EXOtic’s Fiction “Sacrifice” – Part 5

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Sacrifice”

 

Title : Sacrifice

Sub Title : 5th Story – Find Your True Love

Main Cast :

  • Kai- Kim Jong In
  • Fellia

 

Length : 10 shot

Genre : Romance

Rating : PG-13

Summary :

 

I only give my whole life to one person.

Person who especially can make my heartbeat feels so real.

When i met her, World is joking around me.

Should i release you?

Can i really feel so alive when my eyes can not see you?

Can i really feel so alive when my ears can not hear you?

I learned one thing from love.

Sacrifice.

 

**

 

I was so afraid when i found out that this heart is taken by someone

I believe that i wont fall for someone

But its false, the truth i fell for him

But when i try to trust you

To love you

To see only you

This world is joking around me.

Can i really feel so alive when my eyes can not see you?

Can i really feel so alive when my ears can not hear you?

I learned one thing from love.

Sacrifice.

Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

**

 

A simple story between Kim Jong In & Fellia.

 

Author’s POV

Kai dan Fellia sama-sama berlari menyusuri koridor rumah sakit, tidak peduli akan para dokter dan suster yang menghentikan mereka berdua. Haruka memang tidak dekat dengan gadis itu, tapi mendengar gadis itu pingsan tiba-tiba tentu saja membuatnya menjadi panik.

Ketika mereka melihat nomor ruangan yang mereka tuju, mereka berhenti untuk menarik napas pelan. Fellia mengeluarkan tissiu dari tasnya dan mengusap keringat Kai yang bercucuran, membuat pria itu lagi-lagi mengeluarkan senyum manisnya. Kai mengecheck sebentar apakah buah yang mereka beli baik-baik saja. Tak lama Kai menggeser pintu itu dan akhirnya mereka bisa melihat keseluruhan ruangan itu. Ruangan dengan dominasi putih, berbau rumah sakit yang tidak mengenakkan dan juga ruangan yang sangat-sangat luas.

Fellia bisa melihat sebuah kasur putih ditengah ruangan itu, seorang gadis terkapar lemah disana. Dengan mesin kardiograf dan alat bantu nafas disampingnya. Lengkap dengan selang infus disisi lainnya. Kai berdeham sebentar sebelum masuk, tak lama ia meletakkan bingkisan buah itu diatas meja sementara Fellia berjalan kekasur itu.

Fellia bukan gadis yang akan mengasihani orang yang baru ia kenal. Ia bahkan sudah sangat tau bahwa gadis yang ada dihadapannya itu adalah saingannya. Tapi gadis itu polos dan tak memiliki salah apapun padanya, bukan? Bahkan gadis itu pernah menyelamatkannya dari pertanyaan orang-orang. Gadis yang baik itu terkapar lemah. Gadis itu bahkan tak bisa memberikan sebuah senyum yang selalu menenangkan.

Fellia kemudian duduk disebuah kursi disebelah kasur itu, diikuti Kai disampingnya, “Kai, Haruka kenapa ya?”

Kai hanya bisa menggeleng pelan disampingnya…

“Gadis itu memiliki penyakit jantung. Ia tidak control minggu ini. Itu alasan kenapa ia pingsan”

Kai dan Fellia sama-sama berbalik, melihat kemana arah suara itu berasal. Tak lama mereka bisa melihat seorang pria tampan dengan seragam dokter, lengkap dengan kacamatanya, menatap mereka dengan tajam. Ia tidak tersenyum sama sekali, ia memutari kasur itu dan kemudian memasangkan seperti jam tangan ke tangan kanan Haruka.

Tak lama kemudian, Kai bisa menduga bahwa itu adalah alat pendeteksi detak jantung dan alat pemancar gelombang untuk menstabilkan peredaran darah. Fellia disampingnya pun berpikir hal yang sama..

“Kalian siapa?” tanyanya lagi tanpa mengenalkan dirinya sendiri pada Kai dan juga Fellia. Ia daritadi berbicara dalam bahasa Indonesia. Sepertinya ia juga orang Indonesia. Atau dia memang menguasai banyak bahasa seperti Haruka?

“Saya? Kim Jong In. Atau lebih sering dipanggil Kai.. Dan ini, pa.. AWWW!!”

Pria itu melihat aneh kearah Fellia yang baru saja menginjak kaki Kai, sambil mengaduh Kai melanjutkan kata-katanya, “Dan ini Assistant saja, Fellia.. Dan anda?”

“Panggil saya Joe.. Kansaki Joe..”

Fellia dan Kai bersamaan melotot melihat pria itu. Membuat Joe sedikit risih akan perlakuan mereka.

“Aku adalah dokter disini..”

“Dan kamu juga suami Haruka?”

Joe membelalakkan matanya kaget, “Tidak. Bukan tentu saja. Aku adalah anak angkat Tuan Kansaki. Karena itu namaku adalah Kansaki Joe.”

Kai melepas nafas lega, membuat Fellia sedikit sebal melihatnya. Ntah mengapa, rasanya Kai terlalu lega dan senang mengetahui Haruka tidak memiliki suami atau semacamnya. Dan karena hal itu, entah mengapa Fellia merasakan posisinya terancam.

“Kalian sedang apa disini?”

“Kami? Kami mendengar bahwa Haruka pingsan mendadak. Tentu saja saya sebagai Boss-nya harus mengunjunginya..”

“Ah.. Anda Tuan Muda Kai? Maaf atas perlakuan tidak sopan saya tadi. Hanya saja sekarang saya minta kalian untuk meninggalkan ruangan ini.”

“Kenapa?” tanya Kai polos

“Tentu saja agar tidak menggangu Nona Haruka..”

Fellia dan Kai sama-sama menganguk sambil mengikuti Joe keluar dari ruangan itu.

End of Author’s POV

**

Joe’s POV

Aku melihat kaku mereka berdua, oh ternyata ini adalah Kai. Yang daridulu nona Haruka suka. Kalian pasti berpikir mengapa aku memanggil gadis itu Nona Haruka? Padahal sudah jelas sekali kalau aku dan dengannya adalah saudara angkat? Walaupun aku sudah berhasil dan memiliki rumah sakit serta sangat dihormati. Aku tetap memanggilnya begitu.

Aku dengannya memang berbeda. Aku tidak ditakdirkan untuk mendapatkan cintanya, sehingga yang bisa kulakukan adalah membangun sebuah pertahanan untuk diriku sendiri agar tidak semakin jatuh. Salah satu caranya adalah menghormatinya. Membangun pagar agar aku tidak semakin mencintainya.

Dari kecil aku sudah mencintainya, menjaganya. Hanya saja ia tidak pernah menatapku, hanya saja. Matanya hanya melhat pria itu. Pria yang berdiri dihadapanku. Ia memang tampan, dan aku tau dia termasuk dalam keluarga Worldmine yang hebat itu. Hanya saja ada perasaan benci dan kagum ketika melihatnya. Aku benci ketika mengetahui kenyataan bahwa pria itu-Kai-  sama sekali tidak menyadari perasaan Haruka. Aku yakin gadis itu pingsan hari ini pasti karena pria ini.

Kenapa Haruka? Kenapa kamu harus mencintai pria ini?

Aku menyeret kakiku menuju ruanganku dan mempersilahkan mereka duduk diatas sofa sambil menyajikan mereka teh hangat yang dengan senang hati mereka terima.

Kai mengangkat gelas tanah liat itu lalu kemudian memberikannya pada Fellia hati-hati, gadis itu menerimanya sambil tersenyum. Padahal daritadi aku tidak melihatnya tersenyum, tipekal gadis yang sulit dimengerti dan sangat tertutup. Itu adalah kesan pertama yang aku dapatkan. Beda sekali dengan Haruka.

Aku dengan mudahnya bisa melihat pancaran cinta mereka. Begitu dalam dan hangat. Entah mengapa, aku bisa merasakan perasaan muak. Kenapa harus pria ini mencintai yang lain dan membuat Haruka menderita akannya?

Aku sudah melindungi gadis itu mati-matian dan ia harus hancur karena pria ini. Aku tidak sanggup melihatnya menangis. Dari kecil, aku selalu berusaha menjadi seseorang yang bisa berguna untuknya. Melindunginya, menjaganya. Bahkan aku menjadi dokter untuknya. Hanya untuk menjaganya. Dan semua itu menjadi sia-sia.

Aku mengepalkan tanganku dan mencoba menahan emosi. Kai hanya menatapku bingung, “Ada apa denganmu?”

Aku menggelengkan kepalaku sambil menarik napas, “Tidak apa-apa..”

“Bagaimana keadaan Haruka? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana ia bisa melewatkan checkup-nya begitu saja? Bukannya kalian tinggal serumah?”

“Dia baik-baik saja. Hanya tadi aliran darahnya tidak teratur. Aku.. Aku tidak tau kalau dia melewatkan checkupnya, aku pergi untuk konferensi kedokteran di Amerika…”

Kai menarik napasnya, “Kamu kakaknya kan? Harusnya kamu menjaga adikmu dengan baik…”

Lagi-lagi emosiku naik keatas ubun-ubun, apa dia menuduhku tidak menjaganya dengan baik? Dia kira siapa penyebab gadis itu jatuh pingsan kalau bukan dia?

Aku melirik Fellia, aku bisa merasakan bahwa dia mengerti perasaanku. Entah mengapa, dari tatapannya itu ia seolah mengerti segala hal. Ia menenangkan Kai dan kemudian menatapku, “Maaf. Kami minta maaf. Terutama akan perkataan Tuan Muda Kai yang kurang ajar. Kami akan lebih menjaganya kelak..”

Kai melihat Fellia sambil memelototkan matanya, Fellia hanya membalasnya singkat membuat pria itu akhirnya memalingkan wajahnya kesal.

“Kami akan pergi. Kami akan mengunjunginya nanti lagi ketika ia sadar. Tolong kabari kami akan keadaannya.. Kalau begitu.. Kami permisi..”

Fellia menarik tangan Kai sehingga pria itu berdiri, aku melihat gadis itu membungkuk hormat dan kemudian melangkah pergi dar ruanganku. Aku kembali duduk dan melonggarkan dasiku. Aku melihat kelangit-langit, menstabilkan aliran darahku.

Sial! Sekarang bagaimana aku bisa menyembuhkan hatimu, Haruka? Aku tidak bisa menyembuhkannya. Padahal aku bertekad ingin memberikan segala yang kau inginkan. Tapi sekarang bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?

End of Joe’s POV

**

Fellia’s POV

Kai menyetir mobil dengan sangat serius, sementara itu aku melihat kesekeliling jalan.

Joe tadi sangat marah pada Kai. Apa dia suka pada Haruka? Apakah benar Haruka pingsan karena Kai? Karena kami berdua? Jangan bilang kalau ia mendengar pembicaraan kami diatap gedung.

Bagaimana ini? Ia dalam bahaya, sementara aku bersama Kai. Dan hanya menyusahkan Kai? Mereka begitu akrab. Aku hanya saja takut gadis itu semakin lemah karena aku berada di sisi Kai.  Lagipula.. Mereka begitu cocok.. Aku.. Aku harus bagaimana?

Kai melihatku aneh ketika aku mengacak-ngacak rambutku bingung, aku hanya berdeham pelan dan kemudian ia kembali melihat kedepan.

Aku melihat Tokyo Tower yang berwarna merah itu menjulang dilangit sana, akhirnya setelah sekian lama. Aku bisa melihat tower itu dengan mataku sendiri. Dulu aku hanya bisa membayangkannya melalui gambar yang pernah kulihat, Ternyata tower itu memang luar biasa. Hanya saja, sama seperti kamu melihatnya didalam foto. Itu akan terlihat hebat. Tapi hanya itu, kamu tidak bisa berbuat apapun. Hanya bisa mengamatinya dengan perasaan kagum.

Ah.. Jadi.. Ini perasaan yang selama ini Haruka rasakan? Mencintai Kai namun ia hanya bisa melihat Kai? Ternyata perasaan itu sesesak ini ya? Aku tau.. Gadis itu tidak pernah mengatakannya, tapi melalui perkataannya. Tingkahnya. Gadis itu mencintai Kai.

Lagipula mereka adalah teman dari masih kecil, aku yakin ia pasti sudah begitu lama memendam perasaan ini. Aku harus bagaimana sekarang? Kalau saja aku belum mengetahui perasaanku saat ini, aku akan membantunya dekat dengan Kai. Tapi setelah kejadian tadi, apa yang harus aku lakukan?

“Apa yang sedang kamu pikirkan?”

Aku hanya menggeleng pelan, menjawab pertanyaannya dan juga menyadarkan otakku dari halusinasi tidak mungkin.

Tiba-tiba saja Kai meminggirkan mobilnya dan berhenti. Tak lama ia berpaling melihatku.

“Ada apa denganmu?”

Aku masih hanya menggeleng pelan, tak lama ia sudah melepas selt belt yang kugunakan dan menarikku kedalam pelukannya. Membuat detak jantungku menjadi 2 kali lipat lebih cepat. Membuatku takut ia mendengar detak jantung ini.

Kami sama-sama terdiam, tak lama aku bisa merasakan jemarinya mengelus kepalaku lebut dan membenamkan wajahnya dipundakku. Menarik napas disana.

“Sudah aku bilang kan? Jangan pernah berpikir bahwa kamu ingin meninggalkanku?”

Aku dalam pelukannya terkesiap mendengar perkataannya, apakah dia bisa mengetahui apa yang sedang aku pikirkan?

“Ke.. Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?” tanyaku bingung

“Tidak tau.. Hanya saja.. Aku sedang merasakan.. Kamu seolah akan pergi dariku..”

Aku tersenyum mendengarnya dan ia mengggelembungkan pipinya kesal, “Jadi kamu jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Apapun yang terjadi. Karena aku pasti mengetahuinya dan aku tidak akan pernah membiarkannya..”

Aku menganguk dalam pelukannya, “Kamu.. Kamu tau kalau..”

“Haruka mencintaiku? Tentu saja aku tau.. Aku juga tau kalau mungkin saja ia pingsan karena mendengar kita berdua diatap. Hanya saja, aku ingin mengetes. Seberapa besar Joe mencintai gadis itu.. Bukankah lebih baik mereka bersama? Sepertinya Joe sudah menjaga Haruka sejak lama.. Mungkin lain kali kita harus menjodohkan mereka berdua.  Aku tidak ingin gadis itu tambah sakit karenaku. Karena aku tidak mungkin mencintainya.. Satu-satunya gadis yang kucintai hanya kau..”

Aku tertawa sambil memukul punggungnya pelan, ternyata Kai tau semuanya ya? Aku menarik napas lega. Itu berarti aku tidak perlu melakukan apapun karena rasa bersalah. Aku masih belum mempercayainya. Hanya saja ketika ia berkata seperti itu, ada perasaan lega yang luar biasa dalam tubuhku. Aku seolah merasakan. Seolah berkata. Tidak akan ada orang yang bisa mengganti posisiku dalam hatimu. Dan aku bangga. Aku bahagia. Dengan kenyataan itu.

Tapi tunggu dulu. Sekarang.. Aku dan Kai.. Apa hubungan diantara kami? Pria itu berkata bahwa ia melindungiku, membuatku mempercayainya. Tapi ia tidak pernah memintaku untuk menjadi pacarnya. Tidak pernah meminta sesuatu dariku. Hanya saja dia begitu baik. Kenapa Tuan Muda seperti dia mau mencintaiku dengan begitu tulus serta dalam. Bahkan tanpa jawaban dariku. Kamu terlalu baik Kai..

Tiba-tiba saja aku bisa merasakan bahwa air mata mengalir.. Aigoo.. Kenapa aku bsia jadi secengeng ini?

“Kamu kenapa?” tanya Kai bingung seolah bisa merasakan pundaknya basah akibat air mataku, aku hanya bisa menggeleng dalam pundaknya. Ia tersenyum sambil mengelus-ngelus kepalaku..

“Kamu kenapa bisa begitu baik padaku? Padahal aku begitu jahat padamu..”

“Karena aku mencitaimu. Hanya se-simple itu. Aku tidak peduli akan seberapa sakit mencintaimu. Hanya saja aku sudah mempersiapkan hatiku untuk disakiti. Karena cinta butuh pengorbanan. Dan itu setara banget. Asal kamu tetap disisiku. Karena kamu adalah hadiah terindah untukku”

Aku masih tidak bisa berhenti menangis. Kata-katanya. Seolah menenangkanku. Seolah benar-benar dalam. Benar-benar tulis. Benar-benar hangat. Seperti mencairkan es dalam hatiku yang sudah lama kubekukan untuk melindungi hatiku.

Aku sepertinya benar-benar mencintaimu Kai.. Bagaimana ini?

If our love was a fairytale (Jika cinta kita adalah dongeng)
I would charge in and rescue you (Aku akan berubah dan menyelamatkanmu)
On a yacht baby we would sail (Di Yacht, sayang.. Kita harus
berlayar)
To an island where we’d say I do (Ke sebuah pulau dimana kita akan pergi.
Lalu kita mengatakan “aku bersedia”)

Aku tercengang sesaat mendengarnya bernyanyi. Ini adalah pertama kalinya aku mendengarnya bernyanyi. Dan yang bisa kukatakan hanya.. Suaranya sangat bagus. Suaranya itu sangat hangat dan dalam. Dan suaranya.. Sangat menghanyutkan. Ah.. Iya.. Dia membuat lagu waktu itu kan? Ternyata suaranya lebih indah kalau langsung ia nyanyikan..

And if we had babies they would look like you (Dan jika kita punya bayi, dia akan sepertimu)
It’d be so beautiful if that came true (Dia akan menjadi sangat cantik)
You don’t even know how very special you are (Kau bahkan tidak tau seberapa special dirimu)

Lagu ini.. Berjudul breathless ya? Lagu yang sudah lama sekali bukan? Lagunya.. Sangat indah jika Kai yang menyanyikannya. Sungguh sangat dalam.. Benarkah dan pantaskah jika lagu ini untukku?

You leave me breathless (Kamu membuatku tidak bisa bernapas)
You’re everything good in my life (Kamu adalah segala hal baik didalam hidupku)
You leave me breathless (Kamu membuatku
tidak bisa bernapas)
I still can’t believe that you’re mine (Aku masih tidak bisa percaya bahwa kamu adalah milikku)
You just walked out of one of my dreams (Kamu datang seperti mimpi)
So beautiful you’re leaving me (Kamu sangat cantik)
Breathless (Kamu membuatku
tidak bisa bernapas)

 

                “Kamu sangat special bagiku. Jadi jangan pernah pergi dariku.. Mengerti?”

Aku menganguk pelan sambil mendengarnya terus bernyanyi. Suara favoriteku..

End of Fellia’s POV

**

Haruka’s POV

Aku membuka mataku. Aku sudah menduganya. Bahwa aku pasti sedang berada dirumah sakit. Aku bisa merasakan suara kardiograf itu menghantuiku. Aku melihat kesamping dan melihat tabung oksigen disana. Tak lama aku melihat tanganku. Selang infus terpasang disana.

Apakah aku sebegitu parahnya? Sudah seberapa lama aku pingsan? 1 hari? 2 hari? Untung saja papa sedang tidak ada di Jepang. Kalau ada dia pasti akan panik sekali dan aku hanya akan menjadi bebannya. Sekarang bagaimana ini? Aku sama sekali tidak ada mood untuk bertemu dengannya. Aku.. Aku benar-benar patah hati. Aku akui itu.

Aku menoleh kearah satunya lagi dan akhirnya aku menyadari seseorang sedang tertidur disisi kasurku yang lainnya. Aku melepas nafas lega ketika aku mengetahui itu siapa. Joe..

Aku tersenyum sambil mengusap-usap rambutnya. Sudah berapa lama dia menjagaku sehingga tertidur disini? Maafkan aku Joe.. Aku selalu menyusahkanmu.. Selalu saja.. Selalu saja merepotkanmu.. Maafkan aku..

Joe bergerak ditempatnya, tak lama ia sudah bangun sambil mengucek-ngucek matanya. Ia mengangkat tangannya dan meraih pipiku, ia tersenyum. Senyum favoriteku..

“Sudah bangun nona? Kamu bagaimana bisanya melewatkan checkupmu dan membuatku panik?”

Tidak ada nada marah disana, ia sudah tau aku paling benci dimarahi. Ia hanya menasehatiku dengan nada pelan dan memberikanku sentuhan kasih sayang. Selalu seperti itu.

“Maafkan aku. Aku sangat sibuk..”

“Bukankah sudah kuberitahu? Seberapa sibuknya dirimu kamu juga perlu menjaga dirimu itu agar tidak menyusahkan orang lain.. Bukankah kamu ingin mandiri?”

Aku tersenyum sambil menyentuh tangannya yang masih mengelus pipiku, “Ya aku mengerti.. Aku tidak akan mengulanginya.. Jadi.. Maafkan aku..”

Aku suka senyumannya. Senyuman yang selalu hanya ia berikan untukku. Aku tidak tau bagaimana aku bisa hidup jika tanpanya. Joe adalah sosok yang selalu menjagaku. Dan melindungiku. Ia selalu menemaniku ketika aku sedih, senang, susah. Ia selalu membantuku, mengerti keadaanku. Melebihi siapapun.

Dia hanya kakak angkatku. Aku tau dihatiku.. ada perasaanku disana. Perasaan nyaman ketika bersamanya. Hanya saja aku tidak mengerti apa itu.

“Sekarang sudah jam berapa?”

Joe melihat jam tangannya. Jam tangan pemberianku. Waktu ia lulus dari kedokteran. Menggunakan hasil kerjaku sendiri. Aku berumur 17 tahun, aku loncat kelas. Setelah lulus dari homeschoolingku yang percepatan. Aku tidak kuliah, aku langsung bekerja untuk perusahaan Worldmine. Berbeda dengan Joe yang harus kuliah 4 tahun untuk mendapatkan gelar dokternya itu. Ya, dia lebih tua 6 tahun dariku. Umurnya 23 tahun sekarang. Jam itu, sudah 2 tahun ia gunakan. Ia menjaganya dengan sangat baik.

“Jam 9 pagi. Ah! Aku hampir telat untuk rapat pagi. Kamu lapar? Ada yang sakit?”

Aku menggeleng pelan sehingga tak lama ia berdiri, “Baiklah.. Jaga dirimu sendiri..”

Tiba-tiba saja aku terdiam ketika melihatnya menundukkan kepalanya dan mengecup keningku. Sudah lama sekali ia tidak melakukan hal ini. Ada apa dengannya..

Ia melihatku kaku dan tak lama ia hanya tersenyum dan keluar ruangan. Aku bisa merasakan detak jantungku meningkat. Ada apa dengannya? Aku bisa merasakan bahwa ia menjagaku, tapi ia juga menjaga jarak denganku. Tapi mengapa ia tiba-tiba menjadi seperti ini? Apakah ia begitu panik sehingga ia menjadi seperti ini?

Aku memalingkan pandanganku kearah pintu. Kecupan itu. Aku sama sekali tidak menganggapnya buruk. Bahkan mungkin aku suka. Apa aku gila?

Tuhan, jangan buat aku seperti ini. Aku tidak ingin. Joe. Menjadi pelarianku. Tidak ingin.

Aku menggeleng kepalaku kuat, berusaha menghilangkan mimpi yang tiba-tiba saja merasuki otakku. Aku perlu kesegaran saat ini.

End of Haruka’s POV

**

Kai’s POV

Aku berjalan menyusuri jalan setapak ini. Kenapa gadis itu sudah diperbolehkan keluar ruangan? Padahal kemarin kan ia masih terkapar lemah?

Aku menuntun langkahku sambil berhati-hati membawa bunga tulip ditanganku. Ya memang sangat susah mencari bunga ini, apalagi sekarang sedang winter dan bunga itu hanya tumbuh saat spring atau musim semi. Tapi beruntung aku bisa mendapatkannya. Gadis itu suka sekali bunga ini. Bunga yang seperti mahkota ini semakin cantik dengan warnanya yang beragam. Aku tidak ada maksud apapun dengan bunga ini, aku hanya ingin membuatnya senang..

Tak lama, aku bisa melihat sebuah pondok diujung setapak itul. Seorang gadis duduk diatas kursi roda. Ia menggunakan pakaian tebalnya, dan juga selimut menutupi kakinya. Ia cantik disana. Sangat cantik. Ia memakai baju berwarna pink, membuat dirinya menjadi satu-satunya yang berwarna ditengah putihnya salju.

Aku menggosok-gosok pelan tanganku yang sudah kedinginan. Apakah gadis itu tidak akan mati beku jika dibiarkan seperti itu?

Ia terkejut ketika melihatku, aku hanya tersenyum sambil memberikan bunga itu padanya. Ia hanya tersenyum singkat sambil mengambil bunga yang aku berikan.

Haruka tersenyum senang ketika ia bisa menghirup bau bunga tulip itu. Warna mukanya menjadi lebih baik.

“Kamu tidak apa-apa?”

Ia menganguk pelan, seolah menghindar dari pembicaraan. Apa ia sedang marah padaku?

“Kamu baik-baik saja? Sudah baikkan? Kenapa Joe membiarkanmu disini tanpa pengawasan?”

Ia berbalik melihatku, “Aku sudah baik-baik saja. Aku ingin mencari udara saja. Lagipula siapa bilang tidak ada yang mengawasiku? Aku yakin dalam ruangan itu ada sekitar 10 suster yang mengawasi aku..”

Aku pun melihat arah tunjuknya dan tak lama tertawa pelan ketika melihat beberapa suster berebut tempat untuk melihat kearah kami. Ia pun ikut tertawa bersamaku..

“Terima kasih bunga tulipnya. Pasti susah sekali untuk mencari bunga ini. Bagaimana kamu bisa tau aku suka bunga tulip?”

“Aku masih bisa mengingat pertemuan kita. Dirumah kaca rumahku. Diantara semua bunga cantik yang ditanam, kamu hanya melihat bunga Tulip. Bunga yang sebenarnya tidak ada specialnya. Tapi ia cantik dan sangat berharga..”

Aku sebenarnya sadar kalau ia sudah meneteskan air matanya, walaupun ia membelakangiku. Aku melepaskan jaket yang sebenarnya tidak rela aku lepaskan dan memakaikannya ke pundak Haruka. Tak lama aku mengitari kursi roda itu kemudian berlutut melihatnya.

Gadis itu seperti Fellia. Menunjukkan kesedihannya. Ia polos. Hanya dengan melihatnya, orang pasti akan berpikir untuk melindungi gadis ini. Ia begitu lemah dan sepertinya rapuh. Aku mengangkat tangan dan kemudian mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya.

Aku tersenyum melihatnya, “Haru-chan. Arigato ne (Terima kasih).. Karena kamu sudah menyukaiku..”

Tangisnya pecah sekarang, pipinya semakin memerah dan teriakkannya semakin kencang. Tapi aku hanya mengelus kepalanya lembut dan terus menatapnya, “Tapi.. Gomen ne (Maaf ya) ? Aku tidak bisa menyukaimu..”

Gadis itu menganguk pelan disela-sela tangisnya, aku masih terus mengusap air matanya itu.

“Kamu tau kan kalau aku hanya bisa melihat gadis itu? Fellia.. Aku hanya bisa melihat Fellia. Aku hanya bisa mencintai gadis itu, entah mengapa. Tapi aku juga menyayangimu, aku menyayangimu seperti adik kecilku. Aku menganggapmu seperti itu semenjak pertemuan pertama kita. Maafkan aku mengecewakan kamu yang sudah menungguku 10 tahun.. Benar-benar.. Gomenasai..”

“Kamu tidak salah. Hanya aku saja yang bodoh, terus mencintaimu seperti itu..” ucanya pelan sambil sesengukan.

“Kamu tidak mencintaiku, Haru-chan..”

Dia menatapku bingung, “Kamu hanya menyukaiku.. Tapi kamu tidak mencintaiku.. Kamu hanya kegum padaku.. Tidak mengertikah kamu?”

Gadis itu menggeleng pelan melihatku dan aku lagi-lagi tersenyum, “Yak.. Mencintai seseorang salah satu tandanya adalah tidak bisa hidup tanpanya. Tapi selama 10 tahun ini kamu baik-baik saja kan? Itu berarti kamu tidak mencintaiku.. Sebenarnya kamu sudah memiliki orang yang kamu cintai. Hanya saja kamu tidak menyadari hal itu..”

Aku berdiri kemudian mendorong kursi roda gadis itu mengikuti jalan setapak itu, “Orang itu selalu baik padamu. Ia ada untukmu, dalam keadaan apapun. Mendukungmu tanpa alasan. Dan selalu mengerti dirimu. Ia tidak meminta apapun. Asal kamu ada dalam jarak pandangnya. Baginya itu cukup. Sama seperti aku mencintai Fellia. Ketika ia berada disisiku, aku tidak butuh apapun lagi.. Hanya dia..”

“Kamu tidak akan bisa hidup tanpanya. Ketika kehilangan dia, kamu akan merasakan seluruh duniamu hilang. Kamu kehilangan orang yang bisa menopang hidupmu.. Dan kamu sebenarnya tau orang itu..”

Aku merendahkan kepalaku dan mensejajarkan bibirku dengan telinganya, “Lihatlah kedepan.. Orang itu yang kau cintai.. Orang itu Joe..” ucapku pelan sambil melihat kedepan.

Joe didepan kami sedang mengatir nafasnya dan melihat kami bingung. Sesaat kemudian tangis Haruka kembali pecah dan ia mulai meracau tak jelas. Aku tersenyum, aku tau ia adalah tipekal gadis yang selalu menyimpan segalanya sendirian. Tapi ada saat dimana gadis yang tau segala hal ini perlu dituntun untuk mendapat jalan yang benar.

Joe segera saja berlari dan berlutut dihadapan Haruka, “Ada apa denganmu? Kai.. Apa yang…”

Haruka beranjak dari kursi rodanya untuk memeluk pria itu, menghentikan Joe yang hendak memarahiku. Aku hanya tersenyum untuk membalas tatapan bingungnya dan beranjak pergi dari tempat itu.

“Joe-a.. Gomen.. Aku tidak sadar.. Aku.. Aku juga mencintaimu.. Maafkan aku.. Gomen..”

Pria itu beku ditempatnya sesaat tapi dengan senyum tulusnya ia mengelus kepala gadis itu, berusaha menenangkannya..

“Syukurlah.. Kamu menyadarinya..”

End of Kai’s POV

**

Author’s POV

“Darimana saja kamu?”

Kai menatap Fellia yang dengan galak membukakan pintu, ia segera saja berlari memeluk gadis itu. Dan dengan kikuk Fellia membalasnya..

“Ada apa denganmu?”

“Tidak.. Hanya saja aku baru saja menyatukan pasangan. Haruka dan Joe tadi.. Tiba-tiba saja aku kangen padamu dan ingin memelukmu..”

“Apa yang kamu lakukan pagi-pagi begini? Kamu sudah breakfast?”

“Kamu hanya memberitahukan Haruka akan perasaannya yang sebenarnya.. Aku belum sarapan.. Buatkan aku..”

Fellia melepas pelukannya dan kemudian menggenggam tangan Kai dan menuntun pria itu masuk keruang makan, “Aku sudah membuatkanmu nasi goreng..”

“Ah.. Sepertinya enak.. Itadakimasu!!!” ucap Kai cepat sambil mengambil sendok dan segera saja memulai makannya..

“Tuan muda..”

“Panggil aku Kai..”

“Yaya.. Aku mengerti… Kai.. Makan pelan-pelan.. Nanti kamu bisa tersedak..”

Pria itu mengacungkan jempol tangan kirinya. Tapi ia sama sekali tidak mengurangi kecepatan tangannya yang mengoper nasi goreng itu kedalam mulutnya. Fellia hanya bisa menggeleng kepala pelan.

Tiba-tiba saja Fellia teringat akan sesuatu.

“Kai.. Apakah kamu tau tentang MAIDROBOTO?”

Seketika itu juga tangan Kai terhenti dan ia tersedak.. Cepat-cepat ia mengambil gelas berisi air putih itu dan segera meminumnya. Fellia dihadapannya tidak mengerti. Sesaat setelah pria itu sudah tenang, ia kembali melihat Fellia..

“Bagaimana kamu bisa tau tentang MAIDROBOTO?”

“Tentu saja dari documment perusahaan..”

“Aku tidak ingin membahas tentang itu..”

“Kenapa?” tanya Fellia masih bingung dan penasaran..

Kai berdiri dari kursinya, “pokoknya.. Jangan bahas tentang itu..” ucapnya dingin sambil meninggalkan Fellia diruangan itu.

Fellia hanya terdiam. Ia belum pernah melihat Kai seperti itu. Ada apa dengannya?

End of Author’s POV

**

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: ,

4 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Sacrifice” – Part 5

  1. Cynthia September 12, 2012 at 1:55 AM Reply

    Apa itu maidroboto??? Kok smpi gt bgt kai??
    Aduhh semakin dlm ni perasaanx x_x
    Ditgu part selanjutx 😀

    • exo1stwonderplanet September 15, 2012 at 10:44 AM Reply

      Apa hayo maidroboto? Hihihi..
      Yang jelas robot ya kan xD
      Tapi ada kisah dibalik itu semua ^^
      Thanks for reading ^^

      -HJS

  2. Baekhyunnie~Bacon June 24, 2013 at 1:22 PM Reply

    Annyeong……. Nana imnida,
    aku suka banget ma ff author yang Sacrifice ini, keren banget alurnya..
    Complicated dah, jadi ketagihan pengen baca terus…..
    DAEBAK!!!!!
    Tapi part selanjutnya gimana thorrr ????

  3. Nurlaely D March 27, 2016 at 6:32 PM Reply

    Wah ada yg gk beres nih,, siapa ya kira2 org itu??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: