EXOtic’s Fiction “Pulchritude” – Part 6

EXOtic’s Fiction

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“PULCHRITUDE”

Title : Pulchritude

Part : 6

Author: Shin Heera

Cast:

  • Kim Jongin (EXO)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Park Chanyeol (EXO)
  • Park Chonsa (YOU)

Minor Cast:

  • EXO Member

Ket:

  • Kai at History era
  • Oh Sehun at 22nd teaser
  • Park Chanyeol at History era
  • Baekhyun at History era
  • Kim Kyungsoo at History era
  • Suho at High Cut era

 

Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

……………………………………………………

Ps:

  • * > masih hari yg sama
  • ** > keesokannya
  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!!

……………………………………………………

Review chapter 5

Kedua mata bulatnya menyipit melihat Sera. Ini aneh. Bagaimana bisa? Kim Sera? Berteman dengan Park Chonsa? Sesama anak swc? Mana mungkin. Tidak pernah terjadi semenjak bertahun-tahun kebelakang itu.

Apa kejadian itu akan terulang kembali?

………………………………………………….

 

CHAPTER 6

 

“Chonsa.. apa boleh aku mengunjungi dormmu kapan-kapan?” tanya Sera penuh harap sambil tetap mengeluarkan senyuman termanisnya.

“Tentu saja! Bagaimana kalau pulang sekolah nanti? Aku tunggu pukul tujuh malam!” jawab Chonsa lalu masuk ke dalam dormnya untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah.

Chonsa berharap hari ini akan menyenangkan. Tidak ada kejadian yang membuatnya tersiksa. Lagi.

 

*

 

“Kau masih mengharapkannya?” tanya Dio tiba-tiba. Dengan cepat kai memasukkan ponselnya dan berdeham kecil.

“Tidak berlatih vocal?” tanya Kai mencoba mengalihkan pembicaraan.

Dio tertawa kecil dan duduk di samping Kai. Ya, seperti biasa. Tidak akan sulit mencari namja ini. Pasti di dalam studio satu atau dimanapun tempat yang tidak didatangi banyak murid saat istirahat.

“Aku melihatnya. Kau sedang memandangi foto yeoja itu. Apa kau masih mengharapkannya?” tanya Dio lagi. Keadaan terasa semakin serius.

“Siapa maksudmu?”

Dio tertawa pelan. “Aku sahabatmu, Buddy..” ucap Dio sambil menepuk pundak Kai bersahabat.

“Aku hanya melihat-lihat.”

“Sudahlah, aku tahu kau masih menyukai Shin Heera. Ya~ ada apa denganmu? Kau menyukainya dan mengapa kau hanya diam saja? Lakukan sesuatu, Men!” saran Dio sambil mendelik ke arah Kai yang tengah menunduk sambil memainkan deker biru tuanya yang melingkar di pergelangan tangan.

“Tidak ada harapan. Dia cinta mati pada Oh Sehun, kau tahu.”

Dio mengangguk pelan beberapa kali. “Ya, Heera selalu mendekatinya bahkan sebelum dia menjadi artis besar. Tapi yang aku tahu, Sehun tidak mempunyai perasaan apapun pada Heera.”

“Aku akan melupakan semua itu. Kau tidak usah menduga-duga lagi aku masih menyukainya,” ujar Kai sambil mendengus kecil disertai senyuman pahit.

“Kim Soona sangat menarik menurutku. Dia yeoja populer, berbakat dan dia mengejarmu. Aku kira kau akan menjadi kekasihnya setelah kau memilihnya sebagai partner saat itu,” jelas Dio lalu terkekeh. Dia memang hobi menggoda Kai seperti ini.

“Apalagi itu. Lupakan, Dio, lupakan!” sergah Kai sambil menepuk paha Dio cukup keras.

“Atau Kim Sera! Dia cantik dan mempunyai mata yang sangat indah! Aku yakin kau menyukainya!”

“Tutup mulutmu, Do Kyungsoo..”

“Kai, ayolaaaah. Aku belum pernah melihatmu tertawa semenjak kejadian itu.”

“Kejadian dimana aku ditolak mentah-mentah oleh Shin Heera di depan semua murid SIAS dan yeoja itu menghampiri Oh Sehun? Lalu?”

Dio menghela napas sambil menahan tawa. “Tidak perlu diperjelas seperti itu, Kai..”

“Benar-benar memalukan. Mengapa percaya diriku tinggi sekali saat itu?”

Dio terkekeh dan seketika mendapat dorongan di bahu kirinya ketika kekehan berubah menjadi ledakan tawa. “Kau tahu jika kau memperjelas kejadian itu, aku akan tertawa tidak henti seperti ini. Hahaha!”

Hening. Kai tidak menggubris kata-kata Dio yang benar-benar membuatnya kesal. Kini matanya tertuju pada satu sosok yang akhir-akhir ini membuatnya tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.

Yeoja itu tengah jalan berdampingan dengan seorang namja yang sangat dikenalnya secara emosional. Oh Sehun.

Dirinya tahu mereka memang sering terlihat bersama akhir-akhir ini dan dia biasa saja malah sempat bersyukur karena akhirnya Sehun bisa sedikit menjauh dari Heera. Tapi sepertinya Kai tidak merasakan itu lagi. Kini perasaan yang muncul adalah… terganggu? Untuk apa? Dirinya juga tidak mengerti.

“Park Chonsa? Sebaiknya jangan. Dia terlalu sempurna untukmu, Kai. Hahaha!” canda Dio yang langsung mendapat pukulan kecil di bahu kirinya.

“Ayo berlatih sebelum kelas dimulai..”

“Hahaha, tapi aku masih belum dapat menghentikan tawaku, Kai!”

“Haish..”

 

*

 

Waktu istirahat tiba dan dengan akrabnya kini Chonsa melangkah keluar kelas berdampingan dengan Kim Sera.

Berita ini menyebar cepat dari pagi hari ketika mereka berdua terlihat bersama di dorm. Benar-benar mengejutkan, bukan? Ya, dua murid swc berteman. Amajinggg!

“Bagaimana kalau kita bersantai di taman saja?” saran Sera dengan semangat.

“Baiklah! Kajja!” jawab Chonsa tidak kalah semangat. Ya, dirinya mulai menikmati hari tanpa Chanyeol.

Setelah mereka menemukan tempat duduk selonjoran yang nyaman, teduh dan sejuk, Sera tetap berdiri dan membiarkan Chonsa berselonjoran di sana.

“Mengapa kau tidak ikut duduk bersamaku?” tanya Chonsa sambil tersenyum dan memainkan kedua kakinya layak anak TK.

“Bagaimana kalau aku membeli minuman untuk kita berdua? Apa yang ingin kau minum?” Sera tersenyum manis pada Chonsa.

“Banana milk!”

“Joa. Tunggu di sini..”

Chonsa mengangguk lalu menutup matanya, menarik udara yang segar. Lalu membuangnya dengan perlahan. Terus seperti itu berulang-ulang.

Tiba-tiba dia terperanjat ketika merasakan sepasang tangan menutupi mata tertutupnya.

“Nugu?” tanya Chonsa sambil meraba jemari yang menutup matanya. Tunggu.. bau ini.. bau coklat. Okay, bibirnya tersenyum karena dia yakin siapa orang ini.

“Chanyeol oppa..” ucapnya datar.

“HAHAHAHAHAHAHAHA!! Daebak! Mengapa kau bisa tahu ini aku?” tanya Chanyeol lalu duduk di samping Chonsa dengan nyaman.

“Kau memakai parfume coklat dan aku tahu! Haha.” Chonsa  menatap Chanyeol dengan tatapan aku-tahu-segalanya.

“Ya, kau benar. Sampai membuat bidadari lupa diri..” tambah Chanyeol dengan senyuman kebanggaannya.

“Tapi mengapa aku tidak lupa diri?” tanya Chonsa yang membuat Chanyeol gemas lalu mencubit pipi kanan Chonsa cukup keras.

“Ya~!”

“Kau pikir kau seorang bidadari? Haha!” tanya Chanyeol yang sudah mendapatkan kegiatan rutinnya kembali. Dia tidak suka melihat Sera bersama dengan Chonsa.

“Tentu saja!” sanggah Chonsa sambil tertawa lepas dan mengibaskan rambutnya.

“Kau sama sekali tidak menyerupai bidadari menurutku. Sangat jauh!” komentar Chanyeol yang seketika mendapat tatapan ‘mengapa’ dari Chonsa.

“Aku akan selalu berdoa semoga mata hatimu terbuka, Oppa..”

Chanyeol tertawa kecil lalu berbicara di dalam hati, ‘kau bukan bidadari, Park Chonsa. Kau adalah malaikat bersayap untukku..’

 

*

 

Sera membawa dua gelas banana milk menuju taman. Dia harap rencananya berhasil kali ini.

Tapi tiba-tiba harapannya punah sudah  ketika menemukan sosok Chanyeol tengah berada di samping yeoja itu sambil bercanda tawa sangat menyenangkan dan dirinya benar-benar cemburu.

Dengan, jujur saja, hati yang rapuh dan tidak kuat melihat itu semua, Sera berusaha menyembunyikannya lalu menghampiri mereka berdua.

“Chonsa..” ucap Sera. Dengan cepat Chonsa bangkit dan mengambil satu gelas banana milk dari tangan kanan Sera.

“Gomawo~ Berapa harganya?” tanya Chonsa sambil meminum banana milk lewat sedotan dan merogoh saku blazer.

“Tidak usah. Biarkan aku mentraktirmu kali ini..” ucap Sera sambil tersenyum. Tapi intonasi dan senyumannya benar-benar berbeda karena Chanyeol berada di hadapannya kali ini, menatapnya tajam.

“Park Chonsa, aku tunggu pukul dua di luar kelas. Kita bicarakan lagu yang akan kau buat untuk kelompokku. Kai dan Sehun ikut bergabung membicarakan ini. Arasso?” tanya Chanyeol sambil bangkit dan tersenyum pada Chonsa.

“Ara..” jawab Chonsa sambil tersenyum manis.

“Ah, berikan aku sedikit saja..” pinta Chanyeol dan langsung menghisap banana milk milik Chonsa tanpa ijin. “Aku kehausan.”

“Aku tahu. Kau memang selalu terlihat mengkhawatirkan, Oppa. Haha!”

“Aigoo~,” gumam Chanyeol sambil mengacak rambut Chonsa pelan. “Aku harus berlatih vocal dengan Bacon sekarang. Annyeong!”

“Annyeong, Oppa!” balas Chonsa lalu melirik ke arah Sera yang sedari tadi hanya diam di sampingnya. “Sera, apa kau tidak mengenalnya? Bukankah sesama murid populer akan saling mengenal?” tanya Chonsa lalu terkekeh di akhir.

Sera tersenyum kecil. “Aku mengenalnya.”

“Tapi mengapa kalian tidak saling menyapa?” tanya Chonsa lagi.

“Apa aku harus menceritakan semua padamu?”

Chonsa mengangguk dengan semangat.

“Baiklah. Ayo kita duduk!”

Setelah mereka menemukan posisi yang nyaman, Sera menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan. Okay, rencana awal untuk menumpahkan banana milk gagal. Kini dia mencoba menjalankan rencana kedua yang benar-benar akan memanjang.

“Park Chanyeol.. Aku lebih sering memanggilnya seperti itu tanpa Oppa,” ucap Sera membuka cerita.

Chonsa mengerutkan keningnya. “Tapi dia lebih tua dari kita..”

Sera tertawa kecil sambil merapikan poninya. “Dia.. mantan kekasihku.”

“ AIGOOOOO!!! Waaaw! Kalian benar-benar cocok menurutku!!” seru Chonsa setelah meminum banana milknya susah payah. Terkejut? Ya. “Tapi.. mengapa seperti ini? Hubungan kalian sudah berakhir?”

“Ya. Aku yang mengakhiri hubungan. Kau tahu apa alasanku ingin berakhir dengannya?”

“Apa?”

“Karena dia mencuri laguku..” ujar Sera sambil menatap Chonsa dengan serius. “Sebenarnya aku ingin mengatakan ini padamu lama sekali. Tapi baru kali ini aku mempunyai kesempatan untuk mengatakannya.”

Chonsa terdiam. Pikirannya menerawang. Hatinya bertanya-tanya. Apa benar? Chanyeol oppa. Namja yang selama ini membuatnya ceria setiap hari. Dia mencuri lagu Kim Sera?

“Dia mencuri lagumu? Untuk apa?”

“Aku yakin kau tahu benar dia mempunyai hobi  menulis lagu dan menjualnya pada murid-murid SIAS.”

Chonsa kembali mengingat-ngingat. Ya, dia pernah mendengar bahwa Kai mencarinya untuk lagu baru.

“Chonsa, kau tahu membuat lagu itu tidak semudah menjentikkan jari. Aku hanya mengingatkan saja, hati-hati. Jangan terlalu dekat dengan Park Chanyeol..”

“Hm..” Chonsa mengangguk.

Chonsa masih tetap tidak percaya. Tapi bagaimana bisa perkataan Sera terlihat begitu meyakinkan?

“Tapi apa kau tahu?” Sera kembali melanjutkan. “Aku masih mencintainya..”

“Ah?”

“Dan kumohon, kau jangan terlalu dekat dengannya, Park Chonsa. Itu membuatku sakit..”

 

*

 

Pelajaran hari ini telah usai. Chonsa dapat melihat sosok Chanyeol yang sudah menunggunya di luar kelas. Entah mengapa dirinya merasa sedikit kecewa setelah mendengar cerita Sera.

“Park Chonsa! Aku duluan. Hati-hati dengan lagumu. Annyeong!”

“Ya, aku tunggu di dormku pukul tujuh!”

“Ya!”

Setelah semua murid keluar dari kelas, Chonsa merapikan alat tulis dan semua peralatan dengan baik. Terutama kertas not lagunya.

“Park Chonsa!” panggil Chanyeol sambil berjalan menghampiri Chonsa. “Kai dan Sehun sudah menunggu di ruang composser. Kau tahu? Kita kelompok pertama yang sudah mendapatkan song writer. Haha..”

“Kajja..”

Chonsa berjalan melewati Chanyeol dan meninggalkan kelas lebih dulu menuju ruang composser. Dirinya benar-benar terpengaruhi kata-kata Sera. Chanyeol si pencuri lagu dan Sera masih mencintainya. Dia tidak ingin menyakiti hati Sera jika yeoja itu tidak sengaja melihatnya tengah berbincang dengan Chanyeol berduaan.

“Oh Sehun!! Kai!!” sapa Chonsa dengan riang setelah membuka ruangan ini dan mendapati mereka.

“Chonsa.. Bagaimana harimu?” tanya Sehun. Kai yang mendengarnya hanya mendengus. Pertanyaan macam apa itu?

“Indah seperti biasanya,” jawab Chonsa sambil tersenyum lebar lalu mengeluarkan kertas yang tertulis rentetan not lagu Libertango.

Chanyeol datang dan duduk di samping Kai. Ya, terdapat dua kursi sofa berukuran medium saling berhadapan di sana. Sementara ruang rekaman dan composser berada di dalam ruangan khusus lainnya.

“Ini dia.. aku sudah mengolahnya di dorm dan lagunya akan menjadi seperti ini..” Lalu Chonsa mengeluarkan iPodnya untuk memutar lagu ciptaannya.

Musik mulai terdengar. Sehun tersenyum karena dia tahu benar. Ya, ketika dia diminta memainkan lagu ini oleh Chonsa. Benar-benar berkesan.

“Chonsa, apa kau tahu? Ini benar-benar keren!” puji Chanyeol. “Perpaduan musik jazz dan klasik! Waaww.. kau benar-benar hebat! Aku sudah dapat poin rap di sana,” lanjutnya dengan antusias. Chonsa hanya tersenyum kecil.

“Bagaimana menurutmu, Kai? Apa kau menyukainya? Atau aku harus merubah beberapa part? Bagian chorus atau di mana?” tanya Chonsa sambil tersenyum manis ke arah Kai.

“Begini saja,” jawab Kai singkat dan sepertinya terlihat tidak peduli bagaiamanapun jenis lagu ini.

“Hahaha, baiklah. Dan kau, Sehun?”

“Aku sudah menyukainya sejak awal. Tidak ada masalah..” jawab Sehun sambil tersenyum ala pangerannya dan selalu berhasil membuat Chonsa berdebar.

“Bagaimana kalau kita langsung mengolahnya? Kajja..” ajak Chonsa lalu masuk ke dalam ruang pengolahan musik dimana banyak sekali tombol-tombol yang tidak dimengerti. Tapi dirinya sudah belajar lama sekali dan sudah paham sebenarnya.

“Daebak..” gumam Chanyeol sambil melihat isi ruangan ini.

“Seperti ini caranya..”

 

*

 

(Park Chonsa POV)

 

Akhirnya lagu Libertango sukses dibuat. Ya, itu termasuk nilai tambah untukku. Aku sangat senang membantu mereka.

“Chonsa, kau ingin memesan sesuatu?” tanya Sehun. Penampilannya selalu terlihat sempurna bahkan hanya dengan warna putih saja seperti kali ini. Hah, aku memang tipe yeoja yang sangat mudah jatuh cinta.

“Tentu saja. Strawberry coffe, please,” jawabku sambil tersenyum manis. Dua orang di depanku hanya melihat percakapan ringan kami berdua.

Ya, kini kami berada di coffee break, tempat dimana banyak sekali murid SIAS datang hanya untuk bersantai dan menikmati kopi berbagai macam rasa yang sangat lezat.

“Kau ingin satu?” tawar Chanyeol sambil mengulurkan sebungkus coklat batangan padaku.

“Tidak, terimakasih, Oppa..” ucapku tanpa melihat ke arahnya. “Kai, jenis lagu apa yang kau suka untuk menari?” tanyaku yang sepertinya terlihat sangat ingin tahu. (kepo ._.)

“Apa penting bagimu untuk mengetahuinya?”

“Tentu saja! Aku akan membuatkannya satu untukmu jika kau mau,” kataku lalu tertawa kecil. Kai selalu terlihat menghibur dengan ekspresi dan sifatnya yang seperti itu.

“Tidak perlu, terimakasih..”

“Kai! Jangan bodoh. Kau akan menyesal menolak tawaran tanpa bayaran. Haha!” ucap Chanyeol oppa. Lihat.. benar. Sepertinya aku harus lebih berhati-hati.

“Here..” Sehun datang dengan membawa empat gelas kopi dan memberikan pesananku dengan istimewa sementara untuk Chanyeol oppa dan Kai, mereka harus membawa kopinya sendiri di atas nampan haha.

“Terimakasih, Sehun-ah..”

“Free. Aku mentraktir kalian..” ucap Sehun. “Bagaimana? Apa kopi rasa strawberry itu enak?” tanya Sehun ketika aku menghisap ice coffee ini.

“Tentu saja! Kau ingin mencobanya? Ini..” Aku mengulurkan gelas kopiku dan membiarkan Sehun mencobanya. Hah, dia sangat tampan.

“Yaaa~ Sehun! Seharusnya kau tidak meminum itu lewat sedotan. Membuatku kesal saja..” ujar Chanyeol oppa dengan candaannya seperti biasa. Kai hanya tersenyum disertai dengusan kecil. Terlihat menyeramkan dan arogan.

“Memangnya kenapa? Chonsa saja tidak masalah, bukan begitu?” Sehun melirikku sejurus. Aku tersenyum.

“Apapun, Sehun. Tidak masalah untukku. Haha!”

“Ya~ Kim Soona..” ucap Chanyeol oppa mengecilkan volumenya. Aku memutar kepalaku ke arah belakang. Ya, dia datang.

“Ternyata kalian di sini. Hai!” sapa Soona yang sama sekali tidak melirikku. Dia  berbeda jauh dengan Sera.

“Kim Soona, bagaimana kabarmu?” tanya Sehun yang memang selalu sopan pada semua orang. Aku menyukai sifatnya.

“Baik, Oh Sehun. Chanyeol oppa! Kau terlihat semakin simple sekarang..” komentarnya sambil menepuk pundak Chanyeol oppa. Aku hanya memperhatikan mereka saja.

“Seperti ini lebih ringan kurasa..” ujar Chanyeol oppa lalu meminum kopinya.

“Kai..”

“Hm?”

“Ah, sepertinya kau tidak suka aku datang ke sini..”

“Kalau kau sudah tahu mengapa kau tidak pergi?” tanya Kai yang jujur saja membuatku terkejut. Sebenci apa Kai pada Kim Soona? “Park Chonsa..”

“Ah?!”

“Aku benar-benar tertarik. Buatkan aku lagu terbaikmu, hm?” pinta Kai dengan senyuman. Dengan SENYUMANNYA!! INI PERTAMA KALI!! Bukan senyuman arogan atau apapun itu. Ini terlihat sangat tulus..

Tuhan, apa yang terjadi dengannya? Ya, aku tahu dia hanya mengalihkan pembicaraan. Tapi apa yang terjadi denganku? Jantungku berdetak lebih cepat.

“Park Chonsa? Bukankah kau menawarkan dengan cuma-cuma padaku?”

“Ah, ya.. Aku akan membuatkannya. Tunggu beberapa hari saja..” jawabku sedikit terbata. Ini benar-benar menyiksa.

“Kau sama sekali tidak tertarik dengan laguku, hm?” tanya Soona lirih. Air matanya sudah terlihat menggenang.

“Pergi. Kau hanya mengganggu saja.”

“Tidak.”

“Kalau begitu aku saja yang pergi. Aku pulang, kawan..”

Kai bangkit dari kursinya dan melangkah cepat menuju asrama. Soona mengejarnya. Mataku melihat kedua sosok itu dengan serius. Kim Soona. Aku kasihan padamu. Kai memang jahat sepertinya. Tapi hanya padamu kukira. Dan padaku juga.

Suasana semakin tidak menentu.

“Mungkin sebaiknya kita juga harus pulang. Sudah pukul enam sore.” Sehun tersenyum padaku dan aku membalasnya.

“Chonsa, aku akan mengantarmu..” tawar Chanyeol oppa dengan senyumannya yang selalu membuatku terhibur. Tapi entah mengapa sekarang terasa berbeda.

“Tidak, terimakasih, Oppa..” jawabku lalu bangkit dan merapikan blazerku.

“Bagaimana kalau aku saja yang mengantarmu?” tawar Sehun yang sudah berdiri di sampingku. Aku menengadah untuk melihat wajah tampannya.

“Baiklah..”

“MWO?! Park Chonsa! Mengapa kau lebih memilih Sehun untuk mengatarmu pulang?”

“Oppa, sepertinya malam ini kau tidak bisa mengunjungi dormku. Kim Sera bersamaku malam ini. Annyeong..”

Maafkan aku, Chanyeol oppa.

 

*

 

Sehun benar-benar merasa sangat bahagia hari ini. Dengan Park Chonsa di sampingnya, itu membuat dirinya lebih baik dan melupakan semua masalah yang selalu mengganggunya. Bahkan dengan adanya Chonsa, dia dapat dengan bebas menggapai mimpinya.

“Apa kau tahu danau SIAS akan terlihat sangat indah jika malam hari? Lampu-lampu di sana sangat menarik dan romantis. Kau ingin ikut denganku sekarang?” tawar Sehun sangat berharap Chonsa menyetujuinya.

“Tentu saja!”

Sehun membuang napas lega dan melangkah lebih cepat menuju danau dengan Chonsa di sampingnya. Pertama kali dia mengajak seorang yeoja saat matahari terbenam.

Setelah mereka sampai di danau, Sehun melirik ke arah Chonsa yang tengah tersenyum manis melihat pemandangan indah. Apalagi matahari tengah terbenam. Ini benar-benar romantis.

Mereka duduk di salah satu bangku di sana dan menikmati udara sore yang segar meskipun terasa sangat dingin.

“Kau menyukainya?” tanya Sehun dengan suara rendah dan membuat Chonsa sedikit berdebar.

“Tentu saja. Ini benar-benar indah.” Chonsa melirik Sehun dan kembali menatap matahari terbenam yang sedikit lagi benar-benar akan menghilang. “Sehun-ah, bagaimana kalau kita berpindah tempat? Sepertinya ini lebih baik.”

“Tidak masalah. Aku bisa membawa biola. Memangnya kenapa? Apa ruang tutor tidak memberikanmu banyak inspirasi lagi?”

“Ya.. sepertinya..” jawab Chonsa lalu membuang napas panjang. “Sehun, kau bisa memainkan berbagai jenis alat musik. Mengapa kau tidak bersekolah di sekolah musik saja?”

“Ah itu.. Mom. Dia melarangku,” jawab Sehun sambil menatap Chonsa. “Dia tidak ingin aku seperti Dad. Berkutat dengan alat musik dan melupakan keluarganya,” jelas Sehun dengan tawa kecil di akhir.

Chonsa mengangguk perlahan. “Tapi tidak semua orang seperti ayahmu, bukan? Aku mengerti bagaimana perasaan ibumu.”

“Ya..”

“Apa ibumu seorang penari?”

“Kau tahu?”

Chonsa terkesiap. “Aku hanya menebak saja.”

“Ya. Ibuku penari ballet dan berteman baik dengan ibunya Kai.” Sehun menopangkan kaki kanannya di atas kaki kiri.

“Siapa nama ibumu?”

“Oh Anna.”

Chonsa terdiam. Ya, dia mengenal ibunya. Mengenal Oh Anna dengan baik.

“Lalu nama ibu Kai?”

“Kim Yora.”

Chonsa kembali mengangguk. Dugaannya benar. Dia mengenal keduanya sangat dekat. Tapi itu sudah lama sekali.

“Kau mengenal ibuku?”

“Aku hanya mengetahui mereka saja,” jawab Chonsa sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya.

“Haaah, kajja. Matahari sudah tenggelam. Aku tidak ingin kau kedinginan dan jatuh sakit.”

Mereka berdua tidak menyadari ada beberapa orang yang mengawasinya.

 

**

 

Kini Chonsa dan Sera tengah berjalan bersama di koridor sekolah. Sepertinya hubungan mereka terlihat lebih dekat saja. Apalagi tadi malam Sera berada di dalam dorm Chonsa sampai pukul sepuluh malam. Ya, mereka berbincang dengan topik apapun.

“Park Chonsa!” panggil seseorang dari arah belakang. Chonsa dan Sera berbalik.

“Chanyeol oppa.”

“Kau ingin ke kantin bersamaku? Sepertinya sudah banyak yang akan tampil menunjukkan bakat di sana. Kajja!” ajak Chanyeol yang tidak juga menyerah. Dia ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi sampa-sampai dirinya merasa Chonsa menjauhinya seperti ini.

“Aku bersama Sera. Kau bisa mengajak yang lain. Oppa, annyeong!”

Chonsa kembali meninggalkan Chanyeol dengan Sera. Di dalam hatinya, dia benar-benar takut Sera terluka. Mengapa Chanyeol oppa hanya mengajakku saja?

“Kau tidak marah padaku, bukan?” tanya Chonsa hati-hati.

“Aku hanya kesal padanya, Chonsa.”

“Ya, aku mengerti.”

Lalu mereka duduk di taman SIAS setelah membeli minuman segar. Tidak lama Sehun datang dan duduk di samping Chonsa.

“Hello!” sapa Sehun yang terdengar lebih santai. Chonsa tersenyum dan menepuk lengan Sehun.

“Apa jadwal hari ini?” tanya Chonsa.

“Kelas rap dan setelah ini dance,” jawab Sehun lalu melirik ke arah Sera. “Oh, hai Sera! Sepertinya kalian terlihat sangat dekat. Ini benar-benar sebuah kemajuan.”

Chonsa hanya tersenyum dan mengangguk beberapa kali. Dia setuju dengan apa yang Sehun katakan.

“Ah, aku harus ke toilet. Tunggu aku di sini, Chonsa. Aku segera kembali.”

“Ne..”

Chonsa melihat Sera yang meninggalkannya semakin jauh. Kini dirinya melirik ke arah Sehun yang duduk di sebelah kanannya dan mulai  berbincang banyak hal.

Tidak terasa beberapa belas menit terlewat dan Sera belum juga kembali. Kini sosok Shin Heera yang datang dan memberikan senyuman terindahnya. Chonsa sempat terpesona karena Heera terlihat lebih cantik dari dekat.

“Oh Sehun! Temani aku ke cafetaria!” pinta Heera dengan manja sambil melingkarkan lengannya di lengan Sehun.

Sehun yang merasa tidak enak pada Chonsa, hanya berusaha berbicara sesopan mungkin pada Heera.

“Heera, apa kau tidak lihat aku sedang berbincang dengan seseorang?” tanya Sehun sambil menunjuk Chonsa dengan matanya.

“Siapa dia?” tanya Heera yang tidak juga melepaskan lengan Sehun.

“Dia Park Chonsa.” Sehun tersenyum penuh arti ke arah Chonsa.

Chonsa bangkit dari tempat duduknya dan membungkuk ke arah Heera dengan sopan. “Park Chonsa imnida. Bangapseumnida!” seru Chonsa sambil tersneyum manis.

“Oh. Kau murid baru swc itu?” yakin Heera sambil mengerutkan kening.

“Ne..”

Heera melirik ke arah Sehun yang tengah menatap Chonsa. Dia mendengus sebal. “Oh Sehun!”

“Shin Heera!”

Tiga orang itu menoleh bersamaan ke asal suara.

“Suho oppa, sudah kukatakan aku mencari Oh Sehun!” kata Heera yang benar-benar telihat sifat manjanya di sini.

“Tapi managermu memberitahuku kalau kau mempunyai agenda satu jam lagi. Jangan bertindak seenaknya, anak kecil!” ucap Suho.

“Ah, Hyung..”

“Sehun-ah..”

Mereka berdua saling menyapa. Tapi Suho kembali menatap Heera dengan kesal.

“Oppa, aku merindukan Sehun. Hanya beberapa menit saja. Ara? Annyeong! Sehun-ah, kajja!”

Sehun menoleh ke arah Chonsa dengan tatapan bersalah. Tapi Chonsa hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.

Suho tidak peduli lagi dengan Heera. Kini matanya hanya menatap sesosok gadis berambut merah panjang bergelombang, memakai baby doll merah muda dengan senyumannya yang indah.

“Hai..” sapa Suho pada Chonsa yang langsung dibalas dengan bungkukkan.

“Ah, annyeong haseo..” balas Chonsa dengan ceria. Seperti biasanya. Selalu meninggalkan kesan manis di awal pertemuan.

“Aku Suho, anak sulung pemilik sekolah ini..” ucap Suho sambil tersenyum dan itu sangat tampan. Jangan sampai Chonsa menyukainya juga. Dia sudah jatuh di hati tiga pria.

“Park Chonsa..”

“Divisi?”

“Song writer and composser.”

Suho terdiam sejenak tapi dengan cepat tersenyum lebar. “Oh, akhirnya aku bertemu denganmu, Park Chonsa!”

“Hahaha akhir-akhir ini memang banyak sekali orang yang ingin bertemu denganku,” canda Chonsa yang disambut baik oleh Suho.

Mereka berbincang di taman seperti itu. Ya, keduanya lebih menikmati dengan posisi berdiri.

Tiba-tiba mata tajam Chonsa menemukan sosok Sera yang sepertinya sedikit ragu dan mencoba untuk pergi.

“Kim Sera! Kemari!”

Sera tidak dapat berbuat apa-apa. Chonsa sudah mengetahui keberadaannya. Akhirnya dia melangkah menghampiri mereka sampai benar-benar berada di antara mereka.

Suho tersenyum dingin dan membuka mulutnya untuk mengeluarkan kata-kata. “Kim Sera, sudah lama..”

 

**

TBC

**

 

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @dearaflames NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

 

Advertisements

Tagged: , ,

One thought on “EXOtic’s Fiction “Pulchritude” – Part 6

  1. Cynthia September 16, 2012 at 5:09 PM Reply

    ihhh sera jahat bgt sih!!!
    Semoga nt suho atau siapa gt crita sesungguhx ke chonsa..
    Dtgu part selanjutx 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: