EXOtic’s Fiction “Sacrifice” – Part 6

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Sacrifice”

 

Title : Sacrifice

Sub Title : 6th Story –

Main Cast :

  • Kai- Kim Jong In
  • Fellia

 

Length : 10 shot

Genre : Romance

Rating : PG-13

Summary :

 

I only give my whole life to one person.

Person who especially can make my heartbeat feels so real.

When i met her, World is joking around me.

Should i release you?

Can i really feel so alive when my eyes can not see you?

Can i really feel so alive when my ears can not hear you?

I learned one thing from love.

Sacrifice.

 

**

 

I was so afraid when i found out that this heart is taken by someone

I believe that i wont fall for someone

But its false, the truth i fell for him

But when i try to trust you

To love you

To see only you

This world is joking around me.

Can i really feel so alive when my eyes can not see you?

Can i really feel so alive when my ears can not hear you?

I learned one thing from love.

Sacrifice.

Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

**

 

A simple story between Kim Jong In & Fellia.

 

Author’s POV

 

Kai turun dari mobil diikuti Fellia kemudian, Kai hanya menunggu Fellia sebentar ketika gadis itu sibuk menata barang bawaannya. Tak lama setelah Fellia bisa menutup pintu mobil, Kai segera saja beranjak meninggalkannya.

Fellia hanya melihat Kai pasrah, ia tak tau salahnya dimana. Ia kan hanya bertanya tentang MAIDROBOTO, ia tidak bermaksud apa-apa dengan menanyai pria itu. Pria itu tidak harus marah kan?

Basement itu gelap dan pengap, dan sepertinya hanya mereka berdua saja yang ada disana. Kai masih terus berjalan meninggalkan Fellia dibelakang.

Gadis itu jarang menggerutu, hanya saja akhir-akhir ini ia mulai menggerutu akan sikap bossnya itu. Ia tau Kai adalah Bossnya, tapi bukannya pria itu sudah berjanji untuk menjaganya? Untuk membuat dirinya percaya pada Kai? Lalu bagaimana gadis itu bisa mempercayai Kai kalau pria itu menarik diri untuk menutup diri.

Fellia masih asyik mengdumel sampai ia tidak sadar bahwa ada sebuah mobil yang berjalan kearahnya. Untuk beberapa saat ia terdiam, tiba-tiba saja tubuhnya itu beku. Tubuhnya bergetar hebat, ia tau bahwa ia bisa melarikan diri dari mobil itu. Hanya saja ingatan itu membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali. Ingatan beberapa tahun yang lalu.

Ia sendiri tidak sadar kalau tungkainya sudah lemas dan ia hampir terjatuh, air matanya tiba-tiba saja mengalir deras.

 

“FELLIA! KEMARI!”

Suara itu tiba-tiba saja menyadarkan Fellia, gadis itu menoleh dan melihat Kai sedang berlari kearahnya. Tiba-tiba saja kakinya sudah mendapat tenaganya, dan ia segera berlari kearah Kai. Ia menubrukkan tubuhnya kedalam pelukan Kai sampai Kai tidak mampu menahan tubuh gadis itu sehingga mereka berdua sama-sama terjatuh kelantai keras itu.

Kai hanya meringis pelan, sesaat kemudian ia sudah mengangkat tangannya untuk mengelus rambut Fellia. Gadis itu masih menangis dalam pelukannya. Kai hanya bisa menenangkannya.

“Fellia.. Dengarkan aku.. Aku Kai, kamu jangan menangis. Jangan menangis. Aku ada disini..”

Gadis itu masih tidak mendengar, Kai mengela napas lalu kemudian ia mengangkat tubuh Fellia sedikit sehingga ia bisa melihat wajah gadis itu. Diusapnya air mata yang dilihat lalu kemudian ia mengecup kening Fellia pelan. Gadis itu perlahan membuka matnya yang awalnya terpejam erat. Dan wajahnya yang pucat berangsur berubah menjadi pink. Warna normal.

“Kamu sudah tidak apa-apa? Ada yang sakit?”

Gadis itu kembali menangis… Membuat Kai kembali panik, “Ada apa denganmu?”

“Tadi.. Aku memang menangis karena aku takut. Tapi sekarang aku menangis karena aku bingung akanmu!”

Kai tercengang mendengar gadis itu, taip ia hanya bisa diam. Kai mendorong Fellia berdiri, sehingga Fellia duduk diatas pahanya. Kai masih mendengarkan Fellia. Menunggu gadis itu bicara.

“Jangan mengabaikanku! Jangan! Aku benci itu! Aku mau Kai yang menyebalkan itu kembali. Aku.. Aku kesepian.. Aku tau kamu ada didepanku, tapi.. Aku seolah tidak melihatmu. Aku tidak merasakan kamu ada disini. Aku tidak mengerti..”

“Aku tidak mengerti. Kamu memintaku untuk mempercayaimu. Tapi bagaimana aku bisa mempercayaimu kalau kamu sendiri menutup dirimu. Kamu.. Kamu egois!”

Kai hanya mengelus wajah Fellia pelan, lalu tak lama kemudian ia menarik gadis itu kedalam pelukannya. Dan tersenyum serta mengambil napas lega.

“Aku.. Aku minta maaf.. Aku sunguh minta maaf.. Kamu.. Kamu juga harus berhati-hati. Bagaimana kalau tadi kamu tertabrak? Bagaimana kalau aku tidak bisa melihatmu lagi? Bagaimana aku bisa kehilanganmu nanti? Menegrti? Untuk sesaat aku bisa mati mendadak tadi. Aku sangat takut ketika kamu tiba-tiba menangis ditengah jalan tadi. Aku.. Aku sangat takut kehilanganmu..”

“Dan.. Maaf aku menutup diriku.. Aku akan menceritakanmu tentang hal itu, hanya saja sekarang aku sedang tidak siap. Maukah kamu menungguku?”

Fellia hanya menganguk dibalik punggung Kai, Kai bisa merasakan bahwa air mata gadis itu sudah mengering. Ia merapikan rambut gadis itu lalu kemudian mengajak gadis itu berdiri.

Kai mengibas-ngibaskan bajunya untuk menghilangkan debu, begitupun Fellia. Tak lama Kai beranjak untuk mengambil barang Fellia yang daritadi berserakan diatas lantai dengan cepat, lalu kemudian kembali berdiri didepan Fellia.

“Maafkan aku ya? Aku akan selalu menjagamu sekarang.. dan selamanya.. Percayalah..” ucap Kai pelan, ia tersenyum. Membuat Fellia mau tidak mau luluh dengan katanya, dan tak lama jantung Fellia berdetak semakin kencang karena Kai menggenggam tangannya. Menyisipkan jari-jari lentik Kai di sela-sela jari Fellia. Pas. Seolah menyatakan, bahwa tangannya.. dirinya.. Memang seperti dibuat dan tercipta hanya untuk Kai.

 

End of Author’s POV

**

 

Fellia’s POV

 

Aku naik keatas atap kantor sambil membawa 2 buah box set makanan. Aku tersenyum senang. Setelah kemarin kami berbaikan, Kai menjadi lebih terbuka. Ya walaupun tidak seterbuka sebelumnya. Pria itu masih menyembunyikan hal itu, aku tau ia akan memberitahukanku. Cepat atau lambat dia pasti memberitahukanku.

Tapi tiba-tiba saja langkahku terhenti, aku memegang erat penyangga tangga naik itu. Kai membuka dirinya, bukankah itu berarti aku juga harus membuka diriku? Aku benci akan perasaan itu! Sangat benci! Aku benci mengingat masa lalu karena aku hidup untuk masa depan. Aku benci mengingat kenangan buruk melebihi apapun. Aku seolah tidak ingin menceritakannya. Tapi aku tau kalau seandainya aku tidak bisa menutup diriku selamanya. Cepat lambat aku juga harus membuka diriku.

Menarik napas panjang. Kenapa itu merupakan kebiasaan manusia untuk menghilangkan pikiran buruk? Untuk melepaskan beban? Aku juga bingung akan teori itu, hanya saja aku juga merasakan. Ketika aku menarik napas panjang dan melepaskannya. Aku seolah merasakan satu bebanku diangkat lalu dibuang. Dadaku menjadi lebih nyaman dari sebelumnya.

Sudahlah. Mari kita lupakan. Biarkan saja let it flow..

Aku mulai berajalan lagi menaiki tangga itu, tak lama sebuah pintu besi terlihat. Aku mendorong pintu besi itu sehingga tak lama cahaya masuk melalui sela-sela diikuti angin Jepang yang semakin dingin. Aku mengeratkan mantel sesaat sebelum membuka pintu itu sepenuhnya, dan tak lama berjalan keluar menuju atap.

Diatap itu ada tempat Favorite aku dan Kai, ternyata disana kami menemukan sebuah rumah kaca yang sudah sedikit usang. Namun isinya masih baik-baik saja, dan ada penghangat disana.  Kami menemukan tempat itu kemarin. Tempat yang sangat nyaman untuk kami berdua.

Kalian pasti berpikir kenapa kami tidak memilih tempat yang lain bukan? Kami tidak ingin makan diruangan Kai, alasan keprofesionalan lah yang paling utama. Dan kalau kami makan di cafetaria, tentu saja banyak orang yang bsia melihat kami sehingga kami merasa tidak nyaman.

Atau kenapa tidak makan diluar? Jam makan siang di Jepang tidak selama di Indonesia ataupun di Perancis yang bisa sampai 2 jam. Kami hanya ingin terlihat tepat waktu agar bisa menjadi contoh karyawan lainnya. Seolah-olah kami ingin membaur supaya kami terlihat sama dengan mereka.

Kai adalah tipekal orang yang bebas dan tidak ingin terlalu dihormati. Para karyawan seperti dijadikan teman baginya, karena baginya jika ada perasaan atasan dan bawahan akan susah kalau ada masalah dan ingin bertukar pendapat. Kai lebih nyaman dihargai dan dianggap sebagai teman oleh mereka semua, tapi ia tetap ingat statusnya. Ia mengatur segala sesuatu, hanya saja Kai ikut memperlihatkannya dan melakukannya. Seolah semuanya makin mudah. Dan aku suka sikap dan pemikirannya seperti itu.

Menjadi kami tentulah bukan hal yang mudah, melihat umur kami yang masih terlihat seperti jagung. Banyak para petinggi perusahaan yang menentang ayah Kai untuk menyerahkan perusahaan ini padanya. Karena itulah Kai disini, ia akan membangun chemistry antara dirinya dan juga para karyawannya agar menjadi satu kesatuan yang kuat serta membuktikan bahwa dirinya bisa mengontrol, memerintah dengan baik.

Kai adalah tipekal yang selalu menyembunyikan kesedihannya dengan tersenyum, aku tau itu. Dan aku sungguh tau bagaimana perasaannya itu. Karena aku juga seperti itu, bedanya aku akan lebih memilih bungkam dan tidak memberikan ekspresi apapun.

Tapi semenjak bertemu dengan pria itu, ada yang berbeda. Aku menjadi lebih cepat marah, sedih, cemburu, kecewa, senang, bahagia. Aku seolah merasakan tombol ekspresi yang lama telah membeku didalam hatiku mencair perlahan. Apakah ini yang sering disebut dengan kekuatan cinta?

Memikirkannya saja sudah membuatku merasa ngeri. Tapi perasaan ini, bukannya aku benci. Aku malah merasa suka. Karena aku seperti merasa.. Lebih manusiawi dari sebelumnya..

 

Aku membuka pintu kaca itu dan tak lama angin dingin diluar digantikan oleh hawa hangat rumah kaca ini. Aku tersenyum ketika merasakan tubuhku bergetar merasakan kehangatan yang ada. Kenapa Jepang semakin dingin semakin hari? Tapi tubuhku lumayan bisa beradaptasi, pertama kali datang suhnya 2 derajat celcius saja aku sudah kedinginan, tapi lama-kelamaan suhu 5 derajat celcius seperti ini menjadi seperti biasa.

Aku meletakkan 2 box set makanan itu diatas meja kayu ditengah-tengah ruangan. Tak lama aku mengambil 2 buah termos dan tas yang aku bawa. Dan membuka yang salah satunya, teh susu terlihat disana. Aku menuangkannya sedikit kepenutup termos itu lalu menyeruputnya pelan.

“Kriettt…”

Aku baru saja hendak berbalik, tapi tubuhku tertahan sehingga tidak bisa tergerak. Tangan panjang itu masuk dan melingkari pinggangku dengan cepat, wajahnya diletakkan diatas bahuku lalu aku bisa mendengar dan merasakan deru napasnya. Aku tidak bsia bergerak sama sekali, hanya bisa menikmati suasana yang ada.

“Kamu curang.. Curi start duluan..” ucap Kai sambil memanyunkan bibirnya, aku hanya tertawa pelan sambil meletakkan tutup termos itu diatas meja. Tak lama aku segera saja melepas tangan Kai dari sekeliling perutku dan menariknya duduk disebelahku..

“Hari ini makan apa? Makanan Indoenesia lagi?”

Aku menggeleng pelan lalu kemudian mengambil 2 kotak set makanan itu, membukanya dan memberikan salah satu padanya. Tak lama ia membuka kotak itu dan kemudian menatapku takjub, “Kamu sendiri yang membuat makanan ini? Darimana kamu belajar?”

Aku membuka kotak set makananku sendiri dan melihat isi bekal itu, sekilas memang hanya seperti bekal biasa. Hanya saja ada onigiri, telur gulung, sosis gurita, khas makanan jepang. Hanya saja ditengah kotak itu ada sebuah telur hati dan tertuliskan nama kami masing-masing. Aku mengerjakan makanan itu subuh sekali agar Kai tidak tau. Aku tersenyum menyadari kebodohan apa saja yang aku lakukan pagi tadi.

“Kamu tidak melukai dirimu sendiri,kan?” tanyanya sambil meletakkan kotak bekal itu cepat dan mengambil tanganku. Tak lama aku melihatnya menghembuskan napas lega dan mengembalikan tanganku ditempat semula. Aku hanya bisa tersenyum singkat.

“Aku tidak sebodoh itu. Aku sudah terbiasa memasak dari kecil. Pisau itu tidak akan menyakitku. Lagipula, orang yang tidak sengaja mengiris tangannya itu bodoh sekali. Bagaimana mereka bisa tidak bisa melihat pisau itu akan mengiris tangan mereka?” ucapku tanpa henti, ia mengacak rambutku pelan. Membuatku bisa merasakan panas tiba-tiba disekitar leherku dan semburat muncul di pipiku.

“Kamu memang berbeda dari mereka semua. Thats why you so special to me..”

DEG!

Sial! Kenapa tiba-tiba tadi jantung berhenti berdetak. Seolah menulikan semua suara yang ada agar aku hanya bisa mendengar suaranya, seolah suaranya adalah sumber kehidupanku.

Aku tidak pernah percaya tentang kekuatan cinta dari kecil, hanya saja aku akhirnya mengaku. Cinta itu memang melebihi virus terdahsyat dan mematikan manapun. Mampu menulikan orang yang mendengar, membuat bisu seribu bahasa setiap orang yang berbicara, dan juga membutakan setiap manusia yang bisa melihat.

Aku sadar bahwa setiap sentuhannya pasti akan memberikan efek yang sangat berarti pada tubuhku, tidak hanya itu. Setiap perbuatan dan kata-katanya bahkan mampu membuatku berhenti berdetak.

Sensasi yang paling aku suka adalah ketika jantungku serasa berhenti dan tak lama berdetak sangat kencang serasa meledak. Perasaan itu benar-benar membuatku merasa bahwa aku memang manusia, aku punya jantung, aku bisa berdebar karena cinta. Pompaan darah itu membuat darah mengalir deras sekujur tubuhku, sehingga mendadak semua organ tubuhku kaku mendadak. Semuanya terasa baru bagiku. Dulu aku menganggap itu tidak normal, tapi aku tidak bisa berpikir seperti itu lagi. Karena aku sendiri merasakannya setiap aku mendekat padanya.

Dulu sebelum aku mengenal Kai, aku takut sekali merasakan perasaan ini. Tapi entah sejak kapan, aku menjadi mulai terbiasa akannya. Aku suka semuanya. Aku suka semuanya. Aku berharap bahwa perasaan ini akan selalu tetap ada. Aku rasa aku tidak akan sanggup jika harus kehilangan getaran ini. Apakah aku terlalu aneh?

“Aku.. Aku mau yang ada namamu..” ucap Kai membuatku tersadar dari lamunanku. Ternyata dari tadi aku bertopang dagu diatas meja, mataku tidak sanggup memalingkan mataku dari Kai. Kai yang menoleh melihatku, menyadari hal yang kulakukan. Ia hanya terkikik, membuatku segera saja salah tingkah.

“Apakah aku terlalu tampan sehingga kamu tidak mampu mengalihkan pemandanganmu dari aku?” ucapnya percaya diri membuatku semakin terdiam. Aku segera saja mengangkat box bekal yang ada dihadapan Kai dan tak lama ia mulai merengek sementara aku menutup box bekal itu, “Jangan… Aku kan belum makan..”

“Kalau kamu hanya ingin menggodaku, lebih baik aku memberikannya pada orang yang benar-benar kelaparan..” ucapku ketus sambil menyumpit makananku sendiri.

“Aku mau makan…” rengeknya sambil menarik-narik tanganku. Aku hanya mengalihkan pandanganku kearah lain, berusaha menahan tawa.

“Aish.. Dimana Fellia yang terpesona padaku tadi? Kenapa kembali menjadi Fellia yang cuek lagi? Ayolah.. Aku sangat kelaparan..”

Aku kembali membuka box makanannya, kembali meletakkan bekal itu dihadapannya. Tak lama tanganku beranjak membuka termos dan menuangkan sup miso kedalam sebuah mangkok, dan memberikannya pada Kai..

“Mau teh juga?” tanyaku, dan tak lama aku melihat angukan singkatnya. Ia melirik bekalku sebentar dan memelototkan matanya untuk melihatku, “KAMU!”

“Apa?”

“Kamu memakan hatimu…”

Aku terdiam beberapa saat sebelum tertawa keras, ia hanya memanyunkan mulutnya.

Wakarimasu, gomen (Aku mengerti, maaf)… Ini untukmu..” ucapku membuatnya tersenyum cerah lagi dan kemudian menukar box bekal itu. Ia melihat hati bertuliskan namaku dengan mata berbinar-binar. Membuatnya terlihat seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.

Ia mengambil sumpit yang kusediakan disamping dan meletakkannya disela jarinya, “Itadakimasu (Selamat Makan)..”

                Ia menunduk sebentar lalu segera saja menyumpit telur hatiku dengan cepat, ia menyuapkan telur itu cepar kedalam mulutnya disusul dengan onigiri.

“Bagaimana?”

Ia melihatku, tapi dalam beberapa detik ia diam. Membuat jutaan pertanyaan muncul dalam otakku. Apa itu enak? Apakah dia suka? Apakah sesuai seleranya? Apakah dia baik-baik saja makan makanan buatanku? Dia tidak punya elergi apapun dalam makanan yang aku masakkan kan?

Untuk beberapa saat otakku serasa meledak karena dihantui jutaan pertanyaan yang tiba-tiba muncul, aku tidak pernah begini sebelumnya. Dalam setiap olimpiade yang pernah aku ikuti, dalam menghadapi orang, saat marah, bingung atau apapun aku jarang seperti ini. Namun ntah kenapa aku jadi tiba-tiba blank, semua yang aku iginkan adalah setiap kata yang ia keluarkan dari mulutnya. Bahkan sesaat aku lupa bagaimana caranya bernapas.

Oishi (Enak).. Kamu pintar sekali memasak..”

Akhirnya aku menemukan kembali nafasku, pita suaraku pun kembali tersambung. Aku menghembuskan napas lega membuatnya terkikik beberapa saat.

“Kenapa? Apakah commentku begitu penting bagimu?”

“Tidak juga..” jawabku asal sambil meraih sumpit dan mengambil sosis gurita itu, hendak memakannya. Tapi tiba-tiba tanganku tertahan sehingga aku melihat Kai disamping, ia membuka mulutnya.

“Suapi aku..”

Aku menggeleng pelan lalu akhirnya menyuapinya sosisku perlahan kedalam mulutnya, ia menutup mulutnya kemudian mengunyahnya pelan.

“Ahhh.. Aku senang sekali, akhirnya aku makan dari tanganmu lagi. Pastikan kamu menjaga tanganmu, karena aku tidak mau makan dari tangan lain. Mengerti?”

“Segitu berharganya aku bagimu? Tanyaku refleks, ia meletakkan sumpit itu kembali dan meraih kedua tanganku.

Tiba-tiba saja jantungku kembali berdetak dengan kencang. Kai mengunci tanganku dengan 2 telapak tangannya yang membesar, ia menuntun tanganku untuk menyentuh dadanya. Terasa hangat, dan ntah mengapa nyaman. Ada suatu perasaan yang lega luar biasa ketika aku menyentuh dadanya, aku bersyukur karena bisa merasakan detak jantungnya. Detak jantung yang juga semakin cepat sepertiku. Menandakan ia sama sepertiku, ia manusia dan masih hidup bersamaku. Dan detak itu juga mengartikan bahwa ia juga merasakan hal yang sama denganku.

“Kamu dengar detak jantungku?”

Aku menganguk pelan, masih terus menatap matanya.

Ia tersenyum dan kemudian menutup matanya, “Kalau seandainya kamu ga ada, aku ngerasa buta, tidak bisa apa-apa, dan mungkin aku bakal ngerasain dimana jantungku aku ga bakal terasa berdetak lagi. Tapi kalau kamu ada disisi aku. Sekalipun aku menutup mataku, aku tau masa depanku cerah dan indah. Aku bisa tau kemana aku harus pergi, dan jika kamu ada aku tau caranya bernapas. Kalau ada kamu, aku akhirnya tau arti hidup ini.

 

End of Fellia’s POV

 

**

 

Kai’s POV

 

Aku bilang pada Fellia ingin pergi ke suatu tempat. Aku hanya memintanya untuk tinggal di kantor sementara aku pergi dengan supir. Awalnya ia bersikeras untuk ikut, hanya saja aku meyakinkan dirinya bahwa ini bukan hal yang penting sehingga aku  bisa pergi sendiri.

Aku menyuruh supir itu untuk berhenti didepan sebuah rumah yang lebih mirip rumah tua khas jepang disuatu perumahan elit. Satu-satunya rumah yang masih bergaya kuno dan terlihat sangat menyeramkan. Aku hanya mengeluarkan sebuah kunci dari kantong lalu kemudian beranjak keluar dari mobil itu. Aku berdiri mengamati rumah itu sebentar.

Rumah yang benar-benar membawa pengalaman yang buruk. Aku benci mengingat ini semua. Sangat benci. Aku berusaha melupakannya, dan itu ternyata aku cukup berhasil. Tapi jauh kedalam lubuk hatiku, ingatan itu masih membekas dengan kuatnya. Perasaan takut, kecewa dan berbagai perasaan yang lain menjadi satu dalam dadaku. Rasanya sesak luar biasa.

Aku memukul dadaku perlahan, seolah menyadarkan diriku bahwa ini hanyalah efek otakku yang terlalu berpikir keras. Aku melihat kunci itu sebentar, lalu tak lama memutuskan untuk masuk kedalam rumah itu.

Rumah itu tidak memiliki pagar. Seperti layaknya rumah Jepang.  Andaikan saja rumah ini masih dirawat dan ditinggali aku yakin rumah ini pasti akan menjadi rumah bersejarah dan berharga mahal kalau nanti dijual.

Aku memasukkan kunci itu kedalam lubang kunci pintu itu, tak lama aku menggeser pintu itu perlahan. Rumah itu terlihat agak reyot sehingga beberapa saat aku berpikir untuk berhati-hati ketika menanjakkan kakiku keatas lantai berkayu itu. Rumah itu sangat besar, tapi masih ingat dengan jelas rumah itu. Walaupun aku hanya tinggal 1 bulan disini. 1 bulan yang sangat menggenaskan bagiku.

Aku selalu tersenyum, hanya saja mereka tidak tau seberapa menderitanya aku. Aku hanya tidak ingin merepotkan dan membuat orang lain sedih. Cukup aku saja yang menderita pikirku. Aku ingin benar-benar melupakannya, hanya saja aku tidak bisa seutuhnya melupakan. Ketika gadis itu meminta aku menceritakan hal ini, aku butuh waktu untuk mengingat semuanya. Karena itu aku ada disini.

Ada sebuah tangga melingkar kearah ruang bawah tanah. Rumah ini beda dengan rumah lainnya yang baisanya lebih memilih rumah bertingkat. Bagi tradisi keluargaku dulu, lebih baik membuat basement. Semuanya akan lebih aman. Tapi itu dulu, sebelum peristiwa itu.

Aku sampai di lantai basement satu. Aku ingat kamarku ada dilantai basement dua sehingga aku terus mengitari tangga itu. Setelah sampai disana, aku berjalan lurus dan sampai dibagian pojokan ruangan. Tempat ini agak gelap sehingga aku mulai mencari staker untuk menyalakan lampu. Untung masih berfungsi.

Aku menggeser pelan pintu itu dan ketika terbuka, aku seolah bisa mendengar dengan jelas. Suara-suara menakutkan itu.

 

“Kai.. Do you want to be my friend, right?”

                “Sure..”

“See.. This is so cool, right? I made this in Indonesia..”

Hontou? Saikou! (Benarkah? Hebat!)”

                “But this is not perfect yet..”

                “Lets make together then..”

                “What should we do?”

                “I want to have my own butler, but in robot..” ucapku anak kecil itu.

 

Aku sangat yakin kalau itu adalah suaraku. Memori ini kembali terputar tanpa henti dalam otakku. Aku tidak mampu menghentikannya, sama sekali tidak mampu menghentikannya. Kepalaku merasakan pening luar biasa, suara itu terus berteriak dalam pikiranku.

 

“Then.. Lets make a MAIDROBOTO..”

“That’s good idea.. We’ll call it.. MAIDROBOTO…”

 

Aku terjatuh kelantai, seperti posisi merangkak kedua tanganku menopang badan. Perasaanku sesak luar biasa, perasaan kecewa itu lagi.

“Kenapa.. Kenapa kamu harus begitu padaku?”

End of Kai’s POV

 

**

 

Author’s POV

-FLASHBACK-

 

                Kai kecil turun dari mobil itu, menatap rumah itu dengan bingung. Bagaimana bisa ini adalah rumah neneknya? Bahkan ini tidak lebih besar dari lantai 1 rumahnya yang di Jakarta.

                Ia hanya diam sementara ibunya menarik Kai masuk kedalam rumah itu, tak lama setelah bel berbunyi. Seseorang membuka pintu itu dan terlihatlah pelayan menyambut Kai dan Ibunya sopan. Kai diajak masuk, begitu pun ibunya menyusul dibelakang.

                Hari itu Kai dan Ibunya diberikan liburan gratis oleh ayahnya pergi ke Jepang untuk mengunjungi nenek yang sudah lama mereka tidak datangi. Bahkan ini adalah pertama kalinya Kai kecil menemui neneknya itu. Awalnya ia sangat excited, ia tidak bisa mengungkapkan kata-kata.

                Ia selalu sebal ketika disekolah banyak temannya yang menceritakan tentang nenek dan kakeknya, karena selalu hanya dia yang tidak memiliki pengalaman apapun bersama mereka.

                Kakek yang pernah ditemui Kai adalah kakek yang dingin namun baik disaat yang bersamaan. Hanya dengan sebuah tatapan, semua yang ingin dikatakan kakek Kai itu dapat ia mengerti. Kai adalah anak yang patuh, terutama pada Kakeknya itu. Walaupun Kakek itu sering memarahinya melebihi kedua orangtuanya, ia tau bahwa pria tua yang rentan itu sangat menyayanginya. Kai diajar segala hal sesuatu, seolah ia memang dipersiapkan secara khusus untuk mendapatkan posisi kakeknya itu. Ia selalu diutamakan daripada saudaranya yang lain.

                Salah satu hal yang paling menarik perhatian Kai adalah robot. Ia suka sekali benda mati yang akhirnya bisa diprogam untuk bergerak itu. Karakter dan sikap Kai sebagaian besar sangat mirip seperti kakeknya sehingga pria tua itu suka mengunjunginya.

                Kadang pria tua yang rentan itu suka berbicara tentang Jepang membuat Kai penasaran, apalagi tentang neneknya itu. Nenek yang hanya bisa dikursi roda dan tidak suka keluar rumah. Tapi Kai penasaran dengan makanan yang katanya dibilang paling enak oleh kakeknya.

                Kakeknya mengajarkan Kai untuk memberikan cintanya hanya pada satu orang, siapapun itu. Jika kamu berdetak untuk gadis itu, yakinkan detakkan itu hanya untuk gadis itu selamanya. Kenapa? Agar kalian menjadi satu selamanya, seperti kesaksian dari kakek dan neneknya itu.

                Mungkin itulah salah satu alasan kenapa Kai memegang teguh pesan kakeknya itu. Kakek yang rela memberikan dirinya untuk menyelamatkan dirinya.

               

                Kai mengamati rumah itu perlahan, isinya tidak seburuk bayangan Kai. Rumah itu justru memiliki interior yang sangat indah dan bersih. Interior perpaduan modern serta tradisional itu membuat rumah itu memiliki karya seni yang sangat indah.

                Ibu Kai dan juga Kai masih mengikuti wanita itu, tak lama mereka sampai didepan sebuah pintu. Kai kecil kaget karena lagi-lagi ia melihat gadis itu membuka pintu itu dengan cara menggesernya. Ia sama sekali tidak terbiasa dengan budaya baru itu.

                Ia tidak berbicara apapun, ia hanya terus mengekor sampai ia masuk dan melihat seorang wanita tua. Ia sangat cantik jika diukur dari usianya, hawa ruangan itu menjadi hangat dan tenang. Kai benar-benar bisa merasakan aura itu dari tubuh neneknya itu.

                Seorang pria berdiri disebelah kursi roda itu, tersenyum sambil memegang bahu anak pria kecil lainnya disisi kesebelah kiri membuat Kai mengira-ngira siapa anak yang sebayanya itu.

                “Kai.. Is it you?” tanya wanita tua itu sambil melihat Kai. Kai hanya menganguk. Satu poin untuknya, ia sudah mengusai pelajaran bahasa Inggris dan Indonesia di usia semuda ini.

                “Come here..”

                Kai hanya mengikuti perintah, ibunya mendorong Kai pelan agar semakin cepat. Walaupun sedikit bingung, akhirnya kaki Kai menanjak tepat didepan wanita muda itu. Sekejap saja ia merasakan hawa nyaman ketika wanita tua itu beranjak memeluknya.

               

                “I really want to meet you.. Since you born in this world.. Gomen ne (Maaf ya?) ? Obaasan (Nenek) can meet you that day. And you must wait for a long time because this stupid feet..”

                “No.. Thats okay.. As long as i can see you.. I really want to meet you, grandmother..” balas Kai tidak sadar, ia benar-benar merasakan lega luar biasa ketika ia bisa memeluk dan melihat neneknya pertama kali. Rasa sesak akibat tidak pernah merasakan punya nenek hilang begitu saja.

               

                “Well this is time to rest.. Yuu, can you lead Kai to his room?”

                “Of course grandma..”

 

**

 

                Mulai hari itu, anak kecil itu menjadi teman baik Kai. Mereka berdua terlihat akrab walaupun terkadang terhalang bahasa yang agak berbeda. Tapi mereka dapat menguasainya dengan baik. Dan inilah untuk pertama kalinya Kai merasakan perasaan punya teman.

                Dari kecil, ia didik untuk tidak mempercayai siapapun selain keluarga. Mereka dilarang keras untuk mengkhianati satu sama lain. Tapi setiap dari keluarga Worldmine diwajibkan untuk memiliki satu bawahan yang bisa dipercayai. Orang yang mengerti dirinya dengan baik. Semenjak bertemu Yuu, keluarga Worldmine sudah menetapkan bahwa Yuu lah yang akan melayani Kai. Seperti pekerjaan turun temurun keluarga mereka untuk mengabdi pada keluarga Worldmine.

                Kai menceritakan segala kekurangan, kelebihan. Berteman dengan baik, bercerita dan membuka dirinya, dan berusaha saling mempercayai. Begitupun Yuu. Kai tidak pernah menganggap Yuu sebagai bawahannya, apalagi usia mereka masih sangatlah muda. Kai menganggap Yuu adalah sahabat terbaik yang akan dipertahankannya seumur hidup.

 

                “Kai, It is done, right?” tanya Yuu bingung ketika ia selesai memasang bahan terakhir dari project mereka. Ia menatap Kai dengan ragu, tapi temannya itu tidak menjawab sama sekali.

               

                Robot ditahun itu belum seterkenal sekarang, baru hanya beberapa orang yang berhasil membuat robot. Dan kebanyakan robot yang dibuat adalah robot yang masih kaku seperti untuk menjaga rumah atau semacamnya. Tapi Kai dan Yuu ingin membuat sesuatu yang berbeda.

                Dari kecil keduanya merasa kesepian karena tidak memiliki orang yang selalu mengurus mereka karena orangtua mereka lebih sibuk melebihi apapun. Mereka ingin sebuah benda yang bisa memahami mereka tapi juga bisa mengurus mereka. Bukan seperti butler keluarga yang diperintah untuk mengekang mereka. Karena itu mereka ingin sesuatu yang berbeda. Maid robot dengan perasaan. MAIDROBOTO.

 

“Wait.. There’s something missing..” ucap Kai perlahan dan tak lama ia pergi untuk mengambil sesuatu. Ternyata sebuah sekrup kecil dan segera dipasangnya pada suatu bagian. Fatal sekali jika kekurangan benda itu sekalipun, bisa saja benda itu rusak karena ada sesuatu yang kurang atau mungkin tidak dapat bergerak.

“Yup! Thats done!” ucap Kai dengan bangga sambil menatap Yuu dengan mata berbinar-binar..

“Lets try it!”

Yuu membuka bagian input robot itu, Kai dibelakangnya menyusul memencet beberapa tombol. Dan tak lama kemudian mereka mundur beberapa saat.

Robot itu berputar, mengeluarkan sensor ultrasonik untuk mendeteksi dimana ada orang diruangan itu. Setelah dipastikan, robot itu berputar kearah Kai dan Yuu. Kaki besinya berjalan perlahan menuju kedepan mereka berdua dan tak lama menunduk, “Moshi-moshi. Watashi no namae wa MAIDROBOTO First Version. I’ll treat you and understand you. Let’s be friend… (Hello. My name MAIDROBOTO Versi pertama. Aku akan menjaga dan mengerti akanmu. Mari berteman..)

 

Kai dan Yuu saling berpandangan, tak lama selingan senyum itu menghiasi mereka berdua. Mereka menepukkan tangan mereka sendiri lalu saling bertepukan, salaman dan kemudian tak lama menubrukkan badan mereka satu sama lain.

“WE DID IT!”

                Kai tertawa, sudah lama salam itu jadi tanda keberhasilan mereka. Kai tidak pernah merasakan bahagia yang lebih dari ini. Bahagianya memiliki seorang teman seperti ini.

                Hanya saja, terlalu dini baginya untuk mengetahui dunia ini. Masih ada jutaan hal yang belum ia rasakan. Rasa pahit, kecewa, sakit. Ia masih belum terlalu siap saat itu padahal bencana sudah berada didekatnya.

 

End of Author’s POV

END OF FLASHBACK

**

 

Kai’s POV

 

“WE DID IT!”

 

Suara itu masih terngiang jelas, snagat jelas. Aku masih memiliki kesadaranku 100% walaupun kepalaku menusuk hingga aku akhirnya terjatuh.

“PERGI!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Aku ingin sekali menghentikan otakku yang tiba-tiba dapatmengingat segalanya dengan cepat. Akan lebih baik jika memori yang kuingat sampai disitu! Aku tidak ingin mengingat apapun lagi! Aku tidak ingin mengingat apapun lagi!! TIDAK!!!!

“PERGI!!! Onegai (Kumohon..)…”

Aku terengah-engah, aku tidak bisa menarik napasku seperti biasa. Mengingat masa lalu ini membuatku kehilangan banyak energy. Leherku terasa tercekik sehingga aku tidak bisa bernapas dengan baik. Memori buruk itu sungguh ingin membunuhku perlahan! Sial!

Air mata yang daritadi kusadari sudah mengalir tetap kubiarkan mengalir, perasaan sakit ini sungguh menyiksaku tak karuan.

Masuk kedalam rumah ini memang seperti membuka kotak pandora. Kotak yang dibuat sengaja untuk menyiksa siapapun yang membukanya.

Aku bersusah payah untuk berdiri, berusaha menstabilkan nafasku. Dengan langkah lemas aku berjalan keluar rumah itu. Aku meregangkan seluruh badanku membiarkan angin menerpaku keras setelah mengunci pintu itu.

Kai.. Itu adalah masa lalu. Kamu tidak hidup untuk masa lalu. Lupakan lah! Lupakan lah!

Aku menggeleng pelan, menyangkal perkataanku sendiri. Aku memang hidup untuk masa depan, tapi aku juga memiliki masa lalu yang tidak bisa dengan mudah aku lupakan. Dihidup ini, tidak ada satu orangpun yang seutuhnya hidup hanya untuk masa depan.

Satu-satunya jalan untuk lepas dari penderitaan masa lalu itu hanya satu, menceritakan segala semua yang aku pendam ini. Aku tau aku akan bebas. Tapi dengan menceritakan hal itu, sama sengaja mengingat semua. Aku bahkan ragu apakah diriku mampu mengingat segala pengalaman buruk itu?

 

End of Kai’s POV

 

**          

Fellia’s POV

 

Aku mondar-mandir tidak tenang ketika melihat jam. Sekarang sudah pukul 7 malam dan pria itu tidak kunjung datang. Ada apa dengannya? Dia pergi kemana?

Aku sudah memiliki perasaan yang buruk sejak ia berkata ingin pergi kesuatu tempat. Aku ingin mengikuti kemana ia pergi, tapi ia melarangku keras untuk ikut.

Tadi aku ingin terus menunggunya pulang dikantor, tapi tiba-tiba saja aku menerima pesan kalau dia akan pulang terlambat dan memintaku untuk pulang duluan.

Aku tidak bisa apa-apa selain menunggunya. Aku bahkan tidak mengganti bajuku sejak tadi. Hanya menunggu di Balkon, tidak peduli seberapa dinginnya cuaca saat ini. Aku menyadari kaki dan tanganku mulai terasa kaku, nafasku mulai terasa berat. Tapi aku tidak peduli, aku tidak ingin peduli.

“Kai.. Kamu kemana?” ucapku hampir terisak. Kakiku akhirnya memutuskan untuk berbalik masuk kekamar. Tapi tiba-tiba suara pintu kamarku terbuka, dan aku melihat sosok yang aku rindukan itu datang. Ia terlihat sangat berantakan. Aku berjalan menghampirinya, melemparkan pelukanku kedalam tubuhnya. Menguatkan ikatan kedua tanganku didepan perutnya. Air mataku yang daritadi kutahan tumpah begitu saja.

Aku tidak merasakan pria itu membalasku, ia hanya terdiam. Tubuhnya terasa sangat dingin, aku bingung kemana saja ia pergi. Tapi tak lama kemudian, tangannya mulai menyisip diantara pinggangku dan juga punggungku. Lama-kelamaan menjadi semakin kuat dan erat. Aku bisa merasakan sesak luar biasa, tapi aku tidak peduli. Ini bukan apa-apa dibandingkan harus kehilangan dia.

“Kai…”

Ia tidak menjawab. Tiba-tiba aku mendengar suara itu. Ada apa dengannya? Isakkannya pelan, namun cukup keras untuk dapat kudengar. Aku menoleh kaget melihatnya, pundakku perlahan basah karena air matanya. Hal ini membuatku takut lama-kelamaan. Ada apa denganmu?

“Kai, ada apa?”

 

Aku mengelus pundaknya perlahan sambil berusaha menenangkannya, tapi ia sama sekali tidak tenang. Justru lama kelamaan isakkannya itu berubah menjadi teriakkan frustasi.

“Kamu baik-baik saja?”

“TIDAK!”

Aku terperanjat kaget tapi sama sekali tidak daoat berkata apapun. Ini pertama kalinya aku mendengar suara itu, suara frustasi dicampur perasaan buruk lainnya dari mulut Kai. Kai pasti sangat menderita sekarang.

“Ada apa?”

“AKU TAKUT!”

Takut? Apa yang harus kamu takuti?

“Kamu takut apa?”

“Jangan tinggalkan aku.. Aku tidak bisa sendirian saat ini..”

 

End of Fellia’s POV

 

**

 

Kai’s POV

 

“Jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa sendirian saat ini..”

Hanya itu saja yang dapat kuucapkan. Aku tidak bisa menceritakan seberapa takutnya aku, seberapa kecewanya aku, seberapa sakitnya aku. Kata-kata itu rasanya tertahan begitu saja ketika sampai ditenggorokanku.

Menjijikan! Apakah ini aku? Menangis? Apa aku ini pria? Menangis didepan seorang wanita seperti ini? Menjijikan!

“Aku ga akan meninggalkanmu. Menangislah selagi kamu ingin. Aku akan mendukungmu. Kamu manusia Kai, jangan tahan perasaanmu. Aku.. Akan selalu ada disisimu..”

Aku mengeratkan pelukanku semakin dekat. Aku kembali hancur. Peristiwa itu benar-benar membuatku ketakutan setengah mati. Kenapa? Kenapa aku harus kembali ingat?

“Ceritakanlah padaku kalau itu bisa membuatmu tenang..”

“Aku takut..”

Ia masih diam, menungguku kembali bicara..

“Aku kecewa.. Dan aku juga sakit..”

Aku merasakan tepukkan tangan Fellia dipunggungku perlahan membuatku tenang, hanya saja jika aku menutup mata kenangan itu kembali berputar..

“Aku tidak bisa mempercayai siapapun semenjak itu..”

Ia terlonjak kaget, aku bsia merasakan dari sentakkan ringannya. Tapi ia tidak berkata apapun..

“Kejadian itu membuat aku kecewa..”

“Lalu kenapa kamu percaya padaku?” tanya Fellia polos

“Aku ingin menepati janji Kakekku. Aku berjanji bahwa aku akan mempercayai dan mencintai satu orang wanita. Dan orang kupilih itu hanya kamu. Hanya kamu. Aku memberikan semua kepercayaanku hanya pada satu orang..”

Fellia menarik dirinya dan kemudian melihatku dengan intens, tangannya yang lembut terangkat untuk mengusap air mataku yang masih tersisa dan belum kering. Semburat merah itu muncul diantara kedua pipinya, dan bibirnya mengukir senyum yang sangat indah.

Arigato (Terima kasih)..”

Aku akhirnya bisa merasakan nafas bisa mengalir dengan leganya lewat tenggorokanku. Aku bersyukur bisa memiliki wanita sepertinya. Yang bisa mendukungku saat aku seperti ini. Lemah dan menjijikan.

“Jangan anggap dirimu menjijikan..”

Aku melongo melihatnya, “Bagaimana kamu bisa..”

“Tau pikiranmu? Gampang. Aku melihatnya dari raut wajahmu..” ucapnya ringan sambil mengacak-ngacak rambutku.. Tapi tak lama ia masuk kembali dalam pelukanku dan mengunci pinggangku dengan eratnya.

“Kamu bisa cerita kalau kamu mau.. Aku tidak akan memaksa.. Aku percaya padamu.. Apapun yang terjadi, aku percaya padamu..”

DEG!DEG!

Wanita ini mengatakan bahwa dia..

“Aku percaya padamu..” ulang Fellia sekali lagi.

Ini adalah hadiah terindah yang ada. Gadis ini akhirnya mempercayaiku. Adakah yang lebih membahagiakan dari ini?

Aku mengecup ramburnya sebentar, bau ramburnya terasa nyaman sekali.

“Aku.. Berikan waktu untuk mempersiapkannya.. Aku.. Aku selalu takut mengingatnya kembali..” ucapku tertahan.

Ia menarik kepalanya dari rengkuhan tanganku dan melihatku tanpa melepas pelukan kami, aku kaku sesaat setelah ia mengecup bibirku singkat. Seolah ia berpikir bahwa hal itu akan menenagkanku. Dan sialnya itu malah membuat detak jantungku tidak teratur.

“Sial kau! Bukan menenangkanku kamu hanya akan membuatku semakin tidak tenang!” umpatku cepat setelah ia kembali memelukku..

“Tidak suka?” tanyanya.

Aku bukannya tidak suka. Malahan aku sangat suka. Ya Tuhan, tolong berikan aku kekuatan..

“Aku akan menunggu..”

Aku tersenyum sesaat setelah mendengar gadis itu, tapi tak lama aku kembali menutup mataku. Dan mimpi buruk itu kembali menghantuiku.

“Itu.. Adalah kejadian yang sudah sangat lama sekali.. Itu adalah pengalaman pertama terburukku di Jepang… Semua itu bermula saat…”

 

End of Kai’s POV

 

**

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

 

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

 

Advertisements

Tagged: , ,

One thought on “EXOtic’s Fiction “Sacrifice” – Part 6

  1. Cynthia September 17, 2012 at 6:35 AM Reply

    Wahhh.. tambah penasaran nih knp sm maidrobotonya?? Kn berhasil dbwt..
    Dtgu part selanjutnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: