EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 2

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Nimic”

 

 

*Title : Nimic.

*Sub Title : The Second – Am I Greedy?

*Main Cast :

  • Luhan
  • Han Soon-Na
  • Kim Je-Si

*Length : Series

*Genre : Romance, Friendship

*Rating : PG-13

*P.S : This is a story before Luhan joined EXO. In this story, Luhan melewati masa SMA-nya di Korea. Sebelum akhir-nya ke China dan kembali lagi Korea. Tulisan miring tidak berwarna adalah masa lalu.

*Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

Summary :

No one care about me except you.

We grew up together.

Cry together.

Laugh together.

I just want be like this forever.

Until I realized that we cant be like this forever.

Cause I believe, slow but sure.

I’ll be Nimic for you.

Nothing.

**

We grew up together.

Having you in my side.

Protect you.

Loving you without answer.

That’s all like I wanna do until the rest of my life.

But I realized that I am, Nimic for you.

Nothing.

**

Three of us met by fate.

Three of us are best friend.

But actually, I realized that I’m Nimic for you two.

May be im just passing by person in your memories.

I just make everything more complicated.

I should not be born in this world.

Nothing.

**

“Hanhan-a?”

Luhan mengalihkan pandangan matanya dari jendela kearah suara itu berasal, Luhan tersenyum ketika mendapati Soon-na sudah bangun dari tidurnya. Ia merapikan rambut Soon-na yang sedikit berantakan, “Kamu ingin sesuatu?”

“Aku ingin minum.” ujar Soon-na dengan suara serak. Luhan dengan cepat melepaskan tautan tangan antara dirinya dan Soon-na, ia berdiri dan mengambil botol besar air mineral dan menuangkan pelan-pelan isinya kedalam gelas kaca. Namun entah apa yang ia pikirkan, air itu tumpah karena sudah terlalu penuh. Bahkan Luhan sama sekali tidak menyadarinya.

“Hanhan-a! Air-nya sudah penuh!”

Luhan terbangun dari lamunannya dan dengan cepat menutup botol itu dan kelabakan mencari tissiu untuk membersihkan kekacauan yang ia buat.

Dengan gugup, Luhan membawa gelas kaca itu dan memasukkan sedotan kedalamnya supaya Soon-na bisa meminumnya lebih mudah, Soon-na menyedot air itu dalam diam. Ia menatap mata Luhan yang kosong. Tidak biasanya pria itu seperti ini.

Setelah selesai, Luhan meletakkan gelas itu diatas meja disebelah tempat tidur dan kembali menatap Soon-na. “Sekarang jam berapa?”

Luhan terlihat linglung beberapa saat sebelum ia melihat jam tangannya sendiri, “Sudah jam 3. Bel sekolah baru saja berbunyi beberapa saat yang lalu.”

“Ada apa denganku?” tanya Soon-na masih dengan suara yang serak. Luhan tersenyum dan mengusap pipi gadis itu lembut, “Kamu hanya kecapekan. Kamu harus menjaga tubuhmu sendiri dan berhentilah bekerja untuk Je-si, Na~ya. Tubuhmu itu lemah.”

“Berhentilah memaksaku seperti itu, Hanhan-a. Je-si membutuhkanku, kamu tau itu. Lagipula kemarin Je-si sudah mengantarku pulang. Aku saja yang lebih memilih untuk mengerjakan project sekolah yang sebenarnya masih bisa kukerjakkan hari ini. Kemarin aku belum mengantuk.” jawab Soon-na. Luhan membulatkan matanya kaget, “Tapi tadi pagi ketika aku menjemputmu, kamu tertidur diatas meja belajarmu sementara laptopmu terbuka untuk membalas email serta folder dress-dress. Kamu tidak usah berbohong padaku.”

“Aku hanya membukanya sebentar sesaat sebelum aku ketiduran, Hanhan-a. Berhentilah berpikiran buruk tentang pekerjaanku.”

Luhan membungkam mulutnya rapat-rapat ketika Soon-na berhenti berbicara. Ia merasa jiwanya keluar dari raganya. Perasaaan bersalah mendominasi tubuhnya.

Soon-na meraba kantong didalam vest-nya dan mendapati handphone-nya, ia membuka-nya perlahan dan terkejut ketika mendapati banyak sekali notification disana. Handphone itu sebenarnya bukan miliknya, milik Je-si seharusnya. Gadis itu memberikannya secara cuma-cuma pada Soon-na dengan alasan asistennya harus canggih. Ia tersenyum ketika mengingat memori itu, hanya saja senyumnya pudar ketika mendapati message dari Mike.

“Hanhan-a!”

Luhan terbangun lagi dari lamunannya dan menatap bingung Soon-na yang panik, gadis itu memaksa tubuhnya sendiri untuk bangun dari tidurnya dan turun dari kasur. “Ada apa, Na~ya?”

“Kamu harus menemaniku kesuatu tempat sekarang!” teriak Soon-na lebih ke menjerit sambil terburu-buru menggunakan sepatu-nya kemudian menggunakan kacamatanya dan berdiri dengan tegaknya diatas lantai. Luhan segera saja memegang bahu gadis itu, membiarkan sedikit waktu untuk tubuh gadis itu untuk beradaptasi.

“Tenanglah, Na~ya! Ada apa? Pelan-pelan jelaskan padaku, kita sekarang mau kemana?” ujar Luhan dengan nada yang lembut dan menatap kedua bola mata Soon-na yang tidak tenang.

“Kita ke rumah sakit!” ujar Soon-na balas menatap Luhan. Luhan tidak pernah melihat Soon-na sepanik ini. Soon-na biasanya tenang dan bahkan tidak pernah peduli apapun kecuali itu sangat penting.

“Ada apa dirumah sakit?” tanya Luhan. Namun Soon-na menpis tangan pria itu dari bahunya dan berjalan dengan sekuat tenaga keluar ruang UKS sekalipun kaki-nya belum cukup kuat. Luhan menarik lengan gadis itu sehingga Soon-na berbalik menatapnya. Luhan diam tapi Soon-na mengerti tatapan tanya Luhan, “Kita harus cepat ke rumah sakit. Je-si masuk kerumah sakit tadi siang.”

Seketika itu juga cengkeraman Luhan dilengan Soon-na mengendur membiarkan gadis itu pergi, ia masih terdiam. Bingung harus berbuat apa. Ia tidak pernah merasa bersalah seperti ini. Gadis itu masuk rumah sakit pasti karena dirinya.

**

Je-si masih tertawa keras sebelum pintu kamar ruang VVIP itu tergeser dan ia bisa melihat wajah Soon-na muncul disana. Ia tersenyum manis, tapi sesaat sempat luntur ketika melihat Luhan menyusul dibelakang sahabatnya itu.

“Ada apa denganmu?”

“Aa.. Eng..”

“Dia itu..” Je-si dengan cepat bangun dan menutup mulut Mike rapat-rapat, membuat pria tampan itu mendelik tajam kearahnya membuat Soon-na maupun Luhan menatap mereka berdua bingung.

“Aku.. Cuma kecapekan! Bagaimana denganmu? Kamu tadi juga pingsan, kan? Kenapa kita sehati sekali sih, Soon-na-ya?”

Mike berdiri dan menatap Soon-na bingung, “Oh my, kamu juga pingsan, babe? How that thing could happen?”

Luhan maju selangkah, memperlihatkan wajah tidak sukanya pada Mike. Mike mengalihkan pandangannya pada Luhan dan tersenyum, “Who is this? Neo namja, Soon-na-ya?”

Je-si menatap mereka bertiga, sesuatu dalam hatinya bergemuruh. Ia hanya diam dan perlahan mulai masuk kedalam selimutnya, memukul dada-nya pelan.

“Ani-o. Ini Luhan, sahabat dari kecilku, Mike!” ujar Soon-na cepat diiringi bungkukkan sopan Luhan disebelahnya. “Ohya? Namaku Mike, aku manager Je-si. Luhan-sshi, kamu tipe ideal-ku! Astaga!”

Luhan menaikkan alisnya bingung sementara Soon-na terkikik disampingnya, “Mike ini.. Gay”

 

Mulut Luhan perlahan terbuka seolah menyatakan ia tidak percaya sementara Mike dan Soon-na terus tertawa. Mike duluan yang meraih tangan Soon-na dan menariknya mendekat kearah kasur Je-Si. “Je-si-a, apakah kamu tidur?”

Je-si tidak bersuara sehingga Soon-na menatap Mike bingung, baru saja Soon-na hendak menarik selimut yang menutupi kepala Je-si tapi Je-si sudah membuka selimut itu sendiri dan tersenyum cerah, “Kalian terlalu berisik! Aku kan ingin beristirahat!” ucap Je-si sambil memanyunkan mulutnya. Mau tidak mau membuat Soon-na menyeburkan tawa melihat tingkah manja temannya itu.

Luhan dibelakang menatap Je-si sebal. Tanpa menggunakan kacamata apapun, ia seolah tau kalau senyum yang diberikan gadis itu adalah palsu. “Hanhan-a, mendekatlah!”

Luhan maju secara otomatis, Je-si memberikan senyum padanya. “Aigoo.. Aku bahagia sekali dijenguk oleh pasangan jenius di sekolahku. Tau tidak, aku fans kalian!”

“Pasangan jenius?” ucap Mike membeo, Je-si hanya menganguk sebagai jawabannya.

Je-si meraih tangan Soon-na, “Aku sudah baikkan, sungguh. Kamu dan Luhan pulanglah bersama dengan Mike. Lebih aman. Hari sudah sore sekali, aku tidak ingin kamu masuk angin karena angin malam.”

Hati Luhan memanas seketika, ia terlalu berlebihan menyalahkan wanita itu. Nyatanya, Je-si lah yang paling memperhatikan sahabatnya itu. “Soon-na-a, pulanglah bersama Mike-sshi. Aku akan pulang sendiri menggunakan sepeda.”

“Tapi..”

“Tidak ada tapi-tapi-an!” ucap Je-si dan Luhan secara bersamaan. Soon-na tertawa, pada akhirnya menganguk, “Baiklah, aku akan pulang. Mike, ayo pulang. Aku sudah diusir dari sini!”

“Soon-na-ya, aku tidak bermaksud begitu.” ujar Je-si dengan nada bersalah. Namun Soon-na menganguk megerti, “Aku tau kok kamu mengkhwatirkan aku, aku pulang ya. Kamu harus cepat sembuh, Je-si-a.” ucap Soon-na ketika mencapai mulut pintu, ia melambaikan tangannya lalu bersama Mike hilang dari pandangan Je-si.

Seketika itu juga atmosfer diruangan itu berubah. Je-si masuk kedalam selimutnya dan menutup kepalanya. Luhan menghembuskan nafas berat ketika melihat Je-si seperti itu. “Luhan-sshi, kamu bisa pulang sekarang.”

“Maaf.”

Tidak ada respon apapun dari Je-si, gadis itu masih membungkam mulutnya rapat-rapat. “Maafkan aku karena begitu keterlaluan. Aku bahkan tidak mempedulikan keadaanmu sama sekali. Tidak membiarkanmu berbicara sedikitpun.”

“Kamu tidak usah minta maaf, Luhan-sshi. Karena dari awal aku lah yang sok dekat padamu. Aku selalu menyusahkanmu, menganggapmu seperti sahabatku sendiri. Kamu tidak usah merasa bersalah pada orang asing, kamu tidak punya kewajiban apapun untuk mendengar penjelasanku. Tapi sekarang kamu juga tidak punya hak berada diruangan ini karena kamu adalah orang asing bagiku.”

“Je-si-a, jangan seperti itu.” ucap Luhan lalu duduk dikursi sebelah tempat tidur Je-si. “Jangan seperti ini juga, Luhan-sshi. Jangan terlalu baik padaku. Kamu hanya sahabat dari sahabatku. Bukan berarti kamu juga sahabatku. Aku tidak ingin kamu berada disini.”

Luhan tanpa sadar memegang lengan Je-si seolah memaksa gadis itu melihatnya, tapi ia justru mendengar ringisan gadis itu dari dalam selimut. Luhan kembali menarik napas, “Je-si-a, kamu seperti ini karenaku. Aku punya tanggung jawab untuk merawatmu.”

Je-si mendorong selimut itu dan bangkit dari tempat tidurnya, ia menatap Luhan gusar. “Luhan-sshi. Tolong jangan seperti ini. Ini semua tidak ada sangkut pautnya denganmu. Aku masuk kedalam rumah sakit karena kelelahan. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri!”

Luhan hendak berdiri, menyamakan tinggi-nya dengan gadis itu sampai ia tidak sadar menyenggol sesuatu dan beberapa berkas jatuh ke lantai, ia membiarkan gadis itu mengatur emosi-nya sendiri sementara tangannya memunguti kertas yang jatuh itu. Tapi tanpa sadar mata Luhan mendapati sesuatu yang membuatnya terkesiap, “Kamu tidak hanya kelelahan, Je-si-a!” teriak Luhan membuat Je-si terkesiap, ia menatap Luhan yang gusar sambil meletakkan berkas-berkas itu kembali ke meja. Je-si baru saja menyadari bahwa Luhan melihat data record kesehatannya dan kembali merutuki diri.

“Kamu lemah jantung, kan? Bagaimana aku bisa meneriaki kamu yang sudah lelah? Aku memperburuk kerja jantungmu.”

“Berhentilah, Luhan-a. Kamu tidak ada hubungannya. Tolonglah, anggap kamu tidak pernah berkenalan denganku. Tidak pernah melihat data recordku. Kita bisa berpura-pura akrab didepan Soon-na. Tapi tolong, jangan dekati aku lagi.” ujar Je-si dingin. Matanya memanas dan Luhan bisa melihatnya dengan jelas namun ia tidak mengindahkan kata-kata Je-si yang memaksanya pergi.

“Kembalilah dan jaga sahabatmu saja. Aku tidak butuh kamu. Aku punya banyak orang yang mengkhawatirkanku, tapi tidak sama dengan halnya Soon-na. Ia hanya punya kamu, dan aku tidak berniat menambah bebanmu sedikitpun.”

“Je-si-a, berhentilah berkata seperti itu.” gumam Luhan pelan sambil menuntun Je-si kembali merebahkan diri diatas tempat tidur. Ia terkesiap ketika gadis itu mengangkat tangannya sendiri dan menutup matanya, Luhan tau kalau gadis itu menangis. Air mata jelas-jelas turun mengalir dipipinya..

Seketika itu juga Luhan menarik tubuh Je-si kembali berdiri dan memaksa gadis itu untuk masuk kedalam pelukannya. Je-si tidak tau harus berkata apa. Ia tidak membalas pelukan Luhan, ia hanya membiarkan pria itu mengelus-elus kepalanya sambil terus berbisik, “Maaf..”

**

Luhan menarik selimut Je-si sehingga menutupi leher gadis itu. Mata Je-si sudah tertutup, tapi ia tau gadis itu belum tidur. Gadis itu hanya pura-pura tidur supaya Luhan cepat meninggalkannya. Luhan merapikan anak rambut Je-si perlahan sebelum duduk dan memandangi wajah gadis itu dengan dekat. Ia sendiri tidak sadar ketika mendapati dirinya sendiri tersenyum memandangi gadis itu.

Tangan Luhan masuk kedalam selimut seolah mencari sesuatu, Je-si masih terus diam ketika Luhan menarik tangannya keluar dan menggenggam-nya erat. Hangat merasuk tubuhnya kuat-kuat membuat Je-si tanpa sadar tersenyum.

Luhan merebahkan kepalanya diatas tempat tidur, membiarkan dirinya lebih leluasa menatap Je-si sambil dalam posisi tidur. Ia sendiri mulai bergumam dan menyanyi tidak jelas. Je-si merasa nyaman luar biasa.

“Kamu sudah seperti adikku sendiri. So please don’t cry.”

Je-si masih bisa mendengar bisikkan tidak jelas Luhan sebelum kehilangan kesadaran. Ia bahkan sempat sekali menitikkan air mata, menunjukkan sesuatu dalam hatinya berteriak sakit tanpa sedikitpun membuat Luhan sadar akan hal itu karena akhirnya mereka berdua tertidur.

**

“Luhan-a, pulang lah.”

Luhan membuka matanya perlahan dan berkas-berkas cahaya masuk dan juga menusuk matanya yang belum terbiasa. Ia merasa asing dengan suasana serba putih sebelum otaknya bekerja. Namun tak lama ia menyadari kalau dirinya ada dirumah sakit, ia baru sadar kalau ia menemani Je-si dari malam sebelum akhirnya ketiduran karena terlalu  lelah.

Luhan mengangkat tangan kanannya dan menyentuhkannya dikening Je-si dan mengucap syukur dalam hati karena gadis itu tidak panas dan bahkan raut wajahnya sudah mulai membaik. “Luhan-a, bisakah kamu melepaskan genggaman tanganmu?”

Luhan awalnya tidak mengerti, tapi akhirnya ia sadar kalau ternyata dari tadi malam, ia menggenggam tangan gadis itu. Ia dengan cepat melepaskan tangannya dan melihat jam tangan. Jarum pendek menunjukkan pukul 7 pagi. Luhan juga baru sadar kalau hari ini adalah hari minggu. Dan ia benar-benar lupa kegiatannya dihari minggu, menghabiskan waktu seharian bersama Soon-na.

“Pergilah, aku tidak membutuhkanmu. Mike dan butler-ku mungkin akan datang sebentar lagi.” ucap Je-si sambil tersenyum. Luhan tau kalau Je-si berasal dari keluarga kaya, sama seperti dirinya. Hanya saja Luhan dan Je-si sama-sama memilih untuk menjadi anak yang terlihat biasa-biasa saja didepan publik, kecuali kenyataan Je-si tetap harus tetap diantar-jemput dengan supir pribadi atau manager-nya.

Luhan tersenyum lalu berdiri, “Baiklah, aku akan menjengukmu lagi nanti bersama Soon-na. Aku pulang dulu.”

Je-si tersenyum dan melambaikan tangan sampai bayangan Luhan sudah tak terlihat lagi. Ia kembali masuk kedalam selimut, merutuki dadanya yang terasa lebih sakit. Kenapa ia harus begini? Padahal beberapa hari yang lalu sakitnya tidak semenyakitkan ini. Padahal ia ingat dengan jelas minggu lalu Soon-na menolak ajakkan jalannya karena Soon-na harus menghabiskan setiap akhir pekan bersama Luhan. Ia masih ingat dengan jelas kalau perasaannya tidak semenyakitkan ini. Dan ia menyesal membiarkan perasaannya bertumbuh semenyakitkan ini.

**

“Hanhan-a, tumben kamu telat datang. Sudah makan?”

Luhan menutup pintu pelan-pelan lalu menghampiri Soon-na yang entah sejak kapan sedang berdiri didapur. Luhan tidak menjawabnya dan lebih memilih untuk duduk di atas meja yang hanya mempunyai 2 kursi berhadapan. Kursi yang Luhan dan Soon-na buat bersama-sama. Karena itu banyak sekali ukiran memori mereka berdua. “Handphone-mu mati tadi malam. Aku tidak bisa menghubungi-mu tadi malam.”

Luhan terkesiap lalu dengan cepat merogoh handphone yang ada didalam kantongnya. Tak lama ia menunjukan tampang bodohnya sambil tersenyum tak jelas, “Aa, mianhae. Handphone-ku habis batrei.”

“Pulang jam berapa tadi malam? Kok sepertinya kamu kekurangan tidur?”

Aish.. Aku harus jawab apa? Masa aku bilang kalau aku bermalam di rumah sakit? Aku bahkan kebanyakan tidur dan bukannya kekurangan. Aku cuma sakit punggung dan juga kelelahan karena buru-buru pulang mandi dan ke tempat Soon-na.

 

“Aku cuma berbicara sebentar bersama Je-si lalu pulang. Aku tidur banyak sekali kok, saking banyaknya aku sampai bangun telat tadi dan buru-buru!” ujar Luhan senang sambil berdiri dan mendekati Soon-na, “Apa yang kamu masak? Tumben sekali?”

Soon-na membuka mangkok dan terlihat sup jagung disana. Perut Luhan pun berbunyi seolah menunjukkan betapa laparnya diikuti tawa Soon-na, “Kamu boleh makan, Hanhan-a. Tapi kamu harus menyisahkannya untuk Je-si juga.”

“Kita akan mengunjungi-nya? Bukankah ia baik-baik saja?”

“Tapi ia belum begitu sehat kemarin, Hanhan-a. Kamu sendiri melihatnya, kan? Lagipula aku juga belum menghubungi-nya hari ini.” jawab Soon-na sambil mengambil sarung tangan dan mengangkat pelan-pelan panci itu ke meja makan. Lalu dengan cekatan Luhan mengambil mangkok dan juga sumpit beserta sendok lalu menata rapi peralatan itu diatas meja. Soon-na tersenyum dibelakang Luhan sambil membawa 2 mangkok berisi nasi. Ketika selesai menata breakfast mereka, Luhan dan Soon-na duduk berhadapan. Tangan Luhan terulur secara otomatis untuk memegang dahi Soon-na membuat gadis itu tersentak kaget, “Syukurlah kamu sudah tidak demam lagi.”

Soon-na tersenyum lalu menjauhkan tangan Luhan dari dahinya dan mengalihkan perhatiannya ke sendok sup dan mengisi sup kedalam mangkok Luhan, “Tentu saja aku baik-baik saja. Kamu ingin aku sakit terus, begitu?”

“Tentu saja tidak. Dan.. Astaga, Na~ya. Sup ini enak sekali!” teriak Luhan bahagia. Dengan lahap pria itu menyendokkan sup itu kedalam mulutnya. Sesekali ia menutup matanya seolah menikmati seberapa nikmatnya sup itu didalam mulutnya. Soon-na hanya mengacak-ngacak rambut pria itu pelan ketika ia tidak tahan melihat seberapa lucu-nya pria itu.

“Ohya, hanhan-a…”

Luhan meletakkan sumpit dan sendok yang ia pegang lalu kemudian menatap Soon-na. Seolah menunjukkan perhatiannya hanya tertuju pada Soon-na walaupun sesekali masih mengunyah nasi yang penuh dalam mulutnya.

“Aku tidak tau kalau kamu dekat dengan Je-si,”

Luhan tiba-tiba saja tersedak, tapi ia kemudian bisa mengendalikan dirinya. Ia berusaha untuk mengunyah pelan-pelan nasi dalam mulutnya sambil menunggu Soon-na yang sempat berhenti berbicara, “Tapi aku senang. Aku senang karena kedua sahabatku bisa akrab.” lanjut Soon-na sambil menyuapkan sup jagung itu kedalam mulutnya dan tanpa sadar melihat Luhan bernapas lega yang entah mengapa membuat sesuatu dalam hatinya terasa janggal. Ia merasakan ada sesuatu yang ditutupi pria itu. Apapun itu, ia akan menunggu sampai pria itu sendiri yang memberi tau. Kecuali nantinya gadis itu tau sendiri suatu saat.

**

“Hanhan-a, ambilkan apel beberapa. Aku masih harus mengambil beberapa pear.”

Luhan memberhentikan kereta belanjaannya lalu berdiam sesaat, Soon-na yang tadinya sibuk memilih pear berhenti sesaat untuk melihat Luhan yang tidak beraksi, “Ada apa?”

“Dia tidak suka apel.” gumam Luhan tapi tetap dapat didengar Soon-na. Alis gadis itu terangkat, seolah bertanya-tanya dalam hati.

Bagaimana Luhan bisa tau kesukaan Je-si sedangkan aku sendiri saja nyaris tidak pernah makan bareng bersama Je-si selain sepulang kerja? Aku bahkan tidak pernah mengajak mereka makan bersama.

“Ohya? Kalau begitu ambilkan buah apa ya?”

Luhan terlihat berpikir sebentar lalu meninggalkan Soon-na yang bingung ditempatnya. Beberapa saat kemudian Luhan kembali membawa sebuah semangka merah yang sudah dipotong dan juga  dibungkus, “Untuk apa kamu mengambil itu?”

“Gadis itu suka sekali makan semangka sekalipun sekarang bukan musim panas,” ucap Luhan sambil meletakkan semangka itu hati-hati kedalam kereta belanjaan.

Luhan berbalik dan mendapati tatapan tanya Soon-na yang tiba-tiba saja membuat-nya gugup harus berkata apa. Tak lama ia hanya mengusap tengkuknya sambil nyengir bodoh, “Aku baca itu di majalah!” kata Luhan seolah menjawab pertanyaan Soon-na. Gadis itu hanya tersenyum sambil dalam diam mulai memilih pear lagi. Ia tidak berniat untuk berdebat apapun. Lagipula sudah seperti aturan tidak tertulis bagi Luhan dan Soon-na untuk tidak saling bermarahan di hari liburan. Sebenarnya tanpa ditulis pun, mereka bisa menghitung berapa kali mereka marahan seumur hidup persahabatan mereka.

**

“Sudah selesai makan?”

 

Luhan melihat gadis itu menganguk sambil menutup botol mineral-nya dan tersenyum melihat Luhan, “Gamsahamnida!”

 

“Kamu bisa berbicara un-formal padaku.”

 

“Ne, Gumowo!”

 

Gadis itu tersenyum cerah sambil menutup kotak bekal itu dan memberikannya pada Luhan. Pria itu tersenyum beberapa saat lalu menoleh kesamping dan mengeluarkan kotak bekal lainnya membuat gadis itu terpekik, “Kamu tidak akan menyuruhku untuk makan lagi, kan?” tanya gadis itu takut-takut. Luhan hanya tertawa lalu membuka kotak bekal itu.

 

Mata gadis itu membulat lalu tiba-tiba saja mengeluarkan ekspresi mual, “Tidak mau! Aku tidak suka apel!”

 

“Mwo? Kenapa?”

 

“Aku hanya tidak suka. Tutup saja kotak bekal-nya. Lain kali kalau kamu membawa semangka, baru aku akan memakannya!” teriak gadis itu senang lalu beranjak dari tempat duduknya dan merentangkan tangannya lebar-lebar.

 

Luhan dengan sebal menutup kotak bekal itu dan memasukkannya kedalam tas bekal, ia mengikuti gadis itu berdiri dan kemudian tak lama sudah berada disampingnya, “Kenapa semangka?”

 

Gadis itu menoleh kearahnya dan tersenyum penuh arti, “Aku akan memakan banyak sekali semangka walaupun bukan musim panas. Semangka itu banyak terkandung air, bagus untuk aku yang mudah sekali dehedrasi!”

 

“Lain kali akan kubawakan,”

Gadis itu menatap Luhan tak percaya tapi kemudian tersenyum, “Baiklah! Kupegang janjimu!”

 

Tanpa sadar Luhan mengangkat tangan untuk mengacak rambut gadis itu membiarkan gadis itu tak lama lagi menggelembungkan pipinya. Menjalankan aksi protes-nya.

 

**

 

“Hanhan-a! Aku benci sekali semangka”

 

Pria kecil itu hanya mengedip-ngedipkan matanya bingung menatap gadis mungil yang cantik dihadapannya, “Wae?”

 

“Tidak ada rasanya. Hambar sekali!” gerutu gadis kecil itu sambil memeletkan lidahnya seolah menunjukkan ketidaksukaannya.

 

Pria kecil itu mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan mulut gadis kecil itu pelan-pelan, “Arraseo, aku tidak akan membelikanmu lagi. Apa yang kamu sukai, Na~ya?”

 

“Apel! Tentu saja apel! Karena apel juga mempertemukan kita berdua, hanhan-a!” ucap gadis kecil itu riang sambil memeluk pria kecil itu. Mereka berdua tersenyum riang sambil menikmati bangku ayun yang terayun pelan di pekarangan rumah, sama-sama menikmati angin yang berhembus pelan.

 

**

 

“Andwe! Kamu tidak boleh keluar sekarang! Kamu belum stabil! YAK!!”

Luhan melirik Soon-na yang berdiri disampingnya. Baru saja akan membuka pintu kamar Je-si, suara cempreng-berat dari dalam kamar itu menghentikan Luhan untuk menggeser pintu tersebut.

“Noona-ya. Neo!”

“Mwo? Tidak ada gunanya kamu membujukku. Pulanglah, anak kecil!”

Tiba-tiba saja pintu terbuka dan membuat Luhan serta Soon-na termundur karena kaget, seorang pemuda setinggi telinga Luhan tampak disana dengan ekspresi kesal luar biasa. Pemuda itu juga kaget ketika melihat Luhan serta Soon-na disana, tapi ia hanya berdeham sebentar lalu melirik Je-si dibelakangnya yang juga menampakkan ekspresi kaget.

“Aish, aku tidak akan peduli lagi padamu, noona-ya!!” umpat pemuda itu lalu menubruk Luhan dan menghilang dengan begitu cepat. Je-si tersenyum kikuk lalu menghampiri Luhan dan Soon-na, “Kalian ada apa datang kesini?”

“Kami ingin menjenguk-mu, Je-si-a!”

“Jongmal? Aku akan segera keluar rumah sakit sekarang,” ujar Je-si ringan sambil duduk diatas kasur rumah sakit VVIP-nya yang lebih seperti terlihat kasur super nyaman berukuran king size.

Luhan meletakkan tas bekal dan juga buah-buah-an diatas meja sementara Soon-na menghampiri gadis itu dan menjitak kepalanya, “Yak! Beristirahatlah! Setidaknya pulang besok, sehingga sup jagung yang kumasak tidak sia-sia!”

“Kamu berharap aku tidak pulang?”

“Kamu istirahatlah dulu daripada kesehatan-mu memburuk, Je-si-a!”

Je-si menggelembungkan pipi-nya, “Andwe! Bagaimana kalau wartawan tau nantinya?”

Luhan memutar bola matanya sebal lalu menghampiri gadis itu sambil membawakan Je-si potongan semangka, “Lebih baik! Daripada kamu pingsan ditengah show dan akan merepotkan Soon-na! Sekarang kembali tidur dan makanlah!”

Je-si menurut saja ketika ia melihat potongan semangka dimangkok yang diberikan Luhan, perlahan ia naik keatas kasur dan menarik selimut sampai menutupi pahanya dan mulai memakan semangka itu.

“Aaaa mashita! Kamu masih ingat dengan janjimu, Luhan-a!”

Soon-na melirik kearah Luhan yang tadi sibuk dengan Sup Jagung bersamanya, pria itu terlihat gugup tanpa sebab. “Terima kasih karena kalian sudah menjengukku!”

“Tadi siapa?” tanya Luhan mengalihkan pembicaraan. Ia membantu Soon-na untuk membawakan segelas air mineral dan menatanya diatas meja pasien dihadapan Je-si. Je-si berhenti mengunyah lalu dengan malas menarik napas. Beberap detik kemudian, Je-si kembali mengunyah dan semua terdiam menunggu jawaban gadis itu.

“Eng.. Ada lah! Seorang anak kecil yang menyebalkan!”

“Anak kecil? Ia tidak terlihat seperti anak kecil, Je-si-a!”

“Ia lebih muda 4 tahun dari kita, Soon-na-ya! Dia anak kecil! Aish, berhentilah membicarakannya! Dia itu menyebalkan sekali! Apa hak-nya mengaturku? Jelas sekali ia hanya disuruh menjengukku, dia tidak ada sama sekali hak untuk mencegahku untuk tetap tinggal di rumah sakit ini!”

“Tapi ia benar, Je-si-a. Anak itu tau kalau kamu tidak akan hidup benar di apartemenmu sendirian.”

Tiba-tiba saja Je-si tersedak dan dengan sigap Luhan sedikit mendorong Soon-na kebelakang dan memberikan gadis itu air mineral, Soon-na meringis pelan ketika merasakan nyeri dibahu kirinya tapi ia tidak protes. Atau lebih tepatnya tidak tau harus berkata apa.

“Makanlah yang pelan. Kamu mengatai orang anak kecil, tapi kamu sendiri lebih manja dan terlihat seperti anak kecil. Istirahatlah yang benar jika kamu memang model profesional!”

Soon-na maupun Je-si membulatkan matanya tidak percaya mendengar suara tinggi Luhan, Soon-na menepuk bahu Luhan pelan sehingga pria itu akhirnya sadar dari ketidakmampuannya menjaga emosi.

Je-si berdeham sebentar, “Ara, aku akan menginap disini lagi. Kalian puas, kan?”

**

Luhan mengayuh sepeda-nya lebih lembat ketika mereka berdua melewati Sungai Han. Soon-na mengeratkan pelukannya dipinggang Luhan karena merasa kedinginan.

Memori lama seolah masuk kedalam pikiran mereka tanpa izin. Tanpa sadar keduanya tersenyum membayangkan.

“Na~ya, aku tidak menghitung berapa kali kita berdua melihat sunset. Tapi kenapa selalu indah, ya?”

“Tidak ada yang tidak indah, Hanhan-a. Kita hanya perlu waktu menunggu-nya. Sama seperti sunset, kita harus menunggu-nya seharian untuk melihatnya.” ucap Soon-na tanpa melepaskan pelukannya walaupun sepeda Luhan terhenti. Mereka berdua menikmati sore itu lebih lama di Sungai Han.

“Hanhan-a..”

“Ehm?”

“Aku tidak pernah melihatmu semarah itu.”

Hanya perasaanku saja, atau.. Kamu memang memperlakukannya istimewa, Hanhan-a?

Kamu tidak pernah semarah itu padaku saatkhawatir. Aku tidak marah. Aku hanya.. Tidak suka.

Luhan terkesiap, Soon-na tau hal itu. “Tapi jangan terlalu keras pada Je-si, Hanhan-a,”

Soon-na terdiam beberapa saat, “Ia memang selalu manja.”

Luhan tersenyum, “Ara. Tapi sesekali ia memang harus dibegitukan, Na~ya. Ia akan semakin manja jika dibiarkan terus.”

Soon-na menganguk didalam pelukan Luhan, lalu beberapa detik kemudian Luhan sudah kembali mengayuh pedal sepeda meninggalkan Sungai Han yang menjadi semakin dingin.

Tetaplah berada dipelukanku seperti ini, Hanhan-a.

Aku tidak punya siapapun lagi selain kamu.

Aku memang egois, tapi hanya dalam ini saja.

Kumohon.

**

Soon-na menatap pria dihadapannya dengan muka sebal. Pria itu memang asli orang korea, hanya saja tampang sombong dan menyebalkan ala orang barat yang membuatnya kesal. Lebih kesal lagi ketika pria itu hanya bisa tersenyum penuh arti padanya ketika Jung Sonsaengnim berbicara padanya disebelah pria itu, “Soon-na, kamu memang murid sonsaengnim yang paling hebat. Hanya saja, bisakah kamu membantu sonsaengnim kali ini?”

Kening Soon-na berkerut bingung sehingga ia menganguk melihat seberapa menderita bapak setengah baya dihadapannya itu, “Kamu tau, Soon-na? Murid Oh ini sangat kurang dalam materi bapak yaitu Matematika. Dalam olahraga, kesenian, bisnis ataupun IPA nilainya sangatlah bagus. Tapi Matematikanya itu sangat memprihatinkan, kau tau?”

“Jadi saya..” ucap Soon-na takut-takut seperti sudah tau arah pembicaraan ini.

“Tolonglah bantu murid Oh dalam belajarnya. Kamu akan satu tim dengannya di olimpiade MIPA bulan depan.”

Langit serasa runtuh ketika mendengar perkataan bapak setengah baya itu. Ia memang tidak pernah berkenalan secara langsung dengan pria itu, tapi ia sudah langsung tidak suka akan gaya pria itu. “Tapi bukankah Luhan yang akan menjadi pasangan saya?”

“Seharusnya begitu, tapi ia lebih memilih pertandingan Sepak Bola se-Korea Selatan. Sayang sekali olimpiade itu harus dilaksanakan dihari yang sama.” ucap Bapak setengah baya itu dengan suara yang semakin lemas. “Baiklah, kalian berdua berdiskusilah kapan harus belajar. Bapak menyerahkan semuanya ditangan kalian.”

Soon-na hanya berusaha menarik bibirnya untuk mengukir senyum sambil sesekali merutuki Pria muda dihadapannya yang masih tidak berhenti tersenyum daritadi.

**

“Perkenalkan, namaku Oh Su Ji. Senang berkenalan denganmu, Han Soon-na!”

Soon-na menghentikkan langkahnya lalu berbalik melihat pria itu dengan senyum terpaksa, “Senang berkenalan dengan-mu, Su-ji-sshi.”

“Tapi kamu sama sekali tidak terlihat seperti senang, Soon-na-ya.”

“Berhenti sok akrab denganku, Su-ji-sshi!”

“Kalau begitu kamu harus berusaha beradaptasi, Soon-na-ya. Kita harus cepat akrab karena jujur aku membutuhkanmu. Lagipula kamu juga membutuhkanku di olimpiade. Kita tidak bisa bermusuhan terus.” kata Su-ji sambil mensejajarkan langkahnya dengan Soon-na. Gadis itu mendelik sebal membuat Su-ji tersenyum, “Kamu pasti menganggapku main-main, ya? Tenang saja, aku tidak akan tertarik denganmu, Soon-na-ya. Masih banyak sekali gadis yang bisa ku goda. Aku cukup tau diri kalau kamu sudah ada yang memiliki.”

Soon-na berhenti dan menatap Su-ji bingung, ”Maksudmu?”

“Dengan kapten sepakbola yang terkenal itu, siapa namanya? Aish saking populernya dia sampai lupa. Lagipula namanya susah sekali. Aa! Luhan. Ya, Luhan.”

Soon-na tersenyum sinis dan menatap dingin Su-ji, “Berhentilah sok tau, Su-ji-sshi. Luhan itu sahabatku. Bukannya pacarku.”

“Jongmal?”

Soon-na tidak menjawab dan terus melangkahkan kakinya, ia tidak peduli dengan tatapan sinis orang-orang karena iri akan keakraban dirinya dengan pria tampan lainnya disekolah mereka. Soon-na menarik napas lega ketika ia merasakan bahwa tidak diikuti lagi.

“Soon-na-ya!”

Soon-na terhenti secara otomatis, pria itu ternyata masih tetap mengganggu-nya. Untuk apa sih ia berteriak di koridor seperti itu?

“Ngomong-ngomong..”

Soon-na berbalik dan kembali dongkol melihat pria itu tersenyum, “Kamu cantik sekali walaupun marah. See you tomorrow. Aku sudah memasukkan nomor teleponku tadi kedalam handphonemu.”

Tangan Soon-na dengan otomatis meraba kantong vest kirinya dan tak mendapati handphonenya disana. Tak sadar bahwa tadi Su-ji mengambilnya saat mereka berdebat dan kembali memasukkannya dikantong kanan. Disaat Soon-na kembali menatap pria itu, Su-ji sudah berbalik dan berjalan berlawanan arah sambil melambaikan tangannya. Soon-na sama sekali tidak sadar kalau mukanya memerah atau lebih tepatnya tidak mau tau.

**

Je-si menepuk tangannya dan muncul dari balik pintu. Luhan melirik kearah suara tepuk tangan itu dan tersenyum setelah ia berhasil mematikan musik dan jatuh diatas lantai untuk beristirahat.

“Kamu hanya menganggapnya hobby, Luhan-a?”

Luhan menatap Je-si yang sudah berada disebelahnya lalu tak lama ia menggeleng, “Tidak tau.” ucapnya lalu tersenyum.

“Kamu itu sangat berbakat, Luhan-a. Soon-na pernah bercerita bahwa kamu dari dulu ingin menjadi  penyanyi.”

“Itu dulu, Je-si-a. Aku sekarang hanya ingin menjadi orang biasa yang bisa melindungi Soon-na setiap waktu.” balas Luhan sambil menyeka keringatnya sendiri. Je-si terdiam beberapa saat dan kemudian merutuki dirinya. Ia sendiri tidak tau mengapa sejak minggu lalu, sepulang sekolah kakinya akan memaksa tubuhnya untuk datang ke tempat ini. Sekedar melihat pria itu walaupun ia tau kalau hal itu adalah bodoh.

“Kamu selalu berlatih sendirian? Apakah Soon-na tau kalau kamu latihan?”

Luhan menghembuskan napas berat lalu menatap Je-si, “Ia sibuk. Dan kadang-kadang ia sudah memiliki terlalu banyak hal untuk dikerjakan atau dipikirkan. Aku hanya tidak ingin menambah bebannya. Aku tidak ingin ia takut aku cedera parah atau bagaimana. Yang Soon-na tau kalau dance-ku itu payah sekali. Ya memang waktu SMP aku payah sekali.”

“Tapi dance-mu bagus sekali, Luhan-a.”

Pria itu tersenyum dan mengacak rambut Je-si sekali lagi karena suka dengan kepolosan gadis itu, ia berdiri lalu mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu berdiri.

“Pulanglah, aku akan mandi sekarang.” ucap Luhan sambil berjalan mendekati pintu keluar. Hanya saja Je-si sama sekali tidak beraksi membuat Luhan berbalik dan melihat gadis itu, “Apakah kamu punya acara abis ini bersama Soon-na?”

Luhan mengedipkan matanya bingung lalu menggeleng, “Tidak. Soon-na bilang ia harus belajar bersama teman olimpiade-nya. Aku berniat mandi-makan lalu pulang.”

Mata Je-si berkilat senang dan kemudian menghampiri Luhan dengan cepat, “Bagaimana kalau kamu mandi dulu sekarang? Aku akan menunggumu.”

Otak Luhan berpikir keras apa yang diinginkan gadis itu tapi akhirnya ia menyerah, “Ada apa? Pulanglah, hari semakin malam Je-si-a. Sekarang saja sudah pukul  4 sore.”

“Tidak. Aku akan menunggumu lalu kita akan makan bersama. Aku sangat lapar kau tau. Menonton dancemu itu menguras tenagaku.”

Mata Luhan membutlat, “Siapa juga yang memintamu untuk menonton?” gerutu Luhan. Tapi gadis itu hanya tertawa dan berusaha menutup telingannya akan keluhan Luhan sambil mendorong pria itu masuk kedalam ruang mandi laki-laki dan kemudian bersandar di dinding ketika pria itu sudah menghilang dari jarak pandangnya. Ia tersenyum penuh arti sambil terus menunggu Luhan.

Tumben sekali gadis itu mau menunggu. Padahal kegiatan yang paling dibencinya adalah menunggu. Tapi entah mengapa, tubuhnya memberikan begitu banyak toleransi akhir-akhir ini. Apalagi semenjak ia bertemu dengan Luhan dan kegiatan sehari-harinya menjadi menunggu pria itu. Setiap saat.

Aku hanya ingin lebih lama bersama denganmu, Luhan-a.

Apakah itu salah?

Apakah itu terlalu egois?

Aku tidak  perlu status apapun dimatamu.

Ketika aku bisa berada selangkah lebih dekatmu,

Aku baik-baik saja.

Walaupun terkadang sebenarnya,

Tidak baik-baik saja.

**

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

6 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 2

  1. Cynthia August 27, 2012 at 10:50 PM Reply

    Kira2 luhan bakal sm sapa sih?penasaran aq.. Ditgu part selanajutx ya 😀

  2. ichaichez August 29, 2012 at 2:32 PM Reply

    Argh. nanggung nanggung nanggung.
    gemes pula knapa luhan malah dket ama jesi. errr
    lanjut min u.u

    • exo1stwonderplanet August 30, 2012 at 7:06 AM Reply

      Hahaha.. banyak LuNa shipper ya? please wait other part ya XD -HJS

  3. naritareky August 31, 2012 at 12:59 AM Reply

    Seru liat kisah JeSi nya
    Seruan luhan sama JeSi haha

    • exo1stwonderplanet August 31, 2012 at 4:19 AM Reply

      horeeeeee ^^ akhirnya ada JeLu shipper T,T *nangis darah* 😀 Thank you for reading ^^ -HJS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: