EXOtic’s Fiction “Summer Story” – Part 1

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Summer Story”

 

TITLE               : Summer Story

SUB-TITLE        : The First – A Start

AUTHOR          : Cha Miho (@fab_cinta)

MAIN CASTS   :

  • Cha Sheileen
  • Kim Jong In
  • Zhang Yi Xing

LENGTH           : Series

GENRES           : Romance, School Life, Friendship, Family

RATING           : PG – 13

LANGUAGES   : Korean (Indonesian) and English (Minor)

-notes- cerita ini akan mengambil tempat di London, England, sehingga beberapa percakapan akan menggunakan bahasa Inggris. Namun bahasa utama yang digunakan tetap Korea (Indonesia). Percakapan di dalam pikiran seorang tokoh dilambangkan dengan huruf miring berwarna.

-disclaimer- SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSIONS and after you read the story, please give a comment ^^ Every word from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

 

—Summer, Seoul Orphange, 7 years ago—

Petikan gitar itu selalu membahana mengisi ruang kosong di setiap jengkal hatiku. Ya, mungkin hanya aku saja yang merasa begitu, bagaimana mungkin pemuda kecil yang baru kukenal itu mampu menyelimutiku dengan melodi-melodi gitarnya?

Tanpa kusadari, aku sudah memperhatikannya selama beberapa menit sehingga cuaca yang menyengat sudah mulai memasuki setiap sel kulit asiaku. Jarinya yang saling bertautan satu sama lain bersama senar-senar itu, seolah-olah membius seluruh ragaku waktu itu.

Yang kuingat dalam ingatanku ialah, senyuman lembutnya, dan gitar kayu bersenar enamnya.

**

—7 years later, St. Ursula International High School, London, England—

Sheileen! I’ve told you so many times that this isn’t D Major! It’s G Minor, G Minor!” tegur Brenda terhadap permainan pianoku yang tak kunjung mencapai sempurna itu.

“No Brenda darling, D Major has a great and nice sound that makes you feel refreshed somehow and G Minor is somehow the opposite of this one! It has gloomy melodies that take you into sadden emotions.”

“That’s really the point of this song Sheileen. My gosh, the title itself already explain everything, ‘Forbidden’, it has to be mysterious and gloomy.”

Setelah itu aku dan Brenda masih bergulat soal D Mayor dan G Minor, tentu saja aku masih tetap merasa bahwa sesuatu yang ‘Forbidden’ tidak harus selalu yang menyeramkan bukan? Baiklah, aku setuju bahwa itu terdengar seperti sesuatu yang misterius, tetapi tidak bisakah kita berpikir bahwa sesuatu yang disembunyikan tidak harus selalu sedih?

“Okay, enough for today I guess Sheileen. Man, I think my hair is going all white if I need to deal with you every single time we practice. I wonder why you keep bugging me to teach you this instrument while you don’t really have talent in music,” ucap Brenda menyerah mengajariku bermain piano untuk sesi hari ini.

“Sssh! I have talent in music! I know how to sing a song, I know perfectly well how to synchronize the rhythm with my dancing moves, now I want to learn how to play the notes!” kataku bangga dan excited.

“Then why should it be piano?” tanya Brenda yang tak menghiraukan excitement yang aku timbulkan.

“Because he plays guitar, I might be beaten if I learn guitar too! So, since I think the sound of the piano is great, I want to learn piano instead!” ucapku riang sambil tersenyum.

“He? Mr. Yixing?”

Aku tersenyum riang sambil mengangguk-angguk dengan semangat. Tentu saja, pemuda yang aku temui 7 tahun yang lalu di Korea Selatan, tempat tinggal mamaku yang sudah meninggal, aku tidak akan pernah bisa melupakan senyuman dan nada yang berhasil merebut hatiku dulu. Mr. Yixing datang ke sekolahku setengah tahun yang lalu sebagai guru baru yang belum tetap, ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang Korean yang kebetulan mendapatkan tawaran mengajar disini untuk sementara oleh temannya di Seoul. Ia juga sempat memperlihatkan kebolehannya bermain gitar dan ia memainkan lagu ‘Forbidden’! Setelah itu, aku mengamati setiap jengkal rupanya dan menyelidiki mengenai sejarah kehidupannya dan aku yakin sekali bahwa Mr. Yixing ialah pemuda yang ketemui waktu itu! Aku tidak pernah memastikan hal ini kepadanya sih, tetapi aku hanya bisa menyakininya dan menghilangkan perasaan yang janggal di hatiku.

“Good luck for you then, he’s on break now I guess,” ucap Brenda sambil merapikan buku-buku piano tahap Beginner miliknya dulu.

“I know! Thanks for today Brenda! You’re so daebak!” kataku riang sambil membantu merapikan buku catatanku dan memasukannya ke dalam tas selempanganku.

“Yeah yeah, just give me a call how it goes alright,” ucap Brenda seraya tersenyum dan membuat gestur seperti seseorang yang sedang menelepon.

“Sure!” kataku ceria dan dengan cepat meninggalkan Brenda dan berlari menuju Mr. Yixing’s office room.

Brenda West. Sahabat serta teman pertama ketika aku menginjakkan kakiku di London 2 tahun lalu. Ia tidak sepenuhnya berwatak seperti layaknya orang Inggris, beberapa orang bahkan menyangka bahwa ia memiliki keturunan India, dan memang betul adanya, hahaha. Aku dan dia bertemu ketika perlombaan menari yang diadakan di sekolah kami 2 tahun lalu. Brenda ialah seorang penari yang hebat, ia mampu menghipnotis seluruh penonton yang datang dengan gerakannya yang luwes dan penuh penghayatan. Awalnya kami tidak memiliki suatu ikatan khusus selain perlombaan kecil diantara kami berdua, namun setelah beberapa bulan mengenalnya, aku tahu dialah yang akan selalu berada di sampingku ketika aku berada di puncak maupun di bawah. Aku sungguh amat menyayangi Brenda.

Dan oh iya, namaku Cha Sheileen. Seperti yang telah kalian ketahui, aku sekarang bertempat tinggal di London, Inggris. Appaku seorang Korean yang mempunyai darah seorang Inggris juga sedangkan ammaku seorang Korean. Dulu, aku sempat tinggal di Seoul, tetapi… beliau meninggal ketika liburan musim panas terakhirku bersamanya. Karena itu, sekarang aku menjalani waktu bertiga bersama kakakku Chen yang berdomisili di Korea, dan appa yang bekerja di salah satu perusahaan entertainment di London. Hidupku cukup bahagia sekarang, karena ternyata laki-laki yang berada di kenangan indahku saat liburan musim panas 7 tahun yang lalu, ada di dekatku sekarang!

“Mr. Yixiiiiiiiinnnggggg!” aku berteriak seraya berlari mendekati Mr. Yixing yang ternyata sedang berjalan menuju office room-nya. Hari ini ia terlihat tampan dengan balutan kemeja putih serta rambutnya yang diberi gel dan ditarik keatas. Sungguh, kacamata tanpa minus itu juga mempertampan dirinya. Thank you fashion.

Melihat murid kesayangannya itu berlari dengan riangnya, Mr. Yixing tidak mampu untuk tidak tersenyum melihat kegembiraan gadis itu. “Halo Leen, bagaimana kabarmu? Setiap hari sepertinya sangat menakjubkan untukmu,” guraunya sedikit sambil menebarkan simpul senyumnya yang menawan.

Aku terkekeh malu sebentar dan menjawab dengan semangat, “BETUL! Itu karena aku bisa melihat Anda setiap hariiii! Bagaimana kabar Anda hari ini?”

“Haha kamu sungguh sangat perhatian. Hari ini? Oh hari ini kabarku baik dan sebenarnya aku mempunyai pengumuman baik untukmu, jadi kurasa itu akan membuat harimu lebih ceria lagi.”

“Oh? Apa itu? Apakah Anda akan melamarku?” kataku sambil setengah berharap bahwa Mr. Yixing akan mengatakan ‘iya’.

Mr. Yixing hanya tertawa dan mengusap-usap pelan rambutku yang lurus, ia pun lalu mulai berjalan menuju ke kelasnya selanjutnya dan meninggalkanku dengan sebersit harapan bahwa ia mungkin akan melamarku suatu hari nanti!

— Summer, Seoul Orphange, 7 years ago—

“WOW hebat sekali permainanmu!!” teriaku sambil bertepuk tangan dengan girang.

Lelaki di depanku itu hanya tersenyum malu-malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ia pun menjawab, “Thanks.. Karena kamu sudah memuji permainanku, aku akan memainkan lagu kesukaanku sekarang, maukah kamu mendengarnya?”

Aku yang mendengar hal itu tentu saja merasa senang bukan kepalang. Dengan satu anggukan mantap, laki-laki yang sepertinya lebih tua dariku itu menanggapinya dengan tawa yang segar. Pemuda itu pun mulai memainkan sebuah lagu indah yang mencekam.

Aku mendengarkannya dengan sejenak, mengamati setiap gerakan jari-jarinya yang menari indah diantara senar-senar itu. Aku pun menutup mata dan berusaha untuk memasuki dunia lagu yang dimainkan oleh lelaki di depanku ini. Sambil menopang daguku di lutut dengan kedua tanganku, aku bergumam, “Hmm~ Lagu ini sungguh sangat menarik. Awalnya aku kira akan berhiaskan nada-nada riang yang menyenangkan, namun sepertinya ada sesuatu di balik semua keriangan ini.”

Anak laki-laki itu tersenyum dan tetap memainkan gitarnya, “Ya, benar sekali. Lagu ini.. menyimpan sebuah rahasia seorang pemuda terhadap dunia. Pemuda itu berharap semua orang akan menganggapnya sebagai seseorang yang sempurna, yang mampu berbuat baik bagi semua orang. Namun, tanpa ia sadari, topeng yang ia gunakan sudah tidak lagi berfungsi sebagai penutup semua rahasianya, sehingga ia harus menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya terhadap dunia,” ujarnya sambil menatapku sejenak dan kembali terfokus ke dalam permainan gitarnya.

Aku yang masih berumur 12 tahun itu hanya bisa mengangguk-angguk tanda mengerti, walaupun sebenarnya penjelasan itu terlalu berat untukku. Benar sekali, aku bersikap seperti ini supaya anak laki-laki di depanku ini menganggapku mengerti.

“Lalu, apa judul lagu ini?”

Forbidden.”

Forbidden?

“Dalam bahasa korea artinya ‘Terlarang’. Ayahku seorang penari, ia sering menggunakan lagu ini ketika latihan bersama teman-temannya. Karena terlalu sering mendengarnya dan akhirnya melodi ini terus terputar di kehidupanku, aku pun tanpa sadar sudah menyukainya dan mencoba untuk bisa memainkannya, hahaha,” ucapnya sambil tertawa mengingat sesuatu hal yang menyenangkan dan tidak kuketahui itu.

Sebuah senyum manis lalu terlukis dengan indahnya di wajahku, dengan bersemangat aku berkata, “Aku juga menyukai lagu ini! Berarti kita mempunyai suatu kesamaan sekarang! Hehehe! Ngomong-ngomong, apakah kamu tadi menyebut kata ‘menari’? Ammaku juga seorang penari! Seperti inikah yang kamu maksud dengan menari?”

Aku yang tiba-tiba menjadi bersemangat mendengar kata ‘menari’, mulai menggerakan setiap bagian tubuhku mengikuti melodi alam yang jernih. Suara burung berkicau, tiupan angin yang menerpa ladang di depan panti asuhan itu menjadi melodi tarianku hari itu.

Tiba-tiba teriakan appa yang memanggilku bergema di telingaku. Aku menengok ke arah suara appa, tetapi tidak ada orang disana. Anak laki-laki yang bermain gitar itu pun hilang. Aku sendirian. Sekitarku tiba-tiba berubah menjadi sebuah hutan yang sunyi dan gelap. Aku terperangkap. Panas. Aku takut. Dimana anak laki-laki itu? Kepalaku sakit sekali, dimana aku?! Ayah! Ibu! Kakak!

“SHEILEEN! SHEILEEN!

Aku terbangun dengan wajah pucat, keringat dingin membasahi seluruh wajahku, kedua tanganku menggenggam erat seprai yang menutupi kasur itu. Dimana aku..?

“Mr. Yixing..?” ucapku ragu-ragu sambil berusaha memulihkan kesadaranku.

Dengan wajah yang sangat cemas, Mr. Yixing menjawab seraya menggenggam kedua tanganku, “Ya Sheileen, aku disini. Sekarang kamu berada di klinik sekolah. Tiba-tiba kamu pingsan setelah kita bertemu siang ini. Kamu sungguh menganggetkanku Leen, ketika aku memutar badanku karena ingin mendengar asal suara seperti orang ‘terjatuh’, kamu sudah terkapar tidak sadarkan diri di tanah. Apakah kamu baik-baik saja sekarang?”

Aku berusaha mengingat-ingat kembali kejadian siang tadi. Ah iya benar, tiba-tiba saja kepalaku serasa diterjang seribu panah, dadaku terasa sakit dan segalanya menjadi gelap.

Dengan lirih aku menjawab, “Tidak… Ya, aku baik-baik saja sekarang. Jam berapa sekarang?”

“5 PM, aku sudah menelepon appamu dan ia akan mengantarkanmu pulang hari ini. Jadi, tolong tunggu saja disini dan istirahatlah, dokter berkata bahwa kamu harus pergi ke rumah sakit setelah ini.”

“Rumah Sakit?! Apakah ini serius sekali..?” jeritku khawatir dengan sakit yang tiba-tiba kurasakan lagi di dalam dadaku.

Mr. Yixing terlihat ragu sejenak untuk menjawab pertanyaan simpleku, tetapi ia langsung menanggapinya dengan sebuah jawaban, “Aku…Aku tidak tahu Sheileen.. Tetapi aku harap tidak seperti itu. Aku akan menunggu bersamamu disini sampai appamu datang dan… oh ya, Brenda tadi datang untuk mengecek keadaanmu, dia terlihat khawatir, kamu sungguh harus memberinya kabar setelah ini.”

Maafkan aku Sheileen, tetapi bukan aku yang seharusnya mengucapkan kondisimu sekarang. Walaupun aku ingin, aku tidak akan sanggup melihatmu terluka..

“Ahaha.. Okay, thanks sir.

“Kapanpun untuk murid kesayanganku,”  ucap Mr. Yixing sambil tersenyum hangat dan kembali dengan usapan lembutnya di kepalaku. Hal ini selalu bisa membuatku tenang..

Aku pun memutuskan untuk menelpon Brenda yang dalam dering kedua sudah diangkat olehnya. Teriakan dan pertanyaan tanpa henti terus dikicaukan olehnya sampai-sampai aku terbisu dalam ceramah singkat itu. Ia betul-betul khawatir dengaku sepertinya, hahaha. Maafkan aku Brenda dan terima kasih. Sungguh.

Tidak lama kemudian appa datang, rambutnya berantakan sekali, sepertinya ia baru saja berlari dari tempat parkir.

“Sheileen! Apakah kamu baik-baik saja?” ucapnya ketika dengan cepat mendekati tempat tidurku.

“Ya appa, aku baik-baik saja. Sepertinya appa juga sudah mendengar dari Mr. Yixing, jadi sepertinya aku harus ke rumah sakit sekarang, hm? Maaf merepotkanmu pa..” ujarku tulus sedih karena harus merepotkan appa kembali.

“Bicara apa kamu, demi kesehatanmu, tentu apapun akan appa usahakan. Terima kasih Mr. Yixing telah menemani putriku, kami akan pergi ke rumah sakit sekarang, semoga harimu menyenangkan,” kata appa seraya membantuku berdiri dan menopangku berjalan keluar kamar.

Sambil membantu appa dalam menopangku berdiri dari tempat tidur, ia membalas, “Tentu Mr. Cha, semoga Sheileen bisa cepat sembuh.”

Aku dan appa pun menunduk untuk mohon pamit dan jika kalian ingin mengetahui mengapa appa dipanggil dengan marga amma, hal itu simply karena appa masih ingin mengenang amma di hidupnya…sama sepertiku, jadi tidak ada salahnya menambahkan marga Cha di depan namanya, bukan?

“Jadi Sheileen, kuharap kamu benar-benar tidak apa-apa,” katanya seraya tetap menopangku berjalan seakan-akan aku ialah barang terapuh yang ia punya.

“Oh tenang saja pa, kamu tahu putrimu ini sekuat apa. Apakah dokter sekolah ataupun Mr. Yixing berbicara sesuatu mengenai kondisiku?” ucapku dengan nada sedikit kuriang-riangkan supaya kecemasan appa bisa berkurang sedikit.

Hmm tidak, maka dari itu, ayo segera kita ke rumah sakit.”

Tidak nak… Sebenarnya ia berkata sesuatu tetapi appa ingin memastikan bahwa dokter itu salah..

“Baiklah!”

Tiba-tiba saja aku merasakan suatu hawa yang sebenarnya…menggelitik, entah mengapa auranya bisa aku rasakan (aneh..) dan… aura ini…entah mengapa tubuhku sangat merindukannya..

Seorang pemuda, sepertinya ia bukan orang Inggris… Matanya tajam dan sedikit sipit, pandangannya lurus ke depan menampilkan kharismanya yang bertebaran ke segala arah, serta cara ia berjalan.. Hm.. Pemuda itu mengingatkanku pada seseorang…

Sheileen pun hanya merasa bahwa itu hanya perasaannya belaka dan tetap berjalan lurus ke mobil hitam Audi milik appanya lalu duduk dengan manis di kursi depan. Sedangkan pemuda yang melewatinya tadi berkata dengan pelan seraya melihat kepergian gadis yang sudah lama tidak ia temui itu, “Leen-a, akhirnya kita bertemu lagi.”

—end of chapter one—

TBC

——————————————————————————————————————————-

THANKS FOR READING  WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL  JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY CHA MIHO (@FAB_CINTA) NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

 

 

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: