EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 3

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Nimic”

 

*Title :Nimic.

*Sub Title :The Third – Unstopable Tears

*Main Cast :

  • Luhan
  • Han Soon-Na
  • Kim Je-Si

*Length :Series

*Genre : Romance, Friendship

*Rating : PG-13

*P.S : This is a story before Luhan joined EXO. In this story, Luhan melewati masa SMA-nya di Korea.Sebelum akhir-nya ke China dan kembali lagi Korea.Tulisan miring tidak berwarna adalah masa lalu.

*Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

Summary :

No one care about me except you.

We grew up together.

Cry together.

Laugh together.

I just want be like this forever.

Until I realized that we cant be like this forever.

Cause I believe, slow but sure.

I’ll be Nimic for you.

Nothing.

**

We grew up together.

Having you in my side.

Protect you.

Loving you without answer.

That’s all like I wanna do until the rest of my life.

But I realized that I am, Nimic for you.

Nothing.

**

Three of us met by fate.

Three of us are best friend.

But actually, I realized that I’m Nimic for you two.

May be im just passing by person in your memories.

I just make everything more complicated.

I should not be born in this world.

Nothing.

**

“Hanhan-a”

“Ehm?” gumam Luhan tidak jelas.Ia masih berkonsentrasi mengunyah samgyupsal didalam mulutnya, tapi tak lama ia reflex dan melihat kearah Je-si yang duduk dihadapannya sambil bertopang dagu. Gadis itu menggunakan vest ber-hoodie,dan juga sebuah kacamata coklat tanpa lensa yang membingkai wajahnya dengan cantik.

Ketika Luhan tersedak, buru-buru Je-si mengambil gelas berisi air putih dihadapannya dan menyodorkannya pada Luhan.Ia hanya bisa menatap Luhan bingung ketika pria itu akhirnya bisa bernapas dengan baik. “Kamu panggil aku dengan sebutan apa?”

“Hanhan-a?” ulang gadis itu sambil berusaha menerka-nerka apa yang tadi ia ucapkan. Ia memang pelupa dan tidak pedulian. Oh coba lihatlah, bahkan ia tidak sadar memanggil Luhan seperti itu dan akhirnya melongo parah ketika sadar.

“Mian, aku tidak sadar.”

Bagaimana aku bisa sebodoh itu? Aku..Tidak seakrab itu dengannya.

Luhan mengambil tissiu dan dengan cepat membersihkan sekitar mulutnya, “Tidak apa-apa.Aku hanya kaget. Hanya saja aku,”

“Aku tau.Hanya Soon-na kan yang boleh memanggilmu seperti itu?” potong Je-si sambil nyengir pelan, membuat Luhan menghentikan kata-katanya dan tersenyum kikuk menanggapi gadis itu.Ia tidak tau harus berkata apa.

Aku tidak tau kenapa. Hanya saja, aku sama sekali tidak keberatan jika kamu juga memanggilku begitu, Je-si-a.

“Kamu tidak makan?” tanya Luhan setelah menemukan pita suaranya kembali. Pria itu melihat mangkok nasi dihadapan Je-si yang sama sekali belum disentuh. Bahkan gadis itu tidak memegang sumpit yang berada disebelah tangannya.

“Aku sedang diet.Aku tidak bisa makan Pork.Apa lagi malam-malam, Luhan-a.” jawab Je-si sambil menunjukkan ekspresi menyesalnya.Tak lama bunyi sumpit diletakkan terdengar, “Aish!Lalu kenapa kamu tidak bilang dari awal?Aku kan sudah memesan untuk 2 orang!”

Je-si terkikik lalu akhirnya mengangkat sumpit itu, “Bagaimana kalau aku makan nasi-nya saja?”

Luhan menggeleng dengan tegas lalu menyumpit satu potong pork dan menghadapkan sumpit itu dihadapan gadis itu.Je-si menatap daging itu sampai membuatnya mual, membuat kening Luhan berkerut.Jika hanya karena diet, bukannya gadis itu seharusnya menelan ludahnya karena menahan nafsu dan bukannya memberi tatapan jijik?

Luhan tidak tau bagaimana caranya, Je-si dengan cepat membuka mulutnya dan mengunyah daging itu dalam mulutnya dengan perasaan mual. Luhan terus menatapnya penasaran sambil sesekali membayangkan dirinya sebagai Je-si yang berusaha menelan makanan yang ia tidak suka.

Tapi tak lama, Je-si berdiri dan menarik tas-nya.Je-si bahkan tidak melihat kearah Luhan dan berlari kearah toilet dan menghilang dari pandangan Luhan.

Ada apa dengan gadis itu?

**

Je-si mengusap lidahnya dengan tissiu kasar-kasar sambil sesekali memercikkan air keran kedalam mulutnya.Ia berusaha mengatur emosi-nya sendiri. Je-si bersyukur bahwa ia hanya sempat mengunyah makanan itu dan tidak menelannya.

Je-si bahkan tidak dalam kegiatan diet ketat, malah sangat dianjurkan untuk makan lebih banyak daging.Hanya saja Je-si elergi makanan itu. Memang tidak parah, paling-paling gadis itu akan sesak napas atau langsung pingsan.

Tidak ada penjelasan khusus akan alergi-nya. Semua test menunjukkan bahwa ia sebenarnya tidak elergi secara jasmani, tapi lebih ke trauma pada daging satu itu. Tubuhnya membantu gadis itu bereaksi, walaupun akhirnya berlebihan.

Awalnya Je-si ingin menolak mentah-mentah ajakkan Luhan yang ingin makan samgyupsal.Hanya saja ketika melihat mata pria itu yang sangat berbinar-binar seolah menginginkan makanan itu membuatnya tidak sanggup berkata apa-apa dan lebih memilih untuk mengikuti pria itu sekalipun sebenarnya dia juga sangat kelaparan.

Ketika baru saja akan keluar toilet, dua orang wanita masuk sambil berbisik-bisik keras membuatnya mau tidak mau berhenti sebentar untuk mengeratkan hoodie-nya dan berpura-pura mengatur rambutnya.

“Yak, apakah kamu boleh kerja sambilan?” tanya salah satu dari mereka sambil mengatur rambutnya dengan asal-asalan sementara perhatiannya tertuju pada cermin dihadapannya.Seolah memuja wajahnya yang tidak terlalu cantik.

“Tentu saja tidak boleh.Tapi kalau tidak begini, bagaimana bisa aku mengumpulkan uang untuk membeli hadiah pacar-ku?”

Je-si ditempatnya menggelengkan kepalanya tidak percaya sambil pelan-pelan berjalan kearah pintu keluar, “Eh kamu tau tidak., anak pintar tapi jelek yang dekat dengan Kim Je Si, si model terkenal itu.. Siapa namanya..Han Soon-na!”

Kaki Je-si terhenti didepan toilet.Mendengar namanya disebut, gadis itu langsung saja berpura-pura bersandar didinding sambil menunggu kelanjutan cerita itu didepan toilet.

“Ada apa dengannya?”

“Selain pacaran dengan kapten klub bola sekarang selingkuh dengan cassanova disekolahnya juga loh!”

“Hah? Jongmal?Siapa?Su-ji oppa?”

Gadis didalam toilet itu mendesah, “Iya.Bagaimana sih dia bisa begitu pintar dalam pelajaran dan bahkan mencari cowok ganteng? Kita memang tidak bisa menilai dari cover ya.”

Diluar toilet, tangan Je-si mengepal kuat untuk menahan emosi-nya dalam-dalam.Sialan sekali gadis-gadis itu berbicara begitu tentang sahabatnya. Kalau saja tidak mengingat statusnya sebagai salah satu public figure dan juga karena ia datang bersama Luhan, Je-si pasti sudah melabrak 2 gadis menyebalkan tadi.

Tapi nyatanya gadis itu berjalan cepat meninggalkan toilet dan bahkan restoran.Je-si bahkan melupakan Luhan.Tapi nyatanya pria itu mengejarnya, membuat Je-si yang baru saja mendengar panggilan Luhan menoleh kebelakang dengan perasaan bersalah.

“Ada apa denganmu?” ujar Luhan ketika akhirnya ia sudah berdiri disebelah gadis itu walaupun masih berusaha mengatur nafas-nya setelah berlari. Luhan bahkan tidak mengerti kenapa ia malah semakin capek setelah makan tadi? Ah, mungkin karena tadi ketika sudah setengah jalan mengejar Je-si,ia malah balik ke restoran untuk bayar dan mengambil tas-nya. Awalnya ia tidak mengira sama sekali Je-si akan berjalan sejauh itu, mengingat gadis itu sedang menggunakan wedges yang cukup tinggi.

“Maaf kalau aku mengganggu acara makanmu.”

Luhan melambai-lambaikan tangan seolah mengisyaratkan bahwa bukan itu yang ia permasalahkan, “Aku.. Aish..Tidak masalah.Aku hanya bingung ada apa denganmu.”

“Aku tidak apa-apa.”ucap Je-si akhirnya mengingat kalau tadi ia sedang menyembunyikan elergi-nya itu. Kegiatan bergosip ria dua orang gadis menyebalkan tadi juga lah yang membuatnya seperti ini.

Luhan maju selangkah lalu menatap Je-si, ia merasa lebih baik sekarang. Bahkan ia tersenyum ketika ia bisa dengan jelas menatap keseluruhan wajah gadis itu, “Bagaimana bisa tidak apa-apa?”

Luhan tertawa kecil lalu tanpa sadar tangannya terulur untuk mengatur poni gadis itu dan lalu merapikan rambut panjang Je-si yang terurai berantakan karena hoodie gadis itu jatuh. Je-si menatap Luhan dengan tatapan penuh tanya. Tapi ia sendiri tidak berani menyimpulkan apapun.

Ia… Hanya menganggapku adik.Ingatlah itu, Je-si-a.

“Apa makanan yang kamu suka? Kamu pasti lapar, kan?Bagaimana kalau aku menemanimu makan disekitar sini?”

Je-si menggelengkan kepalanya kuat, “Tidak usah, Luhan-a.Hari sudah malam sekali.Aku tidak ingin orang mengenaliku.Lebih baik kita pulang.”

“Baiklah.Aku tau kamu tidak mau berbagi apapun tentangmu, Je-si-a.Sudahlah, ayo kita pulang.” kata Luhan cepat sambil terburu-buru berjalan, meninggalkan Je-si dibelakang.Gadis itu secara otomatis seolah tau kalau pria itu berusaha mengabaikannya. Dengan kata lain menunjukkan aksi protes-nya sehingga Je-si tidak ada pilihan lain selain mengejar pria itu.

“Sret..”

Luhan terhenti ketika merasakan baju-nya ditarik.Ia tersenyum mengetahui apa yang terjadi, tapi ia tidak bersusah payah untuk berbalik. Ia hanya diam dan menunggu sampai gadis itu sendiri yang berbicara.

“Aku.. Maaf..”

Luhan masih terdiam membuat gadis itu mendesah, “Aku elergi pork, that’s why. Apakah kamu puas, Luhan-a?”

Pria itu berbalik dan menatap serius Je-si.Ia memegang kedua sisi bahu Je-si dengan kedua tangannya lalu menunduk sedikit untuk menyatarakan tinggi mereka berdua, “Lain kali kalau kamu tidak suka, kamu bisa langsung bilang padaku, eo?”

Luhan melepaskan kedua tangannya dibahu Je-si lalu melihat kearah langit, “Ku kira kamu mual melihat wajahku.” gurau Luhan membuat Je-si terkikik ditempatnya.

Deg..Deg..Deg..

Untuk beberapa saat, Je-si tidak mengerti apa yangterjadi. Ia memang selalu menjadi bodoh kalau menyangkut pria itu. Padahal pria itu hanya melakukan sesuatu yang simple untuknya.

Dia tersenyum seperti itu.Apakah itu untukku?

“Aku akan memasakkanmu bekal besok.Apa yang kamu suka?” lanjut Luhan membuatnya terkesiap.Je-si mempercepat langkahnya untuk mengejar Luhan ketika menyadari pria itu sudah perlahan meninggalkannya.

“Bagaimana kalau seperti kemarin?Hanya saja, aku pesan semangka sebagai pencuci mulutnya.”

Gadis itu mengatakannya dengan begitu ringan. Setidaknya ia ingin menghabiskan waktu ini tanpa memikirkan apapun. Setidaknya, izinkanlah ia untuk berpikir egois kalau pria itu ada disisinya untuk kali ini. Membuat merasanya lebih berharga. Membuatnya melupakan kenyataan kalau pria itu ada disisinya hanya karena..Permintaannya.

**

Dengan santai, Je-si melemparkan tas-nya keatas meja dan duduk dibangku favorit-nya.Soon-na disampingnya meletakkan handphone-nya dan melihat sahabatnya itu, “Tumben kamu datang pagi?”

“Anio..Aku kelaparan sehingga aku tidak bisa tidur dari tadi malam.”  Keluh Je-si sambil menidurkan kepalanya diatas meja dan memijit  perutnya sakit. Soon-na disampingnya hanya bisa menggeleng pelan, “Bagaimana kalau kamu ke kantin sekarang? Kurasa sudah ada beberapa took yang buka.”

Sekarang gentian Je-si lah yang menggeleng, “Gwenchana.Aku juga sebenarnya tidak ingin makan walaupun kelaparan.”

Je-si bangun dari tidurnya dan hendak memasukkan tas-nya kedalam laci. Je-si mengerutkan kening ketika tas yang biasanya bisa masuk dengan mudah malah hanya bisa masuk setengahnya. Ia memundurkan kursi-nya dan berusaha untuk mengintip kedalam laci. Hanya saja karena terlalu gelap, Je-si memutuskan untuk meraba-raba saja. Je-si berpikir keras, kira-kira apa isi kotak yang  barusan ia tarik dan ia tersenyum beberapa menit kemudian ketika menyadari apa yang ada didalam laci-nya itu.

Soon-na menatap gadis itu heran, ia melihat Je-si membuka sebuah tas berbentuk kotak lalu dari dalam sana muncul 2 kotak bekal cukup besar. Je-si tersenyum ketika mendapati satu termos the dari dalam ta situ dan meletakkannya hati-hati.

“Dari siapa, Je-si-a?” tanya Soon-na otomatis ketika merasakan kotak bekal itu terlihat akrab dimatanya.

Je-si menggeleng lalu membuka salah satu kotaknya dan mendapati buah semangka disana, “Molla..Seseorang yang tau jelas aku kelaparan mungkin?”

Soon-na menghela napas ketika berpikir bahwa itu mungkin dari salah satu fans Je-si, tapi matanya membulat ketika Je-si membuka kotak bekal yang lainnya. Ia tidak mungkin salah mengira siapa yang memberi bekal itu. Karena ia tau dengan jelas siapa yang bisa membuat bekal seperti itu. Bekal yang bahkan hampir ia makan dan lihat seumur hidupnya. Tapi Soon-na memilih untuk diam dan menyibukkan dirinya dengan beberapa soal Fisika yang tidak menarik minatnya sama sekali.

Aku tidak mungkin salah walaupun aku ingin kalau pemikiranku salah.

Aku merasa aneh. Perasaan sakit lain tiba-tiba saja membuatku sesak.

Ada apa denganku?

**

“Na~ya..Apakah teman olimpiade-mu sangat menyusahkanmu?”

Soon-na tidak menjawab, lebih memilih untuk melihat kearah kolam sekolah mereka yang begitu cantik sambil sesekali menyumpal mulutnya sendiri dengan apel.Luhan mengelus-elus rambut gadis ituu dan perlahan menidurkan kepala gadis itu dipundaknya. Soon-na sama sekali tidak merespon perlakuan Luhan itu.

“Bicaralah padaku, Na~ya. Kamu membuatku khawatir.” Tambah Luhan masih dengan nada yang lembut. Soon-na kemudian meletakkan garpu yang sedari ia pegang kedalam kotak bekal-nya dan meletakkannya disamping. Tangannya terulur untuk mencapai pinggang Luhan sehingga ia bisa lebih mendekat kearah pria itu, berusaha menghirup sebanyak-banyaknya bau pria itu.

Tak lama, Soon-na tersenyum ketika ia bisa merasakan hangat pria itu. Hangat yang masih sama semenjak mereka masih kecil. Lagi-lagi Soon-na bersyukur karena ia masih mempunyai Luhan dihidupnya.

“Marhaebwa..”

Soon-na menarik napas panjang-panjang lalu mulai menutup matanya. Pelukan Luhan, angin sepo-sepoi dan juga kesunyian membuatnya nyaman dan mengantuk. Gadis itu lagi-lagi bersyukur mengingat bahwa akhirnya ia memiliki waktu berdua dengan pria itu setelah sekian lama.

“Aku..Aku mengantuk sekali, Hanhan-a.”

Luhan mengangkat tangannya dan memposisikan Soon-na ditempat yang lebih nyaman, ia membelai pipi gadis itu pelan-pelan dengan senyum yang masih merekah dibibirnya. “Jangan tidur, Na~ya.Kita jarang sekali dapat waktu seperti ini.Aku ingin lebih banyak berbicara denganmu.”

“Su-ji membuatku sangat kesal, Hanhan-a.”

“Su-ji?Siapa?Oh Su-ji?”tanya Luhan memastikan pendengarnya. Setau pria itu, Oh Su-ji adalah cassanova sekolah mereka.Ia tau kalau Soon-na tidak menyukai cowok tipe seperti itu. Soon-na masih diam, tapi tak lama kemudian gadis itu menganguk.

“Iya.Pria itu yang menjadi teman olimpiade-ku.”

Luhan kaget lalu melepaskan pelukan diantara mereka, ia berusaha menatap Soon-na dalam-dalam dikala gadis itu hanya terdiam. “Bagaimana bisa Su-ji menjadi partner-mu? Aku tidak tau masalah itu, Na~Ya. Kamu seharusnya bilang padaku. Aku akan lebih memilih membantumu daripada kejuaraan itu. Astaga.”

Soon-na menggeleng, “Aniyo.Tidak perlu.Aku baik-baik saja.Ia tidak berbuat apapun, kok. Hanya membuatku kesal karena saat kami belajar pasti aka nada gadis-gadis yang meneriakinya.Membuatku kesal. Dan juga,”

“Dia sebenarnya pandai. Walaupun penuh gombal.” Lanjut Soon-na sambil memeluk Luhan lagi. Luhan terdiam beberapa saat, “Aish..Tapi aku tidak suka kamu dekat dengannya. Bagaimana kalau ada fans yang menyakitimu?”

Soon-na menggeleng dipelukan Luhan, “Dihari pertama ada yang menyuruhku untuk berhenti.Tapi kemudian Su-ji tau dan menarikku didepan mereka semua.”

“Lalu apa yang dia lakukan padamu?” tanya Luhan dengan nada yang lebih was-was.

Soon-na tersenyum, “Ia mengatakan bahwa jangan ada yang mengganggu-ku atau ia akan berhenti jadi cassanova tampan dan membuat seluruh gadis-gadis itu tertawa.Aku lebih memilih orang mengganggu-ku malah, sehingga dia bisa berhenti jadi cassanova dan memulai kegiatan belajar lebih sunyi.”

Aku tidak suka melihatmu tersenyum begitu ketika membicarakan pria lain, Na~ya.

Luhan dtempatnya tidak menanggapi dan lebih memilih diam, Soon-na kemudian mengangkat kepalanya dan melihat kearah Luhan yang menatapnya intensive, “Dan dia juga bilang kalau seandainya ada kapten sepak bola sekolah kita yang tidak akan membiarkan-ku sakit. Itu betul kan, Hanhan-a?”

Seulas senyum terukir dibibir Luhan.Ia mengulurkan tangannya dikepala gadis itu dan mengetukkannya pelan-pelan di kepala gadis itu sebelum akhirnya mencium puncak kepala Soon-na dan menarik gadis itu lebih masuk kedalam pelukkannya, “Tentu saja. Tentu saja kapten sepak bola itu akan selalu melindungimu, Na~ya. Selamanya.”

**

“Jadi.. Kalau seandainya pertanyaan yang ini, kamu harus bisa membalikkan sin, cos, tan menjadi csc, sec, cot. Ini kan pelajaran kelas 1 SMA, Su-ji-sshi.”

“Ingatanku tidak sebaik dirimu, Soon-na-ya.Tapi mengerti bagian ini.Ayo berikanaku soal yang lebih susah dari ini.”

“Memangnya kamu sudah bisa mengerti?Soal yang paling gampang tadi saja kamu tidak bisa, Su-ji-sshi.” Cibir Soon-na sambil membolak-balikkan buku matematika yang sedari ia malas buka. Menurutnya, buku itu tidak bermutu karena berisi soal-soal yang gampang.Ia bahkan bisa mengingat seluruh isi buku itu.

Su-ji mendekatkan wajahnya ke wajah Soon-na yang berada dihadapannya. Soon-na yang sedari tadi sedang serius tidak sadar akan hal itu. Jadi disaat ia sudah menemukan soal lain, ia mengadah kembali kearah Su-ji dan kaget mendapati pria itu hanya tinggal beberapa senti dari wajahnya.

“Kamu meragukan aku, Na~ya?”

Soon-na segera saja dengan santai memukul kepala pria itu dengan buku matematika tebal tersebut sehingga pria itu mundur dan mengaduh, “Kamu tidak boleh memanggilku seperti, Su-ji-sshi.”

“Yayaya aku tau. Hanya kapten sepak bola itu saja yang boleh, kan? Kamu hanya perlu mengatakannya, Soon-na-ya.Tidak usah memukulku dengan buku seperti itu.Bagaimana kalau nanti kamu dibully fans-ku karena membuat pangeran mereka sakit?”

Soon-na memutar bola matanya malas dan melemparkan buku matematika yang terbuka itu dihadapan Su-ji, “Lebih baik kamu kerjakan soal itu, Pangeran para wanita.Berhenti membuatku mual.”

Su-ji menyeringai sesaat sebelum mengangkat buku itu, “Aigoo..Manis sekali panggilanmu itu. Pangeran semua wanita?”

“Aku tidak termasuk wanita yang memujamu tapi.” Sela gadis itu cepat ketika sadar perkataannya salah.Tapi Su-ji malah menggeleng-gelengkan kepalanya tidak peduli, “Kamu bilang semua wanita ya berarti semua wanita, Soon-na-ya.Kecuali kamu berubah menjadi cowok.”

“Kamu menyebalkan sekali, Su-ji-sshi.” Umpat Soon-na sambil menidurkan kepalanya di meja.

“Terima kasih, Soon-na-ya.” Ucap Su-ji dengan pelan.Ia tau kalau gadis itu akan cepat tertidur saat sudah menempelkan kepalanya diatas meja. Kemudian pria itu lebih memilih mengambil bolpen dan mencoret-coretkan tintanya di buku kosong. Memenuhi kertas putih tak berdosa itu dengan serangkaian cara matematika yang rumit. Tanpa terasa waktu terus berjalan.

**

Su-ji memondar-mandirkan langkahnya bingung.Masalahnya hari sudah semakin gelap tapi gadis itu tidak kunjung bangun-bangung juga.Ia bingung harus membangunkannya atau tidak. Antara ia kasihan melihat gadis itu kelelahan atau juga karena wajah gadis itu terlihat sangat cantik saat Su-ji berhasil melepas kacamatanya?

Tapi disatu sisi, Oh Su-ji sudah lelah atau lebih tepatnya malas mengerjakan soal-soal matematika dibuku itu.Ia tidak tau ternyata Matematika begitu mudah dimatanya sekarang. Lagipula pria itu juga sudah berkali-kali me-reject telepon dari adik bawel-nya itu yang meminta dijemput.

Su-ji menghela napas ketika ia mendengar Guntur menyambar dan gerimis mulai turun semakin deras. Adiknya itu pasti mengutuk-nya mati-matian sesampainya ia dirumah.Ia akhirnya kembali melihat ke meja dan memutuskan untuk membangunkan gadis itu.

“Soon-na.. Yak.. Ireona~”

Soon-na tidak merespon sedikitpun.Pria itu mendeccak kesal.Ia berjongkok menyetarakan tinggi-nya dengan gadis itu dan akhirnya dengan leluasa bisa melihat wajah Soon-na. Tanpa sadar tangannya terangkat untuk merapikan anak-anak poni yang berantakan sambil sesekali mengelus rambut gadis itu, “Soon-na.. Na~ya.. Ireona.” Kata Su-ji lagi.

“JDERRRR!”

Tiba-tiba saja petir menyambar.Gadis itu kaget dan terbangun dari tidurnya.Matanya menutup ketakutan, dan tangannya terangkat untuk menutup telinganya.Su-ji kaget ketika mendapati ekspresi ketakutan gadis itu, dan pelan-pelan menghadapkan gadis itu kearahnya. Soon-na masih menutup matanya sehingga ia tidak sadar kalau ia menarik seorang pria untuk memeluknya. Ia terlalu takut dan gusar untuk berpikir terlebih dahulu memeluk siapa.

Su-ji ditempatnya membeku.Tapi kemudian dia sadar kalau sekujur tubuh gadis itu bergetar.Dan cengkeraman Soon-na dibahunya membuatnya bisa merasakan ke gusaran gadis itu. Ia membalas pelukan Soon-na dan menepuk-nepuk pundak gadis itu, “Gwenchana..Itu hanya petir, Soon-na-ya.”

“Ehem..”

Su-ji melihat kebelakang dan mendapati Luhan menatap-nya tajam-tajam. Su-ji sebenarnya tidak takut pada pria itu, ia hanya merasakan tidak enak. Dengan pelan-pelan, Su-ji berusaha lepas dari pelukan Soon-na. Tapi sayang pelukan gadis itu terlalu kuat sehingga ia menghela napas menyerah dan melirik Luhan meminta bantuan.

Luhan dengan segera mendekat dan berusaha melepaskan tangan Soon-na dibaju Su-ji dan membiarkan Su-ji lepas dari pelukan Soon-na.Gadis itu masih tidak sadar, masih menutup matanya erat-erat sementara tangannya terkepal dengan kuat.

Ketika Su-ji sudah sedikit menjauh, Luhan langsung melingkarkan tangannya dipinggang Soon-na, dan mendorong punggung gadis itu mendekat kepelukannya.Tangannya mengelus rambut gadis itu sambil sesekali berbisik, “Gwenchana, Na~ya.Aku ada disini.Aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Hanhan-a..” ringis gadis itu sambil melingkarkan tangannya juga dipinggang Luhan dan mulai menangis deras dalam diam. “Jangan tinggalkan aku.” Ucap Soon-na terdengar kaku.Luhan ditempatnya hanya bisa tersenyum dan mengecup kepala gadis itu.

“Tenang saja, Na~ya.Aku ada disini.”

Su-ji terdiam melihat moment mereka berdua.Ia tau jika seharusnya ia meninggalkan tempat itu. Tapi ia hanya terlalu penasaran dan ingin memastikannya sendiri dengan matanya.

Persahabatan mereka seperti bukan sekedar persahabatan.

Su-ji kemudian memutar tubuhnya dan berjalan kearah pintu keluar, meninggalkan Luhan dan juga Soon-na yang masih berpelukan.Su-ji menghela napas, untung cuma ada dirinya. Walaupun sebenarnya ada orang lain disana. Yang melihat mereka bertiga.

**

Su-ji mempercepat langkahnya untuk mengejar seseorang. Selangkah sebelum ia keluar dari perpustakaan, ia mendengar derap kaki berlari meninggalkan perpustakaan. Sebenarnya ia sedang malas untuk bermain kejar-kejaran. Tapi lagi-lagi tubuhnya kalah dengan keingintahuannya dan memutuskan untuk mengejar.

“Yak! Berhenti!” teriak Su-ji ketika akhirnya ia bisa melihat sosok itu. Seorang murid wanita.Apakah fans-nya?Gadis itu berhenti, tapi tidak menoleh sekalipun kearahnya.Setidaknya itu memberikan waktu Su-ji untuk mengatur napasnya sendiri dan mengejar gadis itu.

Tangan Su-ji terangkat dan menyentuh pundak gadis itu, memutarnya kehadapannya.Ia kaget ketika mendapati, Je-si teman lamanya tersenyum padanya. “Yak, neo! Ngapain kamu ada disini?” tanyaSu-ji. Je-si melepas tangan Su-ji dari bahunya dan tersenyum, “Memang-nya aku tidak boleh ada disini, babo?”

“Berhenti memanggilku ‘Babo’, Nona Kim.”

Je-si menggelembungkan pipinya sebal, “Berhenti memanggilku ‘Nona Kim’, Su-ji-a.”

Su-ji tertawa sesaat sebelum mengacak-acak rambut gadis itu, “Kamu tidak pernah berubah, Je-si-a.Lagipula itu memang margamu, kan?” ucap Su-ji usil sambil mengedipkan matanya.

Je-si menepis tangan pria itu dengan cepat lalu berjalan meninggalkan pria itu dibelakang, “Aku tau maksudmu, Su-ji-a.Kamu memang menyebalkan!”

Sebenarnya aku juga tidak suka memanggilmu seperti itu, Je-si-a.Setiap memanggilmu begitu, aku juga jadi teringat luka lamaku.

“Kamu akan kemana?” tanya gadis itu membuat Su-ji sadar dan segera mengejar Je-si.

“Aku akan menjemput adikku.Kamu mau ikut?” tawar Su-ji sambil mengukir smirk dibibirnya.Mau tidak mau, Je-si memukulnya keras.

Su-ji mengaduh sambil tertawa, “Yak, apakah kamu perlu memukulku seperti itu?Ya sudah kalau kamu tidak mau ikut, Je-si-a.Aku pergi dulu, sebelum anak manja itu menangis pada ibu karena tidak ku jemput dan diberi makan.”

“Sret..”

Je-si menarik lengan Su-ji sehingga pria itu terhenti, “Aku ikut.” ucapnya Je-si pelan diiringi dengan angukkan Su-ji.Pria itu merangkul pundak Je-si mendekat kearahnya, memudahkannya untuk memaksa gadis itu berjalan lebih cepat untuk mengikutinya.

Aku yang bodoh.Aku yang menawarkan dan aku yang menyesal.

**

“Noona~ya..”

Je-si tersenyum, “Hun~aa.. Bogoshipoo..” ucap Je-si manja sambil memeluk adik kecilnya itu yang sudah semakin tinggi darinya. Su-ji bersandar di dinding menatap adegan kangen-kangen-an itu dengan malas. Tapi ketika ia merasa terlalu lama, Su-ji menarik adiknya itu menjauh dari Je-si.

“Yak, hyeong!”

“Mwomwomwo?” kata Su-ji sebal membuat adik kecilnya itu sebal setengah mati.Je-si tertawa lalu mengacak-acak rambut mereka berdua.

“Kalian pulanglah.Sebelum nanti hujannya tambah besar.”

“Noona mau bertemu dengan iblis itu?”

Je-si tertawa lepas sebelum sesaat menganguk.Su-ji menghela napas, “Kamu hati-hati lah.”

“Iya, noona.Dia semakin gila akhir-akhir ini.Apalagi saat dia disuruh membuat koreografer dengan latar music instrument. Ballet dance aja sudah hampir membuatku gila.”

“Ara. Kalian pulanglah.” Ucap gadis itu sambil memeluk kedua pria itu. Su-ji dan adiknya kemudian tersenyum, “Goodbye..”

“Annyeong, noona~ya..”

Je-si membalas lambaian tangan semangat pria kecil itu sementara Su-ji sibuk menarik tangan adik kecilnya itu mendekat supaya tidak kebasahan.Ia merutuki diri kenapa ia punya adik setinggi-nya dan juga semanja ini. Tapi mengingat betapa lucu adiknya itu, ia kembali terbungkam. Ia memang lemah dengan aegyo.

“Hyeong..”

“Ehm?”

“Aku lapar.”

Su-ji menghela napas sebal, tapi ia mengeratkan tautan tangan diantara mereka lalu tersenyum.

Hun-a, terima kasih kamu hadir sebagai adikku.Setidaknya, karena kamu lah aku bertemu dengannya.Aku belajar untuk merelakan.

**

Je-si berhenti didepan sebuah pintu kayu.DItengah-tengah pintu itu terdapat sebuah kaca untuk melihat kedalam dengan leluasa.

Ruangan itu didominasi wallpaper langit biru dengan awan yang menghiasi.Cermin-cermin besar juga mengisi ruangan itu. Lantai kayu itu berdecit keras karena ada seseorang sedang berlatih didalam sana. Bunyi itu masih terus terdengar sekalipun bunyi music sudah mencapai volume maksimal.

Je-si tersenyum ketika mendapati pria menyebalkan itu didalam sana dengan lincahnya meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti irama. Gadis itu memanggilnya anak Iblis.Ia tidak suka memanggil pria itu dengan namanya, terlalu bagus katanya.

Wajah pria itu sangat tampan dan menawan walaupun kulitnya sedikit gelap dan badannya sama sekali tidak sixpack. Dance yang diliuk-liukkan pria itu begitu mengagumkan. Campuran ballet dengan beberapa dance pikir gadis itu.

Je-si masih tidak masuk kedalam dan lebih memilih untuk mengamati pria itu dari balik kaca itu. Mengagumi anak kecil itu diam-diam. Anak kecil yang selalu ia ganggu sejak kecil, anak kecil yang selalu menangis padanya, dan sekarang sudah berubah menjadi pria pengatur dan menyebalkan di usianya yang ke-14. Je-si sebal ketika mengetahui pertumbuhan pesat anak kecil itu, bagaimana diusia yangke 14 saja, anak kecil itu sudah bisa mencapai tinggi sama sepertinya?

Je-si menepukkan kedua tangannya keras-keras sambil mendorong pintu itu ketika anak kecil itu berhasil berputar 4 kali dan bersalto dengan indahnya. Jatuh dengan elegannya diatas lantai seolah mengakhiri dance itu dengan sempurna. Dengan napas tidak beraturan, pria itu menoleh kearah pintu dan berdecak sebal, “Untuk apa kau datang kesini?”

“Memangnya aku tidak boleh mengunjungi adik kecilku?”

Pria itu tertawa sinis lalu menidurkan seluruh tubuhnya diatas lantai kayu, “Setelah mengusirku dirumah sakit, sekarang kamu berani mengunjungiku, Nona Kim?”

“Yak! Panggil aku Je-si! Aku benci dipanggil seperti itu, anak kecil!”

“Terimalah takdirmu sendiri, Nona Kim.Dan berhentilah menganggapku seperti anak kecil atau lebih baik kamu pergi saja dari sini sebelum aku membunuhmu?”

Je-si memajukan langkahnya mendekat.Ia berjongkok tepat disamping pria itu dan menyeka keringat pria itu dengan sapu tangan yang dibawa-nya. Membuat pria itu menatapnya dalam seolah tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan gadis itu.

“Neo gwencahana?” tanya Je-si akhirnya setelah pria itu hanya diam. Je-si kemudian duduk diatas lantai, masih menatapi pria itu sambil tetap tersenyum. Tak lama pria itu bangun dan beranjak untuk berdiri tapi Je-si dengan cepat menarik tangan pria itu untuk tetap berada disisinya.

“Tidurlah dipangkuanku.Aku tau kamu lelah.”

Pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya bingung tapi akhirnya ia menyerah dan menghancurkan ego-nya sendiri. Ia merebahkan tubuhnya diatas lantai lagi, bedanya paha Je-silah yang menjadi bantalnya. “Apa pak tua itu menyiksamu?Kamu kan anak iblis, bagaimana kamu bisa kalah darinya?”

Je-si mengelus-elus rambut pria itu dengan lembut dan mengecupnya sesaat.Je-si selalu suka aroma tubuh pria itu, baunya tidak menusuk dan juga seperti bayi.Membuatnya sangat nyaman.Je-si membiarkan pria itu bergerak mencari posisi nyaman. Walaupun sebenarnya ia kaget ketika mendapati pria itu tidur menghadap perutnya dan memeluk pinggangnya, ia hanya bisa tersenyum mendapati anak iblis itu kembali menjadi anak yang manja lagi.

“Noona~ya..Aku membutuhkanmu.”

“Tidurlah.Aku akan membangunkanmu nanti.” bisik Je-si tepat ditelinga pria itu.Pria itu tersenyum sesaat lalu larut didunia mimpinya.

Aku aku begitu jahat padamu, hey anak iblis? Nan jeongmal mianhae.

**

“Tenang saja, Na~ya.Aku ada disini.”

Aku sakit.Dan sakitnya melebihi sakit yang pernah aku rasakan.Dan dengan bodohnya aku menikmati sakit itu.

Tapi sampai kapan?Sampai aku menikmati sakit itu dan menganggapnya bagian dari hidupku?

Pria itu menggumam sesaat dipangkuan Je-si.Tapi gadis itu tidak sadar.Je-si masih berusaha keras untuk menahan tangan tangis dan teriakkan putus asanya dengan kedua tangannya.Gadis itu tidak sadar kalau saja tangannya tidak mampu mencegah beberapa bulir air matanya untuk jatuh.Dan sayangnya air mata itu jatuh tepat di wajah pria itu sehingga tak lama kemudian Pria itu membuka matanya.

Ada apa dengannya? Apakah dia menangis?Je-si-ku menangis?

Pria itu dengan cepat bangun dari tidurnnya dan mengusap pipinya untuk memastikan.

Tidak salah lagi.Ini air mata.

Pria itu menatap punggung tangannya tidak percaya dan bergantian melihat Je-si yang sekarang sudah memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya didalam sana. Pria itu dengan jelas bisa melihat punggung gadis itu yang bergetar.Ia tidak sabar sehingga dengan kasar menarik bahu gadis itu, dan mengangkat dagu gadis itu supaya bisa melihatnya dengan jelas.

Hatinya tersayat dalam-dalam ketika melihat air mata berlinangan dipipi gadis itu. Tapi dengan bodohnya ia bahkan sempat menyanjung kecantikan gadis itu ketika menangis, “Noona~ya..Kenapa kamu menangis?” tanyanya lembut.Tapi Je-si tidak merespon dan malah membuang wajahnya kesamping.

Pria itu menarik napas banyak-banyak untuk mengatur emosinya sendiri lalu dengan kasar menggoyangkan tubuh gadis itu sampai akhirnya perhatian Je-si tertuju padanya.Secara manusia, tidak aka nada yang bilang gadis itu cantik.Gadis itu sangat berantakan.Rambutnya acak-acakkan, air mata mengalir deras dari matanya membuat eyeliner yang digunakan gadis itu hancur.Apalagi matanya membengkak dan juga hidungnya memerah.“Katakan padaku, noona~ya.”

Je-si langsung memeluk pria itu dan membenamkan wajahnya dipundak pria itu. Menangis sejadi-jadinya dan terus menggumam dipelukan pria itu, “Nan gwenchana..”

Tapi pria itu tau kalau Je-si sama sekali tidak baik-baik saja. Gadis itu jauh dari kata baik-baik saja, tapi dia lebih memilih diam dan membiarkan gadis itu menangis sepuas-puasnya.

Nan..Jeongmal mianhae. Bukannya belajar mencintaimu, akan malah membuka hatiku untuk orang lain. Nan jeongmal mianhae.

**

Soon-na melirik bangku sebelah yang kosong diam-diam sambil sesekali memerhatikan guru didepan.Ia seperti kehilangan sahabatnya itu. Memang Je-si tidak masuk, dan ini bukan pertama kalinya.Gadis itu tidak masuk karena urusan pekerjaan dan untungnya sekolah memberikan dispensasi khusus untuknya.

Merasa sebagai asisten, Soon-na sebal karena Je-si bersikeras untuk berangkat sendiri bersama Mike.Tapi sebenarnya Soon-na mengerti kalau gadis itu pergi karena harus pemotretan di Jepang untuk SPAO. Awalnya Soon-na akan ikut, bahkan gadis itu sudah siap untuk tidak masuk sekolah  beberapa hari yang lalu. Tapi tiba-tiba ia mendapat sebuah email kalau tiket pesawatnya dibatalkan. Pasti Je-si khawatir kalau Soon-na akan kecapekan.

Tapi jika begini akan membuat Soon-na yang capek karena mengkhawatirkan Je-si yang pergi untuk bekerja. Cuaca sedang tidak menentu karena sedang pergantian dari Summer menuju Autumn. Pasti di Jepang akan sangat dingin.

“Murid Han, apakah anda baik-baik saja?” tanya Cho sonsaengnim membuat Soon-na tersadar dari lamunannya. Gadis itu menganguk dan mendapati guru-nya itu sangat perhatian padanya, “Saya tidak apa-apa, pak.”

“Kamu bisa pergi ke UKS kalau sedang tidak  enak badan. Saya yakin kamu pasti mengerti semua yang saya ajarkan.”

Seisi kelas langsung berbisik iri ketika melihat guru mereka begitu memanjakan Soon-na.Karena terlalu berisik, akhirnya Soon-na memutuskan untuk berdiri.“Kalau begitu saya ke UKS sekarang, pak.Gamsahamnida.”Ucap Soon-na akhirnya lalu meninggalkan kelas.

Ntah mengapa rasanya tiba-tiba saja ia pusing dan memilih untuk tidak belajar sama sekali.

**

“Je-si-a… Bagaimana kamu disana?”

“Tentu saja aku baik-baik saja.Kenapa? Kamu merindukanku, Soon-na-ya?” ucap gadis diseberang sana samba terkikik membuat Soon-na tersenyum. Tanpa sadar ia menganguk, “Iya, aku merindukanmu, Je-si-a.”

“Yak, kamu punya Luhan disana.Bermainlah dengannya.Aku tidak mau dia memarahiku karena kamu selingkuh denganku, Soon-na-ya.”

Soon-na menggeleng tegas, “Untuk apa dia cemburu? Memangnya dia pikir aku lesbi apa? Aku in normal.”

“Yayayaya.. Aku tau kamu normal, Soon-na-ya! Kalau tidak normal, aku juga tidak mau berteman denganmu.” lanjut Je-si diseberang.Soon-na duduk diatas kursi kayu yang menghadap ke jendela besar diluar.Menatap Luhan yang baru saja memakirkan sepedanya hendak menaikki tangga.

“Kamu kapan akan pulang, Je-si-a?”

Tidak terdengar jawaban dari seberang.

“Toktoktok..”

“Ya tunggu sebentar! Je-si-a, tunggu sebentar ya.” Ucap Soon-na cepat sambil berdiri dan beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.Tak lama, terlihatlah Luhan setelah Soon-na membuka pintu itu dan mempersilahkan pria itu masuk.

“Apa yang kamu bawa, hanhan-a?”

“Aku membawa kimchi dan juga daging lada hitam yang dibuat eomma.Kamu sudah memasak nasi, Na~ya?”

Gadis itu menganguk antusias, beberapa detik kemudian ia sadar kalau ia masih menelpon Je-si.

“Aaa, mianhae.Luhan datang. Kami akan dinner bersama. Jadi kapan kamu akan pulang? Apakah kamu mau berbicara dengan Luhan?” tanya Soon-na antusias membuat Luhan mengerutkan kening. Namun kemudian ia tau kalau gadis itu sedang menelpon Luhan. Luhan baru saja menempelkan handphone itu ditelinganya, “Aku tidak tau akan pulang kapan, Soon-na-ya. Aku tidak ingin berbicara dengannya.Aku pergi dulu ya.Annyeong.”

Mata Luhan membulat ketika mendengar suara dingin Je-si diseberang.Ia sedang berpikir apa yang terjadi sehingga gadis itu tidak ingin berbicara dengannya?

Apa yang aku perbuat? Apakah dia marah padaku?

“Tutututut..”

Luhan memberikan kembali handphone itu pada Soon-na dan memilih untuk menyibukkan diri dengan makanan yang ia bawa sementara Soon-na menatapnya bingung.

“Apa yang terjadi? Apa yang Je-si katakan?”

“Dia bilang kalau dia tidak tau kapan akan pulang. Dan ia juga bilang kalau,”

Soon-na menunggu kelanjutan perkataan Luhan tapi pria itu tidak kunjung melanjutkan sehingga Soon-na mendekat kearah meja makan, “Apa?”

“Dia bilang tidak ingin berbicara padaku.” Kata Luhan nyaris seperti berbisik. Tapi kemudian ia mengangkat kepalanya dan tersenyum melihat Soon-na.

“Duduk dan makanlah.Sebelum semuanya menjadi dingin.”

Soon-na dalam diam mengikuti perkataan Luhan dan duduk dihadapan pria itu. Beberapa saat ia sedang menerka ekspresi apa yang ditunjukkan Luhan sekarang. Apakah pria itu kecewa?Soon-na tidak pernah tau.Ia memilih untuk menyumpit kimchi dan mengisi perutnya sekarang juga.

**

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

6 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 3

  1. naritareky September 5, 2012 at 11:38 AM Reply

    Ini perasaan ku aja apa emang bukan ya?
    Kayanya part ini lebih panjang dari part2 sebelumnya hehe
    Semakin kesana makin bagus ceritanya 😉
    tapi ada banyak tulisan salah ya thor? Hehe
    Tapi tetep bagus kok, aku suka jalan ceritanya, di tunggu kelanjutan nya

    • exo1stwonderplanet September 5, 2012 at 4:15 PM Reply

      Tiap part biasanya tergantung inti cerita yang mau diceiritakan apa aja. Salah dimana ya? XD -HJS

  2. Cynthia September 6, 2012 at 2:55 PM Reply

    Aq kasian sm je-si.. 😥
    Aq penasaran banget apa dy akhirx ma luhan ato g..
    Ditunggu part selanjutx ya 😀

  3. ichaichez September 6, 2012 at 4:08 PM Reply

    Castny nambah jd nambah ribet dan bkin penasaran.
    aku prefer luhan ama sona sih. kalo jesi udh trlalu beruntung punya apa aja. hehe
    dtunggu next part.

    • exo1stwonderplanet September 7, 2012 at 6:34 PM Reply

      Jesi ga beruntung kok ! *author bersikeras* haha.. walaupun dimata orang dia sempurna, nyatanya ga xD btw, thank you for reading ^,^ the next one will make you more curious ^^ -HJS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: