EXOtic’s Fiction “Creepy K12S” – Part 3

EXOtic’s Fiction

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Creepy KI2S”

 

 

Author: @heenimk

Title: Creepy K12S (Chapter 3)

Main Cast:

EXO-M Luhan, EXO-M Chen, Eun Aeryung

Genre: Sci-fi, Romance, Fantasy

Length: Multi Chapter

Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

“…Benar, itu artinya setiap roh punya berjuta masa lalu, sebelum mereka ‘terlahir kembali’ menjadi diri mereka yang sekarang. Dan fungsi setiap lipstick itu, adalah mengembalikanmu kembali ke dunia pada salah satu masa lalumu, sebelum roh-mu direinkarnasi.”

 

_____________________________

 

“Chogiyo, agasshi.”

Aeryung menoleh, gadis itu mengernyit heran pada sosok namja yang tersenyum ramah di sana. Aksen Koreanya kaku dan terdengar agak aneh untuk ukuran namja di Korea.

Foreigner?

“Aku ingin memesan éclair dan beberapa truffles cokelat.”

“Eh?” Aeryung menautkan sebelah alisnya. Aish, apa yang ia sebut tadi?

Namja itu mengulas senyum simpul. “The last time we met.. Yesterday, you suggested me that I should try a peanut butter chocolate éclair cake. I want to try it today, agasshi. Got it?

Aeryung terhenyak menatap namja asing di hadapannya.

Berjuta pertanyaan muncul di benak gadis itu. Sederet kalimat berbahasa asing dan bernada informal itu melintas begitu saja melewati gendang telinganya.

Bukan, Aeryung mengerti jika sekedar arti perkataan namja tadi. Hanya saja ada hal lain yang mengusik keingintahuan gadis itu, jauh lebih besar…

Apa hubungan namja itu dengan Eun Aeryung di masa ini?

Nuguya?

Kedua alis gadis itu saling bertaut. Sontak saja Aeryung tak bereaksi apa pun atas perkataan namja itu dan lebih memilih diam, sibuk memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi.

Mengesampingkan fakta bahwa sekarang ia adalah pelayan bakery dan sudah menjadi tugasnya memenuhi pesanan seorang pelanggan.

Sementara senyum di wajah namja itu memudar, melihat gadis lawan bicaranya justru bersikap diam seolah tak acuh. Padahal, ia ingat sekali kemarin gadis itu sangat ramah melayaninya. Apa sikapnya barusan terlalu berlebihan? Terlalu sok akrab?

Perasaan cemas perlahan menyergap sosok namja itu. “Agasshi..?”

“Jeongseonghaeyo, pegawai kami ini sedikit tidak enak badan, tuan.” Dorongan halus memaksa tubuh Aeryung menyingkir ke samping. Membuyarkan lamunan singkat gadis itu.

Sosok pemilik suara itu, seorang yeoja, dengan cekatan mengambil alih semua pesanan yang disampaikan namja itu barusan.

Siapa yeoja ini?

“Kamsahamnida.”

Bungkukan sopan mengakhiri interaksi di antara mereka. Bunyi dentingan lonceng di atas pintu masuk bakery terdengar seiring namja itu berlalu pergi.

“Ch-chogiyo, nuguseyㅡaaw!”

Belum sempat Aeryung selesai berbicara, sebuah nampan mendarat tepat di lengannya.

“Kau gila? Kehilangan satu pelanggan sama saja ribuan won melayang, Aeryung-ah!” Tegur yeoja itu tegas, setelah pukulan ringannya di lengan Aeryung. Ringan? Setidaknya cukup untuk membuat Aeryung meringis dan meratapi lengannya yang kini terasa ngilu.

Mata Aeryung menangkap name tag yang terpasang di apron yeoja itu.

Kim Seora?

Tak habis keterkejutan Aeryung, tatapan tajam yeoja itu membungkam seluruh pertanyaan dalam benaknya. Ia terlalu dibuat bingung hingga tak mengerti bagaimana harus mulai berbicara dengan yeoja bernama Kim Seora yang tiba-tiba memarahi dan memukulnya itu.

Apa ia akan kembali memukulku jika aku berbicara?

Aish, kasar sekali yeoja ini.

“Sekarang apa pembelaanmu, Eun Aeryung?!”

“A-akuㅡ”

Tunggu.

Aeryung terdiam, lidah gadis itu mendadak kelu.

Benar, apa yang harus kukatakan?

Bukan tidak mungkin yeoja galak ini akan langsung mengirimku ke rumah sakit jiwa jika aku bertanya ‘nuguseyo’ padanya, bukan?

“Seora-ya, jangan bersikap terlalu keras pada Aeryung.” Sebuah suara berat namja menyela ketegangan di antara mereka.

Aeryung reflek menoleh begitu merasakan sentuhan lembut di bahunya. Gadis itu menatap kagum pada sosok pemilik tangan yang membelanya barusan.

Seorang namja yang sangat tampan.. Ah ani, bahkan ia jauh melebihi definisi tampan.

“Aish, jangan kelewat memanjakannya hanya karena ia pegawai baru.” Seora mendengus, beralih merapikan tatakan cake di etalase. Namja itu terkekeh pelan.

Kim Joonmyun?

Aeryung mengernyitkan kening, membaca nama yang tertera di atas name tag namja itu.

Rasanya nama itu tak asing.. Tapi di mana?

“Kau ingin Aeryung menghancurkan bakery kita, Joonmyun-ah?” Hardik Seora lagi.

Raut kesal terlihat kentara di parasnya yang cantik. Membungkam Aeryung telak, gadis itu hanya bisa terdiam melihat kedua sosok asing itu kini berdebat karena kesalahannya.

“Tidak peduli sengaja atau tidak, mengabaikan pelanggan adalah hal tabu di tempat ini.”

“Seora-ya..”

“Jangan bilang karena bakery ini milik keluargamu, maka kau bisa seenaknya membela pegawai yang jelas-jelas salah, Kim Joonmyun.”

Bakery..?

Aish, bodoh sekali kau, Eun Aeryung!

Bisa-bisanya aku melupakan posisi Eun Aeryung sebagai ‘pelayan bakery’ di masa ini dan lebih sibuk mementingkan pikiranku sendiri, tadi?

“Aeryung tidak bermaksud begitu, Seora-ya. Dan lagi, lihat, karena ulahmu yang menyela mereka tiba-tiba, pelanggan kita baru saja kehilangan dompetnya.”

Joonmyun mengendik ringan ke arah meja kasir. Benar saja, sebuah dompet berwarna hitam tergeletak di sana. “Pelanggan tadi pasti ketakutan melihatmu. Kau tidak ingat? Ia pelanggan setia Aeryung, bukan?”

Mwo?

“Pelanggan setiaku..?”

“Aish, arasseo.. Kalian berdua bersekutulah memojokkanku!” Seora membanting belasan tatakan dan nampan dari tangannya dengan kasar, kemudian berlalu masuk ke dalam counter bakery.

Aeryung mendongak dan menatap Joonmyun cemas. Namja itu hanya balas tersenyum seolah tak ada hal besar yang terjadi.

Sebuah acakan pelan mendarat di kepala Aeryung, sesaat memberinya rasa nyaman.

“Pergi dan antarkan dompet ini, Aeryung-ah. Namja itu pasti belum terlalu jauh. Ara?” Joonmyun mengulurkan dompet berwarna hitam yang tampak cukup mahal, sepertinya.

Aeryung meraih uluran benda itu, berniat menuruti saran Joonmyun. Setidaknya ia butuh menjauh dari bakery ini sementara waktu agar Seora tidak semakin marah padanya, bukan?

“Gwaenchanayo, Joonmyun-ssi? Maksudku, Seora-ssi terlihat sangat..”

Namja itu, Kim Joonmyun, terkekeh geli melihat wajah khawatir Aeryung.

Seolah menghadapi Kim Seora adalah sesuatu yang menakutkan saja.

“Jangan lupa fakta bahwa aku tunangan yeoja galak itu, Aeryung-ah. Tidak usah khawatir. Saat kau kembali nanti, kupastikan Seora akan bersikap normal.”

….

Mengandalkan insting dan ingatannya tentang gambaran sosok namja itu, Aeryung berjalan tergesa membelah jalanan Ilsan-dong yang ramai. Langit mendung mempercepat langkah gadis itu. Deretan awan berwarna kelabu seolah menerornya untuk segera menemukan namja pemilik dompet dan kembali ke bakery sebelum hujan turun.

“Aish.” Desah Aeryung saat tetesan air tepat mengenai pipinya.

Dalam hati, gadis itu merutuk habis-habisan kesialan beruntun yang menimpanya. Terlebih kenyataan bahwa sosok namja itu tak juga tertangkap retina matanya, sekeras apa pun ia mencari.

Beruntung Aeryung reflek berteduh di minimarket terdekat, karena detik kemudian hujan bertambah deras. Gadis itu merapikan rambutnya yang tak karuan sehabis berlari.

Mengalihkan pandangan dari kucuran air hujan di tepi atap minimarket, satu tangan Aeryung mengangkat dompet di genggamannya. Membolak-balik benda berwarna hitam itu.

Bagus, lalu sekarang aku terjebak di sebuah minimarket bersama benda ini?

Sebuah senyum konyol terulas di bibir gadis itu, menyadari fakta bahwa ia melupakan hal penting yang sedari-tadi ia bawa. Kunci utama untuk menemukan namja pemilik dompet itu.

Benar. Mungkin ada kartu nama dan alamat namja itu di dalam sini?

Dompet-ssi, siapa pun pemilikmu, aku tidak berniat jahat.

“Baiklah, lihat seberapa bodoh dirimu, Eun Aeryuㅡ”

Tak sampai beberapa detik, ucapan Aeryung terhenti.

Lebih tepatnya, nafas gadis itu tercekat melihat isi dompet itu. Sebuah tanda pengenal terpampang jelas di dalamnya. Dan ya, Aeryung mengenali wajah namja pemilik dompet itu ada pada foto tanda pengenal, dan di sana juga tertulis jelas namanya.

Bukankah namja ini yang menjadi pelanggan bakery tadi?

Mata Aeryung membulat tak percaya. “Lu..han..?”

Namja itu.. Luhan?

Gadis itu masih bergeming meresapi kenyataan lain yang baru saja ia tangkap, hingga tak menyadari bunyi deritan pintu minimarket yang terbuka.

Di sisi lain, sosok mungil muncul dari balik pintu minimarket dan berlarian riang sambil memeluk sebuah boneka.

Sial, satu kaki mungilnya tak sengaja menginjak rembesan air hujan. Sontak saja ia terpeleset dan jatuh menabrak kaki jenjang Aeryung yang berdiri tak jauh darinya. Membuat gadis pemilik kaki itu berjengit kaget.

Mendapat hantaman di kakinya, Aeryung reflek menunduk dan terkejut menemukan sosok mungil di sana. Seorang gadis kecil, sepertinya berusia sekitar enam tahun tampak sedang memegangi hidungnya.

Tersadar apa yang terjadi, Aeryung gelagapan dan melipat kembali dompet itu. Sekejap seluruh fokusnya tertuju pada gadis kecil di hadapannya.

“G-gwaenchana?” Setengah berjongkok, Aeryung mengusap kepala gadis kecil yang sejak tadi memejamkan matanya erat.

Kepala mungilnya menggeleng kuat, menolak Aeryung yang hendak melihat hidungnya. “Biar eonnie lihat hidungmu, jebal.. Gwaenchana?”

Nihil, gelengan kuat tetap menepis permintaan Aeryung. Perlahan pundak gadis kecil itu mulai bergetar, pelan, kemudian berubah menjadi isakan kencang. “Huwaaaaa..”

Tangisan kencang memecah suara hujan yang terus mengguyur deras.

Beberapa ahjumma yang lewat bahkan tak segan menoleh pada Aeryung dan saling berbisik dengan nada sinis. Membuat gadis itu serba salah. Tak ada pilihan lain baginya selain membujuk gadis kecil itu agar berhenti menangis, bukan?

“Uljima, uljima.”

Aish, apa aku yang salah? Dia kan yang menabrakku?

“Orangtuamu ada di mana, gadis kecil?”

Gadis kecil itu tetap menggelengkan kepalanya kuat. Isakannya tak kunjung mereda.

Merasa putus asa, Aeryung meraih boneka gadis kecil itu yang terjatuh.

Boneka pororo?

“Geurae, eonnie punya boneka Pororo yang besaaar sekali, kau mau?”

Berhasil, isakan gadis kecil itu lambat laun terhenti. Aeryung tersenyum puas melihat anggukan pelan kepala mungilnya. “Baiklah, tapi biarkan eonnie melihat hidungmu, ara?”

Aeryung menyingkirkan lembut tangan gadis kecil itu ke samping, hendak melihat wajahnya. Berjaga jika ada luka yang timbul setelah berbenturan dengan kakinya, tadi.

Tak ia duga, wajah polos itu justru balas menatapnya lugu dengan sorot matanya yang jenaka. Sepasang mata bulatnya mengerjap, menatap Aeryung lekat. “Eomma?”

Mwo? Gadis kecil ini memanggilku apa?

“Eh?”

“Jinnah, sudah kubilang jangan berlarian tadi.”

Terdengar suara deritan pintu terbuka, lagi.

Kali ini disusul sebuah suara berat namja yang terdengar familiar di telinga Aeryung, membuat gadis itu reflek menoleh. Seketika tubuh gadis itu meremang.

Pemilik suara itu juga menampakkan ekspresi yang sama dengannya. Sejenak mereka menatap kaget satu sama lain. “Agasshi..?”

Aeryung menelan ludah mendengar sapaan namja itu padanya.

Luhan?

“Sedang apa kau di sini, agasshi?”

“Ch-chogiyㅡ”

“Oppa, lihat. Eomma datang menemuiku.” Seruan riang menyela perkataan Aeryung.

“Eh?” Aeryung mengerjap kaget mendapat pelukan mendadak dari gadis kecil itu. Kedua tangan mungilnya melingkari leher Aeryung erat, bergelayut manja. “Eomma bogoshipoyo~”

Mendengar seruan riang gadis kecil itu, sontak saja mata Aeryung membulat lebar.

Eomma?

“Jinnah, jangan menyusahkan agasshㅡ”

“Oppa, ayo ajak eomma pulang.”

“Hentikan, Jinnah.” Luhan berusaha meraih tubuh mungil gadis kecil itu, nihil, pelukannya pada Aeryung justru menguat. Terdengar helaan nafas berat namja itu. “Eomma masih ada urusan lain. Kkaja, kita pulang duluan.”

Aeryung melirik Luhan, raut tak suka terpampang jelas di wajah namja itu.

Eomma? Maksudnya aku?

Urusan lain? Urusan apa?

“Oppa bohong. Eomma ada di sini, bukan di Jepang seperti kata oppa. Eomma akan pulang bersama kita, oppaaa.” Rengekan gadis kecil itu kembali menyeruak.

 ‘Eomma’ katanya?

Tunggu. Jangan bilang Eun Aeryung di masa ini sudah memiliki.. Anak?

“Lee Ahjin, pulang!” Nada Luhan meninggi, menyentak kedua gadis yang kini berada tepat di hadapannya. Mata gadis kecil itu kembali berkaca-kaca, beringsut membenamkan wajahnya semakin dalam ke pelukan Aeryung. Suara isakan kembali terdengar.

“Aniii, aku tidak mau.”

“Lee Ahjin, berhenti bersikap manja! Sejak kapan aku mengajarimu seperti ini? Pulang!”

Tarikan Luhan berubah kasar pada lengan mungilnya, isakannya semakin kencang. Membuat Aeryung yang daritadi diam mulai beranjak. “Luhan-ssi, jeongseonghaeyo.”

Entah apa yang mendorong Aeryung hingga ia berani menahan tarikan tangan Luhan, seolah ingin mempertahankan keberadaan gadis kecil itu di pelukannya.

Sementara Luhan bergeming. Kenyataan gadis itu mengetahui namanya saja sudah membuatnya takjub, ditambah sentuhan gadis itu di tangannya?

“Agasshi..?”

…..

Sosok gadis kecil kini tertidur pulas di pelukan Aeryung.

Tangan Aeryung tergerak mengusap sayang kepala gadis kecil itu. Sebuah senyum terulas di bibirnya. Rupanya menangis menguras banyak energi?

Benar, Aeryung tengah menggendong sosok mungil itu selama perjalanan pulang.

Membiarkan kedua lengan mungil gadis kecil itu mengalung erat pada sisi lehernya, wajahnya yang polos terkantuk-kantuk hingga tak sadar jatuh terlelap. Sementara Luhan berjalan di samping mereka, namja itu membawa kantong besar berisi belanjaan dan sebuah payung yang melingkupi langkah mereka bertiga.

Aeryung dan namja itu lebih banyak diam, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Tak ada obrolan sama sekali. Hanya sesekali dengkuran halus gadis kecil itu terdengar.

Gadis itu tersenyum simpul mengingat kelancangannya tadi.

Masih Aeryung ingat jelas, bagaimana tadi ia sendiri yang menawarkan diri membujuk gadis kecil itu pulang. Caranya? Apalagi kalau bukan menggendongnya hingga ke rumah?

Mengingat gadis kecil ini menempel begitu erat pada tubuhnya.

Bohong, jika Aeryung tidak memikirkan panggilan ‘eomma’ yang ditujukan gadis kecil ini padanya. Tapi, memaksa mereka menceritakan fakta sekarang?

Aeryung akui ia berubah tak tega saat melihat wajah menangis gadis kecil di dekapannya ini.

Kurasa aku masih punya waktu untuk mengetahuinya nanti, bukan?

Tak butuh waktu lama untuk sampai di apartemen tempat tinggal gadis kecil dan sosok namja bernama Luhan ini. Kamar apartemen yang mungil, namun tertata rapi dan cukup bersih.

“Masuklah.” Luhan mengambil dua pasang sandal rumah dan menunduk sopan. Mendahului gadis itu masuk.

Aeryung membenarkan posisi gadis kecil di pelukannya, perlahan melangkah memasang kakinya pada sandal itu. Luhan berdiri di ujung counter dapur, meletakkan asal kantong belanjaan. Namja itu meraih dua gelas dan satu botol penuh berisi air dingin dari kulkas.

“Air dingin?”

Aeryung mengangguk menjawab tawaran namja itu.

Gadis kecil itu masih tertidur pulas, bersandar lelap di dalam pelukan Aeryung. Cengkeraman tangan mungil di kemejanya begitu kuat. “Apa perlu kubangunkan?”

“Aniyo, gwaenchanayo, Luhan-ssi.”

Aeryung tersentak kaget atas perkataannya sendiri.

Sial, apa daritadi aku keceplosan memanggil namanya?

Luhan tersenyum canggung dan meletakkan gelas-gelas itu di atas meja.

“Jeongseonghaeyo, aku tidak bermaksud lancang. Aku melihat nama pada tanda pengenalmu, di sini.” Gadis itu mengulurkan benda berwarna hitam dari sakunya.

“Tertinggal di bakery.” Sahut Aeryung cepat. Luhan tersenyum simpul melihat kegugupan gadis itu. “Kamsahamnida, ngg~”

“Eun Aeryung.” Seolah mengerti, gadis itu menyebutkan namanya sendiri. Sampai detik itu mereka memang belum berkenalan. “Kamsahamnida, Aeryung-ssi.”

Entah apa di pikiran namja itu, karena kini Luhan beranjak dari tempatnya duduk, mendekatkan tubuhnya dengan gadis itu. Bolehkah gadis itu berharap?

Apa ini tidak terlalu cepat?

Masih banyak hal yang ingin kutanyakan padamu, Luhan-ssi.

Aeryung memejamkan matanya erat saat wangi tubuh namja itu terasa semakin jelas.

Berbeda dengan wangi Oh Sehun yang terasa dingin seperti pinus segar, wangi tubuh namja bernama Luhan itu.. Jauh lebih lembut dan manis.

Aish, apa yang kau pikirkan, Eun Aeryung.

Satu gerakan cepat, gadis kecil itu telah beralih letak ke dalam rengkuhan lengan Luhan.

Aeryung mengerjap kaget atas khayalan singkatnya barusan.

Luhan sigap berdiri, masih mengulas senyum ramah di sana. Namja itu menggendong gadis kecil itu dengan mudah seolah mengangkat kapas. Wajah Aeryung seketika memanas.

Sial, apa namja itu tidak sadar efek gerakannya barusan pada jantung gadis itu?

“Ini sudah hampir malam, kau yakin masih ingin di sini?”

Aeryung mengernyit mendengar perkataan namja itu. Mwo? Namja ini mengusirku?

Setelah apa yang kulakukan untuknya, ia mengusirku?

Aeryung beranjak dari sofa di ruang tengah dengan kesal, merapikan kemejanya yang tampak lusuh setelah menggendong gadis kecil itu. “Baiklah, aku pamit dulu, Luhan-ssi.”

Baru gadis itu memutar knop pintu, gerakan tangannya terhenti oleh panggilan sebuah suara.

“Aeryung-ssi.”

Gadis itu berbalik badan, menatap namja itu lugas dengan wajah penuh tanya.

Apalagi sekarang?

“Besok, bisakah kau datang lagi? Hmm, atau aku yang menjemputmu di bakery?”

…..

‘Aku tidak mau gadis kecil ini merengek saat terbangun nanti karena kau tidak ada di sini, Aeryung-ssi. Jadi, besok bisakah kau datang lagi?’

Aeryung menggeleng kuat, menepis bayangan Luhan dari pikirannya. Alasannya kemarin benar-benar jauh dari kata logis. Namja itu sengaja memintanya datang, hanya agar gadis kecil itu tidak menangis?

Memangnya aku eomma gadis kecil itu?

“Kulihat kau melamun daritadi, Eun Aeryung.”

Sebuah suara terdengar ramah membuyarkan lamunan gadis itu.

“A-aniyo, Joonmyun-ssi.” Kilah Aeryung, gelagapan meneruskan kegiatannya menata satu-persatu cannelés bordelais ke dalam etalase. “Biar kutebak, memikirkan pelanggan setiamu?”

Pelanggan setiaku? Luhan?

“Kenapa kau menyebutnya pelanggan setiaku?”

Joonmyun tertawa renyah, seolah gadis itu sengaja memancing keluar pertanyaan bodoh itu.

“Oh ayolah, namja itu hanya datang ke bakery ini saat jam tugasmu dan hanya meminta pesanan padamu, Aeryung-ah. Dan kuperhatikan ia terus menatapmu lekat. Kupikir, pesanan kue itu hanya modus untuk mendekatimu.”

Wajah Aeryung seketika memanas. Mendengar penjelasan Joonmyun barusan, tampak bahwa Luhan menyukainya? Aeryung menepis pemikiran konyol itu.

Benar, yang disukainya Eun Aeryung di masa ini, bukan aku.

See, kurasa sudah waktunya kau melayaninya lagi.” Joonmyun berbisik, mengendik ringan pada sosok namja yang muncul dari balik pintu. Luhan.

…..

“Gwaenchana?”

Aeryung mengangguk, jam tugasnya hari ini memang sudah habis. Joonmyun juga sudah mengijinkannya pamit lebih dulu dari bakery. Lalu apalagi yang perlu dikhawatirkan?

“Gwaenchanayo, Luhan-ssi. Bagaimana keadaan Ahjin semalam?”

Lee Ahjin, nama gadis kecil itu. Nama yang unik?

Aeryung hanya tahu sekilas bahwa gadis kecil itu bukan sepenuhnya keturunan Korea. Ada darah Jepang dari ibunya, sementara ayahnya berdarah Korea.

Dan satu fakta lain yang gadis itu ketahui dari penjelasan Luhan barusan, ibu dari gadis kecil itu baru saja meninggal dan sosoknya mirip sekali dengan Aeryung. Itu sebabnya Ahjin memanggilnya ‘eomma’.

Dan Luhan? Namja itu adalah kenalan ibu Ahjin yang memutuskan merawat gadis kecil itu.

Namja yang baik.

Namja itu bahkan secara khusus meminta Aeryung berpura-pura sebagai ibu gadis kecil itu, paling tidak sampai Ahjin bisa menerima kenyataan yang terjadi pada ibu kandungnya.

Tunggu. Hanya ibu gadis kecil itu yang meninggal, bukan? Lalu ke mana ayahnya?

“Semalaman ia menangis terus, memanggil-manggilmu.” Luhan tertawa kecil, masih fokus menatap jalan raya di depannya. Aeryung balas tersenyum simpul.

Ada hal lain yang mengusik gadis itu. “Lalu, Luhan-ssi, ke mana ayah gadis kecㅡ”

“Sampai.” Ucapan Aeryung terpotong oleh perkataan Luhan, seiring kemudi mobil mereka berbelok ke kawasan sebuah apartemen.

…..

“Eommaaa.”

Benar saja, gadis kecil itu langsung berlari ke arah Aeryung begitu mereka tiba. Aeryung meraih tubuh mungil itu masuk ke dalam pelukannya tanpa ragu. Menggendongnya menuju sofa di ruang tengah apartemen itu.

“Kau sudah makan siang, Jinnah?” Gadis itu mengelus puncak kepala Ahjin lembut, Luhan hanya tersenyum melihat wajah polos gadis kecil itu semakin berbinar.

‘Jinnah’ adalah nama panggilan yang diberikan ibu gadis kecil itu.

“Aniyoo eommaa, oppa langsung pergi tadi, jadi aku belum makan siang.” Ahjin merengek, menunjuk Luhan dengan tatapan kesal. Namja itu berjengit, mendengar namanya disebut.

“Ya! Lee Ahjin, bukankah kau yang bilang kau tidak lapar, tadi?”

“Aniyoo, kapan aku bilang begitu, oppaa? Eommaa baegopayoo.” Tangan mungil menarik-narik kemeja Aeryung.

Gadis itu gelak tertawa melihat keduanya yang masih sibuk beradu mulut. Lihat, sekarang ada dua anak kecil sedang bertengkar di apartemen ini?

“Baiklah, kau ingin makan apa, Jinnah?”

…..

Sudah tiga hari sejak Aeryung mengenal Luhan dan gadis kecilnya. Rasanya, kini gadis itu sangat menantikan saat-saat kedatangan Luhan di bakery ini, seperti sekarang.

Namja itu akan datang dan menjemputnya setiap hari di bakery, membawa Aeryung ke apartemennya, dan bermain bersama gadis kecil yang manis di sana.

Tak jarang mereka mengobrol di bakery. Luhan akan menemani Aeryung jika jam kerja gadis itu hingga larut malam, di hari libur.

Sikap Luhan padanya begitu ramah, baik, dan sopan. Meski Aeryung lebih muda tiga tahun darinya. Terutama wangi tubuh namja itu yang terasa sangat menenangkan.

Benar, jauh melebihi ratusan roti dan kue di bakery ini, wangi Luhan jauh lebih manis dan lembut. Membuat Aeryung tak segan menghirup dalam-dalam oksigennya jika berada di dekat namja itu.

Seolah tersadar, Aeryung mengambil ragu benda mungil di sakunya. Entah kenapa dada gadis itu terasa sesak. Tatapannya terpaku pada sebuah lipstick berwarna pink pucat, gumdrop.

Tertulis jelas nama Luhan di sana.

Terbersit keinginan gadis itu untuk membuang lipstick di tangannya. Lelah?

Meninggalkan dan ditinggalkan, sama-sama menyakitkan, bukan?

Dan hanya dengan sebuah ciuman, gadis itu harus meninggalkan Luhan dan gadis kecilnya? Tidak, terlebih perasaan sayangnya pada kedua orang itu sudah terlampau besar.

Sudah cukup Oh Sehun. Tidak untuk kali ini.

“Kau serius ingin membuangnya?” Suara berat seorang ahjumma menyadarkan Aeryung.

“Halmeoni?”

Sosok itu tampak bersandar di etalase tepat di depannya, sibuk melihat daftar menu di sana.

“Mungkin kau tidak tahu, Aeryung-ah. Biar kutegaskan sekali lagi, bukan kau ‘Eun Aeryung’ yang seharusnya berada di masa ini. Kalau kau berkeras untuk tinggal, maka seluruh sejarah kehidupanmu setelah masa ini juga akan hilang.”

“A-apa maksudmu?”

Ahjumma itu mengangkat enteng bahunya. “Time Confusion. Kehilangan lipstick itu berarti kau sudah memutuskan untuk tinggal di sini dan wuush! Kau akan kehilangan kesempatan bereinkarnasi. Tidak ada ‘Eun Aeryung’ lagi di masa lain setelah masa ini.”

…..

“Wajahmu pucat sekali, Aeryung-ssi. Gwaechana?”

Aeryung tersenyum lemah, gadis itu merasa sejuta kali lebih sesak sekarang. Halmeoni pemberi lipstick itu seolah telah menamparnya dengan penjelasannya di bakery tadi.

Sama saja mengatakan bahwa aku dan Luhan tidak bisa bersama, bukan?

Aeryung menekan dadanya sendiri yang terasa sakit.

Sial, kau sudah terlanjur mencintai namja ini, Eun Aeryung?

Dengan semua sikap lembutnya padaku, mustahil aku tidak jatuh cinta padanya.

Luhan masih menatapnya khawatir. “Kau mau beristirahat dulu?” Suara lembut namja itu mengusik lamunannya. Aeryung balas mengangguk.

Lagi-lagi seperti ini, perhatian Luhan terlalu memanjakannya.

Berhentilah membuatku jatuh cinta, Luhan-ssi.

Namja itu tersenyum dan beranjak menuju counter dapur. Aeryung menatap punggung Luhan yang tampak sibuk menyiapkan sesuatu di sana, mungkin teh?

Sejenak Aeryung duduk diam, matanya menjelajah setiap sudut apartemen itu. Sepi, karena Ahjin belum pulang dari sekolah. Mereka memang sedang menunggu gadis kecil itu pulang.

Aku pasti akan merindukan tempat ini, nanti.

Mata Aeryung menangkap sebuah ruangan aneh di ujung sana. Dekat dengan kamar Luhan. Beberapa hari berkunjung ke apartemen ini membuatnya hafal ruangan di sini, apalagi kalau bukan karena tarikan Ahjin yang membawanya berkeliling?

Tapi, tidak dengan satu ruangan aneh itu.

Seingatnya Ahjin tidak pernah mengajaknya masuk ke sana. Meskipun ingin, toh pintu ruang kamar itu selalu terkunci, sehingga mereka tidak bisa masuk.

Ruangan apa itu?

Aeryung melirik Luhan yang masih bergeming di counter dapur. Rasa penasaran mendorong gadis itu beranjak dan mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka.

Gadis itu melongokkan kepalanya ke dalam, gelap.

Keingintahuan gadis itu membuncah. Satu dorongan pelan dan pintu itu terbuka seluruhnya, menampakkan pemandangan menakjubkan bagi gadis itu.

Gelap, sangat gelap, namun ada sinar berwarna kemerahan yang berpijar di dindingnya.

Ruangan ini.. Tempat mencetak foto?

Aeryung berjalan pelan menuju lembaran foto yang tergantung rapi di seutas benang. Ratusan foto berada di sana. Mata gadis itu menyipit, hendak melihat lebih jelas objek dalam foto itu.

“Aeryung-ssi?”

Detik kemudian nafas gadis itu tercekat. Dada gadis itu bergemuruh kencang, bunyi detaknya bahkan bisa ia dengar sendiri dengan jelas. Tidak, bukan karena panggilan Luhan.

Gadis itu bahkan tidak bisa mendengar seruan namja itu, karena seluruh fokusnya kini tertuju pada foto-foto di hadapannya. Apa ia bermimpi?

Seluruh objek dalam foto itu adalah dirinya.

Ada fotonya sedang menggendong Ahjin, ada fotonya bersama Luhan, ada foto mereka bertiga, dan ada fotonya sedang menggendong seorang bayi dengan seorang namja asing lain berada di sisinya. Aneh, semua hal yang terjadi di foto itu terasa asing baginya.

Aeryung mengernyit melihat fotonya dengan Ahjin dan Luhan, di tengah mereka ada sebuah cake ulang tahun berukuran besar. Kapan kami merayakan ulang tahun Ahjin?

Di foto lain, ada dirinya dan Luhan berdiri di depan sebuah universitas.

Kapan aku melakukan ini semua?

Tunggu. Apa gadis ini ‘Eun Aeryung’ di masa ini?

“Nami..?” Aeryung mengeja tulisan yang tertera di salah satu foto itu.

Seketika tubuh Aeryung meremang. ‘Karena kau mirip sekali dengan sosok ibu Ahjin, maka ia memanggilmu eomma, Aeryung-ssi.’ Perkataan Luhan padanya kembali terlintas.

Satu titik air menetes membasahi foto itu.

Gadis itu terhenyak, mati-matian menahan air matanya yang terus melesak keluar, namun terlambat. Tetesan itu telah berubah menjadi aliran bening di pipi Aeryung.

“Mirip..?” Suara serak gadis itu bergumam.

Jadi ini alasan semua sikap lembutmu padaku, Luhan-ssi?

Karena aku mirip dengan yeoja itu.. Karena wajah kami serupa?

Dan kau mencintai yeoja bernama Nami ini.

“Aeryung-ssi..?”

Suara lembut itu terasa menyayat hati Aeryung, sekarang.

Gadis itu menoleh, mendapati sosok Luhan berdiri di ambang pintu. Samar bisa ia lihat kedua mata namja itu menghujamnya, mungkin terkejut melihat gadis itu ada di ruangan pribadinya.

“Aeryung-ssi, sedang apa kau di ruangan ini?!” Nada Luhan meninggi, menyentak gadis itu.

Aeryung mengusap cepat air matanya dan meletakkan kembali semua foto itu, tubuh gadis itu gemetaran. “J-jeongseonghaeㅡ”

“KELUAR!”

Tangan Luhan mengepal, menekan telapak tangan itu kuat. Deru nafas namja itu memburu.

Isakan gadis itu terdengar jelas seiring langkah kakinya berlari menerobos Luhan yang berdiri menghalangi pintu. Tak lama suara dentuman pintu apartemen terdengar.

Tubuh namja itu perlahan merosot jatuh pada dinding, bersandar menyembunyikan guratan wajahnya di antara lutut yang tertekuk.

“Kenapa kau selalu menyusahkanku, Nami nuna?”

…..

“Kau tidak dengar ucapanku barusan? Bukan éclair, tapi meringues, Eun Aeryung. Ambilkan aku nampan berisi meringues itu. Cepat!”

Aeryung berjengit mendengar suara lantang Seora memarahinya. Segera diambilnya sebuah nampan sesuai perintah yeoja galak itu. Sejenak, amukan Seora barusan membuat Aeryung lupa tentang bayangan Luhan dan gadis kecil yang sedari tadi berlarian di pikirannya.

Benar, sudah hampir seminggu Aeryung menghindari namja itu. Hati gadis itu belum siap.

Aeryung bahkan sampai harus menukar jam tugasnya di bakery, hingga meminta Joonmyun berbohong jika namja itu mencarinya. Lalu bagaimana dengan lipstick itu?

Bagus. Selamanya aku terjebak di masa ini.

Aeryung menghela nafas berat, menatap kosong pada seluruh dekorasi perayaan Pepero Day yang terpasang di setiap sudut bakery. Hari ini, Pepero Day?

Pantas saja, daritadi banyak couple yang berdatangan.

“Seora-ya, kau lupa janjimu padaku kemarin?” Suara berat Joonmyun berseru.

Joonmyun datang dari counter dapur,membawa setoples penuh pepero stick. Sekejap wajah Seora memerah. Aeryung menautkan sebelah alisnya, bingung melihat tingkah couple itu.

“Kau sudah berjanji tahun ini akan memberiku pepero kiss, ingat?” Joonmyun mengambil satu stick dan menggigit separuhnya.

Aeryung menahan tawa geli melihat sikap kekanakan Joonmyun.

“Andwae, aku tidak mau, Kim Joonmyun. Menjauh dariku.” Sementara Seora menghindar mati-matian dari tangkapan Joonmyun. Meletakkan begitu saja meringues yang belum tertata.

“Chogiyo.” Suara lembut menyela kesibukan mereka.

Tawa Aeryung memudar melihat sosok namja yang dirindukannya berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Eommaaa~ oppa bilang kau sibuk bekerja? Bogoshipoyoo.” Kali ini sosok gadis mungil merengek, ganti membuat Joonmyun dan Seora balas menatap kaget.

“Chogiyo, Aeryung-ssi..”

Aeryung baru akan beranjak pergi ketika tangan Seora menahannya.

“Mereka tamu bakery ini, Eun Aeryung. Kau, layani pesanan mereka.” Ujar Seora, kemudian menarik Joonmyun menyingkir ke dalam counter bersamanya.

Setidaknya, firasat Seora sebagai wanita cukup kuat. Seora sengaja memberikan ruang bagi Aeryung untuk leluasa berbicara berdua dengan namja itu.

Bertiga, jika ditambah sosok mungil di antara mereka.

“Aeryung-ssi, akuㅡ”

“Jinnah, kau ingin pesan apa?” Aeryung memilih mengabaikan perkataan Luhan.

“Aku mau itu, eommaa.” Jari mungil Ahjin menunjuk tumpukan truffles cokelat. Aeryung membungkuk, memberikan sekotak penuh truffle pada gadis kecil itu. Ahjin berlari riang ke arah hiasan boneka di sudut bakery. “Aeryung-ssi.”

Aeryung menelan ludah. Hanya tinggal mereka berdua.

“Jeongseonghaeyo, aku tidak pernah menjelaskannya. Kalian memang mirip.. Ah ani, hanya wajah kalian yang serupa. Tapi, aku bersumpah, aku tidak pernah melihatmu sebagai Nami nuna, Aeryung-ssi.” Suara Luhan terdengar serak.

“Nami, sunbae-ku di universitas. Kau pasti pernah mendengar program kuliah khusus mahasiswa asing, bukan? Benar, aku berasal dari China dan Nami nuna dari Jepang. Saat itu bahasa Koreaku masih terbata-bata dan ia yang selalu membantuku.”

Seolah tersihir, Aeryung terdiam mendengar semua penjelasan Luhan, gadis itu bahkan tak memberontak saat Luhan meraih satu tangannya dan menggenggamnya lembut.

“Jujur, aku mencintainya. Nami nuna yang cantik dan dewasa. Setelah dua tahun, aku berniat mengungkapkan perasaanku. Kau tahu apa yang terjadi? Hari itu, Nami nuna datang ke apartemenku. Ia menangis karena namja brengsek itu meninggalkannya. Dan saat itu, sudah ada Ahjin di sana..”

Aeryung membalas setiap remasan Luhan di jemarinya. “Setahun kemudian nuna mengalami kecelakaan, di hari namja brengsek itu memintanya untuk bertemu.”

Luhan menatap hangat pada tautan tangan mereka. “Kau tahu, Aeryung-ssi? Kau jauh lebih hangat. Gadis kekanakan yang jauh lebih lembut, perhatian, dan…”

Kini tatapan namja itu melembut.

“Aku mencintaimu, Eun Aeryung. Bukan Nami, tapi kauㅡ”

“Eommaa~aku mau ituu.” Suara manja Ahjin menyeruak. Gadis kecil itu menunjuk-nunjuk toples berisi pepero yang ditinggalkan Joonmyun di atas meja.

Sontak saja Aeryung melepaskan genggaman tangan Luhan.

“K-kau ingin ini, Jinnah?” Aeryung gelagapan membuka toples itu, sedikit salah tingkah.

Sementara Luhan beringsut menggendong gadis kecil itu, memudahkan tangan mungilnya memilih pepero di dalam toples itu.

Wajah Aeryung memanas setelah pernyataan Luhan barusan.

Gadis kecil itu memakan pepero itu riang, mengacungkan beberapa batang di tangannya yang lain. Aeryung mengulas senyum simpul, lalu ikut mengambil satu pepero dan memakannya.

“Kau tidak mau memberiku juga, Aeryung-ssi?” Luhan mengendik ringan pada pepero itu. Aeryung mengulas senyum lalu membuka toples itu, memudahkan namja itu mengambilnya.

“Aku ingin yang ini.”

Dengan satu gerakan cepat, Luhan mencondongkan tubuhnya dan melahap sisa pepero dari mulut gadis itu. Mata Aeryung membulat lebar melihat bagaimana Luhan melumat bibirnya dan melesakkan lidahnya ke dalam, mengambil sisa pepero itu darinya. Perlahan Aeryung memejamkan matanya dan membalas setiap hisapan namja itu di bibirnya.

Ahjin? Satu tangan Luhan menahan kepala gadis kecil itu menghadap ke sisi lain. Gadis kecil itu masih terus berceloteh riang sambil memakan pepero di tangannya.

“Saranghae.” Luhan berujar lirih di sela ciuman mereka.

Butir air mata perlahan menetes melewati pipi gadis itu, seiring seberkas cahaya kembali datang. Menyedot seluruh kesadaran Aeryung, membutakan mata gadis itu. Hingga hisapan namja itu tak lagi berbekas dan suara celotehan riang itu tak lagi terdengar.

Nado saranghaeyo, Luhan-ssi.

***

Aeryung mengerjap saat hembusan angin menusuk tajam kulitnya. Gadis itu mengernyitkan kening pada hamparan gembok warna-warni yang terpasang tepat di depannya.

Love Locks?

Bukankah ini di.. Namsan Tower?

Aeryung memegangi dadanya, masih terasa debaran jantungnya yang tak karuan setelah pernyataan dan perbuatan Luhan padanya, tadi.

Gadis itu melihat sebuah benda yang tergenggam di tangannya. Lipstick berwarna mauve yang cantik. Baru gadis itu akan melihat nama yang tertera di sana, pandangannya menangkap bayangan seorang namja asing tengah berdiri di pagar pembatas menara itu.

Bunuh diri?

“Ya! Berhenti!” Seru Aeryung, reflek berlari ke arah namja itu.

“Kau tidak boleh melompat, hey!” Aeryung terus berteriak, gadis itu menarik tangan namja itu, memaksanya turun. “Turun sekarang juga! Kau gila?”

“Kau yang gila! Lepaskan aku!” Satu hempasan kasar dari namja itu, membuat Aeryung terbanting ke sisi pembatas pagar yang lain.

Gadis itu meratapi punggungnya yang terasa sakit.

Tunggu.

Sesuatu terasa terlepas dari genggamannya. Sontak saja sepasang mata Aeryung membulat lebar melihat benda itu kini terlempar ke udara bebas. Lipstick berwarna mauve itu melayang begitu saja, detik kemudian benda itu terjun bebas ke bawah sana.

“ANDWAE!”

‘Time Confusion. Kehilangan lipstick itu berarti kau sudah memutuskan untuk tinggal di sini dan wuush! Kau akan kehilangan kesempatan bereinkarnasi. Tidak ada ‘Eun Aeryung’ lagi di masa lain setelah masa ini.’

 

ㅡTBC

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

 

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HEENIMK, NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

 

Advertisements

Tagged: , ,

7 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Creepy K12S” – Part 3

  1. Cynthia August 28, 2012 at 9:44 AM Reply

    Wahh… Semakin seru aja nih critax.. Ditunggu ya lanjutannya dr petualangan aeryung.. 😀

  2. kiwi October 25, 2012 at 1:18 AM Reply

    wah.. aku ketinggalan part 1 sama 2 nih –“

  3. AdeTarina December 10, 2012 at 10:25 AM Reply

    aw~~~ part ni susah bngtzz dTebaknyaaaa…. Klopun nebak,, slah total mllu…
    Tp aq ska crita yg kyk gnii… 😀
    Konflikny dpet bngtzz yaa d part niii… Jdi tegang~~ Tp ikut bhagia, wktu endingny…. 😀
    Ikut sedih,, nyemplung k prasaanny Aeryung,, udh nyaman d masa ini, hrz gnti masa slnjutny…
    kkkkk~ JoonMun oppa mncul lgi.. I like it… 😀
    LuHan oppa yaa nappeun,, gk lyt” sikon.. kkkk~
    daebak author! ^D^

  4. muztkyu June 30, 2013 at 3:17 PM Reply

    aduh aku gak bisa berkata-kata…

    dari mana chingu dapet imajinasi kaya gini..
    tapi sedih juga jadi Aeryungnya udah jatuh cinta tapi harus ditingalin… T_T
    aku lanjut…..

  5. Ame~chan February 8, 2014 at 7:27 AM Reply

    wah FF nya bikin geregetan n emosi sendiri, tapi aku penasaran nanti aeryungnya milih siapa.
    Lanjutt Thor!!

  6. dpratiwi990 June 8, 2014 at 4:48 PM Reply

    Aaaaaj semakin seru ajaaaaa

  7. Park Ji Hyun October 11, 2014 at 12:06 PM Reply

    Aisshhhh… Bener2 bikin senyum2 sendiri… Luhannnnnnnn :* :* <3<3..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: