EXOtic’s Fiction “Summer Story” – Part 2

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Summer Story”

 

TITLE               : Summer Story

SUB-TITLE        : The Second –The Awakening

AUTHOR          : Cha Miho (@fab_cinta)

MAIN CASTS   :

  • Cha Sheileen
  • Kim Jong In
  • Zhang Yi Xing 

LENGTH           : Series

GENRES           : Romance, School Life, Friendship, Family

RATING           : PG – 13

LANGUAGES   : Korean (Indonesian) and English (Minor)

-notes- cerita ini akan mengambil tempat di London, England, sehingga beberapa percakapan akan menggunakan bahasa Inggris. Namun bahasa utama yang digunakan tetap Korea (Indonesia). Percakapan di dalam pikiran seorang tokoh dilambangkan dengan huruf miring berwarna.

-disclaimer- SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSIONS and after you read the story, please give a comment ^^ Every word from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 **

— Summer, Seoul Orphange, 7 years ago—

“Woaah! Kamu menari dengan sangat indah!” ujar anak laki-laki itu yang sekarang lebih terfokus kepada tarianku daripada gitarnya itu.

Aku tersenyum. “Hehe! Tentu saja! Ammaku seorang penari hebat! Ia mengajarkanku banyak hal! Dan kau tahu, amma bisa menari berputar-putar tanpa terjatuh!”

Sheileen pun mempraktekan putaran fouttes yang ia maksud dan terjatuh dengan cepat di padang rumput seperti dugaannya.

Anak laki-laki di depannya yang merasa khawatir dengan keadaannya langsung cepat-cepat berdiri dan menghampiri malaikat kecilnya ini.

“Hei, apakah kamu baik-baik saja?” ujarnya was-was melihat goresan merah yang samar-samar mulai terlihat di lutut gadis kecil itu.

Sheileen hanya tersenyum lalu tertawa riang, “Hehe! Tenang saja! Aku sudah sering terjatuh seperti ini dan keadaanku selalu baik! Amma bilang, terjatuh dalam menari itu perlu supaya nanti ke depannya aku tidak akan jatuh lagi!”

Melihat keceriaan si gadis kecil yang menyegarkan hati, anak laki-laki itu mau tak mau ikut tersenyum. “Hahaha baiklah, sini kubantu berdiri.”

Pemuda itu pun menyodorkan tangan kanannya untuk menarik gadis itu bangkit berdiri, ia tidak menyangka bahwa gadis itu sungguh amat sangat ringan… Sepertinya ia tidak menggunakan tenanga sama sekali untuk membantunya berdiri…

HAP!” sorak Sheileen gembira akhirnya bisa berdiri kembali yang disambut dengan senyuman cerah anak laki-laki di depannya itu.

“Ngomong-ngomong, aku Cha Sheileen! Nama kakak siapa?”

Pemuda itu sedikit terkejut namun ia menyembunyikan keterkejutannya dengan memberikan tatapan lembut serta senyuman manis kepadanya, “Aku? Namaku…”

“Leen, ayo bangun, kita sudah sampai.”

Appa membangunkanku dengan pelan dan memberitahuku bahwa sekarang kami sudah ada di basement Vermount Hospital. Ya, aku mengenal betul basement ini karena dulu aku sering menjenguk amma disini…

“Oh? Oke pa. Saking indahnya mimpiku tadi, aku sampai tidak sadar kita sudah sampai, hehe,” ucapku sekilas dan hanya dibalas dengan senyuman yang dipaksakan oleh appa. Ada apa ini?

Aku pun turun dari mobil audinya dengan wajah masih mengantuk. Appa lalu memposisikan dirinya di sebelahku dan dengan sengaja menggenggam tanganku sambil berjalan menuju lift. Aku menatap wajahnya yang tertutup topeng senyuman itu, aku tahu banyak kegelisahan dan kecemasan yang dirasakannya sekarang mengingat diriku tiba-tiba pingsan tadi.. Maaf Sheileen merepotkanmu pa..

Waktu berjalan dengan lambat, tetapi kami pun akhirnya sampai di lantai dasar. Pintu masuk rumah sakit itu terbuka otomatis, hawa yang aku kurang sukai itu lalu datang menerjang segala sudut indera penciumanku. MualAku muak dengan aroma ini. Tanpa sadar, tangan appa sudah kugenggam lebih erat daripada sebelumnya dan appa membalas genggamanku sambil mengelus-elus punggungku yang kecil. Nyaman.

—Cha Jean’s memory, 7 years ago—

            “Amma!!! Amma jangan pergi tinggalkan Sheileen!! Bukankah amma berjanji kita akan menari bersama-sama lagi?! AMMAAA!!”

Teriakan dan isak tangis anak perempuan Cha Ree, Sheileen, menghiasi pemakaman kelam pagi hari itu. Bagaimana tidak, bulan ini masih musim panas dan hujan deras serta awan gelap, tiba-tiba ikut berkabung mengantarkan kepergian salah satu wanita berbakat di Seoul, Korea Selatan.

Banyak orang-orang terkenal, kerabat, dan teman-teman Cha Ree berkumpul mengalunkan nada sendu. Mereka semua bersedih, berusaha tegar, namun beberapa diantaranya tidak sanggup menahan air mata yang mendesak keluar, termasuk diriku.

Aku Jean, Kyun Jean, sahabat serta cinta pertama dan terakhir Cha Ree. Musik membawa kami bertemu di Julliard dan kami menciptakan kebahagiaan disana. Namun, bukan jalan yang mudah untuk bisa terus bersama dikala orang tua tidak menyetujui hubungan kami. Ayahanda Ree merupakan seorang lelaki yang menjaga tradisi keluarga dengan ketat. Ia tidak akan pernah bisa membiarkan putrinya bersama-sama dengan lelaki yang bukan asli Korea. Berbagai usaha dan cara sudah kami lakukan, namun tidak ada yang membuahkan suatu keberhasilan. Oleh karena kebaikan Ibu Ree, beliau mampu membujuk suaminya dan memberikan kami kesempatan untuk tetap berhubungan; walau imbalannya, kami tidak akan pernah bisa berhubungan lagi sebagai sepasang kekasih.

Tahun demi tahun berlalu, aku dan Ree hanya berkomunikasi lewat email maupun skype. Aku memutuskan untuk mencari sebuah pencerahan dengan pergi bekerja ke London, kota asal Dad. Namun, selama bertahun-tahun perasaan ini tidak bisa kuhapus, pengganti mentariku tak kunjung datang, dan kerinduan selalu mengembangkan cinta yang tak bisa kuraih ini. Hingga suatu ketika, selama 6 bulan aku tidak mendegar suaranya. Gelisah tak tertahankan akibat jarak yang terlampau jauh, mengurungkan niatku untuk tidak bertemu dengan satu-satunya matahariku.

Setibanya di Seoul, mencari Cha Ree, sang Angsa Putih Korea, seharusnya bukanlah suatu hal yang sulit. Namun kenyataannya, membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa membujuknya untuk mau menemuiku. Siapa sangka, alasan dibalik semua isolasinya terhadapku ialah akibat penyakit jantung kronis yang telah menggerogoti jantungnya selama 2 tahun. Ia berjuang melawan penyakit ini tanpa diketahui oleh orang-orang terdekatnya, terutama diriku. Sampai suatu saat, ia membiarkanku masuk untuk menemaninya melangkah di jalan yang telah ia lalui sendiri.

            —flashback, 10 years ago—

 “Apa kamu bilang?! Ree-ah! Hentikan lelucon tidak lucu ini!”

Aku melihatnya tersenyum dan membelai halus pipiku yang basah karena hujan. Ia pun berkata dengan wajah sedih yang ia tutupi dengan senyuman palsu itu, “Jean-ah, jangan marah. Jangan kesal terhadap dunia maupun kenyataan yang baru kukatan kepadamu ini. Aku memang sempat membiarkan diriku mengatasi semuanya sendiri, dan berusaha untuk menutupinya agar orang-orang yang kusayangi tidak khawatir, terutama dirimu, maafkan aku soal itu. Namun sekarang aku menyerah. Aku memutuskan untuk melepaskan benteng pertahanan diriku ini kepadamu, aku akan membiarkanmu melangkah bersamaku dan menopangku disaat aku akan terjatuh di jalan yang telah kulewati sendiri ini. Jadi kumohon, jangan bersedih dan kabulkanlah permintaan egoisku dan teruslah berada disisiku, selamanya.”

Aku hanya bisa menatapnya dengan air mata yang dengan serakahnya berkompetisi melangkah keluar. Kupandang dirinya yang tetap berusaha tersenyum dan meyakinkanku untuk tetap tegar. Pada akhirnya, hal ini hanya bisa membuat kedua tanganku membawanya kedalam pelukanku. Samar-samar aku mendengarnya menangis, namun aku tidak ingin membuatnya lebih sedih daripada ini. Kuputuskan untuk membiarkannya tenggelam lebih dalam di pelukanku dan menepuk-nepuk pelan punggungnya yang terlihat rapuh itu. Ia terlihat lebih tenang setelahnya. Kubelai kepalanya dengan lembut lalu kucium keningnya lama seraya berdoa dalam hati supaya waktu berhenti saat itu juga dan membiarkan gadis ini bertahan hidup, setidaknya disisiku, selamanya.

Aku dan appa akhirnya menuju tempat receptionist dan mengambil nomor antrian untuk dokter. Kulihat appa yang sepertinya menunjukkan raut wajah sedih setelah membelaiku tadi, namun aku tidak sanggup bertanya mengenai keadaannya.

Seperti biasa, aku mudah bosan. Kunyalakan Samsung Galaxy Ace Plus-ku dan membuka aplikasi ChatON.

[Cha Sheileen] : Brenda!

[Brenda West] : OMG Sheileen! Hows ur condition??! Ar u in hospital now?

[Cha Sheileen] : Yes I am n now Im waitin w appa for the doctor. Are u feel any better now?

[Brenda West] : Isnt it suppose to be ME to ask you that? -__-

[Cha Sheileen] : No, Im worried abt u too whos worried abt me..

[Brenda West] : …….

[Cha Sheileen] : Wat nao.

[Brenda West] : Did I just talk to an angel or youre just simply too kind?

[Cha Sheileen] : Both 😀

[Brenda West] : …….. Oh yeah… BTW there is a transferred student today!

[Cha Sheileen] : Oh? 4 REAL?! How how?

[Brenda West] : Asian, and Korean. He’s a real hawt.

[Cha Sheileen] : Nuh-way.

[Brenda West] : Yesh-way. And guess what, you got into the London-Seoul transferred student program!

[Cha Sheileen] : Lon-wah?

[Brenda West] : Oh I guess Mr. Yixing haven’t told ya abt it then.

[Cha Sheileen] : Yes he hasnt, n u betta tell me after I get this medical check up. Ttyl!

[Brenda West] : Sure sugar! GWS!

Aku pun menutup ponselku dan berjalan mengikuti appa ke ruang dokter yang akan kami tuju. Pertukaran pelajar ini entah mengapa membuatku senang. Imajinasiku mengenai Seoul, pertemuanku kembali dengan kakak Chen, telah berdansa dengan liar yang sukses membuatku menyunggingkan senyumku. Sepertinya hal ini yang tadi siang ingin dibicarakan oleh Mr. Yixing… Dan soal pelajar baru itu, apakah dari pertukaran pelajar ini juga kah? Wah, aku sudah tidak sabar.

“Sheileen kamu tunggu disini dan biarkan appa bicara dengan perawat disana sebentar.”

Perintah appa membuyarkan imajinasiku dan aku pun menjawab, “Ah.. Ya, baik appa.”

Appa bergegas pergi meninggalkanku duduk kembali untuk menunggu dipanggil oleh suster. Aku melihat sekeliling untuk sejenak… Berusaha berpikir dengan keras untuk membangkitkan sebuah memori mengenai ruangan ini. Setelah menyadari bahwa sepertinya aku benar-benar mengenal koridor ini.. Jantungku lalu berpacu dengan tidak teratur.

“Ayo kita temui Dr. Fenny.”

Deg. BINGO. “Bukankah itu dokter yang menangani amma dulu? Dokter jantung?” tanyaku ragu-ragu dan berharap appa akan berkata tidak.

Appa tersenyum dan dengan kudengar ia mendesah sedikit lalu menjawab, “…Iya Sheileen.”

Aku mulai merasakan bahwa sepertinya kondisiku…benar-benar ada apa-apanya… Sekujur tubuhku terasa mengingat rasa sakit itu dan aku merasakan bulu kudukku mulai berdiri. Kuberanikan diri untuk tetap bersikap biasa dan berjalan menuju ruangan Dr. Fenny.

Dr. Fenny menyambutku dan appa dengan hangat, seperti dahulu, paras cantiknya tidak pernah berubah. Aku sungguh salut oleh orang-orang seperti ini. Hmm aku berharap dewasa nanti aku bisa awet muda seperti beliau, hehe.

Hello Sheileen, how are you?” sapa Dr. Fenny ramah kepadaku yang kubalas dengan senyum manis yang diikuti oleh anggukan pelan.

Great. So how about we check yourself first and let you rest in there for while?

Aku pun mengangguk dan berjalan ke tempat tidur yang sudah disediakan. Jujur, aku masih merasa sedikit mengantuk dan tempat tidur itu sungguh menggoda naluriku pemalasku untuk tidur.

Dr. Fenny pun mulai memeriksa keadaan jantungku dan segala sesuatunya yang berhubungan dengan itu menggunakan alat-alat yang tidak kuketahui namanya itu. Perubahaan ekspresinya, tidak bisa kubaca, dan hal seperti inilah yang kubenci ketika aku sedang memeriksakan diriku ke dokter. Topeng mereka terlalu banyak dan berkualitas tinggi.

Beliau pun lalu menyuruhku untuk kembali ke tempat duduk bersama appa-ku dan ia mulai mempersiapkan kertas resep. Setelah ia selesai menulis namaku dan nama appa, Dr. Fenny menaruh kacamatanya dan menatap kami berdua dengan serius.

Mr. Cha, I’m sorry to say but as you’ve informed me earlier, your daughter really have the same symptoms as her mom. But you guys don’t need to worry, it hasn’t been that dangerous and I could give her some medicines to slower the growth of its and as fast as possible destroy it,” ucapnya serius sambil mulai mencoret-coret kertas resep yang akan menjadi keramat untukku itu.

Wait wait!! So I could die anytime?!” teriakku panik dan histeris tanpa sadar mengenai kejutan…atau boleh kubliang, kabar buruk, yang sangat amat tidak kusukai ini.

No, Sheileen, no. Your disease is still in a weak stage, which mean, if you follow my rules and eat all the medicines that I give you, it won’t grow until the stage of a person who are seriously will have that check mate option. So please just follow all the directions that I will give to you soon.

Dr. Fenny mengatakan semua hal itu dengan amat sangat tenang. AGAIN, itu hanya membuatku tambah frustasi dan bisa kulihat appa juga sedang mengatur emosinya ketika mendengar hal ini. Appa

Sheileen, let’s just listen to what she said okay and be sure you’ll be a good girl.”

I’m 19th already and I know that for sure appa,” kataku sambil mencodongkan bibirku ke depan.

Tidak lama kemudian setelah pemberitahuan singkat nan tegas itu, Dr. Fenny memberikanku segala resep dan hal-hal yang boleh dan tidak boleh kulakukan selama aku masih dianggap positif mengindap penyakit jantung ini. Dan ketika ia mengatakan aku tidak boleh lagi menari lebih dari 5 jam per hari… Itulah yang sangat memukulku… Maksudku… menari, menari sudah menjadi bagian dari hidupku, terutama itu kenanganku yang sangat penting bersama amma

— Summer, Cha’s Studio, 7 years ago—

 “Amma! Lihat, sekarang aku sudah bisa fouttes seperti amma!”

“Waah Sheileen memang pintar sekali, hari ini amma harus memberi kamu sesuatu ya?”

“Tentu saja! Amma sudah berjanji! Bagaimana kalau amma menari bersamaku saja?” ucapku riang dan tidak sabar. Amma tertawa, tawanya jernih seperti malaikat, itulah yang membuatku mencintai amma.

“Menari bersama Sheileen? Tentu! Ayo kita menari dengan lagu ‘La vie en rose’“

Aku dan amma menari dan berputar-putar bersama di ruang studio milik amma di Seoul. Sungguh menyenangkan bisa menari bersama ammaAmma seperti selalu bisa membaca pikiranku.

Tiba-tiba seorang dance trainer di studio amma masuk dan membawa seorang anak laki-laki. Perawakannya manis, namun bukan manis seperti seorang perempuan. Wajahnya tampan dan tatapannya sungguh memikat mata. Aku dan amma pun memberhentikan kesenangan kami sejenak untuk menyapanya.

“Ree-ya, anak ini memaksa untuk melihatmu dan Sheileen menari bersama. Ia juga merayuku dengan manis untuk memperbolehkannya menari bersama kalian hahaha.”

Kulihat amma kembali tertawa lalu menjawab, “Oh, begitukah? Baiklah pemuda kecil, ayo kemari dan menari bersama kami. Siapa namamu?”

“Jongin. Kim Jongin.”

“Baiklah Jongin, kenalkan ini Sheileen, Cha Sheileen, anakku.”

Aku pun menyodorkan tanganku dan tersenyum riang kepadanya. Ia hanya memandangiku dan akhirnya menyambut tangan mungilku itu. Ia lalu perlahan tersenyum. Sungguh lucu sekali wajahnya waktu itu.

Kami bertiga pun akhirnya menari bersama-sama, tanpa disangka Jongin bisa menari dengan sangat menakjubkan. Aku pun merasa tersaingi dan tidak mau kalah dengan tarian yang ditampilkan oleh Jongin. Secara diam-diam amma mengundurkan diri dari arena dan melihat betapa serunya perlombaan kecilku bersama Jongin. Pada akhirnya kita berdua pun kelelahan dan tertidur nyenyak satu sama lain di studio amma. Samar-samar sepertinya aku mendengar amma berkata..

“Jongin, mungkin kamu akan menjadi malaikat pelindung Sheileen selanjutnya. Aku menitipkannya padamu.”

“Sheileen, ayo bangun nak. Astaga kamu tertidur lagi,” ucap appa tidak percaya terhadap kemampuan-tidur-kapanpun-dan-dimanapun putrinya.

Tanpa kusadari lagi, aku sudah berada di garasi rumahku sekarang. WOW kurasa hari ini aku benar-benar kelelahan. Appa sepertinya ingin menganggapi kunjunganku ke dokter hari ini dengan santai, melihat perubahan raut mukanya yang sepertinya membaik dan mengingat bahwa ia melihat betapa terkejutnya aku saat itu… Baiklah, appa pasti percaya kalau aku akan sembuh, kalau begitu aku harus semangat juga melawan penyakit ini! Yep, semangat yang sama seperti amma, tapi amma….

“Sheileen? Ayo keluar, jika kamu tidak keluar dalam 10 detik, aku tidak akan membuatkanmu hot chocolate hari ini,” ucap appa jahil yang kembali berhasil membangunkanku dari pikiran-pikiran negatif.

“Enak saja!! Iya iya aku keluar! Aku mandi dulu ya pa!” kataku singkat seraya bergegas menuju kamar mandi dan memutuskan untuk mengalihkan perhatianku kepada perbincangan yang sempat terputus dengan Brenda tadi.

[Cha Sheileen]             : West B)

[Brenda West]             : Cha, what happened? Hows your condition? :S

Bagaimana kondisiku…. Aku tidak ingin memberitahukan ini kepada Brenda. Melihat dia begitu khawatir padaku tadi siang saja…sudah membuatku frustasi.

[Cha Sheileen]             : Uhm was good, I was just too exhausted, nothing serious happens J

[Brenda West]             : Are you serious girl? You know you can alwys count on me anytime.

[Cha Sheileen]             : Sure thing. Now now, continue what you were talking abt to me bfr.

[Brenda West]             : Oh, about Kai?

[Cha Sheileen]             : Kai? Who’s Kai? :/

[Brenda West]             : Kai, Kai, the transferred student.

[Cha Sheileen]             : Ah that guy. I thought you’ve said that he’s a real hawt. Do you like him at the first sight? Lawls.

[Brenda West]             : ……….

[Cha Sheileen]             : Did I just got a BINGO? WOHOO BRENDA WEST!

[Brenda West]             : Oh shaddup you, every girl in school was all inside his pheromones.

[Cha Sheileen]             : Lol, seriously? I must see him for sure then.

[Brenda West]             : You betcha. Btw, about that transferred program, it’s for a month, so I guess you could stay with your brother later?

[Cha Sheileen]             : Oh so that’s how is it. Okies I’ll ask Mr. Yixing first about the details tomorrow, thanks hun :3

[Brenda West]             : Sure thing babe. Now, are you seeeeeeeeriously okay? You know Ill be mad at you if you lied to me.

[Cha Sheileen]             : When the time comes, I’ll tell you. Now I need to do some stuff, Ill catch ya tomorrow! :* {}

[Brenda West]             : Alright sweetie, I hope youll get better soon too.

Baiklah, tadi sangat menyeramkan. Aku tidak bisa berbohong lebih jauh lagi kepada Brenda, hal ini sudah membuat jantungku berdetak tidak karuan. Gawat, hal ini tidak baik.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan aku melihat appa masuk dengan hot chocolate di nampan. Wah, hot chocolate :9

Hot chocolate!” teriaku histeris tanpa sebab yang dibalas dengan tundingan kaget appa.

            “Kamu lebih ingin hot chocolate ini daripada appa? Appa sungguh sedih,” lalu appa membuat muka sedih yang dibuat-buat. Hahaha appa memang keren.

“Tentu saja aku mau dua-duanya~ Ada apa pa?”

“Mr. Yixing menelponku tadi, katanya kamu masuk dalam program London-Seoul transferred student ya? Selamat!” appa lalu memelukku dengan erat sejenak.

“Hehe makasih pa~ dan oh? Mr. Yixing menelpon appa? Awww seharusnya appa memberikan teleponnya padaku! Aku kangen Mr. Yixing… tetapi terima kasih lagi pa, hehe.” ucapku tulus sambil menjulurkan lidah sedikit.

Appa lalu membuat wajah appa yang cemburu ketika anak perempuannya menyukai laki-laki lain, “Aku tidak akan membiarkan putriku direbut lelaki lain. Lagipula, apakah benar Mr. Yixing itu laki-laki yang bermain gitar di panti asuhan7 tahun yang lalu? Sebenarnya appa merasa pernah melihatnya lho…”

Mataku membelalak. “Serius?! Dimana pa?! Dan iya betul kok! Laki-laki itu memiliki nama yang sama dengan Mr. Yixing, Zhang Yixing, dan ia memang seorang chinese!”

            “Hm.. Entahlah, wajahnya mirip salah satu teman kakakmu, Chen. Ngomong-ngomong, aku sudah bicara kepada Chen, ia bersedia menerima adik manisnya di rumahnya,” ujarnya seraya mengacak-acak rambutku.

“Benarkah?! Asyik!! Kak Chen sekarang masih di Seoul kan?” tanyaku seraya menepis tangan appa kesal karena rambutku menjadi berantakan sekarang.

Appa tertawa. “Yup dan ada lagi yang ingin kubicarakan sayang,” ujarnya serius.

Jantungku kembali berdetak cepat. Dengan ragu aku bertanya, “….Tentang penyakitku..?”

“….hal itu dan hal lain. Kamu mau mendengar yang mana terlebih dahulu?” appa lalu tersenyum lembut sambil membelai kepalaku yang mulai terasa berat.

“Hal lain,” balasku dengan senyum yang dipaksakan.

“Kalau begitu, transferred student dari London-Seoul program itu, akan tinggal bersama kita selama 2 minggu disini, namanya..”

O_O “KAI?”

Appa terlihat sama-sama terkejutnya dengan diriku, ia pun dapat mengatasi keterkejutannya dan berkata, “Oh? Kamu sudah tahu? Tetapi sebenarnya kamu sudah pernah bertemu dengannya cantik.”

“Aku? Pernah? Kapan? Bagaimana?” tanyaku bingung dan berusaha mengingat-ingat siapa laki-laki yang mungkin aku kenal itu.

“Kim Jongin. Kalian pernah menari bersama beberapa tahun yang lalu di studio amma sebentar. Seharusnya kamu ingat padanya..”

Aku ingat. Tentu saja aku ingat. Laki-laki nakal dan jahil itu, laki-laki yang lebih menyukai dirinya daripada orang lain. Ha! Aku tidak menyangka banyak gadis di sekolah jatuh hati padanya, even Brenda too! O-o

“Dia ada di bawah sekarang kalau begitu?”

“Yup, dia sepertinya mandi terlebih dahulu.”

“Baiklah aku akan turun sekarang untuk melihatnya dengan mata kepalaku sendiri,” kataku seraya bangkit berdiri ingin menyapa teman lama yang sudah lama tidak kutemui itu.

“Tunggu, appa belum selesai,” ujarnya singkat namun tegas.

Aku menghentikan langkahku dan berbalik melihat wajah appa yang sudah berubah menjadi sedih seperti ketika kami menemui Dr. Fenny tadi.

Appa…

“Kamu tahu.. Appa sangat menyayangimu Cha Sheileen.”

Aku terdiam bisu oleh kata-kata hangat itu. Tidak ada yang berbicara diantara kami, lalu setelah appa menghela nafas, ia pun melanjutkan kata-katanya.

Appa harap hal ini tidak membuatmu berhenti tersenyum.” Appa lalu berhenti sejenak dan tersenyum sedih, parasnya mengatakan bahwa ia merindukan amma sekarang.. “Ree.. Amma­-mu… Ketika ia mengetahui bahwa ia mengindap penyakit jantung turunan ini, caranya menanggapi hal ini sama sepertimu tadi. Kaget dan tidak percaya sama sekali. Waktu itu Ree sempat menyendiri dan tidak mau bertemu denganku. Haha kejamnya..”

Appa berhenti sejenak, kulihat ia berusaha menahan tangis yang menuai rasa rindu yang sama besarnya sepertiku terhadap amma. Namun, ia pun melanjutkan, “Lalu akhirnya kami berdua bisa bertemu, dan ia mempercayakanku, sahabatnya, orang yang paling ia kasihi di dunia, untuk menopangnya berjalan melalui hari-harinya,” ujarnya seraya tersenyum

Appa lalu menatapku dan memegang kedua pundakku. “Ia berkata, bahwa aku harus di sisinya selamanya, menjadi malaikat pelindungnya,” ia tersenyum lalu melanjutkan, “Mungkin appa bukanlah appa-mu yang sebenarnya, mungkin kamu merasa bahwa kamu akan membuat appa khawatir jika kamu bersedih. Tetapi sungguh Sheileen, jangan menutup dirimu seperti itu. Appa sungguh amat menyanyangimu seperti appa mencintai Ree. Appa akan berusaha melindungimu sama seperti Ree. Jadi, appa tahu kamu sebenarnya berusaha tegar dan akan memutuskan untuk menanggung ini semua sendiri, tetapi ada saatnya kamu harus membiarkan dirimu ditopang orang lain, Leen.”

Kurasakan satu tetes air mata mulai jatuh dari kelopak mataku, appa pun memelukku erat dan kembali membelai kepalaku dengan lembut. Dalam pelukan dan penuh isakan aku berkata, “Shei-Sheileen s-senang k-k-kok appa Jean yang menjadi appa Sheileen. Waktu kak Chen dan Sheileen diadopsi oleh amma yang waktu itu ditemani oleh appa, aku sejujurnya merasa sangat senang dan belum sempat mengucapkan terima kasih. J-jadi, appa tidak boleh berkata seperti itu.”

Aku merasakan appa mempererat pelukannya kepadaku dan samar-samar aku mendengarnya membalas, “Terima kasih Sheileen. Terima kasih sudah menerimaku dan membiarkanku menyayangiku seperti putriku sendiri. Appa sungguh beruntung.”

Setelah isak tangis kami berdua mereda, appa lalu tersenyum padaku dan memberikan petuah terakhir. “Leen, jadi kurasa kamu juga harus mempunyai semangat seperti amma ya. Jaga selalu kesehatanmu dan minumlah obat yang rajin. Appa tahu menari adalah hidupmu, karena amma juga memiliki kesukaan yang sama. Tetapi, jangan forsir dirimu dan bersikap dewasalah. Appa percaya padamu,” ia pun tersenyum dan hal tersebut dijawab oleh satu anggukan mantap yang disertai dengan sebuah senyuman di wajahku.

Kami berdua lalu berpelukan dengan hangat, berusaha membagikan semangat positif terhadap satu sama lain. Tanpa kami sadari, Jongin telah mendengar semuanya di balik pintu yang sedikit terbuka, wajahnya melukiskan emosi yang saling beratutan dan tidak dapat ia terima dengan baik. Yang ia tahu hanya satu, ia harus melindungi gadis itu seperti appa Sheileen yang berusaha melindunginya juga.

—the end of chapter two—

TBC

**

-note- maaf kalo author sok2an pake bahasa Inggris, hahaha. Biar sekalian gitu EXOWPers mungkiiiin nambah vocabulary #eaaa. Anw, mulai sekarang, setelah cerita selesai, author akan selalu lampirin beberapa terjemahan buat perbincangan yang agak panjang. Oh iya, maaf kalian belom ketemu ama Kai, Lay dan Chen agak banyak, lol, sabar yaaa. *psst* ini cerita bakalan super panjang, doain author supaya bisa nulisnya tambah bagus supaya EXOWPers makin cinta ama author! Muehehehe =w= makasiiiih *tebarkiss*

 

-translation-

Mr. Cha, I’m sorry to say but as you’ve informed me earlier, your daughter really have the same disease as her mom. But you guys don’t need to worry, it hasn’t been that dangerous and I could give her some medicines to slower the growth of its and as fast as possible destroy it,”

“Mr. Cha, maafkan saya tetapi seperti yang telah Anda katakan sebelumnya, anak Anda benar-benar mempunyai penyakit yang sama seperti mamanya. Tetapi kalian tidak perlu khawatir, hal ini belum menjadi serius dan saya bisa memberikannya beberapa obat untuk memperlambat pertumbuhannya dan secepat mungkin memusnahkannya,”

THANKS FOR READING  WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL  JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY CHA MIHO (@FAB_CINTA) NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

8 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Summer Story” – Part 2

  1. Cynthia September 6, 2012 at 2:02 PM Reply

    Loo.. klo kai di london n sheileen di korea gmn cara jagainnya??
    ditunggu part selanjutx ya 😀

  2. Cha Miho September 6, 2012 at 3:37 PM Reply

    Hehe gimana yaa~ Sip ditunggu yaah, makasih udah baca 🙂

  3. Andini September 8, 2012 at 8:02 AM Reply

    Part 3! Part 3!!!!!;___;

  4. hanjesi October 11, 2012 at 4:10 AM Reply

    Aaaaaa..
    Neo cinta eonni *lol*

    I kinda don’t understand this ff.. But I’ll continue it~

    *buka part 3 dengan santainya*

    • Cha Miho October 13, 2012 at 1:54 PM Reply

      LOL jujur banget ya ampun, iya thanks lho udh lanjut ampe part 6 😉

      • hanjesi October 14, 2012 at 3:36 PM

        Hahaha :3 soalnya agak complicated dan ga menemukan penerangannya. Part 4 uda ngerti kok xD hahaha

        Berat nih ada baletnya segala =3=

  5. Cha Miho October 16, 2012 at 1:44 PM Reply

    yeaaah maaf yah emang ini bakalan complicated banget, lolol.
    hey itu kata pertama yg muncul pas aku ketik ‘teknik ballet’ di google…….ha ha ha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: