EXOtic’s Fiction “Last Gift” – Part 1

EXOtic’s Fiction

exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Last Gift”

*Title : Last Gift

*Part : 1

*Author : KEYstisia_97

*Cast :

  • Baekhyun
  • You
  • Seojin

*Length : Series

*Genre : Sad Romance (?)

*Rating : PG-13

*Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

Wanita itu terus memandanginya. Entah kenapa ia juga tak mengerti. Semenjak ____ pergi meninggalkannya, wanita tua nyentrik itu tetap memandanginya.

“Maaf, apa ada yang salah padaku?” Tanya Baekhyun pada akhirnya. Wanita itu terlihat tersenyum aneh.

“Kau… buka hatimu. Perjuangkan apa yang seharusnya kau miliki” ujarnya.

“Baekki!!” ___ datang mendekatinya dengan 2 cup ice cream untuk mereka. Baekhyun tersenyum padanya dan menggumamkan terimakasih. Ia bermaksud melanjutkan perbincangannya dengan wanita misterius tadi, namun terlambat. Wanita itu sudah terlebih dahulu menghilang.

“Kau mencari apa?” Tanya gadisnya itu.

“Oh, ani. Es krimnya enak!” ujarnya berbasa-basi.

***

____ termenung. Ya. Akhir-akhir ini dia terlihat cemas dan banyak pikiran. Dia bahkan sering mengabaikan Baekhyun. Entah apa yang ia pikirkan, Baekhyun tak mengerti. Ia tahu gadis itu tidak pernah memendam sendiri masalahnya. Dia akan menceritakannya paling tidak pada sahabat-sahabatnya. Tapi tidak kali ini. Seojin yang merupakan sahabat terdekatnya pun tak mengerti kenapa gadis itu lebih sering melamun akhir-akhir ini. Dan Baekhyun, benar-benar kehabisan ide untuk membujuknya.

“Ya! ____-ya! Kenapa kau ini! Kau jarang mendengarkan aku, sering melamun, sering mengabaikan hal-hal kecil. Kenapa kau ini!” ujarnya pada akhirnya. Gadis itu tersentak dan tersenyum tipis

“Aniya. Aku hanya kelelahan saja akhir-akhir ini” ujarnya tak bersemangat seperti biasanya. Baekhyun mulai menatapnya kesal, seperti dulu dimana ia selalu bisa melunakkan hati gadisnya itu dengan tatapan kesal yang menggemaskan miliknya.

“Ya! Kau kenapa?!” ___ berusaha menahan tawanya melihat ekspresi Bekhyun.

“Habisnya, kau terlihat menyedihkan akhir-akhir ini. Kau bahkan tak menceritakan apapun pada Seojin. Kau membuatku sangat khawatir sampai aku hampir mati, kau tahu!!”

“Berlebihan!” ujarnya mendorong tubuh Bekhyun secara main-main. Namun bukannya menjauh, Bekhyun justru merangkul pundaknya erat-erat.

“Kau dengar ya! Aku akan selalu siap dengan apapun yang akan aku katakan. Mengenai aku, kau, hubungan kita. Tapi aku berharap kau tidak akan pernah memutuskan hubungan kita” ujarnya tiba-tiba serius. Senyum gadis itu menghilang perlahan. “Kau tahu kan betapa susahnya merebut perhatianmu dari  Suho hyung!? Menyebalkan saat melihatmu terus berada disekitarku hanya untuk mencari perhatian Suho hyung. Apalagi kelakuanmu saat SMA benar-benar menyebalkan!” ujarnya lagi-lagi dengan nada yang menurut ____ menggemaskan. Ia hanya tersenyum tipis melihat Baekhyun-nya kembali bersikap kekanakkan seperti biasa.

“Baekki-ya…” panggilnya pelan ia menyandarkan kepalanya diatas pundak Baekhyun. Baekhyun berpaling menatap wajah ___ dengan posisi santai. “Jawab pertanyaanku dengan jujur…”

“Apa?” tanyanya tanpa merasakan keanehan apapun pada nada bicara ___. ___ terdiam sebentar untuk mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan.

“Apa… apa kau masih mencintaiku?”

“Tentu. Aku masih sangat mencintaimu. Saaanggat!” jawabnya tegas. ___ tersenyum miris.

“Menurutmu, kapan rasa cintamu padaku akan hilang?”

“Ya! Kenapa kau bertanya hal aneh seperti itu!? Tentu saja rasa cintaku untukmu tidak akan pernah habis barang setitikpun!” lagi-lagi jawaban Bekhyun membuat ____ merasakan hal lain dalam hatinya.

“Hey, apa kau terkena suatu penyakit mematikan?”

“Mwo? Apa maksudmu?” ___ kembali menegakkan badannya.

“Penyakit mematikan… yah… mungkin  seperti… kanker, kau divonis hanya beberapa bulan lagi hidup, jadi kau bertanya hal itu padaku?” kali ini Bekhyun benar-benar terlihat cemas. ____ menatapnya datar untuk beberapa saat.

Dan pada akhirnya, ia tak dapat menahan ledakkan tawanya melihat ekspresi Baekhyun.

“Ya! Apa yang kau tertawakan?!”

“Baekki-ya! Kau ini terlalu sering menonton drama rupanya!? Penyakit apa? Apa aku terlihat seperti seorang penderita kanker  yang bisa mati kapan saja? Babo!” ujarnya disela tawanya yang semakin menjadi. Baekhyun mengerucutkan bibirnya.

“Kau membuatku hampir mati ketakutan kau tahu!” ujarnya.

“Kau yang berlebihan Baekki-ku!” ujar ___ seraya mencubit kedua pipi Baekhyun.

***

“___-ya! Ayo kita berangkat” teriak ibunya dari lantai bawah. ____ segera mengusap air matanya yang baru saja menetes dan meletakkan fotonya bersama Baekhyun kedalam laci mejanya.

“Ne, umma!” ___ kembali tersenyum melihat ibunya dan beberapa orang lainnya. Ia membungkuk memberi salam.

“Aiya! ___-ya, kau terlihat begitu cantik hari ini…” puji seorang wanita paruh baya lainnya disana. ___ tersenyum tipis mendengarnya.

“Ayo kita berangkat…”

***

___ lagi-lagi menatap bayangan dirinya dibalik cermin itu. Ia memang Nampak cantik dengan gaun itu, namun matanya menyatakan kesedihan yang dalam.

Tapi ia harus menahan air matanya. Ini akan menjadi momen bahagia, meski bukan untuk dirinya, setidaknya keluarganya akan bahagia dan dia tidak akan dicap sebagai pembuat masalah. Ia tahu yang dia lakukan ini adalah jalan terbaik untuknya, untuk keluarganya, dan… untuk Baekhyun.

“Lihat, siapa wanita tercantik yang akan mengenakan gaun tercantik untuk pesta pernikahannya nanti?” seru ayahnya mengagumi putrinya sendiri. Beberapa pujian juga diberikan padanya termasuk pegawai bridal tersebut.

“Kau cantik” bisik seorang pemuda padanya, lantas mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. ___ tersenyum tipis.

Ia kembali keruang ganti untuk mengganti gaunnya dengan pakaian yang tadi ia kenakan dibantu oleh seorang pelayan wanita yang menurutnya berpenampilan nyentrik untuk menjadi pegawai bridal itu.

“Kau terlihat tidak cantik dengan ekspresi mata seperti itu. Sekalipun saat kau memakai gaun secantik ini” ujar wanita itu. Ia menatap ___ dari pantulan bayangan cermin. ___ terkejut mendengarnya.

“Ahjumma ini bicara apa. Tentu aku akan terlihat sangat cantik dengan gaun ini…” elaknya. Wanita itu menyentuh pipinya perlahan dan membawa rambut ___ yang terurai kebelakang telinganya. Membuat wajahnya terlihat lebih jelas.

“Bahkan orang butapun bisa melihatnya, sayang. Kau tidak bahagia dengan pernikahan ini. Kau… butuh orang yang kau cintai” ujarnya lagi.

“Aku… aku akan bahagia. Aku tahu, perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya seiring waktu…”

“Satu-satunya yang tidak bisa diubah oleh sang waktu adalah cinta. Kau akan terus merasakan rasa cinta itu meski dalam pikiranmu, kau mencintai orang lain”

___ terdiam sejenak. Ia mengerjapkan matanya dan tak lagi menemukan wanita itu di ruang gantinya.

Ia bergegas keluar ruang ganti setelah ia mengganti pakaiannya, berharap bertemu wanita itu lagi dan meminta penjelasan. Namun sayang, ia sudahh benar-benar melihat sekeliling dan tak menemukan wanita itu.

“Satu-satunya yang tidak bisa diubah oleh sang waktu adalah cinta. Kau akan terus merasakan rasa cinta itu meski dalam pikiranmu, kau mencintai orang lain” kalimat itu kembali berdengung ditelinganya.

***

Baekhyun tersenyum saat melihat ___ mendekat kearahnya kembali dengan senyum cerianya. Mereka berlari kecil dan bertemu dibawah tiang lampu jalan.

“Kau menunggu lama?” Tanya ___. Baekhyun menggeleng

“Aku juga baru sampai” ujarnya.

“Baekki-ya, kau mau menemaniku seharian ini?” Tanya ___.

“Kenapa kau masih saja bertanya. Tentu, apalagi ini hari Jumat, wah permulaan akhir minggu!!” ujarnya bersemangat. ___ lagi-lagi menampakkan senyuman tipis itu.

“Jadi kemana kita?”

“Everland, Hongdae, lalu makan malam di tempat favorit kita? Setuju?”

“Lets go!!”

***

Mereka menikmati hari mereka. Bermain hal-hal menantang, bercanda, tertawa, saling mengejek, menyuapi es krim satu sama lain, semuanya berjalan normal seperti biasa. Dan ____ begitu bersyukur Tuhan memberikan seseorang yang tidak mungkin meninggalkannya, tapi dia terlalu kejam. Dia tahu persis hal itu. Dia bukan seorang gadis yang dengan mudahnya melepaskan seseorang yang berharga dalam hidupnya. Seseorang yang lebih baik… jauh lebih baik sudah menunggunya disana. Ia yakin Baekki nya akan tetap menjadi seorang Byun Baekhyun meski tanpanya. Dan ia akan tetap menjadi ___ meski tanpa Baekhyun…

“Ya… makan makananmu, itu akan memuakkan jika menjadi dingin…” ujar Baekhyun yang lagi-lagi menemukan bahwa ___ lagi-lagi menatapnya sambil melamun.

“Ne, ini akan selalu menjadi restoran favorit kita bukan?”

“Ya, tentu. Ayo cepat makan…”

***

“Terimakasih untuk hari ini. Kau membuat hari ini akan menjadi hari terbaik untukku” ujarnya.

“Tentu saja. Setiap hari bersamamu adalah hari terbaik dan terindah didunia. Dan ngomong-ngomong kau benar-benar tidak mau kuantar sampai depan rumah?” ujar Baekhyun disertai senyum senangnya.

“Tidak perlu. Aku bisa naik bis sendiri” jawab ___.

Mereka terdiam sejenak.

“Baekki-ya. Kau sudah berjanji kan… kau akan tetap mencintaiku… sampai kapanpun”

“Ne. tentu saja. Aku akan selalu mencintaimu bahkan setelah akhir dunia!”

Mereka kembali terdiam, wajah mereka mulai saling mendekat dan sebuah ciuman tidak lagi membuat mereka cemas.

Mereka membiarkan lampu jalan disebelah halte menyinari mereka. Mereka tak peduli saat angin menerpa tubuh mereka, menerbangkan beberapa helai rambut ___. Mereka… menikmati bagaimana hanya ada mereka berdua didunia ini. Dengan saling mencintai satu sama lain. Itu sudah lebih cukup.

Cit.

“Aku pulang dulu…” ___ menjauhkan tubuh mereka dan mulai berbalik memasukki bis.

“Baekki-ku!! Selamat tinggal!!” ujarnya. Ia melambaikan tangannya sejenak dan pintu bis pun tertutup. Memisahkan mereka berdua.

“Selamat tinggal? Dia masih saja bodoh memilih kata-kata…” ujarnya sambil lalu. Ia memasukkan salah satu tangannya kedalam saku celana dan tangan lainnya menyentuh bibirnya perlahan.

“Aish, bodoh! Sudah berapa kali aku melakukannya, kenapa masih terasa aneh!”

***

Seojin membuang beberapa kertas yang sudah bertumpuk-tumpuk di kotak suratnya begitu saja kelantai. Ia menghentikan kegiatan membuang suratnya itu saat menemukan sebuah undangan pernikahan.

Ia membuka dan membacanya, matanya membulat hanya demi membaca kalimat-demi kalimat disana.

“___… bodoh! Demi Tuhan kau benar-benar bodoh!!!”

***

___ kembali mematut dirinya. Gaun pengantin, tiara, dan berbagai aksesoris lain yang membuatnya tak ubahnya menjadi seorang dewi sudah lengkap. Hanya tinggal sebuah cincin yang belum dikenakannya. Belum…

“___ aku ingin bicara…” ujar seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam ruang riasnya. ___ tahu apa yang akan dibicarakan orang itu, Seojin. Ia memberi kode pada periasnya agar keluar dari ruangan dan member mereka berdua waktu sebentar.

“Aku terlihat cantikkan?” ujarnya enteng seolah tak memiliki beban pikiran apapun.

“___ dengarkan aku… kau…. Kenapa kau menerima pernikahan ini? Ini salah. Tidak seharsnya kau melakukannya”

“Tidak Seojin. Dia pria yang sangat baik dan mencintaiku. Aku pasti akan bahagia bersamanya” ujarnya setenang mungkin.

“___-ya, dengar. Aku menghargai apapun keputusanmu. Apapun itu. Aku selalu mendukungmu. Tapi… bagaimana mungkin seorang sahabat membiarkan sahabatnya sendiri terluka perasaannya hanya demi menyelamatkan perusahaan ayahnya?”

“Seojin kumohon. Ini hari pernikahanku, tidak seharusnya aku menangis hari ini…”

“Tapi bagaimana dengan Baekhyun? Baekkimu? Kau.. apa kau tidak memikirkan perasaannya?”

___ terdiam lagi.

“Aku juga sudah mengiriminya undangan bersama sebuah surat. Aku… aku yakin dia akan tetap mencintaiku. Aku tahu itu akan terus terjadi…”

“___ ayo… Seojin?” seru seorang pemuda dengan tuxedo putihnya. Ia memberi salam pada Seojin dan meminta ___ untuk bergegas pergi. Seojin menatap sahabatnya itu iba. Ia memeluk ___ erat,

“Semoga kau bahagia. Aku juga akan turut bahagia untukmu” bisiknya. ___ tersenyum padanya dan memberi anggukkan kecil. Ia lantas meninggalkan Seojin bersama pemuda yang beberapa menit lagi akan menjadi suaminya itu. Seojin menatap punggung ___ hingga menghilang dibalik pintu.

***

Baekhyun membuka kotak suratnya yang memang selalu ia buka diakhir pekan. Hanya ada tiga surat disana. Surat promosi dari bank, sebuah surat dan… undangan pernikahan.

Ia melemparkan dua surat lainnya keatas meja dan membuka undangan pernikahan itu.

Matanya bergerak membaca huruf disana satu per satu. Tangannya bergetar. Ia kembali membaca ulang undangan itu. Tidak, matanya tidak salah, otaknyapun berfungsi. Namun hatinya hancur hingga kepingan terkecil.

____…. ____ nya… dia tidak bisa mempercayai surat undangan itu. Ia segera membuka surat lainnya yang ia harap berisi penjelasan bahwa undangan itu hanya tipuan untuk merayakan sesuatu.

Baekki…

Maafkan aku. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk tidak mengatakan kalimat perpisahan padamu. Aku memang serakah, aku tidak bisa kehilangan cintamu dan tetap pergi bersama laki-laki lain tanpa mengatakan apapun.

Kau boleh membenciku sekarang. Lupakan aku.

Aku yakin kau akan sangat membenciku. Mungkin rasa cintamu padaku juga akan tergerus habis.

Maafkan aku..

Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi padamu. Aku juga tahu, aku tidak pantas untuk dimaafkan. Tapi ijnkan aku mengatakan itu. Aku tahu, mungkin perasaan ini akan hilang suatu saat…

Dan ijinkan aku mengatakan hal ini..

Aku, akan selalu mencintaimu.

Yang selalu menyayangimu

___

Kertas itu terjatuh dari tangannya. Air matanya benar-benar menetes menyadari hal ini. Ia segera keluar dari rumahnya dan berlari menuju lokasi pernikahan ____.

Ia terengah setelah sampai di gereja itu.

Terlambat…

Dia terlambat. Gereja itu tidak lagi ramai. Gereja itu hanya meninggalkan beberapa bekas pita dan bunga sisa pesta yang baru terjadi beberapa menit sebelumnya. Ia berlari lagi memasukki gereja itu. Kosong. Altarnya juga kosong.

“______!!!!! _____!!!” suaranya bergema memenuhi ruang kosong disana.

“___ kenapa kau meninggalkan aku… ____ kenapa!” lututnya lemas, ia terjatuh ketanah.

“Baekhyun…” suara itu terdengar begitu kecil.

“Seojin…” ujarnya kecewa. Ia melihat Seojin yang mendekatinya perlahan.

“Katakan padaku bahwa ___ hanya bercanda, seojin-ah!”

“Andaikan aku bisa Baekhyun…”

“Bagaimana mungkin dia meninggalkan aku tanpa kalimat apapun…” dan jerit frustasinya kembali memenuhi gereja itu.

***

Baekhyun menatap kartu pos yang ia dapatkan dari seseorang di luar negeri. Hanya ada dua patah kata disana. Cukup membuat tangannya bergetar.

Baekki, Mianhae.

 

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @Keystisia_97 , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

 

 

Advertisements

Tagged: , ,

One thought on “EXOtic’s Fiction “Last Gift” – Part 1

  1. sandramanda October 10, 2012 at 5:41 AM Reply

    waaaaah kereeeen (y) next nya ditunggu thoor:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: