EXOtic’s Fiction “Pulchritude” – Part 2

EXOtic’s Fiction

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“PULCHRITUDE”

Title : Pulchritude – Part 2

Author: Shin Heera

Cast:

  • Kim Jongin (EXO)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Park Chanyeol (EXO)
  • Park Chonsa (YOU)

Minor Cast:

  • EXO Member

Ket:

  • Kai at History era
  • Oh Sehun at 22nd teaser
  • Park Chanyeol at History era
  • Baekhyun at History era
  • Kim Kyungsoo at History era
  • Suho at High Cut era

Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

……………………………………………………

Ps:

  • * > masih hari yg sama
  • ** > keesokannya
  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!!

……………………………………………………

Review Chapter 1

Sepasang mata tengah mengawasinya dari jauh. Dirinya benar-benar merasa puas karena Chonsa mendapatkan sesuatu yang pantas.

Tapi sepasang mata lain tengah menatap penuh kasihan padanya. Dirinya tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya menatapnya dan berharap agar Chonsa bisa lebih bersabar. Karena ini baru saja permulaan.

…………………………………………………..

CHAPTER 2

(Author POV)

“Ada apa kau memanggilku, hm?”

“Bagaimana kabar inspirasimu?”

“Sudah kuduga.” Chanyeol tertawa kecil dan duduk di samping Kai yang tengah meluruskan kakinya di studio satu ini. Ya, studio berwallpaper hitam dan kaca besar yang menempel di dinding.

“Bagaimana kabar inspirasimu, Hyung?” ulang Kai yang sudah terlihat kesal.

“Akhir-akhir ini aku jarang mendapatkannya. Mungkin aku terlalu serius  menjalani kelas vokal. Kenapa?” jawab Chanyeol yang disusul dengan tanya.

“Aku membutuhkan lagu baru yang berbeda untuk menari,” jawab Kai. Disusutnya keringat yang membasahi leher dan peluhnya.

“Aku bukan murid swc. Mengapa tidak meminta Soona saja?”

Kai mendengus singkat mendengar saran yang diberikan Chanyeol. Mana mungkin? Ya, dirinya tahu bahwa Soona adalah penulis lagu dan komposer yang mendapat nilai tertinggi semester awal. Dan Soona adalah satu-satunya yeoja yang mengenal Kai cukup dekat. Sebenarnya Kai merasa risih dengan kelakuan Soona yang menganggapnya lebih dari sekedar teman biasa. Padahal niat awal Kai hanya ingin mendapatkan lagu Soona saja. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini Kai tidak berharap lebih padanya.

“Aku tidak terlalu berharap darinya. Seperti kau—“

“—jangan diteruskan, Kai. Aku menikmati hidupku yang seperti ini.” Kini Chanyeol tertawa cukup keras dan memenuhi studio itu. “Kalian terlihat sangat cocok. Mengapa tidak..” Kata-kata Chanyeol terhenti ketika matanya menangkap satu sosok gadis cantik berpinggang kecil yang melewati studio ini. “Park Chonsa!” panggilnya cukup keras.

Yeoja bernama Park Chonsa itu menghentikan langkahnya dan menoleh. Bibirnya tersenyum lebar ke arah Chanyeol dan mendekati namja itu yang kini berdiri di ambang pintu studio.

“Hey!” sapanya masih saja ceria. Padahal kini Chanyeol tengah mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ada apa dengan yeoja ini? Perasaan sebelum aku tinggalkan, rambut dan bajunya terlihat baik-baik saja.

“Kau.. apa kau menyemburkan sodamu sendiri?” tanya Chanyeol. Kai yang berada di belakangnya hanya menengadahkan kepalanya, ingin melihat siapa yeoja yang tengah berbincang dengan Chanyeol.

“Hahahaha! Aku terjatuh, ahahaha..” jawab Chonsa sambil kembali mengibas-ngibaskan tangannya di permukaan baju yang masih basah.

Chanyeol hanya ikut tertawa dan membantunya untuk merapikan rambut merahnya.

Kai yang sudah merasa bosan mencoba bangkit dan mendekat beberapa meter ke arah mereka. Matanya menyipit ketika melihat sosok Chonsa.

“Ini.. pakailah jaketku. Kau terlihat mengkhawatirkan..” ucap Chanyeol tertawa kecil sambil memakaikan jaket longgarnya untuk Chonsa.

“Terimakasih.. Akan kukembalikan besok.” Chonsa sudah merasa lebih baik kali ini. “Kelas dimulai lima menit lagi. Aku pergi. Sampai jumpa, Sunbae!” seru Chonsa sambil melambaikan tangannya dan semakin menjauh, meninggalkan Chanyeol.

Namja itu hanya tersenyum dan tertawa kecil sambil menghampiri Kai.

“Siapa dia? Aku baru melihatnya..”

“Kelas rap segera dimulai. Kajja!” Chanyeol sama sekali tidak peduli dengan pertanyaan yang dilontarkan Kai. Dirinya yakin, Kai pasti mengetahui gadis itu.

*

“Untuk ujian akhir, kalian harus meminta salah satu murid swc untuk menuliskan lagu. Kelas ini dibagi menjadi sepuluh kelompok dengan genre berbeda.

“Dan, oh! Aku yakin kalian sudah tahu kedatangan murid baru itu. Dia benar-benar hebat. Aku salut pada siapapun diantara kalian yang dapat mengenalnya lebih dekat dan mendapatkan lagunya.

“Baiklah, kelas berakhir dan aku sudah mendapatkan hasilnya. Park Chanyeol dan Oh Sehun. Kalian masih menjadi yang terbaik. Selamat siang..”

Kai mendesah panjang. Sepertinya hanya dance saja yang bersahabat dengannya. Tapi Kai bukanlah orang yang mudah menyerah begitu saja. Dia sudah lolos dan masuk ke kelas vokal dan rap jadi dia pasti bisa menjadi yang terbaik.

“Sehun-ah! Kita satu kelompok! Ahahahahahaha!” seru Chanyeol dengan teriakannya seperti biasa. Beberapa murid hanya bergumam. Ini semua tidak adil, bukan? Dua rapper terbaik  berada satu kelompok. “Kai! Kau juga satu kelompok bersamaku!”

Kai hanya mendengus. Mengapa harus bersama Sehun? Ini benar-benar akan menghambat moodnya.

**

“Haaaah, aku kurang berbakat di lagu hiphop. Dan sepertinya musik klasik lebih mudah dari pop. Haaaah..”

Chonsa kembali termenung melihat kertas notnya. Hm, cuaca sore ini benar-benar sejuk. Dengan bebas dia menelungkupkan badannya di atas rumput bersih taman belakang ini.

“Seharusnya aku tahu. Musik jaman sekarang sudah jarang mengandung unsur klasik. Chonsa, semangat!”

Dirinya kembali menggambar not sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Dia terdiam sejenak. Berpikir. Lalu kembali menggambar.

Sudah dua baris Chonsa berhasil menggambar not. Tapi kepalanya menggeleng dan menggulung kertas tersebut. Baiklah, kertas baru sudah berada di hadapannya.

“Chonsa, pikirkaaan, pikirkaaaan.. AAAAHH!! TIDAK ADA INSPIRASI!!”

Tidak peduli banyaknya orang yang menatapnya dengan tidak wajar. Yeoja itu harus menyelesaikan lagunya. Tentu saja salah satu tugas. Meskipun hanya membuat intro ¾ ketukan, dirinya ingin membuat seluruhnya. Ya, satu lagu.

Kamar, kelas, food court dan sekarang taman. Tidak ada yang mendatangkan inspirasi. Apa yang harus ia lakukan?

“Ah! Mungkin aku bisa menulisnya di ruang tutorial penulisan lagu.” Tapi air wajahnya kembali merengut. “Tapi apakah boleh? Ini bukan jam pelajaran. Ah, coba saja..”

Kakinya melangkah dengan semangat sambil menggandeng tas berisi puluhan lembar kertas. Wilayah sekolah sudah mulai sepi. Para murid pasti tengah berada di dorm atau di tempat hiburan yang masih berada satu wilayah dengan dorm. Sekolah ini layaknya perumahan mewah. Di perumahan itu terdapat sekolah, asrama, tempat perbelanjaan, hiburan. Hah, senang sekali bukan? Tapi Chonsa belum merasakan kepuasan itu sampai dirinya menemukan tempat yang dapat mendatangkan banyak inspirasi.

Pintu ruang tutorial sedikit terbuka. Tangannya sudah siap mendorong pintu itu. Tapi niatnya kembali diurungkan ketika dirinya mendengar perbincangan dua orang di dalam ruangan itu.

“Jangan menggangguku..”

“Mengapa kau tidak pernah mengerti perasaanku, Kai?!”

Ah? Jadi namja yang sedang memunggunginya itu adalah Kai. Ya, namja sombong dan tidak berperasaan itu. Chonsa menyipitkan matanya. Ah.. Soona. Teman sekelasnya yang semester kemarin mendapat nilai tertinggi di swc. Waaa dan tentu saja Soona menjadi sorotan penting di SIAS.

“Aku tidak tertarik padamu, juga lagumu. Kau dan lagumu, benar-benar buruk. Sama sekali bukan tipeku.”

Mwo? Berani sekali Kai berkata seperti itu, batin Chonsa.

“Tapi, Kai! Aku adalah murid terbaik dan aku akan membuatkanmu lagu yang benar-benar berbeda!”

“Asal aku menjadi kekasihmu? Jangan banyak berharap..”

“Kai!”

“Chanyeol lebih baik, asal kau tahu..”

Chonsa menganga lebar-lebar. Apa maksudnya? Jadi Kai menyukai Chanyeol? Mana mungkin! Tapi beberapa saat Chonsa mulai mengerti mengapa Kai jarang terlihat dengan yeoja. Apa dia homo? Atau bajingan? Kyaaah..

Kedua mata Chonsa terbelalak ketika Kai berbalik dan mendapatinya yang tengah berdiri di depan pintu. Dengan cepat Chonsa mengambil langkah mundur sampai akhirnya Kai berada di hadapannya.

Chonsa tidak berani menatap Kai. Lagipula Kai tidak mengatakan sesuatu pada Chonsa dan pergi begitu saja. Mau berkata apa? Mereka berdua tidak saling mengenal. Bukan begitu?

Sama seperti Soona yang baru saja keluar dari ruangan itu. Hanya melayangkan tatapan sinis pada Chonsa dan berlari, kembali mengejar Kai.

Chonsa hanya menaikkan kedua bahunya dan masuk ke dalam ruangan itu. Waw! Ada beberapa piano, keyboard dan alat-alat lainnya. Okay, pemandangan seperti ini mungkin akan mendatangkan inspirasi.

*

“Kau duluan saja, Hyung. Sampai jumpa!”

“Ya, sampai jumpa, Sehun-ah!”

Namja itu masih bersiap untuk kembali ke dorm. Memasukkan baju yang sudah berkeringat ke dalam tas setelah mencuci wajahnya yang tampan. Dan kini dirinya hanya memakai sweater putih yang menyetak tubuhnya.

Tunggu, dimana dia letakkan sabun mukanya? Sehun terdiam sejenak sambil meliarkan kedua bola matanya di sekitar ruangan ini.

Tapi bukan sabun yang ia temukan. Nada. Itu yang dia dengar dan matanya sudah tidak dapat fokus mencari barang itu. Hanya telinganya yang dipertajam dan menikamati alunan musik yang indah.

Sudah tidak peduli dengan urusan sabun muka, Sehun menyambar tasnya dan keluar dari toilet. Kakinya berhenti melangkah. Kini matanya menatap koridor sekolah yang sangat sepi dan tertuju pada ruangan paling ujung sebelah utara. Ya, ruangan itu. Dimana kelas swc membuat lagu. Tapi ini sudah  bukan waktunya kelas. Sehun semakin penasaran dan melangkah dengan perlahan.

Matanya menutup seiring dengan langkahnya. Ya, menikmati setiap alunan piano yang ia dengar. Sampai akhirnya dia berdiri tepat di depan pintu tutorial. Tangannya mendorong pintu itu dengan perlahan. Matanya melebar setelah melihat sosok yang tengah duduk di depan piano.

“HIAH!!”

Sehun sedikit terkejut dengan pekikkan itu. Tapi dengan kemampuannya, dia menyembunyikan ekspresi kaget dan tetap berdiri di tempat. Yeoja itu belum mengetahui keberadaannya.

“Tempat ini benar-benar membawa inspirasi! Aaaaah, aku benar-benar senang!” seru yeoja itu kembali sambil menulis rentetan not di atas kertas dan menghembuskan napas panjang setelah semua selesai.

TOKTOK!!

Sehun menyadari kini yeoja itu tengah menatapnya dengan takut. Tapi tidak lama yeoja itu tersenyum samar, menyimpan peralatan tulis dan kertasnya lalu menghampiri Sehun.

“Annyeong haseyo!”

Sehun tersenyum dengan ragu. Tapi tidak lama senyuman itu berubah menjadi sangat lebar dan tawa kecil terdengar.

“Bukan waktunya kelas..”

“Maafkan aku sunbae! Aku hanya.. aku hanya.. aaaahh, aku benar-benar minta maaf!”

“Oh Sehun..” ucap Sehun sambil mengulurkan tangannya.

Yeoja itu mengangkat wajahnya dengan perlahan dan menatap Sehun. “Park Chonsa..” ucapnya sambil menjabat tangan.

Mereka berdua saling bertukar senyuman cukup lama kali ini. Ya, akhirnya Sehun dapat mengenal Chonsa begitu pun sebaliknya.

“Aku dengar kau berdansa dengan hebat,” ucap Chonsa membuka perbincangan awal.

Sehun tertawa sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan sekilas lalu melangkah dan duduk di sofa ruangan tutor itu. “Aku bukan yang terbaik.”

Kini Chonsa yang tertawa. “Bukan yang terbaik bukan berarti kemampuanmu buruk.”

“94. Kau?”

“Same as you..”

Sehun tersenyum kembali dan berdeham untuk menghilangkan kecanggungan yang terasa. “Aku menyukai permainanmu. Lagu apa yang kaumainkan tadi?” tanya Sehun.

Chonsa kembali duduk di kursi piano namun menghadap ke arah Sehun. “Ride. Itu lagu yang dibawakan Bond Girls dan selalu memberiku inspirasi. Dan akhirnya tugas hip-hop selesai,” jawab Chonsa sambil mengibarkan kertasnya yang sudah dipenuhi not kali ini. Bibirnya tersenyum lebar sangat gembira.

Sehun hanya tersenyum sambil menatap kertas not itu. Ingin sekali dirinya mencoba memainkan lagu milik Chonsa. Ya, karena dia ingin tahu dan ingin membuktikan apa yang dikatakan murid-murid tentangnya yang benar-benar berbakat membuat lagu.

Tapi Sehun pesimis. Dia tahu bagaimana murid swc. Tidak akan mudah meminta mereka untuk memperlihatkan dan memperdengarkan lagunya sebelum lagu itu sah dilindungi hak cipta dan terjual.

“Bagaimana kalau kita mendengarnya? Aku yakin kau pasti suka!”

Seperti terhentak batu keras, Sehun kembali berpikir. Waw! Chonsa berbeda.

“Sehun? Ya!” seru Chonsa. “Kau bisa bermain musik? Kajja kita mainkan bersama!”

Tanpa menjawab sepatah kata pun, Sehun bangkit dari tempat duduknya dan mengambil sexophone yang tersimpan di pojokan ruangan.

Chonsa tersenyum lebar dan menempatkan kertas notnya di atas piano. Sehun berada di sampingnya, bersiap memainkan lagu.

“Bermain denganku..” ajak Sehun sambil tersenyum dan kembali bersiap dengan alat yang ia pegang.

Chonsa terlihat begitu antusias dan kini dirinya berbalik menghadap piano. Sore itu mereka nikmati dengan lagu dan perbincangan ringan yang menarik.

*

“Haaiiisshh!!”

Namja itu melempar bajunya sembarangan ke arah keranjang cucian, namun lemparannya meleset. Dirinya kembali menggeram cukup keras.

“Tidak ada satu pun lagu yang kubuat dalam dua minggu ini. Benar-benar payah..”

Ponselnya bergetar. Dengan malas Chanyeol melihat siapa yang mengirim pesan padanya. Alisnya mengerut. Sebenarnya melihat namanya saja sudah malas. Tapi karena dia berhati baik, akhirnya pesan yang dikirim seseorang itu dibaca juga.

Kim Sera: ‘Chanyeol-ah! Kau punya waktu luang? Bagaimana kalau kita mencari tempat untuk berbincang? Sepertinya aku merindukanmu..’

Chanyeol mendengus dan melempar ponselnya. Waktu luang? Berbincang? Untuk apa? Membahas masa lampau yang benar-benar tidak ingin ia ulangi seumur hidupnya? Itu yang membuatnya seperti ini. Gagal total. Hanya karena yeoja.

“Baekhyun. Aku membutuhkannya..” ujar Chanyeol lebih pada dirinya sendiri. Kini dirinya memakai kaus berbeda dan keluar dari kamarnya.

“Hyung!” panggil seseorang. Chanyeol menoleh. Oh, Sehun. Ada apa ini? Sepertinya dia terlihat sangat bahagia. Bukan! Bukannya Chanyeol tidak mengijinkan Sehun untuk bahagia. Sehun memang selalu bahagia, tapi tidak sebahagia ini.

“Sehun-ah..”

“Sudah malam. Pergi ke suatu tempat?” tanya Sehun sambil ber-high five dengan Chanyeol. Ritual yang selalu terulang jika bertemu.

Chanyeol tersenyum. “Ani. Aku mencari Baekhyun. Mungkin dia berada di kamarnya. Dari mana saja kau?” Chanyeol menatap Sehun dari atas sampai bawah dengan tatapan curiga.

“Hm.. berlatih?” jawab Sehun dengan tawa. Chanyeol masih mengerutkan keningnya. “Ada apa, Hyung? Kau tidak mempercayaiku?”

“Bukan! Bukankah studio ditutup pukul enam sore?” tanya Chanyeol yang belum juga puas dengan jawaban Sehun.

“Baiklah.. aku baru saja kembali dari ruang tutor. Sudah dulu, aku harus kembali ke kamarku. Hyung, annyeong!”

Chanyeol hanya mengikuti Sehun dengan matanya sampai anak itu menghilang dan kembali melambaikan tangan ke arahnya lalu tenggelam di balik pintu.

“Dasar balita. Aku sudah menduganya. Pasti yeoja..”

“Chanyeol!”

“Ah, Baekkhie..”

*

(Chonsa POV)

Ternyata Sehun benar-benar namja yang sangat baik dan perhatian. Ah, yang seperti itu yang dinamakan sempurna. Tapi sepertinya aku sudah banyak menemukan namja sempurna dan aku tidak pernah memilikinya satu. Hahaha. Sepertinya ada yang salah dengan diriku.

Baiklah, mungkin aku harus mengembalikan jaket ini untuk Chanyeol sunbae. Sudah kucuci bersih dan harum. Tidak seperti sebelumnya. Hah, Chanyeol sunbae..

Wow.. asrama putra terlihat megah dan dipenuhi banyak namja. Tentu saja. Dan aku takut. Bagaimana caranya? Hah, mengapa aku sama sekali tidak mempunyai teman yeoja?

Okay, aku mulai melangkahkan kakiku menuju pintu utama asrama. Ya, aku melihat resepsionis sedang berjaga di sana.

Chonsa, jangan! Jangan melihat mereka. Berkonsentrasi saja dengan jaket ini dan berikan pada Chanyeol sunbae.

“Permisi,” ucapku yang pasti terdengar ragu.

“Mencari siapa?” tanya resepsionis yang berumur sekitar dua puluhan itu.

“Aku mencari murid bernama Park Chanyeol.”

“Nomor 57.”

“Terimakasih..”

Ah, aku baru tahu ternyata yeoja juga bisa berkeliaran di asrama namja. Lihat! Tidak sedikit yeoja yang sedang berbincang dengan banyak namja di koridor asrama ini.

Baiklah, nomor 57 berada di lantai dua berdasarkan petunjuk. Aku mulai melangkahkan kakiku menuju tangga dan terdengar beberapa langkah kaki tengah menuruni tangga. Haish, aku takut.

Kutundukkan kepalaku dan tetap berjalan. Chonsa, kau hanya mencari kamar nomor 57 dan bertemu Chanyeol sunbae lalu pulang!

BRUK!!

“Ya!” seru seorang namja yang tertabrak olehku. Mati aku..

“KAI?! HEY!”

Hahahaha ternyata itu Kai. Idolaku!

“Haish!”

Ck, mengapa dia begitu menyebalkan. Tidak membalas senyuman dan sapaanku. Wajahnya saja kusut seperti itu. Aku jadi keheranan sendiri melihatnya. Apa dia baik-baik saja?

Punggungnya tenggelam di belokan tangga. Aku hanya menaikkan kedua bahuku dan melihat nomor kamar. 51, 52…

Yah, ini dia. Lima puluh tujuh.

TOK TOK!!

Ck, mengapa tidak dibuka?

TOKTOKTOK!!

CKLEKK!!

“Hah? Baek sunbae! Apa aku salah memasuki kamar?”

“Jika kau mencari Park Chanyeol, kau tidak salah. Masuk!” ajak Baekhyun sunbae dengan senyumannya yang lucu. Aku ikut tersenyum dan masuk ke dalam dorm Chanyeol sunbae. Ya~ mengapa berantakan seperti ini? Baju dimana-mana. Bungkus makanan juga bertebaran. Hah, apa semua dorm namja seperti ini? Menyedihkan.

“Chonsa!”

“Chanyeol sunbae! Mengapa dormmu berantakkan seperti ini? Ruang tamu, dapur, ruang televisi dan jangan-jangan ruang tidur tidak jauh berbeda!”

Chanyeol sunbae hanya tersenyum kuda. Hah, dasar.

“Maafkan aku, Chonsa! Aku benar-benar membutuhkan sosok istri dengan cepat,” ucap Chanyeol sunbae sambil menghampiriku. Aku hanya memanyunkan bibirku ke arahnya.

“Kalau begitu cepat menikah dan bawa istrimu kemari untuk membereskan dorm,” saranku tanpa dipikirkan dahulu. Aku memang seperti ini. Haha.

“Untuk apa membawanya. Dia sudah berada di sini, di depanku,” ucap Chanyeol sunbae dengan senyuman jahil ke arahku. Hm, aku tahu maksudnya. Dasar namja gombal -..-

Aku mendengus sambil melirik Baek sunbae yang tengah terkekeh.

“Baiklah, untuk kali ini saja aku akan membantumu membereskan dorm. Ini, jaketmu, terimakasih, Sunbae.”

“Yup. Ayo istriku, kita beres-beres bersama!”

Hiaaaaah, Chanyeol sunbaaaaae! >,<

(Author POV)

“Kau pasti lelah. Ini, minumlah..”

Chonsa meraih kaleng soda pemberian Chanyeol dan segera membukanya. “Haaaah, segaaaar!”

Chanyeol tersenyum dan meminum miliknya. Ah, ya. Baekhyun sudah keluar sebelum mereka membereskan dorm. Licik, bukan? Tapi tidak masalah untuk Chonsa. Ini mudah!

“Kau sengaja datang kemari untuk mengembalikan jaket? Mengapa malam-malam?”

“Ah, tidak. Aku baru saja kembali dari ruangan tutor. Sekaligus saja aku mampir dan mengembalikannya padamu, Sunbae.”

Chanyeol mengangguk-angguk. Tapi tiba-tiba matanya memicing ke arah Chonsa.

“Mwo?”

“Kau bertemu dengan seseorang di sana?” tanya Chanyeol dengan telunjuk kanan tertuju pada Chonsa.

“Haha! Mengapa kau bisa tahu?”

Namja itu semakin yakin. “Biar aku tebak..”

“Okay, guess it!”

“Oh Sehun,” tebak Chanyeol dengan wajah datar.

Chonsa kembali tertawa sambil bertepuk tangan. “Kau benar-benar hebaaaat! Bagaimana bisa kau tahu dia Sehun, Sunbae?”

“Tadi aku bertemu dengannya.” Chanyeol tidak menyingkirkan mimik datarnya itu. Benar-benar menggemaskan. Sebenarnya Chonsa ingin memukul, mencubit saking lucunya!

“Ya, dia benar-benar namja yang baik. Aku menyukainya..” ucap Chonsa disusul tawa samar.

Chanyeol mengerutkan keningnya. “Jadi kau tidak tertarik denganku? Oh, God, how caaaaan!” seru Chanyeol sambil menjambak rambutnya.

“Sunbaaaae!”

“Padahal banyak sekali murid SIAS yang tergila-gila padaku, Chonsa-yaaa!”

“Aku menyukaimu, Sunbae! Aku menyukaimu!”

“Tapi kau tidak tergila-gila padaku!”

“Kalau begitu aku terwaras-waras padamu!”

“Yaaaa~.”

“Aku menyukai semua orang, Sunbae..” kata Chonsa sambil menarik-narik lengan Chanyeol.

Kini Chanyeol terdiam sambil menundukkan kepalanya. Chonsa benar-benar bingung. Apa yang harus dia lakukan? Dia tahu Chanyeol adalah orang yang sering bercanda. Tapi dia tidak bisa membedakan canda dan keseriusan namja itu sekarang.

“Oppa.. Oppa wae?” tanya Chonsa sambil memegang pundak Chanyeol dengan ragu.

Chanyeol masih menundukkan kepalanya dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

“Chanyeol oppa! Mianhaeeee!” seru Chonsa yang menarik-narik lengan Chanyeol semakin brutal.

“Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha!”

Chonsa benar-benar terkejut dengan tawa Chanyeol yang tiba-tiba seperti itu. Tapi tidak lama dirinya memukul Chanyeol beberapa kali saking kesal.

“Apa yang lucu?” tanya Chonsa dengan suara keras dan cempreng.

“Tetap seperti itu,” jawab Chanyeol sambil menatap Chonsa dengan lembut.

“Apa?”

“Panggil aku seperti itu. Arasso?”

“Chanyeol oppa?”

“Hm?” Chanyeol tersenyum sangat tampan dan itu membuat Chonsa tidak nyaman dengan jantungnya.

Dengan cepat Chonsa memalingkan wajahnya. Tapi tidak kalah cepat Chanyeol membalikkan wajah Chonsa dengan jemari kanannya.

“Aku antar kau kembali ke dorm.” Chanyeol bangkit sambil menggenggam jemari Chonsa dengan lembut.

“Tidak usah, Oppa..”

“Hm? Kau ingin menyia-nyiakan tawaran dari namja super keren dan tampan sepertiku? Aaaah, payah.”

“Arassooooo!”

Chanyeol tersenyum.

**

“Luar biasa.. kau membuatnya dalam satu hari?” tanya Lee sonsaengnim.

Chonsa yang mendapat pertanyaan itu hanya mengangguk sambil tersenyum. “Ya, Sonsaengnim. Sepertinya hari kemarin itu inspirasiku berjalan dengan lancar.”

“Good.. baiklah, kau dapat meninggalkan kelas lebih dulu dan masuk ke kelas tutor atau pergi membeli sekaleng minuman segar.”

“Baik, Lee sonsangnim! Kamsahamnidaaa!”

Pada waktu itu jam kelas belum berakhir dan bel pun belum berbunyi. Chonsa berniat pergi ke food court untuk mendapatkan satu jenis makanan saja untuk mengganjal perutnya.

Tiba-tiba langkahnya berhenti di salah satu studio dansa yang kemarin digunakan Kai. Ya, namja itu. Kini matanya kembali menemukan Kai yang tengah berdansa di depan, memimpin belasan teman di belakangnya. Hm, semua studio di lantai satu memang menerawang dan semua orang dapat melihatnya dari luar.

Benar-benar berkharisma..

“Chonsa..”

Dengan gelagapan Chonsa tersadar dari kegiatannya dan menoleh ke asal suara. Ah, Sehun. Mengagetkan saja.

“Apa yang sedang kau lihat?” tanya Sehun sambil menghampiri Chonsa. Senyumnya sudah terpampang sejak tadi.

“Kelas.. dansa..” jawab Chonsa sambil menunjuk-nunjuk.

“Oh..” gumam Sehun sambil melihat ke arah Kai yang tengah berdansa. “Dia.. Dia adalah yang terbaik,” ucap Sehun sambil tersenyum dengan dengusan kecil keluar dari hidungnya.

“Sayang sekali. Dia akan terlihat lebih sempurna jika tersenyum. Bagaimana menurutmu?” tanya Chonsa sambil tertawa kecil dan tiba-tiba tawanya terhenti. “Kau tidak ikut bergabung di dalam sana?”

“Aku berbeda kelas dance dengannya. Aku studio dua.”

“Lalu mengapa kau tidak mengikuti kelas?”

“Aku sudah menguasai teknik yang dipelajari hari ini.” Sehun tersenyum sambil membalas sapaan teman-temannya yang baru saja keluar dari studio satu.

“Itu berarti kau yang terbaik, Sehun-ah,” ujar Chonsa cepat.

“Tidak jika dibandingkan dengan Kai..”

“Tapi..”

“OH SEHUN!!”

Mereka berdua menoleh ke asal suara nyaring itu. Seorang yeoja memakai witches orange cantik, celana jeans abu, shirt orange segar dibalut blazer kuning terang. Rambut hitamnya menambah kesan cantik dan kulitnya yang putih bersih sangatlah bersinar. Apalagi ketika tersenyum seperti itu. Semua namja akan takluk.

Akhirnya Chonsa menyadari. Ya, dia mengetahui yeoja itu. Tentu saja dengan semua murid yang tengah menatap ke arah gadis itu. Mereka pasti mengetahuinya. Shin Heera. Artis SM Entertainment yang tengah naik daun di dalam group girlband. Immortal.

“Heera..” gumam Sehun dengan suara pelan. Bibirnya tersenyum lebar ketika Heera berlari menghampirinya dari ujung koridor. Chonsa menyadari itu.

Kai yang baru saja selesai membereskan barang-barangnya mulai melangkah menuju pintu keluar studio. Tapi tiba-tiba langkahnya berheni sebelum benar-benar keluar studio. Matanya langsung menangkap satu sosok yang sangat dikenalinya dengan baik lalu dengan ringan tubuh gadis itu berada di pelukan Sehun dan memeluk namja itu sangat erat.

Tangan kanannya menggenggam tali tas dengan sangat erat sedangkan tangan kirinya memegang blazer sama eratnya. Giginya terkatup sangat rapat dengan mata yang tertuju tajam pada dua orang itu.

Tidak lama setelah dia menyerah, kakinya berlari meninggalkan studio, melewati koridor dan menghilang di belokan dengan cepat.

Chonsa yang melihat itu hanya mengernyitkan keningnya dalam-dalam.

“Heera..”

“Aku masih ingin memelukmu seperti ini. Apa kau tidak tahu kalau aku sangat merindukanmu, Sehun-ah! Sudah satu bulan kita tidak bertemu!” Yeoja bernama Heera itu benar-benar tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Yang dia lakukan hanya memeluk Sehun seperti itu.

Chonsa yang merasa mengganggu pertemuan mereka akhirnya meninggalkan tempat itu meskipun Sehun melarangnya dengan mengedipkan mata dan berbicara tanpa suara.

Akhirnya Chonsa sudah melangkah menjauh dari adam dan hawa itu.

“Dimana Chanyeol oppa? Aku tidak melihatnya seharian ini..” ucapnya sambil membenarkan seragamnya. Ya, setiap hari selasa, rabu dan kamis semua murid di sini memakai seragam sesuai divisi.

Kini dirinya benar-benar menginjakkan kaki di food court dan memesan jus strawberry kesukaannya. Matanya beredar di sekitar ruangan besar dan terbuka ini. Tidak ada. Tidak ada sekelompok besar orang-orang yang tengah berdansa atau bermain rap. Dan tidak ada Chanyeol. Kemana dia?

Yang dia temukan hanya sosok Kai yang tengah duduk menyendiri dengan segelas air mineral dingin. Matanya menatap satu titik dengan kosong. Jemari kanannya hanya bermain secara tidak sadar dengan gelas yang mengeluarkan  titik-titik air karena dingin.

“Hai!” sapa Chonsa dengan riang sambil duduk di depan Kai.

Namja itu mengerutkan alis lalu meneguk air mineralnya beberapa kali. Gelas itu disimpan di atas meja dengan sedikit keras sampai Chonsa sedikit terkejut.

“Sepertinya kau sedang kesal.”

Kai tetap terdiam. Tidak mengeluarkan suara sedikit pun dan menganggap yeoja di depannya hanyalah makhlus halus.

“Apa kau memang seperti ini? Dingin dan tidak bergaul? Bagaimana bisa? Jika aku berada di posisimu, aku tidak akan sanggup untuk hidup. Yang akan aku lakukan adalah mencari teman sebanyak-banyaknya, bermain dan berbincang dengan mereka. Itu sangat menyenangkan kau harus tahu itu!”

“Siapa kau?”

Akhirnya. Kalimat pertama yang Chonsa dengar dari mulut namja itu. Mengapa kalimat singkat saja bisa membuatnya berdegup? Suaranya yang rendah dan berat terdengar keren.

“Chonsa! Park Chonsa! Kau?” jawab Chonsa dengan semangat dan dengan mata yang berbinar-binar ke arah Kai. Senyumnya yang lebar pasti membuat siapapun terpesona. Tapi sepertinya tidak untuk Kai.

Kai memutar kedua bola matanya dan mendecak kecil. “Lebih baik kau pergi dan jangan menggangguku..” ucap Kai dengan tatapan datarnya pada Chonsa.

“Baiklah, aku tidak akan berpura-pura. Kai. Itu namamu, bukan? Hahaha! Aku memang sudah tahu dari awal.” Chonsa membenarkan poninya. “Kai! Aku sangat menyukaimu!” seru Chonsa yang sedikit membuat Kai tersentak. Lalu Chonsa menambahkan, “Sejak kapan kau mulai berdansa?” tanya Chonsa terlihat sangat antusias.

“Apa itu penting?”

“Ayolah, Kaaaaaai! Aku benar-benar seperti.. seperti.. tersihir? Ya, aku tersihir setiap kali aku melihatmu berdansa.”

Kai kembali mendengus setelah mendengar ucapan Chonsa. “Pergi..”

“Fans! Ya! Aku menjadi fansmu mulai hari ini.”

“Ya! Siapa—“

“—Kau tidak bisa menolak seorang fans. Adanya fans itu membuktikan bahwa kau mempunyai bakat yang hebat, Kai!”

“Agashi! Apa kau mengerti bahasaku, hah? Aku sudah memintamu untuk pergi! Jangan membuat moodku tambah buruk!”

Chonsa hanya terdiam dan melihat Kai dengan tatapan meminta maaf. Tapi tiba-tiba dirinya terkejut ketika sebuah tangan menepuk pundak kanannya.

“Chonsa! Aku mencarimu ke kelas. Ternyata kau di sini.”

TBC ;]

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @dearaflames NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

2 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Pulchritude” – Part 2

  1. 풑리 ♔ (@putriaisayA) August 19, 2012 at 1:28 PM Reply

    Kereeeen , next ny d tunggu 😀

  2. karilia October 4, 2012 at 2:46 PM Reply

    wooooow. next chapter~ storynya kereeeen abis. penceritaannya bikin jatuh cinta;-;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: