EXOtic’s Fiction “Summer Story” – Part 3

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Summer Story”

 

TITLE                      : Summer Story

SUB-TITLE         : The Third – The Meeting of the Guardian

AUTHOR             : Cha Miho (@fab_cinta)

MAIN CASTS   :

  • Cha Sheileen
  • Kim Jong In
  • Zhang Yi Xing

LENGTH           : Series

GENRE             : Romance, School Life, Friendship, Family

RATING           : PG – 13

LANGUAGES   : Korean (Indonesian) and English (Minor)

-notes- cerita ini akan mengambil tempat di London, England, sehingga beberapa percakapan akan menggunakan bahasa Inggris. Namun bahasa utama yang digunakan tetap Korea (Indonesia). Percakapan di dalam bahasa Inggris dan pikiran seorang tokoh dilambangkan dengan huruf miring.

-disclaimer- SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSIONS and after you read the story, please give a comment ^^ Every word from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

Setelah hari yang melelahkan itu, aku tidak sempat menyapa Jongin kemarin malam karena ternyata aku kembali terlelap dengan mudahnya. Aku memutuskan untuk menjalani rutinitasku seperti biasanya pagi itu yaitu dengan membuatkan bekal untukku dan appa.

Hmm lalu bagaimana dengan Jongin ya? Sepertinya Jongin akan kesusahan mencari dimana kantin sekolah nanti…lagipula kurasa uangnya tidak begitu banyak. Baiklah, akan kubuatkan untuknya juga.

“Pagi Leen, lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu?” sapa Jongin pelan ketika ia berjalan memasuki dapur. Sheileen tersentak kaget, tanpa ia sadari, spatula yang sejak tadi pagi di pegangnya terjatuh ke lantai dan perasaan malu pun mulai merambat di wajah manisnya. Jongin yang merasa bahwa kehadirannya membuat gadis itu kelipukan, hanya bisa menyunggingkan senyuman kecil dan hal ini sungguh membuat paginya lebih baik.

“Jongin!! Iya! Halooo, pagi! Aku baik, bagaimana tidurmu?” kata Sheileen masih berusaha untuk mengatur perubahan warna di pipinya yang masih bersemu merah.

“Baik, terima kasih. Sudah lama ya kita tidak bertemu dan….sepertinya kamu masih bisa berbahasa korea dengan lancar. Ngomong-ngomong, maaf kemarin aku belum sempat menyapamu, jet lag sungguh mengerikan..” kata Jongin yang lalu mendekati Sheileen di dekat kompor dan memutuskan untuk melihat lebih lama gadis yang sangat ingin ia jaga itu. Ia juga ingin memastikan bahwa kondisinya pagi ini lebih baik daripada kemarin malam.

Merasa jantungnya yang mulai bertingkah tidak wajar, Sheileen kembali menjatuhkan spatulanya dan kali ini Jongin berhasil menangkapnya.

Hey, hati-hati dong! Kamu yakin kamu baik-baik saja?” ucap Jongin yang khawatir dan tanpa permisi lalu mendekatkan tangannya ke dahi Sheileen yang dibalas oleh tepisan tangan gadis itu.

Yah! Apa yang kamu lakukan!? Aku baik-baik saja, t-tadi hanya licin s-saja kok,” gerutu Sheileen yang tanpa sadar membuang muka dan merebut spatulanya dari Jongin kembali.

Jongin mengangkat alisnya sebelah dan kembali menyeringai, ia menangkap semu merah muda di wajah gadis itu. Kebiasaanmu masih belum berubah ya, manisnya…dan aku senang kamu kelihatan lebih baik hari ini.

“Ah baiklah tuan putri, jangan kasar dong,” ujar Jongin jahil sambil menepuk-nepuk kepala gadis itu lembut. Entah mengapa, hal sederhana ini membuat keduanya merasakan sengatan listrik kecil yang sebenarnya tidak menyakitkan.

Keduanya pun terdiam tanpa berbicara satu patahpun, dan karena merasa keadaan menjadi super awkward, Jongin pun merasa risih dan membuka pembicaran, “Ehem, jadi tuan putri, bau masakanmu harum sekali, sedang masak apa?” ucapnya sambil menggerak-gerakan hidungnya.

“Ini? Oh hanya omellete dan sosis goreng ala Cha Sheileen,” ucap Sheileen bangga dan ia merasa kekikukan yang ia rasakan tadi mulai berkurang.

Alis Jongin kembali terangkat satu, “Ala Cha Sheileen? Aku rasa kamu seharusnya tidak berbangga diri terlebih dahulu. Apakah kamu yakin itu tidak gosong? Kamu pasti tahu kan ‘harum’ maksudku itu bukan karena baunya enak,” ucap Jongin sambil tersenyum jahil dan menunjuk-nunjuk omellete yang telah gadis itu buat telah bermetamorfosis setengahnya menjadi coklat kehitam-hitaman.

Sheileen pun melihat penggorengannya. Jongin benar. Damn it.

“SIAL!! Mengapa kamu tidak memberitahuku?! Setidaknya secara tidak implisit seperti tadi!!” gerutu Sheileen sambil menaruh omellete yang sedikit gosong itu di kotak makanannya.

Dunno, kamu terlihat tidak fokus dengan masakanmu, melihat spatula yang kamu pegang itu sudah jatuh dua kali. Apakah karena akhirnya kamu bisa melihat ketampanan teman masa kecilmu ini, hm?” ujarnya yang sekali lagi kembali menangkap semu merah di kedua pipi Sheileen dan lalu tertawa melihat betapa manisnya gadis itu.

S-ssh-shut u-u-up! Ini bukan karena kamu ya, aku hanya merasa dirimu berubah saja! Jangan berpikiran aneh-aneh!” ujarku yang tahu bahwa apa yang kukatakan sangat bertolak belakang dengan apa yang ingin diutarakan oleh hatiku. Hey Cha Sheileen, yang kamu sukai itu Mr. Yixing, mengapa kamu berdebar-debar terhadap laki-laki iseng di depanmu ini?!

“Oh? Begitu? Baiklah, akan kusimpulkan bahwa kamu menyetujui bahwa aku sekarang bertambah keren. Jangan malu-malu Leen,” ujar Jongin sambil kembali tersenyum jahil terhadap perempuan itu. Bilang saja kamu merindukanku Sheileen, aigooooo kyeopta~

“C-c-cukup! Aish! Seharusnya aku tidak membuatkanmu bekal kalau tahu kamu bakal seperti ini!” tandasku masih kesal dengan kejahilan Jongin yang tidak berubah sejak dulu.

Jongin menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Antara kaget, senang, atau bingung… Aku tidak tahu… Yang kutahu hanyalah matanya yang sejak tadi telah membius seluruh akal sehatku pagi itu.

“Benarkah kamu membuatkan bekal ini untukku?” tanya Jongin yang kembali menyadarkan Sheileen dari pheromone yang diberikan Jongin untuknya.

Wae? Aku akan memberikan ini kepada anjing Husky-ku, Yorie. Toh kamu bisa membeli makananmu di kantin sekolah nantinya, bukan?” ujar Sheileen yang sebenarnya tidak ingin melakukan itu.

“Kata siapa aku tidak mau!? Jangan kamu berikan itu kepada dia atau kamu akan menyesal,” kata Jongin yang lalu mulai mengangkat kedua tangannya dan mendekati pinggang Sheileen.

“E-ee-eh eh eh! Tunggu tunggu! Apa yang ingin kamu lakukan??! HEI jauhkan tangan usilmu itu dariku! He-he-heeeeiiii!!!”

Yang selanjutnya terjadi ialah Perang Tawa III di rumah Cha pagi itu. Jongin tidak berhenti-berhentinya mengelitiki Sheileen yang tetap keukeuh untuk memberikan bekal buatannya untuk Yorie. Walaupun kelelahan karena tertawa, Sheileen masih belum juga mau menyerah. Jongin pun lalu menggunakan siasat terakhirnya dan memeluk gadis itu dari belakang. Ia mengunci pinggang gadis itu dengan kedua tangannya yang dan menopangkan dagunya di pundak gadis itu.

He-hey, lepaskan..” ucap Sheileen yang merasa waktu bermain sudah selesai dan hal yang dilakukan Jongin pagi itu sungguh membuat akal sehatnya pergi entah kemana.

“Leen,” ucap Jongin lembut dan tenang di dekat telinga Sheileen. Suaranya yang berat dan dalam, membuat kerja jantung gadis itu berpacu lebih cepat tanpa tahu alasannya mengapa.

“Terima kasih untuk bekalnya, aku akan mengambilnya nanti. Jadi kuharap kamu tidak memberikannya kepada Yorie, ya?” ucapnya tulus sambil memeluk gadis itu lebih dekat dengan dirinya.

Sheileen yang merasa bahwa dirinya sedang dibawa Jongin terbang bersama para malaikat, hanya bisa menjawab dengan singkat, “I-iya, baiklah. S-se-sekarang tolong l-le-lepaskan,” ucapnya sambil berusaha melepaskan kehangatan yang ia sukai itu.

Jongin melihat betapa tidak jujurnya gadis ini terhadap perasaannya dan memutuskan untuk melepaskan kehangatan itu sejenak tetapi tidak membiarkan gadis itu lepas dari pandangannya.

“Pastikan kamu menaruh omelletemu yang setengah gosong itu di tempat makananku ya,” ucap Jongin sambil menatap gadis di depannya.

“Me-mengapa yang gosong? Omellete itu biar untukku saja,” ucap Sheileen merasa jantungnya tetap berdegup cepat namun rasa bingung juga berputar-putar di kepalanya.

Jongin hanya tersenyum dan berkata, “Itu karena aku—“

BRAK!

Appa masuk ke dapur dengan setengah berlari dan terburu-buru mengenakan dasinya. Kami berdua pun melompat kecil karena terkejut. “Sheileen, Jongin, pagi!,” sapa appa yang lalu berlari terburu-buru mendekati kami dengan tangannya yang masih sibuk membetulkan dasi bajunya, “Tiba-tiba Ms. Cherry menelponku pagi ini dan berkata bahwa the HunHan menghilang. Aku harus pergi sekarang dan mencari mereka! Bekal appa langsung appa ambil saja ya Sheileen sayang, berhati-hatilah ketika kalian berangkat ke sekolah hari ini! Jaga Sheileen, Jongin!”

“T-tentu saja Mr. Cha, hati-hati di jalan. Terima kasih sudah menerimaku kemarin, semoga harimu menyenangkan,” ucap Jongin sambil melambaikan tangan ke Mr. Cha demi meredam kegugupannya.

Annyeong appa! Salam untuk mereka ya!” ujarku pura-pura santai walaupun aku tahu, jantungku sedang melakukan party di dalam.

Sedetik kemudian appa sudah berada di depan rumah dan bersiap-siap menyalakan mobilnya. Aku senang melihat appa yang kembali ceria seperti itu J

Aish, untung appa masuk tadi, kalau tidak, aku tidak akan tahu bagaimana keadaanku sekarang. Ngomong-ngomong tadi Jongin ingin bilang apa ya…

Kami berdua pun terdiam kembali dengan suasana kali ini lebih canggung daripada sebelumnya. Jongin pun berdeham. “Anw, kurasa kita bisa telat kalau aku tidak mandi sekarang, tunggu aku lalu kita berangkat bersama,” kata Jongin yang lalu berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai satu.

Aku pun melihatnya pergi dan lalu menyunggingkan senyum, “Dalam 15 menit aku sudah akan berada di luar, jika kamu belum selesai bersiap-siap juga sampai saat itu, jangan harap bisa bertemu denganku di sekolah hari ini,” ucapku jahil kepada Jongin yang sebalnya, hanya ditanggapi dengan malas-malasan oleh Jongin. Sial.

Kim Jongin’s POV

Sheileen. Caranya membalas kejahilanku tadi sungguh membuat perutku serasa digelitik. Jujur, aku sadar bahwa tindakanku tadi di luar batas teman-masa-kecil. Aku tahu itu. Aku tahu dengan jelas, seorang penjaga tidak mungkin menyampaikan perasaannya kepada majikannya. Aku tahu itu dengan baik, Ms. Cha. Lalu mengapa Anda memberikanku tugas seberat ini? Apakah ini sebuah hukuman untukku akibat kesalahan yang kuperbuat beberapa tahun yang lalu? Dan ya, lagu yang diputar malam itu, tentu saja selalu kuingat. Lagu yang mengajarkanku untuk bersembunyi dari dunia ini dan menyimpan segala harapanku sendiri. “Forbidden”.

 

The moon is up and followed by the sun sleeps

The city of night is awaken

Letting all the dreams drowning into the deep

I swear I let myself swollen

For all the love I keep to myself

 

The sound of the ruthless world echoes

Sweeping down my wishful hopes

It always lets me seeking

From the fact I’m scared of facing

 

Now I let the snow begin the show

For all the joy of summer shall perish

From distant I want you to know

Our love is my secret wish

 

Different silence, different memories

Baby please don’t leave, don’t leave

The destiny of life might let you goes

But without you, I won’t live

 

So please, baby please

Let me be by your side

And let the world know

The love we have been trying to draw

 

Cha Jean’s POV

Pagi itu sebenarnya aku takut menghadapi putriku yang manis itu. Bagaimana tidak, kemarin malam sungguh suatu malapetaka yang yaaah, akhirnya berakhir bahagia. Kuakui aku memang (sedikit) pengecut, ha ha. Walaupun begitu, aku sungguh tidak tahu bagaimana nasibnya setelah tertidur lelap.

Ms. Cherry menelponku pagi-pagi, dia atasanku yang mengurusi duo Korean singers, the HunHan. Sedangkan aku, bisa dianggap sebagai asistennya (baca: pesuruhnya). Kurang lebih, beginilah percakapannya..

Klik!

“JEAAAANIEEE OH JEANNIEEE.”

WHAAAT IS IT MY QUEEEN?? STOP doing this SCREAMING in the MORNING.”

Oh please, I’m sorry. The HunHan! Mereka pergi ‘berkencan’ lagi hari ini.”

“KENCAN? Wadefak, memangnya mereka apa?! Homo?!”

“…..bukan, sekarang berhentilah berteriak.”

“Oh, maaf.”

“Bagus. Oke, istilah ‘kencan’ itu hanya bualanku, maksudku, mereka kabur berdua membeli bubble tea kesukaan mereka lagi.”

Bubble tea? Oh Krisus, baiklah aku mengerti. Aku tahu betul bubble tea kesukaan mereka ada dimana. Jadwal pertama hari ini apa dan dimana?”

“Pemotretan untuk Nike Shoes jam 11 di Randy’s Studio. Kita bertemu disana dan pastikan kamu sudah membawa mereka.”

Yes madam.

“Good. See you all there.”

Klik!

Penting sekali. Sangat. Astaga.

Anw, aku merasa yakin bahwa Sheileen sekarang baik-baik saja, karena tiba-tiba saja kudengar canda tawanya bersama Jongin, teman masa kecilnya, dari arah dapur. Anak itu memang rajin sekali, aku tidak tahu bagaimana nasibku sekarang jika setiap hari harus membeli makanan..

Aku pun memutuskan untuk bergegas turun dan mencari the HunHan secepatnya sebelum mereka membuat kehebohan di jalan. Namun, ketika aku menuruni tangga yang terletak di dekat dapur, canda tawa itu sudah berhenti. Hanya keheningnan yang menurutku sedikit tidak wajar. Karena penasaran, kubuka pintu itu dengan ganas dan kuputuskan untuk memberi salam seriang mungkin dan hanya bisa terkikik dalam hati dengan kejadian yang baru saja kulihat itu. Anak kita sungguh manis, Ree.

BRAK!

Aku menutup mobil Audi hitamku dan mulai bersiap-siap. Kejadian di dapur itu……ha. Sungguh, mereka berdua sangat lucu. Wajah merah Sheileen dan tingkah Jongin yang ingin memeluk Sheileen. Aku merasa bersalah menginterupsi mereka tadi, hahaha. Sepertinya, Jongin bisa membuat hari-hari Sheileen menjadi menyenangkan. Aku harus berterima kasih kepada Mr. Yixing nanti karena telah mengijinkan Jongin untuk tinggal bersama kami.

Kalau dipikir-pikir, kurasa pilihan Ree benar. Guardian Angel selanjutnya untuk Sheileen memang benar haruslah Kim Jong In.

Pagi itu cerah seperti biasanya di London, aku dan Jongin berjalan berdampingan menuju St. Ursula International High School. Aku lihat sudah ada beberapa orang dari sekolahku yang berjalan di belakang kami dan menunjuk-nunjuk pemuda di sebelahku yang tidak peduli ketika dirinya diperhatikan oleh mereka.

“Ehem, Jongin~” ucapku riang memulai percakapan diantara kami berdua dan berusaha menghiraukan tatapan tajam dari berbagai arah itu. Sungguh, sekarang aku hanya ingin memperbaiki hubungan canggung diantara kami. Lagipula, debaran jantung itu hanya bisa memperburuk keadaanku.

Mwo?” Jongin membalas sambil menatapku dengan pandangan malasnya.

“Sebenarnya aku penasaran…Bagaimana kamu….yang seperti ini….bisa ikut pertukaran pelajar?” tanyaku murni bertanya… Engga sih, pingin ngeledek juga hehe.

“-__- aku bukan yang-seperti-ini. Aku ini hebat. Dan tentu saja aku bisa. Jika kamu bisa, mengapa aku tidak?” ucap Jongin sambil kembali menghadap ke depan.

Aku memainkan batu kerikil yang ada di jalan sambil tetap berjalan bersamanya. “Tidak, maksudku, bagaimana bisa sekolahmu mempunyai kerja sama dengan sekolahku? Dan mengapa aku merasa semuanya ini terlalu kebetulan?”

Jongin memandangiku kembali sesaat, lalu ia mengalihkan pandangannya ke depan lagi sambil berkata “Sekolahku juga International School yang berada dalam satu lembaga dengan sekolahmu. Karena aku merasa dengan pergi ke London bisa membuat hariku ceria kembali, kuputuskan untuk mendaftar dan diterima.”

“Aku tidak melihat satu hal pun yang membuat dirimu tidak ceria….Buktinya tadi pagi dengan mudahnya kamu menjahiliku seperti dulu. Huh. Anw, memangnya hari-harimu tidak menyenangkan di Seoul?” tanyaku sambil menyapa anjing German Shepherd milik Suho oppa.

“Tidak, hariku menyenangkan, hanya…” har-hari merindukanmu itu sungguh menyiksaku.

“Hanya?”

“Hanya.. Bubble tea disini katanya enak. Jadi aku penasaran,” ucap Jongin mempercepat langkahnya dan langsung diprotes oleh Sheileen.

Ketika akhirnya langkah mereka seirama lagi, Sheileen memulai kembali interogasi kecilnya.

“Lalu, apakah cuma kamu saja yang ikut program ini?” tanyanya penasaran.

“Tidak, temanku Byun Baekhyun dan Park Chanyeol juga mengikuti progam ini,” kata Jongin memperlambat langkahnya lagi supaya bisa berjalan berdampingan dengan gadis ini.

“Ah begitu……Hm..Jadi Jongin-ya.”

“Apa lagi?”

“Apakah kamu masih menari?”

Deg. Menari? Sungguh? Sheileen akhirnya menari lagi? “Uhm…Ya, aku masih menari, Sheileen. Sepertinya kamu juga,” ucap Jongin ragu, takut hal itu menyinggung perasaan gadis yang ia sayangi ini.

“Tentu saja aku masih menari! Ini satu-satunya kenangan yang tidak akan pernah aku lepas mengenai amma, Jongin,” ucapku sambil tersenyum dan melangkah mantap ke sekolah meninggalkan sebersit kenangan rindu akan amma yang Sheileen harap, ia melihatnya sambil tersenyum sekarang.

—the end of chapter three—

TBC

**

THANKS FOR READING  WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL  JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY CHA MIHO (@FAB_CINTA) NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see

https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

5 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Summer Story” – Part 3

  1. Cynthia September 9, 2012 at 10:56 AM Reply

    Waaa.. Sebenerx sm lay ato kai sih..???
    Penasaran.. ditgu part selanjutx 😀

    • Cha Miho September 14, 2012 at 10:31 AM Reply

      Thanks udh baca Cynthiaa 🙂 Sip, part selanjutnya udh ada~ hehe. Ditunggu komennya ya! :3

  2. hanjesi October 11, 2012 at 4:19 AM Reply

    Oh..kay..

    Dari awal baca yang ngebuat aku pengen cepat comment adalah..

    WAE THE HUNHAN!
    WAE
    WAE
    WAE
    WAE
    WAE

    You know exactly my grudge to SEHUN, EONNI-AAAAAAAAAAAAAA..
    WHY
    WHY
    WHY
    WHY
    WHY

    I HATE SEHUN..
    SEHUN
    T_T

    • Cha Miho October 13, 2012 at 1:55 PM Reply

      HEY AKU LEMPAR KAMU PAKE KIMCHI NIH!
      Nih ya, kalo kamu ga bisa ngerebut Luhan(*mu*) dari Sehun, ya tandanya KAMU KALAH NENG 🙂

      Relain aja~ the HunHan FOREVER (Y)

      • hanjesi October 14, 2012 at 3:37 PM

        AKU BISA KOK!
        Cuma sehun yang hopeless kayak ga dapat cewek kauyak aku aja =3=

        JELU FOREVER (Y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: