EXOTIC’s Fiction “Creepy K12S” – Part 4

EXOtic’s Fiction

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Creepy KI2S”

Author: @heenimk

Title: Creepy K12S (Chapter 4)

Main Cast:

EXO-M Chen,EXO-K Baekhyun,Eun Aeryung

Genre: Sci-fi,Romance, Fantasy

Length: Multi Chapter

Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

“…Benar, itu artinya setiap roh punya berjuta masa lalu, sebelum mereka ‘terlahir kembali’ menjadi diri mereka yang sekarang. Dan fungsi setiap lipstick itu, adalah mengembalikanmu kembali ke dunia pada salah satu masa lalumu, sebelum roh-mu direinkarnasi.”

_____________________________

“ANDWAE!”

Tangan gadis itu terulur berusaha menggapainya, namun terlambat. Benda itu tetap tak teraih. Bahkan bayangannya tak lagi tertangkap retina mata Aeryung.Gadis itu menatap pasi seluruh pemandangan di bawah Namsan Tower. Benda sekecil itu seolah tenggelam di antara semak belukar di bawah sana.Sepasang lututnya tertekuk lemas, perlahan badan Aeryung terhuyung hingga ia jatuh terduduk di tempatnya berdiri. Kenapa aku sial sekali?

Teringat sumber masalah yang membuatnya berada di keadaan seperti ini, gadis itu menoleh dan menatap tajam sosok namja asing yang hanya balas menatapnya bingung.

“Ya! Kau harus bertanggung jawab!”

“Mwo?”

“Kau sudah membuatku kehilangan benda berhargaku, tuan…” Eun Aeryung menghela nafas berat, mencoba mengatur perasaannya. “Tunda keinginanmu untuk mengakhiri hidup karena kau harus bertanggung jawab mencarinya!”

“Jadi.” Namja itu berdengus malas, kedua tangannya bersidekap enggan.“Apa itu urusanku?”

Gadis itu mengerjap tak percaya. “M-mwoㅡ”

Apa katanya?

“Kau yang seenaknya menarik tanganku, agasshi.Jadi hal itu murni kebodohanmu.”

Sederet perkataan ringan namja itu dan seluruh perasaan kesal yang terpendam di dalam diri gadis itu seolah memberontak keluar. Menggeram tak sabar, Aeryung telah beranjak dari tempatnya duduk dan menghentak kasar kakinya berjalan mendekati namja asing yang masih berdiri di atas pagar pembatas Namsan.

Satu tarikan kuat dari Aeryung hingga tubuh namja itu teroleng jatuh ke arahnya.

“YA!”

…..

“Aku punya nama ‘Eun Aeryung’ jadi berhenti memanggilku ‘bodoh’ㅡaww!”

Satu tarikankecil di rambutnya membungkamAeryung,membuatnyaberalih menjerit kesakitan.Aish, namja ini menjambakku?

Namja itu berdengus geli, perlahan meloloskanhelaian rambut gadis itu di sela jemarinya.

“Apa peduliku? Setidaknya kau bisa berjalan lebih jauh dariku, bodoh. Tidak sedekat ini.”

Aeryungmembuang pandangan, gadis itu menyembunyikan semburat merah samar yang muncul di kedua sisi wajahnya. Wajah Aeryung memanas tersadar posisi mereka sekarang.

Benar, ia kini menempel erat pada tubuh namja asing itu, sementara mereka berdua berjalan turun ke dasar Menara Namsan. Bahu mereka bahkan saling bersentuhan.Terlalu dekat, hingga rasanya Aeryung bisa mencium jelas aroma tubuh namja di sampingnya.

Seorang staff Namsan bahkan salah mengira mereka sebagai sepasang kekasih dengan memberi sebuah couple gift saat mereka berdua melewati sebuah gerai souvenir di sana. Gadis itu hanya balas tersenyum canggung saat menerima uluran couplegift mungil darinya. Sementara namja itu menampakkan raut tak nyaman.

Duh, memang aku punya pilihan lain?

“Kalau bukan karena rambutku tersangkut di kancing mantelmu, aku juga tidak akan mau berjalan sedekat ini dengan anonymous sepertimㅡaww!”

“Dan itu semua karena kebodohanmu yang tiba-tiba menarikku jatuh, bodoh.”Desis namja itu tajam, sesuka hati menarik helaian rambut gadis di sampingnya.Diam-diamnamja itumengulas senyum puas melihat wajah lucu Aeryungyang kini berubah masam.

“Jongdae. Kim Jongdae, namaku.”

…..

“Besok.”

Aeryung menoleh pada sumber suara,tak percaya dengan apa yangbarusan ia dengar.Satu tangannya yang sibuk mengacak-acak rimbunan daun sontak terhenti.

Apa namja ini sudah gila?

Nasib gadis itu dipertaruhkan di sini. Enteng sekali ucapannya tadi.

Apa katanya?Besok?

“Apa? Kau ingin aku mencari terus di sini sampai pagi?”

Aeryung mengerjap kaget seolah namja itu baru saja membaca pikirannya.

“N-neoㅡ”

“Sudah tiga jam lebih, bodoh. Dan ini juga hampir malam.” Jongdae bangkit berdiri di antara rimbunan semak dan menepuk lututnya yang kotor oleh tanah.

Setelah tiga jam mencari, apa yang mereka dapat? Nihil.

Dan namja itu sudah lelah. Mencari benda sekecil itu di sekelebat semak seperti ini adalah hal tergila yang pernah dilakukannya, terlebih bersama gadis asing yang baru ia kenal dalam hitungan jam.Apa begitu berharga sebuah lipstickhinggagadis itu sampai mengancamnya?

Aeryung berkacak pinggang. Peluh terlihat jelas di kedua pelipisnya. Boleroputih gadis itu bahkan sudah hitam oleh tanah. Kunciran rambutnya juga sudah tak berbentuk.

She is totally a mess.

“Aish, kalau begini lebih baik aku tidak usah melepaskan tautan rambutku dengan kancing mantelmu!”Desah gadis itufrustasi, menatap Jongdae dengan tatapan memelas.

Jongdae menahankeinginannyasendiri untuk tidak tertawa, mengingat bagaimana gadis keras kepala itu bertingkah seperti kesetanan saat mencari benda sekecil itu, tadi.

Terbersit rasa kasihandi hati Jongdaemelihat usaha mati-matian Aeryung mencari lipstickyang,well, hilang akibat ulahnya…Tapi apa pedulinya?

Masalah yang dihadapi namja itu sendiri sudah cukup rumit. Sudah beruntung ia mau berbaik hati membantu mencari lipstick gadis aneh itu, bukan?

Baru Jongdae akan membawa kaki itu pergi ketika sebuah tarikan menahan langkahnya.

“Sebentar lagi, Jongdae-ya, jebal.” Aeryung menahan erat lengan namja itu, sebelum sebuah hempasan kasar lagi-lagi membuatnya terjengkang satu langkah ke belakang.

Terlalu mendadak,hingga rasanya tubuh Aeryung kehilangan keseimbangan.

Tsk.Ani.”

Jongdaeberdengus dan menyeret sepasang kakinya pergi, tak berminat menoleh pada sosok gadis yang jatuh tersungkur setelah tersandung pembatas jalan di belakangnya.

“Ya! Kim Jongdae!”

…..

Namja itu kembali menghentikan langkahnya.

Tengkuk Jongdae meremang, malam sudah begitu larut dan sejak tadi namja itu dihantui perasaan aneh, seolah seseorang tengah mengikutinya.

Jongdae berniat menoleh ke belakang, tapi niatnya seketika terhenti.Kepala namja itu justru mendongaksaat sebuah cermin besar di dekat persimpangan jalan dengan jelasmemantulkan bayangan sosok aneh yang daritadi menguntitnya selama perjalanan pulang.

Sebuah seringai terulas di bibir Jongdae, matanya mengenali siapa sosok aneh itu.

“Penguntit?” Jongdae bergumam pelan.

Sosok aneh yang bersembunyi di balik papan pengumuman itu sontak berjengit kaget saat melihat Jongdae tiba-tiba berlari. Ia turut mempercepat langkahnya mengejar namja itu.

Oh ayolah, sudah hampir dua jam berlalu sejak ia mengikuti Jongdae ke sana ke mari.

Jongdae-ya…Eodiga?

Tepat di sebuah persimpangan jalan yang lain, sosok aneh itu kehilangan Jongdae. Sosok aneh itu berhenti sejenak dan hendak berbelok saat sebuah cengkeraman kuat menariknya ke sisi jalan yang lain. “YA!”

Mendapat serangan mendadak, sontak saja sosok aneh itu menjerit kaget.

Pemerkosa? Berandalan?

“Ya! Lepaskan! Neoㅡ”

Nuguya?

“Eun Aeryung.” Desisan dingin sebuah suara membungkam telak teriakan sosok aneh itu.

Sosok aneh itu, Eun Aeryung, mengerjap kaget mendapati KimJongdaeberdiri di sana, mencengkeram pergelangan tangannya kuat.

“Kau menguntitku?”

Sontak saja gadis itu gelagapan.Jongdae menatapnya intens seperti ingin meraba pikirannya. Penerangan jalan yang remang membuat gadis itu tak bisa menangkapjelas ekspresi namja di hadapannya.“A-aniyo. Aku hanya ingin memastikan kau tidak kaburㅡ”

“Mwo?” Satu alis namja itu bertaut.“Aku tidak bodoh sepertimu, Eun Aeryung.”

“Y-ya!”

Astaga, lagi-lagi namja ini memanggilku bodoh?

“Jangan membohongiku, bodoh. Malhaebwa. Katakan alasanmu.”

Aeryung menatap takjub pada namja di hadapannya.

Apa namja ini memiliki kemampuan membaca pikiranku?

“A-akuㅡ” Gadis itu menatap ragu cengkeraman tangan Jongdae, Aeryung menelan ludah gugup sebelum melanjutkan kalimatnya.“Boleh aku tinggal denganmu, Jongdae-ya?”

…..

Aeryung keluar dari kamar mandi, kemeja itu menenggelamkan hampir seluruh badan mungil gadis itu. “Aku selesai, Jongdae-ya.”

Jongdae hanya balas bergumam, masih membelakangi gadis itu.

Aeryung menatap bingung punggung namja itu, perlahan ia berjalan mendekati Jongdae yang masih duduk bergeming di atas tempat tidur. Tampak asyik dengan sesuatu, sepertinya?

“Kau sedang apa?” Gadis itu bertanya, memilih mengabaikan fakta bahwa kini ia hanya berdua dengan seorang namja asing yang baru saja ia kenal.Di rumah namja itu. Lebih tepatnya hanya berdua, di kamar namja itu.

Rumah modern yang mewah.

Melihat seluruh isi perabotannya, tidak berlebihan jika mengatakan bahwa keluarga Jongdae tergolong kaya. Dan bisa Aeryung duga, namja itu pasti diperlakukan dan dipanggil dengan sebutan tuan muda di rumah sebesar ini.

Itu sebabnya namja ini bersikap semena-mena padaku?

Terbiasa diperlakukan mewah, huh?

Tapi suasana rumah ini terlalu sepi, hanya ada seorang penjaga yang berpapasan dengan mereka di gerbang depan dan seorang pelayan.

Entahlah, Aeryung tidak tahu, karena Jongdae sama sekali tak menjawab sama sekali saat gadis itu bertanya tentang kondisi rumah mewah sepi penghuni itu.

Dan gadis itu memilih tidak peduli, kebutuhannya saat ini adalah tempat tinggal dan mandi. Tubuh gadis itu benar-benar terasa lengket dan dekil. Beruntung namja itu mau meminjamkan kemejanya juga, karena Aeryung jelas tidak membawa baju ganti.

‘Mwo? Bukankah itu sudah jelas? Kau tidur di kamarku.Karena aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan isi rumah ini jika kubiarkan kau tidur di kamar lain tanpa pengawasanku, Eun Aeryung.’

Aeryung mendengus malas mengingat jawaban panjang Jongdae saat ia bertanya kamar mana untuknya. Namja itu pelit sekali.

Kenapa tidak tinggal saja di rumah ‘Eun Aeryung’ di masa ini?

Benar, awalnya Aeryung juga berpikir begitu. Tapi gadis itu tak menemukan satu pun tanda pengenal di sekujur tubuhnya saat ini. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya, gadis itu bisa dengan mudah menemukan tanda pengenal milik ‘Eun Aeryung’ dan tinggal di rumah gadis itu bersama keluarganya di masa itu. Tapi kali ini? Tidak.

Itulah sebabnya gadis itu mengikuti Jongdae. Mengumbar beragam alasan konyol agar ia bisa tetap tinggal di rumah namja itu barang sebentar, setidaknya sampai lipstick itu ditemukan.

Tanpa tanda pengenal.

Apa Eun Aeryung di masa ini adalah penduduk ilegal Korea Selatan?

Hey, kau sedang apa?” Gadis itu mengulangi lagi pertanyaannya.

Bau harum sabun menguar menyentuh lembut indra penciuman Jongdae, sekejapmembuat namja itu berjengit kaget.Aeryung tengah mencondongkan tubuhnya, berusaha melihat kegiatan namja itu lebih dekat.

“Ani, bukan urusanmu.” Jongdae melipat asal lembaran kertas di tangannyadan beranjaksetelah menyimpan map berisi lembaran kertas itu ke dalam laci di samping tempat tidur.

Map apa itu?

Geurae, bukan urusanku.

Aeryung mencibir, ekor matanya terus mengamati Jongdae yang kini membuka lemari dan sibuk memilih pakaian di sana. Gadis itu menghela nafas.

“Tidak bisakah kau sedikit lebihsopan padaku, Jongdae-ya?” Gerutu gadis itu pelan, duduk di sofa kecil di dekat tempat tidur. Aeryung meraih sebuah bantal sofa dan memeluknya, memainkan benda mati tak bersalah itu dengan sedikit kasar. Frustasi?

“Kau bahkan tidak bersikap sopan padaku, Eun Aeryung.”

“Ne?”

“Panggilan informal, Aeryung-ssi.” Sindir namja itu, menekankan pada kata ‘-ssi’.

Aeryung menelan ludah gugup. Benar, sejak tadi gadis itu memang memanggilnya dengan panggilan ‘Jongdae-ya’.Alasannya?

Aish, namja ini bahkan tidak lebih sopan dari Luhan-ssi.

Untuk apa aku memanggil namja tidak sopan ini dengan panggilan formal?

“I-ituㅡ”

“Sebelum berkomentar benahi dulu dirimu, bodoh.”

“Y-ya!”

Sudah cukup memanggilku bodoh, Kim Jongdae.

Namja itu berbalik badan dan menutup pintu lemari, tatapannya menghunus gadis itu tajam. Sejenak tubuh Aeryung meremang saat sebuah seringai perlahan terulas di bibir Jongdae.

Tsk.Bahkan memakai baju pun kau tak becus?”

Gadis itu mengikuti arah pandang Jongdae, benar saja, dua kancing teratas kemeja gadis itu belum terkancing. Wajah Aeryung sontak merah padam.

“Bodoh.” Desis namja itu pelan, berjalan santai menuju kamar mandi. Pintu kamar mandi itu sudah tertutup penuh saat lemparan bantal sofa itu melayang tepat mengenai permukaannya.

“Kim Jongdae!”

…..

Aneh,rasanya baru kemarin mereka bertemu.

Tapi sekarang? Aeryung merasa nyaman berada di samping namja itu,Kim Jongdae.

Entahlah. Perasaan gadis itu seolah kontras dengan semua pertengkaran konyol mereka, sikap ketus Jongdae padanya, seringai jahil namja itu, atau terkadang sikap kasar yang ia terima jika ia membuat namja itu kesal setengah mati.Am I a masochist?

Sudah beberapa hari ini merekaberdua sibuk berkeliling di sekitar Namsan Tower mencari lipstickmilik gadis itu. Melalui hari-hari seperti itu, setiap harinya.

Dan Aeryung sama sekali tidak merasa bosan.

Gadis itubahkan tak mempermasalahkan lagi jika mereka berdua pulang ke rumah tanpa berhasil menemukan lipstick itu. Jika keberadaan lipstick itu belum ditemukan, maka Aeryung bisa terus bersama namja itu, bukan?

Seperti sekarang, mereka berdua kini berada tepat di rimbunan semak yang mengelilingi halamandepan Namsan Tower. Apalagi kalau bukan mencari lipstick milik gadis itu?

“Igeo.” Jongdae menunjuk sesuatu di pundak gadis itu.

Aeryung menoleh, melihat ke arah tunjukan jari Jongdae…Dan sontak jeritan histeris gadis itu terdengar memekakkan telinga.

“Aish, bodoh.Kau tidak malu berteriak di sini? Seluruh pengunjung memperhatikan kita, bodoh.Aish diamlah, Eun Aeryung!”

“Babo Jongdae-ya! Babo ambilkan ulat itu, ppali!”

Gadis itu terus berteriak, Aeryung berpegangan erat pada lengan Jongdae. Namja itu nyaris akan terbahak jika saja ia tidak melihat tetesan bening berada di sudut mata gadis itu.

Jongdae mengulas senyum simpul, pandangan namja itu melembut.

Diraihnya tubuh mungil Aeryung mendekat, dengan satu gerakan cepat ia melempar ulat dari bahu Aeryung kembali ke balik semak. Jongdae mengusap sayang kepala gadis itu seolah memintanya berhenti menangis. “Gwaenchana, sudah kubuang. Lihat?”

Sebuah bisikan dari namja itu dan perlahan Aeryung membuka mata.

Nafas gadis itu tercekat saat ia melihat pundak Jongdae tepat berada di depan matanya, membuat isakannya berangsur mereda.Aeryung mendongak, sekejapjantung gadis itu seperti terdorong keluar oleh dentuman besar.

Gadis itu terpaku menatap penuh wajah tampan di hadapannya. Seolah ingin merekam setiap detik bagaimana ekspresi namja itu saattertawa lepas. Memberi efek nyata pada tubuhnya.

Jongdae masih gelak tertawahingga tak menyadari semburat merah samar muncul di kedua sisi wajah gadis itu.“Kau cengeng sekali, Eun Aeryung.”

…..

“Kau ingin makan malam dulu?” Jongdae bertanya, namja itu mengendik ringan pada kedai samgyeopsal di ujung jalan.

Hari sudah semakin gelap dan mereka berdua kini dalam perjalanan pulang.

Tanpa lipstick itu? Gwaenchana.

Aeryung mengulas senyum riang menanggapi tawaran Jongdae.

“Akuingin tteok saja, Jongdae-ya.” Telunjuk gadis itu mengarah pada kedai tteok mungil di sebelah mereka. Sikap manja gadis itu tanpa sadar menguar, apalagi kalau bukan karena sikap lembut Jongdae padanya siang tadi?

Jongdae terdiam melihat objek tunjukan Aeryung. Rahang namja itu sontak mengeras.

“Eotte?”

“Ani…Samgyeopsal saja, Eun Aeryung. Kkaja.”

Jongdaemencengkeram erat pergelangan tangan Aeryung, menarikpaksa gadis itu pergi. Setidaknya menjauh dari tempat mereka berdiri sekarang.

“Wae?”Aeryung berkeras menahan ajakan tangan Jongdae, terheran dengan perubahan sikap namja itu.“Apa ada yang salah?”

“Aniㅡ”

“Jongdae-ya?”

Sebuah suara lembut mengusik keduanya, membuat gadis itusontak menoleh.Aeryung mengernyit merasakan sedikit perih saat cengkeraman Jongdae di pergelangan tangannya tiba-tiba menguat.Jongdae-ya?

Pemilik suara lembut itu, seorang wanita paruh baya, kiniberdiri di hadapan mereka.

…..

“Aeryungie, ayo makan yang banyak.”

Aeryung mengangguk patuh pada perintahramah wanita paruh baya itu, semua tteok di mejanya terlihat sangat enak. “Jalmeokkeseumnidaa.”

“Aigoo lahap sekali makannya, neomu yeppeoda.” Wanita itu menyodorkan segelas teh hangat, Aeryung balas tersenyum meraih uluran teh itu. Sementara Jongdae mendengus geli melihat sikap kekanakan gadis di sebelahnya.Aeryung benar-benar makan dengan lahap.

Mencari lipstick seharian menghabiskan banyak energi, bukan?

Tunggu.Kenapa namja ini tidak pernah bilang padaku bahwa ia memiliki eomma yang berjualan tteok seenak ini?

“Ini pertama kalinya Jongdae mengajak yeojachingu-nya datang.”

Brus! Baru sekali teguk, sontak teh itu menyembur keluar.

“N-ne?” Gadis itu gelagapan mengelap bekas teh yang belepotan di sekitar mulutnya dan menepis pernyataan wanita paruh baya itu. “Aniyo, akuㅡ”

Namja itu terkekeh geli. “Pelan-pelan, chagiya…Lihat, kau sampai tersedak.”

Mwo?

Usapan lembut di bibirnya membuat Aeryung menoleh kaget.

Jemari namja itu kini bergerak pelan mengusap sudut bibirnya lembut. Jongdae bahkan dengan tenang tersenyum simpul, seolah mereka memang…Sepasang kekasih?

Apa namja ini sakit jiwa?

Wanita paruh baya itu tersenyum melihatanak lelakinya. Merasa tak nyaman, Aeryung menghentikan gerakan tangan Jongdae dengan sopan.Ani, tepatnya jantung gadis itu yang merasa tak nyaman dengan sikap lembut mendadak dari namja itu.

Bekas sentuhan jemari Jongdae di bibirnya bahkan terasa panas.

Apa gadis itu juga mulai gila?

“Jongdae-ya, suapi Aeryungie, eomma ingin melihatnya.”

“M-mwo?”

“Eomma, kau membuat Aeryung tidak nyaman. Biar aku ambilkan teh untuknya.” Jongdae beranjak dan membawa serta gelas teh Aeryung yang tidak sepenuhnya terisi.

Bisa gadis itu lihat wajah Jongdae yang sedikit…Memerah?Manis.

Gadis itu menggigit bibirnya sendiri, tersadar detak jantungnya yang mulai terasa tak karuan.

“Aeryungie.” Panggilan lembut dari wanita paruh baya itu membuyarkan lamunannya, gadis itu beralih menatap bingung sosok keibuan itu, Kim eomoni.

“Ne, eomoni?”

“Mau kuceritakan sedikit tentang Jongdae kecil?”

….

“Jangan salah paham.”

Aeryung menoleh, gerakannya menyisir rambut dengan ujung jemari sontak terhenti.

Gadis itu tengah duduk di tepi kasur dengan kedua lutut tertekuk, menenggelamkan kedua lututnya di dalam kemeja putih itu. Matanya yang bulat mengerjap bingung. “Mwo?”

“Eom…”

“Ne?”

“Tadi, eom..eomma…” Jongdae bergumam ragu, ini pertama kalinya ia merasa gugup saat berbicara dengan gadis itu.

“Pffth~” Gadis itu terkekeh geli menahan tawa.

Gadis itu merapatkan kemeja yang ia kenakan dan menyusup masuk ke dalam selimut. Meredam suara tawanya sendiri di antara lembaran kain tebal berwarna putih itu.

Jangan berpikirmacam-macam.Eun Aeryung memang tidur di tempat tidur namja itu setiap malam, sedangkan Jongdae memilih tidur di sofa kecil di dekatnya.

“Aish. Kubilang jangan salah paham, Eun Aeryung. Dan berhenti tertawa!” Jongdaeberbalik badan dan berganti posisi, berbaring menghadap badan sofa.Menyembunyikan wajahnya yang memerah?

Sebuah tarikan di selimutnya memaksa namja itukembali berbalik dan balas menatap kesal, siapa lagi kalau bukan gadis itu yang menariknya?

“Ireona.” Pinta Aeryung,menatapragu wajah kesal Jongdae.

“Tidurlah di tempat tidur, Jongdae-ya.”

“Mwo?”

“Y-ya! Kau jangan berpikiran aneh-aneh. A-aku…Kata eomeoni, sejak kecil kau paling benci jika tidak tidur di tempat tidurmu, bukan? Geurae, ireona.” Aeryung berkeras menarik selimut yang menutupi tubuh Jongdae.

“Gwaenchana. Lalu kau tidur di mana, bodoh.”

“Tempat tidurmu sebesar itu, kenapa tidak berbagi satu sisi denganku?”

Jongdae menelan ludah. Suatu perasaan aneh mendadak menguar di dalam tubuhnya. Gadis bodoh. Tidak namja itu duga Aeryung bisa sebodoh itu. Saking bodohnya, atau malah polos?

Bahkan dengan penampilan Aeryung sekarang; sebuah kemeja kebesaran miliknya, rambut panjang yang terurai, aroma lembut sabun yang menguar dari tubuh mungilnya, dan celana gadis itu yang bahkan tak terlihat karena terlalu pendek, tertutupi ujung kemeja putihnya.

Tidak Jongdae jamin ia akan tetap diamjika tidur satu kasur dengan gadis itu.

Ia juga seorang namja, bukan?

“Bodoh, kembali ke tempatmu.” Suara namja itu terdengar serak.

“Jongdae-ya, jebal.” Aeryung menarik selimut itu lagi. “Eomoni berpesan padaku untuk memperlakukanmu dengan baik. Kau pikir, itu bukan beban bagiku?”

“…..”

“Jongdae-ya, ireona!”

“…..”

“Kim Jongdae, ireona!!”

“…..”

“Jongdae-ya babo, ireona!!!”

“YA!!!” Kim Jongdae terbangun dan berdecak kesal pada gadis itu.

Apalagi sekarang? Meneror tidurnya dengan rengekan?

Namja itu mengacak rambutnya frustasi, menyerah pada tatapan lugu Aeryung seakan tidur bersama bukan masalah besar. “Aish, arasseo.”

…..

“Kau sudah tidur?” Aeryung menatap kosong langit kamar Jongdae.

Hening, namja itu tak menjawab.

Aeryung mencibir dan menarik kesal selimuthingga menutupiujung dagunya. Kenapa jadi gadis itu yang merasa gugup sekarang? Bukankah keinginannya untuk membiarkan Jongdae tidur di sini, di sampingnya?

Bagus. Kenapa malah aku yang tidak bisa tidur sekarang?

“Bodoh.”

Aeryung berjengit kaget saat namja itu beranjak bangun dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Tanpa sadar, Aeryung melakukan hal serupa.

“Kau tidak bisa tidur, bodoh?”

Namja ini membaca pikiranku lagi?

Jongdae mengusap kedua matanya pelan, tampak sekali namja itu menahan kantuk. Aeryung menggenggam kuat ujung selimutnya sendiri, tersadar jantungnya mulai berdetak tak karuan.

Hanya gerakan kecil namja itu, kenapa terlihat sangat manis di matanya?

Setidaknya posisi mereka sekarang tidak cukup buruk, dengan sebuah guling sebagai pemisah keduanya. Juga sepasang bantal dan selimut yang berbeda.

“Mianhae.” Suara berat Jongdae bergumam lirih.

“Ne?”

“Eomma…Aku tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana, tadi.”

“Gwaenchana, akuㅡ”

“Eomma sakit keras, Eun Aeryung.” Sepasang mata gadis itu sontak membulat. “Dan eomma selalu memaksaku memperkenalkan calon istriku padanya.” Lanjut Jongdae.

Jadi ini alasan sandiwaramu di depan eomoni, Jongdae-ya…

Aeryung menggeleng kuat, menepis rasa kecewa yang sejenak menghinggapi benak gadis itu.

Bodoh, memang apa yang kau harapkan, Eun Aeryung?

Terusikoleh sesuatu, gadis itu memainkan ragu lengan kemejanya yang menjuntai. Sederet pertanyaan klise yang sejak lama memenuhi pikiran gadis itu seolah sedang memberontak untuk keluar. Bolehkah gadis itu bertanya?

“Jongdae-ya…A-alasanmu ingin bunuh diri saat itu, apa karena…”Perkataan Aeryung terhenti, gadis itu terhenyak melihat perubahan ekspresi wajah Jongdae sekarang.

Jongdae-ya…?

“Kau tahu, Eun Aeryung, beberapa tahun yang lalu eomma dan appa bercerai. Aku tidak tahu penyebabnya, tapikurasa karena penyakit eomma.”

Gadis itu bergeming, memilih diam mencerna kata demi kata yang terlontar dari bibir namja itu. Jongdae tersenyum dan menatap penuh wajah khawatir Aeryung.

“Dia…Appa memenangkan hak asuhku, dengan semua uang yang dimiliki keluarga besarnya. Sementara eomma? Kau tahu, Eun Aeryung, eomma bahkan harus berjualan tteok untuk memenuhi biaya hidupnya. Apa aku punya pilihan?”

Lidah gadis itu terasa kelu. Seolah sesuatu tengah bergerak dan menggerogoti tubuhnya di dalam, memberi rasa sakit yang nyata.

“Dan benar, saat kita pertama bertemudulu adalah saat aku ingin mengakhiri hidupku setelah semua yang terjadi. Penyakit eomma bertambah parah setelah beberapa tahun. Harusnya aku bisa membawanya berobat dengan semua uang milik appa, tapi keluarga besar appa terlalu serakah untuk membiarkanku menggunakan uang itㅡ” Perkataan Jongdae terhenti.

Sebuah sapuan hangat terasa menyentuh wajahnya.

Aeryung telah beranjak dan mengecup ringan pipi kanan Jongdae. Sebuah sentuhan ringan yang cukup memberi efeknyata jauh di dalam tubuh namja itu.

Jongdae menoleh dan terhenyak, wajah gadis itu kini terlihat berantakan karena menangis.

Aeryung mengusap air matanya cepat, gadis itu terkekeh sendiri. “Mianhae…Eomoni bilang, sejak kecil kau akan berhenti menangis jika eomoni mencium pipimu, bukan?”

“Siapa yang menangis, bodoh. Bukankah itu kau?”

Jongdae menatap lembut gadis cengeng di sampingnya.

Aeryung sendiri tidak tahu kenapa air matanya keluar begitu saja.Dan rasanya aliran bening itu tidak akan berhenti dengan hanya satu-dua usapan tangannya. Seolah ada perasaan sesak yang menghimpitnya saat mendengar kisah pilu namja itu.

Tangan Jongdae tergerak mengusap sayang kepala gadis di sampingnya.

“Dan rumah besar ini adalah rumah lama yang kami tinggali bersama, dulu. Alasan kenapa rumah ini terlihat begitu sepi, tentu karena keluarga kami tidak lagi tinggal di sini, bukan, Eun Aeryung?”

Aeryung mendongak, suatu perasaan hangat mengalir saat Jongdaeperlahan menggenggam erat tangannya. Menautkan jemari mereka berdua.

Jongdae mengulas senyum simpul. “Gwaenchana, appa menawarkan perjanjian padaku, Eun Aeryung. Appa bersedia menyiapkan seluruh biaya pengobatan untuk eomma…Asalkan aku mau melanjutkan kuliah di luar seperti keinginannya.”

Satu hantaman keras kembali menyesakkan perasaan gadis itu. “Di luar…?”

“China.” Jongdae menggantungkan kalimatnya. “Dan hari yang kami janjikan…Besok.”

…..

Aeryung menatap pasi seluruh pemandangan kota Seoul di hadapannya.

Gedung-gedung pencakar langit itu tampak seukuran jemarinya sekarang. Gadis itu menggosok kedua telapak tangannya enggan, sebelum dengan pasrah membenamkan keduanyajauh ke dalam saku mantel.Aeryung mengedarkan pandangan pada hamparan gembok itu. Tetap sama, meski tanpa sosok namja itu lagi.

Hari ini pesawat Jongdae akan berangkat, bukan?

Hembusan angin seolah menggores tajam permukaan kulit gadis itu. Sehelai bolero tipisnya sama sekali tidak membantu. Oh ayolah, udara pagi hari Seoul sudah cukup dingin tanpa ia harus berada di ketinggian seperti ini, bukan?

Benar, Aeryung kini berada di dekat observatoriumMenara Namsan. Tempat pertama kaliia bertemu namja itu. Gadis itu tersenyum pahit, mengingat sikap pengecutnya sendiri.

Kabur dari rumah namja itu dan pergi tanpa berpamitan?

Setidaknya lebih baik daripada melihat kepergian Jongdae dengan mata kepalaku sendiri.

Hari ini, Aeryung memang sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Mengemas semua barangnya juga merapikan beberapa barang Jongdae di kamar itu. Berniat pergi sebelum namja itu terbangun.

Semalaman Aeryung bahkan tak bisa tidur nyenyak. Satu kecupan singkat di dahi Jongdae adalah salam terakhir darinya pada namja itu yang sedang terlelap.

“Aish.” Gadis itu mengacak rambutnya sendiri dan beralih merentangkan kedua tangannya. Membiarkan angin dingin Menara Namsan membekukan seluruh persendiannya, berharap seluruh perasaan kacau gadis itu teralihkan pada rasa dingin.

Diam-diam Aeryung tersenyum geli melihat keadaannya sekarang.

Bukankah tujuan awalnya adalah menyelesaikan ke 12 lipstick itu? Sejak bertemu Jongdae, entah bagaimana bayangan lipstick itu tak lagi terlintas di pikirannya.

Apa ini peringatan bagi gadis itu?

Benar, kali ini aku harus serius mencari lipstick itu…

Tsk.Kenapaselembar kertas ini bisa begitu mahal?”

Keluhan sebuah suara berat membuyarkan lamunan Aeryung.

Gadis itu menoleh, pandangan gadis itu sontak terpaku saat matanya tepat menangkap sosok yang berdiri tak jauh di sana. Seringai jahil namja itu bahkan masih tetap sama, seperti yang terekam jelas di ingatannya.

Halusinasi?

“Bodoh. Kau pikir aku ilusi kabut di Menara Namsan ini?” Namja itu terkekeh geli.

Aeryung mengerjap kaget, lagi-lagi ia dibuat takjub dengan kemampuan namja itu membaca pikirannya. “Jongdae-ya…?”

Jongdae bergeming, namja itu tersenyum pada selembar kertas yang ia acungkan sendiri ke atas seolah menghalangi sinar matahari mengenai sepasang mata gelapnya.

Aeryung ikut memicingkan mata, hendakmelihat lebih jelas kertas itu. Detik kemudian pukulan ringan mendarat bertubi-tubi di lengan Jongdae. Membuat namja itu terkesiap kaget.

Seoul Air Ticket?

“Jongdae-ya babo!! Sedang apa kau di sini?!”

Aeryung tak habis pikir dengan jalan pikiran namja itu.

Baru saja gadis itu merelakan seluruh perasaannya pergi, tapi sekarang? Namja itu justru datang begitu saja padanya dan membawa serta benda itu…Selembar tiket Seoul Air?

Aish, kupikir namja ini membatalkan kepergiannya…

Tapi benda apa itu, huh?

Kau ingin pamer sekaligus menyiksaku, Jongdae-ya?

Jongdae menangkap sepasang tangan yang terus menghujamnya dengan pukulan dan mencengkeram pergelangannya erat, memaksa gadis itu mendongak menatapnya. Tak butuh waktu lama untuk menarik kesadaran Aeryung jatuh ke dalam sorot mata gelap namja itu.

Jongdae mengulas senyum simpul. “Setelah menyerangku saat tidur, sekarang kau berniat menganiayaku? Tsk. Itu tindakan kriminal, Eun Aeryung.”

Sontak saja rautgadis itu berubah merah padam, teringat tindakan spontannya mencium dahi Jongdae tadi pagi. Aish, jadi namja ini tahu?

Aeryung membuang pandangan,tatapannya tertuju padasecarik kertas di tangan namja itu. Kedua mata gadis itu kembali terbelalak kaget. “Kau sadar sekarang jam berapa, Jongdae-ya? Penerbanganmuㅡ” Aeryung menatap heran Jongdae dan tiket itu bergantian.

Satu tarikan kuat di pinggangnya menghempaskan tubuh mungil Aeryung terjatuh di antara kedua sisi lengan Jongdae. “Bodoh, kau tidak bisa diam?”

Aeryung mengerjap mendapat serangan tiba-tiba dari namja itu.Jongdae justru memeluknya semakin erat, seolah ingin melindungi tubuh mungil gadis itu dalam rengkuhan lengannya.

“J-jongdaeㅡ”

“Hmm?”

Suara tenang namja itu membuat Aeryung semakin gugup.

“A-akuㅡ”

Perlahan Jongdae melonggarkan pelukannya dan menatap jahil pada wajah gugup gadis itu, menunggu kelanjutan kalimat Aeryung.

“Chukaehamnida!” Seruan lantang sebuah suara menyentak keduanya.

Aeryung melepas paksa kaitan lengan Jongdae di tubuhnya, gelagapan berbalik melihat sumber suara itu. Seorang staff Namsan berdiri tak jauh dari mereka.

“Kalian couple kedua hari ini, chukaehamnida, gift shop kami sedang melakukan promosi new heart shaped love locks pada 5 couple pertama. Gratis.” Staff itu memberi sepasang gembok berbentuk hati itu pada Aeryung.

Couple?

“T-tapi kami bukanㅡ”

“Kamsahaeyo.” Jongdae menerima uluran gembok itu.

Staff itu tersenyum dan membungkuk sopan, kemudian berangsur pergi setelah menjelaskan panjang lebar mengenai promosi gift shop miliknya.

Aeryung menatap Jongdae tak percaya. “Kenapa kau terima?”

“Kkaja, tulis sesuatu di sini, Eun Aeryung.” Jongdae mengulurkan satu love locks pada gadis itu. Mengabaikan pertanyaan dan tatapan kaget gadis di sampingnya.

“Sudah lama aku ingin mencobanya.” Ujar Jongdae, menatap antusias padalove locks di tangannya sendiri dan tersenyum senang.Aeryung terkekeh geli melihatekspresi kekanakan namja itu.“Apa yang ditulis di sini, Jongdae-ya?” Tanya gadis itu bingung.

“Janji.” Jawab Jongdae. “Tapi kenapa tidak menulis permohonan kita saja, Eun Aeryung? Itu lebih menarik. Daripada menulis janji konyol satu sama lain di sini. Arasseo?”

Aeryung mengangguk setuju.

Permohonan?

Sekejap pikiran Aeryung beralih pada lipstick itu. Entah sudah berapa lama sejak lipstick itu tak juga ditemukan. Tangan gadis itu tanpa sadar sudah bergerak menulis permohonan di atas love locks itu. Begini tidak apa-apa kan?

Seandainya Kim Jongdae lah namja yang harus aku…

Aeryung tersenyum simpul membaca sederet tulisannya sendiri.

“Sudah selesai?”

“Ne.”

Tangan Jongdae terulur seolah meminta sesuatu. “Berikan padaku.”

“M-mwo?”

“Aish, bodoh. Berikan love locks-mu. Bukankah selanjutnya kita harus menautkan sepasang gembok kita di sana?” Jongdae menunjuk pagar pembatas berisi ratusan gembok.

Aish, bodoh sekali. Kenapa aku bisa lupa hal itu?

Sejenak Aeryung menatap ragu gembok di tangannya sendiri, gadis itu merutuk tulisannyayang terlanjur ada di sana, tulisan‘I want KJD kiss me on the lips’.

Namja ini pasti akan menertawakanku.

You won’t. Let me do it for you, Jongdae-ya. Give me yours.” Pinta Aeryung. Setidaknya jika gadis itu yang menautkannya, maka namja itu tak perlu melihat tulisannya, bukan?

“Mwo? Jangan gunakan bahasa alien padaku, Eun Aeryung!”Jongdae berdengus kesal, satu tangannya bergerak tidak sabar. “Ppali, berikan padaku.”

Mwo? Namja ini tidak bisa berbahasa Inggris?

Tunggu. Bukankah rata-rata orang Korea memang seperti itu…

Terlebih ini di masa lalu, saat di mana English belum terlalu marak, bukan?

Aeryung berjengit kaget pada kenyataan lain yang baru saja ia tangkap.

Detik kemudian gadis itu menghela nafas lega. Kalau Jongdae tidak mengertiEnglish, berarti namja itu juga tidak bisa membaca tulisan memalukan itu, bukan?

Gadis itu menyerahkan love locks miliknya pada Jongdae.

“Aish.” Namja itu berdecak kesal menerimanya. “Hanya begini lama sekali.”

Aeryung menatap punggung Jongdae yang sedang memasang love locks mereka, di antara ratusan yang telah terpasang di sana. “Jongdae-ya.” Panggil gadis itu. Aeryung berdiri beberapa langkah di belakang namja itu. Jongdae balas bergumam.

“Kau…Tidak jadi berangkat?”

“Ne.”

“W-wae?” Sebuah dentuman kecil terasa di dada gadis itu. Aeryung terhenyak saat perasaan senang tiba-tiba membuncah memenuhi setiap rongga tubuhnya.

“Karena aku tidak ingin. Sesederhana itu.” Jongdae berujar lirih. “Aku juga sudah mendapat pekerjaan baru dengan gaji yang cukup untuk pengobatan eomma. Lagipula nama yang mereka siapkan aneh sekali untukku.”

Gadis itu menatapnya bingung. “Nama?”

“Appa bahkan sudah menyiapkan nama baru untukku jika aku kuliah di sana.”

Apa nama pemberian untuknya seaneh itu?“Nugu?”

“Chen.”

Aeryung mengernyit mendengar ucapan Jongdae barusan.

Rasanya gadis itu cukup familiar dengan nama itu, tapi di mana?

“Tapi aku mulai menyukai nama itu…” Lirih Jongdae.

Sosok Jongdae masih bergeming di sana. Tak sabar, Aeryung mulai beranjak mendekat pada namja itu. Kenapa namja ini lama sekali, hanya menautkan sepasang gembok saja?

“Kau sedang apa?”

Kedua mata Aeryung sontak membulat mendapati Jongdae tengah bergeming memperhatikan gembok miliknya.D-daritadi namja ini membaca tulisanku?

“Y-ya!” Aeryung berusaha merebut love locks miliknya, namun gagal. Namja itu menepisdan mengangkat gembok itu tinggi-tinggi jauh dari jangkauan tubuh mungil Aeryung.

“Jinjja…?” Tanya Jongdae lirih, beralih menatap Aeryung tak percaya.

Namja itu menangkupkan satu tangannya di mulut, berusaha menyembunyikan seulas senyum yang kiniterus mengembang lebar di bibirnya sendiri.

“A-ani” Aeryung gelagapan, bisa gadis itu lihat rona wajah namja itu berubah.

B-bukankah namja ini tidak bisa berbahasa Inggris..?

“KJD? Tsk.You even can’t write my name well, Eun Aeryung?

Lidah gadis itu terasa kelu. Ucapan namja itu barusan terdengar sangat fasih di telinganya.

Bagus. Jangan bilang kau mempermainkanku lagi kali ini, Kim Jongdae?

Wajah Aeryung sontak memanas, ia beralih mengedarkan pandangan ke arah lain.

Pandangan gadis itu jatuh pada sebuah map yang tergeletak di samping kaki namja itu.

Bukankah itu map yang tempo hari gadis itu lihat di kamar Jongdae? Aeryung membaca headline yang terpampang dengan jelas di sampul depan map keunguan itu.

Map pendaftaran mahasiswa baru Shanghai International Studies University…?

Tunggu.

English Interpr…Jurusan English Interpreting?!

You want me?” Tangan Jongdae terasa dingin mengusap sisi wajah gadisitu.

“Sebut namaku, Eun Aeryung.”

Namja itu menghujam Aeryung dengan sorot matanya yang gelap. Sama seperti sebelumnya, usapan namja itu di wajahnya terasa panas.“Kau menginginkanku?”

“…..”

Aeryung terdiam, jantung gadis itu berdetak seolah benda itu bisa meledak kapan saja.

“Malhaebwa!”

“K-kim Jongdae

Tak butuh waktu lama bagi Jongdae untuk membungkam seluruh perkataan gadis itu.

Aeryung terbelalak kaget saat namja itu dengan cepat membungkam bibirnya.

Jongdae meraih tubuh gadis itu, seakan jarak mereka sekarang belum cukup dekat. Namja itu melingkarkan satu lengannya erat pada pinggang Aeryung dan menghisap setiap belahan bibir gadis itu dengan lembut.

Hawa dingin Namsan berhembus membekukan persendian gadis itu, Aeryung mempererat cengkeramannya pada lengan Jongdae saat namja itu memperdalam tautan keduanya.

Tangan namja itu bergerak mencari tangan mungil gadis di pelukannya.

Gadis itu mengernyit saat satu benda dingin terasa menyentuh permukaan telapak tangannya. Disusul genggaman lembut dari tangan besar namja itu.

Benar, Jongdae menyelipkan sebuah benda kecil di tangan Aeryung dan menggenggam erat jemari gadis itu, membiarkan benda kecil itu berada di tengah genggaman tangan mereka.

Dari bentuknya, benda itu seperti…

Lipstick?

Aeryung terhenyak, gadis itu hendak melihat lebih jauh benda kecil yang diselipkan Jongdae di bawah sana, tetapi niat itu terhenti saat tangan Jongdae yang lain menahan cepat tengkuknya. Namja itu bahkan terlalu egois untuk melepaskan tautan mereka?

Lumatan namja itu berubah kasar. Aeryung memejamkan mata saat sesuatu menggigit ringan permukaan bibirnya. Bibir gadis itu memberi celah seolah tahu apa yang diinginkan Jongdae.

Jongdae mengulum senyum puas atas respon Aeryung. Bunyi decakan sontak terdengar jelas dari gerakan keduanya. Namja itu memejamkan matanya gelisah. “Good girl.”

Masih membalas setiap sentuhan lembut Jongdae, di bawah sana tangan gadis itu bergerak meraba benda kecil di genggamannya.

Seingatnya, di setiap lipstick itu terukir nama namja, bukan?Dan Aeryung mungkin bisa membaca nama yang tertera di sana, dengan meraba permukaan ukirannya.

C…Ch…

Chen…?

Aeryung mengerjap saat satu dentuman kerasterasa menghantam jantungnya.

Detik kemudian gadis itu ganti mengernyit kaget,hembusan tajam angin Namsan datang dan menghujamtubuhnya dengan limpahan cahaya yang sangat terang.

Andwae.

Aeryung mempererat genggaman tangannya dengan namja itu, meremas tangan besar Jongdae yang melingkupi hangat kelima jemarinya.Membiarkan lipstick berwarna mauve itu menekan kuat telapak tangan mereka.

Jongdae-ya.

***

“Aeryungie, kau manis sekaliii~”

Seruan riang memaksa sepasang kelopak mata Aeryung terbuka enggan.

Perasaan gadis itu masih terasa sesak, bagaimana tidak?

Jongdae-ya.

“Babo…Bisa-bisanya kau menyembunyikan lipstick-ku seperti itu, Jongdae-ya.” Aeryung bergumam pelan, memandang sedih pada lipstick berbeda yang ada di tangannya sekarang.

Kenyataan tadi terlalu mendadak bagiku.

“Kau bilang apaa, Aeryungie?” Seruan riang itu kembali terdengar.

Sontak saja Aeryung menoleh. Detik kemudian kedua mata gadis itu membulat lebar.

Belasan gadis kecil kini berada di hadapannya, tepatnya segerombolan makhluk mungil itu kini berdiri mengelilingi Aeryung dan menatap gadis itu antusias dengan sorot mata yang jenaka. Sekejap mengingatkannya pada sorot mata gadis kecil di pelukan Luhan.

“Huaa aku juga ingin berdandan sepertimuu, Aeryungie. Kau membuatku iri!” Sahut seorang di antara belasan gadis kecil itu.“Akuu jugaa.” Sahut yang lain.

“NeeAeryungie, kau manis sekaliii~”Pemilik suara riang tadi ikut bicara, seorang gadis kecil dengan rambut cokelat gelap yang diikat dua di samping.

Aeryung mengerjap kaget mendengar beragam celotehan lucu anak-anak itu. Wajah gadis itu sontak saja tersipu. Mereka memujiku?

Tsk.Apanya yang manis dari dandanan seperti itu?” Kali ini suara bernada mengejek tertangkap gendang telinganya. Aeryung dan belasan gadis kecil reflek menoleh pada sumber suara itu, seorang namja kecil tampak melenggang santai melewati mereka.

“Tidak cocok sama sekali!” Ejek namja kecil itu lagi.

M-mwo?

Bocah itu mengejekku?

“Yaa! Byun Baekhyuuun!” Gadis kecil berambut cokelat gelap di samping Aeryungberseru kesal pada sosok namja kecil tadi. Kedua tangan mungilnya berkacak pinggang.

Namja kecil itu hanya memeletkan lidahnya lalu berlari menuju segerombolan namja kecil lain di sudut ruang kelas, memancing jeritan kesal dari belasan gadis kecil di sekitar Aeryung.

Tunggu.

Ruang kelas?

“Jangan pikirkan ejekan Baekhyun tadi, Aeryungie.”

Benar, barusan namja kecil itu mengejek penampilanku?

“Dia ituu selaluu saja menyebalkaan. Tidak usah didengar, ara?”

“Nee kau sangat manis, Aeryungie!”

Sedangkan belasan gadis kecil ini justru memujiku…Memang kenapa dengan penampilanku?

Merasa tak sabar, Aeryung melempar pandangan pada pintu kaca ruang kelas yang tak jauh dari mereka.Detik kemudian nafas gadis itu kembali tercekat.

Pantulan bayangan tubuh mungil di pintu kaca itu tampak menutup mulutnya sendiri, seperti apa yang dilakukan Aeryung sekarang.

I-itu a-aku…?

Aeryung masih bergeming, tak percaya menatap pantulan bayangannya sendiri.

Tinggi badannya kini setara dengan belasan gadis mungil di sekelilingnya.

Sosok tinggi gadis itu telah berubah menjadi sosokgadis kecil dengan gaun berwarna kuning gading yang cantik, lengkap dengan hairband pita manis di atas kepalanya.

Penampilan yang sedikit berbeda,mengingat belasan gadis kecil di sekelilingnya justru hanya memakai seragam sekolah mereka.

Aeryung beralih menatap lipstick di genggamannya. Kedua mata gadis itu kembali terbelalak kaget membaca nama yang tertera di sana. Byun Baekhyun.

Ige mwoya? Bukankah itu nama bocah yang mengejekku tadi?

Bagus. Sekarang aku menjadi anak kecil dan harus berciuman dengan bocahmenyebalkan yang mem-bully-ku barusan?

“Baekhyun pasti iri karena kau yang terpilih menjadi tokoh utama yeoja, dalam pertunjukan drama sekolah tahun ini, Aeryungie.”

Pertunjukan drama? Jadi itu alasan gaun yang kukenakan sekarang?

Tapi…Drama apa?

“Kau beruntung sekaliii~padahal drama Snow White itu sudah menjadi incarankuu.”

Aeryung menghela nafas berat. Semua hal seolah terbayang jelas di pikirannya.

Gadis itu akan memerankan tokoh utama dalam pertunjukanSnow White, lalu di sana berciuman dengan namja kecil menyebalkan itu?

“Jadi.” Aeryung memutus perkataannya, sedikit terkejut dengan suaranya sendiri. Suaranya kini berubah sama seperti belasan gadis kecil itu, suara khas anak-anak.

“Byun Baekhyun yang menjadi peran pangerannya?” Sambung Aeryung ragu.

Oh ayolah, bukankah Snow White memang berciuman dengan sang pangeran?

Sontak saja belasan gadis kecil itu gelak tertawa.

“Aniyoo mana mungkiiin.”

“Baekhyun memerankan kurcaci pemarah, Aeryungie. Kau lupaa?”

Eh?

“Lalu, siapa yangㅡ”

“Ahh kudengar, namja yang memerankan pangeran itu sangat kereen!”

“Mwo?” Aeryung menatap lekat gadis kecil berambut cokelat gelap itu. “Nuguya?”

“Hmm aku lupa namanyaa. Yang jelas namja itu sunbae kita, Aeryungie.” Ujar gadis kecil berambut cokelat gelap itu lalu menggaruk kepalanya sebentar, tampak berpikir.

Gerakannya menggaruk seketikaterhenti saat sebuah colekan di bahunya membuat gadis kecil di samping Aeryung itu menoleh. “Yoobin-ah,masa kau lupa nama sunbae ituu?”

Yoobin?

Gadis kecil berambut cokelat gelap itu bernama Yoobin?

Aeryung mengulas senyum simpul.

Mirip sekali dengan nama yeoja cerewet yang kutemui di tahun 1920.

Bahkan sifat mereka yang cerewet itu pun sama persis.

Sejenak ingatan Aeryung kembali pada tahun 1920, di mana ada sosok namja dingin yang selalu menemaninya setiap malam di perpustakaan.

Sehun sunbae.

Tak ingin larut dalam kenangannya bersama namja itu, gadis ituberalih mengedarkan pandangannya, hingga tertuju pada kalender yang tergantung di dinding ruang kelas itu. Aeryung menyipit melihat tahun yang tertera di sana.

Masa ini, 1908…

Geurae!Jadi sekarang aku terlempar di tahun 1908, 12 tahun sebelum masa di mana aku bertemu Yoobin dan Oh Sehun.

Kenapa jarak waktunya dekat sekali…?

“Ahh aku ingat!” Seruan riang Yoobin kembali menyeruak. Gadis kecil itu menarik ujung rambut Aeryung, membuat gadis itu reflek menoleh.

“Yang memerankan pangeran adalaah…”

Aeryung menatap lekat wajah mungil itu, yang balas menatapnya gembira dengan cengiran lebar. Gadis itu menaruh perhatian penuh dan menanti kelanjutan kalimat Yoobin.

“Sehun sunbae yang tampan ituu!”

Oh Sehun??

TBC

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HEENIMK, NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

13 thoughts on “EXOTIC’s Fiction “Creepy K12S” – Part 4

  1. Nuri September 5, 2012 at 9:17 AM Reply

    Sampe juga di part ini hhi aku sebenernya udh baca di blog lain :$ tp tetep seru dibaca berkali2. Cuma mandek di part 4. Ditunggu part selanjutnya :))

  2. Cynthia September 6, 2012 at 4:52 PM Reply

    Wahh ketemu sehun lagi.. Trs gmn carax bs ciuman ma beakhyun ya sedangkan yg jd pangeran sehun???
    Ditunggu chapter selanjutx ya 😀

  3. Andini September 8, 2012 at 7:36 AM Reply

    Part 5 please;___;v

  4. ah ra kim October 28, 2012 at 7:48 AM Reply

    ini dia yang di tunggu tunggu sebiru taon *plakkkk dratisir banget*…..
    tapi tetap aja, kebentur di part 4.. 😦

    di baca berulang kali tetap aja seru..
    lanjut…. *demo*

    dari sulu nunggu ff ini nih…

  5. AdeTarina December 12, 2012 at 5:00 AM Reply

    Waah,,, mkin so sweet…….. Ya’ampuuun!!! so sweet amaat yaa yg part’ny CHen niih… hihihi:)) smua part kren dch critany.. alasan Chen bwt bnuh dri krng jlas… tp overall bguss^^ I like it….
    kkkkk~ yg part BaekHyun nii kok anak” kcil,, kisaran brpa yaa umurny? BaekHyun tu pzti sbenarny cemburu… xD

    Next part! Next Part!
    aq tnggu lhoo yaa,, author-sshi… Please,, sgera dLanjut…
    gak sbar mndalami kisah romantis Aeryung kemasan author.. :))
    Hwaiting! Hwaiting!
    Q Tnggu momentny BaekHyun,, ChanYeol(?), Kris(?), Kai(?), D.O(?), Lay(?), Tao(?), Xiumin(?),

  6. leechaeri April 20, 2013 at 12:17 PM Reply

    Authooorrrrrrr !!!!!!! *teriak pake toa*
    Lanjutinn donggggggghgghgggggghhggggggg!!!!!!! Aku sukaassa bangettttt sama FF ini hehehehe
    Lanjut yaaaaaaa???? Kalo enggak aku panggilin yeobo aku lhoooooo (sehun : apa chagi kok panggil2?) nahhh lhoooo tuh dia udah nongol hshahaha
    Sorry ya authorr kalo aku commentnya kayak gini, soalnya bener2 nunggu kelanjutannya hehehehehehheehe GOMAWOOOOOO AUTHORRRR SAYAAAANGGGGG!!!!! Hihihihi

  7. dessy June 24, 2013 at 10:10 AM Reply

    YA TUHAN CHEN romantis sekali (ʃƪ˘⌣˘) samapai nyembunyiin lipsticknya aaaaaa.. Chen :*

  8. ririn hoon July 16, 2013 at 4:11 PM Reply

    udah lama bgt nunggu next part nya blom muncul-muncul juga 😦
    tapi FF nya seru bgt dilanjut ya thor

  9. rivalda sonia teresa January 25, 2014 at 9:25 AM Reply

    Lanjutin ceritanya thor! Baru kali ini ketemu ff fantasy keren banget ^o^
    Next part!….. \(^o^)/

  10. Ame~chan February 8, 2014 at 7:35 AM Reply

    ahh…… keren banget exo.
    romantic kya”” penasaran tingkat dewa.
    satu – satunya dalam penjelajahan ff yang kali ini bener” penuasaran kyaaaa…
    buat dek dekan

  11. dpratiwi990 June 8, 2014 at 9:46 PM Reply

    Aaaaaah suka banget cerita yg sama jongdaeeeeeeeee huaaaaah.
    Lop yu thor

  12. Cynthia June 21, 2014 at 3:33 AM Reply

    Ini Ģªκ>:/ dilanjutin ta?
    Bagus bgt lo critax.. 😀
    Semoga commentku dibca trs ditrskan deh ffx 😀

  13. Park Ji Hyun October 11, 2014 at 12:09 PM Reply

    Daebak… Daebak… Daebak.. Fellnya kerasa banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: