayaku maupun Sheileen, lembut namum cekatan. Menyentuh dan….harus kukatakan, gerakan badannya sedikit…ehem, erotis….TAPI dengan sisi baik ya.

Tanpa sadar aku menyunggingkan seringaiku dan menari sesuai dengan melodi yang kudengar. Kubuat tarianku gesit namun masih terdapat kehalusan disana, mencoba mengikuti ritme yang dibuat oleh Brenda. Kadang kutambahkan blocking pada bagian-bagian ketika dirinya juga bergerak sedikit cepat.

Kami berdua pun terus menari dan menunjukkan kebolehan satu sama lain, berusaha menghilangkan kepedihan akan cinta sepihak bersama dalam peluh keringat yang turun di setiap detik waktu berpacu.

—End of Kim Jongin’s POV—

Keduanya menari begitu bersemangat dengan langit biru sebagai penontonnya. Tidak pernah kulihat Brenda menari sebahagia ini sebelumnya, begitu juga dengan Jongin yang sepertinya juga berusaha mengikuti ritme tarian Brenda dan mengimprovisasi gerakan-gerakan tariannya agar seirama dengannya.

Deg. Dadaku kembali terasa sesak. Bukan, ini bukan karena penyakit jantung itu. Aku yakin bukan hal itu penyebabnya.

Kupandangi kembali mereka berdua yang masih menari dan dengan terpaksa kututup kembali pintu lantai atas itu dengan pelan. Akupun tersenyum lemah dan kurasakan air mataku yang menggenang di pelupuk mata. Kuusap dengan cepat sebelum air mata itu turun.

Yes, aku seseorang gadis kecil yang egois. Gadis kecil yang tidak tahu untung telah diberi namun kesal ketika pemberian tersebut diberikan kepada orang lain.

I was late huh? Or wasn’t I?” gumamku pelan sambil berjalan tidak tahu arah.

“Brenda and Jongin……. I love both of them.. I care for both of them like I care for myself.. I..just..couldn’t… *sighed* this feeling, I should forget it. It’s just a glimpse anyway. You just knew it right? Yes Sheileen, you love Mr. Yixing since seven years ago and that’s just how it should be. Hang on tight to the reality and do not believe to the feeling you just realized some minutes ago,” ujarku meyakinkan diri bahwa perasaan tadi timbul hanya karena ucapan manis Jongin semata.

Aku pun memutuskan untuk membasuh wajahku dan pergi kembali ke kelas, melupakan segala perasaan yang akan kuanggap tidak pernah ada itu.

—Brenda West’s POV—

Laki-laki ini benar-benar amazing. Kata sempurna pun tidak mampu untuk mendeskripsikan tarian yang ia lakukan tadi.

You’re sweating quite a lot huh?” godaku jahil sambil mengatur nafasku dan menyeka keringat di kedua pipiku.

Like hell I did. Don’t you see you’re sweating a lot more than I do?” ujarnya seraya memerkan smirk yang membuat debaran jantung ketika pertama kali aku melihatnya di sekolah.

Hahaha. Don’t be so proud first young man, the truth is, a woman is sweating more than a man.”

“-_____- I know you made that up just now.”

“No proofs. No evidences. I win. Now let’s get back to the class, shall we?” ajakku yang masih sedikit tertawa dengan kebohongan yang kubuat.

“Nah, you go first, I’ll stay here. Thanks anyway for the battle, it was nice,” jawabnya sambil tersenyum dan wajahnya kembali menunjukkan kesedihan.

Brenda hanya bisa mengernyit melihatnya, “Anytime. By the way, aren’t you afraid of getting scolded? FYI you’re even the transferred student.”

Kai menggelengkan kepalanya, “Nah, it’s okay. Mr. Yixing will cover me up. You go first Brenda and thanks again for the little cheer up. I guess you have been cheered quite much too, hm?”

Uh oh. Does my feeling really showed up that much? Aku pun terkekeh dibuatnya dan tidak bisa berbuat apa-apa atas keputusannya, “Alright. I’ll take my leave first I think. Do you want to know how’s Sheileen doing?” kataku ragu-ragu. Sejujurnya aku mendengar semuanya. Semua frustasinya dengan cinta sepihaknya kepada Sheileen. Ha ha ha. Aku memang jahat. Menyerang disaat Kai sedang lemah, tetapi aku juga ingin memperjuangkan cinta sepihakku sama seperti Sheileen memperjuangkannya kepada Mr. Yixing.

“…uh..no, thanks, I’ll ask it by myself, but thanks for the offer.”

Kai memalingkan wajahnya. Ia tahu bahwa sesungguhnya ia tidak mungkin bisa bertanya bagaiman keadaan Sheileen kepada orangnya langsung. Namun ia tidak ingin menyeret orang lain ke dalam permasalahan pribadinya.

Brenda yang melihat perubahan raut muka lelaki di depannya ini pun menjadi ikut sedih, tetapi ia tidak mempunyai hak untuk memeluknya dan berkata bahwa he can depend on her dan semuanya akan baik-baik saja. Akhirnya ia hanya bisa kembali mengalah dan membendung keinginannya untuk memalingkan wajah Kai hanya untuknya.

—End of Brenda West’s POV—

Setelah satu hari yang penuh dengan warna, aku memutuskan untuk menjaga jarak dengan Jongin. Aku tahu ia memandangiku seharian setelah kejadian tadi dan aku tahu bukan hanya dirinya saja yang memandangi satu sama lain.

 “Hey Sheileen, someone is waiting for you in front of the class,” ucap salah satu anak perempuan di kelasku. Siapa?

Aku pun bergegas keluar dan mendapati senyumku merekah saat itu juga. “Mr. Yixing!” teriakku ketika melihatnya tersenyum kembali kepadaku.

“Ada apa? Tumben sekali,” ucapku bingung.

“Aku mendapatkan voucher gratis bubble tea untuk dua orang di Oh Café. Seseorang mengatakan kepadaku bahwa muridku yang satu ini sangat menyukai bubble tea, jadi….”

“MAUUU!” teriakku tanpa ragu dan hanya membuahkan gelak tawa dari Mr. Yixing.

“Hahahaha memangnya kamu mau apa?”

“Lho? Mr. Yixing akan mengajakku bukan? Ya kan? Eh? Tidak ya?”

“Hmm…ajak engga ya~ sebenarnya aku hanya ingin memamerkan voucher ini kepadamu saja kok,” ucap Mr. Yixing jahil dan Sheileen hanya bisa berpouting ria.

“Hahaha mukamu jangan ditekuk dan digembungkan seperti itu ah. Aigoo~ baiklah, hari ini kutunggu kamu di my office ya sepulang sekolah,” kata Mr. Yixing singkat sambil tersenyum dan hal itu cukup untuk memperbaiki mood buruk yang dialami Sheileen hari ini.

Lain halnya dengan keadaan seorang pemuda di kelas, yang hanya bisa memandangi mereka dengan tatapan pasrah.

Parking Lot, Saint Ursula International High School—

“Sebelum pergi membeli bubble tea itu, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” ucap Mr. Yixing seraya menyalakan mobil Subaru birunya.

Really? Where?”

It’s a secret. A place you’ll like,” ucap Mr. Yixing sambil tersenyum dan mulai mengendarai mobilnya ke sebuah taman di pusat kota.

Park—

“Woaaaaaah.”

Sheileen tidak mampu menutupi kekagumannya terhadap taman yang baru pertama kali ia datangi itu. Pohon-pohon dan bunga yang tumbuh disana mempermanis suasana tenang dan damai yang ditimbulkan dengan tata ruang yang begitu rapi. Ditambah lagi, cuaca hari itu juga memperindah keadaan taman sore itu.

Ketika Sheileen sedang sibuk memandangi dan mengagumi segala sesuatunya, Mr. Yixing mempersiapkan gitarnya dan duduk di salah satu batu besar di sana. Ia pun memanggil gadis itu untuk duduk bersamanya.

“Kedatangan kita disini untuk melakukan suatu permainan sekarang.”

“Permainan? Memangnya kita bisa bermain apa disini?”

Tied the Song. Aku akan memainkan sebuah nada dengan asal dan aku akan menyisipkan lirik lagu di dalamnya sepanjang yang aku mau dan tugasmu adalah, melanjutkan lirik laguku dengan melodi yang akan kupetik.”

Muka Sheileen mengerut. Ia betul-betul bingung harus bereaksi seperti apa terhadap apa yang baru di dengarnya.

But I can’t…”

“No, you can, now I’ll start first.”

Petikan nada pertama pun dimainkan oleh Mr. Yixing, disambung dengan nada-nada lain yang membuat melodi itu menjadi manis.

One step, two step, I count the times our eyes met as the clock ticking away~”

Mr. Yixing lalu memberikan kode kepadaku untuk melanjutkan, dengan dengan wajah bingung aku pun berusaha untuk melanjutkan lirik itu.

Running an errand, I saw you passing by. In a heartbeat, you make my whole day brighter~”

“Like the sun meet the moon”

“The stars watching us seducing one another”

“Missing the chance to be a union”

“In a harmony we got ourselves back together”

Aku tersenyum kepada Mr. Yixing dan mulai menyukai permainan ini. Mr. Yixing pun memulai nada yang sama dari awal lagi, sekarang aku melihat ada beberapa orang yang memandangi kami berdua.

Three steps, four steps, the dreams has reached its end”

“The ‘us’ I’ve been thinking about reach its glory”

“We smile one to another”

“In a hazy sunshine, we have yearn our love”

“And five steps, I say”

Kami berdua lalu tersenyum sesaat dan mengatakan lirik terakhir bersama.

“I”

“Love”

“You”

Tepukan tangan itu pun  lalu terdengar bergemuruh di sekitar kami. Melihat dukungan dari pengunjung di taman itu, kami berdua pun menunduk berterima kasih dan tersenyum malu-malu kepada mereka.

Setelah sedikit sepi, aku tidak sanggup untuk tidak bersikap sedikit hyper.. “That. Was. AWESOME. I’ve never thought your voice would be so gentle sir,” ucapku dengan mata berbinar-binar.

“Dan aku tidak pernah berpikir muridku bisa membuat lirik semanis tadi serta dapat menyanyikannya dengan baik,” puji Mr. Yixing yang membuat rona merah di wajahku merekah.

“Tetapi para penonton itu pasti datang karena….”

“Karena?”

You look charismatic sir and no one can handle your warm smile

You look too dazzling for the guys Sheileen and I’m somewhat don’t want they to know that

Dengan bodohnya, kami berdua pun terdiam dalam pikiran kami masing-masing. Mr. Yixing pun lalu berdeham.

Ehem. Baik, waktu bermain selesai, acara date kita selanjutnya ke Oh Café, if you don’t mind.”

Mataku melotot, “What? D-date? Are you serious sir?”

Mr. Yixing tersenyum, meninggalkanku dengan keambiguan yang membuatku berharap.

Oh Café—

”Sehun! Two bubble tea for this couple!” teriak salah satu pelayan kepada pelayan muda yang berada di dekat dapur.

Aku pun hanya bisa tersenyum malu dengan perkataan pelayan itu yang mengatakan bahwa kami ini pasangan.

W-we are not like that..Luhan…”

“But you two suit each other my lady Sheileen. Now if you please excuse me, I need to go to that table over there. Please wait patiently here,” ujarnya yang lalu bergegas menuju meja sekelompok perempuan yang aku tahu, merupakan fansnya.

Oh Café. Salah satu café terkenal di London. Pelayan-pelayan disini didikan langsung dari perusahaan entertainment bergengsi di London dan tidak sedikit dari mereka yang sudah terjun langsung ke dunia entertainment sebagai singer, dancer, composer, etc. dan ya benar, appa bekerja di perusahaan ini.

“Sheileen, bagaimana ia bisa tahu namamu?” tanya Mr. Yixing yang akhirnya tidak bisa menemukan jawaban dibalik keakraban salah satu pelayan itu kepada muridnya.

“Oh, appa yang bertanggung jawab terhadap the HunHan, jadi aku sudah sering bertemu mereka ketika mereka kadang terpaksa bersembunyi di rumahku, hehe.”

“Jadi mereka itu artis…?”

“Oh ya, benar mereka artis. Pelayan di café ini merupakan artis dari satu agency yang sama. Untuk meningkatkan penjualan, ide inilah yang disajikan oleh agency ini. Sejauh ini, café ini selalu dibanjiri oleh tamu-tamu yang merupakan fans mereka. Sejujurnya aku belum pernah ke tempat ini karena selalu tidak bisa mendapatkan tempat, hahaha. Tapi……voucher itu bisa,” kataku sambil menunjuk-nunjuk voucher yang masih dipegang oleh Mr. Yixing setelah diberikan oleh salah satu guru di sekolah.

Hmm… How lucky we are.”

Aku membalas Mr. Yixing dengan tersenyum. Seraya menunggu pesanan, kami berdua pun melihat sekeliling, begitu banyak artis yang bertebaran di tempat ini. Namun harus kami akui bahwa the HunHan lah yang membuat café ini menjadi lebih hidup.

Hunnie! Please stop following me, there are still a lot of customers who need our services here!”

“But Lulu… I can’t go to the toilet by myself.”

“Say what… How old are you? Go there by yourself!”

“But Lulu—“

“No buts!”

Sehun lalu terdiam, mukanya sedih dan ia pun menjadi lesu. Luhan yang kesal sekaligus gemas melihatnya hanya bisa berkata, “Fine fine. If you can go there by yourself, another free bubble tea for you today.”

Sehun pun langsung berwajah ceria lagi, dengan usil ia berkata, “My acting was good right? Keep your promise Lulu. Hwaiting! :p”

Mr. Yixing dan aku hanya bisa berpandangan tidak percaya dengan apa yang baru saja kami lihat dan akhirnya kami berdua pun tertawa melihat ekspresi Luhan yang priceless setelah Sehun menipunya.

Here is your bubble tea. Enjoy,” ucap Sehun singkat mengantarkan pesanan kami.

Don’t be too harsh to Luhan, Sehun,” ucapku sambil tertawa geli mengingat pertengkaran kecil mereka beberapa saat yang lalu.

I didn’t do anything bad Sheileen. He trusts people too easily,” ucapnya santai kepadaku.

Well it’s up to you, but it won’t be my dad or your fans or my responbility when Luhan wants to ‘break up’ with you, okay?” ucapku jahil yang ternyata ditanggapi dengan serius oleh Sehun. Tak lama kemudian aku melihatnya meminta maaf kepada Luhan dan sepertinya Luhan-lah yang sangat kaget dengan perubahaan perilaku Sehun itu.

Selama satu jam kami membicarakan banyak hal mengenai sekolah, cerita masa kecil yang diselipi oleh lelucon-lelucon kecil dan juga Seoul. Betapa kami merindukan suasanya kampung halaman kami itu.

Do you know what sir?” ucapku tiba-tiba setelah kami selesai membahas mengenai Han River yang biasa kami kunjungi itu.

Yes?”

Thanks a lot for today date. Aku tahu it’s not really a date, tapi segala sesuatu yang terjadi hari ini begitu menyenangkan!” ucapku gembira dan berharap Mr. Yixing menentang perkataanku tadi.

Well it’s indeed a date Sheileen and I won’t ever forget this day, ever. “Hahaha kamu tahu saja aku cuma bercanda. Ya, aku juga merasa hari ini menyenangkan, jadi kembali kasih?” ucapnya sambil tersenyum kepadaku.

Aku memang balas tersenyum kepadanya, tetapi sebenarnya hatiku meronta-ronta kesakitan karena ternyata Mr. Yixing benar-benar tidak mempunyai perasaan khusus kepadaku.

—Cha’s House, 7 PM–

Thanks again for today sir dan juga untuk little gift yang Anda berikan tadi pagi,” ucapku malu-malu diluar mobil Mr. Yixing.

Mr. Yixing tertawa renyah, ia pun tersenyum dengan ekspresi lembut dan mengatakan, “No problem, take care of yourself okay. Jangan lupa minum obat yang diberikan dokter dengan rutin.”

Deg. “Bagaimana Mr. Yixing bisa tau…?” Benarkah? Benarkah Mr. Yixing sudah tahu akan penyakitku…??

“Tempo hari kamu ke rumah sakit kan? Tidak mungkin kamu tidak diberi obat bukan,” ucap Mr. Yixing santai walaupun sebenarnya ia tahu bahwa perempuan yang disukainya itu sebenarnya sedang sakit lebih dari sekedar demam biasa.

“O-oh…i-iya, h-haha..”

“Baiklah, sampai jumpa besok,” ucap Mr. Yixing yang lalu mengendarai mobilnya menjauh dari rumahku.

Aku pun lalu masuk ke dalam rumah. Aku tahu, mimpi indahku pasti akan berakhir suatu saat nanti, dan suatu saat nanti itu sekarang. Aku melihat Jongin yang sudah menungguku di sofa ruang tamu sambil memainkan PS3 kepunyaannya. Konsentrasinya pun akhirnya teralihkan oleh diriku yang sudah pulang ke rumah.

Hi, dari mana saja kamu?” tanyanya pelan sambil memandangiku.

Uh.. Kakakmu mengajakku jalan-jalan sebentar, tidak usah khawatir, aku pulang dengan selamat seperti yang bisa kamu lihat sendiri,” ucapku ragu-ragu, takut keadaanku akan membuatnya cemas lagi.

Jongin hanya terdiam, aku melihat dirinya yang sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi sepertinya kata-kata itu tidak bisa keluar dengan baik dari bibirnya.

So uhm.. Aku akan mandi sekarang, appa belum pulang?”

“Belum.”

“Oh. Baiklah.”

“Hei..”

“Ya?”

“Maaf untuk….yang…tadi siang,” ucapnya tidak berani menatapku langsung.

“T-tidak apa-apa kok! Tenang saja, aku akan bersikap seperti biasa, seperti yang kamu katakan,” ujarku berbohong.

Kami berdua pun hanya terdiam kembali dan awkward moment ini sungguh menyebalkan. Sudah terlalu banyak kecanggungan yang terjadi hari ini. Aku pun memutuskan untuk mengabaikan perasaanku dan memulai topik yang baru.

“Ngomong-ngomong, kamu sudah makan belum?”

“Uhm..Tidak, belum.”

“Baiklah, aku akan mandi dengan cepat dan temani aku ke supermarket bersama lalu bantu aku memasak makan malam.”

“A-apa?!”

“Tidak ada apa-apaan. Aku tahu kamu paling malas disuruh memasak, tetapi lebih pilih yang mana, minum air putih saja atau bisa makan kimchi malam ini?” ucapku yang lalu bergegas meninggalkan Jongin yang ingin berkomentar tetapi akhirnya tidak bisa.

—Supermarket—

“Jongin, kamu yang bawa trolinya ya.”

Andwae.”

Kalo begitu hari ini kamu minum air putih saja untuk makan malam.”

“B-baiklah….”

Kami pun akhirnya menelusuri bagian daging terlebih dahulu dan Jongin seenaknya memasukan semua daging yang ia suka. “Yah! Apa-apaan ini? Memangnya kita mau memasak barbeque apa?” omelku melihat tumpukan berbagai macam daging di troli.

“Suka-suka aku. Malam ini kita akan memasak bersama kan? Berarti terserah aku mau memasak apa,” balas Jongin yang tidak peduli dengan Sheileen yang masih marah-marah melihat tumpukan daging diatas batas wajar itu.

“Baiklah Jongin. Baik. Aku tidak akan membayar belanjaan kita malam ini, karena kamu yang memilih semua daging-daging ini, bukan aku. Jadi jangan merengek meminjam uang dariku atau dari appa atau bahkan dari kakakmu,” ucapku yang lalu meninggalkan Jongin yang terpaksa menyudahi kesenangannya melihat wajah Sheileen yang lucu saat marah dan mengembalikan daging-daging itu ke tempat semula.

Dengan berbagai macam pertengkaran kecil seraya memilih daging untuk sup kimchi malam itu, akhirnya kami berhasil menyepakati satu jenis daging bersama. Selanjutnya ialah sayuran yang ternyata sangat dibenci oleh Jongin.

“Apa-apaan ini! Banyak sekali sayurannya!” omel Jongin yang melihat isi troli yang sekarang didominasi oleh dedaunan hijau.

“Kenapa? Sayuran itu sehat tahu. Lagipula sup kimchi akan semakin nikmat ketika kita menambahkan banyak sayuran ke dalamnya,” balasku yang masih menimbang-nimbang untuk membeli jamur atau tidak sebagai tambahan.

“Tidak tidak. Aku tidak mau. Aku tidak akan menyantap makan malam hari ini kalau begitu.”

“Oke, aku bisa memasak untukku dan appa saja dan kamu akan kubiarkan minum air putih,” ucapku jahil yang lalu kembali berjalan ke arah tempat berbagai macam jamur dijual dan kimchi juga.

Sekali lagi, Jongin hanya bisa menurut dan tidak bisa menang terhadap Sheileen walaupun akhirnya ia berhasil mengeluarkan satu jenis sayuran di dalam troli itu tanpa sepengetahuan Sheileen.

—Cha’s House—

“Baiklah Jongin, kamu bersihkan dulu daging-daging itu dan jangan lupa mencuci sayuran-sayurannya. Aku akan menyiapkan bumbu.”

“Baik Nyonya.”

Aku memberikan tatapan sinis sekilas kepadanya, ia pun buru-buru menjawab, “Iya iya! Akan kukerjakan. Berhenti memberikanku tekanan mental seperti itu!” gerutu Jongin yang akhirnya membersihkan daging yang baru saja dibeli.

Sheileen tersenyum senang, ia pun mulai membuat bumbu untuk kimchi. Karena appa tidak suka dengan makanan pedas, Sheileen pun hanya memberikan sedikit cabai untuk supnya. Jongin yang melihat betapa keibuannya Sheileen, tidak mampu untuk tidak terbengong-bengong melihatnya. Tanpa sadar jarinya seperti terbeset sesuatu.

Ouch,” ringis Jongin pelan ketika tahu bahwa penyebabnya ialah pisau yang ia pegang ternyata tidak sengaja tergesek ke salah satu jarinya.

Sheileen yang mendengar ringisan itu dengan cepat mengecek kondisi Jongin, “Jongin! Are you alright?!” tanyanya panik melihat darah yang mulai keluar dari jari Jongin.

Jongin memberikan senyuman tipis kepadanya dan ia tak kuasa menahan darah yang terus menerus keluar dari salah satu jarinya. Sheileen pun dengan sigap mengambil perban dan beberapa peralatan P3K yang dapat ia temukan pada saat itu.

“Kemarikan tanganmu, ayo kubilas dulu,” dengan lembut Sheileen menarik tangan Jongin dan mendekatkannya ke aliran air yang sejak tadi sudah ia nyalakan. Dengan hati-hati Sheileen membersihkan kotoran yang ada di sekitar luka, wajahnya begitu serius sehingga ia tidak menyadari bahwa wajah Jongin telah berubah menjadi merah padam ketika Sheileen memegang tangannya.

“Sh-heileen.. S-sudahlah, aku bisa sendiri,” ucapnya gugup namun hanya tatapan garang yang ia temukan dari wajah Sheileen. Ia pun mengurungkan niatnya untuk bersikap jantan saat itu.

Setelah selesai membersihkan kotoran di sekitar lukanya, Sheileen pun memberikan obat diatas luka Jongin.

“Obat ini akan sedikit sakit, kamu tahan ya?” ujar Sheileen seraya menatap Jongin dengan perasaan was-was.

“Tidak kutahan pun kamu pasti akan—ouch! Yah! It hurts!!” geram Jongin ketika Sheileen tanpa aba-aba memberikan obat itu kepada Jongin.

“Tenanglah, sudah selesai kuberikan tuh. Sekarang, aku akan memberikan sedikit mantera di lukamu,” ujar Sheileen yang sekarang kedua tangannya sudah menggenggam tangan Jongin.

“A-apa? M-mantera seperti anak k-kecil itu, huh?” balas Jongin yang tiba-tiba menjadi orang gagap saat itu.

“T-tidak k-kok! Amma mengajarkan ini kepadaku dulu dan manteranya selalu ampuh,” bela Sheileen yang tidak ingin mantera warisan amma-nya itu dilecehkan begitu saja.

“Baiklah….. Aku tidak paham sih tapi baiklah….” ujar Jongin kembali pasrah.

“Bagus, Sekarang tutup matamu,” perintah Sheileen yang dengan perasaan gugup Jongin lakukan. Setelahnya Jongin merasakan tangannya seperti ditulisi sesuatu oleh Sheileen, namun karena ia tidak boleh membuka matanya terlebih dahulu, ia pun tidak berani untuk mengintipnya.

Little angles in the sky, my dearest person is in pain, would you spread your wings and cleared his pain, please?” senandung Sheileen seraya masih memegang kedua tangan Jongin. Dengan hal itu, kegugupan Jongin sudah mencapai titik maksimum. Suara Sheileen yang lembut dan begitu jernih seperti malaikat, memabukkannya dalam keindahan seorang hawa.

C-can I open my eyes, Sheileen?”

“Nnn—Yes, you can, I’ve done,” ujar Sheileen sambil tetap menggenggam tangan Jongin.

Jongin membuka matanya dan kedua mata bulat Sheileen yang memandanginya khawatir menyambutnya. “A-apa lagi sekarang?”

“Tidak ada apa-apa. Apakah kamu sudah merasa lebih baik?”

Tidak. Kamu membuat jantungku hampir copot tadi. “Ya.. Kurasa lukaku akan sembuh lebih cepat daripada yang kuperkirakan. Tapi tadi…mantera apa itu?”

Amma sering menyenandungkan lagu itu kepadaku dulu ketika aku terluka pada saat latihan menari,” ujar Sheileen yang tiba-tiba merekahkan senyumnya sedikit dan itu hanya bisa membuat jantung Jongin berdebar lebih cepat.

“L-lalu, tadi sepertinya aku merasakan kamu menuliskan sesuatu di lenganku, apa itu?”

“Oh itu……” wajah Sheileen lalu memerah dengan tiba-tiba, “r-rahasia!” ujar Sheileen yang lalu mulai memberikan perban kecil pada luka Jongin dan mengalihkan perhatiannya.

“Hei hei hei! Pelan-pelan!” ringis Jongin yang kaget dengan kelakuan tiba-tiba Sheileen.

“Oh, m-maaf. Baiklah, aku akan melanjutkan memasak, kamu tunggu saja disini,” balas Sheileen yang dengan sigap menuju ke dapur untuk menyelesaikan masakannya.

Gawat. Apa yang kupikirkan tadi?! B-bagaimana bisa aku menuliskan hal itu di lengannya?!

—the end of chapter six—

TBC

**

 

THANKS FOR READING  WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL  JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY CHA MIHO (@FAB_CINTA) NO PLAGIRISM.

If you’re interested of becoming our official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

8 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Summer Story” – Part 6

  1. Cynthia October 6, 2012 at 4:19 PM Reply

    Hiiiiyyyaaaa >.< Apa ya yg ditulis sheileen ke lengan kai???
    Saranghae?? I love u?? Penasarann nihh..
    Dtgu part selanjutx 😀

    • Cha Miho October 8, 2012 at 2:49 AM Reply

      Gyaaaa makasih ya udah baca terus hehe.
      Siaap, ditunggu yah 🙂

  2. kkamjong_pi October 10, 2012 at 9:59 AM Reply

    mian baru komen sekarang..

    waahhhh daebak.. ceritanya keren..
    penasaran siapa yg bakal dipilih sheileen ntar >~<
    jongin? yixing? ahhh ga sabar pengen baca..
    ditunggu part selanjutnya ya XD

    • Cha Miho October 13, 2012 at 1:09 PM Reply

      Heeey gpp, makasih ya udah tetep baca 😀
      Hahaha voting2! Lol. Maunya sih author aja yg sama Jongin…. *kabur*

  3. hanjesi October 11, 2012 at 5:31 AM Reply

    I HATE YOU
    I HATE YOU
    I HATE YOU

    WAE SEHUN
    WAE SEHUN
    WAE SEHUN

    LUHAN IS MINE
    LUHAN IS MINE
    LUHAN IS MINE

    EONNI NEO JINJA! KALAU ADA THE HUNHAN LAGI, MALAS BACAAAAAAAAAAA

    Btw.. Why why why why aku jadi kasihan sama Brenda T,T aissshh.. Senasib kita bren T,T tapi masalahnya Kai + Lay itu emang uda deket ama siapalah itu pemeran utamanya.. Untung aku masih ada Kai xD hahahaha

    Well.. All what can I say..
    I can feel the fanfiction..
    Sesaknya, lucunya, debarnya, sakitnya..

    But I wanna say something to you, eon..

    KENAPA JONG-IN JADI PUITIS GAGAL GITU?

    Kkk~

    • Cha Miho October 13, 2012 at 1:13 PM Reply

      Hey Jesi-ah, kamu kalo mau ngomel jgn disini D:
      Suka2 dong, me kan HunHan shippers =3= alasanmu untuk tidak melanjutkan membaca fanfictku DITOLAK! B)

      Dan hey kamu udah kalo ama Luhan ya Luhan aja! Ga usah bawa2 my Kai! D< hahaha cieeh mendadak curcol 😉 lol.

      Huwaaa really? Aku bikin ini pelampiasan Mid Term eaaa. Anw, LOL really? Omg, aku harus berguru menjadi pujangga dulu nih hahaha. Yaah no one is perfect Jes =w=

      Thanks udah keep reading yah 😉 thanks buat voice mailnya juga hari ini, cieh yg suaranya bagus, hahahahaha *ngacir*

      • hanjesi October 14, 2012 at 3:34 PM

        Hehehehe xD pokoknya hunhan muncul. I’m OUT! Hahaha *ketawa evil*

        Bagus kok jadi pujangganya xD

        Well.. Suaraku memang bagus karena sering nyanyi bareng suami :3

  4. Cha Miho October 16, 2012 at 1:42 PM Reply

    Aiigoooo, I think masih ada HunHan deh later on…. molla~
    baguslah, ngegombal itu menyenangkan~
    dan fine jes. fine. salah banget muji kamu, HAHA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: