EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 1

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Nimic”

 

*Title : Nimic.

*Sub Title : The First – I cant understand.

*Author : Han Je Si

*Main Cast :

  • Luhan
  • Han Soon-Na
  • Kim Je-Si

*Length : Series

*Genre : Romance, Friendship

*Rating : PG-13

*P.S : This is a story before Luhan joined EXO. In this story, Luhan melewati masa SMA-nya di Korea. Sebelum akhir-nya ke China dan kembali lagi Korea. Miring tanpa warna adalah masa lalu.

*Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

Summary :

No one care about me except you.

We grew up together.

Cry together.

Laugh together.

I just want be like this forever.

Until I realized that we cant be like this forever.

Cause I believe, slow but sure.

I’ll be Nimic for you.

I’m Nothing.

**

We grew up together.

Having you in my side.

Protect you.

Loving you without answer.

That’s all like I wanna do until the rest of my life.

But I realized that I am Nimic for you.

I’m Nothing.

**

Three of us met by fate.

Three of us are best friend.

But actually, I realized that I’m Nimic for you two.

May be i am just passing by person in your memories.

I just make everything more complicated.

I should not be born in this world.

I’m Nothing.

**

 

In the end of August 2008

Seoul, South Korea.

“Han Soon Na. Kau sungguh beruntung!”

Mata  besar itu mengerjap-ngerjap sebentar dibalik kacamata tebal yang digunakan gadis itu seolah mengisyaratkan bahwa ia tidak mengerti. Gadis disebelahnya mendengus panjang lalu menidurkan kepalanya diatas meja dan mulai menatap keluar jendela.

“Apa maksudmu, Je-si-a?”

“Lupakan. Lihat saja cowok tampan yang tidak mau kamu pacari itu, ia sudah datang dengan tampannya didepan kelas” ujar Je-si malas ketika mendapati seorang pria tampan dengan wajah cute berdiri didepan pintu kelasnya juga melambai kearahnya, atau lebih tepatnya kearah Soon Na disebelahnya. Soon Na dengan refleks menoleh kearah pintu masuk dan membalas lambaian pria itu dengan senyum merekah.

“Hanhan-a!” teriak Soon Na sambil melambai-lambaikan tangannya seolah meminta pria itu masuk sementara seluruh mata wanita dikelas itu menatapnya tajam.

Bagaimana tidak? Pria yang terlihat begitu akrabnya adalah bintang sekolah. Luhan adalah pria yang merupakan kapten sepak bola, juga jenius. Jangan tertipu dengan tampangnya yang polos itu dan terlihat seperti wanita, karna sebenarnya ia juga jago berkelahi dan disegani siapapun. Dirinya yang begitu bersinar, 180 derajat dengan wanita bernama Soon Na itu, ia  memang benar sangat jenius walaupun ia sangat kutu buku dan tertutup. Penampilannya ugal-ugalan dan bahkan terlihat sangat seram dengan rambutnya yang begitu panjang.

“Na-ya~ Aku membawakan bekal untukmu. Kamu masih belum makan, kan? Aku sudah tau kamu pasti berencana untuk tidak makan!”

Soon Na tersenyum lalu berdiri dan mengambil bekal yang dibawa Luhan, “Arraseo, kamu memang paling mengerti aku. Sekarang kamu mau menghabiskan waktuku untuk makan atau menceramahiku?”

Luhan berpikir sejenak membuat Soon Na memutar bola matanya sebal, tak lama ia berjalan kearah luar kelas meninggalkan Luhan didalamnya, “Aku tentu memilih makan bersamamu” ucap Luhan sambil berjalan mensejajarkan diri dengan Soon Na. Soon Na menoleh kearah Luhan sebentar dan menyadari bahwa Luhan sudah semakin tinggi, bahkan sekarang tinggi-nya hanya se-telinga Luhan. Padahal dulu ia lebih tinggi dari pria itu.

“Kamu masak apa?” tanya Soon Na mengalihkan perhatiannya sendiri sambil berjalan lurus kedepan.

Luhan tersenyum dan memindahkan tas bekal yang dibawanya tadi pagi dari tangan Soon Na kesebelah tangan kirinya, “Ehm.. Telur dadar kesukaanmu, terus.. Sosis, nasi juga tentu aku bawa. Ohya, tadi aku sempat membawa kimchi buatan eomma. Terus apa lagi ya? Lupa. Kamu suka, kan?”

“Apapun kalau kamu yang buat pasti enak, Hanhan-a. Harga diriku sebagai wanita pun turun karenamu.” cibir Soon Na sambil mempercepat langkahnya. Namun seketika Soon Na terkesiap ketika merasakan tangannya menjadi lebih hangat dari sebelumnya sehingga ia pun menoleh dan mendapati tangan Luhan dan miliknya bertautan erat. Tapi ia tersenyum manis, ia selalu suka kehangatan yang Luhan berikan. Kehangatan yang sudah ia rasakan selama 15 tahun dan tidak pernah berubah.

**

“Na-ya~ Apakah kamu sudah tidur?” ujar Luhan nyaris bergumam. Tak lama matanya berpaling dari indahnya langit biru ke bawah menatap gadis yang sedang tidur dipangkuannya. Ia tersenyum perlahan dan dengan hati-hati melepaskan kacamata yang digunakan gadis itu. Poni gadis itu berantakan sehingga dengan lembut Luhan merapikannya.

Menatap gadis itu seperti pekerjaan seumur hidup yang selalu ia lakukan. Memperhatikannya, menyayanginya. Walaupun terkadang sakit, dan ia harus terluka. Ia tetap akan melakukan hal itu seumur hidup.

“Han-han-a. Berjanjilah tetap selalu disisiku. Tetaplah jadi sahabatku. Karena aku..”

“Na-ya~ sudahlah.. Aku berjanji. Apapun yang terjadi, aku akan selalu berada disisimu sebagai sahabatmu”

 

Luhan tertawa getir, mengingat perkataannya sendiri membuat hatinya semakin pahit. Seandainya ia tidak berjanji seperti itu. Maka semuanya tidak akan seperti ini.

**

 

Soon Na menaiki tangga besi rapuh itu dengan susah payah. Raganya sudah begitu lelah entah karena apa. Lampu kecil remang-remang itu menjadi satu-satunya pencahayaan tangga itu karena matahari sudah tenggelam sudah sekitar 4 jam yang lalu.

Dengan cepat, Soon Na mengambil kunci dengan sebuah gantungan rusa disana. Hadiah ulangtahun-nya yang ke 7 tahun, tentu saja dari Luhan. Siapa lagi yang akan mengingat ulangtahun gadis itu pertama kali setiap tahun jika gadis itu sendiri selalu melupakannya? Terkadang ia berpikir lebih baik kalau ia tidak hidup saja dibanding harus menyusahkan Luhan seumur hidupnya.

“Cklek”

Soon Na menarik napas singkat sebelum membuka pintu itu lalu tak lama pintu itu terbuka. Tidak ada cahaya apapun dari sana sehingga gadis itu terpaksa meraba-raba dinding sehingga tak lama lampu menyala dengan terangnya. Tak lama kemudian Soon Na sudah duduk diatas kursi dan melepaskan sepatu satu-satunya yang ia punya.

Rumah ini terlalu rapuh, terlalu kaku dan sangat sepi. Tempat ini juga sebenarnya tidak bisa dibilang sebagai rumah, mungkin lebih seperti sebuah ruangan kecil yang berisi kamar mandi, dapur-ruang makan dan juga kamar tidur yang bersatu. Hanya saja tempat itu terlihat begitu rapi dan begitu unik. Disatu pojok ada sebuah meja yang memajang foto-foto kenangan disana. Sebuah hal yang terlihat begitu simple tapi terasa hangat. Sayangnya tempat itu hanya ditempati satu orang sehingga membuat rumah itu terasa begitu menyedihkan.

“Sampai kapan aku akan bertahan?”

**

Dengan cepat Luhan mengayuh sepedanya menyusuri jalan. Senyum merekah dibibirnya. Tumben saja ia mempunyai waktu untuk menjemput gadis itu, karena biasanya ia selalu ada latihan sepak bola pagi-pagi sekali dan biasanya Soon Na akan melarangnya untuk menjemput gadis itu. Tapi ia tidak punya alasan untuk marah lagi karena Luhan memang tidak punya schedule apapun pagi ini.

Turunan curam itu memaksa Luhan untuk berhenti tersenyum dan mengendarai sepedanya hati-hati. Ia tidak ingin dirinya celaka dan membuat gadis itu menangis. Ia tidak ingin meninggalkan gadis itu. Apalagi ia sudah bangun jam 2 dinihari hanya untuk memasak makanan yang akan diberikan untuk gadis itu.

Angin menerpa rambut Luhan tanpa ampun, mungkin sekarang ia terlihat tidak karuan tapi tetap saja ia akan terlihat begitu rupawan dimata semua gadis. Kecuali gadis yang sudah ia temani seumur hidupnya itu. Tidak ada yang bisa membuat gadis itu jatuh hati padanya. Ketampanannya, kejeniusan, kebaikannya. Luhan hanyalah seorang sahabat untuknya, sahabat seumur hidupnya.

Walaupun begitu, Luhan hanya ingin tetap berada disisi gadis itu. Melihat senyumnya, menghapus air matanya.

**

Soon Na dengan malas mengerjakan soal Fisika tingkat universitas sementara seluruh mata menatapnya takjub. Bagaimana tidak? Luhan saja tidak bisa mengerjakan-nya minggu lalu. Bagaimana bisa gadis itu mengerjakannya dengan begitu santai?

Seisi sekolah tau dengan jelas siapa pemegang peringkat satu dan dua disekolah mereka. Memang sebenarnya tidak heran, karena Soon Na lah yang memegang peringkat satu. Tapi mereka juga kagum pada Luhan, karena dibanding Soon Na, Luhan lebih banyak memiliki kegiatan. Tapi itu hanya yang ada dimata mereka saja, mereka tidak pernah tau apa yang sebenarnya dilakukan Soon Na diluar sana.

Seluruh gadis disekolah mereka memang tidak pernah membully Soon Na secara langsung semenjak kejadian dimana Soon Na dibully habis-habis-an oleh gadis-gadis sekolah mereka dan Luhan langsung marah besar. Soon Na sendiri tidak pernah mengurusi mereka yang mem-bully-nya. Karena menurutnya hal itu sangat tidak penting sementara ia masih mempunyai juta-juta hal yang perlu diurusi.

“Tuk”

Soon Na memberi titik terakhir didalam jawaban yang ia miliki dan sedetik kemudian seisi kelas memberikan tepuk tangan untuknya. Mereka memang tidak mengerti kenapa jawaban itu bisa ada, hanya saja Soon Na terlihat keren karena sudah dengan percaya diri menyelesaikan soal yang susah tersebut.

“Soon Na, kamu memang murid kesayanganku!” ucap Mr. Lee dengan semangat dan betepuk tangan, “Apapun soal yang kuberikan, kamu pasti bisa. Luhan pasti akan kesal nanti karena ia tidak bisa mengerjakan soal yang kuberikan hari ini. Baiklah class.. Pelajaran hari ini sampai disini saja dulu. Sampai ketemu minggu depan”

Senyum merekah di semua bibir murid kelas Soon Na, itulah alasan kenapa mereka begitu senang ketika Mr. Lee meminta Soon Na mengerjakan soal, mereka sudah tau kalau Soon Na pasti akan bisa dan memperbaiki mood Mr. Lee, lalu Mr. Lee akan berbaik hati untuk mempercepat jam pelajaran mereka. Semua senang dan bahagia. Lebih baik diam dan menunggu, begitu kata pepatah jaman dahulu.

“Thank you, Mr.Lee”

Pria setengah baya yang sangat tampan dengan darah barat itu tersenyum manis dan melambaikan tangannya perlahan sebelum ia menutup pintu kelas dan meninggalkan semua murid-muridnya.

**

“Na~ya, kamu kenapa berangkat pagi sekali hari ini?”

“Memangnya kenapa?” tanya Soon-Na sambil menengok kearah Luhan dan berhenti mencatat sesuatu didalam handphone-nya. Luhan terdiam sebentar lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa. Ayo sekarang kita makan.”

Seketika, Luhan menatap Soon-Na dengan bingung ketika gadis itu menggelengkan kepalanya lalu kembali mengetikkan sesuatu kedalam handphone-nya, “Tidak usah. Aku sudah kenyang. Aku sudah sarapan tadi pagi.”

“Tadi pagi?”

“Ya, aku makan tadi pagi. Ada apa?”

Sekarang giliran Luhan yang menggeleng. Ia menggeser kotak bekal yang sudah ia buat dari pagi sekali ke belakang punggung-nya, “Tidak apa-apa. Aku juga sebenarnya lupa membuatkanmu makanan tadi pagi karena kegiatan klub.”

Soon-na tersenyum manis lalu mengacak-ngacak rambut Luhan yang sudah tertata rapi, “Tidak apa-apa. Apa kamu tidak mau makan sekarang saja? Kamu pasti belum sarapan kan karena tadi klub? Pergilah, aku tidak ingin kamu kelaparan.”

Luhan menatap Soon-Na sesaat lalu tak lama turun melihat handphone gadis itu. Ia menyadari sesuatu terjadi. Dan ia tau kalau suatu saat hal ini akan terjadi.

Kamu mulai berbohong padaku. Tapi apa yang bisa aku lakukan?

 

Luhan berdiri lalu ia berjongkok sebentar menyetarakan tinggi-nya dengan gadis yang sedang duduk diatas rerumputan itu,tangannya terulur dan memeluk Soon-Na rapat-rapat. Sesuatu dalam hati Luhan merasa sakit, tapi lagi-lagi ia hanya bisa diam. “Sampai jumpa, Soon-Na-ya. Aku tidak bisa menemani-mu pulang nanti. Biasa, masih ada rapat klub. Bye.”

**

Dia memanggilku Soon-Na~ya. Dia tidak lagi memanggilku Na~ya. Ini memang sudah saatnya.

 

Gadis itu tersenyum getir lalu meletakkan handphone yang sedari ia pegang kedalam kantongnya. Sekarang gadis itu hanya terdiam sambil membiarkan angin menerpa rambutnya lembut membuatnya terlihat sedikit berantakkan. Tubuhnya tiba-tiba saja serasa lemas sehingga tak lama tubuhnya sudah sepenuhnya tidur diatas rerumputan. Perut gadis itu kosong sebenarnya. Ia sendiri sangat kelaparan karena belum makan dari tadi malam. Lalu kenapa gadis itu melakukan hal ini?

**

“Luhan-a!”

Luhan menghentikan langkahnya ketika mendengar suara yang dikenalnya, dan ia tersenyum ketika mendapati Kim Je Si disana. Sahabat lain dari sahabatnya. Ia membiarkan gadis itu berlari kecil kearahnya dan menyunggingkan senyum manis-nya dihadapan Luhan.

“Kenapa muka-mu seperti itu?” tanya Je-si sambil mengerutkan kening membuat Luhan tersenyum, “Yak, memang-nya seorang Luhan tidak boleh berekspresi seperti ini?”

“Apa kamu selalu menjadi Luhan yang begini dihadapanku? Padahal aku juga ingin Luhan yang lemah lembut dihadapanku sehingga aku bisa bermanja padamu.” Ejek Je-si diikuti jitakkan pelan Luhan dikepalanya membuat gadis itu meringis pelan.

Baru saja Luhan akan membuka mulut tapi gadis itu langsung saja meraih dan memeluk lengan pria itu dengan kuat, “Bagaimana kalau oppa membantuku sebentar untuk kabur dari pria-pria menyebalkan yang mengikutiku terus?”

Seolah dengan pasrah menerima ajakkan Je-Si, Luhan akhirnya mengikuti kemanapun gadis itu pergi. Sampai gadis itu merasa menemukan tempat yang aman.

**

Oppa..”

“Berhentilah memanggilku seperti itu, Je-si-a. Aku merinding mendengarnya.” Ucap Luhan sambil menyandarkan punggungnya ke dinding lalu perlahan membiarkan tubuhnya terduduk diatas lantai disusul gadis itu yang akhirnya duduk disebelahnya.

“Padahal kau pasti akan sangat senang ya jika kata itu keluar dari mulut Soon-na.” desis Je-Si sambil memutar bola matanya malas. Luhan mengacak rambut gadis itu pelan, seolah sudah mengganggap Je-si adalah adiknya sendiri, “Kamu sudah makan?” tanya Luhan sambil menatap Je-si disampingnya, gadis itu hanya terus memandang langit sambil menggeleng sebagai jawabannya.

“Makanlah ini.” ujar Luhan sambil meletakkan kotak bekal yang ia buat untuk Soon-na dihadapan gadis itu, Je-si menatap Luhan bingung sesaat sebelum tangannya meraih kotak bekal itu dan membuka tutupnya.

“Ini untuk Soon-na, kan? Kenapa tak kau berikan?” tanya Je-si penasaran diikuti tatapan takjubnya ketika membuka kotak bekal itu. Sosis gurita kesukaannya, telur orak-arik favoritenya serta nasi goreng yang begitu ia sukai. Astaga, bagaimana makanan ini semua bisa muncul? Apa ia sedang bermimpi?

“Ia bilang kalau ia masih kenyang. Jadi daripada tidak ada yang memakan, aku berikan saja padamu.”

“Lalu kamu sendiri sudah makan?”

Luhan hanya menggeleng.

Aku tidak mengerti Luhan-a. Aku tidak pernah mengerti jalan pikiranmu.

Je-si berdeham pelan lalu mengangkat kotak bekal itu dan mulai menyumpit sosis gurita yang paling menarik perhatian matanya, “Kamu lebih baik makan duluan, Luhan-a. Jika tidak, aku akan membuang makanan ini.”

Luhan menoleh dan sudah mendapati sosis gurita itu berada didekat mulutnya. Ia terkejut dan menatap Je-si bingung, “Kenapa harus makan?”

“Sudah kubilang, kan? Kalau kamu tidak makan, maka aku akan membuang makanan ini. Aku takut kalau kamu akan meracuniku!” teriak Je-si sok histeris. Luhan menatap geli Je-si sesaat sebelum ia membuka mulutnya dan membiarkan Je-si menyuapinya. Tangannya dengan ringan mendorong kepala gadis itu pelan seolah bercanda dengannya. Je-si yang sebal pun hanya bisa memanyunkan mulutnya beberapa senti, memberikan kesempatan bagi Luhan untuk mengambil sumpit yang dipegang gadis itu dan mengambil sosis berbentuk gurita lainnya dan menyuapkannya kemulut gadis itu.

Mulut mereka berdua penuh, tidak ada satupun yang berbicara. Tapi mereka berdua tersenyum, mata mereka seolah menggantikan mulut mereka untuk saling mengejek.

Walaupun aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Tetaplah tersenyum seperti ini, Luhan-a. Kamu terlihat lebih baik begini.

 

**

“Je-si-a, kamu dari mana saja?”

Je-si menoleh kearah Soon-na yang ternyata sudah duduk diatas bangku-nya dengan manis. Je-si berpikir sesaat apa yang harus ia jawab. Tapi tak lama ia hanya tersenyum dan memeluk sahabatnya itu dari belakang, “Kamu tau, Soon-na-ya? Jadi model itu menyebalkan sekali. Bisa kah kamu bayangkan, disaat istirahat pun aku harus mengecheck kiriman foto dress yang akan aku gunakan nanti malam.” Omel  Je-si sambil memanyunkan bibirnya beberapa senti di pundak Soon-na. Seisi kelas tau kalau Je-si, model dikelas mereka ah bukan disekolah mereka atau bahkan seisi Korea adalah orang yang sangat manja. Tidak akan ada yang pernah menyangka bahwa model seperti Je-si mau berteman dengan Soon-na yang pendiam itu.

“Mike memaksamu tadi? Padahal aku sudah bilang padanya untuk tidak usah memaksamu tadi. Karena aku sudah mengecheck dress-mu.”

Mata Je-si membulat perlahan, sebenarnya ia tidak sepenuhnya berbohong. Ia memang tadi sedang mengecheck dress-nya menggunakan iPad didalam kelas sampai beberapa fans-nya nekat masuk ke kelas dan membuatnya risih sehingga keluar kelas. Ia terus mengelilingi sekolah sampai ia bertemu dengan Luhan dan bebas dari incaran para fans-nya.

“Aaaa sudah lupakan. Ngomong-ngomong kamu cepat sekali kembali? Tidak makan bersama Luhan?”

Pertanyaan bodoh mana lagi yang keluar dari mulut gadis itu? Apa ia tidak bodoh namanya jika bertanya seperti itu? Jelas-jelas tadi ia makan bersama Luhan, tapi malah bertanya begitu? Apakah otaknya sedang bermasalah?

“Tidak, aku sudah sarapan tadi pagi jadi aku masih kenyang. Ia sendiri lupa memasak bekal sehingga aku menyuruhnya untuk makan dikantin sekarang.” Ucap Soon-na cepat dan diakhiri senyum kilat dibibirnya,”Dia tidak masak?”

Soon-na hanya menganguk lalu kembali bermain dengan handphone-nya, Je-si memiringkan kepalanya tidak mengerti sbelum sesaat melepaskan pelukannya pada Soon-na dan duduk dibangkunya sendiri. Ia semakin tidak mengerti akan hal yang terjadi.

**

“Cukup Luhan-a. Kamu akan terluka!” teriak Je-si cepat sambil melempar tas-nya kesamping sehingga membentur dinding dan membiarkan kakinya berlari kearah Luhan yang terjatuh ditengah lantai berkayu licin, ruangan ini dipenuhi cermin-cermin besar.

“Menyingkir lah, Je-si. Aku tidak butuh bantuanmu.”

Je-si menggeleng cepat, ia malah meraih tangan kanan Luhan dan meletakkannya diatas bahu, membiarkan tubuhnya memapah tubuh Luhan yang terbilang  terasa ringan itu. Luhan meringis perlahan dan dalam diam membiarkan Je-si membantunya untuk bisa mencapai dinding dan bersandar disana.

“Tunggu sebentar.  Aku tidak akan lama.”

Luhan tidak menjawab, ia hanya menutup matanya membiarkan tubuhnya untuk beradaptasi dengan sakit yang menggerogoti tubuhnya. Tak lama, Je-si sudah kembali dengan sebotol air mineral, handuk bersih dan juga  kotak P3K. Ia menyeka keringat Luhan tanpa jijik lalu membuka kan tutup botol air mineral itu dan memberikannya pada Luhan secara hati-hati. Ketika ia sudah melihat Luhan bisa bernapas lebih baik, perhatiannya teralih kearah kaki Luhan yang terkulai lemas. Dengan pelan ia menggeser tempat duduknya dan hati-hati menyentuhkan tangannya di kaki pria itu. Luhan hanya meringis tanpa sedikitpun berniat untuk membuka matanya.

“Kamu terkilir, Luhan-a.” ringis Je-si sambil menatap Luhan gusar. Luhan masih tidak bersuara. Akhirnya Je-si mengurut kaki Luhan perlahan membuat Luhan berteriak kesakitan. Dengan cepat Je-si menggulung celana panjang Luhan sebelah kanan hingga mencapai lutut. Pergelangan kaki Luhan terlihat membengkak dan berwarna biru. Berarti penglihatan gadis itu tadi siang tidak salah, Luhan memang berjalan tertatih dari tadi siang dan bertambah parah karena pria itu berlatih dance dengan keras dan diam-diam.

Je-si dengan kilat membuka kotak P3K itu lalu mengambil sebuah salep yang biasa ia bawa. Salep pereda nyeri yang biasanya ia gunakan jika kakinya terkilir karena terlalu sering menggunakan high heels atau terjatuh saat latihan berjalan seperti model. Ia mengoleskan-nya pelan sambil mengurut pergelangan kaki pria itu lebih keras.

Je-si tersenyum ketika merasakan bahwa kaki Luhan bisa digerakkan dan diluruskan. Ia menatap Luhan perlahan lalu bernapas lega ketika Luhan sudah membuka matanya dan rautnya sudah tidak pucat. Bahkan nafas pria itu sudah mulai stabil.

“Sudah merasa lebih baik?”

“Ya, berkatmu. Terima kasih.” kata Luhan dingin sambil mengalihkan pandangannya kearah lain. Tapi Je-si tidak merasa tersinggung sedikit pun. Ia malah tersenyum dan bangkit setelah membereskan kotak P3K yang ia bawa dan berjalan kearah meja disudut ruangan, meletakkan kembali kotak itu disana.

“Untuk apa kamu datang kesini?” tanya Luhan akhirnya membuka mulut, masih dengan napas yang sedikit tersenggal.

“Aku hanya ingin melihatmu dance-mu yang hebat sebentar sebelum pergi kerja.” jawab Je-si masih memunggungi Luhan. “Je-si-a, kemarilah.”

Je-si menengok kearah Luhan lalu tanpa protes berjalan mendekat kearah pria itu dan duduk disamping pria itu, “Kamu akan pergi kerja kemana?”

“Malam ini MCM memaksaku untuk mempromosikan tas terbaru mereka karena model yang mereka gunakan tiba-tiba saja masuk rumah sakit.”

“Sampai jam berapa?” tanya Luhan, Je-si menatap luhan bingung. Sejak kapan pria itu perhatian terhadapnya?

“Sampai jam 12 malam mungkin. Acara akan mulai jam 8 malam setauku.” Jawab Je-si tanpa pikir panjang lagi.

Gadis itu akan pulang malam lagi hari ini.

 

“Pergilah, kamu akan telat jika tidak pergi sekarang.” kata Luhan lebih seperti perintah. Je-si menganguk lalu berdiri, “Kamu sudah lebih baik, jangan latihan lagi atau kamu akan terkilir lebih parah lagi. Dance-mu sudah sangat bagus Luhan-a.”

Luhan hanya menganguk membuat Je-si tersenyum manis lalu menyambar tas-nya yang tadi terlempar kesudut lalu berjalan kearah pintu keluar, “Je-si-a..”

Je-si terhenti beberapa sesaat lalu berbalik melihat Luhan dan menunggu pria itu untuk membuka mulut. Sesaat Luhan mengadahkan wajahnya kearah Je-si, “Jangan pulang terlalu malam, okay?”

Pikiran Je-si melayang sesaat. Pria itu tidak pernah seperti itu sebelumnya. Perlahan senyumnya mulai mengembang, “Kamu tidak usah kha..”

“Aku tidak ingin Soon-na kecapekan besok.” lanjut Luhan sambil tersenyum. Seketika saja senyum Je-si lah yang sirna dari wajahnya, tapi ia memaksa diri untuk menganguk sesaat sebelum menutup pintu dan hilang dari pandangan Luhan.

**

“Apakah kamu tidak bisa kerja dengan benar? Bagaimana bisa Jessy Kim, model terkenal sepertinya memperkerjakan orang bodoh sepertimu?”

Soon-na hanya menundukkan kepalanya, menunjukkan rasa bersalahnya. Memang kesalahannya menjatuhkan make up warna-warni diatas dress putih yang akan digunakan Je-si nanti. Ia sendiri tidak mengerti harus bagaimana sementara Mike –Manager Je-si- sedang tidak ada ditempat ini sekarang. Menghilang entah kemana.

“Memang ada apa kalau aku memperkerjakan orang yang aku percayai?”

Suara itu memang tidak keras, tapi cukup tajam dan dingin untuk didengar. Wanita muda yang tadi membentak Soon-na berbalik dan mendapati Je-si berdiri dihadapannya sambil menatapnya sebal. Je-si tersenyum sesaat, “Bisakah orang amatir sepertimu menyingkir sebentar? Aku ingin melihat karya asistenku.”

Wanita itu hanya menyingkir tanpa bicara, memberikan Je-si jalan untuk melihat dress-nya. Dress putih yang tadi begitu indah sekarang sudah penuh dengan serbuk make up yang menodai. Ia menatap Soon-na perlahan lalu berbalik dan tersenyum melihat wanita yang tadi memojokkan Soon-na, “Agasshi.. Apakah kamu tau kalau gadis bodoh yang kamu bilang barusan itu sebenarnya sangat pandai? Kamu tau tidak kalau IQ-nya itu bahkan mencapai 150? Apakah kamu bahkan memiliki IQ diatas 120? Maaf jika aku berkata kejam, aku tidak suka ada yang menjelek-jelekkan pilihan yang aku buat.”

“Je-si-a, sudahlah.” ujar Soon-na memohon pada Je-si. Gadis itu masih melihat wanita menyebalkan tadi dengan tatapan sadis, “Begitu saja kamu sudah ingin menangis? Sudah berapa tahun kamu sudah kerja dibidang ini? Kalau kamu tidak tahan, kamu bisa mengurus model lain diruang sebelah. Aku cukup dengan asistenku disini.”

Soon-na kaget melihat bulir air mata yang turun dari mata yeoja menyebalkan tadi, tak lama yeoja itu berlari keluar menyisakan bunyi pintu yang tertutup cukup keras. Je-si tersenyum senang lalu duduk dikursi menata rambutnya perlahan.

“Kamu keterlaluan, Je-si-a.” ucap Soon-na pelan.

“Kamu paling tau, Soon-na-ya. Aku paling tidak suka ada orang yang meragukan pilihanku. Apalagi ia menghina sahabatku seperti itu! Lagipula aku tadi tidak sungguh marah, aku hanya berakting. Tapi sepertinya.. Aktingku terlalu hebat ya? Aku bisa daftar jadi actress kalau begitu!” ujar Je-si riang.

Soon-na berkacak pinggang dan menatap tajam mata sahabatnya itu melalui cermin, ”Aku minta maaf untuk dress-mu. Aku yang salah bukan dia. Ya walaupun perkataannya sedikit keterlaluan, tapi itu memang salahku. Kamu harus minta maaf padanya, Je-si-a. Perkataanmu lebih keterlaluan dari pada dia.”

“Tapi..”

“Atau aku akan berhenti jadi asistenmu?” kata Soon-na sambil menaikkan salah satu alisnya. Je-si balik menatapnya melalui cermin lalu beberapa saat menganguk setelah ia menarik napas pasrah.

“Soal dress-mu..”

Je-si tersenyum, “Tidak usah khawatir. Dress itu jadi lebih bagus dengan pekerjaan cerobohmu. Aku akan mengganti konsep.”

**

“Je-si-a, oh my goddess! What are you doing?”

Soon-na menatap Je-si yang menyandarkan kepalanya malas ke jendela van dan menatap keluar tanpa mengindahkan perkataan Mike sama sekali.

“Bagaimana kamu bisa membuat seorang make up artist menangis, huh? Dan apa maksudnya dengan dress putih mahal yang ku beli itu. Kamu menghancurkan konsep bersih yang kuciptakan!” teriak Mike seolah berusaha mendapat sedikit saja perhatian gadis itu.

“Shut up, Mike. Im so tired! Lagipula, PD MCM tidak protes sama sekali, kan? Bahkan banyak wartawan yang menyukai dress-ku ini. Catwalk-nya berjalan dengan sangat lancar. Jadi tidak ada yang perlu dibicarakkan.”

“But you should talk it with me, babe! Im your manager!” kata Mike dengan manja. Soon-na menatap Mike geli. Pria itu mulai mengeluarkan kata-kata manjanya lagi. Je-si melirik Mike dengan ekor matanya, “Oh stop doing that, Mike. I don’t want your guy kill me!”

Mike hanya bisa menggelembungkan pipi-nya mendengar perkataan Je-si. Je-si sama sekali tidak salah.  Ia memang homoseksual sekalipun Mike sangatlah tampan. Mungkin itu adalah salah satu alasan mengapa Je-si memilihnya, Ia merasa nyaman dengan pria itu karena tidak akan terancam dikhianati managernya jika suatu saat managernya itu suka padanya. Lagipula itu mustahil, Mike seorang homo seksual. Dan Je-si lagi-lagi bahagia dengan kenyataan itu.

Beberapa saat kemudian van itu berhenti di apartement tingkat dua yang terlihat tua dan rapuh. Soon-na menarik tas-nya dan hendak beranjak turun sampai Je-si menarik tangannya pelan, “Soon-na-ya,  kamu benar masih mau tinggal ditempat ini? Kamu tau kan aku tinggal sendirian di apartement.  Kamu bisa menemaniku, kau tau? Aku kesepian.” Rajuk Je-si membuat Soon-na tertawa pelan, “Arraseo. Akan kupikirkan, ya? Sekarang  sudah jam 12 malam, Je-si-a. Kamu harus cepat pulang dan istirahat karena besok kita akan sekolah.”

Je-si menganguk lalu melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Soon-na, membiarkan gadis itu turun dari Van. Soon-na berbalik perlahan sesaat setelah kakinya sudah mencapai tanah. Ia melambaikan tangan pada Je-si serta Mike sebelum pintu Van tertutup otomatis dan ia tidak bisa melihat Je-si lagi. Perlahan van itu berjalan meninggalkannya, membuatnya kembali merasa sendirian lagi.

**

“Kakimu  kenapa?” tanya Soon-na ketika merasakan sesuatu yang aneh dengan cara berjalan Luhan. Pria itu terhenti dan menatap Soon-na disampingnya, “Hanya terkilir saat  bermain bola.” ujar pria itu singkat. Soon-na hanya menganguk sambil mengikuti Luhan yang menarik tangannya masuk kedalam perpustakaan. Sebenarnya dari tadi ia merasa ngantuk dan pusing, tapi ia memaksakan diri dan memilih untuk mengikuti Luhan dibanding harus tinggal dikelas. Direcoki anak-anak kelas yang menanyakan konsep baju yang akan dibintangi Je-si nanti untuk SPAO.

Soon-na mendudukkan pantatnya diatas kursi sesaat setelah matanya menemukan kursi tu, Luhan membiarkannya dan menjelajahi isi perpustakaan itu sendirian. Setelah mendapatkan buku yang ia cari, ia kembali ketempat dimana sahabatnya itu beristirahat dan mendapati Soon-na sudah tertidur diatas meja perpustakaan. Untung saja sedang tidak banyak orang sekarang, dan posisi mereka memang sedang ada disudut perpustakaan.

Luhan meletakkan buku yang ia cari diatas meja pelan-pelan lalu duduk disamping gadis itu. Matanya dengan leluasa memandangi wajah gadis itu. Tangannya tidak bisa ditahan untuk tidak menyentuhkan jemarinya di wajah gadis itu. Ia tersenyum ketika jemarinya merasakan tarikan napas teratur Soon-na. Luhan semakin menundukkan wajahnya mendekat, menatap Soon-na dalam-dalam. Ia tidak pernah bosan menatap wajah gadis itu walaupun ia sudah melihat wajah itu nyaris seumur hidupnya.

Gadis itu masih tertidur lelap, sibuk didalam alam mimpinya sendiri karena  tadi malam ia sendiri bergadang sampai pagi untuk mengerjakan project yang lupa ia kerjakan sambil sesekali membalas email Mike mengenai jadwal Je-si yang belum sempat ia baca.

Namun ketika Luhan hendak mengatur rambut gadis itu, Soon-na bergerak gelisah dalam mimpinya. Tiba-tiba saja tubuh gadis itu bergerak tidak wajar dan keringat dingin turun memenuhi wajahnya yang sebenarnya cantik namun tertutup kacamata tebal itu.

“Andwe-yo, eomma! Andwe! Maldo andwe!”

Luhan memegang kening Soon-na kilat  ketika ia selesai mendengar Soon-na bergumam seperti tu. Wajah Luhan panik ketika merasakan kening  Soon-na panas. Berbeda sekali dengan tangan Soon-na yang daritadi ia pegang. Tangan gadis itu memang selalu saja dingin. Luhan merutuki dirinya sendiri karena teledor menjaga gadis itu. Tak lama ia berdiri dan memutar kursi Soon-na hati-hati.

Luhan melepaskan jas sekolah yang ia gunakan lalu meletakkannya dipaha Soon-na, setelah itu tangannya menyisip diantara leher serta bawah lutut Soon-na, perlahan mengangkat tubuh gadis itu. Luhan memang terlihat seperti cewek, tapi sebenarnya ia sangatlah manly dan kuat, ia memang hanya akan berubah seperti itu jika menyangkut satu hal. Tentu saja karena Soon-na.

Luhan berlari cepat sambil menggendong Soon-na ala tuan putri keluar perpustakaan menuju UKS. Ia sama sekali tidak peduli akan pekikkan cemburu, iri, kaget, terpukau orang disekitarnya. Luhan malah berusaha menulikan telinganya ketika teman-temannya bersuit-suit ria karena perlakuannya itu. Yang ia tau, ia harus segera ke UKS dan membiarkan perawat memberikan obat pada Soon-na. Ia bahkan tidak peduli pada kakinya yang berteriak kesakitan tak sanggup menahan beban.

Ia memang menjadi tuli, bodoh jika bersangkutan dengan sahabat dari kecil-nya itu.

**

Luhan masuk kedalam UKS, ia bahkan tidak menyadari ketika ia menabrak Je-si yang berpapasan dengannya. Gadis itu termundur beberapa langkah dan hampir saja terhuyung jatuh kebelakang kalau saja tangannya tidak menahan tubuhnya  di dinding.

Ketika Je-si  mendapatkan kembali kesadarannya, ia mengikuti punggung Luhan yang menghilang masuk kedalam ruang UKS. Ia meringis pelan ketika merasakan sakit dilengannya. Tapi ia mengabaikannya dan lebih memilih untuk menyeret kaki-nya mendekat kearah ruang UKS.

“Luhan-sshi. Kamu tidak usah khawatir, aku sudah memberikan suntikan penambah sakit dan juga obat demam padanya. Ketika ia sudah baikkan, ia pasti bangun. Kamu juga terlihat pucat, lebih baik sekarang kamu makan.”

“Ani-o. Aku akan menunggu-nya disini.” ujar Luhan cepat tanpa sekalipun menoleh kearah perawat itu. Perawat itu hanya bisa tersenyum, “Baiklah, kamu bisa menunggu-nya disini. Aku akan keruang perawat disebelah ya.”

Luhan masih tidak mengindahkan kalimat perawat itu dan lebih memilih menggenggam tangan Soon-na erat-erat membuat perawat itu meninggalkan mereka berdua seketika. Ketika perawat itu hendak keluar, ia mendapati Je-si berdiri dipintu UKS dan tersenyum singkat pada gadis itu. Je-si membalasnya.

Tak lama, Je-si berjalan mendekat kearah ranjang sampai pada akhirnya ia berhenti dibelakang Luhan, “Ada apa dengan Soon-na?”

Luhan berbalik dan mendapati Je-si dibelakangnya, ia melepaskan genggamannya perlahan dan meletakkan kembali hati-hati tangan Soon-na diatas kasur lalu berdiri,  menatap Je-si.

Je-si bingung ketika ia mendapati tatapan dingin Luhan sehingga ia memundurkan langkahnya kebelakang, memberikan jarak antara dirinya dan juga Luhan.

“Je-si-sshi. Bisakah aku berbicara denganmu?”

Je-si membulatkan matanya tidak percaya ketika mendengar Luhan memanggilnya seperti itu. Tapi tak lama ia mengikuti Luhan keluar ruangan. Koridor didepan UKS saat itu sepi sekali, lebih tepatnya hanya mereka berdua disana.

“Ada apa, Luhan-a?” ucap Je-si dengan suara lembut dan pelan.

“Aku tidak suka Soon-na bekerja bersamamu. Ia sebenarnya berkecukupan karena akan ada keluargaku yang membiayai-nya. Ia tidak perlu bekerja untukmu sampai kelelahan! Kamu bahkan tidak membiarkannya berisitirahat sepulan show kemarin!” teriak Luhan membuat Je-si menutup matanya rapat-rapat.

“Tapi Luhan-a, aku mengantarkannya pulang dan menyuruhnya beristirahat kemarin malam.” Ujar Je-si takut-takut. Luhan tidak sedikitpun meredakan suaranya mendengar suara Je-si yang sudah ketakutan itu, “Memang, tapi sepulang itu ia tetap harus mengecheck seluruh schedule-mu, bahkan dress yang harus kamu gunakan. Apakah kamu sama sekali tidak bisa membiarkannya istirahat, huh?”

Kamu sedikitpun tidak pernah membiarkan ku berbicara, kan? Apapun yang aku lakukan akan salah dimatamu, Luhan-a.

“AKU TIDAK TAU! AKU TIDAK PERNAH MENYURUHNYA BEGITU! AKU MENYURUHNYA ISTIRAHAT KARENA SAMPAI MINGGU DEPAN AKU MASIH FREE!” terak Je-si sambil membalas tatapan Luhan. Pria itu terdiam beberapa saat. Mereka berdua terdiam lebih tepatnya.

Apa.. aku keterlaluan?

 

“Aku akan menyuruh Mike untuk memberikan tugas lebih sedikit padanya, okay? Aku tidak akan membiarkannya sakit lagi seperti itu. Tapi maaf saja Luhan-sshi, aku tidak bisa memberhentikan Soon-na karena aku membutuhkannya, ara?”

-Sshi? Aku sudah kelewat batas. Sial.

Je-si masih menatap tajam Luhan sebelum beberapa saat kemudian memalingkan wajahnya. Berusaha untuk menutupi matanya yang sudah memerah dan hendak mengeluarkan bulir air mata itu. Namun gadis itu sama sekali tidak dapat menahan isakkan-nya membuat Luhan ditempatnya terkesiap. Menyadari bahwa dirinya sangat bodoh, ia sudah sangat keterlaluan kali ini.

“Maafkan aku, Luhan-sshi. Aku masih harus pergi. Permisi.”

“Je-si-a!” teriak Luhan seolah ingin mencegah kepergian Je-si. Namun sayangnya gadis itu lebih cepat dari yang ia bayangkan, Je-si sudah terlanjur berlari mennjauh darinya. Menyisakan Luhan yang hanya bisa terdiam dan menyandarkan tubuhnya frustasi di dinding. Ia bahkan baru sadar kalau ia juga menabrak gadis itu sesaat sebelum masuk ruang UKS. Luhan benar-benar menyesal sekarang.

**

“Luhan-sshi! Apa yang anda lakukan pada nona Kim?”

Luhan menoleh kearah perawat yang berdiri disebelah-nya. Perawat itu menatapnya shock membuat Luhan menatapnya bingung ditengah matanya masih tidak focus.

“Kamu memang mengkhawatirkan sahabatmu itu sampai bahkan tidak membicarakannya baik-baik pada gadis lain yang juga pingsan karena kelelahan? Luhan-sshi, kamu sudah sangat keterlaluan. Apakah kamu tidak tau kalau keadaan nona Kim lebih parah dibanding yang kamu pikirkan? Bagaimana kalau ia pingsan disaat menangis disuatu tempat?”

“Menangis?” ucap Luhan mem-beo. Ia masih tidak mengerti. Ia terlalu merasa bersalah.

“Luhan-sshi. Anda memang bodoh.”

**

Luhan berlari disepanjang koridor, mencari-cari sosok Je-si yang entah kemana. Daritadi ia menubruk orang, menanyai dimana Je-si pada mereka dan mendapati jawaban yang sama, “Aku tidak melihat-nya, Luhan-sshi.”

Sesaat setelah merasa nafas-nya habis, Luhan berhenti dan bersandar di pegangan besi didepan jendela yang sangat besar. Salah satu tempat terbagus disekolah itu karena design jendela itu memperindah salah satu sudut sekolah itu. Namun tiba-tiba saja mata  Luhan membulat ketika ia mendapatkan sosok yang daritadi dicarinya.

Gadis itu berjalan berdampingan dengan seorang pria bergaya barat ditengah lapangan, Luhan baru saja akan mengejar gadis itu turun sampai matanya mendapati gadis itu tiba-tiba saja kehilangan keseimbangannya dan jatuh kepelukan pria itu.

Luhan tidak bisa berbuat apa-apa ketika dengan cepat pria itu mengangkat Je-si kedalam sebuah Van dan menghilang tanpa jejak. Membuat Luhan menarik napas berat dan sekujur tubuhnya menjadi lemas. Ia merasa bersalah luar biasa. Apalagi ketika mengingat gadis itu begitu baik padanya. Tapi apa yang dilakukan pria itu? Menyakitinya.

**

TBC

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

Exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

5 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Nimic” – Part 1

  1. naritareky August 22, 2012 at 1:18 PM Reply

    Ceritanya bikin penasaran loh 😀
    Pas ujung2nya bagus awalnya sedikit ngebosenin hehe
    Keren 😉

    • exo1stwonderplanet August 22, 2012 at 6:51 PM Reply

      Thank your for comment ^^ we’ll back soon with amazing one ^^

      Keep support and saranghaja ❤

  2. ichaichez August 24, 2012 at 6:23 PM Reply

    Argh!*acak rambut.
    kenapa musti tbc siih.
    serius ini keren bgt.
    ceritanya simpel, love triangle. tapi diksinya luar biasa. berasa ntn drama. apalagi castny luhan.
    ayodong lanjutanya manaaa? hiks

    • exo1stwonderplanet August 25, 2012 at 7:01 AM Reply

      thank you so much 🙂 i’ll post next chapter today 🙂 keep comment because your words are everything! welcome to the EXO1stwonderplanet 🙂

  3. JungSYoung August 25, 2012 at 4:11 AM Reply

    Bingung sendiri bacanya. Bahasa yg chingu gunakan itu terlalu susah untuk dipahami. Chingu gunain kata2 yg berlebih jd kurang efektif kalimatnya.

    Contoh simpel aja Kamu paling tau, Soon-na-ya. Aku paling….. Jd ”Kau kn tau Soon-Na-ya. Aku paling (sangat)……

    Banyak dr FF yg pernah aku baca akn terasa krng enk dibaca ketika gunain kata ‘kamu’ mungkin bs di ganti ‘kau’ kt kamu menurutku terlalu baku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: