EXOtic’s Fiction “Summer Story” – Part 5

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Summer Story”

TITLE               : Summer Story

SUB-TITLE        : The Fifth – May I Tell You What I Feel?

AUTHOR          : Cha Miho (@fab_cinta)

MAIN CASTS   :

  • Cha Sheileen
  • Kim Jong In
  • Zhang Yi Xing 

LENGTH           : Series

GENRES           : Romance, School Life, Friendship, Family

RATING           : PG – 13

LANGUAGES   : Korean (Indonesian) and English (Minor)

-notes- cerita ini akan mengambil tempat di London, England, sehingga beberapa percakapan akan menggunakan bahasa Inggris. Namun bahasa utama yang digunakan tetap Korea (Indonesia). Percakapan di dalam pikiran seorang tokoh dilambangkan dengan huruf miring berwarna.

-disclaimer- SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSIONS and after you read the story, please give a comment ^^ Every word from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

Pagi itu sepertinya terasa lebih cerah daripada hari-hari sebelumnya bagi Sheileen. Bagaimana tidak, hanya dengan kata ‘quick date’ dari Mr. Yixing sudah bisa membuatnya terjun dari dunia ke dua belas.

“Sheileen!”

Sapaan singkat Mr. Yixing membangunkan Sheileen dari daydream singkatnya di pagi itu. Ia pun membalas sapaan gurunya tersebut dengan lompatan yang disertai lambaian tangan yang terlampau semangat.

“Mr. Yixing! Apakah Anda sudah menunggu lama?” ucapku tetap riang seperti sebelumnya dan mendekatinya yang sedang duduk di bangku taman itu.

“Tentu saja tidak, bel istirahat bahkan baru berbunyi 5 menit yang lalu dan kamu sudah bisa berada di sini. Hebat sekali. Sepertinya aku sudah tidak perlu mengkhawatirkanmu lagi Leen,” ujar Mr. Yixing sambil tersenyum dan perasaan lega merambah masuk melihat murid kesayangannya ini sudah lebih sehat daripada sebelumnya.

“Oh, jadi kencan kita hanya untuk mengecek kondisiku?” kataku sambil merasa sedikit menyesal mengharapkan sesuatu yang lebih.

“Iya dan tidak. Kamu mau mendengar ‘tidak’-nya?” kata Mr. Yixing yang menatapku lembut dan membuat kerja jantungku lebih cepat daripada biasanya.

“Pasti. Katakanlah padaku,” ucapku masih dengan susah payah mengontrol kerja jantungku yang sudah tidak karuan ini.

Mr. Yixing terlihat berpikir sejenak sebelum mengucapkan kata-kata selanjutnya. Hal ini hanya membuat Sheileen gregetan dan sistem kerja jantungnya naik drastis.

“Hm, baiklah. Sebenarnya aku mau meminta maaf karena belum memberitahumu soal progam transferred student yang aku bimbing dan tiba-tiba saja Kim Jongin sudah berada di rumahmu kemarin,” ucapnya menyesal dan perasaan menyesal itu juga datang dari lawan bicaranya, ya, aku.

Ack, sial. Padahal aku berharap ia ingin membicarakan hal ‘lain’.

“Tidak apa-apa Mr. Yixing,” ucapku sambil memberikan dua acungan jempol.

Mr. Yixing lalu tersenyum dan melanjutkan kata-katanya, “Oleh karena itu, aku juga ingin memberikan selamat kepadamu karena telah terpilih di program ini. Mungkin ini tidak seberapa, tetapi ini hadiah dariku.”

Ia pun mengeluarkan sebuah kotak kado berukuran sedang yang dibungkus manis dengan kertas kado polkadot cokelat dan pink. Dengan tidak sabar aku membukanya dan menemukan sebuah pajangan gitar kaca yang sepertinya bisa memainkan lagu.

“Woaaah…. Indahnya… Bolehkah aku memutar lagunya?”

“Tentu. Coba putar di bagian sini,” Mr. Yixing pun lalu menunjukkan tempat yang ia maksud dan intro lagu itu pun dimulai.

Forbidden?” ucapku beberapa detik setelah mendengarkan intro lagu yang sudah tersimpan dengan baik di memoriku.

“Benar sekali. Mungkin kamu sudah mengetahui hal ini, tetapi lama tidak berjumpa, Sheileen,” ucapnya sambil tersenyum yang dibalas dengan muka shock dariku.

Aku tidak bisa berkata-kata saat itu, hipotesis yang aku amini benar itu, ternyata sama sekali tidak salah!! Tanpa sadar aku sudah melompat-lompat dengan gembira dan melakukan tarian kegembiraanku yang menghasilkan tawa dari Mr. Yixing.

“Hei hei tenanglah hahaha. Kamu masih sama seperti dulu,” ucapnya sambil bernostalgia tentang liburannya ke Seoul 7 tahun lalu, “Dan sepertinya kemampuan menarimu sudah berkembang,” pujinya tulus ketika ia mengingat bahwa dulu Sheileen selalu jatuh ketika hendak melakukan putaran yang ia sebut dengan fouttes..? foutte..? Ya apalah itu.

“Hehehe! Iya! Tentu saja. Ngomong-ngomong, terima kasih untuk hadiah kecil ini,” tuturku jujur yang sangat senang menerima hadiah dari Mr. Yixing.

 

—Zhang Yi Xing’s POV—

Gadis itu tetap ceria seperti biasanya. Memang benar, hal ini yang selalu membuatku terhibur dan selalu ingin tersenyum setiap kali melihatnya. Aku memang sudah menyiapkan hadiah itu sejak beberapa hari yang lalu, lebih tepatnya, ketika aku menemukan fakta bahwa Sheileen ialah cinta pertamaku, hahaha.

Dan Kai… Ya Kai… Kamu tahu, mungkin kamu memang adikku yang paling kusayangi. Memang kita tidak memiliki hubungan darah sedikit pun, memang fakta bahwa kita selalu rukun bersama selama 6 tahun ini sungguh menyenangkan. Namun, kurasa, kamu tahu kalau Sheileen tidak bisa kita miliki bersama.

—End of Zhang Yi Xing’s POV—

 

Mr. Yixing tersenyum lalu berkata, “Sure, sama-sama Sheileen. Oh iya ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Kai? Dia tidak berbuat macam-macam kan di rumahmu?” tanya Mr. Yixing penasaran.

“Jongin?”

Jongin? Kamu memanggilnya Jongin, Sheileen? Wae?

“Aah, Jongin anak yang baik kok. Hanya keusilannya tidak berubah sejak dulu…” ucapku yang lalu merengut mengingat keusilannya pagi tadi.

“Usil? Sejak dulu? Kamu mengenalnya?” tanya Mr. Yixing yang menyadari perubahan raut mukaku.

“Tidak, dia hanya mengelitiku tadi pagi dan beberapa gurauan yang selalu kami ucapkan sejak kecil, hehe. Hmm ya, Jongin teman masa kecilku waktu kami menari dulu di studio amma. Dia hebat sekali lho ketika menari~ Mr. Yixing juga berpikiran seperti itu kan?” tuturku yang kembali mengingat betapa gerakan-gerakan yang dibuat oleh Jongin mampu membuat semua orang terfokus hanya pada dirinya dan hal itu membuatku menyunggingkan senyumanku sedikit.

Senyuman itu hanyalah perkara kecil, namun entah mengapa, senyuman seperti itulah yang tidak pernah ditunjukkan Sheileen kepada Mr. Yixing. Ia pun hanya bisa tersenyum kecut melihat kenyataan itu. “Hmm, kalian sepertinya dekat sekali ya…” ya, aku cemburu terhadap adikku sendiri, “lapor saja padaku jika adikku berbuat macam-macam,” tutur Mr. Yixing yang lalu bersiap-siap untuk kembali ke ruangannya.

“Adik..? ADIK??!” teriakku tanpa sadar yang membuat Mr. Yixing terkejut oleh suaraku yang keras.

“Ah..yaa…Kai…Kim Jongin itu adikku, tetapi kita saudara tiri hehe,” ujar Mr. Yixing yang lalu terkekeh mengingat bagaimana ia dan Kai terlihat seperti saudara yang di dalamnya mengalir satu darah yang sama.

“Tunggu…Jadi orang tua Jongin sempat bercerai..?” tanyaku yang merasa khawatir sekarang.

“Ya..tepatnya 6 tahun yang lalu orang tua kami menikah kembali. Tetapi tenang saja, segalanya berjalan dengan baik kali ini. Sudah, kamu kembalilah ke kelas, sebentar lagi bel istirahat akan selesai,” kata Mr. Yixing yang sudah siap melangkah menuju kantornya yang sudah dipenuhi oleh berkas-berkas yang harus ia urus.

Sheileen pun mengangguk dan merasakan kepalanya serasa ditusuk-tusuk kembali. Di pikirannya lalu terputar memori-memori yang sudah lama ia tidak gali, mengenai dirinya yang mencari Jongin di tengah kekelaman yang ia terima sepeninggal ammanya.

 

—Seoul, 6 years ago—

Waktu itu bulan Januari. Aku ingat sekali sudah tepat satu bulan sejak amma pergi dari kehidupanku. Hari-hariku seakan-akan selalu diikuti oleh awan mendung yang ah.. tak tahu lah, bentuknya collomunimbus -____-

“Jongin mana ya… “ ujarku tiba-tiba merindukan kehadiran bocah nakal itu.

Tiba-tiba aku mendengar kak Chen memanggilku dari bawah, “Sheileen! Ada surat untukmu!”

Surat? Dari siapa?

Aku pun berlari ke bawah dan menemukan sepucuk surat yang bertanda “Untuk Cha Sheileen” di depannya. Kubuka surat itu, berharap bahwa surat itu dapat menghiburku.

Leen-ah,

Annyeong Leen. Ketika kamu membaca surat ini, mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi dalam waktu yang…lama. Tidak, tidak, jangan berpikir yang aneh-aneh, aku hanya tidak bisa bersamamu sementara. Maafkan aku karena tidak bisa bersamamu sekarang.

Maafkan aku juga karena belum sempat mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Segala sesuatu yang terjadi padaku begitu mendadak dan…aku masih belum sanggup untuk menceritakan semuanya kepadamu. Tentu, suatu hari nanti, aku akan menceritakan ini kepadamu.

Oh ya, aku tahu kamu pasti sedang sedih sekarang Leen-ah atas kepergian…amma- mu. Sekali lagi aku turut berduka cita….kamu tahu aku juga menyayangi amma-mu seperti amma-ku sendiri. Dan tidak, aku tidak akan menyalahkanmu untuk bersikap seperti itu kok, tapi kuharap kamu tahu jika kamu menjadi manja terus seperti itu, orang-orang sekitarmu juga pasti akan sedih. Sheileen sudah besar kan? Kamu tidak mau kupanggil anak kecil kan? Jadi ayo bersikap dewasa sekarang, ya? J

Lalu, jangan pernah berhenti menari Leen-ah. Jangan karena hal ini kamu berhenti melakukan hal yang kamu sukai itu. Kamu tahu tidak, aku sangaaaat sangat sangat sangat sangat menyukai saat-saat kita bisa menari bersama, saat-saat itu merupakan kenangan paling manis untukku dan kuharap kita bisa melakukannya lagi di pertemuan kita nantinya. Ingat, pertandingan kita belum selesai, oke? Yang kalah harus mentraktir bubble tea kesukaan kita, ingat itu.

Dan….seperti yang pernah kukatakan sebelumnya.. Kamu tidak akan pernah sendirian lagi Leen-ah. Percayalah bahwa aku akan selalu mendukungmu dan berjalan bersamamu. Walaupun maaf, mungkin sekarang kamu tidak bisa merasakan kehadiranku secara nyata, tapi percayalah, two is always better than one.

Kurasakan air mataku jatuh ke atas surat yang kulihat juga berbekas tetes-tetes airmata Jongin. Aku pun dengan mata yang sedikit kabur, melanjutkan membaca surat tersebut.

Hei.. Aku tidak manly, ya? Hahaha, lihatlah tetesan air mata ini, aah sungguh memalukan. Haah, dan kamu tahu, aku rindu saat-saat kita bersama Leen-ah. Jangan menganggap pernyataanku ini hanya bualan anak kecil ya, kita sedang menuju tahap menjadi dewasa juga lho.

Ahahaha bangga sekali dia…” tuturku seraya menyeka air mata yang akhirnya keluar dari pelupuk mataku.

Cha Sheileen..

…….Ketika saat itu tiba, aku akan memberitahumu hal yang seharusnya sudah kuberitahu sejak lama. Sampai saat itu tiba, tolong, tetaplah menjadi Cha Sheileen yang selalu bersemangat, yang selalu tersenyum, dan yang selalu aku sayangi.

Keep smiling, my sweetest friend.

Kim Jong In

Aku membuka mataku. Awalnya segalanya terlihat buram….lalu aku pun melihat Mr. Yixing dan Jongin menatapku dengan was-was. Kurasakan wajahku yang basah karena air mata, benarkah aku menangis?

“Sheileen!”

“Leen-ah!”

Kedua bersaudara yang sudah berada di klinik dokter sekolah itu pun serentak memanggil namaku tepat ketika aku sudah membuka kedua mataku kembali. Sepertinya selain menangis..aku juga pingsan lagi tadi…

“Sheileen! Apakah kamu baik-baik saja? Astaga, ini sudah kedua kalinya aku menemukanmu tersungkur tiba-tiba seperti itu, ayo minumlah air putih ini dahulu,” ujar Mr. Yixing yang terlihat sangat khawatir dengan kondisiku dan akhirnya aku membalasnya dengan tersenyum dan anggukan yang masih tergolong sedikit lemah itu.

Jongin hanya menatapku. Aku tidak terlalu tahu apa yang sedang ia pikirkan sekarang, namun aku bisa merasakan bahwa selain ia khawatir, sebersit amarah terlihat di wajahnya…

Mr. Yixing lalu tiba-tiba berkata, “Kai, maaf aku tidak bisa menemani Sheileen lebih lama daripada ini. Kelas yang kutinggalkan pasti sudah bertanya-tanya dimana keberadaan gurunya ini. Aku akan memberitahukan guru yang mengajar di kelasmu bahwa kamu harus menjaga Sheileen sekarang, jadi tolong jagalah dia sampai ia benar-benar pulih. Dan Cha Sheileen, beristirahatlah setelah ini,” ujar Mr. Yixing yang lalu pamit dengan perasaan yang masih gelisah. Bagaimana tidak, ia terpaksa harus meninggalkan orang yang ia sayangi. Dan ya, ketika akhirnya ia bisa mengatakan bahwa dirinya ialah pemuda yang ia temui 7 tahun yang lalu.

Sheileen.. Aku harap kejadian ini tidak berhubungan dengan jantungmu itu.. Semoga kamu cepat sembuh.. Mr. Yixing lalu akhirnya melepaskan pandangannya dari Sheileen dan melangkahkan kakinya dengan cepat ke ruangan kelas yang ia tinggalkan.

Klinik itu pun lalu menjadi sepi. Dokter yang seharusnya menjaga klinik itu sedang tidak berada di tempat, jadi hanya Jongin dan diriku yang berada di ruangan itu. Tidak ada satupun dari kami yang memulai pembicaraan. Jongin tetap menatapku dengan pandangannya yang sama seperti sebelumnya, dan aku hanya bisa melihat sekilas keluar jendela, ataupun menunduk sambil memainkan selimut yang menyelimuti pinggangku.

“Sheileen. Leen-ah,” bisik Jongin yang akhirnya membuka pembicaraan walaupun ia masih menundukkan kepalanya.

Aku terkejut lalu menatap Jongin pasrah, “Ya?”

“Apa…Apakah kamu baik-baik saja sekarang?” ujarnya masih dengan intonasi suara yang dalam namun sedikit lebih kencang dan matanya yang hanya memandang lurus kepadaku.

“A-aku baik-baik saja. Tadi kepalaku hanya sedikit pusing dan tanpa sadar sepertinya aku terjatuh tadi…” ujarku berusaha tidak menatap mata Jongin sekarang.

Ekspresi Jongin tidak berubah, wajahnya kembali menegang. “Kamu tidak boleh berlari-lari sekarang Leen-ah dan lupakan saja pertandingan menari kita,” ujarnya dingin seraya menatap mataku dengan wajah serius yang disambut dengan ketidakpercayaanku.

“Apa?! Sejak kapan kamu bisa mengatur hidupku Kim Jongin?!” ucapku marah kepada Jongin yang seenaknya mengatakan larangan ini-itu untukku.

“Ini demi kebaikanmu juga. Tolong, jika kamu pingsan terus seperti ini, aku—“

Jongin tidak melanjutkan kata-katanya. Wajahnya berubah menjadi sedih sekarang, ia pun menundukkan kepalanya kembali dan bisa kulihat ia seperti berusaha menahan suatu emosi yang besar. Aku pun menyadari betapa ia sebenarnya mengkhawatirkan keadaanku. Hatiku tersentuh dan tanpa sadar kuletakan tanganku di pipinya dan berkata, “Jangan khawatir Jongin-ah, aku baik-baik saja sekarang. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,” ucapku sambil tersenyum lembut kepadanya seraya menatap matanya dalam, berusaha meyakinkannya untuk percaya akan ucapan fanaku.

Ketegangan yang tergambarkan di wajah Jongin pun mulai memudar, ia lalu menggenggam tanganku yang berada di kedua pipinya dan menutup matanya. Jongin terlihat seperti berusaha merasakan setiap kehangatan yang kuberikan kepadanya dan hal itu kian menghapus kerutan di wajahnya. Aku merasakan degupan jantung yang semakin cepat dan kehangatan yang diberikan tangan Jongin kepadaku itu begitu menenangkan juga.

Kami terdiam dengan keadaan seperti itu cukup lama. Sampai pada akhirnya Jongin cepat-cepat melepaskan genggaman tangannya dan berdeham.

“Jadi..Leen-ah, maafkan aku tadi. Kamu tahu aku t-tidak……tidak bermaksud seperti itu,” ucapnya sedikit malu dengan apa yang telah lancang ia katakan tadi.

“Tidak apa-apa. Kamu tahu, sebenarnya aku tadi menemukan sesuatu yang menarik,” ujarku berusaha mengubah suasana kelam yang sempat terjadi diantara kami.

“Sesuatu yang menarik? Apa itu?” tanyanya penasaran dan mulai bisa mengontrol kekhawatirannya sekarang.

“Mengapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu dan Mr. Yixing bersaudara?” tanyaku sambil tersenyum dan sedikit tertawa.

Wajah Jongin mulai kebingungan dan tidak tahu harus menjelaskannya dari mana. Sheileen pun lalu melanjutkan perkataannya, “Dan sebenarnya, sebelum aku pingsan, aku menemukan satu kenangan yang sepertinya aku lupakan,” ujarku sambil tersenyum yang lalu membuahkan sebuah tanda tanya besar di muka Jongin.

“Kenangan yang hilang..?” tanyanya ragu-ragu kepadaku.

Yeah, kamu tahu, beberapa kenangan setelah amma meninggal, tidak bisa kuingat dengan baik. Salah satunya ketika kamu mengirimkanku surat itu. Kamu manis sekali ya ternyata waktu kecil,” ucapku jujur mengatakan hal itu yang tanpa kukira, hal itu membuat Jongin benar-benar terlihat seperti kepiting rebus.

“S—su-surat? A-aku..” ucap Jongin terbata-bata dan menggumamkan hal-hal yang tidak jelas. Aku pun tertawa dibuatnya. Aigoo Jongin-ya~

“Hahaha apa itu. Bicaralah yang jelas. Kamu tersipu malu ya?” godaku yang membuat wajah Jongin semakin tidak tahu harus memerah seperti apa lagi. Dengan susah payah akhirnya Jongin pun menjawab, “H-hei! Hentikan! Itu sungguh memalukan,” ujarnya sambil masih berusaha mengatur raut wajahnya.

Aku masih tertawa dengan gelinya dan akhirnya menjawab, “Apanya yang memalukan, itu sungguh manis tahu. Dan…bukankah kamu seharusnya masih memegang janjimu hm?”

Jongin yang mengerti apa yang dimaksud dengan janji itu pun lalu merubah raut mukanya menjadi serius. Sebersit rasa sedih di wajahnya yang tampan itu pun mulai terlukis. Tampan? OMG, akuilah itu Sheileen, ia memang tampan.

Well, seperti yang telah kamu ketahui… Aku dan kak Lay…uuh, maksudku Mr. Yixing, ialah saudara tiri..” ucapnya memberikan jeda sebentar.

“Beberapa hari setelah Ms. Ree pergi.. Orangtuaku bercerai.. Kamu tahu kan appaku sering berpergian keluar kota? Ternyata amma sudah tidak tahan dengan itu…dan yeah…. walaupun mereka berdua saling mencintai…tetapi mereka memutuskan untuk berpisah,” ujar Jongin yang lalu tersenyum sedih.

“Aku pun akhirnya ikut appa dan tinggal di Cheongju, tempat asal appa, tepat pada bulan Januari. Setelah itu, kadang-kadang kami juga pergi ke Seoul, tapi memang…aku tidak pernah mampir ke tempatmu…..karena—“

Jongin pun terdiam. Sepertinya ia menghadapi kesulitan mengutarakan apa yang sedang ada di pikirannya saat itu. Aku pun menjadi segan untuk bertanya mengapa ia tidak ingin berkunjung ke tempatku… Maksudku, memangnya aku akan menggigitnya?

“Karena….entahlah….aku merasa bahwa aku sudah mengingkari janjiku padamu untuk selalu bersamamu dan… bahkan aku pergi di saat kamu sedang kesusahan seperti itu..” ujarnya yang penuh rasa penyesalan dan kekecewaan.

Sebenarnya aku juga mengingkari janjiku terhadap amma-mu Leen-ah.. Aku memang tidak pantas disebut sebagai guardian angelmu…

Aku pun hanya terdiam sesaat dan kembali menanggapi perkataannya, “Kamu tahu Jongin-ya, suratmu itu…memberikan kekuatan bagiku saat itu. Lagipula, aku bisa menjaga diriku sendiri Jongin. Tetapi terima kasih karena sudah mau menjagaku,” ucapku seraya tersenyum kepadanya.

Jongin hanya melihatku dan kurasakan perasaan bersalah masih terpampang di wajahnya. Keheningan kembali kami rasakan, namun kali ini sepertinya kita lebih tenggelam di dalam pikiran kami masing-masing.

“Aku senang kamu sudah mau menari lagi Leen-ah,” ujarnya seraya tersenyum lemah dan masih dengan ekspresi yang sama.

“Ah..ya…Beberapa orang membantuku untuk kembali melangkah, salah satunya dirimu melalui surat itu,” kataku seraya menatapnya, “aku seharusnya mengatakan ini sejak dulu, tapi, terima kasih,” ujarku sambil tersenyum kepadanya.

Tiba-tiba aku mengingat suatu hal yang penting di surat itu dan dengan penasaran aku bertanya, “Oh ya! Untung saja aku tidak lupa, di surat itu kamu bilang kamu mau memberitahukanku sesuatu, apa itu?”

Oh my Goodness. Not now Sheileen.

“A-aku ingin mengatakan sesuatu? S-sungguh?” tanya Jongin berpura-pura lupa janjinya pada Sheileen.

“Sungguh! Aku ingat dengan jelas itu adalah hal terakhir yang kamu ucapkan padaku di surat itu. Benarkah kamu sudah lupa?”

Mana mungkin aku lupa mengutarakan perasaanku ketika aku masih sangat menyukaimu Sheileen. “Ti—ya aku sepertinya lupa. Maaf deh ya, nanti akan kuberitahu ketika aku sudah mengingatnya kembali,” ucap Jongin sambil tersenyum, berharap ia bisa menutupi kebohongan yang ia buat ini.

Sheileen lalu menengokan kepalanya ke samping, masih berusaha melawan rasa penasarannya dan hal ini malah membuat sebuah debaran jantung di hati Jongin. Tiba-tiba pintu itu terbuka dengan kencang, disertai sebuah teriakan yang sungguh…lantang.

“SHEILEEEN honey babe are you okay??!” teriak Brenda seraya berlari mendekati tempat tidur Sheileen. Jongin yang berada di sebelah kasur itu pun dengan tidak rela harus menjauh dari sumber suara yang memekakan telinga itu.

Brenda pun dengan cepat memeluk sahabatnya itu, meraba-raba muka Sheileen dengan wajahnya yang was-was. Sungguh hal ini hanya bisa membuat Sheileen tertawa.

“Hahaha, I’m alright Brenda, I’m alright. Thank you for concern. Anw, how could you skip the lesson?” tanyaku sambil berusaha menenangkan Brenda.

“Uh me? It’s easy, like usual, I just told the teacher I have some ‘business’ to do in the toilet. Ms. Yue really knows what it means,” ujar Brenda singkat yang lalu menimbulkan gelak tawa dari Sheileen.

Jongin yang mendengarnya hanya bisa pura-pura tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ‘business’ itu, ia pun akhirnya hanya bisa berdeham dan melihat keluar jendela untuk memperhatikan burung-burung di dahan pohon. Entah mengapa, sekarang burung-burung itu menjadi lebih menarik daripada melihat kedua gadis ini mengobrol…

“Seriously this girl, never can get enough haha. Oh yeah, how do you know I’m here?” tanyaku sedikit penasaran.

Brenda lalu memutar kedua bola matanya dan akhirnya mengarahkan matanya ke arah Kai yang sedang menatap keluar jendela. Mata Sheileen membelalak, salah satu alisnya meninggi, tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud dengan Brenda.

“Oh my my. I meant look at this guy can be with you here now, why don’t you feel suspicious when he could be here longer than me?” bisik Brenda yang karena masih melihat raut wajahku yang kebingungan, lalu akhirnya menceritakan semuanya secara detail.

“Before the break ended, Mr. Yixing brought you here in his arm and some of the students saw it,” ucap Brenda yang menyadari perubahan raut mukaku menjadi senang karena fakta bahwa Mr. Yixing menggendongnya seperti putri tadi.

“Yes yes be happy girl and you know, when someone told me about that, I got up and wanted to rush over to the clinic as fast as possible. But when I noticed, Ms. Yue had already been in the class,” ucap Brenda berhenti sebentar dan sekilas menatap ke arah Kai yang masih berada dalam posisi yang sama.

“But it took a second for Kai to run to the clinic with his super worried face and left all the annoying bees in the class with sad faces,” ujar Brenda yang menyadari bahwa temannya yang super lemot ini masih tidak menyadari apa maksudnya tadi.

“Seriously Cha Sheileen!” kata Brenda frustasi dan sedikit meninggikan suaranya yang membuat Kai menengok ke arah mereka sekarang, tetapi Brenda akhirnya member kode bahwa tidak ada hal serius terjadi. Brenda pun sekarang berbicara dengan nada yang lebih lembut, “Cha Sheileen, I don’t why you haven’t noticed his feelings yet when he has done so many things guys rarely do to others girl rather than their special girl. Now, have you noticed it?” tanya Brenda yang akhirnya melihat perubahan mukaku menjadi merah sekarang.

Yes girl, he likes you. For me, when I looked at his worried face before, I could conclude he has fallen for you. Totally,” ujar Brenda kepadaku yang masih harus mencerna bagaimana menanggapi semua hal ini.

“B-but, we are j-just friends…” ucapku ragu-ragu dan tersipu malu.

No… You guys aren’t just that… and I actually feel jealous about it, Sheileen.

“Okay fine, but later on I bet you’ll notice that he thinks about you more than that,” ujar Brenda serius dan akhirnya ia memutuskan untuk menyimpan cinta sepihaknya dari Sheileen.

Walaupun ia sedang meratapi burung-burung yang ternyata tidak semenarik yang ia pikirkan, kedua telingannya masih bisa berfungsi dengan baik untuk mendengar semua obrolan yang membuat kupingnya panas itu. Bagaimana tidak, he’s busted.

Oh nonono, h-how could this girl say it freely that w-way? I’m so dead. How am I supposed to face Sheileen now?

Insting Brenda memang lihai, ia tahu sekarang kedua orang di ruangan ini sedang dipenuhi oleh aura-aura pink malu-malu yang astaga, terlalu bersinar. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari ruangan beraura pink ini sebelum hatinya tidak kuat menahan rasa kalah yang ia tahu, ia sudah rasakan sejak awal.

“Alright guys, I guess I’ll leave first. Get well soon my dearest babe and take care of Sheileen, Jongin, or you’ll be dead,” ucap Brenda sambil tersenyum manis, meninggalkan suasana awkward di ruangan itu sekali lagi.

 

–Brenda West’s POV—

Sudah kuduga, laki-laki itu hanya memperhatikan Sheileen. Lihat saja tatapannya yang begitu menyayangi Sheileen, sampai-sampai tidak ingin gadis itu terluka sedikitpun. Maksudku, ayolah, semua orang bisa melihat bahwa Kim Jongin telah jatuh cinta all over again with Cha Sheileen and only a dense girl like her that hasn’t noticed it, yet.

“Okay fine, but later on I bet you’ll notice that he thinks about you more than that,” ujarku yang sudah tidak tahan melihat pasangan bodoh di depanku ini dan bergegas keluar dari ruangan itu.

Ya benar, aku tidak sanggup melihat kelanjutan kedua sejoli ini. Bagaimana tidak, love at first sightku ternyata hanya akan berakhir dengan cinta sepihak. Hal ini pun ditambah dengan keadaan dimana aku menyukai pemuda yang disukai Sheileen juga, yah walaupun aku yakin perempuan itu belum menyadarinya.

Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke perpustakaan dan membenamkan diriku di tengah sunyinya siang hari itu. Kunyalakan iPod-ku and the title said it’s “Beautiful Stranger” – f(x)

 

It’s Just Another Story 사랑하게됐어 A-ha 한이방인

Yeah And It’s All About Me 어떻게나를이해시켜야할지

Uh 저멀리검은그림자널만난다면수천킬로나는달려가

Haha 가슴에총소리가 Bang 출발해널향한 Race Right Now

Beautiful Stranger 커다란두눈에빠져

온통신비로운감정그언어난맘을열어

Beautiful Stranger 사람들은말해 You’re Dangerous

내가바라보는너를그들은전혀보려하지않아 No

깊은침묵속에담겨진이야기다른모습또다른세상에서온너

긴손을뻗어날바라보면네가있는곳으로함께데려가줘

 

English Romanization

It’s just another story, I fell in love with a foreigner

Yeah and it’s all about me, how can I make you understand me?

That black shadow far away, if I can meet you, I will run thousands of kilometers

Haha the gun shot in my heart goes bang

Let’s go, there is a race right now toward you

 

Beautiful Stranger, I’ve fallen into your big eyes

To the mysterious feeling, the language, I open my heart

Beautiful stranger, people say that you’re dangerous

They don’t try to see the you that I see, no

 

The stories in the deep silences

You came from a different image, a different world

When you look at me as you extend your long hands

Take me to the place where you are

 

Seraya mendengarkan, aku juga membaca translated lyrics dari lagu ini. Yang benar saja Sheileen, ia seenaknya saja memasukkan lagu korea kesukaannya ke dalam iPodku -__-    Tanpa kusadari, sebuah rasa sakit menjalar ke dalam dadaku. Tidak, ini bukan asthma yang sering kurasakan dulu, aku yakin aku telah sembuh dari penyakit menyebalkan itu.

Kubenamkan wajahku lebih dalam kedua lenganku setelah kusadari apa yang sebenarnya terjadi.

 

I’ve fallen too deep for this beautiful stranger.

 

–End of Brenda West’s POV–

 

Ketika pintu klinik itu ditutup, tidak ada yang saling berpandangan satu sama lain di ruangan itu. Jongin pun memutuskan untuk menjelaskan maksud Brenda tadi, “Leen-ah, I m—“

Ssh! Aku yang akan bicara duluan,” ucapku sambil tetap menghindari kontak mata dengan Jongin. Jongin pun hanya bisa menuruti keinginan tuan putrinya itu.

“Jongin, kamu suka padaku?” ucapku frontal tanpa ragu, mengutuk lidahku yang begitu lihai melafalkan kata-kata ini.

–the end of chapter five–

TBC

**

-notes- annyeong haseyo EXOWpers! Author Cha Miho disini~ part ini kalo ada yang sadar, lebih banyak daripada sebelumnya, hahaha. Ini karena aku bakalan post sekitar 2 minggu lagi ^^; minggu depan aku udah UTS dan ada test masuk universitas, jadi gitu deh hehe. Maaf yaa… dan buat yang nonton SM TOWN hari Sabtu besok, hati-hati dan selamat bersenang-senang ya! Tadinya author mau nonton, tiket udah dapet, tapi ternyata mepet sama UTS ini jadi gajadi deh……..

Author minta foto-foto Jongin, ya! 😉 Kalo ada Sehun, Chen atau Chanyeol boleh-boleh aja~ hehehe. Gomawo~

———————————————————————————————————————————————————————

THANKS FOR READING  WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL  JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY CHA MIHO (@FAB_CINTA) NO PLAGIRISM.

If you’re interested of becoming our official author or freelance author, please see

https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

6 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Summer Story” – Part 5

  1. Cynthia September 20, 2012 at 6:44 AM Reply

    Waaaahhhh….
    jwb jujur ya kai..

    dtgu part selanjutx 😀

    • Cha Miho September 20, 2012 at 3:01 PM Reply

      Siaaap! Dua minggu lg ya 😉 gomawo udh setia baca terus chingu~ 😀

  2. hanjesi October 11, 2012 at 5:21 AM Reply

    Oh..kay..

    Wae wae brenda T,T
    We are in the same condition T,T
    Jessy love Luhan, but he didn’t notice me at all T,T
    And.. And kai loves me xD lolol

    *back to ur ff again*
    Really.. Brenda bagus banget tuh clear-in masalah, and don’t know why.. I’m affraid to open the next chapter.. I hope that Kai won’t be the one get dumped.

    Puhhlleasseee

    • Cha Miho October 13, 2012 at 2:02 PM Reply

      lol with the day dreaming…. Bilang aja mau sabet dua2nya, dasar serakah =w= *plak*

      fufufu silahkan dibaca yukksss :3 thanks ya udh straight reading my FF jes, lol. Daebak lah kamu.

      • hanjesi October 14, 2012 at 3:41 PM

        Ketahuan yaaaaahh? WAW!
        *kabur sambil tutup muka, eh balik lagi*

        IYA DONG AKU DEBAK :3

  3. Cha Miho October 16, 2012 at 1:45 PM Reply

    *facepalm* “I dont wanna live in this planet anymore.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: