EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 5

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Nimic”

 

 

*Title : Nimic.

*Sub Title : The Fifth – Is this our farewell?

*Main Cast :

  • Luhan
  • Han Soon-Na
  • Kim Je-Si
  • Kim Jong In

 

*Length : Series

*Genre : Romance, Friendship

*Rating : PG-13

*P.S : This is a story before Luhan joined EXO. In this story, Luhan melewati masa SMA-nya di Korea. Sebelum akhir-nya ke China dan kembali lagi Korea. Tulisan miring tidak berwarna adalah masa lalu. Please download “The Name I Loved – Onew” before reading this fanfiction ^^ And hope you’ll enjoy this 25 pages ^^

*Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

Summary :

No one care about me except you.

We grew up together.

Cry together.

Laugh together.

I just want be like this forever.

Until I realized that we cant be like this forever.

Cause I believe, slow but sure.

I’ll be Nimic for you.

Nothing.

**

We grew up together.

Having you in my side.

Protect you.

Loving you without answer.

That’s all like I wanna do until the rest of my life.

But I realized that I am, Nimic for you.

Nothing.

**

Three of us met by fate.

Three of us are best friend.

But actually, I realized that I’m Nimic for you two.

May be im just passing by person in your memories.

I just make everything more complicated.

I should not be born in this world.

Nothing.

**

I’m just a little kid in your eyes.

Since we met, I always love you.

I try to wait till fate give me that chance.

And finally came.

Im your fiancé.

And wont care what will happen.

Since you’ve still held our promise.

I will always wait.

But its annoying when I look you cry and laugh for someone else.

Its make me feel that I’m Nimic.

Nothing.

**

“Aku yang memintamu bertahan kali ini, Jong-in-a. Aku ingin tunanganku bertahan disisiku. Merebut hatiku kembali.”

Kim Jong-in mengambil jarak beberapa centimeter dari tubuh gadis itu. Dan kemudian tersenyum, tapi lebih terlihat seperti seringai. “Aku.. Aku bisa kok berpura-pura tidak tau.”

Je-si mengerjap-ngerjapkan matanya tidak mengerti dan masih menunggu pria itu kembali membuka mulutnya.

“Kamu menjadikanku pelarian, kan? Ada apa dengan pria itu?”

“Maksudmu?”

Kim Jong-in menghembuskan napas berat lalu mengelus rambut gadis itu, “Aku tidak akan memaksamu, noona. Kalau memang perasaanmu seperti itu, kamu bisa membatalkan perjanjian diantara kita secepatnya.”

Je-si terenyak mendengar perkataan pria itu. Nafas-nya tiba-tiba saja terasa sangat berat dan tercekat. Mata pria itu menangkap matanya, membuatnya tidak bisa berpaling. Air matanya ingin sekali keluar tapi tidak bisa. Ia masih menunggu ditengah-tengah rasa bersalah yang membunuh.

“Kamu bisa menganggap aku adik lagi. Terserah. Kamu tidak perlu memikirkan perasaanku. Bukankah kamu selalu begitu? Bertahun-tahun.”

Pria itu menahan perasaan-nya mati-mati-an. Ia tau bahwa tubuhnya tidak kuat menahan amarah, apalagi lelah menghantui-nya. Tapi perasaan tertahan ini membuat-nya sakit.

“Selama ini mungkin aku memang terlihat seperti anak kecil yang sister complex pada wanita yang sebenarnya adalah tunangannya. Aku benci ketika semua orang menganggap-ku seperti itu. Aku bertekad untuk membuatmu berpaling padamu. Tapi apa aku mampu?”

Jong-in berdeham sesaat seolah menyadarkan dirinya sendiri supaya tidak terlarut dalam kesakit hati-nya sendiri, “Dulu mungkin aku berhasil merebut-mu dari Su-ji Hyeong. Tapi waktu itu kamu tidak menyukainya. Aku tidak peduli sekalipun aku hanya menjadi tameng-mu untuk membuatnya menjauh. Tapi kali ini, ketika kamu sendiri yang jatuh cinta. Aku tidak percaya diri lagi.”

“Sekalipun kamu memintaku bertahan. Memintaku untuk merebut hatimu. Sekalipun hatiku ingin. Tapi aku tidak mampu, noona-ya. Aku tidak ingin lagi berada disisi wanita yang berpura-pura.” lanjut-nya dengan suara sepelan mungkin.

Jong-in melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, “Kamu alasanku ada disini. Kalau bukan kamu, aku tidak akan mau bersusah payah di entertainment ini. Berusaha menjadi seorang dancer terkenal.”

Je-si beranjak untuk mengejar pria itu, tapi kemudian terhenti ketika pria itu berbalik dan menemukan tatapan tajam pria itu yang entah mengapa terasa lembut disaat bersamaan. “Pastikan kamu memutuskan. Hanya kali ini aku akan membiarkanmu lepas dari predikat nyonya Kim. Karena setelah kamu menjawab nantinya, tidak akan ada lagi perubahan. Aku menunggumu sampai hari kelulusanmu.”

**

Je-si meringkuk didalam selimutnya. Berusaha menenangkan dirinya sendiri akibat dinginnya udara malam yang bercampur dengan badai hujan yang menerpa jendela apartement-nya.

Ia sendiri tidak menyadari kalau matanya dari tadi mengeluarkan air mata bening yang jatuh ke atas kasur, membasahi-nya perlahan. Ia tenang, tidak sesengukkan. Ia hanya menangis dalam diam, tidak mampu mengendalikan perasaannya sendiri.

Ia berani bersumpah kalau seandainya ia menyayanyi Jong-in setulus hati. Tapi ia sendiri bingung kenapa tidak bisa mengatakan perasaan itu adalah cinta. Ia tidak pernah kehilangan pria itu. Pria yang seringkali marah dan mengeluh padanya, tapi justru itu yang membuatnya tidak merasa kesepian.

Ia ingin berada disisi pria itu sekarang. Benar-benar ingin. Sekarang, hanya sekat dinding cukup tebal yang memisahkan tempat tinggal mereka, tapi gadis itu tidak berani mendekat padanya. Ia tau kalau pria itu sedang sangat marah padanya.

Ia memang salah. Sangat salah. Ia mengatakan janji yang begitu konyol, menyaksikan sendiri pria itu menderita karenanya, tapi malah diam dan juga melanggar janji yang ia sendiri perbuat.

Kalau seandainya waktu bisa diputar. Kalau seandainya ia sendiri bisa mengatur perasaannya. Kalau seandainya ia bisa lebih mencintai pria itu dan bukan Luhan, ia tidak mungkin akan merasa semenyakit ini.

Sewaktu ia melihat Luhan bersama Soon-na, ia akan merasakan sakit yang begitu dalam sehingga akan menangis tersedu-sedu. Tapi ketika pria itu melepaskannya, ia seperti akan merasa mati.

Pria itu memberikannya kebebasan untuk melepaskan jabatan Nyonya Kim, jabatan yang ia benci selama ini. Tapi ketika tiba-tiba begini, ia merasa tidak rela. Sekujur tubuhnya bereaksi tidak menerima. Ia tidak mau dilepas begitu saja.

Tapi kemudian perasaan lain merasuk didalam hatinya. Apakah ia hanya merasa terbiasa dengan pria itu? Perasaan ketergantungan yang tidak bisa dihilangkan karena pria itu begitu manja padanya dan juga begitu sebaliknya? Lalu jika iya, apakah ia tidak begitu jahat? Apakah ia belum cukup menyakiti pria itu? Memintanya bertahan pada kesengsaraan yang begitu sakit. Memintanya untuk terus mencintai tanpa dibalas. Memintanya untuk berdiri dan berjuang sendiri sementara hatinya bahkan tidak melirik sedikitpun padanya? Ya. Ia memang kejam. Tapi ia tetap tidak rela mengakuinya. Ia menganggap pria itu sendiri yang rela berada disisi-nya. Rela disakiti. Rela menunggu.

Ketika suara petir menyambar, Je-si mencengkram selimut itu kuat-kuat. Untuk menahan teriakkan, ia menggigit bibirnya sendiri sampai tidak sadar kalau cairan merah berasa seperti besi itu keluar dibibirnya. Ia tidak pernah suka hujan badai seperti ini.

Dulu, disaat-saat seperti ini biasanya Jong-in akan datang ke Apartement-nya. Membawakan susu strawberry kesukaannya. Masuk kedalam selimutnya, memeluk pinggangnya erat lalu mengelus rambut gadis itu sampai tenang. Pria itu memberikan keamanan dan juga kehangatan padanya. Saat-saat dimana Je-si menganggap pria itu bukan anak kecil, melainkan pria dewasa.

Je-si tidak bisa mengatur napas-nya dengan baik, ia merasa sesak napas luar biasa. Dengan lemah ia bangun dan kaki-nya meraba-raba lantai mencari sandal yang biasanya ia gunakan lalu pelan-pelan berjalan ke arah pintu. Kakinya menyeret gadis itu menuju dapur, tangannya memaksa gadis itu untuk membuka kulkas lalu mengambil susu kotak berasa strawberry lalu meletakkannya diatas counter. Tatapannya kosong menatap kedepan, seolah tidak berniat untuk meminum sedikitpun.

Setelah mengangkat kotak susu itu, Je-si mulai menuangkannya kedalam gelas sampai gelas itu penuh-bahkan kepenuhan sehingga tumpah-. Tapi gadis itu bahkan belum menyadari sampai isinya itu menyentuh tangannya yang lain. Susu itu dingin, membuat sekujur tubuhnya merinding.

Je-si linglung dan tanpa sadar menyenggol gelas itu sampai seluruh isi-nya tumpah diatas counter dan mengotori baju yang ia gunakan. Ia menangis keras kemudian. Tubuhnya lemas sehingga ia jatuh ke atas lantai.

“Aku.. Tidak bisa hidup tanpa Jong-in. Andwe..”

Sekejap gadis itu berdiri, tidak mempedulikan tubuhnya yang kotor dan wajahnya yang tak beraturan. Bahkan ia tidak peduli kalau jarum jam sudah  menunjukkan angka 2 pagi. Pintu apartementnya terbuka lalu dengan cepat menggedor pintu apartement disebelah kanannya dengan sangat keras. Ia mengutuk dirinya mati-mati-an karena tidak pernah bertanya password apartement pria itu sehingga membuatnya harus menunggu didepan pintu apartement seperti ini.

“Jong-in-a! Jong-in-a! Buka pintunya!”

Je-si terus menggedor sekalipun tidak ada sedikitpun respon dari dalam sana. Ia tidak mempedulikan apakah suaranya mengganggu tetangga apartement lainnya atau tidak. Yang dipikirkan gadis itu hanya bagaimana caranya Kim Jong In-pria yang membuatnya se-frustasi ini- keluar dari dalam apartementnya dan menatap gadis itu.

**

Jong-in bangun lalu mempertajam pendengarannya. Apakah itu bener suara gadis itu? Apa cuma halusinasi-nya? Sekarang sedang hujan badai, apakah gadis itu baik-baik saja?

Jong-in bangun dari tidurnya lalu duduk dipinggir kasur sambil mengacak rambutnya gusar. Tubuhnya ingin berlari ke apartement sebelah, mencari gadis itu dan memastikannya aman. Tapi ego-nya menahan semua itu. Ia takut kalau seandainya Je-si hanya terpaksa berada disisi-nya, kali ini ia benar-benar berniat untuk melepaskan gadis itu.

“Jong-in-a! Jong-in-a! Buka pintunya!”

Jong-in terkesiap. Ia berdiri seketika lalu berjalan menuju pintu kamarnya dan keluar dari dalam sana. Lampu otomatis menyala dan ia bisa dengan cepat jalan menuju pintu apartementnya. Ia berhenti sebentar lalu melihat intercom.

Tak tau apa yang membuat pria itu tersenyum sinis. Yang jelas ia tidak menemukan siapapun berdiri didepan pintu apartementnya. Bukti bahwa dia berhalusinasi, bukti bahwa dia sudah mulai gila. Dan semua ini karena satu orang yang sangat ia cintai, Je-si.

Tubuh Jong-in terperosot kelantai sambil mulai tertawa sinis. Ia memukul kepala-nya, berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri. Tapi ia malah semakin lemas dan semakin terperosok.

“DUKDUKDUK”

Jong-in terkesiap lalu mulai bangkit dari duduknya dan kembali melihat intercom, tidak ada siapa-siapa disana.

Sesaat Jong-in memilih untuk menekan tombol suara sehingga suara diluar bisa terdengar dan akhirnya ternganga, “Jong-in-a. Buka pintu-nya. Kumohon”

Ia mengenal suara itu dengan baik. Suara Han Je Si. Dan gadis itu menangis dengan keras didepan pintu rumahnya. Dan Kim Jong In tidak mengerti sama sekali.

**

Jong-in membuka pintu Apartementnya dan Je-si berdiri dengan segera. Dengan lemas gadis itu melingkarkan tangannya dipinggang pria itu dan menyandarkan tubuhnya didalam dada pria itu. Menangis keras-keras disana. Jong-in bingung, tapi kemudian menuntun gadis itu masuk kedalam apartementnya dan mengunci-nya.

Ia menatap dandanan gadis itu yang sangat berantakan tapi hanya bisa diam. Jong-in bahkan bisa merasakan sesuatu yang lengket dibaju-nya, dan dengan bau-nya ia bisa langsung tau kalau itu Susu strawberry. Susu yang akan diminum gadis itu jika ia sedang, stress, panik dan ketakutan.

Jong-in tidak membalas pelukan gadis itu, ia hanya terdiam sesekali menikmati pelukan intens gadis itu. Pelukan yang sangat jarang ia rasakan karena gadis itu terlalu dingin kepadanya.

Sesaat ketika gadis itu mendongak, Jong-in balas menatapnya. Mata gadis itu merah. Matanya memancarkan rasa ketakutan dan lelah luar biasa. Air mata masih tetap mengalir dari matanya, hanya saja gadis itu sudah tidak sesengukkan. Ia mengatur emosi-nya dengan baik.

“Apakah kamu tidak mau membalas pelukanku?”

Alis Jong-in naik, “Kenapa aku harus membalas pelukanmu? Aku sedang dalam masa mendiamkanmu.”

Je-si menarik-narik baju pria itu seolah memohon pada pria itu, “Kumohon, jong-in-a.” ucap gadis itu dengan suara serak. Jong-in menangkupkan tangannya dipipi gadis itu kemudian menempelkan kening-nya dengan kening gadis itu sehingga mereka berada dijarak yang sangat dekat, “Kamu menangis karena hujan badai?”

Gadis itu menggeleng lalu kemudian mengecup kening pria itu setelah berjinjit, “Aku menangis karenamu.”

“Kecupan-mu tidak akan mempan, Je-si-a. Aku akan menunggu-mu menjawab pertanyaanku nanti.”

Je-si cengengesan sementara tangan Jong-in mulai mengusap lembut air mata Je-si dan kemudian mengecup kedua mata Je-si yang membengkak, “Berhentilah menangis. Aku tidak ingin kamu menganggap-ku beban, karena itu aku melepaskanmu. Aku sedang memberikanmu kebebasan. Tapi jika kamu memilih disisiku, maka kebebasanmu sepenuhnya akan ada ditanganku. Kamu masih tetap bisa menganggapku Kim Jong In, anak kecil yang dulu pernah mencintaimu habis-habisan lalu akhirnya berpisah denganmu. Kamu tetap bisa datang mengunjungiku nanti-nya, atau bahkan menangis padaku. Tapi kamu tidak akan bisa kembali menjadi milikku lagi ketika kamu memilih untuk dilepaskan, ara?”

Je-si menganguk lemah. Ia terlihat seperti anak kecil sekarang. Je-si mengerti sepenuhnya kalau pria itu sudah dewasa sekarang, ia bukan Kim Jong In yang sering ia goda lagi dan ia ganggu. Kim Jong In yang sekarang adalah pria dewasa yang selalu melindungi-nya walaupun harus terluka.

“Pastikan kamu menjawab yang benar, ara?”

Je-si kembali menganguk lalu berhenti memandangi Jong-in, ia kembali menempelkan kepalanya di dada bidang pria itu. Menghirup banyak-banyak udara dari sana setelah tadi ia sesak napas. “Apakah kamu mau tidur sambil berdiri begini? Dengan susu strawberry yang menempel ditubuh kita?”

Tak lama, kedua-nya tertawa lalu Je-si  memukul dada pria itu pelan dan mengambil jarak diantara mereka. Jong-in menggandeng tangan gadis itu lalu menarik-nya kedalam kamar-nya. Jong-in masuk kedalam sebuah ruangan yang berisi banyak sekali baju dan aksesoris. Ia menarik kaos-nya yang kebesaran lalu melemparnya ke Je-si saat ia sudah keluar dari ruangan itu.

Dengan mulut manyun, Je-si menangkap baju itu. “Mandilah. Aku akan membuatkan susu strawberry hangat untukmu.”

Jong-in mengusap puncak kepala gadis itu dan mendorong-nya pelan masuk kedalam kamar mandi. Tapi sesaat Jong-in tertahan dan memeluk gadis itu dari belakang, mengecup puncak kepala gadis itu lalu menyisipkan wajahnya dileher gadis itu sehingga bau shampoo gadis itu tercium dengan jelas. “Maafkan aku, ya? Kamu, jangan menangis lagi untukku. Kamu sakit, maka aku juga sakit. Ara?”

Je-si menganguk lalu kemudian menyandarkan kepala-nya ke Jong-in. Setelah beberapa saat, Jong-in melepaskan tautan tangannya lalu mendorong Je-si masuk kedalam kamar mandi dan tersenyum sesaat sebelum menutup pintu kamar mandi.

**

Je-si meneguk susu strawberry-nya dan menghembuskan napas lega ketika gelas itu kosong. Matanya beralih menatap jendela kamar Jong-in yang masih basah karena hujan terus menerpa. Setidaknya ia bisa lebih tenang sekarang.

“Cklek”

Secara refleks melihat kearah suara itu dan mendapati Jong-in muncul dengan piyama favorite-nya. Pororo. Jong-in tidak sadar kalau Je-si tertawa dalam diam sambil sesekali terpingkal, pria itu masih sibuk mengeringkan rambutnya dan lalu kemudian berjalan menuju tempat tidur. Disanalah ia mulai menggelembungkan pipinya ketika melihat Je-si yang tidak mampu menahan tawanya lagi.

“YAKKKKKK!!”

“Kamu lucu sekali Jong-in-a~ Aku sudah lama tidak melihat piyama-mu itu.”

Jong-in duduk dan menatap gadis itu tajam, “Kalau kamu cuma mau tertawa, sana pulang!”

“Aigooo.. Kejam sekali kamu padaku.”

Pria itu hanya diam, kemudian merebahkan tubuhnya diatas kasur. Mencari posisi yang enak dengan bantal empuk itu lalu menarik selimut sampai menutupi leher-nya. Je-si mulai berhenti tertawa lalu mulai ikut tidur dengan pria itu. Je-si menyisipkan tangannya kepinggang pria itu dan mendekat. Ia menidurkan kepalanya diatas kasur dan menempel dengan punggung pria itu. Detak jantung pria itu normal walaupun terasa lebih cepat. Nafas-nya bisa terdengar jelas. Je-si sangat menyukai kegiatan-kegiatan seperti ini. “Kamu tidak mau memelukku? Aku masih ketakutan.” ucap Je-si pelan.

“Kamu memang mau dipeluk atau memang ketakutan?”

Je-si tidak mengeluarkan kata apapun setelah Jong-in berkata seperti itu, pria itu penasaran sehingga ia berbalik dan menatap gadis itu. “Aku ingin kau peluk. Aku merindukan pelukanmu.” kata Je-si dengan suara serak. Jong-in tersenyum lalu tangan kanannya menarik pinggang gadis itu mendekat dan tangan kirinya merangkul tubuh gadis itu seperti guling ternyaman didunia. Jong-in mencium keningnya sesaat sebelum akhirnya membisikkan sesuatu di telinga gadis itu, “Tidurlah sampai kamu mau. Aku mengizinkanmu bolos satu hari.”

Je-si tersenyum. Ia ingin membalas tapi tubuhnya terlalu nyaman dan lelah. Ia bahkan tidak mampu membuka matanya. Sehingga apa yang bisa ia lakukan hanyalah mengeratkan pelukannya dan pergi ke alam mimpi.

**

“Kim Jong-in-a. Ini Han Je Si. Noona ini hebat loh, dia sudah menjadi model terkenal walaupun ia masih berumur 14 tahun.”

Jong-in kecil hanya menatap datar gadis yang tersenyum manis dihadapannya. Jong-in kecil mengakui kalau paras gadis itu sangat cantik. Semua gerakkan gadis itu mengundang rasa ingin tau setiap orang. Perkataannya tenang dan juga hangat disaat yang bersamaan. Gadis itu memiliki aura yang sangat menyenangkan. Tapi Jong-in kecil sama sekali tidak tertarik.

“Je-si-a, tolong temenin Jong-in sebentar ya. Ahjumma akan berbicara dengan eomma-mu sebentar.”

Je-si kecil tersenyum lalu mempersilahkan ahjumma itu masuk kedalam rumahnya. Je-si mengamati Jong-in yang dengan diam duduk diatas kursi taman dan menyumpal telinganya dengan headset. Mata besar Je-si mengamati tubuh Jong-in yang bergerak sesaat kemudian. Ia bergerak dengan begitu leluasa, tanpa sadar sudah mulai dance tanpa menyadari Je-si yang berada didekatnya.

Ketika Jong-in sudah menutup dance-nya, Je-si beranjak untuk menarik headset yang menyumpal telinga Jong-in lalu bertepuk tangan, “Kamu hebat sekali.”

Je-si heran ketika Jong-in kecil itu mengeluarkan smirk-nya lalu meninggalkan Je-si. Dengan cepat Je-si mencegal tangan anak itu sehingga Jong-in berbalik, “Yak! Kamu dingin sekali! Dasar Devil’s son! Hargai sedikit kek. Aku kasihan sekali pada ahjumma karena memiliki anak seperti-mu?”

“Lalu mau-mu apa, noona?”

Je-si berkacak pinggang, “Anak kecil, dengar. Aku merasa kamu hebat karena kamu ternyata lulus di Ujian SM. Mungkin kamu berpikir kalau kamu hebat. Tapi diatas awan ada awan lagi. Kamu bukanlah yang terhebat, jadi jangan sombong.”

Gadis itu gantian memberikan smirk-nya, “Aku jadi kasihan pada bakatmu. Kenapa? Karena semua-nya akan sia-sia jika yang punya memiliki sikap sepertimu.”

Jong-in menatap Je-si yang mulai beranjak meninggalkan-nya kemudian tersenyum. Ia akhirnya menemukan seseorang yang mau jujur padanya. Gadis itu bahkan memarahi-nya sementara eomma-nya sendiri tidak pernah memarahinya. Hal itu sangat menarik.

**

2 years later~

Jong-in memasuki ruang makan megah. Rumah yang ia datangi setelah 2 tahun yang lalu. Selama ini, ia tidak berani mendekati gadis itu. Sehingga ia hanya bisa menjadi stalker gadis itu diam-diam. Ia tidak peduli apa pikiran orang lain, yang penting ia hanya mau tau banyak tentang gadis itu.

“Ah.. Silahkan masuk Tuan, Nyonya, Tuan muda Kim. Keluarga Han sudah menunggu.”

Selangkah kemudian, Jong-in melihat bayangan gadis itu. Gadis yang dibalut dress berwarna biru muda yang melilit dengan indah ditubuhnya. Rambut gadis itu dibentuk dengan indah. Hanya saja cemberut dibibir gadis itu sedikit memperburuk keadaannya. Tapi Jong-in tetap tersenyum, karena akhirnya ia bertemu dengan gadis itu.

“Duduklah dihadapan Je-si, Jong-in-a”

Jong-in tidak perlu disuruh, ia memang sudah berniat duduk disana sekarang. Je-si melirik sebal kearah Jong-in lalu mulai memainkan rambutnya lagi.

“Je-si-a, Jong-in-a. Appa ingin mengatakan sesuatu.”

Je-si menatap Appa-nya bingung, begitu juga Jong-in. “Kalian akan ditunangkan.”

Seketika itu juga mata Je-si membulat tidak percaya sementara Jong-in hanya tersenyum. Ia seolah memang menunggu kata-kata itu keluar dari mulut setengah baya itu. “Kalian tidak bisa menolak. Karena ini adalah rencana kami, bahkan sebelum kami menikah dan mempunyai anak.”

“Tapi aku bahkan belum genap 16 tahun, Appa!”

“Kalian kan hanya bertunangan dan bukannya menikah. Ayolah jangan protes, kalian berdekatan saja dulu. Sekarang ayo kita mulai makan.”

Je-si menggelembungkan pipinya sebal, dan ia semakin tidak tenang ketika melihat senyum Jong-in. Senyum yang menggodanya. Astaga, bahkan pria itu baru berumur 12 tahun.

**

Je-si menatap Jong-in yang duduk dipinggir kolam, menjulurkan kakinya kedalam sana. Ia juga duduk disebelahnya dan kemudian Jong-in melihatnya.

“Kenapa kamu mau bertunangan denganku?”

“Simple. Kamu adalah satu-satunya orang yang kuizinkan pertama kali untuk memarahiku. Dan ketika sadar, aku menyukaimu.”

“Menyukaiku?” Tanya Je-si shock.

Jong-in tersenyum lalu mengayun-ayunkan kaki-nya diatas air, “Bukan. Aku mencintaimu. Aku bukan anak kecil yang main-main dengan perasaan. Mungkin aku akan manja dan seperti anak kecil. Tapi aku akan mempertahankan apa yang menjadi milikku.”

Je-si menganga parah ketika melihat pria itu, tapi ia tidak bisa memungkiri kalau jantungnya berdebar dengan keras karena anak kecil itu. “Dan seperti yang kamu tau, kamu adalah milikku. Dan apapun yang terjadi, aku tidak akan melepaskanmu.”

“Siapa bilang aku setuju?”

“Memang kamu bisa menolaknya?”

Je-si menatap air kolam renang itu dan diam sesaat. Tapi tak lama kemudian ia tersenyum, “Aku belum setuju. Tapi aku akan setuju kalau kamu mau masuk SM dan jadi artis terkenal. Aku yang terkenal pasti tidak akan mau dengan anak kecil biasa-biasa seperti-mu. Jadi kalau kamu tidak mampu, maka aku akan membatalkan pertunangan kita. Bagaimana?”

Jong-in tersenyum lalu kemudian menyandarkan kepala-nya dipundak gadis itu, membuat Je-si terkesiap. “Kamu tau aku bukan orang yang akan menyerah, kan? Aku pasti mendapatkanmu. Jadi, kamu harus jaga baik-baik hatimu. Ara, noona-ya?”

“Nee, devil’s son.”

“Panggil aku Jong-in, Nona Kim.”

“Shireo! Kamu tidur saja sana!” Protes Je-si sementara Jong-in tertawa dan tak lama tertidur.

**

“Siapa itu?”

Je-si berhenti mengetik sesuatu dengan handphone-nya dan menoleh ke Jong-in yang duduk disebelahnya. Lebih tepatnya pria itu mengacuhkannya seharian. Menyebalkan sekali. Bagaimana bisa mereka berjalan bersama tapi pria itu tidak mengajaknya bicara sedikit pun dan bahkan menggunakan headset-nya seharian. Ya sudah, dia yang mulai, kan?

“Memang kamu peduli?”

“Aku bertanya, noona. Bukan seharusnya dibalas dengan pertanyaan juga. Kamu mengerti maksudku.”

Gadis itu mendengus sebal lalu memasukkan handphone-nya kedalam tas ketika Jong-in melepas headset-nya. “Sahabatku. Oh Su-ji. Dia pindah tahun lalu dan akan kembali tahun ini.”

“Terus untuk apa dia pergi?”

“Transfer Student.” jawab gadis itu singkat sambil memerhatikan beberapa anak kecil yang berlarian didepan mereka.

Jong-in memasukkan tangannya dalam kantong lalu menatap langit-langit, “Kalau aku jadi dia, aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Kenapa?”

“Aku tidak ingin seseorang merebut-mu dariku.”

Je-si tersenyum manis lalu mengacak-acak rambut Jong-in dengan sayang, “Kamu cemburu? Tenang saja. Aku akan menepati janjiku padamu. Aku tidak akan berpaling pada siapapun.”

“Baguslah. Karena aku bukan tipe yang suka berbagi.”

**

Su-ji baru saja turun dari pesawat, sampai kerumah dan berniat untuk langsung istirahat. Tapi tiba-tiba saja bel terkutuk itu mengganggu-nya, dan sialnya tidak ada siapapun dirumahnya sekarang.

Pria itu menuntun kakinya menuju pintu utama. Tanpa menge-check intercom terlebih dahulu langsung, Su-ji membuka pintu itu.

Awalnya sosok pria seumuran adik-nya keluar. Su-ji berpikir bahwa itu mungkin teman adiknya. Tapi bukankah adiknya itu sedang sekolah? Untuk apa temannya datang?

“Oh Su-ji-sshi?”

Tanpa sadar Su-ji menganguk ditempatnya, “Ada apa, ya?”

“Kim Jong-in. Kamu bisa panggil aku Jong-in.”

Kening Su-ji mengkerut ketika mendengar suara dingin dan tidak sopan anak kecil itu sehingga membuat-nya berkacak pinggang, “Baiklah, anak kecil. Apa yang bisa kubantu?”

“Apa semua orang dewasa suka meremehkan?” Tanya anak kecil sambil menyunggingkan senyum sinis-nya.

“Tidak perlu berlama-lama. Aku disini cuma ingin kamu tau kalau seandainya Kim Je Si adalah tunanganku. Aku tidak peduli kamu sahabatnya, aku juga tidak peduli kamu suka atau tidak padanya. Yang jelas aku tidak ingin kamu terlalu dekat padanya.” Lanjut Jong-in sambil melipat tangannya didepan dadanya.

Sebenarnya Su-ji masih shock dan tidak terlalu percaya pada perkataan Jong-in. Tapi perkataan anak kecil itu terasa sangat serius dan bukan main-main. “Lalu apa kamu bisa menjaganya dengan baik?”

“Tentu saja. Aku bahkan bisa memberikan hidupku untuknya, menemaninya. Tidak seperti seseorang yang meninggalkannya.”

**

“Jangan berisik, anak kecil! Aku sedang bersama Su-ji sekarang. Kami cuma akan berpariwisata sebentar kok.”

“Kemana?”

Je-si memutar bola mata-nya malas ketika mendengar suara dingin bercampur marah dari seberang.

“Tidak usah tau!”

**

Je-si merasakan sesuatu yang menusuk matanya sehingga ia membuka matanya dan melihat kesekelilingnya. Tidak ada siapapun. Kemana Su-ji?

Gadis itu berdiri lalu mulai mengedarkan pandangannya. Tapi yang ia lihat hanya padang rumput yang sangat luas. Pohon teduh itu melindungi-nya dari panas dan tikar dibawahnya melindunginya dari tajamnya rerumputan. Otaknya mulai bereaksi. Sekarang matahari sudah mulai tenggelam lalu ia sendiri, rasa takut sudah mulai merayapi-nya.

Je-si memutuskan untuk berjalan kearah awal ia datang. Suara-suara aneh membuatnya berjalan lebih cepat lalu tak lama kemudian berlari. Ia tiba-tiba saja terhenti ketika ia tau bahwa ia jalan ditempat yang salah. Ia tidak pernah datang ketempat itu.

**

Je-si mulai terisak ketika kakinya lecet dimana-mana dan langit sudah mulai gelap. Ia tidak menemukan orang satupun dan akhirnya terjatuh diatas tanah.

“Tik..tik..tik..”

Gadis itu menggigil ditempatnya. Air jatuh diatas kepalanya dan tak lama sekujur tubuhnya. Dingin merasuk jiwanya dan perutnya kosong. Ia mengutuk diri kenapa meninggalkan handphone-nya di mobil dan menolak makan yang diberikan Jong-in tadi pagi. Tiba-tiba saja gadis itu merindukan anak kecil itu.

“Jong-in-a..”

“Tuk.”

Suara kaki berhenti didepannya, gadis itu mendongak berharap seseorang membantunya.

“Sedang apa disini, gadis kecil?”

Je-si menangis ketika pria setengah baya itu memegang tangannya dan mengajak Je-si berdiri, “Aku tersesat.”

“Ikutlah denganku. Kamu harus berteduh dulu.” Ucapnya sambil tersenyum.

Je-si sebenarnya merasakan perasaan buruk, tapi ia terlalu lelah sehingga tidak menolak lagi.

**

“Ini dimana?”

“Tentu saja rumahku.”

“Untuk apa?”

“Tentu saja.. Berteduh.”

**

Jong-in memukul keras-keras Su-ji yang hanya memiliki tinggi beberapa centi darinya. Mukanya murka sementara Su-ji merasa sangat bersalah, bodoh.

“Sudahku bilang enyahlah! Kamu tidak bisa menjaganya. Sekarang bagaimana aku bisa menemukannya?”

Su-ji ataupun Jong-in tidak peduli sekalipun air hujan dengan deras jatuh diatas mereka. Tak lama kemudian Jong-in memilih diam dan beranjak dari tempat itu. Dipikir-pikir, marah tidak ada gunanya. Yang penting adalah mencari gadis itu.

**

Jong-in menajamkan penglihatan dan juga pendengarannya. Didepan sana ada rumah yang cukup terawat, hanya saja cuma satu ruangan yang lampunya menyala. Tiba-tiba saja Jong-in merasa lunglai. Ia bisa mengetahui bayangan siapa di jendela yang ditutupi tirai itu. Bayangan itu meronta-ronta sementara orang dihadapannya memaksa terus-menerus.

Ketika melihat kayu disisi-nya, Jong-in dengan segera mengambil kayu yang dilihatnya dan berlari kearah sana. Ia sudah tau kalau pintu rumah itu pasti terkunci, tidak ada cara lain selain mendobrak sampai pintu itu terbuka.

“BRUAK!”

“JE-SI NOONA!!! NEO EOODDIII????”

Kaki Jong-in berlari masuk kedalam. Dan ketika pria setengah baya dengan penampilan berantakan itu muncul, emosi Jong-in naik keubun-ubunnya. Ia berlari mendekat lalu dengan kaki 90 derajat menendang tepat diperut itu. Pria itu menangkap tangan Jong-in, tapi anak itu lebih cepat dan mengayunkan kayunya memukul pria itu sampai tersungkur.

Setelah pria itu meringis, Jong-in dengan kasar memukul leher pria itu dan akhir-nya pria itu pingsan. Hembusan napas lega keluar dari mulut Jong-in.

Tiba-tiba saja ia teringat akan Je-si dan kembali menyusuri rumah itu. Jong-in terenyak ketika melihat Je-si berantakan. Jong-in tidak tau harus berterima kasih atau tidak melihat baju gadis itu masih lengkap walaupun sedikit berantakan. Beberapa lebam biru ditangan dan wajah gadis itu membuat matanya panas.

Je-si meringkuk di sudut kamar sambil menangis dan menggumam tidak jelas. Jong-in mendekatinya, tapi Je-si menepis tangan Jong-in. Tapi dengan cepat Jong-in memeluknya, “Ini aku, noona-ya. Neo gwencahana?”

“Jong-in-a..” Rengek gadis itu ketika menyadari itu suara Jong-in. Ketika menyadari bahwa ini pelukan Jong-in. Kehangatannya membuat gadis itu tenang.

Sepanjang malam itu, Jong-in memeluk Je-si. Menemaninya menangis sebelum akhirnya mereka berdua kabur dari rumah itu. Ditengah malam badai.

**

Soon-na menatap pantulan dirinya dikaca. Matanya sembab. Ia mengusap pelan air di wajahnya sehingga bisa sedikit menyembunyikan lingkar matanya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu mulai memperkirakan bagaimana kira-kira senyumnya yang biasa.

Ketika beberapa anak perempuan masuk kedalam toilet itu, Soon-na dengan segera keluar dan melangkahkan kakinya cepat. Tangannya tadi tidak lupa mengambil satu documment yang sangat penting. Ia meremas pelan ujung file keeper itu dan tak lama terhenti sebentar ditengah koridor sekolah yang cukup sepi itu.

Aku melakukan ini untukku kan?

Juga untuk Luhan.

Untuk kami.

Jadi.. Aku tidak salah, kan?

Soon-na kembali berkaca-kaca, tapi kacamatanya itu menutupi-nya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Ia kembali berjalan dan sesekali memamerkan senyum palsu-nya kepada orang-orang yang menyapa-nya.

**

“Kamu kemana saja, Je-si-a?”

Je-si terhenti sebentar lalu dengan senyum merekah sambil meletakkan tas-nya diatas meja. “Eng.. Aku sedang sakit. Jadi butuh waktu sendiri.”

“Dengan mengorbankan sekolahmu dan juga Pameran Burberry? Astaga, manager mereka pasti kecewa karena kamu tidak datang.”

“Ada yang lebih penting dari itu.” Jawab Je-si sambil tertawa. Soon-na berjalan mendekat kearahnya dan berhenti tepat didepan gadis itu. Soon-na tiba-tiba saja mempertajam indera pembau-nya dan mengedus-endus disekitar Je-si. Je-si mengkerutkan kening tidak mengerti melihat Soon-na, begitupun teman mereka yang lain.

Soon-na tiba-tiba saja mencondongkan tubuhnya, bibirnya setara dengan telinga Je-si. “Kenapa bisa ada bau parfum papermint ditubuhmu?”

Astaga. Parfum Jong-in? Padahal sudah kubilang padanya jangan memelukku dari belakang tadi pagi. Oh lihatlah masalah yang ia timbulkan.

“Masa?”

Soon-na kembali menegakkan tubuhnya dan menatap tajam Je-si, “Ini bahkan bukan parfum Manager-mu itu, Su-ji ataupun Luhan. Siapa, Je-si-a?”

Je-si masih terbungkam.

“Bau-mu itu seperti jeruk. Bukan papermint.”

Je-si dengan cepat menarik Soon-na mendekat, “Yak. Ga usah keras-keras. Yang jelas dia baik. Titik. Sana kembali ketempatmu!”

Soon-na dengan malas kembali ketempat duduknya sambil sesekali mengutuk Je-si yang memelet kearahnya.

**

2 months later.

Seoul, South Korea.

Semua berjalan baik-baik saja. Walaupun terkadang Je-si akan gila karena tidak mampu mengejar pelajaran. Untung saja Luhan dan Soon-na setia membantunya.

Siapa yang tidak penasaran apa yang terjadi diantara mereka? Tidak ada. Semuanya seperti sejak semua perasaan itu mereka sadari. Ntah mengapa mereka bertiga setuju untuk melakukan hal itu masing-masing didalam hati.

Ujian yang memusingkan sudah mereka lewati. Sekarang adalah saat-saat dimana mereka bebas ketika perasaan penasaran mencekam. Je-si tetap gadis yang dulu, ceria. Walaupun kadang sesekali hatinya sakit melihat Soon-na dan Luhan, tapi sepertinya ia sudah bisa mencari cara untuk hidup dengan sakit itu.

Luhan dan Soon-na bahkan menjadi sangat dekat. Sepasang sahabat itu masih tidak bisa dipisahkan. Lalu bagaimana dengan Su-ji? Pria itu tetap menjadi cassanova. Ia tetap Su-ji yang dulu. Hanya saja ia lebih semakin menjaga jarak, dan Je-si mengerti hal itu.

Sekarang mereka semua sedang sibuk untuk menyiapkan sesuatu. Talent’s show di Prom night mereka. Tentu saja masing-masing dari mereka mempersiapkan sesuatu. Kecuali Soon-na. Ia tidak suka berdiri diatas panggung, sehingga memilih untuk berdiri dibawah sana mendukung kedua sahabatnya.

**

Soon-na menatap Luhan dalam kemudian tersenyum kearah pria itu. Luhan sendiri membalas senyumannya dengan manis.

Hatinya tidak pernah berhenti terluka ketika mengukir senyum itu. Tapi matanya tidak pernah berhenti untuk merekam seluruh kegiatan pria itu. Menyimpannya dengan baik didalam memori otaknya terdalam.

Ia tidak pernah akan egois untuk meminta takdir yang lebih baik, ia tau tidak akan ada yang pernah mudah didunia ini. Tapi secercah perasaan tidak adil terasa dalam benaknya. Setelah dilepaskan, bisakah ia melepaskan? Didunia ini, Soon-na hanya punya Luhan untuk bersandar.

Luhan meletakkan sekotak bekal diatas meja gadis itu, Je-si disebelahnya mengeluh keras diiringi tatapan geli Luhan. Tapi Soon-na hanya diam menatap kotak bekal itu.

Apakah ini yang terakhir?

Apakah tidak akan ada lagi lain kali?

Berpikir seperti itu membuat hati gadis itu semakin sesak. Tapi lagi-lagi ia memaksa diri untuk tersenyum, “Gumowo, hanhan-a.”

Secara refleks, pria itu mengacak pelan rambut Soon-na. Disebelahnya Je-si hanya tersenyum manis lalu akhirnya keluar kelas diam-diam.

“Akhirnya kita akan lulus sebentar lagi!” Ujar Luhan dengan nada semangat. Ia menggenggam kedua tangan Soon-na dan mengajak gadis itu berdiri, kemudian melompat bersama-sama seperti anak kecil. Tapi pada akhirnya Luhan menarik gadis itu kedalam pelukannya, “Aku bahagia kita masih bersama.”

Soon-na menelan ludahnya susah payah. Ia tidak berani membalas pelukan Luhan, tapi tampaknya pria itu tidak tau. Tangan Soon-na bergetar dan matanya terasa panas.

Kamu tidak bisa menangis sekarang.

Sekarang masih saatnya berpura-pura.

Kuatlah, Soon-na.

“Nado.. Hanhan-a.”

Akhirnya Soon-na membalas pelukkan Luhan dan membiarkan sebutir. Ya. Hanya sebutir air matanya untuk membasahi pipinya.

Hanhan-a.

Masih ada yang ingin kukatakan.

Tapi rasanya pita suaraku hilang kemana.

Tapi rasanya tubuhku lunglai.

Tapi rasanya aku tidak sanggup.

Aku tau tidak akan ada gunanya berkata seperti ini sementara aku sudah memutuskan segalanya sendiri.

Mianhae..

Dan.. Saranghae..

**

Luhan berputar sekali lalu tangan kanan-nya dengan cepat membentuk zig-zag seakan membelah udara. Kakinya berdecit diruang dance itu. Lagu lembut terdengar, tapi tidak dengan dance penuh passion yang sedang ia tarikan. Pria itu terlihat sangat sempurna. Apalagi dengan ekspresi indah diwajahnya. Secara keseluruhan, ia sempurna.

Tangannya terus berputar seperti mesin dan tubuhnya tidak capek sekalipun sudah melakukan hal itu lebih dari 4 jam. Ia berniat pulang malam hari itu. Mengingat ini adalah hari terakhir ia akan menginjakkan kakinya diruangan ini. Ruangan tertutup yang akan menjadi rahasia-nya untuk selamanya.

Ketika merasa sesak, Luhan berniat mengambil remote dan mematikan musik. Tak lama kemudian ia tertidur diatas lantai sambil mengatur napas-nya. Matanya berkedip-kedip tak jelas seolah benar-benar kehilangan oksigen. Tapi ada secercah perasaan bahagia-nya. Setidaknya ia lebih baik dari sebelumnya. Ia bangga pada dirinya sendiri sekalipun ia tidak bisa mengejar mimpinya. Ia akan sekolah di Universitas Seoul bersama gadis yang ingin ia lindungi selamanya.

“Kriet..”

Luhan tidak menghiraukannya, “Bukannya kamu bilang akan berlatih sesuatu?”

“Aku tidak pernah berkata seperti itu. Tapi Je-si iya. Ia memang sedang latihan sekarang.”

Mata Luhan segera saja terbuka ketika menyadari suara siapa itu. Suara Soon-na. Dadanya berdebar dengan kecepatan luar biasa. Terjebak dengan perasaan ingin tau, bersalah dan capek. Gadis itu tersenyum diatas-nya, lalu dengan cepat Luhan bangun. Ketika Soon-na menyodorkan sebotol air mineral, Luhan mengambilnya dalam diam.

Soon-na beranjak dari tempatnya dan duduk dihadapan Luhan, “Kamu hebat sekali, hanhan-a.”

Luhan tidak menemukan pita suaranya sehingga ia hanya diam. “Aku tidak menyangka kalau kamu sehebat ini. Ternyata kamu selalu berlatih diam-diam.”

“Na~ya.. Aku..”

“Sudahlah, hanhan-a. Setiap manusia juga punya satu-dua rahasia yang tidak bisa dikatakan. Aku pun begitu.”

Luhan mengerutkan keningnya tidak mengerti, masih mencari jawaban di mata gadis itu. “Aku tidak akan ke Universitas Seoul, hanhan-a.”

Mulut Luhan membuka perlahan, tidak percaya dengan perkataan yang ia dengar di gendang telinganya. Bagaimana bisa? Bukankah mereka berdua sudah diterima disana? Lalu kenapa gadis ini berkata seperti ini? Apa ia sedang bercanda?

“Aku tidak bercanda.” Ucap Soon-na dengan nada serius. Ia kemudian mengambil tangan Luhan dan menggenggamnya erat.

“Aku tidak bisa berada disisi-mu selamanya. Aku akan ke Canada. Mengejar mimpiku menjadi dokter disana.”

Luhan mencerna kata yang ia dengar dengan baik. Tapi ia masih tidak percaya, sangat tidak ingin percaya. “Maksudmu? Kamu bahkan belum daftar disana! Aku tidak mengerti, Na~ya!”

“Aku sudah daftar.”

Luhan terdiam.

“Sejak 2 bulan lalu. Sejak aku tau kamu diterima diperusahan entertainment. Sejak aku melihat-mu menelan pahit-pahit mimpimu hanya untukku. Ini tidak adil, hanhan-a. Aku berakting dihadapanmu. Berakting bahwa semua-nya baik-baik saja. Tapi tidak ada yang baik-baik saja. Apalagi sejak aku mendaftar disana.”

“Lalu kenapa? Kenapa? Kamu bisa tetap bersamaku. Aku baik-baik saja. Asal kamu disisi-ku, Na~ya.”

Soon-na tersenyum sekilas, “Kamu jangan egois, hanhan-a. Aku bukan tuan putri-mu lagi.”

“Maksudmu?” Tanya Luhan sambil menaikkan satu alis-nya tidak percaya.

“Aku. Han Soon-na. Dengan resmi membebaskanmu-Xi Luhan- dari tugas menjadi pangeranku. Aku membebaskanmu untuk mengejar impianmu. Dan memohon padamu untuk melepaskanku.”

Luhan berdiri dan juga menarik gadis itu supaya ikut berdiri juga. Soon-na merasa pergelangan tangannya sakit. Ini pertama kali-nya Luhan berbuat kasar padanya. Tiba-tiba saja air mata keluar dari mata gadis itu, tapi Luhan tidak sedikitpun merasa bersalah.

“Aku tidak akan melepaskanmu, Na~ya! Sekali pun tidak!”

“Kenapa, hanhan-a?” Tanya Soon-na akhirnya dengan nada lemah. Ia ingin mendengar Luhan mencintai-nya. Dengan begitu, semua persahabatan ini hancur dan mereka bisa memulai hubungan mereka dari awal. Soon-na muak ketika ia tidak bisa memiliki Luhan sekalipun sebenarnya hal itu egois.

“Kamu sudah berjanji padaku, Na~ya. Aku juga!”

Soon-na menepis kasar tangan Luhan lalu kedua tangannya menangkup wajah Luhan, “Tatap mataku, Luhan. Bukankah kamu yang bilang? Kamu akan melepaskanku jika aku memohon padamu?”

“Aku..”

“Aku tidak akan berubah pikiran, Hanhan-a. Walaupun kita terpisah, kita akan tetap jadi sahabat. Mengertilah. Suatu saat kita pasti bertemu lagi.” Kata Soon-na. Sekalipun pahit, ia tetap harus meninggalkan Luhan.

“Ara?”

Luhan menarik tubuh Soon-na mendekat dan memeluknya erat. Ia tidak bisa menahan perasaannya sendiri sehingga akhirnya menangis dileher gadis itu, “Kamu kira aku bisa hidup tanpamu?”

“Carilah jalan kalau begitu. Karena aku pun akan begitu.”

Luhan mengeluarkan tawa frustasinya sambil memeluk gadis itu lebih kuat, “Apakah semudah itu bagimu?”

“Aku pasti akan berat hidup tanpamu, hanhan-a. Tapi kita berdua harus belajar. Kita tidak mungkin seperti ini seumur hidup. Ini saatnya dimana aku dan kamu pergi ke jalan masing-masing.”

Suara itu terdengar bijak, tapi lebih mirip seperti kutuk terburuk didunia bagi Luhan. Suara gadis itu terngiang-ngiang didalam otaknya, apalagi sekarang mereka sedang diam. Hatinya sesak luar biasa. Ia tidak ingin kehilangan gadis itu. Apakah ia terasa tidak nyata bagi Soon-na? Apakah gadis itu tidak bisa mencintainya? Astaga. Luhan menyesal menjadi sahabat gadis itu.

Soon-na mendorong Luhan menjauh. Ia memundurkan langkahnya lalu berhenti tepat dihitungan ketiga. Ditengah air mata yang terus mengalir itu, Soon-na akhirnya mengukir senyumnya. Tangannya masih sibuk menepis air mata yang turun dipipinya. “Aku pergi, hanhan-a. Kamu harus jaga dirimu baik-baik.”

Masih tidak ada balasan. Luhan masih membungkam mulutnya. Detik ketika Soon-na baru saja akan berbalik, Luhan menatapnya tajam. “Kapan kamu akan berangkat?”

Mereka terdiam beberapa saat. Hanya nafas yang terdengar. Tapi kemudian gadis itu menangis lebih keras dan berlari memeluk Luhan lagi. Tapi kali ini lebih erat lagi, “Besok. Dan aku tidak ingin kamu mengantarku.”

Menangis bukanlah hal yang aneh lagi bagi Luhan. Ia terlalu mudah menangis untuk gadis itu. Sama seperti kali ini. Perasaannya campur aduk dan tidak beraturan. Pelukan diantara mereka masih tidak terlepas. Langit seolah-olah menghitung detik yang terus berjalan, dan berubah warna menunjukkan bumi masih berotasi. Tapi kedua-nya, Luhan maupun Soon-na, sama-sama berharap. Berharap untuk waktu membeku dan mereka bisa berakhir seperti ini

**

Luhan turun dari sepedanya. Angin dingin menusuk tubuhnya, tapi ia tidak bergeming. Tadi Soon-na hanya berlari meninggalkannya, membuat Luhan frustasi setengah mati dan memilih untuk mengejar gadis itu.

Sayangnya, Soon-na lebih cepat menghilang karena sudah ada taksi dibawah yang menunggu-nya. Sehingga pada akhirnya Luhan mengejar Soon-na sampai kerumahnya.

Luhan sedikit berharap, gadis itu membuka tirai jendelanya seperti biasa. Memberikan senyum yang selalu ia nantikan dan memaksa pria itu masuk. Tapi sekarang yang bisa ia lihat hanyalah bayang-bayang gadis itu bergerak didalam rumah seolah sibuk menge-pack sesuatu.

Hati pria itu kembali sakit. Ia sama sekali tidak rela gadis itu meninggalkannya. Apakah ia berbuat salah sehingga akhirnya gadis itu meninggalkannya? Apakah gadis itu terlalu capek berada disisinya? Apakah gadis itu bosan padanya? Apakah ia membencinya? Semua pikiran negatif itu mengganggu Luhan dari tadi. Tapi pria itu tetap diam.

Tangan Luhan terangkat, berusaha menggapai jendela itu. Tapi tidak mungkin. Ia tidak mungkin bisa dan tidak berani.

Dari bawah, sambil kedinginan. Mata Luhan masih menatap jendela itu dengan seksama, sesekali mengeratkan jaket yang ia gunakan. Ia memang tidak tahan dingin, tapi ia rela begini. Selalu ada pengorbanan untuk gadis itu dan Luhan selalu rela untuk melakukannya.

Apa yang sedang ia lakukan?

Apakah ia sedang packing?

Apakah ia benar-benar akan meninggalkanku?

Apakah ia membawa foto album bersamaku?

Ataukah akan meninggalkannya begitu saja untuk melupakanku?

Luhan memegang dadanya, sesekali memukulnya keras.

Sial.

Bahkan sebelum ia meninggalkanku,

Pikiran ini duluan yang akan membunuhku.

Setelah tidak sanggup, akhirnya Luhan membiarkan dirinya terjatuh dan menyandar pada motor. Ia mengacak rambutnya frustasi. Wajahnya putih nyaris berubah menjadi biru. Tapi ia tidak peduli harus kehabisan oksigen atau terlalu lelah, perasaan itu bahkan tidak lebih sakit dari apa yang ia rasakan sekarang.

Cairan bening itu kembali menuruni pipi Luhan. Hari ini Luhan membiarkan dirinya menangis lebih banyak. Ia terlalu sakit dan frustasi untuk menahan semuanya.

Apakah ini benar-benar keputusan terakhirmu?

Apakah ini baik untuk kita berdua?

Kenapa kamu bisa dengan begitu mudahnya memutuskan ini semua?

Kenapa pada akhirnya kamu yang memintaku untuk melepasmu?

Lalu sekarang, apa yang harus aku lakukan?

Aku bahkan tidak memiliki kepercayaan diri lagi untuk hidup tanpamu.

Aku bukan pengecut, tapi aku menyadari kalau seandainya tujuanku hidup adalah kamu.

Tanpamu, maka tujuanku kosong dan semuanya hampa.

Apa itu terdengar bodoh?

Tidak.

Menurutku itu gila, Na~ya.

**

Soon-na menarik kopernya cepat sambil menyusuri jalan menuju checking pasport area. Hari ini gadis itu menggunakan baju yang lebih santai dari biasanya. Gadis itu menggunakan cardigan berwarna abu-abu, sementara tas selempang berwarna abu-abu lainnya juga tersampir disana. gadis itu melepaskan kacamatanya, kacamata yang sebenarnya tidak berminus sama sekali. Dan entah kenapa, gadis itu memutuskan untuk memotong rambutnya sebahu. Apakah ia memang berniat untuk meninggalkan segalanya di Korea?

Namun tiba-tiba saja langkah gadis itu terhenti secara mendadak. Ia seolah baru melihat seseorang yang ia kenal, dan ia tidak pernah salah pada dugaannya. Ikatan batin diantara mereka terlalu kuat.

Luhan mendekat kearahnya lalu dengan senyum mengacak-acak rambut gadis itu pelan. Soon-na menutup matanya ketika Luhan mengecup keningnya lama didepan umum. Membuat beberapa orang terperangah menyaksikan mereka berdua.

“Kamu tidak akan mencegahku, kan?”

Luhan menggeleng lalu mengambil sebuah kotak dari dalam tas-nya dan menyodorkannya pada gadis itu, “Pertama kali aku bertemu denganmu, aku mengikatmu dengan apel. Lalu sekarang, aku akan melepasmu dengan apel.”

Luhan mengulurkan tangannya lalu memeluk gadis itu, “Sekalipun aku tau bahwa aku tidak akan bisa hidup tanpamu, aku tidak akan mencegahmu lagi. Jagalah dirimu baik-baik disana, Na~ya.”

Soon-na meremas mantel Luhan sambil menggigit bibirnya, menahan tangis. “Aku akan tetap menjadi Luhan. Sahabatmu. Jangan pernah lupakan aku, Na~ya.”

Soon-na menganguk, “Tidak akan, hanhan-a.”

Tangan Luhan yang mendorong Soon-na menjauh, membuat jarak diantara mereka. Luhan tersenyum sebelum membalik tubuh gadis itu kearah semula dan mendorongnya. “Jangan berbalik kebelakang. Jika kamu berbalik, aku tidak akan melepaskanmu.”

Soon-na semakin kuat menggigit bibirnya, tangannya menarik koper itu mendekat sampai beberapa detik kemudian ia berjalan menjauhi Luhan. Hatinya berteriak memerintah tubuhnya berbalik, tapi ia tidak bisa. Dilangkahnya yang ketiga, sesuatu menarik tangan gadis itu agar tetap tinggal ditempatnya. Soon- na tau dengan jelas kalau itu adalah tangan Luhan. Mengetahui hal itu, Soon-na merasa lebih sakit ditempatnya. Luhan sendiripun melakukan hal itu tanpa sadar, ia terlalu sakit karena memaksa dirinya untuk melepaskan walaupun ia tau kalau seandainya hatinya tidak rela. Ia terlalu berpura-pura.

DItempatnya, Soon-na menarik napas dalam-dalam. Air mata yang sedari meleleh dipipinya semakin deras sekarang. Perlahan ia menarik tangannya kuat dari cengkeraman Luhan. Butuh waktu  yang lama, dan Soon-na menahan sakit dalam diam. Ia juga tidak rela, tapi ini keputusannya.

Luhan ditempatnya membeku. Lagi-lagi membiarkan setetes air mata turun hari ini. Hanya itu. Ketika merasa tangannya tidak lagi menggenggam tangan gadis itu lagi. Ketika ia mendengar suara langkah gadis itu. Sesuatu dalam hatinya terasa kosong dan hampa. Apalagi ia menyadari kalau seandainya gadis itu sudah benar-benar tidak berbalik.

Kamu tidak berbalik, Na~ya.

Luhan menyadari betapa menyedihkan dirinya, tak lama kemudian Luhan berbalik. Setidaknya ia ingin melihat gadis itu. Ia tersenyum ketika melihat bayangan terakhir Soon-na. Otaknya masih sibuk untuk mengingat semua kejadian ini. Ia masih terdiam beberapa saat dtempatnya ketika baying Soon-na menghilang. Hembusan napas terdengar ketika pria itu akhirnya sadar lagi. Luhan seperti kehilangan jiwa-nya.

Kemudian dari dalam tas, ia mengeluarkan headset dan juga kacamata hitam serta topi. Luhan menggunakannya cepat, tepat sebelum air matanya menyucur deras. Kakinya lemas meninggalkan tempat itu. Gadis itu, tidak akan ada dalam jarak pandangnya dalam waktu yang cukup lama.

**

Je-si tersenyum. Tepuk tangan membahana diruangan itu. Dengan sopan dan pelan, ia duduk diatas kursi. Tangannya mulai membuka white grand piano itu dan tersenyum melihat tuts hitam dan putih disana.

Ia menarik napas pelan, kemudian menoleh kearah penonton. Ia hanya bisa melihat Luhan disana, walaupun tidak terlalu jelas. Walaupun penasaran akan keberadaan Soon-na, gadis itu lebih memilih tersenyum kearah Luhan lalu kemudian mulai memainkan jari-nya diatas tuts itu. Membiarkan tangan dan hatinya untuk bekerjasama. Sekali ini saja. Untuk terakhir kali-nya. Ia ingin mengungkapkan perasaannya pada pria itu.

**

My hands become cold.

The memory of love coldly draws near.

It becomes painful.

I don’t want to be unfair to you any longer.

Knowing that I can’t love you.

Who is close too me.

Who can’t look at me.

Its too hard to wait.

I can’t stand it anymore.

Since it won’t be achievable.

The named I loved.

Became too distant as I went out to call it.

I now write that name down

I’m close to cry

I want to hide

Remember that day now

Where all I could do was love you.

Because love that can’t be together..

Is still love.

Je-si memainkan piano itu sambil melantunkan lirik menyakitkan itu. Ditempat lain, semua orang sudah mulai berkaca-kaca. Tidak terkecuali Luhan. Pria itu menangis dalam diam. Ia mengerti kenapa. Karena ia merasa bahwa lagu itu seperti seharusnya ia nyanyikan.

Ia merasa sakit akan semua keputusan yang ada. Semakin ia mengingat, semakin ia mencintai, semakin ia melindungi. Sosok itu pergi darinya. Menyisahkan dirinya sendiri. Dengan seenaknya gadis itu memintanya untuk tidak menunggu? Bagaimana bisa? Apakah gadis itu tidak pernah mencintainya sedikitpun? Apakah memang ia hanya sahabat seumur hidup untuk gadis itu?

Air mata itu hanya terus mengalir dipipinya. Hatinya sakit luar biasa. Sesak luar biasa. Sampai ia sendiri tidak mampu menoleh kedepan dan hanya menunduk. Seandainya ia diberikan kesempatan, bolehkah ia memilih untuk tidak menjadi pangeran gadis itu?

Bisakah ia meminta untuk tidak bertemu dengan gadis itu? Kejam. Tapi sakit ini begitu menyiksanya sampai ia gila. Ia tidak bisa mengerluarkan sedikitpun air mata tadi. Ketika mengantar gadis itu. Ketika gadis itu tersenyum masuk kedalam ruang boarding. Ia seperti orang mati semenjak gadis itu memintanya, untuk melepasnya.

I can’t handle the love memories and feelings alone.

I can’t start this.

I can only miss you secretly.

My heart only left your body fragrance

That I missed and always loved

**

“Suaramu bagus.”

“Kamu menangis?”

Luhan tertawa sambil mengacak-acak rambut-nya kikuk membuat Je-si mencubit pipi pria itu gemas, “Kemana Soon-na?”

Luhan tidak menjawab, ia memasukkan tangannya kedalam tuxedo yang ia gunakan. “Kamu cantik malam ini, dan sangat mempesona!”

“Bukannya kamu juga akan tampil?”

Luhan menggeleng pelan, “Tiba-tiba saja aku tidak bisa. Aku merasa tidak ada gunanya. Bagaimana kalau mereka tertawa saat aku dance nanti?”

“Bagaimana keputusanmu?”

“Aku akan kembali ke China.”

Mata Je-si membulat, “Bagaimana dengan Soon-na?”

“Gadis itu pergi.”

Akal Je-si masih tidak mengerti, ia menatap Luhan lurus-lurus. Ia sama sekali tidak bisa berpikir ke arah mana pembicaraan ini berjalan, sehingga ia hanya bisa diam.

“Ia melepaskanku. Ia menyuruhku untuk masuk entertainment bodoh itu lalu meninggalkanku.”

Je-si merasa sakit ketika ia melihat tawa frustasi pria itu, tanpa sadar tangannya terulur untuk memeluk pria itu.

Ia mengelus-elus punggung pria itu, berusaha untuk menenangkannya. “Ia pasti punya alasan, Luhan-a. Kalian tidak berpisah untuk selamanya.”

Je-si tersenyum ketika ia menyadari sesuatu sekarang. Ia melepas pelukannya kemudian menatap Luhan, “Aku ingin mengucapkan sesuatu pada-mu, Luhan-a. Sebelum aku juga pergi.”

Luhan mempertajam pendengarannya, kemudian Je-si berjinjit dan bibirnya tepat didepan telinga pria itu. Tangannya menarik pria itu mendekat, “Aku.. Mencintaimu.” Ucap Je-si nyaris berteriak. Kemudian ia tersenyum dan melepaskan pelukannya.

Bibir Luhan secara otomatis terbuka, terlalu terkejut. Ia tidak pernah mendengar pengakuan darimanapun. Dan ini pertama kalinya, dan orang itu tidak asing baginya.

Je-si memerkan gigi-gigi putih dan rapi-nya lalu kemudian memeluk pria itu lagi, “Tapi itu dulu, Luhan-a. Aku sudah memiliki seseorang yang menungguku. Kamu juga harus sepertinya, rela menunggu gadis yang kamu cintai. Walaupun butuh waktu seumur hidup.”

Je-si melepaskan pelukan diantara mereka, “Ketika kamu kehilangan. Kamu akan lebih menghargai-nya. Dan mencintai-nya lebih banyak.”

**

Je-si mengerutkan kening ketika melihat motor berhenti dihadapannya, ia menghembuskan napas lega ketika motor itu mati dan pemiliknya membuka helm yang menutupi wajahnya. Kim Jong In.

“Kenapa tiba-tiba datang kerumahku?”

Jong-in melepaskan jaket yang ia gunakan dan memakaikannya dipunggung gadis itu, “Pakaianmu terlalu berlebihan.” Ucapnya datar.

Je-si menggelembungkan pipi-nya sebal, “Setidaknya kamu bisa mengatakan kalau aku cantik! Aku bahkan sering menggunakan yang lebih berlebihan. Kenapa kamu baru protes?”

Jong-in terdiam beberapa saat. Je-si mengamati pria itu. Raut wajahnya tidak meng-enak-an. Tapi Je-si juga tidak bisa bermain tebak-tebakkan dengan baik.

Ketika Jong-in menarik pinggangnya untuk membiarkan gadis itu masuk kedalam pelukan Jong-in, Je-si hanya tersenyum manis lalu membalasnya. Ia selalu suka bau pria itu, papermint. Membuatnya lebih nyaman dan juga segar.

Sesuatu yang basah terasa dipundaknya, isakkan perlahan terdengar. Tapi kemudian Jong-in segera melepas pelukannya dan tersenyum. Matanya merah.

“Ada apa denganmu?”

Jong-in mengacak-acak rambut gadis itu perlahan dan mengecup keningnya lama. Je-si sama sekali tidak mengerti ketika dengan cepat juga pria itu melepaskannya dan naik keatas motor. Tangannya dengan cepat mencegah pria itu, “Ada apa ini?”

“Aku akan keluar dari SM.”

Je-si terenyak. Apakah ini maksudnya Jong-in akan melepasnya?

Mesin motor mulai menyala, “Aku melihatmu menangis dipanggung. Melihatmu memeluk pria itu. Aku mendengarmu menyatakan cinta. Jadi aku rasa aku tidak perlu mendengar keputusanmu lagi. Aku mengerti. Kamu tidak usah khawatir.”

“Jong-in, aku..”

Jong-in berbalik kearah Je-si dengan cepat dan membungkam mulut gadis itu dengan ciuman yang cukup lama. Sesaat kemudian, ia menatap intens Je-si dan menancap gas. Meninggalkan Je-si yang kaget, kemudian jatuh keatas jalan karena kakinya lemas.

Astaga. Pria itu salah paham.

**

Soon-na sedang mengeluarkan barang-barangnya dan menyusun semuanya dengan baik. Apartement itu kosong. Tapi apartement itu sangat lebih layak dari sebelumnya. Sayangnya, tempat ini lebih sepi dan menyedihkan dari sebelumnya. Ketika mengetahui bahwa gadis itu tidak akan bertemu dengan pria itu, secerca perasaan sakit menerpa. Tapi secepat mungkin ditepisnya.

Ia sama sekali tidak memerhatikan TV yang sedari tadi menyala. Ia menyalakannya untuk menghilangkan kesunyian walaupun sama sekali tidak berniat untuk menontonnya.

Soon-na tidak tau apa yang terjadi di TV itu. Sesuatu buruk disiarkan. Dan bahkan ia sama sekali tidak peduli.

Dikabarkan Pesawat tujuan Korea-China pada hari ini gagal mendarat 
sehingga akhirnya menabrak sejumlah properti bandara. 
Dan akhirnya berhenti karena rusak. 
Pesawat itu sempat meledak dan banyak orang meninggal karena tidak sempat menyelamatkan diri. 
Puluhan orang selamat sekalipun mengalami cedera yang sangat berat.

**

TBC

**

Message from Author :

We are one! Annyeong haseyo, EXOtic! Ini admin Han Je Si. Saya ini author dan juga founder EXO1st ^^ Beberapa mungkin juga tau kalau saya adalah admin @EXOfficialINA.

Terima kasih karena kalian sudah membaca Nimic sampai sekarang. Padahal author-nya gaje begini -_-V Konsep awal sama yang ditulis pasti beda T,T

Setelah part 5 ini, waktu penulisannya akan berbeda. Jika pada Part 1-5 adalah tahun 2008, maka part 6 akan ditulis dengan sudut pandang tahun 2012. Saat EXO debut. FF ini akan mengikuti jadwal EXO, sehingga saya berharap bisa menciptakan FF yang real dan bisa dimengerti.

Maafkan segala perkataan tidak penting dan berbelat-belit. Saya memang begitu -_- intinya, di message saya yang pertama ini cuma berharap supaya kalian tetap jadi reader setia exo1stwonderplanet.wordpress.com ^^

Kamu akan menciptakan wordpress yang nyaman dan asyik untuk kalian ^^

Btw, untuk pembuatan nimic Part 6, sepertinya akan menghabiskan waktu yang cukup lama ^^ Author sedang ada banyak project buat SMTown Indonesia ^^ So please be waiting ^^

PLEASE WATCH EXOTic’s Fiction Nimic 2012  Teaser at YOUTUBE klik here

Gumowo! *bow bareng Luhan, Jong-in, Soon-na, Su-ji*

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

13 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 5

  1. Nuri September 15, 2012 at 8:23 AM Reply

    Kilat baca 5 part dan omg ternyata aku selama ini salah gak baca FF ini hahaha bagus kok, feelnya dpt tapi ngerasa kok lebih suka luhan-je si hhe ditunggu part 6 🙂

    • exo1stwonderplanet September 15, 2012 at 10:42 AM Reply

      Author juga ngerasa gitu ><
      Musti nge-re-schedule jadwal EXO karena bakal akan dibuat sesuai kenyataan ^^ Hahaha
      Jangan lupa nonton video teaser-nya ya kalau sempat xD
      Gumowo uda baca ^^

      -HJS

  2. andini September 15, 2012 at 4:23 PM Reply

    part 6 oh ada apa dengan pesawatnya? pls ini mau mewek aja:'(

    • HanJeSi September 18, 2012 at 6:33 AM Reply

      Jangan mewek dong.. Cupcup :3
      Kabar baiknya Luhan pasti selamat xD
      Kalo ga ada Luhan, gimana EXO sekarang -_-V hehehe

      -HJS

  3. naritareky September 16, 2012 at 4:04 AM Reply

    Suka part 5 😀
    Sepertinya aku berubah fikiran haha
    Lebih suka Je-Si sama Kai ajaa :p
    Terusnya semakin kesenin maki keren tau ceritanya, bener2 bagus.
    Di tunggu nimic part 6 nya yaa 😀

    • HanJeSi September 18, 2012 at 6:35 AM Reply

      Baguslah kalau disuka xD
      Kalau ga suka, banting laptop deh -_-V heheh

      Please wait patiently, okay? XD
      Uda nonton video teaser? XD hope ya love it!
      Thank you for reading :3
      -HJS

  4. Cynthia September 17, 2012 at 1:35 AM Reply

    Keren thor ceritanya…
    Tp Luhan g meninggalkan pstx.. Untunglahh..
    Trs Je-si kai??
    Ooo iya2 kai kn ή luhan debut bareng.. Wahh jd penasaran nihh suasanax…
    Dtgu ya part selanjutx 😀

    • HanJeSi September 18, 2012 at 8:42 AM Reply

      Kalau meninggal.. EXO gimana ntar? XD
      Jesi-Kai gimana ya? XD

      Just wait okay :DD
      Thanks uda jadi reader yang setia comment ampe sekarang! 😀
      -HJS

  5. Anggita Ratri Pusporini October 18, 2012 at 5:59 AM Reply

    huuwaaaaaaaaaaa thor aku nagis nih, serius T___T
    kenapa Soon Na harus gitu perginya? jadinya Luhan kira Soon Na ngga ada cinta sedikitpun, huhu~

    ohya thor, typo yaaaa? hehehe. ada yang Kim Je Si tapi ditulisnya Han Je Si~

    okay capcuuussss ke part 6! ^^

    • hanjesi October 18, 2012 at 3:35 PM Reply

      Kan biar Luhannya sama Jesi xD hahaha

      Iya ada? Kim Je Si jadi Han Je Si? XD itu karena author pengen jadi m Je si dicerita si T__T

  6. mialuo October 28, 2012 at 3:49 PM Reply

    kai,, selalu berhasil membuat saya penasaran.. Keren min ceritanya 🙂

  7. deshinta April 4, 2013 at 9:19 AM Reply

    haduuuuh, sumpah aku sampe nangis pas baca yang part ini
    tanggung jawab dong thor… lol
    nyesel kenapa baru sekarang baca ff sebagus ini,
    keren banget, empat jempol buat authornya
    lanjut baca yang part 6 ah~

    • exo1stwonderplanet April 5, 2013 at 4:00 PM Reply

      Nangis? Heheh baguslah… perjuangan 30 lembar tulisan calibri10 saya ga sia-sia TT hehe ga usah nyesel 🙂 mending dibanding ga sama sekali ^^ selamat baca ya 🙂 jangan lupa comment juga tiap part hahahaha -HJA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: