EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 4

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Nimic”

*Title :Nimic.

*Sub Title :The Fourth – Revealed Time.

*Main Cast :

  • Luhan
  • Han Soon-Na
  • Kim Je-Si

 

*Length :Series

*Genre : Romance, Friendship

*Rating : PG-13

*P.S : This is a story before Luhan joined EXO. In this story, Luhan melewati masa SMA-nya di Korea.Sebelum akhir-nya ke China dan kembali lagi Korea.Tulisan miring tidak berwarna adalah masa lalu.

*Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

Summary :

 

No one care about me except you.

We grew up together.

Cry together.

Laugh together.

I just want be like this forever.

Until I realized that we cant be like this forever.

Cause I believe, slow but sure.

I’ll be Nimic for you.

Nothing.

 

**

We grew up together.

Having you in my side.

Protect you.

Loving you without answer.

That’s all like I wanna do until the rest of my life.

But I realized that I am, Nimic for you.

Nothing.

**

Three of us met by fate.

Three of us are best friend.

But actually, I realized that I’m Nimic for you two.

May be im just passing by person in your memories.

I just make everything more complicated.

I should not be born in this world.

Nothing.

 

**

 

Je-si mengangkat kepalanya setelah beberapa detik menunduk, “Thank you for today, Mr.Akira.”

Pemuda itu berbalik dan menatap Je-si, “Yup. Your photos are so amazing, Han-san. Love to work with you. Well, see you tonight.” kata Pria itu sambil tersenyum dan memberikan kamera SLR-nya pada asisten pria berambut panjang yang selalu bersamanya. Tanpa berkata-kata lagi, pria itu meninggalkan Je-si yang masih menatap sebuah layar.Layar itu berganti-ganti dengan foto-foto hasil pemotretannya selama kurang lebih 3 hari ini.Tidak ada yang buruk, semuanya tampak indah dan begitu artistik.Apalagi mengingat bahwa fotografer tadi bukanlah orang biasa-biasa. Hanya saja dimata gadis itu, ia menangkap sebuah kebohongan. Ia sendirilah yang tau kalauia berpura-pura sesuai script. Ia merasa tidak hidup dan bahkan mati difoto itu. Ia tidak melihat dirinya yang hidup dalam dunia modeling dalam foto ini. Dan lagi-lagi menyesal.

Mike tiba-tiba saja muncul dari belakang gadis itu dan menepuk bahu-nya. Je-si berbalik dan tersenyum sambil meraih segelas coffee dalam cangkir kertas yang diberikan Mike dengan kedua tangannya.

“Berhentilah memberikanku senyum seperti itu, Je-si-a.Aku tidak suka melihatmu seperti ini.”

Je-si melangkahkan kakinya menjauh lalu pada akhirnya duduk diatas kursi kain yang dipersiapkan untuknya, “Ada apa dengan senyumku, Mike?Terlalu mempesona?”

Pria itu menggeleng, “Terlalu palsu.Dan kamu tau itu.”

**

Je-si melihat gelas berisi white wine itu dengan malas. Angin di balkon hotel itu cukup menusuk kulitnya, tapi ia tidak berbuat apa-apa dan hanya tinggal disana sampai puas. Cahaya bulan begitu terang sehingga membuat Je-si tampak lebih cantik dibawah sinarnya.

Gadis itu menggunakan sebuah gaun pesta yang begitu cantik.Gaun itu melilit leher-nya, tubuhnya sendiri terbungkus dengan kain berwarna merah menyala itu.Dibagian paha dan diatas lutut, dress itu membentuk seperti ukiran mawar yang mekar.Menunjukkan betapa jenjang dan juga putih kaki gadis itu. Hanya saja wajahnya tidak menunjukkan senyum sama sekali sehingga mengurangi kecantikannya malam itu.

“What are you doing here? You are the main cast tonight.”

Je-si menoleh dan mendapati photographer tadi siang sudah berdiri dibelakangnya menggunakan tuxedo berwarna gading.Sangat tampan untuk ukuran pria jepang.Pria itu tidak tersenyum, mukanya bahkan terlihat sangat serius.Matanya membuat pria itu semakin tampan karena tajam.

“Im not in the mood, Akira-san.” ujar gadis itu dengan nada lemah.Ia tidak menatap Akira lagi dan kembali dengan serius menatap white wine itu.

Akira berjalan mendekat dan kemudian bersandar di pembatas balkon, hanya beberapa senti jarak mereka dan Je-si merasa tidak peduli sama sekali.

“I love your style, Han-san.”

“You can call me Jessy, Akira-san.” sela Je-si tiba-tiba membuat pria itu tertawa.

“Aku bisa bahasa Korea sebenarnya..” ungkap Akira dengan seulas senyum membuat Je-si mau tidak mau menoleh kearahnya. Kagum karena pria itu berbicara dengan Bahasa Korea tanpa aksen sama sekali dan bahkan sama sekali tidak cadel seperti kebanyakan orang Jepang.

“Anda hebat sekali, Akira-san.”

“Berhentilah bersedih, Jessy-san.Kamu terlihat begitu indah seperti mawar, hanya saja lihat dirimu.Kamu seperti mawar yang menunggu kematiannya padahal sedang baru mekar-nya.”

Pria itu berdeham sebentar, “Sejak pertama kali melihatmu, aku melihat sesuatu yang palsu dalam senyummu.Semua orang seperti itu, aku pun begitu.Tapi dari sekian banyak orang yang kutemui, aku paling tidak menyukai senyum palsu-mu, Jessy-san.Aku tau senyummu tetap merekah dan menawan, tapi senyummu itu membuatku terbeban.Aku seperti ingin membuatmu menangis daripada berpura-pura seperti itu, Jessy-san.”

Je-si tertawa sesaat lalu beberapa saat menatap pria itu dalam-dalam, “Kamu pernah jatuh cinta, Akira-san?”

Pria itu menggeleng membuat Jessy mendengus pelan, tapi pria itu menarik Je-si mendekat untuk melihat matanya.“Aku bahkan tidak sempat mengakui kalau aku jatuh cinta padanya, Jessy-san.Dia gadis yang begitu baik, rupawan.Hanya saja ia sudah memiliki ksatria-nya sendiri ketika aku datang dan aku tidak bisa masuk diantara mereka.”

“Jadi kamu hanya menyerah begitu saja, Akira-san?” tanya Je-si semakin penasaran. Sayangnya pria itu tidak langsung menjawabnya.Pria itu menatap red wine yang dipegangnya, mencium baunya sesaat setelah mengocoknya pelan lalu meminumnya sampai gelas itu kosong.

“Maunya tidak.Tapi aku memilih untuk menyerah.”

“Kenapa?”

Pria itu melipat tangannya dan memilih untuk membalas tatapan keingintahuan gadis itu, “Karena bagiku, saat mencintai seseorang bukanlah harus memiliki.Lagipula aku belum tentu bisa melindunginya.Dan juga karena aku yakin kalau cinta tidak bisa dipaksakan.”

“Dan akhirnya setelah melepaskan gadis itu, aku tau kalau seandainya aku bukan mencintainya.Aku hanya terbiasa bersamanya. Untuk beberapa saat aku mungkin hancur, tapi akhirnya aku baik-baik saja karena ada gadis lain yang menungguku. Gadis yang rela tersakiti berkali-kali demiku.Gadis itu mirip denganmu, Jessy-san.”

Akira tiba-tiba saja melepaskan jas yangia gunakan dan menyampirkannya di bahu gadis itu, mereka sangat dekat dan bahkan bibir pria itu sudah berada dibelakang telinga Je-si. “Pilihlah orang yang tidak bisa hidup tanpamu, Jessy-san.Sebelum kamu menyesal sepertiku.”

“Maksudmu?” tanya Je-si dengan suara serak ketika mendapatkan pita suaranya kembali. Akira menepuk bahu Je-si lalu berbalik, tapi untuk sesaat pria itu terhenti.“Dia meninggalkanku.Jauh.Sampai aku tidak bisa mengejar kedunianya.”

Je-si menelan ludahnya ketika mendengarkan perkataan Akira.Lemah dan sakit.Je-si bahkan tidak sadar kalau sebulir air mata tadi sudah jatuh dipipinya.

**

Soon-na turun dari sepeda Luhan dan memaksa kakinya untuk berlari sementara tangannya terlipat didepan dada, menahan dingin untuk menusuk tubuhnya.Sesekali matanya mengerjap antusias ketika melihat beberapa bintang dilangit berkelap-kelip menyapanya.

“Hanhan-a!Kemarilah.” ucap Soon-na sambil menyusul pria itu dibelakang dan tak lama kemudian menyisipkan jari-jarinya disela jari Luhan.Membiarkan Luhan membungkus tangannya, membuat sekujur tubuhnya menjadi lebih hangat.

“Tempat ini terlalu indah, Hanhan-a.Tempat ini tidak pernah berubah.”

Luhan tidak menjawab, ia menganguk sebagai gantinya tepat saat gadis itu melirik kearahnya. Luhan tersenyum ketika tangan Soon-na yang lain berusaha menggapai langit. Dengan gemas pria itu melompat seolah menangkap sesuatu dan menunjukkan kepalan tangannya ke Soon-na membuat gadis itu bingung.

“Aku menangkap bintang barusan.Memang bukan bintang jatuh, tapi bintang ini juga bisa mengabulkan permintaan, Na~ya.”

“Bagaimana bisa?” ucap Soon-na menanggapi Luhan sambil terkikik.

“Tentu saja bisa! Karena aku yang menangkapnya! Kamu tau kan kalau aku ini bintang-mu, Na~ya. Aku yang akan selalu menerangimu, menuntunmu, menjagamu. Seperti bintang kutub utara.” kata Luhan dengan suara tegas.Soon-na menganguk lalu memegang kepalan tangan itu dan menutup matanya.Mulai memohon.

Semoga ini untuk selamanya.Aku dan Luhan.Selamanya.

Permintaan gadis itu tidak pernah berubah. Dari kecil sampai ia besar, permintaan gadis itu selalu sama. Ia tidak pernah membiarkan Luhan tau. Ia tidak ingin Luhan terbeban akan hal itu, ia hanya ingin Luhan tetap berada disisinya dengan kemauan pria itu.

Seringkali Soon-na berpikir untuk melepaskan pria itu.Ia berpikir mungkin saja Luhan bosan dengannya, mungkin saja Luhan ingin lepas dari gadis sepertinya dan mencari yang lebih cantik. Seperti Je-si misalnya.Tapi setiap memikirkan hal itu, hati gadis itu sakit.

Ia sama sekali tidak mengerti apa yang ia rasakan. Tapi dalam pikirannya, dalam hatinya.Ia ingin bersama pria itu terus sampai akhir hayat. Karena hanya Luhan lah yang ia punya sejak kecil. Hanya Luhan lah yang bisa membantunya keluar dari keterpurukan masa lalu yang sangat menyiksa.

Disaat semua orang meninggalkannya.Disaat keluarganya mencampakkannya dan juga menyakitinya.Hanya Luhan yang berdiri dipihaknya.Hanya Luhan yang mengasihi gadis itu dengan tulus.Melindungi gadis itu dengan sepenuh hati.

Beberapa tahun terakhir, ia selalu takut mengetahui mereka beranjak dewasa. Pria itu terlalu tampan, terlalu berbakat, terlalu sempurna untuknya.Ia selalu berusaha untuk menjadi Soon-na yang biasa, atau kalau bisa ia ingin menjadi Soon-na yang tidak dikenal siapapun sehingga hanya Luhan lah yang bisa melihatnya. Sehingga hanya Luhan yang bisa menggapainya.

Soon-na adalah sosok gadis cantik yang sempurna dimasa kecilnya.Ia adalah putri setiap orang dulu. Tapi semuanya berubah ketika takdir mengkhianatinya.Ia berubah menjadi gadis pendiam dan terlihat angkuh dimata semua orang. Ia hanya ingin menutup diri sehingga hanya Luhan seorang lah yang tau luar dan dalam gadis itu.

“Na~ya..”

Aku mencintaimu.Tetaplah disisiku.

Luhan tidak melanjutkan kata-katanya.Ia terlalu takut merusak moment ini. Hatinya tidak pernah menyukai siapapun selain gadis itu.Hatinya tidak pernah mencintai siapapun selain gadis itu.Dan hatinya tidak pernah sakit karena siapapun selain karena gadis itu.

Dulu, saat bertemu dengan gadis itu.Ia cuma menganggap Soon-na adalah salah satu bagian malaikat mungil yang turun kedunia. Soon-na seperti putri kecil yang sangat dicintai banyak orang.Dan pertemuan pertama mereka dipenuhi rasa buah Apel.Waktu itu ulangtahun ke-3 gadis itu.Pesta besar diselenggarakan di rumahnya yang mewah.Semua orang terlihat bahagia kecuali gadis itu sendiri.Ia duduk menyendiri diayunan sambil menatap banyak orang berlalu lalang. Orangtuanya bahkan lebih sibuk promosi bisnis mereka dibanding mencium keningnya dan mengucapkan selamat ulang tahun. Gadis itu bahkan nyaris menangis karena merasa tidak ada yang peduli dengannya

**

“Annyeong haseyo.. Choneun..Luhan imnida.”

Soon-na kecil mengadahkan wajahnya, mencari wajah pemilik suara itu.Matanya sedikit berkaca-kaca ketika melihat anak kecil itu.Soon-na tidak berbicara dan hanya menatap dalam-dalam.

“Saengil chukae.Pestamu hebat.” ucap anak kecil itu sambil mengacungkan kedua jempolnya dihadapan gadis itu.Soon-na masih tidak merespon dan tetap diam. Luhan kecil memiringkan wajahnya tidak mengerti.Ia sebenarnya berpikir untuk pergi saja kalau gadis itu tidak meresponnya sama sekali.

Tapi ia malah panik ketika gadis kecil itu malah menangis dalam diam, masih terus menatap Luhan.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Luhan kecil yang masih sangat polos. Ia tau gadis itu sangat tidak baik-baik saja. Tapi hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.

Luhan kecil mengerutkan keningnyaketika gadis kecil itu mengulurkan tangannya dan membuka telapak tangannya dengan mulut mengkerucut, “Dimana hadiahku kalau begitu?”

Tak lama Luhan kecil tertawa dan mengacak-acak rambut gadis kecil itu, “Yak!Kamu merusak rambut seorang tuan putri!”

Luhan duduk dihadapannya lalu memeriksa apa yang kira-kira ada didalam tas-nya. Beberapa saat kemudian ia tersenyum.

Soon-na kecil mengerjap-ngerjapkan matanya bingung.Ia tidak pernah mendapat hadiah ulangtahun seperti ini. Tapi ia justru malah bahagia dan mengambil apel itu hati-hati, menatapnya seperti Barbie keluaran terbaru.

“Makanlah!” ucap Luhan kecil. Kedua tangan Luhan itu disatukan didepan wajahnya, ia menerka apakah buah itu masih enak atau tidak. Disisi lain, Luhan juga memuja paras Soon-na kecil yang begitu rupawan.

Soon-na kemudian menurut, ia membuka mulutnya dan mulai menggigit apel itu dengan gigitan kecil. Tapi tak lama, Soon-na malah menangis.“Manis.” ucapnya pelan sambil tersenyum disela-sela derai air matanya.

Luhan tersenyum lalu tanpa sadar maju dan memeluk Soon-na erat-erat, “Kamu suka sekali menangis?”

Gadis itu menggeleng tegas. “Aku..tidak tau kalau seandainya masih ada orang yang memerhatikanku seperti ini. Biasanya orang hanya mendekatiku karena ada maunya.Memasang senyum palsu mereka.Lalu akhirnya membuangku ketika mereka sibuk.”

Luhan mengelus-elus rambut gadis itu dan mencium puncak kepalanya, “Bagaimana kalau mulai sekarang. Aku, Luhan yang akan melindungimu. Memerhatikanmu.Dan juga menemanimu?”

“Apakah kamu benar-benar mau?” tanya gadis kecil itu lunglai seperti capek mempercayai seseorang. Tapi tiba-tiba saja ia terpana ketika merasakan angukkan tegas di bahu-nya, “Tentu saja. Aku akan melakukannya. Menjadikannya pekerjaan seumur hidupku.”

“Tapi kamu harus janji satu hal padaku.”

“Apa?” tanya Soon-na kecil penasaran. Tangannya mulai memeluk pinggang Luhan dan meresapi dalam-dalam kehangatan yang baru kali ini ia rasakan. Lebih hangat dan manis dari semua pelukan yang pernah ia rasakan.

“Maukah kamu menjadikanku pangeranmu?Menjadikan aku orang pertama yang mengetahui apapun tentangmu pertama kali?Ehm?Syaratnya mudah, kan?”

Soon-na kecil menganguk antusias dan kemudian melepas pelukannya.Ia berusaha untuk melihat mata Luhan lebih jelas, “Aku berjanji.”

**

Soon-na menangis seorang diri didalam kamar.Ia baru saja mendengar kalau seandainya Luhan akan pindah ke China dan meninggalkannya seorang diri.

Setelah masa lalu kelam yang membuatnya seorang diri tinggal bersama saudara yang membencinya, sekarang pria itu juga akan meninggalkannya?

Ia menangis keras-keras dengan bantal sebagai sumpalannya. Ia seperti tidak yakin bisa melewati hari-hari dimasa depan. Ia seolah berpikir bahwa masa depannya akan kacau tanpa pria itu. Bagaimana tidak?Salah satu cita-cita gadis itu adalah meraih apapun bersama pria itu.

**

“Na~ya.Berbicaralah padaku.Jangan diamkan aku seperti ini.” ucap Luhan dengan nada meninggi.Ia mencengkeram tangan Soon-na kuat-kuat. Membuat Soon-na tidak bisa lari kemanapun.Air mata jelas-jelas sudah turun dipipi gadis itu, menunjukkan seberapa hancurnya dia sekarang.Mungkin semua orang berpikir bahwa Luhan dan Soon-na hanya sepasang sahabat berumur 13 tahun yang hanya tidak dipisahkan karena terlalu sering bersama.Semunya salah, mereka lebih dari itu.Mereka tidak bisa dilepaskan dengan apapun juga.

“Kamu tau dengan jelas, Hanhan-a!”

Luhan menatap mata gadis itu.Ia melihat penampilan Soon-na yang tertutup. Menggunakan pakaian rapi seperti peraturan sekolah, dan bahkan lebih memilih menggunakan kaca mata tebal untuk menutupi mata indahnya.Ia bersyukur gadis itu menjadi seperti itu. Ia bersyukur menjadi satu-satunya orang yang bisa mengetahu gadis itu melebihi apapun.

Luhan melepaskan cengkeramannya.Ia mengangkat kedua tangannya dan mengusap pelan-pelan air mata Soon-na yang jatuh. Tapi perlakuan itu membuat Soon-na menangis lebih deras dari sebelumnya. Soon-na membiarkan Luhan melepas kacamatanya, ia hanya ingin menangis sekeras-kerasnya. Menyalurkan betapa hatinya sakit mengetahui pria itu akan meninggalkannya.

“Kamu akan meninggalkanku, Hanhan-a. Aku akan sendirian. Dan bagaimana kamu pikir aku bisa hidup tanpamu?”

“Aku juga begitu, Na~ya.” balas Luhan dengan suara serak.Luhan mengelus-elus kepala gadis itu.Merasakan tubuh gadis itu bergetar dengan hebatnya.

Hati Luhan merasa sakit luar biasa melihat gadis itu menangis dengan begitu deras seperti ini. Ini ke-2 kalinya ia melihat Soon-na menangis begini parah, sebegini putus asanya. Tapi ia menikmati hatinya sakit. Ia tidak berusaha untuk memberhentikan tangis itu. Ia tidak pernah mengungkapkan betapa ia mencintai gadis itu, jadi tangis itulah yang meyakinkan dirinya bahwa Soon-na masih membutuhkannya. Menunjukkan bahwa setidaknya pria itu punya hak untuk tetap berada disampingnya.

Ketika mencapai batas kesabarannya, Luhan menunduk sedikit lalu mengadahkan kepala Soon-na supaya bisa melihatnya.Dengan lembut, Luhan menyentuhkan bibirnya dimata kanan gadis itu.Awalnya Soon-na terkesiap, tapi gadis itu terdiam.Beberapa saat kemudian, Luhan gantian mengecup mata kiri gadis itu.

Soon-na masih sesengukkan ditempatnya, tapi ia sudah tidak mengeluarkan air mata lagi. Ia menikmati waktu-waktu seperti ini. Berusaha menyimpannya rapi didalam ruangan memori otaknya. Soon-na tertarik begitu saja masuk kedalam pelukan Luhan, dan rasa hangat dan manis itu menyeruak ditubuhnya. Ia selalu merasa nyaman dipelukan pria itu.

Rasa geli menghampiri Soon-na ketika ia merasakan bibir Luhan berhenti dibelakang telinganya, tempat tersensitifnya. Ia bisa merasakan dan juga mendengar dengan jelas napas tidak teratur pria itu. Pelukan pria itu semakin menguat, “Tentu aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan membawamu. Aku sudah mengurus semua suratmu, Na~ya.Kamu adalah bagian keluarga Xi.Kami sangat menyayangimu dan tidak mungkin meninggalkanmu.Percayalah padaku.”

Tangan Soon-na bergerak untuk melingkar dipinggang Luhan dan pelukan mereka berdua semakin erat.Apalagi ketika Soon-na merasakan matanya semakin panas karena terharu.Ia bahagia,ia tidak akan kehilangan pria itu kali ini.

Apapun yang dikatakan Luhan, takkan tanpa ragu dipercayai gadis itu.

**

“Hanhan-a.. Jika saja suatu saat aku menemukan orang yang kucintai..Apakah kamu akan melepaskanku?”

Luhan terhenti, membuat gadis itu tertahan dan tidak melangkah lagi. Hati Soon-na takut luar biasa bertanya itu, tapi ia hanya ingin memastikan sesuatu. Sekalipun jawaban yang akan ia terima hanya menyakkiti, itu lebih baik daripada harus tersiksa penasaran seumur hidup.

Soon-na merasa hangat dipunggungnya, tak lama kemudian sepasang tangan melingkar dan memeluk perutnya erat. Soon-na dengan jelas  bisa mendengar deru napas Luhan. Pria itu meletakkan dagunya dipundak gadis itu.Ia masih membungkam mulutnya. Soon-na bisa merasakan bahwa tangan Luhan gemetar, tidak hanya itu.Seluruh tubuh pria itu.

“Aku..”

Luhan menghela napas, “Molla, Na~ya.Apa kamu berpikir bahwa aku bisa melepaskanmu?”

Soon-na tersenyum lalu memegang erat tangan Luhan, ia menyenderkan tubuhnya dengan Luhan sehingga mereka saling menopang satu sama lain. Senyum yang terukir manis dibibir gadis itu semakin lebar ketika Luhan mengecup kepala gadis itu lama.

Apa kamu pikir aku bisa melepaskanmu, Na~ya?

Aku tidak mungkin melepaskanmu.

Ingatkah kamu akan janjimu?

Janji yang mengatakan bahwa aku lah yang hanya akan menjadi satu-satunya pangeranmu?

Jika suatu saat kamu menemukan orang yang kamu cintai..

Dan itu bukan aku..

Aku tidak akan melepaskanmu.

Kecuali…

Kamu memohon sampai nangis dihadapanku.

Memohon untuk aku mengembalikan tahta pangeranku dan memberikannya pada yang lain.

Aku tidak tau apakah hari itu aku siap..

Tapi bisakah aku memohon kalau kamu tidak pernah bertemu orang itu, Na~ya?

Atau bisakah takdir berbaik hati,

Menjadikan aku orang itu.

Sehingga aku tidak perlu bersusah payah mengembalikkan tahta pangeranku.

Kumohon , Na~ya.

**

Je-si membuka twitter-nya setelah sekian lama. Tanpa basa-basi, ia langsung saja menuju account khusus sekolahnya yang mengupdate event sekolah. Ia sebenarnya tidak akan mau berepot-repot ria untuk membuka twitter kalau saja ia bukan mau melihat hasil olimpiade Soon-na dan juga pertandingan Luhan.

Seandainya saja gadis itu dekat orang lain selain Soon-na atau Luhan, mungkin ia bisa bertanya langsung. Tapi nyatanya ia tidak pernah benar-benar dekat dengan siapapun kecuali mereka berdua. Je-si sempat merutuki diri dan berjanji untuk mencari satu kalau ia sudah sampai disekolah lagi.

Je-si menghembuskan nafas lega ketika ia melihat bahwa keduanya, Soon-na maupun Luhan bisa masuk grandfinal. Ia tau kalau seandainya kedua sahabatnya itu sangat hebat dan tak mungkin menyusakahkannya.

Dengan resah gadis itu meletakkan handphone-nya dipangkuan dan menatap kedepan, “Mike, bisakah lebih cepat?”

“Memang mau kemana?”

“Memangnya aku belum memberitahukanmu? Astaga! Hari ini pertandingan Luhan dan Olimpiade Soon-na.Aku tidak bisa mengecewakan mereka jika tidak datang!”

Mike merutuki diri lalu menginjak gas lebih tepat, “Baiklah. Kalau begitu kita kemana dulu?”

Je-si memandang keluar jendela mobil sesaat sebelum menjawab.Bingung harus pergi kemana duluan.“Ke tempat Soon-na dulu, Mike.”

“Kamu yakin?”

Je-si termangu beberapa saat. Tapi akhirnya ia menanguk tegas lalu membungkam mulutnya.

**

Suasana sangat tegang.Soon-na menulis jawaban dikertas putih dengan cepat sementara Su-ji dengan serius menutup matanya untuk menghitung.Salah satu kelebihan pria itu. Semua teman yang datang mendukung  adalah fans Su-ji, tapi beberapa dari mereka juga menyemangati Soon-na karena kagum akan kepintaran gadis itu.

Lawan mereka menatap sinis beberapa saat lalu kembali berkonsentrasi.Beberapa detik kemudian terompet berbunyi membuat Soon-na dnegan pasrah melepas bolpen itu diatas meja dan diam-diam terus mengitung didalam otaknya.

Tapi tiba-tiba saja banyak orang yang berteriak diarah pintu keluar, membuat Soon-na dan juga perhatian semua orang tertuju kesana.Je-si muncul sambil tersenyum.Ia sangat sopan dan terlihat begitu bersinar. Bahkan beberapa juri sempat terpana melihatnya. Ketika gadis itu mulai berlari mendekat dan berhenti, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu berteriak, “NAE SOON-NA-YA! HWAITING!”

Soon-na yang tadi sempat terpana sekarang hanya tersenyum manis. Ia lega melihat sahabatnya itu pulang. Setidaknya salah satu bebannya terangkat begitu saja. Soon-na bahkan tidak sadar akan raut Su-ji yang tiba-tiba beruah. Pria itu menoleh kearah lain tanpa sengaja memencet bel dengan tangannya yang tergerak sendiri.

“Ya! Dari regu A sepertinya sudah selesai!”

Soon-na bingung melihat Su-ji yang kaget, tapi setidaknya Su-ji cepat memencet bel sehingga mereka duluan sementara banyak orang masih terpana akan artis yang datang di lomba mereka. Soon-na mendekatkan mic kearahnya dan kemudian tersenyum, “1”

Je-si tidak mengerti.Bagaimana soal olimpiade bisa segampang itu jawabannya? Regu lain bahkan tidak sempat melanjutkan cakaran mereka karena terlalu sibuk terpana dengan Je-si tadi. Su-ji disebelahnya bahkan memandang Soon-na tidak yakin, merasa gadis itu hanya asal-asalan.Menanggung perbuatan ceroboh Su-ji seorang diri.

“DAN… BENAR! Selamat! Regu A menang!”

Je-si melompat-lompat kegirangan saat mendengar perkataan MC itu.Ia melihat Soon-na tersenyum kearahnya dan membalas senyum itu. Tapi karena terlalu bersemangat, gadis itu tidak memerhatikan high heels yang ia gunakan dan akhirya terpleset. Seluruh ruangan menatap khwatir Je-si, tapi tidak ada yang berusaha membantunya shingga Je-si hanya putus asa menunggu diri terjatuh dilantai dan headline besok yang mengatakan model terkenal terpleset? Mebayangkannya saja membuat gadis itu ngeri.

“Grep..”

Je-si seperti ditangkap seseorang dan tak lama hangat menyergapnya.Je-si masih menutup matanya rapat-rapat sekalipun orang sudah menghembuskan nafas lega.Ketika ketakutan sirna dari otaknya, Je-si berpikir untuk segera bangun dan berterima kasih pada siapapun yang menangkapnya.Tapi kemudian pita suaranya hilang ketika melihat siapa yang menangkapnya.

“Luhan?”

**

Disaat pintu ruang tunggu terbuka, Soon-na langsung berlari kearah Luhan dan memeluk pria itu erat-erat mengekspresikan kebahagiaannya. Beda dengan Je-si yang berdiri disebelah Luhan, ia menatap gadis itu iri. Tapi ia sama sekali tidak bisa berkata apa-apa.

Aku memang tidak pantas ada disini.

Seharusnya aku tidak berada ditengah-tengah kalian seperti ini.

“Chukae, Na~ya!” teriak Luhan semangat sambil mengelus-elus kepala gadis itu.

Je-si berdeham sebentar, “Chukae, Soon-na-ya!Kau hebat dan keren sekali tadi!”

Soon- na melepas pelukannya dan beranjak kehadapan Je-si, ia menjitak kepala gadis itu cukup keras membuat Je-si mengerucutkan mulutnya. “Aish! Apa lagi salahku?”

“Jelas kamu salah, nona muda.Kamu tidak menghubungiku selama 3 hari. Dan apa maksud teleponmu yang tidak mau berbicara dengan Luhan? Kita sahabat, kan?”

Tiba-tiba saja suasana menjadi lain. Terasa sangat aneh bagi Luhan dan juga terasa sangat menyiksa bagi Je-si karena gadis itu harus menahan perasaannya dalam-dalam. “Eng.. Maksudku..Aku malas mendengar suara fals-nya, Soon-na~ya!”

Detik kemudian gentian Luhan yangmenjitak kepala Je-si, “Mwo?Kamu bilang fals?Kamu memang tidak punya selera, Je-si-a!”

Je-si menyengir beberapa saat, tapi tak lama pintu terbuka dan terlihatlah Su-ji yang sedang repot membawa banyak sekali kotak-kotak yang terhias pita dan juga sebuket bunga mawar. Je-si melongo lalu menghampiri Su-ji, “Astaga, babo. Kamu ternyata punya fans juga?”

Su-ji mendengus lalu dengan cepat meletakkan hadiah itu dimeja terdekat dan menghampiri gadis itu lagi untuk menjitaknya, “Astaga! Kalian ingin sekali membuatku bodoh dnegan cara menjitakku. Yak, babo. Kau menyebalkan.” Keluh gadis itu sambil mengusap-usap kepalanya yang berdenyut sakit.

“Kalian saling mengenal?” tanya Luhan dan juga Soon-na bersamaan. Je-si dan Su-ji saling bertukar pandang.Su-ji menampakkan wajah pucat untuk pertama kali didepan Soon-na sehingga gadis itu mengerutkan keningnya bingung.

“Tentu saja, dia adalah temanku.” Tutur Je-si senang sambil memeluk lengan Su-ji mesra.Luhan tersenyum, “Kalian terlihat sangat cocok.”

Kamu benar, Luhan-a.

Semua orang akan terlihat cocok denganku.

Tapi kamu tidak akan cocok untukku.

Kenapa begitu, Luhan-a?

Apakah aku yang terlalu obsesi padamu?

Luhan tidak mengerti kalau perkataannya tidak membuat Je-si semakin baik.Perkataannya malah membuatnya tersiksa.Tapi gadis itu tetap tersenyum.Su-ji sekilas menatap Je-si bingung ketika merasa pelukan dilengannya mengerat.Pria itu sadar kalau Je-si sedang menunjukkan senyum palsunya.

Beberapa tahun yang lalu aku tidak mampu mengambil hatimu.

Aku melakukan apapun supaya kamu bisa melihatku.

Tapi pada akhirnya aku harus menyerah pada anak kecil itu.

Tapi aku rasa kamu sekarang sedang berpaling pada seseorang, hem?

Apakah begitu mencintai pria yang menyakitimu itu?

Dibanding aku yang terus menganggumi-mu diam-diam?

Tidak bisa kah kamu melihat bahwa kamu tidak akan pernah bisa masuk keantara mereka, hem?

Aku bukan kejam.Ini kenyataan.

**

“Apakah kamu baik-baik saja?”

Je-si menoleh kearah Su-ji dengan wajah tidak mengerti.Gadis itu masih mengawasi Soon-na dan juga Luhan yang berjalan didepannya dengan ekor matanya.

“Kamu tidak usah berbohong padaku, Je-si-a.”

Je-si melepas pelukannya dilengan Su-ji lalu berjalan lebih cepat sebelumnya.Tapi Su-ji menahan tangan gadis itu dengan cepat, “Kamu mungkin bisa saja berpura-pura tidak tau perasaanku, Je-si-a.Tapi kamu tidak boleh membohongi perasaanmu sendiri.”

Mata Je-si membulat, ia tidak berani melihat kearah Su-ji. Matanya terpaku kedepan, melihat sepasang pria dan wanita yang bergandengan tangan dan juga menatap satu sama lain dengan penuh perhatian. Ia ingin sekali menangis, tapi ia merasa bahwa matanya sudah kering sejak kemarin.

“Su-ji-a. Apa yang harus aku perbuat?” tanya Je-si dengan suara serak. Su-ji menghadapkan gadis itu kearahnya dan merapikan hoodie gadis itu, “Mungkin kamu sudah terlalu lama menikmati sakit hatmu, Je-si-a?Apakah kamu sekarang berada diposisi-ku dulu?”

Je-si menundukkan wajahnya, menatap tanah.Perasaan bersalah menyeruak dalam dadanya. Sejak dulu ia tau kalau Su-ji memang mencintai gadis itu. Tapi ia selalu berpura-pura tidak tau. Ia mengingat bahwa statusnya adalah milik orang. Tapi ia juga tidak bisa berbohong kalau hatinya berpaling ketika ia bertemu Luhan. Ia tidak pernah begini, tidak pernah egois dalam memiliki. Tapi entah kenapa rasanya sesak ketika melihat pria itu bukan berada disisinya seperti ini.

“Lupakah Luhan, Je-si-a.Ada orang yang menunggumu dan lebih daripadanya.Jika pada orang itu, aku akan berani melepaskanmu.”

Je-si tertawa lalu kembali melihat kedepan, “Aku bukan milikmu, Su-ji-a.Jadi kamu tidak perlu melepaskanmu.Dan satu lagi, aku sudah mengerti. Terima kasih.” Gurau Je-si sambil berlari cepat.Su-ji tersenyum melihat langkah riang gadis itu, bebannya hilang satu setidaknya.

“Aku tidak ikut!Aku ada urusan penting!” teriak Su-ji membuat Soon-na, Luhan dan Je-si yang sudah jauh dengannya berbalik dan menatapnya tidak percaya.Terutama Je-si.

“Pergilah tanpaku, sampai jumpa!”

Su-ji berbalik dan mempercepat langkahnya meninggalkan tempat awal dimana ia berdiri mula-mula. Pria itu mengunci kedua tangannya didalam kantong jaketnya.Ketika merasa sudah cukup jauh, Su-ji berhenti dan mengadah kelangit yang sedang mendung.

“Aku bodoh sekali, kan?”

Pria itu meneteskan air matanya.Hanya satu titik.Pria itu hanya membiarkan matanya keluar sebanyak itu sebelum mulai melangkah lagi.

Dua kali melepaskan itu menyakitkan, kau tau?

Lebih sakit?

Tidak juga.

Hanya saja aku akan tetap menangis.

Lalu akhirnya melihat kedepan lagi.

Melanjutkan hidup.

Takdir belum berbaik hati untuk memberikanku gadis lain untuk kupikirkan.

Jadi kukira, untuk beberapa saat kedepan.

Aku akan mencoba untuk hidup dengan sakit sampai aku terbiasa dengan sakit itu.

**

Soon-na membuka halaman album foto itu sambil tersenyum lebih manis, bahkan terkikik beberapa kali. Luhan sedang duduk diatas sofa rumahnya dan memerhatikan Soon-na dari jarak dekat.Sangat dekat.Gadis itu sedang duduk bersamanya disofa itu, duduk tepat ditengah-tengah paha pria itu sehingga Luhan dengan leluasa bisa menyelipkan tangannya di pinggang Soon-na.Menariknya lebih mendekat supaya bisa mencium bau gadis itu lebih dekat dan menyengat.

“Aigoo..Kalian manis sekali!”

“CKLEK!”

Soon-na dan Luhan sama-sama ternganga ketika melihat Eomma Luhan sudah berdiri didepan mereka dan muncul bersama sebuah polaroid tua ditangannya. Wanita setengah baya itu tersenyum manis sambil mengipas-ngipas hasil polaroid itu dengan bangganya. Ketika sudah jadi, wanita itu tersenyum bangga dan memberikannya pada Luhan.

“Astaga, eomma-a.Aku terlihat berantakan sekali!” protes Soon-na dan menatap sebal pada wanita itu.Ketika Luhan hanya tertawa, Eomma Luhan berjongkok dan menyetarakan tinggi-nya dengan Soon-na.

“Soon-na~ya.Kamu selalu menjadi malaikat keluarga kami.Seberapa berantakannya kamu, kamu tetap malaikat kami.”

Ketika melihat Luhan, Eomma Luhan tertawa sebentar lalu berdiri.“Dan juga putri dari pangeran keluarga Xi.”

“Aish, Eomma!Pergilah.Kami sedang ingin mengingat masa lalu!” usir Luhan dengan ekspresi serius dibuat-buat.Soon-na menatap Eomma Luhan dengan senyum sebelum kembali melihat ke album yang sedang dipegangnya.

Luhan menutup satu foto membuat Soon-na dengan cepat merebut album itu dan menikmatinya sendiri. “Aigooo Hanhan-a.. Kamu lucu sekali! Bahkan ketika menangis karena ketahuan ngompol olehku. Hahahaha…”

Dengan lembut, Luhan menempelkan kepalanya dibahu gadis itu.Menarik napas disana.Entah kenapa rasanya lebih nyaman dan benar saja ketika pria itu menyandarkan kepalanya disana.Ia menutup matanya pasrah, berusaha masuk kedalam dunia mimpi.

“Hanhan-a.Kamu hebat sekali bisa menang.”

“Tentu saja,”

Luhan bergeliat sebentar, “Aku selalu akan menjadi Luhan yang sempurna dihadapanmu.Karena aku pangeranmu, Na~ya.”

Soon-na tersenyum.Ia tau kalau pria itu sudah berada diantara dunia nyata dan mimpi. Pria itu terlihat begitu lelah hari ini.Nafas teratur Luhan terdengar jelas dan menyatu ditubuh gadis itu.Mereka menarik napas dan membuangnya bersamaan. Siapapun akan heran, bagaimana tubuh mereka bisa seperti terlihat bersatu. Apakah mereka memang ditakdirkan bersama?

Sesuatu jatuh dan itu memecah konsentrasi Soon-na yang sedang mengumpulkan memori lamanya.Ia menyadari bahwa itu adalah polaroid barusan. Ia dengan hati-hati mengambilnya dari lantai, berusaha untuk tidak membangunkan pria itu. Ia membuka halaman terakhir dari album itu dan dengan senyum menyelipkan foto itu didalamnya.

Didalam salah satu album dan sekian album foto yang menampung memori mereka.Album yang tidak mungkin tergantikan dengan apapun juga.

**

“Han Soon-na.”

“Ya, sonsaengnim?” jawab Soon-na dengan suara serius.Ia sebenarnya sudah tau kenapa ia dipanggil sekarang. Hanya saja ia masih tidak siap harus menjawab apa.

“Kamu sudah memikirkan apa yang saya rekomendasikan?”

Soon-na menggigit bibirnya tidak berani menjawab.Ia ingin sekali menerima apa yang direkomendasikan gurunya itu. Tapi ia tidak berani menyetujuinya.

“Soon-na, jangan kamu lepaskan kesempatan ini.Apalagi Dokter Bedah terkenal itu yang mengajakmu.Kamu tidak mungkin membuang-buang kesempatan ini, kan?”

“Saya akan memikirkannya lagi. Permisi, seonsaengnim.” Ucap Soon-na akhirnya.Ia mempercepat langkahnya ke arah pintu keluar meninggalkan gurunya yang begitu putus asa. Guru biologinya itu sangat menyayanginya, ia tidak akan rela jika Soon-na tidak mengambil kesempatan itu. Apalagi ketika guru itu mengetahui alasan gadis itu masih tidak yakin sampai sekarang, karena tidak ingin berpisah dari orang yang sangat berarti baginya.Dan siapa lagi kalau bukan kapten sepak bola sekolah itu.Luhan.

**

Je-si dengan manis duduk disisi ruangan menatap Luhan dengan penuh senyum. Walaupun ia sakit hati, bukan berarti menghindari pria itu bukan? Ia sangat menyukai dance pria itu. Dan tidak ingin melewatkannya, apalagi saat schedulenya masih free.

Ketika selesai, Luhan dengan otomatis berjalan kearah Je-si yang menyodorkan handuk bersih dan juga sebotol isotonic padanya.Pria itu menyunggingkan senyumnya pada Je-si sesaat sebelum duduk disebelah gadis itu.

“Luhan-a.Dance-mu terlalu sia-sia untuk disembunyikan.”

Luhan mengacak-acak rambut gadis itu gemas, “Sudahku bilang.Ini hanya hobby.”

Je-si menghela napas dan menatap serius Luhan, “Aku tau kalau sebuah perusahaan entertainment mengajakmu, Luhan-a.”

**

Soon-na berlari dengan cepat kearah gedung sebelah untuk mencari Je-si.Ia membutuhkan sahabatnya itu untuk berdiskusi. Tapi handphone gadis itu mati dan akhirnya mulai bertanya pada seseorang disekitarnya. Soon-na bersyukur kalau sahabatnya itu bersinar dan dikenali siapapun sehingga ia bisa dengan mudahnya mendapat informasi tentang gadis itu.

Tapi sebenarnya Soon-na sedikit bingung bagaimana Je-s bisa berada ada diruang sebelah yang merupakan bangunan rekreasi? Tempat sekolah ituu menyediakan fasilitas Gym dan lapangan indoor juga bagian Art yang menyediakan ruang latihan dance dan ruang music serba mewah? Apakah gadis itu sedang berlatih catwalk disana?Kenapa tidak distudio-nya saja?

Ia masih terus bertanya dalam hati tapi akhirnya menyerah dan serius menaikki beberapa anak tangga sampai akhirnya ia sampai dilantai 3. Papan bertuliskan ‘Dance Row’ membuatnya tersenyum.Ia mencoba mempertajam telinga dan juga penglihatan untuk mencari bayang gadis itu.

“Sudahku bilang.Ini hanya hobby.”

Soon-na terkesiap mendengar suara itu.Ia seperti mendengar suara yang begituakrab ditelinganya. Ia tidak mungkin salah lagi. Suara itu milik Luhan.

Soon-na mempercepat langkahnya untuk mencari suara Luhan.Ia sendiri ingin memastikan apakah pendengarannya masih baik-baik saja? Tapi ketika ia sudah sampai diruangan yang dituju, Soon-na malah terkesiap ketika Luhan dan Je-si duduk bersampingan. Terlihat sangat dekat.Membuat gadis itu iri.Tapi ada hal yang membuat gadis itu lebih terganggu.Bagaimana mereka bisa berdua? Soon-na hanya merutuki diri berkali-kali karena hatinya terlanjur sakit memikirkan Luhan tidak pernah berkata apapun tentang apa yang dilakukannya bersama Je-si.

Pantesan mereka bisa menjadi begitu dekat.Semuanya seperti jelas begitu saja. Luhan menyembunyikan sesuatu darinya, dan Je-si tau akan hal itu. Gadis itu membantu menyembunyikan. Tapi apa?

“Aku tau kalau sebuah perusahaan entertainment mengajakmu, Luhan-a.”

Perusahaan entertainment?

“Berhentilah memaksaku, Je-si-a.Aku ingin tetap berada disisi Soon-na selamanya.Sekalipun aku harus meninggalkan cita-citaku sendiri. Aku akan  tetap berada disisinya bagaimanapun yang terjadi. Aku tidak akan melepaskannya.”

Soon-na melihat Je-si berdiri dan menatap pria itu garang, “Dan menyia-nyiakan bakat dance-mu?Kamu gila, Luhan-a.Berjuta-juta orang ingin masuk ke perusahaan itu, tapi kamu malah menyia-nyiakannya.Kamu bodoh, Luhan-a.”

Dance? Sejak kapan hanhan melakukan hal itu?

“Aku tau kamu begitu ingin tetap berada disisinya, Luhan-a.Tapi kamu tidak bisa begini terus.Takdir tidak bisa semudah ini. Setelah lulus nanti, kalian pasti akan memilih jurusan berbeda. Kamu tidak mungkin mengikutinya seumur hidup!”

“Berhentilah, Je-si-a. Jangan seperti ini.” Mohon Luhan dengan lemas.Ia menutup telinga-nya rapat-rapat. Tau hari ini akan datang. Ia tau hari kelulusan sudah sebentar lagi, dan ia tau kalau kebimbangan ini akan terjadi.

“Aku akan tetap berada disisinya, Je-si-a. Sudah kubilang aku akan mengikutinya, melindunginya. Sampai dia sendiri yang memintaku pergi.Jangan pengaruhi aku lagi.”

Soon-na menutup mulutnya rapat-rapat.Air mata keluar dari matanya.Ia jatuh terduduk pelan sambil bersandar kedinding, tidak mampu menahan berat tubuhnya sendiri. Sahabat macam apa dia? Dengan egois menahan pria itu disisinya. Dan bahkan ia tidak tau mimpi pria itu. Tidak tau apa yang dikejar pria itu. Ia selalu egois menganggap Luhan akan selalu bersamanya sehingga ia pun juga egois tidak mau meninggalkan pria itu.

Tapi kalau keadaannya begini apa yang harus ia perbuat? Haruskah ia meminta pria itu meninggalkannya? Ia tidak mengerti. Hatinya merasa sakit luar biasa. Otaknya bahkan tidak bisa berimajinasi kearah sana.

Ia ingin melepaskan pria itu, tapi ia tidak sanggup.

Maafkan aku, Hanhan-a.

Aku mengekangmu seperti boneka.

Aku tau hari ini akan datang.

Haruskah aku yang memutuskanmu untuk melepasmu dari sisiku?

Apakah aku kuat, hanhan-a?

Apakah keputusan yang kubuat ini benar?

**

“Terserah padamu lah!” ucap Je-si pasrah sambil menyambar tas favoritenya itu dan menyampirkannya dipundak. Gadis itu siap melangkah untuk meninggalkan tempat itu, tapi ia malah terdiam dan merogoh kantong vest-nya untuk mencari handphone-nya yang bergetar.

“Sesuatu buruk terjadi, Je-si-a.”

Je-si mengerutkan keningnya bingung. Perasaan ia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun akhir-akhir ini. Bahkan bisa dibilang karirnya menunjak karena pemotretannya di Jepang beberapa waktu lalu.“Apa yang terjadi?”

Telepon mati begitu saat. Je-si mendengus kesal sebelum membuka file yang dikirim Mike kedalam e-mailnya. Gadis itu merutuk wartawan dan pembuat artikel sialan itu. Pasti akan ada masalah baru karena ini.

Dan benar saja, beberapa detik setelah gadis itu mengumpat.Sebuah message masuk kedalam inboxnya.

From : Devil’s Son.

Datang.Sekarang.Juga.Ke.Studio.

 

**

 

Je-si menutup matanya rapat-rapat, diikuti tangannya yang menutupi telinganya.

Pria dihadapannya itu sudah kehilangan kesabaran dan membuat Je-si ketakutan.

“Siapa dia?”

Je-si menelan ludahnya dan masih tetap menutup mulutnya rapat-rapat.Pria itu berusaha menahan emosinya dengan mengepalkan kedua tangannya disamping tubuh.Ia terus mondar-mandir tidak tenang dihadapan gadis itu.

“SIAPA DIA!” teriak pria itu tidak sabaran.

Je-si terpekik dan memuka matanya tidak percaya mendengar pria itu begitu marah padanya, “Yak!Sopanlah pada noona-mu!”

Je-si menatap ngeri pria dibawah 4 tahun itu tertawa sinis menatapnya, “Setelah sekian lama, Je-si-a.Aku lelah memanggilmu noona.Kamu mengkhiantiku.”

Perasaan bersalah muncul didalam hati Je-si ketika pria itu menunjukkan ekspresi sedih dan kecewanya, “Aku selalu berusaha melakukan apa saja untukmu.Kamu bilang aku terlalu muda dan tidak pantas untukmu, aku mengerti hal itu.Tapi kamu sudah berjanji padaku untuk tetap selalu melihatku, Je-si-a. Kamu akan menungguku menjadi dancer terkenal. Tapi apa yang kamu lakukan? Menyakitiku.”

“Bukan begitu. Kamu jangan,”

“Aku tidak akan marah kalau saja hanya melihat fotomu ditangkap pria itu ketika jatuh.Aku marah ketika semua orang mulai berbisik-bisik dibelakangku. Mengatakan kalau seandainya kamu dekat dengan orang lain. Aku tidak mau percaya, Je-si-a.Tapi kamu mengecewakanku.”

Je-si menundukkan wajahnya, tapi dengan takut-takut gadis itu meraih tangan pria yang lebih muda darinya itu.Ia menggenggamnya nyaris seperti meremasnya. Ia takut, gusar dan merasa bersalah.

“Apakah kamu tidak tau kalau aku selalu kehilangan kepercayaan diriku jika berhadapan denganmu?”

Je-si terkesiap ketika pria itu menghempaskan tangannya dan berjalan menjauh, ruang itu gelap.Lampu diluar ruangan itulah yang menjadi satu-satu penerang diantara mereka.Ketika pria itu berbalik, Je-si merasakan matanya panas ketika melihat mata pria itu mengeluarkan air mata.

“Aku tidak suka memanggilmu ‘noona’, membuatku terlihat begitu muda sehingga tidak pantas untukmu.Aku tidak suka tapi bangga ketika kamu lebih sukses dariku, dan banyak orang memujamu. Aku sebal kepada setiap pria yang dekat denganmu, tapi aku berusaha sabar karena kamu masih punya kebebasan,”

Pria itu kembali mendekat kearah Je-si, kedua tangan pria itu terangkat menangkup wajah Je-si.Membuat Je-si bisa melihatnya lebih dengan jelas.

“Tapi aku tidak lagi menjadi percaya diri Je-si-a. Ketika melihatmu tiba-tiba saja terkejut dan sedih ketika orang yang kamu sukai bersama orang lain. Aku tidak percaya diri lagi ketika kamu menangis dipelukanku tanpa berkata apa-apa. Aku merasa tidak pantas untukmu, merasa apa yang aku lakukan ini sia-sia. Je-si-a, aku..Lelah.”

“Andwe!” teriak Je-si tegas.Je-si menangkupkan wajah pria itu ditangannya, membuat pria yang tadi menunduk itu kembali melihatnya.

“Aku minta maaf.Kamu boleh tidak memanggilku noona lagi.Terserah.Tapi jangan lelah.Jangan lelah.Kumohon.”

“Aku tidak pantas menjadi,”

“Kamu, Kim Jong In. Walaupun aku sebal mengetahui bahwa aku punya tunagan lebih muda 4 tahun dariku. Walaupun aku membagi hatiku dengan orang lain. Aku ingin Nae Jong-in-a yang bersikeras menyingkirkan namja itu sehingga hanya Kim Jong In seoranglah yang kupikirkan.” sela Je-si menatap Jong-in dengan intens.Jong-in tertawa keras.

“Aku capek, Je-si-a. Aku,”

Pria itu.Kim Jong In membulatkan matanya ketika merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menempel dibibirnya.Ia tidak yakin kalau wanita yang ia cintai sejak kecil itu menjinjitkan tubuhnya sehingga bibir mereka bersatu. Entah apa yang terjadi, Jong-in meraih tengkuk gadis itu dan membuat ciuman mereka semakin dalam.

Air mata berlinangan dimata gadis itu.Ia seolah menyalurkan semua perasaannya, semua kegundahannya pada pria itu. Dan ketika mengakhiri ciuman itu, Je-si tersenyum mengingat kalau itu adalah ciuman pertamanya.

Jong-in dengan lembut menghapus air mata gadis itu dan mengecup kening Je-si lama. Je-si tersenyum, “Aku yang memintamu bertahan kali ini, Jong-in-a.Aku ingin tunanganku bertahan disisiku.Merebut hatiku kembali.”

**

TBC

**

 

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

 

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

 

 

 

Advertisements

Tagged: ,

9 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 4

  1. naritareky September 10, 2012 at 12:49 PM Reply

    Jadi jesi punya tunangan?
    Makin seru kayanya
    Aku paling suka kata ini “Pilihlah orang yang tidak bisa hidup tanpamu, jessy san, sebelum kamu menyesal sepertiku”
    Di tunggu kelanjutan nya 😀

  2. Cynthia September 11, 2012 at 3:48 AM Reply

    Jessi ma kai aja 😀
    Ditgu part selanjutx 😀

    • exo1stwonderplanet September 11, 2012 at 12:14 PM Reply

      Yang baca part ini pasti ngomong gitu :phahhaa
      Sip^^
      Thanks for comment btw 😀

      -HJS

    • exo1stwonderplanet September 15, 2012 at 10:44 AM Reply

      Hahaha.. Berubah shipper nih ceritanya? xD
      -HJS

  3. ichaichez September 12, 2012 at 3:55 PM Reply

    Sempet bgung dgn makin bnyknya cast. tp makin keren!

    • exo1stwonderplanet September 15, 2012 at 10:42 AM Reply

      Part selanjutnya dan selanjutnya akan semakin banyak cast dan juga masalahnya bakal tambah complicated ^^
      Jangan bosan nungguin ya ^^
      Gumowo

      -HJS

  4. Anggita Ratri Pusporini October 17, 2012 at 4:19 PM Reply

    authooooor Han Je Si~ aku reader barumu! ^^
    aku baru baca sampai chapter ini dan langsung comment disini yaaaaa~ hehe

    thor sumpah nih cerita complicated banget dah! nyesek jadi siapapun, kkkk.
    tapi sungguh aku suka bgt Luhan ama Soon Na ajaaaaaah~ yayaya?
    aku blm baca part selanjutnya sih ya, besok deh kalo sempet.
    author aku masukin ke daftar author favoritku ah! hehehe XD

    moga author cepet baca commentku yaaaaa 🙂

    • hanjesi October 18, 2012 at 3:42 PM Reply

      AKHIRNYA AKHIRNYA AKU PUNYA READER YANG MAU NGENALIN DIRI AMPE COMMENT PANJANG T__T TERHARU! *nangis dipundak Luhan* WELCOME! *bikin party bareng Kris (?)*

      IYA DONG HARUS NYESEK! AUTHOR JUGA NYESEK, READER NYESEK, KARAKTER JUGA SEMUA NYESEK! BIAR ADIL XD hahaha

      KENAPA SIH SOON-NA SAMA LUHAN SHIPPER SEMUA T___T sebel deh 😦 kan Bias author Luhan, nyesel banget bikin karakter Soon-na T___T ya sudahlah, yang penting ada Kai T__T

      Ini uda dibaca xD maaf ya baru dibalas :33 author lagi masa pemulihan xD hahhaha

      Sekali lagi, welcome and saranghae :*:*:*

  5. Anggita Ratri Pusporini October 19, 2012 at 4:34 AM Reply

    na do saranghae thor :3
    kkkk~
    iya salahnya bikin karakter Soon Na, heheh. ah pokoknya Luhan ama Soon Na ajaaaaaaaaaaahhhh
    biar Kai ama Je Si, kan kasian si Kai udah sebegitu setianya XDD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: