EXOtic’s Fiction “Sacrifice” – Part 3

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Sacrifice”

Title : Sacrifice

Sub Title : 3rd Story – A Little Closer

Main Cast :

  • Kai- Kim Jong In
  • Fellia

Length : 10 shot

Genre : Romance

Rating : PG-13

Summary :

 

I only give my whole life to one person.

Person who especially can make my heartbeat feels so real.

When i met her, World is joking around me.

Should i release you?

Can i really feel so alive when my eyes can not see you?

Can i really feel so alive when my ears can not hear you?

I learned one thing from love.

Sacrifice.

 

**

 

I was so afraid when i found out that this heart is taken by someone

I believe that i wont fall for someone

But its false, the truth i fell for him

But when i try to trust you

To love you

To see only you

This world is joking around me.

Can i really feel so alive when my eyes can not see you?

Can i really feel so alive when my ears can not hear you?

I learned one thing from love.

Sacrifice.

 

Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

**

 

A simple story between Kim Jong In & Fellia.

 

 

Udara Jepang terasa sangat segar dan juga dingin, membuat Fellia merapatkan mantelnya. Ia menggosok-gosokkan tangannya yang sudah memutih karena udara yang sangat dingin sementara Kai langsung lari kedalam mobil, ia sama sekali tidak tahan akan dingin..

 

Fellia menggeleng-geleng kepala, tak lama ia membuka pintu mobil dan duduk disebelah Kai. Kai meringkuk didalam kedinginan sambil sesekali meniup-niup tangannya dengan udara panas dari dalam mulutnya.. Fellia menggosok-gosok badan Kai yang terkulai lemas dipojok..

 

“Dingin sekali?”

Kai tidak menjawab, ia memang benar-benar lemah kalau dalam urusan dingin. Ia tidak tahan dingin, mau seberapa banyak jaket yang ia pakai. Terlebih lagi ia lmah dengan penerbangan atau perjalanan, ia mudah sekali jetlag.

Fellia melihat kedepan, “Bisakah pemanasnya dibesarkan?” katanya dalam bahasa Inggris.. Supir itu menganguk lalu memencet tombol yang ada, sekejap ruangan semakin hangat dan hangat membuat air muka Kai membaik.

 

Itulah hebatnya mobil Jepang, mobil Jepang atau Luar Negeri biasanya didesain khusus untuk 2 musim. Ia punya pendingin dan juga pemanas ruangan. Ini dilakukan karena cuaca yang berubah-ubah. Fellia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah termos. Kai yang daritadi meringkuk dan tenggelam dalam alam mimpinya, sekejap bangun ketika hidungnya mencium bau yang manis. Hawa hangat terasa dari sampingnya, ia segera saja menoleh melihat Fellia..

 

“Ini minum dulu hot chocolatenya…”

Kai segera saja mengambilnya dan meminumnya sedikit, kehangatan luar biasa merasuk dalam tubuhnya. Fellia disampingnya melepaskan 1 dari 4 mantel yang ia gunakan dan mengenakannya di sekitar punggung Kai, ia masih saja menggosok-gosok punggung Kai untuk menghangatkan pria itu..

 

“Bagaimana? Uda baikkan?”

Kai menganguk, ia masih berkonsentrasi meminum hot chocolatenya. Kai melihat sekeliling mobil, mencari sesuatu. Tapi tiba-tiba saja Fellia sudah menyeka hotchocolate yang ada disekitar mulut Kai dengan tissiu, “Sudah, ayo diminum lagi..”

 

Fellia menatap Kai yang masih terdiam, ia berpikir. Ternyata setiap orang itu tidak sempurna. Seberapa sempurnanya Kai dimata orang-orang, tapi ternyata ada saat-saat dimana seorang Kai terlihat lemah. Terlihat manja.. Fellia masih melihat intens Kai sementara mobil mereka berjalan, pria itu kurus sekali. Ia kaya tapi begitu malas untuk makan. Tipe orang ceria, tapi sebenarnya keceriannya itu hanya topeng untuk membuatnya terlihat kuat. Rambut Kai terlihat sedikit berantakan, secara refleks Fellia memperbaiki letak topi rajut yang digunakan Kai membuat pria itu sedikit bingung.

 

Mereka berdua tidak canggung. Mereka seolah merasakan memang seperti itulah mereka adanya. Sudah memang seharusnya mereka seperti itu. Kai masih meminum hot chocolate-nya dalam diam, tak sengaja ia berdeham membuat Fellia tiba-tiba saja menjauhkan tangannya dari punggung Kai dan beranjak merogoh tasnya..

 

“Kenapa?” tanya Kai sambil meletakkan termos itu disamping dan menatap Fellia. Fellia dengan serius memperhatikan i-Pad-nya dan mengecheck schedule. Rasanya Kai ingin membuat i-Pad itu keluar dari mobil.

 

“Hari sudah malam.. Kita akan kekantor pusat di Jepang nanti pagi. Dikantor kita akan segera saja melihat data-data perusahaan dan juga mendengar penjelasan anak Mr.Kanzaki mengenai masalah yang ditangani. Disana anak Mr.Kanzaki akan membantu kita..”

Kai memangut-mangut seolah memberikan sebuah respon, tapi sebenarnya ia tidak mendengarkan Fellia dengan baik. Atau lebih tepatnya ia tidak mau tau. Bukankan kesusahan hari ini sudah begitu banyak? Untuk apa menambah kesusahan esok hari? Biarlah ia tau esok hari… Kai menguap, membuat Fellia menghentikan pembacaan schedule-nya. Ia tau, walaupun ia membacanya Kai, tidak akan mendengarnya. Kai adalah tipe yang tidak mau membuat dirinya susah karena hari esok. Ia melakukan ini hanya karena ia bingung harus berbuat apa…

 

Kai tiba-tiba saja menoleh dan memandang intens Fellia, membuat gadis itu mau tidak mau ingin memalingkan wajahnya. Tapi ia bukan tipe yang suka mengalah, karena itu Fellia justru menatap Kai balik.

 

“Kamu masih tidak mempercayaiku?”

“Aku mempercayaimu sebagai Bos-ku..”

“Setidaknya kamu mempercayaiku kan?”

“Sebagai pria tidak..”

“Tapi setidaknya kamu mempercayaiku kan?” kata Kai yakin, masih menatap Fellia. Fellia menarik napas panjang dan membuang pandangannya kearah lain. Tak ingin mengurus Kai lagi. Ia melewatkan saat Kai dengan manisnya tersenyum menatapnya. Senyuman yang pasti akan membuat siapapun jatuh cinta padanya. Tapi bukannya itu untung baginya, karena mungkin saja ketika Fellia melihat senyumannya itu. Ia tidak akan bisa lepas dari Kai lagi..

 

“Boleh ga?”

“Apa?” kata Fellia nyaris seperti menggumam..

Tiba-tiba saja semuanya seperti milik mereka berdua, Kai dengan cepat menidurkan kepalanya yang berat diatas paha Fellia Membuat Fellia nyaris menjerit. Kai sebenarnya tidak punya kekuatan lagi, walaupun ia tidur selama perjalanan. Ntah mengapa tidur itu malah membuatnya semakin lemah, sekujur tubuhnya pun terasa sakit dan kaku. Ntah mengapa, paha gadis itu terasa begitu nyaman untuknya..

 

Fellia masih diam, ia bisa melihat Kai menutup matanya. Kai tidur sambil melipat kedua tangannya dan terlihat begitu nyaman.. Fellia masih tidak tebiasa, sehingga ia hanya bisa pasrah. Ia melihat keluar, lampu-lampu Jepang terang benderang. Walaupun malam, pemandangan diluar begitu indah. Fellia melihat Kai yang menggeliat kedinginan, segera saja Fellia merapatkan mantel Kai dan menggosok-gosok punggung Kai membuat pria itu kembali tidur dengan nyamannya..

 

Fellia merapikan poni Kai yang menutup matanya, dan tersenyum melihat wajah Kai yang seperti anak kecil itu..

 

“Selamat tidur, Kai..”

 

**

 

Kai mengucek-ngucek matanya ketika merasakan udara semakin mendingin, dan orang yang pertama ia lihat adalah gadis yang ingin ia lihat seumur hidup. Gadis itu tertidur sambil menyender ke kaca. Tak lama Kai bangun dari paha Fellia dan membenarkan cara duduknya. Sesaat setelah bangun, ia seperti merasakan pegal disekujur tubuhnya.

 

Kai melihat beberapa mantel yang ia gunakan, dan kemudian berpaling melihat gadis di sebelahnya..

“Bagaimana ia bisa tertidur tanpa mantel ini?” gumam Kai sambil menggeleng-geleng kepala, gadis itu tertidur sambil sedikit mengigil ditempatnya. Walaupun sudah ada penghangat, rasanya masih belum cukup bagi mereka berdua. Kai mengambil napas panjang kemudian meraih kepala gadis itu dan menariknya kedalam pelukannya. Ia memakaikan mantel itu hati-hati. Gadis itu tidak bereaksi sama sekali. Masih tertidur dengan pulasnya.

 

Tak lama Kai melempar pandangannya keluar mobil sementara tangannya mengelus-ngelus kepala gadis itu, “Kenapa lama sekali?”

Ia mengeratkan pelukannya dan menidurkan kepalanya dipundak gadis itu, tidak ada jarak diantara mereka. Pipi mereka saling bersentuhan, ntah mengapa keduanya merasa terbiasa. Kai menarik napas disana, panjang dan terdengar lega.

 

“Bisakah tiap hari aku bangun dan tujuanku hanya engkau?”

 

**

 

Supir itu melihat kebelakang dan sedikit terkejut, ia berdeham sebentar untuk mengatur ekspresinya sebelum ia turun dan membangunkan majikannya..

 

“Tuan Muda.. Kita sudah sampai…”

Kai menggeliat sebentar, dan sesaat ia tersenyum kepada supir itu, “Tolong turunkan barang dengan pelan-pelan ya…”

 

Supir itu menganguk lalu berjalan pergi, Kai dengan hati-hati mengangkat wajah Fellia, dan gadis itu masih tertidur pulas dipelukannya. Ia menatap gadis itu penuh arti.

 

“Bruak…”

Kai melihat kebelakang dan menggeleng pelan, tapi sesaat darahnya mengalir deras ketika ia merasakan Fellia menggeliat didalam pelukannya. Cepat-cepat saja ia mengelus-ngelus rambut Fellia dan gadis itu kembali tidur..

 

Perlahan tangan Kai mengangkat gadis itu, dan berjalan keluar dari mobil. Udara diluar sangat dingin, tapi ia masih kuat. Setidaknya sampai gadis ini tertidur diatas kasur dengan baik.

 

“Tap..tap..tap..”

Langit gelap, tapi rumah besar itu cukup menerangi jalan menuju rumah itu. Jalan setapak dan juga beberapa anak tangga harus Kai naiki untuk mengantar Fellia seperti tuan putri dalam pelukannya.

Sesaat ia tersenyum ketika beberapa pelayan berdiri didepan pintu, “Maaf, kamar saya dan nona ini ada dimana…”

 

Rumah itu besar dan megah. Itu adalah kesan pertama setiap orang yang memasuki rumah itu. Desain minimalis, agak kuno itu terlihat nyaman. Masih ada beberapa sudut yang khas jepang. Bahkan ada beberapa pintu geser disana, tapi seorang pelayan mengantar mereka didepan sebuh pintu yang terlihat modern dan membukanya, Kai dengan hati-hati masih menggendong Fellia masuk kedalam ruangan itu.

 

Ruangan dengan perpaduan pink dan putih itu terlihat sangat cantik sekali, terutama kasur bergaya tuan putri itu. Tak lama, perlahan Kai menidurkan gadis itu diatas tempat tidur dan menyelimuti Fellia dengan hati-hati.

 

Pelayan itu berdeham lalu keluar ruangan. Kai duduk disamping tempat tidur dan menatap gadis itu. Walaupun matanya sudah kantuk tak tertahankan, melihat gadis itu seolah seperti ritual yang tidak bisa dihilangkan. Bagaikan narkoba bagi pecandu. Bagaikan matahari bagi bunga matahari. Dan oksigen bagi manusia. Mustahil untuk dilewatkan..

 

Tangannya beranjak menyusuri lekuk wajah gadis itu, ia menyentuhnya dengan sangat hati-hati seolah kaca yang mudah sekali hancur. Menjaganya bagaikan lukisan yang tak ternilai harganya. Walaupun orang menganggapnya biasa saja, bagi Kai dia adalah segalanya. Ntah sejak kapan keyakinan itu tertancap dihatinya, yang ia tau. Mencintai adalah semudah itu..

 

Jemari Kai menyentuh pipi Fellia, dan beranjak menyentuh mata gadis itu. Itu mata gadis yang membuatnya tertarik untuk melihatnya setiap hari. Mata yang memancarkan binar-binar percaya diri dan juga keyakinan. Mata yang meneteskan air mata dengan jujurnya. Mata yang dengan baik menunjukkan isi hatinya. Mata yang mustahil tergantikan..

 

Sesaat, jemari Kai menyentuh hidung Fellia. Hidung yang mancung. Ia masih bernapas. Syukurlah.. Itu adalah hal yang paling disyukuri Kai saat ini.. Tak lama, ia menyentuh Bibir Fellia.. Dan terhenti disana.. Bibir itu yang dengan jujurnya berkata, tapi dari sana juga banyak kebohongan terucap. Kai tau bahwa gadis itu hanya takut, tapi ia juga manusia biasa. Siapa yang tidak akan sakit hati jika mereka tidak dipercayai oleh orang yang mereka cintai? Tapi kata-kata gadis itu adalah segalanya. Asal ia mendengar gadis itu berbicara, dan masih ada dalam jarak pandangannya. Maka ia akan berusaha kuat, apapun yang terjadi..

 

**

 

Kai’s POV

 

Aku berjalan memasuki sebuah kantor bersama Fellia disampingku, ia masih membungkam mulutnya sejak pagi. Kalian bertanya kenapa? Bukankah sudah jelas? Aku menyentuh bibirnya tadi malam dan ia tiba-tiba terbangun. Bisakah kalian berpikir, bahwa ia tiba-tiba saja bangun memukulku dan mengatakan bahwa aku mesum? Gadis itu luar biasa gilanya…

 

“Yak! Bisakah kamu berbicara sedikit padaku?”

“Bisakah kamu tidak berteriak?”

“Kamu tidak akan berbicara kalau aku tidak berteriak kan?”

Lagi-lagi dia tidak menjawabku, siapa yang bos sih? Kok malah aku yang mengalah?

 

“Fellia! Jangan begitu padaku…”

“Jangan berisik, tuan muda…”

Ia berhenti dan tiba-tiba saja berbalik membuatku menabraknya dan dengan refleks menangkap Fellia yang kehilangan keseimbangan..

“mereka tidak akan mengerti kita kan?”

 

Aku tersenyum manis ketika melihatnya memalingkan wajah dengan wajah memerahnya, semu-an favoriteku.. Tidak ada jarak diantara kami, siapapun yang baru melihat kami berdua pasti seperti sedang melihat sepasang kekasih yang bertengkar dan dengan mudahnya baikkan.. Pasangan? Siapapun yang mengatakan aku cocok dengannya akan kuberikan hadiah…

 

Fellia menyeimbangkan tubuhnya dan mendorongku jauh-jauh, ia merapikan bajunya lalu kembali berjalan, “Bisakah kamu menungguku?” ucapku setengah memohon..

 

Lagi-lagi ia berbalik untuk membalasku, tapi tiba-tiba aku menangkap bayangan seorang wanita dibelakang yang kemudian membungkuk ketika melihatku..

 

“Moshi-moshi. My name Haruka. Kansaki Haruka. Nice to know you”

Aku segera saja menunduk untuk membalasnya, ia tersenyum manis. Cantik, Simple, Karisma, Perfect. Siapapun yang akan melihatnya pasti akan menilai gadis itu sangat sempurna. Wajahnya, poster tubuhnya, sikapnya, cara bicaranya. Sangat indah…

 

“Aku sudah tau akan kedatangan kalian. Saya akan menjadi asisten kedua Tuan muda Kai untuk pekerjaan ini. Saya anak tuan Kanzaki. Yang merupakan pemegang perusahaan di Jepang. Saya terlatih dan ingin sekali bekerja langsung, jadi saya terjun langsung untuk bertemu anda..”

“Ah terima kasih.. Kebetulan bahasa jepang kami sangat payah…” kataku dalam Bahasa Inggris dan dengan ekspresi yang menyedihkan, membuat Haruka tertawa pelan. Aku melirik Fellia yang masih berdiri ditempatnya. Ia memalingkan wajahnya, ada apa dengannya? Kenapa raut mukanya terlihat muram seperti itu?

 

“Ah, ini pasti Fellia ya… Salam kenal..”

Fellia hanya tersenyum dan membalas Haruka dengan menganguk dan kemudian ia berjalan meninggalkan aku dan Haruka. Ada apa sih dengannya? Apa sebegitunya ia marah padaku?

 

End of Kai’s POV

 

**

 

Fellia’s POV

 

Semuanya sama saja. Untung saja aku tidak mempercayainya. Untung saja aku tidak mempercainya.

Aku memang marah padanya, tapi hanya sekedar sebal. Tapi tambah sebal ketika melihatnya terpesona ketika Haruka memperkenalkan dirinya. Apa maksudnya itu hah? Kenapa pria begitu mudah sekali untuk terpana?

 

Dimana kesetiaannya?

Aku membuka file-file dengan kesal sementara Kai dan Haruka mengecheck file-file diberkas lain. Haruka kan lebih berpengalaman dariku. Kenapa dia ga sama Haruka saja dan membiarkan aku pulang? Aku benci luar negeri. Aku hanya ingin pulang. Aku ingin jauh darinya. Apapun yang terjadi aku tidak mau dekat-dekat dengannya..

 

Tanpa sadar aku menyenggol cangkir tehku hingga jatuh kelantai, dan dengan panik aku memungut gelas kaca itu dengan tanganku. Aku bodoh. Aku panik, aku hanya tidak ingin terlihat bodohnya didepannya. Apalagi didepan gadis itu..

 

“Aw!!!”

Aku bisa melihat dari ekor mataku Kai mempercepat langkahnya kearahku, tiba-tiba aku merasakan hentakkan yang sangat kuat dan dengan marah aku menatapnya..

“KENAPA KAU INI?”

“KENAPA KAMU MEMUNGUT INI SEMUA? INI BUKAN PEKERJAANMU!”

“AKU YANG BERBUAT! JADI AKU YANG HARUS MENYELESAIKANNYA!”

“KENAPA KAMU INI!!!!!!!!”

 

Kai mengangkat tangannya dan segera saja aku menutup mataku, entah mengapa aku punya rasa ia akan memukulku..

“Kai! Jangan lakukan itu! Tunggu, aku akan memanggil cleaning service…”

 

Aku membuka mataku, dan dengan takut melihat Kai. Ia manarik napas dan melihatku, setidaknya matanya lebih tenang. Tangannya terangkat memegang daguku. Dengan cepat aku tersontak kebelakang tapi ia menangkap punggungku. Seperti sudah tau bagaimana reaksiku terhadap setiap sentuhannya..

 

“Kamu ini bagaimana sih.. Tidak bisa kah kamu menjaga jemarimu yang berharga ini untukku?”

 

DEG!

Apa yang ia katakan?

Bagaimana ini.. Tiba-tiba saja jantungku berdebar kencang.. Ada apa denganku?

 

Kai beranjak mengambil saputangannya, dan mengambil sebotol mineral water.. Ia menyiram lukaku yang terasa sedikit perih karena tergores kaca, dan tak lama ia menghisap jariku.. CAPS LOCK ! IA MENGHISAP JARIKU!

 

Aku memalingkan wajah sambil menutup mataku, bukankan sudah jelas aku malu! Bagaimana ia bisa melakukan hal itu? Bagaimana ia bisa sebegitunya baik padaku?

 

Aku perlahan membuka mataku, ia melilit jariku dengan saputangannya.. Aku hanya bisa terpana melihatnya, kenapa ia bisa seperti itu? Kenapa aku bisa marah karenanya? Kenapa aku bisa suka pada setiap tidakannya? Kenapa ini bisa terjadi? Bukankah aku sudah memerintah diriku sendiri untuk jatuh cinta padanya? Untuk tidak mencintainya? Untuk bisa bernapas tanpanya? Untuk bisa hidup tanpanya?

 

**

 

“Kai.. Ayo kita pulang…”

Aku menyembunyikan diriku sendiri dibalik dinding ketika melihat Kai sedang bersama Haruka..

Aku membungkam mulutku rapat-rapat..

 

“Kenapa kalian para gadis suka sekali menyakiti diri kalian?” kata Kai sambil menangkap Haruka yang tiba-tiba saja tersandung..

 

“Kami tidak bermaksud untuk menyakiti diri kami, tuan muda”

 

Aku menapakkan kakiku berjalan menjauhi tempat itu..

Setiap perlakuannya pada setiap orang adalah sama..

Tidak ada yang perlu dibanggakan..

Aku bukan apa-apa dimatanya..

Jadi..

Hati.. Bukankah sudah kuperintahkan dirimu untuk tidak mencintainya?

 

End of Fellia’s POV

 

**

 

Author’s POV

 

Kai mengelilingi rumah, tapi tidak ada bayangan Fellia. Kai segera saja berlari pulang kerumah ketika ia melihat sebuah sticky note diatas mejanya..

 

Aku pulang duluan. Take care.

Sign, Fellia

 

Dimana gadis itu?

 

Sementara ditempat lain, Fellia tidak betah didalam rumah sehingga ia berjalan-jalan dan terdampar disebuah cafe sepi didekat rumah. Ia membawa sebuah buku, buku yang entah sejak kapan selalu ada dalam tasnya. Ia duduk dan kemudian memesan secangkir teh dan membuka buku itu..

 

Beberapa tulisan yang ia baca membuatnya tersenyum, atau bahkan tertawa kecil. Kadang ia juga mengerutkan kening tidak percaya.. Sering juga ia tersenyum penuh arti..

 

14Januari 1994 (Ceritanya Kai baru akan berulangtahun yang ke 18tahun, dan di cerita ini semua member EXO mempunyai umur yang sama)

 

“Bukankah itu adalah 1 jam lagi? Jadi? Aduh, bagaimana ini? Aku belum menyiapkan apapun untuknya…”

Fellia bergumam dengan penuh kebingungan, membuat beberapa pengunjung melihatnya aneh karena wanita itu berbicara dengan bahasa yang tidak mereka kenal..

 

Fellia. Gadis itu, walaupun marah. Ntah sejak kapan hal itu selalu saja bisa terhapus begitu saja. Biasanya gadis itu akan egois dan akan mengngat apapun perlakuan buruk yang pernah terjadi padanya. Hanya saja, Kai beda.. Ntah mengapa, pria itu bisa mengatur hidupnya dengan begitu mudahnya..

 

Fellia mengedarkan pandangannya beberapa saat kesekeliling ruangan, dan kemudian tersenyum ketika melihat sebuah piano disudut ruangan..

 

**

 

Kai berlari ketika melihat suatu punggung yang ia kenal. Ia segera saja berhenti dibelakang punggung gadis itu, dan tanpa malu langsung memeluk gadis itu.

 

Ia menggigil luar biasa, dan juga napasnya tidak beraturan. Suhu tokyo turun drastis malam ini, membuat Kai kehilangan kekuatannya.. Gadis itu hanya bisa terkesiap ketika merasakan hangat yang luar biasa disekujur tubuhnya.. Ia tersenyum..

 

“KAMU ITU! BISAKAH KAMU MEMBIARKANKU TENANG SEKALI SAJA? BISAKAH KAMU TIDAK MENGHILANG BEGITU SAJA? BAGAIMANA JIKA KAMU TERSESAT? BAGAIMANA JIKA AKU TIDAK BISA MENEMUKANMU?”

 

Kemarahan terdengar jelas dari setiap nada bicara yang dilontarkan Kai, membuat Fellia sedikit takut ditempatnya. Tak lama, Kai memutar tubuhnya. Membuat mereka berdua bisa melihat wajah satu sama lain..

 

“Kamu.. Kenapa selalu membuatku khawatir? Sudah ku katakan kan? Seberapa berharganya kamu untukku?”

 

Fellia membeku ditempatnya, ia sadar akan kesalahannya. Ia tau jelas seberapa bersalahnya ketika ia mendengar suara marah Kai.. Ketika ia melihat Kai menggigil hebat. Ketika mengetahui pengorbanan Kai yang begitu besar hanya untuk mencarinya. Ia tau tuan mudanya itu memiliki elergi dingin, tapi pria itu dengan cueknya membiarkan dirinya kedinginan hanya untuk mencari sosok Fellia..

 

Tiba-tiba saja, air mata mengalir dari pelupuk mata Fellia membuat Kai dengan refleks menyentuh kedua pipi Fellia, “Maafkan aku.. Aku tidak bermaksud.. Aku.. Aku..”

“Sudah.. Sudah jangan menangis…”

 

“Tapi karena aku kamu marah.. Tapi karena aku, kamu yang lemah akan dingin rela menerobos malam di Tokyo yang sangat dingin hanya demi mencariku. Padahal aku bukan apa-apa.. Kenapa kamu begitu memperhatikanku?”

 

Kai mengecup kening Fellia membuat gadis itu berhenti menangis dengan sukses, digantikan perasaan kaget yang begitu luar biasa.. Tak lama Kai kembali mencium pipi Fellia, membuat gadis itu dengan takut memejamkan matanya..

 

“Kamu begitu berharga untukku, karena itu aku memperhatikanmu..” ucap Kai pelan seperti berbisik pada Fellia. Ia memeluk Fellia lagi, ia mengatur napasnya. Fellia seolah seperti penghangat tubuhnya dan juga mesin penghasil oksigen tersempurna yang ada. Fellia yang masih bingung tetap diam didalam pelukan Kai..

 

“drtt.. drttt…”

Fellia merogoh sebentar kantongnya, dan tiba-tiba ia melihat tanda pengingat di handphoneinya.. Ia segera saja mendorong Kai jauh-jauh dari tubuhnya. Kai mengernyit heran, tapi tiba-tiba Fellia berlari sambil menarik tangannya. Mereka berdua berlari, menerobos dinginnya Tokyo bersama.

 

“Ada apa?” tanya Kai sambil mengatur napasnya..

Fellia tersenyum lalu melepas genggaman tangannya, ia masuk sendiri kedalam cafe itu. Kai yakin cafe itu  sudah tutup. Tapi akhirnya ia ikut masuk ketika Fellia bisa masuk kedalam cafe itu, walaupun lampunya mati..

 

Cafe itu, hanya memiliki lilin sebagai satu-satunya penerangan. Ia tidak tau, yang jelas lilin itu diletakkan diatas suatu benda besar bewarna hitam. Mungkin ada konslet dan semacamnya sehingga pemilik cafe itu terpaksa menggunakan lilin itu..

 

Tapi tiba-tiba, Fellia duduk disuatu kursi dan suatu nada terngiang ditelinga Kai… Membuat Kai dengan langkah pasti berjalan menuju Fellia, seperti seolah ditarik oleh medan magnet dan tak bisa dipisahkan..

 

 

Happy birthday to you..

Saengil chukka hamnida

Uri sarang Kim Jong In..

Otanjoubi omedeto

 

Thanks for born in this world

18 years ago

I wish all the best for you

Saengil chukkae!

 

Fellia berdiri dan kemudian mengangkat lilin itu hati-hati, ketika Fellia semakin mendekat. Kai baru menyadari bahwa itu adalah sebuah kue ulangtahun yang simple dengan satu lilin ditengah..

 

Sudah berapa lama ia tidak melihat kue ulangtahun? Ya memang ia merayakan ulangtahunnya setiap tahun, tapi biasanya ia tidak akan mau meniup sebuah lilin ulangtahun yang menurutnya kekanak-kanakan. Tapi, ntah mengapa jika gadis itu yang memberikannya, maka semuanya akan terasa spesial..

 

“Thanks for born in this world, Kai.. Happy birthday…” ucap Fellia sambil memberikan kue ulangtahun itu.

“Make a wish and blow this candle..”

 

Kai dengan cepat menutup matanya, Fellia menatapnya lucu. Tapi ia kembali mengatur ekspresinya ketika Kai membuka matanya dan segera meniup lilin itu..

 

“Maaf kan aku kalau aku selalu merepotkanmu.. Membuatmu marah.. Membuatmu khawatir.. Malam ini aku bukan sengaja menghilang untuk membuatmu kedinginan, aku membuat lagu ini barusan..”

“Ohya? Untukku? Demi aku?”

 

Fellia menganguk penuh yakin, Kai tersenyum sambil mengacak-ngacak rambut Fellia..

“Thanks for everything that you done to me… Thanks, Fellia… Tapi… Bisakah kamu memberikanku satu hadiah lagi?”

 

Fellia mengerutkan keningnya, “Apa lagi?”

“Aku ingin kamu memelukku…”

 

“Apa?” jerit Fellia sambil termundur beberapa langkah kebelakang…

“Aku ingin kamu memelukku…” ucap Kai dengan penuh yakin dan melihat gadis itu dengan tajam..

 

Fellia menapakkan kakinya maju, dan beranjak melingkarkan tangannya masuk kesela pinggang Kai dan mengaitkannya kuat. Fellia memeluk Kai dengan sangat kuat. Membuat pria itu nyaris tidak dapat bernapas..

 

“Terima kasih karena kamu sudah lahir ke dunia ini. Terima kasih karena kamu sudah mewarnai hariku.. Seberapa jelek sikapmu itu, seberapa menyebalkannya kamu.. Seberapa manjanya dirimu.. Sebagaimanapun seenaknya dirimu.. Itu dirimu.. Terima kasih telah menjadi dirimu sendiri.. Terima kasih sudah lahir kedunia ini.. Happy Birthday, Kai…”

 

Fellia melepas pelukannya, dan kemudian berjinjit..

Sedetik kemudian ia berlari keluar cafe meninggalkan Kai yang terpana ditempatnya..

 

“Kai! Aku pulang duluan…”

Kai tersadar ditempatnya, sambil tersenyum ia menyentuh keningnya.. Untuk pertama kali, gadis itu mencium keningnya.. Dengan kemauannya sendiri..

 

“Thanks God, for give her in my life..”

 

TBC

 **

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

 

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

 

Advertisements

Tagged: , ,

4 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Sacrifice” – Part 3

  1. Cynthia August 27, 2012 at 2:36 PM Reply

    Di tunggu lanjutannya ya.. 😀

  2. exo1stwonderplanet August 30, 2012 at 7:10 AM Reply

    hehe 🙂 siap XD -HJS

  3. ardira larasati October 10, 2012 at 7:49 AM Reply

    Kyaaa kereeenn XD

  4. Nurlaely D March 27, 2016 at 5:33 PM Reply

    Fellia udh nunjukin kcmburuannya,,krn ada haruka yg sllu mnempel pd kai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: