EXOtic’s Fiction “My Mean Girl” – Part 2

EXOtic’s Fiction

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“My Mean Girl”

Title : My Mean Girl –  Part 2

Author: Han Rae Na

Length : Series

Cast:

  • Oh Sehun (EXO)
  • Anthea Ferrel  (You)

Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

***

Sehun melirik gadis di sampingnya diam-diam. Daritadi gadis itu hanya diam saja sambil tangannya memainkan seat belt yang melilit tubuhnya. Hari ini Anthea sudah boleh pulang, dan beruntung jadwal Sehun tidak terlalu padat sehingga ia bisa mengantar gadis itu ke apartemennya.

“Anthea.”

Tubuh gadis itu yang sedikit tersentak memberitahu Sehun bahwa sedari tadi gadis itu melamun.

“Mwo?”

“Ada sesuatu yang ingin kau beritahukan padaku?”

Anthea menoleh dengan alis terangkat satu, “Tentang?”

“Apapun.”

“Tidak.” Jawab Anthea langsung.

“Kau tahu, entah kenapa aku yakin sekali kau menyembunyikan sesuatu.”

Anthea dengan sengaja mengangkat bahunya. Tahu bahwa semakin ia menyangkal maka pria di sampingnya itu akan semakin curiga. Ia bukannya tidak mempercayai pria itu. Hanya saja ia belum siap. Ia sama sekali belum siap. Dan jauh di dalam hatinya, sebenarnya ia masih sangat berharap bahwa ada kesalahan dalam pemeriksaannya. Bahwa mungkin saja hasil tes kesehatannya tertukar dengan gadis lain yang sedang sekarat. Tapi, hal-hal seperti itu hanya terjadi di dalam drama, bukan?

“Aku lapar sekali.” Komentar Anthea, lalu diam-diam menatap penuh harap pada Sehun. “Sehunnieee…”

“Kau mau membuatku diomeli ibumu? Dia dan Rob sudah menunggu dari tadi pagi di apartemenmu. Dan aku yakin ibumu juga sudah menyiapkan makanan.”

“Makanan dan omelan.” Sahut Anthea ketus.

“Itu bagian yang kusuka. Memangnya kapan lagi ada yang memarahimu? Ayahmu tidak terlalu suka melakukannya.”

Anthea memandang Sehun dengan kesal, “Kau menyebalkan.”

Anthea memalingkan wajahnya ke jendela saat melihat Sehun hanya membalasnya dengan senyum riang. Ia akan sangat merindukan pria itu nantinya. Pasti.

Saat tiba di depan apartemennya, Anthea mengambil napas panjang dan melepas seatbeltnya dengan pelan. Ia memandang ragu ke arah Sehun dan merasakan kegugupan mulai melanda dirinya. Ia mengeringkan tangannya yang berkeringat pada jeans hitam yang dipakainya, lalu mulai berbicara.

“Sehunnie.”

“Ya?”

“Waktu itu… Ehm, kau bilang kau ingin menikah denganku bukan?” Saat Sehun hanya menatapnya tanpa menjawab apapun, Anthea berusaha mengabaikan detak jantungnya yang begitu keras dan melanjutkan ucapannya. “Aku yakin kau pernah berkata seperti itu. Jadi… Menurutmu… Bagaimana kalau kita pacaran dulu?”

Saat menyadari mata Sehun menatapnya dengan menyelidik, Anthea berusaha sebisa mungkin untuk terlihat normal. Pria itu tidak boleh tahu. Belum.

Anthea tertawa canggung kemudian menggelengkan kepalanya, “Lupakan perkataanku. Ayo turun.”

Gadis itu mengambil tongkatnya di bagian belakang dan sudah membuka pintu ketika suara pria di sampingnya menghentikan seluruh gerakannya.

“Kau pikir kau pintar sekali, kan?”

Anthea menoleh dan melihat Sehun sedang menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikannya sama sekali.

“Setiap orang punya batas kesabaran.” Lanjut pria itu. “Begitu juga denganku.” Sehun tahu gadis di depannya mengerti betul apa yang sedang dia katakan. “3 hari, Anthea. Aku akan menunggu 3 hari untukmu mengatakan rahasia yang kau sembunyikan itu.”

***

“Berhenti memarahinya, Sayang. Kita tahu apa yang terjadi itu kecelakaan.” Ucap Rob, pria keturunan Belanda yang sekarang menjadi ayah tirinya itu. Daritadi ibunya itu tidak berhenti menasehati Anthea mengenai kesehatannya. Meluapkan kekhawatiran menjadi ucapan panjang lebar memang sudah menjadi khas ibunya. Anthea tahu betul hal itu, sehingga yang dilakukan gadis itu hanya menjawabnya singkat-singkat sambil terus memakan masakan ibunya dengan semangat.

“Tapi anak ini memang selalu ceroboh!” Sahut ibunya dengan nada menggerutu. “Sekarang Sehun-lah yang menanggung akibatnya.”

“Pria itu sendiri yang menawarkan diri ingin menginap di sini.” Protes Anthea.

Ibunya kembali membalas Anthea dengan serentetan kalimat panjang yang diam-diam dirindukan gadis itu. Walaupun ayah dan ibunya bercerai, tapi toh kedua orang itu masih sangat menyayanginya. Ia tidak pernah merasa menjadi orang yang tidak beruntung jika menyangkut hal keluarga.

Setelah seharian ditemani ibu dan ayah tirinya, akhirnya Anthea kembali sendirian di apartemen itu. Tidak benar-benar sendiri karena Sehun juga berada di sana. Namun pria itu hanya berada di kamar sejak tadi siang dan Anthea juga tidak berniat untuk mengajak pria itu berbicara sekarang.

Gadis itu berdiri dengan susah payah dari sofa ruang tamu dan mulai berjalan pincang ke arah kamarnya. Ia baru saja akan membuka kenop pintu ketika Sehun keluar dari kamar yang tepat berada di samping kamarnya.

“Aku minta maaf soal tadi siang.”

Anthea menggelengkan kepalanya. Perdebatan kecil mulai bermain-main di otaknya. Dan akhirnya setelah beberapa detik, ia memutuskan untuk buka mulut. “Sepertinya, tidak ada gunanya untuk berbohong padamu, kan? Memang terjadi sesuatu.” Ucap Anthea berusaha keras terlihat santai. Namun gadis itu tetap kelihatan begitu kaku di mata Sehun. “Aku janji akan memberitahumu ketika aku sudah siap.”

“Kau tidak mempercayaiku.”

Anthea tersenyum tipis. “Bukan. Ini bukan soal kepercayaan, Sehunnie.”

“Lalu?”

Anthea menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan sangat pelan. Sesuatu yang selalu dilakukan gadis itu ketika sedang putus asa. Alih-alih menjawab pertanyaan Sehun, Anthea menatap pria itu lurus-lurus dan bertanya balik dengan serius. “Bisakah kau melonggarkan waktu 3 harimu itu?”

Perkataan gadis itu membuat Sehun semakin tersiksa dengan rasa penasarannya sendiri. Bukan Anthea kalau sampai bertanya dengan nada seperti itu. Gadis itu selalu bertindak seenaknya dan semau hatinya. Ekspresi dan gerak-gerik gadis itu hanya menunjukkan bahwa gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu yang besar.

“Itu terlalu cepat.” Lanjut Anthea lagi.

Ingin membantah, namun Sehun hanya menganggukkan kepalanya. Jika gadis itu sudah siap maka gadis itu akan bercerita. Dan sebelum itu terjadi, ia tidak akan memaksa gadis itu.

“Gomawo.” Ucap Anthea sambil tersenyum, membuat mata besarnya menyipit.

“Kau sudah memberitahu ayahmu? Aku bisa membantu menelponnya kalau kau mau.”

Anthea tergoda untuk mengiyakan, namun dengan cepat ia menggeleng. Bukan hanya soal kakinya yang pantah yang ingin ia beritahukan pada ayahnya. “Biar aku saja.”

Sehun maju selangkah kemudian mengacak-acak rambut gadis itu. Anthea lega ketika mendapati pria itu sudah mulai tersenyum. Ia sama sekali tidak ingin menghabiskan waktunya dengan pria itu yang marah terhadapnya.

“Kau tidurlah. Besok aku harus kembali ke dorm pagi-pagi. Telpon aku kalau ada apa-apa, oke?”

Anthea mengangguk, “Selamat malam, Sehunnie.”

Sehun hanya menatap punggung Anthea yang masuk ke kamarnya dengan susah payah. Otaknya masih tidak berhenti memikirkan masalah gadis itu sehingga akhirnya ia hanya bergumam kecil, “Malam.”

***

Anthea memandang 3 tempat makan yang disiapkannya dengan puas. Ia menutup tempat makan itu satu-satu dan menyusunnya menjadi tiga tingkat. Jarum jam belum menunjukkan pukul enam ketika Sehun keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi.

“Eo, kau sudah bangun??” Tanya Sehun sedikit terkejut. Anthea tidak akan bangun jam segini. “Jangan bilang kau tidak tidur semalaman.”

“Aku tidur kok.” Gerutu Anthea. Satu jam juga namanya tetap tidur, kan?

“Lalu kenapa kau sudah bangun?”

Anthea mengangkat bahunya kemudian mengangkat bekal yang tadi sudah ia siapkan, memamerkannya pada pria itu. “Kau buru-buru, kan? Pasti tidak akan sempat sarapan.”

Kali ini Sehun benar-benar tidak dapat mengalihkan tatapannya dari wajah Anthea yang sedang tersenyum manis. Mata pria itu bahkan enggan untuk hanya sekedar berkedip. “Kau memasak?” Akhirnya Sehun bisa mengeluarkan suaranya.

“Kau benar-benar berharap aku sebaik itu padamu?” Anthea tersenyum miring, “Sayangnya tidak. Aku memesan dari restoran 24 jam.”

Sehun mendengus, sekarang baru gadis itu terlihat normal. “Aku juga tidak mau memperpendek umurku hanya karena sarapan dengan masakanmu.”

“YAK!!! Aku tidak separah itu!”

“Oh ya?” Sehun sengaja bertanya dengan nada paling menyebalkan. Ia menghampiri gadis itu dan dengan cepat merebut kotak bekalnya sebelum gadis itu berubah pikiran.

“Yasudahlah! Aku mau tidur lagi!” Ucap Anthea dengan sebal dan mulai bersiap-siap dengan tongkatnya.

Saat Anthea sudah akan melangkah, Sehun dengan cepat menunduk dan mengecup pipi gadis itu. Hal yang membuat tangan Anthea gemetar dan nyaris saja melepaskan pegangan pada tongkatnya. Ini benar-benar sudah tidak normal. Ini bukan kali pertama Sehun mencium pipinya. Bahkan pria itu sering sekali mencari-cari kesempatan untuk melakukannya sejak mereka kecil. Sehingga bagi mereka, ciuman di pipi itu sama sekali bukanlah hal yang romantis. Tapi sekarang? Astaga, jantung bodoh! Berhenti berdetak terlalu cepat!

“Gomawo.”

Mengabaikan pipinya memanas, Anthea membalas, “Kau harus menghabiskannya, arasseo? Kalau tidak aku jamin ini terakhir kalinya aku menyiapkanmu sarapan.”

“Baiklah, Anthea sayang.” Ucap Sehun sambil mengacak-acak rambut gadis itu. “Aku pergi dulu.”

Sehun melangkah dan tangannya sudah nyaris mencapai pintu ketika ia berbalik, dan kembali menatap Anthea yang juga sedang menatapnya.

“Apa lagi?”

“Aku semalaman memikirkan ucapanmu yang kemarin.” Anthea mengerutkan keningnya bingung. “Dan kupikir kau ada benarnya juga. Ehm…. Bagaimana kalau kita benar-benar pacaran saja?”

***

Ruangan sempit itu penuh sekali. Jumlah member EXO K dan EXO M yang kali ini digabung tidak membuat mereka mendapatkan ruang tunggu yang lebih besar. Dua belas member, beberapa penata rias, manager mereka dan juga beberapa orang tua yang kebetulan mempunyai waktu untuk melihat anaknya comeback di salah satu acara musik di stasiun TV terkenal membuat ruangan yang sebenarnya difasilitasi dengan 3 AC menjadi sangat pengap. Di bagian sudut ruangan dekat jendela yang terbuka, Sehun duduk di lantai dengan tangan yang memegangi ponsel di telinganya.

“Sehun-a, kau tidak ikut makan?” Managernya menghampiri Sehun begitu pria itu memutuskan sambungan teleponnya. “Ibu D.O membawa banyak sekali makanan.”

Sehun mengambil kotak makan bersusun tiga itu kemudian memamerkannya pada managernya.

“Anthea yang memasak?!!” Tanya managernya tidak percaya.

Sehun membuka satu per satu bekalnya, “Tidak, gadis itu memesannya pada–Astaga! Ige mwoya?!!” Sehun menatap ngeri makanannya. Bagaimana tidak? Makanan itu sudah nyaris tidak berbentuk. Sama sekali tidak mirip dengan makanan restoran yang biasanya ditata dengan begitu cantik.

Manager di samping Sehun hanya terbahak sambil memukul ringan pundak pria itu. “Sudahlah, lebih baik kau makan makanan ibu D.O saja. Bibimbab nya enak sekali!”

Sehun berusaha berpikir positif. Hanya bentuknya saja yang hancur berantakan. Rasanya pasti tidak akan begitu. Mungkin karena tempat makannya tidak diletakkan dengan benar sewaktu mereka di mobil dan membuat isinya jadi seperti itu. “Tidak. Ini sepertinya enak kok.”

Manager di sampingnya semakin tertawa keras. “Astaga, Sehun-a… Kau begitu menyukai Anthea, ya?”

“Kita bersahabat, hyung.”

“Sahabat dengan cinta yang menggebu-gebu.”

Sehun menunjukkan wajah mualnya. Kata-kata managernya itu benar-benar menjijikkan.

“Yasudah. Aku masih lapar. Kalau kau tidak sanggup bertahan dengan makananmu, di meja tersedia banyaaaaak sekali makanan enak.”

Sehun mendelik memandang managernya itu sebal, yang hanya dibalas dengan tawa memekakkan telinga. Ia kembali memandang bekalnya begitu managernya pergi dan berkali-kali mengingatkan dirinya bahwa itu adalah masakan restoran.

Ia menyendok makanan tersebut dan mengunyahnya dengan gerakan lambat. Sial, gadis itu menipunya!

Ia kembali meraih ponselnya dan mengetikkan nomor Anthea dengan cepat. Setelah menunggu beberapa detik akhirnya gadis itu menjawabnya juga.

Yeoboseo?

“Kau memasak.”

Terdengar tawa dari seberang. Pasti parah sekali ya sampai kau bisa menyadarinya?

“Kenapa kau tidak jujur saja padaku tadi pagi?” Tuntut Sehun.

Karena aku tahu kau tidak akan mau memakannya kalau tahu itu masakanku. Sudahlah… Tidak perlu memakannya kalau memang parah. Aku akan berlatih lebih baik lagi nanti. Buang saja.

“Bodoh.”

Mwoya?! Walaupun makananku tidak seenak restoran tapi tetap saja kau tidak bisa mengataiku bodoh!! Aku memasaknya dengan susah payah tau!!

“Karena itu kau bodoh. Lain kali tidak perlu berbohong di depanku, arasseo? Yasudah, waktu istirahatku hanya satu jam. Dan aku bahkan belum makan lebih dari satu sendok.”

Sudah kubilang buang saja. Kau bisa sakit perut saat tampil.

“Makanan ini enak kok.”

Terdengar suara dengusan di sebrang. Tidak perlu mengejekku. Yasudah, terserah kau saja!

Klik.

Sehun menggelengkan kepalanya namun senyum bermain-main di bibirnya. Ia kembali menyendokkan makanan itu, namun kali ini dengan semangat.

Satu sendok.

Dua sendok.

Pria itu kembali tersenyum dalam hati. Makanannya sama sekali tidak buruk.

***

Anthea mengganti-ganti saluran TV dengan bosan. Ternyata dengan berhentinya ia menjadi model menjadikan hidupnya terasa membosankan sekali. Ia sudah menghabiskan waktunya daritadi untuk menghapus email dan pesan singkat dari ratusan wartawan yang sepertinya begitu penasaran dengan keadaannya. Bahkan dirinya dan Nickhun yang sempat tertangkap kamera sebelum ia terjatuh juga dibesar-besarkan. Oh, ayolah tidak ada perhatian yang terlalu berlebihan. Pria itu hanya mencoba untuk menolongnya.

Suara bell apartemennya membuat gadis itu mengumpat. Alamatnya tidak tersebar di internet. Seharusnya tidak ada wartawan yang tahu dimana ia tinggal. Walaupun merasa malas setengah mati, Anthea tetap berjalan ke arah intercom untuk melihat siapa yang berada di depan pintunya.

Appa?

Mata Anthea membelalak kaget melihat pria yang baru saja ditinggalkannya di Amerika beberapa hari yang lalu sekarang berada di depan apartemennya. Ia memang memberitahukan segalanya pada pria itu. Tapi, bukankah kemarin ia sudah melarang ayahnya untuk datang? Paling tidak sampai ia memberitahu Sehun.

Anthea melangkah ke pintu dengan terburu-buru dan membukanya cepat.

“Dad?”

Pria yang dipanggil itu hanya tertegun untuk beberapa detik melihat putri satu-satunya yang ia punya berdiri dengan bertumpu pada tongkat di lengannya. Belum lagi dengan wajah Anthea yang sedikit pucat dan terlihat begitu kurus.

“Anthea.” Pria itu tidak menunggu bahkan sedetikpun untuk maju dan memeluk anaknya erat. Badan Anthea yang memang kecil terlihat begitu tenggelam di bahu lebar milik ayahnya.

“Dad.” Ucap Anthea pelan, berusaha keras agar tidak terbawa suasana. Ia sudah cukup menangis akhir-akhir ini. “I’m okay. Seriously.”

“Okay?” Hwan mengulangi perkataan anaknya, namun dengan nada yang sangat berbeda. Ia melepaskan pelukannya dan memandang anaknya dengan alis yang nyaris menyatu. “Pack your things. We’re going back.”

“Woo. Wait wait.” Anthea melangkah mundur. “What do you mean by ‘We’? I’m not going anywhere.”

“Kau butuh perawatan.” Ayahnya berkata dengan tegas, kali ini dalam bahasa Korea. Bahasa yang hanya digunakan pria itu ketika ia sedang membicarakan topik yang serius. “Aku sudah membuat janji dengan dokter yang sangat berpengalaman dalam menangani Leukimia. Ayah juga sudah memasukkan namamu dalam daftar panjang untuk oprasi donor sum-sum tulang belakang. Sementara itu kau tinggal menjalani kemoterapi dan juga–”

“DAD!!!” Potong Anthea langsung. Tidak, bukan ini yang ia inginkan. Ia sudah diberitahu oleh dokter di Korea bahwa memang masih ada jalan dengan operasi dan kemoterapi. Tapi kemungkinan keberhasilan operasi itu hanya 60persen. Dan jika tidak? Maka sel kanker itu akan semakin ganas dan sangat mungkin untuk menyebar dengan lebih cepat. Belum lagi dengan efek samping yang akan didapatkannya akibat kemoterapi. Tidak bisakah ia dibiarkan saja seperti ini? Dengan tenang? “Aku tidak mau kembali ke Amerika.”

“Anthea.” Bujuk ayahnya. “Jangan membuat ayah tidak mempunyai pilihan apapun selain kehilanganmu. Ayah tidak akan memilihnya. Tidak akan.”

“Dokter bilang masih ada dua tahun.”

“Dua tahun.” Ulang ayahnya sambil tertawa frustasi. “Ayah tidak mau bertahan pada kemungkinan dua tahunmu itu. Kau harus sembuh!”

“Kita sama-sama tahu kemungkinanku untuk sembuh kecil sekali. Kenapa tidak membiarkanku memiliki hidup yang kuinginkan selama 2 tahun ini? Bukan dengan hidup di rumah sakit, menjalani kemo setiap dua minggu dan menunggu donor yang entah aku berada di urutan ke berapa!”

“Anthea.”

Gadis itu menggelengkan kepalanya keras kepala. “Dan jangan berpikir untuk menggunakan Sehun untuk membujukku. Ia belum tahu masalah ini, Dad.”

“Kau meminta terlalu banyak, Anthea.”

Anthea tersenyum tipis. “Bukankah memang selalu begitu?” Karena melihat gelagat ayahnya yang seperti akan mengalah, akhirnya Anthea juga ikut berkata, “Aku akan kemo. Tapi tidak sekarang. Aku ingin melanjutkan kuliahku di sini dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan pria bodoh itu. Jadi tolong jangan memberitahunya dulu, okay?”

Hwan menggelengkan kepalanya, sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran anaknya. “Kau tidak bisa terus menerus membohonginya. Tidak pernah kah kau memikirkan bagaimana reaksinya nanti begitu ia tahu kau menyembunyikan ini?”

“Aku tahu.” Anthea menjatuhkan dirinya di sofa. “Aku hanya belum siap, appa.”

“Satu minggu. Waktu selama itu cukup kan untuk mempersiapkan diri? Ayah tidak akan membiarkannya tidak tahu apa-apa terlalu lama.”

Anthea menggerutu. “Appa terlalu membelanya.”

Hwan mengabaikan ucapan itu, “Satu minggu untuk itu dan paling lama satu bulan untuk mempersiapkanmu kemoterapi.”

“Appa!!!” Astaga, kenapa sih mereka semua berlomba-lomba memberi gadis itu tenggat waktu?

“Appa tidak mau mengambil resiko kehilanganmu, Anthea. Appa juga akan mengusahakan apapun untukmu agar donor itu bisa dilakukan dengan lebih cepat.”

Anthea hanya menghela napasnya pasrah. Nada yang digunakan ayahnya menunjukkan bahwa perkataan itu sama sekali tidak bisa diganggu gugat. Tidak ada gunanya berdebat. Karena bisa dipastikan seminggu lagi, pria bernama Oh Sehun juga akan melakukan hal yang sama padanya.

***

Anthea menguap lagi, entah sudah keberapa kalinya di malam itu. Matanya sudah memerah dan berkaca-kaca karena mengantuk. Tubuhnya pun sudah memprotes kelelahan. Namun, gadis itu lebih memilih untuk mengabaikannya dan melanjutkan rencananya untuk menulis 25 surat ucapan ulang tahun.

Senyuman lebar tergambar di wajahnya saat ia tiba ke surat terakhir yang perlu ditulisnya. Ia berhenti sesaat untuk berpikir apa yang ingin ia ucapkan di sana, kemudian melanjutkan menulis saat ide-ide baru mulai muncul di otaknya. Ia tidak akan pernah kehabisan ide untuk pria itu.

Sepuluh menit kemudian, ia sudah merapikan kertas warna-warni itu dan meletakkan semuanya di dalam kotak berukuran persegi berwarna coklat. Ia baru saja akan mematikan lampu dan memutuskan untuk tidur ketika pintu kamarnya terbuka.

“Belum tidur?”

Anthea menatap Sehun yang berjalan santai memasuki kamarnya dengan pakaian yang masih rapi. Pria itu pasti baru saja pulang dari jadwalnya yang super padat itu.

“Baru saja akan tidur. Waeyo?”

Sehun mengangkat bahunya santai. “Hanya mengecek keadaan pacarku saja.”

“Menggelikan!” Anthea mendengus sambil menjatuhkan dirinya di ranjang.

“Ngomong-ngomong, kau tidak memberitahuku kalau ayahmu akan datang ke Korea.”

“Dia sangat khawatir.” Anthea memberitahu dengan nada mengantuk. “Begitulah… Kau seperti tidak tahu saja sifat protektifnya.”

Sehun membantu gadis itu memakai selimut, mengelus singkat rambutnya seperti anak kecil.

“Apa menurutmu… Ehm… Kita bisa saling mencintai seperti di drama-drama itu?” Tanya Anthea tiba-tiba. “Maksudku, konyol sekali bukan berpacaran sama sahabatmu sendiri? Atau bagaimana kalau kita membuat perjanjian saja?” Lanjut Anthea lagi. “Kita bisa putus kalau kau… Atau aku sudah menemukan orang yang kita cintai masing-masing. Otte?”

Sehun mengerutkan keningnya tidak setuju. “Tidurlah. Kau melantur.”

Sehun bangkit dan berjalan untuk mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur untuk gadis itu.

“Wae? Kenapa kau tidak mau? Atau… Apa kau tidak takut kalau tiba-tiba aku jatuh cinta dan tidak mau melepasmu sama sekali? Kau mengenalku. Kau tahu betapa egoisnya aku ketika itu menyangkut hal yang kuingini.”

Langkah Sehun terhenti di depan, ia menoleh dan menatap Anthea lurus-lurus. Pria itu terdiam lama, sebelum berkata dengan lambat. “Aku tidak keberatan.”

Anthea menutup matanya dan menarik selimut sampai menutupi kepalanya. ‘Aku tidak keberatan’?!! Hanya itu tanggapannya?! Dasar menyebalkan!

“Anthea.” Panggilan itu membuat Anthea mau tidak mau menarik kembali selimutnya ke bawah dengan malas.

Sehun tersenyum tipis, sambil menatap Anthea yang sedang memandangnya sebal. Lalu seakan ingin memastikan gadis itu mendengarnya dengan baik, ia berkata dengan tegas, “Kau juga tahu kan betapa egoisnya aku jika itu menyangkut kau? Kita berpacaran, dan itu artinya kau….” Jeda sesaat sebelum Sehun kembali melanjutkan, “Milikku.”

***

“Aish.” Gerutu Anthea saat dengan susah payah turun dari taksi. Wajah gadis itu jelas sekali kelihatan sebal. Di lengannya terjepit kedua tongkat miliknya dan tangannya menjinjing beberapa kantong belanjaan. Sampai kapan ia akan terus berjalan dengan cara seperti ini? Belum seminggu saja tapi ia sudah benar-benar merasa seperti orang cacat. Menyebalkan!

Gadis itu mau tidak mau mengangkat kepalanya begitu seseorang merebut semua kantong belanjaan itu dari tangannya. Bibirnya perlahan-lahan melekuk membentuk senyuman.

“Gomawo, ajjushi.”

Satpam penjaga apartemen miliknya itu, yang memang sudah lama bekerja di sana balas tersenyum, lalu kemudian bersama-sama dengan Anthea menaiki lift untuk mengantar gadis itu.

Anthea kembali menunduk dalam, mengucapkan terima kasih di depan apartemen. Gadis itupun kemudian berbalik, dan memasukkan kode apartemennya. Keningnya berkerut saat mengenali sepasang sepatu milik Sehun di depan pintu. Pria itu ke sini? Tapi… Kenapa sepi sekali? Biasanya apartemen miliknya itu akan sangat ribut hanya karena ayahnya dan pria itu sedang mengobrol.

“Appa, aku pulang!” Teriak Anthea sambil memasuki ruang tamu tempat dimana ayahnya dan Sehun terlihat duduk. “Sehunnie, kau—”

“Kau darimana saja?” Potong pria itu langsung dengan nada dingin yang membuat senyum di Anthea menghilang. Nada itu terdengar begitu asing di telinganya, karena pria itu memang tidak pernah marah padanya. Marah? Pria itu marah padanya? “Kau menghilang begitu saja setelah memeriksakan kakimu ke rumah sakit. Kau senang sekali membuat orang di sekelilingmu susah, ya?”

Nada sinis yang digunakan pria itu membuat Anthea menatapnya tidak suka. “Aku hanya berbelanja sebentar.” Gadis itu mengangkat kantong berwarna putih di tangannya.

“Hanya berbelanja?” Gumam pria itu, namun keadaan yang saat ini sangat sunyi membuat Anthea bisa mendengarnya dengan jelas. “Bukankah kau juga pergi menemui dokter Akira?”

Anthea terdiam selama beberapa detik. Berusaha keras mencerna ucapan Sehun barusan. Tangan gadis itu mulai berkeringat, ia nyaris saja menjatuhkan tongkat di lengannya dan terjatuh jika ayahnya tidak bangkit dan menyanggah tubuhnya.

“Anthea.”

Gadis itu memandang ayahnya tidak percaya, sebelum berbicara dengan kasar, “Dad, you said one week!”

“Ayahmu tidak membuka mulut sedikitpun.” Balas Sehun kali ini berdiri, sehingga mata mereka nyaris sejajar. “Kenapa tidak memberitahuku?”

Nada rendah dan pelan yang keluar dari bibir pria itu membuat Anthea menundukkan kepalanya dalam, sambil balas berkata, nyaris sama pelannya, “Aku akan memberitahumu.”

Hwan membantu Anthea untuk duduk, dan menyadari bahwa tatapan mereka sama sekali tidak terlepas. Ia kemudian bangkit dan menepuk pundak Sehun pelan, “Bicarakan baik-baik.” Lalu menghilang begitu saja di dalam kamar.

Anthea mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha mencegah dirinya untuk menangis saat merasakan belakang matanya seperti ditusuk-tusuk. Ini sama sekali bukan waktunya untuk mengasihani diri sendiri.

“Aku menunggu.”

Anthea menatap Sehun tajam, tiba-tiba saja merasa emosi melihat pria itu memperlakukannya seakan ia adalah anak kecil yang ketahuan berbohong.

“Dengar… Kalau kau berharap aku akan meminta maaf untuk hal ini, kau salah besar. Ini hidupku, dan kau seharusnya tahu semua keputusan itu ada di tanganku. Termasuk memberitahumu atau tidak.”

Sehun terdiam lama. Matanya menatap Anthea dalam-dalam lalu akhirnya berucap dengan pelan, “Begitu?”

“Aku tidak wajib memberitahumu.” Tegas Anthea, namun lebih kepada dirinya sendiri.

Ekspresi wajah yang ditunjukkan pria itu seketika langsung berubah. Sorot matanya seakan menggelap juga raut wajahnya yang seakan terpukul mendengar ucapan gadis di hadapannya. Sehun perlahan-lahan menganggukkan kepalanya, “Aku mengerti.”

Pria itu bangkit, mengambil jaketnya yang tersampir di lengan sofa dan langsung berjalan menuju pintu tanpa mengatakan apapun lagi.

“Berhenti.” Ucap Anthea tanpa nada memohon sama sekali. Ketika Sehun sama sekali tidak memperdulikannya, gadis itu berkata dengan lebih keras, “Kubilang berhenti! Kau tahu persis aku tidak bisa memakai kakiku untuk mengejarmu, Sehun~a.”

Sehun otomatis menghentikan langkahnya di depan pintu saat mendengar nada gadis itu berubah aneh dan suaranya menjadi serak. Tidak mungkin gadis itu menangis. Anthea tidak pernah menangis.

“Aku ingin memberitahumu, Sehunnie. Jika kau bersabar paling tidak beberapa hari lagi, kau pasti akan mendengar hal ini langsung dari mulutku! Kau pikir bagaimana perasaanku saat mengetahuinya? Aku sehat, bahkan bisa dibilang tidak pernah sakit. Tapi, tiba-tiba dokter memvonis hidupku begitu saja. Aku takut sekali, kau tahu?” Anthea menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakannya. “Tolong jangan membuatku melewati dua tahun terakhir ini dengan kau yang marah padaku…” Ucapan gadis itu melembut, nyaris memohon.

“Dua tahun?” Sehun berbalik dan memandang gadis itu tidak percaya.

Anthea mengangguk dengan enggan. Kemudian membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Terisak di sana. “Aku juga tidak ingin berpenyakit seperti ini, aku juga ingin hidup lama seperti orang lain…”

Sehun menghampiri Anthea dengan cepat, menarik gadis itu ke pelukannya. Bahu gadis itu yang bergetar membuatnya seakan tidak bisa menghirup oksigen apapun. Sesak. Ia tidak bisa bernapas dengan benar.

“Do something stupid. But, just don’t mad at me, okay?” Ucap Anthea tidak terlalu jelas karna wajahnya yang terbenam di pelukan Sehun.

“Kalau begitu berjanji sesuatu padaku.”

Jeda sesaat sebelum Anthea menjawab, “Apa?”

“Pergi.” Sehun memejamkan matanya, berusaha mengabaikan hatinya yang memprotes keras. “Turuti ayahmu dan pergi ke Amerika.”

TBC

***

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @ELISAMEY_ NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

9 thoughts on “EXOtic’s Fiction “My Mean Girl” – Part 2

  1. Nuri August 30, 2012 at 1:12 PM Reply

    Aaaaaaa sedih 😦 ditunggu lanjutannya ya

    • elisamey August 30, 2012 at 3:49 PM Reply

      Ne^^ makasih ya udah baca (:

  2. Cynthia August 31, 2012 at 2:25 AM Reply

    Kasiann anthea ή sehun.. Penasaran nihh ma lanjutanx.. Ditgu ya 😀

    • elisamey August 31, 2012 at 12:04 PM Reply

      hehe iya, ditunggu aja (: makasih ya udah baca^^

  3. yuanfan October 22, 2012 at 8:18 AM Reply

    romantis.. pengen liat Anthea nikah sama Sehunnie 😀
    lanjutkan min 😀

  4. kiwi October 25, 2012 at 3:41 AM Reply

    aaaaaa~ sial >< aku nangis T.T ditunggu lanjutan nya~ sehun itu biasku (?) aaa~~~ lanjut :" neomu daebak !!

  5. dheanabilazzz November 2, 2012 at 7:04 AM Reply

    hai aku readers baru nih hehe,antheanya kasian bgt thor sehun juga pengen tau lanjutannya nih gk sabar moga2 anthea sembuh trus nikah deh sama hunah aku suka sehun dia biasku ❤
    semoga happy ending ya thor
    next

  6. alvina kwon November 11, 2012 at 10:19 AM Reply

    aaaaaaaaaaa storynya keren abis. karakter sehun disini bener bener kereeeeeeeeeeen.

  7. @Kkamkai_wife February 5, 2013 at 11:44 AM Reply

    Kyaaaaaaaa im crying 😦 so angst story. Really like this ^^ don’t forget to writing next chap ^••^ YOU’RE JJANG!! ^o^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: