EXOtic’s Fiction “Sacrifice” – Part 4

EXOtic’s FICTION

exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Sacrifice”

Title : Sacrifice

Sub Title : 4thStory – I lost for you. I fell for you

Main Cast :

  • Kai- Kim Jong In
  • Fellia

 

Length : 10 shot

Genre : Romance

Rating : PG-13

Summary :

 

I only give my whole life to one person.

Person who especially can make my heartbeat feels so real.

When i met her, World is joking around me.

Should i release you?

Can i really feel so alive when my eyes can not see you?

Can i really feel so alive when my ears can not hear you?

I learned one thing from love.

Sacrifice.

 

**

 

I was so afraid when i found out that this heart is taken by someone

I believe that i wont fall for someone

But its false, the truth i fell for him

But when i try to trust you

To love you

To see only you

This world is joking around me.

Can i really feel so alive when my eyes can not see you?

Can i really feel so alive when my ears can not hear you?

I learned one thing from love.

Sacrifice.

 

**

 

A simple story between Kim Jong In & Fellia.

 

Kai’s POV

Aku melihat kebelakang, gadis itu tertidur.. Bagaimana bisa ia menyuruhku cerita kehidupanku dari kecil sampai sekarang, dan sekarang dia yang tertidur. Apakah perjalanan hidupku begitu membosankan?

Kakiku terus melangkah sementara aku masih berusaha membopong gadis ini, sebenarnya aku sama sekali tidak keberatan. Kenapa? Karena aku suka kehangatan tubuhnya. Aku suka merasakan uap panas dari tarikkan napasnya.. Karena aku suka merasakan sentuhannya.. Karena aku suka mengetahui kenyataannya, ia bernapas. Ia bernapas didalam dekapanku.

Memeluknya bukanlah pertama kalinya bagiku. Mungkin sudah banyak kali. Tapi perasaannya mash sama saja kuat, setiap kulit kami bersentuhan. Detak jantung itu semakin kuat, dan sekujur tubuh memanas. Karena itu akhirnya aku tau, kenapa banyak sekali orang jadian dimusim winter / salju. Ini semua pasti karena mereka tidak ingin kedinginan, apalagi sendiri..

Aku menatap langit sebentar, ini sudah hampir pagi tapi tidak ada tanda-tanda matahari akan muncul. Tapi cuaca tidak sedang mendung, buktinya banyak sekali bintang bertaburan diatas. Aku berhenti sebentar untuk menarik napas, dan menaikkan Fellia agar tidak melorot dipunggungku..

“Sebentar lagi…”

Aku sama sekali tidak ingin pulang, bolehkan aku menggendongnya terus? Karena jika sudah pulang nanti, aku tidak punya alasan untuk memeluknya seperti ini.. Karena jika pulang nanti, aku takut ia akan menjauhiku.. karena jika pulang nanti, aku takut tidak bisa dekat lagi dengannya. Aku hanya takut.

Aku Kim Jong In darikeluargaWorldmine.Sejak kecil aku tidak punya hal untukku takuti. Orangtua, kemiskinan, anti, dan semacamnya. Aku tidak peduli akan hal itu. Baru kali ini saja aku merasa aku takut kehilangan seseorang. Yaitu dia, Fellia..

Langit diatas sana indah sekali ya, bisakah aku mengukir banyak memori indah seperti bintang itu? Atau kalau tidak bisa, aku berharap bahwa semuanya akan tetap begini saja.. Aku tersenyum, pikiran bodoh apa itu? Tuhan, terima kasih atas hadiah ulangtahun terindah yang kau berikan. Gadis ini adalah hadiah terindah..

End of Kai’s POV

**

Fellia’s POV

Aku melihat kesana-kemari, ada apa sih mereka? Kenapa mereka tidak ada henti-hentinya membicarakanku? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak ada apa-apa dengan Kai? Kenapa mereka tidak mempercayaiku?

“Fellia… Jujur saja pada kami.. Kalau kamu itu memang pacar Tuan Muda..”

“Aku bukan pacarnya…”

“Tapi Tuan Muda begitu dekat padamu.. Ayo ceritakan pada kami bagaimana menggodanya?”

Aku menaikkan alisku, apa yang mereka bilang? Aku menggoda? Menggoda Kai? Apakah mereka bercanda? Jangan gila! Bagaimana aku bias menggoda kalau aku bahkan tidak..

“Kenapa bengong?”

Kenapa aku tidak melanjutkan kataku seolah mulutku berhenti karena hatiku berontak? Ada apa sebenarnya? Jangan bilang kalau…

“Fellia… Ini lagu yang aku bilang padamu…”

Aku berbalik dan melihat Haruka tersenyum padaku serta tiba-tiba saja ia memakaikan headphone putihnya ditelingaku.. Lagu apa yang dia bilang? Berbicara dengannya saja aku tidak pernah.. Apalagi berbicara tentang lagu?

Dia menunduk dan mensejajarkan bahunya dengan bahuka, aku bisa merasakan wajahnya didekat telingaku. Rasa merinding tiba-tiba saja merasuki tubuhku..

“Bagaimana?”

Aku mengernyit bingung, apa yang dia tanya mengapa? Jelas-jelas saja headphonenya ini tidak mengeluarkan lagu apapun.. Tapi tiba-tiba saja aku melihat karyawan-karyawan itu tersenyum melihat Haruka hormat kemudian mundur kembali ke meja masing-masing. Segitu hormatnya kah mereka pada Haruka?

“Kamu tidak harus mendengarkan apa yang mereka katakan. Hal itu akan menambah urusan saja. Lebih baik kamu menggunakan headsheetmu setiap saat kamu merasa terganggu, otomatis semua orang akan menjauhimu dan berhenti berkata-kata tentangmu.. Mengerti?

Aku terpana sebentar menatap kedepan, bisakah aku mendeskripsikan suaranya itu? Tidak hanya memang merdu, tapi seperti suara malaikat yang sangat baik. Bagaimana aku bisa sebal pada wanita ini? Jelas-jelas ia beda dari nona muda yang ada, ia baik dan sopan. Bahkan pada orang yang tidak ia kenal. Tapi entah mengapa ada perasaan tidak enak saja ketika aku melihatnya.. Ntah mengapa..

“Bagaimana? Kamu mengerti?”

Aku tersadar dari bengonganku, dan segera saja menganguk.. Ia tersenyum dan memutari meja itu, “Kamu bisa meminjam headphoneku kalau kamu mau.. Aku kembali keruanganku dulu ya, lia-chan..”

Aku melihatnya keluar dari ruangan ini sambil tetap melambai-lambai padaku bahkan kepada beberapa orang yang menyapanya. Aku masih menggunakan headphone ini. Aku sebenarnya bisa saja berpura-pura tidak tau, tapi tetap saja. Aku punya kemampuan untuk mengingat apapun yang aku dengar dan lihat..

Ngomong-ngomong.. Dia memanggilku apa? Lia-chan? Sejak kapan dia dekat denganku? Kenapa ia tidak memanggil Fellia atau Lia-san aja? Sudahlah.. Aku tidak mengerti jalan pikirnya. Kami memang berbeda. Orang kaya memang sering seenaknya..

End of Fellia’s POV

**

Haruka’s POV

Aku memang menyukai Kai daridulu. Ntah mau apa reputasi yang ia pegang sekarang. Tapi entah mengapa.. Aku merasa dia berubah.. Apakah karena gadis itu? Kenapa dia tidak pernah sekalipun berhenti memikirkan gadis itu? Apakah ia tidak bisa memikirkan ataupun kalau tidak bisakah ia konsen akan pekerjaan yang ada dan melupakan gadis itu untuk sesaat?

“Fellia.. Tolong ambilkan berkas itu…”

Aku mengambil berkas itu dan memberikannya pada Kai, “Aku bukan Fellia, Kai.. Fellia sedang diruang document sekarang…”

“Ah iya? Maaf ya..” ucap Kai polos sambil melanjutkan pekerjaannya..

Aku menarik napas lalu duduk diatas kursi yang berada dihadapannya. Benarkan apa yang kubilang? Apakah ini semua karena aku terlambat selangkah? Tapi bukankah aku duluan yang bertemu dengannya?

Aku tidak pernah membenci gadis itu, sebenarnya aku suka akan kehadirannya.. Dia begitu tenang diusianya yang seperti itu.. Aku dan Kai sebenarnya seumur, karena itu berarti Fellia adalah adik kami. Sangat muda, tapi ia sangat berbakat. Ayah jika bertemu dengannya, pasti ingin menjadikannya karyawan tetap..

Tapi ada sesuatu yang aneh terhadap gadis itu, dia seperti selalu takut dalam ketenangannya. Ia seperti menjaga jarak pada setiap orang. Ia hanya berkata seperlunya. Tapi ketika dia bersama Kai, ada sesuatu yang beda darinya..

Ketika Kai dekat denganku, aku bisa merasakan hawa berubah. Ia menjadi lebih ketus, dan berbuat sesuatu ceroboh. Jika Kai mulai menyuruh-nyuruhnya, ia mengeluh tapi ia tetap melakukan. Ketika Kai tersenyum, aku bisa melihat jelas ia tercengang sebentar. Aku tau dia terpana, walaupun wajahnya tidak memerah. Aku hanya tau. Dan aku tidak suka kenyataan itu. Bagaimanapun ia adalah assistan Kai, dan Kai menyukainya.. Itu berarti cepat lambat mereka akan bersama.. Dan itu berarti aku juga harus menjauhi Kai dan mengubur semua rasa cintaku.

“Kanzaki-san.. Anda kenapa?”

Hah? Aku terbangun dari lamunanku, dan cepat saja menoleh melihat Kai.. Aku tersenyum singkat, “Aku tidak apa-apa.. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu…”

Kai hanya menganguk sambil meregangkan tangannya, aku melihatnya dari ekor mataku. Ia menguap sebentar. Dan ia terlihat lucu sekali.. Aku pernah bertemu denganmu, kita pernah dekat Kai.. Apakah sebegitu mudahnya bagimu untuk melupakanmu? Dan dengan gampangnya kamu mengajakku untuk berkenalan?

Aku menarik napas lalu kemudian menatapnya, “Bisakah kamu memanggilku Haruka? Haru? Ruka atau Haru-chan atau Ruka-chan.. Tanpa menggunakan san? Itu terlalu formal..”

“Tapi kita tidak dekat, Kanzaki-San..”

“Kita sudah pernah akrab, Kai.. Apakah kamu lupa?”

Dia memelototkan matanya bingung, dan kemudian ia melihat keatas.. Seolah berpikir..

“Ah! Kamu itu…”

“Dulu aku yang tersesat waktu ada pesta dirumahmu.. Waktu itu tanpa kata-kata kamu menemaniku.. Kamu mengajakku bicara sementara yang lain menjauhiku.. Kamu waktu itu dekat denganku..”

“AHH!! GOMENASAI (Maaf) !!! Itu kamu? Aku lupa, Haru-chan…”

Aku tersenyum, “Syukurlah kamu ingat…”

“Wah, sashiburi (lama tidak bertemu).. Kamu tambah cantik, Haru-chan…” ucapnya sambil menatapku dalam..

End of Haruka’s POV

**

Fellia’s POV

Aku menumpukkan berkas-berkas itu diatas mejaku, dan mulai mengatur-ngaturnya sesuai dengan kategori yang aku tetapkan.. Ehm, ternyata Jepang sangat maju Robot-robotnya sangat bagus. Tapi sayang masih penuh kekurangan.. Ehm, sepertinya aku perlu meneliti berkas-berkas ini untuk mengatasi masalah yang ada..

Oke, yang pertama.. Ehm, ini robot pembantu? MAIDROBOTO. Ehm, ini kelebihannya bisa masak.. Bisa mengasuh anak, bisa bersih-bersih.. Bisa memperbaiki barang.. Menurutku ini sudah lumayan bagus.. Apa masalahnya?

Aku membolak-balikkan berkas, sepertinya ada yang salah. Pada bulan pertama penjualan sangat tinggi, tapi pertengahan bulan kedua, tiba-tiba turun drastis. Ada apa ini?

Halaman selanjutnya aku melihat beberapa hal, barang-barang banyak dikembalikan..  Ini pasti karema bahannya kurang bagus, karena itu harganya sedikit diturunkan. Dan bahkan mereka membuatnya dengan bahan yang bagus tapi harga murah. Seharusnya mengalami peningkatan. Tapi kenapa malah kelamaan habis? Pasti ada sesuatu disini..

Aku melihat komputer yang ada diatas mejaku dan bergerak untuk menyalakannya, untung saja komputer ini berbahasa Inggris.. Segera saja aku membuka google dan kemudian mengetik sesuatu.

MAIDROBOTO JAPAN 2010

Tak lama semua yang kucari, beberapa dari sana sudah kutau. Tapi kemudian aku mendapat sebuah blog.. Aku bisa membaca sedikit akibat mendengar dan membaca tulisan jepang..

Menurutku memang bagusan MAIDROBOTO, tapi Robot baru itu lebih bagus dan murah. Sayang sekali MAIDROBOTO, mereka mendapat saingan yang kuat ketika mereka down.Tapi sebenarnya kalau bisa kureview, robot baru dari perusahaan baru itu sama persis penyetingannya. Hanya saja tampilan mereka beda, sehingga tidak ada yang tau kecuali mereka yang pernah membeli keduanya, dan juga orang yang mengerti teknologi.. Sayang sekali..

                        Posted xx-xx-2010

Oh jadi begitu, ada peniruan rakitan pada robot kita? Tapi kenapa perusahaan ini tidak membela diri sama sekali? Ini aneh sekali, jelas-jelas kalau ini diklarifikasi perusahaan kita pasti bisa menang. Tapi kenapa sama sekali tidak membela diri? Bahkan di internetpun tidak ada tanda pemotresan apapun. Pasti ini ada yang salah..

“Aku dengar Tuan Besar sakit ya.. Karena itu Tuan Muda datang kesini.. Dan tau ga sih, Tuan Muda Dicky, Reza dan Ilham juga berkeliling.. Ah, betapa beruntungnya mereka yang didatangi mereka.. Apalagi Tuan Muda Dicky, Tuan Muda kan baik sekali.. Tapi tetap saja sih, Tuan Muda Kai yang paling menarik hatiku…”

“Ah.. Kapan kita bisa masuk dalam keluarga Worldmine yang hebat itu?”

Aku menoleh sedikit terdiam. Beberapa saat, aku tercengang. Oh begitu. Aku tau kenapa seperti itu. Ini pasti karena ada campur tangan keluarga Worldmine.Pasti ada orang keluarga Worldmine yang mejual rakitan robot itu. Pasti begitu.  Tapi siapa?

Aku membuka database perusahaan, semua keluarga Worldmine pasti terlibat dalam bisnis itu. Tapi siapa? Aku melihat-lihat data lengkapnya didalam internet, dan aku terkejut setengah mati. ROBOTO Itu ciptaan..

Segera saja aku berdiri dan berjalan kearah ruang Kai, ruangan itu transparan kaca tapi ada tirai yang menutupinya. Tapi suara dari dalam bisa dengan jelasku dengar..

“AHH!! GOMENASAI (Maaf) !!! Itu kamu? Aku lupa, Haru-chan…”

DEG! Sejak kapan Kai menjadi dekat dengan Haruka? Sampai-sampai ia sudah tidak memanggilnya dengan sebutan Kanzaki-san.. Bahkan langsung menggunakan Haru, ditambah dengan Chan lagi dibelakangnya?

“Syukurlah kamu ingat…”

“Wah, sashiburi (lama tidak bertemu).. Kamu tambah cantik, Haru-chan…”

Benarkan apa yang aku katakan? Dia hanya terlalu baik pada semua orang. Dan selalu dekat dengan semua wanita. Kenapa sih aku harus jadi assistantnya? Tidak ada kah yang bisa kulakukan untuk mencegah perasaan ini. Aku tau, kalau seandainya aku terus bersamanya aku pasti akan semakin terjatuh. Efeknya terlalu besar untuk tubuhku. Bisanya dengan gila aku menyiapkan pesta ulangtahun untuknya, membuatkan lagu untuknya, memeluknya dan bahkan mengecup keningnya. Bagaimana hal ini bsia terjadi???

Dan bahkan aku sama sekali tidak marah ketika tadi pagi aku tidur dalam dekapannya disofa kamarku. Sepertinya tadi malam ia begitu lelah menggedongku sampai rumah. Tapi tindakannya itu terlalu belebihan. Ia hanya aku mempercayainya? Mempercayainya itu hal tersulit. Memperacyainya berarti membuka hatiku untuknya. Bagaimana jika ia masuk kedalam hatiku, kemudian ia meninggalkanku? Bagaimana nanti nasibku?

“Fellia, What are you doing?”

Aku terkaget, kemudian berbalik kebelakang. Seorang karyawati yang lumayan dekat denganku tiba-tibas aja memanggil dibelakangku. Aku tersenyum lalu meletakkan telunjukku didepan mulutku. Meng-isyaratkan agar ia tetap diam, namun ia tak mengerti. Bahkan keningnya berkerut.

Aku bisa mengetahui hal yang akan terjadi berikutnya.. Yaitu jelas sekali suar apintu terbuka dan Kai serta Haruka keluar darisana.. Dan tentu saja wajah mereka sama-sama menunjukkan tambah bodohnya..

“Ada apa?” tanya Kai membuatku berbalik melihatnya, aku tersenyum ketika melihat Haruka. Ntah bagaimana, aku berasa bahwa aku sangat terpaksa ketika melakukannya..

Kai sepertinya bingung melihat senyumku, “Tidak.. Aku tadi ingin memberitahumu sesuatu..Tapi sepertinya kamu sedang mendiskusikan sesuatu dengan Haruka jadi aku akan kembali nanti. Tiba-tiba saja Jenny muncul dibelakangku..”

“Kamu ingin mendiskusikan apa?”

“Bukan hal yang penting, jadi lanjut saja.. Aku akan kembali nanti..”

Aku segera saja berbalik dan mulai menapakkan kakiku kembali keruang kerjaku, ini sudah langkah kelima tapi pria itu sama sekali tidak menarikku kembali. Sudah kuduga. Aku hanya dipermainkan olehnya.. Sudah kuduga, akan jadi seperti ini..

Aku bisa merasakan semua orang tadi melihatku, dan sekarang juga. Aku tidak berani mengangkat tanganku untuk menyentuh dadaku yang terasa sangat sakit. Kenapa sakit? Bukankah sudah kubilang ini semua karenanya..

Sesampainya didepan mejaku, aku segera saja mengambil satu file dan membacanya.. Aku menggunakannya untuk menutup wajahku. Kalian pasti tau kan apa yang aku lakukan?

End of Fellia’s POV

**

Kai’s POV

Ada apa dengannya? Kenapa senyumnya seperti itu?

Dia berlalu begitu saja, “Aku pergi menyusulnya ya, Haru-chan..”

Haruka tiba-tiba saja menarik tanganku membuatku berlalu sebentar, “Bukannya kita masih ada hal yang perlu dibicarakan, Kai”

Aku melihat tangannya yang terasa memegangku erat, aku mengangkat tanganku yang satunya untuk melepaskan tangannya..

“Aku harus menemuinya dulu..” ucapku sambil tersenyum. Aku berbalik dan menyusuri koridor, tak peduli melihat mereka semua yang melihat kami aneh. Aku hanya terus berjalan. Dia mengambil dokumen dan membacanya, document itu menutup wajahnya. Ada apa dengannya?

Beberapa langkah sebelum aku menggapainya, aku bisa melihat punggunya bergetar. Apakah dia menangis? Segera saja aku melepas topi sweeterku dan langsung memakaikannya pada Fellia.Aku bisa merasakan bahwa ia terlonjak kaget dan segera berbalik melihatku.

Benar apa yang aku duga. Dia menangis. Butir-butir air matanya terlihat jelas. Ia sama sekali tidak menyembunyikannya. Atau lebih tepat, tidak sempat menghapusnya. Beberapa saat kami bertatap pandang sebelum ia memalingkan wajahnya..

“Kamu kenapa menangis?”

Dia sama sekali tidak menjawab, ia juga tidak menghapus air matanya. Ia hanya berusaha tenang sambil terus membaca berkas itu..

“Kenapa? Kamu jawab aku..”

“Tuan muda Kai.. Silahkan lanjutkan diskusi anda di kantor anda. Saya masih ada sesuatu yang perlu diselidiki..”

Aku menarik tangannya, membuat dia kembali melihatku. Dan dengan satu tarikan dia berdiri. Aku menyeretnya. Aku perlu berbicara dengannya. Pasti ia menangis karenaku. Ntah bagaimana, aku hanya tau.. Aku hanya tau..

End of Kai’s POV

**

Fellia’s POV

Aku dan dia menaiki tangga. Aku ingin sekali menarik tanganku dan lari darinya. Hanya saja tangannya terlalu kuat menggenggamku… Aku merasakan bahwa air mataku sudah mengering, Dia pasti tau aku menangis. Aku harus jawab apa?

Dia mendorong pintu itu, pintu yang menuju atap. Dan sekejap udara dingin yang menusuk itu bertiup, dia tetap menarikku. Kemudian sambil sedikit menendang pintu itu agar tertutup dia memojokkanku kedinding.

Matanya menatapku tajamnya, jemarinya sekarang mencekeram lenganku kuat. Tapi entah mengapa aku sama sekali tidak marah, entah mengapa walaupun ia terlihat begitu keras sekarang. Sirat kekhawatiran itu tersirat jelas dimatanya.

“Kamu kenapa menangis?”

“Tidak ada apa-apa…”

“Kamu cemburu?”

Mataku terbelalak melihatnya, oh begitu.. Ini yang namanya cemburu. Tapi kenapa aku cemburu? Apa yang harus aku katakan?

“Kenapa aku harus cemburu?”

“Karena kamu menyukaiku..”

“A..Apa?”

“Kalau kamu menyukaiku.. Itu berarti kamu suka padaku…”

Ah jadi begitu.. Jadinya aku sudah jatuh hati padanya? Benarkan apa yang kukatan, belum memulai apapun aku sudah sakit. Apa yang harus aku lakukan?

Aku masih melihat tanah mash mencerna kata-katanya.. Tapi  tiba-tiba aku merasakan dagu-ku diangkat, Kai membuat wajahku melihatnya. Membiarkannya untuk melihat mataku. Ia mengusap sisa-sisa air mataku dan kemudian menarik napas..

“Kamu cemburu kan?”

Sesuatudalamhatimenggebu-gebu.Memaksakuuntukmengakuisemuanya.Hanyasajaakumasihbelum bias.Tapikenapaduniadanseisinyaseolahmemaksaku?Akutidakmengertidengandirikusendiri.

MatakumenangkapmataBisma, seolahtersihirdan ntah mengapa aku menganguk.. Aku bisa melihat kalau dia sedikit tersenyum tapi kemudian menarikku dalam pelukannya..

“Kamu mengubah pemikiranmu tentangku? Kamu benar-benar cemburu?”

“Aku ga pernah mau cemburu. Tapi… Aku tidak suka ketika kamu bersamanya.. Aku tidak suka ketika kamu baik pada semua orang.. Karena ntah mengapa aku merasa sakit.. Karena aku merasa bahwa aku tidak..”

“Kamu sangat spesial untukku, Nona Fellia.. Sangat special sampai aku mempercayakan segala halnya untukmu..”

“Tapi aku belum percaya padamu..”

Ia melepas pelukannya dan menatapku terkejut, tapi kembali ia menarik napas untuk tenang… Ia mengelus-ngelus rambutku, “Wakaramasu (aku mengerti).. Aku akan menunggu…”

“Tapi nona Fellia.. Lebih baik kamu harus cepat mempercayaiku..”

“Aku tidak bisa mempercayaimu…”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak ingin jatuh cinta padamu…” ucapku sambil berteriak, aku tidak berani melihat matanya.. Sama sekali tidak berani.. Aku takut.. Takut sekali..

Tangannya terlepas dari lenganku dan ia memundurkan langkahnya.. Kenapa dia? Aku memberanikan diriku untuk melihatnya.. Dan.. Mata sayunya itu membuatku lebih sakit.. Ntah mengapa, hatiku menjadi lebih sakit dari sebelumnya..

“Maaf.. Aku tidak bermaksud..”

Kai menggeleng, “Aku tidak akan memaksamu.. Aku tidak akan memaksamu lagi.. Tapi aku mohon..”

“Kai..” ucapku ketika melihat kakinya bergetar, aku tau suhu diatas ini sangat dingin. Tapi..

“Aku mohon jangan pergi dari aku..”

DEG!

“Aku mohon jangan pergi dari aku.. Tetaplah berusaha untuk bersamaku.. Karena aku ga bisa hidup tanpamu.. Kamu.. Hadiah dari Tuhan untukku..”

Tes..Tes..Tes..

Sebegitu berharganya kah diriku?

“Sudahlah.. Ayo kita kembali..” ucap Kai sambil berbalik dan berjalan menuju pintu gedung..

Kakiku segera saja berlari.. Berlari menuju dirinya. Bergerak menujunya.. Ntah mengapa, kaki ini bergerak dengannya sendiri..

“Kai… Kai..”

Aku segera saja merasakan kehangatan ketika memeluk punggungnya, aku tidak tau apa-apa lagi.. Semuanya terjadi tanpa sepengetahuanku..

“Aku.. Aku tidak bisa.. Tapi.. Jangan berhenti.. Jangan berhenti.. Buat aku bisa mempercayaimu..”

Kai melepaskan tanganku yang tergenggam kuat didepan perutnya, apakah dia sebegitu marahnya padaku? Ia hanya berbalik dan melihatku dalam diam.. Membuatku mempersiapkan diri akan hal yang akan terjadi..

“Kamujanganmemberiharapanpadaku.”

Janganberiakutatapansepertiitu.Janganmenatapkusepertiitu.Aku tau kamuterluka.Dan itukarenaaku.

Kai.. Nan jongmal..Mianhae..

Seulassenyummenghiasibibirnya, aku tau denganjelaskalauiasedangberusahauntuktersenyum. Sangatberusaha.Akutidakinginmelihatnyabegitusehinggaakumenggeleng-gelengkankepalakukuat.

DEG..DEG..DEG..Apa yang harusakulakukanberikutnya?

“Kai.. Neo..”

“Meomchujima..Jebal..”

Akumenundukkankepalakudalam-dalam, berusahamenutupwajahkusendirididadapriaitusambilmenggenggameratjas yang iagunakan. Air matamengairbegitusaja, seolahakulegatelahmemberitahukanperasaanlelah yang kupendamdalam-dalam.Seolahakulegatelahberanimembukadiriku.Kali ini, bisakahakumembukadirikusendiri?

Sret…

Kai memaksakuuntukmelihatmatanya, dandalamsatugerakkaniamengangkattubuhkusehinggaakuterpaksamenjinjit. Detiklain yang kutaumatakumelototsempurnaketikamerasakansesuatu yang lebihhangat. Lebihdalam.Menuntuttapidenganhalus.Iaseolahmengisyaratkanperasaannya.

Ia melepaskan kecupannya, sementara aku masih dengan shock melihatnya.. Apa yang barusan ia lakukan? Kenapa aku tidak mendorongnya dan malah membiarkannya?

“Itu adalah ciuman pertamaku.. Untuk gadis yang aku cintai.. Karena kamu yang telah meminta.. Aku akan membuatmu mempercayaiku.. Aku akan membuatmu menyukaiku.. Aku akan membuatmu selalu rindu akanku.. Dan kamu satu-satunya wanita yang akan mengambil seluruh pengalaman pertama dalam cintaku.. Dan kamu…”

Ia menyentuh pipiku, mengelusnya pelan. Tatapannya sama sekali tidak lepas dari mataku, dan.. Ia tersenyum.. Senyum yang sering sekali aku lihat.. Tapi tidak pernah bosan untukku lihat.. Sampai seumur hidupku..

“Satu-satunya wanita yang aku izinkan untuk mengatur kehidupanku..”

End of Fellia’s POV

**

Haruka’s POV

Ada apa dengan mereka? Aku berusaha menempelkan telingaku ke pintu besi yang menyambungkan atap dengan gedung kantor.. Kenapa mereka lama sekali??

Baiklah.. Aku sama sekali bukan tipe yang mau ikut campur masalah seseorang.. Tapi… Bolehkah kali ini aku egois sedikit? Aku hanya akan memastikan.. Dan ketika aku sudah mendapat jawabannya..Aku akan berhenti.. Sungguh.. Aku akan merelakan orang yang aku cintai untuk bahagia..

Aku masih mempertajam pendengaranku, mereka sepertinya sedang bertengkar. Kenapa mereka sampai bertengkar?

“Aku tidak bisa mempercayaimu..”

Itu suara Fellia? Dia kenapa?

Kenapa sih mereka itu???

Suara kaki menuju pintu ini terdengar, aduh siapa ini? Kenapa aku bisa begitu bodoh? Bagaimana aku bisa bersembunyi sekarang?

Eh, suaranya tak terdengar lagi?

“Satu-satunya wanita yang aku izinkan untuk mengatur kehidupanku..”

DEG..DEG..

“Hahaha.. Benarkan?” ucapku menertawakan diriku sendiri.. Air mata itu mengalir begitu saja, aku membiarkannya.. Air mata itu terjatuh kelantai..

Kata orang, jika menangis semuanya akan menjadi lebih baik. Tapi kenapa aku tidak merasa lebih baik? Sudahlah Haruka.. Kubur saja cintamu itu.. Sudah berapa tahun hah? 10 tahun? Sudahlah, yang penting.. Orang yang kamu cintai bahagia.. Ya.. Itu cukup.. Yang penting dia bahagia..

Aku berbalik dan berjalan menuruni tangga.. Semuanya akan baik-baik saja.. Walaupun pasti ada hal yang tidak baik-baik saja..

End of Haruka’s POV

**

Author’s POV

Kai meraih pinggang gadis itu, menarik gadis itu untuk mendekat dengannya.. Namun karena amsih canggung, mereka jadi saling tarik dan mendorong sampai keduanya terlarut dalam tawa..

“Fellia.. Sampai kapan kita akan bermain disini?”

“Aku tidak mau…”

Kai menarik napas, lalu kemudian menarik tangannya..

“Baiklah.. Tapi..”

Ia menggenggam tangan Fellia kemudian membuat gadis itu sedikit terkejut..

“Jangan bilang sampai bergandengan tangan pun kamu tidak mau?”

Fellia hanya menggeleng pelan membuat Kai tersenyum lagi… Gadis itu hanya melihatnya, berusaha mengingat segala ekspresi pria itu.. Mungkin memang seharusnya ia mengingat setiap ekspresi pria itu..

“Sudahlah ayo masuk..”

Kai dan Fellia sama-sama berjalan menuju pintu. Tak lama mereka sudah menuruni tangga dan berjalan dikoridor.. Beberapa pasang mata melihat mereka berdua.. Membuat Fellia sedikit risih, ia ingin menarik tangannya tapi pria itu menggenggam tangannya kuat..

“Bukankah sudah kukatakan jangan pernah meninggalkanku?” bisik Kai sambil terus berjalan, Fellia hanya bisa diam..

Sesampainya diruangan kami, mereka melihat semua orang panik.. Sehingga Kai segera saja menghampiri salah satu dari mereka..

“Apa yang terjadi?”

“Ah.. Kai-sama.. Ini.. Haruka-sama.. Dia pingsan..”

NANI?? (APA??)”

Fellia disebelahnya juga sama…

“Lalu dia dimana sekarang?”

“Tadi sudah dibawa kerumah sakit sama, Joe-sama..”

“Joe?”

“Tunangan Haruka-sama…”

End of Author’s POV

**

JAPAN LESSONS!

Moshi-noshi !! Makoto Haruka desu 😉 Yoroshiku onegaishimasu!!!

(Halo, nama saya Makoto Haruka (Nama lengkap jepang-nya #adminHJS).. Salam kenal dan mohon bantuannya 😉

Oke! Yang perlu kalian tau.. Pertama adalah cara memberi salam dan memanggil seseorang..

*Moshi-moshi = Haloo

*Konichiwa = haloo atau selamat siang

*Ohayo Gozaimasu = Selamat pagi

*Konbanwa = Selamat sore

*Oyasumi = selamat malam..

Setelah itu cara memanggil orang, cara tata nama orang jepang dengan Indonesia berbeda. Kalau di Indonesia nama asli kita didepan dan nama keluarga dibelakang, justru di Jepang kebalikannya.. Makoto Haruka, panggilan akrabnya Haruka dan nama keluarganya Makoto..

Nah kalau kalian baru pertama kali bertemu dengan orang jepang, harus memanggil nama keluarganya lengkap dengan –san..

Nah, penambahan kata-kata dibelakang itu menunjukkan seberapa akrabnya kita dengan orang itu.. Dan kalau ada orang yang memanggil nama asli orang jepang tanpa embel-embel, itu artinya mereka sangat akrab..

*San : baru kenal

*Chan/Kun : Sedikit lebih akrab

*Sama : Sangat hormat

Okay sekian, JAPAN LESSONS-nya 😉 See ya next time!

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

 

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

 

Advertisements

Tagged: , ,

2 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Sacrifice” – Part 4

  1. Cynthia September 6, 2012 at 3:37 PM Reply

    jd tambah penasarn antara cinta kakak adik ini.. jd sedih dehhh 😥
    Ditgu part selanjux ya.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: