EXOtic’s Fiction “Pulchritude” – Part 3

EXOtic’s Fiction

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“PULCHRITUDE”

Title : Pulchritude Part 3

Author: Shin Heera

Cast:

  • Kim Jongin (EXO)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Park Chanyeol (EXO)
  • Park Chonsa (YOU)

Minor Cast:

  • EXO Member

Ket:

  • Kai at History era
  • Oh Sehun at 22nd teaser
  • Park Chanyeol at History era
  • Baekhyun at History era
  • Kim Kyungsoo at History era
  • Suho at High Cut era

 

Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

……………………………………………………

Ps:

  • * > masih hari yg sama
  • ** > keesokannya
  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!!

……………………………………………………

Review Chapter 2

 

“Agashi! Apa kau mengerti bahasaku, hah? Aku sudah memintamu untuk pergi! Jangan membuat moodku tambah buruk!”

Chonsa hanya terdiam dan melihat Kai dengan tatapan meminta maaf. Tapi tiba-tiba dirinya terkejut ketika sebuah tangan menepuk pundak kanannya.

“Chonsa! Aku mencarimu ke kelas. Ternyata kau di sini.”

 

………………………………………………….

 

CHAPTER 3

 

“Yeol oppa!” seru Chonsa dengan wajah ceria. “Dari mana saja kau? Aku kira kita tidak akan bertemu hari ini..”

Chanyeol tersenyum sangat tampan. “Oya? Jangan pernah berpikiran seperti itu, Chonsa-ya. Aku akan selalu menemanimu. Arasso?”

Chonsa hanya tertawa dan itu benar-benar indah. Setiap yeoja itu tertawa, tersenyum, berbicara, sorotan matanya, benar-benar membuat Chanyeol sedikit terkena serangan jantung secara tiba-tiba.

Dan, oh! Apa kalian percaya? Sepertinya Kai merasakan yang sama. Tapi sepertinya namja itu terlalu hebat menyembunyikan perasaannya.

“Kau sudah berteman dengannya?” tanya Chanyeol pada Chonsa sambil menunjuk Kai dengan matanya.

“Lebih dari itu..” jawab Chonsa sekenanya dan itu membuat Kai terbelalak namun tetap dalam batas wajar.

“Sahabat?”

“Aniya. Fans! Aku adalah fansnya. Bagaimana? Tariannya benar-benar hebat, bukan?”

Chanyeol terkekeh dan mengangguk-angguk. “Lalu kau menganggapku apa?”

“Hm, let me see.. Hm..”

“Kau istriku, Park Chonsa! Non nampyeon!”

Mereka berdua tertawa sangat akrab.

Kai hanya menatap dua orang di depannya dengan datar dan memohon pada Tuhan agar mereka cepat menghindar dari hadapannya.

“Kai, aku harap kau memberiku ijin untuk membawa fansmu untuk menemaniku,” ucap Chanyeol sambil tersenyum jahil ke arah Kai.

Kai mendengus. “Bawa saja sesukamu, Hyung..”

“Great! Comon!”

 

 

“Huaaaaah! Taman memang selalu terlihat indah. Aku menyukai tempat ini,” ujar Chonsa lalu menghisap strawberrynya.

“Apalagi duduk bersamaku, bukan?” timpal Chanyeol memulai gombalannya yang tentu saja tidak berpengaruh pada Chonsa.

Dan lagi-lagi yeoja itu hanya tertawa sambil menepuk pundak kanan Chanyeol di sampingnya.

“Kau berbincang apa saja?” tanya Chanyeol yang tengah meluruskan kakinya di atas rumput itu sambil mengeluarkan beberapa bungkus coklat batang dari saku jaketnya.

“Hm?”

“Kai. Apa yang kalian bicarakan?” ulang Chanyeol sambil mengulurkan satu bungkus coklat pada Chonsa dan diterimanya dengan senang hati.

“Sepertinya hanya aku yang berbicara. Dia terus menerus mengusirku. Hahaha!” jawab Chonsa dengan tawanya. Chanyeol yang merasakan itu reaksi yang tidak wajar menolehkan wajahnya ke arah Chonsa.

“Mengapa kau tertawa? Aneh..”

“Dia benar-benar lucu.”

“Sepertinya Kai sedang dalam mood tidak baik.” Chanyeol mengeluarkan Androidnya, berharap mendapatkan inspirasi. “Dan kau menterjemahkan itu lucu? Hahaha! Kau yang lucu, Chonsa-yaaaa.”

“Oppaaa.. Apa kau tertarik mendengar ceritaku?”

“Tentu saja..”

“Ketika aku sedang berbincang dengan Oh Sehun di depan studio satu, tiba-tiba Shin Heera Immortal datang dan memeluknya. Lalu Kai keluar dari studio, melihat mereka berpelukan dan kondisinya berakhir seperti tadi.”

Chanyeol yang sedari tadi sudah menghentikan pekerjaan mengulik lagu di Androidnya kini tengah terdiam setengah terkejut.

“Wae, Oppa?” tanya Chonsa heran sambil tetap mengunyah coklatnya.

“Ah, aniya..”

“Apa Shin Heera berasal dari sekolah ini?” tanya Chonsa sambil menerawang. Kunyahannya melambat.

“Ya. Dia berasal dari kelas dance dan vokal, sekaligus anak pemilik SIAS,” jawab Chanyeol yang kembali berkutat dengan Androidnya.

“Woaa.. Dia sangat cantik. Sehun juga sangat tampan. Mereka sangat cocok..” ujar Chonsa sambil memainkan bungkus dengan jemarinya. “Apa mereka mempunyai hubungan dekat?”

Chanyeol tertawa kecil. “Wae? Kau cemburu?”

“Tidak. Aku hanya bertanya, Oppa,” jawab Chonsa cepat sambil menoleh sebal ke arah Chanyeol.

“Hm, ya. Mereka masuk ke sekolah ini bersamaan. Dan yang aku lihat, mereka memang dekat. Tapi sepertinya mereka tidak pernah menjalin hubungan serius,” jelas Chanyeol.

Chonsa mengangguk beberapa kali. “Lalu Kai?”

“Dia sangat menyukai Heera. Tapi yeoja itu sama sekali tidak tertarik padanya dan lebih memilih Sehun. Padahal Sehun tidak pernah menyukai Heera dengan lebih. Hanya sebatas sahabat saja. Bagaimana menurutmu? Tragis? Ya, memang.”

Chonsa tertawa. Mengapa Chanyeol sangat lucu?

“Ya, jangan tertawa di atas penderitaan orang lain, Chonsa-ya!” omel Chanyeol sambil mencubit ujung hidung Chonsa dengan gemas.

“Hahaha! Aku menertawakanmu, Oppa!”

Chanyeol terdiam sambil menatap wajah Chonsa yang tengah tertawa. Indah sekali. Belum pernah ia menemukan tawa seindah itu. Tiba-tiba inspirasinya muncul. Dengan cepat ia mengolah lagunya.

“Kau sedang apa, Oppa?” tanya Chonsa sambil memanjangkan leher agar melihat apa yang sedang Chanyeol kerjakan. Mulut dan matanya melebar. “Kau membuat lagu? Hiaaaaah! Aku ingin mendengarnya, Oppa!”

“Diam..” ucap Chanyeol lalu kembali menikmati cantiknya wajah Chonsa dari dekat.

Jantung Chonsa berdebar sangat cepat tentu saja. Dipandang seperti itu oleh namja tampan. Haih..

Chanyeol tersenyum kecil dan kembali menyentuh padnya dengan lincah kali ini. Setelah selesai, dia kembali menolehkan wajahnya ke arah Chonsa.

“Terimakasih..”

“Uh?”

 

*

 

Bibir manisnya tersenyum saat dirinya dengan Chanyeol berpisah di taman tadi. Ya, Chanyeol harus mengikuti kelas rap dan dirinya juga harus masuk kelas klasik, kelas favoritnya.

Tapi tiba-tiba Chonsa merasakan satu tangan menarik seragam sekolahnya ke dalam toilet.

“Ya! Apa yang kalian lakukan?!” teriak Chonsa ketika dua orang tidak dikenal itu mengguyurnya dengan air beberapa kali tanpa perasaan.

Lalu dua orang itu pergi begitu saja, meninggalkannya dalam keadaan basah kuyup. Bel masuk terdengar. Dengan kuat Chonsa menahan amarahnya. Tidak, sebenarnya dia tidak marah. Hanya tidak mengerti. Sudah dua kali dan mengapa tambah parah saja?

Chonsa keluar dari dalam toilet dan tidak berani keluar. Hanya memandang pantulan dirinya yang basah kuyup di cermin. Akhirnya air matanya keluar dan isakan pun semakin cepat.

CKLEKK!!

Ada yang membuka pintu masuk. Kedua matanya terbelalak ketika menemukan sosok Sehun sudah berada di hadapannya.

“Park Chonsa..”

Yeoja itu menyusut air matanya dengan cepat lalu tersenyum ke arah Sehun.

“Sehun-ah.. Apa yang kau lakukan? Ini toilet yeoja.”

“Ikut aku..”

Sehun menarik tangan Chonsa keluar dari toilet dan memasuki studio dua yang memang sedang tidak dipakai. Sehun tidak membawanya untuk diam di dalam studio ini. Tapi ke dalam ruangan ganti. Ya, Sehun selalu mempunyai handuk bersih di dalam lokernya.

“Kau pasti kedinginan..” ujar Sehun sambil memberikan handuk putih itu pada Chonsa. “Pakai ini. Aku mempunyai beberapa kardigan di loker. Kau bisa memakainya. Ganti di sana..”

Chonsa tersenyum lebar. “Sehun-ah, gomawo!”

Sehun membalasnya dengan senyuman dan membiarkan Chonsa berganti baju. Keningnya mengerut dalam. Siapa yang melakukan ini? Sudah dua kali dirinya melihat Chonsa di bully. Sehun mengangguk. Pasti suruhan Soona kalau bukan dia pasti Sera. Tidak mungkin Chen melakukannya. Namja itu berkesan cuek.

Atau.. bisa saja orang lain.

 

*

 

“Park Chanyeol! Tunggu! Mengapa kau selalu menjauhiku?”

Namja yang dipanggil Chanyeol itu hanya memutar kedua bola matanya, membenarkan letak topi dan kembali berjalan menuju food court.

“PARK CHANYEOL!!!!!!”

“Mwooooooo?” jawab Chanyeol malas ditambah memasang mimik kesal. Tentu saja kesal. Dirinya sedang tidak ingin bertemu dengan yeoja itu dan sekarang menampakkan diri di hadapannya.

“Tidak bisakah kita berbincang sebentar?” tanya Sera sambil melangkah mendekat pada Chanyeol.

“Tidak ada yang harus diperbincangkan. Kau tahu sudah untung aku tidak keluar dari sekolah ini hanya karena kemungkinan besar setiap hari aku akan melihat sosokmu.”

“Jangan berbicara seperti itu lagi, Chanyeol-ah..”

“Jangan menyentuhku!” seru Chanyeol ketika Sera bersiap menyentuh lengannya.

“Wae?”

“Kau adalah sesuatu yang sangat aku sesali, Kim Sera. Menjauh dariku..” ucap Chanyeol sambil kembali melangkah. Tapi kini lengannya berhasil tersentuh yeoja itu.

“Maafkan aku, maafkan aku! Aku benar-benar menyesal!” jerit Sera dengan tangisannya. Tidak peduli seberapa banyak orang yang tengah menatapnya.

“Ya, penyesalan memang selalu datang di akhir, bukan? Kau sudah melakukannya. Kembali saja pada Suho hyung.”

“Mustahil!” pekiknya.

Chanyeol mendesah panjang. “Kalau begitu rasakan dengan semua yang telah kau perbuat. Aku sudah tidak peduli lagi padamu.”

“Kita bisa mengulangi semuanya dari awal. Bagaimana?”

Chanyeol mendengus kasar dan itu terlihat menyeramkan. “Maaf, aku sudah mempunyai yeoja di sampingku. Kau ditolak. Carilah mangsa baru, Sera. Bukankah kau ahli?”

Yeoja itu merubah air wajahnya menjadi marah. “Park Chonsa! Pasti dia!”

“Memang benar. Kau tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Park Chonsa, termasuk kemampuan palsumu dalam membuat lagu. Sudah, aku lapar. Pergi sana.. jangan menggangguku..”

Kini Chanyeol terbebas dari Sera. Karena yeoja itu sudah berlari sambil menangis hebat menuju gedung sekolah. Dirinya hanya tertawa kecil dan menaikkan kedua bahunya.

“Park Chanyeol!”

Kini bukan suara seorang yeoja yang memanggilnya. Melainkan Baekhyun yang memang sedari tadi mengikuti Chanyeol ketika Sera datang dan membuatnya harus mengambil langkah mundur.

“Mungin sebaiknya kau jangan terlalu kasar padanya,” ucap Baekhyun sambil menyeimbangi langkah Chanyeol.

“Kau tidak akan mengerti, Baekkhie..” jawab Chanyeol sambil duduk di salah satu kursi food court itu. Baekhyun duduk di hadapannya.

“Aku tahu. Tapi bukan seperti itu caranya.”

“Dengarkan aku. Sebelum kami berdua masuk ke sekolah ini, aku sangat menyayangi dan selalu bersamanya, menjaganya, bahkan hampir 24 jam penuh aku tidak pernah meninggalkannya. Aku sangat menyayangi Kim Sera, Baekkhie. Apalagi kedua orangtuanya sudah tiada dan dia tinggal seorang diri di apartemennya. Tapi coba kau rasakan ketika kau melihat yeoja yang kau sayangi tengah tidur bersama namja lain!”

Baekhyun hanya terdiam mendengar cerita Chanyeol yang sebenarnya tidak perlu diperjelas seperti itu.

“Setelah melakukan itu, akhirnya dia masuk SWC division dan menyingkirkan posisiku yang seharusnya lolos. Sampai di sana aku masih bisa menerima dan bersabar karena Tuhan  masih menyayangiku dan memasukkanku ke dalam dua divisi.

“Dan apa kau tahu? Sera tidak mempunyai basic bagaimana cara membuat lagu. Dia datang padaku dan memuji banyak lagu hasil karyaku dan dengan segala trik jitunya, dia berhasil membuatku memberikan satu tanpa berpikir. Satu lagu spesialku dicuri olehnya dan dia mendapatkan pengakuan.

“Untuk apa yeoja seperti itu diberi perhatian lebih? Aku benar-benar sudah muak padanya, Baekkhie. Jangan memintaku untuk bersikap lebih halus padanya..”

Baekhyun kembali terdiam. Baiklah, dia tidak akan berbicara banyak. Lima menit berlalu dengan kesunyian diantara mereka.

“Lihat itu!” tunjuk Baek pada Chonsa yang tengah duduk bersama Kai.

Dengan seksama Chanyeol memperhatikan mereka berdua. Matanya memicing dengan tajam dan tidak lepas melihat ekspresi Chonsa yang selalu ceria. Padahal ketika dirinya melihat ke arah Kai, namja itu bahkan tidak berkespresi. Apa yang lucu? Ah, Chonsa memang tidak pernah terlihat sedih.

“Dan sepertinya aku sudah menemukan inspirasiku..”

Baekhyun tersenyum dan mengangguk beberapa kali. Dia tahu. Park Chonsa. Yeoja yang tengah menjadi perbincangan hangat minggu ini. Bukan hanya di kalangan namja. Tapi yeoja dan guru-guru pun memujinya.

“Tapi sepertinya ada satu penghalang.”

“Siapa?” tanya Baekhyun.

“Oh Sehun.”

 

*

 

“Sial. Sepertinya aku harus benar-benar menyingkirkannya. Jika tidak.. semua yang kumiliki akan berhasil direbutnya.”

Ketiga anak buahnya hanya mengangguk kecil di belakangnya.

“Siapkan apapun untuk memberinya pelajaran!”

“Baik..”

 

*

 

“Oh Sehun! Tebak! Aku sudah membuat satu lagu hanya dalam setengah jam!”

Sehun yang baru saja datang hanya tersenyum dan duduk di sofa biasa. “Kau ingin kita memainkannya?” tanya Sehun dengan nada lembut.

“Tidak!” jawab Chonsa dengan cepat. Sehun sedikit terkejut mendengar jawaban Chonsa yang benar-benar di luar pikirannya. “Aku ingin kau yang memainkannya.. dengan piano. Kau tidak keberatan jika aku tidak ikut bermain?”

Kali ini Sehun tertawa kecil dan memiringkan kepalanya. “Tidak masalah..”

Chonsa tersenyum ketika Sehun memainkan lagunya. Ternyata namja ini terlihat sangat berkharisma ketika bermain musik. Apalagi ketika berdansa. Tapi tetap saja tidak ada yang mengalahkan Kai.

Beberapa saat ketika mereka berdua tengah terdiam di ruangan itu. Chonsa belum mengeluarkan satu kata pun meskipun di dalam otaknya sudah banyak ribuan kata yang akan dilontarkan pada Sehun.

“Park Chonsa..” Akhirnya.

“Ya?”

“Ah, tidak..” jawab Sehun sambil tersenyum dan melayangkan pandangan ke arah lain.

Chonsa tertawa kecil. “Apa?” Yeoja itu mencolek-colek lengannya. “Sehun-ah~..”

“Aku hanya ingin menanyakan keadaanmu saja. Kau.. tidak sakit?” tanya Sehun dengan degupan di jantungnya yang semakin tidak normal. Napasnya pun terlihat tersendat seperti itu.

“Oh.. tidak, aku baik-baik saja. Hanya air. Setiap hari aku mandi menggunakan air asal kau tahu,” jawab Chonsa dengan tawa lagi.

Sehun tersenyum dan mengangguk beberapa kali sambil memencet piano dengan pelan.

“Ya~ kau berteman dekat dengan Shin Heera?” tanya Chonsa yang membuat Sehun sedikit tersentak.

“Hm. Wae?”

“Mengapa kau tidak mengenalkannya padaku?” tanya Chonsa bercanda.

“Salah sendiri kau meninggalkanku saat itu..”

“Haha! Itu momen yang berbeda. Aku pasti menjadi pengganggu.”

“Tidak ada pengganggu untukku,” ujar Sehun sambil menatap Chonsa dengan lembut.

Lagi-lagi yeoja itu merasakan hal yang sama ketika Chanyeol menatapnya seperti itu.

“Kau terlihat sangat cocok dengannya, Sehun-ah. Atau kalian sepasang kekasih?” tanya Chonsa yang sebenarnya dia tidak berniat membicarakan ini.

“Aku sahabatnya dan akan tetap seperti itu selamanya. Apalagi dia seorang artis. Manajemennya tidak akan memberikan ijin.”

“Jadi jika mereka memberikan ijin, kau akan menjadi kekasihnya?” goda Chonsa.

Sehun menghembuskan napas panjang sambil tersenyum. “Sudah kukatakan, aku hanya akan menjadi sahabatnya.”

“Kita lihat saja nanti..” ucap Chonsa dengan senyuman jahil.

“Sudah malam. Bagaimana kalau aku mengantarmu?” tawar Sehun. Jantungnya kembali berdetak cepat. Apalagi Chonsa tengah menatapnya seperti itu.

“Tidak perlu. Terimakasih..” ucap Chonsa sambil beralih merapikan kertas notnya ke dalam tas.

“Aku tidak ingin  ada seseorang yang melukaimu lagi..”

Mereka berdua terdiam. Apa yang mereka rasakan? Keduanya menatap satu sama lain dengan dalam.

Chonsa lebih dulu tersadar dan berdeham kecil. “Jangan mengkhawatirkanku. Aku sudah besar, Sehun..”

“Tapi—.”

“—Kajja! Sebelum penjaga sekolah menemukan kita..”

 

*

 

(Kai POV)

 

Sepertinya masih ada murid yang beraktifitas di dalam sana. Hm, ruang tutor? Ya, aku yakin pasti murid swc sedang membuat lagu di sana. Tapi siapa? Yang aku yakin pasti bukan Soona.

Apa harus aku melihatnya? Baiklah hanya sekedar melihat dan kembali ke dorm.

Kubuka pintu besar ini dengan perlahan. Sepertinya lebih dari satu orang. God..

Itu Oh Sehun dan anak baru itu. Ya, aku baru benar-benar yakin bahwa dia adalah anak baru yang menjadi bahan pembicaraan sekolah ini setelah Dio memperlihatkan foto gadis itu yang sudah sah menjadi murid SIAS, song writer and composser class.

Sepertinya mereka berdua terlihat sangat dekat. Apa setiap hari mereka bertemu di tempat ini? Setelah semua jam pelajaran selesai? Hanya berdua? Sespesial itukah?

Baiklah, mungkin ini menjadi kabar baik untukku karena Sehun tidak akan berada dekat dengan Heera. Tapi apakah masih ada kesempatan untukku untuk mendapatkan Heera? Haaah,  dia sudah terlalu jauh meninggalkan SIAS.

Oh Sehun. Pangeran SIAS. Usahamu mendekati banyak yeoja memang selalu berhasil. Sepertinya Park Chonsa menyukaimu. Selamat.

 

**

 

(Chonsa POV)

 

‘KYAAAAKYAAAKYAAAAA!!!’

HAIIISSSHHH ada ribut-ribut apa di luar? Puhlis, ini hari minggu dan aku ingin menikmati hari libur ini dengan baik. Tidur seharian.

TOKTOKTOK!! TING NONG TING NONG!!

“Park Chonsaa!!”

Hah? Suara siapa itu?

Dengan terpaksa aku bangkit dari tempat tidur dan  melangkah dengan enggan menuju pintu masuk.

Hah! Teriakan itu masih saja terdengar jelas.

“Oppa..” ucapku setelah membuka pintu dan mendapati Chanyeol oppa yang berdandan aneh pagi ini.

“Chonsa!!” serunya sambil menyerobot masuk dan menutup pintu dormku dengan cepat.

“Oppa! Apa yang kaulakukan? Mengapa sampai membuat keributan seperti ini di dorm wanita?!” tanyaku sambil menatap sosoknya yang kini menuju dapur, mencari gelas dan mengisinya dengan air mineral.

“Dormmu sangat rapih,” ujar Chanyeol oppa setelah menghabiskan minumannya dan tersenyum manis ke arahku. “Tapi pemiliknya benar-benar acak-acakkan..”

“MWO?!”

Hiah, aku lupa belum merapikan penampilanku. Bagaimana ini? Aku yakin Chanyeol oppa pasti ilfeel!

Dengan cepat aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang berada di samping dapur. Tapi sebelum aku benar-benar masuk ke dalam, aku merasakan satu tangan menarik lenganku.

Namja ini tersenyum. “Tidak perlu. Kau tetap terlihat cantik untukku..”

SIAAAALLL!! Apa yang dikatakannya? Oppaaaaa!! Jangan membuatku malu seperti iniii!!

“Kkotjimal!”

Aku hanya mendengar suara tawanya ketika aku sudah benar-benar masuk ke dalam kamar mandi. Hah, Chanyeol oppa benar-benar jahil.

 

 

“Lepas jaket tebalmu itu!” suruhku ketika dirinya masih menggunakan hoodie untuk menutupi kepalanya.

“Hah, penyamaranku gagal. Mengapa mereka masih saja mengenali wajah tampanku?” ucapnya sambil membuka hoodie dan merapikan rambutnya.

God..

Aku hanya memutar kedua bola mataku. Hahaha! Dia memang sangat lucu.

“Lain kali pakailah pakaian wanita.” Aku terkekeh dan duduk di sampingnya. “Ada perlu apa, Oppa?”

“Aku hanya ingin meminta sesuatu darimu,” jawab Chanyeol oppa sambil mengeluarkan selembar kertas.

“Mwoya igo?”

“Sonsaengnim kelas rap memberiku tugas untuk meminta salah satu lagu dari murid swc. Aku satu kelompok dengan Kai dan Oh Sehun. Apa kau bersedia membantuku, Nona?” tanya Chanyeol oppa sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.

Aku tersenyum. “Tentu saja. Kebetulan sekali aku sudah membuat satu lagu dan Sehun yang memainkannya kemarin. Itu lagu yang keren dan cocok untuk dijadikan rap yang mendominasi.”

Haha. Mengapa ekspresinya berubah seperti itu?

“Oh..”

“Hiyaaa, kau tampan sekali jika sedang kesal seperti ini!” seruku sambil memukul lengan kanannya.

“Oya? Apa aku harus selalu seperti ini agar kau menganggapku lebih tampan dari Oh Sehun?”

Aku tertawa keras dan memukul lengannya lebih bringas. Ya Tuhaaaaan, Chanyeol oppa benar-benar menggemaskan! Lihat mata bulatnya! Hahaha.

“Tidak perlu. Kau tetap terlihat tampan untukku.”

“Aigoooo!! Kau manjiplak kata-kata gombalku!” seru Chanyeol oppa yang langsung menyerangku dengan bantal sofa.

“HAHAHAHAHAHA!!”

Dengan sekuat tenaga aku menahan pukulan bantalnya yang terus menghantam wajahku. Sampai akhirnya dia lengah dan aku mendapatkan kedua bahunya lalu mendorong sampai Chanyeol oppa terbaring. Tapi aku tidak menyadari kalau kedua tangannya juga menarik pinggangku sampai menimpa tubunya.

Dengan perlahan aku melonggarkan genggaman jemariku di pundaknya ketika matanya menatapku dalam dengan jarak yang sangat dekat ini. Tuhan, Chanyeol oppa memang sangat tampan. Matanya benar-benar indah.

“Sudah puas?” tanyanya.

“Hm?” Aku benar-benar tidak mengerti.

“Sudah puas melihat wajahku dengan jarak dekat seperti ini? Aku tampan, bukan?”

TOENG~

Aku bangkit lalu menyerangnya dengan bantal beberapa kali.

“Sudah, aku lapar..”

Kudengar Chanyeol oppa kembali tertawa. Hiah, aku tidak peduli, Oppa! Kau sudah membuatku seperti ini beberapa kali.

Setelah selesai membuat cereal, aku menghampiri Chanyeol oppa yang tengah duduk berselonjoran di atas karpet, ruangan televisi.

“Cereal! Beri aku satu sendok saja. Aaaaa~.”

Okay, aku mengaduk cereal ini beberapa kali dan mengulurkan sesendok cereal ke dalam mulutnya.

“Oppa! Lihat sini!”

Chanyeol oppa tetap menetapkan pandangannya ke arah televisi yang tengah menayangkan pertandingan basket dengan mulut terbuka.

Aku mencoba memasukkan sendok ini ke dalam mulutnya. Tapi tiba-tiba..

“WOOHOOO THREE POINT!!”

“YAAAAAHH.. Tumpah..”

Chanyeol oppa menatapku dengan mata bulatnya. “Maafkan aku..” ucapnya sambil mengusap-usapkan susu yang membasahi jaketnya.

“Sudahlah, hanya satu sendok..”

Kini Chanyeol oppa membuka jaket putihnya yang ternodai susu coklat cerealku. Hah, parah.

“YA!! Kau tidak memakai kaus dalam!” Aku menutup kedua mataku rapat-rapat. Ah, Chanyeol oppa. Apa aku perlu meminjamkannya baju? Badannya besar, aku tidak mempunyai baju untuk ukurannya.

“Aku sudah biasa seperti ini..” ucapnya sambil merebut sendok yang kugunakan.

“Ya~..”

“Hm, enak,” ujarnya sambil mengunyah lalu tersenyum padaku.

Dengan otomatis aku ikut tersenyum dan mulai memakan cereal dengan wajar. Meskipun pemandangan topless di depanku sedikit mengganggu.

“Aku jemur saja di balkon. Bagaimana?”

“Ya, ide bagus. Bagaimana dengan nodanya?”

“Itu mudah..” jawabnya sambil bangkit dan berjalan menuju balkon.

“Oppa, kau ingin kubuatkan cereal? Sepertinya kau belum sarapan..”

“Sebenarnya aku sudah sarapan. Tapi menolak tawaran cereal spesial darimu? Itu tidak mungkin. Buatkan aku satu..” jawabnya lagi sambil tersenyum jahil.

Baiklah, aku berjalan ke arah dapur dan kembali membuat satu mangkuk cereal coklat.

TING NONG TING NONG!!

Hah, siapa lagi yang datang? Aku sedang membubuhkan susu ke dalam mangkuk ini.

“Biar aku saja..”

“YA! OPPA!! OPPA, ANDWAE!!”

Gawat.

Dengan cepat aku menyimpan kotak susu dan menyusul Chanyeol oppa yang kini sudah membuka pintu masuk dan banyak sekali yeoja yang melihatnya topless kali ini. Dan mengapa yeoja-yeoja itu mengumpul di depan dormku?!

“Laundry..” ucap seorang ahjumma yang biasa mengantarkan baju bersih ke kamarku dan juga kamar murid lainnya.

“Oh, Chonsa-ya. Laundry..” kata Chanyeol oppa.

Aku hanya mendesah panjang ketika dia masuk kembali ke dalam dormku dengan ekspresi ringan. Tidak peduli dengan puluhan yeoja yang tengah menatapmu, hah?

“Ah, terimakasih, Ahjumma..”

“Kekasihmu?”

“Oh! Bukan! Dia Park Chanyeol! Temanku..”

Ahjumma itu hanya mengangguk sambil tersenyum penuh arti padaku. Apa? Apa ada yang salah? Ya, karena keadaan Chanyeol oppa yang tidak wajar tiba-tiba keluar.

“Park Chanyeol.. Dia sangat populer, bukan?”

Aku hanya tersenyum masam.

Bisa kurasakan tatapan mata yang menyerangku. Kenapa? Kalian pasti cemburu karena seorang Park Chanyeol berada di dalam kamarku dalam keadaan topless. Huh, jika kalian berteman denganku, akan kuajak kalian masuk dan melihatnya sepuas kalian.

Kututup pintu dan kembali ke arah dapur. Tidak ada. Ya, aku tahu Chanyeol oppa sudah membuatnya sendiri dan kini aku melihatnya sudah kembali duduk di atas karpet dengan mangkuk cerealnya.

“Kau membunuhku, Oppa..” ujarku yang sudah berada di sampingnya dan kembali melanjutkan sarapan yang beberapakali tertunda.

“Karena keseksian absku?”

Aku kembali mendengus singkat sambil tersenyum. “Kau terlalu percaya diri. Mana mungkin hanya karena melihat absmu aku bisa terbunuh..”

Chanyeol oppa tertawa. “Lalu?”

“Setelah kau keluar dari dormku, para yeoja pasti menyerangku. Mereka juga pasti akan berpikiran yang tidak-tidak.”

“Oya?”

“Dan aku melihat teman sekelasku menatap sinis.”

“Nugu?”

“Kim Sera.”

“UHUKK!!!”

Dengan otomatis aku menepuk-nepuk pundaknya. Mengapa tiba-tiba dia terbatuk seperti ini?

“Kau kenapa, Oppa?”

“Tidak. Sepertinya aku tersedak,” jawab Chanyeol oppa sambil tersenyum dan kembali makan. “Chonsa, bagaimana kalau aku belajar mambuat lagu padamu?”

“Tidak masalah.”

“Jadi aku bisa datang kapan saja kemari?”

“Ya..”

“Yoohhooo!!” serunya.

Aku hanya tertawa.

 

*

 

(Author POV)

 

Chanyeol memanyunkan bibirnya.

“Mengapa kau selalu sensitif jika aku mengucapkan nama Sehun?” tanya Chonsa kekanakan sambil menenteng satu tas berisi kardigan Sehun yang sudah bersih.

“Apa kau selalu menyebutkan namaku di depannya?” tanya Chanyeol yang membuat Chonsa terkekeh.

“Untuk apa aku menyebut namamu di depannya?”

Chanyeol mendesah berlebihan sambil menatap Chonsa sayu. “Kau benar-benar membuatku sakit, Chonsa-ya~”

“Hahahaha! Kajja!”

Mereka sudah berada di asrama namja dan Chonsa sudah meminta Chanyeol untuk tidak usah menemaninya. Tapi Chanyeol tetap egois dan mengikuti yeoja itu kemanapun.

“Biar aku saja,” ucap Chanyeol dan membunyikan bel dorm Sehun. Chonsa tersenyum nyaris tertawa. Chanyeol benar-benar menghibur untuknya.

“Annyeong..” sapa Sehun dengan nada tinggi dan tiba-tiba merendah ketika matanya menemukan sosok Chonsa yang tengah tersenyum lebar ke arahnya.

“Oh Sehun!” sapa Chonsa riang.

“Park Chonsa..” ucap Sehun sambil tersenyum dan menatap kedua mata indah Chonsa siang ini.

“EHM!! Park Chanyeol!!” seru Chanyeol lalu sibuk berdeham. Chonsa kembali tertawa dibuatnya.

“Masuk!” ajak Sehun sambil membuka pintu dormnya lebar-lebar dan akhirnya dua orang itu masuk.

Senyum Chonsa melebar ketika melihat dorm Sehun yang sangat tertata dengan rapi.

“Oppa! Lihat! Seharusnya kau bisa merawat dorm seperti ini. Aku yakin keadaan dormmu kembali tidak terkontrol seperti waktu itu.”

Chanyeol memanyunkan bibirnya kesal sambil duduk di salah satu sofa biru sapphire yang sangat nyaman dan bersih.

“Kau sudah masuk ke dalam dormnya?” tanya Sehun yang tengah menyiapkan dua gelas minuman segar di dapur.

“Ya, tentu saja! Dan karena Chonsa adalah istriku, dia membantuku merapikan dorm.” Chanyeol mengambil alih Chonsa untuk menjawab pertanyaan Chanyeol.

Tapi reaksi Sehun hanya tertawa dan menyuguhkan dua gelas itu. Mungkin Chanyeol yang terlalu kekanakan.

“Kamsa, Sehun-ah..”

Chanyeol tetap memanyunkan bibir seperti itu dan menatap sebal ke arah Sehun. Bagaimana bisa dirinya yang lebih berkharisma kalah oleh namja seperti itu?

“Ah, Hyung. Apa kau sudah membicarakan tentang lagu itu?” tanya Sehun yang kali ini benar-benar tertuju pada Chanyeol.

“Ya. Dan kau sudah tahu lagu itu lebih dulu..”

“Sehun-ah! Libertango! Bagaimana?” ucap Chonsa lalu meneguk sodanya.

“Oh.. Aku masih mengingat bagaimana nada lagu itu.”

“Jinjja?!” tanya Chonsa dengan antusias. Chanyeol meneguk ludahnya bosan. Bisakah dia dianggap beberapa detik saja?

Dirinya mengetahui alasan mengapa kardigan Sehun bisa sampai di tangan Chonsa saja sudah cukup menyesakkan.

Chonsa kedinginan dan Sehun meminjamkan kardigannya dengan romantis? Haish.. Aku tidak kalah romantis ketika meminjamkannya jaket.

 

**

 

Chonsa tersenyum lebar melihat semua koleksi lagu-lagu yang telah dibuatnya selama satu minggu bersekolah di SIAS. Inspirasinya tidak pernah hilang selama dirinya mengunjungi ruang tutor dan bertemu dua namja yang dekat dengannya.

Suasana sekolah sudah sepi seperti biasa. Kakinya melangkah menuju ruang tutor, bersiap menulis lagu dan menunggu kedatangan Sehun yang selalu menemaninya.

Tiba-tiba kakinya berhenti. Kepalanya berputar ke arah koridor di mana kelas dansa terletak. Telinganya mendengar decitan sepatu. Sepertinya seseorang sedang berdansa.

Karena rasa penasarannya, Chonsa melangkah dengan perlahan dan melihat ke arah studio satu. Bibirnya tersenyum. Benar dugaannya. Pasti dia. Pasti Kai yang sedang menari.

Dirinya kembali tersihir melihat bagaimana cara Kai berdansa dan menyampaikan isi lagunya melewati ekspresi sempurna. Benar-benar seksi dan Chonsa sangat terpesona dibuatnya.

Sepuluh menit lebih sudah berlalu dan Chonsa tidak juga merubah sedikit pun posisinya.

Sampai akhirnya.. Kai terjatuh. Dirinya tersadar dan dengan cepat memasuki studio satu, menghampiri Kai yang tengah menggeram kesakitan sambil memegang kaki yang terkilir.

“Kai! Gwenchanayo?” tanya Chonsa sambil bertumpu di lutunya dan melihat pergelangan kaki Kai yang terkilir. “Pasti sakit. Haaah, mengapa kau tidak berhati-hati, hm?” tanya Chonsa kembali sambil bersiap menyentuh kaki Kai.

Tapi dengan cepat Kai menangkis tangan Chonsa yang terulur. “Nan gwenchana!” bentak Kai sambil berusaha berdiri walaupun sakit di kakinya terasa hebat.

“Kau yakin? Sepertinya kakimu membiru..”

“Keluar!” teriak Kai dengan keringatnya yang membasahi wajah dan lehernya sangat jelas.

“Aku bisa mengantarmu sampai dorm dan—.”

“KELUAR! Aku bisa meminta sahabatku!”

Chonsa hanya berdiri mematung sambil menatap Kai dengan lirih.

“TUNGGU APA LAGI?!”

 

TBC ;]

 

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @dearaflames NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

 

Advertisements

Tagged: , ,

One thought on “EXOtic’s Fiction “Pulchritude” – Part 3

  1. iea February 21, 2014 at 6:43 AM Reply

    lucu ngebayangin chanyeol cemburu sama sehun..:-)
    cuma kai dingin bgt..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: