EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 7

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Nimic”

 

 

*Title : Nimic.

*Sub Title : The Seventh – Back To The Memories

*Main Cast :

  • Kim Jong In
  • Kim Je Si
  • Luhan
  • Han Soon Na

 

*Length : Series

*Genre : Romance, Artist Life, Real-Imagine Fiction

*Rating : PG-13

*P.S : Its time to show ^^  Sekarang FF ini berceritakan Jong-In & Luhan ditahun 2012. Kira-kira bagaimana hubungan mereka sebenarnya? Jangan pada bingung dan please support this fanfiction ^^ Cause this Fanfiction will be really really complicated ^^ And sorry for Soon-na shipper, sekarang lebih ke focus Kai-Jessy-Luhan story. Happy reading!

*Disclaim : SEMUA FANFICTION YANGDIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

Summary :

Gone. You’ve gone from my sight.

Regret always come at the end, right?

After leaving you, I’m searching you.

Am I selfish? Yes I am.

Im still here.

Waiting for you comeback or time will make me found you.

**

Time goes by.

And time still cannot kill my feeling.

Will that day come?

The reason why I’m gone

Is only to make you stay

And found me here

**

There’s something empty

I couldn’t find it out

And what can I do is only screaming without reasons

**

Are you okay there?

Did you miss me like I do?

Cause I really miss you so badly.

**

Seoul, South Korea.

May 2012

 

Jessy menarik kopernya menuju keluar dari Baggage Area. Matanya terus menelurusi penjuru pintu keluar Baggage Area itu, mencari orang yang memegang papan nama-nya. Jessy tersenyum ketikamelihat seorang pria yang sedang menggerutu ditempatnya, Jessy bisa melihat papan nama yang dibawa orang itu.

Welcome,

Jessy Kim.

 

Jessy mempercepat langkahnya dan menarik kopernya lebih cepat dari biasanya. Sesampainya disana, pria itu menatapnya sesaat seolah bingung. Tapi kemudian pria itu mengulurkan tangannya untuk menyalami Jessy yang dterima gadis itu dengan baik. “Welcome to Korea, Miss..”

Tawa Jessy terdengar pelan karena mendengar bahasa Inggris yang terasa sangat canggung di telinga Jessy. Akhirnya gadis itu melepaskan kacamatanya dan menatap lurus pria itu, “Don’t you miss me, Seung Hwan? Im back from London and you didn’t recognize me!”

Mata pria itu terbuka lebar, begitupun mulutnya. Astaga, ia tidak pernah menyangka bahwa gadis  cantik yang dulu suka sekali menggegerkan SM itu menghilang begitu saja 4 tahun lalu. Namun ia lebih shock lagi ketika gadis itu akhirnya kembali lagi dengan sendirinya. Apalagi ia yang menjemput gadis itu.

“OMO Je-si-a!!!! You look so different!”

Jessy menggelembungkan pipinya, “Tapi aku tetap sangat cantik, kan?”

“Lebih dari cantik. Kamu menjadi sangat sempurna, Je-si-a! Potongan rambut itu cocok sekali denganmu. Aku menyukai style-mu yang sekarang ataupun dulu. Aku tidak pernah menyangka kalau kamu sekarang jadi seorang designer.” tutur pria itu jujur sambil mengambil alih koper yang dibawa Jessy ke tangan kanannya.

Suasana Icheon hari itu sama sekali tidak ramai. Jessy bersyukur, hari ini sepertinya tidak akan ada artis yang pergi ke luar negeri sehingga ia tidak perlu bersusah payah untuk menyembunyikan wajahnya dari media massa. “Kenapa oppa yang menjemputku? Apakah Super Junior tidak ada Schedule sekarang?”

SEUNG HWAN mengelus rambut Jessy pelan. Ia selalu seperti itu kepada Jessy, gadis itu terlalu mudah untuk disukai dan dicintai banyak orang. Bahkan seorang manager yang terkenal baik sekaligus tergalak di SM itu begitu menyayanginya seperti ini.

Jessy mensejajarkan langkahnya bersama Seung hwan dan berjalan menuju keluar Icheon, “Aku sudah tidak menjadi manager Super Junior sekarang, Je-si-a.”

“Lalu?” tanya Jessy bingung sambil mengerutkan keningnya. Sesekali gadis itu tersenyum kepada beberapa orang. Tidak ada alasan, ia hanya suka melihat orang membalas senyumnya. Ia tidak perlu tatapan memuja banyak orang, yang ia perlukan hanyalah senyum tulus mereka ketika membalas senyumnya secara refleks.

“Menurutmu kenapa aku menjemputmu sekarang?”

“Karena oppa adalah karyawan SM?” jawab Jessy polos. Seung Hwan tertawa sesaat setelah meletakkan koper berwarna pink menyala itu di bagasi mobil lalu berputar untuk membukakan pintu mobil untuk Jessy lalu untuk dirinya sendiri.

“Oppa! Jawab.. Aku kan jadi penasaran!” keluh Jessy sambil menggunakan selt belt itu dengan cepat. “Kamu akan tau segera, Je-si-a. Ngomong-ngomong, Uncle pasti akan senang sekali melihatmu.” Kata Seung Hwan mengalihkan pembicaraan.

“Uncle? Lee Soo Man Ahjusshi maksud oppa?”

“Siapa lagi kalau bukan dia? Tidurlah, akan kubangunkan ketika sudah sampai di SM.”

Sesaat kemudian, Seung Hwan menjalankan mobilnya laju. Dan detik berikutnya Jessy sudah terlarut dalam mimpi karena tubuhnya jetlag. Harus terbang lebih dari 12 jam dari London ke Korea. Seolah ia tidak peduli akan apa yang akan terjadi kedepannya.

**

“Kamu tunggu disini sebentar.”

Jessy diam ketika mengamati punggung Seung Hwan berlalu dari hadapannya. Gedung itu masih sama seperti 4 tahun, hanya saja lebih bersih, lebih modern dan lebih keren. Tapi secara keseluruhan, gedung itu tetap sama. Masih gedung yang membawa kenangan cukup banyak untuk Jessy.

Detik itu, Jessy sama sekali tidak menyangka bahwa kakinya sudah berjalan untuk menyusuri tempat itu. Bau gedung itu samar-samar seperti gedung baru, tapi ada bau lain ditempat itu. Bau keringat dimana banyak sekali idola yang bekerja keras supaya mereka bisa menjadi mereka yang sekarang. Tidak sedikit dari mereka ada yang berhasil ataupun gagal. Tergantung seberapa kerasnya mereka berusaha. Tempat ini bukan untuk bermain-main saja.

Tangan Jessy menyentuh dinding koridor itu, dingin. Ia jadi teringat beberapa memori aneh-nya di tempat ini. Bagaimana ia bisa dengan bebasnya masuk-keluar gedung ini sementara semua orang sangat susah untuk masuk tempat ini.

“Kim Je Si, majjayo?”

Seulas senyum terukir dibibir Jessy sebelum ia berbalik. Ia bisa dengan mudah mengetahui suara lelah dan berat itu. Suara yang selalu terdengar tegas dan lembut disaat yang bersamaan. Suara yang mematikan dan bisa memberi semangat sekaligus. Mata Jessy berbinar ketika mendapati pria tua itu menatap Jessy tidak percaya, lalu perlahan kakinya mendekati pria itu.

“UNCLE!” teriak Jessy sambil berlari memeluk pria tua itu senang. Pria itu membalas pelukan Jessy sama eratnya dan pelan-pelan mengelus rambut gadis itu, “Kamu kemana saja?”

“Uncle jangan bilang kesiapapun, ya. Aku tidak bisa lama-lama disini, Uncle. Aku disini hanya ingin membantu project Uncle untuk membuat design baju EXO.”

“Kamu Jessy Kim? Astaga, pantas saja aku merasa kenal style siapa digambar itu. Kamu kemana saja? Paris? Bagaimana kamu bisa menjadi designer sekarang?” tanya pria tua itu beruntutan. Jessy menggandeng tangan pria itu dan mengajaknya berjalan, “Ruangan Uncle masih sama? Ayo kita ke ruangan Uncle saja.”

Lagi-lagi yang bisa dilakukan Lee Soo Man hanya diam mengikuti gadis muda yang menariknya menuju ruangannya.

**

Lee Soo Man tidak percaya kalau seandainya Jessy yang dulu menghilang telah kembali. Jessy begitu disayangi ditempat itu. Pasalnya, orangtua Jessy juga pemegang saham terbesar di SM. Lagipula gadis itu memang begitu sangat berbakat, ramah dan begitu sempurna. Tidak akan ada yang bisa membenci Jessy. Gadis itu terlalu susah untuk dibenci.

Dulu saat pertama kali bertemu dengan Lee Soo Man, Lee Soo Man tidak mengira bahwa gadis itu adalah anak dari salah satu pemegang saham, malah mengira Jessy adalah salah satu dari trainee yang menyelinap ke gedung SM. Karena daya tarik Jessy yang begitu kuat, membuat Lee Soo Man langsung menghampirinya dan menawari gadis itu untuk langsung menjadi trainee dibawahnya. Tapi Lee Soo Man harus kembali terdiam karena pada nyatanya gadis itu menolak tawaran-nya mentah-mentah.

Lee Soo Man akhirnya mengetahui kalau Jessy ternyata sudah hidup dalam impiannya, yaitu menjadi model terkenal. Tidak heran kalau gadis itu menarik.

Ketika suatu saat Jessy datang bersama dengan seorang anak kecil, Lee Soo Man langsung mengenalinya. Kim Jong In. Anak berbakat yang lulus test saat ia berumur 10 tahun. Lee Soo Man sangat terkagum dengan bakatnya sampai tidak bisa melupakannya. Dan ketika Jessy membawa anak kecil itu kembali padanya,ia benar-benar melatih anak itu mati-mati-an.

Lee Soo Man tidak pernah kejam. Ia hanya tegas dan juga tidak pernah membeda-bedakan. Ia memilih dan melatih sendiri anak-anak yang dipilihnya. Memang ada kalanya ia terlihat kejam walaupun sebenarnya ia hanya pria yang memiliki impian besar untuk setiap orang yang dilihatnya punya bakat.

Pria tua itu sudah menganggap Jessy sebagai anak-nya sendiri. Menjaga anak itu dengan baik dan kebetulan Lee Soo Man adalah sahabat dari orangtuanya. Jadi tidak aneh jika mereka terlihat sangat dekat.

“Pokoknya Uncle tidak boleh mengatakan kalau aku kembali ke Korea pada Orangtuaku!” tegas Jessy sambil menatap mata Lee Soo Man tajam. Pria itu menghembuskan napas berat, “Tapi Je-si-a, mereka itu orangtuamu.”

“Tapi tidak sekarang, Uncle. Jebal-yo..”

Soo-man memang tidak mempan dengan air mata siapapun, tapi jika Jessy yang sudah ia anggap anak sendiri, ia pun tidak bisa berkata apa-apa.

“Cklek…”

Jessy melemparkan pandangan bertanya pada Lee Soo Man ketika pintu ruangan mereka terbuka. Ia berharap, semoga saja bukan orang yang ia kenal. Semoga saja.

**

“Kudengar, Kris dan Suho Hyeong dipanggil oleh Soo Man Sajangnim.”

Seketika itu juga, seluruh mata tertuju pada Sehun yang duduk dipojok ruangan. Lay dan Kai yang sedang berlatih dance mereka saja terhenti. Begitu juga dengan Luhan serta Kyungsoo yang sedang berlatih nyanyi bersama. 9 member itu langsung saja menghentikan aktivitas mereka dan beranjak ketempat dimana Sehun duduk untuk beristirahat.

“Bagaimana bisa?” tanya Luhan bingung sambil duduk disebelah Sehun. Kai mengikuti Luhan dan duduk dibelakang pria itu. Sehun memperdekat jarak antar member dan mulai berbisik, “Tidak tau juga. Tadi aku dengar dari Manager Hyeong.”

“Aish! Kamu menyebalkan sekali, Sehun-a!” ucap Kai sambil mengelap keringat dengan handuknya. Luhan mengambil sebotol air dan berbalik, berniat untuk memberikan minum itu pada Kai. Tapi ketika Kai sudah menerima botol itu, Luhan merasakan perasaan kosong. Perasaan yang ia rasakan bertahun-tahun ketika melihat Kai. Ia tidak mengerti, yang jelas ia hanya merasa kosong ketika melihat pria itu. Seperti merasakan ada yang hilang didalam otaknya.

“Sedang apa kalian? Bukannya sekarang waktu latihan dan bukan istirahat?”

Suara itu membuat ke-9 member itu berbalik dan menatap Seung Hwan dengan cengengesan. Satu per satu dari mereka mulai bangun dari duduknya dan mulai mengerubungi Seung Hwan, “Hyeong.. Kenapa Kris dan Suho dipanggil oleh Sajangnim?” tanya Xiumin dengan cepat. Seung Hwan menghembuskan napas pelan lalu mendorong pundak mereka satu-satu supaya bisa keluardari kerumunan itu. Ketika bebas, ia menatap 9 member itu satu-satu lalu melipat tangannya didepan dada.

“Bagaimana kalian bisa tau dengan cepat sekali?”

Semua member melihat Sehun, namun sepertinya maknae itu tidak peduli sama sekali dan lebih memilih untuk tetap menatap Seung Hwan dengan intens. Karena tidak ada yang menjawab, Seung Hwan pun berbalik dan meminum mineral water yang sedari tadi ia pegang.

“Hyeong, jangan diamkan kami!” ucap Kai sebal melihat kelakukan Seung Hwan. Segera saja Seung Hwan menghampiri Kai dan menjewer kuping Kai, “Yak, jangan memerintah aku. Apakah kalian kuberi waktu untuk istirahat lebih dari 15 menit? Dan lihat, bahkan ini sudah lewat 15 menit dari waktu yang kuberikan.”

Luhan membantu Kai lepas dari jeweran itu, “Apa sih susahnya menjawab pertanyaan kami, hyeong? Jangan begitu Kai, dia kan hanya bertanya.”

Seung Hwan menghela napas menatap Luhan yang sudah membela Kai. Diantara para member, ia mengakui kalau seandainya ia memang tidak bisa marah pada Luhan. Pria itu terlalu polos dan terlalu baik. Sekalipun Luhan mengikuti member lain untuk berbuat usil, entah mengapa wajahnya itu tidak bisa membuatnya marah terlalu lama.

“Designer baju kalian sudah datang. Dan dia hebat sekali. Kalian pasti akan suka sekali design-nya. Ia memang hanya gadis muda, tapi kemampuannya sudah diakui dunia.”

Semua member masih diam ketika tiba-tiba saja SEUNG HWAN menghentikan kata-katanya. Seung Hwan berjalan mendekat dan mulai berbisik, “Dan ternyata dia juga anak kesayangan Sajangnim.”

Seketika saja semua member langsung menatap SEUNG HWAN dengan tatapan tidak percaya, “Dulu dia trainee SM?”

“Bukan. Hanya saja dia dekat dengan Sajangnim. Karena dia anak dari sahabat Sajangnim. Dan dia dulu sangat terkenal. Sajangnim sangat sayang padanya, karena itu ia meminta Kris dan Suho untuk menemuinya.”

“Untuk menemani dan melindungi gadis itu?” potong Chanyeol dengan semangat. Seditik kemudian, Baekhyun serta member lain semakin menatap Seung Hwan tidak percaya ketika Seung Hwan mengangukkan kepalanya. Terlalu aneh. Bagaimana Lee Soo Man bisa sebaik itu? Lee Soo Man memang baik, tapi tidak pernah sememanjakan orang seperti ini. Bahkan BoA sekalipun. Biasanya ia hanya akan meminta bodyguard untuk menemani dan bukannya member boyband seperti ini.

“Aish.. Aku kira kita ada project apa. Ternyata seorang cewek?” Kai mengeluh lalu berdiri dan berjalan menjauhi kerumunan member itu. Member lain menatapnya bingung, “Kai, jangan bilang kamu itu gay, ya. Masa dari dulu kamu tidak pernah tertarik pada siapapun?”

“Han Ye Seul.”

“Kenapa?” tanya Baekhyun cepat ketika Kai dengan refleks menjawab pertanyaan-nya itu. Member lain sepertinya mengerti keadaan sehingga mereka hanya diam dan menunggu jawaban Kai.

Kai terseyum licik membuat semua member tau kalau seandainya Kai pasti hanya akan menyembunyikan jawabannya dan tidak ingin memberitahukan siapapun. “Karena dia sangat berbeda dengan gadis yang mati-mati-an ku inginkan. Se-simple itu.”

Seung Hwan, dan semua member berbalik ketika Kai menjawab Baekhyun seperti itu. Mereka masih tidak percaya kalau seandainya Kai menjawab  pertanyaan mereka yang sudah sekian tahun mereka pertanyakan. Baru saja member lain ingin kembali bertanya, tapi sayang sekali tidak bisa karena ternyata pelatih koreo mereka sudah datang. Kai selamat kali ini.

**

Jessy melemparkan pandangannya keluar jendela. Kamar ini terlalu berlebihan untuknya. Presidential Suite VVIP. Lee Soo Man memang terlalu berlebihan padanya. Pria tua itu tau dengan jelas apa yang diinginkannya. Sebuah hotel dengan tingkat kemodern tinggi dan juga tidak ada sejarah kuno-nya sama sekali. Semua serba canggih dan mewah.

Gadis itu menatap langit Seoul yang mulai berwarna orange keemasan. Memperlihatkan pemandangan yang begitu cantik dan luar biasa. Pemandangan yang sudah kurang lebih 4 tahun tidak ia lihat. Pemandangan favorit gadis itu.

Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dan merapatkan tubuhnya dengan jendela. Tangannya menyentuh kaca bening itu hati-hati tapi tidak ada perasaan sedikitpun disana. Ia hanya sekedar bermain disana.

Sebenarnya gadis itu memiliki keinginan yang kuat untuk bertanya pada Lee Soo Man dimana tepatnya anak kecil itu berada.Ia ingin bertanya apakah anak kecil itu benar-benar meninggalkan SM. Meninggalkan janji mereka. Hanya saja ia tidak berani, dan Pria tua itu tidak memberikan informasi sedikitpun padanya. Jadi ia tidak tau harus bagaimana untuk memulai ini semua.

Peluh sedikitpun tidak keluar dari kulitnya karena cuaca yang dingin dan pendingin kamar yang menyala. Sebenarnya gadis itu terasa sedikit kedinginan. Bahkan sebagian bulu-nya berdiri karena merinding kedinginan.

Sedari tadi perutnya minta diisi, tapi ia sama sekali tidak punya orang untuk dihubungi. Ia tidak punya orang untuk menemaninya makan. Ia bahkan tidak berniat sama sekali untuk mengajak Kris ataupun Suho yang dijadikan bodyguard barunya oleh Lee Soo Man. Terlalu tiba-tiba menurutnya. Dulu ia memang tipe yang mudah akrab dengan siapapun, tapi sepertinya ia tidak ingin dekat dengan siapapun. Mengingat ia harus meninggalkan Seoul secepat ia bisa.

Kaki Jessy melangkah menyusuri ruang tamu dan berakhir didapur. Sesaat ia duduk diatas counter dan mengamati sekitar kamar hotelnya yang bisa dijangkau dengan kedua matanya. Selalu seperti ini. Besar, mewah dan juga terlalu kosong serta sepi. Rumahnya, Apartement, Hotel, setiap tempat dimana gadis itu berada, semuanya pasti berkeadaan seperti ini.

Gadis ini merasakan kesepian luar biasa, ia tidak bisa menangis dan mengasihani keadaannya sekarang ini. Ia terlalu malas dan terbiasa akan semua ini. Seperti merasakan ini semua adalah bagian dari hidupnya. Ketika ia ingin seseorang berada disisinya, ia akan terdorong menjauh atau dirinya yang akan mendorong menjauh. Ia terlalu takut ditinggalkan. Perasaan ditinggalkan itu lebih sakit dari apapun.

Perlahan gadis itu berdiri, ia melepas nafas beratnya lalu kemudian berjalan menuju kulkas. Membukanya dan mengambil sebuah botol. Susu strawberry tetap bisa membuatnya tenang sampai saat ini. Tenanglah. Tidak akan lama lagi.

 

**

“Kris, kamu masih mau kemana? Kamu kan masih sangat lemah.”

Kris melemparkan senyumnya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari setir mobilnya, “Aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa Luhan-a. Lagi pula ini hanya 3 bulan sekali. Sekarang kita harus membeli makan untuk anak-anak di Dorm, sehabis itu kita perlu mengantarkan sedikit makanan pada seseorang.”

Dahi Luhan berkerut seolah ia sedang berusaha untuk berpikir, “Maksudmu.. Kesayangan Sajangnim itu?”

“Namanya Jessy. Jessy Kim. Dia designer kita.” Balas Kris cepat sambil menginjak rem untuk memberhentikan mobil ketika lampu merah menyala. Ia menoleh sedikit kearah Luhan yang ingin bertanya pada-nya.

“Kamu benar-benar jadi pelindung-nya?”

Kris memutar kedua bola matanya dan kemudian menutupnya sesaat, “Bukan seperti itu. Aku hanya ditugaskan untuk membantunya ketika kesulitan. Dan aku rasa mungkin gadis itu belum makan sekarang. Ia pasti merasa sendirian. Karena tadi aku sempat mendengar kalau ia bertengkar dengan sajangnim. Ia tidak ingin keluarganya tau kalau ia kembali ke Seoul.”

“Memang dia dari mana?”

“London. Ia sekolah disana, tapi semua orang disekolah itu, designer terkenal dan juga banyak artis sudah sangat mengakui gadis itu. Jadi aku rasa, gadis itu juga penting untuk dijaga.”

Luhan menganguk-angukkan kepalanya mengerti. Ketika mendengar nama gadis itu, ia merasakan sesuatu. Ia merasakan pernah kenal nama itu. Tapi mungkin saja itu perasaannya. Karena seingat pria itu, ia tidak punya teman designer di China. Apalagi di London.

**

“Aku rasa tiba-tiba saja lemas sekali, Luhan-a. Tolong aku. Antarkan ini ke kamar gadis itu, ya? Aku akan istirahat disini sebentar”

Luhan menurunkan Hoodie-nya lebih untuk menutupi mukanya. Langkahnya terasa ringan. Tidak terlalu cepat ataupun lambat.

Sayangnya sekalipun ia menggunakan penyamaran dan menggunakan baju yang tidak terlalu mewah, banyak orang yang tersenyum-senyum padanya dan sesekali berbisik ketika dilewatinya. Apakah pesonanya begitu kuat?

Banyak orang yang berlalu lalang di lobby pada saat itu. Ada beberapa yang membaca koran, asyik bertukar canda ataupun menunjukkan wajah kesal-nya karena belum ada respon dari receptionist.

Hotel ini sangat mewah. Luhan berpikir bahwa Lee Soo Man pasti sangat menyayangi gadis itu. Luhan hanya bisa berharap bahwa semoga saja gadis itu tidak manja dan tidak sok akrab dengan EXO. Soo Man pasti ingin sekali menge-test kesabaran pada boyband rookie ini. Semoga saja gadis itu juga berkelakuan baik sebaik nama serta karir gadis itu.

Luhan tersenyum tanpa melepaskan kacamata hitamnya ketika ia sampai didepan meja receptionist. Tangannya dengan cepat memangku tangan lainnya diatas meja marmer yang dingin itu. Melalui kacamata hitamnya. Ia bisa melihat seorang wanita yang tersenyum sambil membungkuk sesaat ketika ia berhenti disana.

“Maaf, bisakah saya tau dimana kamar Jessy Kim?”

Wanita itu membulatkan matanya ragu, tapi kemudian ia menguasai dirinya dengan baik dan kembali tersenyum, “Kalau boleh saya tau, siapa anda?”

“Saya Luhan. Saya diminta untuk membawakan makanan untuk Jessy Kim atas suruhan Lee Soo Man.”

Receptionist itu masih memandangnya tidak percaya, sehingga Luhan kembali melontarkan senyum yang lebih manis, “Apakah anda kenal EXO? Saya salah satu member disana. Ketua kami, Suho dan Kris meminta saya untuk membawakan-nya makanan.”

Ketika wanita itu mendengar kata Suho dan Kris, kerutan ragu di dahi gadis itu berkurang. “Saya mengerti. Tapi nona muda itu sedang pergi dari hotel beberapa saat yang lalu, apakah anda ingin makanan yang anda bawa untuk dititipkan pada kami?”

Luhan menganguk dan memberikan bungkusan itu pada receptionist itu, “Apakah gadis itu baru saja pergi?”

“Iya, baru saja beberapa menit yang lalu pergi dengan taksi hotel kami.”

“Kalau begitu terima kasih.”

Luhan membungkuk dan akhirnya berbalik, ia sebenarnya ingin bertemu dengan gadis itu. Ia cukup penasaran dengan gadis itu. Hanya saja mungkin ini bukan hari baiknya sehingga tidak bisa bertemu dengan gadis itu. Tapi ataukah keberuntungannya sehingga tidak usah bertemu dengan gadis itu terlebih dahulu?

Kaki Luhan terus melangkah seiring kepalanya masih berpikir dengan keras. Tapi sesaat kemudian, ia berpikir. Mungkin lebih baik ia cepat kembali ke mobil, Kris pasti sedang menunggu-nya.

**

Taksi itu berhenti dengan cepat didepan suatu bangunan megah. Jessy mengeluarkan beberapa ribu won dan dengan cepat memberikan itu pada ahjusshi tua dan ramah yang mengemudi mobil itu.

“Aggashi, Kim Je-si, majjayo?”

Gerakkan Jessy terhenti ketika ia mendengar nama korea-nya dipanggil. Pria tua tersenyum hangat padannya, “Ahjusshi tau?”

“Tentu saja. Dari suara dan juga aura, aggashi. Walaupun aggashi terlihat dingin dan juga lebih dewasa, tapi aura aggashi sangat hangat. Aggashi satu-satu-nya model wanita yang terlihat begitu hebat.”

Jessy terharu mendengarnya. Pria tua itu mengenalnya, hanya karena aura-nya. Padahal sekujur tubuh gadis itu tertutup, tidak terkecuali wajahnya.  Pria tua itu melihat kearahnya, kemudian menyodorkan gadis itu sebuah kertas dan bolpen, “Maukah anda memberikan tandatangan anda untuk anak saya yang ada dirumah sakit?”

Ketika mendengar kata-kata itu, Jessy terenyuh. Ia mengambil kertas itu cepat dan menorehkan tinta bolpen dikertas putih itu. Tak lama kemudian Jessy memberikan kertas itu kembali pada pria tua itu sambil tersenyum, “Siapa nama anak bapak?”

“Mirei.. Choi Mirei.”

“Dimana rumah sakitnya?”

“Seoul Public Hospital. Wae, aggashi?”

Jessy mengambil tas-nya lalu membuka pintu taksi itu. Dan setelah kaki-nya menapak diatas jalan keras itu dengan sempurna, Jessy kembali menatap supir taksi itu, “Saya akan mengunjungi jika saya bisa. Sampaikan salamku pada Mirei, Ahjusshi. Gamsahamnida.”

Kemudian Jessy menutup pintu taksi itu dengan cepat, bahkan sebelum pria tua itu membalasnya. Kemudian menatap bangunan pencakar langit itu. Ah. Ia merindukan tempat ini.

Angin yang mendorong gadis itu untuk kembali berjalan, dan dengan leluasa masuk gedung itu. Tempat yang ia tinggalkan 4 tahun lalu. Apakah tempat tinggal itu masih sama seperti dahulu kala?

**

“Apakah kamu sudah tidur?”

Je-si terdiam dipunggung Jong-in. Ia terlihat nyaman dipunggung pria berumur 13 tahun itu. Ia suka sekali digendong anak kecil itu. Bahu pria itu bidang dan empuk disaat yang bersamaan. Membuatnya nyaman.

Kenyamanan Je-si terusik ketika Jong-in bisa membuka pintu kamar-nya dengan begitu mudah menggunakan kaki kiri pria itu.

“Aku tau kamu sudah bangun.”

Je-si masih terdiam, tapi kemudian Jong-in mengendurkan pegangan-nya digadis itu dan menurunkan gadis itu keatas tempat tidur. Pipi Je-si menggelembung dan ia mengucek-ucek matanya lelah, “Kamu pulanglah.”

Anak kecil itu terdiam, kemudian mendorong bahu Je-si pelan keatas tempat tidur sehingga akhirnya gadis itu terbaring disana. Pelan-pelan Jong-in berlutut untuk melepas sepatu gadis itu dan menaikkannya keatas kasur yang segera ditutup dengan selimut lembut gadis itu.

“Jong-in-a..”

Jong-in menggumam tidak jelas sebagai jawaban. Ia duduk dipinggir kasur dan menatap gadis itu dengan kedua bola matanya, “Kenapa kamu terlihat begitu dewasa?”

Sekilas senyum pria itu terlihat dipenglihatan gadis itu, tapi ketika pria itu menutup matanya dengan tangannya yang besar, Je-si bisa merasakan kecupan hangat dikeningnya. Perasaan aman, manis juga nyaman menyeruak ditubuh gadis itu. Membuat setiap bagian tubuhnya rileks begitu saja dan menjadi lemas.

“Karena kalau berurusan denganmu, aku ingin menjadi sesuatu yang berbeda. Aku ingin menjadi satu-satu-nya orang yang kamu repotkan. Aku selalu siap. Kalau dimasa depan, hanya aku yang kamu repotkan.”

Seketika itu juga, senyum dibibir Je-si terukir. Sepertinya kata-kata lembut anak kecil itu menjadi mantra ampuh untuk membuatnya tidur nyenyak hari ini.

**

Ketika mata Je-si terbuka, Ia menyadari bahwa ada seseorang dirumahnya. Tirai jendela kamarnya sudah terbuka, air putih di meja samping kamarnya sudah terisi, dan bau makan samar-samar terasa dihidungnya.

Sekujur tubuh Je-si masih kaku, tapi ia berusaha untuk meregangkannya sedemikian rupa. Perlahan kakinya mulai menendang selimut yang menyelimutinya dan turun keatas lantai dingin. Dengan malas, kaki itu menyusuri kedinginan dan keangkuhan lantai itu untuk mencari sandal bulu-nya. Ketika dengan sempurna sandal bulu itu menyelimuti kakinya, Je-si berjalan kearah kamar mandi dan toilet dalam kamarnya terlebih dahulu. Kebiasaan yang tidak bisa ia hilangkan.

Ketika sampai disana, ia tersenyum sambil membaca note itu perlahan.

Noona-ya. Aku tidak romantis.

Aku tidak bisa berkata dengan kata-kata manis.

Tapi yang kulakukan hanyalah menyuruh dan mengaturmu. Demi kebaikanmu.

Sekarang mandilah, atau aku akan mengolok-mu habis-habis-an.

 

Je-si masuk kedalam kamar mandi itu, dan terpesona ketika wangi mint terasa dikamar mandi itu. Bau yang sangat menyegarkan. Bau anak kecil itu. Bau yang sangat disukai Je-si.

Ketika ia berjalan menuju wastafel, matanya bisa melihat sesuatu diatas meja itu. Tumpukkan baju dan beberapa aksesoris disana. Dan sebuah jubah mandi disana. Anak kecil itu selalu tau. Je-si tidak pernah ingat untuk mengambil baju ganti-nya. Anak kecil itu seperti lebih tau tentangnya dibanding dirinya sendiri.

Hari ini hari minggu. Kira-kira apa yang akan dilakukan pria itu?

**

Dulu semuanya baik-baik saja. Sebelum hatinya terbagi menjadi dua. Sebelum akhirnya perlahan ia mulai menjauhi anak kecil itu dan lebih sibuk dengan yang lain.

Je-si lebih sibuk untuk menyakiti dirinya sendiri. Ia sibuk mencintai yang lain sementara dirinya menyakiti Jong-in. Anak kecil yang tumbuh menjadi pria yang begitu menyayangi-nya.

Ketika Je-si sudah memasukkan passcode apartement-nya, Je-si dengan mudah bisa masuk kedalam sana. Masih sama. Hanya saja lebih kotor dan lebih sepi dari dulu. Ia yakin tidak ada siapapun ditempat itu.

Langkahnya terus masuk menuju kamarnya. Ruangan itu berantakan. Karena waktu itu Je-si frustasi dan memutuskan untuk meninggalkan apartement itu tanpa tujuan yang jelas. Ia mengambil benda yang ia perlukan dan kemudian pergi tanpa memberitahu siapapun.

Tanpa disadari, Jessy sudah berhenti didepan kamar mandi-nya. Setiap pesan dari Jong-in tidak pernah ia buang. Ia menganggap nasihat anak kecil itu penting. Apalagi semenjak kejadian mengerikan itu.

Jessy tidak memungkiri kalau ternyata tempat itu membuat otaknya terkuras. Sekelebat memori muncul ke permukaan membuat perasaannya terombang-ambing. Perasaannya sesak luar biasa. Membuat tubuh-nya sendiri menjadi kehilangan keseimbangan. Jessy juga tidak memungkiri kalau bibirnya bergetar dan matanya memerah. Gadis itu merindukan masa lalu.

Ia merindukan pria itu setengah mati. Tapi apakah seseorang bisa memanggil-nya bodoh? Gadis itu masih belum bisa mengerti perasaannya. Apakah ia hanya menganggap Jong-in bagian hidupnya atau orang yang tidak bisa ia hidup tanpanya.

**

“Noona..”

“Ehm?”

“Apakah noona tidak pernah lelah menggunakan high heels?”

“Wae?”

Jong-in masih terdiam beberapa saat. Ia tersenyumpenuh arti ketika akhirnya ia bisa melilitkan tali high heels itu dengan baik di kaki gadis itu. High heels yang tidak begitu tinggi dan senada dengan baju yang digunakan gadis itu. Tak lama kemudian Jong-in berdiri, diikuti Je-si yang berdiri dari duduknya. Tinggi mereka setara. Membuat Je-si ditempatnya kesal setengah mati.

“Kamu tinggi sekali, Jong-in-a.”

“Aku kan sudah bilang. Aku akan melakukan apapun untuk menang darimu.”

“Dasar iblis.” Umpat Je-si sambil berjalan menjauh dari Jong-in. Tapi kemudian Jong-in mencegal tangannya, “Apapun untuk memenangkan hatimu.”

Debar jantung Je-si tiba-tiba saja tidak dapat diredakan begitu saja. Jangtungnya memompa darah dengan begitu hebat kesekujur tubuhnya, sehingga ia bisa merasakan darah panas itu disekitar pipinya. Ia masih terlalu shock sehingga tidak bisa membalas apapun.

Ketika tiba-tiba saja tangan kurus itu menariknya mundur untuk masuk kedalam pelukan itu melalui pinggangnya, Je-si tidak berbuat apapun. Bau mint menyeruak disana. Ia tidak bisa protes. Karena ia begitu suka kehangatan pria itu, bau mint, detak jantung mereka yang bersatu. Semuanya.

“Otte, noona-ya? Kata-kataku cukup romantic kan? Apakah kamu sudah sedikit jatuh cinta padaku?”

**

Jessy membuka ruang baju-nya yang sudah berdebu. Dress dan saudaranya berderetan disepanjang ruangan itu. Mereka terlihat cantik, tapi menyedihkan. Jessy menutup hidungnya dengan saputangan yang sedari tadi sudah ia bawa. Masih asyik menyurusi tempat itu. Beberapa dress mengingatkannya pada memori-memori berharga, terutama dress yang membawanya bertemu dengan orang-orang yang berarti dengannya.

Dipojok ruangan terdapat pakaian seragam gadis itu dari TK sampai SMA. Bangku terakhir yang ia injak di Seoul. Seragam itu masih tertata bagus, ditata bersama manikin wanita dipojok sana. Seragam itu mengingatkannya pada Luhan. Pada Soon-na. Je-si menjadi sangat merindukan mereka. Disaat-saat ia sendiri, ia akan mengingat kedua orang itu. Bagaimana mereka bisa menghilang dengan begitu cepat seperti dirinya? Tanpa seorangpun tau bagaimana keadaannya. Seperti mereka semua telah ditelan bumi.

Ketika berdiri setelah merapikan rok seragamnya yang sedikit berdebu, Jessy tanpa sengaja menyenggol sebuah kotak dan akhirnya isinya itu tumpah kehadapannya. High heels. High heels yang sangat ia rindukan.

**

Kai membuka kotak makanan itu sambil duduk diatas sofa. Member lain memilih untuk duduk diatas lantai dan bertukar makanan yang mereka suka. Pria itu cepat sekali kram, dan tidak ingin lebih parah dengan mendudukkan dirinya diatas lantai lebih lama. Ia membuka  bungkusan sumpit itu lalu menyumpit makanan didalam kotak itu kedalam mulutnya.

Sesaat setelah ia mengunyah, ia melihat Luhan yang masih asyik membagikan kotak makanan itu pada member dan manager lain, “Hyeong, gumowo uda beli makanan buat kita.”

Luhan tersenyum lalu berdiri menghampiri Kai. Ia berhenti didepan pria itu dan menyodorkan botol mineral pada Kai, “Bukan aku yang beli. Kris yang beli.”

“Lalu dimana Wufan Hyeong?”

Luhan mengangkat bahu. Ia tau sebenarnya tau dimana pria ituberada. Hanya saja, sebaiknya member lain tidak tau keadaannya. Atau kalau tidak,mereka semua akan lari kedalam ruangan Kris dan membiarkan pria itu tidak bisa istirahat karena kegaduhan akibat perhatian mereka yang berlebihan.

Gigi Kai masih asyik menggigit makanan itu. Dan ketika Luhan melemparkan pandangannya pada Kai, perasaan itu menghampirinya lagi. Rasa kosong. Rasa sesuatu ada yang hilang. Tapi ia masih tidak bisa mengerti.

“Luhan Hyeong, abis ini kita latihan bersama, ya?”

“Kamu bukannya baru saja sembuh dari cedera? Lebihbaik kamu istirahat saja.”

“Ani. Baru kali ini aku menemukan waktu kita semua bebas. Aku ingin berlatih denganmu. Aku sudah lama tidak mendengar kritikmu, hyeong.”

Luhan tersenyum, “Ara..”

**

“Sudah bagus, Jong-in-a. Tapi aku rasa tadi ekspresi-mu kurang. Aku rasa kamu terlalu kelelahan karena banyak berlatih hari ini.”

Kai menganguk mengerti lalu kemudian menyandar didinding. Perlahan ia turun dan akhirnya terduduk diatas lantai. Kakinya diluruskan kedepan, seolah membiarkan darahnya sampai kesetiap inchi tubuhnya. Mulut dan hidung Kai masih bekerja sama untuk menampung sebanyak-banyaknya oksigen supaya bisa masuk kedalam paru-paru pria itu. Secara keseluruhan, Kai sangat kelelahan.

“Tapi aku rasa, kamu terlihat sangat bagus dengan Sexy Style-mu, Jong-in-a. Tapi aku heran, bukannya kamu diberikan visual yang dingin dan imut secara bersamaan? Aku jadi bingung kenapa kamu berubah haluan?”

Luhan masih menunggu Kai menjawab, tapi lagi-lagi Luhan harus menerima kalau Kai hanya diam dan membiarkan senyumnyayang berbicara. Setelah oksigen dengan baik sudah tersalurkan, Jong-in berdiri dan mengulurkan tangannya pada Luhan. Membantu pria yang lebih tua itu untuk berdiri dan keluar ruangan dance.

“Hyeong mau tau?”

Luhan tidak menjawab. Ia hanya memerhatikan punggung Kai yang berjalan didepannya. Ia tidak ingin banyak berharap, karena biasanya Kai suka memberikan harapan tinggi padanya.

Tapi Luhan salah. Kai berbalik saat itu. Ia tersenyum manis lalu memperhatikan jendela besar yang tembus kearah lautan lampu malam Seoul. Mereka sedang berada dilantai yang cukup tinggi sehingga bisa melihat sedikit keindahan Seoul pada saat itu.

“Karena ada seseorang yang berkata aku lebih cocok Sexy dibanding imut, Hyeong-a.”

“Siapa?”

“Tidak penting. Orang itu sudah menghilang dan entah kapan akan kembali. Menurut Hyeong, apakah aku harus mengerjarnya? Tapi aku melakukan hal ini juga untuknya. Menurut Hyeong, apakah ia tau kalau aku disini berusaha agar ia memperhatikanku? Astaga, aku terlalu banyak berbicara.”

Luhan tersenyum dan menepuk bahu Kai keras seolah memberikan Kai semangat sekalipun ia tidak terlalu mengerti keadaan pria itu, “Kamu akan merasakan orang itu lebih berharga ketika kamu kehilangannya.”

“Kata-kata darimana itu, Hyeong?”

Luhan terhenti. Tapi Kai tidak, pria itu tetap melangkah tanpa sadar meninggalkan Luhan jauh. Luhan sama sekali tidak memiliki ide siapa yang mengatakan hal itu padanya. Ia masih bisa dengan jelas mengingat perjataan itu, tapi ia sama sekali tidak tau siapa yang berkata itu padanya. Apakah itu hanya ilusi semata? Hanya mereka yang tau.

**

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

 

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

 

 

Advertisements

Tagged: , ,

6 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 7

  1. Cynthia October 7, 2012 at 1:23 AM Reply

    Yahhhh pdhl hampir aja Luhan ktmu jessy..
    Kira2 sapa dluan ya yg bakal ketemu ma jessy?? (“ ̄з ̄)Ħммм…
    Dtgu part selanjutx 😀

    • hanjesi October 7, 2012 at 11:20 PM Reply

      siapa-siapa yaaaa? kayaknya sih…
      Kkk~
      Thanks for reading btw! Love you my loyal reader xoxoxo

  2. naritareky October 7, 2012 at 4:39 AM Reply

    Aku kira di part ini luhan atau kai bakal ketemu sama jessy tapi gagal x_x
    Semoga di part selanjutnya ketemu haha

    Aku selalu nunggu FF ini di post di blog ini.
    Soalnya ini satu2nya FF favorite aku haha

    • hanjesi October 8, 2012 at 2:53 AM Reply

      Aku kan mau nge-tease para reader xD hahaha
      Ada tuh first readerku malah nangis disini -_- katanya lebih sedih dari part 5 -_-

      Yeyeyey.. Makasih uda mau baca ff labil dan menyebalkanku ini -__-V

      • naritareky October 8, 2012 at 2:30 PM

        Tetep menurut ku paling sediih part 5, soalnya aku sempet nangiis wkwk

        Sama2 :p secepatnya ya kelanjutan nya 😀

      • hanjesi October 9, 2012 at 1:03 PM

        Hoaaah jongmal? Nangis? Di Part 5?
        Why didn’t you tell me?

        I think its useless to made part 5 because no one cry because of it T,T poor my luhan and kai 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: